Anda di halaman 1dari 3

Proses Rekrutmen Pakar & Tenaga Ahli DPRD Banten Tertutup

SERANG Proses rekrutmen kelompok pakar dan tenaga ahli (KPTA) di DPRD
Provinsi Banten dinilai tertutup. Anggota Dewan pun meminta agar
prosesnya lebih transparan sehingga diketahui masyarakat.
Anggota Komisi V DPRD Banten Fitron Nur Ikhsan menyesalkan proses
rekrutmen KPTA DPRD Banten yang tertutup itu. Selain tidak memberikan
keteladanan kepada masyarakat, juga menutup rapat-rapat kesempatan bagi
masyarakat yang mempunyai kemampuan. Saya menyesalkan pola yang
yang tertutup seperti saat ini," ujarnya.
Seharusnya, Dewan memberikan contoh yang baik kepada lembaga lainnya
tentang mekanisme dan seleksi KPTA. Ini tiba-tiba sudah banyak masuk
nama-nama, katanya yang dikutip Radar Banten, kemarin.
Seharusnya, kata Sekretaris Fraksi Golkar DPRD Banten ini, Dewan membuat
tim seleksi yang akan menentukan siapa yang layak menjadi kelompok pakar
dan tenaga ahli. Kalau bisa transparan, dibuka untuk umum, ada tim
seleksi, ada ujian, nilainya dibuka, ini akan memberi keteladanan, jelasnya.
Ia mengakui, Dewan membutuhkan support dari KPTA dalam menunjang
kinerjanya. Oleh karenanya, dibutuhkan KPTA yang benar-benar mampu dan
menguasai persoalan. Dalam menunjang kinerja, anggota membutuhkan
support dari para ahli karena Dewan tidak menguasai semua persoalan. Jika
KPTA-nya berkualitas ini akan membantu kerja DPRD untuk lebih dapat
secara baik bekerja, katanya.
Untuk diketahui bahwa KPTA yang terdiri atas kelompok pakar ditempatkan
di alat kelengkapan Dewan mulai dari pimpinan Dewan, komisi-komisi, dan
alat kelengkapan Dewan lainnya. Sementara, tenaga ahli yang ditempatkan

di fraksi-fraksi. Selama ini terdapat sepuluh tenaga ahli yang ditempatkan di


masing-masing fraksi dan lima kelompok pakar untuk masing-masing
pimpinan Dewan, lima kelompok pakar untuk masing-masing komisi serta
kelompok pakar untuk alat kelengkapan lainnya seperti Badan Anggaran,
Badan Legislasi, dan Badan Kehormatan. Pada 2015 ini, jumlah tenaga ahli
fraksi dipastikan berkurang menjadi sembilan, disesuaikan dengan jumlah
fraksi di DPRD Banten, yaitu sembilan fraksi. Sementara, kelompok pakar
jumlahnya tetap.
Diketahui, dalam rekrutmen KPTA ini sudah banyak nama-nama yang masuk.
Informasi yang berkembang, banyak anggota Dewan yang juga membawa
nama-nama sendiri untuk direkrut menjadi tenaga ahli dan tim pakar. Mereka
yang dibawa Dewan didominasi kader dan dan pensiunan pegawai negeri
sipil (PNS). Informasi yang diperoleh, nama mantan Kepala Biro Hukum
Pemprov Banten Syamsul Ma'arif bakal bertahan menjadi staf ahli Komisi I.
Selain itu, ada juga nama mantan Kepala Bagian Keuangan Setwan Banten
Kusumajali yang santer bakal menjadi staf ahli Badan Kehormatan (BK) DPRD
Banten.
Sementara, sejumlah kader partai yang mengisi pos staf ahli fraksi,
diantaranya Mochamad Nasir (Fraksi PDI Perjuangan), Bahrul Ulum (Fraksi
Golkar), Rapih Herdiansyah (Fraksi PPP), Babay Sujawandi (F Gerindra) dan
Yoga Utama (F PKS).
Oleh karena kondisi ini, sejumlah alat kelengkapan seperti Komisi II dan
Badan
Kehormatan (BK) bakal melakukan voting dalam pemilihan KPTA.
Kepala Sub Bagian (Kasubag) Kajian Hukum Setwan Banten Suridati
mengatakan bahwa seleksi KPTA diserahkan masing-masing kepada fraksi
untuk tenaga ahli dan alat kelengakapan Dewan untuk kelompok pakar.

Tidak ada seleksi di Setwan, semuanya diserahkan kepada alat kelengkapan


Dewan dan fraksi, kita hanya menerima rekomendasi siapa nama yang akan
menjadi KPTA dari masing-masing pimpinan baik alat kelengkapan Dewan
maupun

fraksi,

akunya.

Ia mengaku, saat ini belum semua fraksi dan alat kelengkapan Dewan
menyerahkan calon KPTA. "Yang belum itu staf ahli Pak Hartono (Wakil Ketua
DPRD Banten SM Hartono), staf ahli Komisi II dan IV serta staf ahli Fraksi
Demokrat," jelasnya.
Namun, ia menolak memberikan nama-nama calon KPTA tersebut dengan
alasan belum ada SK. "Belum di-SK-kan, atau coba minta ke Sekwan, nanti
kalau

diizinkan

kita

kasih,"

katanya.

Ia mengaku bahwa tidak ada seleksi untuk KPTA, bahkan anggaran yang
semula untuk seleksi KPTA juga dihapus. Kita sudah konsultasi ke Depdagri
(Kemendagri-red) karena tahun-tahun sebelumnya juga tidak ada seleksi
akhirnya

tahun

ini

juga

ditiadakan,

paparnya.

Mantan kelompok pakar yang tidak mau disebutkan namanya mengatakan


bahwa pada 2015 ini, setiap kelompok pakar per bulan mendapatkan jatah
empat kajian dengan honor perkajian sebesar Rp2,5 juta. "Jadi, dalam
sebulan sebesar Rp10 juta, belum termasuk jatah transportasi untuk ke luar
dan dalam kota," katanya.
Tahun sebelumnya, menurutnya, KPTA mendapatkan jatah tiga kajian per
bulan dengan honor per kajian sebesar Rp3 juta. "Sekarang honornya
dikurangi, tapi volume kajiannya bertambah," ungkapnya.