Anda di halaman 1dari 27

BAB III

HASIL PENGKAJIAN DAN ANALISA SERTA SINTESA


PERMASALAHAN MANAJEMEN KEPERAWATAN

I. Hasil Pengkajian 5 M
A. 5 M (Man, Material & Machine, Method, Money, Market)
1.

Man
Jumlah Tenaga
Kualifikasi tenaga keperawatan di UNIT STROK berjumlah 10
orang dengan rincian sebagai berikut:
a) Tenaga Keperawatan :
No.
1.
2.
3.

Kualifikasi
S1 Keperawatan
DIII Keperawatan
DI Keperawatan
Jumlah

Jumlah
9
1
10

Prosentase
0%
90%
10 %
100%

Kesimpulan: dari data di atas sebagian besar perawat di Unit Stroke


adalah berlatar pendidikan DIII Keperawatan, perlu ditingkatkan lagi
untuk bisa melanjutkan lagi ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
b) Tenaga Medis :
No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9
10
11
12
13
14
15
16

Kualifikasi
Dokter Spesialis Bedah Umum
Dokter Spesialis Bedah Ortopedi
Dokter Spesialis Mata
Dokter Spesialis Syaraf
Dokter Spesialis THT
Dokter Spesialis Bedah Syaraf
Dokter Umum
Bedah dan IPD
Dokter Spesialis paru
Dokter Gigi
Dokter Spesialis Obsgyn
Dokter Spesialis Anak
Dokter Spesialis jantung
Dokter Spesialis Radiologi
Dokter Spesialis Anastesi
Dokter Spesialis Kulit dan
Rekonstrusi
Total

Jumlah
3
2
4
2
2
1
7
4
2
2
3
4
2
3
2

Prosentase
6,8 %
4,5 %
9%
4,5 %
4,5 %
2,2 %
15,9 %
9%
4,5 %
4,5 %
6,8 %
9%
4,5 %
6,8 %
4,5 %

2,2 %

44

100%

Kualitas Tenaga

Berdasarkan hasil wawancara dengan Perawat Ruangan di Unit Strok


didapatkan jumlah tenaga perawat pelaksana di Unit Strok RS Wava Husada
Kab. Malang saat ini adalah:

1.

Rifka Choiri D3
Fauziah
Keperawatan

4
Tahun

Kanit

2.

Ira
Puspitasari

D3
Keperawatan

4
Tahun

Pj shift

3.

Yuni Nofita

D3
Keperawatan

5
Tahun

Pj shift

4.

Ruli Ristoni.

D3
Keperawatan
Evin Dwi
D3
Keperawatan
Nanang
D3
Sumanto
Keperawatan
Nunuk Puji D3
Lestari
Keperawatan
Andry
D3
Julianto
Keperawatan
Eko
Puji D3
Rahayu,
Keperawatan

4 tahun

Pj Shift

5 tahun

PJS Kanit

4 tahun

Perawat

Pelatihan
yang pernah
diikuti
BTLS, BCLS,
pelatihan
management
dasar stroke
BTLS, BCLS,
pelatihan
management
dasar stroke
BTLS, BCLS,
Manajemen
dasar stroke
BCLS, Trauma
service PPGD
Manajemen
dasar stroke
-

8 tahun

Perawat

2 tahun

Perawat

8 tahun

Perawat

Heni Fitria

8 tahun

Asper

No
.

Nama

5
6.
7.
8.
9.
10

Pendidikan

D1
Keperawatan

Masa
Kerja

Jenis
Ketenagaan

Jumlah Pasien Pada Tanggal 05 April 2015 07 April 2015 dan


Tingkat Ketergantungannya
Pada hasil pengkajian di Unit Stroke dalam tiga hari (Tanggal 06 April
2015 - 08 April 2015) adalah sebagai berikut:
Tabel Hasil Rekapitulasi Pasien Unit Stroke Tanggal 05 April 2015 07 April
2015
Tanggal

Jumlah Pasien/Hari

Jumlah Jumlah

Jam

Dan Bulan
05 /04/15
06/04/15
07/04/15
Jumlah total

Total
5
5
5
15

Parsial
4
4
4
12

Mandiri
-

9
9
9
27

Perawatan
46
46
46
138

Kebutuhan Jumlah Perawat


Dari hasil rekapitulasi data pasien dan tingkat ketergantungannya pada
bulan Desember dapat dihitung berapa jumlah kebutuhan tenaga keperawatan
menggunakan rumus sebagai berikut:
Menurut Gillies (1982)
Jumlah tenaga keperawatan yang dibutuhkan perhari dapat dihitung
menggunakan formula sebagai berikut:
Jam keperawatan yang dibutuhkan klien/hari X klien rata-rata/hari X hari/tahun
( Hari/tahun Hari libur masing-masing perawat) X jam kerja tiap perawat

Tanggal 5 April 2015


M=
P =4x4

= 16

T =5x6

= 30

Total

= 46 jam perawatan

Penkes : 15 x 9 = 135 menit = 2,25 jam


Perawatan tidak langsung = 1 jam x 9 = 9 jam
Jumlah jam perawatan per hari = 46 + 2,25 + 9 = 57,25 jam
Jumlah kebutuhan perawat per unit dalam 1 tahun : 57,25 x 365 = 10,3 =10 perawat
289 x7

Jumlah kebutuhan perawat per hari : 57,25 : 7 = 8,2 = 8 perawat


Jumlah kebutuhan perawat per shift : pagi : 47

x 8= 3,7 = 4 perawat

100
Sore : 35 x 8 = 2,8 = 3 perawat
100
Malam : 17 x 8 = 1,6 = 2 perawat
100
Tanggal 6 April 2015

M=
P =4x4

= 16

T =5x6

= 30

Total

= 46 jam perawatan

penkes : 15 x 9 = 135 menit = 2,25 jam


perawatan tidak langsung = 1 jam x 9 = 9 jam
Jumlah jam perawatan per hari = 46 + 2,25 + 9 = 57,25 jam
Jumlah kebutuhan perawat per unit dalam 1 tahun : 57,25 x 365 = 10,3 =10 perawat
289 x7

Jumlah kebutuhan perawat per hari : 57,25 : 7 = 8.17 = 8 perawat


Jumlah kebutuhan perawat per shift : pagi : 47

x 8= 3,76 = 4 perawat

100
Sore : 35 x 9 = 3,15 = 3 perawat
100
Malam : 17 x 8 = 1,6 = 2 perawat
100
Tanggal 7 April 2015
M=
P =4x4

= 16

T =5x6

= 30

Total

= 46 jam perawatan

penkes : 15 x 9 = 135 menit = 2,25 jam


perawatan tidak langsung = 1 jam x 9 = 9 jam
Jumlah jam perawatan per hari = 46 + 2,25 + 9 = 57,25 jam
Jumlah kebutuhan perawat per unit dalam 1 tahun : 57,25 x 365 = 10,3 =10 perawat
289 x7

Jumlah kebutuhan perawat per hari : 57,25 : 7 = 8.17 = 8 perawat


Jumlah kebutuhan perawat per shift : pagi : 47

x 8= 3,76 = 4 perawat

100
Sore : 35 x 9 = 3,15 = 3 perawat
100
Malam : 17 x 8 = 1,6 = 2 perawat
100

Rata-rata kebutuhan tenaga perhari : 4 + 3 + 2 = = 3 perawat


3
Keterangan: Prinsip dari rumus Gillies adalah:
Jumlah tenaga keperawatan yang dibutuhkan klien per hari adalah
a.

Waktu keperawatan langsung


(self care) = x 4
(partial care) = x 4
(total care) = (1 1,5) x 4
(intensive care) = 2 x 4 jam

= 2 jam
= 3 jam
= 4 6 jam
= 8 jam

b. Waktu keperawatan tidak langsung


RS Graha Detroit

= 38 menit/klien/hari

Wolfe & Young

= 60 menit/klien/hari

c. Waktu penyuluhan kesehatan lebih kurang 15 menit/hari/klien


d. Bed Occupancy Rate (BOR)
e. Jumlah hari per tahun, yaitu 365 hari
Hari libur masing-masing perawat per tahun, yaitu 76 hari {hari minggu = 52
hari, hari hari libur nasional = 12 hari, dan cuti tahunan = 12 hari
f. Jumlah jam kerja tiap perawat adalah 40 jam per minggu (hari kerja efektif
6 hari maka 40/6 = 6,6 jam per hari).

Tabel Analisa kebutuhan tenaga kerja di Unit Stroke RS WAVA HUSADA Tgl
05 April 2015 07 April 2015

05/04/2015
06/04/2015
07/04/2015

KlasifikasiKeterangan
tingkat: Jumlah

Kebutuhan

tenaga

ketergantungan
M : Mandiri
M
P
T
4
5
4 P : Partial
5
4
5

perawat
Pagi
Sore
4
3
4
3
4
3

Malam
2
2
2

T : Total

klien
9
9
9

a) Jumlah pasien selama 3 hari

Sumber: Hasil pendataan mahasiswa kelompok 2 pada tanggal 05 April 2015 07 Februari 2015
Dari grafik diketahui, dari total jumlah pasien selama 3 hari sebanyak 27
orang jumlah total pasien tingkat ketergantungan partial 12 orang dan tingkat
ketergantungan total 15 orang pasien.
Jumlah tenaga yang dibutuhkan adalah: 8 + 8 + 8 =8 perawat
3
Jadi jumlah tenaga perawat yang di butuhkan perhari adalah 8 orang
(berdasarkan rumus Gillies)

Pembagian perawat shift :


Shift pagi

: 47% x 8 orang = 4

Shift sore

: 35% x 8 orang = 3

Shift malam

: 17% x 8 orang = 2

Di Unit Stroke RS WAVA HUSADA terdapat perawat shift pagi sebanyak 4


orang, shift sore sebanyak 3 orang dan shift malam 2 orang. Berdasarkan data
diatas dapat disimpulkan bahwa jumlah perawat di Unit Stroke WAVA HUSADA
pada shift pagi, sore dan malam kurang memenuhi standar. Dapat disimpulkan
bahwa kebutuhan tenaga perawat di Unit Stroke WAVA HUSADA belum
terpenuhi.
Masalah yang ada pada MAN :

Jumlah tenaga perawat untuk memenuhi kebutuhan tenaga harian masih


belum mencukupi pada shift pagi, sore dan malam.

Dari sejumlah perawat yang bekerja di Unit Stroke RS WAVA HUSADA


sudah pernah mengikuti kegiatan untuk meningkatkan skill dan kemampuan
dalam bidang medis, sehingga hal ini sangat menunjang untuk peningkatan
mutu SDM, namun dari segi kuantitas masih kurang.

2.

Material dan Machine


Dalam melaksanakan asuhan keperawatan di ruang Stroke, tentunya

harus didukung dengan alat-alat medis maupun non medis. Adapun alat-alat
yang dimiliki oleh ruang unit stroke baik alat medis maupun non medis adalah
sebagai berikut:
a.

Penataan Gedung/Lokasi Dan Denah Ruangan


Lokasi penerapan proses manajerial keperawatan ini dilakukan di Unit
Stroke RS Wava Husada Kepanjen, dengan uraian denah sebagai berikut :

Sebelah Selatan berbatasan dengan ruang IRNA D.


Sebelah Barat berbatasan dengan ruang IRNA D.
Sebelah Timur berbatasan dengan ruang Rekam Medis Non Aktif.
Sebelah Utara meruapakan lahan pertanian.
Pintu masuk berada di sebelah timur ruangan pasien dan di depan
nurse station.

b.

Fasilitas untuk Petugas Kesehatan


1) Nurse station
Kondisi cukup rapi dan bersih, penempatan buku-buku dan komputer
teratur, penempatan status di troli, buku-buku barang habis pakai di
simpan di lemari, terdapat locker untuk perawat, terdapat whiteboard
untuk menuliskan laporan operan per shift dan terdapat wastafel untuk
cuci tangan. Nurse station utama berada di bagian timur kamar pasien
dan ruang kepala ruangan menjadi satu dengan ruang pertemuan
perawat.
2) Kamar mandi:
Kamar mandi cukup bersih dan lokasi berada cukup jauh dengan nurse
station unit stroke yaitu berada di sebelah selatan unit stroke.
3) Kamar ganti perawat dan dapur
Kamar ganti perawat berada di sebelah timur nurse station. Dapur berada
di lantai 1 berada jauh dari nurse station.

c.

Administrasi Penunjang
Lokasi penerapan proses manajerial keperawatan ini dilakukan pada Ruang
Unit Stroke Rumah Sakit Wava Husada Kepanjen, administrasi penunjang
untuk rekam medis adalah Daftar comsumable dan alat-alat kesehatan,
Buku injeksi, lembar observasi, lembar visite, lembar dokumentasi, lembar

d.

asuhan keperawatan, dan buku operan.


Peralatan Penunjang Pelayanan Keperawatan
1) Alat Medik
Tabel Alat Medik di Ruang Unit Stroke RS.Wava Husada Kepanjen

Jenis
Tempat seka stainless
Bak seka stainless
Bak instrument Besar/Kecil
Tromol K/Sedang/ Besar

Jumlah
2
4

2/1/1

Baik
2
4

2/1/1

Rusak
0
0
0
0

Tercapai
100 %
100 %
100 %
100 %

Bengkok Kecil/Besar
Tempat korentang
Korentang
Comb
Cucing

2
3
4
3

2
3
4
3

0
0
0
0
0

100 %
100 %
100 %
100%
100%

Pinset anatomis besar/kecil


Pinset chirurgis

5/1
5

5/1
5

0
0

100%
100%

Taonge Spatel
Gunting AJ/Kassa/Lancip

1
1/2/2

1
1/2/2

0
0

100%
100%

Kocker Bengkok

100%

Handmess Besar
3
Naldfoder
3
Klem
Bengkok/Lurus 2/4/2

3
3
2/4/2

0
0
0

100%
100%
100%

kecil/Lurus Besar
Catgut 2/0

100%

Jarum GT 10

12

12

100%

Mess no.15

100%

infuse 4/8

4/8

100%

beroda/tidak beroda
Bed puteran 1/3

6/4

6/4

100%

Bed Remote

100%

Infus Pump

100%

Syinge Pump

100%

Suction besar/kecil

1/1

1/1

100%

Kasur angin 1000/2000

2/1

2/1

100%

Standard

Gantungan Urine Bag

11

11

100%

EKG

100%

Nebulizer

100%

Ambubag

100%

Monitor Pasien

100%

Bedside

12

12

100%

Oksigen sentral

100%

Manometer

12

12

100%

Pispot

11

11

100%

Manset

100%

Tensi meter

100%

Termometer

100%

SpO2 Digital

100%

Torniquet

100%

2) Inventaris alat rumah tangga


Tabel Inventaris Alat Rumah Tangga Ruang Unit Stroke RS. Wava Husada
Kepanjen:
Jenis
Bed penderita

Jumlah
12

Baik
12

Rusak
0

Tercapai
100%

Rak Handuk/Sandal

5/5

5/5

100%

Almari linen

100%

Almari loker

100%

3/5/4

100%

Tempat

sampah 3/5/4

Besar/Kecil/Injak
Gorden biru/putih

34/9

34/9

100%

Meja Makan Pasien

12

12

100%

Foot Step

100%

100%

Jam Dinding

AC

100%

TV

100%

Kursi Penunggu

14

14

100%

Heater

100%

cuci 1

100%

Tempat

tissue

tangan

Cermin

100%

Pesawat telfon

100%

Kulkas

0%

Lampu tidur

13

13

100%

Tempat pakaian kotor

100%

Papan berkunjung

100%

Filmiluminator

100%

Keranjang Obat

100%

3.
a.

Metode
Penerapan MAKP
Dari hasil pengkajian melalui wawancara didapatkan model keperawatan

yang digunakan di ruang stroke RS Wava Husada adalah metode tim.


Sedangkan hasil pengkajian melalui angket didapatkan model keperawatan yang
digunakan menurut asumsi masing-masing perawat yaitu 70% mengatakan tidak
mengatakan

tidak

menggunakan

metode

tim

(1

orang

mengatakan

menggunakan metode kasus, 4 orang mengatakan menggunakan metode


fungsional, 2 orang tidak mengetahui). Sebanyak 70% dari 10 perawat
menyatakan mengerti atau memahami model yang digunakan, sebanyak 80%
perawat menyatakan model asuhan keperawatan yang digunakan cocok untuk
digunakan dalam ruangan tersebut, dan 90% menyatakan model ini sesuai
dengan visi dan misi ruangan, namun masing-masing perawat memiliki asumsi
yang berbeda tentang metode yang diterapkan di ruangan.
Dari hasil angket tentang efektifitas dan efisiensi asuhan keperawatan
didapatkan sebanyak 50% perawat menyatakan model asuhan keperawatan
yang digunakan saat ini tidak menjadikan lama rawat inap pasien semakin
pendek, dengan alasan lama rawat inap pasien tergantung pada masa kritis atau
kondisi pasien dan DPJP. Menurut 90% perawat di unit stroke terjadi peningkatan
kepercayaan pasien terhadap ruangan. Sebanyak 60% perawat menyatakan
bahwa model yang digunakan saat ini tidak terlalu membebani kerja perawat.
80% perawat menyatakan model saat ini tidak memberatkan dalam pembiayaan,
dan sebanyak 70% perawat menyatakan model yang digunakan tidak
mendapatkan banyak kritik dari pasien terhadap ruangan.
Data yang didapatkan dari pengkajian tentang mekanisme pelaksanaan
model asuhan keperawatan, didapatkan bahwa 60% telah terlakasana

10

komunikasi yang adekuat antar perawat dan tim kesehatan lain. Dan 70%
kontinuitas

rencana

keperawatan

terlaksana,

didukung

dengan

adanya

penggunaan white board sebagai sarana informasi dan penyampaian informasi


secara lisan. Semua perawat (PP/PA) mengatakan bahwa mereka tidak pernah
mendapat teguran dari ketua tim tentang kinerja yang telah dilaksanakan,
alasannya karena pekerjaan yang dilaksanakan sudah sesuai. Sebanyak 90%
perawat menyatakan bahwa mereka telah melakukan tugas sesuai dengan
standard yang telah ditetapkan.
Adapun data yang diperoleh dari pengkajian tentang tanggungjawab dan
pembagian tugas didapatkan 80% perawat mengatakan bahwa job description
untuk anda selama ini sudah jelas. Sebanyak 90% perawat memberikan jawaban
bahwa tugas sudah sesuai dengan model asuhan keperawatan yang saat ini
digunakan di ruangan. Dan sebanyak 80% perawat menyatakan bahwa mereka
mengenal dan mengetahui kondisi pasien dan dapat menilai tingkat kebutuhan.
b. Operan Atau Timbang Terima
Dari hasil pengkajian menggunakan angket didapatkan dapat bahwa 90%
perawat menyatakan operan rutin dilakukan setiap ganti shift yaitu pukul 07.00,
14.00 dan 21.00 dan 80% perawat mengatakan operan dilaksanakan tepat
waktu, serta 80% operan dihadiri oleh semua perawat yang berkepentingan
dengan keterangan pada operan shift malam ke pagi dan shift pagi ke sore
dihadiri oleh kepala ruangan, perawat penanggungjawab dan perawat pelaksana,
namun pada operan shift sore ke malam hanya dihadiri oleh

perawat

penanggungjawab dan perawat pelaksana sehingga kegiatan operan tidak selalu


dipimpin oleh kepala ruangan.
Sebanyak 80% perawat menyatakan harus ada hal yang dipersiapkan
dalam pelaksanaan operan yaitu berupa catatan dokumentasi keperawatan dan
sebanyak 90 % perawat mengataka mengetahui apasaja yang harus
disampaikan dalam operan yaitu berupa nama pasien, rencana terapi, no kamar
dan no bed pasien, diagnosa medis, keluhan pasien, diagnosa keperawatan,
rencana keperawatan dan hasil tanda-tanda vital pasien/ tindakan observasi.
Hasil pengkajian didapatkan 70% perawat menyatakan tidak ada buku
khusus untuk mencatat hasil operan, akan tetapi 20 % perawat menyatakan ada
tempat khusus akantetapi bukan buku yaitu berupa white board. Sebanyak 70%

11

perawata menyatakan tidak ada kesulitan dalam mendokumentasikan laporan


operan. Sebanyak 90% tidak ada interaksi dengan pasien saat operan
berlangsung dan hanya 60% menyatakan tahu teknik pelaporan operan ketika
berada di depan pasien, serta 60% perawat menyatakan lama waktu yang
dibutuhkan untuk mengunjungi setiap pasien < 5 menit dengan alasan
disesuaikan kondisi pasien. 40% perawat mengatakan tahu dan tidak tahu 30%
serta yang tidak menjawab angket yaitu 30% tentang bagaimana cara
persetujuan dan penerimaan operan. Sebanyak 40% perawat menyatakan saat
berperan sebagai shift pengganti dievaluasi kesiapannya oleh kepala ruangan
dan 40% menyatakan saat berperan sebagai shift pengganti tidak dievaluasi
kesiapannya oleh kepala ruangan dan 20 % tidak menjawab angket.
c. Ronde Keperawatan
Dari hasi pengkajian menggunakan angkat didapatkan hasil 70% perawat
mengatakan ruangannya mendukung adanya kegiatan ronde keperawatan, dan
70%

mengatakan perawat di ruangan stroke mengerti adanya ronde

keperawatan. Pelaksanaan ronde keperawatan di ruangan dinyatakan oleh tidak


optimal dan tidak rutin sebanyak 50 % perawat, optimal dan rutin sebanyak 30%
perawat serta tidak menjawab 20%. perawat.
Hasil

pengkajian

menggunakan

angket

sebanyak

70%

perawat

menyatakan keluarga pasien tidak mengerti tentang adanya ronde keperawatan.


Sebanyak 60% perawata menyatakan tim dalam pelaksanaan kegiatan ronde
keperawatan tidak dibentuk, dengan alasan pernah dibentuk namun tidak
dilaksanakan.
d. Sentralisasi Obat
Data hasil pengkajian tentang pengadaan sentralisasi obat adalah 80%
perawat mengetahui tentang sentralisasi obat, dan 80% perawat juga
mengatakan terdapat sentralisasi obat di unit stroke. Dari 10 perawat, 80%
mengatakan sentralisasi obat sudah dilaksanakan secara optimal. Sebanyak
80% perawat menyatakan selama ini perawat pernah diberi wewenang dalam
urusan sentralisasi obat. 50% perawat menyatakan format pengadaan tiap-tiap
macam obat di ruangan ini sudah ada, 10% mengatakan tidak ada, dan sisanya
tidak menjawab. Untuk alur penerimaan obat, sebanyak 70% perawat
menyatakan selama ini ada format persetujuan sentralisasi obat dari pasien atau

12

keluarga pasien. Dan untuk proses penerimaan obat, 50% perawat menyatakan
terdapat proses penerimaan obat dari pasien atau keluarga pasien.
Di ruang unit stroke ini belum ada ruang khusus untuk sentralisasi obat,
didukung oleh 60% perawat yang menyatakan belum adanya ruang sentralisasi
obat. Sebanyak 50% perawat menyatakan sarana dan prasarana pendukung
sentralisasi obat sudah lengkap, sementara 10% menyatakan belum lengkan,
dan sisanya tidak menjawab. Untuk pemisahan obat, 80% perawat menyatakan
kepemilikan antar-obat-obat pasien sudah dipisahkan, dan pemberian etiket dan
alamat pada obat-obat pasien menurut 60% perawat sudah dilakukan.
Selama ini sebelum memberikan obat kepada pasien, menurut 40%
perawat, perawat tidak menginformasikan jumlah kepemilikan obat yang telah
digunakan, 20% menyatakan selalu menginformasikan, dan sisanya tidak
menjawab. Sebanyak 60% perawat menyatakan bahwa terdapat format tiap jenis
obat sebelum memberikan obat ke pasien.

e. Supervisi
Dari hasil pengkajian dari angket, didapatkan hasil sebagai berikut.
Sebanyak 40% perawat menyatakan bahwa mereka sudah mengerti tentang
supervisi, dan 60% tidak menjawab. 40% perawat juga menyatakan bahwa
supervisi telah dilakukan di ruangan ini, 60% tidak menjawab, sama halnya
dengan rutinitas supervisi. Sebanyak 30% perawat menyatakan terdapat alur
supervisi, 10% menyatakan tidak terdapat alur supervisi, dan 60% sisanya tidak
menjawab. 40% perawat menyatakan bahwa tidak terdapat format supervisi
untuk setiap tindakan, dan 60% sisanya tidak menjawab. Untuk alat/instrument
supervisi menurut 20% perawat belum tersedia secara lengkap. Sebanyak 30%
perawat menyatakan bahwa hasil supervisi disampaikan kepada perawat, 10%
menyatakan tidak disampaikan, dan 60% sisanya tidak menjawab. 20% perawat
menyatakan selalu ada umpan balik dari supervisor untuk setiap tindakan, 80%
sisanya tidak menjawab, sama halnya dengan kepuasan perawat dengan hasil
dari umpan balik tersebut, dan adanya tindak lanjut untuk setiap tindakan sesuai
dengan hasil perbaikan dari supervisi. 40% perawat menyatakan menginginkan
perubahan untuk setiap tindakan sesuai dengan hasil perbaikan dari supervisi.
Dari 10 perawat ruangan ini, sebanyak 40% belum pernah mendapat pelatihan

13

sosialisasi tentang supervisi. 40% perawat mengatakan bahwa kepala ruangan


mendukung dan melaksanakan supervisi, dan 20% perawat menyatakan bahwa
hasil supervise didokumentasikan dengan jelas. Dari 10 perawat, 50%
diantaranya menyatakan terdapat mahasiswa S1 keperawatan yang praktik
manajemen keperawatan. Sebanyak 40% perawat menyatakan bahwa terdapat
reward dalam bentuk pelatihan, sekolah, maupun jasa bagi yang melaksanakan
pekerjaan dengan baik. 40% perawat menyatakan bahwa terdapat sanksi atau
teguran dari kepala ruangan bagi perawat yang tidak melaksanakan tugas
dengan baik. 40% perawat menyatakan bahwa terdapat tuntutan pasien sebagai
konsumen dalam mendapatkan pelayanan yang professional.
f.

Discharge Planning
Berdasarkan hasil pengkajian tentang perencanaan pulang didapatkan

sebanyak 70% perawat mengatakan mengerti tentang perencanaan pulang,


sebanyak 60% menyatakan selalu memberikan beberapa hal saat melakukan
perencanaan pulang pasien, serta sebanyak 70% perawat menyatakan bersedia
melakukan perencanaan pulang dan bersedia melakukan perencanaan pulang
mulai pasien masuk RS sampai pasien keluar RS. Sebanyak 40% perawat
menyatakan ada dan 30% menyatakan tidak ada serta 30% tidak menjawab
angket tentang pembagian tugas tentang perencanaan pulang. 50% perawat
menyatakan ada operasional pemberian tugas perencanaan pulang oleh kepala
ruangan. Dari 10 orang perawat didapatkan sebanyak 50% menyatakan ada,
20% tidak ada dan 30% tidak menjawab angket tentang pemberian brosur atau
leaflet saat melakukan perencanaan pulang. Sebanyak 70% perawat bahasa
yang digunakan saat melakukan perencanaan pulang adalah bahasa Indonesia,
dan sebanyak 70% perawat menyatakan teknik yang digunakan saat pemberian
perencanaan pulang untuk pasien adalah teknik lisan, serta 60% perawat
menyatakan bahasa yang anda gunakan dalam melakukan perencanaan pulang
mengalami kesulitan untuk dipahami pasien dan sebanyak 50% perawat
menyatakan setiap selesai melakukan perencanaan pulang anda melakukan
pendokumentasian.
g.

Dokumentasi
Berdasarkan hasil pengkajian dengan menggunakan angket dan observasi

serta wawancara didapatkan sebanyak 60 % perawat menyatakan diruangan


selalu

melakukan

dokumentasi

keperawatan

dan

sudah

ada

format

14

pendokumentasian yang baku di ruangan serta sudah mengerti cara pengisian


format dokumentasi tersebut dengan benar. Sebanyak 50%

perawat

menyatakan format yang digunakan ini bisa membantu atau memudahkan


perawat dalam melakukan pengkajian pada pasien dan sudah melaksanakan
pendokumentasian dengan tepat waktu (segera setelah melakukan tindakan.
Dari data yang diperoleh 40% perawat menyatakan model dokumentasi yang
digunakan ini menambah beban kerja perawat dan model dokumentasi yang
digunakan ini menyita banyak waktu perawat dan hanya 10% yang menyatakan
tidak serta 40% tidak menjawab pertanyaan angket.
4.

Money

a. Sumber Keuangan
1) Nilai kerja
Akumulatif gaji pokok berdasarkan pelatihan, pengalaman, pendidikan.
2) Insentif
Berdasarkan pelatihan, pengalaman, pendidikan, masa kerja.
b. Pendapatan
Jenis pendanaan ruangan berasal dari pasien asuransi semua golongan
dan pasien umum.
5.

Mutu
Unit Stroke (US) merupakan salah satu unit layanan unggulan Rumah Sakit

Wava Husada, berdasarkan kegawatan dibagi menjadi 2 bagian ruangan yang


terdiri dari ruang intermediet atau ruangan observasi khusus yang dilengkapi
monitor pasien dan ruangan observasi biasa, dan dibagi menjadi kelas 1
Intermediet, VIP C, Kelas 1 observasi biasa, dan kelas II.
b. Bed Occupation Rate (BOR)
Bed Occupancy Rate BOR adalah prosentase pemakaian tempat tidur
pada satuan waktu tertentu, indicator ini memberikan gambaran tinggi
rendahnya tingkat pemanfaatan tempat tidur rumah sakit. Jumlah tempat
tidur di Unit Stroke sejumlah 12 tempat tidur, nilai parameter BOR yang ideal
adalah antara 60-80%. BOR Unit Stroke Rumah Sakit Wava Husada periode
Oktober 2014 - Maret 2015, sebagai berikut:
Tabel 5.1 Bed Occupation Rate (BOR) Unit Stroke Rumah Sakit Wava
Husada
Kategori

Oktober

November

Desember

Januari

Februari

Maret

15

BOR US
Rata-

60 %

73 %

68 %
68%

69%

71%

68%

rata
Sumber : Data primer
Grafik 5.1 Bed Occupation Rate (BOR) Rumah Sakit Wava Husada

2014

Berdasarkan data diatas didapatkan Rata-rata BOR dalam 6 bulan mulai


bulan Oktober 2014 Maret 2015 adalah 68% % dengan demikian jumlah
BOR sudah memenuhi standar yang ada.
c. Turn Over Interval (TOI)
Turn Over Interval (TOI) adalah rata-rata hari dimana tempat tidur tidak
ditempati dari telah diisi ke saat terisi berikutnya, indicator ini memberikan
gambaran tingkat efisiensi penggunaan tempat tidur, idealnya tempat tidur
kosong tidak terisi pada kisaran 1-3 hari. TOI Unit Stroke Rumah Sakit Wava
Husada periode Oktober 2014 - Maret 2015, sebagai berikut:
Tabel 5.2 Turn Over Interval Unit Stroke Rumah Sakit Wava Husada
Kategori
TOI US
Rata-

Oktober
4 hari

November
2 hari

Desember Januari
3 hari
3 hari
3 hari

Februari
2 hari

Maret
2 hari

rata
Sumber : Data primer
Grafik 5.2 Turn Over Interval (TOI) Unit Stroke Rumah Sakit Wava Husada

16

2014

Berdasarkan data diatas didapatkan Rata-rata TOI dalam 6 bulan mulai


bulan Oktober 2014 Maret 2015 adalah 3 hari dengan demikian jumlah
TOI sudah ideal atau sudah memenuhi standar yang ada.
d. Average Length Of Stay (AVLOS)
Average Length Of Stay (AVLOS) adalah lama rata-rata lama rawat
seorang pasien, indicator ini disamping memberikan tingkat efisiensi, juga
dapat memberikan gambaran mutu pelayanan, secara umum nilai AVLOS
yang ideal berkisar antara 6-9 hari. AVLOS di Unit Stroke Rumah Sakit Wava
Husada periode Oktober 2014 - Maret 2015, sebagai berikut:
Tabel 5.3 Average Length Of Stay (AVLOS) Unit Stroke Rumah Sakit Wava
Husada
Kategori
LOS US
Rata-

Oktober
5 hari

November
6 hari

Desember Januari
6 hari
6 hari
6 hari

Februari
6 hari

Maret
5 hari

rata
Sumber : Data primer
Grafik 5.3 Turn Over Interval (TOI) Unit Stroke Rumah Sakit Wava Husada

2014

17

Berdasarkan data diatas didapatkan Rata-rata AVLOS dalam 6 bulan


mulai bulan Oktober 2014 Maret 2015 adalah 6 hari dengan demikian
jumlah AVLOS sudah ideal atau sudah memenuhi standar yang ada.
e.

Keselamatan Pasien
Unit

Stroke

secara

umum

sudah

melakukan

penerapan

sasaran

keselamatan pasien (patient safety), adapun sasaran keselamatan pasien


sebagai berikut:
Sasaran I

: Ketepatan identifikasi pasien.

Sasaran II

: Peningkatan komunikasi yang efektif.

Sasaran III

: Peningkatan keamanan obat yang perlu diwaspadai (high

alert medications).
Sasaran IV

: Kepastian tepat lokasi, tepat prosedur, tepat pasien.

Sasaran V

: Pengurangan resiko infeksi terkait pelayanan kesehatan.

Sasaran VI

: Pengurangan resiko pasien jatuh.

Pada sasaran IV Unit Stroke belum optimal dalam melakukan peningkatan


keamanan obat yang perlu diwaspadai, berdasarkan data dari bagian
Pengolahan Data Rumah Sakit Wava Husada didapatkan:
-

Angka kejadian dekubitus sejumlah 1 orang

Adanya reaksi obat akibat dari pengenceran obat:


a. Obat amiodaren sejumlah 3 orang, dengan reaksi kemerahan pada
tubuh pasien.
b. Obat penitoin sejumlah 1 orang, dengan reaksi nekrosis pembuluh
darah vena.

f.

Kepuasan Pasien
Angka kepuasaan pasien di Unit Stroke (US) berdasarkan hasil data dari

bidang Pengolahan data Rumah Sakit Wava Husada didapatkan 99% pasien
puas dengan pelayanan US, dan berdasarkan hasil survey langsung dengan
membagikan angket terhadap pasien/ keluarga pasien didapatkan angka
kepuasan pasien rata 90% pasien puas dengan pelayanan US.
II.

ANALISA SWOT

A. Man
Strength

Opportunity

18

1. Sebesar 60% struktur organisasi


yang ada sesuai dengan
kemampuan perawat.
2. Sebanyak 80% perawat
menyatakan pembagian tugas
sesuai dengan struktur organisasi
yang ada.
3. Sebanyak 100% perawat
menyatakan kepala ruangan sudah
optimal dalam melaksanakan tugastugasnya
4. Jenis ketenagaan di ruangan :
D-III = 9 dengan masa kerja lebih
dari 5 tahun 3 orang, yang pernah

1. RS memberikan kesempatan
kepada perawat untuk
meningkatkan kemampuan
kerja melalui
pelatihan/pendidikan
keperawatan.
2. Ada dukungan RS terhadap
pelatihan/pendidikan
keperawatan.
3. Sebanyak 85% pasien di
unit stroke dengan tingkat
ketergantungan parsial dan
total.
.

ikut pelatihan manajemen stroke 4


orang.
5. Sebanyak 60% Perawat diberi
kesempatan untuk meningkatkan
kinerja melalui pelatihan/pendidikan
6. Jumah perawat masih belum
sebanding dengan jumlah pasien.
7. Pembagian tugas sesuai dengan
jobdisk.
8. Pendapatan sesuai dengan latar
belakang pendidikan.

19

Weakness
1. Jumlah perawat masih belum

Threatened
1. Adanya tuntutan tinggi dari

sebanding dengan jumlah pasien.


2. Belum ada tenaga perawat yang

masyarakat untuk pelayanan


yang lebih profesional.
2. Makin tingginya kesadaran

lulusan S-1
3. Pelatihan perawat tentang
manajemen stroke belum merata (5

masyarakat akan pentingnya


kesehatan.
3. Makin tingginya kesadaran

orang belum)

akan hukum
4. Adanya pertanggungjawaban
legal itas bagi pasien.
5. Persaingan tenaga perawat
semakin ketat dari segi
kualitas

B. Material
Strength

Opportunity

1. Sebanyak

90

menyatakan
perawatan

perawat

bahwa

alat-alat

di

ruangan

unit

stroke sudah memadai.


2. Sebanyak 100 % perawat
menyatakan

peralatan

ruangan

stroke

lengkap
pasien.
3. Sebanyak

unit

untuk

di
sudah

perawatan

1. Unit

stroke

ruangan

dapat

menjadi

percontohan

penerapan MPKP.
2. Peralatan keperawatan
lengkap

akan

perawat

dalam

untuk
yang

memudahkan
memberikan

pelayanan asuhan keperawatan.


3. Sebanyak
70
%
perawat
menyatakan bahwa lokasi dan

70

perawat

menyatakan jumlah alat yang

denah ruangan unit stroke tidak


baik

tersedia sudah sesuai dengan


rasio

pasien

di

ruang

unit

stroke.
4. Unit stroke merupakan satusatunya

yang

mempunyai

20

ruangan observasi.
5. Sebanyak 90 %

perawat

menyatakan fasilitas ruangan di


unit stroke sudah lengkap untuk
perawatan pasien.
6. Tempat tidur dan kamar mandi
yang tedapat di ruang unit
stroke

untuk

sesuai

pasien

standar

sudah
untuk

keselamatan pasien.
7. Terdapat manometer oksigen
pada setiap bed pasien.
8. Terdapat buku administrasi
penunjang

yaitu

comsumable

Daftar

dan

alat-alat

kesehatan, Buku injeksi, lembar


observasi, lembar visite, lembar
dokumentasi, lembar

asuhan

keperawatan, dan buku operan.


9. Sebanyak 100 % perawat
menyatakan
mengerti

semua

cara

perawat

menggunakan

semua alat perawatan di ruang


unit stroke.
10. Nomor-nomor

barang

sudah

teretera pada setiap barang.


Weakness

Threatened

1. Sebanyak

perawat

1. Sebelah utara terdapat rumah sakit

menyatakan tidak berencana

Teja Husada yang berjarak 700-

untuk

60

menambah

peralatan

perawatan di ruang unit stroke.


2. Sebanyak 90 % perawat
menyatakan tidak

berencana

untuk merenovasi ruangan.


3. Untuk peralatan elektronik tidak
adanya kartu kalibrasi.

800 meter.
2. Sebelah selatan terdapat Rumah
Sakit Umum Kepanjen.
3. Sebelah Barat terdapat

rumah

sakit Ben Mari dan Mitra Delima.


4. Sebelah Timur terdapat rumah
sakit Ramdani Husada

21

4. Berdasarkan

fasilitas

untuk

petugas kesehatan dari hasil


observasi didapatkan :
a. Ruang kepala ruangan jadi
satu dengan nurse statuion.
b. Kamar
mandi
perawat
hanya

tersedia

kamar

mandi di sebelah selatan


ruang unit stroke dan di
depan IRNA D.
c. Wastafel untuk cuci tangan
tersedia

satu

station.
d. Nurse station
sebelah

di

nurse

berada

timur

di

ruangan

pasien.

C. Methode
Strength
1. Sudah

Opportunity
ada

keperawatan

model
yang

asuhan
digunakan,

yaitu metode tim, terlihat dari


adanya bagan organisasi metode
tim.
2. 60%

perawat

terlaksananya

menyatakan

komunikasi

yang

cukup baik antarprofesi


3. Berdasarkan data terdapat 70%
perawat menyatakan kontinuitas
rencana

keperawatan

sudah

1. Ruang

unit

menggunakan

stroke
model

dapat
asuhan

keperawatan dengan metode tim


2. Adanya dukungan dari kebijakan
rumah sakit tentang metode tim
3. Terdapat
mahasiswa
S-1
keperawatan praktik manajemen
keperawatan
4. Kerjasama yang
perawat

dan

baik

antara

mahasiswa

S-1

keperawatan
5. Pelaksanaan pelatihan MPKP

terlaksana

22

4. Perawat memiliki komitmen yang


kuat

untuk

menjalankan

SPO,

terlihat dari banyaknya (90%) yang


menjalankan
standar
5. Mayoritas

kegiatan
perawat

sesuai
(80%)

menjalankan job description yang


sudah ada
6. 80% perawat menyatakan di ruang
unit

stroke

dapat

melakukan

penilaian tingkat kebutuhan pasien


7. 90% perawat menyatakan bahwa
tugas

perawat

sesuai

dengan

model asuhan keperawatan yang


digunakan diruangan
8. 90% perawat menyatakan terjadi
peningkatan kepercayaan pasien
terhadap ruangan
9. Terdapat sentralisasi

obat

di

runang unit stroke dengan data


mayoritas

perawat

ada sebanyak 80%


10. 80%
perawata

mengatakan
mengatakan

mengerti tentang sentralisasi obat


11. 80% perawata mengatakan ada
pemisahan kepemilikan antar obatobat pasien dan 60 % mengatakan
ada format untuk tiap jenis bat
sebelum diberikan ke pasien.
12. Perawat di ruangan unit stroke
sudah melakukan operan rutin
13. Adanya ronde keperawatan
14. Operan dihadiri oleh semua
perawat, termasuk PJ, PP, dan
kanit.
15. 70% perawat mengerti tentang
perancanaan pulang dan bersedia

23

melakukan perencanaan pulang


mulai pasien masuk sampai keluar
rumah sakit
16. 70%
perawat
perencanaan

melakuakan

pulang

dengan

teknik lisan dan menggunakan


bahasa Indonesia
17. Perawat mempunyai
untuk

komitmen

melaksanakan

ronde

kepreawatan
18. Terdapat sentralisasi obat (80%)
19. 60% perawata mengatakan ada
format

pendokumantasian

baku

dan

selalu

dokumentasi

yang

melakukan

keperawatan

dan

mengerti cara pendokumentasian.


Weakness

Threatened

1. Sebanyak

70%

perawat

1. Perbedaan pengetahuan tentang

mengatakan

model

asuhan

model asuhan keperawatan yang

keperawatan

yang

digunakan

perawat di ruangan saat ini tidak


menggunakan metode tim, dan
10% tidak menjawab pertanyaan
2. Sebanyak
70%
mengatakan
mengerti atau memahami model
asuhan

keperawatan

yang

digunakan saat ini, namun masingmasing perawat memiliki asumsi


yang

berbeda

tentang

metode

digunakan
2. Badan organisasi tim belum
teraplikasi maksimal
3. Belum adanya pengetahuan yang
jelas tentang cara melakukan
penilaian tingkat kebutuhan
pasien
4. Adanya tuntutan pelayanan yang
professional
5. Adanya tanggungjawab dan
tanggunggugat

yang diterapkan di ruangan


3. Sebanyak 80% mengatakan model
asuhan menurut asumsi masingmasing perawat cocok digunakan
di ruangan.
4. Sebanyak 90% mengatakan model
yang digunakan sesuai dengan visi

24

dan misi ruangan sesuai dengan


asumsi perawat masing-masing
5. Tidak adanya kejelasan tentang
lama hari rawat
6. Fungsi pengarahan tidak berjalan
maksimal, terlihat dari tidak pernah
ada teguran dari ketua tim
7. 60% perawat mengatakan tidak
ada

ruangan

khusus

untuk

sentralisasi obat
8. 50% perawat mengatakan sarana
dan prasarana untuk sentralisasi
obat kurang.
9. Pelaksanaan

sentralisasi

obat

belum optimal
10. 50-60% perawata di ruang unit
sroke tidak memahami tentang
supervisi.
11. Tidak adanya

kejelasan

dari

reward dan funishment


12. Adanya interaksi dengan pasien
saat operan berlangsung
13. Tidak ada kejelasan pelaksanaan
pre dan post conference
14. Hanya
50%
perawat
mengatakan

ada

pendokumentasian
pulang
15. Hanya

40%

mengatakan

yang

perencanaan

perawat
ada

yang

pembagian

tugas tentang perencanaan pulang


16. Belum
adanya
tim
ronde
keperawatan, terbukti dengan 60%
perawat mengatakan tidak adanya
tim pelaksana ronde keperawatan
17. Kurang jelasnya format pengadaan
tiap-tiap macam obat
18. 50% perawat angatakan format

25

yang digunakan bisa membantu


atau memudahkan perawat dalam
melakukan
pasien

pengkajian

dengan

(segera

setelah

tepat

pada
waktu

melakukan

tindakan)
19. 40 % perawat mengatakan model
dokumentasi

keperawatan

yang

digunakan ini menambah beban


kerja perawat dan menyita banyak
waktu perawat.
D. Mutu
Strength

Weakness

Rata-rata kepuasaan pasien terhadap

Kejadian decubitus selama 3 bulan

pelayanan kesehatan kesehatan di Unit


Stroke 99%
Rata-rata BOR (Bed Occupancy Rate)

terakhir sejumlah 1 orang


Kejadian reaksi obat:
- Amiodaren terjadi reaksi

baik (68%)
Adanya variasi karakteristik dari pasien

kemerahan (3 orang)
Penitoin terjadi reaksi nekrosis
pembuluh darah vena (1 orang)

(BJPS, umum, asuransi lain)


Salah satu unit layanan unggulan
Rumah Sakit
Rata-rata TOI (Turn Over Interval)/
angka kekosongan tempat tidur Ideal (3
hari)
Rata-rata LOS (length of stay)/ lama hari
rawat ideal (6 hari)

Opportunity

Threatened

Mahasiswa S-1 keperawatan praktek

Adanya peningkatan standar

masyarakat yang harus dipenuhi


Persaingan RS dalam memberikan

manjemen

Kerjasama yang baik antara perawat


dan mahasiswa

pelayanan keperawatan

26

E. Money
Strength

Weakness

Sebanyak

100%

perawat

Sebanyak

menjawab mendapat tambahan


uang

lembur

jika

melebihi jam kerja


Sebanyak
80%

bekerja

dari asuransi kesehatan setelah

melakukan pelayanan
Sebanyak
60%

koperasi ruangan di unit stroke


Sebanyak 90% perawat menjawab
tidak mendapat pendapatan

rumah sakit berupa LP (lauk pauk)


Sebanyak 80% perawat menjawab

perawat

rumah sakit berupa remunerasi


Sebanyak 40% perawat menjawab

di unit stroke sudah terpusat


Sebanyak
40%
perawat

Jasa intensif untuk pelayanan dan

menjawab mendapat jasa dari

sama untuk semua perawat

jasa medik yang diberikan tidak

pelayanan IRNA Medis


Opportunity

Threatened

dari

tidak mendapat jasa pelayanan

menjawab Sistem administrasi

perawat

menjawab tidak terdapat usaha

perawat

menjawab mendapat jasa medik

100%

Sebanyak 90% perawat menjawab

Sebanyak

70%

perawat

tidak ada alat habis pakai yang

menjawab tidak ada alokasi dana

digunakan

untuk

untuk hal yang tidak diinginkan

menghemat biaya
Sebanyak 90% perawat menjawab

mengenai peningkatan pelayanan

kembali

tidak terdapat kesempatan untuk


menambah penghasilan ruangan

dari usaha koperasi


Sebanyak 30% perawat menjawab
Pengeluaran di tanggung oleh unit
stroke

27