Anda di halaman 1dari 27

Sakit Gigi

Gigi yang berlubang bukanlah disebabkan ulat seperti anggapan orang pada zaman
dahulu. Teori ini bertahan hingga tahun 1700-an hingga Willoughby Miller seorang
dokter gigi Amerika yang bekerja di Universitas Berlin menemukan penyebab
pembusukan gigi. Ia menemukan bahwa lubang gigi disebabkan oleh pertemuan antara
bakteri dan gula. Bakteri akan mengubah gula dari sisa makanan menjadi asam yang
menyebabkan lingkungan gigi menjadi asam (lingkungan alami gigi seharusnya adalah
basa) dan asam inilah yang akhirnya membuat lubang kecil pada email gigi.
Saat lubang terjadi pada email gigi, kita belum merasakan sakit gigi. Tetapi, lubang kecil
pada email selanjutnya dapat menjadi celah sisa makanan dan adanya bakteri akan
membuat lubang semakin besar yang melubangi dentin. Pada saat ini kita akan
merasakan linu pada gigi saat makan. Bila dibiarkan, lubang akan sampai pada lubang
saraf sehingga kita akan mulai merasakan sakit gigi. Proses ini tidak akan berhenti
sampai akhirnya gigi menjadi habis dan hanya tersisa akar gigi.
Sakit gigi tidak dapat dipandang sebelah mata seperti anggapan beberapa orang, karena
bila didiamkan, dapat membuat gigi menjadi bengkak dan meradang. Selain itu gigi
berlubang dapat menjadi sarana saluran masuknya kuman penyakit menuju saluran darah
yang dapat menyebabkan penyakit ginjal, paru-paru, jantung maupun penyakit lainnya.
Agar tidak semakin bertambah parah, maka bila Anda memiliki gigi berlubang sebaiknya
Anda segera mengunjungi dokter gigi untuk mengobatinya. Walaupun banyak orang tidak
suka pergi ke dokter gigi dengan alasan tidak peduli dengan keadaan gigi, khawatir
biayanya mahal, takut atau malu diejek karena gigi yang rusak, namun pergi ke dokter
gigi adalah solusi terbaik untuk mengatasi sakit gigi. Gigi berlubang tidak dapat sembuh
dengan sendirinya. Walaupun, mungkin setelah menderita sakit gigi, rasa sakitnya dapat
hilang tetapi tidak memperbaiki keadaan gigi. Gigi akan tetap berlubang, bahkan
lubangnya akan terus semakin membesar.

Mengatasi Rasa Takut ke Dokter Gigi


Jika Anda merasa takut saat dokter gigi menangani gigi Anda, silahkan beritahukan ke dokter Anda. Ia tentu senang
membantu Anda mengatasinya. Anda bisa memberitahunya bahwa Anda akan memberi isyarat dengan tangan bahwa
Anda takut atau merasa sakit saat ia sedang menangani gigi Anda. Banyak pasien mendapati bahwa hal tersebut
membuat mereka lebih tenang.
Selain itu kebanyakan dokter gigi sering mengajak bicara pasiennya saat menangani gigi pasien. Hal ini bertujuan
menenangkan hati pasien tersebut.
Ingatlah bahwa gigi yang sehat menunjang kesehatan tubuh. Jika Anda segera memperbaiki gigi Anda yang berlubang,
hal ini akan menghindari problem dan perawatan yang mahal di kemudian hari.

Menambal Gigi dan Cabut Gigi

Langkah yang umumnya akan diambil dokter gigi adalah menambal gigi yang rusak, bila
lubangnya belum terlalu besar. Tetapi, bila kita merasakan sakit gigi, proses penambalan
tidak dapat langsung dilakukan karena dengan demikian gas dalam gigi tidak dapat
keluar. Dokter akan memberikan obat penghilang rasa sakit atau akan mematikan saraf
gigi agar kita tidak tersiksa dengan rasa sakitnya. Pada kunjungan selanjutnya barulah
gigi akan dibersihkan dan ditambal sementara, penambalan secara permanen dilakukan
pada kunjungan berikutnya lagi.
Bila lubang terlalu besar dan tidak memungkinkan untuk ditambal, berarti gigi harus
dicabut. Sama seperti proses penambalan gigi, maka gigi juga tidak dapat langsung
dicabut saat gigi masih terasa sakit. Hal ini disebabkan saat kita merasakan sakit gigi,
maka obat anestesi (obat kebal agar tidak terasa sakit saat gigi dicabut) tidak dapat
menembus akar gigi, sehingga saat dicabut akan menyebabkan sakit yang luar biasa.
Proses pencabutan gigi baru bisa dilakukan saat gigi sudah tidak terasa sakit dan untuk
menghilangkan rasa sakit dokter akan mematikan saraf gigi.

Mencegah Gigi Berlubang


Untuk mencegah terjadinya lubang pada gigi, Anda dapat melakukan langkah-langkah
berikut:

Memeriksa gigi secara rutin


Kunjungi dokter gigi setiap 6 bulan sekali walaupun Anda tidak merasakan sakit
gigi. Hal ini diperlukan agar dokter dapat mendeteksi lubang kecil yang terjadi
pada gigi dan dapat ditangani segera agar lubang tidak semakin besar. Dapat juga
dideteksi bagian gigi yang tidak rata atau berlekuk yang dapat menyebabkan gigi
sulit dibersihkan.

Menyikat gigi secara teratur dan pada waktu yang tepat


Pagi hari setelah sarapan dan malam sebelum tidur adalah waktu yang tepat untuk
menyikat gigi. Air liur tidak banyak keluar pada waktu kita tidur, sehingga gigi
akan rusak bila Anda membiarkan sisa makanan pada gigi tanpa menyikatnya. Air
liur berguna untuk memlinfungi gigi dari bakteri penyebab gigi berlubang.

Menyikat gigi dengan cara yang benar


Walau menyikat gigi telah dilakukan secara teratur namun bila dilakukan dengan
cara yang tidak benar, tentu hasilnya tidak akan maksimal. Cara yang benar
adalah dengan menyikat ke arah bawah untuk gigi depan (gigi seri) bagian atas,
menyikat gigi ke arah atas untuk gigi depan bagian bawah dan menyikat secara

mendatar untuk gigi geraham. Menyikat gigi geraham hendaknya dilakukan lebih
lama, karena pada gigi ini berpotensi menempelnya sisa-sisa makanan.

Kumur setelah makan


Menyikat gigi tidak mungkin dilakukan sehabis kita makan, maka cara terbaik
adalah berkumur-kumur agar sisa makanan tidak terus menempel dan mengurangi
keadaan asam dalam gigi.

Gunakan benang gigi untuk mengeluarkan sisa makanan


Sisa makanan yang tertinggal, hendaknya tidak dikeluarkan dengan menggunakan
tusuk gigi. Penggunaan tusuk gigi dapat menyebabkan celah antar gigi semakin
besar disamping dapat menyebabkan luka pada gusi.

Pilih pasta gigi yang mengandung fluorida


Menggunakan pasta gigi yang mengandung fluorida. Zat ini merupakan salah
satu bahan pembentuk email gigi. Adanya zat ini dapat mencegah pembusukan
pada gigi.

Makan makanan yang berserat


Mengkonsumsi sayuran atau buah terbukti dapat membuat gigi lebih kuat dan
mencegah terjadinya gigi berlubang.

Kurangi makanan yang mengandung gula dan tepung


Makanan jenis ini bila tertinggal di gigi dan adanya bakteri akan menyebabkan
asam yang membuat gigi berlubang.

PERMASALAHAN GIGI
(GIGI BERLUBANG)
Gigi berlubang disebut Karies gigi. Karies akan mengakbatkan kerusakan struktur gigi
sehingga terbentuk lubang.
A.Gejala
Gejala gigi berlubang umumnya, adalah
sakit gigi, gigi menjadi sensitive setelah makan atau minum manis, asam, panas, atau
dingin
Terlihat atau terasa adanya lubang pada gigi
Bau Mulut (Halitosis)
B.Tanda Awal Gigi Berlubang
Munculnya spot putih seperti kapur pada permukaan gigi. Ini menunjukkan area
demineralisasi akibat asam. Selanjutnya, warnanya akan berubah menjadi cokelat,
kemudian mulai membentuk lubang. Jika spot kecoklatan ini tamapk mengkilap, maka
prosese demineralisasi telah berhenti yaitu jika kebersihan mulut membaik. Spot ini
disebut STAIN (bukan sekolah tinggi agama islam negeri yang dekat arbes loh..hehehe)
dan dapat dibersihkan. Sebaliknya, spot kecokelatan yang buram menunjukkan prosese
demineralisasi yang sedang aktif. Makanya, diperlukan pemeriksaan rutin untuk
mendeteksi dini timbulnya lubang.
Apabila kerusakan telah mencapai dentin (dentin merupakan bentuk pokok dari gigi yang
diliputi oleh sementum/jaringan gigi yang melindungi dentin pada daerah akar gigi dan
email/bentuk luar yang melindungi dentin pada daerah mahkota gigi), biasanya mengeluh
sakit atau timbul ngilu setelah makan atau minum manis, asam, panas atau dingin.
C.Penyebab Gigi Berlubang
Di Indoesia, penyakit yang mendominasi menurut statistic adalah Gigi berlubang, setelah
demam flu. Gigi berlubang dapat terjadi pada siapapun, walaupun pada umumnya sering
muncul pada anak-anakatau remaja. Gigi berlubang inilah yang merupakan alasan utama
hilangnya gigi pada usia muda.
Penyebab gigi berlubang itu sendiri karena adanya bacteri Streptococcus mutans dan
Lactobacilli. Bakteri spesifik inilah yang mengubah glukosa dan karbohidrat pada
mkanan menjadi asam melalui proses fermentasi. Asam terus diproduksi oleh bakteri dan
akhirnya merusak struktur gigi sedikit demi sedikit. Kemudian plak dan bakteri mulai
bekerja 20 menit setelah makan.
Asam yang diproduksi dalam plak akan terus merusak lapisan email gigi. Kemudian
bakteri akan mengikuti jalan yang sudah dibuat oleh asam dan menginfeksi lapisan
berikutnya, yaitu dentin. Jika tidak dirawat, proses ini akan terus berjalan sehingga
lubang akan semakin dalam.
Gigi berlubang biasanya belum menimbulkan keluhan sakit kecuali telah mencapai
bagian dentin dan pulpa gigi. Apa Sebabnya? Karena pulpa penuh sel saraf dan pembuluh
darah akibat terinfeksi, maka akan timbul rasa sakit terus-menerus. Komplikasi kemudian
terjadi dengan matinya sel saraf sehingga rasa sakit juga berhenti.

Pada tahap ini, biasanya orang sering mengabaikan. Padahal ketika sel saraf mati, proses
kerusakan di dalam gigi terus berjalan sampai ketulang pendukung. Akibatnya, cairan
akan terkumpul dan terjadi abses (pembengkakan). Abses dimulai dari dalam sampai
tampak ke permukaan ginggiva (gusi). Selain itu, kerusakan tulang pendukung juga
menyebabkan gigi mulai goyang. Jika tidak segera dirawat, berakibat pada ekstraksi
(pencabutan) gigi.
Jadi dapat disimpulkan bahwa faktr yang mempengaruhi perkembangan karies gigi
adalah perbedaan pola makan, waktu makan yang lebih lama,Sisa makanan yang
tertinggal di mulut dalam waktu lama, perkembangan bakteri dalam mulut, dll.
D.Perawatan
Pada umumnya, ketika gigi berlubang dan terasa sakit, masyarakt memilih tindak
perawatannya berupa ektraksi (pencabutan) gigi, padahal ada cara lain untuk merawat
gigi berlubang.
Karies dini dapat dihentikan menggunakan laser, sedangkan karies gigi kecil perlu
dideteksi dengan alat dan rontgen gigi. Dan karies gigi besar yang terlihat mata, dapat
dilakukan perawatan dengan alat secara langsung.
Jenis perawatan dapat dilakukan secara bervarisai, tergantung tahap kerusakan yang
terjadi. Jika lubang gigi mencapai email dan dentin, maka dilakukan
penambalan.sedangkan struktur gigi yang rusak dubuang dengan pengeboran, dan setelah
lubangbersih kemudian dimasukkan bahan penambal.
Lubang yang dangkal tapi besar dapat dirawat dengan inlay/onlay (bahan tambal
komposit). Namun, bila kerusakan telah mencapai pulpa (struktur terdalam gigi yang
penuh dengan sel saraf yang sensitif terhadap rangsang, jarngan limfa, jaringan ikat,
pembuluh darah arteri dan vena) perlu diakukan perawatan saluran akar (endodontik).
Tahap perawatan saluran akar yaitu mengangkat sel saraf yang telah terinfeksi dan
membersihkan salurannya dan mengisinya dengan bahan pengisi saluran akar.
Pada intinya, jika struktur gigi sehat yang tersisa setelah pengeboran tidak cukup, bahan
tambal tidk dapat bertahan melekat pada gigi. Pencabutan gigi adalah tindakan terakhir
apabila krusakan yang terjadi terlalu besar dan struktur gigi yang tersisa tidak dapat
direstorasi lagi.

ANGAN remehkan kebersihan gigi. Jika tidak, gigi bisa berlubang. Kalau sudah
berlubang, bisa timbul berbagai penyakit. Salah satunya adalah kista. Kista ini bisa
membuat wajah tak simetris.
Ada 3 lapisan gigi, yaitu email, dentin, dan pulpa. Email adalah lapisan terluar gigi yang
menutupi seluruh mahkota gigi dan merupakan bagian tubuuh yang paling keras. Email
dibentuk oleh sel-sel yang disebut ameloblast. Meskipun sangat keras, email rentan
terhadap serangan asam, baik langsung dari makanan atau dari hasil metabolisme bakteri
yang memfermentasi karbohidrat yang kita makan dan menghasilkan asam.
Dentin adalah struktur penyusun gigi terbesar. Jaringan ini jauh lebih lunak dibandingkan
dengan email karena komposisi material organiknya lebih banyak daripada email, yaitu
mencapai 20 persen, di mana 85 persen dari material organik tersebut adalah kolagen.
Sisanya adalah air sebanyak 10 persen dan material organik 70 persen. Di daerah
permukaan mahkota gigi, dentin terletak di bawah email. Tapi di bagian akar dentin
ditutupi oleh sementum. Di bagian bawahnya dentin menjadi atap bagi rongga pulpa.
Pulpa adalah rongga yang berisi pembuluh darah dan syaraf. Secara anatomi, jaringan
pulpa sangat berhubungan dengan dentin karena dentin menjadi atap bagi rongga pulpa.
Kalau syaraf udah kebuka, banyak kuman yang masuk. Kuman yang masuk ke dalam
gigi itulah yang akan tumbuh menjadi daging. Dan itulah polip, terang drg Elsa Adhistry
dari Rumah Sakit Royal Taruma, Daan Mogot, Jakarta Barat.
Kista
Gigi yang berlubang tidak disebabkan oleh ulat, seperti yang sering dikira orang. Lubang
gigi terjadi akibat pertemuan antara bakteri dan gula. Gula dari sisa makanan menjadi
lubang kecil pada email gigi, kita belum merasakan sakit gigi. Lubang kecil itu
selanjutnya menjadi celah bagi sisa makanan dan bakteri, sehingga lubang semakin besar
dan melubangi dentin. Rasa linu pada saat makan akan terasa sekali, ungkapnya. Hal
ini akan terus terjadi sampai akhirnya akar gigi habis dan hanya tersisa akar gigi.
Sakit gigi tidak boleh dipandang sebelah mata. Jika didiamkan, gigi bisa bengkak dan
meradang. Gigi yang berlubang mempermudah masuknya kuman penyakit menuju
saluran darah, yang pada gilirannya dapat menyebabkan timbulnya berbagai penyakit gigi
lainnya. Salah satunya adalah kista.
Kista itu sendiri, menurut drg Elsa, adalah rongga patologis yang biasanya berdinding
jaringan ikat dan berisi cairan kental atau semi likuid. Kista dapat berada dalam jaringan
lunak ataupun keras seperti tulang. Rongga kista di dalam rongga mulut selalu dibatasi
oleh epitel.
Kista periapikal adalah kista yang terbentuk pada ujung apeks atau akar gigi yang
jaringan pulpanya sudah nonvital atau mati. Kista ini merupakan lanjutan dari pulpitis
atau peradangan pulpa. Dapat terjadi di ujung mana pun dan dapat terjadi pada semua
umur. Ukurannya pun berkisar antara 0.5-2cm. Tapi bisa juga lebih. Kalau kistanya
membesar, bisa menyebabkan syaraf oleh kista tersebut, sambungnya.

Kista ini tidak menimbulkan keluhan atau rasa sakit, kecuali yang terinfeksi. Pada
pemeriksaan radiografis, kista periapikal memperlihatkan gambaran seperti dental.
Granuloma, yaitu lesi radiolusen, terlihat jelas. Yang membedakan kista periapikal
dengan dental granuloma adalah garis putih, imbuhnya.
Perbedaan mendasar adalah adanya epitel yang membatasi rongga kista. Gigi yang
bersangkutan dengan kista ini biasanya tanpa gejala atau keluhan. Namun kadang batas
ini tidak jelas sehingga diagnosa kista sulit ditegakkan. Kista terjadi tidak hanya dari
makanan. Bisa juga terjadi dari trauma akibat terjatuh, katanya.
Biasanya pasien tidak mengeluhkan adanya nyeri dan tes perkusinya negatif. Karena
berhubungan dengan pulpa yang telah mekrosis, stimulasi thermal akan menunjukkan
nilai yang negatif. Gambaran kista periapikal ditandai dengan adanya rongga yang
berlapiskan epitel jenis nonkeratinizing stratified squamous dengan ketebalan yang
bervariasi. Dinding epithelium tersebut dapat sangat proliferatif dan memperlihatkan
susunan plexiform.
Secara khas dapat dilihat proses radang dengan ditemukannya banyak sel radang, yaitu
sel plasma dan sel limfosit pada dinding kista tersebut. Biasanya baru dapat terlihat
ketika sudah dirontgen dan kelihatan kerusakan pada tulang, tambahnya.
Pengobatan
Kebanyakan kista periapikal ditemukan secara tidak sengaja selama pemeriksaan rutin.
Karena merupakan kelanjutan dari nekrosis pulpa, pada pemeriksaan fisik akan
didapatkan tes thermal yang negatif dan tes EPT yang negatif. Periapikal terlihat sebagai
gambaran radiolusen yang menempel pada apex dari akar gigi.
Pengobatan dilakukan dengan pembersihan di mana semua jaringan gusi yang mati dan
karang gigi dibuang. Karena pembersihan ini menimbulkan nyeri, digunakan obat bius
lokal. Beberapa hari pertama setelah pembersihan, pasien diharuskan berkumur-kumur
dengan larutan hidrogen peroksida (setengah bagian hydrogen peroksida 3 persem
dicampur dengan setengah bagian air) beberapa kali dalam sehari.
Selama dua minggu, pasien dapat mengunjungi dokter gigi setiap 1-2 hari. Jika bentuk
dan posisi gusi tidak kembali normal, dokter gigi akan melakukan pembedahan untuk
kembali membentuk gusi sebagai langkah pencegahan terhadap kekambuhan dan
periodontitis.

APAKAH Anda selalu menghindari lemon karena takut kandungan asamnya merusak
gigi? Atau, Anda sangat membatasi konsumsi gula karena takut gigi berlubang? Hal ini
tidak sepenuhnya benar, namun umumnya sangat diyakini di tengah-tengah masyarakat.
Untuk membantu Anda mendapatkan pemahaman yang tepat, berikut beberapa mitos dan
faktar seputar gigi berlubang menurut Kimberly A. Harms, DDS, seorang consumer
advisor American Dental Association.
1. Gula merupakan penyebab utama gigi berlubang
Mitos dan fakta. Gigi berlubang disebabkan oleh asam yang diproduksi oleh bakteri di
dalam mulut. Bakteri akan mengonsumsi karbohidrat, yang salah satunya adalah gula.
Makanan lain seperti beras, kentang, roti, buah-buahan dan sayuran juga termasuk
karbohidrat. Saat Anda mengonsumsi makanan ini, bakteri akan aktif dan memproduksi
asam yang bersifat melubangi gigi.
"Begitu terbentuk lubang kecil, maka bakteri akan mempunyai tempat aman yang tidak
bisa dijangkau oleh sikat gigi," terang Harm. Bakteri ini akan terus mengolah
karbohidrat, menghasilkan asam, sehingga lubang di gigi semakin melebar.
Apakah konsumsi karbohidrat harus dikurangi? Menurut Harm, bukan jumlahnya tetapi
lama paparan yang mempengaruhi kerusakan gigi. Jika Anda makan banyak karbohidrat
saat makan siang, itu hanyalah satu paparan besar. Tapi, jika Anda terus-terusan minum
minuman bergula sepanjang hari, maka dikatakan paparan berkelanjutan."Dan ini jauh
lebih membahayakan kesehatan gigi."
2. Terpapar makanan asam seperti lemon bisa merusak gigi
Fakta. Makanan asam seperti lemon, jeruk sitrus, atau minuman ringan tidak
menyebabkan gigi berlubang. Tetapi makanan ini bisa membahayakan email gigi."Asam
bisa mengikis lapisan email pelindung gigi dan membuat gigi jadi rapuh," terang Harm.
Jika Anda kehilangan lapisan pelindung, maka gigi cenderung lebih mudah rusak.
3. Anak-anak berisiko lebih besar menderita gigi berlubang dibandingkan orang
dewasa
Mitos. Kerusakan gigi pada anak selama 20 tahun terakhir, menurut Harm, telah bisa
dikurangi hingga setengahnya dengan bantuan air yang mengandung fluor beserta
perawatan lainnya.
Di sisi lain, jumlah gigi berlubang justru meningkat pada orang dewasa. Peningkatan ini,
menurut Harm, dipicu oleh berbagai hal termasuk penggunaan obat yang bersifat
mengeringkan mulut dengan cara mengurangi air liur. Air liur sangat penting dalam
melawan kerusakan gigi dengan cara menetralkan asam, mengeluarkan bakteri,
mencegah makanan lengket ke gigi, serta mengandung komponen yang bersifat
desinfektan.

4. Aspirin yang ditempatkan di samping gigi akan membantu meredakan sakit gigi
Mitos. Anda bisa meredakan sakit gigi dengan cara menelan aspirin. Aspirin, menurut
Harm, bersifat asam dan jika diletakkan di samping gigi justru akan membakar jaringan
gusi dan menyebabkan bengkak."Jadi, jangan melakukan hal ini, pastikan menelan
aspirin tersebut."
5. Anda akan tahu saat gigi mulai berlubang
Mitos. Menurut Harm, pernyataan ini hanyalah mitos semata. Kerusakan gigi ringan,
terang dia, tidak menimbulkan gejala. Rasa sakit yang dirasakan muncul setelah gigi
mengalami kerusakan parah dan menyebabkan kerusakan saraf. Dan sekali gigi
mengalami kerusakan, lanjut harm, gigi tidak akan bisa memperbaiki dirinya sendiri. Gigi
berlubang akan terus melebar. Karena itu, pastikan memeriksakan gigi secara teratur.
6. Begitu gigi diobati, maka kerusakan pun akan turut berhenti
Fakta. Menurut Harm, Anda mungkin kembali mengalami kerusakan gigi tetapi di area
gigi yang lain. Bagian rusak yang telah diperbaiki dan dirawat dengan cara menggosok
dan flossing biasanya tidak akan mengalami kerusakan kembali.
Akan tetapi, bahan yang digunakan untuk menutup lubang (filling) bisa saja bertambah
tua dan batas perlekatannya dengan gigi menjadi retak. Dan karena area tersebut tidak
bisa dicapai oleh sikat gigi, maka bakteri bisa masuk dan kembali memicu kerusakan
baru.
7. Ruang di antara gigi mempengaruhi kemungkinan gigi berlubang
Fakta. Jika ada jarak kecil antara gigi yang satu dengan yang lain dan tidak bisa
dibersihkan, maka Anda lebih berisiko mengalami gigi berlubang."Jarak yang lebih besar
lebih mudah untuk dibersihkan, dan sepanjang ruang renggang ini bebas bakteri,
kemungkinan gigi berlubang pada jarak yang lebar lebih kecil." (OL-08)

Liputan6.com, Jakarta: Apakah ada gigi Anda yang berlubang? Atau malah sudah
pernah merasakan sakit gigi, ngilu, nyut-nyutan dan mahkota gigi sudah keropos dan
tidak utuh lagi. Lantas tindakan apa yang dilakukan, minum obat, atau tempelkan koyo di
pipi, berobat ke dokter gigi atau malah dibiarkan saja hingga rasa sakit hilang dengan
sendirinya?
Kalau gigi sudah berlubang besar, apalagi kalau sudah pernah sakit dan mengganggu,
sebagian besar orang mungkin akan berpikir masalah akan selesai. Terutama, datang ke
dokter gigi dan meminta agar gigi tersebut dicabut saja. Atau, bila sudah tidak sakit lagi
dibiarkan saja. Terlebih, tidak ada keluhan apa-apa, berarti gigi tersebut sudah sembuh.
Namun sebetulnya tidak demikian.
Gigi yang berlubang akan menimbulkan sakit berdenyut kalau sudah mencapai ruang
pulpa yang isinya adalah jaringan syaraf dan pembuluh darah. Bila tidak dirawat, infeksi
bisa menyebar ke jaringan di bawah gigi dan menimbulkan abses. Abses berisi nanah,
dan menyebabkan pembengkakan di gusi. Pada kasus-kasus tertentu abses ini bisa besar
sekali hingga pipi menjadi bengkak. Gigi yang sedang sakit dan mengalami abses tidak
boleh langsung dicabut karena infeksi yang terjadi sedang dalam fase akut. Rasa sakit dan
abses harus diredakan dulu, dengan minum obat antibiotik sesuai resep dokter.
Minum obat penghilang rasa sakit yang dapat dibeli dengan mudah di toko obat atau
apotek mungkin ampuh untuk mengusir rasa sakit yang menyiksa. Namun tidak
menghilangkan infeksi yang terjadi pada gigi penyebab. Suatu saat rasa sakit mungkin
akan timbul lagi, selama gigi penyebab tidak dirawat dengan tuntas.
Gigi berlubang yang sudah pernah sakit berdenyut spontan lalu dibiarkan tidak dirawat
kemudian rasa sakit itu hilang, besar kemungkinan syaraf gigi sudah mati. Dengan kata
lain, infeksi gigi sudah mencapai daerah di ujung akar dan menyebabkan abses.
Pencabutan adalah pilihan perawatan yang terakhir. Apalagi, bila tindakan konservatif
dan preservatif sudah tidak dapat lagi dilakukan.
Cabut Gigi Selesaikan Masalah?
Adakah kerugian bila satu gigi yang hilang karena dicabut? Toh, masih bisa makan.
Senyum juga masih oke, yang hilang kan gigi belakang. Atau akar gigi yang masih tersisa
dibiarkan saja, selama tidak sakit dan tidak ada keluhan berarti tak masalah. Boleh jadi,
demikian pikiran sebagian besar orang. Bagaimana yang sesungguhnya?
Ambil contoh gigi yang dicabut adalah salah satu gigi geraham bawah. Seiring waktu,
gigi antagonisnya (gigi geraham atas) dapat turun dan memanjang karena gigi lawannya
tidak ada. Gaya kunyah kita menyebabkan gigi cenderung semakin maju seiring dengan
bertambahnya usia. Itulah sebabnya posisi gigi tidak selalu tetap.
Mungkin pula posisi gigi saat seseorang mencapai usia tua mengalami perubahan bila
dibandingkan sewaktu muda. Gigi di sebelah gigi yang dicabut juga dapat berubah posisi,
yaitu miring ke arah gigi yang hilang. Awalnya, mungkin dampaknya tidak akan terlalu

terasa. Namun kondisi ini akan mengganggu fungsi kunyah dan pada beberapa kasus
yang berat dapat menyebabkan perubahan posisi gigi-gigi lain hingga ketidaknyamanan
pada sendi rahang.
Karena ada gigi yang hilang, biasanya mengunyah pada sisi tersebut jadi tak nyaman.
Akibatnya mengunyah hanya pada satu sisi saja. Padahal hal tersebut merugikan karena
sisi yang tidak dipakai mengunyah justru lebih kotor daripada sisi yang digunakan untuk
mengunyah. Ini lantaran aliran air liur di sisi tersebut lebih sedikit.
Pengunyahan akan menstimulasi keluarnya air liur. Keberadaan air liur sangat penting,
salah satu fungsinya adalah untuk membilas kotoran dan sisa makanan. Karakteristik
orang yang mengunyah satu sisi adalah karang gigi yang terbentuk lebih banyak pada sisi
yang tidak digunakan untuk mengunyah.
Perawatan Saluran Akar
Lubang gigi yang sudah mencapai pulpa tidak lagi dapat sekadar ditutup dengan bahan
tambal. Sebelumnya, harus dilakukan perawatan saluran akar (endodontic treatment
ataupun root canal treatment). Saluran akar harus dibersihkan agar steril dan bebas dari
infeksi kuman. Lalu, saluran akar tersebut diisi dengan bahan pengisi saluran akar agar
mencegah kontaminasi bakteri.
Setelah melewati beberapa hari dan saat pasien datang untuk kontrol tidak ada keluhan,
lubang yang menganga pada gigi tersebut ditutup dengan restorasi. Ada beberapa jenis
restorasi yang dapat dipilih, bergantung pada kondisi gigi. Mahkota yang dinding-dinding
tegaknya masih utuh dapat dibuatkan tambalan dengan logam tuang yang dikerjakan di
laboratorium, atau mahkota tiruan bila sudah banyak jaringan mahkota gigi yang hilang.
Memang perawatan ini memerlukan kesabaran baik dari dokter gigi maupun pasien.
Sebab, biasanya penyelesaiannya membutuhkan lebih dari satu kali kunjungan. Biayanya
pun tidak kecil. Namun setidaknya dapat memperpanjang usia gigi tersebut berada dalam
mulut.
Kesimpulannya, keputusan untuk menjawab pertanyaan yang menjadi judul dari artikel
ini ada di tangan Anda.

Apakah gigi berlubang dapat menyebabkan kematian? Jawabannya


adalah ya, apabila gigi tersebut tidak dirawat dan kondisi tubuh yang lemah. Gigi yang
berlubang, dapat menjadi jalan yang cukup besar bagi bakteri untuk dapat masuk ke
dalam tubuh. Infeksi dari bakteri ini sebenarnya dapat dilawan karena tubuh kita
memiliki
sel-sel
yang
berperan
sebagai
daya
tahan
tubuh.
Namun, apabila daya tahan tubuh kita sedang lemah, maka infeksi bakteri akan semakin
hebat. Pada tahap awal, infeksi masih terlokalisir di daerah ujung akar dari gigi yang
berlubang. Biasanya akan timbul rasa tidak nyaman atau sakit saat gigi
tersebut dipakai mengunyah atau ditekan. Pada tahap ini bisa ditanggulangi dengan
perawatan saluran akar gigi dan penambalan sampai penggunaan antibiotik ataupun
pencabutan
gigi
yang
terinfeksi.
Bila tidak dirawat, infeksi akan menyebar ke daerah sekitar mulut seperti pipi dan leher.
Kondisi ini dapat dikatakan cukup serius, dan mengharuskan penderita untuk dilakukan
pembedahan pada daerah infeksi untuk mengeluarkan nanahnya jika kondisinya
memungkinkan. Penderita juga diterapi menggunakan obat-obatan antibiotik. Bila
kondisi cukup parah, penderita juga diharuskan untuk dirawat inap di rumah sakit. Dan
ada resiko terjadinya kematian jika kondisi pasien sangat lemah, disertai komplikasi
penyakit lain ataupun perawatan yang kurang intensif. Gambar di atas adalah gambar dari
infeksi
dari
gigi
yang
sudah
menyebar
ke
daerah
pipi.
Pada beberapa kasus, infeksi yang terjadi cukup hebat dan berlangsung cepat. Infeksi
dapat menyebar ke daerah lain yang cukup vital yaitu ke daerah dada dan kepala. Kondisi
ini sudah sangat serius dan memerlukan perawatan rumah sakit yang sangat intensif. Pada
kondisi ini, khususnya infeksi ke daerah kepala, resiko kematiannya lebih besar lagi.
Dulu cukup banyak kasus kematian akibat infeksi dari gigi yang tidak ditangani dengan
baik termasuk di Indonesia. Sekarang, biasanya infeksi ini sudah ditangani sejak tahap
awal sehingga resiko penyebaran infeksi dan kematian dapat dihindari. Berikut ini adalah
contoh kasus kematian seorang anak akibat infeksi dari gigi yang menyebar ke otak:
Dentist:
Death
From
Tooth
Infection
Preventable.
Sebenarnya untuk menghindari kematian akibat infeksi dari gigi sangatlah mudah. Cukup

dengan menyikat gigi dengan baik, benar dan waktunya tepat serta rutin untuk memeriksa
kondisi gigi dan mulut ke dokter gigi setiap 6 bulan sekali.

SEBUAH gigi memiliki nilai yang amat berharga. Bila satu gigi berlubang, malapetaka
seolah menimpa penderitanya. Duh sakitnya tak tertahankan.
Angka kerusakan gigi di Indonesia berdasarkan survei Departemen Kesehatan RI pada
2001 menemukan sekitar 70 persen penduduk Indonesia berusia 10 tahun ke atas pernah
mengalami kerusakan gigi. Pada usia 12 tahun, jumlah kerusakan gigi mencapai 43,9
persen, usia 15 tahun mencapai 37,4 persen, usia 18 tahun sebanyak 51,1 persen, usia 3544 tahun mencapai 80,1 persen, dan usia 65 tahun ke atas mencapai 96,7 persen.
Di Indonesia, penderita gigi berlubang ternyata cukup banyak. Hasil Survei Kesehatan
Nasional 2002 menunjukkan, prevalensi gigi berlubang di Indonesia sebesar 60 persen,
yang berarti dari setiap 10 orang Indonesia, enam orang di antaranya menderita gigi
berlubang.
Wakil Dekan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Trisakti Dr Tri Erri Astoeti drg Mkes
mengungkapkan tiga komponen utama gigi dalam mulut. Komponen tersebut yaitu gigi,
mikroorganisme, dan makanan, serta faktor lainnya yang berpengaruh yaitu waktu.
"Semua faktor tersebut yang ada di dalam mulut saling berinteraksi," ujarnya. Dia
mencontohkan,pada saat seseorang sedang makan, maka sukrosa hasil dari fermentasi
karbohidrat akan menghasilkan mikroorganisme yang berinteraksi dengan gigi. Karena
itu, terjadi demineralisasi pada gigi. "Jika terus terjadi, maka bisa mengakibatkan gigi
berlubang," kata drg Erri.
Adapun kuman yang kerap menjadi penyebab terjadinya lubang gigi adalah streptococcus
mutans. Ini adalah kuman berbentuk bulat yang mudah tumbuh di dalam mulut.
Setelah beberapa waktu, kuman ini akan menghasilkan cairan yang lengket dan menjadi
media yang baik bagi tumbuh kembangnya kuman lain yang menyebabkan gigi
berlubang. Selain strepto coccus mutans, ada pula staphylococcus. Yang disebut terakhir
adalah kuman berbentuk batang yang menyertai kuman streptococcus mutans. Kumankuman ini biasanya tumbuh pada sisa-sisa makanan yang membusuk.
"Lambat laun, kuman akan bertambah banyak dan menghasilkan asam yang dapat
merusak email gigi," sebut drg Erri.
Dental Coordinator/Hygienist, Dental Services, Alfred I duPont Hospital for Children,
Wilmington Lisa A Goss RDH BS, mengatakan bahwagigi berlubang dapat terjadi ketika
gigi tanggal atau patah. Gigi berlubang dapat bertambah besar dan bertambah dalam. Gigi
berlubang juga sering kali disebut caries. Jika gigi telah berlubang, penting untuk segera
diperbaiki.
"Penyebabnya gigi berlubang sering kali dipicu oleh plak," ucapnya. Plak merupakan
lapisan tipis yang lengket yang terbentuk dari bekas-bekas makanan yang tidak terangkat
ketika menyikat gigi. "Bakteri dalam mulut akan mengeluarkan asam sehingga ketika
plak terbentuk di mulut, maka asam tersebut akan menghabiskan lapisan luar dari gigi

yang disebut enamel," papar Lisa.


Jika tidak segera diperiksakan ke dokter gigi, maka asam dalam mulut akan terus
merusak enamel sehingga bagian dalam gigi akan mulai berlubang. Jika gigi sampai
terasa sakit, hal ini mungkin karena lubang gigi telah sampai lapisan terdalam gigi
sehingga mencapai saraf gigi.

Cegah Bahaya Gigi Berlubang


Gigi berlubang merupakan pangkal penyakit. Di lubang itu, jutaan bakteri berkembang
biak.
Rabu, 5 Agustus 2009, 15:29 WIB
Pipiet Tri Noorastuti, Mutia Nugraheni
BERITA TERKAIT
Sudahkah Anda Menggosok Gigi
Dengan Benar?
Jangan Anggap Enteng Masalah
Gigi dan Mulut
Jangan Abaikan Kesehatan Gigi
dan Gusi
Jangan Abaikan Kesehatan Gigi
dan Gusi
Jangan Sembarang Cabut Gigi
Berlubang
Gigi Berlubang (doc Corbis)

web tools

VIVAnews - Salah satu masalah gigi yang paling sering terjadi adalah gigi berlubang.
Menurut penelitian tim Riset Kesehatan Dasar Departemen Kesehatan pada 2007,
sebanyak 71 persen masyarakat Indonesia mengalami masalah karies atau gigi berlubang.
Hal itu cukup mengkhawatirkan, karena gigi berlubang bisa menjadi pangkal penyakit.
"Lubang pada gigi merupakan tempat jutaan bakteri. Jika bakteri masuk ke dalam
pembuluh darah bisa menyebar ke organ tubuh lainnya dan menimbulkan infeksi, seperti
masalah sistem pernafasan, otak dan jantung," kata dokter gigi Tri Erri Astoeti, M. Kes.
dalam acara peluncuran Pepsodent Pencegah Gigi Berlubang di Laboratorium
Kedokteran Gigi, TNI AL, Jakarta, Rabu 5 Agustus.
Namun, jangan khawatir. Masalah gigi berlubang dapat dicegah dengan menerapkan pola
hidup sehat. Caranya, cukup dengan melakukan kebiasaan menyikat gigi setelah makan
serta membatasi makanan manis dan lengket.
"Setiap kali makan sisa makanan dan bakteri membentuk asam yang dapat melarutkan
mineral pada email gigi dan membentuk lubang kecil yang tidak bisa dilihat dengan mata
telanjang. Lubang-lubang inilah yang nantinya bisa menjadi lubang besar di gigi," kata
drg Tri.
Untuk itu, biasakan membawa sikat gigi kemanapun pergi. Jadi, setelah makan siang atau
makan-makanan manis dan lengket Anda bisa segera menyikat gigi untuk menghilangkan
bakteri penyebab gigi berlubang.
Konsumsi makanan yang banyak mengandung kalsium dan mineral seperti susu juga bisa

mencegah gigi berlubang. "Saat gigi sedang bekerja menolah makanan mineral dan
kalsium pada gigi ikut terkikis. Untuk menutup kembali bagian yang terkikis itu, maka
kita harus mengonsumsi makanan yang mengandung klasium dan mineral tinggi,"
ujarnya.
Mulailah membiasakan diri menyikat gigi sesudah makan. Jika gigi terlanjur berlubang,
segera periksakan ke dokter. Jangan menunggu hingga terasa nyeri. Lakukan juga
pemeriksaan gigi secara rutin minimal setiap enam bulan sekali.
Jangan Sembarang Cabut Gigi Berlubang
Saking tidak kuatnya menahan nyeri, tak sedikit pasien yang ingin giginya segera
dicabut.
Kamis, 14 Mei 2009, 07:02 WIB
Petti Lubis
BERITA TERKAIT
Cegah Alergi dengan Probiotik
Minuman Pembangkit Mood dan
Energi
Relaksasi Penyuntik Energi
Ingin Tulang Kuat? Jangan
Cuma Minum Susu
'Bahan Bakar' Bergizi untuk
Otak
web tools
(doc Corbis)

VIVAnews - Sekecil apapun lubang pada gigi, sebaiknya memang dirawat secara tuntas.
Pasalnya, semakin cepat ditangani, semakin minim kerugian yang ditanggung.
Karenanya, jangan tunggu sakit, baru ke dokter gigi.
Ketika dideteksi lubang gigi dangkal, masih memungkinkan dilakukan penambalan
sebagai langkah perawatan. Namun, jika Anda memiliki lubang gigi yang sudah
menembus saraf, dengan abses (nanah) dalam tulang rahang, biasanya dokter akan
menganjurkan untuk melakukan perawatan saluran akar.
Prinsipnya, perawatannya adalah menghilangkan sumber infeksi, membentuk dan
membersihkan saluran akar, kemudian diisi dengan bahan khusus, supaya tidak ada ruang
kosong dan mencegah kuman masuk ke dalam tulang rahang.
Namun, mungkin karena saking tidak kuatnya menahan nyeri gigi, tidak sedikit pasien
yang ingin giginya secepatnya dicabut. Padahal, kendati lubang pada gigi sudah
mencapai akar, jika masih ada jaringan sehat, pasien tidak perlu menjalani operasi
pencabutan gigi. Jika seluruh jaringan gigi yang rusak dan membusuk diangkat tuntas,
rasa sakit yang sebelumnya dialami, akan hilang seketika,

Jadi, jika gigi masih bisa dipertahankan, sebaiknya jangan sembarang dicabut. Apalagi,
bila gigi yang sudah tanggal itu tidak segera diganti. Karena, ruang kosong pada gusi
lama kelamaan akan mengganggu keseimbangan pengunyahan. Misalnya, Anda terpaksa
mengunyah pada satu sisi, yang akan berdampak pada kerusakan sendi rahang.
Kelainan ini bisa ditandai ketika membuka dan menutup mulut terdengar suara klak,
klak pada sendi rahang. Bila dibiarkan bisa-bisa rahang tidak bisa menutup, setelah
membuka lebar, misalnya ketika menguap. Anda tidak ingin hal itu terjadi, bukan?
Selepas perawatan saluran akar selesai, masih ada satu tahap lagi yang diperlukan, yaitu
pembuatan restorasi (tambalan atau mahkota tiruan). Restorasi ini penting untuk
mengembalikan bentuk, fungsi dan melindungi gigi yang sudah dirawat agar dapat
bertahan seterusnya dalam mulut.
Nah, jika semua masalah gigi Anda sudah ditangani tuntas, langkah selanjutnya adalah
merawat gigi secara tepat, dengan cara menggosok gigi minimal 2 kali sehari. Setelah
sarapan dan sebelum tidur.
Menggosok gigi sebelum tidur penting sekali. Sebab, selama tidur tidak ada aktivitas
sehingga proses pembusukan akan lebih cepat terjadi. Namun, ada pendapat lain yang
mengatakan, jangan langsung menggosok gigi sehabis makan. Mengapa?
Setelah makan, hasil fermentasi sisa makanan berupa senyawa bersifat asam dan
membuat lingkungan sekitar gigi bersuasana asam. Dalam beberapa menit derajat
keasaman tadi akan meningkat.
Bila menyikat gigi pada saat derajat keasaman dalam mulut masih pada tingkat kritis,
ternyata dapat memicu dekalsifikasi (hilangnya garam kalsium) pada email gigi, yang
diduga bisa mempercepat kerusakan gigi. Jadi, sebaiknya tunda menyikat gigi segera
setelah makan, setidaknya sekitar 20-30 menit sesudah makan.

Jangan remehkan gigi


berlubang, karena gigi berlubang tidak hanya berhenti di abses gigi namun juga harus
waspada terhadap ancaman fokal infeksi seluruh tubuh, Hal ini diangkat dalam diskusi
bertema Meningkatnya konsumsi gula di Indonesia VS Komplikasi akut pada gigi.
Fokal infeksi akibat racun dan sisa kotoran maupun mikroba memicu terjadinya infeksi
pada gigi dan mulut kemudian menyebar ke anggota tubuh lain, kata Dr Tengku Nahdar
di Jakarta selatan hari jumat.
Selama ini mungkin masyarakat belum mendapatkan informasi mengenai bahaya
penyakit gigi, hal ini perlu segera disosialisasikan ke warga, kebanyakan warga
masyarakat masih menganggap penyakit gigi maupun mulut adalah hal biasa, namun
setelah parah baru mereka berkonsultasi ke dokter.
Dari data survei kesehatan rumah tangga (SKRT) 2004 yang dilakukan oleh departemen
kesehatan menyebutkan prevalensi karies (berlubang) gigi di Indonesia adalah 90,05
persen. Fakta lainnya adalah orang Indonesia yang menderita penyakit gigi dan mulut
tersebut bersifat agresif kumulatif, artinya daerah yang rusak tersebut menjadi tidak dapat
disembuhkan.
Penyakit gigi merupakan jenis penyakit di urutan pertama yang dikeluhkan masyarakat.
Berdasar hasil survei dinas kesehatan tahun 2001, penyakit gigi dikeluhkan 60 persen
penduduk Indonesia. Selain itu tanpa disadari keluhan penyakit gigi juga berdampak
merosotnya produktivitas penderita, kebanyakan berhenti beraktivitas antara 2,5 hari
sampai 5 hari.
Jadi sekarang anda sedang mengalami masalah dengan gigi anda? segera periksa ke
dokter, jangan khawatir dokter gigi jaman sekarang sudah dilengkapi alat yang canggih
dan nyaman, rasa sakit hampir tidak ada. Jadi jangan takut pergi ke dokter gigi!

Kunci Pencegah Gigi Berlubang


By Republika Newsroom
Jumat, 03 Juli 2009 pukul 18:11:00
Font Size A A A
EMAIL
PRINT
Facebook

CORBIS
BERSIH: Jaga kebersihan gigi dan mulut dengan sikat gigi minimal dua kali sehari yaitu
setelah sarapan pagi dan sebelum tidur malam hari.
Gigi berlubang bisa diderita siapa saja, baik tua ataupun muda. Apalagi jika Anda gemar
makanan manis seperti permen atau coklat yang rawan menjadi perusak gigi.
Sebenarnya gigi berlubang bisa dicegah, meskipun Anda menyukai makanan manis.
Kuncinya adalah disiplin merawat gigi, dirumah dan ke dokter gigi. Sehingga sesering
apapun Anda mengkonsumsi makanan manis, gigi dapat terhindar dari masalah
berlubang.
Untuk menjaga agar gigi tetap kuat ada beberapa hal yang dapat dilakukan, yakni:

Menyikat gigi minimal dua kali sehari dengan pasta gigi yang mengandung
fluoride terbukti mengurangi resiko terjadi gigi berlubang sebanyak 30%.
Konsumi makanan yang bergizi dan banyak mengandung serat seperti sayuran
dan buah-buahan karena dapat merangsang produksi saliva yang sangat penting
untuk menjaga kestabilan bakteri di rongga mulut.
Konsumsi juga makanan yang mengandung kalsium seperti susu, keju,yoghurt,
dan makanan yang mengandung fluoride seperti ikan asin, rebusan tulang ayam,
teh, dan lain lain.
Kurangi frekuensi mengemil yang manis, usahakan berkumur setelah
mengkonsumsi makanan manis.

Periksakan gigi ke dokter gigi setiap 6 bulan sekali.

Gigi Berlubang, Jangan Naik Pesawat Terbang

Shutterstock

Artikel Terkait:
5 Kebiasaan yang Mengundang Plak Gigi
Karies, Penyakit Gigi Tersering
Gula Vs Gigi Berlubang
Lebih Baik Sakit Hati daripada Sakit Gigi
Senin, 14 September 2009 | 12:56 WIB
KOMPAS.com - Bila Lebaran nanti Anda berencana mudik dengan pesawat terbang,
sebaiknya periksa dulu apakah ada lubang di antara deretan gigi. Pasalnya, sakit yang
datang akibat karies bisa berlipat ganda saat kita naik pesawat terbang.
Menurut penjelasan drg.Ratu Mirah Afifah GCCLindent, MDSc, staf pengajar dari
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjajaran, ujung-ujung saraf di dentin yang
terdapat di bawah lapisan email gigi yang terbuka akan lebih sensitif terhadap perubahan
suhu atau ketinggian.
"Dentin memiliki saluran-saluran kecil yang berhubungan dengan saraf. Bila ada
rangsangan, baik suhu atau ketinggian, saraf akan terangsang dan menimbulkan sakit,"
papar dokter Ratu.
Rasa sakit juga bisa timbul bila gigi mati dan terjadi infeksi. "Gigi yang mati dan terkena
tekanan akan menimbulkan gas. Bila gasnya mendesak keluar, rasanya sakit sekali. Persis
seperti nanah dalam bisul," katanya.
Karena alasan itulah, pilot dan seluruh kru pesawat wajib memiliki gigi yang sehat dan
tidak berlubang. Para calon penumpang pesawat juga disarankan untuk menambal
giginya sebelum bepergian dengan pesawat.

Menurut Ketua Umum Pengurus Besar Dokter Gigi Indonesia, drg.Zaura Rini, MPS,
angka karies gigi di Indonesia masih tergolong tinggi dibandingkan negara berkembang
lainnya. "Kalimantan merupakan pulau dengan tingkat karies gigi tertinggi. Tak heran
bila jarang ada taruna Angkatan Udara dari sana," ujarnya dalam acara Hari Kesehatan
Gigi dan Mulut Sedunia di Jakarta (11/9).
Tingginya prevalensi dan keparahan karies gigi di Indonesia, menurut Rini disebabkan
karena masyarakat masih menganggap remeh masalah kesehatan gigi. Di sisi lain, banyak
orang yang belum sadar untuk berobat sebelum karies bertumpuk pada giginya.

Menangkal Gigi Berlubang (Saat ini 95 persen penduduk dunia menderita caries)
Menangkal Gigi Berlubang
Tip Menggosok Gigi
1. Menggosok gigi dengan benar dan teratur dua kali sehari dapat mengurangi risiko
terjadinya kerusakan gigi.
2. Menyikat gigi dengan arah vertikal (dari arah gusi ke gigi), bukan horizontal (dari kiri
ke kanan).
3. Untuk gusi dan bagian interdental (antara gigi) lakukan arah memutar.
4. Khusus gigi deretan depan dan samping, kepala sikat gigi diletakkan 45 derajat
terhadap permukaan gigi, seperti mencongkel.
5. Sebaiknya gunakan sikat gigi dengan ukuran yang pas dan bulu sikat yang halus (dari
bahan sintetis).
6. Berkumur dapat membantu menyingkirkan sisa makanan. Penggunaan obat kumur
antiseptik bisa menjadi solusi yang efektif dan praktis untuk mengatasi daerah-daerah
yang tidak terjangkau oleh sikat gigi.
5. Pilihlah pasta gigi yang mengandung fluor.
Penyakit Akibat Radang Gusi
1. Stroke.
2. Diabetes.
3. Penyakit jantung.
4. Kelahiran prematur.
Menggosok gigi hanya membersihkan rongga mulut sebesar 25 persen.
Lebih baik sakit hati dibanding sakit gigi. Anda tentu sudah sering mendengar ungkapan
lama ini. Begitu menderita sakit gigi, orang lebih memilih patah hati dibanding sakit gigi.
Maklum, gigi merupakan unsur utama saat mengunyah makanan. Jika bagian ini
mengalami gangguan, seperti rusak atau berlubang, makanan pun akan sulit dicerna
dengan baik. Karena itu, setiap orang disarankan agar merawat kebersihan dan kesehatan

gigi dengan baik, terutama menggosok gigi setelah makan dan sebelum tidur.
Namun, Dekan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia Sri Angky Soekanto,
DDS, PhD, menyebutkan, menggosok gigi saja tidak cukup. Sebab, aksi itu hanya
mampu membersihkan 25 persen rongga mulut. Tak mengherankan jika saat ini
ditemukan 95 persen jumlah penduduk dunia menderita penyakit karies atau gigi
berlubang.
Sri mengungkapkan ada tiga faktor yang menyebabkan gigi seseorang berlubang: bakteri
Mutans streptococci (mutans S), air liur, dan makanan. Di dalam rongga mulut, bakteri
mutans S berkembang biak. Apabila Anda mengkonsumsi makanan atau camilan, mutans
S menyerap sisa-sisa gula yang tertinggal di permukaan dan sela-sela gigi. Kemudian
bakteri ini membentuk koloni pada lapisan plak dan berkembang biak sehingga
menyebabkan gula berfermentasi menjadi senyawa asam (pH mulut kurang dari 5,5).
Senyawa asam yang terbentuk mengikis lapisan email gigi sehingga terbentuklah lubang
di permukaan gigi.
Untuk mencegah kerusakan atau terjadinya gigi berlubang, Profesor Elza Ibrahim
Auerkari, DDS, Mbiomed, PhD, dari Departemen Biologi Mulut Fakultas Kedokteran
Gigi Universitas Indonesia mengatakan, dapat dilakukan dengan mengkonsumsi xylitol
yang tak lain merupakan pemanis alami yang dihasilkan oleh xylan hemicellulosel. Di
alam, xylitol terkandung dalam serat beberapa jenis buah-buahan dan sayuran.
Berkat usaha para peneliti Jerman dan Prancis, keberadaan xylitol sebagai senyawa kimia
organik sebenarnya dikenal sejak 1890-an. Para ilmuwan ini menemukan kandungan
xylitol pada serat kayu pohon white birch dan oak evergreen yang banyak tumbuh di
Finlandia, bahkan dengan kadar xylitol yang tinggi. Selain terkandung dalam berbagai
jenis serat kayu, bahan ini terkandung dalam berbagai bahan makanan, antara lain plum,
raspberi, stroberi, kembang kol, dan bayam.
Elza menjelaskan, walaupun xylitol adalah pemanis, bakteri mutans tidak dapat
menfermentasikan xylitol sehingga akhirnya tidak terbentuk senyawa asam penyebab gigi
berlubang. "Malahan pada saat bakteri mutans S menyerap xylitol, bakteri-bakteri
tersebut akan menjadi lemah karena tidak mendapatkan energi untuk menghasilkan asam,
sehingga akhirnya mereka menjadi mati," ucap Elza. Pada akhirnya, xylitol membuat pH
mulut stabil sehingga gigi berlubang pun bisa dicegah. Untuk mendapatkan hasil efektif,
sebaiknya xylitol dikonsumsi setelah makan.
Elza juga menyarankan sebaiknya xylitol dikonsumsi oleh orang yang sudah mengalami
gigi berlubang. Sebab, konsumsi xylitol dapat menekan terjadinya kerusakan gigi yang
lebih parah.
Efektivitas xylitol ini telah dibuktikan melalui studi klinis yang dilakukan oleh
Universitas Turku, Finlandia, dan sejumlah penelitian yang dilakukan Badan Kesehatan
Dunia (WHO) di berbagai negara, terakhir di Belize, Amerika Latin. Di sana dilakukan
penelitian gabungan antara Universitas Michigan dan Kementerian Kesehatan Belize.

Penelitian 40 bulan tersebut menyimpulkan bahwa konsumsi xylitol dalam jangka


panjang bisa mencegah gigi berlubang. Bagaimana, lebih baik mencegah, bukan?
MARLINA MARIANNA SIAHAAN
Cara Kerja Xylitol
1. Mencegah terbentuknya senyawa asam pada lapisan plak di permukaan gigi.
2. Merangsang produksi air liur yang kaya kandungan kalsium untuk mempercepat proses
pembentukan kembali lapisan mineral gigi (remineralisasi).

Gigi Berlubang Hinggapi 77% Anak Indonesia


By Republika Newsroom
Sabtu, 24 Oktober 2009 pukul 09:30:00
Font Size A A A
EMAIL
PRINT
Facebook

CORBIS.COM
SEHAT: Gigi yang sehat tak harus berwarna putih, tergantung dari warna kulit. Jaga
kesehatannya dengan sikat gigi teratur minimal dua kali sesudah sarapan dan sebelum
tidur malam.
JAKARTA--Minimnya penanaman kebiasaan memelihara kesehatan gigi dan mulut sejak
usia dini, mengakibatkan banyaknya masalah gigi berlubang pada anak Indonesia.
Laporan Kesehatan Gigi dan Mulut dari Pepsodent menuturkan, sekitar 77 persen anak
Indonesia hingga usia 12 tahun memiliki gigi berlubang dalam rilis yang diterima redaksi
Republika Online, Sabtu (23/10)
Laporan itu memberikan informasi mengenai kualitas kesehatan gigi dan mulut anakanak Indonesia yang ternyata masih rendah.
Kegiatan yang didukung oleh Ibu Tatiek Fauzi Bowo (istri Gubernur DKI) dan Drg.
Zaura Rini Anggraeni MDS (Ketua Pengurus Besar Persatuan Dokter Gigi Indonesia)
memperlihatkan data Riset Kesehatan Dasar (RISKESDA) 2007 bahwa masyarakat
Indonesia rata-rata memiliki kurang lebih 5 gigi rusak setiap orangnya. Dilaporkan juga
dari rata-rata 5 gigi yang rusak tersebut, hanya 0,7% yang berhasil ditambal.
Ibu Tatiek Fauzi Bowo, istri Gubernur DKI Jakarta, yang juga aktif sebagai Ketua PKK
DKI Jakarta dan penulis prakata pendahuluan laporan kesehatan gigi tersebut
mengatakan, dirinya sangat memahami sulitnya menyuruh anak-anak untuk menyikat

gigi. Bagi mereka sepertinya selalu saja ada kegiatan yang lebih menyenangkan daripada
kegiatan menyikat gigi.
"Padahal gigi anak-anak lebih rapuh dibandingkan gigi orang dewasa, jadi kita harus
membantu membuat anak-anak kita memahami pentingnya merawat gigi mereka. Jika
kita memulai kebiasaan baik sejak dini untuk menyikat gigi dua kali sehari, pagi setelah
sarapan dan malam sebelum tidur, kita dapat membantu anak-anak memiliki kondisi
mulut yang sehat sepanjang umur mereka, tuturnya.
Laporan Kesehatan Gigi dan Mulut persembahan Pepsodent ini juga menekankan
mengapa orang tua harus mendorong kebiasaan yang sehat sejak dini:tu
Gigi susu yang berlubang selain mengganggu fungsi pengunyahan juga dapat
menimbulkan sakit yang kadang menyebabkan tidur dan aktifitas sekolah terganggu serta
menurunkan rasa percaya diri. Tanggalnya gigi susu sebelum waktunya dapat
menyebabkan perkembangan rahang tidak maksimal untuk tempat gigi tetap tumbuh
yang dapat menimbulkan maloklusi.
Penelitian menunjukkan adanya hubungan antara penyakit gigi dan mulut dengan
meningkatnya resiko timbulnya penyakit di bagian tubuh yang lain, seperti penyakit
jantung, stroke, diabetes mellitus, dan bayi lahir prematur pada ibu hamil. Dalam kasuskasus ekstrem, infeksi di mulut, jika tidak diobati, bisa mengancam nyawa penderitanya.
Drg. Zaura Rini Anggraeni MDS, Ketua Pengurus Besar PDGI percaya ada sebuah solusi
sederhana untuk menjaga kebersihan rongga mulut. Penyakit gigi dan mulut lainnya
adalah penyakit yang sangat bisa dicegah. Penelitian menunjukkan menyikat gigi di pagi
hari setelah sarapan dan malam hari sebelum tidur dengan pasta gigi ber-fluoride sangat
efektif untuk bisa mencegah gigi berlubang hingga 50%, terangnya.
Dalam waktu dekat ini, Pepsodent akan meluncurkan kampanye Sikat Gigi Pagi + Malam
di Indonesia sebagai bagian dari misi sosial untuk mendorong anak-anak dan orang tua
dalam menjaga kesehatan gigi dan mulut mereka dengan menyikat gigi di pagi hari
setelah sarapan dan malam hari sebelum tidur. Kampanye ini akan diluncurkan dalam
beberapa hari ke depan untuk meningkatkan kesehatan gigi masyarakat Indonesia dan
membuat lebih banyak orang bisa tersenyum dan menikmati hidup dengan lebih baik.