Anda di halaman 1dari 24

PRESENTASI KASUS

PERDARAHAN UTERUS DISFUNGSIONAL

PRESENTASI KASUS PERDARAHAN UTERUS DISFUNGSIONAL PEMBIMBING : Kolonel Ckm dr.Tri Joko W, SpOG PENYUSUN : Hasyati
PRESENTASI KASUS PERDARAHAN UTERUS DISFUNGSIONAL PEMBIMBING : Kolonel Ckm dr.Tri Joko W, SpOG PENYUSUN : Hasyati

PEMBIMBING :

Kolonel Ckm dr.Tri Joko W, SpOG

PENYUSUN :

Hasyati Dwi Kinasih

1410221013

KEPANITERAAN KLINIK DEPARTEMEN OBSTETRI DAN GINEKOLOGI PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KEDOKTERAN UPN ‘VETERAN’ JAKARTA

LEMBAR PENGESAHAN

PRESENTASI KASUS

Perdarahan Uterus Disfungsional

Disusun oleh :

Hasyati Dwi Kinasih

1410221013

Presentasi kasus ini telah dipresentasikan dan disahkan sebagai salah satu prasyarat mengikuti ujian kepaniteraan klinik Departemen Obstetri dan Ginekologi Rumah Sakit Tk II RST dr.Soedjono Magelang.

Magelang,

Juli 2015

Mengetahui,

Pembimbing

Kolonel C km dr.Tri Joko W, SpOG

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas berkat dan rahmat-Nya sehingga

referat ini telah berhasil diselesaikan Presentasi Kasus yang berjudul “Perdarahan Uterus Disfungsional" dibuat sebagai salah satu persyaratan mengikuti ujian kepaniteraan klinik Ilmu Obstetri dan Ginekologi Rumah Sakit Tk II RST dr.Soedjono Magelang. Tanpa dukungan pihak-pihak yang telah memberikan pertolongan, demikianlah presentasi kasus ini tersusun dan terselesaikan. Oleh sebab itu, penulis menggunakan kesempatan ini untuk mengucapkan terimahasih kepada :

  • 1. Kolonel Ckm dr.Tri Joko W, SpOG selaku pembimbing yang sabar dalam membimbing

dan memberikan pengarahan. Beliau juga telah mengorbankan waktu, tenaga, dan pikiran untuk memberikan bimbingan, masukan, serta koreksi demi kesempurnaan referat ini 2. Ucapan terimakasih kepada seluruh keluarga FK UPN 2010 terkhusus untuk sahabat-

sahabat tercinta dan semua pihak terkait yang telah membantu proses pembuatan presentasi kasus ini terimakasih untuk semangat dan kebersamaan selama ini.

Penulis menyadari bahwa presentasi kasus ini masih jauh dari sempurna. Oleh sebab itu, penulis mohon maaf jika terdapat kekurangan. Penulis berharap referat ini dapat memberikan manfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan serta bagi semua pihak yang membutuhkan.

Magelang, Juli 2015 Penulis

Hasyati Dwi Kinasih

BAB I PENDAHULUAN

Gangguan haid atau disebut juga dengan perdarahan uterus disfungsional merupakan keluhan yang sering menyebabkan seorang perempuan datang berobat ke dokter atau tempat pertolongan pertama lainnya. Keluhan gangguan haid bervariasi dari ringan sampai berat dan hampir semua wanita pernah mengalami gangguan haid selama masa hidupnya. Gangguan haid dapat berupa kelainan siklus atau perdarahan. Masalah ini dihadapi oleh wanita usia remaja, reproduksi dan klimakterik. Haid yang tidak teratur pada masa 3-5 tahun setelah menarche dan pramenopause (3-5 tahun menjelang menopause) merupakan keadaan yang lazim dijumpai. Tetapi pada masa reproduksi (umur 20-40 tahun), haid yang tidak teratur bukan merupakan keadaan yang lazim, karena selalu dihubungkan dengan keadaan abnormal. Perdarahan abnormal dari uterus tanpa disertai kelainan organik, hematologik, melainkan hanya merupakan gangguan fungsional disebut sebagai perdarahan uterus disfungsional. Perdarahan uterus disfungsional (PUD) adalah diagnosis pengecualian ketika tidak ada kelainan patologi pada panggul atau menyebabkan medis lain. Berdasarkan gejala klinis perdarahan uterus disfungsional dibedakan dalam bentuk akut dan kronis.Sedangkan secara kausal perdarahan uterus disfungsional mempunyai dasar ovulatorik (10%) dan anovulatorik (70%). Penderita perdarahan uterus disfungsional akut biasanya datang dengan perdarahan banyak, sehingga cepat ditangani karena merupakan keadaan gawat darurat dan memerlukan perawatan di rumah sakit. Sedangkan perdarahan uterus disfungsional kronis dengan perdarahan sedikit-sedikit dan berlangsung lama bukan merupakan keadaan gawat darurat. Meskipun tidak darurat tetapi perdarahan uterus disfungsional kronis justru memerlukan perhatian yang sungguh- sungguh sehubungan dengan dampak jangka panjang yang ditimbulkannya seperti anemia sekunder, yang dapat menganggu fungsi reproduksi.

BAB II LAPORAN KASUS

I.

IDENTITAS

Nama

:

Ny. E

Usia

: 42 tahun

 

Pekerjaan

:

Guru

Agama

:

Islam

Pendidikan

:

S1

Alamat

:

Asrama Yon Armed 11/ Kostrad

Status

: Menikah

Nama Suami

: Tn. S

 

Pekerjaan

: Tentara

Masuk RS

:

22 Juni 2015

No. RM

:

04-39-63

 

II.

ANAMNESIS

Ny. E (42 tahun)

P2A0

HPHT

: 26 April 2015

BB

: 39 kg

TB

: 143 cm

Keluhan Utama :

Menstruasi tidak berhenti sejak bulan April

Riwayat Penyakit Sekarang :

Pasien datang ke bangsal Anggrek via poli Obgyn pada tanggal 22 Juni 2015 dengan keluhan

menstruasi tidak berhenti dirasakan sudah ±3 bulan sejak mens terakhir tanggal 26 April 2015. Darah dirasakan cukup banyak. Dalam satu hari pasien dapat berganti pembalut sampai lima kali. Darah berwarna merah kecoklatan, tidak menggumpal, tidak ada prongkol- prongkol. Gangguan menstruasi pada pasien sudah dirasakan sejak satu tahun terakhir terlebih setelah menggunakan KB suntik tiap 3 bulan yang sudah dihentikan pasien sejak

awal tahun 2015. Saat ini pasien tidak sedang hamil, sudah PP test hasilnya negatif. Riwayat trauma (-), keputihan (-), demam (-), dan penurunan berat badan drastis dalam waktu singkat (-). Karena keluhannya saat ini pasien sering merasa pusing dan lemas.

Riwayat Penyakit Dahulu :

Riwayat keluhan serupa

: disangkal

Riwayat penyakit jantung : disangkal

Riwayat penyakit ginjal

: disangkal

Riwayat hipertensi

: disangkal

Riwayat kelainan darah

: disangkal

Riwayat penyakit tiroid

: disangkal

Riwayat diabetes mellitus : disangkal

Riwayat asma

: disangkal

Riwayat alergi obat

: disangkal

Riwayat Penyakit Keluarga :

Riwayat keluhan serupa di keluarga

: disangkal

Riwayat penyakit jantung di keluarga

: disangkal

Riwayat penyakit ginjal di keluarga

: disangkal

Riwayat kelainan darah di keluarga

: disangkal

Riwayat penyakit tiroid

di keluarga

: disangkal

Riwayat hipertensi di keluarga

: disangkal

Riwayat diabetes mellitus di keluarga

: disangkal

Riwayat asma di keluarga

: disangkal

Riwayat alergi di keluarga

: disangkal

Riwayat Haid : Menarche usia 12 tahun, haid teratur dengan siklus 28 hari, lama haid 7-8 hari, riwayat nyeri haid disangkal.

Riwayat Obstetri :

1. 2002; laki-laki; aterm; partus spontan; dibantu bidan; BBL 2600 gram 2. 2006; laki-laki; aterm; partus spontan; dibantu bidan; BBL 3100 gram

Riwayat Kontrasepsi :

IUD sejak tahun 2007-2014, lalu diganti dengan KB suntik tiap 3 bulan yang sudah tidak

digunakan sejak awal tahun 2015.

Riwayat Perkawinan : Menikah 1 kali dan menikah saat usia 23 tahun, usia pernikahan ±14 tahun.

III.

STATUS GENERALIS

Keadaan umum : Sedang

Kesadaran

:

Compos mentis

Tanda Vital

 

-

Tekanan darah

:

130/90 mmHg

-

Frekuensi nadi

:

88 x/menit

-

Frekuensi napas

: 20 x/menit

-

Suhu

:

36,8 o C

Pemeriksaan Fisik Umum

 

Kepala

: Normocephal, distribusi rambut merata, deformitas (-)

Mata

: Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-)

Hidung

: Discharge (-), deviasi (-)

Mulut

: Mukosa hiperemis (-), lidah kotor (-), tonsil T1 – T1 tenang

Leher

: Perbesaran KGB (-)

Thorax a. Paru-paru Inspeksi : Dinding dada simetris, pergerakan simetris, retraksi dinding dada (-) Palpasi : Vocal fremitus simetris kanan-kiri Perkusi : Sonor dikedua lapang paru. Auskultasi :Vesikular dikedua lapang paru, rhonki (-), wheezing (-) b. Jantung Inspeksi : Ictus cordis tidak terlihat. Palpasi : Ictus cordis tidak teraba. Perkusi : Batas atas ISC III linea midclavicularis sinistra, Batas bawah ISC V linea midclavicularis sinistra, Batas kanan ISC IV parasternalis dextra, Batas kiri ISC IV midclavicularis sinistra.

Auskultasi

Abdomen

: BJ I-II regular, murmur (-), gallop (-).

Inspeksi

:Bentuk perut datar, tanda-tanda peradangan (-), tanda bekas operasi(-)

Auskultasi

: Bising Usus (+) normal.

Palpasi

: Supel, nyeri tekan (-), massa (-)

Perkusi

: Timpani diseluruh kuadran abdomen, hepatosplenomegali (-)

Ekstremitas:

a. Superior

: Capillary refill time < 2 detik, edema (-/-), turgor kulit < 2

detik.

b. Inferior

: Capillary refill time < 2 detik, edema (-/-), turgor kulit < 2

detik.

IV.

PEMERIKSAAN OBSTETRI & GINEKOLOGI

Pemeriksaan Luar:

Vulva tenang

Tidak teraba massa

Tidak ada tanda peradangan

Pemeriksaan Dalam:

Vaginal Toucher (VT)

Dinding vagina normal, inflamasi (-), massa (-)

Pembukaan (-)

Inspekulo:

Porsio tebal lunak

Nyeri goyang porsio (-)

Kavum Douglasi dalam batas normal, massa (-), darah (-)

Lendir (+) sarung tangan terdapat darah(+)

Vagina dan portio tidak ada kelainan, laserasi maupun peradangan

Darah dari uterus yang keluar melalui portio (+)

  • V. PEMERIKSAAN PENUNJANG

Pemeriksaan Laboratorium Darah (22 Juni 2015):

 

22/6/2015 pkl 22.58

WBC

7.600 /uL

RBC

4,60 juta/uL

HB

13,0 g/dL

HT

36,3%

PLT

292.000 /uL

MCV

83,2 fL

MCH

28,3 pg

MCHC

33,9 g/dL

USG Abdomen

Pemeriksaan Laboratorium Darah (22 Juni 2015): 22/6/2015 pkl 22.58 WBC 7.600 /uL RBC 4,60 juta/uL HB

Kesan: Penebalan dinding endometrium tanpa disertai perlukaan yang menyebabkan reaksi radang.

VI.

DIAGNOSIS

P2A0 dengan Perdarahan Uterus Disfungsional

VII.

RENCANA TINDAKAN

IVFD RL /12 jam

Cytotex 2 tab pervagina

Persiapan kuretase 23/6/2015

VIII. USULAN PEMERIKSAAN PENUNJANG

Pemeriksaan histopatologi jaringan kuretase

IX. FOLLOW UP

Tanggal

Subjektif

Objektif

Assesment

Planning

22

Juni

Pasien

KU/Kes : sedang/CM ,

P 2 A 0 dengan

Cytotex 2tab/vagina

2015

merasa

TD : 130/90 mmhg

PUD

Curettage 23/6/2015

lemas,

Respirasi : 20 x/menit

darah

Nadi : 88 x/menit

menstruasi

Suhu 36.8 o C

masih

Status Generalis: DBN

mengalir

Status Ginekologi

meskipun

Perdarahan (+)

tidak

banyak

23

Juni

 

KU/Kes : sedang/CM ,

P 2 A 0 dengan

Antibiotik : Doxycyclin 2x100

Bila keadaan baik, pasien

2015

TD : 120/80 mmhg

Perdarahan (+) tetapi

N : 84 x/menit RR : 18 x/menit T: 36.4 o C Status Generalis: DBN Status Ginekologi

berkurang Curettage: didapatkan jaringan ± 10cc,

PUD, Post curettage hari pertama

mg Asam tranexamat 3x250 mg Sangobion 2x1 tab Observasi TTV

boleh pulang

perdarahan ±20 cc

X. PROGNOSIS

Quo ad vitam Quo ad fungsionam Quo ad sanationam

: Ad Bonam : Dubia Ad Bonam : Ad Bonam

BAB III TINJAUAN PUSTAKA

Perdarahan Uterus Disfungsional

II.1.

Definisi

Perdarahan uterus abnormal dari uterus baik dalam jumlah, frekuensi maupun lamanya, yang terjadi didalam atau diluar haid sebagai wujud klinis gangguan fungsional mekanisme kerja poros hipotalamus – hipofisis – ovarium - endometrium tanpa kelainan organik alat reproduksi.

II.2.

Etiologi

  • a. Perdarahan Ovulatoar

Perdarahan ini terjadi ± 10 % dari perdarahan disfungsional dengan siklus pendek (polimenorea) atau panjang (oligomenorea) dan untuk menegakkan diagnosis dapatdilakukan kuretase pada masa mendekati siklus haid. Jika karena perdarahan

lama dan siklus haid tidak teratur dan tidak dapat dikenali lagi maka kurve suhu badan basal dapat menolong. Etiologi:

  • 1. Korpus Luteum Persisten Perdarahan kadang-kadang bersamaan dengan pembesaran ovarium. Korpus lutheum persisten dapat menyebabkan pelepasan endometrium tidak teratur (irregular shedding). Irregular shedding dibuat dengan kerokan yang tepat waktunya menurut Mc lennon pada hari ke-4 mulainya perdarahan. Pada waktu itu dijumpai endometrium dalam tipe skresi disamping tipe non skresi.

  • 2. Insufisiensi Korpus Luteum Dapat menyebabkan premenstrual spotting, menoragia, polimenorea. Dasarnya ialah kurangnya produksi progesteron disebabkan oleh gangguan LH- releasing factor. Diagnosis dibuat apabila hasil biopsi endometrial dalam fase luteal tidak cocok dengan gambaran endometrium yang seharusnya didapat pada hari siklus yang bersangkutan.

  • 3. Apopleksia Uteri Pada wanita dengan hipertensi dapat terjadi pecahnya pembuluh darah uterus

  • 4. Kelainan darah Anemia, purpura trombositopenik dan gangguan dalam mekanisme pembekuan darah.

  • b. Perdarahan Anovulatoar Dengan terjadinya penurunan kadar estrogen dapat timbul perdarahan yang kadang bersifat siklik, kadang tidak teratur sama sekali. Fluktuasi kadar estrogen ada sangkut pautnya dengan jumlah folikel. Folikel – folikel ini mengeluarkan estrogen sebelum mengalami atresia dan kemudian diganti oleh folikel-folikel baru. Endometrium yang mula-mula proliferatif dapat terjadi perubahan menjadi hiperplasia kistik.

Etiologi

  • 1. : psikogenik, neurogenik, hipofisis

Sentral

  • 2. : ovarial

Perifer

  • 3. : kelainan gizi, metabolik, penyakit endokrin

Konstitusional

Etiologi 1. : psikogenik, neurogenik, hipofisis Sentral 2. : ovarial Perifer 3. : kelainan gizi, metabolik,

Perdarahan uterus disfungsional dapat berlatar belakang kelainan-kelainan ovulasi, siklus haid, jumlah perdarahan dan anemia yang ditimbulkannya. Berdasarkan kelainan tersebut makaperdarahan uterus disfungsional dapat dibagi seperti tabel 1. Perdarahan uterus disfungsional biasanya berhubungan dengan satu dari tiga keadaan ketidak seimbangan hormonal, berupa: estrogen breakthrough bleeding, estrogen withdrawal bleeding dan progesterone breakthrough bleeding. Pada perdarahan uterus disfungsional ovulatorik perdarahan abnormal terjadi pada siklus ovulatorik dimana dasarnya adalah ketidakseimbangan hormonal akibat umur korpus luteum yang memendek atau memanjang, insufisiensi atau persistensi korpus luteum. Perdarahan uterus disfungsional pada wanita dengan siklus ovulatorik muncul sebagai perdarahan reguler dan siklik.Sedang pada perdarahan uterus disfungsional anovulatorik perdarahan abnormal terjadi pada siklus anovulatorik dimana

dasarnya adalah defisiensi progesterone dan kelebihan progesterone akibat tidak terbentuknya korpus luteum aktif, karena tidak terjadinya ovulasi. Dengan demikian khasiat estrogen terhadap endometrium tak ber lawan. Hampir 80% siklus mens anovulatorik pada tahun pertama menars dan akan menjadi ovulatorik mendekati 18-20 bulan setelah menars.

II.3. Klasifikasi

Perdarahan uterus disfungsional dikatakan akut jika jumlah perdarahan pada satu saat lebih dari 80 ml,terjadi satu kali atau berulang dan memerlukan tindakan penghentian perdarahan segera. Sedangkan perdarahan uterus disfungsional kronis jika perdarahan pada satu saat kurang dari 30 ml terjadi terus menerus atau tidak tidak hilang dalam 2 siklus berurutan atau dalam 3 siklus tak berurutan, hari perdarahan setiap siklusnya lebih dari 8 hari, tidak memerlukan tindakan penghentian perdarahan segera, dan dapat terjadi sebagai kelanjutan perdarahan uterus disfungsional akut. Sementara berdasarkan jumlah kehilangan darah yang dihitung dari kadar Hb, perdarahan uterus disfungsional digolongkan menjadi PUD ringan (hb ≥8 gr/dL), PUD sedang (hb 4-8 gr/dL), dan PUD berat (hb <4 gr/dL). Berdasarkan usia, perdarahan uterus disfungsional dapat dibagi menjadi PUD pada perimenrache, PUD pada usia reproduktif, dan PUD pada perimenopause. Sedangkan berdasarkan etiologinya, perdarahan uterus disfungsional dibagi menjadi PUD ovulatorik dan anovulatorik.

II.4.

Patofisiologi

PUD pada siklus ovulatorik

OVARIUM

dasarnya adalah defisiensi progesterone dan kelebihan progesterone akibat tidak terbentuknya korpus luteum aktif, karena tidak terjadinya

Gangguan sensitifitas terhadap FSH

Gangguan perkembangan korpus luteum

Korpus luteum cepat berdegenerasi (polimenorea, hipermenorea, menoragia)

Fase proliferasi memanjang (oligomenorea)

Aktifitas korpus luteum memanjang (oligomenorea, hipermenorea, menoragia)

Fase proliferasi memendek (polimenorea)

dasarnya adalah defisiensi progesterone dan kelebihan progesterone akibat tidak terbentuknya korpus luteum aktif, karena tidak terjadinya

Perdarahan bercak prahaid (progesteron ↓) Perdarahan bercak pascahaid (estrogen ↓) Perdarahan pertengahan siklus (estrogen ↓) Perdarahan karena gangguan pelepasan endometrium (progesteron ↑, ≠estrogen)

PUD Siklus Anovulatorik

Fungsi Hipotalamus-Hipofisis

Disfungsi

belum Hipotalamus

sempurna

sehingga tidak

Ovarium

terjadi

gagal

lonjakan

menerima

LH

rangasangan FSH dan LH

ANOVULASI

Korpus Luteum (-)

Progesteron (-)

Estrogen ↑

Hyperplasia endometrium

II.5.

Diagnosis

PERDARAHAN

Anamnesa Anamnesa yang cermat penting untuk diagnosis. Perlu ditanyakan :

  • a. Bagaimana mulanya perdarahan

  • b. Apakah didahului siklus yang pendek-pendek atau oligomenorea / amenorea

  • c. Sifat perdarahan

  • d. Lama perdarahan

Pada siklus ovulatorik, perdarahan dapat dibedakan menjadi:

Perdarahan pada pertengahan siklus : sedikit dan singkat.

Perdarahan akibat gangguan pelepasan endometrium : banyak, memanjang. Perdarahan bercak, pra haid dan pasca haid

Pada siklus anovulatorik, gejala klinis siklus menstruasi yang tidak teratur, amenorea,flek atau menometrorrhagia, sakit kepala dan mudah lelah. Perdarahan uterus disfungsional pada keadaan folikel persisten sering dijumpai pada masa perimenopause. Mula-mula haid biasa kemudian perdarahan bercak selanjutnya diikuti perdarahan yang banyak terus- menerus dan disertai gumpalan.

Pemeriksaan Fisik & Penunjang

Pada pemeriksaan umum perlu diperlihatkan tanda-tanda yang menunjukan ke arah kemungkinan :

  • a. Penyakit metabolik

  • b. Penyakit endokrin

Pada pemeriksaan ginekologik dilihat ada tidaknya faktor kelainan organik yang menyebabkan perdarahan abnormal. Pada wanita dalam masa pubertas tidak perlu dilakukan kerokan. Pada wanita berumur 20 sampai 40 tahun dilakukan kerokan, kemungkinan besar penyebabnya adalah kehamilan terganggu, polip, mioma submukosum dan sebagainya. Pada wanita pramenopause dilakukan kerokan untuk memastikan ada tidaknya tumor ganas. Pemeriksaan menyeluruh pada perut dan panggul sangat penting. Sitologi serviks harus diperoleh jika diindikasikan. Hitung darah lengkap (CBC ± feritin) diperlukan untuk menentukan derajat anemia. Pemeriksaan lain yang harus dipertimbangkan meliputi: thyrotropin stimulating hormone, ketika gejala lain muncul dari disfungsi tiroid , prolaktin, pada hari 21 hingga 23 progesteron diperiksa untuk verifikasi status ovulasi, folikel stimulating hormone dan luteinizing hormon untuk memverifikasi status menopause atau untuk mendukung diagnosis penyakit ovarium polikistik, dan profil koagulasi saat menorrhagia hadir pada masa pubertas atau jika ada klinis kecurigaan untuk koagulopati.

  • a. Penilaian atas endometrium Penilaian endometrium dilakukan untuk mendiagnosis keganasan atau kondisi pra-keganasan dan untuk mengevaluasi pengaruh hormonal endometrium. Spencer

dkk. memperlajari 142 kasus untuk menentukan nilai dari metode evaluasi endometrium di wanita dengan AUB. Data ini tidak mendukung untuk mengevaluasi endometrium. Pemeriksaan endometrium harus dipertimbangkan pada semua wanita di atas 40 tahun dengan perdarahan abnormal atau wanita yang beresiko tinggi terkena kanker endometrium,termasuk: nulliparity dengan riwayat infertilitas, perdarahan yang tidak teratur, obesitas (≥ 90 kg); ovarium polikistik; riwayat keluarga dengan kanker endometrium dan kolon, dan menggunakan terapi tamoxifen. Hal ini juga penting untuk mengevaluasi histopatologi endometrium pada wanita yang tidak memiliki perbaikan dalam pendarahannya.

  • b. Teknik sampling untuk endometrium Kantor biopsi endometrium menghasilkan sampel yang memadai untuk 87- 97 persen dan mendeteksi 67-96 persen kanker endometrium. Meskipun pilihan sampling dapat dipengaruhi oleh keakurasiannya dan tidak ada metode sampel untuk memeriksa seluruh endometrium. Sampel histeroskopik digunakan untuk mendeteksi persentase yang lebih tinggi pada kelainan bila dibandingkan dengan dilatasi dan kuretase (D & C) sebagai diagnostik procedure. Bahkan jika rongga rahim tampak normal pada histeroskopi, endometrium tetap harus diperiksa karena histeroskopi saja tidak cukup untuk mendeteksi neoplasia endometrium dan carcinoma.(II A)

  • c. Dilatasi dan kuret Dalam 10 - 25 persen wanita dengan D & C saja tidak dapat mengungkap patologi yang terjadi pada endometrium. D & C dihubungkan dengan perforasi uterus di 0,6- 1,3 persen dari kasus dan perdarahan pada 0,4 persen kasus. D & C adalah prosedur buta dengan kesalahan signifikan pada pengambilan sampel dan juga memerlukan anestesi yang dapat membawa risiko komplikasi. Ini harus disediakan untuk situasi- situasi dimana kantor biopsi atau biopsi langsung pada histereroskopi tidak tersedia.

  • d. Ultrasonografi

Transvaginal

sonografi

(TVS)

untuk

menilai ketebalan endometrium dan

mendeteksi polip dan myomata dengan sensitivitas 80 % dan spesifisitas 69 %. Meskipun ada bukti bahwa ketebalan endometrium mungkin menjadi indikasi patologi pada wanita pascamenopause, seperti untuk wanita di tahun-tahun reproduksinya. Meta-analisis dari 35 penelitian menunjukkan bahwa pada menopause

wanita, ketebalan endometrium 5 mm pada USG dan memiliki sensitivitas 92 persen untuk mendeteksi penyakit endometrium serta 96 persen untuk mendeteksi cancer. Hal ini tidak membantu ketika ketebalan antara 5 dan 12 mm.

II.6.

Penatalaksanaan

Penatalaksanaan

perdarahan

uterus

disfungsional

memperhatikan faktor-faktor berikut:

secara

umum

perlu

  • a. Umur, status pernikahan, fertilitas. Hal ini dihubungkan dengan perbedaan penanganan pada tingkatan perimenars, reproduksi dan perimenopause. Penanganan juga seringkali berbeda antara penderita yang telah dan belum menikah atau yang tidak dan yang ingin anak.

  • b. Berat, jenis dan lama perdarahan. Keadaan ini akan mempengaruhi keputusan pengambilan tindakan mendesak atau tidak.

  • c. Kelainan dasar dan prognosisnya Pengobatan kausal dan tindakan yang lebih radikal sejak awal telah dipikirkan jika dasar kelainan dan prognosis telah diketahui sejak dini.

Pada dasarnya tujuan penatalaksanaan perdarahan uterus disfungsional adalah:

  • 1. Memperbaiki keadaan umum

  • 2. Menghentikan perdarahan

  • 3. Mengembalikan fungsi hormon reproduksi.Yang meliputi: pengembalian siklus

haid abnormal menjadi normal, pengubahan siklus anovulatorik menjadi

ovulatorik atau perbaikan suasana sehingga terpenuhi persyaratan untuk pemicuan ovulasi.

  • 4. Menghilangkan ancaman keganasan

Pada perdarahan uterus disfungsional langkah pertama yang harus dikerjakan adalah memperbaiki keadaan umum, termasuk pengatasan anemia. Langkah kedua adalah menghentikan perdarahan, baik secara hormonal maupun operatif. Setelah keadaan akut teratasi, sebagai langkah ketiga, dilakukan upaya pengembalian fungsi normal siklus haid dengan cara mengembalikan keseimbangan fungsi hormon reproduksi.

Kadang-kadang pengeluaran darah pada perdarahan disfungsional sangat banyak dalam hal ini penderita diistirahatkan dan diberi transfusi dan dilakukan pemeriksaan untuk meyakinkan tidak adanya abortus inkompletus dan perdarahan diyakini berasal dari uterus, maka dapat diberikan terapi hormonal.

  • 1. PUD Ovulatoar :

    • - Perdarahan tengah siklus Esterogen 0,625 – 1,25 mg hari ke 10 – 15 siklus

    • - Perdarahan bercak pra haid Progesteron 5 – 10 mg hari ke 17 – 26 siklus

    • - Perdarahan pasca haid Esterogen 0,625 – 1,25 mg hari ke 2 – 7 siklus

    • - PolimenoreProgesteron 10 mg, hari ke 18 – 25 siklus

      • 2. PUD anovulatoar Hentikan perdarahan segera

  • - Kuret medisinalis Esterogen 20 hari diikuti progesteron 5 hari

    • - Pil KB kombinasi 2 x 1 tablet 2 –3 hari diteruskan 1 x 1 tablet 21 hari

    • - Progesteron 10 – 20 mg selama 7 – 10 hari

Setelah darah berhenti atur siklus haid

  • - Dengan esterogen progesteron selama 3 siklus

  • - Pengobatan sesuai kelainan

¨ Anovulasi ® Stimulasi Klomifen ¨ Hiperrolaktin ® Bromokriptin ¨ Polikistik ovarii ® Kortikosteroid ® lanjutkan stimulasi Klomifen.

Dibagi dalam 2 pengobatan :

Usia, keinginan untuk mempertahankan kesuburan, hidup bersama kondisi medis, dan keinginan pasien adalah pertimbangan penting. Untuk masing-masing metode yang disarankan, pasien harus menyadari risiko dan kontraindikasi untuk memungkinkan pilihan informasi. Derajat kepuasan pasien dapat dipengaruhi oleh keberhasilan, harapan, biaya, ketidaknyamanan, dan efek samping.

  • a. Non-steroid anti-inflammatory Prostaglandin pada endometrium meningkat pada wanita dengan perdarahan menstruasi yang hebat. Non-steroid anti-inflammatory drugs (NSAID) menghambat cyclo-oxygenase dan mengurangi level prostaglandin pada endometrium. Dalam percobaan, NSAID dapat menurunkan kehilangan darah pada menstruasi pada 20 - 50 percent. NSAID juga meningkatkan dismenore lebih dari 70 persen dari pasien. Terapi harus mulai pada hari pertama menstruasi dan dilanjutkan selama lima hari atau sampai berhentinya menstruasi.

  • b. Agen antifibrinolytic Asam traneksamat (cyclokapron), dapat menurunan sintetis dari Asam amino lisin, menyebabkan efek antifibrinolytic melalui reversible blokade pada plasminogen. Obat ini tidak memiliki efek pada pembekuan darah atau dysmenorrhea. Sepertiga perempuan mengalami efek samping, antara lain mual dan kram kaki. Asam traneksamat 1 g setiap enam jam untuk empat hari pertama dari siklus menstruasi dapat mengurangi kehilangan darah menstruasi hingga 40 persen.

  • c. Danazol Danazol adalah steroid sintetik dengan sifat androgenik ringan, menghambat steroidogenesis di ovarium dan memiliki efek pada jaringan endometrium serta mengurangi kehilangan darah menstruasi hingga 80 persen. Terapi danazol (100-200 mg per hari), 20 persen pasien melaporkan amenore dan 70 persen melaporkan oligomenore. Sekitar 50 persen dari pasien melaporkan tidak ada efek samping dengan danazol sedangkan 20 persen lagi melaporkan efek sampingnya sedikit. keluhan yang paling umum adalah berat badan naik 2-6

kilogram dalam 60 persen pasien. Yang direkomendasikan pengobatan adalah 100 hingga 200 mg sehari selama 3 bulan.

  • d. Progestin Percobaan terkontrol menunjukkan bahwa progestin siklik menjadi kurang efektif dalam mengontrol perdarahan berat pada menstruasi yang teratur bila dibandingkan dengan NSAID dan asam traneksamat. Progestin berguna untuk wanita dengan siklus yang tidak teratur dan dengan siklus anovulasi bila diberikan selama 12 sampai 14 hari setiap bulan . Medroxyprogesterone asetat diberikan untuk kontrasepsi untuk menginduksi amenore dalam tahun pertama pada 80 persen wanita,dan sebanyak 50 persen dengan perdarahan yang tidak teratur.

  • e. Kombinasi pil kontrasepsi oral Penurunan perdarahan menstruasi dengan penggabungan pil komninasi kontrasepsi oral (OC) adalah hasil dari induksi atrofi endometrium. Sebuah uji coba terkontrol secara acak pada wanita yang menggunakan OC yang mengandung 30 mg etinil estradiol menunjukkan terjadi pengurangan 43 persen pada kehilangan darah pada menstruasi. Dua studi kasus kontrol telah menemukan bahwa pengguna OC jarang mengalami perdarahan menstruasi yang banyak dan anemia. keuntungan tambahan pada OC adalah sebagai kontrasepsi oral dan dapat pengurangan dismenore.

  • f. Sistem progestin intrauterin Perangkat Progesteron intrauterine (IUD) dilaporkan dapat mengurangi perdarahan yang hebat pada masa menstruasi . Yang terbaru sistem intrauterin levonorgestrel (LNG-IUS) yang berbentuk T-shaped IUD yang melepaskan sejumlah levonorgestrel (20 mg / 24 jam) dari reservoir steroid sekitar batang vertikalnya. Hal ini sedang menjalani pemeriksaan klinis di Kanada.

  • g. GnRH agonis Agonis GnRH menginduksi kondisi hypoestrogenic reversibel dengan mengurangi total volume uterus 40 - 60 percent. Myoma dan pembesaran volume

rahim memperluas ke tingkat pretreatment dalam beberapa bulan penghentian dari therapy. Agonis GnRH efektif dalam mengurangi kehilangan darah menstruasi pada wanita perimenopause, tetapi dibatasi oleh efeknya yaitu hot flashes dan pengurangan densitas tulang.

  • 2. Manajemen Bedah

    • a. Dilatasi dan kuret Tidak ada laporan dari percobaan terkontrol acak yang membandingkan D & C dan pengobatan potensial lainnya untuk sembuh dari menorrhagia. Penelitian hanya dilakukan untuk mengukur kehilangan darah sebelum dan setelah D & C dimana ditemukan pengurangan sementara darah menstruasi segera setelah prosedur, namun, kerugiannya dapat kembali ke tingkat sebelumnya atau dapat lebih banyak keluar darah pada menstruasi berikutnya setelah pengobatan. D&C mungkin memiliki peran diagnostik ketika biopsi endometrium tidak meyakinkan dan gejalanya menetap.

    • b. Penghancuran endometrium Penghancuran endometrium dapat dilakukan dengan beberapa teknik bedah. Ablasi endometrium histeroskopi dengan photocoagulation, Rollerball, elektrokoagulasi atau loop resection dengan hasil jangka panjang. endometrium ablasi telah dievaluasi secara klinis selama 20 tahun terakhir. Beberapa penelitian selama 6,5 tahun telah menunjukkan tingkat kepuasan sekitar 85 percent. Pada studi, sekitar 10 persen wanita akan memilih untuk histerektomi dan 10 persen akan memerlukan pengulangan ablasi endometrium untuk pengobatan awal yang gagal. Hysteroscopic adalah pengobatan yang efektif untuk pengelolaan menorrhagia kronis yang tidak responsif terhadap terapi medis. Ablasi endometrial baik dibandingkan dengan histerektomi dalam uji acak bila dibandingkan dengan efektivitas dan biaya meskipun analisis jangka panjang harus mencakup biaya banyak.

c.

Histerektomi

Risiko utama operasi harus ditimbang. Histerektomi adalah solusi permanen untuk pengobatan menorrhagia dan perdarahan uterus abnormal dan berhubungan dengan tingkat kepuasan pasien. Bagi wanita yang telah melahirkan anak dapat memilih tindakan ini dan telah mencoba terapi konservatif tanpa hasil yang dapat diterima, histerektomi seringkali pilihan terbaik.

BAB IV KESIMPULAN

Gangguan haid atau disebut juga dengan perdarahan uterus disfungsional merupakan keluhan yang sering menyebabkan seorang perempuan datang berobat ke dokter atau tempat pertolongan pertama lainnya. Keluhan gangguan haid bervariasi dari ringan sampai berat. Hampir semua wanita pernah mengalami gangguan haid selama masa hidupnya. Perdarahan uterus disfungsional dari uterus baik dalam jumlah, frekuensi maupun lamanya, yang terjadi didalam atau diluar haid sebagai wujud klinis gangguan fungsional mekanisme kerja poros hipotalamus – hipofisis – ovarium - endometrium tanpa kelainan organik alat reproduksi. Pada perdarahan uterus disfungsional langkah pertama yang harus dikerjakan adalah memperbaiki keadaan umum, termasuk pengatasan anemia. Langkah kedua adalah menghentikan perdarahan, baik secara hormonal maupun operatif. Setelah keadaan akut teratasi, sebagai langkah ketiga, dilakukan upaya pengembalian fungsi normal siklus haid dengan cara mengembalikan keseimbangan fungsi hormon reproduksi.

Kadang-kadang pengeluaran darah pada perdarahan disfungsional sangat banyak dalam hal ini penderita diistirahatkan dan diberi transfusi dan dilakukan pemeriksaan untuk meyakinkan tidak adanya abortus inkompletus dan perdarahan diyakini berasal dari uterus, maka dapat diberikan terapi hormonal.

DAFTAR PUSTAKA

  • 1. Prawirohardjo, S. Ilmu Kandungan, Edisi 3, Yayasan Bina Pustaka, Jakarta, 2011 : 161-

173.

  • 2. Bagian

Ginekologi,

Obstetri

dan

Ginekologi

FK-UNPAD

Bandung,

Elstar

Offset

Bandung.

  • 3. Cunningham F.G. et al, “Abnormal Uterine Bleeding” at Williams Obstetric, 21 st edition. McGrawHill: London, 2001.

  • 4. HIFERI-POGI. Panduan Tata Laksana Perdarahan Uterus Disfungsional. POGI: Jakarta,
    2007.