Anda di halaman 1dari 8

BAB III

TINJAUAN PUSTAKA

3.1.

Definisi Hernia
Hernia merupakan protrusi atau penonjolan isi suatu rongga melalui defek

atau bagian yang lemah dari dinding yang bersangkutan. Pada hernia abdomen, isi
perut menonjol melalui defek atau bagian lemah dari lapisan muskulo-aponeurotik
dinding perut. Hernia terdiri atas cincin, kantong, dan isi hernia.1
3.2.

Epidemiologi
Tujuh puluh lima persen dari semua kasus hernia di dinding abdomen muncul

disekitar lipatan paha. Hernia sisi kanan lebih sering terjadi daripada di sisi kiri.
Hernia indirect lebih banyak daripada hernia direct yaitu 2:1, perbandingan
pria:wanita pada hernia indirect adalah 7:1. Hernia femoralis kejadiaanya kurang dari
10% dari semua hernia tetapi 40% dari itu muncul kasus emergensi dengan inkaserasi
atau strangulasi. Hernia femoralis lebih sering terjadi pada lansia dan laki-laki yang
pernah menjalani operasi hernia inguinal.2,3
3.3.

Etiologi
Penyebab terjadinya hernia adalah1,2:

a) Lemahnya dinding rongga perut. Dapat sejak lahir atau didapat kemudian
dalam hidup
b) Akibat dari pembedahan sebelumnya
c) Kongenital
Hernia kongenital sempurna
Bayi sudah menderita hernia karena adanya defek pada tempat-tempat

tertentu.
Hernia kongenital tidak sempurna

10

Bayi dilahirkan normal (kelainan belum tampak) tapi mempunyai defek


pada tempat-tempat tertentu (predisposisi) dan beberapa bulan (0-1
tahun) setelah lahir akan terjadi melalui defek tersebut karena
dipengaruhi oleh kenaikan tekanan intraabdominal (mengejan, batuk,
menangis)
d) Aquisital adalah hernia yang bukan disebabkan karena adanya defek bawaan
tetapi disebabkan oleh faktor lain yang dialami manusia, antara lain:
Tekanan intraabdominal yang tinggi, yaitu pada pasien yang sering

mengejan pada saat buang air besar atau buang air kecil.
Konstitusi tubuh. Pada orang kurus terjadinya hernia karena jaringan
ikatnya yang sedikit, sedangkan pada orang gemuk disebabkan karena
jaringan lemak yang banyak sehingga menambah beban jaringan ikat

3.4.

penyokong.
Distensi dinding abdomen karena peningkatan tekanan intraabdominal
Penyakit yang melemahkan dinding perut
Merokok
Diabetes mellitus

Bagian Hernia
Bagian-bagian dari hernia menurut:

1) Kantong hernia. Pada hernia abdominalis berupa peritoneum parietalis. Tidak


semua hernia memiliki kantong, misalnya hernia incisional, hernia adiposa,
hernia internalis.
2) Isi hernia: berupa organ atau jaringan yang keluar melalui kantong hernia,
misalnya usus, ovarium, dan jaringan penyangga usus (omentum).
3) Pintu hernia: merupakan bagian locus minoris resistance yang dilalui kantong
hernia.
4) Leher hernia: bagian tersempit kantong hernia.

11

3.5.

Klasifikasi Hernia
Menurut sifat dan keadaannya hernia dibedakan menjadi3:

Hernia reponibel: bila isi hernia dapat keluar masuk. Usus keluar jika berdiri
atau mengedan dan masuk lagi bila berbaring atau didorong masuk perut,

tidak ada keluhan nyeri atau gejala obstruksi usus.


Hernia ireponibel: bila isi kantong tidak dapat direposisi kembali ke dalam
rongga perut. Ini biasanya disebabkan oleh perlekatan isi kantong pada

peritoneum kantong hernia.


Hernia inkarserata atau strangulata: bila isinya terjepit oleh cincin hernia
sehingga isi kantong terperangkap dan tidak dapat kembali ke dalam rongga
perut. Akibatnya, terjadi gangguan vaskularisasi. Reseksi usus perlu segera
dilakukan untuk menghilangkan bagian yang mungkin nekrosis.
Menurut Erickson (2009) dalam Muttaqin 2011, ada beberapa klasifikasi
hernia yang

dibagi berdasarkan regionya, yaitu: hernia inguinalis, hernia

femoralis, hernia umbilikalis, dan hernia skrotalis.

Hernia Inguinalis, yaitu: kondisi prostrusi (penonjolan) organ intestinal masuk


ke rongga melalui defek atau bagian dinding yang tipis atau lemah dari cincin
inguinalis. Materi yang masuk lebih sering adalah usus halus, tetapi bisa juga
merupakan suatu jaringan lemak atau omentum. Predisposisi terjadinya hernia
inguinalis adalah terdapat defek atau kelainan berupa sebagian dinding rongga
lemah. Penyebab pasti hernia inguinalis terletak pada lemahnya dinding,
akibat perubahan struktur fisik dari dinding rongga (usia lanjut), peningkatan

12

tekanan intraabdomen (kegemukan, batuk yang kuat dan kronis, mengedan

akibat sembelit, dll).


Hernia Femoralis, yaitu: suatu penonjolan organ intestinal yang masuk
melalui kanalis femoralis yang berbentuk corong dan keluar pada fosa ovalis

di lipat paha. Penyebab hernia femoralis sama seperti hernia inguinalis.


Hernia Umbilikus, yaitu: suatu penonjolan (prostrusi) ketika isi suatu organ
abdominal masuk melalui kanal anterior yang dibatasi oleh linea alba,
posterior oleh fasia umbilicus, dan rektus lateral. Hernia ini terjadi ketika

jaringan fasia dari dinding abdomen di area umbilicus mengalami kelemahan.


Hernia Skrotalis, yaitu: hernia inguinalis lateralis yang isinya masuk ke dalam
skrotum secara lengkap. Hernia ini harus cermat dibedakan dengan hidrokel
atau elevantiasis skrotum.

13

3.6.

Patofisiologi hernia inguinalis lateralis


Kanalis inguinalis dalam kanal yang normal pada fetus. Pada bulan ke-8

dari kehamilan, terjadi desensus vestikulorum melalui kanal tersebut. Penurunan


testis akan menarik peritoneum ke daerah scrotum sehingga terjadi tonjolan
peritoneum yang disebut dengan prosesus vaginalis pritonea. Bila bayi lahir
umumnya prosesus telah mengalami obliterasi, sehingga isi rongga perut tidak
dapat melalui kanalis tersebut. Tetapi dalam beberapa hal sering belum menutup,
karena yang kiri turun terlebih dahulu dari yang kanan, maka kanalis inguinalis
yang kanan lebih sering terbuka. Dalam keadaan normal, kanal yang terbuka ini
akan menutup pada usia 2 bulan.1,2
Bila prosesus terbuka sebagian, amka timbul hidrokel. Bila kanal terbuka
terus, karena rosesus tidak berobliterasi maka akan timbul hernia inguinalis
lateral kongenital. Biasanya hernia pada orang dewasa ini terjadi karena dengan
bartambahnya umur, organ dan jaringan tubuh mengalami proses degenerasi.

14

Pada orang tua kanalis tersebut telah menutup. Namuan karena daerah ini
merupakan locus minoris resistance, maka pada keadaan yang menyebabkan
tekanan intraabdominal meningkat seperti batuk-batuk kronik, bersin yang kuat
dan mengangkat barang-barang berat, mengejan. Kanal yang sudah tertutup dapat
terbuka kembali dan timbul hernia inguinalis lateralis karena terdorongnya
sesuatu jaringan tubuh dan keluar melalui defek tersebut. Akhirnya menekan
dinding rongga yang telah melemas akibat trauma, hipertrofi prostat, asites,
kehamilan, obesitas, dan kelainan kongenital dan dapat terjadi pada semua.2
Pria lebih banyak dari wanita, karena adanya perbedaan proses
perkembangan alat reproduksi pria dan wanita semasa janin. Potensial
komplikasi terjadi perlekatan antara isi hernia dengan dinding kantong hernia
sehingga isi hernia tidak dapat dimasukkan kembali. Terjadi penekanan terhadap
cincin hernia, akibat semakin banyaknya usus yang masuk cincin hernia menjadi
sempit dan menimbulkan gangguan penyaluran isi usus. Timbulnya edema bila
terjadi nekrosis. Bila terjadi penyumbatan dan perdarahan akan timbul perut
kembung, muntah, konstipasi. Bila inkaserata dibiarkan, maka lama kelamaan
akan timbul edema sehingga terjadi penekanan pembuluh darah dan terjadi
nekrosis.2
3.7.
Diagnosis
a. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan Finger test menggunakan jari ke 2
atau jari ke 5, dimasukkan lewat skrotum melalui
anulus eksternus ke kanal inguinal, penderita disuruh
batuk. Bila impuls diujung jari berarti hernia
ingunalis lateralis, bila impuls disamping jari hernia
inguinalis medialis.4
Pemeriksaan Ziemen test posisi berbaring, bila ada
benjolan masukkan dulu, hernia kanan diperiksa dengan tangan kanan,
penderita disuruh batuk bila rangsangan pada jari ke-2 hernia ingunalis
lateralis, jari ke-3 hernia inguinalis medialis, jari ke-4 hernia femoralis.4

15

Pemeriksaan

Thumb

test anulus ditekan


dengan ibu jari dan
penderita

disuruh

mengejan, bila keluar


benjolan

berarti

hernia

inguinalis

medialis, bila tidak keluar benjolan berarti hernia inguinalis lateralis.4


b. Pemeriksaan penunjang
Leukosit > 10.000 18.000/mm3
Serum elektrolit meningkat
Pemeriksaan radiologis
Pemeriksaan ultrasonografi juga berguna untuk membedakan hernia
incaserata dari suatu nodus limfatikus patologis atau penyebab lain dari

suatu massa yang teraba di inguinal.


CT scan dapat digunakan untuk mngevaluasi pelvis untuk mencari
adanya hernia obturator.

3.8.
Diagnosis banding
a. Keganasan : limfoma, retroperitoneal sarcoma, metastasis, tumor testis
b. Penyakit testis primer: varicocele, epididimitis, torsio testis, hidrokel, testis
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.

ectopic, undescenden testis


Aneurisma artery femoralis
Nodus limfatikus
Kista limfatikus
Kista sebasea
Psoas abses
Hematoma
Ascites

3.9.

Penatalaksanaan
Operasi elektif dilakukan untuk mengurangi gejala dan mencegah

komplikasi seperti inkeserasi dan strangulasi. Pengobatan non operatif


direkomendasikan hanya pada hernia yang asimptomatik. Prinsip utama operasi
hernia

adalah

herniotomy:

membuka

dan

memotong

kantong

hernia.

Herniorraphy: memperbaiki dinding posterior abdomen kanalis ingunalis.1,2

16

Herniotomy
Insisi 1-2 cm diatas ligamentum inguinal dan aponeurosis obliqus eksterna
dibuka sepanjang canalis inguinalis eksterna. Kantong hernia dipisahkan dari
m.creamester secara hati-hati sampai ke kanalis inguinalis internus, kantong
hernia dibuka, lihat isinya dan kembalikan ke kavum abdomen kemudian hernia
dipotong. Pada anak-anak cukup hanya melakukan herniotomy dan tidak
memerlukan herniorrhapy.1,2
Herniorrhapy
Dinding posterior di perkuat dengan menggunakan jahitan atau non-absorbable
mesh dengan tekhnik yang berbeda-beda. Meskipun tekhnik operasi dapat
bermacam-macam tekhnik bassini dan shouldice paling banyak digunakan.
Teknik operasi liechtenstein dengan menggunakan mesh diatas defek mempunyai
angka rekurensi yang rendah.1,2
3.10.

Prognosis
Tergantung dari umur penderita, ukuran hernia serta kondisi dari isi

kantong hernia. Prognosis baik jika infeksi luka, obstruksi usus segera ditangani.
Penyulit pasca bedah seperti nyeri pasca herniorraphy, atrofi testis dan rekurensi
hernia umumnya dapat diatasi.