Anda di halaman 1dari 18

A.

Definisi Transportasi Ikan Secara Kering


Transportasi ikan hidup pada dasarnya adalah memaksa menempatkan ikan dalam
suatu lingkungan baru yang berlainan dengan lingkungan asalnya dan disertai perubahanperubahan sifat lingkungan yang sangat mendadak (Hidayah 1998). Ada dua sistem
transportasi yang digunakan untuk hasil perikanan hidup di lapangan. Sistem transportasi
tersebut terdiri dari transportasi sistem basah dan transportasi sistem kering (Junianto 2003).
Pada kesempatan kali ini, penyusun hanya akan membahas transportasi ikan secara
kering. Menurut Achmadi (2005), transportasi ikan hidup tanpa media air (sistem kering)
merupakan sistem pengangkutan ikan hidup dengan media pengangkutan bukan air. Pada
transportasi ikan hidup tanpa media air, ikan dibuat dalam kondisi tenang atau aktivitas
respirasi dan metabolismenya rendah. Transportasi sistem kering ini biasanya menggunakan
teknik pembiusan pada ikan atau ikan dipingsankan (imotilisasi) terlebih dahulu sebelum
dikemas dalam media tanpa air (Suryaningrum et al. 2007).
Pada transportasi ikan hidup sistem kering perlu dilakukan proses penenangan terlebih
dahulu. Kondisi ikan yang tenang akan mengurangi stress, mengurangi kecepatan
metabolisme dan konsumsi oksigen. Pada kondisi ini tingkat kematian selama transportasi
akan rendah sehingga memungkinkan jarak transportasi dapat lebih jauh dan kapasitas angkut
dapat ditingkatkan lagi. Metode penanganan ikan hidup dapat dilakukan dengan cara
menurunkan suhu air atau dapat juga menggunakan zat anestesi. Perlu diperhatikan bahwa
ikan yang akan dipingsankan ini nantinya akan dikonsumsi, sehingga pemilihan metode
imotilisasi harus memperhatikan aspek kesehatan (Nitibaskara et al. 2006).
Syarat utama dalam pengangkutan ikan hidup adalah kesehatan ikan. Ikan harus
dalam keadaan sehat, tidak berpenyakit dan dalam kondisi prima. Ikan yang sehat dan bugar
biasanya sangat gesit, aktif, responsif sesuai dengan karakter masing-masing ikan
(Nitibaskara et al. 2006). Menurut Achmadi (2005), ikan dalam keadaan hidup normal
memiliki ciri-ciri reaktif terhadap rangsangan luar, keseimbangan dan kontraksi otot normal.
Ikan yang kurang sehat atau lemah mempunyai daya tahan hidup yang rendah dan peluang
untuk mati selama pemingsanan dan pengangkutan lebih besar (Sufianto 2008).
Menurut Achmadi (2005), ikan hidup yang akan dikirim dipersyaratkan dalam
keadaan sehat dan tidak cacat. Pemeriksaan kondisi kesehatan ikan selalu dilakukan untuk
mengurangi kemungkinan mortalitas yang tinggi, sedangkan adanya cacat seperti cacat sirip,
mata, kulit rusak dan sebagainya dapat menurunkan harga.

B. Penanganan Pra Transportasi


Prinsip dari penanganan ikan hidup adalah mempertahankan kelangsungan hidup ikan
semaksimal mungkin sampai ikan tersebut diterima oleh konsumen. Terdapat beberapa tahap
penanganan untuk mencapai maksud tersebut yaitu penanganan ikan sebelum diangkut,
selama pengangkutan dan setelah pengangkutan (Junianto 2003).
Menurut Arie (2000), terdapat beberapa kegiatan penanganan ikan hidup setelah
dilakukan pemanenan, yaitu: penyeleksian, penimbangan, pemberokan dan pengangkutan.
1. Penyeleksian
Penyeleksian dilakukan karena dalam satu periode pemanenan biasanya ukuran ikan
sangat beragam. Ikan perlu diseleksi dan dipisahkan menurut ukurannya. Ikan yang
berukuran kecil sebaiknya dipelihara kembali dalam kolam pembesaran.
2. Penimbangan
Penimbangan ikan yang telah diseleksi ditimbang untuk mengetahui bobot ikan dari satu
periode pemeliharaan, maka dari bobot tersebut dapat diketahui pendapatan dan
keuntungan yang diperoleh.
3. Pemberokan
Pemberokan dapat diartikan sebagai kegiatan penyimpanan sementara sebelum ikan
dipasarkan dengan tujuan untuk membuang kotoran dalam tubuh ikan. Pemberokan
dapat dilakukan dalam bak, selama pemberokan ikan tidak diberi pakan. Pemberokan
dilakukan selama 24 jam untuk perjalanan yang lebih dari 12 jam (Mangunkusumo
2009). Pemberokan dilakukan 1-2 hari untuk ikan ukuran konsumsi (Junianto 2003).
4. Pembiusan Ikan
Kondisi pingsan adalah kondisi tidak sadar yang dihasilkan oleh proses terkendali dari
sistim syaraf pusat yang mengakibatkan turunnya kepekaan terhadap rangsangan dari
luar dan rendahnya respon gerak dari rangsangan tersebut. Bahan pemingsan atau
anestesi yang ideal adalah anestesi yang mampu memingsankan ikan kurang dari tiga
menit dan menyadarkan kembali kurang dari lima menit.
5. Pengangkutan
Pengangkutan untuk ikan konsumsi dapat diangkut dengan berbagai cara, tergantung
tujuan pasar lokal, luar daerah ataupun ekspor. Angkutan lokal biasanya menggunakan
sistem basah, sedangkan untuk luar daerah yang jauh dan ekspor dilakukan dengan
sistem kering.

C. Wadah dan Media Pengisi yang Digunakan


Wadah memegang peranan penting dalam transportasi ikan. Adanya wadah membantu
mencegah dan mengurangi kerusakan, melindungi isi yang ada di dalamnya, melindungi dari
pencemaran dan gangguan fisik. Selain itu pengemasan dalam wadah juga berfungsi untuk
mempermudah penyimpanan, pengangkutan, dan distribusi ikan. Konstruksi wadah dan
bahan isolasi yang dipakai untuk menyimpan dan mengangkut ikan memegang peranan
penting dalam mempertahankan mutu ikan (Prasetiyo, 1993).
Kotak styrofoam digunakan sebagai wadah pengangkut dalam transportasi ikan hidup
untuk menghindari penetrasi panas yang dapat merubah suhu di dalam kotak pengemas. Sifat
insulator dari styrofoam ini terjadi karena konduktivitas dari styrofoam yang relatif rendah
jika dibandingkan bahan-bahan lain yaitu sebesar 0,0433kg/m jam 0C (Ilyas, 1983).
Pengangkutan ikan hidup sistem media bukan air menggunakan bahan pengisi atau
media. Macam bahan pengisi yang dapat digunakan antara lain sekam padi, serutan kayu,
serbuk gergaji dan rumput laut. Fungsi utama bahan pengisi dalam pengangkutan hidup
media bukan air adalah untuk mencegah udang atau lobster hidup agar tidak bergeser dalam
kemasan, menjaga lingkungan suhu rendah agar udang tetap pingsan atau imotil dan memberi
lingkungan udara yang memadai untuk kelangsungan hidup udang atau lobster. Bahan media
kemasan yang digunakan harus memperhatikan kestabilan suhu media kemasan. Suhu media
kemasan harus dapat dipertahankan serendah mungkin mendekati titik imotil. Hal ini
disebabkan suhu media kemasan berperan dalam mempertahankan tingkat terbiusnya udang
atau lobster selama pengangkutan sehingga ikut mempertahankan ketahanan hidup udang
atau lobster dalam media bukan air (Junianto 2003). Menurut Suryaningrum et al. (1994),
suhu akhir media ideal untuk transportasi sistem kering sebaiknya tidak lebih dari 200C.
Bahan pengisi yang paling efektif dan efisien dalam pengangkutan organisme hidup
adalah serbuk gergaji karena teksturnya baik dan seragam. Serbuk gergaji yang akan
digunakan diberi perlakuan terlebih dahulu untuk menghilangkan kotoran atau terpenten
(bau) yaitu dengan pencucian dan perendaman (Junianto 2003).
Secara umum ketebalan serbuk gergaji yang digunakan berkisar antara 0,5 cm sampai
10 cm. Menurut Junianto (2003), pada dasar wadah diisi bahan pengisi yang disebar merata
membentuk lapisan tipis dengan tebal 0,5-1 cm. Menurut Nitibaskara et al. (2006), lapisan
dasar wadah ditaburkan serbuk gergaji dengan tebal 10-15 cm. Menurut Suryaningrum et al.
(2004), di atas koran ditaburi serbuk gergaji dingin dengan ketebalan 5-10 cm, sehingga
kontak langsung antara ikan dan es dapat dihindari.

Menurut Srikirishnadhas dan Kaleemur (1994), penggunaan serbuk gergaji sebagai


media kemasan dapat dikombinasikan dengan jerami atau sisa potongan karung goni. Bahanbahan tersebut sebelum digunakan didinginkan dalam freezer, setelah bahan pengisi disiapkan
maka perlu disiapkan es batu untuk membantu menjaga suhu kemasan tetap rendah. Pada
lapisan dasar kotak pengemas disebarkan serbuk gergaji kira-kira 0,5 cm, kemudian di
atasnya ditempatkan lapisan jerami.
D. Proses Immotilisasi
Menggunakan Suhu Rendah
Imotilisasi (pembiusan) merupakan salah satu metode yang diguanakan untuk
menekan metabolisme ikan sehingga mampu mempertahankan hidup lebih lama dengan
berkurangnya aktivias ikan selama transportasi. Metode ini menggunakan prinsip hibernasi,
yaitu usaha untuk menekan metabolisme lobster sehingga masuk ke dalam metabolisme basal
atau dapat bertahan dalam kondisi minimum (Junianto 2003). Imotilisasi dapat dilakukan
salah satunya dengan menggunakan suhu rendah. Suhu air yang rendah dapat menurunkan
aktifitas dan tingkat konsumsi oksigen ikan (Coyle et al. 2004).
Nitibaskara et al. (2006) menyatakan bahwa pemingsanan dengan suhu rendah dapat
dibagi menjadi dua katagori, yaitu pemingsanan dengan penurunan suhu secara bertahap dan
pemingsanan dengan suhu rendah secara langsung. Pemingsanan udang dengan penurunan
suhu secara bertahap dilakukan dengan cara menurunkan suhu dengan kecepatan 5 0C/jam
hingga mencapai suhu 150C, dan pada suhu ini udang dipertahankan selama 15 menit. Pada
pemingsanan udang dengan suhu rendah secara langsung dilakukan dengan cara memasukkan
udang secara langsung ke dalam air dingin bersuhu 18 0C selama 15 menit. Pada imotilisasi
ikan dengan suhu rendah, suhu diturunkan sedemikian rupa sehingga diperoleh kondisi ikan
dengan aktivitas ikan seminimal mungkin akan tetapi masih dapat hidup dengan sehat setelah
mengalami pembugaran kembali (Wibowo 1993 dalam Prasasti 2010).
Imotilisasi dengan suhu rendah merupakan cara yang paling efektif, ekonomis dan
aman dalam mempersiapkan transportasi lobster air tawar (Suryaningrum et al. 2007). Es
batu sering digunakan sebagai bahan pembius karena harganya yang relaif murah, mudah
didapat dan aman karena tidak mengandung bahan kimia yang dapat membahayakan
manusia. Penurunan suhu dapat dilakukan dengan merendam es batu dalam kantong plastik
pada air bak pemingsanan (Nitibaskara et al. 2006). Suhu dingin merupakan salah satu kunci
dalam transportasi ikan hidup, pada kondisi ini tingkat metabolisme dan respirasi sangat

rendah sehingga ikan atau crustacea dapat diangkut dengan waktu yang lama dan tingkat
kelulusan hidup yang tinggi (Berka 1986, diacu dalam Suryaningrum et al. 2007).
Lama pembiusan yang terjadi pada proses pembiusan berbeda-beda. Hal ini
disebabkan fase panik yang terjadi saat proses pembiusan. Menurut Karnila dan Edison
(2001), fase panik tersebut dipengaruhi oleh suhu pembiusan. Pada fase panik, respirasi akan
meningkat dengan tajam kemudian turun sampai mencapai respirasi terendah yang
menyebabkan ikan pingsan. Tingkat respirasi yang cukup rendah menyebabkan lobster
terganggu keseimbangannya sehingga lobster tidak dapat menyangga tubuhnya sendiri dan
jatuh dengan posisi tubuh miring (Suryaningrum et al. 2007). Pada kondisi shock, ikan
banyak melakukan gerakan yang berlebihan pada saat proses pembiusan. Kondisi shock
tersebut menyebabkan ikan cepat mengalami kematian karena ikan yang stres akan
mengalami peningkatan asam laktat dalam darah. Jika asam laktat terakumulasi dalam darah
cukup tinggi akan mempercepat terjadinya proses kematian (Afrianto dan Liviawaty 1989,
dalam Prasasti, 2010).
Parameter penting dalam pembiusan pada suhu rendah yang cukup berpeluang dalam
menunjang kelulusan hidup ikan adalah metode pembiusan, waktu pembiusan dan suhu
pembiusan yang digunakan (Suryaningrum et al. 1994). Imotilisasi dengan suhu rendah
memiliki keuntungan diantaranya ekonomis karena es mudah didapat dan aman karena tidak
terdapat residu bahan kimia (Suryaningrum et al. 1997). Ada beberapa keuntungan dan
kerugian metode imotilisasi dengan penurunan suhu langsung dan bertahap. Pemingsanan
dengan penurunan suhu secara bertahap dapat menimbulkan stress pada ikan dan
memerlukan waktu yang panjang hingga ikan pingsan, sedangkan dengan penurunan suhu
secara langsung dapat mengurangi stress selama proses pemingsanan dan mempercepat
proses pemingsanan (Nitibaskara et al. 2006).
Tingkat keberhasilan transportasi ikan hidup diukur dari besarnya nilai tingkat
kelulusan hidupnya (survival) atau nilai kematiannya (mortalitas). Pada transportasi ikan
hidup sistem kering, setelah ikan ditransportasikan kemudian ikan disadarkan kembali
(proses pembugaran) dengan aerasi secara terus menerus untuk mengetahui tingkat kelulusan
hidupnya. Proses pembugaran bertujuan untuk memulihkan kembali kondisi ikan. Suhu
media pembugaran disesuaikan dengan habitat ikan (Achmadi 2005).
Beberapa komoditas hasil perikanan yang dapat ditransportasikan dalam keadaan
hidup dan dikemas dalam media tanpa air (transportasi sistem kering) menggunakan metode
pembiusan suhu rendah adalah ikan, lobster dan udang. Udang yang memiliki nilai jual yang
tinggi di Jepang, yaitu Penaeus japonicas, karena udang tersebut ditransportasikan hidup
5

dengan pembiusan suhu rendah dalam kemasan serbuk gergaji dingin (Shigueno 1975, diacu
dalam Salin 2005).
Beberapa Penaeid lainnya diantaranya adalah Penaeus esculentus (Haswell), P.
monodon (Fabricus), P. semisulcatus (De Haan) dan Melicertus (Penaeus) plebejus (Hess)
telah dicoba di Australia sebagai spesies alternatif untuk M. japonicus dalam pemasaran
hidup ke Jepang (Goodrick, Paterson dan Grauf 1995, diacu dalam Salin 2005). Menurut
Salin dan Vadhyar (2001) percobaan penyimpanan hidup P. monodon tanpa media air dengan
suhu pembiusan 14 10C dalam serbuk gergaji dingin telah sukses. Teknologi pengangkutan
hidup yang sama tersebut juga telah dicobakan pada udang air tawar. Udang air tawar hidup
biasanya masih menggunakan media pengangkutan air yang kurang aman, beresiko tinggi
dan kurang efisien. Transportasi dengan sistem kering dapat menjadi pilihan tepat, apabila
kondisi optimalnya diketahui dan merupakan cara yang efisien dan aman meskipun beresiko
tinggi.

Menggunakan Anestesi
Anestesi merupakan suatu kondisi ketika sebagian atau seluruh tubuh kehilangan

kemampuan kesadaran. Hal ini disebabkan oleh pengaruh zat atau obat yang dimasukkan ke
dalam tubuh tersebut mempengaruhi sistem syaraf. Pada bagian tubuh yang diberikan suatu
zat atau obat maka bagian tubuh tersebut akan kehilangan kemampuan untuk merespon
rangsangan dari luar. Selain kehilangan respon, anestesi dapat pula menyebabkan kehilangan
kesadaran. Zat atau obat anestesi dapat dimasukkan ke dalam tubuh dengan cara disuntik,
dihisap, maupun bersinggungan secara langsung dengan anggota tubuh (Furlong 2004 dalam
Nasution 2012).
Anestesi dapat disebabkan adanya pengaruh dari senyawa-senyawa kimia, suhu yang
dingin, arus listrik, dan penyakit. Anestesi yang terjadi pada sistem syaraf pusat
menyebabkan organisme tidak sadar atau pingsan (Achmadi 2005). Pengunaan bahan anestesi
berupa zat anestesi yang diberikan pada ikan bekerja melalui impuls syaraf dengan
menghambat pengiriman ion natrium selektif pada memban syaraf sehingga menurunkan
tingkat metabolisme (Stoskopf 1993 dalam Abid et al 2014). Bahan anstesi yang digunakan
merupakan bahan kimia organic tanman tingkat tinggi hasil metabolit sekunder seperti
saponin dan retenone (Abid et al 2014).
Gangguan keseimbangan ionik yang disebabkan adanya sianida yang akan
menginaktivasi enzim sitokrom dalam sel mitokondria dengan mengikat ion Fe3+/Fe2+ yang
terkandung dalam enzim. Adanya pengikatan ion Fe3+/Fe2+ akan menyebabkan biota mati
6

rasa (pingsan) akibat kinerja syaraf kurang berfungsi. Pembiusan (anestesi) akan
menyebabkan penurunan laju respirasi pada ikan, hal ini sangat menguntungkan dalam
praktek transportasi (Franz, 2004 dalam Nasution, 2012).
Anestesi menurut Mckelvey dan Hollingshead (2003) ada 4 tahapan, tahap pertama
atau sering disebut stadium analgesia, hewan masih sadar tetapi disorientasi dan
menunjukkan sensitivitas terhadap rasa sakit berkurang, respirasi dan denyut jantung normal
atau meningkat, semua reflek masih ada, hewan masih bangun dan dapat juga urinasi,
defekasi. Tahap kedua yaitu kesadaran mulai hilang namun refleks masih ada, pupil
membesar (dilatasi) tetapi akan menyempit (konstriksi) ketika ada cahaya masuk. Tahap
kedua atau stadium eksitasi berakhir ketika hewan menunjukkan tanda-tanda otot relaksasi,
respirasi menurun dan refleks juga menurun. Tahap ketiga atau stadium anestesi, pada
stadium ini biasanya dilakukan operasi. Hewan kehilangan kesadaran, pupil mengalami
konstriksi dan tidak merespon cahaya yang masuk, refleks hilang (refleks palpebrae).
Tahapan keempat adalah pernafasan dan jantung terhenti, dan hewan mati. Indikator tahapan
anestesi antara lain aktivitas refleks (refleks palpebrae, pedal refleks, cornea refleks, refleks
laring, refleks menelan), relaksasi otot, posisi mata dan ukuran pupil, sekresi saliva dan air
mata, respirasi dan denyut jantung.
Menurut Harms (1998), anestesi pada ikan dilakukan untuk pemeriksaan, transportasi,
diagnostik dan operasi. Prosedurnya yaitu menyiapkan air, memeriksa kondisi ikan,
mengistirahatkan ikan. Anestesi untuk ikan biasanya penggunaannya melalui air
(perendaman), dan bisa juga dengan cara anestesi inhalasi (seperti anestesi gas pada
mamalia). Anestesi melalui injeksi efektif digunakan pada mamalia dan tidak efektif pada
ikan. Faktor-faktor yang mempengaruhi respon penggunaan anestetikum antara lain spesies,
kualitas air dan status kesehatan ikan. Berbeda spesies berbeda juga responnya, spesies
dengan berat badan yang berbeda akan menimbulkan respon yang berbeda pula. Ikan dengan
berat badan yang lebih besar akan menimbulkan respon yang lebih efektif. Ikan dengan
lapisan lemak yang tinggi, ikan yang berumur tua, dan ikan betina gravid (berproduksi) akan
memperpanjang durasi dan recovery akan semakin lama apabila menggunakan anestetikum
yang mudah larut seperti MS-222 atau benzocaine. Kualitas air seperti temperatur sangat
mempengaruhi tetapi polanya tidak dapat dipercaya, misalnya MS-222 dan benzocaine
memerlukan suhu tinggi untuk dosis yang tinggi. Keasaman juga mempunyai efek terhadap
respon anestetikum, contohnya sebagian besar anestetikum bekerja pada air laut tetapi
barbiturat bersifat antagonis terhadap ion Ca 2+. Nilai pH juga mempengaruhi ionisasi obat

sehingga efek obat menjadi meningkat. Ikan yang sakit akan menjadi subjek yang jelek pada
proses anestesi (Ferguson 1988).
Anestetikum yang digunakan pada ikan banyak jenisnya, misalnya ethanol, diethyl
ether, halothane, lidocaine, tricaine methanesulfonate (MS-222), eugenol, ketamin,
metomidate, propofol, and carbon dioxide. Dua diantaranya yang sering digunakan sekarang
adalah tricaine methanesulfonate (MS-222) dan eugenol. Isofluran digunakan sebagai
anestesi inhalasi pada mamalia dan burung, dapat juga untuk ikan dengan cara dicampurkan
ke dalam air meskipun ada juga efek sampingnya (Harms 1998).
Berikut adalah klasifikasi respon dan tingkah laku ikan selama anastesi menurut
Bowser (2001).
Tabel 1. Klasifikasi Respon dan Tingkah Laku Ikan selama Pembiusan
Tahapan Sinonim
0
Normal
1

Awal Sedasi

Sedasi total

Kehilangan
sebagian
keseimbangan

Kehilangan
keseimbangan total

Kehilangan refleks

Medulla kolaps
(stadium asphyxia)

Respon tingkah laku ikan


Kesadaran ada; opercular rate dan otot
normal
Mulai kehilangan kesadaran; opercular rate
sedikit menurun; keseimbangan normal
Kehilangan kesadaran total; penurunan
opercular rate; keseimbangan menurun
Sebagian Otot mulai relaksasi; berenang
tidak teratur; peningkatan opercular rate;
bereaksi hanya ketika ada tactile yang kuat
dan rangsangan getaran
Kehilangan keseimbangan dan otot secara
total; lambat tetapi teratur opercular rate;
kehilangan refleks spinal
Kehilangan kesadaran total; opercular
lambat dan tidak teratur; denyut jantung
sangat lambat; kehilangan refleks
Opercular berhenti bergerak; jantung
menahan biasanya diikuti dengan gerakan
cepat.

E. Macam-Macam Metode Penurunan Suhu Rendah


Imotilisasi menggunakan suhu rendah memiliki dua metode yaitu imotilisasi dengan
penurunan suhu bertahap dan imotilisasi dengan penurunan suhu langsung. Penurunan suhu
sampai batas tertentu akan menurunkan tingkat metabolisme dan akhirnya akan menyebabkan
ikan pingsan. Fase pingsan merupakan fase yang dianjurkan untuk pengangkutan ikan, karena
pada fase ini aktivitas ikan relatif akan berhenti (Mc Farland 1959, diacu dalam Achmadi
2005).
8

Penurunan Suhu Secara Bertahap


Metode imotilisasi dengan penurunan suhu secara bertahap, yaitu ikan dimasukkan ke

dalam air yang beraerasi kemudian diimotilisasi dengan menurunkan suhu air secara bertahap
sampai suhu tertentu (Nitibaskara et al. 2006). Pada suhu tertentu yang dikehendaki, ikan
dipertahankan di dalam air selama waktu tertentu sampai ikan imotil. Pada penurunan suhu
bertahap ini ikan secara bertahap direduksi aktivitas, respirasi dan metabolismenya sampai
mencapai titik imotil yang diperlukan (Nitibaskara et al. 2006). Selain itu, pada kondisi imotil
tersebut aktivitas ikan sudah cukup rendah atau bahkan sudah pingsan sehingga mudah
ditangani untuk transportasi (Suryaningrum et al. 2004).
Perubahan perilaku udang windu akibat pembiusan penurunan suhu secara bertahap
hingga mencapai suhu pembiusan terbaik 150C disajikan pada tabel 2.
Tabel 2. Perubahan perilaku udang windu akibat pembiusan penurunan suhu secara bertahap
Waktu (menit)
0
10
19
25
29
37
43
52

Suhu (0C)
26,0
23,5
20,0
18,7
17,5
16,3
15,7
15,0

Kondisi dan aktivitas udang


Udang normal, aktif dan berdiri kokoh
Udang masih berdiri, sebagian mulai lamban
Udang mulai tenang, tidak ada pergerakan
Udang melemah, respon mulai berkurang
Sebagian tenang dan lemah
Respon lemah, mulai limbung, sebagian miring
Udang mulai panik, kaki renang masih bergerak lemah
Udang merebah, semakin lemah, pingsan

Adapun respon fisiologis lobster air tawar terhadap penurunan suhu yang dilakukan
secara bertahap disajikan pada Tabel 3.
Tabel 3. Respon aktivitas fisiologis lobster air tawar pada berbagai suhu

No
1

Suhu (0C)
30,4 25,4

25,4 19,4

19,4 15,4

15,4 12,9

12,9 10,4

Kondisi dan aktivitas udang


Lobster bergerak aktif, kaki jalan, kaki renang dan kaki
capit bergerak aktif, lobster cenderung bergerombol
(normal)
Aktivitas lobster mulai berkurang, kaki jalan, kaki renang
dan kaki capit bergerak perlahan-lahan, ekor melipat ke
dalam, lobster cenderung diam (tenang)
Lobster gelisah, bergerak tidak beraturan dengan
menyentak-nyentakkan tubuhnya mundur ke belakang,
setelah panik lobster tenang kembali, respon terhadap
rangsang lemah (panik)
Lobster mulai hilang keseimbangan, gerakan lobster lemah,
respon terhadap rangsangan lemah, ketika posisi tubuh
dibalik tidak dapat tegak kembali
Lobster hilang keseimbangan, posisi tubuh rebah atau
terbalik, kaki jalan dan kaki renang diam
9

Keseimbangan lobster tidak ada, posisi tubuh terbalik, kaki


jalan, kaki renang dan capit kaku tidak bergerak, ekor melipat
6
10,4 9,8
kea rah abdomen, respon terhadap rangsangan tidak ada
(pingsan)
Sumber: Wibowo et al. (2005), diacu dalam Suryaningrum et al. (2007)
Menurut Setiabudi et al. (1995), perubahan-perubahan tingkah laku tersebut
disebabkan adanya perubahan suhu. Menurut Phillips et al. (1980), diacu dalam
Suryaningrum et al. (1997), laju konsumsi oksigen hewan air akan menurun dengan
menurunnya suhu media. Penurunan konsumsi oksigen pada lobster akan mengakibatkan
jumlah oksigen yang terikat dalam darah semakin rendah. Keadaan ini akan mengakibatkan
suplai oksigen ke jaringan syaraf juga berkurang sehingga menyebabkan berkurangnya
aktivitas fisiologis dan lobster menjadi lebih tenang (Suryaningrum et al. 1997).
Lama pembiusan yang terjadi pada proses pembiusan berbeda-beda. Hal ini
disebabkan fase panik yang terjadi saat proses pembiusan. Menurut Karnila dan Edison
(2001), fase panik tersebut dipengaruhi oleh suhu pembiusan. Ikan sangat sensitif dengan
adanya perubahan suhu air (Subasinghe 1997). Pada fase panik, respirasi akan meningkat
dengan tajam kemudian turun sampai mencapai respirasi terendah yang menyebabkan ikan
pingsan.

Tingkat

respirasi

yang

cukup

rendah

menyebabkan

lobster

terganggu

keseimbangannya sehingga lobster tidak dapat menyangga tubuhnya sendiri dan jatuh dengan
posisi tubuh miring (Suryaningrum et al. 2008).
Pada kondisi shock, ikan banyak melakukan gerakan yang berlebihan pada saat proses
pembiusan. Kondisi shock tersebut menyebabkan ikan cepat mengalami kematian karena ikan
yang stres akan mengalami peningkatan asam laktat dalam darah. Jika asam laktat
terakumulasi dalam darah cukup tinggi akan mempercepat terjadinya proses kematian
(Afrianto dan Liviawaty 1989, diacu dalam Utomo 2001). Faktor lingkungan dapat menjadi
salah satu faktor penyebab stress pada ikan (Lerner 2004).
Parameter penting dalam pembiusan pada suhu rendah yang cukup berpeluang dalam
menunjang kelulusan hidup ikan adalah metode pembiusan, waktu pembiusan dan suhu
pembiusan yang digunakan (Suryaningrum et al. 1994). Imotilisasi dengan suhu rendah
memiliki keuntungan diantaranya ekonomis karena es mudah didapat dan aman karena tidak
terdapat residu bahan kimia (Suryaningrum et al. 1997).

Penurunan Suhu Secara Langsung


Metode imotilisasi dengan penurunan suhu secara langsung, yaitu dilakukan dengan

cara memasukkan ikan hidup dalam media air dingin pada suhu tertentu selama waktu
tertentu sampai ikan imotil. Waktu dan suhu imotilisasi dipengaruhi oleh ukuran, umur dan
10

jenis ikan. Melalui imotilisasi dengan penurunan suhu secara langsung ini ikan akan
mengalami shock dan langsung berada dalam tingkat aktivitas, respirasi dan metabolisme
yang rendah. Selain itu, pada kondisi imotil tersebut aktivitas ikan sudah cukup rendah atau
bahkan sudah pingsan sehingga mudah ditangani untuk transportasi (Nitibaskara et al. 2006).
Berikut adalah contoh tingkah laku ikan mas selama proses pemingsanan dengan suhu
rendah 80C secara langsung dapat dilihat pada tabel 4.
Tabel 4. Tingkah laku ikan mas selama proses pemingsanan dengan suhu rendah 80C
Waktu (menit)
0
5
10

Suhu (0C)
8
8
8

15

20

Kondisi dan aktivitas ikan mas


Aktivitas normal
Ikan kelihatan panik, bergerak tidak beraturan
Ikan shock ditandai dengan gerakan tak terkendali,
kemudian ikan mulai oleng
Ikan rebah disertai operkulum bergerak lambat. Ikan tidak
bergerak jika disentuh
Tidak ada aktivitas, operkulum bergerak lemah disertai
terjadinya kekejangan otot yang mulai kaku

Sumber: Jailani (2000)


Ikan mas yang dipingsankan dengan suhu rendah secara langsung pada suhu 8 0C dan
dikemas dalam styrofoam berukuran 30x30x40 cm3 dengan kepadatan 5 ekor ikan selama 5
jam memiliki tingkat kelulusan hidup 40 % (Jailani 2000). Udang yang dipingsankan pada
suhu 180C secara langsung selama 15 menit memiliki tingkat kelulusan hidup sebesar 40 %
setelah dikemas selama 22 jam (Nitibaskara et al. 2006). Udang windu tambak yang dibius
menggunakan suhu rendah secara langsung pada suhu 17-190C dapat dipertahankan
kelangsungan hidupnya sebesar 93,75 % di dalam media serbuk gergaji dingin dalam uji
transportasi selama 16 jam (Setiabudi et al. 1995). Lobster hijau pasir (Panulirus homarus)
yang dibius menggunakan suhu rendah secara langsung pada suhu 14-15 oC selama 20 menit
dapat bertahan hidup selama 20 jam dengan kelulusan hidup 100 % (Suryaningrum at al.
1994).
Pada proses pembugaran udang dan lobster yang hidup akan berenang, mula-mula
udang atau lobster akan limbung tetapi kondisinya akan normal kembali setelah berada dalam
air selama 30 menit (Suryaningrum et al. 2004). Menurut Achmadi (2005), ikan yang tidak
menunjukkan adanya tanda-tanda pergerakan anggota tubuh setelah 10 menit waktu
pembugaran dianggap tidak lulus hidup.
Ada beberapa keuntungan dan kerugian metode imotilisasi dengan penurunan suhu
langsung dan bertahap. Pemingsanan dengan penurunan suhu secara bertahap dapat
menimbulkan stress pada ikan dan memerlukan waktu yang panjang hingga ikan pingsan,
11

sedangkan dengan penurunan suhu secara langsung dapat mengurangi stress selama proses
pemingsanan dan mempercepat proses pemingsanan (Nitibaskara et al. 2006).

F.Bahan Anastesi yang Digunakan


Zat anestesi alami yang dapat digunakan untuk pembiusan ikan adalah liamarin yang
terkandung pada biji karet, ekstrak tembakau komersial, ekstrak rumput laut Caulerpa
racemosa, dan minyak cengkeh. Ekstrak tembakau komersial mampu memingsankan benih
ikan nila merah dan dapat dipulih sadarkan kembali dalam waktu tertentu, sehingga potensial
digunakan untuk transportasi benih ikan. Pada konsentrasi 99,59; 125,59; 158,14; dan 200
mg/liter ekstrak tembakau komersil dapat memingsankan beih ikan nila dengan kepadatan 15
ekor per 20 liter media, masing-masing dalam waktu 109,70, 120,92, 136,16, dan 148,31
menit (Taurusman, 1996). Cairan ekstrak Caulerpa racemosa,dalam bentuk cair merupakan
antimetabolik alami yang sangat berpengaruh terhadap aktifitas udang windu tambak
(Panaeus monodon). Konsentrasi C.racemosa 13,2% merupakan batas terendah yang dapat
mempengaruhi aktivitas udang, sedangkan 39,6% merupakan batas tertinggi yang masih
dapat ditolerir dan sangat berpengaaruh terhadap aktivitas udang tetapi belum menyebabkan
kematian (Hanum, 2000). Menurut Suryanti (1998), pemingsanan ikan nila merah hidup
dengan menggunakan minyak cengkeh, konsentrasi terbaik adalah 20 ppm yang dapat
memingsankan ikan dalam waktu 35 menit dan lamanya daya tahan hidup dengan kondisi
pingsan dala air bersuhu 90C selama 10 jam. Menurut Kuschinsky dan Lullman, (1973)
beberapa senyawa dikatakan sebagai bahan anastesik bila dapat memberi efek perubahan
yang bersifat balik terhadap sistim syaraf pusat dan menyebabkan hilang kesadaran.
Ferguson (1988) menyatakan bahwa tipe anestesi dari bahan kimia dan anestetikum
yang biasa digunakan antara lain anestesi irigasi atau perendaman, jenis anestetikumnya yaitu
MS-222,

2-phenoxyethanol

dan

benzocaine.

Anestesi

parenteral

contoh

sediaan

anestetikumnya adalah alphaxolone (saffan), propanidid (epontol), sodium pentobarbitone


(Nembutal), ketamin hydrochloride (ketalar). Tipe anestesi yang lainnya yaitu dengan elektrik
anestesi.
Anestetikum yang digunakan pada ikan banyak jenisnya, misalnya ethanol, diethyl
ether, halothane, lidocaine, tricaine methanesulfonate (MS-222), eugenol, ketamin,
metomidate, propofol, and carbon dioxide. Dua diantaranya yang sering digunakan sekarang
adalah tricaine methanesulfonate (MS-222) dan eugenol. Isofluran digunakan sebagai
anestesi inhalasi pada mamalia dan burung, dapat juga untuk ikan dengan cara dicampurkan
ke dalam air (Harms 1998).
12

Tabel 5. Jenis bahan anestesi dan dosis yang diperlukan


No
BAHAN
1
MS-222
2
Novacaine
3
Barbitas sodium
4
Ammobarbital sodium
5
Methyl paraphynol (dormisol)
6
Tertiary amyl alcohol
7
Choral hydrate
8
Urethane
9
Hydroksi quinaldine
10 Thiouracil
11 Quinaldine
12 2-Thenoxy ethanol
13 Sodium ammital

DOSIS
0.05 mg / l
50 mg / kg berat ikan
50 mg / kg berat ikan
85 mg / kg berat ikan
30 mg / l
30 mg / l
3-3.5 g lt
100 mg / l
1 mg / l
10 mg / l
0.025 mg / l
30 40 ml / 100 lt
52 172 mg / l

G. Proses Transportasi
Hal utama yang paling menentukan keberhasilan kegiatan pemanenan ikan adalah
proses transportasi yang sanggup mempertahankan kualitas produk hingga akhir tujuan (Serra
et al. 2011). Selama proses transportasi berlangsung, ikan akan ditempatkan dalam
lingkungan baru yang berlainan dengan lingkungan asalnya disertai perubahan-perubahan
sifat lingkungan yang sangat mendadak. Perubahan lingkungan yang sangat mendadak dapat
mengakibatkan ikan menjadi stres dan mengalami perubahan tingkah laku (hiperaktif)
(Junianto, 2003), sehingga perlu dilakukan teknik dalam proses transportasi. Berikut adalah
proses pengangkutan lobster secara kering:

Sistem pengangkutan kering jarak dekat


Sistem kering untuk jarak dekat membutuhkan bahan-bahan sebagai berikut :
-

Pasir laut halus berdiameter 0,3-0,5 mm.

Styrofoam ukuran (48 x 33 x 28 cm)

Plastic ukuran 0,5-1 lt.

Batu es

Serbuk gergaji

Cara pengangkutan system kering untuk jarak dekat :


-

Lobster hidup ditiriskan kemudian dilumuri pasir halus kering pada bagian
perutnya.

Pada dasar stryrofoam diberi batu es yang telah dibungkus kantong plastik
kemudian dibungkus serbuk gergaji.

13

Di atas bungkusan batu es

ditutupi dengan serbuk gergaji sebanyak 2 lapis,

kemudian lobster disusun berjejer diatasanya.


-

Diatas lobster dilapisi lagi dengan serbuk gergaji.

Demikian seterusnya jajaran lobster dan serbuk gergaji diatur secara berlapis-lapis.

Pada bagian paling atas setelah ditutup serbuk gergaji diletakan batu es yang
dibungkus plastic dan serbuk gergaji.

Selanjutnya box stryrofoam ditutup lalu direkat dengan lakban.

Setiap box stryrofoam diisi lobster sebanyak 5 kg.

Waktu pengangkutan selama 4 jam.

Sistem pengangkutan kering jarak jauh


Sistem pengangkutan kering untuk jarak jauh membutuhkan bahan-bahan sebagai berikut :
-

Serbuk gergaji

Stryrofoam ukuran 48 x 33 x 28 cm.

Plastic ukuran 0.5-1 lt.

Batu es

Oksigen gas

Lakban

Thermometer

Cara pengangkutan system kering untuk jarak jauh :


-

Lobster yang akan ditransportasikan diadaptasikan dalam air laut bersuhu 19 0C


selam 15 menit, penurunan suhu dilakukan dengan menaruh batu es yang telah
dibungkus dengan kantong plastic ke dalam wadah yang berisi lobster hidup,

kecepatan penurunan suhu 2 0C per 10 menit.


Kemudian lobster dikeluarkan dari wadah dan ditiriskan selama 10 menit,

sementara itu boks Styrofoam harus disisapkan.


Pada dasar boks diisi dengan batu es yang dibungkus plastic dan serbuk gergaji.
Diatas batu es tadi ditutupi lembaran serbuk gergaji.
Setelah itu setiap lobster dikeringkan dengan lap, setiap ekor lobster yang telah
kering kemudian dibungkus dengan serbuk gergaji dan disusun berjajar didalam

boks stryrofoam.
Pada bagian atas tumpukan lobster dilapisi dengan serbuk gergaji.
Selanjutnya boks stryrofoam diisi dengan oksigen dan ditutup, lalu direkat dengan

lakban.
Setiap boks dapat diisi 10 kg lobster hidup.
Lama pengangkutan sekitar 8-10 jam.

14

Daftar Pustaka
Abid et al. 2014. Potensi Senyawa Metabolit Sekunder Infusum Daun Durian (Durio
zibethinus) Terhadap Kelulushidupan Ikan NIla (Oreochromis niloticus) Pada
Trasnportasi Ikan Hiu Sitem Kering. Jurnal Vo. 6 no. 1.
Achmadi D. 2005. Pembiusan ikan nila (Oreochromis niloticus) dengan tegangan listrik
untuk transportasi sistem kering [skripsi]. Bogor: Fakultas Perikanan dan Ilmu
Kelautan, Institut Pertanian Bogor.
Arie U. 2000. Pembenihan dan Pembesaran Nila Gift. Jakarta: Penebar Swadaya
Berka, R. 1986. The Transport of Live Fish. A Review . EIFAC Tech. Pap., FAO (48) :
52p.Shigueno, K. 1975. Problem in Prawn Culture. Agriculture Series 19. Rotterdam
15

Bowser, PR. 2001. Anesthetic Options for Fish. Ithaca: International Veterinary Information
Service; AI412.0701
Coyle SD, Durborow RM, Tidwell JH. 2004. Anesthetics in Aquaculture. Southern Regional
Aquaculture Center. Publication No 3900.
Ferguson, H. 1988. Anesthesia and treatment. Proceeding Fish Disease 106 23-27 May 1988.
The University of Sydney: Post Gradute Committee in Veterinary Science University
Of Sydney.
Furlong MW. 2004. Anesthesia. USA: Microsoft Coorporation
Harms, CA. 1998. Anesthesia in fish. Di dalam: Fowler ME and Miller RE. Zoo & Wild
Animal Medicine Current Therapy. Philadelphia: Saunders Company. Hlm: 158-163
Hidayah, A. M. 1998. Studi Penggunaan Gas CO2 sebagai bahan Pembius untuk Transportasi
Ikan Nila Merah (Oreochromis sp). Skripsi. FPIK. IPB. Bogor
Jailani. 2000. Mempelajari pengaruh penggunaan pelepah pisang sebagai bahan pengisi
terhadap tingkat kelulusan hidup ikan mas (Cyprinus carpio) [skripsi]. Bogor:
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.
Junianto. 2003. Teknik Penanganan Ikan. Jakarta: Penebar Swadaya
Karnila R, Edison. 2001. Pengaruh suhu dan waku pembiusan bertahap terhadap ketahanan
hidup ikan jambal siam (Pangasius sutchi F) dalam ransportasi sistem kering. Jurnal
Natur Indonesia III (2): 151-167 (2001).
Kuschinsky, G dan H. Lullman, 1973. Textbook of Marine Farmakologi. Akademic Press.
New York.
Lerner A. 2004. Guidelines for the Use of Fishes in Research. Publications Manager
American Fisheries Society.
Mc Farland W. N. 1959. A Study of Effect of Anastetic on Behaviour and Phsycology of Fish.
Publ. Ins. University of Texas
Mckelvey D, Hollingshead WK. 2003. Veterinary anesthesia and analgesia. United States:
Mosby. 464 hal.
Mangunkusumo
AS.
2009.
Transportasi
Ikan
Hidup.
http://naksara.net/Aquaculture/Application/transportasi-ikan-hidup.html. [01 Januari
2009]
Nasution HS. 2012. Pemingsanan Lobster Air Tawar (Cherax quadricarinatus) Dengan
Ekstrak Akar Tuba (Derris elliptica Roxb. Benth) dan Kelulusan Hidupnya Selama
Penyimpanan Dalam Media Serbuk Gergaji. Skripsi. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

16

Nitibaskara R, Wibowo S, Uju. 2006. Penanganan dan Transportasi Ikan Hidup untuk
Konsumsi. Bogor: Departemen Teknologi Hasil Perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu
Kelautan. Institut Pertanian Bogor.
Prasetyo. 1993. Kajian Kemasan Dingin untuk Transportasi Udang Hidup Secara Kering.
Thesis pada Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi, Fak. Teknologi Pertanian IPB.
Bogor.
Salin KR, Vadhyar-Jayasree K. 2001. Effect of different chilling rates for cold anesthetization
of Penaeus monodon (Fabricus) on the survival, duration and sensory quality under
live storage in chilled sawdust. Aquaculture Research, Volume 32, Issue 2, P: 145.
Salin KR. 2005. Live transportation of Macrobrachium rosenbergii (De Man) in chilled
sawdust. Aquaculture Research, Volume 36, Issue 3, P: 300.
Serra M, Wolkers C, Hoshiba MA, Urbinati EC. 2011. Physiological of piau (Leporinus
friderici, Bloch 1794) to transportation. Revista Brasileira de Zootecnia 40(12):26412645
Setiabudi. E. Y, Sudrajat, M, D. Erlina dan S. Wibowo. 1995. Studi pengguna metoda
pembiusan langsung dengan suhu rendah dalam transportasi sistem kering udang
windu tambak (Panaeus monodon). J. Penelitian Pasca Panen Perikanan (84):8-21.
Srikirishnadhas B, Kaleemur RMd. 1994. Packing of live lobster the Indian experience.
Infofish International (81): 6-21. India.
Subashingshe, S. 1997. Live Fish Handling and Transportation. INFOFISH International 2:
39 43.
Sufianto B. 2008. Uji transportasi ikan mas koki (Carassius auratus Linnaeus) hidup sistem
kering dengan perlakuan suhu dan penurunan konsentrasi oksigen [tesis]. Bogor:
Program Pasca Sarjana, Institut Pertanian Bogor.
Suryanti. 1998. Pemingsanan Ikan Nila Merah (Oreochromis sp) Hidup dengan Perlakuan
Suhu Rendah dan Minyak Cengkeh dalam Transportasi Sistem Kering. Skripsi. FPIK.
IPB. Bogor.
Suryaningrum TD, Setiabudi E, Muljanah I, Anggawati AM. 1994. Kajian penggunaan
metode pembiusan secara langsung pada suhu rendah dalam transportasi lobster hijau
pasir (Panulirus homarus) dalam media kering. Jurnal Penelitian Pasca Panen
Perikanan 79: 56-72.
Suryaningrum TD, Setiabudi E, Erlina MD. 1997. Pengaruh penurunan suhu bertahap
terhadap aktivitas dan sintasan lobster hitam (Panulirus penicullatus) selama
transportasi sistem kering. Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia 2: 63-70.
Suryaningrum TD, Bagus SSBU. 1999. Pengaruh suhu media serbuk gergaji dingin terhadap
sintasan udang windu (Penaeus monodon) dalam kemasan kering. Di dalam:
Penelitian dan Diseminasi Ekologi Budi Daya Laut dan Pantai. Prosiding Seminar

17

Nasional; Jakarta, 2 Desember 1999. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan


Pertanian. hlm 325-334.
Suryaningrum TD, Syamsidi, Ikasari D. 2007. Teknologi penanganan dan transportasi lobster
air tawar. Squalen. Vol 2 No. 2.
Suryaningrum TD, Ikasari D, Syamsidi. 2008. Pengaruh kepadatan dan durasi dalam kondisi
transportasi sistem kering terhadap kelulusan hidup lobster air tawar (Cherax
quadricarinatus). Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan 2:
171-181.
Taurusman, A. A. 1996. Toksisitas dan Daya Anestesi Ekstrak Tembakau Komersil
(Nicotiana tabacum) terhadap Benih Ikan Nila Merah. Sripsi. FPIK. IPB. Bogor
Utomo SP. 2001. Penerapan teknik pemingsanan menggunakan bahan anestetik alga laut
Caulerpa sp. dalam pengemasan ikan kerapu (Epinephelus suillus) hidup tanpa media
air [skripsi]. Bogor: Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.
Wibowo S. 1993. Penerapan Teknologi Penanganan dan Transportasi Ikan Hidup di
Indonesia. Jakarta: Sub Balai Penelitian Perikanan Laut, Departemen Kelautan dan
Perikanan
Wibowo, S. 2001. Transportasi udang hidup sistem kering. Info Budidaya. BPPL Slipi.
Jakarta.

18