Anda di halaman 1dari 6

LAPORAN PENUGASAN JURNAL

Effects of Peritoneal Fluid on Sperm Motility anf Viability in Endometriosis


Pengaruh Cairan Peritoneal pada Motilitas Sperma dan Viabilitas pada Endometriosis
Stase Ilmu Obstetri dan Ginekologi
RSUD dr. Soeroto Ngawi

Disusun oleh:
Nama

: 1. Muhammad Dimas Afid W


2. Rendra Eka Mustafa Fauzi
3. Egi Yudhistira
4. Oktaryan Eko Arrianto

Pembimbing

: dr. H. Kukuh Hariyanto, Sp.OG

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
2014

Latar Belakang
Endometriosis adalah penyakit yang sering dihubungkan dengan infertilitas atau penurunan
kesuburan walaupun mekanismenya masih kontroversial. Kesuburan didefinisikan sebagai
kemungkinan seorang wanita mendapatkan kelahiran hidup setiap bulan. Pada pasangan
normal,kesuburan terjadi kurang lebih 0,15-0,20 setiap bulan dan menurun bersamaan dengan
umur. Pada wanita-wanita endometriosis dan infertilitas yang tidak terobati, kesuburan bulanan
berkisar 0,02-0,10. Salah satu dugaan penyebab infertilitas terkait endometriosis adalah
berkurangnya motilitas sperma karena kandungan cairan peritoneal pada wanita endometriosis
berbeda kandungannya dengan cairan peritoneal pada wanita non endometriosis.
Cairan peritoneum dijadikan pusat penelitian pada penelitian endometriosis karena cairan
peritoneum memiliki informasi yang banyak tentang penyakit endometriosis. Pada daerah sekitar
yang mana mediator imun yang terasosiasi dengan inflamasi lokal dari endometriosis dapat
dipelajari dengan tujuan melihat hubungan antara endometriosis dengan infertilitas. Beberapa
penulis berpendapat bahwa cairan peritoneum wanita dengan endometriosis menghambat
motilitas sperma. Semua penelitian itu dikerjakan dengan menggunakan computer aided sperm
analysis (CASA).
Prevalensi endometriosis pelvis sangat tinggi. Ini juga merupakan masalah kesehatan di
Indonesia, karena dapat menyebabkan infertilitas. Penelitian di rumah sakit Dr Sutomo Surabaya,
menunjukkan kejadian infertilitas akibat endometriosis 37,2%. Penyakit ini biasanya terdiagnosa
pada usia reproduktif, walaupun merupakan penyakit yang sulit untuk didiagnosa karena gejala
dan tanda yang bervariasi dan kemiripan dengan penyakit yang lain. Tindakan bedah seperti
laparokopi dibutuhkan untuk diagnosis pasti endometriosis. Laparoskopi merupakan gold
standard tes diagnostik.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membuktikan cairan peritoneum pada wanita
endometriosis berefek pada pengurangan motilitas sperma dan kehidupan sperma.

Bahan dan Metode


Pengumpulan dan persiapan Cairan Peritoneum
Cairan peritoneum dikumpulkan dari cavum douglas pasien yang direncanakan untuk
laparoskopi dengan berbagai indikasi. Terbagi 2 kelompok: 1 pasien tidak dengan endometriosis
(n=13); 2 pasien dengan endometriosis (n=13). Cairan peritoneum dimasukkan ke dalam plastik
steril, dan dikirim ke laboratorium. Cairan peritoneum di sentrifus selama 10 menit pada 1500
rpm untuk memisahkan sel debris. Sampel disaring melewati membran 0,22 (Sartorius
Stedim, Biotech, Denmark) dan disimpan pada suhu -700C sampai akan digunakan. Saat
eksperimen, sampel dari cairan peritoneum dibawa ke suhu ruangan.
Persiapan sampel sperma
Sampel semen diperoleh dari 13 donor normozoosperm, sampel dikumpulkan dari hasil
masturbasi setelah 3 sampai 7 hari tanpa seksual. Setelah itu dilakukan analisis air mani yang
dilakukan sesuai dengan pedoman who dan pengecekan morfologi yang ketat, jumlah sample
yang digunakan disesuaikan dengan jumlah percobaan yang dilakukan. Sperma disiapkan dengan
tehnik "swim up " dan konsentrasi disesuaikan menjadi 3 x 106 /ml.
Interaksi cairan sperma dan cairan peritoneal
Seratus mikroliter sperma dicampur dalam tabung eppendorf steril dengan 2 kelompok : GROUP
1 : sperma dicampur dengan 100ul cairan peritoneal dari pasien tanpa endometriasis, GROUP 2 :
sperma dicampur dengan 100ul cairan peritoneal dari pasien dengan endometriasis. Campuran di
inkubasi dengan suhu 37C dilingkungan Co2 6% dan dianalisis di 0,1,3,6 dan 24 jam inkubasi,
pada setiap titik waktu yang telah ditentukan tadi, diukur persentase motilitas dan viabilitasnya.
Analisis statistik
Analisis statistik yang digunakan adalah uji wilcoxon dengan menggunakan aplikasi spss (13.0,
CHICAGO, IL, USA). Untuk membandingkan motilitas sperma dan kelangsungan hidup pada
dengan atau tanpa endometriasis.

Uji normalitasnya dianalisis menggunakan saphiro wilk test parameters dinyatakan significant
adalah jika p value nya adalah < 0,05
Hasil
Paparan dari sperma pada cairan peritoneal mengurangi motilitas sperma secara signifikan pada
jam ke 6 observasi (Zw=2.17;p=0.03) sampai jam ke 24 (Zw=2.35;p=0.01).
Tabel 1. Motilitas sperma setelah inkubasi dengan dengan cairan peritoneal non endometriosis
dan endometriosis.
Motility (%)

h-0
Median
Range
h-1
Median
Range
h-3
Median
Range
h-6
Median
Range
h-24
Median
Range

Sperma + cairan
peritoneal non
endometriosis
n=13

Sperma + cairan
peritoneal
endometriosis
n=13

Zw

P value

92
73-99

92
73-99

0.00

1.00

91
72-97

91
60-97

0.95

0.34

85
23-92

85
5-92

1.63

0.10

85
45-92

73
2-91

2.17

0.03

39.0
1-79

1
0-59

2.35

0.01

Catatan: Zw = Wilcoxon signed-rank test


Kelangsungan hidup sperma yang di inkubasi dengan cairan peritoneal dengan endometriasis
berkurang secara signifikan dari jam ke 6 observasi (Zw=1.994;p=0.04) sampai jam ke 24
(Zw=2.55;p=0.01)

Tabel 2. Kelangsungan hidup sperma yag diinkubasi dengan caira peritoneal endometriosis
berkurang secara signifikam dari jam ke 6 observasi (Zw=1.994;p=0.04) sampai jam
ke 24 (Zw=2.55;p=0.01)
Viability

h-0
Median
Range
h-1
Median
Range
h-3
Median
Range
h-6
Median
Range
h-24
Median
Range

Sperma + cairan
peritoneal non
endometriosis
n=13

Sperma + cairan
peritoneal
endometriosis
n=13

Zw

P value

100
97-100

99
90-100

1.63

0.10

99
90-100

98
70-100

1.572

0.11

93
82-98

92
61-99

0.86

0.38

90
82-95

86
60-94

1.994

0.04

80
65-95

72
50-92

2.55

0.01

Diskusi
Studi ini menunjukan adanya penurunan signifikan pada motilitas dan kelangsungan hidup
sperma yang diinkumasi pada cairan peritoneal endometriosis yang dimulai pada jam ke 6
setelah inkubasi. Hasil ini berbeda dari studi yang lain. Studi ini menggunakan persentase untuk
melihat penurunan motilitas sperma (motilitas progresif) dan daya hidup, pada studi yang lain
menggunakan penurunan kecepatan berenang sperma dengan micrometer per detik. Daya hidup
setelah inkubasi diuji dengan mencampur 1 tetes suspensi sperma dengan trypan blue 0.4% dan
di teliti dengan mikroskop pada perbesaran 400x. trypan blue 0.4% akan memberi warna biru
pada sperma yang mati. Studi lain menggunakan eosin y pada suspense sperma. Kedua cairan
tersebut tertulis pada manual lab WHO, jadi peneliti dapat menggunakan jenis yang tersedia pada
istitusi.

Beberapa studi menunjukan perbedaan hasil pada pengaruh cairan peritoneal terhadap fungsi
sperma. Mununce et al mengatakan paparan cairan peritoneal terhadap sperma lebih dari 6 jam
tidak memberikan gangguan pada motalitas dan daya hidup. Pada studi itu pepemriksaan
dilakukan pada jam ke- 0,2 dan 6 setelah inkubasi menggunakan metode CASA yang dapat
menguji kecepatan curvilinear, kecepatan progresif, linearity persentase dan perpindahan kepala
samping. Aeby et al mengatakan hasil yang mirip dengan mununce et al. Aeby mengatakan
bahwa berkurangnya motilitas dan daya hidup ditemukan pada endometriosis derajat 1 (minimal
endometrosis) yang juga di evaluasi menggunakan CASA. Studi ini menggunakan analisis
sperma manual.metode ini memiliki keuntungan dan kekurangan. Keuntungan menggunakan
metode ini adalah untuk menggindari kesulitan pada membedakan spermatozoa dari potongan
partikel yang sering terjadi di metode CASA, padahal kekurangan dari analisis manual haya
dapat untuk melihat perbedaan progesif, nonprogresif dan imotil.
Waktu hidup yang dimiliki sperma untuk melaksanakan fertilisasi di tubuh wantia kira-kira 4872 jam. Kebanyakan kehamilan terjadi apabila pembuahan dilakukan sekitar 3 hari sebelum
menstruasi atau ovulasi. Tetapi, tindakan harus dilakukan untuk meningkatkan tingkat kesuburan
pada pasien endometriosis disamping perawatan yang biasa, karena diketahui bahwa kemampuan
gerak dan kelangsungan hidup sperma berkurang drastic setelah 6 jam pada pasien
endometriosis.
Kesimpulan dan Saran
Kesimpulannya, kami telah membuktikan bahwa cairan peritoneum pada pasien endometriosis
mengurangi daya gerak dan kemampuan hidup sperma, dimulai dari h6 post-inkubasi. Ini
mengindikasikan kemungkinan keterlibatan cairan peritoneum pasien endometriosis pada
ketidaksuburan. Kami menyarankan untuk melakukan observasi folikel secara teliti pada pasienpasien endometriosis, sehingga durasi ovulasi dan pembuahan kurang dari 6 jam, untuk
meningkatkan kesuburan.
Terima kasih kepada dr. Wachyu Hadisaputra, SpOG(K), Departemen Obstetri Ginekologi,
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta dan dr. Nadir Chan, SpOG(K), Rumah sakit
YPK, Jakarta.