Anda di halaman 1dari 66

GANGGUAN NAFAS PADA

NEONATUS

KELOMPOK 5A

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS KRISTEN INDONESIA

2. GANGGUAN PERNAFASAN

TIU :

Mampu mendiagnosis dan melakukan


penatalaksanaan gawat nafas (GN) pada
neonatus

TIK:
1.
2.
3.

Menyebutkan defenisi GN (C1 )


Menyebutkan 4 penyebab GN (C1)
Mengenal 4 tanda tanda klinik GN (C5,P3)

4. Menyebutkan 2 pemeriksaan lanjutan yang


diperlukan pada penatalaksanaan GN(C1)
5. Menentukan indikasi untuk merujuk pasien
(C2,P2)
6. Memberikan pengobatan awal sebelum merujuk
pasien ke RS pembina (C3,P3,A3)
7. Menyebutkan prognosis (C1)

KASUS 2
GANGGUAN NAFAS
Neonatus

perempuan lahir dari


seorang ibu dengan kehamilan 34
minggu,spontan, nangis merintih,
pernafasan cuping hidung,sianosis
sircum oral, sesak nafas, retraksi
intercostal, , berat badan lahir 1900 gr,
pemeriksaan x ray thoraks ditemukan
gambaran retikulo granuler

TUGAS
JELASKAN :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.

DIAGNOSIS
ETIOLOGI
FAKTOR RESIKO
EPIDEMIOLOGI
ANAMNESIS
PEMERIKSAAN FISIK
PATOLOGI
PEMERIKSAAN PENUNJANG
TATALAKSANA
KOMPLIKASI
PROGNOSIS

IDENTITAS PASIEN
Nama
:
Tanggal lahir
:
Umur
:
Jenis kelamin : perempuan
Alamat
:
Agama
:
Pendidikan
:
Pembebanan biaya :
Tanggal masuk :

RIWAYAT KEHAMILAN

Perawatan antenatal :
Trimester I
Trimester II
Trimester III
Penyakit kehamilan :

RIWAYAT KELAHIRAN

Kelahiran :
Tanggal Lahir :
Penolong Persalinan :
Cara Persalinan : Spontan
Penyulit :
Masa Gestasi : 34 minggu
Keadaan Bayi
Berat Badan Lahir : 1900 gr
Panjang Badan :
Lingkar Kepala :
Keadaan Umum : Tidak Menangis, Sesak, Sianosis

ANAMNESIS
Keluhan Utama
:menangis merintih,
pernafasan cuping
hidung
Keluhan Tambahan
:sesak dan sianosis
sircum oral, retraksi
intercostal
Riwayat Perjalanan Penyakit
:
Riwayat Penyakit Dahulu :
Riwayat Penyakit Keluarga :

PEMERIKSAAN FISIK
Pemeriksaan umum
Keadaan

umum
Kesadaran:

Tanda-Tanda Vital
Frekuensi nadi
Frekuensi napas
Suhu tubuh
:

:
:

Data Antopometri
Berat Badan :
Panjang Badan
Status Gizi
:

PEMERISKAAN SISTEM

Kepala
Bentuk :
Rambut dan Kulit Kepala

Mata :
Leher :
THT

Telinga
Hidung
Mulut
Tonsil
Faring

:
:
:
:
:

Abdomen
Inspeksi :
Palpasi :
Perkusi :
Auskultasi :
Anus dan Rektum :
Genitalia
:

THORAKS
Paru

Jantung

Inspeksi :

Palpasi :

Perkusi :

Auskultasi :

Inspeksi :
Palpasi :

Perkusi :
Auskultasi :

Pemeriksaan X-Ray Thorax ditemukan


gambaran retikulo granuler

ANGGOTA GERAK
Atas
Kiri :
Kanan :
Bawah
Kiri :
Kanan :
Tulang Belakang :

Rangsangan meningen
Kaku kuduk
Brudzinski I
Bruszinski II
Kernig
Laseque
Refleks Patologis
Babinski
Klonus Kaki
Klonus Lutut
Chaddock
Gordon
Schaeffer

Working
Diagnosis

GANGGUAN
NAFAS

DIAGNOSIS GANGGUAN
NAPAS NEONATUS

Ditegakkan secara klinis maupun analisa gas darah


( blood gas analysis)
Perhitungan indeks oksigenasi beratnya
hipoksemia
JIKA :
Gejala pernafasan yang menonjol tetapi tidak
menderita gangguan nafas kemungkinan asidosis
metabolik, DKA
Gejala pernafasan berat tanpa distress respirasi
kemungkinan hipoventilasi sentral akibat intoksikasi
obat / infeksi

ETIOLOGI GANGGUAN
NAFAS NEONATUS

ETIOLOGI

Obstruksi jalan napas


Trakhea
Penyebab pulmonal
Penyebab non pulmonal

ETIOLOGI

Obstruksi jalan napas


Nasal atau nasofaringal : obtruksi koana, edema
nasalis
Rongga mulut : makroglosi atau mikrognati
Leher : struma kongenital
Laring : stenosis subglotik

Trachea

Trakheomalasia
Fistula trakheoesofagus
Stenosis trakhea
Stenosis bronchial

ETIOLOGI
Penyebab pulmonal
Aspirasi mekonium atau darah
Respiarory distress syndrome : RDS = Penyakit membran hialin
Atelektasis
Kebocoran udara : pneumotoraks, pnemomediastinum, emfisema
pulmonalis interstitial
Pneumonia
Kelainan kongenital : hernia diafragmatika

Penyebab non pulmonal

Gagal jantung kongestif


Penyebab metabolik : asidosis, hipoglikemik, hipokalsemia
Hipertensi pulmonal menetap
Hipotermia
Bayi dari ibu dengan DM
Perdarahan susunan saraf pusat

FAKTOR RESIKO

Faktor
Resiko

Paru bayi yang secara


biokimiawi masih imatur
dengan kekurangan
surfaktan yang melapisi
rongga alveoli

kehilangan darah dalam


periode perinatal

aspirasi mekonium
Depresi neonatal
(kegawatan neoatal):
pnemotoraks akibat
tindakan resusitasi

hipertensi pulmonal
dengan pirau kanan ke
kiri yang membawa darah
keluar dari paru

Faktor
Resiko

Bayi dari ibu


DM

terjadi respirasi
distress akibat
kelambatan
pematangan paru

Bayi lahir
dengan
operasi sesar

terlambatnya
asorpsi cairan paru

Bayi lahir dari ibu yang


menderita demam,
ketuban pecah dini, air
ketuban yang berbau
busuk

menimbulkan
pneumonia
bakterialis atau
sepsis

EPIDEMIOLOGI GANGGUAN
NAFAS NEONATUS

Pada suatu penelitian epidemiologi gagal nafas di


Amerika Serikat, insidensi gagal napas di Amerika
adalah 18 per 1000 kelahiran hidup
Meskipun insidensinya lebih tinggi pada bayi
dengan berat badan lahir rendah, sepertiga kasus
terjadi pada bayi dengan berat badan normal.
Insidensi tertinggi terdapat pada ras kulit hitam
dan sangat berhubungan dengan kemiskinan.

Di Indonesia, sepertiga dari kematian bayi terjadi pada bulan


pertama setelah kelahiran, dan 80% diantaranya terjadi pada
minggu pertama dengan penyebab utama kematian
diantaranya adalah infeksi pernafasan akut dan komplikasi
perinatal.
Pada suatu studi kematian neonatal di daerah Cirebon tahun
2006 disebutkan pola penyakit kematian neonatal 50%
disebabkan oleh gangguan pernapasan meliputi asfiksia bayi
baru lahir (38%), respiratory distress 4%, dan aspirasi 8%.3,4
Penyakit Membran Hialin (PMH)

60-80

% pada bayi UK <27 minggu


15-30 % pada bayi UK 32-36 minggu
5% pada bayi UK >37 minggu

ANAMNESIS GANGGUAN
NAPAS NEONATUS

ANAMNESIS ANTENATAL
a.

Keluhan Utama

b.

Identitas Ibu

c.

Hal-hal yang berkaitan dengan fungsi reproduktif


.Umur

ibu

.Paritas
.HPHT
.Lama

haid

.Siklus
.Jenis

ini

haid

kontrasepsi yang digunakan sebelum kehamilan

d.

Hal-hal yang berkaitan dengan kehamilan sekarang


. Gerakan
. Hal

e.

janin

yang dirasakan akibat perkembangan kehamilan

. Keadaan

patologis

. Keadaan

non obstetrik yang mempengaruhi kehamilan

Riwayat Obstetrik
. Berapa

kali hamil

. Berapa

kali melahirkan

. Berapa

kali abortus

. Hasil

kehamilan: kurang/lebih bulan, BBLR, lahir mati, lahir

tidak langsung menangis, dll.


. Riwayat

kelahiran kembar

Anamnesis Gangguan Nafas


Anamnesis mengenai riwayat keluarga , maternal,
prenatal, intrapartum :
Prematuritas, sindrom gangguan napas, sindrom
aspirasi mekonium, Infeksi : pneomonia, displasia
pulmoner, trauma persalinan sungsang, kongesti
nasal, depresi susunan saraf pusat, perdarahan
susunan saraf pusat, paralisis nervus frenikus,
takikardi/bradikardi, depresi neonatal, tali pusat
menumbung.
bayi lebih bulan atau suhu yang tidak stabil

Gangguan SSP : tangis melengking, hipertoni,


flasiditas, atonia, trauma, miastenia
Kelainan kongenital : arteri umbilikalis tunggal,
anomali kongenital lain : anomali kardiopulmonal,
abdomen cekung pada hernia diafragmatika, paralisis
erb
Diabetes pada ibu , perdarahan antepartum pada
persalinan kurang bulan, partus lama, kulit ketuban
pecah dini, oligohidroamnion, penggunaan obat
berlebih

PEMERIKSAAN FISIK
GANGGUAN NAPAS
NEONATUS

Gejala klinik gangguan napas berupa :


Merintih atau grunting tetapi warna kulit masih
kemerahan, merupakan gejala yang menonjol
Sianosis
Retraksi
Tanda obstruksi saluran nafas mulai dari hidung :
atresis koanae, ditandai dengan sulit memasang pipa
NGT melalui hidung
Air ketuban bercampur mekonium atau pewarnaan
hijau kekuningan pada tali pusat
Abdomen mengempis

PATOFISIOLOGI GANGGUAN
NAFAS NEONATUS

PERKEMBANGAN PARU NORMAL


STADIUM

1. Pseudoglandular (5-17 minggu)


Terjadi perkembangan percabangan bronkhis dan tubulus asiner

2. Kanalikuler (16-26 minggu)


Terjadi proliferasi kapiler dan penipisan mesenkhim
Diferensiasi pneumosit alveolar tipe II sekitar 20 minggu

3. Sakuler (24-38 minggu)


Terjadi perkembangan dan ekspansi rongga udara
Awal pembentukan septum alveolar

4. Alveolar (36 minggu lebih 2 tahun setelah lahir)


Penipisan septum alveolar dan pembentukan kapiler baru

SURFAKTAN PARU
disekresi oleh pneumosit alveolar tipe II dan
myelin tubuler
Kadar surfaktan paru matur biasanya muncul
sesudah UK 35 minggu
Sintesis bergantung suhu,ph dan perfusi normal
Unsur :

dipalmitylphosphatidylcholine(DPPC)/lesitin
Fosfatidilgliserol

Apoprotein/protein
kolesterol

surfaktan

Untuk mengurangi tegangan permukaan dan


membantu mempertahankan stabilitas alveolar
dengan jalan mencegah kolapsnya ruang udara
kecil pada akhir ekspirasi.

PROTEIN SURFAKTAN YANG LAIN


Ada 3 jenis protin utama lain yang dibentuk di
dalam pneumosit tipe II dan disekresi
bersamaan dengan komponen fofolipid
surfaktan : SP-A,SP-B dan SP-C
SP-A : fungsi imuno regulator
SP-A + SP-B : untuk pembentukan myelin
tubuler
Ketiganya mempertahankan myelin tubuler dan
surfaktan lapis tunggal terhadap pengikisan
akibat kotaminasi dengan protein plasma

SURFAKTAN
KURANG

GANGGUAN
METABOLISM
E SELULER

ATELEKTAKS
IS
PROGRESIF

HIPOPERFUS
I ALVEOLUS

HIPOVENTIL
ASI

pCO2,pO2,
pH

VASOKONSTR
IKSI PARU

SHOCK
HIPOTENSI

TAKIPNE
SEBENTAR
ASFIKSIA
NEONATAL
HIPOTERMI
APNE

Bayi
prematur

Alveoli masih
kecil

Paru-paru
sulit berkembang

Dinding thorak
masih
lemah

Produksi surfaktan
Kurang sempurna
Kolaps pada
alveolus
Paru-paru
kaku
Daya pengembangan Pernapasan menjadi Shunting intra hipoventilasi
Paru <<
berat
Pulmonal <<
Asidosis
respiratorik

Bayi lahir
premature

Inadekuat
surfaktan
Alveolus
kolaps
Ventilasi
berkurang

hipoksia
Cedera paru

Peningkatan
usaha napas

edema

takipnea
Refleks
hisap
menurun
Intake
tidak
adekuat
Kekurang
an nutrisi

Lapisan lemak
belum
Terbentuk pada
kulit
Resiko gangguan
Termoregulasi : hipotermia
Pembentuka
n membrane
hialin
Mengendap di alveoli

Pola napas
tidak efektif
Penguapan
meningkat

Resiko
kekurangan
volume cairan

Pertukaran gas
terganggu

PEMERIKSAAN PENUNJANG
GANGGUAN NAFAS
NEONATUS

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan
Penunjang

Analisis Gas
Darah

Pemriksaan
Laboratorium

Pemeriksaan
Radiologi

Elektrolit

Pemeriksaan
Jumalah Sel
Darah Merah

ANALISIS GAS DARAH

PaCO2 > 50mmHg


PaO2 < 60mmHg
Saturasi oksigen arterial < 90%

PEMERIKSAAN LABORATORIUM
Elektrolit

Pengecekan
Kadar Serum
Bikarbonat
Pengecekan
Kadar Glukosa
Darah

Jumalah Sel darah Merah

Polisitemia

GAMBARAN PEMRIKSAAN
RADIOLOGI
Der

Berat/Ring Temuan pada pemeriksaan

ajat an

radiologi toraks

Ringan

Kadang normal atau gambaran


granuler, homogen, tidak ada air
bronchogram

II

Ringan
Sedang

Seperti di atas plus gambaran air


bronchogram

III

Sedang
Berat

Seperti di atas plus batas jantung


kabur

IV

Berat

White Lung : paru putih

PEMERIKSAAN RADIOLOGI

PENATALAKSANAAN
GANGGUAN NAFAS
NEONATUS

TATALAKSANA GANGGUAN NAPAS


PADA BAYI BARU LAHIR
1.
2.
3.
4.
5.

Manajemen spesifik gangguan nafas berat


Manajemen gangguan napas sedang
Manajemen gangguan napas ringan
Manajemen kelainan jantung kongenital
Manajemen apnu

1. MANAJEMEN SPESIFIK GANGGUAN NAPAS BERAT

Pemberian O2 dengan kecepatan aliran sedang


Tangani kemungkinan besar sepsis
Perburukan (sianosis sentral) naikkan pemberian O2 kecepatan aliran
tinggi menetap rujuk ke RS rujukan yang memiliki ventilator mekanik
Nilai kondisi bayi 4 kali setiap hari
Perbaikan (frekuensi napas turun, tarikan dada berkurang, warna kulit
membaik) kurangi pemberian O2 secara bertahap

1. MANAJEMEN SPESIFIK
GANGGUAN NAPAS BERAT
Mulai pemberian ASI melalui pipa lambung
Jika sudah tidak perlu O2 lagi mulai dilatih
menyusu tidak bisa ASI peras
Pantau dan catat setiap 3 jam mengenai:
Frekuensi napas
Adanya tarikan dinding dada atau suara merintih saat
ekspirasi
Episode apnu

1. MANAJEMEN SPESIFIK
GANGGUAN NAPAS BERAT
Periksa kadar glukosa darah sekali sehari sampai
setengah kebutuhan minum dapat dipenuhi secara oral
Amati selam 24 jam setelah pemberian AB dihentikan
Jika bayi tampak kemerahan tanpa terapi O2 selama 3
hari, minum baik, tidak ada masalah lain yang
memerlukan perawatan RS bayi dapat dipulangkan

2. MANAJEMEN SPESIFIK
GANGGUAN NAPAS SEDANG

Pemberian O2 kecepatan
aliran sedang

Jika ada tanda:

Bayi jangan diberikan


minum

Suhu aksiler < 34C atau > 39C


Air ketuban bercampur mekonium
Riwayat infeksi intrauterin,
demam
Curiga infeksi berat
Ketuban pecah dini (>18 jam)

Jika suhu aksiler < 34C atau 37.5


39 C tangani suhu abnormal,
nilai ulang setelah 2 jam

Jika suhu masih belum stabil ambil sampel


darah terapi AB (untuk kemungkinan
besar sepsis)
Jika tidak ada tanda ke arah sepsis Nilai
kembali bayi setelah 2 jam tanda tanda
perburukan terapi untuk kemungkinan
besar sepsis

Tanda tanda perbaikan (frekuensi


napas menurun, tarikan dinding
dada/suara merintih berkurang)
kurangi terapi O2 secara bertahap

3. MANAJEMEN SPESIFIK
GANGGUAN NAPAS RINGAN

Memburuk terapi Kemungkinan


besar
besar sepsis,
sepsis, tangani
tangani gangguan
gangguan
napas
napas sedang/berat
sedang/berat

Berikan ASI bila bayi mampu


mengisap
mengisap
tidak
tidak bisa
bisa
ASI
ASI
peras
peras

Membaik
Membaik

Kurangi
Kurangi pemberian
pemberian O2
O2 secara
secara
bertahap
bertahap

Amati
Amati pernapasan
pernapasan bayi
bayi setiap
setiap 2
2
jam
jam selama
selama 6
6 jam
jam

Amati
Amati selama
selama 24
24 jam
jam berikutnya
berikutnya

frekuensi napas menetap (30 60


kali/menit), tidak ada tanda sepsis,
tidak
tidak ada
ada masalah
masalah lain
lain yang
yang
memerlukan
perawatan
memerlukan perawatan RS
RS
bayi
bayi
dapat dipulangkan

4. MANAJEMEN KELAINAN
JANTUNG KONGENITAL
Berikan O2 kecepatan aliran
maksimal

Berikan ASI eksklusif tidak


bisa ASI Peras
Bila memungkinkan kr RS
rujukan atau Pusat Pelayanan
Spesialis untuk terapi definitif

5. MANAJEMEN APNU
Amati bayi secara ketat, bila perlu rangsang pernapasan bayi
dengan mengusap dada/punggung gagal resusitasi dengan
balon dan sungkup
Bila bayi mengalami episode apnu > 1 kali sampai membutuhkan resusitasi tiap
jam jangan beri minum. Pasang jalur IV. Berikan cairan IV kebutuhan
rumatan per hari
Bila tidak mengalami episode apnu dan tidak memerlukakan resusitasi selama 6
jam diperbolehkan menyusu

Lakukan perawatan lekat atau kontak kulit bayi dan ibu bila
memungkinkan
Ambil sampel darah untuk pemeriksaan kultur dan sensitivitas

Nilai kondisi bayi 4 kali setiap hari

5. MANAJEMEN APNU

Amati bayi selama 24 jam


seteleh pemberian AB
dihentikan
Jika tidak ada apnu selama 7 hari,
bayi minum dengan baik, tidak ada
masalah yang memerlukan perawatan
di RS bayi dapat dipulangkan
*Untuk

bayi sangat kecil (BBL < 1500 gram atau umru kehamilan < 32
minggu) serangan apnu bisa menetap berikan Teofilin dosis awal 5
mg/kg per oral dilanjutkan 2 mg/kg tiap 8 jam selam 7 hari tidak
ada/tidak bisa Aminofilin dosis awal 6 mg/kg IV diteruskan 2 mg/kg IV
tiap 8 jam selama 7 hari

PRIORITAS MANAJEMEN DAN


EVALUASI BAYI DENGAN GANGGUAN
NAPAS

Prioritas awal
Ventilasi

Sirkulasi

Koreksi
asidosis
metabolik

Jaga
kehangatan
suhu bayi
sekitar 36.5C
36.8C
untuk
mencegah
vasokonstriksi
perifer

Mencari penyebab distres


respirasi

Terapi
pemberian
surfaktan

Terapi
suportif (bila
tidak tersedia
fasilitas NICU
segera rujuk
ke rumah
sakit yang
tersedia
NICU)

PENCEGAHAN
Perhatian langsung harus diberikan untuk mengantisipasi dan
mengurangi komplikasi dan juga harus diupayakan strategi
pencegahan persalinan kurang bulan semaksimal mungkin
Pemberian terapi steroid antenatal harus diberikan kepada ibu
yang terancam persalinan kurang bulan

Melakukan resusitasi dengan baik dan benar

Diagnosis dini dan pengelolaan yang tepat, terutama pemberian


surfaktan bila memungkinkan

KOMPLIKASI GANGGUAN
NAFAS NEONATUS

KOMPLIKASI
Jika tidak ditangani secara cermat
Kematian

Pemberian Surfaktan

Bradikardi
Hipoksemia
Hipo atau Hiperkarbia
Apnea

Perubahan perfusi serebral


Bayi yang sangat prematur redistribusi yang mendadak dari
aliran darah paru kedalam sirkulasi otak diatasi dengan
menghentikan pemberian surfaktan dan meningkatkan aliran
oksigen dan ventilasi.

PROGNOSIS GANGGUAN
NAFAS NEONATUS

PROGNOSIS
Tergantung latar belakang etiologi gangguan
napas.
Prognosis baik bila gangguan napas akut dan
tidak berhubungan dengan keadaan hipoksemia
yang lama.

BY :
KELOMPOK 5A

TERIMA KASIH