Anda di halaman 1dari 6

BAB II

RESUME JURNAL
A Pencarian Jurnal
Penelusuran jurnal dilakukan dengan keyword: Emergency Nursing pada alamat jurnal
The Journal Of Emergency Medicine
B Isi Jurnal
Judul Jurnal

: Assessment Of Emergency Airway Management Techniques In Korea

Using An Online Registration System: A Multicenter Study


Penulis

: Young Soon Cho, MD, Junho Cho, MD, and Hyun Soo Chung, MD,
on behalf of the Korean Emergency Airway Registry (KEAMR)
Investigators
: The Journal of Emergency Medicine, Vol. 48, No. 1, pp. 19, 2015

Publikasi
C Resume Jurnal

Manajemen jalan nafas merupakan bagian penting dalam perawatan akibat trauma,
karena trauma yang tejadi pada pasien dapat mengakibatkan peningkatan kejadian aspirasi,
gangguan jalan nafas atau cedera, maka dari itu penanganan manajemen jalan nafas sangat
cocok diterapkan di instalasi gawat darurat. Akan tetapi, ada banyak kesulitan yang
mungkin dihadapi saat pemasangan intubasi di instalasi gawat darurat, yaitu adanya
perdarahan di jalan nafas dan pasien-pasien yang datang dengan trauma servikal yang
terpasang neck collar. Pada jurnal ini, peneliti membuat sebuah Web-based manajemen
trauma untuk mengkaji status manajemen trauma jalan nafas di Korea. Tujuannya untuk
mengidentifikasi tingkat keberhasilan metode intubasi yang dilakukan serta alat-alat yang
digunakan, dan pengaruh pemasangan intubasi tersebut pada pasien.
Penelitian ini menggunakan desain penelitian prospektif observasional. Data
dikumpulkan dari Korean Emergency Airway Management Registry (KEAMR). KEAMR
merupakan gabungan dari 13 instalasi gawat darurat di Korea yang sama-sama bertujuan
untuk mengidentifikasi status manajemen jalan nafas di Korea. Data dikumpulkan mulai
Maret 2006 hingga Desember 2010. Pasien yang dapat dijadikan responden yaitu pasienpasien yang direncanakan mendapatkan program intubasi yang ada pada 13 instalasi gawat
darurat pada KEAMR, sedangkan pasien yang datang ke instalasi gawat darurat yang telah
terpasang intubasi, maupun pasien yang direncanakan akan dipasang intubasi diluar
keadaan yang telah disepakati pada penelitian ini dianggap gugur.
Data dikumpulkan menggunakan form yang telah disediakan(bagian Appendix) yang
telah didiskusikan oleh 13 IGD di Korea.

Kesulitan pada jalan nafas telah ditetapkan sebagai kasus untuk pemasangan intubasi, ada
3 dimensi sebagai pertimbangan pada kesulitan tersebut: Kesulitan pada laringoskopi dan
intubasi, kesulitan pada ventilasi bag-mask, dan kesulitan cricothyrotomy. Peneliti
mengadaptasi singkatan dari Murphy dan Walls untuk mempermudah dalam mengkaji,

seperti LEMON(Look externally, Evaluate 3-3-2, Morbidobesity, Obstruction, Neck


Mobility), pada kesulitan laringoskopi dan intubasi disingkat MOANS(Mask seal, Obese,
Aged,

No

teeth,

Stiff/Snore),

untuk

kesulitan

ventilasi

bag-mask

disingkat

SHORT(Surgery, Hematoma, Obesity, Radiation, Tumor). Jika pengidentifikasian


kesulitan jalan nafas belum dapat terkaji diawal karena berbagai hal, maka pengkajian
dapat dilakukan setelah intubasi. Intubasi dikatakan tepat jika penempatan ET melalui pita
suara. Pemasangan intubasi dikatakan sukses jika intubasi tersebut dipasang tepat saat
pertama kali, jika pemasangan dilakukan berkali-kali atau metode pemasangan diganti
maka dianggap gagal. Analisa data menggunakan multivariat logistik dengan 2086
responden.
Hasil penelitian pada data demografi didapatkan sebagai berikut:

Dari 2086 responden, 255 responden gugur. Dari 1831 responden, 1290 laki-laki dan 541
perempuan. Rata-rata usia laki-laki 18.6 tahun, dan perempuan 22 tahun. Rerata dari difficult
and crash airway, glottic exposure grade, dan psysician characteristics. Kesulitan pada jalan
nafas dibedakan menjadi 2, yang dapat diprediksi dan tidak dapat diprediksi. Kesulitan pada
jalan nafas yang dapat diprediksi didapatkan 64%, dan kesulitan jalan nafas yang tidak dapat
diprediksi 86,6% dari 484 kejadian(p<0.001). Rerata FPS pada kasus kerusakan jalan nafas
82,4% dan bukan kerusakan jalan nafas 79,8%(p=0.202). Kasus dari tingkatan exposure
glottic yaitu grade I, II, II, IV: 92,4%, 65,9%, 46,1%, 27,7%(p<0.001). Jika pada pemasang

intubasi, 81,4% dipasang oleh staff IGD, dan 67% dipasang oleh spesialis lain, rerata FPS
mendapatkan bahwa staff IGD lebih ahli(p<0.001).

Pada metode dan peralatan pemasangan intubasi didapatkan hasil sebagai berikut:

Faktor yang mempengaruhi pemasangan terhadap trauma pasien didapatkan hasil sebagai
berikut, ketepatan pemasangan intubasi dipengaruhi oleh 3 faktor, yaitu keahlian pemasang,
banyaknya pelatihan, dan peralatan intubasi yang baik. Rerata FPS menunjukkan
keberhasilan pemasangan kebanyakan dilakukan oleh staff IGD dan tenaga senior, dan

keberhasilan juga didapatkan dengan video laringoskopi dibandingkan dengan prosedur


laringoskopi biasa.

Pada penelitian ini didapatkan bahwa terdapat 64% kasus dapat diprediksi dan 86,6%
tidak dapat diprediksi, dan tingkat keberhasilan didapatkan jika segala sesuatunya
dipersiapkan terlebih dahulu. Penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat keberhasilan

pemasangan intubasi didapatkan dengan banyaknya pengalaman, pengalaman didapatkan


dengan banyaknya latihan. Sebenarnya, pemasangan secara cepat intubasi untuk pasien
dengan trauma kerusakan jalan nafas sanga direkomendasikan jika tidak ada kontraindikasi,
dengan cara cepat maka dapat dengan cepat menginduksi sedasi dan relaksasi otot. Penelitian
ini juga menemukan bahwa kesuksesan pemasangan intubasi lebih tinggi pada petugas
kesehatan di IGD dibandingkan dengan tenaga spesialis di luar IGD, hal ini dikarenakan
mereka telah melewati pelatihan manajemen jalan nafasyang diselenggarakan oleh Korean
Emergency Airway Management Society. Pelatihan ini telah di desain dengan baik, serta telah
dibuat serupa dengan karakteristik keadaan kegawatan pada jalan nafas pasien. Hal lain yang
dapat ditemukan dalam penelitian ini yaitu pengaruh trauma pasien pada pemasangan
intubasi lebih tinggi pada mereka yang mendapatkan laringoskopi biasa dibandingkan dengan
mereka yang mendapatkan video laringoskopi terlebih dahulu.