Anda di halaman 1dari 8

BAB 2

Tinjauan Pustaka

2.1

Definisi Operan
Operan adalah teknik atau cara untuk menyampaikan dan menerima laporan yang

berkaitan dengan keadaan klien. Informasi yang disampaikan harus akurat sehingga
kesinambungan asuhan keperawatan dapat berjalan dengan sempurna (Kuntoro, 2010).
Operan merupakan teknik atau cara untuk menyampaikan dan menerima sesuatu (laporan)
yang berkaitan dengan keadaan klien atau komunikasi dan serah terima antara shift pagi, sore
dan malam. Operan dinas pagi ke dinas sore dipimpin oleh kepala ruangan, sedangkan operan
dinas sore ke dinas malam langsung dipimpin oleh penanggung jawab tim sore ke penanggung
jawab tim malam (Taylor, 1993).
Operan perawat dulunya dilakukan dengan cara tradisonal, yaitu:

Dilakukan hanya di meja perawat.

Menggunakan satu arah komunikasi sehingga tidak memungkinkan munculnyaan


pertanyaan atau diskusi.

Jika ada pengecekan ke pasien hanya sekedar memastikan kondisi secara umum.

Tidak ada kontirbusi atau feedback dari pasien dan keluarga, sehingga proses informasi
dibutuhkan oleh pasien terkait status kesehatannya tidak up to date. Operan tradisional
hanya cukup di meja perawat tanpa mengkonfirmasi keadaan pasien secara langsung.
Hal ini menyebabkan ketidakpuasan dari pasien dan perawat karena tidak ada
komunikasi antara perawat dengan pasien (Kassesan and Jagoo, dalam JCI, 2010).
Operan perawat secara modern dengan teknik SBAR adalah dengan menggunakan

format pendokumentasian teknik SBAR pada masing-masing pasien tiap shift, buku catatan
operan, dan rekam medik pasien.

Menyampaikan keadaan pasien dan evaluasi tindakan yang sudah dilakukan

dan

kemajuan keadaan pasien setelah tindakan dilakukan di nurse station.

Setelah itu operan dilanjutkan dengan melihat keadaan pasien secara

langsung dan

menanyakan kepada pasien tentang kemajuan keadaan pasien dan keluhan yang masih
dirasakan, dan pemberian pendidikan kesehatan

pada pasien dan keluarga. Hal ini

memungkinkan terjalin komunikasi yang efektif baik antara pasien dan perawat dan
sesama perawat antar shift ( JCI, 2010).

2.2 Tujuan Operan


Tujuan operan disini antara lain:

Perawat dapat mengikuti perkembangan klien secara paripurna

Meningkatkan kemampuan komunikasi antar perawat

Akan terjalin suatu hubungan kerjasama yang bertanggung jawab antar anggota
tim perawat

Terlaksananya asuhan keperawatan terhadap klien secara berkesinambungan


(Kuntoro, 2010)

2.3 Manfaat Operan


Manfaat dari operan antara lain:

Dapat menyampaikan hal-hal penting yang perlu ditindak lanjuti oleh perawat pada
shift berikutnya.

Dapat melakukan cross check ulang tentang hal-hal yang dilaporkan dengan
keadaan klien yang sebenarnya

Klien dapat menyampaikan masalahnya secara langsung bila ada yang belum
terungkap.

Hal-hal yang perlu disampaikan dalam operan, yaitu:

Identitas pasien dan diagnosa medis

Masalah keperawatan yang masih muncul

Tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan (secara umum)

Intervensi kolaboratif yang telah dilaksanakan

Rencana umum dan persiapan yang perlu dilakukan dalam kegiatan operatif,
pemeriksaan laboratorik/pemeriksaan penunjang lain, persiapan untuk konsultasi
atau terhadap prosedur yang tidak rutin dijalankan

Prosedur rutin yang biasa dilakukan pada perawatan pasien dan hal-hal yang perlu
disampaikan perawat dalam perawatan pasien.

2.4 Metode Operan


a. Timbang terima dengan metode tradisional
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Kassesan dan Jagoo (2005) disebutkan
bahwa operan jaga (handover) yang masih tradisional adalah:
Dilakukan hanya di meja perawat
Menggunakan satu arah komunikasi sehingga tidak memungkinkan munculnya

pertanyaan atau diskusi.


Jika ada pengecekan ke pasien hanya sekedar memastikan kondisi secara

umum.
Tidak ada kontribusi atau feedback dari pasien dan keluarga, sehingga proses

informasi dibutuhkan oleh pasien terkait status kesehatannya tidak up to date.


b. Timbang terima dengan metode bedside handover
Menurut Kassean dan Jagoo (2005) handover yang dilakukan sekarang sudah
menggunakan model bedside handover yaitu handover dilakukan di samping tempat tidur
pasien dengan melibatkan pasien atau keluarga pasien secara langsung untuk
mendapatkan feedback. Secara umum materi yang disampaikan dalam proses operan
jaga baik secara tradisional maupun bedside handover tidak jauh berbeda, hanya pada
handover memiliki beberapa kelebihan diantaranya:

Meningkatkan keterlibatan pasien dalam mengambil keputusan terkait kondisi

penyakitnya secara up todate


Meningkatkan hubungan caring dan komunikasi antara pasien dengan perawat.
Mengurangi waktu untuk melakukan klarifikasi ulang pada kondisi pasien secara
khusus

Bedside handover juga tetap memperhatikan aspek tentang kerahasiaan pasien jika
ada informasi yang harus ditunda terkait adanya komplikasi penyakit atau persepsi medis
yang lain

Timbang terima memiliki beberapa metode pelaksanaan diantaranya:


a. Menggunakan Tape recorder
Melakukan perekaman data tentang pasien kemudian diperdengarkan kembali saat
perawat jaga selanjutnya telah datang. Metode itu berupa one waycommunication
b. Menggunakan komunikasi oral atau spoken
Melakukan pertukaran informasi dengan berdiskusi
c. Menggunakan komunikasi tertulis written
Melakukan pertukaran informasi dengan melihat pada medical record saja atau media
tertulis lain.

Berbagai metode yang digunakan tersebut masih relevan untuk dilakukan bahkan
beberapa rumah sakit menggunakan ketiga metode untuk dikombinasi. Menurut Joint
Commission Hospital Patient Safety, menyusun pedoman implementasi untuk timbang terima,
selengkapnya sebagai berikut :
a. Interaksi dalam komunikasi harus memberikan peluang untuk adanya pertanyaan dari
penerima informasi tentang informasi pasien
b. Informasi tentang pasien yang disampaikan harus up to date meliputi terapi,
pelayanan, kodisi dan kondisisaat ini serta yang harus diantipasi

c. Harus ada proses verifikasi tentang penerimaan informasi oleh perawat penerima
dengan melakukan pengecekan dengan membaca, mengulang atau mengklarifikasi.
d. Penerima harus mendapatkan data tentang riwayat penyakit, termasuk perawatan dan
terapi sebelumnya
e. Handover tidak disela dengan tindakan lain untuk meminimalkan kegagalan informasi
atau terlupa.

2.5 Prosedur dan Langkah Langkah Operan


Langkah-langkah yang harus diperhatikan dalam melakukan pergantian shift atau operan
jaga, diantaranya (Nursalam, 2002):
a. Kedua kelompok shift dalam keadaan sudah siap
b. Shift yang akan menyerahkan dan mengoperkan perlu mempersiapkan hal-hal apa
yang disampaikan
c. Perawat yang bertanggung jawab menyampaikan kepada penanggung jawab shift
yang selanjutnya meliputi :
Kondisi atau keadaan klien secara umum
Tindak lanjut untuk dinas yang menerima operan
Rencana kerja untuk dinas yang menerima operan
d. Penyampaian operan di atas (point c) harus dilakukan secara jelas dan tidak terburuburu
e. Perawat penanggung jawab dan anggotanya dari kedua shift bersama-sama secara
langsung melihat keadaan klien

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam prosedur operan jaga (Nursalam, 2002),
meliputi:
1. Persiapan
Kedua kelompok dalam keadaan siap
Kelompok yang akan bertugas menyiapkan buku catatan
2. Pelaksanaan
Dalam penerapannya, dilakukan timbang terima kepada masing-masing penanggung
jawab:
a. Timbang terima dilaksanakan setiap penggantian shift/operan
b. Dari nurse station perawat berdiskusi untuk melaksanakan timbang terima dengan
mengkaji secara komprehensif yang berkaitan tentang masalah keperawatan klien,

rencana tindakan yang sudah dan belum dilaksanakan serta hal-hal penting
lainnya yang perlu dilimpahkan
c. Hal-hal yang sifatnya khusus dan memerlukan perincian yang lengkap sebaiknya
dicatat secara khusus untuk kemudian diserahterimakan kepada perawat yang
berikutnya
d. Hal-hal yang perlu disampaikan pada saat timbang terima adalah :
Identitas klien dan diagnosa medic
Masalah keperawatan yang kemungkinan masih muncul
Tindakan keperawatan yang sudah dan belum dilaksanakan
Intervensi kolaborasi dan dependen
Rencana umum dan persiapan yang perlu dilakukan dalam kegiatan
selanjutnya,

misalnya

operasi,

pemeriksaan

laboratorium/pemeriksaan

penunjang lainnya, persiapan untuk konsultasi atau prosedur lainnya yang


tidak dilaksanakan secara rutin.
3. Perawat yang melakukan timbang terima daat melakukan klarifikasi, tanya jawab dan
melakukan validasi terhadap hal-hal yang kurang jelas Penyampaan pada saat timbang
terima secara singkat dan jelas
4. Lama timbang terima untuk setiap klien tidak lebih dari 5 menit kecuali pada kondisi
khusus dan memerlukan penjelasan yang lengkap dan rinci
5. Pelaporan untuk timang terima dituliskan secara langsung pada buku laporan ruangan
oleh perawat.
6. Operan jaga (handover) memiliki tujuan untuk mengakurasi, mereliabilisasi komunikasi
tentang

tugas

perpindahan

informasi

yang

relevan

yang

digunakan

untuk

kesinambungan dalam keselamatan dan keefektifan dalam bekerja.

2.6 Efek Operan


Operan sebagai salah satu cara dalam menyampaikan laporan yang berkaitan dengan
keadaan klien tentunya melibatkan komunikasi antar perawat, dengan demikian operan jaga
memiliki efek-efek yang dapat berpengaruh pada diri seorang perawat sebagai pemberi layanan
kepada klien. Efek-efek tersebut adalah sebagai berikut :
a. Efek Fisiologi
Kualitas tidur termasuk tidur siang tidak seefektif tidur malam, banyak gangguan yang
dapat muncul dan biasanya diperlukan waktu istirahat untuk menebus kurang tidur

selama jam kerja malam. Selain itu, untuk perawat yang menerima operan pada shift
jaga malam cenderung akan memiliki penurunan kapasitas fisik kerja akibat timbulnya
perasaan mengantuk dan lelah, menurunnya nafsu makan dan gangguan pencernaan.
b. Efek Psikososial
Efek ini berpengaruh pada kehidupan keluarga dan sosial seorang perawat yang
menerima operan untuk shift jaga. Perawat dapat kehilangan waktu luang, kecil
kesempatan untuk berinteraksi dengan teman, dan mengganggu aktivitas kelompok
dalam masyarakat.
c. Efek Kinerja
Kinerja dapat menurun selama kerja shift malam yang diakibatkan oleh efek fisiologis
dan efek psikososial. Menurunnya kinerja dapat mengakibatkan kemampuan mental
menurun yang berpengaruh terdapap perilaku kewaspadaan pekerjaan seperti kualitas
kendali dan pemantauan.
d. Efek Terhadap Keselamatan Kerja
Dilaporkan bahwa frekuensi kecelakaan paling tinggi terjadi pada akhir rotasi shift kerja
(malam) dengan rata-rata jumlah kecelakaan 0,69% per tenaga kerja. Namun, ada juga
penelitian yang menyebutkan frekuensi kecelakaan lebih tinggi pada shift pagi hari.
2.7 Dokumentasi Operan
Hal-hal yang perlu ada dalam dokumetasi operan antara lain :
Identitas klien
Diagnosa medis klien
Dokter yang menangani
Kondisi saat klien ini
Masalah Keperawatan
Intervensi yang sudah dilakukan
Intervensi yang belum dilakukan
Tindakan kolaborasi
Rencana umum dan persiapan lain
Tanda tangan dan nama terang

2.8 Evaluasi Operan

Evaluasi dalam Timbang Terima (Operan) :


a. Evaluasi Struktur
Pada timbang terima, sarana dan prasarana yang menunjang telah tersedia antara
lain : Catatan timbang terima, status klien dan kelompok shift timbang terima. Kepala
ruangan memimpin kegiatan timbang terima yang dilaksanakan pada pergantian shift
yaitu pagi ke sore. Sedangkan kegiatan timbang terima pada shift sore ke malam
dipimpin oleh perawat primer.
b. Evaluasi Proses
Proses timbang terima dipimpin oleh kepala ruangan dan dilaksanakan oleh seluruh
perawat yang bertugas maupun yang akan mengganti shift. Perawat primer malam
menyerahkan ke perawat primer berikutnya yang akan mengganti shift. Timbang
terima pertama dilakukan di nurse station kemudian ke bed klien dan kembali lagi ke
nurse station. Isi timbang terima mencakup jumlah klien, masalah keperawatan,
intervensi yang sudah dilakukan dan yang belum dilakukan serta pesan khusus bila
ada. Setiap klien dilakukan timbang terima tidak lebih dari 5 menit saat klarifikasi ke
klien.
c. Evaluasi Hasil
Timbang terima dapat dilaksanakan setiap pergantian shift. Setiap perawat dapat
mengetahui perkembangan klien. Komunikasi antar perawat berjalan dengan baik