Anda di halaman 1dari 26

1

Diare Akut pada Anak

Contents
A.

Identitas Penderita.......................................................................................... 2

B.

Data Dasar...................................................................................................... 2
Keluhan Utama................................................................................................... 2
Riwayat Penyakit Sekarang................................................................................2
Riwayat Pengobatan........................................................................................... 2
Riwayat Penyakit Dahulu...................................................................................2
Riwayat Penyakit Keluarga.................................................................................3
Riwayat Persalinan dan Kehamilan.....................................................................3
Riwayat Pemeliharaan Prenatal..........................................................................3
Riwayat Pemeriksaan Postnatal :........................................................................3
Riwayat Imunisasi............................................................................................... 3
Riwayat Pertumbuhan dan Perkembangan.........................................................4
Riwayat Makan dan Minum.................................................................................5

C. Pemeriksaan Fisik............................................................................................ 5
D. Pemeriksaan Penunjang................................................................................ 10
E.

Diagnosis....................................................................................................... 11

F.

Follow up....................................................................................................... 11

G. Rencana Pemecahan masalah.......................................................................11


Tinjauan Pustaka.................................................................................................. 13

Kepaniteraan Ilmu Kesehatan Anak RSUD Kabupaten Kudus


Periode 24 November 2014-31 Januari 2015
Universitas Tarumanagara

Diare Akut pada Anak

A. Identitas Penderita
Nama

: An. A

Usia

: 5 bulan

Jenis Kelamin

: perempuan

Orang tua

: Ny. W

Agama

: Islam

Masuk tanggal

: 2 Desember 2014

B. Data Dasar
Anamnesa
Dilakukan alloanamnesa dengan ibu pasien pada tanggal 3 Desember 2014 di RSUD
Kudus

Keluhan Utama
BAB cair

Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien datang dengan keluhan BAB cair sejak 1 hari sebelum masuk RS (2
Desember 2014) dengan frekuensi 7x, warna hijau, terdapat ampas dan lendir. Ibu
pasien menyangkal adanya darah pada tinja. Keluhan mual dan muntah disangkal.
Ibu pasien juga mengeluh bayi demam sejak malam 1 hari sebelum masuk RS dan
demam turun setelah diberi obat penurun panas. Ibu juga mengeluh anaknya rewel
dan ingin minum terus. BAK lancar.
Pasien juga mengatakan sejak 2 minggu lalu ada keluhan batuk pilek dan
sudah mulai membaik setelah berobat.

Riwayat Pengobatan
Pasien sudah berobat ke puskesmas tapi tidak membaik. Ibu pasien tidak
mengetahui obat apa yang diberikan.

Riwayat Penyakit Dahulu


Ibu pasien mengatakan pasien belum pernah mengalami hal yang sama
sebelumnya. Ibu pasien juga tidak mengetahui apakah anaknya memiliki riwayat
alergi.
Kepaniteraan Ilmu Kesehatan Anak RSUD Kabupaten Kudus
Periode 24 November 2014-31 Januari 2015
Universitas Tarumanagara

Diare Akut pada Anak

Riwayat Penyakit Keluarga


Ibu mengatakan bahwa keluarga pasien tidak ada yang sedang mengalami
penyakit yang sama.

Riwayat Persalinan dan Kehamilan

Hamil aterm lahir secara SCTP a.i panggul sempit

Langsung menangis

Berat badan lahir 2600 gram

Panjang badan saat lahir tidak ingat

Lingkar kepala saat lahir tidak ingat

Lingkar dada saat lahir tidak ingat

Tidak ada kelainan bawaan

Riwayat Pemeliharaan Prenatal

Ibu pasien memeriksakan kehamilannya setiap minggu pada bulan akhir


kehamilan

Tidak pernah menderita penyakit selama kehamilan

Riwayat Pemeriksaan Postnatal :

Pemeriksaan postnatal dilakukan di bidan dan tidak ditemukan kelainan pada


anak

Riwayat Imunisasi

Hepatitis B dan polio saat lahir

Hepatitis B-2 saat usia 1 bulan

BCG dan DPT-Polio2 saat usia 2 bulan

DPT2-Polio3 saat usia 4 bulan

Kepaniteraan Ilmu Kesehatan Anak RSUD Kabupaten Kudus


Periode 24 November 2014-31 Januari 2015
Universitas Tarumanagara

Diare Akut pada Anak

Riwayat Pertumbuhan dan Perkembangan


Perkembangan gerakan halus, motorik, komunikasi serta sosial sesuai dengan
usia anak.

Kepaniteraan Ilmu Kesehatan Anak RSUD Kabupaten Kudus


Periode 24 November 2014-31 Januari 2015
Universitas Tarumanagara

Diare Akut pada Anak

Riwayat Makan dan Minum


Anak hanya minum ASI tanpa ada tambahan yang lain ataupun susu formula.

C. Pemeriksaan Fisik
Kepaniteraan Ilmu Kesehatan Anak RSUD Kabupaten Kudus
Periode 24 November 2014-31 Januari 2015
Universitas Tarumanagara

Diare Akut pada Anak

Kesadaran

: Compos mentis

Keadaan Umum : Tampak sakit sedang


TB

: 63 cm

BB

: 6 kg

Berdasarkan BB/U : Pertumbuhan anak masih baik.

Kepaniteraan Ilmu Kesehatan Anak RSUD Kabupaten Kudus


Periode 24 November 2014-31 Januari 2015
Universitas Tarumanagara

Diare Akut pada Anak

Berdasarkan panjang/ tinggi terhadap umur : pertumbuhan anak masih baik.


Nadi

: 132 x/mnt, reguler, isi cukup

Laju Napas

: 45 x/mnt

Suhu

: 36,5 C (axilla)

Kulit

: Pucat (-), sianosis (-), ikterik (-), turgor kulit baik, CRT 2 detik

Kepala

: Mesocephal, rambut hitam terdistribusi merata

Mata

: Konjungtiva palpebrae pucat (-/-), sklera ikterik (-/-), pupil isokor

diameter 2mm, refleks cahaya (+/+)


Hidung

: Bentuk hidung normal, sekret hidung (-), tidak ada kelainan pada

cavum nasi.
Mulut

:Bentuk rahang normal, sulcus nasolabialis simetris.

Leher

: letak trakhea di tengah, tidak ada pembesaran KGB

Dada

Kepaniteraan Ilmu Kesehatan Anak RSUD Kabupaten Kudus


Periode 24 November 2014-31 Januari 2015
Universitas Tarumanagara

Diare Akut pada Anak

Cor : I

= Ictus cordis tidak tampak

Pal

= Ictus cordis teraba di ICS V MCL kiri 2cm ke lateral

Per

= Batas kanan redup di ICS IV parasternal line dextra, atas di ICS II


midclavicula line sinistra, batas kiri di ICS V 1cm lateral midclavicula
line sinistra

= BJ I/II reguler, murmur (-), gallop (-)

Paru depan

Inspeksi

Palpasi

Kanan
Kiri
Simetris pada posisi statis dan Simetris pada posisi statis dan
dinamis

dinamis

Retraksi interkostal (-)


nyeri tekan (-)

Retraksi interkostal (-)


nyeri tekan (-)

stem fremitus normal, sama stem fremitus normal, sama kuat


Perkusi
Auskultasi

kuat dengan kiri


Sonor
suara dasar vesikuler

dengan kanan
Sonor
suara dasar vesikuler

Wheezing (-), Ronchi (-)

Wheezing (-), Ronchi (-)

Paru belakang

Inpeksi

Palpasi

Kanan
Kiri
Simetris pada posisi statis dan Simetris pada posisi statis dan
dinamis

dinamis

Retraksi interkostal (-)


nyeri tekan (-)

Retraksi interkostal (-)


nyeri tekan (-)

stem fremitus normal, sama stem fremitus normal, sama kuat


Perkusi

kuat dengan kiri


Sonor

dengan kanan
Sonor

Kepaniteraan Ilmu Kesehatan Anak RSUD Kabupaten Kudus


Periode 24 November 2014-31 Januari 2015
Universitas Tarumanagara

Diare Akut pada Anak

Auskultasi

suara dasar vesikuler

suara dasar vesikuler

Wheezing (-), Ronchi (-)

Wheezing (-), Ronchi (-)

Abdomen
Inspeksi

:Datar

Auskultasi

:Bising peristaltik (+) normal, bruit aorta (-), bruit a.renalis (-)

Perkusi

:Timpani pada seluruh regio abdomen, pekak alih (-), liver span 6 cm,
perkusi limpa timpani,

Palpasi

:Supel, tidak teraba massa, nyeri tekan/ lepas abdomen (-), hepar dan
lien tidak teraba, ginjal tak teraba

Genitalia

: Tidak dilakukan

RT

: Tidak dilakukan

Ekstrimitas
Pembesaran kel. Limfe Axilla
Pembesaran kel. Limfe inguinal
Edema
Sianosis
Ptechie
Gerakan
Kekuatan

Superior
-/-/-/-/-/5/5
5/5

Inferior
-/-/-/-/-/5/5
5/5

D. Pemeriksaan Penunjang
Laboratorium tanggal 2 Desember 2014
Hematologi

Hasil

Rujukan

Hemoglobin

10.4 g/dL

11.1-14.1

Kepaniteraan Ilmu Kesehatan Anak RSUD Kabupaten Kudus


Periode 24 November 2014-31 Januari 2015
Universitas Tarumanagara

10

Diare Akut pada Anak

Eritrosit

4.19 jt/ul

3.9-5.5

Hematokrit

34.7%

31-41

Trombosit

262 x 103 /ul

150-400

Lekosit

16.6 x103 /ul

6.0-17.5

Netrofil

50.7%

50-70

Limfosit

44.3%

25-40

Monosit

4.0%

2-8

Eosinofil

0.5%

2-4

Basofil

0.2%

0-1

E. Diagnosis
Diagnosis Kerja
Diare akut e.c.virus tanpa dehidrasi
Diagnosis Banding

Diare akut e.c bakteri dengan dehidrasi ringan


Diare akut e.c parasit dengan dehidrasi ringan

F. Follow up
3 Desember 2014
4 Desember 2014
5 Desember 2014
S : pagi 1x BAB
S : BAB cair 2x
S : BAB sudah berampas 2x
O:
O:
O:
HR : 128x
HR : 130x
HR : 130x
T : 38.2
T : 37.0
T : 37.0
Mata : CA -/-, SI -/ Mata : CA -/-, SI -/ Mata : CA -/-, SI -/ Cor : BJ I-II reg,
Cor : BJ I-II reg,
Cor : BJ I-II reg,
murmur (-), gallop (-)
murmur (-), gallop (-)
murmur (-), gallop (-)
Pulmo : sdv +/+, rh
Pulmo : sdv +/+, rh
Pulmo : sdv +/+, rh
Kepaniteraan Ilmu Kesehatan Anak RSUD Kabupaten Kudus
Periode 24 November 2014-31 Januari 2015
Universitas Tarumanagara

11

Diare Akut pada Anak

-/-. Wh -/-/-. Wh -/-/-. Wh -/Abdomen : BU (+),


Abdomen : BU (+),
Abdomen : BU (+),
NT (-), supel, timpani
NT (-), supel, timpani
NT (-), supel, timpani
Ekstremitas : akral Ekstremitas : akral hangat (+) Ekstremitas : akral hangat (+)
hangat (+)
A : diare akut
A : diare akut
A:
Terapi :
Terapi :
Terapi
L.Bio 1x1
L.Bio 1x1
Pamol 3x1/2 cth
Pamol 3x1/2 cth
Cefotaxime 2x150mg
Cefotaxime 2x150mg
Infus RL 10 tpm
Infus RL 10 tpm

G.Rencana Pemecahan masalah


Problem 1

: Diare Akut e.c virus dengan dehidrasi ringan

Initial plan

: mencari etiologi diare

Plan diagnostik

: menilai mikroskopik tinja

Plan monitoring

: anamnesa dan gejala klinis

Plan terapi

Zinc 1x tablet dilarutkan dalam ASI 10-14 hari


Lanjutkan pemberian ASI
Antibiotik : cefotaxime 2x150 mg
Cairan : infus RL 10 tpm

Plan edukasi

Keluarga harus menjaga higienitas ketika menyentuh, memberi makan atau


minum bayi
Lanjutkan pemberian ASI
Jangan menghentikan pemberian zinc walaupun bayi sudah sembuh

Kepaniteraan Ilmu Kesehatan Anak RSUD Kabupaten Kudus


Periode 24 November 2014-31 Januari 2015
Universitas Tarumanagara

12

Diare Akut pada Anak

Tinjauan Pustaka
A. Definisi
Diare merupakan hilangnya cairan dan elektrolit berlebihan melalui feses. Sedangkan
diare akut merupakan keadaaan kehilangan feses dengan konsistensi encer >10mL/kg/hari
pada bayi dan >200g/ 24 jam pada anak yang lebih tua, dimana berlangsung selama <14 hari.
Jika episode diare berlangsung lebih dari 14 hari disebut diare kronis.

B. Cara Penularan dan Faktor Resiko


Cara penularan diare umumnya secara fekal-oral yakni melalui makanan atau
minuman yang tercemar oleh enteropatogen, atau kontak langsung tangan dengan penderita
atau barang-barang yang telah tercemar oleh tinja penderita atau tidak langsung melalui lalat.
Faktor resiko yang dapat meningkatkan penularan enteropatogen antara lain:

Tidak diberikannya ASI eksklusif pada 4-6 bulan pertama kehidupan


Penggunaan botol susu
Penyimpanan makanan masak pada suhu kamar
Penggunaan air minum yang tercemar
Tidak mencuci tangan sesudah buang air besar dan sesudah membuang tinja
anak atau sebelum makan dan menyuapi anak.
Tidak membuang tinja anak atau bayi dengan benar.

Kepaniteraan Ilmu Kesehatan Anak RSUD Kabupaten Kudus


Periode 24 November 2014-31 Januari 2015
Universitas Tarumanagara

13

Diare Akut pada Anak

C. Etiologi
Diare dapat disebabkan oleh berbagai patogen seperti bakteri, virus, dan parasit.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa penyebab utama (55%0 diare akut adalah rotavirus.
Diare karena virus umumnya bersifat self-limiting sehingga aspek yang harus diperhatikan
adalah mencegah terjadinya dehidrasi.
Beberapa penyebab diare akut antara lain:
Golongan bakteri

Aeromonas
Salmonella
Shigella
Staphylococcus aureus

Vibrio cholera
Clostridium difficille
Eschericia coli

Astrovirus
Coronavirus

Blastocystis hominis
Entamoeba hystolitica
Trichuris trichiura

Golongan virus

Rotavirus
Norwalk virus

Golongan parasit

Balantidium coli
Giardia lambia
Isospora belli

Kepaniteraan Ilmu Kesehatan Anak RSUD Kabupaten Kudus


Periode 24 November 2014-31 Januari 2015
Universitas Tarumanagara

D. Patofisiologi

Patogenesis diare yang disebabkan oleh virus yakni virus yang


menyebabkan diare pada manusia secara selektif menginfeksi dan menghancurkan
sel-sel ujung-ujung vilus pada usus halus. Hal ini menyebabkan fungsi penyerapan
usus halus terganggu. Sel-sel epitel usus halus yang rusak diganti oleh enterosit yang
baru, berbentuk kuboid yang belum matang sehingga fungsinya belum baik. Vilus
mengalami arofi sehingga tidak dapat mengabsorpsi cairan dan makanan dengan baik.
Selanjutnya, cairan dan makanan yang tidak terserap/ tercerna akan meningkatkan
tekanan koloid osmotik usus dan terjadi hiperperistaltik usus sehingga cairan beserta
makanan yang tidak terserap akan terdorong keluar melalui usus sehingga terjadi
diare osmotik.

Pada usus halus, enterosit villus sebelah atas adalah sel-sel yang
terdiferensiasi, yang mempunyai fungsi pencernaan seperti hidrolisis disakarida, dan
fungsi penyerapan seperti transpor air dan elektrolit melalui fungsi pengangkut
bersama (kotransporter) glukosa dan asam amino. Enterosit kripta merupakan sel
yang tidak berdiferensiasi, yang tidak mempunyai enzim hidrofilik tepi bersilia dan
merupakan sekretor air dan elektrolit.

Dengan demikian, infeksi virus selektif sel-sel ujung vilus usus pada
diare rotavirus menyebabkan

Ketidakseimbangan rasio penyerapan cairan usus terhadap sekresi, dan


Malabsorpsi karbohidrat kompleks, terutama laktosa.

Diare karena bakteri terjadi melalui salah satu mekanisme yang berhubungan
dengan pengaturan transpor ion dalam sel-sel usus cAMP,cGMP, dan Ca dependen.
Patogenesis terjadinya diare oleh salmonella, shigella, E coli agak berbeda dengan
patogenesis diare akibat virus, tetapi prinsipnya hampir sama. Bedanya bakteri ini
dapat menginvasi sel mukisa usus halus sehingga dapat menyebabkan reaksi sistemik.

E. Mekanisme Diare

Secara umum diare disebabkan oleh 2 hal yakni gangguan pada proses
absorpsi atau sekresi. Beberapa pembagian diare:

Pembagian diare menurut etiologi


Pembagian diare menurut mekanisme gangguan
o Absorpsi

Secara umum terjadi penurunan fungsi absorpsi oleh berbagai


sebab seperti celiac sprue, atau karena
Mengkonsumsi magnesium hidroksida
Defisiensi sukrase-isomaltase, adanya defisiensi laktase pada
anak yang lebih besar

Adanya bahan yang tidak terserap, menyebabkan tekanan


intraluminal pada usus halus bagian proksimal bersifat
hipertonis dan menyebabkan hiperosmolaritas.
o Gangguan sekresi
Hiperplasia kripta
Luminal secretagogues

Terdapat 2 bahan yang dikenal menstimulasi sekresi


lumen yakni enterotoksin bakteri dan bahan kimia yang dapat
menstimulasi seperti laksansia, garam empedu berbentuk
dihydroxy, serta asam lemak rantai panjang.
Blood borne secretagogues

Diare sekretorik di negara berkembang, umunya


disebabkan oleh enterotoksin E.coli atau Cholera
o Gangguan peristaltik

Penurunan motilitas dapat menyebabkan bakteri tumbuh


berlebihan sehingga menyebabkan diare. Kegagalan motilitas usus
yang berat menyebabkan stasis intestinal yang berakibat inflamasi,
dekonjugasi empedu dan malabsorpsi. Diare akibat hiperperistaltik
pada anak jarang terjadi.
Pembagian diare menurut lamanya diare
o Diare akut yang berlangsung kurang dari 14 hari
o Diare kronik yang berlangsung lebih dari 14 hari dengan etiologi non
infeksi
o Diare persisten yang berlangsung lebih dari 14 hari dengan etiologi
infeksi

F. Diagnosis

Anamnesis

Pada anamnesis ditanyakan lama diare, frekuensi, volume, konsistensi


tinja, warna, bau, ada/tidak ada lendir dan darah. Jika disertai muntah
tanyakan volume dan frekuensinya. Kencing : biasa, berkurang, jarang atau
tidak kencing dalam 6-8 jam terakhir. Makanan dan minuman yang diberikan
sebelum dan selama diare. Tanyakan apabila ada demam, atau penyakit lain
yang menyertai seperti batuk pilek, otitis media, dan campak. Kemudian
tindakan yang sudah ibu lakukan seperti memberi oralit atau pengobatan yang
telah dilakukan.
Pemeriksaan fisik

Diperiksa : berat badan, suhu tubuh, frekuensi denyut jantung, dan


pernapasan serta tekanan darah. Selain itu, dicari pula tanda-tanda dehidrasi.

Pernapasan yang cepat dan dalam merupakan indikasi adanya asidosis


metabolik. Bising usus yang lemah atau tidak ada terdapat pada hipokalemi.
Pemeriksaan ekstremitas perlu untuk menilai perfusi serta capillary refill time
dimana keduanya penting dalam menilai dehidrasi.

Laboratorium

Pemeriksaan laboratorium lengkap pada umumnya tidak diperlukan,


hanya pada keadaan tertentu misalnya bila penyebab dasar tidak diketahui
atau ada sebab lain selain diare akut atau penderita dengan dehidrasi berat.

Pemeriksaan yang kadang diperlukan pada diare akut :

o Darah : darah lengkap, serum elektrolit, analisa gas darah, glukosa


darah, kultur dan tes kepekaan terhadap antibiotika.
o Urin : urin lengkap, kultur dan tes kepekaan terhadap antibiotika
o Tinja : pemeriksaan mikroskopik untuk mencari adanya leukosit
dapat memberi informasi tentang penyebab diare, letak anatomis, serta
adanya proses peradangan mukosa. Sedangkan pemeriksaan
makroskopik diperlukan pada semua penderita diare meskipun
pemeriksaan laboratorium tidak dilakukan.

G. Tatalaksana

Departemen Kesehatan menetapkan lima pilar penatalaksanaan diare bagi


semua kasus diare yang diderita anak balita baik yang dirawat di rumah maupun yang
sedang dirawat di rumah sakit yakni :
a. Rehidrasi

Rehidrasi bisa dimulai dengan memberikan cairan rumah tangga seperti air
tajin, kuah sayur atau sup. Jika telah terjadi dehidrasi segera bawa ke petugas
kesehatan untuk diberi oralit. Oralit kini memiliki formula baru dimana
osmolaritasnya lebih rendah. Efektivitasnya lebih baik dibandingkan oralit yang lama.
Oralit baru ini menurunkan kebutuhan cairan intravena dan mampu mengurangi
pengeluaran tinja dan kejadian muntah.

Ketentuan pemberian oralit formula baru ini :

Beri ibu 2 bungkus oralit formula baru


Larutkan 1 bungkus oralit formula baru dalam 1 liter air matang untuk
persediaan 24 jam.
Berikan larutan oralit pada anak setiap kali anak buang air besar dengan
ketentuan
o Anak usia <2 tahun : 50-100 ml tiap kali BAB
o Anak usia 2 tahun : 100-200 ml tiap kali BAB
Jika dalam 24 jam persediaan larutan oralit masih tersisa, maka sisa larutan
harus dibuang.

b. Dukungan nutrisi

ASI dan makanan tetap diteruskan sesuai usia anak dengan menu yang
sama pada waktu anak sehat untuk mencegah kehilangan berat badan serta
pengganti nutrisi yang hilang. Pada diare berdarah nafsu makan akan berkurang.
Teruskan ASI selama terjadinya diare cair akut ataupun diare akut berdarah
dengan frekuensi pemberian yang lebih sering. Adanya perbaikan nafsu makan
menandakan fase kesembuhan.

c. Suplementasi Zinc
Zinc mengurangi lama dan beratnya diare. Zinc juga mengembalikan nafsu
makan anak.
Dasar penggunaan zinc dalam pengobatan diare akut didasarkan pada efeknya
terhadap fungsi imun atau terhadap struktur dan fungsi saluran cerna dan terhadap
proses perbaikan epitel saluran cerna selama diare. Pemberian zinc selama diare dapat
meningkatkan absorpsi air dan elektrolit oleh usus halus, meningkatkan kecepatan
regenerasi epitel usus, meningkatkan jumlah brush border apical dan meningkatkan
respon imun yang mempercepat pembersihan patogen dari usus.
Pemberian zinc dapat menurunkan frekuensi dan volume buang air besar
sehingga dapat menurunkan resiko dehidrasi pada anak. Dosis zinc pada anak :

Anak < 6 bulan : 10 mg (1/2 tablet) per hari


Anak > 6 bulan : 20 mg ( 1 tablet ) per hari

Diberikan selama 10-14 hari walaupun sudah sembuh. Pada bayi, tablet zinc
dapat dilarutkan dengan air matang, ASI maupun oralit. Sedangkan pada anak yang
lebih besar dapat dikunyah atau dilarutkan dalam air matang ataupun oralit.
d. Antibiotik selektif
Antibiotik tidak diberikan pada diare cair akut kecuali dengan indikasi diare
berdarah dan kolera. Pemberian antibiotik yang tidak tepat justru memperpanjang
lamanya diare karena akan mengganggu keseimbangan flora usus dan C. difficile yang
akan tumbuh dan menyebabkan diare sulit disembuhkan. Selain itu, pemberian
antibiotik yang tidak rasional mempercepat terjadinya resistensi kuman terhadap
antibiotik.
e. Edukasi orang tua
Kembali segera jika demam, tinja berdarah, berulang, makan atau minum
sedikit, sangat haus, diare makin sering, atau belum membaik dalam 3 hari.

Pemberian cairan dapat diberikan sesuai dengan derajat dehidrasi yang


dialami anak.

Beberapa terapi medikamentosa lain yang sering digunakan pada diare

Obat anti diare


Obat-obat ini sering digunakan namun tidak mempunyai keuntungan praktis
dan tidak diindikasikan dalam pengobatan diare akut pada anak. Beberapa
bahkan berbahaya. Produk yang termasuk dalam kategori ini adalah
o Adsorben

Contoh : kaolin, attapulgite, smectite, activated charcoal,


cholestiramin. Obat ini bekerja melalui mekanisme dimana mereka mengikat
dan mengaktifasi toksin bakteri atau bahan lain yang menyebabkan diare serta
melindungi mukosa usus. Namun, tidak ada bukti praktis untuk menggunakan
obat ini dalam mengatasi diare akut pada anak.
o Antimotilitas

Contoh : loperamide hydrochloride, diphenoxylate dengan atropin,


tinctura opii, paregoric, dan codein. Obat ini dapat mengurangi frekuensi diare
pada orang dewasa namun tidak mengurangi volume tinja pada anak. Selain
itu, dapat menyebabkan ileus paralitik yang fatal serta dapat memperpanjang
infeksi. Tidak ada satupun obat-obatan ini yang boleh diberikan pada anak
ataupun bayi.

o Bismuth subsalicylate

Bila diberikan setiap 4 jam dilaporkan dapat mengurangi keluaran tinja


pada anak dengan diare akut, namun cara ini jarang digunakan.
Obat anti muntah

Termasuk obat ini seperti prochlorperazine dan chlorpromazine yang dapat


menyebabkan mengantuk sehingga menggangu pemberian terapi rehidrasi oral.
Biasanya obat anti muntah tidak digunakan dalam terapi diare karena umumnya
muntah akan terhenti bila pasien terrehidrasi.

Steroid
Tidak memberikan keuntungan dan tidak diindikasikan.

f. Komplikasi
Beberapa komplikasi yang mungkin timbul
Gangguan elektrolit
o Hipernatremia

Disebut hipernatremia bila kadar natrium plasma > 150 mmol/L.


Koreksi dilakukan dengan rehidrasi intravena menggunakan cairan 0.45%
saline-5% dextrose selama 8 jam.
o Hiponatremia

Disebut hiponatremia jika kadar natrium < 130 mmol/L. Koreksi


dengan oralit. Bila tidak berhasil, gunakan Ringer Laktat atau Normal Saline.
Kadar Na koreksi : 125- kadar Na serum yang diperiksa dikalikan 0.6 dan
dikalikan BB. Peningkatan serum Na tidak boleh melebihi 2 mEq/L/jam.
o Hiperkalemia

Disebut hiperkalemia jika kadar K > 5mEq/L. Koreksi dilakukan


dengan pemberian Ca glukonas 10% 0.5-1 ml/kgBB iv pelan dalam 5-10
menit dengan monitor detak jantung.
o Hipokalemia
o Disebut hipokalemi jika kadar K < 3.5 mEq/L. Koreksi dilakukan menurut
kadar K : jika Kalium 2.5-3.5 mEq/L diberikan PO 75 mcg/kgBB/hr bagi 3
dosis. Bila <2.5 mEq/L maka diberikan secara iv drip dalam 4 jam. Dosis :
(3.5-kadar K terukur *BB*0.4 + 2 mEq/kgBB/24 jam) diberikan dalam 4 jam,
kemudian 20 jam kemudian : (3.5*- kadar K terukur * BB * 0.4+ 1.6 * 2 mEq
* BB).
Kejang

g. Pencegahan
Upaya pencegahan diare dapat dilakukan dengan cara
o Mencegah penyebaran kuman patogen penyebab diare
o Pemberian ASI yang benar
o Memperbaiki penyiapan dan penyimpanan makanan pendamping
ASI
o Penggunaan air bersih yang cukup

o Membudidayakan kebiasaan mencuci tangan dengan sabun sehabis


buang air besar dan sebelum makan.
o Penggunaan jamban yang bersih dan higienis oleh seluruh anggota
keluarga
o Membuang tinja bayi yang benar
o Memperbaiki daya tahan tubuh
o Memberi ASI paling tidak sampai usia 2 tahun
o Meningkatkan nilai gizi makanan pendamping ASI dan memberi
makan dalam jumlah yang cukup untuk memperbaiki status gizi
anak.
o Imunisasi campak.
o Peranan probiotik
Probiotik merupakan mikroorganisme hidup dalam makanan yang
difermentasi yang menunjang kesehatan melalui terciptanya keseimbangan
mikrofloral intestinal yang lebih baik. Pemberian probiotik untuk
pencegahan jangka panjang terutama pada bayi yang tidak minum ASI.

Kemungkinan mekanisme efek probiotik dalam pencegaha diare


melalui perubahan lingkungan mikro lumen usus, produksi bahan
antimikroba terhadap beberapa patogen usus, kompetisi nutrien, mencegah
adhesi kuman patogen pada enterosit, modifikasi toksin atau reseptor
toksin efek trofik pada mukosa usus melalui penyediaan nutrien dan
imunomodulasi.
o Peranan prebiotik
Prebiotik merupakan bahan makanan. Umumnya berupa kompleks
karbohidrat yang bila dikonsumsi dapat merangsang pertumbuhan flora
intestinal yang menguntungkan kesehatan.