Anda di halaman 1dari 21

A.

Latar Belakang
Sebagai seorang muslim yang diwajibkan untuk bertaqwa kepada Allah SWT, kita harus
mengetahui terlebih dahulu apa itu iman, islam serta ihsan agar orientasi dalam ibadah kita
tidak salah maka dengan mengetahui arti yang sesungguhnya tentang iman, islam dan ihsan
serta realisasi iman pada kehidupan sehari-hari diharapkan syariat islam yang kita jalani
menjadi diridhai oleh Allah SWT.
Islam merupakan agama yang diturunkan kepada umat manusia melalui perantara nabi
Muhammad SAW yang merupaka penyempurna agama-agama yang sebelumnya telah ada,
dengan pedoman hidup berupa kitabullah Al Quran yang lafadz dan maknanya diciptkan oleh
Allah sendiri, yang diberikan kepada nabi Muhammad SAW berupa wahyu secara mutawatir
dengan perantara malaikat jibril.
Sebelum mengetahui lebih jauh tentang apa itu islam maka kita juga harus mengetahui
apa itu iman, yang merupakan dasar syariat yang harus dimiliki oleh setiap muslim, dalam
kajian filsafat, iman merupakan suatu logika berfikir kemudian islam adalah perbuatan dari
logika berfikir tersebut dan ihsan merupaka hasil atau buah dari perbuatan yang telah
dilakukan, dengan kata lain iman islam dan ihsan merupakan aspek terpenting yang harus
dimiliki setiap muslim.
Setelah mengetahui apakah itu iman islam dan ihsan maka islam telah mempersiapkan
serta mengatur tata cara untuk merealisasikannya dalam segala bentuk perbuatan yang kita
lakukan, seperti yang terkandung dalam hadist dalam makalah ini yaitu tentang, bagaimana
cara menghormati tamu, cara untuk bertetangga agar senantiasa tercipta hubungan yang
harmoni, ataupun adab dalam berbicara.
B. Rumusan Masalah
1. Menjelaskan tentang cinta sesama muslim sebagian dari iman. ?
2. Menjelaskan cinta seorang muslim tidak menggangu orang lain. ?
3. Menjelaskan realisasi iman dalam menghadapi tamu. ?

C. Tujuan
Pada dasarnya tujuan penulisan makalah ini terbagi menjadi dua bagian, yaitu tujuan
umum dan tujuan khusus. Tujuan umum dalam penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi
salah satu tugas mata kuliah Hadis Dakwah. Adapun tujuan khusus dari penyusunan makalah
Hadis Dakwah ini adalah:
1. Untuk memahami tentang cinta sesama muslim sebagian dari iman.
2. Untuk memahami tentang cinta seorang muslim tidak menggangu orang lain..
3. Untuk memahami realisasi iman dalam menghadapi tamu.
D. Metode Penulisan
Dalam penulisan makalah ini, penulis mempergunakan metode pustaka, yaitu metode
yang dilakukan dengan mempelajari dan mengumpulkan data dari pustaka yang berhubungan
dengan alat, baik berupa buku maupun jurnal online.
E. Ruang Lingkup Makalah
Sebuah makalah memerlukan pembatasan pada pembahasannya agar dari pembahasan
tersebut yang hendak di bahas tidak terlalu rumit. Adapun pembatasan permasalahan
dijabarkan sebagai berikut, :
Teori cinta sesama muslim sebagian dari iman, Cinta adalah sesuatu yang niscaya
ada dalam peri kehidupan makhluk berakal seperti manusia baik berbangsa, bernegara,
maupun dalam kehidupan beragama. Rasulullah SAW sebagai suri tauladan agung bagi
manusia telah menjelaskan tentang betapa pentingnya cinta dan kasih sayang terhadap
sesama insan. cinta seorang muslim tidak menggangu orang lain, Seorang muslim

yang baik keislamannya adalah orang yang tidak mengganggu orang lain.
Artinya setiap gerak dan tingkah lakunya adalah tidak menghalangi hak-hak
orang lain, lebih-lebih sampai mendzaliminya. Dan realisasi iman dalam
menghadapi tamu, Yang dimaksud dengan memuliakan tamu adalah
memperbaiki pelayanan terhadap mereka sebaik mungkin. Pelayanan yang baik
tentu saja dilakukan berdasarkan kemampuan dan tidak memaksakan di luar dari
kemampuan.
Mekanisme penerapan pembahasannya yaitu teori cinta sesama muslim, tinjauan
bahasa, biografi perawi, penjelasan singkat ,serta fiqih al-hadits.

A. CINTA SESAMA MUSLIM SEBAGIAN DARI IMAN

1. Terjemah Hadits:

:





( ) .

Artinya:
Anas r.a. berkata bahwa Nabi SAW bersabda, Tidaklah termasuk beriman / Tidaklah
sempurna iman seseorang di antara kamu sehingga mencintai saudaranya sebagaimana
ia mencintai dirinya sendiri.
(H.R Bukhari, Muslim, Ahmad, dan Nasai)

2. Tinjauan Bahasa
Mencintai. Bentuk mashdarnya ( ) .

() , sering digunakan yang berarti :


kecenderungan terhadap sesuatu yang ada pada orang yang dicintai.
Saudara (
) , tetapi maksud saudara pada hadits di atas adalah
saudara seiman dan seIslam.
Seseorang (
)

3. Biografi Perawi
Anas bin Malik, nama lengkapnya adalah Anas Ibn Malik Ibn Nazhar Al-Anshary AlKhazary. Dia menerima 2.286 hadits. (Taysir Mushthalah Al Hadits, 199) Ia menerima hadits
dari Nabi SAW., Abu Bakar, Umar, Utsman, Abdullah Ibn Ruwahah, Fathimah Az-Zahra,

Tsabit Ibn Qais Ibn Syams, Abd Ar-Rahman Ibn Auf, Ibn Masud, Malik Ibn Shashah, Abu
Dzar, Ubai Ibn Kaab, Abi Thalhah, Abu Bakar, Ibn Abdullah Al-Mazani, Qatadah,
Muhammad Ibn Sirin, Az-Zuhri, Rubaah Ibn Abd Ar-Rahman, dan lain-lain.
Ia adalah pelayan Rasulullah SAW, dan telah mengabdi kepadanya selama 10 tahun. Ia
meninggal dunia pada tahun 92 atau 93 atau tahun 100 H. [Tahdzib At-Tahdzib, 39]. Menurut
Az-Zuhri yang diterima dari Anas Ibn Malik ia berkata, Rasulullah SAW datang ke madinah
ketika usiaku 10 tahun.
Kemudian ibuku menjadikan aku sebagai pelayan atau pembantu Rasulullah SAW.
Jafar Ibn Sulaiman Adz-Dzahaby dari Tsabit, dari Anas berkata, Ummu Sulaim (ibu Anas)
telah membawaku kehadapan Rasulullah SAW, ketika aku masih kecil, lalu Ummu Sulaim
berkata kepada Nabi SAW, Ya Rasulullah SAW berdoalah kepada Allah untuknya, maka
Rasulullah SAW berdoa. Ya Allah perbanyaklah harta dan keturunannya dan masukkanlah
ia ke surga. Ayyub dari Abu Qilabah dari Anas berkata,Aku telah mengikuti Rasulullah SAW
pada saat perjanjian di Hudaibiyah, umrah, haji, futuh Mekah, perang Hunain dan Thaif.
Ali Ibn Judi dari Syubah dari Tsabit berkata,Abu Hurairah berkata,Aku tidak melihat
seorangpun yang menyerupai shalat Rasulullah SAW, kecuali Ibn Ummu Sulaim (Anas Ibn
Malik). Al-Anshari berkata,Telah menceritakan kepada kami Ibn Auf dari Musa Ibn Abbas
bahwa Abu Bakar ketika menjadi khalifah mengutus Anas Ibn Malik untuk datang ke bahrain
sebagai pengurus (gubernur) di sana, padahal Anas Ibn Malik masih berusia muda.
Menurut Abu Bakar, ia mengutusnya karena Anas Ibn Malik adalah cerdik dan seorang
penulis wahyu. Menurut Ali Ibn Al-Madani, Anas termasuk seorang sahabat Rasulullah
SAW lainnya.
4. Penjelasan Singkat Hadits
Seorang mukmin yang ingin mendapat ridha Allah SWT harus berusaha untuk
melakukan perbuatan-perbuatan yang diridhai-Nya. Salah satunya adalah mencintai sesama
saudaranya seiman seperti ia mencintai dirinya, sebagaimana dinyatakan dalam hadits di atas.
Namun demikian, hadits di atas tidak dapat diartikan bahwa seorang mukmin yang tidak
mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya berarti tidak beriman.
Maksud pernyataan

pada hadits di atas tidak sempurna keimanan

seseorang. Jika tidak mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri. Jadi, haraf nafi
pada hadits tersebut berhubungan dengan ketidaksempurnaan.

Hadits di atas juga menggambarkan bahwa Islam sangat menghargai persaudaraan dalam
arti sebenarnya. Persaudaraan yang datang dari hati nurani, yang dasarnya keimanan bukan
hal-hal lain, sehigga betul-betul merupakan persaudaraan abadi seabadi imannya kepada Allah
SWT. Dengan kata lain, persaudaraan yang didasarkan Lillah, sebagaimana diterangkan dalam
banyak hadits tentang keutamaan orang yang saling mencintai karena Allah SWT, diantaranya:
: :


:


Artinya:
Abu Hurairoh berkata, Rasulullah SAW bersabda: Pada hari kiamat Allah SWT akan
berfirman Di manakah orang yang saling berkasih sayang karena Kebesaran-Ku, kini
Aku naungi di bawah naungan-Ku, pada saat tiada naungan,kecuali naungan-Ku.
( H.R. Muslim )
Orang yang mencintai saudaranya karena Allah akan memandang bahwa dirinya
merupakan salah satu anggota masyarakat, yang harus membangun suatu tatanan untuk
kebahagiaan bersama. Apapun yang dirasakan saudaranya, baik kebahagiaan maupun
kesengsaraan, ia anggap sebagai kebahagiaan atau kesengsaraannya juga. Dengan demikian,
terjadi keharmonisan hubungan antarindividu yang akan memperkokoh persatuan dan
kesatuan. Dalam hadis lain, rasulullah SAW. menyatakan:

( )

Artinya:
Sesungguhnya antara seorang mukmin dengan mukmin lainnya bagaikan bangunan
yang saling melengkapi (memperkokoh) sati sama lainnya.
(H.R. Bukhari dan Muslim)
Masyarakat seperti itu, telah diconohkan pada zaman Rasulullah SAW. Kaum Anshar
dengan tulus ikhlas menolong dan merasakan penderitaan yang dialami oleh kaum Mujahirin
sebagai penderitannya perasaan seperti itu bukan didasarkan keterkaitan darah atau keluarga,
tetapi didasarkan pada keimanan yang teguh. Tak heran kalau mereka rela memeberikan apa
saja yang dimilikinya untuk menolong saudaranya dari kaum Muhajirin, bahkan ada yang
menawarkan salah satu istrinya untuk dinikahkan kepada saudaranya dari Muhajirin.

Persaudaraan, persatuan dan kesatuan seperti itu sungguh mencerminkan betapa kokoh
dan kuatnya keimanan seseorang. Ia selalu siap menolong saudaranya seiman tanpa diminta,
bahkan tidak jarang mengorbankan kepentingannya sendiri demi menolong saudaranya.
Perbuatan baik seperti itulah yang akan mendapat pahala besar di sisi Allah SWT, yakni
memberikan sesuatu yang sangat dicintainya kepada saudaranya, tanpa membedakan antara
saudaranya seiman dengan dirinya sendiri.
Allah SWT berfirman :

.
:
Artinya :
Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu
menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan,
maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.
(Q.S. Ali-imron: 92)
Sebaliknya, orang-orang mukmin yang egois, yang hanya mementingkan kebahagiaan
dirinya sendiri, pada hakikatnya tidak memiliki keimanan yang sesungguhnya. Hal ini karena
perbuatan seperti itu merupakan perbuatan orang kufur dan tidak disukai Allah SWT tidaklah
cukup dipandang mukmin yang taat sekalipun khusuk dalam shalat atau melaksanakan semua
rukun Islam bila ia tidak peduli terhadap nasib saudaranya seiman.
Namun demikian, dalam menintai seorang mukmin, sebagaimana dikatakan diatas, harus
didasari lillah. Oleh karena itu, harus tetap memperhatikan rambu-rambu syara. Tidaklah
benar, dengan alasan mencintai saudaranya seiman sehingga mau menolong saudarannya
tersebut dalam berlaku maksiat dan dosa kepada allah SWT.
Sebaiknya, dalam mencintai sesama muslim, harus mengutamakan saudara-saudara
seiman yang betul-betul taat kepada allah SWT. Rasulullah SAW. memberikan contoh siapa
saja yang harus terlebih dahulu dicintai, yakni mereka yang berilmu, orang-orang terkemuka,
orang-orang yang suka berbuat kebaikan, dan lain-lain sebagaimana diceritakan dalam hadis:

:



:



( ).



Artinya :

Abdullah Ibn Mas ud r.a., ia berkata Rasulullah SAW.telah bersabda. Hendaknya


mendekat kepadaku orang-orang dewasa dan yang pandai, ahli-ahli pikir. Kemudian
berikutnya lagi. Awaslah ! Janganlah berdesak-desakan seperti orang-orang pasar.
(H.R. Muslim)
Hal itu tidak berarti diskriminatif karena islam pun memerintahkan umatnya untuk
mendekati orang-orang yang suka berbuat maksiat dan memberikan nasihat kepada mereka
atau melaksanakan amar maruf dan nahi munkar.

5. Fiqh al-Hadis
Salah satu tanda kesempurnaan iman seorang mukmin adalah mencintai saudaranya
sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. Hal itu direalisasikan dalam kehidupan sehari-hari
dengan berusaha untuk menolong dan merasakan kesusahan maupun kebahagiaan saudaranya
seiman yang didasarkan atas keimanan yang teguh kepada Allah SWT.
Dia tidak berpikir panjang untuk menolong saudaranya sekalipun sesuatu yang
diperlukan saudaranya adalah benda yang paling ia cintai. Sikap ini timbul karena ia merasakan
adanya persamaan antara dirinya dan saudaranya seiman.

B. CIRI SEORANG MUSLIM TIDAK MENGGANGGU ORANG LAIN




: ..



.

1. Terjemah Hadits
Abdullah bin Umar berkata bahwa Nabi SAW telah bersabda : Seorang muslim
adalah orang yang menyebabkan orang-orang Islam (yang lain selamat dari lisan dan
tangannya dan orang yang hijrah adalah orang yang hijrah dari apa yang telah dilarang
Alah SWT.
(H.R. Bukhari, Abu Dawud, dan Nasai)
2. Tinjauan Bahasa
Menyelamatkan :

Berpindah

Melarang

3. Biografi Perawi
Abdullah ibn umar ibn al-khaththab ibn nufail Al-quraisy Al-Adawy Abd. Ar-Rahman
Al-Makky dilahirkan sebelum Nabi SAW. Menjadi rasul. Ia masuk islam ketika ia masih kecil.
Ada yang berpendapat bahwa ia telah memeluk islam kemudian hijrah ke madinah bersama
ayahnya. Dia tidak menyaksikan perang badar sedangkan ketika terjadi perang uhud,
Rasulullah SAW. Menggapnya masih kecil ( umur 14 tahun ) . akan tetapi, pada peperangan
selanjutnya. Yaitu mulai perang khandak dia slalu ikut.
Ia menerima riwayat dari rasulullah SAW. Ayahnya, pamanya (zaid) , saudara
perempuanya, yaitu hafsah ( istri rasulullah ). Abu bakar , utsman ibn afan, ali,said,zaid ibn
tsabit,shuhaib,ibn Masud,aisyah,rafi ibn khadij, dan lain-lain. Orang-orang yang menerima
riwayat darinya antara lain : anaknya,bilal,zaid,hamzah,salim,abdullah,ubaidillah,umar,cucu
dari anak laki-lakinya, Abu bakar ibn ubaidillah, muhammad ibn zaid, maulanya, nafii, assalam
maula umar, abu salamah, ibn Abd Ar-Rahman, Dan lain-lain.

Pendapat para sahabat dan para ulama tentang ibn ulama adalah sebagai berikut :
Hafsah berkata, aku telah mendengar rasulullah SAW. Berkata bahwa abdullah ibn
umar adalah seorang pemuda quraisy yang banyak mengetahui tentang dunianya .
Jabir berkata, tidak ada seorang pun dari kami yang aku ketahui tentang dunia dan
ia cenderung kepadanya kecuali ibn umar.
Ibn Al-musayyab berkata, ia meninggal ketika di bumi ini, tidak ada seorang pun
yang paling mencintai pertemuan dengan allah karena amalnya kecuali ibn umar.
Az-zuhri berkata tidak ada seorang pun yang mampu menyamai pemikiran ibn
umar.
Abu nuaim Al-Hafizh berkata, ibn umar telah memberikan kekuatan pada saat
berijtihad, beribadah, dan juga memberikan harta perniagaan serta pengetahuan
tentang akhirat. Dia meninggal setelah membebaskan 1000 orang budak dan
setelah dia melaksanakan ibadah haji.
Ibnu umar termasuk sahabat yang paling faqih, paling iuhud. Dan mufti bagi
masyarakatnya. Dia meninggalkan hal-hal yang berbauh fitnah. Tidak heran jika ia tidak
mengikuti golongan ali ataupun muawiyah. Dia selalu pergi haji ketika terjadi fitnah sehingga
di anggap sebagai orang yang paling tahu tentang manasik haji. Dia telah melaksanakan ibadah
haji sebanyak 60 kali dan umrah 1.000 kali . menurut ibn zubaer , ia meninggal pada usia 73
tahun, sedangkan menurut saad, ia meninggal pada tahun 74 H. Ibnu umar dikuburkan di bady
thawy pada pemakaman kaum muhajirin.
Hadis yang diriwayatkannya hampir menyamai jumlah hadis yang di riwayatkan abu
hurairah, yaitu 2.630 hadis. Ia termasuk salah seorang al-ubadah yaitu sebutan bagi orang yang
di panggil abdulllah ibn abbas. Abdullah ibn amr ibn al-ash, dan abdullah ibn zubair.
4. Penjelasan Singkat Hadits
Hadits di atas mengandung dua pokok bahasan, yakni tentang hakikat seorang muslim,
dalam membina hubungan dengan sesama muslim dalam kehidupan sehari-hari, dan juga
menjelaskan hakikat hijrah dalam pandangan Islam.
Orang yang mengucapkan dua kalimah syahadat telah tergolong muslim. Akan tetapi,
untuk dikatakan muslim yang sebenarnya (haqiqi), ia harus memiliki tingkah laku yang sesuai
dengan ketentuan Islam, tanpa memilih atau membedakan syariat yang disukai atau tidak
disukai olehnya.

Tidaklah dikatakan sempurna keIslaman seseorang jika ia hanya memperhatikan ibadah


ritual yang berhubungan dengan Allah SWT, tetapi melupakan atau meremehkan hubungannya
dengan manusia. Dalam hadits di atas dinyatakan bahwa seorang muslim adalah orang yang
mampu menjaga dirinya sehingga orang lain selamat dari kezaliman atau perbuatan jelek
tangan dan mulutnya. Dengan kata lain, ia harus berusaha agar saudaranya sesame muslim
tidak merasa disakiti oleh tangannya, baik fisik seperti dengan memukulnya, merusak harta
bendanya, dan lain-lain ataupun dengan lisannya.
Adapun menyakiti orang lain dengan ucapan atau lisannya, misalnya dengan fitnah,
cacian, umpatan, hinaan, dan lain-lain. Perasaan sakit yang disebabkan oleh ucapan lebih sulit
dihilangkan daripada sakit akibat pukulan fisik. Tidak jarang terjadinya perpecahan,
perkelahian, bahkan peperangan di berbagai daerah akibat tidak dapat mengatur lisan sehingga
menyebabkan orang lain sakit hati. Salah satu pepatah arab menyatakan :

Artinya : Keselamatan seseorang adalah dengan menjaga lisannya.


Dengan demikian, seseorang harus berusaha untuk tidak menyakiti saudaranya dengan
cara apapun dan kapan pun. Sebaliknya, ia selalu berusaha menolong dan menyayangi
saudaranya seiman dengan kemampuan yang dimilikinya.
Hal itu karena menjaga orang lain, baik fisik maupun perasaannya sangat penting dalam
Islam. Tidak heran kalau amalan sedekah akan batal jika disertai dengan sikap yang dapat
menyakiti mereka yang diberi sedekah. Allah SWT berfirman :

: . . . .


Artinya :
Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu
dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan sipenerima).
(Q.S. Al-Baqarah:264)
Seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak
beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang
di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak
bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak
memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.

Oleh karena itu, setiap muslim harus berhati-hati dalam bertingkah laku. Jangan asal
berbicara bila tidak ada manfaatnya. Jangan berbuat sesuatu bila hanya menyebabkan
penderitaan

orang

lain.

Karena

segala

tindakan

dan

perbuatan

akan

dimintai

pertanggungjawabannya kelak di akhirat sebagaimana dinyatakan dalam firman-Nya :

.



( :)
Artinya :
Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan
tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan
dimintai pertanggungjawabannya. (Q.S Al-Isra : 36)
Dalam hadits di atas juga diterangkan tentang hijrah, yaitu bahwa hijrah yang sebenarnya
bukanlah berpindah tempat sebagaimana banyak dipahami orang, melainkan berpindah dari
kejelekan menuju kebaikan.
Memang sangat berat bagi orang yang terbiasa melakukan sesuatu yang dilarang agama
atau terbiasa tidak melakukan sesuatu yang telah diperintahkan agama untuk mengubah
perilakunya,padahal dia mengakui bahwa dirinya beriman. Dalam hati kecilnya, ia mengakui
bahwa perbuatan yang selama dilakukannya adalah salah. Akan tetapi, kalau didasari niat yang
betul, semuanya akan mudah. Ia akan berpindah dari jalan yang dimurkai Allah SWT menuju
jalan yang diridhai-Nya. Alah SWT pasti akan menyertai orang-orang yang ingin taat kepadaNya dan memberikan pahala dan kebahagiaan kepada mereka. Sebagaimana firman-Nya.

.
Artinya :
Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta
mereka dan jiwa mereka adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang
yang mendapat kemenangan. (Q.S At-Taubah : 20)
Hijrah juga dapat diartikan sebagai perjalanan panjang untuk meraih masa depan yang
lebih cerah. Dapat juga diartikan sebagai perjalanan panjang untuk mendapatkan ridha-Nya.
Untuk menempuh suatu perjalanan diperlukan bekal yang cukup. Bekal tersebut dalam Islam
adalah aqidah yang kuat. Orang yang kuat imannya tidak akan mudah tergelincir pada

perbuatan yang menyimpang perintah-Nya. Jika tergelincir kepada perbuatan salah, ia segera
berhijrah dari perbuatan jelek tersebut kepada perbuatan-perbuatan baik, sesuai perintah-Nya.
Menurut Kitab Fathul Baari, bahwasanya ada dua macam bentuk hijrah, yaitu :
a. Hijrah Zhahirah, yaitu pergi meninggalkan tempat untuk menghindari fitnah
demi mempertahankan agama.
b. Hijrah Bathinah, yaitu meninggalkan perbuatan yang dibisikkan oleh nafsu
amarah dann syetan.
5. Fiqh Al-hadits
Di antara ciri kesempurnaan iman seseorang adalah tidak mau menyakiti saudaranya
seiman. Selain itu, ia pun berusaha untuk berhijrah (pindah) dari melakukan perbuatanperbuatan yang dilarang allah kepada perbuatan-perbuatan yang diridhai-nya.

C. REALISASI IMAN DALAM MENGHADAPI TAMU, TETANGGA DAN


BERTUTUR KATA YANG BAIK

:



:




.


1. Terjemah Hadits
Abu Hurairoh r.a, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda: Barang siapa yang
beriman kepada Allah dan hari akhir, dia harus memuliakan tamunya; Barang siapa
yang beriman kepada Allah dan hari akhir, dia harus berbuat baik kepada tetangganya;
Dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, dia harus berkata baik
atau diam.
(H.R. Syaikhan dan Ibnu Majah)
2. Tinjauan Bahasa
Memuliakan

Tamu

Membuat Kebaikan

Tetangga

Diam (tidab berbicara)

3. Biografi Perawi
Nama lengkap Abu Hurairah Ad-Dawsy menurut Hisyam Ibn Al-Kalbi adalah umam Ibn
Amir Ibn Dzi As-Sarri Ibn Tharrif Ibn Iyan Ibn Abi Shab Ibn Hunaid Ibn Tsalabah Ibn
Sulaiman Ibn Fahn Ibn Ghanan Ibn Daws.
Pada masa jahiliyah, ia bernama abd syams dengan kunyah-nya abu aswad. Kemudian
rasulullah SAW. Memberi nama abdullah, dan kunyah-nya abu hurairah. Ini berkaitan dengan
kucing, sebagaimana diriwayatkan oleh ibn abd al-birr bahwa abu hurairah berkata, pada suatu

hari aku membawa kucing dalam sesuatu yang tertutup dan nabi SAW. Melihatku dan
menanyakan apa yang kubawa. Akupun menjawab kucing , kemudian Nabi SAW.
Memanggilku, ya, Abu Hurairah Ibunya bernama Maemunah Binti Syahr.
Abu Hurairah manerima hadist dari nabi. Saw. Abu bakar, umar, Al-fadl, Abbas ibn Abd.
Al-mhutalib, aisyah, dan lain-lain. Adapun orang-orang yang menerima riwayat darinya adalah
: putranya, al-muharrar, ibn abbas, ibn umar, anas, said ibn al-musayyab, abu salamah ibn abd
ar-rahman ibn awf. Menurut al-bukhari, mereka yang menerima riwayat darinya mencapai 800
orang lebih. Semuanya merupakan ahli ilmu, baik dari kalangan sahabat maupun tabiin.
Abu hurairah masuk islam pada tahun khaibar. Yaitu pada bulan muharam tahun ketujuh
hijriyah. Al-Araj berkata. Abu hurairah adalah seorang sahabat yang banyak menerima hadis
dari rasulullah SAW. Dan Allah penyempurnaan janjinya. Abu hurairah sendiri berkata.
Dahulu sesungguhnya aku adalah seorang yang miskin dan suka menemui rasulullas SAW.
Untuk memenuhi perutku. Sementara itu. Orang-orang muhajirin sibuk pergi kepasar.
Demikian pula, kaum anshar sibuk mengurusi harta mereka. Sedangkan aku senantiasa hadir
dekat rasulullah SAW. Di majelisnya. Rasulullah. SAW bersabda.
Barang siapa yang merentangkan sorbanya sampai aku memetuskan untuk memenuhinya
dengan kata-kataku kemudian ia memeganginya. Maka ia tidak akan lupa sedikit pun dari apaapa yang telah ia dengar dariku. Setelah mendengar hal itu, aku merentangkan serbanku ketika
rasulullah SAW. Mengeluarkan (menetapkan) hadis kemudian aku pegang (hafal). Maka demi
dzat yang menguasai diriku, aku tidak lupa sedikitpun mengenai hadis tersebut. Begitu juga
pada hadis-hadis lainnya. Hadis ini diriwayatkan oleh Al-bukhari dan muslim, juga An-Nasai
dari Al-Zuhri dari Al-Araj.
Abu hurairah termasuk sahabat yang paling banyak hafal hadis nabi. Tidak ada sahabat
lain yang menyamainya dari segi jumlahnya. Ia meriwayatkan tidak kurang dari 5.374 hadis.
Tiga ratus hadis disepakati oleh bukhari dan muslim. Dan iman Al-bukhari sendiri dalam 73
hadis.
Ibnu uyainah dari hisyam ibn urwah berkata, abu hurairah meninggal pada tahun siti
aisyah meninggal yakni tahun 57 H. Hal itu dikemukakan oleh khalifah, Amr ibn ali, abu bakar,
dan jamaah. Damrah ibn rabiah, dan hitsam ibn abdi pun berpendapat demikian. Abu masyar
berkata bahwa ia meninggal pada tahun 58 H abu hurairah di kuburkan di baqi dekat kuburan
asqalan.

4. Penjelasan Singkat
Dalam hadits di atas, ada tiga perkara yang didasarkan atas keimanan kepada Allah dan
hari akhir, yakni memuliakan tamu, memuliakan tetangga, dan berbicara baik atau diam.
Adapun alas an penyebutan dua keimanan, yakni iman kepada Allah dan hari akhir karena iman
kepada Allah merupakan permulaan segala sesuatu dan di tangan-Nyalah segala kebaikan dan
kejelekan sedangkan hari akhir merupakan akhir kehidupan manusia, yang di dalamnya
mencakup hari kebangkitan, mahsyar, hisab, surga neraka, dan banyak sekali yang harus
diimani pada hari akhir tersebut. Dengan demikian, seandainya manusia betul-betul beriman
kepada Allah dan hari akhir, ia akan berbuat kebaikan dan menjauhi segala kemunkaran dan
kemaksiatan.
Namun demikian, tidak berarti bahwa orang yang tidak memuliakan tamu dan tetangga,
serta tidak berkata yang baik dianggap tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Maksud
iman kepada Allah dan hari akhir adalah sebagai penyempurna iman. Ketiga hal tersebut sangat
penting dalam kehidupan sosial.
1. Memuliakan Tamu
Maksud memuliakan tamu dalam hadits di atas mencakup perseorangan maupun
kelompok. Tentu saja hal ini dilakukan berdasarkan kemampuan, bukan karena riya. Dalam
syariat Islam, batas memuliakan tau adalah tiga hari tiga malam, sedangkan selebihnya
merupakan sedekah. Hal itu didasarkan pada hadits Rasulullah SAW yang artinya :

:
) (
.
:

.
: :
( ) .


Artinya:
"Abu Syuraih (khuwailid) bin amru Al-Khuzair r.a, berkata, saya telah mendengar
Rasulullah SAW bersabda, Siapa yang percaya kepada Allah dan hari akhir, ia harus
menghormati tamunya pada bagian keistimewaannya. Sahabat bertanya Apakah yang
dimaksud dengan keistimewaannya itu? Jawab Nabi, hormat tamu itu sampai 3 hari,
sedangkan selebihnya sedekah.
(Mutafaq Alaih)

Di antara hal-hal yang harus diperhatikan dalam memuliakan tamu adalah memberikan
sambutan yang hangat. Hal ini akan lebih baik daripada disambut hidangan yang mahal-mahal,
tetapi dengan muka masam dan kecut. Namun, dalam menjamu tamunya ini haruslah sesuai
dengan kemampuan.
Seandainya kedatangan tamu yang bermaksud meminta tolong tentang suatu masalah
atau kesulitan, sebagai seorang muslim kita harus memberinya bantuan semampunya. Apabila
tamunya tidak mengatakan suatu kebutuhan, tetapi kita mengetahui bahwa tamu tersebut dalam
keadaan faqir, sedangkan kita mampu, berilah bantuan apalagi kalau tamu tersebut masih
kerabat.
2. Memuliakan Tetangga
Maksud tetangga di sini adalah umum, baik yang dekat maupun jauh, muslim, kafir, ahli
ibadah, orang fasik, musuh dan lain-lain, yang bertempat tinggal di lingkungan rumah kita.
Namun demikian, dalam memuliakan mereka, terdapat tingkatan-tingkatan antara atu tetangga
dengan lainnya. Seorang muslim dan ahli ibadah yang dapat dipercaya dan dekat rumahnya
lebih utama untuk dihormati daripada para tetangga lainnya.
Berbuat baik kepada tetangga itu dapat dilakukan dengan berbagai cara, misalnya
memberikan pertolongan, memberikan pinjaman, menengoknya jika sakit, melayat jika ada
keluarganya yang meninggal, dan lain-lain.
Selain itu, diharuskan pula menjaga mereka dari ancaman gangguan dan bahaya. Dalam
hadits lain yang diriwayatkan imam bukhari dari siti aisyah disebutkan:

.

Artinya :
Malaikat jibril senantiasa memberi wasiat kepadaku (umtuk menjaga) tetangga
sehingga aku menyangka bahwa dia (malaikat jibril) akan mewarisinya (tetangga).
(H.R Imam Bukhari)
Perintah untuk berbuat baik terhadap tetangga juga terdapat dalam Al-Quran,
sebagaimana firman-Nya:



...



( : ). .
Artinya :
Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim,
orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu
sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang
sombong dan membangga-banggakan diri. (Q.S An-Nisa :36)
Di antara akhlak yang terpenting kepada tetangga adalah :
Menyampaikan ucapan selamat ketika tetangga sedang bergembira
Menjenguknya tatkala sakit
Bertakziah ketika ada keluarga yang meninggal
Menolongnya ketika membutuhkan pertolongan
Memberikan nasehat dalam berbagai urusan dengan cara yang maruf, dll

3. Berbicara baik atau diam


Sesungguhnya ucapan seseorang menentukan kebahagiaan dan kesengsaraan dirinya.
Orang yang selalu menggunakan lidahnya untuk berbicara baik, memerintah kepada kebaikan
dan melarang kepada kejelekan, membaca Al-Quran, membaca ilmu pengetahuan, dll, ia akan
mendapatkan kebaikan dan dirinya pun terjaga dari kejelekan. Sebaliknya, orang yang
menggunakan lidahnya untuk berkata jelek atau menyakiti orang lain, ia akan mendapat dosa
dan tidak mustahil orang lain pun akan berbuat demikian kepadanya.
Memang sangat sulit mengatur lidah agar selalu berkata baik atau diam. Akan tetapi,
kalau berusaha untuk membiasakanya, tidaklah sulit apalagi kalau sekedar diam.

.



:
Artinya :
Dari anas. Ia berkata telah bersabda Rasulullah SAW., Diam itu suatu kebijaksanaan,
tetapi sedikit orang yang berbuatnya.
(Dikeluarkan oleh Al-Baihaqi, dengan sanad yang dhaif dan ia menyahihkan bahwa
hadits tersebut mauguf dari ucapan Luqman Hakim).

Orang yang tidak banyak bicara, kecuali hal-hal baik, lebih banyak terhindar dari dosa
dan kejelekan, daripada orang yang banyak bicara tanpa membedakan hal yang pantas
dibicarakan dan yang tidak pantas dibicarakan. Bahkan dinyatakan oleh Rasulullah SAW, yang
dikutip oleh Imam Al-Ghazali:

.
Artinya :
Barang siapa yang menjaga perutnya, farjinya, dan lisanya, maka dia telah menjaga
seluruh kejelekan.
(H.R. Abu Manshur Ad-Dailamy dari Anas bin Malik dengan sanad dhaif)
Menurut Imam Al-Ghazali, ketiga hal tersebut merupakan paling banyak mencelakakan
makhluk.
Namun demikian, jika selamanya diam tentu saja bukanlah tingkah laku yang bijaksana,
karena akan ada anggapan yang tidak baik orang lain. Ada pepatah mengatakan, The silent is
gold (diam adalah emas), tetapi ada juga pepatah lain, Lebih baik banyak berbuat dan
berkata walaupun salah daripada tidak pernah melakukan sesuatu dan tidak pernah
berbicara.. yang paling baik tentu saja berbicara baik sesuai kondisi, pepatah Arab
mengatakan :


Artinya : Tiap-tiap tempat ada perkataannya dan tiap-tiap ucapan ada tempatnya.
Ucapan yang baik serta bersikap pemaaf lebih baik daripada sedekah yang disertai
ucapan yang menyakitkan.
Allah SWT berfirman :

Artinya : Perkataan yang baik dan pemberian ma`af lebih baik dari sedekah yang
diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan sipenerima). Allah Maha Kaya lagi Maha
Penyantun. (Q.S Al-Baqarah : 263)

5. Fiqh al-Hadis
Untuk kesempurnaan iman dan sebagai salah satu tanda keimanan kepada Allah swt. dan
hari akhir, seorang mukmin harus memuliakan tetangga, tamu, dan berkata yang baik atau
memilih diam jika tidak mampu mengucapkan yang baik.

A.

KESIMPULAN
Jika dianalogikan dengan sesuatu, maka iman islam dan ihsan ibarat sebatang
pohon, iman yang menjadi akar dari pohon tersebut, kemudian islam adalah
batang dari pohon tersebut, dan untuk mencapai kesempurnaan menjadi pohon
yang utuh, maka ihsan yang menjadi daun, bunga, dan buah. Yang artinya adalah
iman merupakan logika berfikir, islam adalah langkah yang harus ditempuh,
kemudian ihsan merupakan hasil dari logika berfikir dan juga langkah yang telah
diperbuat.
Realisasi iman dalam kehidupan sangatlah banyak, dan islam telah mengatur
segala sesuatu dengan teliti, agar tercipta kehidupan yang sejahtera.

B. SARAN
Manusia adalah mahluk yang diciptakan dengan sempurna, karena memiliki akal,
agar mampu menggunakan akal itu dengan baik maka manusia haruslah
menuntut ilmu, dan mengimplementasikannya dalam kehidupan, agar senantiasa
rahmat dan berkah dari Allah selalu terlimpah untuk manusia

C. TANGGAL DAN WAKTU PEMBUATAN MAKALAH

4 Juli 2015 / 10:06 s/d

4 Juli 2015 / 21:55.

Syafei, Rahmat. 2003. Al-Hadis (Aqidah, Akhlak, Sosial, dan hukum). Bandung : Cv. Pustaka
Setia.
Bukhari Umar, M.Ag. 2012. Hadits Tarbawi (pendidikan dalam perspektif hadis). Jakarta : Cv.
Imprint Bumi Aksara
https://sulthonkalimosodho.wordpress.com/2011/11/07/%E2%80%9Crealisasi-iman-dalamkehidupan-sosial%E2%80%9D/
http://serbamakalah.blogspot.com/2013/01/realisasi-iman-dalam-kehidupan-sosial.html