Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN
I.1. Latar Belakang
Osteoporosis merupakan penyakit metabolisme tulang yang ditandai pengurangan
massa tulang, kemunduran mikroarsitektur tulang dan fragilitas tulang yang meningkat,
sehingga resiko fraktur menjadi lebih besar (Kaniawati, 2003; Hammett, 2004; Sennang,
2006).
Kerapuhan tulang yang disebut sebagai penyakit osteoporosis adalah pengurangan
massa dan kekuatan tulang dengan kerusakan mikroarsitektur dan fragilitas tulang,
sehingga menyebabkan tulang rapuh dan mudah patah. Osteopenia menunjukkan bahwa
telah terjadi penurunan volume tulang (Djokomoeljanto, 2003; Hammett, 2004;
Setyohadi, 2006).
Insiden osteoporosis lebih tinggi pada wanita dibandingkan laki-laki dan
merupakan problema pada wanita pascamenopause. Osteoporosis di klinik menjadi
penting karena problema fraktur tulang, baik fraktur yang disertai trauma yang jelas
maupun fraktur yang terjadi tanpa disertai trauma yang jelas.

Rizki Ovianti 2010.73

Page 2

BAB II
LAPORAN KASUS
I

Identitas

Nama

: Ny.Tumiroh

Jenis kelamin

: Perempuan

TTL

: Purwerjo, 31 Desember 1938

Umur

: 76 tahun

Alamat

: Pancoran Mas

Pekerjaan

: Ibu Rumah Tangga

No Rekam Medis

: 24.95.51

II Anamnesis
Auto anamnesis ( 9 Juni 2015 )
Keluhan Utama :
Nyeri punggung sejak 1 minggu SMRS
Riwayat penyakit sekarang :
Pasien datang ke poli syaraf dengan keluhan nyeri pada punggung sejak 1 minggu
SMRS, mendadak dan terus menerus, nyeri punggung menjalar ke bokong, nyeri bertambah
berat apabila berdiri tegak. Akhir-akhir ini pasien berjalan membungkuk, untuk mengurangi
nyeri. Nyeri yang dirasakan pasien mengganggu aktivitas pasien. Sebelum timbul nyeri
punggung pasien melaksanakan shalat dengan berdiri, tetapi saat ini pasien melaksanakan
shalat dengan duduk karena tidak kuat menahan nyeri. Nyeri tidak menjalar pada daerah
kaki. Riwayat terjatuh, atau kecelakaan baru-baru ini disangkal. Nafsu makan baik, tidak
terdapat penurunan berat badan. Pasien ragu terhadap berkurangnya tinggi badan. Pasien
pertama kali haid pada usia 13 tahun, dan telah menopause sejak usia 57 tahun.
Riwayat penyakit dahulu :

Riwayat terjatuh pada Januari 2014


Riwayat hipertensi disangkal
Riwayat diabetes militus disangkal
Riwayat dyslipidemia disangkal
Riwayat hipertiroid disangkal

Rizki Ovianti 2010.73

Page 3

Pemeriksaan radiologi tanggal 27 Desember 2010


Aligment vertebra L-S kurang lordosis
Vertebra collaps Th12
Pembentukan spur vertebra L4,5
Diskus intervetebra L5-S1, Th11-12 menyempit
Foramen intervetebra Th11-12 dan L5-S1 menyempit
Kesan
: Fraktur kompresi vertebra Th12
: Spondiloarthosis L-S

Riwayat penyakit keluarga :

Riwayat keluarga dengan gejala yang serupa dengan pasien disangkal

Riwayat keluarga dengan osteoporosis disangkal

Riwayat keluarga dengan hipertensi disangkal

Riwayat keluarga dengan DM disangkal

Riwayat Pengobatan :
Pasien baru pertama kali datang berobat dengan keluhan nyeri punggung.
Riwayat Alergi :
Riwayat alergi obat dan makanan disangkal
Riwayat Psikososial :

III

Pasien merupakan ibu rumah tangga, tinggal di rumah ditemani seorang cucu.
Keseharian pasien dirumah, terkadang pergi mengaji
Pasien melakukan kegiatan rumah seperti mencuci dan menggosok sendiri sehari kira-

kira menghabiskan waktu 2 jam


Pasien terbiasa mengangkat barang yang berat seperti belanjaan dan cucian
Pasien jarang melakukan aktivitas fisik
Pasien kurang suka mengkonsumsi susu
Pasien jarang mengkonsumsi ikan lebih memilih ayam dan sayur

Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum

: Tampak sakit sedang

Kesadaran

: E: 4 V: 5 M: 6 (GCS 15); Compos Mentis

Rizki Ovianti 2010.73

Page 4

Tanda-tanda vital

Tekanan Darah : 130/80 mmHg

Napas

: 22 x/menit

Nadi

Suhu

: 36.6 C

: 92 x/menit

Status Generalis
Tidak dilakukan, pasien merupakan pasien rawat jalan
IV

Pemeriksaan Radiologi
Foto Polos Lumbal Sacral AP Lateral Tanggal 8 Juni 2015

Tampak disaligment vertebra Thoracal, lumbal dan sacrum


Terdapat collapse vertebrae thoracal 12 dan lumbal 5
Diskus intervetrebralis Th11-12, Th12-L1, L1-2, L4-5 dan L5-S menyempit
Foramen intervertebralis Th11-12, Th12-L1, Li-2, L4-5 dan L5-S menyempit
Kesan: Gambaran multiple vertebrae collaps, sangat mungkin e.c primary osteoporosis
V

Resume
OS wanita 76 tahun dengan keluhan nyeri punggung yang timbul mendadak dan
terus-menerus sejak 7 hari SMRS. Nyeri menjalar (+) ke bokong, nyeri bertambah
ketika berdiri dan berjalan tegak, postur tubuh membungkuk. Menarche pertama usia
13 tahun, menopause usia 57 tahun. Radiologi 27 Desember 2010 menunjukan fraktur
kompresi pada Th12 dan spondilosis L-S

Rizki Ovianti 2010.73

Page 5

Hasil Radiologi tanggal 8 Juni 2015 menunjukan gambaran multiple vertebrae


collaps, sangat mungkin e.c primary osteoporosis.
VI

Diagnosis Kerja
Low Back Pain et causa Osteoporosis

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1. Definisi
Osteoporosis adalah suatu kondisi berkurangnya masa tulang secara nyata yang
berakibat pada rendahnya kepadatan tulang. Akibatnya tulang menjadi rapuh dan mudah
Rizki Ovianti 2010.73

Page 6

patah. Menurut Dr. Robert P. Heaney dalam Reitz (1993) penyakit osteoporosis paling
umum diderita oleh orang yang telah berumur, dan paling banyak menyerang wanita
yang telah menopause (Hortono, 2000).
Osteoporosis merupakan penyakit metabolik tulang atau disebut juga penyakit
tulang rapuh atau tulang keropos. Osteoporosis diistilahkan juga dengan penyakit silent
epidemic karena sering tidak memberikan gejala hingga akhirnya terjadi fraktur (patah)
(Dalimartha, 2002).

II.2. Etiologi
Ada 2 penyebab utama osteoporosis, yaitu pembentukan massa puncak tulang yang
selama masa pertumbuhan dan meningkatnya pengurangan massa tulang setelah
menopause. Massa tulang meningkat secara konstan dan mencapai puncak sampai usia
40 tahun, pada wanita lebih muda sekitar 30-35 tahun. Walaupun demikian tulang yang
hidup tidak pernah beristirahat dan akan selalu mengadakan remodelling dan
memperbaharui cadangan mineralnya sepanjang garis beban mekanik. Faktor pengatur
formasi dan resorpsi tulang dilaksanakan melalui 2 proses yang selalu berada dalam
keadaan seimbang dan disebut coupling. Proses coupling ini memungkinkan aktivitas
formasi tulang sebanding dengan aktivitas resorpsi tulang. Proses ini berlangsung 12
minggu pada orang muda dan 16-20 minggu pada usia menengah atau lanjut.
Remodelling rate adalah 2-10% massa skelet per tahun (Sudoyo et al., 2006). Proses
remodelling ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu faktor lokal yang menyebabkan
terjadinya satu rangkaian kejadian pada konsep Activation Resorption Formation
(ARF). Proses ini dipengaruhi oleh protein mitogenik yang berasal dari tulang yang
merangsang preosteoblas supaya membelah membelah menjadi osteoblas akibat adanya
aktivitas resorpsi oleh osteoklas. Faktor lain yang mempengaruhi proses remodelling
Rizki Ovianti 2010.73

Page 7

adalah faktor hormonal. Proses remodelling akan ditingkatkan oleh hormon paratiroid,
hormon pertumbuhan dan 1,25 (OH)2 vitamin D. Sedang yang menghambat proses
remodelling adalah kalsitonin, estrogen dan glukokortikoid. Proses-proses yang
mengganggu remodelling tulang inilah yang menyebabkan osteoporosis.
Selain gangguan pada proses remodelling tulang faktor lainnya adalah pengaturan
metabolisme kalsium dan fosfat. Walaupun terdapat variasi asupan kalsium yang besar,
tubuh tetap memelihara konsentrasi kalsium serum pada kadar yang tetap. Pengaturan
homeostasis kalsium serum dikontrol oleh organ tulang, ginjal dan usus melalui
pengaturan paratiroid hormon (PTH), hormon kalsitonin, kalsitriol (1,25(OH)2 vitamin
D) dan penurunan fosfat serum. Faktor lain yang berperan adalah hormon tiroid,
glukokortikoid dan insulin, vitamin C dan inhibitor mineralisasi tulang (pirofosfat dan
pH darah). Pertukaran kalsium sebesar 1.000 mg/harinya antara tulang dan cairan
ekstraseluler dapat bersifat kinetik melalui fase formasi dan resorpsi tulang yang lambat.
Absorpsi kalsium dari gastrointestinal yang efisien tergantung pada asupan kalsium
harian, status vitamin D dan umur. Didalam darah absorpsi tergantung kadar protein
tubuh, yaitu albumin, karena 50% kalsium yang diserap oleh tubuh terikat oleh albumin,
40% dalam bentuk kompleks sitrat dan 10% terikat fosfat (Sinnathamby, 2010).

II.3. Faktor Risiko Osteoporosis


1. Usia >50 tahun
2. Genetik

Etnis (kaukasia dan oriental > kulit hitam dan polinesia)

Seks (wanita > pria)

Rizki Ovianti 2010.73

Page 8

Riwayat keluarga

3. Lingkungan, dan lainnya

Defisiensi kalsium

Aktivitas fisik kurang

Obat-obatan (kortikosteroid, anti konvulsan, heparin, siklosporin)

Merokok, alkohol

Resiko terjatuh yang meningkat (gangguan keseimbangan, licin, gangguan


penglihatan)

Hormonal dan penyakit kronik


o Defisiensi estrogen, androgen
o Tirotoksikosis, hiperparatiroidisme primer, hiperkortisolisme
o Penyakit kronik (sirosis hepatis, gangguan ginjal, gastrektomi)

4. Faktor resiko faktur panggul yaitu,:


a. Penurunan respons protektif

Kelainan neuromuscular

Gangguan penglihatan

Gangguan keseimbangan

b. Peningkatan fragilitas tulang

Densitas massa tulang rendah

Hiperparatiroidisme

c. Gangguan penyediaan energi

Malabsorpsi

Rizki Ovianti 2010.73

Page 9

II.4 Klasifikasi Osteoporosis


1. Osteoporosis Primer
a. Osteoporosis primer tipe 1 adalah osteoporosis pasca menopause. Pada masa
menopause, fungsi ovarium menurun sehingga produksi hormon estrogen dan
progesteron juga menurun. Estrogen berperan dalam proses mineralisasi
tulang dan menghambat resorbsi tulang serta pembentukan osteoklas melalui
produksi sitokin. Ketika kadar hormon estrogen darah menurun, proses
pengeroposan tulang dan pembentukan mengalami ketidakseimbangan.
Pengeroposan tulang menjadilebihdominan (Wirakusumah, 2007).
b. Osteoporosis primer tipe II adalah osteoporosis senilis yang biasanya terjadi
lebih dari usia 50 tahun. Osteopososis terjadi akibat dari kekurangan kalsium
berhubungan dengan makin bertambahnya usia (Hortono, 2000).
c. Tipe III adalah osteoporosis idiopatik merupakan osteoporosis yang
penyebabnya tidak diketahui.Osteoporosis ini sering menyerang wanita dan
pria yang masih dalam usia muda yang relative jauh lebih muda (Hortono,
2000).

2. Osteoporosis sekunder

Rizki Ovianti 2010.73

Page 10

Osteoporosis sekunder terjadi kerana adanya penyakit tertentu yang dapat


mempengaruhi kepadatan massa tulang dan gaya hidup yang tidak sehat. Faktor
pencetus dominan osteoporosis sekunder adalah sepeti di bawa ( Wirakusumah,
2007):
a. Penyakit endokrin : tiroid, hiperparatiriod, hipogonadisme
b. Penyakit saluran cerna yang memyebabkan absorsi gizi kalsium.fosfor. vitamin D)
terganggu.
c. Penyakit keganasan ( kanker)
d. Konsumsi obat obatan seprti kortikosteriod
e. Gaya hidup yang tidak sehat seperti merokok, kurang olahraga.

II.5. Patogenesis
-Pembentukan ulang tulang adalah suatu proses yang terus menerus. Pada
osteoporosis, massa tulang berkurang, yang menunjukkan bahwa laju resorpsi tulang
pasti melebihi laju pembentukan tulang. Pembentukan tulang lebih banyak terjadi
pada korteks
A. Proses Remodelling Tulang dan Homeostasis Kalsium
Kerangka tubuh manusia merupakan struktur tulang yang terdiri dari substansi
organik (30%) dan substansi mineral yang paling banyak terdiri dari kristal
hidroksiapatit (95%) serta sejumlah mineral lainnya (5%) seperti Mg, Na, K, F, Cl, Sr
dan Pb. Substansi organik terdiri dari sel tulang (2%) seperti osteoblas, osteosit dan
osteoklas dan matriks tulang (98%) terdiri dari kolagen tipe I (95%) dan protein

Rizki Ovianti 2010.73

Page 11

nonkolagen (5%) seperti osteokalsin, osteonektin, proteoglikan tulang, protein


morfogenik tulang, proteolipid tulang dan fosfoprotein tulang.
-Tanpa matriks tulang yang berfungsi sebagai perancah, proses mineralisasi
tulang tidak mungkin dapat berlangsung. Matriks tulang merupakan makromolekul
yang sangat bersifat anionik dan berperan penting dalam proses kalsifikasi dan fiksasi
kristal hidroksi apatit pada serabut kolagen. Matriks tulang tersusun sepanjang garis
dan beban mekanik sesuai dengan hukum Wolf, yaitu setiap perubahan fungsi tulang
akan diikuti oleh perubahan tertentu yang menetap pada arsitektur internal dan
penyesuaian eksternal sesuai dengan hukum matematika. Dengan kata lain, hukum
Wolf dapat diartikan sebagai bentuk akan selalu mengikuti fungsi.
B. Patogenesis Osteoporosis primer
Setelah menopause maka resorpsi tulang akan meningkat, terutama pada
dekade awal setelah menopause, sehingga insidens fraktur, terutama fraktur vertebra
dan radius distal meningkat. Estrogen juga berperan menurunkan produksi berbagai
sitokin oleh bone marrow stromal cells dan sel-sel mononuklear, seperti IL-1, IL-6
dan TNF- yang berperan meningkatkan kerja osteoklas, dengan demikian penurunan
kadar estrogen akibat menopause akan meningkatkan produksi berbagai sitokin
tersebut sehingga aktivitas osteoklas meningkat.
Untuk mengatasi keseimbangan negatif kalsium akibat menopause, maka
kadar PTH akan meningkat pada wanita menopause, sehingga osteoporosis akan
semakin berat. Pada menopause, kadangkala didapatkan peningkatan kadar kalsium
serum, dan hal ini disebabkan oleh menurunnya volume plasma, meningkatnya kadar
albumin dan bikarbonat, sehingga meningkatkan kadar kalsium yang terikat albumin
dan juga kadar kalsium dalam bentuk garam kompleks. Peningkatan bikarbonat pada
menopause terjadi akibat penurunan rangsang respirasi, sehingga terjadi relatif
asidosis respiratorik.
C. Patogenesis Osteoporosis Sekunder
Rizki Ovianti 2010.73

Page 12

Selama hidupnya seorang wanita akan kehilangan tulang spinalnya sebesar


42% dan kehilangan tulang femurnya sebesar 58%. Pada dekade ke-8 dan 9
kehidupannya, terjadi ketidakseimbangan remodeling tulang, dimana resorpsi tulang
meningkat, sedangkan formasi tulang tidak berubah atau menurun. Hal ini akan
menyebabkan kehilangan massa tulang, perubahan mikroarsitektur tulang dan
peningkatan resiko fraktur.
Defisiensi kalsium dan vitamin D juga sering didapatkan pada orang tua. Hal
ini disebabkan oleh asupan kalsium dan vitamin D yang kurang, anoreksia,
malabsorpsi dan paparan sinar matahari yang rendah. Defisiensi vitamin K juga akan
menyebabkan osteoporosis karena akan meningkatkan karboksilasi protein tulang
misalnya osteokalsin. Penurunan kadar estradiol dibawah 40 pMol/L pada laki-laki
akan menyebabkan osteoporosis, karena laki-laki tidak pernah mengalami menopause
(penurunan kadar estrogen yang mendadak), maka kehilangan massa tulang yang
besar seperti pada wanita tidak pernah terjadi. Dengan bertambahnya usia, kadar
testosteron pada laki-laki akan menurun sedangkan kadar Sex Hormone Binding
Globulin (SHBG) akan meningkat. Peningkatan SHBG akan meningkatkan
pengikatan estrogen dan testosteron membentuk kompleks yang inaktif.
Faktor lain yang juga ikut berperan terhadap kehilangan massa tulang pada
orang tua adalah faktor genetik dan lingkungan (merokok, alkohol, obat-obatan,
imobilisasi lama). Resiko fraktur yang juga harus diperhatikan adalah resiko terjatuh
yang lebih tinggi pada orang tua dibandingkan orang yang lebih muda. Hal ini
berhubungan dengan penurunan kekuatan otot, gangguan keseimbangan dan stabilitas
postural, gangguan penglihatan, lantai yang licin atau tidak rata,

II.6. Gambaran Klinis


Osteoporosis dapat berjalan lambat selama beberapa dekade, hal ini
disebabkan karena osteoporosis tidak menyebabkan gejala fraktur tulang. Beberapa
fraktur osteoporosis dapat terdeteksi hingga beberapa tahun kemudian. Tanda klinis
utama dari osteoporosis adalah fraktur pada vertebra, pergelangan tangan, pinggul,
Rizki Ovianti 2010.73

Page 13

humerus, dan tibia. Gejala yang paling lazim dari fraktur korpus vertebra adalah nyeri
pada punggung dan deformitas pada tulang belakang. Nyeri biasanya terjadi akibat
kolaps vertebra terutama pada daerah dorsal atau lumbal. Secara khas awalnya akut
dan sering menyebar kesekitar pinggang hingga kedalam perut. Nyeri dapat
meningkat walaupun dengan sedikit gerakan misalnya berbalik ditempat tidur.
Istirahat ditempat tidaur dapat meringankan nyeri untuk sementara, tetapi akan
berulang dengan jangka waktu yang bervariasi. Serangan nyeri akut juga dapat
disertai oleh distensi perut dan ileus
Seorang dokter harus waspada terhadap kemungkinan osteoporosis bila
didapatkan :

Patah tulang akibat trauma yang ringan.

Tubuh makin pendek, kifosis dorsal bertambah, nyeri tulang.

Gangguan otot (kaku dan lemah)

Secara kebetulan ditemukan gambaran radiologik yang khas.

II.7. Diagnosis
Diagnosis osteoporosis umumnya secara klinis sulit dinilai, karena tidak ada rasa
nyeri pada tulang saat osteoporosis terjadi walau osteoporosis lanjut. Khususnya pada
wanita-wanita menopause dan pasca menopause, rasa nyeri di daerah tulang dan sendi
dihubungkan dengan adanya nyeri akibat defisiensi estrogen. Masalah rasa nyeri
jaringan lunak (wallaca tahun1981) yang menyatakan rasa nyeri timbul setelah bekerja,
memakai baju, pekerjaan rumah tangga, taman dll. Jadi secara anamnesa mendiagnosis
osteoporosis hanya dari tanda sekunder yang menunjang terjadinya osteoporosis seperti

Tinggi badan yang makin menurun.

Rizki Ovianti 2010.73

Page 14

Obat-obatan yang diminum.

Penyakit-penyakit yang diderita selama masa reproduksi, klimakterium.

Jumlah kehamilan dan menyusui.

Bagaimana keadaan haid selama masa reproduksi.

Apakah sering beraktivitas di luar rumah , sering mendapat paparan matahari


cukup.

Apakah sering minum susu, Asupan kalsium lainnya.

Apakah sering merokok, minum alkohol

II.8. Pemeriksaan Fisik


Tinggi badan dan berat badan harus diukur pada setiap penderita osteoporosis.
Demikian juga gaya berjalan penderita osteoporosis, deformitas tulang, nyeri spinal.
Penderita dengan osteoporosis sering menunjukkan kifosis dorsal atau gibbus dan
penurunan tinggi badan.

II.9. Pemeriksaan Radiologi


Gambaran radiologik yang khas pada osteoporosis adalah penipisan korteks dan
daerah trabekuler yang lebih lusen. Hal ini akan tampak pada tulang-tulang vertebra
yang memberikan gambaran picture-frame vertebra.

II.10. Pemeriksaan Densitas Massa tulang (Densitometri)


Densitas massa tulang berhubungan dengan kekuatan tulang dan resiko fraktur .
untuk menilai hasil pemeriksaan Densitometri tulang, digunakan kriteria kelompok
kerja WHO, yaitu:
Rizki Ovianti 2010.73

Page 15

1. Normal bila densitas massa tulang di atas -1 SD rata-rata nilai densitas massa
tulang orang dewasa muda (T-score)
2. Osteopenia bila densitas massa tulang diantara -1 SD dan -2,5 SD dari T-score.
3. Osteoporosis bila densitas massa tulang -2,5 SD T-score atau kurang.
4. Osteoporosis berat yaitu osteoporosis yang disertai adanya fraktur.
II.11. Penatalaksanaan
Terapi pada osteoporosis harus mempertimbangkan 2 hal, yaitu terapi pencegahan
yang pada umumnya bertujuan untuk menghambat hilangnya massa tulang. Dengan
cara yaitu memperhatikan faktor makanan, latihan fisik ( senam pencegahan
osteoporosis), pola hidup yang aktif dan paparan sinar ultra violet. Selain itu juga
menghindari obat-obatan dan jenis makanan yang merupakan faktor resiko osteoporosis
seperti alkohol, kafein, diuretika, sedatif, kortikosteroid.
Selain pencegahan, tujuan terapi osteoporosis adalah meningkatkan massa tulang
dengan melakukan pemberian obat-obatan antara lain hormon pengganti (estrogen dan
progesterone dosis rendah). Kalsitrol, kalsitonin, bifosfat, raloxifene, dan nutrisi seperti
kalsium serta senam beban. Pembedahan pada pasien osteoporosis dilakukan bila
terjadi fraktur, terutama bila terjadi fraktur panggul.

II.12. Pencegahan
Pencegahan osteoporosi meliputi:
1. Mempertahankan

atau

meningkatkan

kepadatan

tulang

dengan

mengonsumsi kalsium yang cukup


Mengkonsumsi kalsium dalam jumlah yang cukup sangat efektif, terutama
sebelum tercapainya kepadatan tulang maksimal (sekitar umur 30 tahun). Minum
Rizki Ovianti 2010.73

Page 16

2 gelas susu dan tambahan vitamin D setiap hari, bisa meningkatkan kepadatan
tulang pada wanita setengah baya yang sebelumnya tidak mendapatkan cukup
kalsium. Akan tetapi tablet kalsium dan susu yang dikonsumsi setiap hari akhir akhir ini menjadi perdebatan sebagai pemicu terjadi osteoporosis, berhubungan
dengan teori osteoblast.

2. Melakukan olah raga dengan beban


Olah raga beban (misalnya berjalan dan menaiki tangga) akan meningkatkan
kepadatan tulang. Berenang tidak meningkatkan kepadatan tulang.
3. Mengkonsumsi obat (untuk beberapa orang tertentu).
Estrogen membantu mempertahankan kepadatan tulang pada wanita dan
sering diminum bersamaan dengan progesteron. Terapi sulih estrogen paling
efektif dimulai dalam 4-6 tahun setelah menopause; tetapi jika baru dimulai lebih
dari 6 tahun setelah menopause, masih bisa memperlambat kerapuhan tulang dan
mengurangi risiko patah tulang. Raloksifen merupakan obat menyerupai estrogen
yang baru, yang mungkin kurang efektif daripada estrogen dalam mencegah
kerapuhan tulang, tetapi tidak memiliki efek terhadap payudara atau rahim. Untuk
mencegah osteroporosis, bisfosfonat (contohnya alendronat), bisa digunakan
sendiri atau bersamaan dengan terapi sulih hormon.

Rizki Ovianti 2010.73

Page 17

DAFTAR PUSTAKA
Broto, R. 2004. Manifestasi Klinis dan Penatalaksanaan Osteoporosis. Dexa Media No. 2 Vol
17: 47 57
Dalimartha, S, 2002. Resep Tumbuhan Obat Untuk Penderita Osteoporosis. Penebar
Swadaya. Jakarta.
Djokomoeljanto R, 2003. Postmenopausal osteoporosis. Patofisiologi dan dasar pengobatan.
Simposium Osteoporosis Postmenopausal. Semarang: p.1-12
Hammett, Stabler CA, 2004. Osteoporosis from pathophysiology to treatment. In:
Washington American Assosiation for Clinical Chemistry Press.p. 1-86
Hortono, M, 2000. Mencegah dan Mengatasi Osteoporosis. Puspa Swara. Jakarta.
Kaniawati, M., Moeliandari, F, 2003, Penanda Biokimia untuk Osteoporosis.Forum
Diagnosticum Prodia Diagnostics Educational Services. No 1: hal. 118
Lane NE. 2003. Osteoporosis. Jakarta. Raja Grafindo Persada.
Sennang AN, Mutmainnah, Pakasi RDN, Hardjoeno, 2006. Analisis KadarOsteokalsin Serum
Osteopenia dan Osteoporosis. Dalam Indonesian Journal of clinical pathology and
medical laboratory, Vol.12, No.2: hal 49-52
Setiyohadi B, 2006. Pemeriksaan Densitometri Tulang. Dalam Buku Ajar Penyakit Dalam.
Edisi IV. Editor: Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S. Pusat
Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia: Hal. 1172-75
Sinnathamby, Hemanath. 2010. Gambaran Tingkat Pengetahuan Dan Sikap Terhadap
Osteoporosis Dan Asupan Kalsium Pada Wanita Premenopause Di Kecamatan Medan
Selayang Ii. Skripsi. Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
Sudoyo, Setiyohardi, Alwi, Simadibrata, Setiati. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam . Jilid
II. Edisi IV. Jakarta: FKUI.

Rizki Ovianti 2010.73

Page 18

Rizki Ovianti 2010.73

Page 19

Anda mungkin juga menyukai