Anda di halaman 1dari 16

People and Society Empowerment:

Perspektif Membangun Partisipasi Publik1


Oleh: Dr. Eko Prasojo, Mag.rer.publ.2
Latar Belakang

Pembangunan berbasis manusia dan pemberdayaan masyarakat merupakan salah satu


konsep yang paling populer dewasa ini. Konsep ini mulai muncul sekitar tahun 1970-an
dan berkembang sepanjang tahun 1980-an hingga akhir 1990-an. Perkembangannya
mungkin tidak dapat dilepaskan dari perkembangan demokrasi yang terjadi beberapa
dekade terakhir. Partisipasi masyarakat (rakyat) dalam proses pembuatan keputusan dan
pemerintahan secara umum, sebagai salah satu prinsip demokrasi, berkembang menjadi
tuntutan yang semakin luas diterima di berbagai belahan dunia. Tuntutan akan partispasi
ini berangkat dari pemahaman bahwa rakyat adalah pemilik kedaulatan dan kekuasaan
sesungguhnya dalam sebuah negara.
Dalam hal pendekatan pembangunan, tuntutan akan partisipasi ini telah mengubah
paradigma mengenai posisi masyarakat dalam proses pembangunan. Masyarakat tidak
lagi ditempatkan sebagai objek, tetapi ikut terlibat mulai dalam perencanaan,
pelaksanaan, pengawasan hingga pertanggungjawabannya. Pendekatan ini menyadari
betapa pentingnya kapasitas masyarakat untuk meningkatkan kemandirian dan
kemampuan internalnya atas segala sumber daya yang dimilikinya. Model semacam ini
sangat menekankan pentingnya pemberdayaan (empowerment) dan inisiatif rakyat
sebagai inti dari sumber daya pembangunan.
Meskipun secara umum terdapat kesepakatan akan pentingnya pemberdayaan
masyarakat, namun ada beberapa hal yang menjadi permasalahan untuk
mengimplementasikannya dalam tataran praksis. Permasalahan tersebut khususnya
menyangkut ketiadaan konsep yang jelas mengenai apa itu pemberdayaan masyarakat;
batasan masyarakat yang sukses melakukan pemberdayaan; peran masing-masing
pemerintah, masyarakat dan swasta; mekanisme pencapaiannya; dan sebagainya. Upaya
pemberdayaan masyarakat karena itu menuntut pengelolaan kegiatan secara lebih tepat,
akomodatif, terukur, tertib, akuntabel yang meliputi rangkaian proses penyusunan
Rencana dan Anggaran, Pelaksanaan, Pengawasan dan Laporan Pertanggungjawaban.

Resume hasil penelitian penulis dan tim Pusat Kajian Strategi Pembangunan Sosial dan Politik
(PKSPSP) FISIP UI tahun 2003 dalam literatur research dengan judul Pola dan Mekanisme
Pemberdayaan Masyarakat di DKI Jakarta.
2
Dosen FISIP UI dan Manajer Pelaksana Selo Soemardjan Research Centre FISIP UI

Beberapa permasalahan lain terkait dengan pemberdayaan masyarakat meliputi: Pertama,


diskontinuitas dan diskoordinasi, yaitu keseluruhan program pemberdayaan masyarakat
dilaksanakan tidak dikoodinasikan dengan baik dan dilaksanakan secara sporadis.
Kebijakan pemerintah kadang malah berseberangan dengan pendampingan yang
dilaksanakan oleh LSM. Orientasi progam yang dilaksanakan oleh pemerintah, pada satu
sisi menampakkan hasil yang nyata, namun pada sisi yang lain terkadang tidak
menyentuh akar permasalahan yang ada. Kedua, disinformasi program, yaitu
pemberdayaan masyarakat yang dijanlankan dengan bantuan para konsultan terkadang
tidak difahami oleh masyarakat. Bahasa yang digunakan oleh para ilmuwan atau kosultan
tersebut terkadang tidak dapat difahami oleh masyarakat atau lembaga pelaksana dari
pemberdayaan masyarakat tersebut.
Ketiga, disorientasi, yaitu pemberdayaan masyarakat dengan pendekatan proses biasanya
memerlukan waktu yang cukup lama. Banyaknya masalah baru yang muncul, disertai
pula oleh hasil yang belum tampak nyata terkadang menjadikan fasilitator (pendamping),
baik dari pemerintah atau LSM, mengubah kebijakan yang lebih nyata. Pergeseran
pendekatan, dari proses ke hasil, ini bukanlah solusi. Langkah sinergis yang mungkin
dapat dilakukan adalah dengan menyelaraskan kedua pendekatan tersebut. Keempat,
Generalisasi, yaitu diferensiasi sosial, politik, dan budaya yang ada di Indonesia
merupakan kekayaan yang tidak ternilai. Dengan kondisi yang majemuk tersebut, maka
pendekatan pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah hendaknya pendekatan
pembangunan yang tidak bersifat monolitik. Pendekatan pembangunan, dan juga
pemberdayaan, yang lebih bersifat dinamis, dengan memperhatikan nilai-nilai dasar yang
ada di masyarakat, karakter budaya, serta struktur sosial masyarakat sangatlah
diperlukan saat ini. Lebih dari itu, pendekatan multidisiplin menjadi penting.
Kelima, rentang birokrasi dan tingginya biaya operasional, yaitu berbagai peraturan
hukum dan Undang-Undang pembangunan dan pemberdayaan masyarakat yang kaku,
yang hanya didasarkan pada Surat Keputusan (SK), Petunjuk Pelaksanaan ( Juklak),
Petunjuk Teknis (Juknis) juga sistem penganggaran dapat menjadi penghambat dalam
pemberdayaan masyarakat. Hal ini menyebabkan sulitnya petugas lapangan berhadapan
dengan kenyataan yang membutuhkan fleksibilitas. Akibatnya, tujuan pemberdayaan
masyarakat sulit dicapai karena orientasi petugas lebih kepada mengikuti peraturan
daripada menjawab kebutuhan di lapangan. Keenam, indikator yang tidak tepat,
pemberdayaan masyarakat selama ini selalu diukur dalam bentuk fisik, komoditas dengan
berorientasi pada input dan kualitatif daripada non-fisik dengan ukuran keberhasilan dari
dampak dan proses. Indikator yang hanya didasarkan akan nilai-nilai yang sifatnya
material, dengan mengesampingkan nilai non materi hanya akan memperkuat pendekatan
hasil (program) dalam pemberdayaan masyarakat. Kesadaran akan nilai, hukum, ataupun
partisipasi politik masyarakat yang terkadang tidak dapat dikukur menjadi terabaikan.
Dengan demikian, kebutuhan akan indikator yang mencakup semua hal menjadi sangat
penting.

Konsep dan Definisi Pemberdayaan


Hingga saat ini terdapat banyak macam perspektif yang berbeda mengenai pemberdayaan
masyarakat. Hal ini dapat dipahami, karena sebenarnya pemberdayaan masyarakat
merupakan salah satu dari sekian banyak perspektif mengenai pembangunan masyarakat.
Perspektif ini menawarkan sebuah pendekatan yang menyeluruh, meliputi kerangka
konseptual, logika berpikir dan panduan umum untuk meningkatkan kapasitas dan
performance dalam pembangunan masyarakat. Pemberdayaan masyarakat tidak
menyediakan keharusan-keharusan yang terperinci yang tepat atau cocok untuk setiap
sistem kemasyarakatan. Meskipun demikian, ada beberapa hal penting dalam memahami
dan membuat sebuah definisi yang operasional dari pemberdayaan masyarakat.
Pertama, pemberdayaan pada dasarnya adalah memberikan kekuatan kepada pihak yang
kurang atau tidak berdaya (powerless) agar dapat memilliki kekuatan yang menjadi
modal dasar aktualisasi diri. Aktualisasi diri merupakan salah satu kebutuhan mendasar
manusia. Pemberdayaan yang dimaksud tidak hanya mengarah pada individu semata, tapi
juga kolektif (Harry Hikmat, 2001: 46-48). Pengertian ini kurang-lebih sama dengan
pendapat Payne dan Shardlow mengenai tujuan pemberdayaan. Menurut Payne, tujuan
utama pemberdayaan adalah membantu klien memperoleh daya untuk mengambil
keputusan dan menentukan tindakan yang akan ia lakukan, yang terkait dengan diri
mereka, termasuk mengurangi efek hambatan pribadi dan sosial dalam melakukan
tindakan. Sedangkan Shardlow menyimpulkan bahwa pemberdayaan menyangkut
permasalahan bagaimana individu, kelompok ataupun masyarakat berusaha mengontrol
kehidupan mereka sendiri dan mengusahakan untuk membentuk masa depan sesuai
dengan keinginan mereka. (Rukminto Adi, 2002: 162-163) .
Kedua, menurut Pranarka dan Vindhyandika, terdapat dua kecenderungan yang saling
terkait dalam pencapaian pemberdayaan masyarakat. Pertama, kecenderungan primer.
Pada kecenderungan ini proses pemberdayaan masyarakat ditekankan pada proses
pemberian atau pengalihan sebagian kekuasaan, kekuatan dan kemampuan kepada
masyarakat atau individu agar menjadi lebih berdaya. Proses ini dapat dilengkapi dengan
upaya membangun aset material guna mendukung pembangunan kemandirian melalui
organisasi. Kedua, kecenderungan sekunder. Kecenderungan ini menekankan pada proses
pemberian stimulan, dorongan atau motivasi agar individu atau masyarakat mempunyai
kemampuan menentukan kebutuhan hidupnya melalui proses dialog. (Adimiharja, 2001:
10) Kedua kecenderungan ini juga dirumuskan oleh Payne. Ia menyatakan bahwa
pencapaian tujuan pemberdayaan dapat dilakukan melalui peningkatan kemampuan dan
rasa percaya diri untuk menggunakan daya yang ia miliki, antara lain melalui transfer
daya dari ligkungannya.
Pemberdayaan juga dapat diartikan sebagai membangun eksistensi pribadi, keluarga,
masyarakat, bangsa, pemerintahan, negara, dan tata dunia dalam kerangka proses
aktualisasi kemanusiaan yang adil dan beradab yang terwujud dalam berbagai medan

kehidupan: politik, ekonomi, hukum, pendidikan, dan lain sebagainya. Konsep


pemberdayaan pada dasarnya adalah upaya menjadikan suasana kemanusiaan yang adil
dan beradab menjadi semakin efektif secara struktural, baik dalam lingkungan keluarga,
masyarakat, negara, regional, internasional, maupun dalam bidang politik, ekonomi, dan
lain sebagainya. (Pranaka dan Vidhyandika, 1996: 56). Gagasan lain mengenai
pemberdayaan adalah memberika kekuatan (power) pada yang tidak berpunya
(powerless). Hanya dengan power, proses aktualiasasi diri dapat dijalankan.
Ketiga, pemberdayaan masyarakat tidak hanya menyangkut aspek ekonomi. Ada
berbagai macam pemberdayaan, antara lain: pemberdayaan bidang politik, bidang
ekonomi, bidang hukum, bidang sosial, bidang budaya, bidang ekologi, dan
pemberdayaan bidang spiritual. Meskipun tujuan dari masing-masing pemberdayaan
mungkin berbeda, namun untuk keberhasilan pemberdayaan yang menyeluruh, berbagai
macam bentuk pemberdayaan tersebut seharusnya dapat dipadukan dan saling
melengkapi. (James William Lie, 1995: 132: Rukminto Adi, 2002: 163-165).
Keempat, pemberdayaan masyarakat dapat dilihat sebagai program maupun proses.
Sebagai program, pemberdayaan dilihat sebagai tahapan-tahapan kegiatan yang biasanya
telah ditentukan jangka waktu pencapaiannya. Sedangkan sebagai proses, pemberdayaan
merupakan sebuah proses yang berkesinambungan. Dalam pengertian yang terakhir,
pemberdayaan tidak berfungsi untuk meniadakan masalah, tetapi mempersiapkan struktur
dan sistem dalam masyarakat agar proaktif dan responsif terhadap kebutuhan dan
permasalahan yang muncul dalam masyarakat (Rukminto Adi, 2002: 171-177).
Mengingat pemberdayaan merupakan suatu proses, strategi yang digunakan pun lebih
mengutamakan proses dari pada hasil. Menurut Jim Ife (1995: 63-63) bahwa terdapat tiga
strategi dalam pemberdayaan masyarakat, yaitu melalui kebijakan dan perencanaan, aksi
sosial dan politik, pendidikan dan penyadaran.
Pemberdayaan melalui kebijakan dan perencanaan diterima dalam pengembangan atau
perubahan struktur dan kelembagaan untuk akses yang lebih merata terhadap sumber
daya atau pelayanan, dan kesempatan untuk berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat.
Pemberdayaan melalui aksi sosial menitikberatkan pada pentingnya perjuangan politik
dan perubahan dalam mengembangkan kekuatan efektif. Sedangkan pemberdayaan
melalui pendidikan dan penyadaran mengembangkan pentingnya proses pedidikan yang
dapat melengkapi warga masyarakat untuk meningkatkan kekuasaanya. Untuk itu
diperlukan peningkatan kesadaran tentang pemahaman masyarakat dalam arti luas dan
struktur penindasan, mengajarkan pada masyarakat tentang pengertian dan kentrampilan
untuk perubahan yang efektif. (Andrinaldi, 2001)
Kelima, pemberdayaan yang sepenuhnya melibatkan partisipasi masyarakat atau
masyarakat menjadi pilihan yang paling menguntungkan di masa yang akan datang. Hal
ini setidaknya didasari berbagai potensi yang dimilikinya, seperti dinyatakan oleh David
Osborne dan Ted Gabler, antara lain (Osborne and Gabler, 1993); warga masyarakat
4

akan memberikan komitmen yang lebih besar; masyarakat mengetahui permasalahan


yang dihadapi warganya secara lebih mendalam; masyarakat lebih mampu memberikan
penyelesaian setiap masalah yang lebih mendasar; peran aktif Lembaga Swadaya
Masyarakat dalam penyediaan barang dan jasa, sedangkan pemerintah lebih berperan
memberikan perhatian dan dorongan; pelayanan yang diberikan pemerintah kepada
masyarakat lebih efisien, effektif dan partisipatif; Masyarakat lebih mampu melihat
potensi yang dimiliki oelh setiap warganya.
Keenam, konsep pemberdayaan masyarakat mencakup pengertian pembanguan
masyarakat (community development) dan pembangunan yang bertumpu pada manusia
(community based development) Kartasastima (1996) mejelaskan bahwa pemberdayaan
masyarakat terkait erat dengan keberdayaan masyarakat, yaitu kemapuan individu yang
bersenyawa dalam masyarakat dan membangun keberdayaan masyarakat yang
bersangkutan. Suatu masyarakat yang sebagian besar anggotanya sehat fisik dan mental,
terdidik kuat, dan inovatif tentunya memiliki keberdayaan yang tinggi. Keberdayaan
masyarakat adalah unsur-unsur yang memungkinkan suatu masyarakat bertahan dan
dalam pengertian yang dinamis mengembangkan diri dan mencapai tujuan. Sedangkan
memberdayakan masyarakat adalah upaya meningkatkan harkat dan martabat masyarakat
yang tidak mampu untuk melepaskan diri dari perangkap kemiskinan dan
keterbelakangan. Dengan kata lain, memberdayakan masyarakat adalah memampukan
dan memandirikan masyarakat.
Pada dasarnya pemberdayaan merupakan suatu proses perubahan yang menempatkan
kreativitas dan prakarsa masyarakat. Dari pengertian tersebut dapat dikatakan bahwa
elemen penting dari pemberdayaan adalah partisipasi. Partisipasi merupakan proses aktif,
inisiatif diambil oleh masyarakat sendiri, dibimbing oleh cara berfikir mereka sendiri,
dengan menggunakan sarana dan proses (lembaga dan mekanisme) di mana mereka dapat
menegaskan kontrol secara efektif. Dalam konteks pembangunan dan demokratisasi di
Indonesia, pemberdayaan masyarakat dalam bidang politik menjadi penting.
Di negara-negara yang menganut faham demokrasi, gagasan mengenai partisipasi rakyat
mempunyai dasar ideologis bahwa rakyat berhak turut menentukan siapa-siapa yang akan
menjadi pemimpin yang nantinya menentukan kebijaksanaan umum (public policy).
Tingginya partisipasi menunjukkan bahwa warga negara memahami kehidupan politik.
Pada sisi yang lain, rendahnya partisipasi dapat dianggap sebagai rendahnya kepedulian
dan pengetahuan warga negara dalam kehidupan politik atau bisa jadi terdapat batasan
serta tidak adanya kesempatan dalam kehidupan politik. Sebaliknya, di negara-negara
totaliter gagasan mengenai partisipasi rakyat didasari pandangan elite politiknya yang
melihat rakyat perlu dibimbing dan dibina untuk mencapai stabilitas yang langgeng.
Partispasi warga negara (private citizen) bertujuan untuk mempengaruhi pengambilan
keputusan oleh pemerintah. Partisipasi bisa bersifat individual atau kolektif, terorganisir
atau spontan, mantap atau sporadis, secara damai atau dengan kekerasan, legal atau
ilegal, efektif atau tidak efektif (Samuel P. Huntington dan Joan Nelson, 1977:3).

Partispasi warga negara yang legal bertujuan untuk mempengaruhi seleksi pejabatpejabat negara dan/atau tindakan-tindakan yang diambil mereka (Norman H. Nie dan
Sidney Verba, 1975:1).
Adapun warga negara yang sama sekali tidak melibatkan diri dalam partisipasi politik
disebut apati (apaty). Hal ini terjadi karena beberapa sebab. Pertama, adanya sikap acuh
tak acuh, tidak tertarik atau rendahnya pemahaman mereka mengenai masalah politik.
Kedua, adanya keyakinan bahwa usaha mereka untuk mempengaruhi kebijakan
pemerintah tidak berhasil. Ketiga, mereka tinggal dalam lingkungan yang menganggap
bahwa tindakan apati merupakan suatu tindakan terpuji.
Dalam beberapa kasus, tindakan apati bukanlah masalah yang harus selalu dirisaukan
karena tindakan acuh tak acuh dapat menjadi positif apabila memberikan fleksibilitas
pada sistem politik dibandingkan dengan masyarakat yang terlalu aktif sehingga
menjurus pada pertikaian yang berlebihan. Di Amerika Serikat misalnya, gejala tidak
memberikan suara dapat dilihat sebagai suatu pencerminan stabilitas sistem politik yang
ada. Dan juga mereka lebih aktif dalam berpartisipasi untuk pemecahan masalah melalui
kegiatan lain. Kecenderungan ini dapat dilihat dengan penggabungan diri tidak saja pada
organisasi-organisasi politik, tetapi juga pada organisasi bisnis, profesi, dan sebagainya.
Menurut Myron Wiener, ada dua faktor pendorong bagi menguatnya partisipasi politik.
Pertama, tumbuhnya angkatan kerja perkotaan yang bekerja di sektor industri yang
mendorong timbulnya organisasi buruh. Kedua, pertumbuhan komunikasi massa yaitu
karena perkembangan penduduk, transportasi, komunikasi antara pusat-pusat kota dan
daerah terbelakang, penyebaran surat kabar, penggunaan radio, dan sebagainya. Hal ini
akan meningkatkan kesadaran anggota masyarakat akan pengaruh kebijaksanaan
pemerintah terhadap tiap-tiap warga negara.
Jefry M. Paige memberikan dua indikator dalam menjelaskan pola partisipasi politik.
Pertama, kesadaran politik yakni kesadaran seseorang akan hak dan kewajibannya
sebagai warga negara yang menyangkut pengetahuannya mengenai lingkungan
masyarakat dan politik serta menyangkut minat dan perhatiannya terhadap lingkungan
masyarakat dan politik tempat ia hidup. Kedua, kepercayaan politik yaitu penilaian
seseorang terhadap pemerintah dan sistem politik yang ada, apakah dapat dipercaya dan
dapat dipengaruhi atau tidak. Dengan mengkorelasikan kesadaran politik dan
kepercayaan politik itu, Paige kemudian membagi pola partisipasi politik menjadi empat
tipe:
1. Partisipasi politik dikatakan aktif apabila tingkat kesadaran dan kepercayaan
politiknya tinggi.
2. Partisipasi politik terlihat apatis jika tingkat kesadaran dan kepercayaan politik
rendah.

3. Partisipasi politik cenderung militan-radikal apabila kesadaran politik tinggi,


tetapi kepercayaan politik rendah.
4. Partisipasi politik cenderung pasif jika kesadaran politik rendah tetapi
kepercayaan politik tinggi.
Pola partisipasi politik yang ditunjukkan melalui kadar tinggi rendahnya kesadaran
politik dan kepercayaan politik seperti dikemukakan di atas, pada dasarnya ditentukan
oleh setidak-tidaknya tiga faktor utama, yaitu tingkat pendidikan, tingkat kehidupan
ekonomi, dan sistem. Dalam sistem negara demokratis, partisipasi politik merupakan
elemen yang penting. Hal ini didasari oleh keyakinan bahwa kedaulatan ada di tangan
rakyat, yang dilaksanakan melalui kegiatan bersama untuk menetapkan tujuan-tujuan
kolektif. Anggota masyarakat yang berpartisipasi dalam proses politik terdorong oleh
keyakinan bahwa melalui kegiatan itu kepentingan mereka akan tersalur atau
sekurangnya diperhatikan dan sedikit banyak dapat mempengaruhi tindakan yang
berwenang yang diwujudkan dalan sebuah keputusan. Masyarakat percaya bahwa
kegiatan yang mereka lakukan mempunyai efek (political efficacy).

Pemberdayaan Masyarakat sebagai basis partisipasi masyarakat


Konsep pemberdayaan tumbuh mulai tahun 1970-an dan terus mengalami perkembangan
hingga tahun 1990-an. Menurut Pranarka dan Vidhyandika, konsep ini memiliki
pemikiran yang searah dengan berbagai aliran pemikiran yang berkembang pada akhir
abad ke-20, yang biasa dikenal sebagai aliran posmodernisme. Aliran posmodernisme,
termasuk di dalamnya antara lain eksistensialisme, fenomologi, personalisme, neomarxisme, freudanisme serta berbagai aliran strukturalisme, menitikberatkan pada sikap
dan pendapat yang berorientasi pada jargon antisistem, antistruktur dan antideterminisme
yang diaplikasikan pada dunia kekuasaan. Konsep pemberdayaan dapat dilihat sebagai
akibat dari dan reaksi terhadap alam pikiran, tata mayarakat dan budaya yang
berkembang dalam sebuah masyarakat (Hikmat, 2001: 1-2).
Pada awal kelahirannya, konsep pemberdayaan bertujuan untuk menemukan alternatifalternatif baru dalam pembangunan masyarakat. Proses pemberdayaan dengan demikian
merupakan depowerment dari sistem kekuasaan yang bersifat absolut. Konsep
pemberdayaan menggantikannya dengan sebuah sistem yang baru, yang memberikan
perhatian penting pada gagasan manusia dan kemanusiaan (humanisme). Menurut
Pranarka dan Vidhyandika, gagasan humanisme ini memiliki kesamaan dengan apa yang
diajukan aliran fenomologi, personalisme dan eksistensialisme. Aliran-aliran tersebut
menolak segala bentuk kekuasaan yang bermuara pada dehumanisasi atas eksistensi
manusia. Demikian juga dengan aliran neomarxis, freudianisme dan lainnya yang
menggugat dehumanisasi yang dihasilkan oleh kapitalisme, industrialisasi dan teknologi
(Hikmat, 2001: 2).

Pemberdayaan masyarakat merupakan strategi besar dalam paradigma pembangunan


yang berpusat pada rakyat (people based development). Pendekatan ini menyadari
pentingnya kapasitas masyarakat untuk meningkatkan kemandirian dan kekuatan internal,
melalui kesanggupan untuk melakukan kontrol internal atas sumber daya material dan
non-material yang penting melalui redistribusi modal atau kepemilikan. Pendekatan ini
melihat bahwa permasalahan sosial yang ada dalam masyarakat bukan semata-mata
akibat penyimpangan prilaku atau masalah kepribadian, tetapi juga sebagai akibat
masalah struktural, kebijakan yang keliru, inkonsistensi dalam implementasi kebijakan
dan tidak adanya partisipasi masyarakat dalam pembangunan. (Adimihardja, 2001: 1)
Pembangunan yang bersifat sentralistik dapat menghambat tumbuhnya kesadaran
masyarakat bahwa masalah sosial yang ada merupakan masalah masyarakat, sehinga
mereka tidak mampu memanfaatkan potensi dan sumber daya sosial yang ada untuk
mengatasinya. Selain itu, kondisi struktural yang ada tidak memberikan kesempatan
kepada masyarakat untuk mengartikulasikan aspirasi serta merealisasikan potensinya,
sehingga masyarakat berada dalam kondisi yang tidak berdaya. Dalam situasi inilah
reorientasi paradigma pembangunan menjadi kebutuhan yang mendesak (Adimihardja,
2001: 1)
Konsep pemberdayaan dalam wacana pembangunan biasanya selalu dikaitkan dengan
konsep kemandirian, partisipasi, jaringan kerja dan keadilan. Menurut Rapppaport,
pemberdayaan merupakan pemahaman secara psikologis pengaruh individu terhadap
keadaan sosial, kekuatan poltik dan hak-haknya menurut undang-undang. Sementara itu
McArdle mengartikan pemberdayaan sebagai proses pengambilan keputusan oleh orangorang yang secara konsekuen melaksanakan keputusan tersebut. Orang-orang yang telah
mencapai tujuan kolektif diberdayakan melalui kemandiriannya, bahkan merupakan
keharusan untuk lebih diberdayakan melalui usaha mereka sendiri dan akumulasi
pengetahuan, keterampilan serta sumber lainnya dalam rangka mencapai tujuan mereka
tanpa bergantung pada bantuan pihak luar. McArdle menekankan pentingnga proses
dalam pengambilan keputusan (Hikmat, 2001: 3-4).
Sebagaimana dinyatakan Craig dan Mayo, partisipasi merupakan komponen terpenting
dalam upaya pertumbuhan kemandirian dan proses pemberdayaan. Strategi
pemberdayaan menempatkan partisipasi masyarakat sebagai isu utama pembangunan saat
ini. Partisipasi aktif masyarakat di Dunia Ketiga dinilai sebagai strategi efektif untuk
meningkatkan ekonomi, sosial dan transformasi budaya. Dengan partisipasi,
pembangunan dapat menjangkau masyarakat terlemah melalui upaya membangkitkan
semangat hidup untuk menolong diri sendiri. Dalam hal ini partisipasi aktif masyarakat
terkait dengan efektivitas, efisiensi, kemandirian dan jaminan bagi pembangunan yang
berkelanjutan (Hikmat, 2001: 4-5).
Tujuan utama dari pembangunan yang berpusat pada manusia (people-centered
development) adalah untuk menyediakan kepada seluruh lapisan masyarakat kesempatan
8

hidup secara utuh. Adapun nilai-nilai dasar yang dianggap universal dalam pendekatan
ini adalah (Adi, 2002: 155-156): Partisipasi (participation), terutama bagi kelompok
marjinal; Kesinambungan (sustainability), terutama terkait dengan kelestarian
lingkungan; Integrasi sosial (social integration), yang terkait dengan rasa keadilan; dan
Hak-hak dan kemerdekaan asasi (human rights and fundamental freedoms).
Partisipasi dikonsepsikan secara baru sebagai suatu insentif moral yang membolehkan
kelompok marjinal untuk merundingkan insentif-insentif material yang baru bagi
mereka, dan sebagai terobosan yang memperbolehkan para pelaku kecil mendapatkan
jalan untuk ikut serta pada level makro dalam pembuatan kebijakan (Goulet, 1990: 134)
Definisi kerja partisipasi dari Marshall Wolfe adalah usaha-usaha terorganisir
meningkatkan peranan pengendalian atas sumber daya-sumber daya dan lembagalembaga regulatif dalam satuan masyarakat tertentu, bagi kelompok-kelompok dan
gerakan-gerakan yang sampai sekarang tidak diikutsertakan dalam pengendalian (Goulet,
1990: 135). Masyarakat harus memiliki kesempatan ikut berpartisipasi dalam segala
kegiatan yang ada, mulai pemeriksaan awal masalah, daftar pemecahan yang mungkin
diambil, pemilihan satu kemungkinan tindakan, mengorganisasi pelaksanaan, evaluasi
dalam tahap pelaksanaan, hingga memperdebatkan mutu dari mobilisasi atau organisasi
lebih lanjut. (Goulet, 1990: 138-139).
Pemrakarsa partisipasi dapat berasal dari atas (penguasa atau para ahli), bawah
(masyarakat) atau pihak ketiga dari luar. Jika berasal dari atas, maka biasanya disertai
oleh kontrol sosial tertentu atas proses dan pelaku-pelaku partisipasi. Pembangunan
dalam sebuah sistem yang non demokratis biasanya masih memperbolehkan partisipasi di
tingkat mikro (pemecahan masalah) asalkan tidak mengganggu ketentuan atau aturan di
tingkat makro (Goulet, 1990: 137-139). Partisipasi ideal yang sulit ditemukan dalam
tataran praksis adalah partisipasi yang dimulai dari tingkat bawah dan berkembang ke
tingkat atas menuju bidang-bidang yang semakin meluas dalam pembuatan keputusan.
Bentuk partisipasi ideal diprakarsai, atau sekurang-kurangnya disetujui, oleh masyarakat
non-elit yang berkepentingan pada tingkat awal dalam urutan keputusan-keputusan
(Goulet, 1990: 141)
Pemberdayaan pada dasarnya adalah pemberian kekuatan kepada pihak yang kurang atau
tidak berdaya (powerless) agar dapat memilliki kekuatan yang menjadi modal dasar
aktualisasi diri. Aktualisasi diri merupakan salah satu kebutuhan mendasar manusia.
Pemberdayaan yang dimaksud tidak hanya mengarah pada individu semata, tapi juga
kolektif (Hikmat, 2001: 46-48). Pengertian ini kurang-lebih sama dengan pendapat Payne
dan Shardlow mengenai tujuan pemberdayaan. Menurut Payne, tujuan utama
pemberdayaan adalah membantu klien memperoleh daya untuk mengambil keputusan
dan menentukan tindakan yang akan ia lakukan, yang terkait dengan diri mereka,
termasuk mengurangi efek hambatan pribadi dan sosial dalam melakukan tindakan.
Sedangkan Shardlow menyimpulkan bahwa pemberdayaan menyangkut permasalahan
bagaimana individu, kelompok ataupun masyarakat berusaha mengontrol kehidupan

mereka sendiri dan mengusahakan untuk membentuk masa depan sesuai dengan
keinginan mereka (Adi, 2002: 162-163)
Menurut Korten, ada tiga dasar untuk perubahan-perubahan struktural dan normatif
dalam pembangunan yang berpusat pada masyarakat, yaitu (Hikmat, 2001: 16): Pertama,
memusatkan pemikiran dan tindakan kebijakan pemerintah pada penciptaan keadaankeadaan yang mendorong dan mendukung usaha rakyat untuk memenuhi kebutuhankebutuhan mereka sendiri dan untuk memecahkan masalah-masalah mereka sendiri di
tingkat individual, keluarga dan masyarakat. Kedua, Mengembangkan struktur-struktur
dan proses organisasi yang berfungsi menurut kaidah-kaidah swaorganisasi. Ketiga,
mengembangkan sistem-sistem produksi dan konsumsi ysng diorganisasi secara teritorial
yang berlandaskan pada kaidah-kaidah dan pemilikan dan pengendalian lokal.
Integrated Community Development
Economic
Social

Community

Ecological
Social Justice
Cultural
Political

Development
Environment

Personal

Istilah pemberdayaan tidak hanya mengacu pada pembangunan salah satu bidang saja.
Ada berbagai macam pemberdayaan, antara lain: pemberdayaan bidang politik, bidang
ekonomi, bidang hukum, bidang sosial, bidang budaya, bidang ekologi, dan
pemberdayaan bidang spiritual. Meskipun tujuan dari masing-masing pemberdayaan
mungkin berbeda, namun untuk keberhasilan pemberdayaan yang menyeluruh, berbagai
10

macam bentuk pemberdayaan tersebut seharusnya dapat dipadukan dan saling


melengkapi (William, 1995: 163-165). Pemberdayaan dengan demikian merupakan
proses pembangunan masyarakat yang terintegrasi (intgerated community development).

Peran Pemerintah
Prinsip pembangunan yang berpusat pada masyarakat menegaskan bahwa masyarakat
harus menjadi pelaku utama dalam pembangunan. Hal ini membutuhkan restrukturisasi
sistem pembangunan sosial, baik pada tingkat mikro, meso maupun makro, sehingga ada
keserasian di antara ketiganya. Dengan demikian gerak masyarakat pada tingkat mikro
tidak mendapatkan hambatan dari tingkat meso dan makro. Keserasian di antara
ketiganya ini merupakan faktor eksternal pembangunan yang berpusat pada masyarakat.
Sementara faktor internalnya adalah peluang bagi terciptanya suatu dorongan
pembangunan dari, oleh dan untuk masyarakat dalam konteks ekologi dan sistem sosialbudaya setempat.
Paradigma pembangunan yang berpusat pada masyarakat juga menuntut adanya
perubahan pola. Pola dari atas ke bawah yang selama ini lebih kuat dari pada dari bawah
ke atas harus digeser dengan memberikan tempat bagi keterlibatan semua tingkat.
Masing-masing tingkat (mikro, meso dan makro) mendapatkan pembagian peran dengan
prinsip semakin ke atas, kewenangan dalam hal kebijakan semakin luas dan semakin ke
bawah, memiliki kewenangan operasionalisasi yang lebih luas. Dalam hal ini pemerintah
bergeser dari penyelenggara pelayanan sosial menjadi fasilitator, mediator, koordinator,
pendidik dan mobilisator serta peran-peran lain yang lebih mengarah pada pelayanan
tidak langsung. Organisasi kemasyarakatan, dalam berbagai bentuknya, diarahkan untuk
lebih aktif terlibat sebagai agen pelaksana perubahan dan pelaksana pelayananan sosial.
Menurut Pranarka dan Vindhyandika, terdapat dua kecenderungan yang saling terkait
dalam pencapaian pemberdayaan masyarakat. Pertama, kecenderungan primer. Pada
kecenderungan ini proses pemberdayaan masyarakat ditekankan pada proses pemberian
atau pengalihan sebagian kekuasaan, kekuatan dan kemampuan kepada masyarakat atau
individu agar menjadi lebih berdaya. Proses ini dapat dilengkapi dengan upaya
membangun aset material guna mendukung pembangunan kemandirian melalui
organisasi. Kedua, kecenderungan sekunder. Kecenderungan ini menekankan pada proses
pemberian stimulan, dorongan atau motivasi agar individu atau masyarakat mempunyai
kemampuan menentukan kebutuhan hidupnya melalui proses dialog (Adimiharja, 2001:
10). Kedua kecenderungan ini dirumuskan pula oleh Payne. Ia menyatakan bahwa
pencapaian tujuan pemberdayaan dapat dilakukan melalui peningkatan kemampuan dan
rasa percaya diri untuk menggunakan daya yang ia miliki, antara lain melalui transfer
daya dari lingkungannya.
Baik dalam kecenderungan primer maupun dalam kecenderungan sekunder, pemerintah
harus berperan aktif dalam proses pemberdayaan masyarakat. Karena pemberdayaan
merupakan salah satu pilar dalam pembangunan masyarakat, maka peran aktif
pemerintah harus pula memperhatikan prinsip-prinsip lain terkait dalam pembangunan
11

masyarakat seperti (1) faktor-faktor struktural yang berakar dalam suatu masyarakat, (2)
perhatian terhadap hak-hak dasarmanusia, (3) prinsip kesinambungan (sustainability), (4)
hubungan antara individu dan politik, (5) kepemilikan masyarakat baik dalam konteks
material maupun struktur dan proses, (6) kepercayaan terhadap kekuatan sendiri (self
reliance), (7) ketidaktergantungan kepada pemerintah, (8) penetapan visi jangka panjang
dan tujuan intermediasi yang akan dicapai, (9) pemberdayaan berdasarkan organici
development dan faktor-faktor lainnya.
Pada dasarnya setiap masyarakat memiliki hak yang sama untuk memenuhi kebutuhan
dasarnya, yaitu kebutuhan untuk hidup layak secara ekonomi, politik, sosial dan budaya
di dalam suatu komunitas tertentu. Karena itu, masyarakat adalah subjek pembangunan
dan bukan hanya sekedar menjadi objek pembangunan. Hal ini berdasar pada teori
berdirinya sebuah negara, bahwa rakyat ada sebelum negara lahir. Rakyatlah yang
memberi bentuk dan mendirikannya negara. Itulah sebabnya, mengapa Konstitusi UUD
1945 menyatakan bahwa kedaulatan adalah ditangan rakyat, bukan kepada negara,
terlebih lagi bukan pada pemerintah.
Tidak optimalnya proses dan hasil pembangunan di Indonesia lebih disebabkan oleh cara
berpikir pembangunan yang berorientasi pada negara dan pemerintah (state oriented
development), daripada pembangunan yang berorientasi pada masyarakat (society
oriented development). Hal ini telah menyebabkan ketimpangan ekonomi antar sektor
dan antar lapisan masyarakat, kesenjangan antargologan sosial, kesenjangan
pembangunan diri manusia Indonesia, dan ketimpangan desa kota. Alat ukur
pembangunan hanya menggunakan data-data statistik yang mudah dimanipulasi, tetapi
sangat jarang memperhatikan aspek manusia sebagai pemakai hasil pembangunan. Dalam
kasus yang sangat ekstrim, pemabangunan di Indonesia juga seringkali memarjinalisasi
kelompok-kelompok miskin.
Padahal, seperti yang dituangkan dalam pembukaan UUD 1945, tujuan pembentukan
negara RI adalah melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah
Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa
dan terciptanya keadilan sosial. Dari sini dapat dikatakan bahwa semangat pembentukan
negara RI adalah sebagai alat untuk menjamin terselenggaranya hak-hark rakyat.
Semangat ini juga tergambar dalam pasal-pasal UUD 1945. Misalnya hak dan kedudukan
yang sama dalam hukum dan pemerintahan, hak untuk mendapatkan pekerjaan dan
kehidupan yang layak, termasuk jaminan fakir miskin, hak untuk mendapatkan
pendidikan dan hak rakyat untuk mendapatkan hasil sebesar-besarnya hasil kekayaan
sumber daya alam. Kesemua hal tersebut mencerminkan jaminan dan amanah
pemberdayaan masyarakat Indonesia secara konstitusional untuk menjadi objek sekaligus
subjek dalam pembangunan.
Sejak reformasi 1988, negara dan pemerintah memiliki komitmen kebijakan
pembangunan yang berorientasi pada manusia dan masyrakat. Hal ini paling tidak
ditandai dengan beberapa perubahan dan pembuatan Undang-Undang yang menjamin
keterlibatan masyarakat dalam pembangunan. Jika sebelum reformasi pemerintah pusat
memegang peranan yang sangat dominan dalam pembangunan, maka dengan

12

dikeluarkannya UU 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah, proses pembuatan dan


pelaksanaan pembangunan diharapkan dapat berpindah tidak saja ke pemerintah daerah
tetapi juga kepada masyarakat daerah.
Dari sudut pandang pemerintahan dan masyarakat daerah, nilai utama kebijakan
desentralisasi ini adalah perwujudan political equality, yakni terbukanya partisipasi
masyarakat dalam berbagai aktivitas politik di tingkat nasional. Nilai kedua adalah local
accountablity, yakni kemampuan pemerintah daerah dalam memperhatikan hak-hak
masyarakat di tingkat lokal. Dan nilai ketiga adalah local responsiveness, yakni
pemerintah daerah dianggap mengetahui lebih banyak tentang berbagai masalah yang
dihadapi oleh masyarakatnya. Maka melalui pelaksanan desentralisasi diharapkan, bahwa
proses pemberdayaan masyarakat dapat mengalami percepatan melalui peran pemerintah
daerah.

Prinsip-prinsip Dasar Pemberdayaan Masyarakat


Di kebanyakan negara, kegagalan proses dan hasil pembangunan disebabkan oleh
orientasi yang berlebihan pada negara dan pemerintah. Sebaliknya, masyarakat dan
manusia sebagai objek pembangunan seringkali dilupakan. Atas dasar itu, pemberdayaan
masyarakat sebagai salah satu pilar pembangunan harus meletakkan fokus pembangunan
pada manusia (people centered development). Penyelenggaraan pembangunan difokuskan
kepada pemenuhan kebutuhan dan kepentingan setiap warga masyarakat di segala bidang
poleksosbudhankam (fisik non fisik), dengan memposisikan masyarakat sebagai
subyek dan pemanfaat (obyek) pembangunan bagi peningkatan kesejahteraan
masyarakat secara menyeluruh, adil dan merata.
Setiap permasalahan dan upaya pemecahan masalah masyarakat selalu dilokalisir, agar
tidak menyebar ke kelurahan, sesuai dengan makna kelurahan sebagai basis kehidupan
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara/berpemerintahan. Bantuan dari pihak luar, baik
antar kelurahan ataupun atasan kelurahan dan lainnya, sifatnya hanya terbatas pada
kerjasama dan/atau saling membantu dalam rangka memperbesar mobilisasi sumber
daya dan atau pemecahan masalah secara bersama-sama. Prinsip ini mengedepankan
kemampuan masyarakat lokal setempat untuk mengatasi berbagai permasalahan secara
mandiri. Bantuan pemerintah atau daerah lainnya hanya dibutuhkan, jika masyarakat
lokal setempat tidak dapat melaksanakan atau memecahkan sendiri permsalahannya
(Local competency and subsidiarity). Untuk itu, semua upaya peningkatan kesejahteraan
bersama, diutamakan dengan memobilisasi kekuatan, kemampuan dan sumbersaya
yang dimiliki oleh masyarakat beserta lingkungannya (kemandirian).
Disamping itu, berbagai kegiatan pembangunan harus menjadi tanggung jawab dan
beban seluruh lapisan masyarakat kelurahan berdasarkan hasil kesepakatan (keputusan)
bersama melalui musyawarah. Kebersamaan dan kegotongroyongan di tingkat kelurahan
harus selalu dipopulerkan tak lapuk kena air, tak lekang kena panas. Untukt mencapai
hal tersebut, Pengelolaan kegiatan selalu dilakukan oleh seluruh dan atau perwakilan
(representasi) masyarakat secara musyawarah untuk mendapatkan keputusan bersama,
13

baik dalam rangka menetapkan rencana kegiatan/anggran, pelaksanaan, pengawasan dan


laporan petanggungjawaban.
Semua kegiatan pemberdayaan tidak akan memiliki dampak yang luas dan menetap
kepada masyarakat, jika kegiatan pemberdayaan masyarakat tidak berlangsung secara
kontinue dan terlembaga. Gerakan pemberdayaan masyarakat tidak mengenal henti
sampai kapanpun. Pasang surut gerakan sangat tergantung situasi/kondisi dan dinamika
masyarakat bangsa Indonesia.
Strategi Pemberdayaan Masyarakat
Pemberdayaan masyarakat merupakan suatu rangkaian tindakan yang sistematis dan
melibatkan berbagai komponen organisasi formal dan non formal. Pemberdayaan
masyarakat adalah suatu gerakan (movement) untuk menghimpun kekuatan dan
kemampuan masyarakat beserta lingkungannya. Untuk itu, diperlukan sejumlah program
dan kegiatan baik yang berasal dari masyarakat secara langsung maupun dari pemerintah
yang dianggarkan dalam APBD atau APBN. Program dan kegiatan tersebut harus
memiliki cara kerja (metode) yang efisien dan effektif untuk memobilisasi potensi dan
mengurangi dispotensi yang ada di dalam masyarakat.
Strategi pemberdayaan masyarakat tidak dapat diimplementasikan jika tidak sertai
dengan sejumlah sumber-sumber kewenangan, manajemen, program dan pembiayaan.
Dalam kaitan tersebut, Pemberdayaan masyarakat harus didasari pada asumsi, bahwa
masyarakat adalah pemiliki kewenangan sekaligus aktor yang menentukan kebutuhan dan
strategi untuk mencapai kebutuhan tersebut. Pemerintah hanya bertindak sebagai
fasilitator dan regulator. Semua proses perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan pada
dasarnya harus dilakukan sendiri oleh masyarakat melalui lembaga-lembaga yang
memiliki otoritas.
Untuk mengefektifkan pelaksanaan kegiatan pemberdayaan masyarakat, maka diperlukan
identifikasi hal-hal terkait seperti: (1) Kerjasama kelompok pelaku dalam
penyelenggaraan kegiatan pemberdayaan, (2) Klasifikasi lapisan kelompok
pemanfaat/sasaran baik secara ekonomi, sosial budaya, dan politik. Demikian pula
kegiatan pemberdayaan, harus meliputi seluruh bidang politik, ekonomi, sosial dan
budaya. Terdapat empat stratetgi yang dapat ditawarkan dalam memberdayakan
masyarakat di tingkat kelurahan, yaitu:
Pertama; Memberdayakan masyarakat dengan mensosialisasikan peran masyarakat
sebagai subyek, baik sebagai pemeran utama dan atau ambil bagian/membantu ataupun
sebagai sasaran/ pemanfaat (obyek) secara tepat, benar dan dipahami serta peningkatan
kemampuan masyarakat dalam mengelola dan melaksanakan kegaitan pembangunan di
segala bidang Poleksosbudhankam (fisik-nonfisik). Kedua; Mendayagunakan
mekanisme penyelenggaraan pembangunan /pemberdayaan masyarakat secara lebih
aspiratif/demokratis, efektif, dan efisien, sesuai dengan ketatanegaraan/ pemerintahan dan
kemasyarakatan yang baku.

14

Ketiga; Mobilisasi sumber daya manusia seperti tenaga, pikiran dan kemampuan sesuai
dengan profesionalismenya, termasuk mobilisasi uang dan barang dan lain-lain baik
secara local kelurahan ataupun dari luar kelurahan dan pihak lainnya seoptimal mungkin,
tanpa menimbulkan gejolak di masyarakat. Keempat; Memaksimalkan peran pemerintah,
khususnya Pemerintahan Kelurahan dalam memfasililtasi, mengnatur/legalisasi
(regulasi) dan memberi bantuan dana/tehnis (donasi), guna kelancaran penyelenggaraan
pembangunan/pemberdayaan masyarakat.
Organisasi dan Manajemen Penyelenggara Pemberdayaan masyarakat
Kelurahan adalah tingkat pemerintahan strategis yang dapat dijadikan sebagai lokasi
penyelenggaraan kegiatan pemberdayaan masyarakat. Oleh karena itu, perangkat
pemerintah propinsi, pemerintah kotamadya/ kabupaten administtrasi dan kecamatan
berperan sebagai fasilitator bagi kegiatan pemberdayaan masyarakat di tingkat kelurahan
yang diselenggarakan oleh pemerintah kelurahan cq. Lurah dibantu Dewan Kelurahan
dan masyarakat cq. Lembaga-lembaga kemasyarakatan.
Untuk menjamin pelaksanaan pemberdayaan masyarakat secara efisien dan efektif,
organisasi pemberdayaan masyarakat terdiri dari tim fasilitasi pemberdayaan dan tim
pelaksana pemberdayaan. Tim Fasilitasi pemberdayaan merupakan dewan pengawas
yang memiliki kewenangan untuk membuat kebijakan dalam perencanaan dan
peanggaran dalam program dan kegiatan pemberdayaan masyarakat. Tim fasilitasi terdiri
dari kepala daerah, sekretaris daerah dan beberapa pejabat terkait dalam pemberdayaan
masyarakat. Sedangkan tim pelaksana pemberdayaan merupakan kelompok organisasi di
tingkat kelurahan yang bertugas dan memiliki kewenangan untuk melaksanakan
pemberdayaan sesuai dengan kebijakan yang dibuat oleh tim fasilitasi pemberdayaan.
Penyelenggaan kegiatan pemberdayaan masyarakat di tingkat kelurahan, diproses secara
bertahap melalui (1) Penyusunan rencana dan anggaran (RA); (2) Pelaksanaan kegiatan
(P); (3) Pengawasan/pengendalian pelaksanaan kegiatan (P); (4) Pelaporan
pertanggungjawaban hasil kegiatan. Agar pelaksanaan manajemen pemberdayaan
masyarakat dapat dikontrol, dibutuhkan organisasi yang merupakan forum koordinasi
pada level kelembagaan masyarakat (sebagai forum koordinasi perencanaan dan
musyawarah masyarakat dalam pemberdayaan) dan pada level pemerintahan (sebagai
forum koordinasi perencanaan dan musyawarah organ pemerintah pelaksana
pembeerydaan).
Evaluasi dan Monitoring Pemberdayaan Masyarakat
Pelaksanaan pemberdayaan masyarakat harus dievaluasi dalam kurun waktu yang telah
ditetapkan. Hal ini untuk menjamin agar pelaksanaan pemberdayaan sesuai dengan
kebijakan yang telah dibuat untuk untuk menjamin tidak adanya pelanggaran baik dari
aspek substantif dan administratif. Paling tidak terdapat dua sasaran evaluasi dalam

15

penyelenggaraan pemberdayaan masyarakat di tingkat kelurahan yaitu: Kepatuhan


terhadap Peraturan-perundangan dan Tingkat pencapaian output. Evauasi aspek
kepatuhan meliputi konsistensi penerapan hukum dan kesesuaian dengan pedoman
penyelenggaraan pemberdayaan. Sedangkan evaluasi pencapaian target meliputi aspek
kuantitatif, kualitatif and daya guna program pemberdayaan masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA

R. Harry Hikmat, Strategi Pemberdayaan Masyarakat (Bandung: Humaniora Utama


Press, 2001).
Isbandi Rukminto Adi, Pemikiran-pemikiran dalam Pembangunan Kesejahteraan Sosial
(Jakarta: Lembaga Penerbit FE-UI, 2002).
Kusnaka Adimihardja, Participatory Research Appraisal dalam Pelaksanaan Pengabdian
kepada Masyarakat (Bandung: Humaniora, 2001).
James William Ife, Community Development: Creating Community Alternatives Vision
and Analysis (Melbourne: Longman Australia Pty Ltd, 1995).
David Osborne and Ted Gabler, Reinventing Government (A Plume Book, 1993).

16