Anda di halaman 1dari 13

Post operatif & RR

PERAN PERAWAT PASCA OPERATIF


1. Komunikasi dari informasi intraoperatif :
a. Menyebutkan nama pasien
b. Menyebutkan jenis pembedahan yang dilakukan
c. Menggambarkan faktor-faktor intraoperatif (pemasangan drain/kateter, dll)
d. Menggambarkan keterbatasan fisik
e. Melaporkan tingkat kesadaran pasca operatif
2. Pengkajian pasca operatif di ruang pemulihan
Menentukan respon langsung pasien terhadap intervensi pembedahan.

3.
a.

Unit
Mengevaluasi

efektivitas

dari

asuhan

Bedah
keperawatan

di

ruangan

operasi

b. Menentukan tingkat kepuasan pasien dengan asuhan yang diberikan selama periode peri
operatif
c.

Mengevaluasi

d.

produk-produk

yang

Menentukan

e.

Membantu

digunakan
status

pasien

di

ruang

operasi

psikologis

dalam

4.

pada

pasien

perencanaan

pemulangan

Di

rumah/klinik

a. Gali persepsi pasien tentang pembedahan dalam kaitannya dengan agen anesthesi, dampak
pada
citra
tubuh,
penyimpangan,
immobilisasi
b.

Tentukan

persepsi

keluarga

tentang

pembedahan.

PEMINDAHAN

PASIEN

1.

Pertimbangkan

2.

Posisi

tidur

letak
tidak

insisi,

perubahan

menyumbat

drain

vaskuler,
atau

dan
selang

pemajanan
drainage

3.
4.

Pemindahan
Gown

yang

5.
6.

dilakukan

basah

harus

Gunakan
perlunya

Pertahankan
Pasang

segera

perlahan

diganti

pengikat

pengaman

dengan

yang
di

cermat

gown

kering

atas

lutut

dan

dan

di

PERAWATAN

dan

ringan

keselamatan

pagar

RUANG
Recovery

dengan

selimut

Pertimbangkan

7.
8.

harus

kedua

sisi

siku

kenyamanan
tempat

PASCA
Room

tidur

ANESTHESIA

Recovery Room (RR) adalah suatu ruangan yang terletak di dekat kamar bedah, dekat dengan
perawat bedah, ahli anesthesia dan ahli bedah sendiri, sehingga apabila timbul keadaan gawat
pasca-bedah,
klien
dapat
segera
diberi
pertolongan.
Selama belum sadar betul, klien dibiarkan tetap tinggal di RR. Setelah operasi, klien diberikan
perawatan yang sebaik-baiknya dan dirawat oleh perawat yang berkompeten di bidangnya (ahli
dan
berpengalaman).
Ruang pemulihan hendaknya diatur agar selalu bersih, tenang, dan alat-alat yang tidak berguna
disingkirkan. Sebaliknya, semua alat yang diperlukan harus berada di RR. Sirkulasi udara harus
lancar dan suhu di dalam kamar harus sejuk. Bila perlu dipasang AC.
Bila pengaruh obat bius sudah tidak berbahaya lagi, tekanan darah stabil-bagus, perafasan lancaradekuat dan kesadaran sudah mencukupi (lihat Aldered Score), barulah klien dipindahkan ke
kamarnya
semula
(bangsal
perawatan).
SYARAT
RUANGAN
1.
2.

Tenang,

bersih

Warna

dan

bebas

ruangan

dari

peralatan

lembut

yang
dan

tidak

dibutuhkan
menyenangkan

3.

Pencahayaan

tidak

langsung

4.

Plafon

kedap

suara

5. Peralatan yang mengontrol atau menghilangkan suara (ex : karet pelindung tempat tidur
supaya
tidak
mengeluarkan
suara
saat
terbentur)

6. Tersedia peralatan standart : alat bantu pernafasan; oksigen, laringoskop, set trakeostomi,
peralatan
bronkial,
kateter,
ventilator
mekanis
dan
perlatan
suction)
7. Peralatan kebutuhan sirkulasi : aparatus tekanan darah, peralatan parenteral, plasma ekspander,
set
intravena,
defibrilator,
kateter
vena,
dan
tourniquet
8.

Balutan

9.

Set

bedah,

narkotik

kateterisasi

dan
dan

medikasi

kedaruratan

peralatan

drainage

10. Tempat tidur pasien yang dapat diakses dengan mudah, aman dan dapat digerakkan dengan
mudah
11.

Suhu

22.2oC

ruangan

dengan

berkisar

ventilasi

antara
ruangan

20
yang

CONTENT

baik.
(ISIRR)

1.

Perawat

2.

Ahli

3.

Alat

anesthesia

dan

pemantau

TUGAS

dan

PERAWAT

ahli

bedah

peralatan

khusus.

DI

RR

1. Selama 2 jam pertama, periksalah nadi dan pernafasan setiap 15 menit, lalu setiap 30 menit
selama 2 jam berikutnya. Setelah itu bila keadaan tetap baik, pemeriksaan dapat diperlambat.
Bila tidak ada petunjuk khusus, lakukan setiap 30 menit. Laporkan pula bila ada tanda-tanda
syok,
perdarahan
dan
menggigil.
2.

Infus,

kateter

dan

drain

yang

terpasang

perlu

juga

diperhatikan

3. Jagalah agar saluran pernafasan tetap lancar. Klien yang muntah dimiringkan kepalanya,
kemudian bersihkan hidung dan mulutnya dari sisa muntahan. Bila perlu, suction sisa muntahan
dari
tenggorokan.
4. Klien yang belum sadar jangan diberi bantal agar tidakmenyumbat saluran pernafasan. Bila
perlu, pasang bantal di bawah punggung, sehingga kepala berada dalam sikap mendongak. Pada

klien dengan laparatomi, tekuk sedikit lututnya agar perut menjadi lemas dan tidak
merenggangkan
jahitan
luka.
5.

Usahakan

agar

klien

bersikap

tenang

dan

rileks.

6. Tidak perlu segan untuk melaporkan semua gejala yang perawat anggap perlu untuk
mendapatkan
perhatian,
termasuk
gejala
yang
tampaknya
tidak

berbahaya.

KRITERIA

PEMULIHAN

PASCA

OPERASI

(Aldered

Score)

AREA
POIN
SAAT
SETELAH

PENGKAJIAN
NILAI
PENERIMAAN

1
2
3

jam
jam
jam

Pernafasan
v
v

Kemampuan
Upaya

untuk
bernafas

>80%

upaya

50%

dari

<50%

dari

dari

Respon

atau

batuk

membebat)

pra-anesthetik
tingkat

tingkat

dan

pra

0
Sistolik
:

pra-anesthetik
anesthetik

Arteri

tingkat

80%

dalam

spontan

Tekanan

Tingkat
v

(dyspnea

ada

Sirkulasi
v

dengan

terbatas

Tidak

bernafas

kesadaran
secara

verbal

terhadap

pertanyaan/terorientasi

:
terhadap

tempat

Terbangun

Tidak

ketika

dipanggil

memberikan

respon

namanya

terhadap

perintah

Warna

v
v

Warna
Warna

dan

kulit

penampilan

berubah

pucat,

Sianosis

secara

spontan

Kemampuan

untuk

Kemampuan
Tidak

keputihan,

ikterik

untuk

mampu

atau

atas
semua

mengontrol

perintah

ekstremitas

menggerakkan

untuk

tangan

PENGKAJIAN

2
setiap

ekstremitas

Diagnosis
Kondisi

medis
umum

dan

:1

ekstremitas

pasien,

kepatenan

:
:

OPERATIF
jenis

perawat
point

POST

1
0

keluar

Tanda
Jumlah

2.

kehitaman,

menggerakkan

Waktu

1.

otot

Bergerak

normal

jelas

Aktivitas

agak

kulit

pembedahan
jalan

nafas,

SEGERA
yang

dilakukan

tanda-tanda

vital

3. Anesthetik dan medikasi lain yang digunakan (mis : narkotik, relaksan otot, antibiotik)
4. Segala masalah yang terjadi selama fase pembedahan yang sekiranya dapat mempengaruhi
perawatan
pasca-operatif
(Ex
:
hemorrhagi,
syok,
dan
henti
jantung)
5. Patologi yang dihadapi (pemberitahuan kepada keluarga apabila ditemukan adanya keganasan)

6.

Cairan

yang

diberikan,

7.

Segala

selang,

drain,

kehilangan
kateter

atau

darah

dan

penggantian

cairan

alat

bantu

pendukung

lainnya

8. Informasi spesifik tentang siapa ahli bedah atau ahli anesthesia yang akan diberitahu
9.

Evaluasi

10.

saturasi

Evaluasi

oksigen

pernafasan

dengan
:

oksimetri,

pengkajian

kedalaman,

nadi-volume-keteraturan

frakuensi,

sifat

pernafasan

11. Kaji status kesadaran, warna kulit dan kemampuan berespon terhadap perintah.
Status

Pernafasan

Kesulitan pernafasan berkaitan dengan tipe spesifik anesthesia. Pasien yang menerima anesthesia
lokal atau oksida nitrat biasanya akan sadar kembali dalam waktu beberapa menit setelah
meninggalkan ruang operasi. Namun, pasien yang mengalami anesthesia general/lama biasanya
tidak sadar, dengan semua otot-ototnya rileks. Relaksasi ini meluas sampai ke otot-otot faring,
oleh karenanya ketika pasien berbaring terlentang, rahang bawah dan lidahnya jatuh ke belakang
dan
menyumbat
jalan
udara.
Tanda-tandanya
:
-

tersedak

pernafasan
dalam

bising
beberapa

dan

menit

kulit

tidak
menjadi

teratur
kebiruan.

Cara untuk mengetahui apakah pasien bernafas atau tidak adalah dengan menempatkan telapak
tangan di atas hidung dan mulut pasien untuk merasakan hembusan nafas. Gerakan thoraks dan
diafragma
tidak
selalu
menandakan
bahwa
pasien
bernafas.
Tindakan terhadap obstruksi hipofaringeus termasuk mendongakkan kepala ke belakang dan
mendorong ke depan pada sudut rahang bawah, seperti jika mendorong gigi bawah di depan gigi
atas. Manuver ini menarik lidah ke arah depan dan membuka saluran udara.
DIAGNOSIS

KEPERAWATAN

YANG

MUNGKIN

MUNCUL

1. Bersihan jalan nafas in-efektif b.d efek depresan dari medikasi dan agen anesthetik
2.
3.
4.

Nyeri

dan

ketidaknyamanan

Risiko
Risiko

perubahan
cedera

b.d

pasca

operatif

suhu

tubuh

status

anesthesia

5.

Ketidakseimbangan

nutrisi

kurang

dari

kebutuhan

tubuh

6. Perubahan eliminasi urinarius (retensi urine) b.d penurunan aktivitas, efek medikasi, dan
penurunan
masukan
cairan
7. Konstipasi b.d penurunan motilitas lambung dan usus selama fase intra operatif
8. Kerusakan mobilitas fisik b.d efek depresan dari anesthesia, penurunan intoleransi aktivitas
dan
pembatasan
aktivitas
yang
diprogramkan
9.
10.
11.

Ansietas

tentang

PK

PK

12.
13.

perubahan

:
PK
PK

diagnosis

Risiko
:

perfusi
kekurangan

kerusakan
:

pasca

risiko

operatif
jaringan

volume
intergitas

cairan
kulit

infeksi.

INTERVENSI

KEPERAWATAN

1. Membersihkan sekresi dari jalan nafas : membalikkan pasien dari satu sisi ke sisi lainnya,
membuka mulut pasien secara manual tetapi hati-hati dengan menggunakan spatel lidah, bila
pasien muntah balikkan badan klien dalam posisi miring, bila perlu lakukan suction untuk
membersihkan
lendir
atau
sisa
muntahan
2. Pengaturan posisi : temapt tidur dijaga agar tetap datar sampai pasien kembali sadar, lutut
difleksikan
dan
bantal
diletakkan
di
antara
tungkai
3. Dukungan psikologis : temani pasien, beri informasi secukupnya, eksplorasi ketakutan dan
kekhawatiran.
MENGHILANGKAN

KETIDAKNYAMANAN

PASCA

OPERATIF

1. Meredakan nyeri : teknik relaksasi, teknik distraksi, anagetik oral / IV / IM, therapi kognitif
2. Menghilangkan kegelisahan : merupakan gejala defisit oksigen dan hemorrhagi, bisa juga
diakibatkan oleh posisi selama fase intra operatif, cara penanganan jaringan oleh ahli bedah, dan
reaksi tubuh terhaap pemulihan anesthesia. Dapat dihilangkan dengan analgesik pasca operatif
yang
diresepkan
dan
perubahan
posisi
secara
rutin.
3. Menghilangkan mual dan muntah : pengaruh anesthesia untuk mengeluarkan mukus dan saliva

dalam lambung yang tertelan selama periode anesthesia. Bila berlebihan dapat dihilangkan
dengan agens anesthestik dan antiemetik. Posisi pasien selama mual-muntah adalah dengan
dibalikkan miring ke salah satu sisi untuk meningkatkan drainage mulut, mencegah aspirasi
muntahan, dan suction jika diperlukan. Jika muntah tidak kunjung berhenti, maka perlu
dilakukan
pemasangan
NGT.
4. Mnghilangkan distensi abdomen : diakibatkan oleh akumulasi gas dalam saluran intestinal.
Penanganannya dengan memasang selang kateter rektak, selang NGT, meminta pasien untuk
sering berbalik, melakukan latihan dan mobilisasi dini jika keadaan pasien memungkinkan.
5. Menghilangkan cegukan : diakibatkan oleh spasme internitten diafragma dan dimanifestasikan
dengan
adanya
bunyi
hik
(bunyi koarse), akibat dari vibrasi pita suara yang tertutup ketika udara secara mendadak masuk
ke dalam paru-paru. Terbukti bahwa sebenarnya tidak ada tindakan yang paling efektif untuk
mengatasi cegukan. Remedi paling tua dan sederhana adalah dengan menahan nafas, terutama
pada saat minum. Selain itu penggunaan medikasi fenotiasin, dengan menekankan jari tangan
pada kelopak mata yang tertutup selama beberapa menit dan dengan merangsang muntah dapat
berhasil
pada
beberapa
kasus.
6. Mempertahankan suhu tubuh normal : ruangan dipertahankan pada suhu yang nyaman dan
penggunaan
selimut
untuk
mencegah
kedinginan.
7. Menghindari cedera : restrain boleh digunakan hanya bila keadaan pasien benar-benar
mendesak untuk menggunakannya. Meski begitu, penggunaan restrain harus diawasi jangan
sampai mencederai pasien, mengganggu terapi IV, selang dan peralatan pemantau. Apabila
kegelisahan disebabkan oleh nyeri, maka dianjurkan penggunaan analgesik dan sedatif.
8. Mempertahankan status nutrisi yang normal : makin cepat pasien dapat mentoleransi diet yang
biasa, makin cepat fungsi GI tract yang normal akan pulih kembali. Ambulasi dini dan latihan di
tempat tidur dapat membantu memperlancar kembalinya fungsi GI tract. Cairan merupakan
substansi pertama yang dapat ditoleransi oleh pasien. Jus buah dan teh dapat diberikan sebagai
asupan selanjtnya jika tidak terjadi mual dan muntah (bukan es atau cairan hangat). Setelah itu
makanan secara bertahap diberikan mulai dari yang paling lunak sampai pada makanan padat
biasa
sesuai
dengan
toleransi
pasien.
9. Meningkatkan fungsi urinarius yang normal : membiarkan air mengalir di kran dan kompres
hangat pada perineum merupakan upaya yang dianjurkan untuk merangsang eliminasi pasien.
Masukan
dan
haluaran
harus
terus
dicatat.
10. Meningkatkan eliminasi usus : auskultasi abdomen dengan stetoskop digunakan untuk
mendeteksi adanya bising usus, sehingga jika bising usus telah terdengan, diet pasien secara
bertahap
dapat
ditingkatkan.
11. Memulihkan mobilitas : pasien dengan mobilitas terbatas harus dibalik dari posisi satu ke
posisi
lainnya
setiap
2
jam.

12. Ambulasi dini : ditentukan oleh kestabilan sistem CV dan neuromuskuler pasien, tingkat
aktivitas fisik pasien yang lazim, dan sifat pembedahan yang dilakukan. Ambulasi dini dapat
menurunkan insiden komplikasi pasca operasi. Ambulasi dini tidak diperkenankan melebii
toleransi pasien. Kondisi pasien menjadi faktor penentu dan kemajuan langkah diikuti dengan
memobilisasi pasien : pasien diminta untuk bergerak secara bertahap dari posisi berbaring ke
posisi duduk dampai semua tanda pusing telah hilang (dengan menaikkan bagian kepala temapt
tidur), pasien dapat dibaringkan dengan posisi benar-benar tegak dan dibalikkan sehingga kedua
tungkai menjuntai di atas tepi tempat tidur dan setelah persiapan ini, pasien dapat dibantu untuk
berdiri
di
sisi
tempat
tidur.
13. Pengaturan posisi : posisi telentang tanpa menaikkan kepala, berbaring miring ke salah satu
sisi
dengan
lengan
atas
ke
depan,
posisi
fowler

posisi paling umum tetapi juga merupakan posisi yang paling sulit untuk dipertahankan.
14.
Latihan
di
tempat
tidur
:
Latihan
nafas
dalam
untuk
menyempurnakan
ekspansi
paru
Latihan lengan melalui rentang gerak penuh, dengan perhatian khusus pada abduksi dan rotasi
eksternal
bahu
Latihan
tangan
dan
jari
Latihan kaki untuk mencegah foot drop dan deformitas dan untuk membantu dalam
mempertahankan
sirkulasi
yang
baik
Latihan fleksi dan mengangkat tungkai untuk menyiapkan pasien untuk membantu aktivitas
ambulasi
Latihan
kontraksi
abdomen
dan
gluteal.
15.
Mengurangi
ansietas
dan
mencapai
kesejahteraan
psikososial
Dukungan
psikologis
selama
fase
post
operatif
Kunjungan
keluarga
dekat
selama
beberapa
saat
Eksplorasi kekhawatiran pasien tentang hasil pembedahan dan pikiran tentang masa depannya
Jawab pertanyaan-pertanyaan pasien dengan meyakinkan tanpa masuk ke dalam suatu
pembahasan
yang
mendetail
Berada di dekat pasien untuk mendengarkan, mempertegas penjelasan dokter, dan memperbaiki
miskonsepsi
yang
ada
Instruksikan
teknik
relaksasi
dan
aktivitas
pengalihan
16. Bila memungkinkan, cuci muka dan tangan klien untuk menyejukkan perasaan klien yang
baru dioperasi. Basahi bibirnya bila belum diperbolehkan untuk minum.
INTERVENSI
1.

Mempertahankan

KOLABORATIF
perfusi

jaringan

yang

adekuat.

Tanda dan gejala : penurunan tekanan darah, saturasi O2 yang tidak adekuat, pernafasan cepat

atau sulit, peningkatan frekuensi nadi, gelisah, respon melambat, kulit dingin-kusam-sianosis,
denyut perifer menurun atau tidak teraba, haluaran urine kurang dari 30 ml/jam.
Tindakan
kolaboratif
dan
mandiri
:
Penggantian
cairan
Terapi
komponen
darah
Medikasi untuk memperbaiki atau mendukung fungsi jantung (ex : antidisritmia)
Pemberian
oksigen
Latihan
tungkai
untuk
menstimulasi
sirkulasi
2.

Mempertahankan

volume

cairan

adekuat

Selama fase intra operatif, kehilangan cairan yang berlebihan banyak terjadi bersamaan dengan
pembedahan sebagai akibat meningkatnya perspirasi, sekresi mukus dalam paru-paru, dan
kehilangan
darah.
Tindakan
:
Penggantian
cairan
dan
elektrolit
per
IV
Penggantian cairan per oral secara bertahap setelah mual-muntah menghilang dan bising usus
terdengar
3.

Pencegahan

infeksi

Kebanyakan infeksi terjadi pada salah satu dari empat tempat anatomi : luka bedah, saluran
kemih, aliran darah atau saluran pernafasan. Infeksi dapat terjadi karena adanya hal-hal berikut :
Penggunaan selang dan kateter, proses penyakit, atau oleh prosedur pembedahan
Efek ansethesia dan bedah mengurangi daya tahan tubuh terhadap infeksi
Pasien
dapat
terpajan
pada
agen
infeksius
selama
hospitalisasi
Organisme yang ditemukan pada infeksi yang didapat di RS menyebar luas dan resisten (kebal)
terhadap
antibiotik
Terjadi pelanggaran dalam teknik aseptik dan praktik mencuci tangan yang tidak baik.
Tindakan
pengendalian
:
Dorongan kepada pasien untuk batuk dan nafas efektis serta sering mengubah posisi
Penggunaan
peralatan
steril
Antibiotik
dan
antimikroba
Mempraktikkan
teknik
aseptik
Mencuci
tangan
sebelum
dan
sesudah
kontak
dengan
pasien
Pencegahan
kerusakan
kulit
Pantau
tanda-tanda
hemorrhagi
dan
drainage
abnormal
Pantau
adanya
perdarahan
Perawatan
insisi
dan
balutan
Penggantian
selang
intravena
dan
alat
invasif
lainnya
sesuai
program.
EVALUASI

1.
2.

Fungsi
Hasil

oksimetri

3.

Tanda-tanda

4.

Orientasi

5.
6.

Haluaran
Mual

KOMPLIKASI
1.

pulmonal
nadi

menunjukkan

vital

muntah

saturasi

stabil,

tempat,
urine

dan

tidak
oksigen

termasuk
peristiwa

tidak

kurang

dalam
PASCA

kontrol,

terganggu

dari
nyeri

yang

adekuat

tekanan

darah

dan

waktu
30

ml/jam

minimal.
OPERATIF
Syok

Digambarkan sebagai tidak memadainya oksigenasi selular yang disertai dengan


ketidakmampuan untuk mengekspresikan produk sampah metabolisme. Tanda-tandanya :
Pucat
Kulit
dingin
dan
terasa
basah
Pernafasan
cepat
Sianosis
pada
bibir,
gusi
dan
lidah
Nadi
cepat,
lemah
dan
bergetar
Penurunan
tekanan
nadi
Tekanan
darah
rendah
dan
urine
pekat.
Pencegahan
:
Terapi
penggantian
cairan
Menjaga
trauma
bedah
pda
tingkat
minimum
Pengatasan nyeri dengan membuat pasien senyaman mungkin dan dengan menggunakan
narkotik
secara
bijaksana
Pemakaian
linen
yang
ringan
dan
tidak
panas
(mencegah
vasodilatasi)
Ruangan
tenang
untuk
mencegah
stres
Posisi
supinasi
dianjurkan
untuk
memfasilitasi
sirkulasi
Pemantauan
tanda
vital
Pengobatan
:
Pasien
dijaga
tetap
hangat
tapi
tidak
sampai
kepanasan
Dibaringkan
datar
di
tempat
tidur
dengan
tungkai
dinaikkan
Pemantauan
status
pernafasan
dan
CV
Penentuan gas darah dan terapi oksigen melalui intubasi atau nasal kanul jika diindikasikan
Penggantian cairan dan darah kristaloid (ex : RL) atau koloid (ex : komponen darah, albumin,
plasma
atau
pengganti
plasma)
Penggunaan
beberapa
jalur
intravena

Terapi obat : kardiotonik (meningkatkan efisiensi jantung) atau diuretik (mengurangi retensi
cairan
dan
edema)
2.

Hemorrhagi

Jenis
:
H.
Primer
:
terjadi
pada
waktu
pembedahan
H. Intermediari : beberapa jam setelah pembedahan ketika kenaikan tekanan darah ke tingkat
normalnya melepaskan bekuan yang tersangkut dengan tidak aman dari pembuluh darah yang
tidak
terikat
H. Sekunder : beberapa waktu setelah pembedahan bila ligatur slip karena pembuluh darah tidak
terikat dengan baik atau menjadi terinfeksi atau mengalami erosi oleh selang drainage.
Tanda-tanda

Gelisah, gundah, terus bergerak, merasa haus, kulit dingin-basah-pucat, nadi meningkat, suhu
turun, pernafasan cepat dan dalam, bibir dan konjungtiva pucat dan pasien melemah.
Penatalaksanaan
Pasien
dibaringkan
Sedatif
atau
Inspeksi
Balut
kuat
jika
Transfusi
darah
Observasi
3.
Merupakan
Manifestasi
Nyeri
Demam,
Edema
Vena

:
seperti
analgetik

pada
posisi
pasien
diberikan
sesuai
luka
perdarahan
pada
luka
produk
darah

terjadi
atau

Trombosis
trombosis

Vena

pada

vena

yang

Profunda
letaknya

klinis
kram

atau
menggigil
menonjol

dalam

dan

(TVP)
bukan

pada
dan

dan

teraba

syok
indikasi
bedah
operasi
lainnya
VS.

lebih

superfisial.
:
betis
perspirasi
mudah

Pencegahan
:
Latihan
tungkai
Pemberian
Heparin
atau
Warfarin
dosis
rendah
Menghindari penggunaan selimut yang digulung, bantal yang digulung atau bentuk lain untuk
meninggikan
yang
dapat
menyumbat
pembuluh
di
bawah
lutut
Menghindari menjuntai kaki di sisi tempat tidur dalam waktu yang lama
Pengobatan
Ligasi
Terapi

vena

:
femoralis
antikoagulan

Pemeriksaan
Stoking
Ambulasi

masa
elatik

4.

pembekuan
tinggi
dini.

Embolisme

Pummonal

Terjadi ketika embolus menjalar ke sebelah kanan jantung dan dengan sempurna menyumbat
arteri
pulmonal.
Pencegahan

paling

efektif

5.
Paling

adalah

dengan

ambulasi

dini

pasca

Retensi
sering

terjadi

setelah

pembedahan

operatif.
urine

pada

rektum,

anus

6.
Penurunan kesadaran dapat terjadi karena toksik, traumatik atau putus alkohol.

dan

vagina.
Delirium