Anda di halaman 1dari 20

PENGARUH KUALITAS WARNA TERHADAP

PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN TANAMAN


BAYAM (Amaranthus sp.)

DITULIS OLEH:
FILBERT KURNIA LIWANG
XII IPA 2

SEKOLAH DIAN HARAPAN


MAKASSAR
2014/2015

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI.............................................................................................................i
BAB I PENDAHULUAN........................................................................................1
1.1

Latar Belakang..........................................................................................1

1.2

Rumusan Masalah.....................................................................................2

1.3

Tujuan........................................................................................................2

1.4

Manfaat......................................................................................................2

1.5

Hipotesa.....................................................................................................2

BAB II LANDASAN TEORI..................................................................................3


2.1

Pertumbuhan dan Perkembangan pada Tumbuhan...................................3

2.1.1

Pengertian Pertumbuhan dan Perkembangan.....................................3

2.1.2

Pertumbuhan dan Perkembangan pada Tumbuhan............................3

2.1.3

Faktor-Faktor yang Memengaruhi Pertumbuhan dan Perkembangan


Tanaman.............................................................................................5

2.2

Bayam........................................................................................................7

BAB III METODE PENELITIAN..........................................................................8


3.1

Alat dan Bahan..........................................................................................8

3.1.1

Alat.....................................................................................................8

3.1.2

Bahan.................................................................................................8

3.2

Cara Kerja..................................................................................................8

3.3

Waktu dan Tempat Penelitian....................................................................9

BAB IV ANALISA DATA.....................................................................................10


4.1

Hasil Pengamatan....................................................................................10

4.2

Pembahasan.............................................................................................12

BAB V PENUTUP.................................................................................................15
5.1

Kesimpulan..............................................................................................15

5.2

Saran........................................................................................................15

DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................16
LAMPIRAN GAMBAR........................................................................................17

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan cabang ilmu teoritis yang
disusun

dengan

melakukan

obsevasi,

eksperimentasi,

penyimpulan,

penyusunan teori, hingga mencapai suatu teori. Berbagai cara untuk


melakukan pembuktian tersebut disebut sebagai metode ilmiah. Cabang IPA
terbagi menjadi ilmu biologi, ilmu fisika, dan ilmu kimia. Ilmu biologi
merupakan ilmu yang mempelajari tentang makhluk hidup, baik mengenai
morfologi, fisiologi, anatomi, perilaku, asal, dan persebarannya.
Pada pembelajaran di Sekolah Dian Harapan Makassar, untuk menguji
kemampuan murid-murid selama 1 kuarter maka diadakan ujian summative
untuk setiap mata pelajaran yang diajarkan kepada murid-murid. Ujian
summative dapat diadakan dalam bentuk tertulis maupun dalam bentuk
proyek. Salah satu penerapan ujian summative dalam bentuk proyek adalah
dengan mengadakan sebuah penelitian dan penyusunan laporan penelitian.
Penelitian diadakan untuk menguji kembali suatu teori yang telah
diterima dan mengaplikasikan secara langsung kemampuan yang telah
dipelajari di dalam kelas. Sedangkan penyusunan laporan penelitian
dilakukan untuk mengevaluasi dan merangkum mengenai hasil penelitian
yang telah didapatkan di lapangan agar tersusun secara sistematis dan logis.
Sedangkan bagi siswa, penelitian dan penyusunan laporan dapat mengurangi
beban ujian tertulis dan pengerjaan tidak terasa berat karena waktu
pengerjaan yang panjang. Selain itu, siswa tidak akan merasa bosan apabila
kegiatan belajar diselingi dengan pengerjaan penelitian.
Penelitian yang dilakukan adalah melakukan pengamatan mengenai
pengaruh spektrum cahaya terhadap pertumbuhan dan perkembangan
tanaman bayam. Pengamatan dilakukan selama 3 minggu dengan pemberian
perlakuan-perlakuan khusus pada tanaman. Hasil pengamatan dirangkum
dan dibahas di dalam laporan ini.
1.2 Rumusan Masalah
Variabel penelitian ini adalah:
1 Variabel bebas: kualitas cahaya (warna cahaya)

Variabel terikat: pertumbuhan dan perkembangan tanaman bayam

(Amaranthus sp.)
Variabel kontrol: pot, sumber cahaya (matahari), jumlah air dan

pupuk, media tanam.


Maka rumusan masalah pada penelitian ini adalah:
Bagaimana pengaruh kualitas cahaya terhadap pertumbuhan dan
perkembangan tanaman bayam?
1.3 Tujuan
Tujuan dari diadakannya penelitian ini adalah:
1. Mengetahui cara menanam tanaman bayam.
2. Mengetahui kondisi yang diperlukan tanaman bayam untuk
bertumbuh.
3. Mengetahui pengaruh kualitas cahaya terhadap pertumbuhan dan
perkembangan tanaman bayam.
1.4 Manfaat
Manfaat dari diadakannya penelitian ini adalah:
1. Siswa dapat memperoleh pengalaman dalam menanam tanaman
bayam.
2. Siswa dapat mengenal kondisi lingkungan greenhouse.
3. Siswa dapat memperoleh pengetahuan yang lebih mendalam
tentang materi yang telah diperoleh di dalam kelas.
1.5 Hipotesa
Pot yang ditutupi dengan kerangka yang dilapisi dengan kertas berwarna
biru akan tumbuh lebih cepat dibandingkan dengan pot lainnya.

BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Pertumbuhan dan Perkembangan pada Tumbuhan
2.1.1 Pengertian Pertumbuhan dan Perkembangan
Pertumbuhan adalah proses pertambahan

volume

yang

irreversible (tidak dapat balik) karena adanya pembelahan mitosis,


atau pembesaran sel, atau keduanya. Pertumbuhan dapat diukur secara
kuantitatif (Pratiwi, Srikini, Suharno, & S, 2012). Sedangkan,
perkembangan dapat diartikan sebagai proses perubahan menjadi
dewasa yang menyertai pertumbuhan. Dalam perkembangan, terjadi
diferensiasi sel (perubahan struktur dan fungsi sel), histogenesis
(pembentukan jaringan), organogenesis (pembentukan organ), dan
gametogenesis (pembentukan gamet/sel-sel kelamin) (Pujiyanto,
2.1.2

2008).
Pertumbuhan dan Perkembangan pada Tumbuhan
Perkembangan awal tumbuhan secara garis besar dibagi menjadi 3
tahap yaitu pembelahan sel, morfogenesis, dan diferensiasi seluler.
Pembelahan sel merupakan tahap dimana zigot di dalam biji
tumbuhan mengalami mitosis sehingga terbentuk jaringan embrional.
Lalu, morfogenesis yaitu perkembangan bentuk merupakan tahap
dimana embrio yang terbentuk memiliki kotiledon dan akar serta
tunas rudimenter. Sesudah biji berkecambah, akar dan tunas
rudimenter akan berkembang membentuk sistem akar dan tunas
tumbuhan. Diferensiasi seluler merupakan tahap dimana jaringan
embrional terus berkembang membentuk struktur khusus yang akan
dimiliki pada saat dewasa. Sel-sel yang terdiferensiasi akan
membentuk jaringan. Diferensiasi adalah proses yang menjadikan sel
memiliki fungsi biokimia dan morfologi khusus yang belum pernah
dimiliki oleh sel tersebut. Proses pembentukan jaringan permanen
(epidermis, korteks, dan stele) dari jaringan embrional disebut
spesialisasi.

Sedangkan

pertumbuhan

merupakan

peristiwa

pertambahan volume dari sel-sel yang mengadakan mitosis dan

mengambil bahan-bahan yang diperlukan dari lingkungan (Pratiwi,


Srikini, Suharno, & S, 2012).
Pada tumbuhan, 3 fungsi dasar bagi pertumbuhan dan
perkembangan

tumbuhan

adalah

fotosintesis,

respirasi,

dan

transpirasi. Fotosintesis merupakan kemampuan tumbuhan untuk


menghasilkan sendiri makanannya. Pada fotosintesis, karbon dioksida
(CO2) dan air (H2O) bereaksi dengan sinar matahari untuk membentuk
glukosa dan oksigen sebagai zat buangan.

Gambar 1. Skema dasar fotosintesis


Sumber: http://www.ext.colostate.edu/mg/gardennotes/images/141-2.jpg

Respirasi merupakan proses mengubah makanan (gula) menjadi


energi untuk pertumbuhan dan berbagai proses metabolisme lain di
dalam kehidupan. Respirasi merupakan kebalikan dari proses
fotosintesis dimana glukosa dan oksigen direaksikan sehingga
membentuk energi, serta karbon dioksida (CO2), dan air (H2O)
sebagai zat buangan.

Gambar 2. Skema dasar respirasi


Sumber: http://www.ext.colostate.edu/mg/gardennotes/images/141-4.jpg

Transpirasi merupakan peristiwa hilangnya uap air dari tumbuhan


melalui stomata/mulut daun, Transpirasi terjadi pada 90 persen dari
air yang memasuki tumbuhan. Sedangkan 10 persen sisanya menjadi
bahan bagi fotosintesis dan pertumbuhan sel. 3 peran utama
transpirasi bagi tumbuhan adalah untuk membantu pergerakan
mineral, baik dari akar ke daun melalui xilem, ataupun pergerakan
produk fotosintesis melalui floem ke seluruh bagian tumbuhan. Selain
itu, transpirasi juga dapat berperan sebagai pendingin tumbuhan. Dan
terakhir, transpirasi menyediakan tekanan turgor yang membantu agar
tumbuhan tetap tegak (Whiting, Roll, & Vickerman, 2010).

2.1.3

Faktor-Faktor

yang

Memengaruhi

Pertumbuhan

dan

Perkembangan Tanaman
Faktor-faktor yang memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan
tanaman dibagi menjadi 2 yaitu faktor eksternal yang berasal dari luar
tumbuhan dan faktor internal yang berasal dari tumbuhan itu sendiri.
Faktor eksternal terdiri atas makanan, suhu, kelembapan, oksigen, air,
dan cahaya. Sedangkan faktor internal pertumbuhan tumbuhan adalah
gen dan hormon (Pratiwi, Srikini, Suharno, & S, 2012).
Makanan merupakan sumber energi dan sumber materi untuk
menyintesis berbagai komponen sel (Pujiyanto, 2008). Tumbuhan
membutuhkan 18 elemen agar pertumbuhannya dapat normal. Sumber
dari elemen yang dibutuhkan sangat beragam, seperti udara, air, dan
tanah. Elemen yang dibutuhkan antara lain karbon, hidrogen, oksigen,
nitrogen, besi, magnesium, fosfor, dan lain sebagainya (Enviromental
Factors that Affect Plant Growth, n.d.). Defisiensi merupakan
kurangnya suatu nutrisi di dalam tumbuhan yang menyebabkan
pertumbuhan menjadi terganggu dan bisa menyebabkan kematian
(Pratiwi, Srikini, Suharno, & S, 2012).
Suhu atau temperatur memengaruhi masing-masing tanaman
secara berbeda-beda, tergantung dengan spesies tanaman tersebut.
Terdapat tanaman yang dapat tumbuh optimal pada suhu yang lebih
tinggi dari tanaman lain, dan pada suhu yang lebih rendah dari
tanaman lain. Namun temperatur tinggi dapat mempercepat laju
respirasi sehingga produk fotosintesis digunakan lebih cepat dari
biasanya dan menekan pertumbuhan. Sedangkan temperatur rendah
dapat berakibat pada pertumbuhan yang lambat (Enviromental Factors
that Affect Plant Growth, n.d.).
Kelembapan berpengaruh

berbeda-beda

terhadap

berbagai

tumbuhan. Tanah dan udara lembap berpengaruh baik bagi


pertumbuhan. Kondisi lembap menyebabkan lebih banyak air untuk
diserap daripada diuapkan. Kondisi tersebut menyebabkan sel
memanjang dengan lebih cepat. Tumbuhan pun lebih cepat mencapai
ukuran maksimum (Pratiwi, Srikini, Suharno, & S, 2012).

Kandungan oksigen dalam tanah, disebut sebagai aerasi,


diperlukan oleh akar untuk melakukan respirasi. Respirasi akar
bermanfaat dalam perkembangan sel-sel akar dan membantu
penyerapan nutrisi dari dalam tanah untuk tumbuh kembang tanaman
(Pujiyanto, 2008).
Air merupakan salah satu senyawa utama yang paling dibutuhkan
oleh tumbuhan. Reaksi kimia di dalam sel tidak dapat berlangsung
tanpa air sehingga tumbuhan mati. Air dibutuhkan diantaranya untuk
proses

fotosintesis,

mengaktifkan

reaksi

enzimatik,

menjaga

kelembapan, dan membantu perkecambahan pada biji (Pratiwi,


Srikini, Suharno, & S, 2012).
Cahaya merupakan faktor eksternal yang sangat penting bagi
tumbuhan. Selain diperlukan untuk fotosintesis, cahaya juga
mengaktifkan berbagai peristiwa penting pada pertumbuhan dan
perkembangan tanaman. Efek cahaya pada morfologi tumbuhan
disebut fotomorfogenesis. Tumbuhan mendeteksi bukan hanya ada
tidaknya cahaya namun juga arah, intensitas, dan panjang gelombang
cahaya tersebut (Reece, et al., 2011).
Efek dari panjang gelombang yang berbeda-beda merupakan salah
satu pertanyaan besar di masa lampau dan belum seluruhnya terjawab
saat ini. Peneliti telah menemukan bahwa cahaya biru dan merah
merupakan cahaya dengan efek paling signifikan pada tumbuhan.
Cahaya merah mempengaruhi pembentukan klorofil, fotoperiodisme,
dan lainnya. Sedangkan cahaya biru memengaruhi fototropisme atau
pergerakan tanaman menuju cahaya (Marinelli, 2014). Hal itu terlihat
dari spektrum aksi fotosintesis (Gambar 3) yang menunjukkan
keefektifan relatif panjang gelombang terhadap fotosintesis (Reece, et
al., 2011).

Gambar 3. Spektrum aksi fotosintesis


Sumber: (Reece, et al., 2011)

2.2 Bayam
Bayam merupakan salah satu spesies dari famili Amaranthaceae dan
terdiri dari beberapa jenis spesies, di antaranya bayam tanah (Amaranthus
blitum L.), bayam berduri (Amaranthus spinosus L.), bayam putih
(Amaranthus tricolor L.), dan bayam tahun (Amaranthus hybridus L.)
(Rukmana, Bayam, Bertanam & Pengolahan Pascapanen, 1994). Bayam
dapat tumbuh dengan baik di dataran rendah maupun di dataran tinggi (
2000 meter di atas permukaan air laut). Selain itu, bayam membutuhkan
tempat penanaman di tempat yang terbuka (Aak, 1992). Selain itu,
pertumbuhan dan produksi tanaman dapat mencapai hasil maksimal bila
dibudidayakan pada tanah yang subur dan gembur, kaya akan bahan organik,
memiliki aerasi dan drainase yang baik, serta mempunyai pH antara 6-7
(Rukmana, Bertanam Sayuran di Pekarangan, 2005).

BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Alat dan Bahan
3.1.1 Alat
Pot
Media tanam
Rangka kayu penutup
Sekop
Penggaris
Penyiram bunga
3.1.2 Bahan
Pupuk
Air
Bibit bayam (Amaranthus sp.)
Kertas minyak berwarna (biru, hijau, kuning)
Sekam
3.2 Cara Kerja
1. Pot yang akan diberi bibit dilapisi kerikil di bagian bawahnya.
2. Media tanam dibuat dari tanah, kompos dan sekam dengan perbandingan
tanah:kompos:sekam = 1:1:1. Setelah media tanam dibuat, masukkan ke
dalam pot yang telah dilapisi kerikil.
3. Bibit bayam dimasukkan ke dalam pot minimal sebanyak 4 bibit.
4. Rangka kayu penutup dibuat menurut sketsa.

Gambar 4. Skema kerangka


Pada setiap sisi rangka
rangka

ditutupi

penutup tumbuhan
kayu, kecuali dasar

dengan

kertas

minyak

berwarna kuning, hijau, dan biru. Lubang-lubang kecil akan dibuat pada
kertas di setiap sisi rangka untuk memastikan adanya aliran udara di
dalam tumbuhan.
5. Setelah 2 minggu, tanaman bayam dipindahkan ke dalam pot peneliti dan
ditutupi dengan rangka yang telah disiapkan. Pot yang akan ditutupi
dilabeli A, B, dan C. Pot A ditutupi dengan kerangka yang dilapisi kertas

kuning. Pot B ditutupi dengan kerangka yang dilapisi kertas hijau. Pot C
ditutupi dengan kerangka yang dilapisi kertas biru. Dan pot D tidak
ditutupi dengan kerangka (kontrol).
6. Keempat pot tersebut diletakkan di bawah sinar matahari yang cukup.
7. Amati dan catat ketinggian masing-masing tumbuhan di setiap pot setiap
hari (kecuali hari Minggu) selama 3 minggu.
3.3 Waktu dan Tempat Penelitian
Pencatatan pengamatan dilakukan mulai tanggal 2 Oktober 2014 hingga
22 Oktober 2014 dan penelitian bertempat pada Greenhouse Sekolah Dian
Harapan Makassar, Jalan Gunung Agung no. 201.

BAB IV
ANALISA DATA
4.1 Hasil Pengamatan
Tabel 1. Pertumbuhan tanaman bayam
Tanggal
2 Oktober 2014

Pot A (kuning)
Daun
Tinggi
(helai
(cm)
)
3
4

Pot B (hijau)
Daun
Tinggi
(helai
(cm)
)
3
4

Pot C (biru)
Daun
Tinggi
(helai
(cm)
)
2,5
4

Pot D (kontrol)
Daun
Tinggi
(helai
(cm)
)
3,5
5

3 Oktober 2014

3,5

3,5

4 Oktober 2014

3,5

6 Oktober 2014

4,5

7 Oktober 2014

5,5

8 Oktober 2014

3,5

9 Oktober 2014
10 Oktober
2014
11 Oktober 2014
13 Oktober
2014
14 Oktober
2014
15 Oktober
2014
16 Oktober
2014
17 Oktober
2014
18 Oktober
2014
20 Oktober
2014
21 Oktober
2014
22 Oktober
2014

4,5

4,5

3,5

4,5

6,5

5,5

4,5

4,5

6,5

5,5

8,5

5,5

8,5

7,5

5,5

5,5

5,5

5,5

8,5

5,5

8,5

5,5

9,5

6,5

10,5

9,5

11

10

12
10
8
6

Tinggi (cm)

4
2
0

Waktu (hari)
Pot A (kuning)

Pot B (hijau)

Pot C (biru)

Grafik 1. Penambahan tinggi tanaman terhadap waktu

Jumlah daun (helai)

10
5
0
2 Okt 2014

Waktu (hari)
Pot A (kuning)
Pot B (hijau)
Pot C (biru)
Pot D (kontrol)

Grafik 2. Penambahan jumlah daun terhadap waktu

11

Pot D (kontrol)

4.2 Pembahasan

12

13

BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan

5.2 Saran

14

DAFTAR PUSTAKA
Aak. (1992). Petunjuk Praktis Bertanam Sayur. Yogyakarta: Kanisius.
Enviromental Factors that Affect Plant Growth. (n.d.). Retrieved November 17,
2014, from AZ Master Gardener Manual: Water:
http://ag.arizona.edu/pubs/garden/mg/botany/water.html
Enviromental Factors that Affect Plant Growth. (n.d.). Retrieved November 17,
2014, from AG Master Gardener Manual: Enviromental Factors:
http://ag.arizona.edu/pubs/garden/mg/botany/environmental.html
Marinelli, J. (2014). Stalking the Wild Amaranth: Gardening in an Age of
Extinction. New York: Henry Holt and Company.
Pratiwi, D. A., Srikini, S. M., Suharno, & S, B. (2012). Biologi untuk SMA/MA
Kelas XII. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Pujiyanto, S. (2008). Menjelajah Dunia Biologi 3 untuk Kelas XII SMA dan MA.
Solo: Platinum.
Reece, J. A., Urry, L. A., Cain, M. L., Wasserman, S. A., Minorsky, P. V., &
Jackson, R. B. (2011). Campbell Biology. San Fransisco: Pearson
Benjamin Cummings.
Rukmana, R. (1994). Bayam, Bertanam & Pengolahan Pascapanen. Yogyakarta:
Kanisius.
Rukmana, R. (2005). Bertanam Sayuran di Pekarangan. Yogyakarta: Kanisius.
Whiting, D., Roll, M., & Vickerman, L. (2010, August). Plant Growth Factors:
Photosynthesis, Respiration, and Transpiration. Retrieved November 16,
2014, from CMG Garden Notes:
http://www.ext.colostate.edu/mg/gardennotes/141.html

15

LAMPIRAN GAMBAR

(a)

(b)

(c)

(d)

Gambar 5. Pot A (a), pot B (b), pot C (c), dan pot D (d) pada 8 Oktober 2014

16

Gambar 6. Keempat pot beserta kerangka pada 22 September 2014 dan pada 16
Oktober 2014

Gambar 7. Keempat pot pada posisinya pada 22 Oktober 2014

17

(a)

(b)

(c)

(d)

Gambar 8. Pot A (a), pot B (b), pot C (c), dan pot D (d) pada 22 Oktober 2014

18