Anda di halaman 1dari 9

Radial Head Fractures

(fraktur kaput radius)


Diambil dari the Journal of Bone and
Joints, JBJS.org, volume 95-A no. 12,
Diterbitkan pada 19 Juni 2013.

Fraktur pada kaput radius merupakan fraktur


yang paling umum dialami oleh orang
dewasa pada daerah elbow. Sebuah studi
epidemiologi yang dilakukan di Belanda
hasil

bahwa

prevalensi

kejadian fraktur kaput radius pada orang


dewasa adalah 2,8 kejadian per 10000 orang
tiap tahunnya dengan rasio pria dan wanita
adalah 2:3. Rata- rata umur yang mengalami

yang

berlebihan.

Kaput

radius

berperan penting dalam stabilisasi elbow


terhadap gerakan rotasi kearah valgus, axial

Sendi elbow memiliki dibentuk oleh 3


persendian yang berbeda yaitu ulnohumeral
joint, radiocapittelar joint (humeroradial)
dan proximal radioulnar joint. Medial
collateral ligament berfungsi menstabilisasi
elbow dari gerakan valgus berlebihan,
collateral

terjadi

instabilitas

pada

elbow

akibat

berkurangnya gaya concavity-compression


yang akan mengakibatkan nyeri hebat
disertai krepitasi terutama pada gerakan
rotasi (pronasi supinasi).

Klasifikasi
Banyak

ahli

yang

memperdebatkan

Klasifikasi untuk fraktur pada kaput radius.

dibagi menjadi nondisplaced, displaced dan

Anatomi dan Biomekanik

Lateral

terjadi fraktur pada kaput radius maka akan

Menurut Mason, Fraktur pada kaput radius

fraktur kaput radius adalah 43th.

sementara

varus

dan posterolateral. Inilah sebabnya apabila

Epidemiologi

mendapatkan

berfungsi menstabilisasi elbow dari gerakan

ligament

displaced disertai comminuted. Klasifikasi


ini kemudian ditambahkan oleh Broberg dan
Morrey

yang

menyertakan

parameter

terhadap displacement dan ukuran fraktur.


Akan tetapi klasifikasi tersebut memiliki
kekurangan dalam segi reliabilitas dan tidak
mempengaruhi penanganan yang diberikan

sehingga penulis lebih memilih untuk

Kemudian dilakukan pemeriksaan pada

mengklasifikasikan Fraktur kaput radius

daerah wrist dan distal radioulnar joint untuk

kedalam Partial articular (wedge) dan

mengetahui adanya cedera tambahan pada

complete articular,undisplaced dan displaced

daerah tersebut. Setelah itu kita lakukan

serta comminuted dan non comminuted.

pemeriksaan gerakan aktif pada elbow untuk

Penanganan yang diberikan akan mengacu

mengetahui adanya restriktif.

pada klasifikasi ini.

Cedera yang berkaitan dengan

Pemeriksaan

fisik

dan

History

Fraktur kaput Radius

taking

Biasanya tidak ada cedera tambahan apabila

Yang perlu ditanyakan pada saat history

fraktur yang terjadi bersifat non displaced

taking

ialah

pekerjaan,

waktu

atau displaced minimal. Apabila fraktur

apa

sudah

yang terjadi bersifat displaced, unstable atau

dijalani, lokasi nyeri, mekanisme nyeri

comminuted maka seringkali disertai dengan

hingga

cedera pada

kejadian,

Umur,

pengobatan

riwayat

yang

mengenai

penyakit

sebelumnya dan alergi.


Pemeriksaan

fisik

ligament

atau persendian

disekitarnya. Seringkali fraktur pada kaput


dimulai

dengan

radius jenis ini disertai dengan dislokasi

melakukan inspeksi statis maupun dinamis

posterior, rupture pada MCL atau LCL,

pada extremitas superior terutama elbow,

rupture pada membrane interosseous (essex

dari anterior bisa dilihat kesimetrisan dan

lopresti injury) bahkan bisa terjadi fraktur

tanda- tanda adanya cedera pada jaringan

pada distal radius, scaphoid dan proximal

lunak disekitar elbow, dari lateral dilakukan

humerus.

palpasi pada kedua epikondilus, kaput dan


shaft radius untuk melokalisir lokasi nyeri.

Apabila terdapat restriksi pada gerakan


namun penyebab patologi tidak terlalu
nampak jelas dengan menggunakan X-Ray
maka CT-Scan bisa sangat membantu untuk
mendeteksi

penyebab

menggunakan

patologi.

CT-Scan

dan

Setelah
penyebab

patologi belum dapat dideteksi secara jelas,


Gambar 1A dan 1B : Menunjukkan gambaran
radiologi berupa partial articular fraktur pada
seorang wanita berumur 18 tahun.
Gambar 1A : Merupakan gambaran dari sisi
anteroposterior pada saat pasien baru mengalami
fraktur
Gambar 1B : Merupakan gambaran dari sisi
anteroposterior yang diambil 1 tahun setelah
diberikan non-operative treatment. Fungsi sendi
elbow yang didapatkan setelah 1 tahun nonoperative treatment ialah Excellent function atau
fungsi sangat baik dan ROM maksimal telah
dicapai.

Gambaran Radiologi

maka

adanya

kerusakan

pada

daerah

kartilago sendi harus dicurigai.

Komplikasi

yang

dapat

terjadi

pada pasien dengan Fraktur Kaput


radius
Adanya Stiffness pada Elbow dan forearm

sisi

merupakan komplikasi yang paling umum

Anteroposterior, lateral dan oblique. Untuk

terjadi. Stiffness terjadi karena adanya

mendapatkan gambaran yang lebih baik bisa

capsular tightness atau perlengketan pada

menggunakan CT (Computed Tomography).

capsul sendi yang terjadi fraktur. Untuk

CT digunakan untuk membantu mendeteksi

mengetahuinya,

adanya

terjadi

pemeriksaan fisik berupa passive movement

bersamaan dengan fraktur pada fraktur kaput

dan endfeel yang dirasakan dapat digunakan

radius yang biasanya terjadi pada daerah

sebagai alat diagnosa. Apabila didapatkan

processus coronoid ulnae dan capittelum.

Soft endfeel, maka perlu dilakukan passive

Gambaran

radiologi

fraktur

diambil

tambahan

dari

yang

perlu

untuk

dilakukan

stretching serta penggunakan splint secepat

Komplikasi berikutnya yang mungkin terjadi

mungkin untuk mencegah kontraktur serta

ialah adanya cedera pada Saraf disekitar

masalah pada jaringan lunak lainnya lebih

elbow. Saraf yang pal ing umum mengalami

lanjut. Sebaliknya apabila didapatkan hard

cedera pada kondisi fraktur k aput radius

endfeel, maka hal tersebut menandakan

adalah saraf ulnaris dan saraf posterior

adanya kontraktur atau adhesive pada capsul

interosseous. Biasanya masalah pada saraf

sendi, pergeseran atau collision pada implant

ini

yang diberikan, bahkan adanya Ossification

membaik seiring perbaikan yang dialami

yang bisa berarti kontraindikasi dengan

pada kaput radius yang mengalami fraktur.

pemberian fisioterapi dan perlu secepatnya

Apabila masalah pada saraf tetap ada, maka

diberikan tindakan operative berupa Open

perlu dilakukan teknik Mobilisasi pada

excision atau arthroscopy sebelum tindakan

saraf.

bersifat

sementara,

dimana

akan

Fisioterapi diberikan.
Selain adanya stiffness, resiko terjadinya

Rencana penanganan

infeksi perlu juga diperhatikan terutama

Rencana penanganan pada kasus fraktur

pada pasien Post-Operative yang mengalami

kaput radius mencakup tindakan operative

gejala seperti nyeri pada elbow, stiffness,

dan non operative. Tindakan operative

serta gambaran radiologis Post-operative

dilakukan apabila fraktur yang terjadi

menunjukan gambaran radiolucent. Apabila

bersifat

terdapat infeksi maka pasien perlu diberikan

comminuted,

tindakan debridement, pemberian antibiotic

membersihkan dan menyatukan serpihan

bahkan pelepasan internal fiksasi yang

fragmen

sedang dipasang.

menyatukan kaput radius yang displaced

displaced,

fraktur

unstable

mencakup

(fragment

atau
tindakan

excision),

(radial head excision), tindakan arthroplasty

fraktur serta displacement yang terjadi

serta pemasangan ORIF. Namun masih

melebihi

banyak

ditangani

pertimbangan

akan

indikasi

ukuran

tersebut

melalui

maka

tindakan

harus

operative.

dilakukannya tindakan operasi sehingga

Beberapa ahli lain justru berpendapat bahwa

tindakan non operative melalui external

tindakan non operative seperti pergerakan

fiksasi

awal (early motion) tetap dapat memberikan

dan

fisioterapi

lebih

sering

diupayakan.

hasil maksimal meskipun fragmen fraktur

Tindakan Non Operative

dan displacement yang terjadi melebihi

Indikasi

dilakukannya

tindakan

non

ukuran tersebut asal tidak terjadi restriksi

Operative ialah fraktur pada kaput radius

pada gerakan rotasi elbow.

yang

Pergerakan awal atau early motion sangat

terjadi

merupakan

fraktur

non

displaced atau fraktur displaced yang stabil,

berperan

dimana tidak terjadi restriksi gerakan total

terjadinya

pada elbow. Masih banyak perdebatan

melakukan early motion, perlu dilakukan

mengenai maksimal letak displacement serta

terlebih

maksimal jumlah fragmen fraktur yang bisa

menggunakan

ditangani melalui tindakan non operative ini.

berlangsung selama 5 hingga 7 hari untuk

Beberapa

menurunkan tingkat nyeri yang dirasakan

mendapatkan

ahli
hasil

mengatakan

untuk

maksimal

melalui

penderita.

terutama
stiffness

dahulu

dalam
joint.

program

collar

mencegah

dan

Kemudian

Sebelum

immobilisasi
cuff

dengan

yang

tetap

maka fragmen

menggunakan

collar

dan

cuff

pasien

fraktur yang terjadi pada kaput radius < 25%

diinstruksikan

oleh

fisioterapis

untuk

dari keseluruhan ukuran kaput radius dan

melakukan gerakan aktif seperti fleksi,

letak displaced <2mm, sementara apabila

ekstensi, pronasi dan supinasi hingga batas

tindakan non operative

nyerinya. Latihan menggunakan Collar dan

Hasil

cuff terus dilakukan sampai nyeri yang

Tindakan non operative telah menunjukan

dirasakan oleh penderita berkurang drastis

hasil jangka panjang yang positif. Dalam

atau tidak terlalu mengganggu latihan yang

sebuah studi yang dilakukan pada 49 pasien

dilakukan

yang mengalami fraktur kaput radius,

barulah collar dan cuff bisa

dilepaskan saat penderita latihan.

menunjukan bahwa 40 dari 49 pasien yang

Kondisi penderita dievaluasi setelah dua

diberikan tindakan non operative tidak

minggu

yang

mengalami masalah sama sekali setelah 9

besar

tahun dari saat berakhirnya pengobatan yang

dievaluasi

memulai
adalah

latihan.

Hal

seberapa

peningkatan yang terjadi pada pergerakan

diberikan

penderita serta posisi dari fraktur. Kemudian

mengalami sedikit gejala sisa atau disebut

intensitas

menjadi

suboptimal outcomes. Pada studi lain yang

assisted strengthening exercise hingga enam

dilakukan setelah 21 tahun berakhirnya

minggu latihan dimana kondisi pasien

tindakan non operative yang dilakukan pada

biasanya sudah mendekati nilai ROM yang

32 pasien yang mengalami displaced fraktur

maksimal. Apabila stiffness yang terjadi

pada

masih ada setelah enam minggu latihan,

sebagai berikut; pada 29 pasien mendapat

maka fisioterapis memfokuskan programnya

hasil maksimal (excellent) tanpa perlu

pada passive stretching dan pemberian static

diadakan

splinting untuk memperbaiki postur elbow

sisanya perlu dilakukan tindakan operative

penderita.

berupa

latihan

ditingkatkan

sedangkan

kaput

radius

tindakan

radial

arthroplasty.

sisanya

mendapatkan

operative

head

masih

hasil

sedangkan

excision

atau

Pada sebuah studi perbandingan yang

Meskipun tindakan Non-Operative telah

membandingkan hasil penanganan pada

menunjukkan berbagai macam hasil positif,

pasien yang diberikan tindakan operative

akan tetapi perlu diingat bahwa pada pasien

dan non operative menunjukkan hasil yang

yang diberikan tindakan non operative

serupa ditinjau dari kemampuan fungsional

kemungkinan terjadinya mal union disertai

pasien.

krepitasi, fraktur displacement serta non


union dapat terjadi apabila program latihan
yang diberikan tidak tepat karenanya tetap
perlu

dipertimbangkan

adanya

late

treatment option atau opsi yang dilakukan


apabila terdapat komplikasi tersebut yaitu
dengan dilakukannya tindakan operative
yang mencakup tindakan fragment excision,
radial head excision, arthroplasty serta
pemasangan

ORIF.

Setelah

tindakan

Operative selesai dilakukan barulah seorang


Fisioterapis dapat merancang program PostOperative untuk pasien tersebut.

Manajemen Post-Operative
Pada minggu pertama setelah operasi, pasien
perlu

diberikan

tindakan

Immobilisasi

disertai elevasi karena nyeri serta bengkak


yang terjadi masih belum memungkinkan

untuk dilakukannya exercise. Setelah 7- 10

Intensitas latihan terus bertambah setelah 2

hari atau minggu kedua setelah operasi,

minggu hingga 4 minggu pasca operasi

Fisioterapis memberikan program exercise

untuk mencapai ROM aktif yang maksimal

berupa aktif fleksi serta ekstensi sebatas

di semua gerakan pada elbow disertai

kemampuan pasien. Setelah itu, pemberian

pemberian Passive ROM exercise namun

gerakan aktif berupa fleksi dan ekstensi bisa

belum bisa untuk diberikan force, masih

dan sebaiknya diberikan pada posisi sedikit

sebatas nyeri atau kemampuan pasien. 6

pronasi sedangkan untuk gerakan aktif

minggu

supinasi dan pronasi bisa diberikan pada

biasanya telah mencapai maksimal dan

posisi elbow fleksi 90. Perlu diingat bahwa

sudah bisa diberikan Passive Force exercise.

exercise ini diberikan hanya bila tidak ada

Apabila setelah 6 minggu pasca operasi

cedera pada LCL dan MCL. Apabila ada

ROM passive belum mencapai maksimal,

cedera pada LCL dan MCL, maka yang bisa

maka perlu diberikan passive stretching dan

diberikan hanya gerakan aktif fleksi dan

pemberian

menghindari gerakan aktif ekstensi hingga

menambah passive ROM. Strengthening

cedera pada ligament membaik. Setelah

exercise sebaiknya dimulai setelah kondisi

cedera

jaringan lunak serta persendian membaik

pada

ligament

telah

membaik,

pasca

operasi,

splint

mencegah

ROM

untuk

passive

membantu

program latihan yang diberikan selanjutnya

untuk

komplikasi

seperti

ialah gerakan aktif fleksi dan ekstensi pada

Ossification yang terjadi akibat exercise

posisi supinasi, namun untuk gerakan

terlalu dini. Biasanya Strengthening exercise

ekstensi sebaiknya tidak full ROM terlebih

diberikan setelah 8 minggu 12 minggu

dahulu hingga ligament benar-benar sembuh

pasca operasi tergantung pada healing

atau setelah 4 minggu setelah operasi.

proses pada fraktur yang terjadi.

Kesimpulan

dilakukannya

Fraktur pada kaput radius merupakan fraktur

pasien tanpa adanya restriksi gerakan yang

yang paling umum terjadi pada orang

berarti. Tindakan untuk fraktur pada kaput

dewasa di daerah elbow. Kebanyakan fraktur

radius mencakup tindakan non-operative,

pada kaput radius dapat ditangani hanya

fragment excision, radial head excision,

dengan

non-operative

arthroplasty dan pemasangan ORIF.

banyak

kontroversi

treatment.
mengenai

Masih
Indikasi

tindakan

Operative

pada