Anda di halaman 1dari 29

4

TINJAUAN PUSTAKA
Logam Berat Timbal (Pb)
Istilah logam berat lebih sering digunakan untuk mengartikan logam yang bersifat
toksik. Adapun definisi yang paling banyak digunakan untuk mengartikan logam berat
adalah logam yang mempunyai bobot jenis lebih besar dari 5 gram/cm3 (Martin dan
Loughtrey 1982). Selanjutnya dikatakan bahwa kata berat digunakan untuk mengartikan
logam yang bertahan lama di lingkungan.
Logam berat timbal merupakan logam yang sangat banyak digunakan untuk
kepentingan industri, dan paling banyak menimbulkan keracunan pada makhluk hidup.
Dalam tabel periodik unsur, timbal termasuk golongan IV dengan nomor atom 82 dan
berat atom 207.19. Timbal merupakan logam lunak berwarna abu-abu kebiruan, massa
jenis 11.34 gram/cm3. Pada tekanan 1 atmosfer logam tersebut meleleh pada suhu
327oC dan mendidih pada suhu 1740oC (Darmono 1995).
Timbal (Pb) secara alami terdapat sebagai sulfida, timbal karbonat, timbal sulfat,
dan timbal klorofosfat. Timbal banyak digunakan untuk berbagai keperluan karena sifatsifatnya yaitu (1) Timbal mempunyai titik cair yang rendah, sehingga jika digunakan
dalam bentuk cair dibutuhkan teknik sederhana dan tidak mahal, (2) Timbal merupakan
logam lunak, sehingga mudah diubah menjadi berbagai bentuk, (3) Sifat kimia timbal
menyebabkan logam tersebut dapat berfungsi sebagai pelindung jika kontak dengan
udara lembab (Fardiaz 1992).
Timbal dalam tanah dapat dibedakan antara timbal yang berasal dari
pencemaran dengan timbal yang terdapat secara alami. Jumlahnya berkisar 2-200 ppm
dengan kandungan rata-rata 16 ppm. Akibat aktifitas manusia terutama kendaraan
bermotor dan industri yang menggunakan bahan bakar mengandung timbal telah
meningkatkan jumlahnya di lapisan permukaan tanah, sehingga mencapai 1600-2400
ppm (NAS 1972).

Partikel timbal sebagai salah satu logam berat berbahaya dalam

tanah dapat berasal dari aktivitas penambangan, pertanian, limbah pupuk, bahan bakar,
industri metalurgi, elektronik, bahan-bahan kimia dan industri manufaktur lainnya.
Sedangkan konsentrasi total logam berat dalam tanah bersumber dari bahan induk
tanah, deposisi atmosfirik, penumpukan sampah-sampah organik dan pencemar
anorganik, dikurangi kehilangan melalui serapan tanaman, pencucian dan volatilisasi
(Alloway 1995).

5
Konsentrasi Pb dalam tanaman mempunyai pola yang sama seperti yang terjadi
dalam tanah. Timbal merupakan unsur yang tidak esensial bagi tanaman. Masuknya
timbal ke dalam jaringan daun melalui proses penyerapan pasif.

Penyerapan terjadi

karena partikel timbal di udara, jatuh dan mengendap pada permukaan daun.
Permukaan daun yang lebih kasar, berbulu, dan lebar akan lebih mudah menangkap
partikel dari pada permukaan daun yang halus, tidak berbulu dan sempit.

Tingkat

akumulasi timbal pada vegetasi dan di tanah akan meningkat seiring dengan
meningkatnya kepadatan arus lalu lintas, dan menurun dengan bertambahnya jarak dari
tepi jalan raya. (Harahap 2004). Selanjutnya dikatakan bahwa timbal terakumulasi di
dinding dan di dalam sel xilem penyusun tulang daun, di dalam sel penyusun jaringan
bunga karang. Timbal juga menyebabkan terjadinya penurunan kerapatan stomata,
tebal daun, bunga karang, dan penurunan kandungan klorofil.

Toksisitas Timbal (Pb)


Toksisitas didefinisikan sebagai efek berbahaya yang ditimbulkan oleh suatu zat
atau bahan atau senyawa pada organ yang dijadikan sasaran. Ada beberapa istilah
dalam pengkajian toksisitas yaitu toksisitas akut, sub akut dan kronis (Lu 1995).
Selanjutnya Soemirat (2005) menyatakan bahwa toksisitas adalah kemampuan racun
(molekul) untuk menimbulkan kerusakan apabila masuk ke dalam tubuh dan lokasi
organ yang rentan terhadapnya.
Toksisitas akut adalah pengaruh merugikan yang timbul segera setelah
pemberian dosis tunggal dari suatu zat atau bahan atau senyawa atau pemberian dosis
berulang dalam waktu 24 jam. Ada beberapa cara untuk pengujian toksisitas akut yaitu
oral, parenteral, inhalasi, kulit dan mata. Pengertian sub-akut adalah percobaan atau
penyelidikan toksisitas dari suatu zat dengan pemberian dosis berulang dalam jangka
pendek. Biasanya setiap hari atau lima kali seminggu, selama jangka waktu kurang
lebih 10% dari masa hidup hewan percobaan. Beberapa peneliti menggunakan jangka
waktu yang lebih pendek misalnya pemberian zat selama 14 dan 28 hari. Pengujian
toksisitas kronis adalah pengujian yang dilakukan dalam jangka waktu yang panjang,
dilakukan dengan memberikan zat kimia berulang-ulang selama masa hidup hewan
percobaan atau sekurang-kurangnya sebagian besar hidupnya, misalnya 18 bulan
sampai 24 bulan (Lu 1995).
Timbal merupakan penyebab utama kejadian keracunan logam berat pada
ternak.

Hal ini disebabkan karena kebiasaan untuk memasukkan garam Pb-halida

6
seperti PbBrCl ke dalam bensin sebagai pelumas katup mesin. Ternyata kendaraan
bermotor yang menggunakan bensin bertimbal itu mengemisikan Pb ke udara, dan
kemudian masuk kedalam tubuh ternak melalui pernafasan dan pori-pori kulit (NRC
2001).

Selain itu, dalam tanah yang mengalami erosi berat, kandungan Pb

kemungkinan besar tinggi.

Dengan demikian adanya Pb di dalam pakan ternak

merupakan hal yang sering terjadi (Tabel 1).


Tabel 1. Kandungan Al, Pb dan Cd beberapa sumber pakan ternak
Pakan
Daun kelapa sawit
Pucuk Tebu
Sabut sawit
Lumpur sawit
Bungkil inti kelapa sawit
Onggok
Bungkil kedelai
Jagung
Dedak gandum

Kandungan Mineral Toksik Pakan (mg/kg)


Aluminium (Al)
Timbal (Pb)
Cadmium (Cd)
334
3.99
0.12
394
0.53
0.05
793
7.15
0.09
2035
4.05
0.14
129
0.21
0.02
100
0.32
0.134
0
0.11
0.034
149
1.60
0.033
50
0.11
0.081

Timbal (Pb) sangat berbahaya bagi ternak, walaupun yang diserab oleh ternak
jumlahnya kecil. Namun demikian logam tersebut berpotensi untuk berakumulasi dalam
tubuh ternak sehingga dalam jangka panjang dapat meracuni ternak. Organ-organ yang
terganggu antara lain sistem saraf, sistem gastrointestinal, hati dan ginjal.

Sifat

neurotoksik Pb antara lain disebabkan oleh kemampuannya untuk membentuk komplek


dengan gugus karboksil (-COO-), gugus amino (-NH3-) dan sulfhidril (-SH) asam amino,
protein dan enzim (Bernal et al. 1997), enzim yang bersangkutan akan mengalami
denaturasi. Salah satu akibatnya adalah rusaknya homeostasis Ca sehingga kinerja
saraf terganggu. Bogden et al. (1992) memperlihatkan bahwa peningkatan pemberian
0, 50 dan 100 mg/L Pb ke dalam air minum tikus yang disertai dengan pemberian 0.1,
0.5 dan 2.5% Ca dalam ransum menyebabkan terjadinya perubahan-perubahan berikut :
Pb darah meningkat sejalan dengan meningkatnya pemberian Pb ke dalam air minum,
namun peningkatan itu dapat dikurangi secara signifikan bila kadar Ca ransum
ditingkatkan. Konsentrasi Pb dalam pakan yang dapat mengakibatkan keracunan kronis
pada ternak ruminansia menurut Fahey (1987) adalah sebagai berikut : pada anak sapi
6 ppm, sapi dewasa 7 ppm, domba 4.5 ppm.

Sedangkan konsentrasi Pb yang

mengakibatkan keracunan akut pada anak sapi sekitar 400-600 ppm, dan pada sapi
dewasa sekitar 600-800 ppm.

7
Timbal masuk ke dalam tubuh manusia melalui tiga saluran yaitu saluran
pernafasan, saluran pencernaan dan melalui kulit. Dari sejumlah timbal yang masuk
melalui saluran pencernaan, hanya 8-12 persen yang akan diabsorsi meskipun preparat
dalam bentuk garam yang larut.

Sebagian besar absorsi terjadi di usus halus dan

sedikit di usus besar, sedangkan di dalam lambung tidak ada penyerapan . Diketahui
pula bahwa penyerapan timbal melalui saluran pernafasan mencapai 30-50 persen
dengan waktu lebih cepat dari pada penyerapan melalui saluran pencernaan. Timbal
yang masuk dan ditahan dalam tubuh akan terakumulasi di hati, ginjal dan tulang.
Akumulasi juga terjadi di limpa, pankreas dan paru-paru. Timbal terakumulasi di tingkat
seluler dalam inti sel, mitokondria dan mikrosom. Timbal diekskresikan terutama melalui
urin dan feses serta sedikit melalui keringat.
Masuknya timbal ke dalam tubuh akan meningkatkan kandungan timbal dalam
darah yang apabila melebihi nilai ambang batas dapat mengakibatkan gangguan
kesehatan. WHO telah menetapkan nilai ambang batas timbal di dalam darah manusia
sebesar 40 mg per 10 ml darah (Soemarwoto 1985). Orang normal dengan intake 0.6
mg timbal sehari dalam jangka waktu yang lama dapat menderita keracunan. Intake
timbal lebih besar dari 0.6 mg per hari menyebabkan akumulasi dan gejala keracunan
lebih cepat. Misalnya intake 1 mg per hari dapat menyebabkan keracunan dalam
jangka waktu 8 tahun; 2.5 mg per hari memerlukan waktu 4 tahun; sedangkan intake 3.5
mg per hari dapat mengakibatkan keracunan dalam jangka waktu beberapa bulan.
Pembahasan tentang timbal biasanya dihubungkan dengan aktivitas racunnya
dan bukan karena pentingnya dalam metabolisme tubuh.

Kelebihan timbal pada

manusia secara spesifik akan mempengaruhi metabolisme sel darah merah dengan
cara menghambat 2 enzim dalam biosintesis heme yaitu -aminolevulinate dehydratase
dan ferrochelatase yang menempatkan Fe+2 dalam

cincin porfirin, sehingga

menimbulkan penyakit anemia. Timbal juga berpengaruh terhadap ATPase tertentu,


respirasi mitokondria sangat tertekan, eritrosit cenderung mengakumulasi timbal dan
menyebabkan mudah pecah dan selanjutnya mengakibatkan terjadinya anemia. Sel-sel
tubuli ginjal ternyata merupakan target pengrusakan oleh timbal dengan cara
mengganggu resorpsinya sehingga akan menyebabkan glukosuria dan aminoasiduria.
Kapasitas ginjal dalam mengaktifkan vitamin D (25-OH kolekalsiferol menjadi 1,25-di-OH
kolekalsiferol) juga dipengaruhi, hal ini terlihat pada kerusakan ginjal menyebabkan
hipertensi yang diamati melalui lead burdens (beban Pb) pada penderita hipertensi
(Linder 1992).

8
Mineral timbal sangat berbahaya bagi tubuh, walaupun yang diserap oleh tubuh
dalam jumlah sedikit.

Hal ini disebabkan oleh senyawa-senyawa Pb yang dapat

memberikan efek racun terhadap banyak fungsi organ tubuh.

Organ-organ yang

dipengaruhi antara lain sistem saraf, sistem gastrointestinal, hati dan ginjal. Gangguan
pada sistem saraf mengakibatkan kelelahan, sakit kepala, tremor, halusinasi,
kemunduran intelektual, hydrocephalus dan kebutaan.

Kelebihan juga dapat

mengakibatkan penumpukan Pb dalam gusi atau gusi menjadi berwarna hitam


keunguan, kulit menjadi pucat dan kehilangan berat badan (Cassarett dan Doul 1975).
Sedangkan keracunan timbal yang akut pada manusia dapat mengakibatkan
terbakarnya mulut, terjadinya perangsangan dalam sistem gastrointestinal yang disertai
diare. Keracunan yang kronis dapat mengakibatkan anemia, mual, sakit disekitar perut
serta kelumpuhan (Hamidah 1980).
Timbal juga berpengaruh terhadap sistem reproduksi yaitu terjadi penurunan
dalam ukuran, hambatan pada pertumbuhan janin dalam rahim dan setelah dilahirkan
(Fardiaz 1992).

Kandungan Pb pada darah tikus diatas 30 g/100ml berpengaruh

terhadap jumlah sperma dan testicural atropi pada tikus jantan , serta terhadap siklus
estrus pada tikus betina (Chowdhury et al. 1984). Kadar Pb darah antara 40-50 g/100
ml pada pria menyebabkan disfungsi gonad termasuk penurunan jumlah sperma
(Assennato 1986).
Pengaruh timbal pada otak, mengakibatkan hiperaktivitas dan masalah kelainan
sifat pada anak, serta keterbelakangan intelektual (Underwood 1977). Anak kecil lebih
sensitif terhadap timbal atau keracunan, karena mempunyai kapasitas penyerapan yang
lebih besar. Hal ini banyak menimpa anak-anak yang kurang mampu di kota besar yang
secara tidak langsung mengkonsumsi timbal melalui mainan atau menelan bekas-bekas
cat dari dinding yang banyak mengandung timbal. Bila timbal sudah masuk dalam tubuh
akan didistribusikan melalui darah dan hampir semua ada di dalam eritrosit. Hampir 90
persen timbal dideposit dalam tulang, jaringan lemak terutama hati dan ginjal.
Kerusakan hati mengindikasikan adanya penyimpangan biokimia darah.

Sistem Pencernaan Ternak Ruminansia


Pencernaan merupakan rangkaian proses perubahan fisik dan kimia yang
dialami oleh bahan makanan di dalam alat pencernaan. Proses pencernaan makanan
ternak ruminansia relatif lebih kompleks dibandingkan dengan proses pencernaan pada

9
ternak lainnya.

Menurut Sutardi (1980) proses pencernaan makanan pada ternak

ruminansia terjadi secara mekanis atau didalam mulut, secara fermentatif oleh enzimenzim pencernaan hewan induk semang.

Lokasi proses pencernaan fermentatif

bervariasi antar jenis ternak, dan hal ini akan menentukan karakteristik pakan yang
sesuai untuk jenis ternak yang bersangkutan.
Organ sistem pencernaan ternak ruminansia terdiri dari 4 bagian penting yaitu
mulut, perut, usus halus dan organ pencernaan bagian belakang.

Perut ternak

ruminansia dibagi menjadi 4 bagian, yaitu retikulum atau perut jala, rumen dikenal
dengan perut beludru, omasum atau perut buku, dan abomasums atau perut sejati.
Dalam sudut pandang fisiologi sistem pencernaan ruminansia, rumen dan retikulum
sering dikenal sebagai organ tunggal dengan sebutan retikulorumen. Omasum dikenal
sebagai perut buku karena dipenuhi oleh lembaran jaringan sekitar 100 lembar. Fungsi
omasum belum diketahui secara jelas, namun demikian pada organ ini terjadi
penyerapan air, amonia, asam lemak atsiri atau VFA dan elektrolit, serta ada produksi
amonia dan mungkin juga produksi VFA (Forbes dan France 1993). Organ sistem
percernaan ruminansia bagian belakang terdiri dari sekum, kolon dan rektum, yang
diduga mempunyai aktivitas fermentasi.

Aktivitas fermentasi ini belum banyak

terungkap karena terletak pada bagian setelah organ penyerapan utama.


Proses pencernaan fermentatif di dalam organ retikulorumen terjadi sangat
intensif dan dalam kapasitas yang sangat besar. Hal ini sangat menguntungkan karena
pakan dapat diubah dan disajikan dalam bentuk produk fermentasi yang mudah diserap.
Ternak ruminasia akan mampu memanfaatkan pakan dalam jumlah lebih banyak dan
lebih efisien.

Sebaliknya pada ternak kuda, babi dan kelinci proses pencernaan

fermentatif terjadi setelah usus halus, yaitu di organ sekum. Oleh karena itu kelompok
ternak ini menuntut bahan pakan yang lebih bermutu atau rendah kadar seratnya
dibandingkan dengan pakan ternak ruminansia.
Pada sistem pencernaan ternak ruminasia terdapat suatu proses yang dikenal
dengan istilah memamah biak atau ruminasi.

Pakan berserat atau hijauan yang

dimakan ditahan untuk sementara waktu di dalam rumen. Pada saat ternak beristirahat,
pakan dari dalam rumen lalu dikembalikan ke mulut atau dikenal dengan proses
regurgitasi untuk dikunyah kembali atau proses remastikasi, dan selanjutnya pakan akan
ditelan kembali atau proses redeglutasi. Selanjutnya pakan tersebut dicerna lagi oleh
enzim-enzim mikroba rumen.

Kontraksi retikulorumen yang terkoordinasi dalam

rangkaian proses tersebut bermanfaat pula untuk pengadukan digesta, inokulasi digesta

10
dan penyerapan nutrient.

Selain itu kontraksi retikulorumen juga bermanfaat untuk

pergerakan digesta meninggalkan retikulorumen ke organ pencernaan dibelakangnya.

Mikroorganisme Rumen
Didalam rumen terdapat empat jenis mikroorganisme seperti fungi, protozoa,
bakteri dan virus. Berbagai jenis mikroorganisme tersebut memiliki produk fermentasi
intermedier

dan

produk

fermentasi

akhir

yang

bermacam-macam,

sehingga

menyebabkan kehidupan di dalamnya menjadi sangat kompleks (Preston dan Leng,


1987).
Bakteri didalam rumen merupakan bakteri yang paling banyak jenis dan lebih
beragam macam substratnya. Bakteri di dalam rumen mempunyai populasi yang paling
besar yaitu sekitar 1010-101 1 per gram isi rumen (Yokohama dan Johnson 1988).
Berdasarkan substrat yang difermentasi, bakteri dapat dikelompokkan sebagai bakteri
selulolitik (Fibrobacter succinogenes, Ruminococcusalbus, Butyrivibrio fibrisolvens),
bakteri hemiselulolitik (Butyrivibrio fibrisolvens, Prevotella ruminicola, Ruminococcus sp);
bakteri amilolitik (Bacteriodes amilophylus, B. fibrisolvens, Succinomonas amylolytica,
Streptococcus bovis, Lactobacillus albus, Prevotella ruminicola), pencerna gula
(Lactobacillus ruminis), bakteri laktilitik (Selenomonas ruminantium, Megasphaera
elsdenii,

Anaerovibrio,

Propionic

bacterium),

bakteriproteolitik

(Ruminobacter

amylophylus, Prevotella ruminicola, Butyrivibriofibrisolvens, Streptococcus bovis ).


Disamping bakteri di atas masih ada bakteri lain yaitu bakteri penghasil metan
(Methanobrevibacter ruminantium, Methanobacterium formicicum, Methanobacterium
mobile) dan bakteri-bakteri ureolitik (Succinivibrio dextrinosolvens, Selonomonas sp,
Prevotella ruminicola, Ruminicoccus bromii, Butyrivibrio sp, Treponema) (Hungate 1966;
Sutardi 1977; Ogimoto dan Imai 1981; Yokohama dan Johnson 1988).
Proses fermentasi ransum yang dilakukan oleh mikroba rumen menghasilkan
asam lemak volatil (Volatile Fatty Acid atau VFA) yang telah diketahui merupakan
sumber energi utama bagi ternak ruminansia. Sumbangan energi yang berasal dari
asam lemak volatil dapat mencapai 60-80 persen dari kebutuhan energi pada ternak
ruminansia (Ensminger et al. 1990). Adapun yang termasuk dalam asam lemak volatil
(VFA) rumen adalah asam asetat (CH3COOH), asam propionat (CH3CH2COOH), asam
butirat (CH3(CH2)2COOH), asam valerat

(CH3(CH2)3COOH) dan asam lemak rantai

cabang (asam isobutirat, 2-metilbutirat, dan isovalerat).

Asam-asam lemak rantai

11
cabang ini berasal dari katabolisme protein. Selain itu fermentasi juga menghasilkan
produk gas meliputi gas CO2, gas CH4 dan gas hidrogen (Czerkawski 1986).
Stokiometri reaksi fermentasi karbohidrat (heksosa) oleh bakteri menjadi tiga
produk fermentasi utama dalam rumen dapat disederhanakan sebagai berikut (Orskov
dan Ryle 1990) :
C6H12O6 + H2O

2CH3COOH + 2CO 2 + 4H2

C6H12O6 + 2H2

2 CH3CH2COOH + 4 H2O

C6H12O6

CH3(CH2)2COOH + 2CO2 + 2H2

4H2 + CO2

CH4 + 2H2O

Dari reaksi stokiometri di atas tampak jelas bahwa pada proses sintesis asam
asetat banyak dihasilkan gas hidrogen. Demikian pula halnya pada proses sintesis
asam butirat. Sebaliknya pada proses sintesis asam propionat, gas hidrogen banyak
yang digunakan. Gas hidrogen dan gas CO2 merupakan prekusor untuk sintesis gas
metan. Gas metan sesungguhnya tidak bermanfaat bagi induk semang. Berdasarkan
proses tersebut maka pola fermentasi mikroba rumen yang mengarah pada sintesis
asam propionat jelas akan lebih menguntungkan daripada efisiensi penggunaan energi
pakan, karena dengan demikian produksi gas metan akan cenderung berkurang (Russel
dan Hespell 1981). Pada kondisi pola produksi VFA utama cairan rumen 65 persen
asetat, 25 persen propionat dan 10 persen butirat, maka energi yang berasal ransum
dalam bentuk VFA sekitar 75 persen. Sedangkan sisanya akan muncul gas metan 12.4
persen, panas fermentasi 6.4 persen dan sekitar 6.2 persen dimanfaatkan oleh mikroba
rumen sebagai sumber enrgi dalam bentuk ATP (Clark dan Davis 1983).
Berbeda dengan bakteri, protozoa didalam rumen mempunyai populasi lebih
sedikit yaitu 105-106 cacahan sel per mili isi rumen (Yokohama dan Johnson, 1988),
akan tetapi dari segi jumlah biomassa serta ternyata cukup besar karena ukuran
protozoa lebih besar dari bakteri. Produk yang dihasilkan protozoa adalah asam asetat,
asam butirat, asam laktat, gas CO2 dan gas hidrogen. Protozoa lebih menyukai substrat
yang fermentable seperti pati, gula dan bakteri (Russell dan Hespell 1981).
Populasi protozoa rumen umumnya didominasi oleh spesies ciliata. Spesies
flagellate biasanya banyak terdapat pada anak sapi (pedet), sebelum populasi ciliata
berkembang dengan pesat. Spesies ciliata dapat dikelompokkan menjadi 2 kelompok,
yaitu holotrika (cilia ada disekitar tubuhnya) dan oligotrika (cilia hanya ada disekitar
mulut). Kelompok holotrika memiliki morfologi yang sederhana, meliputi Isotricha dan
Dasytricha, dengan sumber energi utama pati dan gula.

Sebaliknya kelompok

12
oligotrycha yang meliputi spesies Entodinium, Epidinium, Diplodinium dan Ophyroscolex
memiliki aktifitas selulolitik (Russell dan Hespell 1981; Bird et al. 1990)
Pada akhir-akhir ini studi tentang mikroba rumen mulai tertarik untuk mempelajari
peranan fungi anaerob misalnya Neocallimastic frontalis, Sphaeromonas communis dan
Piromonas communis. Kehadiran fungi di dalam rumen telah diakui sangat bermanfaat
bagi kecernaan fraksi serat dalam pakan. Rhizoid fungi tumbuh jauh menembus dinding
sel serat dalam pakan. Fungi dapat membentuk koloni pada jaringan lignoselulosa
partikel pakan.

Fungi dapat membentuk koloni pada jaringan lignoselulosa partikel

pakan. Rhizoid fungi tumbuh jauh menembus dinding sel serat tanaman, sehingga
dapat memberikan akses bagi bakteri dan enzim selulasenya untuk mencerna serat.
Dengan cara demikian fungi menjadi pelopor dalam aktifitas seluloltik pada pakan serat
(Fonty et al. 1990).

Pencernaan Nutrien Pada Ternak Ruminansia


Pakan ternak ruminansia mengandung sejumlah nutrient seperti karbohidrat,
protein, lemak, vitamin dan mineral.

Ransum pertama kali mengalami pencernaan

secara mekanik di dalam mulut, kemudian masuk kedalam retikulum dan rumen untuk
dicerna secara fermentatif. Hasil pencernaan fermentatif berupa VFA (Volatile Fatty
Acid), NH3, CH4, dan air diserap sebagian di rumen dan sebagian lagi di omasum.
Selanjutnya pakan yang tidak tercerna disalurkan abomasum dan dicerna secara
hidrolitik oleh enzim-enzim pencernaan seperti halnya terjadi pada hewan monogastrik
(Sutardi 1981).
Karbohidrat ransum di dalam rumen mengalami 3 tahap pencernaan oleh enzimenzim yang dihasilkan mikroba rumen (Gambar 1).

Komponen karbohidrat berupa

selulosa, hemiselulosa, pektin, pati, fruktan dan sukrosa mengalami perubahan menjadi
bentuk yang lebih sederhana. Selulosa dan hemiselulosa akan mengalami hidrolisis
oleh enzim -1-4-glukosidase yang dihasilkan oleh mikroba menjadi sakarida sederhana
seperti heksosa, pentosa, selobiosa (pencernaan tahap I). Sementara karbohidrat yang
lain seperti pati, fruktan dan sukrosa akan dicerna menjadi maltosa dan glukosa. Hasil
pencernaan di atas segera memasuki tapak jalan glikolisis Embden-Meyerhoff untuk
mengalami pencernaan lebih lanjut menghasilkan piruvat (pencernaan tahap II).
Pada tahap pencernaan selanjutnya piruvat diubah menjadi VFA yang terdiri atas
asetat, butirat, dan propionat (tahap III). Asetat dihasilkan melalui dua jalan yaitu yang
pertama melalui pembentukan asetil-CoA terlebih dahulu, kemudian diubah menjadi

13
asetil fosfat, selanjutnya menjadi asetat. Jalan yang kedua yaitu langsung dari piruvat
diubah menjadi asetil fosfat dan format. Format yang terbentuk oleh Methanobacterium
diurai menjadi CO2 dan H2 yang selanjutnya dihasilkan metan. Pembentukan propionat
juga dapat melalui dua jalur yaitu jalur laktat atau akrilat dan jalur suksinat (Collier 1985;
Arora 1989).

Fruktan

Sukrosa

Pati

Selulosa

Hemiselosa

Pektin

Maltosa Isomaltosa Selubiosa

Fruktosa

G l u k o s a

Pentosa

Glukosa-6-fosfat
Fruktosa-6-fosfat

II

Fruktosa-1-6-difosfat

Piruvat

Format

Asetil-CoA

Asetil- fosfat
CO2 +H2
Metan

Laktat
Akrilik-CoA

CO2 +H2 Butiril-CoA


Asetat

Oksaloasetat

Butirat

Suksinat

III

Propionil Co-A
Propionat

Gambar 1. Jalur pencernaan karbohidrat dalam rumen (Collier 1985)


Produk akhir berupa VFA dalam jaringan tubuh akan dimanfaatkan sebagai
sumber energi dan bahan sintesis lemak.

Asam propionat diabsorsi melalui epitel

rumen dan masuk kesirkulasi darah, dibawa ke hati untuk selanjutnya diubah menjadi
glukosa dan menjadi bagian cadangan glukosa hati. Asam butirat sebelum masuk ke

14
sirkulasi darah dan dibawa ke hati bersama asetat dikonversi menjadi asam beta
hidroksi butirat (-hydroxybutyric acid / BHBA) di dalam epitil rumen. Asetat dan BHBA
dari hati disalurkan ke sistem sirkulasi dan digunakan oleh jaringan sebagai sumber
energi melalui siklus asam sitrat dan sebagai substrat lipogenesis lemak susu,
sedangkan propionat untuk glukonegenesis dan lipogenesis lemak tubuh (Forbes dan
France 1993).

Urea, NPN

Protein

Rumen
Oligopeptida
NH3

Asam Amino
Asam Keto-
VFA

Protein Mikroba

Usus

Protein Mikroba

Asam keto-

Protein

Asam amino Oligopeptida


Gambar 2. Pencernaan protein dan utilisasi N di dalam rumen
Sumber protein untuk ruminansia dari protein ransum maupun non protein nitrogen
(NPN).

Perombakan protein oleh enzim proteolitik di dalam rumen menghasilkan

peptida dan asam-asam amino. Produk ini akan mengalami katabolisme lebih lanjut
atau deaminasi sehingga dihasilkan amonia (NH3). Amonia asal perombakan ransum
sangat besar kontribusinya terhadap pool amonia rumen.

Proses proteolitik dan

deaminasi asam-asam amino menghasilkan amonia diduga bersifat konstitutif, artinya


tidak ada kontrol metabolik. Degradasi protein dan deaminasi terhadap asam amino
akan terus berlangsung, walaupun telah terjadi akumulasi ammonia yang cukup tinggi di
dalam rumen (Sutardi 1977). Manfaat proses proteolitik tidak hanya memberi pasokan
amonia untuk mikroba, tetapi juga pasokan peptida yang dapat dimanfaatkan langsung

15
oleh beberapa bakteri rumen untuk sintesis protein.

Dari kenyataan ini maka

suplementasi urea dapat digunakan untuk mencukupi kebutuhan amonia.


Konsentrasi amonia yang optimal dibutuhkan untuk sintesis protein mikroba
rumen. Menurut Satter dan Slyter (1974) konsentrasi amonia yang dibutuhkan sekitar
50 mg per liter atau 3.57 mM, atau sekitar 4 sampai 12 mM (Sutardi 1979). Sedangkan
menurut Erwanto et al. (1993) mendapatkan kadar amonia yang optimum sekitar 7-8
mM. Amonia yang diproduksi tidak semua digunakan untuk sintesis protein mikroba,
sebagian diserap oleh dinding rumen, masuk kedalam sirkulasi portal dan dibawa ke hati
untuk selanjutnya diubah menjadi urea dan masuk ke sirkulasi darah.
Sumbangan protein asal mikroba rumen berkisar 40 sampai 80 persen (Sniffen
dan Robinson 1987), sedangkan sumbangan energi asal VFA berkisar 60 sampai 80
persen (Ensminger et al. 1990). Pada ternak yang berproduksi tinggi, pasokan protein
asal mikroba saja tidak cukup, sehingga harus diberi protein dari pakan.
Lemak ransum di dalam rumen akan mengalami dua proses yang sangat penting
yaitu lipolisis dan hidrogenasi. Lemak mengalami lipolisis oleh enzim lipase mikroba
sehingga menghasilkan asam lemak bebas (Free Fatty Acid, FFA), gliserol dan
galaktosa. Gliserol dan galaktosa difermentasi lebih lanjut untuk menghasilkan VFA
terutama propionat, sedangkan FFA dengan cepat akan dihidrogenasi oleh mikroba
menjadi produk akhir berupa asam lemak jenuh (Preston dan Leng, 1987). Pada proses
hidrogenasi terjadi perubahan asam lemak tidak jenuh C18 seperti oleat, linoleat dan
linolenat menjadi stearat. Sedangkan asam lemak tidak jenuh berantai panjang lebih
dari C18 seperti arakhidonat, eikosa pentaenoat (EPA) dan dokosa heksaenoat (DHA) di
dalam rumen tidak mengalami hidrogenasi (Ashes et al. 1992).
Lipolisis pada beberapa lemak ransum terjadi sangat cepat di dalam rumen,
seperti yang dilaporkan Immig et al. (1993) tentang lipolisis minyak kedelai di rumen
domba mencapai 90 persen selama satu jam setelah introduksi, dan dirumen sapi
mencapai 85-90 persen (Bauchart et al. 1990).

Lipolisis menurun pada ransum

berprotein rendah, atau berkadar pati atau sukrosa tinggi. Menurunnya lipolisis tersebut
berhubungan dengan turunnya pH rumen. Van Nevel dan Demeyer (1995) melaporkan
bahwa lipolisis minyak kedelai pada percobaan in vitro dengan pH 5.25 sangat lambat
akibat terhambatnya mikroba lipolitik.
Asam lemak rantai pendek (C2-C14) dan VFA hasil pencernaan lemak langsung
diserap oleh dinding rumen, sedangkan penyerapan asam lemak jenuh rantai panjang
(>C14) hanya terjadi di usus halus. Asam-asam lemak dan monogliserida diserap oleh

16
mukosa usus dan diubah menjadi triasilgliserol dan membentuk kilomikron. Kilomikron
dibebaskan kedalam jaringan limfe dan masuk peredaran darah untuk ditranspor ke
dalam sel jaringan yang membutuhkan yaitu jaringan perifer dan adipose (Collier 1985),
sisanya yang tidak diserap bersama-sama dengan hasil pencernaan karbohidrat dan
protein dibawa ke hati melalui sistem porta untuk dimetabolisasi lebih lanjut.

Mineral Proteinat (Mineral Organik)


Pembuatan mineral proteinat dapat menggunakan yeast sebagai senyawa
pengikat mineral. Mineral proteinat merupakan salah satu bahan yang dapat berperan
sebagai probiotik dan sebagai sumber mineral. Bahan ini berupa inokulum padat, yang
mengandung berbagai jenis kapang, kamir, dan bakteri yang mampu menghidrolisis
pati.

Menurut Siti (1996) ragi tape mengandung beberapa jenis kapang yaitu

Chlamidomucor oryzae, Rhizopus oryzae, Mucor sp, sedangkan dari khamir adalah
Saccharomyces cereviceae, Saccharomyces verdomanni, Candida dan Hensenula.
Dari mikroba tersebut yang terpenting adalah Rhizopus, Mucor sp, dan Saccharomyces
cereviceae.
Penggunaan kultur ragi yang dapat meningkatkan efisiensi penggunaan pakan
maupun produktivitas ternak dilaporkan oleh beberapa peneliti. Menurut Wallace dan
Newbold (1993) penggunaan Saccharomyces cereviceae pada ruminansia adalah
dalam level rendah (<1% dari DM pakan) untuk sapi laktasi. Martin dan Nisbet (1992)
menyatakan bahwa penggunaan Saccharomyces cereviceae pada ruminansia
umumnya berkisar 3-110 g/ekor/hari.

Selanjutnya dikatakan bahwa penambahan

Saccharomyces cereviceae secara in vitro dapat meningkatkan jumlah bakteri selulolitik,


total VFA, dan NH3 cairan rumen.

Menurut Wiedmeier et al. (1987) penggunaaan

Saccharomyces cereviceae 90 g/ekor/hari dapat meningkatkan VFA total, NH 3 cairan


rumen, total bakteri, bakteri selulolitik, kecernaan bahan kering, kecernaan protein,
kecernaan serat kasar dan kecernaan hemiselulosa.
Saccharomyces cereviceae adalah feed suplemen yang kaya vitamin, enzim,
zat-zat makanan lain seperti karbohidrat dan protein (Dawson 1993). Pemanfaatan
Saccharomyces cereviceae untuk meningkatkan efisiensi penggunaan pakan berserat
tinggi dapat dijelaskan sebagai berikut, kultur ragi (Saccharomyces cereviceae) dapat
memanfaatkan O2 sehingga keadaan rumen menjadi anaerob, yang dapat merangsang
pertumbuhan bakteri rumen tertentu. Dengan meningkatnya bakteri dalam rumen maka
meningkat pula pemanfaatan asam laktat dan juga amonia yang menyebabkan pH

17
optimum yang kemudian dapat meningkatkan populasi mikroba. Meningkatnya populasi
mikroba juga dapat menyebabkan peningkatan pemanfaatan amonia, peningkatan
kecernaan serat dan peningkatan sintesa protein mikroba.

Peningkatan kecernaan

serat dan pembentukan mikroba akan menyebabkan laju aliran pakan ke usus halus
lebih cepat, sehingga dapat meningkatkan jumlah pakan yang dimakan dan pasokan
substrat ke usus halus dan akhirnya dapat meningkatkan produksi ternak (Wallace
1994).
Untuk

meningkatkan

produksi

ternak

dilakukan

dengan

pendekatan

suplementasi mineral organik yaitu mineral yang berikatan dengan ligand (pengikat).
Mineral organik memiliki keutamaan karena lebih mudah larut dan lebih mudah diserap
(Georgievskii 1982; McDowell 1997) serta bebas dari gangguan antagonisnya (Chase et
al. 2000; Bailey et al. 2001).

Masalah mineral ini terkait dengan lingkungan yang

mengalami kerusakan vegetasi akibat penataan lingkungan yang kurang baik sehingga
terjadi pengikisan mineral esensial dari tanah karena banjir.

Untuk mengatasi

kekurangan mineral esensial pada ternak maka dilakukan suplementasi.

Suplemen

mineral ini diharapkan dapat meningkatkan aktivitas enzim terkait sehingga dapat
meningkatkan produksi dan juga meningkatkan pertumbuhan mikroba rumen (Sutardi
2002).

Mineral Seng (Zn)


Kandungan mineral seng pada hijauan di Indonesia umumnya relative rendah.
Hal ini didasarkan laporan Little (1986), kandungan seng pada pakan ruminansia
berkisar antara 20 sampai 38 mg per kg bahan kering. Padahal kebutuhan seng bagi
ternak ruminansia sekitar 40-50 mg per kg dan untuk mikroorganisme rumen cukup
tinggi yaitu sekitar 130-220 mg per kg (Hungate 1966).
diperkirakan bahwa ternak yang

Dengan demikian bisa

dipelihara di Indonesia berpotensi mengalami

defisiensi seng.
Defisiensi Zn pada ternak berdampak luas terhadap performans produksi dan
reproduksi seperti (1) pertumbuhan akan lambat karena biosintesis asam nukleat dan
penggunaan asam amino atau sintesis protein terganggu, (2) spermatogenesis dan
produksi testoteron oleh sel leydig yang abnormal atau hipofungsi testikuler pada hewan
jantan karena gagalnya pertumbuhan testis, (3) parakeratosis atau hiperkeratinisasi kulit
akibat gagalnya degenerasi inti sel secara lengkap pada sel epitel kulit atau jaringan

18
usus, (4) menurunnya berat thymus dan sirkulasi limposit yang berpengaruh terhadap
berbagai fungsi sel-T (McDowell 1992).
Seng merupakan kofaktor pada lebih dari 70 macam enzim (Berdanier 1998),
enzim tersebut banyak terlibat dalam proses metabolisme dan penting untuk menjaga
stabilitas dan integritas biomembran. Sebagai bagian dari sistem enzim, mineral Zn
berperan banyak dalam metabolisme kerbohidrat, sintesis protein, dan metabolisme
asam nukleat (NRC 1988).
Penyerapan Zn dipengaruhi oleh jumlah dan imbangan mineral lain, kadar dan
bentuk Zn dalam ransum (Underwood 1977). Komponen pakan seperti fitat, kalsium,
fosfor, tembaga, cadmium dan kromium dapat menurunkan penyerapan Zn, sedangkan
kasein, ekstrak hati, minyak jagung, tepung darah, asam etilendiaminasetat (EDTA),
sitrat, pikolinat, vitamin D, asam amino (histidin, sistein dan asam glutamate) dapat
meningkatkan penyerapan Zn (McDowell 1992).
Peningkatan produksi juga dapat dilakukan dengan suplementasi mineral
esensial yang defisien. Masalah mineral ini terkait dengan lingkungan yang mengalami
erosi yang disebabkan oleh banjir. Little (1986) melaporkan bahwa kandungan seng (Zn)
pada pakan ruminansia berkisar antara 20 dan 38 mg.kg-1 bahan kering. Padahal kebutuhan
Zn bagi bagi ruminansia berkisar antara 40 dan 50 mg.kg-1, dan kebutuhan seng untuk mikroba
rumen yaitu antara 130 dan 220 mg kg-1 (Arora 1989). Dengan demikian secara alami ternakternak yang dipelihara di Indonesia berpotensi terjadi defisiensi Zn. Apabila defisiensi Zn terus
berlanjut dapat menyebabkan parakeratosis pada jaringan usus yang pada akhirnya
produktivitas ternak menjadi rendah.

Mineral Tembaga (Cu)


Ternak ruminansia membutuhkan Cu untuk keperluan sejumlah enzim yang
terlibat dalam beberapa fungsi diantaranya (1) Oksidase sitokrom, berperan pada
transport elektron selama respirasi aerob, (2) oksidase lisil, berperan dalam
mengkatalisis pembentukan ikatan silang desmosine di dalam kolagen dan elastin untuk
memperkuat tulang dan jaringan ikat, (3) seruloplasmin berperan dalam penyerapan dan
transport Fe yang dibutuhkan untuk sintesis hemoglobin, (4) tirosinase, berperan dalam
meproduksi pigmen melanin, dan (5) dismutase superoksidase (SOD) berperan dalam
perlindungan sel terhadap efek racun dari pengaruh metabolit oksigen yang penting
dalam fungsi sel fagosit (NRC 2001).

19
Bagi ternak ruminansia mineral digunakan untuk memenuhi kebutuhannya sendiri dan
juga digunakan untuk mendukung dan memasok kebutuhan mikroba rumen. Apabila terjadi
defisiensi salah satu mineral maka aktivitas fermentasi mikroba tidak berlangsung optimum
sehingga akan berdampak pada menurunnya produktivitas ternak. Beberapa faktor yang
menyebabkan rendahnya ketersediaan mineral, di antaranya adalah akibat antagonisme
dengan kation lain seperti Cu++ dan Pb++ (Davis dan Mertz 1987; McDowell 1992).
Secara umum tembaga (Cu) sangat sedikit diserap oleh ternak. Pada kebanyakan
ternak, Cu pakan diserap tidak lebih dari 5-10% oleh ternak dewasa, dan ternak muda sekitar
15-30%, dan hanya 1-3% diserap oleh ruminansia (McDowell 1992). Cu dibutuhkan untuk
respirasi seluler, formasi tulang, kerja jantung, perkembangan jaringan penghubung,
keratinisasi, dan pigmentasi jaringan. Cu merupakan komponen dari beberapa metaloenzim
yang penting seperti oksidase sitokrom, oksidase lisin, dismutase superoksida, dopamin-hidroksilase, dan tirosinase.
Ketersediaan Cu yang berasal dari Cu anorganik dan Cu organik memberikan
respon terhadap ternak berbeda-beda.

Kincaid et al. (1986) melaporkan bahwa

ketersediaan Cu pada Cu proteinat lebih besar dari pada CuSO4 bagi anak sapi sedang
tumbuh dengan ransum hay alami. Kadar Cu dalam usus halus domba yang diberi Cu
proteinat lebih tinggi dibandingkan dengan CuSO4. Hal tersebut mungkin disebabkan
oleh pembentukan komplek Cu metallothionein lebih tersedia Cu proteinat dibandingkan
dari sumber CuSO 4.

Selanjutnya domba yang diberi Cu proteinat memiliki aktifitas

seruloplasmin lebih tinggi 23 persen dibandingkan Cu anorganik.

Sedangkan

hematokrit, sel darah putih, Hb, dan Cu plasma tidak dipengaruhi oleh sumber Cu
(Eckert et al. 1999).

Mineral Kromium (Cr)


Status kebutuhan kromium (Cr) pada ternak belum diketahui secara pasti,
karena selalu berubah sesuai dengan kondisi ternak. Pada kondisi stres kebutuhan Cr
akan meningkat. Hal ini disebabkan oleh mobilisasi cadangan Cr dalam tubuh akibat
peningkatan mobilisasi cadangan glukosa jaringan perifer untuk mencukupi kebutuhan
glukosa pada otak, selanjutnya sebagian Cr itu akan dikeluarkan melalui urin (Burton
1995). Meskipun konsentrasi Cr dalam tubuh relatif kecil, toleransinya dalam pakan
cukup besar yaitu 3000 ppm dalam bentuk Cr2O3 dan 1000 ppm dalam bentuk CrCl3
(NRC 1988).

Efektivitas suplementasi Cr selain tergantung pada jenis ternak juga

tergantung pada kondisi fisiologis dan bentuk Cr yang digunakan.

20
Suplementasi Cr ke dalam pakan akan lebih menguntungkan apabila diberikan
dalam bentuk kompleks organik. Hal ini karena dalam bentuk anorganik Cr ditemukan
dapat meracuni terutama yang berbentuk heksavalen (Cr6+), walaupun tingkat
absorsinya di usus tinggi, sedangkan bentuk trivalent (Cr3+) yang tidak beracun sangat
sulit diserap. Dalam beberapa kasus Cr anorganik yang dikonsumsi lewat makanan 98
persen tidak diserap dan dikeluarkan lewat feses (Offenbacher et al. 1986). Sebaliknya
ketersediaan Cr-organik cukup tinggi, tercatat 25 sampai 30 persen (Mordenti et al.
1997).
Komplek organik Cr terdapat dalam bentuk Cr-chelate, Cr proteinat ragi (high Cryeast) dan Cr-pikolinat. Kromium pikolinat terbentuk dari Cr3+ yang mengikat 3 molekul
asam pikolinat.

Asam pikolinat adalah metabolit sekunder yang dihasilkan pada

metabolisme triptofan sebelum membentuk niasin atau asam nikotinat (Combs 1992;
Groff dan Gropper 2000).
Kromium (Cr) menjadi unsur mikro yang esensial karena berhubungan dengan kerja
insulin. Dalam bentuk kompleks, Cr memfasilitasi interaksi jaringan antara insulin dan reseptor
insulin (Mertz et al. 1974). Menurut Kahn (1978), GTF-Cr (Glucose Tolerance Factor yang
mengandung Cr), meningkatkan pengikatan insulin oleh reseptor pada membran sel sehingga
entri glukosa ke dalam sel meningkat. Peningkatan ini akan terjadi walaupun insulin rendah. Cr
ada yang bervalensi 3 (Cr

+3

) ada juga yang bervalensi 6 (Cr+6). Krom yang esensial adalah

Cr+3, namun sulit diserap, sedangkan Cr+6 mudah larut dan mudah diserap akan tetapi toksik.
Mengingat keadaan serba salah itu, maka satu-satunya jalan untuk memasok Cr+3 ke dalam
tubuh ternak ialah dengan memasoknya dalam bentuk ikatan dengan ligand organik (Sutardi
2002). Suplementasi Cr organik pada sapi perah menunjukkan peningkatan konsumsi, protein
susu, laktosa susu, lemak susu dan produksi susu (Muktiani 2002). Analisis darah pada jam 0,
3 dan 5 jam setelah makan terjadi peningkatan glukosa pada jam ke-3 dan menurun pada jam
ke-5. Keadaan ini sedikit banyak menunjukkan bahwa terjadi entri glukosa ke dalam sel. Hal ini
seiring dengan terjadinya peningkatan laktosa susu yang cukup tinggi. Untuk mengatasi
kekurangan mineral esensial pada ternak maka dilakukan suplementasi. Suplemen
mineral ini diharapkan dapat meningkatkan aktivitas enzim terkait sehingga dapat
meningkatkan produksi dan juga meningkatkan pertumbuhan mikroba rumen.

Dalam

penelitian di laboratorium antara lain diperoleh petunjuk bahwa pemberian Cr pikolinat


sebesar 4 mg.kg-1 dapat mencapai pertumbuhan sapi 1.60 kg.hari-1. Berdasarkan hasilhasil penelitian terdahulu, ransum percobaan yang akan digunakan akan diperkaya

21
kandungan mineralnya serta ditingkatkan manfaatnya dengan suplemen-suplemen yang
bermanfaat bagi proses nutrisi protein.

Mineral Selenium (Se)


Selenium (Se) merupakan salah satu mineral yang mempunyai fungsi fisiologis
sebagai glutation peroksidase (GSH Px) berperanan dalam melindungi sel dan
subseluler dari kerusakan oksidatif dengan jalan mereduksi senyawa-senyawa
peroksida menjadi senyawa yang aman bagi sel. Peroksida ini terbentuk selama proses
metabolisme berlangsung. Glutation (GSH) adalah tripeptida yang mengandung tiga
asam amino yaitu glutamat, sistin dan glisin yang digunakan sebagai sumber asam
amino bersulfur (Baumrucker 1985).

Disamping Se berperan sebagai anti oksidan,

mineral ini juga terlibat dalam sistem kekebalan, sehingga ketersediannya sangat
penting bagi ternak.
Kebutuhan selenium (Se) pada sapi perah 0.30 mg.kg-1 (NRC 2001). Penyerapan Se
tidak terjadi di dalam rumen atau abomasum. Absorpi terbesar terjadi di usus kecil (duodenum)
dan sekum (McDowell 1992). Selenium merupakan bagian integral dari enzim peroksidase
glutation yang fungsinya meredam peroksida. Dengan demikian Se merupakan salah satu
unsur pertahanan tubuh. Selain itu ada beberapa enzim yang juga aktivitasnya bergantung
pada Se.

Salah satu di antaranya enzim deiodinase yang fungsinya mengubah T4

(tetraiodotironin) menjadi triodotironin (T3) yang merupakan bentuk aktif dari tiroksin. Hormon
tersebut mengatur metabolisme umum, karena itu dapat diharapkan bahwa suplementasi Se
akan meningkatkan produksi ternak dan menambah kekebalan tubuh (Sutardi 2002). Sapi
perah yang mengkonsumsi Se organik menghasilkan susu yang lebih tinggi dibandingkan
dengan yang mengkonsumsi Se anorganik (Awadeh et al. 1999). Penggunaan Se-proteinat
pada sapi perah menunjukkan adanya kenaikan konsumsi, T3, sintesis protein susu, laktosa
susu, lemak susu dan produksi susu (Prayitno 2002).
Bentuk suplemen Se harus dipertimbangkan dalam penggunaannya, karena
sodium selenit yang biasa digunakan sebagai sumber Se diketahui bersifat merugikan.
Dengan valensi yang besar, Se dalam tubuh dapat mengikat protein, enzim dan hormon,
sehingga enzim menjadi tidak aktif (Mahan 1995). Disamping itu absorsi sodium selenit
kecenderungan rendah di dalam rumen dikarenakan tereduksi menjadi senyawa yang
tidak larut.

22
Windisch et al. (1998) menyatakan bahwa secara umum Se organik dapat
dideposisikan dalam jaringan lebih tinggi dibandingkan dalam bentuk anorganik. Bentuk
selenometionin dan selenosistein lebih mudah diabsorsi oleh ternak karena sel-sel tubuh
secara aktif memanfaatkannya sebagai nutrient organik.

Dikemukakan lebih lanjut

bahwa suplementasi selenometionin menghasilkan konsentrasi Se yang tinggi pada


seluruh jaringan, dengan rataan peningkatannya 19 persen lebih tinggi dibandingkan
selenit. Hampir 75 persen Se dalam kapang merupakan selenometionin dan sisanya
berikatan dengan protein dan asam amino lainnya (Stone 1998).

Khitin dan Khitosan


Khitin merupakan biopolimer terbanyak kedua setelah selulosa yang berlimpah
dan tersebar di alam. Khitin termasuk komponen organik penting yang terdapat dalam
berbagai spesies binatang perairan, seperti pada kulit udang, cangkang rajungan
masing-masing sebesar 14-27 persen dan 13-15 persen bahan kering (Tsugita 1997).
Khitin merupakan biopolimer polisakarida dengan rantai lurus yang tersusun dari 20003000 monomer N-asetil-D-glukosamin, monomer-monomer tersebut tersusun dengan
ikatan glikosidik (1-4) dengan nama kimia poli-(1-4)-N-asetil-D-glukosamin (Knorr
1994).
CH2OH

CH2OH
O

CH2OH
O

O
OH
H

H
HNCOCH3

O
O

OH
H

H
HNCOCH3

OH
H

H
HNCOCH3

Gambar 3. Struktur berulang khitin


Bentuk molekul khitin hampir sama dengan selulosa yaitu polisakarida yang
dibentuk dari molekul-molekul sederhana yang identik.

Bedanya dengan selulosa

terletak pada gugus rantai C-2, dimana gugus hidroksil pada C-2 digantikan oleh gugus
asetil amino (NHCOCH3). Selulosa mengandung monomer glukosa yang terlihat dalam
bentuk (1-4), sedangkan khitin mengandung monomer N-asetil-D-glukosamin (Ornum
1992).

23
Khitin tidak larut dalam air, basa, alkohol atau pelarut organik lainnya, tetapi
khitin dapat larut dalam larutan HCl pekat, H2SO4 pekat, asam fosfat 78-79 persen atau
asam format anhidrat (angka dan Suhartono 2000). Khitin mudah mengalami degradasi
secara biologis, tidak beracun, tidak beracun, dengan warna putih, berbentuk kristal
dengan berat molekul lebih dari 1.2x105 dalton (Knorr 1984).
Khitosan merupakan turunan khitin yang diperoleh melalui proses deasetilasi
atau penghilangan gugus COCH3. Pemrosesan khitin dengan alkali akan menghasilkan
khitosan yang merupakan substansi heterogen dari proses deasetilasi. Dari sekian
banyak sumber khitosan hanya kulit udang dan rajungan yang sudah dimanfaatkan
secara komersial. Cangkang rajungan merupakan sumber utama dari industri yang
memproduksi khitin dan khitosan, karena cangkang rajungan relatif kaya khitin, sedikit
mengandung CaCO3, dan mudah didapat dalam jumlah besar sebagai hasil samping
industri pengolahan rajungan (Hirano 1989).
CH2OH

CH2OH
O

CH2OH
O

O
OH
H

O
O

OH

NH2

NH2

OH

NH2

Gambar 4. Struktur berulang khitosan


Khitosan merupakan produk deasetilasi khitin yang bersifat unik, dengan unit
penyusun berupa disakarida (1-4)-2-amino-2-dioksi--D-glukosa dengan ikatan
(Angka dan Suhartono 2000).

Berat molekul khitosan sekitar 1.036x106 dalton,

tergantung dari degradasi yang terjadi pada saat proses pembuatannya.

Semakin

banyak gugus asetil yang hilang dari polimer khitin, maka berat molekulnya semakin
rendah dan sebaliknya interaksi antar ion dan ikatan hydrogen dari khitosan semakin
kuat (Ornum 1992).
Penampilan fungsional khitosan ditentukan oleh sifat fisik dan kimianya. Seperti
halnya dengan polisakarida lain, khitosan memiliki kerangka gula tetapi dengan sifat
yang unik karena polimer ini memiliki gugus amin bermuatan positif , sedangkan
polisakarida lain umumnya bersifat netral atau bermuatan negatif (Angka dan Suhartono
2000). Menurut Sandford (1989), bahan-bahan seperti protein, anion polisakarida dan

24
asam nukleat yang bermuatan negatif akan berinteraksi kuat dengan khitosan
membentuk ion netral. Khitosan mudah mengalami degradasi secara biologis dan tidak
beracun, kationik kuat, flokulan dan koagulan yang baik, mudah membentuk membran
atau film serta membentuk gel dengan anion bervalensi ganda.
Khitin dan khitosan merupakan senyawa kimia yang mudah menyesuaikan diri,
hidrofilik, memiliki reaktifitas kimia tinggi karena mengandung gugus OH dan gugus
NH2 untuk ligan yang bervariasi sebagai penukar ion.

Selain itu ketahanan kimia

keduanya cukup baik yaitu khitosan larut dalam larutan asam tetapi tidak larut dalam
basa dan posisi silang khitosan memiliki sifat yang sama baiknya dengan khitin, serta
tidak larut dalam media campuran asam dan basa (Muzarelli 1977). Khitosan tidak larut
dalam alkali pada pH diatas 6.5 dan pelarut organik, tetapi dapat larut cepat dalam asam
organik encer seperti asam format, asam asetat, asam sitrat dan asam mineral lain
kecuali sulfur (Austin 1984). Pelarut khitosan yang baik adalah asam format dan asam
asetat dengan konsentrasi 0.2-1.0% dan 1-2% (Ornum 1992). Sifat kelarutan khitosan
dipengaruhi oleh berat molekul, derajat deasetilasi, dan rotasi spesifik yang bervariasi
serta tergantung dari sumber dan metode isolasinya (Austin 1984).
Molekul khitosan di dalam larutan asam encer berkekuatan ion rendah bersifat
lebih kompak dibandingkan dengan larutan polisakarida lainnya, hal ini disebabkan
densitas muatan yang tinggi. Akan tetapi, dalam larutan berkekuatan ionik tinggi ikatan
hidrogen dan gaya elektrostatik pada molekul khitosan terganggu sehingga
konformasinya menjadi bentuk acak (random coil).

Sifat fleksibel molekul ini yang

menjadikannnya dapat membentuk baik konformasi kompak maupun memanjang


sehingga membantu fleksibilitas pemananfaatannya dalam berbagai produk (Angka dan
Suhartono 2000).
Sifat yang menarik lainnya dari khitosan adalah kemampuannya untuk mengikat
ion logam (Chelates metal ions) seperti Fe, Cu, Pb, Cd, Hg dan lain-lain, mengikat air
dan lemak, menggumpalkan suspensi koloid dengan membentuk blok-blok gumpalan
seperti aluminium sulfat, ferosulfat atau feriklorida serta mempunyai sifat adsorbsi
(Karim dan Sistrunk 1985). Khitosan memiliki sifat reaktifitas kimia yang tinggi yang
menyebabkan mampu mengikat air dan minyak. Hal ini didukung dengan adanya gugus
polar dan nonpolar yang dikandungnya, maka khitosan dapat digunakan sebagai
pengental, pembentuk gel yang sangat baik, sebagai pengikat, penstabil, dan
pembentuk tekstur (Brzeski 1989). Selanjutnya Hirano (1989) menjelaskan kelebihan
dari khitin dan khitosan diantaranya : (1) Merupakan komponen biomassa utama pada

25
udang dan rajungan (2) Sumberdaya yang dapat diperbaharui (3) Senyawa biopolimer
yang dapat terdegradasi dan tidak mencemari lingkungan (4) Hampir tidak bersifat toksik
(5) Konformasi molekul dapat diubah, (6) Mempunyai fungsi biologis, dapat membentuk
gel, koloid, serat dan film, dan (7) Mengandung gugus amino dan hidroksi yang dapat
dimodifikasi.
Khitosan memiliki potensi untuk digunakan dalam industri dan kesehatan.
Kualitas khitosan tergantung pada penggunaannya, misalnya khitosan yang digunakan
dalam proses pemurnian air limbah tidak membutuhkan bahan dengan kemurnian yang
tinggi sedangkan untuk obat-obatan diperlukan khitosan dengan kemurnian yang tinggi.
Mutu khitosan tergantung pada beberapa parameter yaitu kadar air, kadar abu,
kelarutan, derajat deasetilasi, viskositas, dan berat molekul (Bastaman 1989).

Rumput Laut Coklat


Rumput laut adalah biota laut yang tergolong tanaman tingkat rendah.
Umumnya tumbuh melekat pada substrat tertentu, tidak memilik akar, batang, dan daun
sejati. Pada umumnya rumput laut dapat dikelompokkan menjadi empat kelas yaitu (1)
Rumput laut hijau (Clorophyceae), (2) Rumput laut biru (Cyanophyceae), (3) Rumput
laut merah (Rhodophyceae), (4) Rumput laut coklat (Phaeophyceae). Rumput laut
coklat terdiri dari sekitar 1500 jenis (Dawes 1981). Jenis rumput dari kelas ini umumnya
hidup di perairan subtropis seperti Macrocytis, Laminaria, Ascophyllum, dan lain-lain,
sedangkan diperairan tropis termasuk Indonesia terdapat jenis-jenis lain seperti
Sargassum, Turbinaria, Padina, dan Dictyota.
Rumput laut coklat membutuhkan air bersih dengan suhu 4o sampai 18oC.
Rumput laut ini berfotosintesis dibatasi lokasi dan kondisi cahaya yang cocok dari zona
tidal sampai kedalam 50 meter, tergantung pada spesies (Onseyen 1992). Alginat
terdapat pada semua rumput laut coklat (Phaeophyceae). Salah satu rumput laut coklat
yang potensial di Indonesia adalah Sargassum sp yang tersebar hampir di seluruh
perairan Indonesia, tumbuh diperairan yang terlindungi dan berombak besar pada
habitat batu (Kadi dan Atmadja 1988).
Sargassum mempunyai ciri-ciri sebagai berikut : bentuk Thallus umumnya
silindris atau gepeng, percabangan rimbun menyerupai pepohonan di darat, bangun
daun melebar, lonjong atau menyerupai pedang mempunyai gelembung udara (bladder)
yang umumnya soliter, panjangnya dapat mencapai tujuh meter dan warna thallus
umumnya coklat, dan umur tanaman lebih dari satu tahun (Kadi dan Atmadja 1988).

26
Pada mulanya rumput laut dimanfaatkan sebagai makanan, baik dimakan
langsung maupun sebagai sayur atau lalap. Untuk pakan ternak atau campuran ransum
ternak biasanya didasarkan pada kandungan vitamin E, fukoxanthine, dan iodium.
Pemakaian rumput laut sebagai pakan ternak unggas dapat memperbaiki warna kuning
telur dan melunakkan daging ternak. Rumput laut juga bisa digunakan sebagai pupuk,
hal ini disebabkan karena kandungan N, P, K, dan iodium yang cukup tinggi (Satari
1997).
Komposisi kimia rumput laut sangat bervariasi, tergantung pada jenis spesies,
masa perkembangan, dan kondisi tempat tumbuhnya. Hasil fotosintesa yang bernilai
ekonomi tinggi dan dapat diekstrak dari Sargassum sp adalah alginat, yaitu garam dari
asam alginat yang mengandung ion sodium, kalsium dan kalium.

Asam alginat

merupakan senyawa organik kompleks yang termasuk golongan karbohidrat (Chapman


dan Chapman 1980).
Alginat pertama kali diekstraksi dari rumput laut coklat jenis Laminaria oleh
Stanford. Proses yang dilakukannya sangat sederhana yaitu bahan baku alga coklat
dicuci dengan air dingin atau asam untuk melarutkan garam-garam kalium, iodium dan
garam anorganik lainnya yang dapat larut dalam air. Bahan ini dimasak dengan larutan
Na2CO3 10% selama 24 jam. Filtrat yang terbentuk selanjutnya ditambahkan HCl atau
H2SO4 sehingga asam alginat akan terendapkan. Pemucatan dapat dilakukan selama
proses pengendapan berlangsung.

Pengeringan asam alginat dilakukan pada bak

terbuka dengan aliran udara panas atau pada silinder berputar (Chapman dan Chapman
1980).
COOH

COOH
O

COOH
O

OH
H

OH
H

O
O

OH
H

OH
H

OH
H

OH
H

Gambar 5. Struktur berulang alginat


Rumput laut coklat memiliki kandungan senyawaan yang potensial untuk
menyerap logam berat. Hal ini karena kandungan polisakarida gugus karboksil dari
alginat sebagai tempat utama penyerapan logam berat.

Sargassum sp merupakan

27
salah satu rumput laut coklat yang terbaik sebagai pengumpul logam berat dibandingkan
dengan jenis rumput laut lainnya. Hal ini karena rumput laut coklat memiliki kapasitas
penyerapan yang tinggi, murah dan mudah dikembangkan, serta memiliki kandungan
antioksidan yang tinggi (Franca et al. 2001).

Karakteristik Semen Ternak Domba


Semen merupakan sekresi kelamin jantan yang secara normal dikeluarkan pada
saat ejakulasi yang terdiri dari spermatozoa dalam plasma semen. Sedangkan ejakulat
merupakan semen hasil satu kali proses ejakulasi.

Setiap ejakulat berbeda antar

spesies, dimana untuk domba berkisar antara 0.8 1.2 ml (Hafez 1993). Spermatozoa
dihasilkan didalam testis, sedangkan plasma semen adalah campuran sekresi yang
dibuat oleh epididymis dan kelenjar-kelenjar pelengkap yaitu vesikularis dan prostate
(Toelihere 1981).

a. Testis kiri
b. Caput epididymis
c. Corpus epididymis
d. Cauda epididymis
e. Vas deferens
f. Buluh darah dan syaraf spermaticus
g. Ampulla vas deferens
h. Kelenjar vesikularis

i. Corpus prostate
j. Pars prostata disseminata
l. Kelenjar cowper
p. Penis
r. Bagian bebas penis
s. M. Retractor penis
t. Vesica urinaria
v. Rectum
x. processus urethrae

Gambar 6. Organ reproduksi jantan dan bagian-bagiannya pada domba


(Toelihere 1993).

28
Menurut Garner dan Hafez (2000) bagian ekor antara leher dan annulus adalah
bagian tengah yang diselaputi oleh axonema yang terdiri dari 9 pasang mikrotubuli yang
melingkari 2 buah filamen, bagian tengah ekor juga diselubungi oleh mitokondria yang
berbentuk pola helix disepanjang serat longitudinal dari ekor dan merupakan sumber
energi yang dibutuhkan untuk motilitas sperma.

Bagian utama yang dimulai dari

annulus sampai mendekati ujung ekor dibentuk terutama pada axonema dan sejenis
serat kasar, bagian serat kasar inilah yang memberikan kestabilan dalam pergerakan
ekor. Bagian akhir yang merupakan bagian posterior dan merupakan akhir dari seratserat yang kompak, hanya terdiri dari axonema dan dilapisi oleh plasma membrane.

Gambar 7. Spermatozoa dan bagian-bagiannya (Toelihere, 1993)


Sekitar 90 % volume semen terdiri dari plasma semen, sifat-sifat fisik dan kimia
semen sebagian besar ditentukan oleh plasma semen (Toelihere 1981). Plasma semen
adalah campuran sekresi yang dibuat oleh epididimis dan kelenjar-kelenjar kelamin
pelengkap yaitu ampula, kelenjar vesikularis, kelanjar prostate dan kelenjar
bulbourethralis.

Menurut Toelihere (1981) dan Senger (1999) fungsi utama plasma

semen adalah sebagai medium perjalanan spermatozoa dari lingkungan saluran


reproduksi jantan ke traktus reproduksi betina selama ejakulasi. Fungsi ini dapat di
jalankan dengan baik karena pada banyak spesies plasma semen mengandung bahanbahan penyangga dan makanan sebagai sumber energi bagi spermatozoa baik yang
dapat digunakan secara langsung misalnya fruktosa dan sorbitol maupun secara tidak

29
langsung misalnya glyseryl phosphoryl choline (GPC). Plasma semen yang sebagian
besar terdiri dari air, merupakan cairan netral bersifat isotonik serta berisi substansi
organik dan inorganik sebagai cadangan makanan dan perlindungan sperma.
Plasma semen mengandung asam sitrat konsentrasi tinggi, ergothionin, fruktosa,
GPC, sorbitol, asam askorbat, asam amino, peptide, protein, lipid, asam lemak dan
sejumlah enzim. Di dalam plasma semen juga dapat ditemukan adanya hormon
androgen, estrogen, prostaglandin, FSH, LH, chorionik gonadotropin, hormon
pertumbuhan, insulin, glukagon, prolaktin, relaxin, thyroid releasing hormon dan
encephalin (Garner dan Hafez 2000).
Tabel 2. Karakteristik seminal dan komposisi kimia semen domba
Sifat-sifat dan komposisi kimiawi semen domba
Volume ejakulat (ml)
Konsentrasi spermatozo9a (106/ml)
Persentase motilitas
spermatozoa per ejakulat
Persentase spermatozoa normal
Protein (gr/100 ml)
pH
Fruktosa (mg/100ml)
Sorbitol (mg/100ml)
Asam sitrat (mg/100 ml)
Inositol
Gliserol phosphoril Kholine (mg/100 ml)
Ergothionine (mg/100 ml)
Sodium (mg/100 ml)
Potassium (mg/100 ml)
Kalsium (mg/100 ml)
Mg (mg/100 ml)

Jumlah
0.8-1.2
2000-3000
60-80
1.6-3.9 (109)
80-95
5.0
5.9-7.9
250
26-170
110-260
7-14
1100-2100
0
178 11
89 4
62
6 0.8

Sumber : Hafez (1993).


Volume semen yang dapat diperoleh tiap penampungan sangat bervariasi
tergantung pada usia domba jantan, bangsa domba, musim dan waktu penampungan,
serta kemampuan individu ternak (Hafez 1993). Rata-rata volume setiap penampungan
berkisar antara 0.2 2.5 ml semen dengan konsentrasi 1500 3000 juta sel sperma per
ml (Toelihere

1993), sedangkan menurut Singleton (2002) rata-rata volume pada

domba jantan antara 0.8 2.0 ml dengan konsentrasi antara 1.5 4.0 x 109 sel.
Konsentrasi spermatozoa menggambarkan kualitas semen yang menentukan
berapa betina yang dapat dikawini dengan ejakulat yang diperoleh (Hafez 1993).
Menurut Inounu et al. (2000) dinyatakan bahwa konsentrasi spermatozoa tergantung

30
dari bobot badan. Semen pada domba mempunyai pH berkisar antara 5.9 sampai 7.3
dengan warna cream atau agak keabua-abuan. Semen dengan konsentrasi sperma
yang tinggi bersifat agak asam, sedangkan semen dengan konsentrasi rendah
cenderung bersifat basa (Toelihere 1993). Secara spesifik kualitas semen domba Garut
dilaporkan Rizal et al. (2002), volume ejakulat 1,2,3 masing-masing 0.770.19,
0.950.31, 0.770.19, warna putih susu, konsistensi kental, gerakan massa +++, pH
7.120.09, konsentrasi 2845.00355x106 sel/ml, persentase motilitas 76.672.36,
persentase hidup 88.332.87, dan persentase abnormalitas 4.330.74.

Selanjutnya

Herdis et al. (2005) juga melaporkan bahwa volume per ejakulat 0.790.08 ml, warna
krem, konsistensi kental, pH 7.000.08, gerakan massa 3.000.00, konsentrasi
3674400 juta sel permililiter, persentase motilitas 75.000.00%, persentase hidup
84.800.84%, dan persentase abnormal 2.400.54%.

Karakteristik Darah
Hewan tingkat tinggi mempunyai sistem sirkulasi darah dan cairan-cairan,
sebagai suatu cara untuk mempertahankan lingkungan yang relatif konstan bagi semua
sel. Darah terdiri dari sel-sel yang terendam di dalam cairan yang disebut plasma.
Darah mempunyai peranan dalam membawa nutrient, transport O2 dan CO 2, transport
hormon, sebagai buffer, dan sebagai faktor penting dalam pertahanan tubuh terhadap
penyakit (Frandson 1996).
Darah adalah jaringan ikat cair yang terdapat dimana-mana dalam tubuh. Darah
mengandung sel-sel, serat ekstraseluler yang potensial dan substansi dasar amorf
ekstrseluler. Sel-sel darah dihasilkan di bagian dalam tulang pada jaringan ikat khusus
disebut sumsum tulang. Sel-sel dalam darah ialah eritrosit, leukosit, dan trombosit.
Darah mengandung serat-serat fibrinogen yang potensial, yang menjadi serat
sebenarnya (fibrin) selama pembekuan. Bekuan darah adalah jaringan ikat semisolid
yang dengan cepat menghentikan perdarahan dan bekerja sebagai sel-sel penting untuk
penyembuhan luka.

Substansi dasar amorf ekstraseluler darah adalah cairan dan

protein dalam plasma darah (Johnson dan Gunawijaya 1994).


Sel darah merah (red blood cell) atau eritrosit adalah sel-sel dengan diameter
rata-rata sebesar 7.5 , dengan spesialisasi untuk pengangkutan oksigen. Sel-sel ini
merupaka cakram yang bikonkaf, dengan pinggiran sirkuler yang tebalnya 1.5 dan
pusatnya yang tipis. Cakram bikonkaf tersebut mempunyai permukaan yang relatif luas
untuk pertukaran oksigen melintasi membran sel. Adanya hemoglobin di dalam eritrosit

31
memungkinkan timbulnya kemampuan kemampuan untuk mengangkut oksigen, serta
menjadi penyebab timbulnya warna merah pada darah. Dari segi kimia, hemoglobin
merupakan suatu senyawa organik yang kompleks yang terdiri dari empat pigmen
porfirin merah (heme), masing-masing mengandung atom besi ditambah globin, yang
merupakan protein globular yang terdiri dari empat rantai asam-asam amino.
Hemoglobin bergabung dengan dengan oksigen udara yang terdapat didalam paru-paru,
sehingga terbentuklah oksihemoglobin, yang selanjutnya melepaskan oksigen itu ke selsel jaringan di dalam tubuh (Frandson 1996).
Sel darah putih atau leukosit sangat berbeda dari eritrosit, karena adanya
nucleus dan memiliki kemampuan gerak yang independent.

Leukosit digolongkan

dalam beberapa bentuk yaitu Granulosit yang terdiri dari Netrofil, Eosinofil, dan Basofil.
Sedangkan Agranulosit terdiri dari Monosit dan Limfosit. Masa hidup leukosit sangatlah
bervariasi, mulai dari beberapa jam untuk granulosit, sampai bulanan untuk monosit,
dan bahkan tahunan untuk limfosit. Di dalam aliran darah kebanyakan sel darah putih
bersifat nonfungsional dan hanya diangkut ke jaringan ketika dan dimana dibutuhkan
saja.
Netrofil mengandung granula yang memberikan warna indiferen dan tidak merah
ataupun biru. Ini merupakan jajaran pertama untuk sistem pertahanan melawan infeksi
dengan cara migrasi ke daerah yang sedang mengalami serangan oleh bakteri,
menembus dinding pembuluh, dan menerkam bakteri untuk dihancurkan. Dalam proses
ini banyak pula netrofil yang mendegradasi jaringan yang mati (nekrotik) dan
menghasilkan zat semi cair yang disebut nanah (pus). Jumlah netrofil di dalam darah
meningkat cepat tatkala terjadi infeksi yang akut. Hitungan atas sel darah putih yang
menunjukkan peningkatan, merupakan diagnosis infeksi yang bermanfaat.
Eosinofil juga dikenal dengan asidofil nampak sebagai granula yang berwarna
merah di dalam sitoplasma. Sel-sel ini yang umumnya jumlah tidak banyak, dapat
meningkat dalam kasus-kasus penyakit kronis tertentu, seperti infeksi oleh parasit.
Eosinofil juga bersifat ameboid dan fagositik. Fungsi utamanya adalah untuk toksifikasi
baik terhadap protein asing yang masuk kedalam tubuh melalui paru-paru ataupun
saluran pencernaan, maupun racun yang dihasilkan oleh bakteri atau parasit. Dalam
keadaan reaksi alergi juga eosinofil akan meningkat.
Basofil yang mengandung granula yang berwarna biru oleh pewarnaan, juga
sedikit dalam darah yang normal.

Karena basofil mengandung heparin (zat

antikoagulan), dipostulasikan bahwa heparin itu dilepaskan di daerah peradangan guna

32
mencegah timbulnya pembekuan darah.

Karena terlibat dalam proses peradangan

maka dapat mengganggu keseimbangan yang peka antara basofil dan eosinofil dalam
mengawali atau mengontrol peradangan itu. Basofil juga mengandung histamine dan
diperkirakan pula basofil adalah prekursor bagi mast cell.

Basofil dan mast cell

melepaskan histamin, sedikit bradikinin dan serotonin. Sel-sel ini terlibat dalam reaksi
peradangan jaringan dan dalam proses reaksi alergik.
Monosit merupakan sel-sel darah putih yang menyerupai netrofil, bersifat
fagositik yang mempunyai kemampuan utuk menerkam material asing seperti bakteri.
Akan tetapi kalau netrofil kerja utamanya mengatasi infeksi yang akut , monosit akan
mulai bekerja pada keadaan infeksi yang tidak terlalu akut seperti pada kasus
tuberkolosis.

Tatkala monosit darah masuk kedalam jaringan, monosist itu akan

berkembang menjadi fagosit yang lebih besar yang disebut makrofag.


Limfosit mempunyai ukuran dan penampilan yang bervariasi, mempunyai
nucleus relatif besar yang dikelilingi oleh sejumlah sitoplasma. Fungsi utama limfosit
adalah responnya terhadap antigen atau benda-benda asing dengan membentuk
antibodi yang bersirkulasi di dalam darah atau dalam pengembangan imunitas
(kekebalan) seluler.