Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH PAI

SEJARAH PERADABAN ISLAM KERAJAAN


USMANI

DISUSUN OLEH
Rahmah Amari Delsa Putri (100210002)
Muhammad Ghani Fathurrahman (10060210006)
Diah Fauziah (10060210007)
Neneng Detty Sumiatty (10060210013)
Zelmi Widyanuarta (10060210018)
Asti Rahmatika (10060110003)
Dheri Januar (10060110007)
Maya Setiana (10060110008)
Arvi Fitriani (10060110013)

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN


ALAM
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
PENDAHULUAN
Sejak mundur dan berakhirnya era Abbasiyah, keadaan politik umat Islam mengalami
kemajuan kembali oleh tiga kerajaan besar: Turki Usmani di Turki, Mughal di India, dan Safawi
di Persia. Dari ketiganya, Turki Usmani adalah yang terbesar dan terlama, dikenal juga dengan
imperium islam. Dengan wilayahnya yang luas membentang dari Afrika Utara, Jazirah Arab,
Balkan hingga Asia Tengah, Turki Usmani menyimpan keberagaman bangsa, budaya dan agama,
Turki usmani mampu berkuasa selama kurang lebih 6 abad berturut-turut. Tentunya hal ini
membawa kesan tersendiri bahwa kerajaan Turki Usmani mampu membawa masyarakat islam
dalam keajayaan selama 6 abad, hal yang menurut pemakalah adalah tergolong luar biasa.
Makalah ini berusaha memaparkan kembali sejarah peradaban islam masa turki usmani yang
penuh dengan suasana politik, makalah ini akan berusaha menjelaskan bagaimana kerajaan turki
usmani mampu menjadi kerajaan islam yang paling hebat sepanjang masa, serta bagaimana pula
kerajaan islam sebesar ini bisa runtuh dan akhirnya menjadi republik turki pada tahun 1924.
RUMUSAN MASALAH
Dalam pembahasan makalah ini penulis akan menulis dengan mengacu pada rumusan masalah,
yaitu:
1. Sejarah Singkat Berdirinya Kerajaan Turki Usmani
2. Raja-Raja Turki Usmani
3. Kemajuan Turki Usmani
4. Runtuhnya Kerajaan Turki Usmani
5. Analisis

DAFTAR ISI

PENDAHULUAN

RUMUSAN MASALAH

....i

DAFTAR ISI ...ii


SEJARAH SINGKAT BERDIRINYA KERAJAAN TURKI USMANI..
RAJA-RAJA TURKI USMANI
KEMAJUAN TURKI USMANI.
RUNTUHNYA KERAJAAN TURKI USMANI..
ANALISIS
KESIMPULAN DAN PENUTUP.
DAFTAR PUSTAKA

SEJARAH SINGKAT BERDIRINYA KERAJAAN TURKI USMANI


Bangsa Turki tercatat dalam sejarah atas keberhasilannya mendirikan dua Dinasti, yaitu
Dinasti Turki Saljuk dan Turki Usmani. Kehancuran Dinasti Turki Saljuk oleh serangan bangsa
Mongol merupakan awal dari terbentuknya Dinasti Turki Usmani. Anatolia sebelum masa
orang-orang utsmaniyah
Negeri Anatolia (asia kecil) dahulu sebelum islam merupakan kerajaan yang berada
dibawah kekuasaan Byzantium (romawi timmur). Penaklukan-penaklukan oleh pasukan islam
sampai di sebagian wilayah timur negeri ini, dari ujung Armenia hingga ke puncak gunung
thurus sejak tahun 50 H, pada masa kekhalifahan muawiyah , kam muslim belum mampu
menaklukkan konstanttinopel, walaupun telah dilakukan berulang kali usaha penyerangan.
Setelah perang maladzikr pada tahun 463 H yang dimenagkan oleh orang-orang saljuk dengan
kemenangan yang gemilang aas romawi, pengaruh kemenangan ini terus meluas ke negeri
Anatolia. Mereka saat itu telah memiliki pemerintahan yang terkemuka yaitu pemerintahan
romawi saljuk.
Anatolia kemudian jau ke tangan Mongolia, setelah merebutnya dari saljuk romawi .
maka terjadilah peperangan antara Mongolia dank am muslimin dan ini terjadi pada tahun 641
H. setelah kekalahan Mongolia pada perang ain jalut, tahun 658 H berangkatlah Zharir Bibris ke
saljuk Romawi dan Mongolia, menyusul kekalahan besar ini sebagai pelajaran besar ini.
Bersamaan dengan lemahnya Mongolia , pemerintahan utsmaniyah lalu menguasainya pada
masa yang berbeda. Orang-orang Utsmaniyah bernasab pada kabilah qobi yang berasal dari
kabilah Ghizz Turkmaniyah yang beragama islam dari negeri Turkistan.Tatkala terjadi

penyerbuan mongolia atas negeri itu, kakek mereka (sulaiman) berhijrah ke negeri romawi, lalu
ke syam dab ke irak. Dan mereka tenggelam di sungai Eufrat.
Kabilah ini lalu terpecah-pecah. Satu kelompok lalu kembali ke negeri asalnya. Dan satu
kelompoknya bersama dengan Erthoghul bin sulaiman.

Nama Kerajaan Usmani diambil dari nama putra Erthogrul. Ia mempunyai seorang putra
yang bernama Usman yang lahir pada tahun 1258. Nama Usman inilah yang kemudian lahir
istilah Kerajaan Turki Usmani atau Kerajaan Usmani. Pendiri Kerajaan ini adalah bangsa Turki
dari Kabila Oghus. Yang mendiami daerah Mongol dan daerah Utara Negeri Cina, kemudian
pindah ke Turkistan, lalu ke Persia dan Iraq sekitar abad ke-9 dan 10.
Pada abad ke-13 M, Erthoghul pergi ke Anatolia. Wilayah itu berada dibawah kekuasaan
Sultan Alaudin II (Salajikoh Alaudin Kaiqobad). Erthoghul membantunya melawan serangan
dari Byzantium. Ertoghul menang dan mendapatkan sebagian wilayah (Asyki Syahr) dari
Alaudin dari Byzantium dan sebagian hartanyamereka melarikan diri ke wilayah Barat sebagai
akibat dari serangan Mongol. mereka mencari tempat perlindungan dari Turki Saljuk di daratan
Tinggi Asia Kecil. Di bawah pimpinan Ertugrul, mereka mengabdikan diri pada Sultan Alauddin
II, Sultan Saljuk yang berperang melawan Bizantium. Atas jasa baiknya, Sultan Alauddin
menghadiahkan sebidang tanah di Asia Kecil, yang berbatasan dengan Bizantium dan memilih
Syukud sebagai Ibu kotanya.
Ertugrul meninggal dunia pada tahun 1289 M. kepemimpinannya dilanjutkan oleh
putranya yang bernama Usman (1281-1324), atas persetujuan Alauddin. Pada tahun 1300,
bangsa Mongol Menyerang Kerajaan Saljuk, dan Dinasti ini terpecah-pecah dalam beberapa
Dinasti kecil. Dalam kondisi kehancuran Saljuk inilah, Usman mengklaim Kemerdekaan secara
penuh atas wilayah yang didudukinya, sekaligus memproklamirkan berdirinya kerajaan Turki
Usmani. Dengan demikian, secara tidak langsung mereka mengakui Usman sebagai penguasa
tertinggi dengan gelar Padinsyah Ali Usman.

Setelah Usman mengakui dirinya sebagai Raja Besar Keluarga Usman pada tahun 699
H/1300 M, secara bertahap ia memperluas wilayahnya. Penyerangan awal dilakukan di sekitar
daerah perbatasan Bizantium dan Brussa (Broessa) dijadikan salah satu daerah yang menjadi
objek taklukan. Pada tahun 1317 M. wilayah tersebut dapat dikuasainya dan dijadikan sebagai
ibu kota pada tahun 1326 M.
Diakhir kehidupannya Usman menunjuk Orchan (42) anak yang lebih muda dari kedua
orang putranya sebagai calon pengganti memimpin kerajaan. Keputusan tersebut disandarkan
pada pertimbangan kemampuan dan bakat anaknya masing-masing. Orchan sebagai prajurit
yang potensial telah mendapat pengawasan dari ayahnya dan telah menunjukkan kemampuannya
dalam konteks militer pada penaklukkan Brossa. Sementara Alauddin (kakaknya) lebih potensial
dalam bidang agama dan hukum. Meskipun mereka sama-sama dibina dan dididik oleh
ayahnya. Sasaran Orchan setelah penobatannya menjadi raja ialah penaklukkan kota Yunani
seperti Nicea dan Nicomania. Nicea menyerah pada tahun 1327 dan Nocomedia takluk pada
tahun 1338 M.
RAJA-RAJA TURKI USMANI
Dalam masa kurang lebih 6 abad (1294-1924), berkuasa, kerajaan turki usmani
mempunyai raja sebanyak 40 orang yang silih berganti, namun demikian, dalam makalah ini
akan kami bahas beberapa raja yang berpengaruh saja, diantaranya:
Sultan Ustman bin Urtoghal (699-726 H/ 1294-1326 M)
Pada tahun 699 H usman melakukan perlusan kekuasaannya sampai ke Romawi
Bizantium setelah ia mengalahkan Alauddin Saljuk. Usman diberi gelar sebagai Padisyah AlUsman (Raja besar keluarga usman), gelar inilah yang dijuliki sebagi Daulah Usmaniyyah.
Usman berusaha memperkuat tentara dan memajukan negrinya. kepada raja-raja kecil dibuat
suatu peraturan untuk memilih salah satu dari tiga hal, yaitu:
1) Masuk Islam
2) Membayar Jizyah; atau
3) Berperang

Penerapan sistem ini membawa hasil yang menggembirakan, yaitu banyak raja-raja kecil
yang tunduk kepada Usman, yaitu :

Sultan Urkhan bin Utsman (726-761 H/ 1326-1359 M)


Sultan Urkhan adalah putera Utsman I. sebelum urkhan ditetapkan menjadi raja, ia telah

banyak membantu perjuangan ayahnya. Dia telah menjadikan Brousse sebagai ibu kota
kerajaannya. Pada masa pemerintahannya, dia berhsil mengalahkan dan menguasai sejumlah
kota di selat Dardanil. Tentara baru yang dibentuk oleh Urkhan I diberi nama Inkisyaiah.
Pasukan ini dilengkapi dengan persenjataan dan pakaian seragam. Di zaman inilah pertama kali
dipergunakan senjata meriam.

Sultan Murad I bin Urkhan (761-791 H/ 1359-1389 M)


Pengganti sultan Urkhan adalah Sultan Murad I. selain memantapkan keamanan di dalam

negrinya, sultan juga meneruskan perjuangan dan menaklukkan bebrapa daerah ke benua Eropa.
Ia menaklukkan Adrianopel, yang kemudian dijadikan sebagai ibukota kerajaan yang baru serta
membentuk pasukan berkuda (Kaveleri). Perjuangannya terus dilanjutkan dengan menaklukkan
Macedonia, Shopia ibukota Bulgaria, dan seluruh wilayah bagian utara Yunani.
Karena banyaknya kota-kota yang ditaklukkan oleh Murad I, pada waktu itu bangsa Eropa mulai
cemas. Akhirnya raja-raja Kristen Balkan meminta bantuan Paus Urban II untuk mengusir kaum
muslimin dari daratan Eropa. Maka peperangan antara pasukan Islam dan Kristen Eropa pada
tahun 765 H (1362 M). Peperangan itu dimenangkan oleh pasukan Murad I, sehingga Balkan
jatuh ke tangan umat Islam. Selanjutnya pasukan Murad I merayap terus menguasai Eropa Timur
seperti Somakov, Sopia Monatsir, dan Saloniki.

Sultan Bayazid I bin Murad ( 791-805 H/ 1389-1403 M)

Bayazid adalah putra Murad I. Ia meneruskan perjuangan ayahnya dengan memperluas


wilayahnya seperti Eiden, Sharukan, dan Mutasya di Asia Kecil dan Negri-negri bekas
kekuasaan Bani saluki. Bayazid sangat besar pengaruhnya, sehingga mencemaskan Paus.
Kemudian Paus Bonifacius mengadakan penyerangan terhadap pasukan Bayazid, dan
peperangan inilah yang merupakan cikal bakal terjadinya Perang Salib. Tentara Salib ketika itu
terdiri dari berbagai bangsa, namun dapat dilumpuhkan oleh pasukan Bayazid. Namun pada
peperangan berikutnya ketika melawan Timur Lenk di Ankara, Bayazid dapat ditaklukkan,
sehingga mengalami kekalahan dan ketika itu Bayazid bersama putranya Musa tertawan dan
wafat dalam tahanan Timur Lenk pada tahun 1403 M.
Kekalahan Bayazid di Ankara itu membawa akibat buruk bagi Turki Usmani, sehingga
penguasa-penguasa Saljuk di Asia Kecil satu persatu melepaskan diri dari genggaman Turki
Usmani. Hal ini berlangsung sampai pengganti Bayazid muncul.

Sultan Muhammad I bin Bayazid (816-824 H/ 1403-1421 M)

Kekalahan Bayazid membawa akibat buruk terhadap penguasa-penguasa Islam yang semula
berada di bawah kekuasaan Turki Usmani, sebab satu sama lain berebutan, seperti wilayah
Serbia, dan Bulgeria melepaskan diri dari Turki Usmani. Suasana buruk ini baru berakhir setelah
Sultan Muhammad I putra Bayazid dapat mengatasinya. Sultan Muhammad I berusaha keras
menyatukan kembali negaranya yang telah bercerai berai itu kepada keadaan semula.
Berkat usahanya yang tidak mengenal lelah, Sultan Muhammad I dapat mengangkat citra Turki
Usmani sehingga dapat bangkit kembali, yaitu dengan menyusun pemerintahan, memperkuat
tentara dan memperbaiki kehidupan masyarakat. Akan tetapi saat rakyat sedang m,engharapkan
kepemimpinannya yang penuh kebijaksaan itu, pada tahun 824 H (1421 M) Sultan Muhammad I
meninggal.

Sultan Murad II bin Muhammad ( 824-855 H/ 1421-1451 M)

Sepeninggalannya Sultan Muhammad I, pemerintahan diambil alih oleh Sulatan Murad II. Citacitanya adalah melanjutkan usaha perjuangan Muhammad I. Perjuangan yang dilaksanakannya
adalah untuk menguasai kembali daerah-daerah yang terlepas dari kerajaan Turki Usmani

sebelumnya. Daerah pertama yang dikuasainya adalah Asia Kecil, Salonika Albania, Falokh, dan
Hongaria.
Setelah bertambahnya beberapa daerah yang dapat dikuasai tentara Islam, Paus Egenius VI
kembali menyerukan Perang Salib. Tentara Sultan Murad II menderita kekalahan dalam perang
salib itu. Akan tetapi dengan bantuan putranya yang bernama Muhammad, perjuangan Murad II
dapat dilanjutkan kenbali yang pada akhirnya Murad II kembali berjaya dan keadaan menjadi
normal kembali sampai akhir kekuasaan diserahkan kepada putranya bernama Sultan
Muhammad Al-Fatih.

Sultan Muhammad Al-Fatih (855-886 H/ 1451-1481 M)

Setelah Sultan Murad II meninggal dunia, pemerintahan kerajaan Turki Usmani dipimpin oleh
putranya Muhammad II atau Muhammad Al-Fatih. Ia diberi gelar Al-fatih karena dapat
menaklukkan Konstantinopel. Muhammad Al-Fatih berusaha membangkitkan kembali sejarah
umat Islam sampai dapat menaklukkan Konstantinopel sebagai ibukota Bizantium.
Konstantinopel adalah kota yang sangat penting dan belum pernah dikuasai raja-raja Islam
sebelumnya. Seperti halnya raja-raja dinasti Turki Usmani sebelumnya, Muhammad Al-Fatih
dianggap sebagi pembuka pintu bagi perubahan dan perkembangan Islam yang dipimpin
Muhammad.Tiga alasan Muhammad menaklukkan Konstantinopel, yaitu:
Dorongan iman kepada Allah SWT, dan semangat perjuangan berdasarkan hadits Nabi
Muhammad saw untuk menyebarkan ajaran Islam.
Kota Konstantinopel sebagai pusat kemegahan bangsa Romawi. Negrinya sangat indah
dan letaknya strategis untuk dijadikan pusat kerajaan atau perjuangan. Usaha mula-mula umat
Islam untuk menguasai kota Konstantinopel dengan cara mendirikan benteng besar dipinggir
Bosporus yang berhadapan dengan benteng yang didirikan Bayazid. Benteng Bosporus ini
dikenal dengan nama Rumli Haisar (Benteng Rum). Benteng yang didirikan umat Islam pada
zaman Muhammad Al-Fatih itu dijadikan sebagai pusat persediaan perang untuk menyerang kota
Konstantinopel. Setelah segala sesuatunya dianggap cukup, dilakukan pengepungan selama 9
bulan. Akhirnya kota Konstantinopel jatuh ke tangan umat Islam ( 29 Mei 1453 M) dan Kaitsar
Bizantium tewas bersama tentara Romawi Timur. Setelah memasuki Konstantinopel disana

terdapat sebuah gereja Aya Sofia yang kemudian dijadikan mesjid bagi umat Islam. Setelah kota
Konstantinopel dapat ditaklukkan, akhirnya kota itupun dijadikan sebagai ibukota kerajaan Turki
Usmani dan namanya diganti menjadi Istanbul.
Jatuhnya kota Konstantinopel ke tangan umat Islam, berturut-turut pula diikuti oleh
penguasaan Negara-negara sekitarnya seperti Servia, Athena, Mora, Bosnia, dan Italia. Setelah
pemerintahan Sultan Muhammad, berturut-turut kerajaan Islam dipimpin oleh beberapa Sultan,
yaitu:
1. Sultan Bayazid II (1481-1512 M)
2. Sultan Salim I (918-926 H/ 1512-1520 M)
3. Sultan Sulaiman (926-974 H/ 1520-1566 M)
4. Sultan Salim II (974-1171 H/ 1566-1573 M)
5. Sultan Murad III ( 1573-1596 M)
Setelah pemerintahan Sultan Murad III, dilanjutkan oleh 20 orang Sultan Turki Usmani
sampai berdirinya Republik Islam Turki. Akan tetapi kekuasaan sultan-sultan tersebut tidak
sebesar kerajaan-kerajaan sultan-sultan sebelumnya. Para sultan itu lebih suka bersenangsenang., sehingga melupakan kepentingan perjuangan umat Islam. Akibatnya, dinasti turki
Usmani dapat diserang oleh tentara Eropa, seperti Inggris, Perancis, dan Rusia. Sehingga
kekuasaan Turki Usmani semakin lemah dan berkurang karena beberapa negri kekuasaannya
memisahkan diri,diantaranya adalah:
1. Rumania melepaskan diri dari Turki Usmani pada bulan Maret 1877 M.
2. Inggris diizinkan menduduki Siprus bulan April 1878 M.
3. Bezarabia, Karus, Ardhan, dan Bathum dikuasai Rusia.
4. Katur kemudian menjadi daerah kekeusaan Persia.
Untuk lebih jelas tentang kekhilafaan dinasti Turki Utsmani ini, berikut kami akan
tampilkan sejumlah nama raja-raja serta tahun pengangkatannya dalam table dibawah ini:
No. Nama Khilafah
1 Utsman I
2 Orhan

Tahun
1281
Pengangkatan
1324

3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37

Murad I
Bayazid I
Peralihan Kekuasaan
Muhammad I
Murad II
Muhammad II
Murad II (menjabat yang kedua kalinya)
Muhammad II (menjabat ketiga kalinya)
Bayazid II
Saim I
Sulaiman I
Salim II
Murad III
Muhammad III
Ahmad I
Musthofa I
Utsman II
Musthofa I (menjabat kedua kalinya)
Murad IV
Ibrahim
Muhammad IV
Sulaiman II
Ahmad II
Musthofa II
Ahmad III
Mahmud I
Utsman III
Musthofa III
Abdul Hamid I
Salim III
Musthofa IV
Mahmud II
Abdul Majid I
Abdul Aziz
Murad V
Abdul Hamid II

1306
1389
1402
1413
1421
1444
1446
1451
1481
1512
1520
1566
1574
1594
1603
1617
1618
1622
1623
1640
1648
1678
1691
1695
1703
1730
1754
1757
1774
1789
1807
1808
1839
1861
1876
1876

38 Muhammad Rasyid V
1909
39 Muhammad Wahid al-Din
1918
40 Abdul Majid II (hanya bergelar sebagai1914
khalifah saja)

KEMAJUAN TURKI USMANI

ASPEK KEKUASAAN WILAYAH


Sepeninggal Sultan Usman pada Tahun 1326 M, Kerajaan dipimpin oleh anaknya Sultan

Orkhan I (1326-1359 M). Pada masanya berdiri Akademi militer sebagai pusat pelatihan dan
pendidikan, sehingga mampu menciptakan kekuatan militer yang besar dan dengan mudahnya
dapat menaklukan

Sebagian daerah benua

Eropa

yaitu, Azmir (Shirma) tahun 1327 M,

Tawasyanli 1330 M, Uskandar 1338 M, Ankara 1354 M dan Galliopoli 1356 M.


Ketika Sultan Murad I (1359-1389 M) pengganti orkhan naik. Ia memantapkan
keamanan

dalam negri dan melakukan perluasan ke benua

Eropa dengan menaklukan

Adrianopel (yang kemudian menjadi ibu kota kerajaan baru) , Macedonia, Sopia, Salonia, dan
seluruh bagian utara Yunani. Merasa cemas dengan kesuksesan Kerajaan

Usmani, negara

Kristen Eropa pun bersatu yang di pimpin oleh Sijisman memerangi kerajaan, hingga terjadilah
pertempuran di Kosovo tahun 1389 M, namun musuh dapat di pukul mundur dan di hancurkan .
Pada tahun 1389 M, Sultan Bayazid naik tahta (1389-1403 M), Perluasan berlanjut dan dapat
menguasai Salocia, morea, Serbia, Bulgaria, dan Rumania juga pada tahun 1394 M, memperoleh
kemenangan dalam perang Salib di Nicapolas. Selain menghadapi musuh-musuh Eropa,
Kerajaan juga dipaksa menghadapi pemberontak yang bersekutu dengan Raja islam yang
bernama Timur Lenk di samarkand. Pada tahun 1402 M pertempuran hebat pun terjadi di
Ankara, yang pada akhirnya Sultan

Bayazid dengan kedua putranya Musa dan Erthogrol,

tertangkap dan meninggal di tahanan pada tahun 1403 M. Sebab kekalahan ini Bulgaria dan
Serbia memproklamirkan kemerdekaannya.

Setelah Sultan Bayazid meninggal, terjadi perebutan kekuasaan di antara putra putranya
(Muhammad, isa dan sulaiman) namun di antara mereka Sultan Muhammad I lah yang naik
tahta (1403-1421 M), di masa pemerintahannya ia berhasil menyatukan kembali kekuatan dan
daerahnya dari bangsa mongol, terlebih setelah Timur lenk meninggal pada tahun 1405 M.
Pada tahun 1421 M, Sultan Muhammad meninggal dan di teruskan oleh anaknya, Sultan
Murrad II (1421-1484 M) hingga mencapai banyak kemajuan pada masa Sultan Muhammad
II/ Muhammad Al Fatih (1451-1484 M) putra Murrad II. Pada masa Muhammad II, Tahun
1453 M ia dapat mengalahkan Bizantium dan menaklukan Konstantinopel . Setelah Beliau
meninggal di gantikan oleh putranya Sultan Bayazid II
Berbeda dengan Ayahnya, Sultan Bayazid II (1481-1512 M) lebih mementingkan
kehidupan Tasawuf dari pada penaklukan wilayah, sebab itu muncul kontroversial akhirnya ia
mengundurkan diri dan di gantikan putranya Sultan Salim I
Pada masa Sultan Salim I (1521-1520 M) terjadi perubahan peta arah perluasan, memfokuskan
pergerakan ke arah timur dengan menaklukan Persia, Syiria hingga menembus Mesir di Afrika
Utara yang sebelumnya di kuasai mamluk.
Setelah Sultan Salim I Meninggal , Muncul Putranya Sultan Sulaiman I (1520-1566 M)
sebagai Sultan yang mengantarkan Kerajaan Turki Usmani pada masa keemasannya, karena
telah berhasil menguasai daratan Eropa hingga Austria, Bulgaria, Yunani, Yugoslavia, Albania,
Hongaria dan Rumania, Afrika Utara hingga Mesir, Aljazair, Libia, Dan Tunis. Asia hingga
Persia, Amenia, Siria. meliputi lautan Hindia, Laut Arabia, Laut Tengah, Laut Hitam. juga
daerah-daerah di sekitar kerajaan seperti Irak, Belgrado, Pulau Rodes, Tunis, Budapest dan
Yaman.

ASPEK PEREKONOMIAN

Tercatat beberapa kota yang maju dalam bidang industri pada waktu itu di antaranya :
Mesir sebagai pusat produksi kain sutra dan katun

Anatoli selain sebagai pusat produksi bahan tekstil dan kawasan pertanian yang subur, juga
menjadi pusat perdagangan dunia pada saat itu.

ASPEK ILMU PENGETAHUAN


-

Tempat pendidikan

Secara umum pada masa dinasti usmaniyah tidak terlalu memfokuskan perhatian terhadap ilmu
pengetahuan, sehingga mengakibatkan Bidang ilmu pengetahuan kurang begitu menonjol, tidak
seperti Dinasti islam sebelumnya, akan tetapi ada beberapa titik kemajuan yang terlihat yaitu
pada masa sultan Muhammad al-fatih.
Pada masa sultan alfatih, ilmu pengetahuan memdapat cukup perhatian, sehingga pada
masa itu tampak kemajuannya, terbukti dengan tersebarnya sekolah-sekolah dan akademisiakademisi di semua kota besar ataupun kecil, demikian pula dengan desa-desa terpencil.
Disamping itu semua sekolah-sekolah dan akademisi-akademisi telah terorganisir, berjenjang
dan memiliki kurikulum serta bersistem jurusan.
Disamping pembangunan sekolah-sekolah dan akademisi-akademisi kepedulian akan
ilmu pengetahuan juga terlihat dari perpustakaan-perpustakaan yang dibangun di sekitar sekolah
dimana pengelolaan perpustakaan tersebut sangat tertib, terbukti dengan keteraturan catatan
peminjan.
-

Penerjemahan kitab-kitab

Pada masa sultan al-fatih telah dilakukan penerjemahan khazanah-khazanah lama dari bahasa
yunani, latin, Persia dan arab kedalam bahasa turki, salah satu buku yang diterjemahkan adalah
masyahir al-rijal (orang-orang terkenal) karya poltark, buku-buku lainnya yang diterjemahkan ke
bahasa turki adalah buku karangan abu al-qasim al-zaharowi al-andalusi, seorang ahli kedokteran
yang berjudul al-tashrif fi al-thibbi. Buku ini kemudian diberi tambahan pembahasan alat-alat
untuk bedah dan posisi pasien tatkala terjadi operasi bedah.

RUNTUHNYA KERAJAAN TURKI USMANI

Faktor-Faktor Keruntuhan Khilafah Utsmaniyah (974-1171 H/1566-1757 M)


Kenaikan Sultan Salim II (1566-1574) telah dianggap sebagai permulaan keruntuhan

Turki Utsmani dan berakhrnya zaman keemasannya.


Hal ini ditandai dengan melemahnnya semangat perjuangan prajurit utsmani yang
menyebabkan sejumlah kekalahan dalam pertempuran menghadapi mmusuh-musuhnya. Pada
tahun 1663 , tentara utsmani menderita kekalahan dalam penyerbuan hongaria. Tahun 1676 turki
kalah dalam pertempuran di Mohakez, Hungaria dan menandatangani perjanjian karlowits pada
tahun 1699 yang berisi pernyataan seluruh wilayah Hungaria, sebagian besar Slovenia dan
Croasia kepada penguasa Venetia. Pada tahun 1774, penguasa Utsmani, Abdul Hamid
menandatangani perjanjian dengan Rusia yang berisi pengakuan kemerdekaan Crimenia dan
penyerahan benteng-benteng pertahanan di laut hitam serta memberikan izin kepada rusia untuk
melintasi selat antara laut hitam dengan laut putih.
Apabila dikategorikan, maka faktor-faktor keruntuhan kerajaan turki usmani adalah:

Faktor internal
Karena luas wilayah kekuasaan serta buruknya sistem pemerintahan, sehingga hilangnya
keadilan, banyaknya korupsi dan meningkatnya kriminalitas, seperti :
-

Heterogenitas penduduk dan agama

Kehidupan istimewa yang bermegahan

Merosotnya perekonomian negara akibat peperangan yang pada sebagian besar


peperangan turki mengalami kekalahan.

Faktor Eksternal
Munculnya gerakan nasionalisme. Bangsa-bangsa yang tunduk pada kerajaan turki

selama berkuasa, mulai menyadari kelemahan dinasti tersebut. Kemudian ketika turki mulai
lemah mereka bangkit untuk melawannya. Terjadinya kemajuan teknologi di barat khususnya
bidang persenjataan. Turki selalu mengalami kekalahan karena mereka masih menggunakan
senjata tradisional, sedangkan wilayah barat seperti eropa telah menguunakan senjata yang lebih
maju lagi.
Melihat faktor-faktor yang menyebabkan kehancuran turki tersebut, hal ini berawal dari
orang-orang arab yang menghadapi orang-orang utsmaniyah, mereka berada dalam dilema yaitu
mereka di sisi lain ingin menghormati turki sebagai cerminan persatuan kaum muslimin, di sisi
lain mereka mempunyai landasan berfikir ingin memerdekakan diri dari kerajaan turki tersebut.
ANALISIS
Dalam kurun waktu 6 abad berkuasa, kerajaan turki usmani telah diakui oleh sejarah
sebagai kerajaan islam terbesar dan terlama disbanding dengan kerajaan islam lainnya. Hal ini
dipengaruhi oleh beberapa hal penting sehingga kerajaan ini mampu bertahan sedemikian
lamanya. Penulis ingin menganalisis dari bebagai aspek, yaitu:
Sistem sosial masyarakat, salah satu kunci kesuksesan dan keberhasilan turki usmani
adalah adanya persatuan di antara masyarakatnya yang begitu banyak, (pada tahun 1520 jumlah
penduduk kerajaan turki usmani adalah 11,692,480 peduduk). Persatuan ini oleh pemerintah
diwadahi dalam bentuk organisasi keagamaan bernama millet. Millet adalah kelompok agama
yang diperbolehkan membangun komunitasnya sendiri di bawah peraturan dan perlindungan
kerajaan turki usmani. pluralitas yang diberikan pada rakyatnya mampu memberikan rasa
persatuan bagi rakyat dari berbagai wilayah yang ditaklukannya sehingga, semua masyarakatnya
bersatu. Namun pada akhirnya sistem ini runtuh bersamaan dengan munnculnya paham
nasionalisme yang disebarkan oleh bangsa barat, yang memang bertujuan menyerang dari dalam
masyarakatnya. Sehingga setiap wilayah / kerajaan kecil yang ditaklukannya mulai

memberontak dari dalam atas semangat nasionalisme mereka, masyarakat kerajaan turki usmani
pun kemudian terpecah belah, setelah sebelumnya bersatu, bahkan kerajaan turki usmani
mendapat julukan The Sickman Europe (Orang Eropa yang sakit). Hal ini kemudian ingin
dihilangkan dengan memberikan paham pan-turkisme, paham untuk menyatukan seluruh
masyrakat turki, namun paham ini tidak bisa diterima rakyat, berlanjut dengan paham panislamisme oleh Sultan Abdul Hamid II, paham yang menyerukan umat islam bersatu secara
politik, persatuan ini diwujudkan berupa pengakuan sultan turki usmani sebagai khalifah umat
islam, gagasan ini berhasil mendapat simpati umat islam untuek beberapa tahun. Namun
perlawanan barat tidak berhenti sampai di situ, kartu As terakhir mereka adalah mengusung
paham demokrasi yang kemudian mengakhiri kerajaan turki usmani dan memunculkan republik
turki yang dipelopori oleh Mustafa kemal attaturk. Kekuatan militer, berbeda dengan kerajaankerajaan islam sebelumnya, kerajaan turki usmani, mulai dari raja pertamanya Usman hingga
raja terhebatnya Sulaiman Al Qanuni, lebih memfokuskan pada perkembangan militer. Hal ini
dikarenakan bangsa turki terkenal sebaga bangsa yang berdarah militer, sehingga semangat
militernya sangat kuat, untuk itu sebagian besar APBN kerajaan dipergunakan untuk membiayai
prajurit perang daripada untuk keperluan lain, seperti agama, ilmu pengetahuan dan lain-lain.
Bahkan untuk memperbanyak prajurit, raja kedua turki usmani, Orkhan mengangkat Bangsabangsa non-Turki sebagai prajurit, bahkan anak-anak Kristen yang masih kecil diasramakan dan
dibimbing dalam suasana Islam untuk dijadikan prajurit. Program ini ternyata berhasil dengan
terbentuknya kelompok militer baru yang disebut pasukan Jenissari atau Inkisyariah. Pasukan
inilah yang dapat mengubah negara Usmani menjadi mesin perang yang paling kuat, dan
memberikan dorongan yang amat besar dalam penaklukkan negeri-negeri non muslim. Hal ini
menjadikan kerajaan ini lebih kuat dibandingkan kerajaan-kerajaan lain, sehingga semakin
banyak wilayah yang ditaklukkan maka semakin banyak pula prajurit-prajurit baru yang dapat
dilatih untuk dijadikan tentara islam. Jadilah kerajaan turki usmani kerajaan yang hebat dan
berwilayah yang luas. Sistem pemerintahan, saat wilayah semakin luas, tentunya sistem
pemerintahan harus hebat juga, dalam mengelola wilayah yang luas sultan-sultan Turki Usmani
senantiasa bertindak tegas. Sulaiman Al Qanuni menerapkan sistem pemerintahan pembagian
wilayah kekuasaan, sehingga dalam struktur pemerintahan, sultan sebagai penguasa tertinggi,
dibantu oleh shadr al-azham (perdana menteri), yang membawahi pasya (gubernur). Gubernur

mengepalai daerah tingkat I. Di bawahnya terdapat beberapa orang al-zanaziq atau al-alawiyah
(bupati). Hal ini menjadikan kerajaan turki usmani pada masa sulaiman Al-Qanuni bisa mengatur
wilayah yang sedemikian besarnya.

Ilmu pengetahuan, meskipun kerajaan turki usmani hebat dalam hal sistem militer dan
sistem pemerintahan, namun mereka tidak terlalu memperhatikan ilmu pengetahuan, yang
sebenarnya bisa lebih memperkuat tenaga militer. APBN Negara sebagian besar dipergunakan
untuk membiayai pendidikan militer bangsa-bangsa non-turki untuk dijadikan prajurit islam
yang kuat, sehingga hanya sedikit yang dipergunakan untuk perkembangan ilmu pengetahuan.
Hal ini merupakan kelemahan tersendiri bagi mereka. Berbeda dengan kerajaan-kerajaan
barat yang lebih memfokuskan perhatian pada ilmu pengetahuan, sehingga perkembangan ilmu
pengetahuannya berkembang pesat, yang kemudian memperkuat militer dengan senjata-senjata
api baru, yang tidak dimiliki oleh turki usmani. ketika bangsa turki usmani diserang oleh bangsa
barat dengan senjata baru mereka, bangsa turki usmani mulai kekualahan. Sehingga pasca
kehebatan dan wilayahnya yang luas, sedikit demi sedikit kerajaan ini mulai digerogoti, baik dari
luar kerajaan maupun dari dalam kerajaan (pemberontak).
Munculnya kaum elit, bahwa raja-raja setelah sulaiman al qanuni, kurang bisa mengatur
pemerintahannya, bahkan ditambah lagi munculnya kaum elit kapitalis di wilayah pemerintahan,
sehingga individualitas antar pemimpin dan golongan-golongan elit semakin tumbuh, yang
berlanjut dengan penumpukan harta umtuk kepentingan masing-masing, hal ini dimanfaatkan
oleh Negara-negara yang telah dikuasainya untuk memerdekakan diri, mereka tidak mau lagi
dimanfaatkan tenaganya oleh bangsa turki untuk dijadikan tentara, disamping itu seranganserangan barat pada wilayah terluar kerajaan juga semakin memperburuk suasana pemerintahan,
anggaran dana yang seharusnya dipergunakan untuk memperkuata pertahanan militer Negara
sebagian besar dikuasai dan dimonopoli oleh kaum elit kerajaan, hal ini mengakibatkan
semangat berperang prajurit melemah karena tidak adanya dana untuk peperangan yang

memadai, sehingga perlahan-lahan wilayah kerajaan mulai mengalami penyusutan, hingga pada
tahun 1924 kerajaan turki usmani berubah menjadi republik turki.

KESIMPULAN
Kerajaan turki utsmani merupakan kerajaan yang dipimpin oleh 40 sultan. Pada abad
pertengahan memang masa yang paling bersejarah bagi bangsa arab, bahkan kemunduran bagi
bangsa barat, dalam segi pandang kerajaan, kekuasaan wilayah adalah yang terpenting. Turki
utsmani yang memimpin selama kurang lebih 6 abad memberikan bukti kejayaannya sampai ke
Eropa, akan tetapi dari stagnanisasi bangsa utsmani mereka lebih memajukan kemiliteran mereka
dari pada pendidikannya, bagi mereka kemiliterannya adalah satu hal yang terpenting yang harus
dimiliki leh seorang pemimin, dengan orientasi penalukan konstantinopel, membuat mereka
menjadi bersemangat untuk menjadikan kerajaan turki utsmani menjadi symbol kejayaan islam.
Penyimpangan orientasi mereka ini membuat terlena dengan keluasan wilayah sehingga
membuat mereka meninggalkan perkembangan pendidikan mereka. Berbeda dengan bangsa
Eropa yang telah mengugguli mereka, kemunduran kerajaan turki utsmani ini terlihat dari bagian
bagian wilayah yang dikuasai oleh turki utsmani ini mulai tergerak ingin merubah hidupnya
menjadi yang lebih baik dan muncul paham kapitalisme individual sehingga sebagian mereka
ingin melepaskan diri. Tampaknya pengaruh barat mulai mendapatkan hasil dengan kelemahan
kerajaan turki ini, dan terlahir paham-paham yang ingin membebaskan, sehingga paham turki
sendiri tidak dapat menghalangi mereka.

PENUTUP
Demikianlah makalah ini kami buat, kami menyadari tentunya makalah ini tak lepas dari
kesalahan-kesalahan, baik itu kesalah tulisan atau kesalahan materi, oleh karena itu kritik dan

saran yang membangun dari segenap pembaca dan dosen pengampu senantiasa kami harapkan,
demi kesempurnaan makalah ini.

DAFTAR PUSTAKA
C.E. Bosworth, Dinasti-dinasti Islam,(Bandung: Mizan, 1980),
Edyar, Busman dan Ilda Hayati, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta, Pustaka Asatruss,2009).
Hitti, Philip K. History of the Arabs, (London: The Mac Millan Press, 1974),
Nasution, Harun. Pembaharuan Dalam Islam Sejarah Pemikiran dan Gerakan, (Jakarta: Bulan
Bintang, 1996),
Syalabi, Ahmad. Sejarah dan Kebudayaan Islam Imperium Turki Usmani, (Jakarta: Kalam
Mulia, 1988)
Yatim, Badri. Sejarah Peradaban Islam, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2003
Al Usairi, Ahmad, terjemah Tarikhl Al Islamiy Sejarah Islam, Akbar, Jakarta 2008
Syalaby,Ali Muhammad, Bangkit Dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah,pustaka Al kautsar,
Jakarta 2008
http://harmanza.wordpress.com/2010/07/01/499/
http://iwanbustomi.blogspot.com/2010/06/turki-utsmani.html
http://imronfauzi.wordpress.com/2008/12/10/sejarah-kerajaan-turki-ustmani/
http://initialdastroboy.wordpress.com/2010/04/15/kemunduran-tiga-kerajaan-besar-utsmanisafawi-dan-mughal/
http://kritistransformatif.blogspot.com/2011/01/turki-usmani.html
http://orgawam.wordpress.com/2008/11/28/turki-utsmani-kekhalifahan-berakhir-abad-kemarin/
http://anneahira.com/sejarah-kerajaan-turki -usmani.html
http://www.abdain.com/kerajaan-usmani.html
http://www.theottomans.org/english/history/index.asp

Anda mungkin juga menyukai