Anda di halaman 1dari 123

UNIVERSITAS GUNADARMA

PENULISAN ILMIAH / KERJA PRAKTEK

PROYEK PEMBANGUNAN IZZARA APARTMENT GTU


Masalah Khusus : Metode Pelaksanaan Dan Estimasi Biaya Pelaksanaan
Pekerjaan Pelat Lantai 11 Tower 2

Nama

Ari Muhamad Abdul Ajis F. B.

NPM

11312064

Jurusan

Teknik Sipil

Pembimbing

Irmina Setyaningrum, ST., MT.

Diajukan Guna Melengkapi Syarat untuk Mencapai Gelar


Setara Sarjana Muda pada Program Studi Teknik Sipil
Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan
Universitas Gunadarma

2015

LEMBAR PENGESAHAN

Judul Kerja Praktek

: Metode Pelaksanaan dan Estimasi Biaya Pelaksanaan


Pekerjaan Pelat Lantai 11 Tower 2

Nama

: Ari Muhamad Abdul Ajis Firmando Barkah

NPM

: 11312064

Fakultas / Jenjang

: Teknik Sipil dan Perencanaan / S1

Tanggal Sidang

: 15 Januari 2015

Tanggal Lulus

: 15 Januari 2015
Depok, 15 Januari 2015

Menyetujui,
Dosen Pembimbing

(Irmina Setyaningrum, ST., MT.)

Pembimbing Proyek

(Rudy Jakaria, ST.)

Koordinator Kerja Praktek

Ketua Jurusan Teknik Sipil

(Diyanti, ST., MT.)

(Dr. Heri Suprapto, MT.)

PERNYATAAN ORIGINALITAS DAN PUBLIKASI

Saya yang bertanda tangan di bawah ini,


Nama

: Ari Muhamad Abdul Ajis Firmando Barkah

NPM

: 11312064

Judul Kerja Praktek

: Proyek Pembangunan Izzara Apartment GTU

Masalah Khusus

: Metode Pelaksanaan dan Estimasi Biaya Pelaksanaan


Pekerjaan Pelat Lantai 11 Tower 2

Tanggal Sidang

: 15 Januari 2015

Tanggal Lulus

: 15 Januari 2015

Menyatakan bahwa tulisan ini adalah merupakan hasil karya saya sendiri dan
dapat dipublikasikan sepenuhnya oleh Universitas Gunadarma. Segala kutipan
dalam bentuk apapun telah mengikuti kaidah dan etika yang berlaku. Mengenai isi
dan tulisan didalamnya merupakan tanggung jawab penulis, bukan Universitas
Gunadarma.
Demikian pernyataan ini dibuat dengan sebenarnya dan dengan penuh kesadaran.

Depok, 15 Januari 2015

(Ari Muhamad Abdul Ajis F.B.)

ABSTRACT

Name
NPM
Title

Level
Keywords

: Ari Muhamad Abdul Ajis Firmando Barkah


: 11312064
: Izzara Apartment GTU Build Project
Specific Problem: Implementation Method and Estimated Cost of
Work Implementation Slab Floor 11th Second Tower
: Bachelors Degree (S1) Majoring in Civil Engineering,
Gunadarma University
: Implementation Method, Slab, Estimated Cost

(xix + 104 + Attachment)


Izzara Apartment GTU project is located at Jalan TB Simatupang Kav. 16-17
Cilandak, South Jakarta. It was build on an area of 6,041 m2, has 2nd towers with
26th floors for the first tower and 29th floors to the second tower. The contract
value of this project is Rp 345.000.000.000,-. The Development Project of Izzara
Apartment GTU is started on 1st October 2013 and it is planned to be completed
at 25th October 2015. Discussion of the specific problems in this report about the
implementation method and estimated cost of work implementation slab floor 11th
second tower at Izzara Apartment GTU Project. In the 11th floor it has 1383.28
m2, at the implementation of the 11th floor is divided into three zones.
Implementation Method of the 11th floor using a combination between
conventional method and metal deck method. Based on the calculation, the
requirement for reinforce steel is 13.457 kg, ready mix concrete volume
requirement is 189 m3, plywood requirement is 205 sheet, smartdek requirement
is 526.61 m2 and estimated cost total of work implementation slab floor 11th
second tower at Izzara Apartment GTU Project is Rp. 424.352.250, -.

Literature 7 (2010-2014)

iv

ABSTRAK

Nama
NPM
Judul

Jenjang
Kata Kunci

: Ari Muhamad Abdul Ajis Firmando Barkah


: 11312064
: Proyek Pembangunan Izzara Apartment GTU
Masalah khusus: Metode Pelaksanaan dan Estimasi Biaya
Pelaksanaan Pekerjaan Pelat Lantai 11 Tower 2
: Strata Satu (S1) Jurusan Teknik Sipil, Universitas Gunadarma
: Metode Pelaksanaan, Pelat Lantai, Estimasi Biaya

(xix + 104 + Lampiran)


Proyek Izzara Apartment GTU berlokasi di Jalan TB Simatupang Kav. 16-17
Cilandak, Jakarta Selatan. Apartemen ini didirikan di atas lahan seluas 6.041 m2,
memiliki 2 tower dengan 26 lantai untuk tower pertama dan 29 lantai untuk tower
kedua. Nilai kontrak proyek ini yaitu sebesar Rp 345.000.000.000,-.
Pembangunan Proyek Izzara Apartment GTU dimulai sejak tanggal 1 oktober
2013 dan direncanakan akan selesai pada tanggal 25 oktober 2015. Pembahasan
masalah khusus pada laporan ini mengenai metode pelaksanaan dan estimasi
biaya pelaksanaan pekerjaan pelat lantai 11 tower 2 pada Proyek Izzara
Apartment GTU. Pelat lantai 11 mempunyai luas 1.383,28 m2, dalam
pelaksanaannya pelat lantai 11 ini dibagi menjadi 3 zona. Metode pelaksanaan
pelat lantai 11 menggunakan gabungan metode konvensional dan metode metal
deck. Berdasarkan hasil perhitungan, kebutuhan baja tulangan adalah 13.457 kg,
Kebutuhan volume beton ready mix adalah 189 m3, Kebutuhan plywood adalah
205 lembar, Kebutuhan smartdek adalah 526,61 m2 dan didapat total estimasi
biaya pelaksanaan pekerjaan pelat lantai 11 tower 2 pada proyek Izzara Apartment
GTU adalah sebesar Rp. 424.352.250,-.
Daftar Pustaka 7 (2010-2014)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas
segala rahmat, taufik dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan laporan kerja
praktek dengan baik. Penulisan laporan Kerja Praktek ini diajukan guna
memenuhi salah satu persyaratan akademis dalam menyelesaikan jenjang
pendidikan setara sarjana muda pada jurusan Teknik Sipil, Universitas
Gunadarma. Dalam penulisan laporan ini penulis banyak mendapatkan pelajaran
dan pengetahuan baru serta dapat memahami lebih mendalam mengenai dunia
Teknik Sipil.
Penulis menyadari banyak kesulitan dalam melaksanakan dan menyusun
laporan Kerja Praktek ini. Oleh karena itu, pada kesempatan kali ini penulis ingin
mengucapkan terima kasih kepada:
1.

Ibu Prof. Dr. E. S. Margianti, SE., MM. selaku Rektor Universitas


Gunadarma.

2.

Bapak Dr. Raziq Hasan, ST., MTArs. selaku Dekan Fakultas Teknik Sipil
dan Perencanaan Universitas Gunadarma.

3.

Bapak Dr. Heri Suprapto, MT. selaku Ketua Jurusan Teknik Sipil
Universitas Gunadarma.

4.

Ibu Ir. Relly Andayani, ST., MM., MT. selaku Sekretaris Jurusan Teknik
Sipil Universitas Gunadarma.

vi

5.

Ibu Diyanti ST., MT. selaku Koordinator Penulisan Laporan Kerja Praktek
Jurusan Teknik Sipil Universitas Gunadarma.

6.

Ibu Irmina Setyaningrum, ST., MT. selaku Dosen Pembimbing yang selalu
memberikan arahan, informasi, saran dan bantuan yang sangat bermanfaat
dalam penulisan laporan ini.

7.

Keluarga Besar PT. PP (Persero), Tbk yang telah banyak membantu dan
membimbing penulis.

8.

Keluarga besar Teknik Sipil khususnya angkatan 2012 Universitas


Gunadarma.

9.

Orang Tua beserta Keluarga Besar yang telah memberikan doa serta
dukungan secara moril dan materil.

10.

Seluruh pihak yang membantu selama kerja praktek.

Penulis menyadari masih banyak kekurangan pada penulisan laporan ini


dikarenakan keterbatasan penulis dan referensi yang didapat, namun hal tersebut
tidak mengurangi usaha penulis untuk menyelesaikan laporan ini semaksimal
mungkin. Semoga Laporan Kerja Praktek ini dapat bermanfaat bagi masyarakat
umum dan mahasiswa Teknik Sipil khususnya.

Depok, 15 Januari 2015

Penulis

vii

DAFTAR ISI

Halaman
LEMBAR PENGESAHAN .............................................................................

ii

PERNYATAAN ORIGINALITAS DAN PUBLIKASI ................................ iii


ABSTRACT ........................................................................................................ iv
ABSTRAK .........................................................................................................

KATA PENGANTAR ...................................................................................... vi


DAFTAR ISI ..................................................................................................... viii
DAFTAR TABEL ............................................................................................ xiv
DAFTAR GAMBAR ........................................................................................ xv
DAFTAR LAMPIRAN .....................................................................................xviii

BAB 1 PENDAHULUAN
1.1

LATAR BELAKANG KERJA PRAKTEK............................................

1.2

TUJUAN KERJA PRAKTEK ................................................................

1.3

BATASAN MASALAH .........................................................................

1.4

LOKASI KERJA PRAKTEK ................................................................

1.5

SISTEMATIKA PENULISAN ...............................................................

BAB 2 TINJAUAN UMUM PROYEK


2.1

LATAR BELAKANG PROYEK ...........................................................

viii

2.2

TUJUAN PROYEK ...............................................................................

2.3

DATA UMUM PROYEK ......................................................................

2.4

DATA TEKNIS PROYEK......................................................................

2.5

DATA ADMINISTRASI PROYEK ...................................................... 12

BAB 3 TINJAUAN PERANCANGAN MANAJEMEN PROYEK


3.1

MANAJEMEN PROYEK....................................................................... 13
3.1.1 Pekerjaan Persiapan..................................................................... 16
3.1.2 Pekerjaan Struktur ....................................................................... 16
3.1.3 Manajemen Kualitas.................................................................... 19
3.1.4 Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) ................. 20

3.2

PERENCANAAN PROYEK ................................................................. 21

3.3

STRUKTUR ORGANISASI PROYEK ................................................. 21


3.3.1 Pemberi Tugas/ Pemilik (Owner)................................................ 23
3.3.2 Konsultan .................................................................................... 24
3.3.3 Kontraktor ................................................................................... 25

3.4

MANAJEMEN PELAKSANAAN PROYEK ....................................... 33


3.4.1 Laporan Harian ............................................................................ 33
3.4.2 Laporan Mingguan ..................................................................... 34
3.4.3 Laporan Bulanan ........................................................................ 34

3.5

PENGENDALIAN MUTU, WAKTU DAN BIAYA............................. 35


3.5.1 Pengendalian Mutu Proyek ......................................................... 35
3.5.2 Pengendalian Waktu Proyek ....................................................... 40

ix

3.5.3 Pengendalian Biaya Proyek ........................................................ 41


3.6

KONTRAK KERJA ............................................................................... 42


3.6.1 Tipe Kontrak yang Digunakan ................................................... 44

BAB 4 PELAKSANAAN PEKERJAAN DI LAPANGAN


4.1

KONDISI EKSISTING DI LAPANGAN............................................... 45

4.2

PERALATAN YANG DIGUNAKAN .................................................. 45


4.2.1 Theodolite ................................................................................... 46
4.2.2 Waterpass ................................................................................... 47
4.2.3 Excavator..................................................................................... 48
4.2.4 Tower Crane (TC) ...................................................................... 49
4.2.5 Passenger Hoist........................................................................... 50
4.2.6 Bar Bender................................................................................... 51
4.2.7 Bar Cutter.................................................................................... 52
4.2.8 Air Compressor ........................................................................... 53
4.2.9 Concrete Bucket........................................................................... 54
4.2.10 Mixer Truck ................................................................................. 55
4.2.11 Scaffolding................................................................................... 56
4.2.12 Vibrator ....................................................................................... 57
4.2.13 Concrete Pump ............................................................................ 58
4.2.14 Placing Boom .............................................................................. 59
4.2.15 Dump Truck ................................................................................. 59

4.3

MATERIAL YANG DIGUNAKAN DI LAPANGAN .......................... 60


4.3.1 Beton Ready Mix ......................................................................... 60
4.3.2 Baja Tulangan.............................................................................. 61
4.3.3 Tulangan Kaki Ayam .................................................................. 62
4.3.4 Beton Decking ............................................................................. 63
4.3.5 Smartdek ...................................................................................... 63
4.3.6 Plywood ....................................................................................... 64
4.3.7 Bata Powerblock.......................................................................... 65
4.3.8 Kawat Bendrat ............................................................................. 65

4.3

METODE PELAKSANAAN PEKERJAAN.......................................... 66


4.3.1 Pekerjaan Struktur Atas (Upperstructure)................................... 67
4.3.1.1

Pekerjaan Kolom......................................................... 67

4.3.1.2

Pekerjaan Balok dan Pelat lantai................................. 72

BAB 5 MASALAH KHUSUS METODE PELAKSANAAN DAN ESTIMASI


BIAYA PELAKSANAAN PEKERJAAN

PELAT LANTAI 11

TOWER 2 PADA PROYEK IZZARA APARTMENT GTU


5.1

URAIAN UMUM .................................................................................. 79

5.2

TUJUAN MASALAH KHUSUS............................................................ 80

5.3

BATASAN MASALAH KHUSUS ........................................................ 80

5.4

TEORI PENUNJANG............................................................................. 81
5.4.1 Beton............................................................................................ 81
5.4.2 Baja Tulangan.............................................................................. 81

xi

5.4.3 Pelat Beton Bertulang.................................................................. 82


5.4.4 Bekisting...................................................................................... 83
5.4.5 Plywood ....................................................................................... 84
5.4.6 Smartdek ...................................................................................... 84
5.5

METODE PELAKSANAAN PEKERJAAN PELAT LANTAI 11 TOWER


2 PADA PROYEK IZZARA APARTMENT GTU ................................ 85
5.5.1 Material dan Alat yang Digunakan.............................................. 86
5.5.2 Tahapan Pelaksanaan Pekerjaan Pelat Lantai 11 Tower 2 Proyek
Izzara Apartment GTU ................................................................ 86
5.5.3 Pengukuran (Marking)................................................................. 88
5.5.4 Pemasangan Scaffolding.............................................................. 88
5.5.5 Pekerjaan Bekisting ..................................................................... 89
5.5.5.1

Pekerjaan Bekisting Balok.......................................... 90

5.5.5.2

Pekerjaan Bekisting Pelat ........................................... 91

5.5.6 Pekerjaan Pembesian ................................................................... 92


5.5.6.1 Pembesian Balok............................................................. 92
5.5.6.2 Pembesian Pelat............................................................... 93
5.5.7 Checklist Tulangan ...................................................................... 94
5.5.8 Pembersihan Area Pengecoran .................................................... 94
5.5.9 Pengecoran .................................................................................. 95
5.5.10 Perawatan (Curing) ..................................................................... 96
5.5.11 Pembongkaran Bekisting............................................................. 97

xii

5.6

PERHITUNGAN KEBUTUHAN DAN ESTIMASI BIAYA TOTAL


PELAKSANAAN PEKERJAAN PELAT LANTAI 11 PADA PROYEK
IZZARA APARTMENT GTU ................................................................. 97
5.6.1 Menghitung Kebutuhan dan Estimasi Biaya Baja Tulangan....... 97
5.6.2 Menghitung Kebutuhan dan Estimasi Biaya Beton Ready mix... 99
5.6.3 Menghitung Kebutuhan dan Estimasi Biaya Plywood ................ 100
5.6.4 Menghitung Kebutuhan dan Estimasi Biaya Smartdek ............... 101

BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN


6.1

KESIMPULAN ....................................................................................... 103

6.2

SARAN ................................................................................................... 104

DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... xix

xiii

DAFTAR TABEL

Halaman
Tabel 2.1

Data Elevasi, Luas, dan Fungsi Bangunan Tower 1 ................... 10

Tabel 2.2

Data Elevasi, Luas, dan Fungsi Bangunan Tower 2 ................... 11

Tabel 4.1

Tipe dan Ukuran Kolom.............................................................. 68

Tabel 4.2

Tipe dan Ukuran Balok ............................................................... 73

Tabel 4.3

Tipe dan Tebal Pelat.................................................................... 73

xiv

DAFTAR GAMBAR

Halaman
Gambar 1.1

Lokasi Proyek Izzara Apartment .............................................. 4

Gambar 3.1

Skema Pekerjaan Pembangunan Gedung ................................. 14

Gambar 3.2

Skema Hubungan Kerja Proyek................................................ 23

Gambar 4.1

Theodolite ................................................................................. 47

Gambar 4.2

Waterpass ................................................................................. 48

Gambar 4.3

Excavator .................................................................................. 49

Gambar 4.4

Tower Crane ............................................................................. 50

Gambar 4.5

Passenger Hoist ........................................................................ 51

Gambar 4.6

Bar Bender................................................................................ 52

Gambar 4.7

Bar Cutter ................................................................................. 53

Gambar 4.8

Air Compressor......................................................................... 54

Gambar 4.9

Concrete Bucket........................................................................ 55

Gambar 4.10

Mixer Truck .............................................................................. 56

Gambar 4.11

Scaffolding ................................................................................ 57

Gambar 4.12

Vibrator..................................................................................... 58

Gambar 4.13

Concrete Pump ......................................................................... 58

Gambar 4.14

Placing Boom............................................................................ 59

Gambar 4.15

Dump Truck .............................................................................. 60

Gambar 4.16

Beton Ready mix ....................................................................... 61

xv

Gambar 4.17

Baja Tulangan ........................................................................... 62

Gambar 4.18

Kaki Ayam................................................................................ 62

Gambar 4.19

Beton Decking ......................................................................... 62

Gambar 4.20

Smartdek ................................................................................... 63

Gambar 4.21

Plywood .................................................................................... 64

Gambar 4.22

Bata Powerblock ....................................................................... 65

Gambar 4.23

Kawat Bendrat .......................................................................... 66

Gambar 4.24

Penulangan Kolom.................................................................... 69

Gambar 4.25

Pemasangan Beton Decking ..................................................... 69

Gambar 4.26

Pemasangan Bekisting Kolom .................................................. 70

Gambar 4.27

Pengecoran Kolom.................................................................... 71

Gambar 4.28

Pelepasan Bekisting Kolom ...................................................... 72

Gambar 4.29

Pemasangan Scaffolding ........................................................... 74

Gambar 4.30

Pemasangan Bekisting Balok dan Pelat.................................... 75

Gambar 4.31

Pemasangan Tulangan Balok dan Pelat .................................... 75

Gambar 4.32

Pemasangan Beton Decking ..................................................... 76

Gambar 4.33

Pembersihan Area Pengecoran ................................................. 77

Gambar 4.34

Proses Pengecoran Balok dan Pelat .......................................... 77

Gambar 5.1

Denah Pelat Lantai 11 dan Pembagian Zona ............................ 84

Gambar 5.2

Skema Pekerjaan Pelat Lantai .................................................. 85

Gambar 5.3

Pemasangan Scaaffolding ......................................................... 89

Gambar 5.4

Pekerjaan Bekisting Balok........................................................ 90

Gambar 5.5

Pekerjaan Bekisting Pelat ......................................................... 91

xvi

Gambar 5.6

Pekerjaan Pembesian Balok...................................................... 92

Gambar 5.7

Pekerjaan Pembesian Pelat ....................................................... 93

Gambar 5.8

Checklist Tulangan ................................................................... 94

Gambar 5.9

Pembersihan Area Pengecoran ................................................. 95

Gambar 5.10

Proses Pengecoran .................................................................... 96

Gambar 5.11

Tulangan Pelat Lantai ............................................................... 97

xvii

DAFTAR LAMPIRAN

Surat Persetujuan Kerja Praktek


Surat Pernyataan Selesai Kerja Praktek
Lembar Asistensi Kerja Praktek
Daftar Hadir Kerja Praktek
Tabel 2 Ukuran Baja Tulangan Beton Sirip
Denah Pelat Lantai 11 Tower 2 Proyek Izzara Apartment GTU

xviii

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1

LATAR BELAKANG KERJA PRAKTEK


Dewasa ini perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang

sangat pesat, khususnya dalam bidang konstruksi dan infrastruktur. Dengan


meningkatnya ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin canggih maka
diperlukan sumber daya manusia yang berkualitas agar dapat bersinergi
menghasilkan suatu konstruksi atau infrastruktur yang mempunyai kualitas yang
baik.
Dalam pemenuhan dan peningkatan sumber daya manusia yang
berkualitas diperlukan suatu usaha untuk dapat mencapainya. Oleh karena itu,
mahasiswa yang notabenenya calon sarjana dituntut memiliki keahlian yang
mumpuni agar bisa menjadi sumber daya manusia yang berkualitas. Berdasarkan
latar belakang tersebut, mahasiswa diharapkan bisa menguasai teori yang sudah
dipelajari di bangku perkuliahan dan dapat mengaplikasikannya di lapangan.
Salah satu cara untuk mencapainya yaitu dengan melakukan praktek kerja
lapangan atau kerja praktek.
Kerja Praktek merupakan kegiatan observasi yang dilakukan oleh
mahasiswa yang bertujuan untuk menerapkan teori yang didapat semasa
perkuliahan dengan praktek di lapangan. Oleh karena itu, ilmu yang didapatkan
dari kerja praktek ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bekal di dunia kerja.

Selain melakukan kerja praktek, mahasiswa juga diwajibkan untuk


menyusun tulisan ilmiah berupa laporan kerja praktek, sebagai salah satu syarat
akademik mencapai gelar Sarjana Muda Teknik Sipil. Laporan kerja praktek ini
disusun berdasarkan data serta pengamatan langsung yang dilakukan di PT. PP
(Persero), Tbk selaku kontraktor utama pada pembangunan proyek Izzara
Apartment GTU di Jalan TB Simatupang Kav. 16-17 Cilandak, Jakarta Selatan
selama 30 kali pertemuan (30 hari kerja).

1.2

TUJUAN KERJA PRAKTEK


Adapun tujuan dilaksanakannya kegiatan kerja praktek di proyek

pembangunan Izzara Apartment GTU, yaitu :


a.

Mengimplementasikan ilmu teknik sipil di lapangan, serta mengenal dunia


kerja bidang teknik sipil dengan mempraktekkan segala aspek dan cara kerja
secara nyata di lapangan dengan didasari ilmu rekasaya teknik sipil yang
didapat selama perkuliahan.

b.

Memberikan wawasan dan pengalaman baru kepada mahasiswa mengenai


kehidupan di luar kelas berkaitan dengan bidang pekerjaan yang akan
menjadi profesinya dimasa yang akan datang.

c.

Mengetahui metode-metode pekerjaan di lapangan, serta mengetahui fungsi


dan cara kerja alat-alat yang dipakai selama proses konstruksi.

d.

Mengetahui urutan kerja (sequence) dalam suatu pekerjaan.

e.

Dapat menyusun laporan kerja praktek sebagai salah satu syarat akademik
mencapai gelar Sarjana Muda Teknik Sipil.

1.3

BATASAN MASALAH
Pada pelaksanaan kerja praktek ini, proyek telah berjalan terlebih dahulu

sebelum waktu pelaksanaan kerja praktek dimulai. Adapun pelaksanaan pekerjaan


yang sedang berlangsung pada waktu pengamatan yang dilakukan saat tugas kerja
praktek di Tower 2 Proyek Izzara Apartment GTU, adalah sedang berlangsungnya
pembangunan struktur atas pada lantai 5.
Untuk lebih fokus dalam mengikuti kerja praktek ini, penulis hanya
mengamati bidang-bidang pekerjaan sebagai berikut :
a.

Pekerjaan kolom

b.

Pekerjaan pelat lantai

c.

Pekerjaan balok

d.

Pekerjaan pengecoran beton.


Untuk masalah khusus yang akan dibahas pada BAB 5, penulis akan fokus

membahas mengenai metode pelaksanaan dan estimasi biaya pelaksanaan


pekerjaan pelat lantai 11 Tower 2 pada Proyek Izzara Apartment GTU.

1.4

LOKASI KERJA PRAKTEK


Lokasi tempat penulis melakukan kerja praktek yaitu di Jalan TB

Simatupang Kav. 16-17 Cilandak, Jakarta Selatan. Adapun batas-batas dari lokasi
Proyek Pembangunan Izzara Apartment GTU adalah sebagai berikut :

a.

Sebelah utara

: Jl. TB Simatupang

b.

Sebelah selatan

: Pemukiman

c.

Sebelah timur

: Pemukiman

d.

Sebelah barat

: High scope

Gambar 1.1 Lokasi Proyek Izzara Apartment


Sumber : http://maps.google.co.id, 2014

1.5

SISTEMATIKA PENULISAN
Sistematika penulisan pada laporan kerja praktek ini adalah sebagai

berikut :
BAB 1 PENDAHULUAN
Mejelaskan tentang latar belakang pelaksanaan kerja praktek, maksud
dan tujuan kerja praktek, batasan masalah, lokasi kerja praktek, dan
sistematika penulisan laporan kerja praktek.

BAB 2 TINJAUAN UMUM PROYEK


Pada bab ini berisi mengenai latar belakang proyek, maksud dan tujuan
proyek, data umum proyek, data teknis dan data administrasi proyek
yang akan didirikan.
BAB 3 TINJAUAN PERANCANGAN MANAJEMEN PROYEK
Membahas mengenai manajemen proyek, perencanaan proyek, organisasi
proyek, manajemen pelaksanaan proyek, serta pengendalian mutu, waktu
dan biaya.
BAB 4 PELAKSANAAN PEKERJAAN DI LAPANGAN
Bab ini berisi tentang peralatan dan material yang digunakan serta
metode pelaksanaan pekerjaan yang meliputi pekerjaan persiapan,
pekerjaan struktur bawah dan pekerjaan struktur atas.
BAB 5 MASALAH KHUSUS
Pada bab ini akan diuraikan mengenai metode pelaksanaan pelat lantai
dan estimasi biaya pengecoran lantai 11 Tower 2 Proyek Izzara
Apartment GTU.
BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN
Berisi kesimpulan dan saran penulis tentang apa yang telah dilakukan
selama melaksanakan kerja praktek di lapangan dan masalah khusus yang
dianalisis.

BAB 2
TINJAUAN UMUM PROYEK

2.1

LATAR BELAKANG PROYEK


Sejalan dengan perkembangan zaman yang semakin canggih dan modern,

kebutuhan masyarakat mengalami peningkatan di berbagai aspek kehidupan, salah


satunya adalah kebutuhan lahan untuk hunian demi peningkatan kesejahteraan
hidup. Jakarta merupakan pusat perekonomian dan pendidikan di Indonesia,
karena Jakarta merupakan ibukota Negara Indonesia. Hal ini memicu warga
diberbagai daerah migrasi ke Jakarta. Akibatnya, Jakarta pun mengalami
peningkatan jumlah penduduk setiap

tahunnya. Salah satunya adalah daerah

Jakarta Selatan.
Jakarta Selatan merupakan salah satu wilayah Kotamadya yang memiliki
tingkat kepadatan penduduk cukup tinggi. Berdasarkan data yang dikeluarkan
oleh Badan Pusat Statistik pada tahun 2010, Jakarta Selatan menempati
urutan ketiga sebagai kota dengan tingkat kepadatan penduduk terbanyak di
Indonesia. Luas Wilayah Jakarta Selatan sesuai dengan Keputusan Gubernur
KDKI Nomor 1815 tahun 1989 adalah 145,37 km2 atau 22,41% dari luas DKI
Jakarta. Jakarta Selatan terdiri dari 10 kecamatan dengan jumlah penduduk
1.893.705 jiwa. Jumlah penduduk terpadat berada di Kecamatan Tebet dan yang
terjarang adalah Kecamatan Cilandak. Kepadatan penduduk per km2 di Jakarta
Selatan mencapai 12.994 jiwa.

Tingginya tingkat pertumbuhan penduduk menyebabkan meningkatnya


kebutuhan akan tempat tinggal sebagai salah satu kebutuhan primer manusia,
yang tidak diimbangi dengan luas lahan pemukiman. Hal ini menjadi masalah
yang harus diselesaikan oleh pemerintah kota Jakarta Selatan. Keterbatasan
jumlah lahan untuk hunian dapat diatasi salah satunya dengan membangunan
rumah susun atau apartemen guna meningkatkan kualitas hidup para penghuninya.
Dengan lahan yang tidak terlalu besar rumah susun atau apartemen dapat
menampung banyak penduduk sehingga kebutuhan akan tempat tinggal yang
layak huni pun terpenuhi.
Berdasarkan latar belakang tersebut, PT. PP (Persero), Tbk melaksanakan
pembangunan Izzara Apartment GTU yang berlokasi di Jalan TB Simatupang
Kav. 16-17 Cilandak, Jakarta Selatan. Proyek pembangunan Izzara Apartment
ini dimulai pada tanggal 1 Oktober 2013 dan direncanakan akan selesai pada
tanggal 25 Oktober 2015.

2.2

TUJUAN PROYEK
Adapun tujuan didirikannya proyek Izzara Apartment GTU adalah sebagai

berikut :
a.

Membangun suatu hunian yang menyediakan berbagai fasilitas untuk


penunjang secara lengkap.

b.

Menyediakan hunian dalam jumlah banyak pada lahan yang terbatas di lokasi
yang memiliki tingkat kepadatan penduduk cukup tinggi.

c.

Turut berperan dalam mengembangkan jaringan perekonomian di suatu


wilayah dan meningkatkan kualitas hidup para penghuninya.

2.3

DATA UMUM PROYEK

1.

Nama Proyek

: Izzara Apartment GTU

2.

Jenis Proyek/ Pekerjaan

: Gedung Apartemen

3.

Lokasi Proyek

: Jalan TB Simatupang Kav. 16-17


Cilandak, Jakarta Selatan

4.

Pemilik Proyek

: PT. Grage Trimitra Usaha

5.

Konsultan Perencana Struktur

: PT. Atelier 6 Struktur

6.

Konsultan Perencana Arsitek

: PT. Quadratura Indonesia

7.

Konsultan Perencana ME

: PT. Meltech Consultindo Nusa

8.

Konsultan Manajemen Konstruksi

: PT. Kandu

9.

Konsultan Quantity Surveyor

: PT. Rekagriya Mitra Buana

10. Kontraktor Utama

: PT. PP (Persero), Tbk

11. Sub Kontraktor Struktur


a. Beton Ready Mix

: PT. Pionir Beton Industri

b. Tower Crane

: PT. PJA
PT. Berkat

c. Wiremesh

: PT. Union Metal

d. Bata Ringan

: PT. Powerblock Indonesia

e. Plumbing

: PT. Clarindo

12. Waktu Pelaksanaan

: 1 Oktober 2013 25 Oktober 2015


(24 bulan)

13. Masa Pemeliharaan

: 6 Bulan

14. Lingkup Pekerjaan Proyek

: Persiapan, Struktur, Arsitek dan


Plumbing

2.4

DATA TEKNIS PROYEK


Adapun data teknis proyek pembangunan Izzara Apartment GTU ini

adalah sebagai berikut :


1.

Luas Tanah

2.

Luas Bangunan

3.

4.

: 6.041 m2

Tower 1

: 1.539 m2

Tower 2

: 1.632 m2

Tinggi Bangunan
Tower 1

: 100 m

Tower 2

: 115 m

Jumlah Lantai
Tower 1

: 5 Basement, 1 Ground Floor, 26 lantai, 1 lantai


atap.

Tower 2

: 5 Basement, 1 Ground Floor, 29 lantai, 1 lantai


atap.

Tabel 2.1. Data Elevasi, Luas, dan Fungsi Bangunan Tower 1


TOWER 1 (NORTH TOWER)
Nama Lantai
Elevasi (m)
Luas (m2)
Fungsi
B5
-17,50
7.082,513
Area Parkir
B4
-14,00
7.082,513
Area Parkir
B3
-10,50
7.082,513
Area Parkir
B2
-7,00
7.082,513
Area Parkir
B1
-3,50
9.086,595
Area Parkir
GF
0,00
9.086,595
Lobi
1
5,00
1.190,05
Unit Apartemen
2
8,60
1.190,05
Unit Apartemen
3
12,20
1.190,05
Unit Apartemen
4
15,80
1.190,05
Unit Apartemen
5
19,40
1.190,05
Unit Apartemen
6
23,00
1.190,05
Unit Apartemen
7
26,60
1.190,05
Unit Apartemen
8
30,20
1.190,05
Unit Apartemen
9
33,80
1.190,05
Unit Apartemen
10
37,40
1.190,05
Unit Apartemen
11
41,00
1.190,05
Unit Apartemen
12
44,60
1.190,05
Unit Apartemen
13
48,20
1.190,05
Unit Apartemen
14
51,80
1.190,05
Unit Apartemen
15
55,40
1.190,05
Unit Apartemen
16
59,00
1.190,05
Unit Apartemen
17
62,60
1.190,05
Unit Apartemen
18
66,20
1.190,05
Unit Apartemen
19
69,80
1.190,05
Unit Apartemen
20
73,40
1.190,05
Unit Apartemen
21
77,00
1.190,05
Unit Apartemen
22
80,60
1.190,05
Unit Apartemen
23
84,20
1.190,05
Unit Apartemen
24
87,80
1.190,05
Unit Apartemen
25
91,40
1.190,05
Unit Apartemen
26
96,40
1.190,05
Unit Apartemen
Lantai Atap
101,40
1.190,05
Lantai Atap
Sumber : PT. PP (Persero) Tbk, 2014

10

Tabel 2.2. Data Elevasi, Luas, dan Fungsi Bangunan Tower 2


TOWER 2 (SOUTH TOWER)
Nama Lantai
Elevasi (m)
Luas (m2)
Fungsi
B5
-17,50
1.383,28
Area Parkir
B4
-14,00
1.383,28
Area Parkir
B3
-10,50
1.383,28
Area Parkir
B2
-7,00
1.383,28
Area Parkir
B1
-3,50
1.383,28
Area Parkir
GF
0,00
1.383,28
Lobi
1
5,00
1.383,28
Unit Apartemen
2
8,60
1.383,28
Unit Apartemen
3
12,20
1.383,28
Unit Apartemen
4
15,80
1.383,28
Unit Apartemen
5
19,40
1.383,28
Unit Apartemen
6
23,00
1.383,28
Unit Apartemen
7
26,60
1.383,28
Unit Apartemen
8
30,20
1.383,28
Unit Apartemen
9
33,80
1.383,28
Unit Apartemen
10
37,40
1.383,28
Unit Apartemen
11
41,00
1.383,28
Unit Apartemen
12
44,60
1.383,28
Unit Apartemen
13
48,20
1.383,28
Unit Apartemen
14
51,80
1.383,28
Unit Apartemen
15
55,40
1.383,28
Unit Apartemen
16
59,00
1.383,28
Unit Apartemen
17
62,60
1.383,28
Unit Apartemen
18
66,20
1.383,28
Unit Apartemen
19
69,80
1.383,28
Unit Apartemen
20
73,40
1.383,28
Unit Apartemen
21
77,00
1.383,28
Unit Apartemen
22
80,60
1.383,28
Unit Apartemen
23
84,20
1.383,28
Unit Apartemen
24
87,80
1.383,28
Unit Apartemen
25
91,40
1.383,28
Unit Apartemen
26
96,40
1.383,28
Unit Apartemen
27
101,40
1.383,28
Unit Apartemen
28
106,40
1.383,28
Unit Apartemen
29
111,40
1.493,45
Unit Apartemen
Lantai Atap
115,00
1.493,45
Lantai Atap
Sumber : PT. PP (Persero) Tbk, 2014

11

5.

Pondasi
Jenis pondasi yang digunakan pada proyek pembangunan Izzara

Apartment GTU yaitu Raft Pondation atau pondasi rakit.

2.5

DATA ADMINISTRASI PROYEK


Data administrasi proyek pembangunan Izzara Apartment GTU adalah

sebagai berikut:
a.

Total Kontrak

: Rp 345.000.000.000,-

b.

Jenis Kontrak

: Lump Sump Fixed Price

c.

Cara Pembayaran

: Monthly Progress

12

BAB 3
TINJAUAN PERENCANAAN MANAJEMEN PROYEK

3.1

MANAJEMEN PROYEK
Terry dalam bukunya yang berjudul Principles of Management

berpendapat bahwa manajemen adalah suatu proses yang terdiri dari perencanaan
(planning),

pengorganisasian

(organizing),

pelaksanaan

(actuating)

dan

pengawasan (controlling) yang memanfaatkan ilmu pengetahuan (science) dan


seni (art) untuk mencapai tujuan atau sasaran yang telah ditetapkan. Kemudian
yang dimaksud dengan proyek adalah sebuah kegiatan yang bersifat sementara
yang telah ditetapkan awal pekerjaannya dan waktu selesainya (dan biasanya
selalu dibatasi oleh waktu, dan seringkali juga dibatasi oleh sumber pendanaan),
untuk mencapai tujuan dan hasil yang spesifik dan unik, dan pada umumnya
untuk menghasilkan sebuah perubahan yang bermanfaat atau yang mempunyai
nilai tambah.
Dapat disimpulkan bahwa manajemen proyek dapat diartikan sebagai
suatu proses kegiatan untuk melakukan perencanaan, pengorganisasian,
pelaksanaan dan pengawasan serta pengendalian atas sumber daya organisasi yang
bertujuan untuk mencapai tujuan tertentu dalam waktu dan sumber daya yang
telah ditentukan.

13

Dengan adanya manajemen proyek maka akan terlihat batasan mengenai


tugas, wewenang, dan tanggung jawab dari pihak-pihak yang terlibat dalam
proyek baik langsung maupun tidak langsung, sehingga tidak akan terjadi adanya
tugas dan tangung jawab yang dilakukan secara bersamaan. Apabila fungsi
manajemen proyek dapat direalisasikan dengan jelas dan terstruktur, maka tujuan
akhir dari sebuah proyek akan mudah terwujud, yaitu :
1. Tepat waktu
2. Tepat kuantitas
3. Tepat kualitas
4. Tepat biaya sesuai dengan biaya rencana
5. Tidak ada gejolak sosial dengan masyarakat sekitar
6. Tercapainya K3 dengan baik
Urutan pekerjaan umum berdasarkan lingkup pekerjaan dan hubungan
timbal balik pekerjaan proyek gedung bertingkat dapat dilihat pada skema berikut:

Gambar 3.1 Skema Pekerjaan Pembangunan Gedung


Sumber: PT. PP (Persero) Tbk, 2014

14

Dalam metode pelaksanaan ini, akan dibagi ke beberapa bagian atau


kelompok, yaitu :
1. Pekerjaan Persiapan
2. Pekerjaan Struktur
3. Pekerjaan Arsitektur
4. Pekerjaan Plumbing
Pada Proyek Izzara Apartment GTU ini paket pekerjaan mulai dari
pekerjaan persiapan, struktur, arsitektur, dan ME. Dalam pelaksanaannya
diperlukan beberapa manajemen pelaksanaan sebagai penunjang dalam rangka
mencapai target pelaksanaan proyek diantaranya yaitu:
1. Manajemen Koordinasi Pekerjaan
2. Manajemen Kualitas
3. Manajemen K3
4. Manajemen Lingkungan
5. Manajemen Housekeeping
6. Manajemen Tim Pelaksana Proyek
7. Manajemen Masa Pemeliharaan.
Penjelasan ringkas mengenai metode pelaksanaan pada kelompok
pekerjaan dan manajemen pengelolaannya dijelaskan dalam bagian-bagian
selanjutnya.

15

3.1.1 Pekerjaan Persiapan


Mobilisasi personil, peralatan dan material ke lokasi Proyek Izzara
Apartment GTU akan diatur sesuai dengan rencana dalam jadwal waktu
pelaksanaan yang disepakati dan metode pelaksanaan yang disetujui. Pada bagian
awal akan didatangkan peralatan untuk pekerjaan pembersihan lapangan,
pembuatan instalasi pekerjaan sementara dan pekerjaan struktur bawah (pondasi
dan galian tanah). Selanjutnya pendatangan peralatan disesuaikan dengan
kebutuhan di lapangan dan peralatan yang tidak dipergunakan lagi akan
dikeluarkan dari lapangan. Hal ini dibutuhkan untuk mengatur mobilitas alat
dilapangan yang efisien. Bahan yang didatangkan juga disesuaikan dengan
kebutuhan penggunaannya agar kerusakan bahan karena penyimpanan di lapangan
yang terlalu lama dapat dihindari. Hal ini juga disebabkan karena terbatasnya
lahan pekerjaan.
Pada pekerjaan bangunan temporary facility seperti bangunan untuk kantor
kontraktor, los kerja, dan gudang, PT.PP (Persero) Tbk, telah memiliki desian
khusus yang praktis. Di samping itu, pengaturan tata letak bangunan tersebut
harus memperhatikan aspek kelancaran pekerjaan sehingga menjadi efektif dan
efisien.

3.1.2 Pekerjaan Struktur


Pekerjaan struktur gedung bertingkat merupakan pekerjaan yang
memerlukan perencanaan metode pelaksanaan yang lebih detil. Pekerjaan ini
menentukan lintasan kritis yang terjadi karena bentuknya yang bertingkat.

16

Sehingga diperlukan perencanaan konsep metode, zoning dan arah pekerjaan yang
tepat. Dalam bagian metode struktur akan disampaikan secara rinci mengenai
konsep metode, zoning dan arah pekerjaan yang digunakan hingga urutan
pekerjaannya. Pekerjaan struktur dapat dikelompokkan berdasarkan material,
elemen strukturnya maupun posisinya terhadap elevasi tanah. Pengelompokan
pekerjaan struktur berdasarkan materialnya adalah :
a. Pekerjaan Pembesian
b. Pekerjaan Pengecoran
c. Pekerjaan Bekisting
Sedangkan berdasarkan elemen struktur yang dikerjakan, pekerjaan
struktur dikelompokkan adalah sebagai berikut:
a. Pekerjaan Pile Cap, tie beam dan pelat lantai basement
b. Pekerjaan Kolom
c. Pekerjaan dinding penahan tanah
d. Pekerjaan dinding shearwall/ Corewall
e. Pekerjaan balok dan pelat lantai
f. Pekerjaan tangga
g. Pekerjaan ramp
h. Pekerjaan baja atap atau kanopi
Pengelompokkan pekerjaan struktur berdasarkan posisinya terhadap
elevasi tanah yaitu :
a. Pekerjaan substructure
b. Pekerjaan upperstructure

17

Di samping pekerjaan di atas, terdapat pula pekerjaan yang terkait


langsung dengan pekerjaan struktur (sering disebut sebagai pekerjaan siteworks),
dikerjakan sebelum dan atau selama pekerjaan struktur dimulai yaitu :
a. Pekerjaan dewatering
b. Pekerjaan tanah
Metode pelaksanaan pekerjaan struktur terdiri atas banyak macam.
Beberapa diantaranya adalah sebagai berikut :
a. Metode konvensional
b. Metode precast
c. Metode Topdown
d. Metode Semi Top Down, dll.
Pada Proyek Izzara Apartment GTU metode pekerjaan yang digunakan
metode konvensional. Pemilihan metode sangat tergantung pada kondisi proyek
yang akan dikerjakan. Dapat dimungkinkan untuk melakukan kombinasi atas
beberapa metode pelaksanaan pekerjaan struktur di atas. Banyaknya keterkaitan
antara suatu pekerjaan struktur dengan pekerjaan struktur yang lain dan antara
pekerjaan struktur dengan pekerjaan arsitektur maupun Mekanikal dan Elektrikal,
menuntut perencanaan dan pelaksanaan yang baik. Suatu pekerjaan struktur
tersebut harus dikerjakan berdasarkan urutan yang benar dan dihubungkan dengan
pekerjaan struktur lain juga dengan benar. Rincian suatu pekerjaan dan disusun
dengan urutan tertentu dinamakan work breakdown structure (WBS). Setiap
pekerjaan struktur dapat dibuat WBS berdasarkan elemen dan urutan
pekerjaannya.

18

3.1.3 Manajemen Kualitas


Untuk garansi kualitas, PT.PP (Persero), Tbk menggunakan standar
internasional sistem menajemen kualitas dengan aplikasi dari ISO 9001-2008.
Komitmen PT.PP (Persero), Tbk untuk kualitas ditunjukkan dalam kebijakan
perusahaan. Dalam proyek konstruksi, kontrol dasar dari kualitas mengacu pada
beberapa standar, yaitu :
a. ISO 9001-2008
b. Spesifikasi teknik dari proyek
c. Target kualitas PT. PP (Persero), Tbk
d. Quality Management
ISO 9001-2008 adalah standar internasional untuk kualitas sistem
manajemen dari perusahaan. Sistem ini menjadi benchmark dalam hasil kontrol
kualitas dari konstruksi. Spesifikasi teknik dari proyek adalah dokumen yang
menjadi kualitas standar dari material, metode konstruksi, tes dan hasil konstruksi
yang harus dilaksanakan oleh kontraktor yang dibutuhkan oleh owner dari proyek.
Target kualitas PT.PP (Persero), Tbk, adalah hasil standar kualitas
pekerjaan dari tipe pekerjaan yang bervariasi yang ditetapkan oleh PT.PP
(Persero), Tbk, dengan tujuan untuk membuat hasil standar dari pekerjaan dan
meningkatkan kualitas dan menyeragamkan benchmark kualitas yang diinginkan.
Manajemen dari kualitas (quality management) adalah pengaturan dari
kualitas yang harus dilakukan oleh tim proyek berdasarkan dari rencana kualitas,
terget kualitas, papan penilaian, spesifikasi teknik dan ISO 9001-2008.

19

Manajemen dari kualitas terdiri dari rencana kualitas, jaminan kualitas dan kontrol
kualitas. Penjelasan detail tentang rencana kualitas dijelaskan terlampir.

3.1.4 Manajemen Keselamatan & Kesehatan Kerja (K3)


Untuk menjamin konstruksi berjalan dengan lancar dan meminimalisir
terjadinya kecelakaan, PT.PP (Persero), Tbk menggunakan standar sistem
managemen kualitas internasional ISO 18001-2007. PT.PP (Persero), Tbk
menunjukkan komitmen keselamatan kerja dalam kebijakan perusahaan. Adapun
dalam pelaksanaan pekerjaan, kontrol dasar dari K3 mengacu pada beberapa
standar, yaitu :
a. OHSAS 18001-2007
b. Technical Specification of The Project
c. Safety Target of PT. PP ( Persero), Tbk.
d. Safety Management
OHSAS 18001- 2007 adalah standar internasional untuk sistem
menagemen keselamatan. Sistem ini menjadi benchmark dalam kontrol
keselamatan dalam konstruksi.
Spesifikasi teknik proyek adalah dokumen yang menjadi standar
keselamatan dari konstruksi yang harus dilakukan oleh kontraktor yang
dibutuhkan oleh pemilik proyek. Target keselamatan dari PT. PP (Persero), Tbk
adalah standar keselamatan konstruksi yang ditetapkan oleh PT. PP (Persero), Tbk
dengan tujuan untuk standarisasi keselamatan dan meningkatkan kondisi
keselamatan dan menyeragamkan benchmark keselamatan yang diinginkan.

20

Manajemen keselamatan adalah pengaturan dari keselamatan yang harus


dilakukan oleh tim proyek berdasarkan dari rencana keselamatan, terget
keselamatan, papan penilaian, spesifikasi teknik dan OHSAS 18001-2007.
Managemen keselamatan terdiri dari rencana keselamatan, pelaksanaan,
administrasi dan laporan rencana keselamatan. Penjelasan detail tentang rencana
keselamatan dijelaskan dalam bagian lain dalam metode pelaksanaan ini.

3.2

PERENCANAAN PROYEK
Perencanaan merupakan salah satu bagian terpenting dalam sebuah

manajemen proyek. Secara umum, perencanaan adalah suatu tahapan dalam


sebuah proyek yang di dalamnya terdapat proses desain proyek yang akan
dibangun, baik dalam hal bentuk fisik, sruktur organisasi, teknis pekerjaan, waktu
maupun biaya, agar proyek tersebut berjalan sesuai apa yang diharapkan. Sebuah
manajemen proyek harus membuat langkah-langkah proaktif dalam melakukan
perencanaan yang baik agar sasaran dan tujuan dapat dicapai. Adapaun tujuan dari
perencaan proyek adalah untuk memenuhi persyaratan spesifikasi proyek yang
ditentukan dalam batasan biaya, mutu dan waktu ditambah dengan terjaminnya
faktor keamanan (safety).

3.3

STRUKTUR ORGANISASI PROYEK


Salah satu bagian dari manajemen proyek yang memegang peranan cukup

penting adalah organisasi proyek. Sebuah proyek akan berjalan baik dan berhasil
jika di dalamnya terdapat sebuah organisasi proyek yang baik. Pengorganisasian

21

dalam proyek bertujuan untuk melakukan pengelolaan proyek dengan tujuan


mengatur tahap-tahap pelaksanaan pekerjaan dalam mencapai tujuan proyek
tersebut. Sedangkan organisasi dalam proyek merupakan sebuah sistem yang
melibatkan banyak pihak yang saling bekerja sama dan melengkapi dalam
melaksanakan serangkaian kegiatan. Oleh karena itu unsur-unsur yang terlibat
dalam organisasi proyek tersebut harus saling bekerja sama dan bersinergi dan
juga memiliki rasa tanggung jawab terhadap tugas, kewajiban serta wewenang
yang telah diberikan sesuai dengan keahlian dan bidang masing-masing.
Secara garis besar pihak-pihak yang terlibat dalam proyek pembangunan
mulai dari tahap perencanaan sampai dengan tahap pelaksanaan dapat dibagi
menjadi tiga pihak :
1. Pemilik proyek (owner)
2. Pihak konsultan (perencana/ pengawas)
3. Pihak kontraktor (pelaksana)

22

OWNER
PT. GRADE TRAMITRA USAHA

KONSULTAN PERENCANA

KONSULTAN MK

PT. ATELIER 6 STRUKTUR

PT. KANDU

KONTRAKTOR PELAKSANA
PT. PP (PERSERO) TBK

SUB KONTRAKTOR

SUB KONTRAKTOR

SUB KONTRAKTOR

Keterangan:
Garis Instruksi

Garis Koordinasi

Gambar 3.2 Skema Hubungan Kerja Proyek


Sumber: PT. PP (Persero) Tbk, 2014

3.3.1 Pemberi Tugas/ Pemilik (Owner)


Pemilik (owner) dapat berupa perorangan, perusahaan atau pemerintah
yang mempunyai ide atau gagasan untuk membangun suatu bangunan konstruksi
dan akan mewujudkan ide atau gagasannya tersebut menjadi suatu bangunan.

23

Tugas dan wewenang pemilik antara lain :


1. Menyediakan biaya untuk seluruh proses pembangunan yang akan
dikerjakan pada proyek tersebut.
2. Menunjuk konsultan perencana, pengawas, dan kontraktor utama.
3. Menentukan jumlah pembayaran dan waktu pembayaran.
4. Memiliki kedudukan tertinggi untuk memberikan keputusan mengenai
proyek.

3.3.2 Konsultan
a.

Konsultan Pengawas
Dalam pelaksanaan pekerjaan, pemilik proyek menunjuk suatu perusahaan

yang berbadan hukum untuk mengawasi kegiatan yang dilakukan atau


dilaksanakan oleh kontraktor agar segala pekerjaan yang dilakukan oleh pihak
kontraktor sesuai dengan rancangan yang telah dibuat sebelumnya serta mutu dari
pekerjaan dapat sesuai rencana secara maksimal. Pemilihan pihak konsultan
manajemen konstruksi didasarkan atas akreditasinya dan pengalamannya.
Konsultan manajemen konstruksi akan memberikan laporan harian, mingguan dan
bulanan tentang perkembangan pelaksanaan proyek kepada pemilik proyek dan
pimpinan proyek.
Tugas dan tanggung jawab konsultan manajemen konstruksi yaitu :
1. Membantu pengelolaan proyek dalam mengembangkan sasaran yang akan
dicapai dari aspek biaya, waktu, dan mutu pekerjaan.

24

2. Mengkoordinasikan, mengarahkan dan mengendalikan pelaksanaan


kontraktor dalam aspek mutu, biaya, waktu, dan keselamatan dalam
pekerjaan.
3. Memeriksa gambar detail pelaksanaan (shop drawing).
4. Memeriksa laporan dan hasil pekerjaan kontraktor.
b.

Konsultan Perencana
Konsultan perencana adalah suatu perusahaan (Badan Usaha) yang

ditunjuk oleh pemilik (owner) untuk mewujudkan ide atau gagasannya kedalam
suatu gambar perencanaan yang lengkap termasuk spesifikasi serta anggaran
biayanya.
Tugas dan wewenang konsultan perencana adalah :
1. Melakukan perhitungan konstruksi, perhitungan taksiran anggaran biaya
dan rencana kerja.
2. Membuat rancangan bangunan yang meliputi gambar arsitektur, gambar
struktural serta gambar kelengkapan lainnya sesuai dengan keinginan
pemilik (owner) yang disesuaikan menurut peraturan daerah yang berlaku.
3. Melakukan pengawasan pelaksanaan konstruksi secara berkala.

3.3.3 Kontraktor
Kontraktor adalah badan yang menerima pekerjaan dan menyelenggarakan
suatu pekerjaan sesuai dengan tugas dan biaya yang telah ditetapkan berdasarkan
gambar rencana dan peraturan serta syarat yang telah ditetapkan.

25

Hak dan kewajiban kontraktor :


1. Melaksanakan suatu pekerjaan sesuai dengan perencanaan, peraturan dan
syarat-syarat, risalah penjelasan pekerjaan, dan yang telah ditentukan.
2. Membuat laporan hasil pekerjaan yaitu laporan harian, mingguan, bulanan.
3. Membuat gambar pelaksanaan yang disahkan oleh konsultan pengawas.
4. Menyediakan alat keselamatan kerja untuk menjaga keselamatan pekerja.
5. Menyerahkan pekerjaan yang telah diselesaikan sesuai dengan ketetapan.
Selain pihak-pihak tersebut, masih ada pihak lain yang membantu
Pelaksanaan Proyek Izzara Apartment GTU, yaitu :
1.

Project Manager
Project Manager adalah pemimpin tertinggi dalam proyek yang
mempunyai tugas dan tanggung jawab langsung memimpin pelaksanaan
kegiatan proyek sesuai kontrak. Project Manager dituntut untuk
memahami dan menguasai rencana kerja proyek secara keseluruhan dari
segi mutu, waktu dan biaya. Tugas dan wewenang dari Project Manager
adalah sebagai berikut :
a.

Kepemimpinan seorang Project Manager harus ditunjukkan dalam


semua tahapan proyek.

b.

Project Manager memiliki kebebasan dalam mengatur proyek.

c.

Project Manager bersama dengan tim manajemen proyek harus


mengkoordinir berbagai organisasi yang ada dalam proyek.

d.

Project Manager bersama dengan tim manajemen proyek bertanggung


jawab menentukan kualitas dan nilai proyek.

26

e.

Project Manager wajib mengetahui proyek dan seluk-beluknya.


Project

Manager

harus

selalu

ditugaskan

sebelum

dimulai

perencanaan proyek dilaksanakan.


f.

Project Manager juga mempunyai tanggung jawab kepada sumber


daya manusia untuk menerima dan melepas bawahannya.

g.

Project Manager wajib membuat pelaporan rangkap kepada manajer


fungsional dan timnya sendiri.

h.

Project Manager dan tim manajemen risiko memberi tanggapan


kepada pemilik proyek terhadap resiko yang dilaporkan.

i.

Project Manager
Management

yang diusulkan harus bersertifikat

Profesional

(PMP)

atau

memiliki

Project

dokumentasi

pengalaman kerja sebelumnya.


2.

Site Manager
Site Manager mempunyai tanggung jawab langsung kepada Project
Manager maupun bertindak atas nama Project Manager dalam
melaksanakan pekerjaan proyek jika Project Manager berhalangan hadir.
Tugas dan wewenang Site Manager adalah sebagai berikut :
a.

Membantu Project Manager menangani Technical Planning di


lapangan juga menaati Project Quality Plan.

b.

Mengevaluasi kemajuan proyek secara berkala bersama seluruh tim


proyek.

c.

Mengadakan surat menyurat dengan wakil owner dan konsultan


pengawas berkaitan dengan kegiatan di lapangan.

27

d.

Memeriksa dan mengevaluasi biaya subkontraktor bersama Project


Manager.

e.

Membahas hasil rapat dengan owner dan konsultan pengawas.

f.

Membuat dan mengontrol Rencana Anggaran Biaya (RAB) bersama


Project Manager.

3.

g.

Menyelenggarakan rapat-rapat intern.

h.

Memeriksa laporan biaya proyek.

Quality Control Staff


Quality Control Staff adalah sekelompok orang yang bertugas menjaga
standarisasi kualitas produk mulai dari persiapan, penyimpanan, produksi,
sampai tahap pemakaian. Tugas dan wewenang Quality Control Staff
adalah sebagai berikut :
a.

Melaksanakan dan mengendalikan prosedur proyek dengan baik.

b.

Mengarsipkan catatan-catatan untuk dokumen.

c.

Mengawasi perbaikan atas prosedur kegiatan yang tidak sesuai.

d.

Mempersiapkan informasi kebutuhan material serta dana kepada sub


kontraktor yang diperlukan untuk menyelesaikan proyek, baik dalam
bentuk volume, jenis dan Shop Drawing.

e.

Menjamin pelaksanaan inspeksi dan pengujian secara berkala dengan


akurat sesuai tahapan pekerjaan proyek.

f.

Memastikan bahwa tahapan pekerjaan dapat dilanjutkan jika telah


memenuhi standar mutu yang telah disyaratkan.

28

4.

Quantity Surveyor Staff


Quantity Surveyor Staff adalah orang yang bertugas menangani kontrak
yang dibuat demi kelancaran suatu proyek. Quantity Surveyor Staff
biasanya bekerja pada tahapan perencanaan. Tugas dan wewenang
Quantity Surveyor Staff adalah sebagai berikut :
a.

Melakukan market survey untuk mendapatkan harga material bahan


bangunan yang akan digunakan dengan mengacu pada Techincal
Spesification dan dokumen bestek.

b.

Menentukan kisaran harga bahan bangunan yang digunakan


sebelumnya.

c.

Melaporkan hasil penerapan sistem ke kantor pusat/ cabang serta


menjamin laporan tersebut sesuai ketentuan prosedur.

d.

Mengendalikan semua dokumen sistem manajemen mutu dan K3 yang


dipakai sebagai acuan kerja proyek.

e.

Melakukan perhitungan terhadap analisa harga satuan (AHS) berikut


harga satuan pekerjaan (HSP) sesuai dengan kebijakan manajemen
proyek.

5.

Safety Supervisor
Bertanggung jawab atas terselenggaranya program Kesehatan dan
Keselamatan Kerja (K3) di suatu proyek.

Berikut adalah tugas dan

wewenang dari Safety Supervisor :


a.

Memantau dan menyelenggarakan system K3 dengan baik.

b.

Mempersiapkan rambu-rambu K3 yang diperlukan pada tempatnya.

29

c.

Mempersiapkan lingkungan kerja yang aman dan nyaman.

d.

Memberikan briefing pada pembantu pelaksana, mandor, dan sub


kontraktor.

6.

e.

Mengambil tindakan terhadap kecelakaan kerja yang terjadi.

f.

Menyelenggarakan apel safety dan kampanye K3.

Engineering Team
Engineering Team adalah sebuah kelompok kerja yang tugasnya
berhubungan dengan gambar kerja. Berikut adalah tugas dan wewenang
Engineering Team :
a.

Berkoordinasi dengan Site Manager dan MEP Coordinator.

b.

Mengantisipasi masalah yang timbul selama kegiatan engineering


berlangsung terhadap hasil pekerjaan di lapangan.

c.

Mengendalikan pembuatan shop drawing yang meliputi struktural,


arsitektur dan landscape sesuai jadwal.

d.

Mengevaluasi data teknis supplier/ sub kontraktor dalam rangka


proses persetujuan manajemen konstruksi/ owner.

e.

Memonitor proses kegiatan pelaksanaan pekerjaan di lapangan dan


segera

mengusulkan

adanya

langkah

koreksi

bila

terjadi

penyimpangan kepada Chief Engineer.


7.

Drafter
Drafter adalah orang yang bertugas membuat, memperbarui, dan
mendistribusikan gambar kerja (shop drawing), gambar terpasang (as built
drawing) untuk di lapangan dan di kantor pusat sebagai laporan akhir.

30

Gambar yang dihasilkan harus mendapat persetujuan dari konsultan.


Berikut tugas dan wewenang Drafter :
a.

Membuat gambar-gambar kerja sesusi pengarahan Engineer proyek


dan jadwal yang ditetapkan.

b.

Memeriksa kelengkapan dan sistem gambar sesuai standar yang telah


ditetapkan.

c.

Memeriksa kesesuaian gambar untuk construction dari konsultan/


owner terkait dengan bidang kerja lainnya (MEP, sipil, arsitek,
landscape dan lain-lain).

d.
8.

Membuat dan menyiapkan dokumen As Built Drawing.

Supervisor
Supervisor adalah seseorang yang mengawasi pekerjaan di lapangan agar
sesuai dengan gambar kerja serta kualitas yang telah ditetapkan. Ada 2
jenis supervisor yaitu supervisor struktur dan finishing.

9.

Surveyor
Tugas dan tanggung jawab surveyor adalah sebagai berikut :
a.

Melaksanakan pemeriksaan/ pemeliharaan rutin terhadap alat ukur


yang digunakan.

b.

Menentukan titik referensi awal proyek.

c.

Mengkalibrasi secara berkala dan pemeriksaan alat ukur selama


pelaksanaan proyek.

d.

Menetapkan asumsi-asumsi yang diperlukan pada saat pengukuran.

e.

Menjamin keakuratan hasil pengukuran.

31

f.

Melaksanakan marking untuk keperluan pelaksanaan proyek.

g.

Menjamin segala arsip-arsip baik mengenai alat ukur dan hasil


pengukuran agar terdokumentasi.

10. SEM (Site Engineer Manager)


Tugas dan wewenang Site Engineer Manager yaitu :
a.

Bertanggung jawab atas urusan teknis yang ada dilapangan.

b.

Memberikan cara-cara penyelesaian atas usul-usul perubahan desain


dari lapangan berdasarkan persetujuan pihak pemberi perintah kerja,
sedemikian rupa sehingga tidak menghambat kemajuan pelaksanaan
di lapangan.

c.

Melakukan pengawasan terhadap hasil kerja apakah sesuai dengan


dokumen kontrak.

11. SAM (Site Administration Manager)


Tugas Site Administration Manager yaitu :
a.

Bertanggung jawab atas penyelenggaraan administrasi di lapangan.

b.

Mebuat laporan keungan mengenai seluruh pengeluaran proyek.

c.

Membuat secara rinci pembukuan keungan proyek.

d.

Memeriksa pembukuan arsip-arsip selama pelaksanaan proyek.

12. SOM (Site Operation Manager)


Tugas Site Operation Manager yaitu :
a.

Mengkoordinir pelaksanaan pekerjaan di lapangan.

b.

Melaksanakan kegiatan sesuai dokumen kontrak.

32

c.

Menetapkan rencana dan petunjuk pelaksanaan untuk keperluan


pengendalian dari pelaksanaan pekerjaan.

3.4

MANAJEMEN PELAKSANAAN PROYEK


Pada manajemen pelaksanaan proyek membahas mengenai progress

pekerjaan yang digambarkan melalui laporan harian, mingguan, dan bulanan.


Pada proyek ini, laporan harian, mingguan, dan bulanan dibuat oleh kontraktor.
Setelah itu dilaporkan kepada pengawas dan disesuaikan dengan laporan
pengawas.

3.4.1 Laporan Harian


Laporan harian dibuat oleh kontraktor pelaksana. Kontraktor pelaksana
mempunyai kewajiban untuk membuat dan menyimpan laporan harian yang berisi
hal-hal sebagai berikut :
1.

Kuantitas dan macam bahan yang ada dilapangan.

2.

Penempatan tenaga kerja untuk setiap macam tugas dan keterampilannya.

3.

Jumlah, jenis dan kondisi peralatan yag tersedia.

4.

Taksiran kuantitas pekerjaan yang dilaksanakan.

5.

Jenis dan uraian pekerjaan yang dilaksanakan.

6.

Catatan-catatan lain yang berkenaan dengan pelaksanaan, perubahan


desain, gambar kerja, spesifikasi teknis dan kelambatan pekerjaan
dibanding dengan rencana serta upaya pemecahannya.

33

3.4.2 Laporan Mingguan


Laporan mingguan dibuat setiap minggu yang berisikan rangkuman dari
laporan harian dan berintikan jenis dan kemajuan fisik kumulatif pekerjaan dalam
periode satu minggu, serta hal-hal atau kejadian-kejadian penting. Laporan
mingguan ini dibuat oleh Kontraktor.

3.4.3 Laporan Bulanan


Laporan bulanan merupakan hasil rekapitulasi dan monitoring dari laporan
harian dan mingguan yang menunjukkan gambaran mengenai kemajuan dan
prestasi kerja selama kurun waktu satu bulan. Sehingga dengan begitu pemilik
proyek dapat mengontrol kegiatan proyek tersebut.
Isi laporan bulanan mencakup hal-hal sabagai berikut :
1.

Rangkuman pekerjaan selama satu bulan dan perbandingannya terhadap


rencana yang telah ditentukan.

2.

Status gambar yang telah selesai dikerjakan.

3.

Pengaturan biaya anggaran proyek dan biaya pengeluran proyek.

4.

Pengeluaran biaya dan progress pelaksanaan selama satu bulan yang


disesuaikan dengan kurva s.

5.

Penjelasan mengenai usaha yang dilakukan untuk meminimalisir


ketidaksesuaian agar realisasi dapat tercapai sesuai dengan rencana.

6.

Rangkuman ijin pelaksanaan.

7.

Foto-foto dokumentasi bangunan.

8.

Rencana kerja untuk bulan selanjutnya.

34

3.5

PENGENDALIAN MUTU, WAKTU DAN BIAYA


Pengendalian proyek merupakan suatu kegiatan pengawasan atau

monitoring suatu proyek seperti penggunaan biaya dan waktu serta evaluasi atau
pengambilan langkah-langkah yang diperlukan pada saat pelaksanaan agar proyek
tersebut dapat berjalan dengan lancar, mendapatkan mutu yang baik dan dapat
selesai sesuai dengan yang direncanakan. Tujuan dari kegiatan pengendalian
proyek ini adalah:
1.

Memperoleh kualitas bangunan yang sesuai dengan perencanaan


(pengendalian mutu).

2.

Waktu pelaksanaan sesuai dengan time schedule sehingga pihak owner


maupun kontraktor pelaksana tidak merasa dirugikan karena adanya
keterlambatan (pengendalian waktu).

3.

Meningkatkan

efisiensi

pekerjaan

sehingga

dapat

meminimalisir

pengeluaran proyek (pengendalian biaya).

3.5.1 Pengendalian Mutu Proyek


Pengendalian mutu proyek adalah mengendalikan jalannya pelaksanaan
proyek agar mendapatkan mutu yang baik dan sesuai dengan syarat yang
ditentukan dalam kontrak. Pengendalian mutu dilaksanakan dengan dua macam
cara, yaitu pengawasan pekerjaan dan uji mutu dari setiap pekerjaan yang
dilakukan. Pengendalian mutu ini mutlak diperlukan untuk memperoleh hasil
yang diinginkan sesuai dengan spesifikasi dan kualitas mutu yang telah
disepakati. Kegiatan pengawasan dilakukan untuk memperoleh mutu pekerjaan

35

dan bahan material yang berkualitas sesuai dengan sistem pengujian dan
persyaratan mutu yang telah disepakati, seperti berikut :
1.

Mutu Beton
Pelaksanaan pengendalian mutu beton dilakukan dengan semua
bahan beton yang akan digunakan harus bahan-bahan yang terbaik dan
sudah teruji kualitasnya serta harus memenuhi persyaratan SNI 03-28472002. Beton yang digunakan adalah ready mix dengan mutu beton fc 30
Mpa, fc 35 Mpa, fc 40 Mpa, fc 45 Mpa, dan fc 50 Mpa. Beton harus
mencapai lima tepat logistik, yaitu :
a.

Tiba di tempat

b.

Jumlah yang tepat

c.

Harga yang tepat

d.

Kualitas yang tepat

e.

Pada saat yang tepat.


Menyediakan tenaga kerja, bahan material, tempat kerja, peralatan,

dan alat pendukung lain yang digunakan mengacu dari spesifikasi dan
gambar yang telah ditentukan dengan memperhatikan waktu, biaya,
kualitas dan keamanan pekerjaan.
2. Mutu Baja Tulangan
Semua bahan dan konstruksi yang akan digunakan harus memenuhi
standar umum yang dipakai di Indonesia, yaitu SNI 03-1729-2002 tentang
Tata Cara Perencanaan Struktur Baja untuk Bangunan Gedung. Untuk

36

mengetahui syarat mutu baja terpenuhi atau tidak, maka terlebih dahulu
diadakan pengujian, yaitu :
a.

Pengujian sample baja tulangan yang dilakukan di laboratorium


penguji yang berwenang terdiri dari tes tarik dan tes tekuk.

b.

Semua baja tulangan harus bersih dan sesuai dengan ukuran pabrik.

c.

Tidak boleh melakukan pengecoran jika besi yang terpasang belum


ada persetujuan dari pengawas.

d.

Mutu Air, Air yang digunakan harus bersih, tidak mengandung


minyak. Bebas dari bahan organik, asam, alkali, garam, dan kotoran
lain dalam jumlah yang besar karena dapat mempengaruhi kualitas
beton dan besi tulangan. Jika terdapat keraguan, maka harus dilakukan
pengujian di laboratorium untuk memastikan kelayakan air.

3. Pembesian
Besi beton yang digunakan adalah besi beton ulir (deformamed
bar) tegangan leleh 4000 kg/cm2 (BJTD-40). Persyaratan besi tersebut
sesuai dengan SII 0136-84.
4. Pengujian Kekuatan Beton
Pengujian kekuatan beton ini bertujuan untuk mengetahui nilai kuat
tekan karakteristik suatu campuran beton pada umur tertentu. Selain itu
untuk mengetahui nilai perbandingan campuran yang akan menghasilkan
beton sesuai dengan mutu yang telah direncanakan.
Penetapan kekuatan beton dalam satuan MPa dilakukan dengan uji
kekuatan beton (crushing test) pada benda uji silinder berukuran 15 x 30

37

cm. Cara pembuatan dan jumlah benda uji silinder tersebut harus
berdasarkan syarat dan sesuai dengan SNI 03-2847-2002. Setiap
pengiriman beton ready mixed dari suatu batch yang dipilih secara acak
harus diambil :
Truk pertama

: 1 x 4 benda uji

Truk ke-2 sampai ke-5

: 2 x 4 benda uji

Truk ke-6 sampai ke-10

: 3 x 4 benda uji

Truk ke 10 sampai berikutnya : 1 x 4 benda uji


Pada Proyek Izzara Apartment GTU, dari setiap set benda uji (4
silinder), satu benda uji digunakan untuk percobaan kekuatan beton umur
7 hari, dua benda uji untuk percobaan kekuatan beton umur 28 hari, dan
satu benda uji disimpan untuk test cadangan jika diperlukan. Pengujian
beton dengan crushing test memiliki beberapa prosedur, yaitu :
a.

Menyiapkan cetakan beton silinder dengan diameter 15 cm dan tinggi


30 cm.

b.

Memasukkan sebagian dari adukan beton yang telah diuji slump ke


dalam cetakan yang dibagi menjadi 3 bagian yang sama. Kemudian
ditusuk-tusuk sebanyak 25 kali pada tiap bagian.

c.

Meratakan bagian atasnya dan memberi kode pengecoran tiap silinder


beton.

d.

Setelah didiamkan dan direndam sesuai dengan waktu yang telah


ditentukan, beton tersebut dibawa ke laboratorium untuk uji kuat tekan
beton.

38

e.

Berdasarkan data yang diperoleh, maka dapat ditentukan nilai kuat


tekan rata-rata dari benda uji.

f.
5.

Menghitung standar deviasi dan kuat tekan karakteristik.

Pengujian Slump Test


Pengujian Slump Test dimaksudkan untuk mengukur kekentalan
dari

beton

dengan

tujuan

mempermudah

dalam

pengerjaannya

(workability). Pengujian Slump Test dilakukan pada setiap truck mixer


yang datang sebelum pengecoran dilakukan. Pengujian Slump Test dengan
menggunakan Kerucut Abrams (Abrams Cone) dengan diameter atas 10
cm, diameter bawah 20 cm, dan tinggi 30 cm. Prosedur pengujian Slump
Test adalah sebagai berikut:
a.

Mengambil adukan beton yang baru dikeluarkan dari truck mixer.

b.

Meletakkan Kerucut Abrams di atas alas yang rata dan tidak menyerap
air.

c.

Memasukkan adukan beton ke dalam kerucut secara bertahap


sebanyak 3 lapis dengan ketebalan yang sama.

d.

Setiap lapisan ditusuk-tusuk sebanyak 25 kali dengan batang pemadat.


Kemudian meratakan bagian atas.

e.

Membersihkan adukan beton yang berada di sekitar kerucut.

f.

Menarik kerucut ke arah vertikal secara perlahan-lahan.

g.

Mengukur segera penurunan puncak kerucut terhadap tingginya. Hasil


pengukuran ini yang disebut sebagai slump dan merupakan ukuran
kekentalan adukan beton.

39

h.

Adukan beton dengan hasil slump yang tidak memenuhi syarat maka
tidak boleh digunakan.

6.

Perawatan Beton
Tujuan perawatan beton adalah untuk mencegah penguapan yang
berlebihan, karena dapat mengakibatkan terjadinya hambatan dan
gangguan dalam proses hidrasi. Perawatan ini dimulai sejak bekisting
mulai dibuka. Pelaksanaan perawatan beton (curing) dapat dilakukan
dengan berbagai cara, yaitu dengan menggunakan karung yang basah,
penyiraman beton, dan penambahan zat adiktif pada saat pengecoran. Pada
Proyek Izzara Appartment GTU, untuk area parkir, area hunian
menggunakan floor hardener agar memperkuat permukaan lantai beton
terhadap gesekan, khususnya beban berat dan benturan.

3.5.2 Pengendalian Waktu Proyek


Pengendalian waktu pada suatu proyek biasanya dilakukan dengan sistem
penjadwalan dengan pembuatan time schedule. Time schedule merupakan sistem
pengendalian waktu dengan menetapkan pembagian waktu untuk masing-masing
tahap pekerjaan yang disesuaikan dengan urutan logika pekerjaan. Pengendalian
waktu dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :
1.

Pengendalian jumlah tenaga kerja sesuai dengan kebutuhan. Apabila ada


keterlambatan maka perlu penambahan tenaga kerja atau jam kerja
tambahan (kerja lembur).

40

2.

Pengecekan pengadaan material dan peralatan yang selalu siap jika suatu
pekerjaan akan berlangsung.

3.

Menempatkan tenaga ahli pada setiap pekerjaan dengan keahlian masingmasing.


Sebelum melaksanakan suatu pekerjaan, maka pihak kontraktor pelaksana

harus membuat rencana kerja (master schedule) sebagai pengontrol dan


pengendali. Fungsi master schedule adalah:
1.

Sebagai pedoman bagi kontraktor agar dapat memperkirakan segala hal


yang berkaitan dengan pelaksanaan pekerjaan.

2.

Sebagai kontrol terhadap durasi waktu pelaksanaan proyek.

3.5.3 Pengendalian Biaya Proyek


Pengendalian biaya pada suatu proyek dimaksudkan agar biaya yang
dikeluarkan oleh proyek tidak melebihi anggaran yang sudah direncanakan.
Pengendalian biaya di proyek dilakukan oleh bagian Cost Control dengan cara
membuat rekapitulasi biaya yang telah dikeluarkan. Besarnya biaya yang
dikeluarkan selanjutnya akan dibandingkan dengan Rencana Anggaran Biaya
(RAB). Pengendalian biaya dilakukan secara rutin selama pelaksanaan proyek.
Pengendalian biaya proyek sangat erat dan dipengaruhi oleh hal-hal sebagai
berikut :
1.

Pengendalian waktu pelaksanaan proyek.

2.

Pengendalian mutu dan hasil pelaksanaan proyek.

41

3.

Pengendalian sistem manajemen operasional proyek yang bersangkutan,


yang tidak konsisten dalam pelaksanaannya.

3.6

KONTRAK KERJA
Kontrak kerja konstruksi dibuat sebagai dasar hukum dan pedoman

pelaksanaan bagi kontraktor yang diberikan oleh pemilik proyek. Kontrak kerja
juga berfungsi sebagai rambu-rambu bagi kontraktor maupun pemilik proyek
mengenai hal-hal yang menjadi kewajiban dan haknya dalam sebuah hubungan
kerja pelaksanaan kontrak kerja konstruksi. Kontrak kerja dalam bidang
konstruksi dapat diklasifikasikan berdasarkan beberapa hal, yaitu :
1.

Berdasarkan cara penunjukannya, kontrak kerja dibedakan menjadi dua


jenis, yaitu :

2.

a.

Kontrak kerja langsung (penunjukan langsung).

b.

Kontrak kerja tender (penunjukan melalui lelang).

Berdasarkan cara penentuan harga, kontrak kerja dibedakan menjadi


beberapa jenis, antara lain :
a.

Lump Sump Fixed Price Contract


Kontrak kerja sistem lump sump adalah kontrak pengadaan
barang atau jasa atas penyelesaian seluruh pekerjaan dalam batas
waktu tertentu dengan jumlah harga yang pasti dan tetap serta semua
resiko yang mungkin terjadi dalam proses penyelesaian pekerjaan
sepenuhnya ditanggung oleh penyedia barang atau jasa.

42

b.

Fixed Unit Price Contract


Fixed unit price contract adalah pengadaan barang atau jasa atas
penyelesaian

seluruh

pekerjaan

dalam

batas

waktu

tertentu

berdasarkan harga satuan yang pasti dan tetap untuk setiap satuan
pekerjaan

dengan

spesifikasi

teknis

tertentu

yang

volume

pekerjaannya masih bersifat sementara. Sedangkan pembayarannya


didasarkan pada hasil perhitungan bersama atas volume pekerjaan
yang benar-benar telah dilaksanakan oleh penyedia barang atau jasa.
c.

Cost Plus Fee Contract


Cost plus fee contract adalah kontrak kerja dimana kontraktor
mendapat fee yang telah disepakati jumlahnya sebelum pekerjaan
dilakukan selain mendapat penggantian dana yang telah dikeluarkan.

d.

Target Estimate with Penalty and Incentive Fee Contract


Kontrak dengan sistem ini kontraktor dimungkinkan untuk
mendapatkan sejumlah tambahan fee atau incentive jika bisa
menyelesaikan pekerjaan dengan jumlah biaya kurang dari biaya
rencana. Akan tetapi jika biaya lebih dari biaya rencana makan
kontraktor bisa saja dikenakan sejumlah sanksi.

3.

Berdasarkan cara penyediaan dana setiap tahun anggaran, kontrak kerja


dibedakan menjadi dua jenis, yaitu :
a.

Kontrak konstruksi dalam satu tahun anggaran.

b.

Kontrak konstruksi lebih dari satu tahun anggaran (multi years


contract).

43

3.6.1 Tipe Kontrak yang Digunakan


Proyek Izzara Apartment GTU, dalam perjanjian kontrak kerjanya
menggunakan kontrak kerja Lump Sump Fixed-Price (Lump Sump Contract)
antara owner (PT. Grage Trimitra Usaha) dan kontraktor pelaksana (PT.PP
(persero), Tbk) yaitu kontraktor menawarkan untuk menyelesaikan seluruh
pekerjaan dalam batas waktu tertentu dengan biaya tetap meskipun terjadi
perubahan volume pekerjaan dan semua resiko yang terjadi dalam proses
penyelesaian pekerjaan ditanggung oleh kontraktor.
Pembayaran yang dilakukan oleh pemilik proyek dilakukan dengan
mengukur hasil kerja yang sudah dilaksanakan dalam proyek, tidak ada batasan
berapa kali dan berapa persen yang akan dibayar. Penagihan harus memiliki izin
dan persetujuan dari pemilik proyek, setelah adanya kemajuan fisik proyek baik di
lapangan maupun dilihat dari laporan progress.
Progress tersebut dilihat dari laporan mingguan dan bulanan yang
diajukan oleh kontraktor dan konsultan pengawas setelah adanya pengecekan
terlebih dahulu. Jika progress yang telah diajukan sesuai dengan keadaan yang
ada di lapangan, maka proses penagihan bisa dilanjutkan setelah mendapat
persetujuan dari owner.

44

BAB 4
PELAKSANAAN PEKERJAAN DI LAPANGAN

4.1

KONDISI EKSISTING DI LAPANGAN


Pelaksanaan pekerjaan yang sedang berlangsung pada waktu pengamatan

yang dilakukan saat tugas kerja praktek di Tower 2 Izzara Apartment GTU, adalah
sedang berlangsungnya pembangunan struktur atas di lantai 5. Adapun
pelaksanaan pekerjaan yang sedang berlangsung meliputi pekerjaan struktur
kolom, pekrjaan balok, pekerjaan pelat, dan pekerjaan pengecoran. Pembangunan
Tower 2 Izzara Apartment GTU direncanakan akan dibangun 30 lantai dan
direncanakan akan selesai pada bulan oktober 2015.

4.2

PERALATAN YANG DIGUNAKAN


Saat ini proyek konstruksi bangunan bertingkat semakin berkembang,

dalam pelaksanaannya segala sesuatu harus direncanakan dengan tepat dan


cermat. Salah satunya adalah perencanaan penggunaan peralatan konstruksi yang
tepat agar dapat menunjang kelancaran pelaksanaan pekerjaan di lapangan. Dalam
pemilihan alat konstruksi yang terpenting adalah mengidentifikasi alat untuk
mengetahui fungsi serta dapat memperkirakan produktifitas suatu alat.
Pemilihan jenis dan jumlah peralatan yang akan digunakan pada suatu
proyek diperlukan beberapa pertimbangan, diantaranya adalah sebagai berikut :

45

1. Biaya yang tersedia


2. Jenis pekerjaan yang dilaksanakan
3. Jangka waktu pelaksanaan
4. Kondisi lapangan
5. Spesifikasi dan kapasitas alat
6. Kondisi alat
7. Kemampuan sumber daya yang ada
Adapun alat-alat yang digunakan pada proyek pembangunan Izzara
Apartment GTU adalah sebagai berikut :

4.2.1 Theodolite
Melakukan survei tanah adalah hal yang harus dilakukan pada tahap awal
pembangunan proyek gedung. Dalam proyek pembangunan Izzara Apartment
GTU theodolite digunakan untuk menentukan titik as bangunan, ketegaklurusan
bangunan, menentukan elevasi bangunan, dan membuat sudut-sudut bangunan.
Dalam penggunaannya, theodolite didirikan pada tripod.

46

Gambar 4.1 Theodolite

4.2.2 Waterpass
Waterpass digunakan untuk menentukan elevasi untuk lantai, balok, dan
lain-lain yang membutuhkan elevasi berdasarkan ketinggian titik yang diketahui.
Alat ini digunakan untuk mengecek ketinggian penulangan agar tidak melebihi
tinggi rencana dan mengecek ketebalan lantai saat pengecoran, sehingga lantai
yang dihasilkan datar. Selain itu juga dapat digunakan untuk pembuatan tanda/
marking pada kolom atau dinding sebagai acuan pekerjaan lain, seperti acuan
untuk pekerjaan dinding panel precast, serta dapat digunakan dalam pengecekan
settlement bangunan.

47

Gambar 4.2 Waterpass

4.2.3 Excavator
Exavator berfungsi untuk menggali tanah (digging), memuat material ke
dump truck (loading), mengangkat material (lifting), meratakan (grading) dan lain
- lain. Tujuannya adalah untuk membantu dalam melakukan pekerjaan yang sulit
dikerjakan dengan tangan manusia, sehingga pekerjaan konstruksi menjadi lebih
ringan dan dapat mempercepat waktu pengerjaan serta dapat menghemat waktu.
Excavator yang digunakan pada proyek Izzara Apartment adalah jenis backhoe.

48

Gambar 4.3 Excavator

4.2.4 Tower Crane (TC)


Hampir semua proyek gedung bertingkat tinggi menggunakan alat ini,
fungsi utamanya adalah sebagai alat lalu lintas material dari bawah menuju atas
atau sebaliknya. Misalnya digunakan saat melakukan pekerjaan pengecoran beton
dengan cara mengangkat beton dengan bucket dari truck mixer menuju area
pengecoran, fungsi lainya misalnya untuk mobilisasi besi tulangan ke area
pekerjaan. Penggunaan TC ini perlu direncanakan dengan baik dari sisi
penempatan, pondasi TC dan pengaturan jadwal penggunaan alat sehingga tower
crane dapat terpakai secara maksimal. Dalam proyek pembangunan Izzara
Apartment GTU menggunakan 2 tower crane dengan kapasitas 2,5 ton di ujung
lengan.

49

Gambar 4.4 Tower Crane

4.2.5 Passenger Hoist


Passenger hoist banyak dibutuhkan pada proyek bangunan bertingkat
tinggi. Selain digunakan untuk mengangkut pekerja proyek, juga dapat digunakan
untuk mengangkut bahan/ material kebutuhan lapangan, seperti bahan untuk
pekerjaan MEP dan alat bantu (travo las, concrete vibrator, alat ukur, dll).
Passenger hoist memakai sistem modular dan konstruksinya sederhana, sehingga
sangat praktis bongkar pasangnya. Passenger hoist yang digunakan pada proyek
Izzara Apartment adalah tipe double cage (dua cabin/ ruangan) yang memiliki
kapasitas 2 ton dan mampu menampung hingga 20 orang.

50

Gambar 4.5 Passenger Hoist

4.2.6 Bar Bender


Bar Bender adalah alat yang digunakan untuk membengkokkan baja
tulangan dalam berbagai macam sudut sesuai dengan perencanaan. Cara kerja alat
ini adalah baja yang akan dibengkokkan dimasukkan di antara poros tekan dan
poros pembengkok kemudian diatur sudutnya sesuai dengan sudut bengkok yang
diinginkan dan panjang pembengkokkannya. Ujung tulangan pada poros
pembengkok dipegang dengan kunci pembengkok. Kemudian pedal ditekan
sehingga

roda

pembengkokkan

pembengkok
yang

akan

diinginkan.

berputar
Bar

sesuai

bender

dengan

dapat

sudut

mengatur

dan
sudut

pembengkokan tulangan dengan mudah dan rapi.

51

Gambar 4.6 Bar Bender

4.2.7 Bar Cutter


Bar cutter yaitu alat pemotong baja tulangan sesuai ukuran yang
diinginkan. Pada proyek ini digunakan bar cutter listrik. Keuntungan dari bar
cutter listrik dibandingkan bar cutter manual adalah bar cutter listrik dapat
memotong besi tulangan dengan diameter besar dan dengan mutu baja cukup
tinggi, disamping itu juga dapat mempersingkat waktu pengerjaan.
Cara kerja dari alat ini yaitu baja yang akan dipotong dimasukkan ke
dalam gigi bar cutter, kemudian pedal pengendali dipijak, dan dalam hitungan
detik baja tulangan akan terpotong. Pemotongan untuk baja tulangan yang
mempunyai diameter besar dilakukan satu persatu. Sedangkan untuk baja yang
diameternya lebih kecil, pemotongan dapat dilakukan beberapa buah sekaligus
sesuai dengan kapasitas dari alat.

52

Gambar 4.7 Bar Cutter

4.2.8 Air Compressor


Air compressor adalah alat penghasil atau penghembus udara bertekanan
tinggi yang digunakan untuk membersihkan kotoran-kotoran yang dapat
mengurangi mutu dan daya lekatan tulangan pada beton seperti: debu-debu,
potongan-potongan kawat bendrat, dan serbuk-serbuk kayu. Alat ini digunakan
setelah proses pekerjaan pembesian selesai. Berikut adalah gambar air
compressor pada proyek Izzara Apartment yang terlampir pada Gambar 4.8.

53

Gambar 4.8 Air Compressor

4.2.9 Concrete Bucket


Concrete bucket adalah tempat pengangkutan beton dari mixer truck
sampai ke tempat pengecoran. Setelah dilakukan pengetesan slump dan telah
memenuhi persyaratan yang ditetapkan, maka beton dari mixer truck dituangkan
kedalam concrete bucket, kemudian pengangkutan dilakukan dengan bantuan
tower crane. Dalam pengerjaannya dibutuhkan satu orang sebagai operator
concrete bucket yang bertugas untuk membuka atau mengunci agar coran beton
tidak tumpah pada saat dibawa ke area pengecoran dengan tower crane. Concrete
bucket yang digunakan pada proyek ini mempunyai kapasitas sebesar 0,8 m3
dan berat concrete bucket adalah 300 kg. Pada proyek ini, pengecoran dengan
concrete bucket hanya untuk pengecoran kolom, shear wall dan core wall.

54

Gambar 4.9 Concrete Bucket

4.2.10 Mixer Truck


Mixer truck adalah suatu truk yang digunakan untuk mengangkut beton
segar dari tempat pencampuran bahan ke lokasi yang akan dicor. Karena
fungsinya untuk mengangkut beton segar, maka truk ini dilengkapi dengan
concrete mixer yang bentuknya seperti molen, tujuannya yaitu agar beton segar
tidak cepat mengeras dan tetap homogen. Cara kerja mixer truck adalah sebagai
berikut :
a. Apabila arah putaran concrete mixer searah jarum jam maka truk ini
berfungsi untuk mengeluarkan beton ready mixed.
b. Apabil arah putaran concrete mixer berlawanan arah jarum jam maka
truk ini berfungsi untuk mengaduk beton ready mixed.

55

Gambar 4.10 Mixer Truck

4.2.11 Scaffolding
Scaffolding adalah suatu struktur sementara yang berfungsi untuk
menyangga beban yang ada diatasnya. Contohnya untuk menunjang bekisting
pada saat beton belum dapat memikul beratnya sendiri. Biasanya scaffolding
berbentuk suatu sistem modular dari pipa atau tabung logam. Scaffolding ini
memiliki bagian-bagian sebagai berikut :
1.

Frame; adalah rangka utama dari scaffolding berupa portal dengan dua
kaki.

2.

Cross Brace; adalah rangka menyilang yang menghubungkan antar frame.

3.

Jack base; dapat dikatakan sebagai bagian kaki dari scaffolding yang
menahan supaya dapat berdiri.

4.

U head; adalah bagian atas atau kepala dari scaffolding yang


menggunakan sistem ulir dan berfungsi sebagai landasan untuk
meletakkan kayu-kayu penyangga bekisting.

56

Gambar 4.11 Scaffolding

4.2.12 Vibrator
Vibrator adalah alat yang digunakan untuk memadatkan beton pada saat
pengecoran. Penggetaran ini dimaksudkan agar saat pengecoran, beton dapat lebih
padat sehingga pengeroposan dapat berkurang. Ketika beton segar dituang
kedalam bekisting, hal yang perlu diperhatikan adalah kepadatan beton tersebut.
Mengingat beton yang tidak padat akan menjadikan beton keropos dan beton
akhirnya memiliki kuat tekan yang lemah. Kekeroposan terjadi akibat banyaknya
udara-udara yang terjebak didalam beton segar yang tidak dipadatkan.

57

Gambar 4.12 Vibrator

4.2.13 Concrete Pump


Concrete pump adalah sebuah mesin/ alat yang digunakan untuk
menyalurkan beton segar ke tempat pengecoran yang letaknya sulit dijangkau oleh
truck mixer.

Gambar 4.13 Concrete Pump

58

4.2.14 Placing Boom


Placing boom adalah alat bantu untuk menyalurkan beton readymix dari
mixer truck ke tempat yang akan dicor dengan dibantu menggunakan alat concrete
pump sebagai pendorong beton readymix dari mixer truck. Placing boom sendiri
digunakan untuk pengecoran dengan ketinggian lebih dari 50 m dan pengecoran
yang dilakukan minimal 50 m3, hal ini di karenakan wise atau kehilangan beton di
pipa bisa mencapai 1 m3 lebih.

Gambar 4.14 Placing Boom

4.2.15 Dump Truck


Dump truck berbentuk seperti mobil pada umumnya namun dibuat lebih
besar dengan bak dibelakngnya sehingga dapat digunakan untuk mengangkut
barang semacam pasir, kerikil atau tanah untuk keperluan konstruksi. Secara
umum, dump truck dilengkapi dengan bak terbuka yang dioperasikan dengan
bantuan hidrolik, bagian depan dari bak itu bisa diangkat keatas sehingga

59

memungkinkan material yang diangkut bisa melorot turun ke tempat yang


diinginkan.

Gambar 4.15 Dump Truck

4.3

MATERIAL YANG DIGUNAKAN DI LAPANGAN


Material yang digunakan dalam proyek pembangunan Izzara Apartment

GTU harus sesuai dengan spesifikasi yang tertera dalam kontrak kerja yang telah
disepakati oleh kontraktor dan owner. Berikut ini material yang digunakan dalam
proyek Izzara Apartment GTU ini adalah:

4.3.1 Beton Ready Mix


Pada proyek Izzara Apartment GTU ini digunakan beton bertulang untuk
pekerjaan strukturnya. Karena skala proyek yang sangat besar maka untuk
mempercepat proses pengerjaan dipakai beton ready mix. Pada proyek Izzara
Apartment GTU mutu beton yang digunakan adalah fc 30 Mpa, fc 35 Mpa, fc

60

40 Mpa, fc 45 Mpa dan fc 50 Mpa. Pengunaan ready mix dipilih karena


beberapa alasan, diantaranya yaitu :
a. Penghematan waktu dalam pengecoran
b. Pemakain beton ready mix dapat mengontrol kualitas beton.

Gambar 4.16 Beton Ready Mix

4.3.2 Baja Tulangan


Baja tulangan adalah baja yang berbentuk bulat panjang, dan digunakan
untuk pekerjaan penulangan beton. Mengingat proyek Izzara Apartment GTU ini
merupakan proyek pembangunan gedung dengan beton bertulang, maka
kebutuhan baja sangatlah penting karena baja merupakan material tulangan beton
yang selama ini dikenal yang paling efektif.

61

Gambar 4.17 Baja Tulangan

4.3.3 Tulangan Kaki Ayam


Tulangan kaki ayam digunakan sebagai separator antara tulangan pelat
agar tidak saling berhimpit. Tulangan kaki ayam terbuat dari besi ulir dengan
diameter 10 mm.

Gambar 4.18 Kaki Ayam

62

4.3.4 Beton Decking


Beton decking adalah beton atau spesi yang dibentuk sesuai dengan ukuran
selimut beton yang diinginkan. Biasanya berbentuk kotak-kotak atau silinder.
Dalam pembuatannya, diisikan kawat bendrat pada bagian tengah yang nantinya
dipakai sebagai pengikat pada tulangan. Beton decking digunakan untuk
mengganjal tulangan besi agar pada saat pemasangan tidak berihimpit dengan
bekisting. Selain itu beton decking ini berfungsi untuk mengatur ketebalan selimut
beton agar sesuai dengan yang direncanakan.

Gambar 4.19 Beton Decking

4.3.5 Smartdek
Smartdek merukan pelat lantai cor metal yang digunakan sebagai lapisan
paling dasar pada pengecoran pelat lantai. Pelat yang memiliki tebal 0,7 mm
terbuat dari baja high tensile G550. Permukaannya bergelombang menyerupai
huruf W dan smartdek ini digunakan pada konstruksi pelat lantai.

63

Gambar 4.20 Smartdek

4.3.6 Plywood
Plywood yaitu sejenis papan pabrikan yang terdiri dari lapisan kayu yang
direkatkan bersama-sama. Plywood ini digunakan sebagai bekisting pada pelat
lantai dan kolom. Plywood yang digunakan pada proyek ini yaitu Plywood dengan
ketebalan 15 mm untuk pelat lantai dan 18 mm untuk kolom.

Gambar 4.21 Plywood

64

4.3.7 Bata Powerblock


Bata powerblock adalah beton ringan yang dibuat dari bahan baku seperti
pasir silika, semen dan bahan campuran lain yang dikategorikan sebagai bahanbahan untuk beton ringan.

Gambar 4.22 Bata Powerblock

4.3.8 Kawat Bendrat


Kawat bendrat digunakan sebagai pengikat rangkaian tulangan-tulangan
antara satu tulangan dengan yang lainnya baik untuk tulangan kolom, balok, slab,
shearwall, atau pun rangkaian tulangan lainnya

sehingga membentuk sutau

rangkaian rangka elemen struktur yang siap dicor. Selain itu, kawat ini juga dapat
digunakan untuk hal-hal lain, seperti pengikatan beton decking pada tulangan serta
mengikat material-material lain.

65

Gambar 4.23 Kawat Bendrat

4.4

METODE PELAKSANAAN PEKERJAAN


Pembangunan gedung diselenggarakan melalui berbagai tahapan pekerjaan

konstruksi. Pekerjaan konstruksi adalah rangkaian kegiatan perencanaan dan


pelaksanaan serta pengawasan yang meliputi pekerjaan arsitektural, struktur,
mekanikal, elektrikal dan tata lingkungan beserta kelengkapannya masing-masing
dalam mewujudkan suatu bangunan.
Penerapan metode pelaksanaan konstruksi, selain terkait erat dengan
kondisi lapangan dimana suatu proyek konstruksi dikerjakan juga tergantung dari
jenis proyek yang dikerjakan. Metode pelaksanaan pekerjaan untuk bangunan
gedung akan berbeda dengan metode pekerjaan bangunan irigasi, bangunan
pembangkit listrik, konstruksi dermaga, maupun konstruksi jalan dan jembatan.
Dalam melakukan suatu proyek konstruksi, diperlukan adanya suatu
sistem manajemen yang baik agar proyek tersebut berhasil tercapai. Berbagai
metode dilakukan oleh pihak pelaksana untuk tercapainya tujuan proyek. Metode-

66

metode tersebut kemudian dikenal dengan istilah metode pelaksanaan konstruksi,


dimana semua metode tersebut mempunyai suatu tujuan yang penting yaitu
bagaimana menggabungkan semua sumber daya untuk mencapai tujuan proyek
tersebut.

4.3.1 Pekerjaan Struktur Atas (Upper Structure)


Dalam pekerjaan struktur atas di proyek pembangunan Izzara Apartment
GTU, ada tiga pekerjaan utama yaitu pekerjaan kolom, pekerjaan balok dan
pekerjaan pelat lantai. Ketiga pekerjaan tersebut merupakan pekerjaan beton,
sehingga dalam metode pelaksanaan pekerjaannya tidak jauh berbeda satu sama
lainnya. Berikut ini adalah pekerjaan struktur atas pada proyek Izzara Apartment
GTU yang diamati selama kerja praktek, antara lain:

4.3.1.1 Pekerjaan Kolom


Kolom adalah komponen struktur bangunan yang bertugas menyangga
beban aksial tekan vertikal dengan bagian tinggi yang ditopang paling tidak tiga
kali dimensi laterial terkecil (Dipohisodo,1994). Fungsi kolom adalah sebagai
penerus beban seluruh bangunan ke pondasi.
Prosedur pelaksanaan pekerjaan kolom pada proyek ini secara keseluruhan
sama, meskipun dimensi dan jumlah tulangan pada masing-masing tipe kolom
berbeda-beda. Adapun dimensi dari masing-masing tipe kolom adalah sebagai
berikut :

67

Tabel 4.1. Tipe dan Ukuran Kolom


No.

Tipe Kolom

Dimensi (mm)

1.

K21

500 x 3000

2.

K22

500 x 3200

3.

K23

500 x 2000

4.

K24

500 x 1200

5.

K25

500 x 1200

Sumber : PT. PP (Persero) Tbk, 2014

Langkah teknis pekerjaan kolom pada proyek Izzara Apartment GTU


adalah sebagai berikut :
a.

Penentuan As Kolom
Langkah awal yang dilakukan yaitu pengukuran atau marking pada daerah
yang akan dibuat kolom dengan menggunakan theodolite. Hal ini dilakukan
untuk menentuan as kolom dan guna memastikan letak kolom sesuai dengan
gambar yang telah direncanakan.

b.

Penulangan Kolom
Proses pekerjaan pembesian atau perakitan tulangan dalam proyek ini
dilakukan ditempat fabrikasi agar lebih aman dalam pembuatannya. Perakitan
tulangan kolom harus sesuai dengan gambar kerja. Setelah tulangan selesai
dirakit, kemudian tulangan tersebut diangkut dengan menggunakan Tower
Crane ke lokasi yang akan dipasang.

68

Gambar 4.24 Penulangan Kolom


c.

Pemasangan Beton Decking


Setelah besi tulangan terpasang pada posisinya, kemudian dipasang beton
decking sesuai ketentuan. Beton decking ini berfungsi sebagai selimut beton.

Gambar 4.25 Pemasangan Beton Decking


d.

Pengecekan Dan Pembersihan


Pengecekan dan pembersihan ini dilakukan oleh Quality Control (QC). QC
melakukan pengecekan apakah tulangan yang dipasang sudah sesuai dengan

69

rencana dan telah bersih dari kotoran-kotoran yang menempel sebelum


dipasang bekisting.
e.

Pemasangan Bekisting Kolom


Selanjutnya pemasangan bekisting pada kolom, pekerjaan ini dilakukan
apabila pihak QC sudah memastikan tulangan yang dipasang sesuai dengan
gambar kerja.

Gambar 4.26 Pemasangan Bekisting Kolom


f.

Pekerjaan Pengecoran Kolom


Pekerjaan pengecoran kolom dilakukan apabila pekerjaan diatas telah selesai
dan sesuai dengan rencana, dan telah lulus check list dari QC. Pengecoran
kolom dilakukan dengan menggunakan concrete bucket yang dihubungkan
dengan pipa tremi. Bucket tersebut diangkut menggunakan Tower Crane
untuk memudahkan pengerjaan.

70

Penuangan beton dilakukan secara bertahap, hal ini dilakukan untuk


menghindari terjadinya segregasi yaitu pemisahan agregat yang dapat
mengurangi mutu beton. Selama proses pengecoran berlangsung, beton
dipadatkan menggunakan vibrator. Hal ini dilakukan untuk menghilangkan
rongga-rongga udara serta untuk mencapai pemadatan yang maksimal pada
beton tersebut.

Gambar 4.27 Pengecoran Kolom


g.

Pelepasan Bekisting Kolom


Setelah proses pengecoran selesai, kemudian dilakukan pelepasan bekisting
kolom 8 jam setelah pengecoran.

71

Gambar 4.28 Pelepasan Bekisting Kolom


h.

Perawatan (Curing)
Setelah dilaksanakan pengecoran, maka untuk menjaga agar mutu beton tetap
terjaga dilakukan perawatan beton (curing). Perawatan beton pada proyek
Izzara Apartment GTU dilakukan dengan cara menyiram atau membasahi
beton 2 kali sehari selama 3 hari.

4.3.1.2 Pekerjaan Balok dan Pelat Lantai


Pekerjaan balok dan pelat dilaksanakan setelah pekerjaan kolom telah
selesai dikerjakan. Pada proyek Izzara Apartment GTU sistem balok yang dipakai
adalah konvensional.

Dalam pengerjaannya balok dan pelat tidak dapat

dipisahkan satu sama lain. Semua perkerjaan balok dan pelat dilakukan langsung
di lokasi yang direncanakan, mulai dari pembesian, pemasangan bekisting,
pengecoran sampai perawatan.

72

Prosedur pelaksanaan pekerjaan balok dan pelat pada proyek ini secara
keseluruhan sama, meskipun dimensi pada masing-masing tipe balok dan pelat
berbeda-beda. Adapun dimensi dari masing-masing tipe balok dan pelat adalah
sebagai berikut :
Tabel 4.2. Tipe dan Ukuran Balok
No.

Tipe Balok

Dimensi (mm)

1.

B21

300 x 600

2.

B22

300 x 600

3.

B23

300 x 600

4.

B24

200 x 400

Sumber : PT. PP (Persero) Tbk, 2014

Tabel 4.3. Tipe dan Tebal Pelat


No.

Tipe Pelat

Tebal (mm)

1.

S21

130

2.

S22

125

Sumber : PT. PP (Persero) Tbk, 2014

Tahapan-tahapan atau prosedur pekerjaan balok dan pelat lantai adalah


sebagai berikut :
a.

Pengukuran (Marking)
Pertama dilakukannya pengukuran pada daerah yang akan dibuat slab atau
pelat dengan menggunakan alat ukur. Sehingga tinggi pada pelat lantai yang
ada bisa diketahui dan disesuaikan dengan rencana.

73

b.

Pemasangan Scaffolding
Pemasangan scaffolding berfungsi untuk menyangga beban dari bekisting,
tulangan, beban beton, beban pekerja selama proses pekerjaan pelat lantai
berlangsung.

Gambar 4.29 Pemasangan Scaffolding


c.

Memasang Bekisting Balok dan Pelat


Bekisting berguna untuk memberi bentuk pada balok dan pelat sesuai dengan
gambar kerja. Pada proyek ini bekisting yang digunakan untuk balok yaitu
bekisting dari plywood. Sedangkan untuk bekisting pelat lantai yang
digunakan yaitu bekisting dari plywood dan smartdek.

74

Gambar 4.30 Pemasangan Bekisting Balok dan Pelat


d.

Memasang Tulangan Balok dan Pelat


Penulangan pada balok dilakukan berdasarkan gambar kerja. Setelah tulangan
balok terpasang, tahap selanjutnya yaitu penulangan pelat. Penulangan pelat
dilakukan langsung diatas bekisting pelat yang sudah terpasang.

Gambar 4.31 Pemasangan Tulangan Balok dan Pelat

75

e.

Memasang Beton Decking


Pemasangan beton decking agar beton memiliki kulit beton yang berfungsi
untuk melindungi tulangan dari udara bebas dan kondisi air lembab dari luar.

Gambar 4.32 Pemasangan Beton Decking


f.

Melakukan Pengecekan (Checklist) Tulangan


Setelah pembesian balok dan pelat dianggap selesai, selanjutnya diadakan
checklist atau pengecekan pada tulangan. Pengecekan ini bertujuan untuk
memastikan pemasangan tulangan pada balok dan pelat sesuai dengan yang
direncanakan.

g.

Membersihkan Area Pengecoran


Setelah pengecekan atau checklist selesai dilakukan, tahap selanjutnya yaitu
melakukan pembersihan pada area pengecoran balok dan pelat lantai dari
debu dan puing-puing yang menempel. Pekerjaan ini dilakukan secara manual
dan menggunakan alat air compressor dengan cara menghembuskan udara
bertekanan tinggi ke area pengecoran balok dan pelat lantai.

76

Gambar 4.33 Pembersihan Area Pengecoran


h.

Melakukan Pengecoran Balok dan Pelat


Pekerjaan pengecoran dilakukan apabila pekerjaan pembersihan area
pengecoran telah selesai dan sesuai dengan rencana. Pekerjaan pengecoran
balok dan pelat lantai dilakukan secara bersamaan. Beton readymix
dimasukkan perlahan kedalam bekisting yang telah terpasang tulangan
kemudian dilakukan penggetaran dengan menggunakan vibrator. Penggetaran
ini dilakukan agar beton readymix masuk keseluruh luasan yang akan dicor
sehingga tidak terdapat rongga udara yang dapat mengurangi kualitas beton.

Gambar 4.34 Proses Pengecoran Balok dan Pelat

77

i.

Perawatan (Curing)
Setelah dilaksanakan pengecoran, maka untuk menjaga agar mutu beton tetap
terjaga dilakukan perawatan beton. Perawatan beton yang dilakukan adalah
dengan menyiram atau membasahi beton 2 kali sehari dilakukan selama 3 hari
berturut-turut.

j.

Pembongkaran Bekisting Balok dan Pelat


Pembongkaran atau pelepasan bekisting dilakukan setelah beton berumur 7
hari. Setelah bekisting selesai dibongkar langkah selanjutnya yaitu pemberian
support pada pelat lantai (reshoring) tiap jarak 2-3 m.

78

BAB 5
MASALAH KHUSUS
METODE PELAKSANAAN DAN ESTIMASI BIAYA
PELAKSANAAN PEKERJAAN PELAT LANTAI 11 TOWER 2

5.1

URAIAN UMUM
Dalam pelaksanaan suatu proyek konstruksi, semakin besar proyek

yang dikerjakan maka semakin besar pula kendala yang akan dihadapi oleh
perusahaan jasa konstruksi. O leh karena itu, perusahaan jasa konstruksi harus
memiliki pertimbangan yang matang dalam perencanaan maupun dalam
pelaksanaan suatu proyek konstruksi.
Struktur bangunan merupakan sarana untuk menyalurkan beban yang
diakibatkan penggunaan dan atau kehadiran sebuah bangunan. Struktur terdiri dari
unsur-unsur yang terintergrasi dan berfungsi sebagai satu kesatuan utuh untuk
menyalurkan semua jenis beban yang diantisipasi ke tanah.
Pelat lantai merupakan salah satu komponen struktur konstruksi pada
suatu bangunan, baik itu gedung perkantoran maupun rumah tinggal biasa.
Umumnya, pelat lantai dibangun dengan konstruksi beton bertulang sebagai dasar
utamanya. Pelat lantai merupakan struktur yang pertama kali menerima beban,
baik itu beban mati maupun beban hidup yang kemudian beban tersebut
disalurkan kesistem struktur rangka yang lain. Pelat lantai mempunyai tugas
ganda, selain menerima dan menyalurkan beban, pelat lantai juga berfungsi
79

sebagai pembagi ruang. Kualitas struktur gedung mempengaruhi sistem pelat


lantai yang akan dipilih.

5.2

TUJUAN MASALAH KHUSUS


Tujuan dari pemilihan masalah khusus Metode Pelaksanaan dan Estimasi

Biaya Pelaksanaan Pekerjaan Pelat Lantai 11 Tower 2 adalah :


1.

Mengetahui metode pelaksanaan pekerjaan pelat lantai 11 Tower 2 pada


Proyek Izzara Apartment GTU.

2.

Menghitung jumlah kebutuhan baja tulangan, kebutuhan volume beton


ready mix serta kebutuhan plywood dan smartdek pada pelat lantai 11
Tower 2.

3.

Menghitung estimasi biaya pelaksanaan pekerjaan pelat lantai 11 Tower 2.

5.3

BATASAN MASALAH KHUSUS


Batasan masalah diperlukan agar topik yang disampaikan tidak

menyimpang dari tujuan masalah yang dibahas. Batasan masalah pada masalah
khusus ini adalah membahas mengenai metode pelaksanaan pekerjaan pelat lantai,
menghitung jumlah kebutuhan baja tulangan, menghitung jumlah kebutuhan
volume beton ready mix, menghitung jumlah kebutuhan plywood dan smartdek
serta menghitung estimasi biaya pelaksanaan pekerjaan pelat lantai 11 Tower 2
pada Proyek Izzara Apartment GTU.

80

5.4

TEORI PENUNJANG

5.4.1 Beton
Beton didapat dari pencampuran bahan-bahan agregat halus dan kasar
yaitu pasir, batu pecah, atau bahan semacam lainnya, dengan menambahkan
semen secukupnya, dan air sebagai bahan pembantu guna keperluan reaksi kimia
selama proses pengerasan dan perawatan beton berlangsung. Agregat halus dan
kasar, disebut sebagai bahan susun kasar campuran, merupakan komponen utama
beton. Nilai kekuatan serta daya tahan (durability) beton merupakan fungsi dari
banyak faktor, diantaranya ialah nilai banding campuran dan mutu bahan susun,
metode pelaksanaan pengecoran, pelaksanaan finishing, temperatur dan kondisi
perawatan pengerasannya.
Nilai kuat tekan beton relatif tinggi dibandingkan dengan kuat tariknya,
dan beton merupakan bahan bersifat getas. Nilai kuat tariknya hanya berkisar 9% 15% dari kuat tekannya. Pada penggunaan sebagai komponen struktural
bangunan, umumnya beton diperkuat dengan batang tulangan baja sebagai bahan
yang dapat bekerja sama dan mampu membantu kelemahannya, terutama pada
bagian yang menahan gaya tarik.

5.4.2 Baja Tulangan


Baja tulangan dapat menahan gaya tarik melebihi nilai tertentu tanpa
mengalami retak-retak. Supaya beton dapat bekerja dengan baik dalam suatu
sistem struktur, beton tersebut perlu dibantu dengan memberinya perkuatan
penulangan yang akan menahan gaya tarik yang timbul di dalam sistem. Untuk

81

keperluan penulangan tersebut, digunakan bahan baja yang memiliki sifat teknis
menguntungkan, dan baja tulangan yang digunakan dapat berupa batang baja
lonjoran ataupun kawat rangkaian las (wire mesh) yang berupa batang kawat baja
yang dirangkai dengan teknik pengelasan.
Dalam setiap struktur beton bertulang, tulangan baja dan beton harus
mengalami

deformasi

secara

bersamaan,

dengan

maksud

agar

terjadi

kompatibilitas regangan. Ada dua jenis baja tulangan yaitu, baja tulangan polos
dan baja tulangan ulir (deformed). Baja tulangan ulir berfungsi untuk menambah
lekatan antara beton dengan baja. Baja tulangan ulir yaitu batang tulangan baja
yang permukaannya dikasarkan secara khusus, diberi sirip teratur dengan pola
tertentu atau batang tulangan yang dipilin pada proses produksinya (R.Park and
T.Paulay, 1975).

5.4.3 Pelat Beton Bertulang


Pelat beton bertulang yaitu struktur tipis yang dibuat dari beton bertulang
dengan bidang yang arahnya horizontal dan beban yang bekerja tegak lurus pada
bidang struktur tersebut. Ketebalan bidang pelat ini relatif sangat kecil apabila
dibandingkan dengan bentang panjang atau lebar bidangnya. Pelat beton bertulang
ini sangat kaku dan arahnya horizontal, sehingga pada bangunan gedung pelat ini
berfungsi sebagai diafragma atau unsur pengaku horizontal yang sangat
bermanfaat untuk mendukung ketegaran balok portal.
Pelat beton bertulang banyak digunakan pada bangunan sipil baik sebagai
lantai bangunan, lantai atap dari suatu gedung, lantai jembatan maupun lantai

82

pada dermaga. Beban yang bekerja pada pelat umumnya diperhitungkan terhadap
beban gravitasi yaitu beban mati dan beban hidup.

5.4.4 Bekisting
Bekisting adalah cetakan sementara yang digunakan untuk menahan beton
selama beton dituang dan dibentuk sesuai dengan bentuk yang diinginkan
(Stephens, 1985) Bekisting merupakan suatu sarana pembantu struktur beton
untuk pencetak beton sesuai dengan ukuran, bentuk, rupa ataupun posisi yang
direncanakan. Karena bersifat sementara, bekisting akan dilepas atau dibongkar
setelah beton mencapai kekuatan yang cukup. Berdasarkan Peraturan Beton
Indonesia 1971, dijelaskan lebih lanjut tentang persyaratan yang harus dipenuhi
oleh konstruksi sebagai acuan (bekisting/ cetakan) adalah sebagai berikut :
a. Bekisting/ cetakan harus menghasilkan konstruksi akhir yang mempunyai
bentuk, ukuran dan batas-batas yang seuai dengan gambar kerja dan uraian
pekerjaan.
b. Bekisting/ cetakan harus kokoh dan kaku serta cukup rapat sehingga dapat
dicegah kebocoran adukan.
c. Bekisting/ cetakan harus diberi ikatan secukupnya, sehingga dapat
terjamin kedudukan dan bentuknya yang tetap.
d. Bekisting/ cetakan harus terbuat dari bahan baik dan tidak mudah meresap
air dan direncanakan sedemikian sehingga mudah lepas dari beton tanpa
menyebabkan kerusakan pada beton.

83

e. Pada acuan (bekisting/ cetakan) kolom, dinding dan balok tinggi harus
disediakan perlengkapan untuk menyingkirkan kotoran-kotoran, serbuk
gergaji, potongan-potongan kawat pengikat dan lainnya.

5.4.5 Plywood
Plywood adalah suatu produk yang diperoleh dengan cara menyusun
bersilangan tegak lurus bersilangan lembaran vinir yang diikat dengan perekat,
minimal 3 lapis (SNI, 1992). Pada kebanyakan tipe kayu lapis, serat setiap dua
lapisan sekali diletakan sejajar yang pertama. Hal ini untuk menjaga
keseimbangan dari satu sisi panil ke yang lainnya. Jumlah vinir yang digunakan
biasanya ganjil (3, 5, 7, dst).
Keunggulan dari kayu lapis (plywood) dibandingkan dengan kayu solid
adalah dimensinya lebih stabil, tidak pecah/ retak pada pinggirnya jika dipaku,
keteguhan tarik tegak lurus serat lebih besar, ringan dibandingkan luas
permukaannya, bidang yang luas dapat ditutup dalam waktu yang singkat, kuat
pegang sekrupnya relatif tinggi serat warna, tekstur dan serat dapat diseragamkan
sehingga corak atau polanya bisa simetris.

5.4.6 Smartdek
Smartdek adalah sistem decking baja baru yang diluncurkan oleh
BlueScope Lysaght Indonesia. Smartdek dengan struktur profil W merupakan
pengembangan dari profil yang telah ada sebelumnya yaitu Lysaght Bondek.
Smartdek menggunakan bahan pelapis hot dipped galvanized, mempunyai

84

beberapa keunggulan, diantaranya adalah terbuat dari baja High-Tensile G550


yang dapat meningkatkan kekuatan profil Smartdek, tinggi tonjolan (embossment)
sebesar 3 mm dapat meningkatkan kuat rekat (bonding strength) antara beton dan
Smartdek setelah beton mengering.
Penggunaan sistem decking baja juga akan memberikan keuntungan bagi
struktur secara keseluruhan karena penghematan dalam penggunaan bekisting dan
beton. Selain itu, penggunaan bekisting metal deck (smartdek) dapat mengurangi
tenaga kerja sampai 20% dan juga dapat mempercepat pelaksanaan pekerjaan
serta mengurangi sampah akibat penggunaan material kayu/ plywood.

5.5

METODE PELAKSANAAN PEKERJAAN PELAT LANTAI 11


TOWER 2 PADA PROYEK IZZARA APARTMENT GTU
Metode pelaksaaan pekerjaan pelat lantai 11 tower 2 pada Proyek Izzara

Apartment GTU menggunakan gabungan metode konvensional dan metode metal


deck. Pelat lantai 11 ini berukuran 54,15 m x 23,9 m dengan luas kurang lebih
1.383,28 m2. Pelaksanaan pekerjaan pelat lantai 11 ini dibagi menjadi 3 zona,
yaitu zona I, zona II, dan zona III. Luas zona I yaitu 494,37 m2, luas zona II yaitu
462,11 m2, luas zona III yaitu 337,71 m2.

85

Gambar 5.1 Denah Pelat Lantai 11 dan Pembagian Zona


Sumber : PT. PP (Persero) Tbk, 2014

5.5.1 Material dan Alat yang Digunakan


Material dan alat yang digunakan dalam pengerjaan pelat lantai antara lain
sebagai berikut :
a. Beton Ready mix

f. Concrete Pump

b. Baja Tulangan

g. Bar Bender

c. Kayu Plywood

h. Bar Cutter

d. Smartdek

i. Papan Perata

e. Concrete Mixer Truck

j. Alat-alat

f. Placing Boom

lapangan

seperti

palu, gergaji dan lain-lain.

5.5.2 Tahapan Pelaksanaan Pekerjaan Pelat Lantai 11 Tower 2 pada


Proyek Izzara Apartment GTU
Urutau pekerjaan yang dilaksanakan pada pekerjaan pelat lantai 11 dapat
dilihat pada gambar berikut :

86

Mulai

Marking

Pemasangan
Scaffolding

Pekerjaan Beksiting

Pekerjaan Pembesian
Tidak
Checklist
Tulangan

Ya
Pembersihan Area

Pengecoran

Perawatan (Curing)

Pembongkaran bekisting

Selesai
Gambar 5.2 Skema Pekerjaan Pelat Lantai
Sumber : PT. PP (Persero) Tbk, 2014

87

5.5.3 Marking
Proses pertama yang dilakukan yaitu marking atau pengukuran pada
daerah yang akan dibuat slab atau pelat dengan menggunakan alat ukur theodolite.
Pengukuran ini bertujuan untuk mengatur/ memastikan kerataan ketinggian balok
dan pelat. Sehingga tinggi pada pelat lantai yang ada bisa diketahui dan
disesuaikan dengan rencana.

5.5.4 Pemasangan Scaffolding


Pemasangan scaffolding/ perancah berfungsi untuk menyangga beban dari
bekisting, tulangan, beban beton, beban pekerja selama proses pekerjaan pelat
lantai berlangsung. Pada Proyek Izzara Apartment GTU scaffolding/ perancah
yang digunakan adalah perancah baja bersekrup. Penyetelan dari scaffolding
memerlukan persyaratan seperti di bawah ini :
1. Scaffolding harus berdiri tegak lurus. Hal ini berguna untuk mencegah
perubahan bekisting akibat dari gaya-gaya horisontal. Penyetelan dalam
arah tegak lurus harus dengan waterpass.
2. Bila beberapa lantai bertingkat akan dicor berurutan, maka lendutan akibat
dari lantai yang telah mengeras harus dihindarkan dengan menempatkan
scaffolding diperpanjangannya sebaik mungkin.
3. Tempat dari scaffolding perlu dipilih sedemikian rupa sehingga
beban- beban dapat terbagi serata mungkin. Hal ini berguna untuk
mencegah perubahan bentuk yang berbeda-beda akibat dari perpendekan

88

elastis scaffolding yang timbul karena pembebanan dan perbedaan


penurunan tanah.

Gambar 5.3 Pemasangan Scaffolding

5.5.5 Pekerjaan Bekisting


Pekerjaan bekisting balok dan pelat merupakan satu kesatuan pekerjaan,
kerena dilaksanakan secara bersamaan. Pembuatan bekisting balok dan pelat harus
sesuai dengan gambar kerja (shop drawing). Dalam pemotongan plywood harus
cermat dan teliti sehingga hasil akhirnya sesuai dengan luasan pelat atau balok
yang akan dibuat. Pekerjaan balok dilakukan langsung di lokasi dengan
mempersiapkan material utama seperti kaso 5/7, balok kayu 6/12, papan plywood,
dan smartdek.

89

5.5.5.1 Pekerjaan Bekisting Balok


Tahap pekerjaan bekisting pada balok adalah sebagai berikut :
1. Scaffolding disusun berjajar sesuai dengan kebutuhan di lapangan, baik
untuk bekisting balok maupun pelat.
2. Memperhitungkan ketinggian scaffolding balok dengan mengatur base
jack atau U-head jack nya.
3. Pada U-head dipasang balok kayu (girder) 6/12 dan diatas girder dipasang
suri-suri tiap jarak 50 cm (kayu 5/7) dengan arah melintangnya, kemudian
dipasang plywood diatas suri-suri sebagai alas balok (bodeman).
4. Setelah itu, dipasang dinding bekisting balok (tembereng) dan dikunci
dengan siku yang dipasang di atas suri-suri.

Gambar 5.4 Pekerjaan Bekisting Balok

90

5.5.5.2 Pekerjaan Bekisting Pelat


Tahap pekerjaan bekisting pada pelat adalah sebagai berikut :
1. Scaffolding disusun berjajar bersamaan dengan scaffolding untuk balok.
Karena posisi pelat lebih tinggi daripada balok maka Scaffolding untuk
pelat lebih tinggi daripada balok dan diperlukan main frame tambahan
dengan menggunakan Joint pin.
2. Pada U-head dipasang balok kayu (girder) 6/12 dan diatas girder dipasang
suri-suri dengan arah melintangnya.
3. Kemudian dipasang plywood dan smartdek sebagai alas pelat. Pasang juga
dinding untuk tepi pada pelat dan dijepit menggunakan siku. Plywood
dipasang serapat mungkin, sehingga tidak terdapat rongga yang dapat
menyebabkan kebocoran pada saat pengecoran
4. Setelah semua bekisting terpasang rapat, kemudian diolesi pelumas agar
beton tidak menempel pada bekisting, sehingga dapat mempermudah
dalam pekerjaan pembongkaran dan bekisting masih dalam kondisi layak
pakai untuk pekerjaan berikutnya.

Gambar 5.5 Pekerjaan Bekisting Pelat

91

5.5.6 Pekerjaan Pembesian


Pekerjaan pemotongan dan pembengkokan besi dilakukan sesuai
kebutuhan dengan bar cutter dan bar bender. Pemotongan dan pembengkokan
besi dilakukan ditempat pabrikasi besi, sedangkan pemasangannya dilakukan
langsung dilapangan.

5.5.6.1 Pembesian balok


Tahap pembesian balok adalah sebagai berikut :
1.

Untuk pembesian balok pada awalnya pemotongan dan pembengkokan


besi dilakukan ditempat pabrikasi besi kemudian besi tersebut diangkat
menggunakan tower crane ke lokasi yang akan dipasang.

2.

Besi tulangan balok yang sudah dipotong dan bengkokan dipasang pada
bekisting balok dan ujung besi balok dimasukkan ke kolom.

3.

Memasang beton decking untuk jarak selimut beton pada alas dan samping
balok lalu diikat dengan kawat bendrat.

Gambar 5.6 Pekerjaan Pembesian Balok

92

5.5.6.2 Pembesian pelat


Setelah tulangan balok terpasang. Selanjutnya adalah tahap pembesian
pelat, antara lain :
1.

Pembesian pelat dilakukan langsung di atas bekisting pelat yang sudah


siap. Besi tulangan diangkat menggunakan tower crane dan dipasang
diatas bekisting pelat.

2.

Merakit pembesian dengan tulangan bawah terlebih dahulu. Kemudian


memasang tulangan ukuran D10-250.

3.

Selanjutnya secara menyilang dan diikat menggunakan kawat bendrat.

4.

Meletakkan beton decking antara tulangan bawah pelat dan bekisting alas
pelat. Pasang juga tulangan kaki ayam antara untuk tulangan atas dan
bawah pelat.

Gambar 5.7 Pekerjaan Pembesian Pelat

93

5.5.7 Checklist Tulangan


Setelah pembesian balok dan pelat dianggap selesai, lalu diadakan
checklist/ pemeriksaan tulangan sesuai dengan rencana yang ada pada gambar.
Adapun yang diperiksa untuk pembesian balok adalah diameter dan jumlah
tulangan utama, jarak sengkang, jumlah sengkang, ikatan kawat, dan beton
decking. Untuk pembesian pelat lantai yang diperiksa adalah diameter, jarak antar
tulangan, ikatan kawat, beton decking dan kaki ayam.
Apabila tulangan telah sesuai dengan gambar kerja (shop drawing) maka
dapat dilanjutkan ke tahap berikutnya yaitu pembersihan area. Apabila tulangan
tidak sesuai dengan shop drawing maka tulangan tersebut harus diatur kembali
sesuai dengan gambar kerja yang sudah direncanakan.

Gambar 5.8 Checklist Tulangan

5.5.8 Pembersihan Area Pengecoran


Setelah semua tahapan selesai dilakukan maka sebelum dilakukan
pengecoran, area yang akan dicor harus dibersihkan terlebih dahulu. Hal bertujuan

94

untuk menghilangkan semua kotoran yang menempel pada area balok dan pelat
yang akan dicor seperti kawat, kayu, puing-puing dan lain-lain. Pembersihan ini
dilakukan secara manual dan dengan bantuan alat air compressor.

Gambar 5.9 Pembersihan Area Pengecoran

5.5.9 Pengecoran
Pelaksanaan pengecoran balok dan pelat lantai dilaksanakan secara
bersamaan, karena pekerjaan ini menjadi satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.
Nilai slump pada balok dan pelat adalah 12 2 cm (10 cm s/d 14 cm). Pada
proyek Izzara Apartment GTU metode pengecoran yang dipakai adalah dengan
menggunakn concrete pump dan placing boom. Adapun proses pengecoran balok
dan pelat adalah sebagai berikut :
1.

Menuangkan beton dari truck mixer kedalam concrete pump, kemudian


concrete pump memompa beton dan dialirkan melalui pipa yang terhubung
dengan placing boom, kemudian placing boom menyalurkan beton ke area
pengecoran.

95

2.

Melakukan pemadatan beton dengan vibrator kedalam beton kurang lebih


5-10 menit di setiap bagian yang dicor. Pemadatan tersebut bertujuan
untuk mencegah terjadinya rongga udara pada beton yang akan
mengurangi kualitas beton.

3.

Setelah balok dan pelat telah terisi beton, lalu permukaan beton segar
tersebut

diratakan

dengan

menggunakan

papan

perata

dengan

memperhatikan batas ketebalan pelat yang telah ditentukan sebelumnya.


4.

Tahap selanjutnya yaitu melakukan check level menggunakan waterpass.

5.

Pekerjaan ini dilakukan berulang sampai beton memenuhi area cor yang
telah ditentukan.

Gambar 5.10 Proses Pengecoran

5.5.10 Perawatan (Curing)


Setelah beton mengeras, maka untuk menjaga mutu beton agar tetap
terjaga dilakukan perawatan beton (curing). Perawatan beton yang dilakukan
adalah dengan menyiram/ membasahi beton 2 kali sehari selama 3 hari.

96

5.5.11 Pembongkaran Bekisting


Pembongkaran atau pelepasan bekisting dilakukan setelah beton berumur 7
hari. Setelah bekisting selesai dibongkar langkah selanjutnya yaitu pemberian
support pada pelat lantai (reshoring) tiap jarak 2-3 m.

5.6

PERHITUNGAN

KEBUTUHAN

DAN

ESTIMASI

BIAYA

PELAKSANAAN PEKERJAAN PELAT LANTAI 11 TOWER 2


PADA PROYEK IZZARA APARTMENT GTU
5.6.1 Menghitung Kebutuhan dan Estimasi Biaya Baja Tulangan :

Gambar 5.11 Tulangan Pelat Lantai


Sumber : www.ilmusipil.com, 2014

1. Spesifikasi pelat lantai dan harga satuan baja tulangan :


a.

Ukuran pelat lantai

: 54,15 m 23,9 m

b.

Baja yang digunakan

: Diameter 10 mm

c.

Jarak pemasangan baja

: 250 mm

d.

Pemasangan tulangan

: 2 lapis

e.

Berat baja D10

: 0,617 kg/m

f.

Harga baja tulangan

: Rp. 8.600,- /kg

97

2. Menghitung kebutuhan baja tulangan :


a.

Menghitung kebutuhan baja tulangan arah X (panjang 54,15 m) :

Panjang pelat arah X


Panjang pelat arah Y 2 lapis
Jarak pemasangan tulangan

54,15 m
23,9 m 2 lapis
0,25 m

= 10.373 m
b.

Menghitung kebutuhan baja tulangan arah Y (panjang 23,9 m):

Panjang pelat arah Y


Panjang pelat arah X 2 lapis
Jarak pemasangan tulangan

23,9 m
54,15 m 2 lapis
0,25 m

= 10.397 m
c.

Total panjang baja yang dibutuhkan untuk arah X dan arah Y :


10.373 m + 10.397 m = 20.770 m

d.

Jumlah kebutuhan baja dalam kg :


20.770 m 0,617 kg/m = 12.816 kg

e.

Untuk menghindari kekurangan baja tulangan, maka disediakan


cadangan baja tulangan (spare) sebesar 5% dari berat total :
12.816 kg 5% = 641 kg

f.

Total kebutuhan baja tulangan :


12.816 kg + 641 kg = 13.457 kg

g.

Total kebutuhan baja tulangan dalam batang :


Panjang 1 batang baja D10 yang tersedia di pasaran yaitu 12 m

98

Berat baja tulangan D10 yaitu 7,404 kg/batang


Total kebutuhan baja tulangan 13.457 kg

Berat baja tulangan per batang


7,404 kg

= 1.818 batang
3. Menghitung biaya pengadaan baja tulangan :
Biaya pengadaan baja tulangan

= Total kebutuhan baja Harga baja


= 13.457 kg Rp. 8.600,= Rp. 115.730.200,-

5.6.2 Menghitung Kebutuhan dan Estimasi Biaya Beton Ready mix :


1. Spesifikasi pelat lantai dan harga satuan beton Ready mix :
a.

Luas pelat lantai 11

: 1.383,28 m2

b.

Tebal pelat lantai

: 13 cm = 0,13 m

c.

Mutu beton yang digunakan

: Fc 45

d.

Harga beton Fc 45

: Rp. 977.000,- / m3

2. Menghitung kebutuhan beton Ready mix :


a.

Volume pelat lantai

= Luas pelat Tebal pelat


= 1.383,28 m2 0,13 m
= 180 m3

b.

Untuk menghindari kekurangan beton Ready mix, maka disediakan


cadangan (spare) sebesar 5% dari total kebutuhan beton Ready mix :
180 m3 5% = 9 m3

c.

Total kebutuhan beton Ready mix :


180 m3 + 9 m3 = 189 m3
99

3. Menghitung biaya pengadaan beton :


Biaya pengadaan beton Fc 45

= Total kebutuhan beton Harga beton


= 189 m3 Rp. 977.000,= Rp. 184.653.000,-

5.6.3 Menghitung Kebutuhan dan Estimasi Biaya Plywood :


1.

Spesifikasi dan harga satuan Plywood :


a. Luas Plywood yang dibutuhkan : 579,57 m2

2.

b. Ukuran Plywood

: 1,22 m 2,44 m = 2,9768 m2

c. Tebal Plywood

: 15 mm

d. Harga Plywood

: Rp. 335.000,- / lembar

Menghitung Kebutuhan Plywood :


a.

Kebutuhan Plywood

Luas Kebutuhan Plywood


Ukuran Plywood

579,57 m 2

2,9768 m 2
= 195 lembar
b.

Untuk menghindari kekurangan Plywood, maka disediakan cadangan


(spare) sebesar 5% dari total kebutuhan Plywood :
195 lembar 5% = 10 lembar

c.

Total Kebutuhan Plywood :


195 lembar + 10 lembar = 205 lembar

100

3.

Menghitung biaya pengadaan Plywood :


Biaya Pengadaan Plywood

= Total Kebutuhan Plywood Harga


= 205 lembar Rp. 335.000,= Rp. 68.675.000,-

5.6.4 Menghitung Kebutuhan dan Estimasi Biaya Smartdeck :


1.

2.

Spesifikasi dan harga satuan Smartdeck :


a.

Luas Smartdeck yang dibutuhkan

: 501,51 m2

b.

Ukuran Smartdeck

: 3,725 m 0,96 m = 3,6 m2

c.

Harga Smartdeck

: Rp. 378.000,- / lembar

Menghitung Kebutuhan Smartdeck :


a.

Kebutuhan Smartdeck

Luas Kebutuhan Smartdeck


Ukuran Smartdeck

501,51 m 2
3,6 m 2

= 139 lembar
b.

Untuk

menghindari

kekurangan

Smartdeck,

maka

disediakan

cadangan (spare) sebesar 5% dari total kebutuhan Smartdeck :


139 lembar 5% = 7 lembar
c.

Total kebutuhan Smartdeck :


139 lembar + 7 lembar = 146 lembar

d.

Biaya pengadaan Smartdeck

= Total kebutuhan Smartdeck Harga


= 146 lembar Rp. 378.000,= Rp. 55.188.000,-

101

Didapat total biaya dari keseluruhan biaya yang diperlukan untuk pelaksanaan
pekerjaan pelat lantai 11 Tower 2 pada Proyek Izzara Apartment GTU adalah
sebagai berikut :
1. Biaya pengadaan baja tulangan D10 = Rp. 115.730.200,2. Biaya pengadaan beton Fc 45

= Rp. 184.653.000,-

3. Biaya pengadaan Plywood 15 mm

= Rp. 68.675.000,-

4. Biaya pengadaan Smartdeck

= Rp. 55.188.000,+

Total

= Rp. 424.246.200,-

Jadi, total estimasi biaya pelaksanaan pekerjaan pelat lantai 11 Tower 2 pada
Proyek Izzara Apartment GTU adalah sebesar Rp. 424.246.200,-.

102

BAB 6
KESIMPULAN DAN SARAN

6.1

KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pengamatan kerja praktek pada Proyek Izzara Apartment

GTU dan penyusunan laporan kerja praktek dapat diambil kesimpulan sebagai
berikut :
1.

Kegiatan kerja praktek merupakan kegiatan yang bermanfaat bagi


mahasiswa untuk memahami berbagai bentuk penerapan di lapangan
dengan didasari ilmu rekasaya teknik sipil yang didapat selama
perkuliahan.

2.

Pelaksanaan suatu proyek sangat didukung oleh alat dan material yang
digunakan untuk memudahkan pekerjaan di lapangan, sehingga setiap
pekerjaan mampu diselesaikan dalam waktu yang lebih singkat.

3.

Metode pelaksanaan pekerjaan yang digunakan pada pelat lantai 11 Tower


2 Proyek Izzara Apartment GTU adalah menggunakan gabungan metode
konvensional dan metode metal deck.

4.

Berdasarkan hasil perhitungan, kebutuhan material yang diperlukan untuk


pelat lantai 11 yaitu :
a.

Kebutuhan baja tulangan

: 13.457 kg

b.

Kebutuhan volume beton readymix

: 189 m3

103

5.

c.

Kebutuhan Plywood

: 205 lembar

d.

Kebutuhan Smartdek

: 146 lembar

Berdasarkan hasil perhitungan, total estimasi biaya pelaksanaan pekerjaan


pelat lantai 11 tower 2 pada proyek Izzara Apartment GTU adalah sebesar
Rp. 424.246.200,-.

6.2

SARAN
Dari hasil pengamatan serta pengalaman selama mengikuti kegiatan kerja

praktek pada proyek Izzara Apartment GTU didapat beberapa saran yang
diharapkan dapat menjadi masukan yang baik dan dapat bermanfaat ke depannya,
antara lain :
1.

Kegiatan kerja praktek sebaiknya perlu disediakan waktu khusus agar


Mahasiswa dapat mengikuti kegiatan kerja praktek dengan lebih fokus.

2.

Mahasiswa sebaiknya mempelajari metode pelaksanaan pekerjaan terlebih


dahulu sebelum melakukan kegiatan kerja praktek agar mahasiswa dapat
memahami pelaksanaan pekerjaan di lapangan.

3.

Mahasiswa sebaiknya membuat jadwal kerja praktek yang teratur dan


membuat resume kegiatan yang ingin diamati di lapangan setiap datang ke
proyek.

4.

Mahasiswa sebaiknya merangkum semua hasil pengamatan kegiatan di


setiap kedatangan ke proyek agar dapat menjadi ilmu pengetahuan
tambahan yang mungkin tidak dipelajari di perkuliahan.

104

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2014. Lysaght Smartdek. http://lysaghtpoint.com/smartdek/ (diakses


tanggal 21 Desember 2014).
Asroni, Ali. 2010, Balok dan Pelat Beton Bertulang, Edisi Pertama. Graha Ilmu,
Yogyakarta.
Ilmusipil.com. 2013. Contoh Hitung Kebutuhan Besi Untuk Cor Dak Lantai
Beton. http://www.ilmusipil.com/contoh-hitung-kebutuhan-besi-untuk-cordak-lantai-beton (diakses tanggal 27 Desember 2014).
Iswanto, Apri Heri, Kayu Lapis (Plywood), Fakultas Pertanian Universitas
Sumatera Utara, 2010.
Romadhon, Rahmadi. 2014. Pelaksanaan Pekerjaan Kolom, Balok, Plat Lantai,
dan

Tangga.

http://rromadhonunj.blogspot.com/2014/02/pelaksanaan-

pekerjaan-kolom-balok-plat.html (diakses tanggal 19 Desember 2014).


Widhyawati, Yana, dan Asmara, Analisa Biaya Pelaksanaan Antara Pelat
Konvensional Dan Sistem Pelat Menggunakan Metal Deck, Jurnal Ilmiah
Teknik Sipil, Vol. 14, No. 1, Hal. 20, 2010.
Widiasanti, Irika., Lenggogeni. 2013, Manajemen Konstruksi, PT Remaja
Rosdakarya, Bandung.

xix