Anda di halaman 1dari 10

PAPER KAJIAN POLITIK LINGKUNGAN

GREEN POLITICS DAN PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN DI


INDONESIA

Disusun Oleh:
Amanda Charina Prakasa
F1I012054

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
PURWOKERTO
2014

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Isu lingkungan hidup akhir-akhir ini menjadi topik yang mendapat
perhatian khusus terkait dengan permasalahan pemanasan global (global
warming) yang disebabkan oleh emisi karbon dari industri maupun kendaraan
bermotor dan kerusakan serta pembakaran hutan, permasalahan pencemaran
sungai dan laut, dan kerusakan pantai serta pembuangan limbah nuklir yang telah
mempengaruhi kelangsungan hidup manusia baik secara individu maupun secara
kelompok.
Dalam hubungan internasional, kini kajiannya telah meluas dari isu-isu
tradisional ke modern, dimana persoalan internasional kini bukan hanya mengenai
ancaman keamanan tradisional, namun juga ancaman baru yaitu permasalahan
lingkungan hidup yang mengancam bagi kelangsungan hidup di bumi, sehingga
isu permasalahan lingkungan hidup pun menjadi isu yang krusial bagi Hubungan
Internasional dan merupakan bagian dari kajian politik hijau atau green politics.
Dalam menanggapi isu lingkungan tersebut, membawa manusia untuk berpikir
tentang bagaimana dampak tindakan dan perilaku hidup terhadap lingkungan
sekitarnya.1
Indonesia, merupakan negara yang terkenal akan kekayaan alamnya,
namun masih banyak krisis lingkungan yang terjadi akibat pembangunan yang
tidak berlandaskan kesejahteraan lingkungan. Diawali dengan adanya kesadaran
yang dipacu kondisi nasional Indonesia dimana terjadi berbagai kerusakan
lingkungan hidup akibat pembangunan, di Indonesia muncul gerakan green
politics

yang

mengkampanyekan

model

pembangunan

alternatif

yaitu

1 Jill steans & Llyod Pettiford, Hubungan Internasional: Perspektif dan


Tema, Pentj. Deasy Silvya Sari, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2009, Hal. 375

pembangunan berkelanjutan (sustainable development). Gerakan ini muncul


karena adanya keinginan untuk mengupayakan keberlanjutan kehidupan yang
baik, dengan melawan adanya pembangunan yang terlalu berorientasi
pertumbuhan dan strategi pembangunan yang eksploitatif sehingga mengancam
kelestarian lingkungan hidup.
Tulisan ini akan membahas implementasi green politics di Indonesia dan
mengkaji kajian teori green politics dan keterkaitannya dengan adanya gerakan
yang relevan dengan isu pembangunan berkelanjutan sebagai salah satu bentuk
gerakan green politics di Indonesia.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana implementasi pembangunan berkelanjutan yang dilakukan
gerakan green politics di Indonesia?

BAB II
PEMBAHASAN

1.

IMPLEMENTASI PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN OLEH


GERAKAN GREEN POLITICS DI INDONESIA
Sebelum membahas lebih lanjut mengenai pembangunan berkelanjutan
yang dilakukan oleh gerakan green politics di Indonesia, ada baiknya agar dikaji
terlebih dahulu mengenai kajian teori green politics secara singkat.
Permasalahan lingkungan hidup (ekologi), mulai menjadi isu global dalam
masyarakat dunia. Isu-isu mengenai permasalahan lingkungan kini menjadi
perhatian masyarakat internasional. Politik Hijau atau green politics merupakan
isu baru dalam dunia politik kontemporer. Berawal dari adanya protes atas
manusia yang merasa dirugikan dari keberlangsungan ekologi mereka atas
pencemaran dan kerusakan lingkungan yang terjadi akibat modernitas, mereka
berusaha untuk mempertahankan lingkungan dan mengkritik kapitalis dengan
analisis lingkungan hidup.
Menurut Tim Hayward, perkembangan teori Politik Hijau (Green political
theory) diambil dari fakta bahwa manusia merupakan bagian dari alam, sehingga
yang memiliki implikasi bagi perilaku politiknya. Dengan argumen ini, teori
politik juga harus selaras dengan teori-teori lingkungan. Artinya, manusia tidak
hanya dilihat sebagai individu yang rasional (seperti dalam pandangan
liberalisme) atau sebagai makluk sosial (seperti pandangan sosialisme) akan tetapi
sebagai natural beings, dan lebih jauh sebagai political animals.2
Menurut salah seorang pemikir green politics, Industrialisasi yang
merebak di seluruh dunia akan merusak kehidupan di muka bumi. Namun,
perlunya perdamaian dalam memobilisasi gerakan hijau. Ekologi dan perdamaian
saling terkait, namun realisasinya membutuhkan transformasi masyarakat.3

2 Tim Harward, green political theory, University of Edinburd,


http://www.psa.ac.uk/cps/1996/hayw.pdf (Diakses 5 Juli 2015 pukul 21:00)

Gerakan green politics yang pada awalnya hanya berbentuk gerakan aksi,
mencoba melembagakan diri ke dalam bentuk partai politik. Asumsinya, gerakan
aksi tidak cukup untuk mempengaruhi proses pengambilan kebijakan. Sehingga,
dibutuhkan institusi seperti partai politik yang bisa menjadi bagian pengambilan
kebijakan di level nasional atau lokal (stakeholder). Inilah yang dapat disebut
dengan politik lingkungan atau green politics dimana adanya keterlibatan antara
kelompok yang mempertahankan lingkungan hidup di dalam ranah politik.
Di Indonesia, dalam merespons berbagai kerusakan lingkungan hidup
terutama yang disebabkan oleh pembangunan, delaksanakan pola pembangunan
secara berkelanjutan (sustainable development). Adalah Emil Salim, yang
merupakan tokoh lingkungan hidup internasional Indonesia yang pernah meraih
penghargaaan dari WWF (World Wide Fund) kerap mengkampanyekan model
pembangunan alternatif. Menurutnya, hakekat pembangunan ke depan adalah
mengupayakan keberlanjutan (sustainabilitas) kehidupan.
Untuk keberlanjutan kehidupan ini, pembangunan berkelanjutan memiliki
beberapa prasyarat. Pertama, menjangkau perspektif jangka panjang melebihi
satu-dua generasi sehingga kegiatan pembangunan perlu mempertimbangkan
dampak jangka panjang. Kedua, menyadari berlakunya hubungan keterkaitan
(interdependency) antar pelaku-pelaku alam, sosial dan buatan manusia. Pelaku
alam terdapat dalam ekosistem, pelaku sosial terdapat dalam sistem sosial, dan
pelaku buatan manusia dalam sistem ekonomi. Ketiga, memenuhi kebutuhan
manusia dan masyarakat masa kini tanpa mengurangi kemampuan generasi yang
akan datang memenuhi kebutuhannya. Keempat, pembangunan dilaksanakan
dengan menggunakan sumber daya alam sehemat mungkin, limbah-polusi
serendah mungkin, ruang-space sesempit mungkin, energi diperbarui semaksimal
mungkin, energi tidak-diperbarui sebersih mungkin, serta dengan manfaat
lingkungan, sosial, budaya-politik dan ekonomi seoptimal mungkin. Kelima,

3 Bjorn Hettre, Teori Pembangunan dan Tiga Dunia, (Jakarta: Gramedia


Pustaka Utama, 2001), 337-338

pembangunan diarahkan pada pemberantasan kemiskinan, perimbangan ekuitas


sosial yang adil serta kualitas hidup sosial, lingkungan, dan ekonomi yang tinggi.4
Kampanye model pembangunan alternatif Emil Salim tersebut merupakan
awal dari adanya implementasi green politics di Indonesia.
Wacana mengenai pembangunan berkelanjutan di Indonesia timbultenggelam sejak tahun 1980-an. Diskursus ini bergulir sejalan dengan pasangsurutnya gerakan demokratisasi di tanah air. Tafsir negara mengenai pembangunan
berkelanjutan sangat dominan seiring sentralisme Orde Baru yang mencapai
puncak kejayaannya pada dekade 1980-1990-an. Transisi demokrasi yang ditandai
lahirnya semangat reformasi tahun 1998 turut mereposisi peta wacana
pembangunan berkelanjutan. Fase ini memunculkan peran signifikan kalangan
organisasi non-pemerintah (Ornop) dan masyarakat sipil lainnya untuk turut
merespon wacana pembangunan berkelanjutan dengan polemik yang lebih
dinamik. Walhi, Kehati, Bina Desa, HUMA, AMAN (Aliansi Masyarakat Adat
Nusantara), merupakan Ornop yang aktif mengkampanyekan green politics di
tanah air dengan turut mewacanakan pembangunan berkelanjutan sebagai salah
satu alternatifnya.5
Dalam membahas tantang-tantangan baru dan menggelorakan kembali
komitmen-komitmen

politik

dalam

proses

pembangunan

berkelanjutan,

masyarakat dunia menyepakati rencana untuk memcahkan lingkungan dan


pembangunan di Johannesburg pada pertemuan World Summit on Sustainable
Development (WSSD) tahun 2002. Forum WWSD ini memunculkan kesadaran
bahwa keberhasilan sebuah tindakan atau program harus dilanjutkan agar hasilnya
dapat berlangsung secara terus menerus. Kesadaran ini yang melahirkan konsep
pembangunan berkelanjutan yang lazim diartikan sebagai Pembangunan untuk
4Emil Salim (2003) Membangun Paradigma Pembangunan dalam makalah
Peluncuran Buku dan Forum Diskusi Mengenai Hasil-Hasil dan Tindak
Lanjut KTT Pembangunan Berkelanjutan, Jakarta: 11 April 2003.
5 Sofian M. Asgart, Green Politics dan Gerakan Demokratisasi di Indonesia,
Demos Indonesia,
http://demosindonesia.org/pdf/Sasgart_Green_Politics_dan_Gerakan_Demokr
asi_374042589.pdf (Diakses 5 Juli 2015 pukul 21:00)

memenuhi kebutuhan saat ini dengan memikirkan mampu-tidaknya generasi


mendatang memenuhi kebutuhan mereka sendiri6, konsep inilah yang kemudian
diadopsi pemerintah Indonesia dalam pelaksanaan pembangunan berkelanjutan
dengan berbagai programnya.
Secara resmi, pemerintah Indonesia telah memiliki kebijakan mengenai
pembangunan berkelanjutan sejak tahun 1980-an. Ini dapat dilihat dari disusunnya
Agenda 21 nasional Indonesia. Secara normatif, Garis-garis Besar Haluan Negara
(GBHN) 1999-2004 menyebutkan pula komitmen pemerintah Indonesia untuk
melaksanakan pembangunan berkelanjutan serta program-program pemerintah
dalam pelaksanaan pembangunan nasional melalui pengelolaan sumber daya alam
dan pemeliharaan daya dukungnya guna membawa manfaat bagi peningkatan
kesejahteraan rakyat dari generasi ke generasi.7 Dalam implementasinya,
pembangunan berkelanjutan dikelola oleh Kementerian Lingkungan Hidup.
Namun nyatanya, implementasi pembangunan berkelanjutan sebagai
bentuk dari penerapan green politics di Indonesia masih dikritik. Dinilai bahwa
wacana pembangunan berkelanjutan di Indonesia tidak berkorelasi positif dengan
berkurangnya destruksi terhadap sumber daya alam dan lingkungan hidup pada
umumnya. Adalah Arianto Sangiaji, seorang Direktur Yayasan Tanah Merdeka
(YTM) mengatakan bahwa program yang tepat untuk pembangunan berkelanjutan
adalah memfasilitasi komunitas lokal untuk memanfaatkan sumber daya alam
secara bijak. Melalui berbagai programnya, YTM mendorong agar masyarakat
mampu mengelola sumber daya alam yang dimilikinya secara ber-kelanjutan.8
Selain itu, masalah partisipasi publik juga merupakan salah satu faktor
penghambat keberhasilan pembangunan berkelanjutan di Indonesia. Dalam
6 Beder S., tt. The Nature of Sustainable Development, Scribe
Publication, Newham.
7 Sofian M. Asgart, Green Politics dan Gerakan Demokratisasi
di Indonesia, Demos Indonesia,
http://demosindonesia.org/pdf/Sasgart_Green_Politics_dan_Ger
akan_Demokrasi_374042589.pdf (Diakses 5 Juli 2015 pukul
21:00)
8 Ibid.

pembangunan berkelanjutan masih diperlukannya partisipasi publik oleh


masyarakat Indonesia agar upaya kompromi harmonis antara kebutuhan
pertumbuhan dan pelestarian lingkungan serta aspek sosial dapat terwujudkan.
masalah partisipasi publik, keterbukaan, musyawarah publik, serta akuntabilitas
pemerintahan dan birokrasi perlu mendapat perhatian yang cukup dalam
pengimplementasian pembangunan berkelanjutan. Dengan begitu, program
pembangunan berkelanjutan sebagai bentuk dari implementasi green politics ini
diharapkan dapat benar-benar menjadi milik rakyat yang mampu menjawab
persoalan dan harapan-harapan masyarakat secara nyata. Tantangan global yang
semakin luas ancamannya memberi tekanan untuk negara di dunia termasuk
Indonesia untuk mulai menerapkan green politics untuk mencapai hasil yang
positif.

BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
Isu lingkungan hidup kini menjadi perhatian masyarakat internasional,
dimana

dalam

dunia

modern

saat

ini

pembangunan

seringkali

tidak

memperhatikan aspek ekologi yang penting demi keberlangsungan hidup


masyarakat dunia hingga masa depan. Dalam hubungan internasional, green
politics muncul sebagai adanya respons dari pengaruh negatif dampak
pembangunan yang terjadi di negara-negara di dunia internasional yang saling
berhubungan.
Kelemahan utama dari cara hidup masyarakat industri dengan etos
ekspansi adalah cara hidup yang tidak sustainable dari saat ini dan saat yang akan
datang. Maka dari itu dengan adanya pembangunan berkelanjutan sebagai bentuk
dari implementasi gerakan green politics khususnya di Indonesia ini diharapkan
mampu mengatasi sekaligus mencegah adanya permasalahan lingkungan demi
mempertahankan alam yang merupakan tempat manusia untuk bertahan hidup.
Dari penjelasan diatas, implementasi green politics berupa pembangunan
berkelanjutan di Indonesia masih perlu ditingkatkan kinerja serta partisipasi
publik mengingat Indonesia memiliki sumber daya alam yang rentan akan
pengaruh asing yang ingin memanfaatkan kekayaan alam Indonesia. Dengan
upaya-upaya bersama di lingkup nasional maupun internasional diharapkan
Indonesia dapat mengambil kebijakan terbaik terkait lingkungan dalam
menghadapi pengaruh industrialisasi terutama dari negara-negara maju dalam
pembangunannya di Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA

Buku:
Jill steans & Llyod Pettiford, Hubungan Internasional: Perspektif dan Tema,
Pentj. Deasy Silvya Sari, Pustaka Pelajar: Yogyakarta. 2009. Hal. 375
Hettre, Bjon. Teori Pembangunan dan Tiga Dunia. Jakarta: Gramedia Pustaka
Utama, 2001. Hal 337-338
Website:
Tim

Harward,

green

political

theory,

University

of

Edinburd,

http://www.psa.ac.uk/cps/1996/hayw.pdf (Diakses 5 Juli 2015 pukul 21:00)


Sofian M. Asgart, Green Politics dan Gerakan Demokratisasi di Indonesia,
Demos

Indonesia,

http://demosindonesia.org/pdf/Sasgart_Green_Politics_dan_Gerakan_Demokr
asi_374042589.pdf (Diakses 5 Juli 2015 pukul 21:00)
Lain-lain:
Emil Salim (2003) Membangun Paradigma Pembangunan dalam makalah
Peluncuran Buku dan Forum Diskusi Mengenai Hasil-Hasil dan Tindak
Lanjut KTT Pembangunan Berkelanjutan, Jakarta: 11 April 2003.
Beder S., tt. The Nature of Sustainable Development, Scribe Publication,
Newham.