Anda di halaman 1dari 79

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF

TIPE PAIR CHECKS


TERHADAP HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA
(Kuasi Eksperimen di MTs Negeri 22 Jakarta Timur)

Oleh:

SAKINAH KOMARA
105017000478

JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA


FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1431 H/2010

LEMBAR PENGESAHAN PANITIA UJIAN MUNAQASAH


Skripsi berjudul Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Pair
Checks Terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa diajukan kepada Fakultas
Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah
Jakarta, dan telah dinyatakan lulus dalam ujian munaqasah pada tanggal 30 Juli
2010 dihadapan dewan penguji. Karena itu, penulis berhak memperoleh gelar
Sarjana S1 (S.Pd) dalam bidang Pendidikan Matematika.
Jakarta, Agustus 2010

Panitia Ujian Munaqasah


Tanggal

Tanda Tangan

Ketua Panitia (Ketua Jurusan)


Maifalinda Fatra, M.Pd
NIP. 19700528 199603 2 002

...................................

................................

Sekretaris Jurusan
Otong Suhyanto, M.Si
NIP. 19681104 199903 1 001

...................................

................................

Penguji I
Maifalinda Fatra, M.Pd
NIP. 19700528 199603 2 002

...................................

................................

Penguji II
Firdausi, S.Si, M.Pd
NIP. 19690629 200501 1 003

...................................

................................

Mengetahui,
Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan

Prof. Dr. Dede Rosyada, M.A


NIP. 19571005 198703 1 003

LEMBAR PENGESAHAN PEMBIMBING SKRIPSI

Skripsi berjudul Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Pair


Checks Terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa, disusun oleh Sakinah
Komara, Nomor Induk Mahasiswa 105017000478, Jurusan Pendidikan
Matematika, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri
Syarif Hidayatullah Jakarta. Telah melalui bimbingan dan dinyatakan sah sebagai
karya ilmiah yang berhak untuk diujikan pada sidang munaqasah sesuai ketentuan
yang ditetapkan oleh fakultas.

Jakarta, Juli 2010

Yang Mengesahkan

Pembimbing I

Pembimbing II

Dra. Afidah Masud

Lia Kurniawati, M.Pd

NIP. 19610926 198603 2 004

NIP. 19760521 200801 2 008

SURAT PERNYATAAN KARYA SENDIRI


Yang bertandatangan di bawah ini
Nama

: Sakinah Komara

NIM

: 105017000478

Jurusan

: Pendidikan Matematika

Angkatan Tahun : 2005


Alamat

: Jl. Madrasah Rt. 003 Rw 02 No. 36 Kelurahan Pondok


Ranggon Kecamatan Cipayung Jakarta Timur 13860
MENYATAKAN DENGAN SESUNGGUHNYA

Bahwa skripsi yang berjudul Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe


Pair Checks Terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa adalah benar hasil
karya sendiri di bawah bimbingan dosen:
1. Nama
NIP

: Dra. Afidah Masud, M.Pd


: 19610926 198603 2 004

Dosen Jurusan : Pendidikan Matematika


2. Nama
NIP

: Lia Kurniawati, M.Pd


: 19760521 200801 2 008

Dosen Jurusan : Pendidikan Matematika


Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya dan saya siap
menerima segala konsekuensi apabila terbukti bahwa skripsi ini bukan hasil karya
sendiri.

Jakarta, Juli 2010


Yang Menyatakan

Sakinah Komara

LEMBAR UJI REFERENSI


Nama

: Sakinah Komara

Nim

: 105017000478

Jurusan

: Pendidikan Matematika

Judul Skripsi

: Pengaruh Model Pembelajaran Koopertif Tipe Pair Checks


Terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa

No

Referensi

Admin, Siswa SMP yang Gagal Ujian Meningkat,


dari www.republika.co.id, 26 Oktober 2009.
Agus Suprijono, Cooperative Learning Teori
2. &Aplikasi PAIKEM. Yogyakarta : Pustaka Pelajar,
2009, h. 4, 17, 21, 24, 58
Anas Sudijono, Pengantar Evaluasi Pendidikan,
3. (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2005), Cet I, Ed. 1,
h. 49, 185, 252-253
Asep Herry Hernawan dkk., Belajar dan
4. Pembelajaran Sekolah Dasar, Bandung: UPI Press,
Cet. I, 2007, h. 2
Aunurrahman, Belajar dan Pembelajaran, (Bandung:
5.
Alfabeta, 2009), h.143.
Erman Suherman, Common Text Book Strategi
6. Pembelajaran Matematika Kontemporer. (Bandung:
JICA-UPI, 2001), h. 17.
Erman Suherman, Model Belajar dan Pembelajaran
7. Berorientasi Kompetensi Siswa, dari
www.scribd.com, 16 September 2009.
Erna Suwangsih dan Tiurlina, Pembelajaran
8.
Matematika, Jakarta: UPI Press, 2006, h. 3, 75
Gempur Santoso, Metodologi Penelitian Kuantitatif
9. dan Kualitatif, Cet. I, . Jakarta: Pustaka Prestasi, 2005,
h. 38
Hamzah B Uno, Model Pembelajaran Menciptakan
10. Proses Belajar Mengajar yang Kreatif dan Efektif,
Jakarta: Bumi Aksara, 2007, h. 129
Ina V.S. Mullis, dkk, TIMSS 2007 International
Mathematics Report, dari
11.
http://timss.bc.edu/TIMSS2007/techreport.html, 6
September 2009, h. 38, 195
1.

Pembimbing
I

Pembimbing
II

Isjoni, Cooperative Learning: Mengembangkan


12. Kemampuan Belajar Berkelompok, (Bandung:
Alfabeta, 2009), Cet.II, h.16-17, 27
John M.Echols dan Hassan Shadily, Kamus Inggris13. Indonesia: An English-Indonesian Dictionary, (Jakarta:
PT Gramedia, 1996), Cet. XXIII, h. 147.
Junaedi, Strategi Pembelajaran, PGMI Lapis, Edisi I,
14.
2008
Mumun Syaban, Menumbuhkembangkan Daya
Matematis Siswa, dari
15. http://educare.efkipunla.net/index.php?option=com_co
ntent&task=view&id=62&Itemid=7, 27 Januari 2010,
h. 2
M. Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan,
16. Bandung: PT Remaja Rosdakarya, Cet. XIX, 2003, h.
84, 101
M Subana dan Sudrajat, Dasar-dasar Penelitian
17. Ilmiah, Cet.II, Jakarta: Pustaka Setia, 2005, h. 132,
134, 135, 149-150, 165-166.
Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar
18 Mengajar, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2004),
Cet.IX, h. 22.
Nana Syaodih Sukmadinata, Landsasan Psikologi
19 Proses Pendidikan. Bandung : PT. Remaja
Rosdakarya, 2007, h. 171
n.n, Revisi Taksonomi Bloom atau Revised Bloom
Taxonomy dari
20. http://www.hilman.web.id/posting/blog/852/revisitaksonomi-bloom-atau-revised-bloom-taxonomy.html,
6 mei 2010, 15:14 WIB.
Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar, (Jakarta:
21.
Bumi Aksara, 2001), h. 39
Pupuh Faturrohman dan M. Sobry Sutikno, Strategi
Mewujudkan Pembelajaran Bermakna Melalui
22.
Penanaman Konsep Umum dan Konsep Islami,
Bandung: PT. Refika Aditama, Cet. I, 2007, h. 5
23. Purwanto, Evaluasi Hasil Belaja, (Yogyakarta:
Pustaka Pelajar, 2009), Cet. I, h. 44, 46
Richard I Arends, Learning to Teach-Belajar untuk
24. mengajar, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008), Ed.7,
h. 5, 29, 85.
Sardiman A.M, Interaksi dan Motivasi
25. BelajarMengajar.Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada,
Edisi I, 2009, h. 49.
Sholomo Sharan, Handbook of Cooperative Learning,
26.
(Yogyakarta: imperium, 2009), h.349, 362

Sudjana, Metoda Statistika, Cet. III, Bandung: Tarsito,


2005, h. 239.
Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif,
28
dan R & D, (Bandung: Alfabeta, 2008), Cet. V, h.275
Suharsimi Arikunto, Dasar-dasar Evaluasi
29. Pendidikan, Edisi Revisi, Cet.V. Jakarta: Bumi
Aksara, 2005, h. 109, 208, 213
Trianto, Model-model Pembelajaran Inovatif
30. Berorientasi Konstruktivistik, (Jakarta: Prestasi Pustaka
Publisher, 2007), Cet. I, h. 46, 48
Zainurie, Model-model Pembelajaran, dari
31. www.zainurie.files.wordpress.com, 24 Maret 2010,
10.25 WIB, h. 2.
27.

Mengetahui

Pembimbing I

Pembimbing II

Dra. Afidah Masud, M.Pd

Lia Kurniawati, M.Pd

NIP. 19610926 198603 2 004

NIP. 19760521 200801 2 008

ABSTRAK

SAKINAH KOMARA (105017000478), Pengaruh Model Pembelajaran


Kooperatif Tipe Pair Checks Terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa. Skripsi
Jurusan Pendidikan Matematika, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan,
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Juli 2010.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh model
pembelajaran kooperatif tipe pair checks terhadap hasil belajar matematika siswa.
Penelitian ini dilakukan di MTs Negeri 22 Cilangkap Jakarta Timur Tahun Ajaran
2009/2010. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuasi
eksperimen dengan desain penelitian The Post-test Only Control Group Design.
Subyek penelitian ini adalah 84 siswa yang terdiri dari 42 siswa untuk masingmasing kelas eksperimen dan kelas kontrol yang diperoleh dengan teknik cluster
random sampling pada siswa kelas VII. Setelah diberikan perlakuan diperoleh
nilai tes hasil belajar matematika siswa pada pokok bahasan segitiga. Hasil
penelitian mengungkapkan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe pair checks
berpengaruh terhadap hasil belajar matematika siswa. Rata-rata hasil belajar
matematika siswa yang diajarkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe pair
checks sebesar 69,93 sedangkan rata-rata hasil belajar matematika siswa yang
diajarkan dengan model pembelajaran klasikal sebesar 61,93. Berdasarkan
perhitungan diperoleh t hitung > t tabel (2,04 > 1,66), sehingga rata-rata hasil belajar
matematika siswa yang diajarkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe
pairchecks lebih tinggi dari rata-rata hasil belajar matematika siswa yang
diajarkan dengan model pembelajaran klasikal.

ABSTRACT

SAKINAH KOMARA (105017000478), The Effect of Cooperative


Learning Model Pair Checks Type to Students Mathematics Learning Outcomes.
Thesis for Math Education, Faculty of Tarbiya and Teaching Science, Syarif
Hidayatullah State Islamic University Jakarta, July 2010.

The purpose of this research is to determine the effect of cooperative


learning model pair checks typ to students mathematics learning outcomes. The
research was conducted at MTs Negeri 22 Cilangkap East Jakarta for academic
year 2009/2010. The method used in this research is quasi experimental method
with The Post-test Only Control Group Design. Subject for this research are 84
students consist of 42 students for each of experimental group and control group
which selected in cluster random sampling technique. After being given treatment
obtained the test scores of students mathematics learning outcomes at the subject
of triangle. The result of research revealed that there is effect of cooperative
learning model pair checks type to students mathematics learning outcomes. The
students who taught with cooperative learning model pair checks type have mean
score of students mathematics learning outcomes is 69,93 but the students who
taught with classical learning model is 61,93. Base on statistic resulted t hitung >
t tabel (2,04 > 1,66), so the students who taught with have cooperative learning
model pair checks type mean score of students mathematics learning outcomes
higher than who taught with with classical learning model .

ii

KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah SWT atas segala nikmat-Nya yang tak terhitung,
karena atas rahmat dan hidayah-Nya maka skripsi ini dapat diselesaikan.
Penulisan skripsi ini merupakan salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana
Pendidikan Matematika pada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas
Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
Disadari sepenuhnya bahwa kemampuan dan pengetahuan penulis sangat
terbatas, maka adanya bimbingan, pengarahan dan dukungan dari berbagai pihak
sangat membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Untuk itu penulis
mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya, kepada yang terhormat :
1. Bapak Prof. Dr. H. Dede Rosyada, M.A, Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan
Keguruan.
2. Ibu Maifalinda Fatra, M.Pd, Ketua Jurusan Pendidikan Matematika.
3. Bapak Otong Suhyanto, M.Si, Sekretaris Jurusan Pendidikan Matematika.
4. Ibu Dra. Afidah Masud, M.Pd, pembimbing II dan penasihat akademik yang
selalu memberikan bimbingan dan pengarahan dalam penulisan skripsi ini
serta memberikan memberikan bimbingan dan nasehat kepada penulis selama
proses perkuliahan..
5. Ibu Lia Kurniawati, M.Pd, pembimbing II yang selalu memberikan bimbingan
dan pengarahan dalam penulisan skripsi ini.
6. Seluruh Dosen dan Staff Jurusan Pendidikan Matematika.
7. Bapak Drs. H. Bisri, MA, kepala MTs Negeri 22 Cilangkap Jakarta Timur
yang telah banyak membantu penulis selama penelitian berlangsung.
8. Ibu Retno Widyastuti, S.Pt, guru pamong tempat penulis mengadakan
penelitian.
9. Ummiku tercinta yang senantiasa memberikan dukungan moril, materil dan
doa yang tulus setiap malam kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
10. Kakak dan adikku tercinta (Aa, Teh Cici, Teteh, Mas Agus, Ceu Icha, Igis dan
Nibros) yang senantiasa memberikan motivasi, dukungan dan semangat
kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

iii

11. Siswa dan siswi kelas VII MTs Negeri 22 Cilangkap Jakarta Timur,
khususnya kelas VII-1 dan VII-2 yang telah bersikap kooperatif selama
penulis mengadakan penelitian.
12. Teman-temanku tercinta, mahasiswa jurusan pendidikan matematika angkatan
2005, semoga kebersamaan kita menjadi kenangan terindah untuk menggapai
kesuksesan dimasa mendatang.
13. Teman-teman seperjuanganku, Irna, Hanny, Liria, Siti Kholilah, Yuni, Dwi,
dan Alif yang selalu memberikan motivasi dan saling bertukar informasi
selama penulisan skripsi ini.
14. Teman-teman LDK khususnya Iam beserta Uda dan Fildza, Riesky, Nilma,
Ida dan Eva.
15. Semua pihak yang telah banyak memberikan bantuan, dorongan dan informasi
yang sangat bermanfaat bagi penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
Semoga Allah SWT dapat menerima sebagai amal kebaikan atas jasa baik
yang diberikan kepada penulis.
Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih banyak kekurangan
karena terbatasnya kemampuan penulis. Untuk itu kritik dan saran yang
membangun sangat penulis harapkan. Mudah-mudahan skripsi ini dapat
bermanfaat bagi penulis khususnya dan umumnya bagi khasanah ilmu
pengetahuan. Amin.

Jakarta, Juli 2010


Penulis

Sakinah Komara

iv

DAFTAR ISI

ABSTRAK ......................................................................................................

ABSTRACT .....................................................................................................

ii

KATA PENGANTAR....................................................................................

iii

DAFTAR ISI...................................................................................................

DAFTAR TABEL ..........................................................................................

viii

DAFTAR GAMBAR......................................................................................

ix

DAFTAR LAMPIRAN ..................................................................................

BAB I

PENDAHULUAN............................................................................

A. Latar Belakang Masalah..............................................................

B. Identifikasi Masalah ....................................................................

C. Pembatasan Masalah ...................................................................

D. Perumusan Masalah ....................................................................

E. Tujuan Penelitian ........................................................................

F. Manfaat Penelitian ......................................................................

BAB II LANDASAN TEORETIK, KERANGKA BERPIKIR DAN


PENGAJUAN HIPOTESIS ..........................................................

A. Landasan Teoretik.......................................................................

1. Pengertian Belajar dan Matematika .....................................

a. Pengertian Belajar ...........................................................

b. Pengertian Matematika....................................................

14

2. Hasil Belajar Matematika......................................................

17

a. Pengertian Hasil Belajar..................................................

17

b. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar ...........

21

3. Model Pembelajaran Kooperatif ..........................................

23

a. Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif ...................

23

b. Tujuan Model Pembelajaran Kooperatif.........................

25

c. Karakteristik Model Pembelajaran Kooperatif ...............

26

d. Kelebihan Model Pembelajaran Kooperatif....................

30

e. Tipe Pair Checks .............................................................

30

4. Model Pembelajaran Klasikal ...............................................

33

B. Kerangka Berpikir.......................................................................

34

C. Pengajuan Hipotesis ....................................................................

35

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ....................................................

36

A. Tempat dan Waktu Penelitian .....................................................

36

B. Populasi dan Sampel Penelitian ..................................................

36

C. Metode dan Desain Penelitian.....................................................

36

D. Teknik Pengumpulan Data..........................................................

37

1. Instrumen Penelitian .............................................................

37

2. Uji Instrumen Tes Penelitian.................................................

39

a. Uji Validitas ....................................................................

39

b. Uji Reliabilitas ................................................................

40

c. Taraf Kesukaran Soal......................................................

41

d. Daya Pembeda Soal.........................................................

41

E. Teknik Analisis Data...................................................................

42

1. Uji Prasyarat Analisis............................................................

42

a. Uji Normalitas...........................................................

42

b. Uji Homogenitas .......................................................

43

2. Uji Hipotesis Statistik ...........................................................

44

F. Hipotesis Stasistis .......................................................................

45

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN .............................

46

A. Deskripsi Data.............................................................................

46

1. Hasil Belajar Matematika Kelas Eksperimen .......................

47

2. Hasil Belajar Matematika Kelas Kontrol ..............................

49

B. Pengujian Persyaratan Analisis ...................................................

52

vi

1. Uji Normalitas.......................................................................

52

a. Uji Normalitas Kelas Eksperimen...................................

52

b. Uji Normalitas Kelas Kontrol .........................................

52

2. Uji Homogenitas ...................................................................

53

C. Pengujian Hipotesis dan Pembahasan.........................................

54

1. Pengujian Hipotesis Penelitian..............................................

54

2. Pembahasan...........................................................................

55

D. Keterbatasan Penelitian...............................................................

57

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN .......................................................

59

A. Kesimpulan .................................................................................

59

B. Saran............................................................................................

60

DAFTAR PUSTAKA .....................................................................................

61

LAMPIRAN-LAMPIRAN ............................................................................

63

vii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Dimensi Kognitif Dalam Taksonomi Bloom yang Telah Direvisi

19

Gambar 2. Proses belajar mengajar..................................................................

21

Gambar 3. Hasil yang Diperoleh Pelajar dari Cooperative Learning ..............

26

Gambar 4. Desain Penelitian............................................................................

37

Gambar 5. Grafik Histogram dan Poligon Distribusi Frekuensi Hasil Belajar


Matematika Kelas Eksperimen .....................................................

50

Gambar 6. Grafik Histogram dan Poligon Distribusi Frekuensi Hasil Belajar


Matematika KelasKontrol .............................................................

52

Gambar 7. Daerah Kritis (Penolakan H0) ........................................................

55

viii

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Langkah-langkah Model Pembelajaran Kooperatif .........................

29

Tabel 2. Klasifikasi Interpretasi Reliabilitas................................................ ..

41

Tabel 3. Klasifikasi Interpretasi Taraf Kesukaran .........................................

42

Tabel 4. Klasifikasi Interpretasi Daya Pembeda ............................................

43

Tabel 5. Perbandingan Hasil Belajar Matematika Kelas Eksperimen dan


Kelas Kontrol ...................................................................................

48

Tabel 6. Distribusi Frekuensi Hasil Belajar Matematika


Kelas Eksperimen.............................................................................

49

Tabel 7. Distribusi Frekuensi Hasil Belajar Matematika


Kelompok Kontrol ...........................................................................

51

Tabel 8. Hasil Perhitungan Uji Normalitas ....................................................

53

Tabel 9. Hasil Perhitungan Uji Homogenitas ................................................

54

Tabel 10. Hasil Perhitungan Uji t.....................................................................

55

ix

DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1.

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)..............................

64

Lampiran 2.

Lembar Kerja Siswa.................................................................

84

Lampiran 3.

Kisi-kisi Instrumen Tes ............................................................ 101

Lampiran 4.

Instrumen Tes........................................................................... 103

Lampiran 5.

Jawaban Instrumen Tes ............................................................ 107

Lampiran 6.

Uji Validitas ............................................................................. 109

Lampiran 7.

Uji Reliabilitas ......................................................................... 111

Lampiran 8.

Uji Taraf Kesukaran................................................................. 113

Lampiran 9.

Uji Daya Pembeda Pilihan Ganda............................................ 115

Lampiran 10. Uji Daya Pembeda Pilihan Uraian ........................................... 117


Lampiran 11. Hasil Perhitungan Validitas, Tingkat Kesukaran Dan
Daya Pembeda..........................................................................

119

Lampiran 12. Hasil Belajar Matematika Kelas Eksperimen .......................... 120


Lampiran 13. Hasil Belajar Matematika Kelas Kontrol ................................. 121
Lampiran 14. Perhitungan Daftar Distribusi Frekuensi Kelas Eksperimen....

122

Lampiran 15. Perhitungan Daftar Distribusi Frekuensi Kelas Kontrol..........

125

Lampiran 16. Perhitungan Uji Normalitas, Uji Homogenitas Dan


Uji Hipotesis Statistik .............................................................. 128
Lampiran 17. Nilai Koefisien Korelasi r Product Moment......................... 130
Lampiran 18. Luas Kurva Di Bawah Normal................................................. 132
Lampiran 19. Nilai Kritis Distribusi Kai Kuadrat (Chi Square) .................... 133
Lampiran 20. Nilai Kritis Distribusi F............................................................ 135
Lampiran 21. Nilai Kritis Distribusi t............................................................. 137

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Di era globalisasi ini, semakin banyak tantangan yang dihadapi dari
segala segi kehidupan. Untuk menghadapi tantangan zaman ini, maka tidak
lepas dari peranan pendidikan. Pendidikan bersifat madal hayah, artinya
pendidikan harus dilakukan sepanjang hidup. Dengan pendidikan, setiap
individu dapat mengoptimalkan kemampuan yang dimilikinya. Sehingga hasil
dari

pendidikan

atau

pengalaman-pengalaman

yang

dialami

dapat

diaplikasikan dalam kehidupan sesuai dengan tantangan zaman.


Salah satu bentuk pendidikan formal adalah sekolah. Sekolah merupakan
tempat siswa menimba ilmu. Di sekolah, siswa diharapkan dapat mencapai
tujuan pembelajaran sesuai dengan kurikulum yang berlaku pada setiap
jenjang pendidikan. Salah satu pelajaran yang ada pada setiap jenjang
pendidikan mulai Sekolah Dasar (SD) sampai Sekolah Menengah Atas (SMA)
bahkan dibangku kuliahpun adalah pelajaran matematika. Selain itu,
matematika juga merupakan salah satu pelajaran yang diujikan pada ujian
nasional pada setiap jenjangnya. Ini pertanda bahwa matematika merupakan
pelajaran yang sangat penting, karena matematika merupakan salah satu cara
untuk mengembangkan kemampuan berpikir dan suatu pertanda intelegensi
manusia. Oleh karena itu, matematika sangat diperlukan baik dalam kehidupan
sehari-hari maupun untuk menghadapi kemajuan Ilmu Pengetahuan dan
Tekhnologi (IPTEK).
Berdasarkan hasil studi TIMSS (Trends in International Mathematics
and Science Study) tahun 2007 untuk siswa kelas VIII, menempatkan siswa
Indonesia pada urutan ke-36 dari 49 negara dengan nilai rata-rata untuk
kemampuan matematika secara umum adalah 397. Nilai tersebut masih jauh
dari standard minimal nilai rata-rata kemampuan matematika yang ditetapkan

TIMSS yaitu 500. Prestasi siswa Indonesia ini berada dibawah siswa Malaysia
dan Singapura. Siswa Malaysia memperoleh nilai rata-rata 474 dan Singapura
memperoleh nilai rata-rata 593. 1 Skala matematika TIMSS-Benchmark
Internasional menunjukkan bahwa siswa Indonesia berada pada peringkat
bawah, Malaysia pada peringkat tengah, dan Singapura berada pada peringkat
atas. Padahal jam pelajaran matematika di Indonesia 136 jam untuk kelas
VIII, lebih banyak dibanding Malaysia yang hanya 123 jam dan Singapura
124 jam. 2
Selain itu ditingkatan nasional, yaitu di DKI Jakarta pada tahun 2008
jumlah siswa SMP yang gagal ujian nasional

meningkat dan tingkat

ketidaklulusan siswa DKI terendah. Mata pelajaran yang diujikan adalah


Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam.
Tingkat ketidaklulusan siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP)
yang mengikuti ujian nasional tahun ini mengalami peningkatan.
Tahun lalu, tingkat ketidaklulusan 6,66 persen, tahun ini menjadi
sebesar 7,25 persen. Berarti terjadi peningkatan ketidaklulusan
sebesar 0,59 persen dari 3.278.884 siswa SMP peserta ujian
nasional tahun 2008. Dibandingkan provinsi lain, tingkat
ketidaklulusan siswa SMP di Provinsi DKI Jakarta paling rendah,
hanya 0,22 persen. Dua provinsi lain dengan persentasi
ketidaklulusan terendah adalah Kalimantan Timur dan Bali,
masing-masing 0,66 persen dan 0,91 persen. 3
Melihat kenyataan tersebut, maka mutu pendidikan di Indonesia
terutama pada pelajaran matematika masih rendah. Dan dengan melihat faktafakta tersebut, tentunya ada faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar
anak didik. Diantara faktor-faktor tersebut yang sangat mempengaruhi adalah
faktor pada proses pembelajaran itu berlangsung di kelas yaitu kemampuan
bagaimana guru mendesain pengajaran yang tepat sesuai dengan materi yang
akan diajarkan. Sehingga akan berpengaruh pada apa yang diperoleh siswa
serta juga akan berpengaruh pada hasil belajarnya.
1

Ina V.S. Mullis, dkk, TIMSS 2007 International Mathematics Report, dari
http://timss.bc.edu/TIMSS2007/techreport.html, 6 September 2009, h. 38.
2
Ina V.S. Mullis, dkk, TIMSS 2007 International h. 195.
3
Admin, Siswa SMP yang Gagal Ujian Meningkat, dari www.republika.co.id, 26
Oktober 2009.

Dalam proses pembelajaran di sekolah atau di kelas, hendaknya guru


memperhatikan kondisi individual dari siswa karena merekalah yang akan
belajar. Selama ini guru hanya memperhatikan kondisi anak didik secara
keseluruhan, tidak perorangan maupun kelompok. Sehingga perbedaan
individual dari anak didik kurang mendapat perhatian. Selain itu, gejala yang
lain dapat dilihat dalam proses pembelajaran selama ini yaitu sebagian besar
guru menggunakan metode pengajaran yang cenderung sama setiap kali proses
pembelajaran berlangsung. Metode yang sering digunakan adalah metode
ceramah. 4 Sehingga dalam proses pembelajaran ini guru dominan yaitu
pengajaran berpusat pada guru (teacher centered). Begitu pula yang terjadi
pada sebagian besar guru matematika.
Dari permasalahan yang telah dipaparkan, maka perlu adanya perubahan
pada proses pembelajaran. Tidak lagi dengan cara yang klasik (pembelajaran
konvensional) yaitu pengajaran berpusat pada guru sehingga pembelajaran di
kelas-kelas terlihat monoton, tetapi dapat dilakukan pembelajaran yang aktif,
kreatif, inovatif, menyenangkan serta dapat mengatasi perbedaan individual
siswa, sehingga pembelajaran dirasakan lebih bermakna bagi siswa.
Penggunaan model pembelajaran yang tepat dapat mendorong
tumbuhnya rasa senang siswa terhadap suatu pelajaran, sehingga akan
meningkatkan

motivasi

dalam

mengerjakan

tugas

dan

memberikan

kemudahan bagi siswa untuk memahami pelajaran sehingga siswa dapat


mencapai hasil belajar yang lebih baik.5 Diantara beberapa model
pembelajaran yang ada, salah satunya adalah pembelajaran kooperatif
(cooperative

learning).

Pembelajaran

kooperatif

digunakan

untuk

mewujudkan kegiatan belajar mengajar yang berpusat pada siswa (student


oriented), terutama untuk mengatasi permasalahan yang ditemukan guru
dalam mengaktifkan siswa, yang tidak dapat bekerja sama dengan orang lain,
siswa yang agresif dan tidak peduli pada yang lain. Model pembelajaran ini

Erman Suherman, Model Belajar dan Pembelajaran Berorientasi Kompetensi Siswa, dari
www.scribd.com, 16 September 2009.
5
Aunurrahman, Belajar dan Pembelajaran, (Bandung: Alfabeta, 2009), h.143.

telah terbukti dapat dipergunakan dalam berbagai mata pelajaran dan berbagai
usia. 6
Dalam Journal for Research in Mathematics Education menyimpulkan
bahwa pembelajaran kooperatif merupakan peralatan yang kuat untuk
meningkatkan kepercayaan diri sebagai seorang pembelajar, pemecah masalah
dan untuk memperkuat integrasi yang sebenarnya diantara berbagai macam
siswa. 7 Maka pembelajaran kooperatif merupakan salah satu alternatif
pengajaran yang dapat diterapkan di sekolah pada pengajaran di kelas,
sehingga dapat meningkatkan kualitas pembelajaran.
Salah satu model pembelajaran kooperatif adalah tipe pair checks.
Tipe ini adalah sebuah model pembelajaran yang dapat melibatkan semua
siswa pada proses pembelajaran. Dalam pembelajaran ini siswa dituntut untuk
saling berbagi atau bekerja sama dari masing-masing kemampuan yang
dimiliki siswa. Pembelajaran kooperatif diharapkan dapat mengoptimalkan
kemampuan atau potensi yang dimiliki siswa dalam mencapai tujuan
pembelajaran sehingga mencapai hasil belajar yang memuaskan sesuai dengan
karakteristik pribadi yang mereka miliki.
Dari latar belakang permasalahan yang telah dipaparkan, dalam
penelitian ini peneliti mengambil sebuah judul yaitu: Pengaruh Model
Pembelajaran Kooperatif Tipe Pair Checks terhadap Hasil Belajar
Matematika Siswa

Isjoni, Cooperative Learning: Mengembangkan Kemampuan Belajar Berkelompok,


(Bandung: Alfabeta, 2009), Cet.II, h.16-17.
7
Sholomo Sharan, Handbook of Cooperative Learning, (Yogyakarta: imperium, 2009),
h.349.

B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka dapat diidentifikasi
masalah sebagai berikut:
1. Guru masih dominan (teacher centered).
2. Sebagian besar guru hanya memperhatikan kondisi anak didik secara
keseluruhan, tidak perorangan maupun kelompok.
3. Sebagian besar guru menggunakan metode pengajaran yang cenderung
sama setiap kali pembelajaran di kelas berlangsung.
4. Hasil belajar matematika siswa masih rendah.

C. Pembatasan Masalah
Melihat sangat luasnya permasalahan yang dihadapi, maka penelitian
ini perlu adanya pembatasan ruang lingkup permasalahan yang akan
dibahas, antara lain:
1. Masalah yang diteliti dibatasi pada pengaruh penerapan model
pembelajaran

kooperatif

dalam

pembelajaran

matematika.

Pengaruhnya dilihat dari perbedaan hasil belajar siswa terhadap


pelajaran matematika yang diajar dengan model pembelajaran
kooperatif dengan siswa yang diajar dengan model pembelajaran
klasikal.
2. Model pembelajaran kooperatif yang digunakan dalam penelitian ini
adalah tipe pair checks. Pada tipe ini guru akan membagi siswa dalam
kelompok-kelompok yang terdiri dari pasangan-pasangan. Guru
memberi worksheet (lembar kerja) dan salah seorang dari pasangan
mengecek jawaban temannya. Setelah itu pasangan bertukar peran
serta mengecek kembali jawabannya temannya. Guru mengevaluasi
jawaban dari masing-masing jawaban kelompok.
3. Siswa yang dimaksud adalah siswa kelas VII MTs 22 Jakarta Timur.
4. Hasil belajar yang dimaksud dibatasi pada aspek kognitif pada pokok
bahasan segitiga.

D. Perumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi dan pembatasan masalah yang telah diuraikan
diatas maka penulis menetapkan perumusan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimanakah hasil belajar matematika siswa yang diajar dengan model
pembelajaran kooperatif tipe pair checks dan siswa yang diajar dengan
model pembelajaran klasikal?
2. Apakah hasil belajar antara siswa yang diajar menggunakan model
pembelajaran kooperatif tipe pair checks lebih tinggi dibandingkan dengan
siswa yang diajar menggunakan model pembelajaran klasikal?

F. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.

Mendeskripsikan hasil belajar matematika siswa yang diajarkan dengan


menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe pair checks.

2.

Mendeskripsikan hasil belajar matematika siswa yang diajarkan dengan


menggunakan model pembelajaran klasikal.

3.

Untuk mengetahui apakah perbedaan hasil belajar matematika siswa yang


diajarkan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe pair checks
dengan siswa yang diajarkan dengan menggunakan model pembelajaran
klasikal.

F. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dari penelitian ini ditujukan kepada siswa, guru,
sekolah dan pembaca, yaitu:
1. Siswa
Pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe
pair checks dapat diterapkan pada pengajaran sekolah. Diharapkan dengan
menggunakan pembelajaran ini dapat meningkatkan kemampuan siswa,
yaitu kemampuan berbagi, kemampuan komunikasi, kemampuan sosial
dan sebagainya. Maka secara tidak langsung akan meningkatkan hasil
belajar siswa.

2. Guru
Penelitian ini dapat menjadi masukan guru yang dapat diterapkan dalam
proses pembelajaran di kelas. Sehingga dapat meningkatkan kualitas
proses belajar mengajar yang akan dilakukan, dan pada akhirnya akan
meningkatkan hasil belajar siswa khususnya pada mata pelajaran
matematika.
3. Sekolah
Untuk pihak sekolah, penelitian ini dapat dijadikan masukan atau rujukan
untuk

mengoptimalkan

pembelajaran

kooperatif

pada

kegiatan

pembelajaran, sehingga dapat meningkatkan kualitas pembelajaran di


sekolah pada khususnya dan mutu pendidikan pada umumnya.
4. Pembaca
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan dan pemahaman
bagi pembaca mengenai model pembelajaran kooperatif tipe pair checks,
sehingga dapat menjadi masukan untuk melakukan penelitian lebih lanjut.

BAB II
LANDASAN TEORETIK, KERANGKA BERPIKIR DAN
PENGAJUAN HIPOTESIS

A. Landasan Teoretik
1. Pengertian Belajar dan Matematika
a. Pengertian Belajar
Untuk mendapatkan ilmu pengetahuan, maka kita tidak bisa lepas
dari belajar. Belajar juga sangat erat kaitannya dengan pendidikan.
Banyak pakar pendidikan mendefinisikan belajar. Menurut Morgan
belajar adalah setiap perubahan yang relatif menetap dalam tingkah
laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman. 1
Sedangkan Sobry Sutikno mengartikan belajar adalah suatu proses
usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk memperoleh suatu
perubahan yang baru sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam
interaksi dengan lingkungannya. 2 Berarti seseorang dikatakan belajar
jika mengalami perubahan sebagai hasil dari pengalaman yang
dialaminya sendiri. Perubahan dalam tingkah laku dapat mengarah
kepada tingkah laku yang lebih baik tetapi dapat juga ke arah yang
lebih buruk. Karena perubahan tingkah laku ini sangat dipengaruhi
oleh interaksi seseorang dengan lingkungannya.
Selain itu, pengertian belajar adalah proses perubahan perilaku,
dimana perubahan perilaku tersebut dilakukan secara sadar dan bersifat
menetap, perubahan perilaku tersebut meliputi perubahan dalam hal

Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2003), Cet.
XIX, h. 84.
2
Pupuh Fathurrahman dan Sobry Sutikno, Strategi Belajar Mengajar: Strategi Mewujudkan
Pembelajaran Bermakna Melalui Konsep Umum & Konsep Islami, (Bandung: PT. Refika
Aditama, 2007), Cet.1, h. 5.

kognitif, afektif, dan psikomotor. 3 Jadi dapat disimpulkan bahwa


belajar adalah proses mendapatkan pengetahuan dengan adanya
perubahan dalam perilaku seseorang yang relatif menetap dan
merupakan hasil dari interaksi dengan lingkungannya. Dengan belajar
seseorang akan mendapatkan sesuatu hal baru yang merupakan hasil
dari kegiatan belajar.
Dari proses belajar maka akan menghasilkan hasil belajar. Untuk
menjadikan kegiatan belajar dapat mencapai hasil yang diinginkan,
maka diperlukan pengetahuan tentang prinsip-prinsip belajar yaitu: 4
1) Prinsip belajar adalah perubahan perilaku
Perubahan perilaku memiliki ciri positif, artinya perubahan
perilaku diharapkan dapat mengarah kepada tingkah laku yang
lebih baik. Untuk dapat dikatakan belajar, maka perubahan itu
membutuhkan waktu yang cukup panjang. Selain itu, setiap
individu harus melakukan sendiri pada proses belajarnya, karena
belajar tidak bisa diwakilkan oleh orang lain. Jadi setiap individu
harus terlibat secara langsung untuk mengalaminya.
2) Belajar merupakan proses
Belajar terjadi karena didorong oleh kebutuhan dan tujuan yang
ingin dicapai. Dalam mencapai tujuan tersebut maka ada proses
yang cukup panjang yang harus dilaluinya. Sehingga proses
tersebut bermakna bagi yang mengalaminya.
3) Belajar merupakan bentuk pengalaman
Dalam proses belajar perubahan perilaku bersifat relatif permanen
atau tetap, yang terjadi karena pengalaman. Pengalaman pada
dasarnya adalah hasil dari interaksi antara siswa dengan
lingkungannya atau hal-hal yang pernah dialami. Maka dalam
belajar, lingkungan sekitar sangat mempengaruhi hasil dari belajar.
3

Asep Herry Hernawan, dkk., Belajar dan Pembelajaran SD, (Bandung: UPI Press, 2007),
Cet.1, h. 2.
4
Agus Suprijono, Cooperative Learning Teori dan Aplikasi PAIKEM, (Yogyakarta: Pustaka
Pelajar, 2009), h. 4.

10

Teori belajar yang bersumber pada aliran-aliran psikologi


memiliki banyak sekali teori. Dalam pendekatan modern secara garis
besar teori belajar menghasilkan dua aliran, yaitu:
1) Teori Behaviorisme
Dalam behaviorisme, belajar merupakan proses pembentukan
antara rangsangan (stimulus) dan balasan (respon). Stimulus yaitu apa
saja yang dapat merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran,
perasaan atau hal-hal yang dapat ditangkap melalui alat indera.
Sedangkan respon adalah reaksi yang dimunculkan siswa ketika
belajar, yang juga dapat berupa pikiran, perasaan atau gerakan
(tindakan). 5 Teori ini disebut behaviorisme karena sangat menekankan
perilaku atau tingkah laku yang dapat diamati.
Salah satu tokoh pada aliran tingkah laku ini adalah Edward L.
Thorndike. Menurut Thorndike, pada hakikatnya belajar merupakan
proses pembentukan hubungan antara stimulus dan respon. Teori
belajar ini disebut teori connectionisme. Dengan memberikan stimulus
maka otomatis siswa akan merespon. Sehingga dengan adanya
stimulus-respon akan memberikan kebiasaan-kebiasaan dalam belajar.
Dengan adanya latihan-latihan maka hubungan stimulus-respon akan
semakin kuat. Dari inilah disebut S-R Bond Theory.
Thorndike dengan S-R Bond Theory menyusun hukum-hukum
belajar sebagai berikut: 6
a) Hukum pengaruh (The law of effect)
Hubungan antara rangsangan dengan perilaku akan semakin kuat
jika terdapat kepuasan. Dengan adanya kepuasan, siswa cenderung
untuk berusaha melakukan atau berusaha mendapatkan hasil yang
baik.

Erna Suwangsih dan Tiurlina, Model Pembelajaran Matematika, (Bandung: UPI Press,
2006), Cet.I, h. 75.
6
Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar, (Jakarta: Bumi Aksara, 2001), h. 39

11

b) Hukum latihan (The law exercise)


Apabila hubungan stimulus dan respon sering terjadi maka
hubungan akan semakin kuat. Dan sebaliknya semakin jarang
hubungan stimulus respon dipergunakan maka hubungannya
semakin lemah. Jadi belajar akan berhasil jika hubungan respon
sering dilakukan, yaitu berupa latihan-latihan.
c) Hukum kesediaan/kesiapan (The law of readiness)
Perbuatan itu akan memberikan kepuasan jika adanya kesiapan,
sebaliknya apabila tidak ada kesiapan akan menimbulkan
ketidakpuasan. Maka dapat disimpulkan bahwa seorang siswa
dapat dikatakan berhasil dalam belajarnya apabila siswa tersebut
telah siap melakukan kegiatan belajar.
Tokoh lainnya dari aliran tingkah laku ini adalah Burrhus
Frederic Skinner. Skinner menayatakan bahwa ganjaran atau
penguatan mempunyai peranan yang sangat penting dalam proses
belajar. Reinforcement atau penguatan diartikan sebagai suatu
konsekuensi perilaku yang memperkuat perilaku tertentu. 7 Teori
reinforcement atau penguatan ini merupakan pengembangan lebih
lanjut dari teori connectionisme.
Dalam teorinya, Skinner menyatakan bahwa penguatan terdiri
atas penguatan positif dan penguatan negatif. Pada penguatan positif,
semakin kuat rangsangan yang diberikan maka semakin kuat dorongan
siswa untuk merespon. Sedangkan pada penguatan negatif ditunjukkan
pada ketidakpuasan siswa dalam tingkah lakunya. Yang termasuk
contoh dari penguatan positif diantaranya adalah seorang siswa dapat
menjawab pertanyaan dalam ujian dengan benar. Guru memberikan
penghargaan berupa nilai tinggi, pujian ataau hadiah. Dengan
diberikan penghargaan tersebut maka siswa akan bersemangat kembali
mengerjakan tugas berikutnya. Jadi respon dapat diperkuat oleh
penghargaan atau hadiah (reward).
7

Agus Suprijono, cooperative Learning , h. 21.

12

Teori behaviorisme ini sering disebut stimulus-respons (S-R)


psikologis artinya bahwa tingkah laku manusia dikendalikan oleh
ganjaran atau reward dan penguatan atau reinforcement dari
lingkungan. Guru yang menganut pandangan ini berpendapat bahwa
tingkah laku anak didik merupakan reaksi terhadap lingkungan dan
tingkah laku adalah hasil belajar. 8 Dalam teori ini hasil belajar akan
lebih baik kalau dilatih secara berulang-ulang.
2) Teori Kognitif
Pada teori belajar kognitif, pengetahuan berasal dari penalaran.
Secara mutlak diperlukan pemahaman dalam belajar. Sehingga dalam
teori ini, seorang siswa dapat dikatakan belajar apabila telah mencapai
pemahaman (understanding). Selain itu, menurut psikologi Gestalt
dalam belajar faktor pemahaman atau pengertian (insight) merupakan
faktor yang sangat penting. 9 Sehingga pemahaman sangat diperlukan
sebagai modal awal dalam belajar. Ada suatu hukum yang terkenal dari
teori Gestalt yaitu hukum Pragnanz yang berati teratur, seimbang dan
harmonis.
Untuk menemukan Pragnanz diperlukan adanya pemahaman
(insight). Ada enam ciri dari belajar pemahaman ini menurut Ernest
Hilgard, yaitu: 10
a) Pemahaman dipengaruhi oleh kemampuan dasar
b) Pemahaman dipengaruhi oleh pengalaman belajar yang lalu
c) Pemahaman tergantung kepada pengaturan situasi
d) Pemahaman didahului oleh usaha coba-coba
e) Belajar dengan pemahaman dapat diulangi
f) Suatu pemahaman dapat diaplikasikan bagi pemahaman situasi lain
Konsep perkembangan kognitif juga dikembangkan oleh Bruner.
Berangkat dari pemahaman bahwa proses belajar adalah adanya
8

Agus Suprijono, cooperative Learning , h. 17.


Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan ..., h. 101.
10
Nana Syaodih Sukmadinata, Landasan Psikologi Proses Pendidikan, (Bandung: PT
Remaja Rosdakarya, 2007), Cet. IV, h. 171.
9

13

pengaruh

kebudayaan

terhadap

tingkah

laku

individu,

maka

perkembangan kognitif individu terjadi melalui tiga tahap yang


ditentukan oleh caranya melihat lingkungan. Tiga tahap tersebut
meliputi: 11
a) Tahap enaktif (enactive)
Dalam tahap ini individu melakukan aktivitas-aktivitas dalam
upaya untuk memahami lingkungan sekitarnya, yaitu dengan
pengetahuan motoriknya.
b) Tahap ikonik (iconic)
Dalam tahap ini individu memahami objek-objek pada tahap
sebelumnya melalui gambar, yaitu bentuk perumpamaan.
c) Tahap simbolik (symbolic)
Pada tahap ini individu telah mampu memiliki ide-ide atau
gagasan-gagasan

abstrak

yang

sangat

dipengaruhi

oleh

kemampuannya dalam berbahasa dan logika. Sehingga telah


memahami lingkungan sekitarnya melalui simbol-simbol bahasa,
logika, matematika dan sebagainya.
Perkembangan

kognitif

yang

digambarkan

oleh

Bruner

merupakan proses penemuan konsep. Sehingga belajar akan berhasil


jika proses pengajaran diarahkan pada konsep-konsep yang terdapat
dalam pokok bahasan yang diajarkan.
Teori kognitif berbeda dengan teori behaviorisme. Teori kognitif
menekankan pada peristiwa mental individu. Sedangkan behaviorisme
menekankan pada hubungan stimulus dan respon secara berulang. Pada
teori kognitif seseorang dapat dikatakan belajar apabila telah
memahami seluruh persoalan secara mendalam. Artinya pemahaman
sangat diperlukan sebagai proses mental seseorang dalam belajar.

11

Agus Suprijono, Cooperative Learning, h. 24

14

b. Pengertian Matematika
Terdapat banyak pendapat mengenai definisi matematika,
sehingga

belum

ada

kesepakatan

mengenai

definisi

tunggal

matematika. Ada yang mengatakan bahwa matematika adalah bahasa


simbol, bahasa numerik, ilmu yang absrtak dan sebagainya.
Matematika berasal dari bahasa Yunani mathematike yang berarti
relating to learning. Perkataan itu, mempunyai akar kata mathema
yang berarti pengetahuan atau ilmu (knowledge, science). Perkataan
mathematike sangat erat hubungannya dengan sebuah kata lainnya
yang serupa, yaitu mathanein yang mengandung arti belajar
(berpikir). 12
Menurut Russeffendi berdasarkan asal katanya, perkataan
matematika berarti ilmu pengetahuan yang didapat dengan berpikir
(bernalar). Matematika lebih menekankan kegiatan dalam dunia rasio
(penalaran), bukan menekankan dari hasil eksperimen atau hasil
observasi matematika terbentuk karena pikiran-pikiran manusia, yang
berhubungan dengan ide, proses, dan penalaran. 13 Jadi berdasarkan
asal katanya, matematika berarti pengetahuan yang diperoleh dengan
berpikir (bernalar).
Beberapa ahli mendefinisikan pengertian tentang matematika.
Diantaranya menurut James dan James dalam kamus matematikanya
mengatakan bahwa matematika adalah ilmu logika mengenai bentuk,
susunan, besaran dan konsep-konsep yang berhubungan satu dengan
yang lainnya dengan jumlah yang banyak yang terbagi dalam tiga
bidang, yaitu aljabar, analisis dan geometri. 14 Sedangkan Soejadi
memandang bahwa matematika merupakan ilmu yang bersifat abstrak,
aksiomatik, dan deduktif. 15
12

Erman Suherman, Common Text Book Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer.


(Bandung: JICA-UPI, 2001), h. 17.
13
Erna Suwangsih, Model Pembelajaran Matematika, h. 3.
14
H. Erman Suherman, Common Text Book ,h. 17.
15
Hamzah B Uno, Model Pembelajaran Menciptakan Proses Belajar Mengajar yang
Kreatif dan Efektif, (Jakarta: Bumi Aksara, 2007), h. 129

15

Seperti dijelaskan bahwa menurut James dan James bahwa


matematika adalah ilmu logika, logika dalam matematika merupakan
dasar terbentuknya matematika. Karena dengan logika atau proses
berpikir terbentuklah konsep-konsep matematika. Agar konsep-konsep
tersebut dapat dipahami dengan

mudah maka digunakan bahasa

matematika atau notasi matematika. Selain itu Soejadi mengatakan


bahwa salah satunya matematika bersifat deduktif. Pola pikir deduktif
disini dapat diartikan sebagai pola pikir dari hal yang bersifat umum
menuju hal yang bersifat khusus. Seorang siswa telah paham mengenai
konsep persegi panjang yang telah diajarkan gurunya di sekolah. Saat
siswa tersebut berada di pameran lukisan, ia dapat membedakan figura
yang berbentuk persegi panjang dengan yang bukan. Maka siswa
tersebut pada waktu menunjuk figura telah menggunakan pola pikir
deduktif yang sederhana.
Salah satu karakteristik matematika adalah memiliki objek kajian
abstrak. Objek dasar itu meliputi:
1) Fakta
Fakta dalam matematika merupakan kesepakatan yang dapat
disajikan dalam bentuk lambang atau simbol. Sebagai contoh,
katadua disimbolkan dengan 2, kata tiga tambah empat
disimbolkan dengan 3+4.
2) Konsep
Adalah ide abstrak yang memungkinkan orang mengelompokkan
objek-objek atau peristiwa-perstiwa ke dalam contoh dan non
contoh. Sebagai contoh geometri trapesium adalah segiempat
yang tepat sepasang sisinya sejajar atau segiempat yang terjadi
jika sebuah segitiga dipotong oleh sebuah garis sejajar salah satu
sisinya disebut trapesium. Dengan adanya konsep tersebut, maka
kita dapat memisahkan apakah bangun tersebut trapesium atau
bukan.

16

3) Keterampilan/Skill
Maksud dari keterampilan disini adalah kemampuan memberikan
jawaban yang benar. Misalnya dalam aritmetika-aljabar adalah
penjumlahan, pengurangan, pengambilan akar dan masih banyak
lagi. Sedangkan contoh dalam geometri adalah membagi dua sama
besar sebuah sudut, menjumlahkan ukuran dua sudut.
4) Prinsip
Prinsip dalam matematika merupakan objek dasar matematika yang
paling kompleks karena dapat memuat fakta, konsep dan skill.
Prinsip ini dapat berupa teorema, lemma, sifat, hukum, dan
sebagainya. Contohnya ialah, dua buah segitiga sama dan
sebangun bila dua sisi yang seletak dan sudut apitnya kongruen.
Aspek penilaian yang terdapat dalam pembelajaran matematika
atau disebut juga daya matematis siswa terbagi menjadi 4 bagian, yaitu
pemacahan masalah (problem solving), komunikasi (communication),
penalaran (reasoning) dan koneksi (connections). 16 Untuk mencapai
aspek penilaian tersebut dibutuhkan proses yang panjang. Sehingga
dalam pembelajaran matematika perlu adanya proses pembelajaran
yang tepat agar daya matematis siswa dapat berkembang sesuai dengan
yang diharapkan.
Matematika merupakan mata pelajaran yang selalu ada pada
setiap jenjangnya. Artinya matematika memiliki peranan penting bagi
ilmu pengetahuan. Sebagai contoh, didalam kehidupan ini kita tidak
bisa lepas dari matematika. Salah satu cabang dari matematika adalah
aritmatika atau berhitung. Dalam transaksi jual beli, menghitung lama
perjalanan, maka kita memerlukan proses perhitungan. Begitu juga di
Islam untuk mengerjakan shalat lima waktu, memberikan zakat,
membagi harta waris (mawaris) perlu perhitungan yang tepat. Selain
16

Mumun Syaban, Menumbuhkembangkan Daya Matematis Siswa, dari


http://educare.e-fkipunla.net/index.php?option=com_content&task=view&id=62&Itemid=7, 27
Januari 2010, h. 2

17

itu, pada abad ke-21 ini perkembangan matematika telah dimanfaatkan


oleh beberapa negara maju dalam meningkatkan dan menguasai
tekhnologi.

2. Hasil Belajar Matematika


a. Pengertian Hasil Belajar
Dari proses belajar maka akan menghasilkan hasil belajar.
Selama ini hasil belajar merupakan cerminan dari keberhasilan proses
belajar yang dilakukan. Hasil belajar dapat dijelaskan dengan
memahami dua kata yang membentuknya, yaitu hasil dan belajar.
Pengertian hasil (product) menunjuk pada suatu perolehan akibat
dilakukannya suatu aktivitas atau proses yang mengakibatkan
berubahnya input secara fungsional. 17
Menurut pendapat Nana Sudjana bahwa hasil belajar adalah
kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima
pengalaman belajarnya. 18 Sedangkan Soedijarto mendefinisikan hasil
belajar sebagai tingkat penguasaan yang dicapai oleh siswa dalam
mengikuti proses belajar mengajar sesuai dengan tujuan pendidikan
yang diterapkan. 19 Tingkat penguasaan atau hasil yang diperoleh dari
proses belajar adalah perubahan-perubahan dalam berbagai aspek yaitu
aspek berpikir (cognitive), aspek kemampuan merasakan (afective) dan
aspek keterampilan (psychomotoric).
Ketiga aspek hasil belajar tersebut diklasifikasi oleh Benyamin
Bloom secara garis besar terbaginya menjadi tiga ranah, yaitu: 20
1) Ranah kognitif (al-Nahiyah al-Fikriyah)
Dari ketiga aspek hasil belajar tersebut aspek kognitiflah yang
paling sering digunakan untuk mengukur hasil belajar. Menurut
17

Purwanto, Evaluasi Hasil Belaja, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009), Cet. I, h. 44.
Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, (Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya, 2004), Cet.IX, h. 22.
19
Purwanto, Evaluasi Hasil Belajar, ...h. 46.
20
Anas Sudijono, Pengantar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,
2005), Cet I, Ed. 1, h. 49.
18

18

taksonomi Bloom yang telah direvisi, proses kognitif terdapat enam


jenjang yaitu mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis,
mengevaluasi dan menciptakan (berkreasi). 21
Keenam jenjang tersebut adalah sebagai berikut:
a) Mengingat ( C1 ) adalah mengingat kembali pengetahuan yang
pernah tersimpan Mengingat ini merupakan proses berpikir yang
paling rendah.
b) Memahami ( C 2 ) adalah kemampuan seseorang untuk mengerti
atau memahami sesuatu setelah sesuatu itu diketahui dan diingat.
Dengan kata lain, memahami adalah mengetahui tentang sesuatu
dan dapat melihatnya dari berbagai segi. Seorang peserta didik
dikatakan memahami sesuatu apabila ia dapat memberikan
penjelasan atau memberi uraian yang lebih rinci tentang hal itu
dengan kata-katanya sendiri.
c) Menerapkan

( C3 )

adalah

kesanggupan

seseorang

untuk

menerapkan atau menggunakan ide-ide umum, tata cara ataupun


metode-metode, prinsip-prinsip, rumus-rumus, teori-teori, dan
sebagainya, dalam situasi baru dan konkret.
d) Menganalisis ( C 4 ) adalah kemampuan seseorang untuk merinci
atau menguraikan suatu bahan atau keadaan menurut bagian-bagian
yang lebih kecil dan mampu memahami hubungan diantara bagianbagian atau faktor-faktor yang satu dengan yang lain.
e) Mengevaluasi ( C 5 ) adalah menguraikan bahan/materi kedalam
berbagai bagiannya dan menentukan bagaimana antar bagian
terkait satu dengan lainnya serta bagaimana keseluruhan terpadu
dalam mencapai tujuan.
f) Menciptakan/berkreasi ( C 6 ) adalah membuat penilaian sesuatu
berdasarkan standar atau kriteria. Kata kunci dari berkreasi adalah
21

Richard I. Arends, Learning to Teach-Belajar untuk mengajar, (Yogyakarta: Pustaka


Pelajar, 2008), Ed.7, h.85.

19

merancang,

membangun,

merencanakan,

memproduksi,

menemukan, memperbaharui, menyempurnakan, memperkuat, dsb

Evaluasi

Level
tinggi

Kreasi

Sintesis

Evaluasi

Analisis

Analisis

Aplikasi

Level
rendah

Level
tinggi

Aplikasi

Pemahaman

Pemahaman

Ingatan

Ingatan

Level
rendah

Gambar 1. Dimensi Kognitif Dalam Taksonomi Bloom


Yang Telah Direvisi
(Sumber: http://www.hilman.web.id)
Dari berbagai aspek dan setelah melalui revisi, taksonomi Bloom
tetap menggambarkan suatu proses pembelajaran, cara kita memproses
suatu informasi sehingga dapat dimanfaatkan dalam kehidupan seharihari. Beberapa prinsip didalamnya adalah : 22

Sebelum kita memahami sebuah konsep maka kita harus


mengingatnya terlebih dahulu.

Sebelum kita menerapkan maka kita harus memahaminya terlebih


dahulu.

Sebelum kita mengevaluasi dampaknya maka kita harus mengukur


atau menilai.

Sebelum kita berkreasi sesuatu maka kita harus mengingat,


memahami, mengaplikasikan, menganalisis dan mengevaluasi,
serta memperbaharui.

22

n.n, Revisi Taksonomi Bloom atau Revised Bloom Taxonomy


http://www.hilman.web.id/posting/blog/852/revisi-taksonomi-bloom-atau-revised-bloomtaxonomy.html, 6 mei 2010, 15:14 WIB.

darii

20

2) Ranah Afektif (al-Nahiyah al-Mauqifiyah)


Taksonomi untuk daerah afektif mula-mula dikembangkan oleh
David R. Krathwohl dan kawan-kawan (1974) dalam buku yang
berjudul Taxonomy of Educational Objectives: Afective Domain.
Ranah afektif adalah ranah yang berkaitan dengan sikap dan nilai.
Beberapa pakar mengatakan bahwa sikap seseorang dapat diramalkan
perubahannya bila seseorang telah memiliki penguasaan kognitif
tingkat tinggi. Ciri-ciri hasil belajar afektif akan tampak pada peserta
didik dalam berbagai tingkah laku.
3) Ranah Psikomotor (Nahiyah al-harakah)
Ranah psikomotor adalah ranah yang berkaitan dengan
keterampilan (skill) atau kemampuan bertindak setelah seseorang
menerima pengalaman belajar tertentu. Hasil belajar ranah psikomotor
dikemukakan oleh Simpson (1956) yang menyatakan bahwa hasil
belajar psikomotor ini tampak dalam bentuk keterampilan (skill) dan
kemampuan bertindak individu. Hasil belajar psikomotor ini
sebenarnya merupakan kelanjutan hasil belajar kognitif dan afektif.
Hasil belajar kognitif dan afektif akan menjadi hasil belajar psikomotor
apabila peserta didik telah menunjukkan perilaku atau perbuatan
tertentu sesuai dengan makna yang terkandung dalam ranah kognitif
dan afektifnya.
Adapun hasil belajar itu dikatakan benar-benar baik, apabila
memiliki ciri-ciri sebagai berikut:23
1) Hasil itu tahan lama dan dapat digunakan dalam kehidupan oleh
siswa. Dalam hal ini guru akan senantiasa membimbing dan
melatih siswanya dengan baik. Jika hasil pengajaran yang
diberikan itu tidak tahan lama, berarti pengajaran tersebut tidak
efektif.

23

Sardiman A.M., Interaksi & Motivasi Belajar Mengajar, (Jakarta: PT Rajagrafindo


Persada, 2009), Ed. 1, h. 49.

21

2) Hasil

itu

merupakan

pengetahuan

asli

atau

otentik.

Pengetahuan yang didapat dari proses pengajaran itu merupakan


bagian

dari

kepribadian

mempengaruhi

setiap

pandangannya

siswa.

dalam

Sehingga

menghadapi

akan
suatu

permasalahan. Sebab pengetahuan yang didapat dirasakan lebih


bermakna oleh siswa.
Bukti bahwa seseorang itu telah belajar adalah terjadinya
perubahan dari tidak tahu menjadi tahu dan dari tidak mengerti
menjadi mengerti. Hasil belajar merupakan pencapaian tujuan
pendidikan pada siswa yang mengikuti proses belajar. Selain itu hasil
belajar merupakan realisasi tercapainya tujuan pendidikan, sehingga
hasil belajar yang diukur tergantung kepada tujuan pendidikannya.

b. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar


Pada proses belajar mengajar tentunya ada faktor-faktor yang
mempengaruhinya. Untuk mengetahui faktor-faktor tersebut maka
perlu dianalisis, untuk menemukan persoalan-persoalan apa yang
terlibat di dalam kegiatan belajar. Kegiatan belajar mengajar dapat
digambarkan sebagai berikut:
2
Insrtumental input/
Masukan alat
1
Raw input/
Masukan mentah

4
Proses pengajaran

5
Hasil
langsung

3
Lingkungan

Gambar 2. Proses belajar mengajar


(Sumber : Sardiman 2009: 51)

6
Hasil
akhir

22

Keterangan:
1. Masukan mentah/ raw input: siswa/subjek belajar.
2. Masukan alat/ instrumental input, terdiri: tenaga, fasilitas,
kurikulum, sistem administrasi dan lain-lain.
3. Lingkungan: antara lain keluarga, masyarakat, sekolah.
4. Proses pengajaran, merupakan proses interaksi anatara unsur
raw input, instrumental input dan juga pengaruh lingkungan.
5. Hasil langsung: merupakan tingkah laku siswa setelah belajar
melalui proses belajar-mengajar, sesuai dengan materi/bahan
yang dipelajarinya.
6. Hasil akhir: merupakan sikap dan tingkah laku siswa setelah
ada dalam masyarakat.
Siswa dalam hal ini sebagai subjek belajar yang diberi
pengalaman belajar dalam proses pengajaran. Proses belajar mengajar
dapat dipengaruhi oleh masukan mentah/ raw input, masukan alat/
instrumental input dan lingkungan. Siswa sebagai raw input
mempunyai karakteristik, baik fisiologis maupun psikologis. Yang
dimaksud fisiologis adalah bagaimana kondisi fisiknya, panca indera
dan sebagainya. Sedangkan yang termasuk psikologis adalah
minatnya, tingkat kecerdasannya, bakatnya, motivasinya, kemampuan
kognitifnya dan sebagainya. Karakteristik yang dimiliki siswa juga
dapat mempengaruhi proses serta hasil belajarnya.
Selain itu, yang mempengaruhi proses serta hasil belajar adalah
instrumental input dan lingkungan. Yang termasuk instrumental input
adalah tenaga, fasilitas, kurikulum, sistem administrasi dan lain-lain.
Instrumental input inilah yang sangat mempengaruhi proses dan hasil
belajar. Karena instrumental input yang sangat menetukan bagaimana
proses belajar mengajar dirasakan oleh siswa.
Setelah proses pengajaran berlangsung maka ada sesuatu yang
dihasilkan. Hasil langsung dari proses pengajaran adalah berupa
tingkah laku sesuai dengan materi/ bahan yang diajarkan. Materi yang

23

diajarkan terdiri dari indikator-indikator, aspek hasil belajar yang


sering diukur adalah pada aspek berpikir (ranah kognitif). Dan pada
hasil akhirnya akan tercermin pada sikap dan tingkah laku siswa
setelah ada dalam masyarakat.

3. Model Pembelajaran Kooperatif


a. Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif
Model pembelajaran merupakan satu kesatuan yang utuh antara
pendekatan, strategi, metode, teknik dan bahkan taktik pembelajaran.
Pada dasarnya model pembelajaran merupakan bentuk pembelajaran
yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh
guru. Dengan kata lain, model pembelajaran merupakan bungkus atau
bingkai dari penerapan suatu pendekatan, metode, dan teknik
pembelajaran. 24 Pada kamus Inggris-Indonesia karangan John M.
Echols dan Hassan Shadily, kooperatif (cooperative) artinya
bekerjasama. 25 Sedangkan secara etimologi pembelajaran kooperatif
(cooperative learning) mempunyai arti belajar bersama antara dua
orang atau lebih. Sedangkan pembelajaran kooperatif dalam artian
yang lebih luas memiliki definisi yang antara lain adalah belajar
bersama yang melibatkan antara 4-5 orang, yang bekerja bersama
menuju kelompok kerja dimana tiap anggota bertanggungjawab secara
individu sebagai bagian dari hasil yang tak akan bisa dicapai tanpa
adanya kerjasama antar kelompok. Dengan kata lain, anggota
kelompok saling ketergantung positif. 26
Dilihat dari definisi tersebut, model pembelajaran kooperatif
mengandung pengertian berpikir bersama dalam kelompok dan saling
membantu antar sesama dalam menyelesaikan tugas. Selain itu model
24

Akhmad Sudrajat, Pengertian Pendekatan, Strategi, Metode, Teknik, Taktik, dan Model
Pembelajaran
dari
http://www.psb-psma.org/content/blog/pengertian-pendekatan-strategimetode-taktik-dan-model-pembelajaran, 21 Agustus 2010, 13.31 WIB.
25
John M. Echols dan Hassan Shadily, Kamus Inggris- Indonesia: An English-Indonesian
Dictionary, (Jakarta: PT Gramedia, 1996), Cet. XXIII, h. 147.
26
Junaedi, Strategi Pembelajaran, ( Lapis PGMI, 2008), Edisi 1.

24

pembelajaran kooperatif dapat mengembangan kemampuan berpikir


kritis, kemampuan komunikasi, kemampuan sosial dan sebagainya,
yang pada akhirnya akan mempengaruhi hasil belajar siswa ke arah
yang lebih baik.
Adapun ciri-ciri model pembelajaran kooperatif adalah sebagai
berikut: 27
1) Siswa bekerja dalam kelompok untuk mencapai tujuan belajar.
2) Kelompok-kelompok dibentuk terdiri dari siswa yang mempunyai
kemampuan rendah, sedang, dan tinggi.
3) Bila memungkinkan, kelompok-kelompok terdiri dari ras, budaya
dan jenis kelamin yang beragam.
4) Sistem reward-nya berorientasi pada kelompok maupun individu.
Pada model pembelajaran kooperatif, keberhasilan tidak sematamata diperoleh dari guru, tetapi juga keterampilan yang dilakukan oleh
siswa. Untuk mencapai keberhasilan yang optimal, maka sangat
dipengaruhi oleh keterlibatan anggota dari masing-masing kelompok.
Lungdren menyusun keterampilan-keterampilan kooperatif tersebut
secara terinci dalam tiga tingkatan keterampilan, yaitu: 28
1) Keterampilan kooperatif tingkat awal, antara lain:
a) Berada dalam tugas, yaitu menjalankan tugas sesuai dengan
tanggung jawabnya.
b) Mengambil giliran dan berbagi tugas, yaitu menggantikan
teman dengan tugas tertentu dan mengambil tanggung jawab
tertentu dalam kelompok.
c) Mendorong adanya partisipasi, yaitu

memotivasi semua

anggota kelompok untuk berkontribusi.


d) Menggunakan kesepakatan, yaitu menyamakan pendapat
(persepsi).
2) Keterampilan kooperatif tingkat menengah, antara lain:
27

Richard I. Arends, Learning to Teach , h. 5.


Trianto, Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik, (Jakarta:
Prestasi Pustaka Publisher, 2007), Cet. I, h. 46.
28

25

a) Mendengarkan dengan aktif


b) Bertanya, yaitu meminta atau menyampaikan kemabali
informasi.
c) Menafsirkan, yaitu menyampaikan kembali informasi dengan
kalimat yang berbeda.
d) Memeriksa

ketepatan,

yaitu

membandingkan

jawaban,

memastikan bahwa jawaban tersebut benar.


3) Keterampilan kooperatif tingkat mahir
Keterampilan kooperatif pada tingkat mahir yaitu mengelaborasi,
artinya

memperluas

konsep,

membuat

kesimpulan

dan

menghubungkan pendapat-pendapat dengan topik tertentu.

b. Tujuan Model Pembelajaran Kooperatif


Tujuan

model

pembelajaran

kooperatif

berbeda

dengan

kelompok tradisional. Pada kelompok tradisional hal yang terlihat


adalah kompetisi antar siswa, artinya sesama siswa tidak saling peduli.
Sedangkan tujuan dari model pembelajaran kooperatif adalah
menciptakan situasi di mana keberhasilan individu ditentukan atau
dipengaruhi oleh keberhasilan kelompoknya.
Pada dasarnya model pembelajaran kooperatif dikembangkan
untuk mencapai setidak-tidaknya tiga tujuan pembelajaran penting,
yaitu : 29
1)

Hasil belajar akademik


Salah satu aspek penting model pembelajaran kooperatif
adalah bahwa selain membantu meningkatkan perilaku kooperatif
dan hubungan kelompok yang lebih baik diantara para siswa, pada
saat yang sama ia juga membantu siswa dalam pembelajaran
akademiknya.

Para

pengembang

model

ini

juga

telah

menunjukkan, model struktur penghargaan kooperatif telah dapat


29

Isjoni, Cooperative Learning-Mengembangkan Kemampuan Belajar Berkelompok,


(Bandung : Alfabeta, 2009), Cet. 2, h. 27.

26

meningkatkan nilai siswa pada belajar akademik dan perubahan


norma yang berhubungan dengan hasil belajar.
2)

Penerimaan terhadap perbedaan individu


Model pembelajaran kooperatif mempunyai efek terhadap
penerimaan yang luas terhadap keragaman ras, budaya dan agama,
strata sosial, kemampuan, dan ketidakmampuan. Pembelajaran
kooperatif memberikan peluang kepada siswa yang berbeda latar
belakang dan kondisi untuk bekerja saling bergantung satu sama
lain atas tugas-tugas bersama, dan melalui penggunaan struktur
penghargaan kooperatif, belajar untuk menghargai satu sama lain.

3)

Pengembangan keterampilan sosial


Tujuan penting ketiga dari pembelajaran kooperatif adalah
mengajarkan kepada siswa keterampilan bekerja sama dan
kolaborasi. Keterampilan-keterampilan sosial penting dimiliki
karena manusia adalah makhluk sosial. Falsafah ini menekankan
bahwa manusia adalah makhluk sosial.
Dari tujuan pembelajaran kooperatif dapat digambarkan
sebagai berikut:
Prestasi akademis
Cooperative
learning
Toleransi dan
penerimaan
keanekaragaman

Gambar 3. Hasil yang Diperoleh Pelajar dari Cooperative Learning


(Sumber : Richard I Arends 2009: 5)

27

c. Karakteristik Pembelajaran Kooperatif


Untuk mencapai hasil yang maksimal, lima karakteristik dalam
model pembelajaran kooperatif harus diterapkan. Lima karakteristik
tersebut adalah sebagai berikut : 30
1) Saling Ketergantungan Positif (Positive Interdependence)
Saling

ketergantungan

positif

menunjukkan

bahwa

pembelajaran kooperatif ada dua pertanggungjawaban kelompok.


Pertama, mempelajari bahan yang ditugaskan kepada kelompok.
Kedua, menjamin semua anggota kelompok secara individu
mempelajari bahan yang ditugaskan.
Beberapa cara membangun saling ketergantungan positif
yaitu:
a) Menumbuhkan

perasaan

peserta

didik

bahwa

dirinya

merupakan bagian dalam kelompok, pencapaian tujuan terjadi


jika semua anggota kelompok mencapai tujuan. Peserta didik
harus bekerja sama untuk mencapai tujuan.
b) Mengusahakan agar semua anggota kelompok mendapatkan
penghargaan yang sama jika kelompok mereka berhasil
mencapai tujuan.
c) Mengatur sedemikian rupa sehingga peserta didik belum dapat
menyelesaikan tugas, sebelum mereka menyatukan perolehan
tugas mereka menjadi satu.
d) Setiap peserta didik ditugasi dengan tugas atau peran yang
saling mendukung dan saling berhubungan, saling melengkapi,
dan saling terikat dengan peserta didik lain dalam kelompok.
2) Tanggung Jawab Perseorangan (Personal responsibility)
Tujuan dari kelompok belajar kooperatif adalah membuat
tiap-tiap anggota menjadi individu yang lebih kuat. Tanggung
jawab perseorangan adalah kunci untuk menjamin semua anggota
yang diperkuat oleh kegiatan belajar bersama. Artinya mereka
30

Agus Suprijono, cooperative Learning , h. 58.

28

harus dapat menyelesaikan tugas yang sama. Beberapa cara


menumbuhkan tanggung jawab perseorangan adalah sebagai
berikut :
a) Kelompok belajar jangan terlalu besar.
b) Melakukan assesmen terhadap setiap siswa.
c) Memberi tugas kepada setiap siswa, yang dipilih secara random
untuk mempresentasikan hasil kelompoknya kepada guru
maupun kepada seluruh peserta didik didepan kelas.
d) Mengamati setiap kelompok dan mencatat frekuensi individu
dalam membantu kelompok.
e) Menugasi seorang anak didik untuk berperan sebagai
pemeriksa di kelompoknya.
f) Menugasi anak didik mengajar temannya.
3). Interaksi Promotif (Face to Face Promotive Interaction)
Yaitu interaksi yang langsung terjadi antar siswa tanpa
adanya perantara. Ciri-ciri interaksi promotif adalah:
a) Saling membantu secara efektif dan efisien.
b) Saling memberi informasi dan sarana yang diperlukan.
c) Memproses informasi bersama secara lebih efektif dan efisien.
d) Saling mengingatkan
e) Saling membantu dalam merumuskan dan mengembangkan
argumentasi

serta

meningkatkan

kemampuan

wawasan

terhadap masalah yang dihadapi.


f) Saling percaya.
g) Saling memotivasi untuk memperoleh keberhasilan bersama.
4).

Komunikasi antaranggota (Interpersonal Skill)


Diantara tujuan pembelajaran kooperatif adalah melatih anak
didik untuk mampu berpartisipasi aktif dan berkomunikasi. Untuk
dapat mencapai tujuan peserta didik harus:
a) Saling mengenal dan memercayai.
b) Mampu berkomunikasi secara akurat dan tidak ambisius.

29

c) Saling menerima dan saling mendukung.


d) Mampu menyelesaikan konflik secara tepat.
5). Pemrosesan kelompok (Group processing)
Tujuan

pemrosesan

kelompok

adalah

meningkatkan

efektivitas anggota dalam memberikan konstribusi terhadap


kegiatan kolaboratif untuk mencapai tujuan kelompok. Untuk
peserta didik dalam struktur tugas, struktur tujuan, dan struktur
reward-nya.

Struktur

tugas

berhubungan

bagaimana

tugas

diorganisir. Sedangkan struktur tujuan dan reward mengacu pada


kerjasama yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan maupun
reward.
Ada kekhawatiran dalam pembelajaran kooperatif bahwa
pelaksanaan di kelas akan menimbulkan kekacauan atau membuat
siswa tidak aktif. Maka perlu menerapkan lima karakteristik yang telah
dijelaskan. Selain itu, guru perlu memahami langkah-langkah model
pembelajaran kooperatif. Terdapat enam fase

pada pembelajaran

kooperatif yaitu sebagai berikut: 31


Tabel 1. Langkah-langkah Model Pembelajaran Kooperatif
Fase fase
FASE 1
Menyampaikan tujuan dan
memotivasi siswa
FASE 2
Menyajikan informasi
FASE 3
Mengorganisasikan siswa
ke dalam kelompok-kelompok
belajar
FASE 4
Membimbing kelompok bekerja
dan belajar

31

Tingkah Laku Guru


Guru menyampaikan tujuan pelajaran yang
ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan
memotivasi siswa belajar.
Guru menyajikan kepada siswa dengan jalan
demontsrasi atau lewat bahan bacaan.
Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana
caranya membentuk kelompok belajar dan
membantu setiap kelompok agar melakukan
transisi secara efesien
Guru
membimbing
kelompok-kelompok
belajar pada saat mereka mengerjakan tugas
mereka.

Trianto, Model-model Pembelajaran , h. 48.

30

FASE 5
Evaluasi
FASE 6
Memberikan penghargaan

Guru mengevaluasi hasil belajar tentang


materi yang telah dipelajari atau masingmasing kelompok mempersentasikan hasil
kerjanya.
Guru mencari cara-cara untuk menghargai
baik upaya maupun hasil belajar individu dan
kelompok.

d. Kelebihan Model Pembelajaran Kooperatif


Dengan menerapkan pembelajaran kooperatif siswa memiliki
banyak keuntungan yang dirasakan. Beberapa kelebihan ketika
pembelajaran kooperatif diterapkan dengan baik, diantaranya sebagai
berikut :
1)

Dalam pembelajaran kooperatif siswa dapat saling bekerja sama


sehingga saling ketergantungan positif. Tidak dengan pembelajaran
tradisional yaitu terjadinya kompetisi antar siswa yang lebih
mementingkan diri sendiri.

2)

Dapat melibatkan siswa secara aktif dalam mengembangkan


pengetahuan, sikap dan keterampilan dalam suasana belajar
mengajar yang bersifat terbuka dan demokratis.

3)

Dapat mengembangkan dan melatih berbagai sikap, nilai dan


keterampilan-keterampilan

sosial

untuk

diterapkan

dalam

kehidupan di masyarakat.
4)

Penghargaan lebih berorientasi kepada kelompok daripada


individu.

5)

Pembelajaran kooperatif mendorong komunikasi antar siswa, dan


hasilnya adalah pembelajaran yang lebih baik dan hubungan antar
individu yang semakin membaik.

6)

Pembelajaran kooperatif merupakan suatu sistem pembelajaran


yang kuat untuk meningkatkan kepercayaan diri sebagai seorang
pembelajar dan pemecah masalah dan lebih menghargai dengan
adanya keanekaragaman dari berbagai siswa.

31

e. Tipe Pair Checks


Dalam buku handbook of cooperatif learning karangan Shlomo
Sharan dijelaskan bahwa untuk memulai menggunakan pembelajaran
kooperatif dalam kelas matematika SMP, guru bisa memulai dengan
beberapa struktur kooperatif yang bisa mendorong interaksi siswa.
Berikut ini adalah pembelajaran kooperatif yang direkomendasikan
oleh Shlomo Sharan untuk pengajaran matematika SMP yang
bermanfaat untuk digunakan dalam bidang matematika umum, kelas
al-jabar dan geometri. Diantaranya yaitu : 32
1) Wawancara 3 tahap
2) Jigsaw
3) Numbered Head Together (NHT)
4) Think Pair Share (TPS)
5) Group Investigation (GI)
6) Pemecahan Masalah kelompok
7) Round Table
8) Berbagai Potongan
9) Pengecekan Pasangan (Pair checks)
Di dalam kelas terdapat berbagai macam siswa, baik dari segi
kemampuan maupun karakteristik masing-masing siswa. Dengan
perbedaan tersebut dapat saling melengkapi. Seringkali terdapat siswa
yang mendominasi dalam proses pembelajaran, mereka melakukannya
dengan sengaja dan tidak mengerti bahwa perilakunya tersebut akan
berpengaruh pada temannya atau pada pekerjaan kelompoknya. Siswasiswa ini perlu belajar tentang nilai berbagi dan tata cara mengekang
perilaku dominatifnya.
Salah satu cara untuk membantu siswa-siswa yang mendominasi
adalah dengan belajar keterampilan berbagi yaitu dengan bekerja
berpasangan dan menerapkan pembelajaran kooperatif tipe pair
32

362.

Sholomo Sharan, Handbook of Cooperative Learning, (Yogyakarta: imperium, 2009), h.

32

checks. Langkah-langkah pair checks yang dideskripsikan disini


meliputi delapan langkah yang direkomendasikan oleh Kagan
diantaranya pairwork (bekerja berpasangan), coach checks (pelatih
mengecek), coach praises (pelatih memberi pujian), partner switch
roles (bertukar peran), pair check (pasangan mengecek) dan team
celebrate (perayaan kelompok). 33
Langkah-langkah tersebut dijelaskan sebagai berikut:
Langkah 1 : Pairwork (Bekerja berpasangan)
Siswa didalam kelas dibagi menjadi kelompokkelompok.
menjadi

Kelompok-kelompok
pasangan-pasangan.

tersebut

Didalam

terbagi

kelompok-

kelompok beranggotakan empat orang, setiap pasangan


memiliki dua peran; penyaji (pemecah masalah) dan
coach (pelatih). Salah seorang diantara masing-masing
pasangan mengerjakan worksheet atau soal sementara
pasangannya mengamati dengan cermat, memberi atau
mencatat kesalahan yang muncul.
Langkah 2 : Coach checks (Pelatih mengecek)
Pada

langkah

ini

coach

memeriksa

pekerjaan

pasangannya. Bila coach dan penyaji tidak sepakat


tentang jawaban atau idenya, mereka meminta pendapat
pasangan lain dalam satu kelompok.
Langkah 3 : Coach praises (Pelatih memberi pujian)
Bila pasangan sepakat, maka coach memberikan pujian
agar suasana lebih menarik.
Langkah 4-6: Partner switch roles (Bertukar peran)
Setelah selesai mengecek, maka pasangan itu bergantian
peran. Ulangi langkah 1 sampai 3.
Langkah 7 : Pair check (Pasangan mengecek)

33

Richard I. Arends, Learning to Teach.h.29.

33

Seluruh pasangan berkumpul lagi dan membandingkan


jawaban-jawaban mereka untuk melihat apakah mereka
sepakat. Selain itu, guru mengarahkan jawaban atau ide
sesuai konsep.
Langkah 8 : Team celebrate (Perayaan kelompok)
Bila semua anggota kelompok setuju jawabannya, maka
para anggota kelompok saling bersalaman dengan
gerakan tertentu atau bersorak tanda setuju dengan katakata tertentu yang membuat mereka semangat. Selain
itu, guru memberikan penghargaan kepada kelompok
yang jawabannya benar.
Dengan melihat langkah-langkah pembelajaran kooperatif tipe
pair checks, siswa dapat saling berbagi tentang kemampuan
kognitifnya, meningkatkan kemampuan komunikasi, meningkatkan
kemampuan sosialnya sesama anggota kelompok dan sebagainya.
Selain itu pada pembelajaran kooperatif tipe pair checks ini dapat
terjadi meningkatan kemampuan berpikir yang tadinya tidak tahu
menjadi tahu atau pengetahuannya yang dimiliki keliru. Seperti
dijelaskan pada langkah-langkah pair checks yaitu pada langkah
pertama ketika pasangan lain sedang mengamati pekerjaan temannya.
Sehingga dalam pengamatan tersebut jika ada pengerjaan temannya
yang menurutnya salah tetapi setelah diamati ternyata jawabannya
benar maka coach akan mendapatkan pengetahuan yang baru. Dengan
adanya pengetahuan yang baru maka akan berpengaruh pada hasil
belajar kearah yang positif atau lebih baik.

4. Model Pembelajaran Klasikal


Pada model pembelajaran klasikal, istilah klasikal dapat diartikan
sebagai secara klasik yang menyatakan bahwa kondisi yang sudah lama
terjadi, dapat juga diartikan sebagai bersifat kelas. Jadi pembelajaran
klasikal berarti pembelajaran konvensial yang biasa dilakukan di kelas

34

selama ini, yaitu pembelajaran yang memandang siswa berkemampuan


tidak berbeda sehingga mereka mendapat pelajaran secara bersama,
dengan cara yang sama dalam satu kelas sekaligus. Metodenya cenderung
menggunakan metode tanya jawab dan metode ceramah. Sehingga guru
terlihat sangat mendominasi pada proses pembelajaran di kelas. 34
Sehingga pembelajaran tersebut terlihat hanya satu arah, yaitu guru
memberikan informasi.

B. Kerangka Berpikir
Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang dianggap oleh
para siswa di sekolah, yaitu dengan rumus-rumus atau persoalan dalam
matematika terlalu banyak dan sukar untuk dipahami. Selain itu siswa merasa
cepat bosan dengan pembelajaran matematika yang monoton, akibatnya siswa
cenderung tidak menyukai pelajaran matematika.
Agar hal tersebut dapat tidak terus berulang maka para guru matematika
selalu mencoba dan terus berusaha mencari model pembelajaran yang tepat
yang sesuai dengan materi dalam matematika. Para guru juga selalu berusaha
kreatif mencari strategi pembelajaran yang menarik sehingga dapat
menumbuhkan minat siswa untuk lebih menyenangi pelajaran matematika
sehingga dapat mencapai keberhasilan yang terus membaik dan dapat
mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari.
Untuk mencapai tujuan pembelajaran tersebut, guru dapat memilih
model pembelajaran yang tepat dalam proses pembelajarannya. Salah suatu
model pembelajarannya adalah model pembelajaran kooperatif. Dalam model
pembelajaran kooperatif mencakup kelompok-kelompok kecil siswa yang
bekerja

sebagai

sebuah

tim

untuk

menyelesaikan

suatu

masalah,

menyelesaikan suatu tugas atau mengerjakan sesuatu untuk mencapai tujuan


bersama, sehingga siswa lebih mudah menemukan dan memakai konsepkonsep yang sulit.

34

Erman Suherman, Common Text Book ,h. 17.

35

Pembelajaran kooperatif tipe pair checks merupakan salah satu


pembelajaran kooperatif yang bisa digunakan untuk memajukan pembentukan
kelompok, mendengarkan aktif, berpikir, saling berbagi dan berpartisipasi.
Siswa bergantian dalam berkontribusi dalam kelompoknya masing-masing,
pembelajaran ini juga merupakan pembelajaran yang menyenangkan dan
menarik dengan lebih mementingkan proses untuk mendapatkan hasil belajar
matematika yang lebih baik. Hal itu menunjukkan pembelajaran kooperatif
tipe pair checks merupakan suatu langkah yang tepat untuk meningkatkan
hasil belajar matematika siswa.
Berdasarkan pemikiran tersebut, maka model pembelajaran kooperatif
tipe pair checks dapat mengoptimalkan hasil belajar siswa khususnya pada
pelajaran matematika. Dengan demikian dapat diduga bahwa model
pembelajaran kooperatif tipe pair checks mempengaruhi hasil belajar
matematika siswa.

C. Pengajuan Hipotesis
Berdasarkan landasan teoretik yang telah diuraikan, maka peneliti
mengajukan hipotesis penelitian sebagai berikut: Rata-rata hasil belajar siswa
yang diajar menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe pair checks
lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata hasil belajar siswa yang diajar
menggunakan model pembelajaran klasikal.

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu Penelitian


1. Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di MTs Negeri 22 yang beralamat di Jl. Buni
Cilangkap kecamatan Cipayung Jakarta Timur
2. Waktu penelitian
Penelitian dilaksanakan pada semester genap tahun ajaran 2009/2010 pada
bulan Mei sampai dengan bulan Juni.

B. Populasi dan Sampel Penelitian


Populasi target dalam penelitian ini adalah siswa MTs Negeri 22
Jakarta, sedangkan populasi terjangkau dalam penelitian ini adalah siswa kelas
VII MTs Negeri 22 Jakarta. Teknik pengambilan sampel yang digunakan
dalam penelitian ini yaitu cluster random sampling, yaitu pemilihan sampel
bukan didasarkan pada individual, tetapi pada kelompok subjek yang secara
alami berkumpul bersama. Setelah dilakukan sampling terhadap empat kelas
yang ada, diperoleh sampel secara random adalah kelas VII-1 sebagai
kelompok eksperimen kelas VII-2 sebagai kelompok kontrol.

C. Metode dan Desain Penelitian


Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuasi eksperimen
yaitu metode yang tidak memungkinkan peneliti melakukan pengontrolan
secara penuh terhadap variabel-variabel luar yang mempengaruhi pelaksanaan
eksperimen.

Pada

kelas

eksperimen

dalam

proses

pembelajarannya

menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe pair checks. Sedangkan


pada kelas kontrol menggunakan model pembelajaran klasikal.

36

37

Desain penelitian yang digunakan adalah The Post-test Only Control


Group Design: 1

O1

R
K

O2

Gambar 4. Desain Penelitian

Keterangan:
E

: Kelompok eksperimen

: Kelompok kontrol

: Random

: Perlakuan

O1

: Hasil post-test kelompok eksperimen

O2

: Hasil post-test kelompok kontrol


Desain ini terdiri dari dua kelompok yang dipilih secara random.

Kelompok pertama (kelompok eksperimen) diberi perlakuan (X) yaitu model


pembelajaran kooperatif tipe pair checks, sedangkan kelompok kedua
(kelompok kontrol) tidak diberi perlakuan tersebut. Peneliti menggunakan
desain ini dimaksudkan untuk mengetahui perbedaan hasil belajar matematika
siswa dengan yang diberi treatment (perlakuan) dengan yang tidak diberi
perlakuan.

Sehingga

pengaruh

perlakuan

tersebut

dapat

dianalisis

menggunakan uji beda, yaitu menggunakan statistik t-test.

D. Teknik Pengumpulan Data


1. Instrumen Penelitian
Penelitian ini menggunakan instrumen tes berbentuk pilihan ganda
sebanyak 15 soal dan tes uraian sebanyak 5 soal untuk mengukur hasil
belajar matematika siswa pada pokok bahasan segitiga. Aspek yang diukur
1

Gempur Santoso, Metodologi Penelitian, (Jakarta: Prestasi Pustaka, 2005), Cet. I. h. 38.

38

dalam penelitian ini adalah pada aspek kognitif, yaitu dibatasi pada aspek
pengetahuan ( C1 ), pemahaman ( C 2 ) dan penerapan ( C 3 ). Kisi-kisi
instrumen tes tersebut adalah sebagai berikut:
Standar Kompetensi : Memahami konsep segi empat dan segitiga serta
menentukan ukurannya.
No

Indikator

C1

Membedakan jenisjenis segitiga


berdasarkan sisi atau
sudutnya.
Mengunakan
jumlah sudut segitiga
yaitu 180.

C3

Essay

C1 = Ingatan

PG

2*

6*

Essay

10

1
2*

11*

12*

13

14*

15*

4*

5*

1
5

Skor
Total skor

Keterangan:

Skor

Menghitung keliling
dan luas segitiga dan
menggunakannya
untuk pemecahan
masalah dalam
kehidupan sehari-hari.
Membedakan garis
tinggi, garis bagi,
garis berat, dan garis
sumbu
Melukis segitiga
dengan jangka dan
penggaris.

PG

Menghitung keliling
dan luas segitiga.

C2

Menyelesaikan soal
mengenai sudut dalam
dan sudut luar
segitiga.

Nomor
soal

Kemampuan

C2 = Pemahaman

5
15

25
40

C3 = Aplikasi

PG = Pilihan Ganda (*) butir soal yang tidak valid

39

Untuk memenuhi persyaratan tes yang baik, maka terlebih dahulu


diujicobakan. Tes ini akan diujicobakan kepada kelas VIII-1. Setelah
diujicobakan, maka data tersebut dianalisis pada setiap butir soal untuk
mengetahui validitas, reliabilitas, taraf kesukaran butir soal, dan daya
pembeda butir soal.

2. Uji Instrumen Tes Penelitian


a. Uji Validitas
Data sebagai alat ukur hasil belajar matematika siswa perlu
dilakukan uji validitas. Valid berarti instrumen tersebut dapat
mengukur apa yang seharusnya diukur. Validitas yang digunakan
adalah validitas item, yaitu ketepatan mengukur yang dimiliki oleh
sebutir item dalam mengukur apa yang seharusnya diukur lewat butir
item tersebut.
Pengujian validitas item menggunakan rumus product moment
dari Pearson sebagai berikut: 2

rxy =

n XY ( X )( Y )

{n X 2 ( X ) }{n Y 2 ( Y ) }
2

Keterangan:

rxy = koefisien validitas instrumen


n = banyaknya subyek

X = skor-skor item
Y = skor total item
Dengan ketentuan:
Jika rhitung rtabel , maka item ke-i dinyatakan tidak valid.
Jika rhitung > rtabel , maka item ke-i dinyatakan valid.
2

Suharsimi Arikunto, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2005),


Edisi revisi, cet. V, h. 72.

40

b. Uji Reliabilitas
Suatu instrumen dikatakan reliabel apabila instrumen tersebut
konsisten dalam memberikan penilaian atas apa yang diukur.
Pengujian reliabilitas untuk instrumen yang mempunyai skor butir
dikotomi (misalnya soal bentuk objektif dengan skor butir soal 0 atau
1) maupun skor butir kontinum (misalnya soal bentuk uraian),
menggunakan rumus reliabilitas Hoyt yaitu: 3

rkk =

RJK b RJK e
RJK b

Keterangan:

rkk = koefisien reliabilitas


RJK b = rata-rata jumlah kuadrat baris
RJK e = rata-rata jumlah kuadrat error
Klasifikasi interpretasi reliabilitas yang digunakan adalah sebagai
berikut: 4
Tabel 2. Klasifikasi Interpretasi Reliabilitas

Nilai Korelasi

Interpretasi

r11 0,20

Tidak ada korelasi

0,20 < r11 0,40

Korelasi rendah

0,40 < r11 0,70

Korelasi sedang

0,70 < r11 0,90

Korelasi tinggi

0,90 < r11 < 1,00

Korelasi sangat tinggi

r11 = 1,00

Korelasi sempurna

Djaali dan Pudji Muljono, Pengukuran Dalam Bidang Pendidikan, (Jakarta: PPS UNJ,
2004), Cet. II, h.79
4
M. Subana dan Sudrajat, Dasar-Dasar Penelitian Penelitian Ilmiah, (Bandung: Pustaka
Setia, 2005), cet. II , h. 132

41

c. Taraf Kesukaran Soal


Tingkat kesukaran untuk setiap item soal menunjukkan apakah
butir soal itu tergolong sukar, sedang atau mudah. Taraf kesukaran tiap
butir soal ditentukan dengan rumus: 5

P=

B
JS

Keterangan:
P = Indeks kesukaran
B = Banyaknya seluruh siswa yang menjawab soal itu dengan
benar.
JS = Jumlah seluruh siswa peserta tes.

Tolak ukur untuk menginterpretasikan taraf kesukaran tiap


butir soal digunakan kriteria sebagai berikut: 6
Tabel 3. Klasifikasi Interpretasi Taraf Kesukaran
Nilai Dp

Interpretasi

P = 0,00

Sangat sukar

0,00 < P 0,30

Sukar

0,30 < P 0,70

Sedang

0,70 < P 1,00

Mudah

P = 1,00

Sangat mudah

d. Daya Pembeda Soal


Daya pembeda tiap butir soal ditentukan dengan rumus: 7

DP =

B A BB

JA JB

Suharsimi Arikunto, Dasar-dasar ... h. 208.


M. Subana dan Sudrajat, Dasar-Dasar Penelitian Ilmiah, (Bandung: Pustaka Setia,
2005), Cet. II, h. 134.
7
Suharsimi Arikunto, Dasar-dasar, h. 213
6

42

Keterangan:

Dp = Indeks daya pembeda suatu butir soal


BA = Banyaknya siswa kelompok atas yang menjawab benar
BB = Banyaknya siswa kelompok bawah yang menjawab benar
JA = Banyaknya siswa pada kelompok atas
JB = Banyaknya siswa pada kelompok bawah
Tolak ukur untuk menginterpretasikan daya pembeda tiap butir
soal digunakan kriteria sebagai berikut: 8
Tabel 4. Klasifikasi Interpretasi Daya Pembeda
Nilai Dp

Interpretasi

Dp = 0,00

Sangat jelek

0,00 < Dp 0,20

Jelek

0,20 < Dp 0,40

Cukup

0,40 < Dp 0,70

Baik

0,70 < Dp 1,00

Sangat baik

E. Teknik Analisis Data


Data yang telah diperoleh dilakukan uji prasyarat analisis dan uji
hipotesis. Uji prasyarat analisis terdiri dari uji normalitas dan uji homogenitas.
1. Uji Prasyarat Analisis
a. Uji Normalitas
Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah populasi
berdistribusi normal atau tidak. Pengujian ini menggunakan statistik
uji cih kuadrat dengan rumus sebagai berikut:9

=
2

8
9

(oi ei ) 2
ei

M. Subana dan Sudrajat, Dasar-Dasar..., h. 135.


M. Subana dan Sudrajat, Dasar-dasar, h. 149 150.

43

Keterangan:

2 = statistik uji chi kuadrat


oi = frekuensi pengamatan ke-i
ei = frekuensi harapan ke-i
Tolak H 0 jika 2 > 2 ,k 3 berarti populasi tidak berdistribusi normal.
Terima H 0 jika 2 < 2 ,k 3 berarti populasi berdistribusi normal.

2 ,k 3 diperoleh berdasarkan tabel 2 dengan peluang 1- dan


derajat kebebasan dk=k-3 dengan k menyatakan banyak kelas interval.
Jika populasi tidak berdistribusi normal

maka data diuji

menggunakan statistik nonparametrik yaitu dengan menggunakan uji

Mann Whitney atau dengan menggunakan uji Wilcoxon.


b. Uji Homogenitas
Uji homogenitas digunakan untuk menguji kesaman varians dari
skor pada kedua kelompok. Uji homogenitas dilakukan dengan
menggunakan uji F. Rumusnya sebagai berikut: 10

F=

Varians terbesar
Varians terkecil

n X i ( X i ) 2
2

dimana S

n(n 1)

keterangan: S1 = varians terbesar


2

S 2 = varians terkecil
Jika Fhitung Ftabel maka H 0 diterima berarti varians kedua populasi
homogen.
Jika Fhitung > Ftabel maka H 0 ditolak berarti varians kedua populasi
tidak homogen

10

Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R & D, (Bandung: Alfabeta,


2008), Cet. V, h.275.

44

2. Uji Hipotesis Statistik

Setelah dilakukan uji prasyarat analisis data dan kedua persyaratan


terpenuhi,

selanjutnya

dilakukan

uji

hipotesis

statistik

dengan

menggunakan uji t.
Rumus uji t: 11
t=

X1 X 2
S gab

dk = (n1 + n 2 2)

1
1
+
n1 n2

Jika data berdistribusi normal namun tidak homogen maka hipotesis


statistik dilakukan dengan menggunakan uji t. Rumusnya adalah sebagai
berikut: 12

t'=

X1 X 2
2

dk =

S1
S
+ 2
n1
n2

S1 2 S 2 2

n + n
2
1

S1 2
S22

n2
n 2

+
n1 1
n2 1

Keterangan:
t

= harga uji statistik

X1

= skor rata-rata hasil belajar matematika siswa yang belajar


menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe pair checks.

X 2 = skor rata-rata hasil belajar matematika siswa yang belajar


menggunakan model pembelajaran klasikal.
S gab = varian gabungan
n1

= jumlah sampel kelas eksperimen

n2

= jumlah sampel kelas kontrol

11
12

Sudjana, Metoda Statistika Metoda Statistika, (Bandung: Tarsito, 2005), Cet. III,h. 239.
M. Subana dan Sudrajat, Dasar-dasar..., h.165-166.

45

Tolak H 0 jika thitung ttabel atau terima H 0 jika t hitung < t tabel
t tabel diperoleh dari tabel distribusi t dengan peluang 1- dan derajat
kebebasan dk= n1 + n2 2 .

F. Hipotesis Statistik
Perumusan hipotesis statistik adalah sebagai berikut:
H0

1 = 2

H1

1 > 2

Keterangan:

1 =

rata-rata hasil belajar matematika kelas yang menggunakan model


pembelajaran kooperatif tipe pair checks.

2 =

rata-rata hasil belajar matematika kelas yang menggunakan model


pembelajaran klasikal.

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Data
Penelitian ini dilakukan di MTs Negeri 22 Cilangkap Jakarta Timur.
Sampel dalam penelitian ini terdiri dari 2 kelas yaitu kelas VII-1 dan kelas
VII-2. Kelas VII-1 sebagai kelas eksperimen diajarkan dengan menggunakan
pembelajaran kooperatif tipe pair checks, sedangkan kelas VII-2 sebagai kelas
kontrol diajarkan dengan menggunakan pembelajaran klasikal. Pokok bahasan
matematika yang diajarkan kepada siswa pada penelitian ini adalah segitiga.
Untuk mengukur hasil belajar matematika kelas eksperimen dan kelas kontrol,
kedua kelas tersebut diberikan tes berbentuk pilihan ganda dan uraian pada
pertemuan terakhir yaitu pertemuan yang ke-9. Sebelum tes tersebut diberikan,
terlebih dahulu dilakukan uji coba instrumen. Soal yang diujicobakan
sebanyak 15 soal untuk pilihan ganda dan 5 soal untuk uraian, uji coba
dilakukan pada siswa kelas VIII-1.
Setelah dilakukan uji coba instrumen selanjutnya dilakukan uji
validitas, uji reliabilitas, uji indeks kesukaran butir soal dan uji daya pembeda
butir soal. Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh 7 butir soal pilihan ganda
dan 4 butir soal uraian yang valid (lampiran 6) dengan reliabilitas soal pilihan
ganda sebesar 0,65 (lampiran 7). Dari perhitungan uji indeks kesukaran butir
soal untuk pilihan ganda diperoleh 3 butir soal dengan kriteria mudah dan 3
butir soal dengan kriteria sedang (lampiran 8). Sedangkan untuk soal uraian
diperoleh 2 butir dengan kriteria mudah, 1 butir soal dengan kriteria sedang
dan 1 butir soal dengan kriteria sukar (lampiran 8). Untuk perhitungan uji daya
pembeda butir soal pilihan ganda diperoleh 1 butir soal dengan kriteria sangat
baik, 1 butir soal dengan kriteria baik, 1 butir soal dengan kriteria cukup dan 2
butir soal dengan kriteria jelek (lampiran 9). Sedangkan untuk soal uraian

46

47

diperoleh 1 butir soal dengan kriteria sangat baik, 1 butir soal dengan kriteria
baik dan 2 butir soal dengan kriteria cukup (lampiran 10).
Butir-butir soal yang valid selanjutnya dijadikan instrumen penelitian
dan hasilnya dapat dideskripsikan sebagai berikut:
Tabel 5. Perbandingan Hasil Belajar Matematika
Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol
Statistik

Kelas Eksperimen

Kelas Kontrol

Banyak sampel

42

42

Mean

72,21

64,79

Median

68,32

77,32

Modus

81,95

74,91

Varians

270,94

386,37

Simpangan Baku

16,46

19,66

Kemiringan

-0,59

-0,64

Ketajaman/Kurtosis

2,06

2,72

1. Hasil Belajar Matematika Kelas Eksperimen


Berdasarkan hasil perhitungan data penelitian mengenai hasil
belajar matematika kelas eksperimen, dari 42 siswa yang dijadikan sampel
diperoleh nilai terendah 33 dan nilai tertinggi 100. Kemiringan sebesar 0,59 (model kurva miring ke kiri) artinya sebaran data kelompok
eksperimen miring ke kiri atau nilai hasil belajar kelas eksperimen
cenderung berkumpul pada kelompok tinggi. Nilai kurtosisnya sebesar
2,06 (distribusi platikurtik atau bentuk kurva mendatar) sehingga nilai
rata-ratanya tersebar secara merata. Perhitungan selengkapnya terdapat
pada lampiran 14. Distribusi frekuensi hasil belajar matematika kelas
eksperimen dapat dilihat pada tabel berikut:

48

Tabel 6. Distribusi Frekuensi Hasil belajar Matematika


Kelas Eksperimen
Frekuensi
No

Interval

Absolut
(fi)

Relatif f
(%)

Kumulatif
(fk)

29 40

2,38

41 52

11,9

53 - 64

19,05

14

65 76

19,05

22

77 - 88

13

30,95

35

89 - 100

16,67

42

Dari tabel di atas, dapat dilihat bahwa banyak kelas interval adalah
6 kelas dengan panjang tiap interval kelas adalah 12. Nilai yang paling
banyak diperoleh siswa kelas eksperimen terletak pada interval 77 88
yaitu sebesar 30,95%, sedangkan nilai yang paling sedikit diperoleh siswa
kelas eksperimen terletak pada interval 29 40 yaitu sebesar 2,38%. Siswa
yang mendapat nilai di atas rata-rata yaitu sebesar 47,62%, sedangkan
siswa yang mendapat nilai di bawah rata-rata yaitu sebesar 33,33%.
Distribusi frekuensi hasil belajar matematika kelas eksperimen tersebut
dapat ditunjukkan pada grafik histogram dan poligon berikut:

49

Frekuensi
13

8
7

1
28,5

40,5

52,5

64,5

76,5

88,5

100,5

Nilai

Gambar 5. Grafik Histogram dan Poligon


Distribusi Frekuensi Hasil Belajar Matematika Kelas Eksperimen

2. Hasil Belajar Matematika Kelas Kontrol


Berdasarkan hasil perhitungan data penelitian mengenai hasil
belajar matematika kelas kontrol, dari 42 siswa yang dijadikan sampel
diperoleh nilai terendah 12 dan nilai tertinggi 99. Kemiringan sebesar 0,64 (model kurva miring ke kiri) artinya sebaran data kelompok kontrol
miring ke kiri atau nilai hasil belajar kelas kontrol cenderung berkumpul

50

pada kelompok tinggi. Nilai kurtosisnya sebesar 2,72 (distribusi platikurtik


atau bentuk kurva mendatar) sehingga nilai rata-ratanya tersebar secara
merata. Perhitungan selengkapnya terdapat pada lampiran 15. Distribusi
frekuensi hasil belajar matematika siswa kelas kontrol dapat dilihat pada
tabel berikut
Tabel 7. Distribusi Frekuensi Hasil Belajar Matematika
Kelas Kontrol
Frekuensi
No

Interval

Absolut
(fi)

Relatif
f (%)

Kumulatif
(fk)

11 25

4,76

25 40

9,52

41 55

11,9

11

56 70

11

26,19

22

71 85

16

38,1

38

86 100

9,52

42

Dari tabel di atas, dapat dilihat bahwa banyak kelas interval adalah
6 kelas dengan panjang tiap interval kelas adalah 15. Nilai yang paling
banyak terletak pada interval 71 85 yaitu sebesar 38,1%, sedangkan nilai
yang paling sedikit terletak pada interval 11 - 25 yaitu sebesar 4,76%.
Siswa yang mendapat nilai di atas rata-rata yaitu sebesar 47,62%,
sedangkan siswa yang mendapat nilai di bawah rata-rata yaitu sebesar
26,18%. Distribusi frekuensi hasil belajar matematika kelas kontrol
tersebut dapat ditunjukkan dalam grafik histogram dan poligon berikut:

51

Frekuensi
16

11

5
4

10,5

25,5

40,5

55,5

70,5

85,5

100,5

Nilai

Gambar 6. Grafik Histogram dan Poligon


Distribusi Frekuensi Hasil Belajar Matematika Kelas Kontrol

52

B. Pengujian Persyaratan Analisis


Setelah data dideskripsikan, kemudian dilakukan perhitungan statistik
uji persyaratan analisis. Uji persyaratan analisis terdiri dari uji normalitas dan
uji homogenitas.
1. Uji Normalitas
Dalam penelitian ini, uji normalitas yang digunakan adalah uji kai
kuadrat (chi square). Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah
data berasal dari populasi yang berdistribusi normal atau tidak, dengan
ketentuan bahwa data berasal dari populasi yang berdistribusi normal jika
memenuhi kriteria 2hitung < 2tabel diukur pada taraf signifikansi dan tingkat
kepercayaan tertentu.
a. Uji Normalitas Kelas Eksperimen
Dari hasil perhitungan uji normalitas hasil belajar matematika
kelas eksperimen, diperoleh harga 2hitung = 3,71 , sedangkan dari tabel
harga kritis uji kai kuadrat (chi square) diperoleh 2tabel untuk jumlah
sampel 42 pada taraf signifikansi = 5% adalah 7,82. Karena 2hitung
kurang dari 2tabel (3,71 < 7,82), maka H0 diterima, artinya data pada
kelas eksperimen berasal dari populasi yang berdistribusi normal.
Perhitungan selengkapnya terdapat pada lampiran 16.
b. Uji Normalitas Kelas Kontrol
Dari hasil perhitungan uji normalitas hasil belajar matematika
kelas kontrol, diperoleh harga 2hitung = 7,34, sedangkan dari tabel
harga kritis uji kai kuadrat (chi square) diperoleh 2tabel untuk jumlah
sampel 42 pada taraf signifikansi = 5% adalah 7,82. Hasil
perhitungan tersebut menunjukkan 2hitung kurang dari 2tabel (7,34 <
7,82), maka H0 diterima, artinya data pada kelas kontrol berasal dari
populasi yang berdistribusi normal. Perhitungan selengkapnya terdapat
pada lampiran 16.

53

Hasil perhitungan uji normalitas kelas eksperimen dan kelas


kontrol dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 8. Hasil Perhitungan Uji Normalitas
Kelas

2hitung

Eksperimen

42

3,71

2tabel
( = 5%)
7,82

Kontrol

42

7,34

7,82

Kesimpulan
Data berasal dari populasi
yang berdistribusi normal

2. Uji Homogenitas
Uji homogenitas atau uji kesamaan dua varians digunakan untuk
mengetahui apakah kedua kelompok sampel berasal dari populasi yang
sama (homogen) atau tidak. Dalam penelitian ini, uji homogenitas yang
digunakan adalah uji Fisher. Kriteria pengujian yang digunakan yaitu,
kedua kelompok dikatakan homogen apabila Fhitung Ftabel diukur pada
taraf signifikansi dan tingkat kepercayaan tertentu.
Dari hasil perhitungan uji homogenitas diperoleh harga Fhitung =
1,43, sedangkan Ftabel = 1,86 pada taraf signifikansi = 5% dengan
derajat kebebasan pembilang 41 dan derajat kebebasan penyebut 41. Hasil
perhitungan tersebut menunjukkan Fhitung Ftabel maka H0 diterima, artinya
kedua kelompok sampel berasal dari populasi yang sama atau homogen.
Perhitungan selengkapnya terdapat pada lampiran 16.
Hasil perhitungan uji homogenitas dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 9. Hasil Perhitungan Uji Homogenitas
Kelas

Eksperimen

42

Kontrol

42

Fhitung

Ftabel

1,43

1,86

Kesimpulan
Sampel berasal dari populasi
yang sama atau homogen

54

C. Pengujian Hipotesis dan Pembahasan


Setelah dilakukan uji prasyarat analisis, selanjutnya dilakukan
pengujian hipotesis. Pengujian hipotesis dilakukan untuk mengetahui apakah
rata-rata hasil belajar matematika kelas eksperimen yang diajarkan dengan
pembelajaran kooperatif tipe pair checks lebih tinggi dibandingkan dengan
rata-rata hasil belajar kelas kontrol yang diajarkan dengan pembelajaran
klasikal.
1. Pengujian Hipotesis
Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai
berikut:

H0

1 = 2

H1

1 > 2

Keterangan:
1

rata-rata hasil belajar matematika siswa pada kelas eksperimen

rata-rata hasil belajar matematika siswa pada kelas kontrol


Pengujian hipotesis tersebut diuji dengan uji t, dengan kriteria

pengujian yaitu, jika thitung < ttabel maka H0 diterima dan H1 ditolak.
Sedangkan, jika thitung ttabel maka H1 diterima dan H0 ditolak, pada taraf
kepercayaan 95% atau taraf signifikansi = 5%. Berdasarkan hasil
perhitungan, diperoleh thitung sebesar 1,88 dan ttabel sebesar 1,66 (lampiran
16). Hasil perhitungan tersebut menunjukkan bahwa thitung ttabel (1,88
1,66). Dengan demikian, H0 ditolak dan H1 diterima, atau dengan kata lain
rata-rata hasil belajar matematika siswa pada kelas eksperimen lebih tinggi
dari rata-rata hasil belajar matematika siswa pada kelas kontrol. Hasil
perhitungan uji t tersebut dapat dilihat pada tabel berikut:

55

Tabel 10. Hasil Perhitungan Uji t


thitung

ttabel

Kesimpulan

1,88

1,66

Tolak H0

Daerah kritis ditunjukkan pada pada gambar di bawah ini:

Daerah
penerimaan H0

1,66 1,88

Gambar 7. Daerah Kritis (Penolakan H0)

2. Pembahasan
Berdasarkan pengujian hipotesis yang telah dilakukan diperoleh
bahwa t hit berada diluar daerah penerimaan H 0 atau dengan kata lain H 0
ditolak. Dengan demikian, hipotesis alternatif

(H 1 )

yang menyatakan

bahwa rata-rata hasil belajar matematika siswa yang diberi model


pembelajaran kooperatif tipe pair checks lebih tinggi dibandingkan dengan
yang diberi model pembelajaran klasikal diterima pada taraf signifikan
5%.
Berdasarkan pengamatan pada saat meneliti kelas eksperimen yaitu
kelas VII-1, proses tersebut dapat dilihat bahwa siswa dituntut untuk
saling berbagi dalam kemampuan kognitifnya sehingga terjadi saling tukar
pendapat (sharing) dan melatih kemampuan komunikasi. Pada proses
saling berbagi terlihat siswa yang berkemampuan tinggi bisa saling
berbagi sehingga siswa lain tidak sungkan bertanya dengan temannya yang
lebih mengerti dan pada proses ini terjadi interaksi siswa yang menjadikan
siswa lebih aktif dalam proses pembelajaran. Setiap siswa juga dituntut
untuk memiliki tanggung jawab terhadap tugasnya masing-masing karena

56

tugas

yang

diberikan

berbeda-beda

maka

mempersiapkan diri (belajar) sebelum proses

siswa

dituntut

untuk

pembelajaran dimulai.

Selain itu pada pembelajaran kooperatif tipe pair checks yaitu pada saat
pengecekan pengerjaan pasangannya dapat meningkatkan kemampuan
berpikir siswa, yang tadinya tidak tahu menjadi tahu atau pengetahuannya
yang dimiliki sebelumnya keliru yaitu dengan mengamati pengerjaan
temannya serta dengan menilai kebenaran jawaban temannya. Selain itu
pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan keterampilan sosial siswa
yaitu mengajarkan kepada siswa keterampilan bekerja sama, saling
membantu dan meningkatkan rasa percaya diri. Pembelajaran kooperatif
juga mengajarkan siswa untuk saling menghargai satu sama lain dan
mendorong komunikasi antar siswa sehingga hubungan antar siswa
semakin baik.
Disamping itu, peneliti juga mengalami kendala saat proses
pembelajaran berlangsung. Jika ada siswa yang tidak hadir, maka terdapat
siswa yang tidak ada pasangannya, sehingga siswa tersebut bergantian
dengan pasangan lain dalam satu kelompok. Jumlah siswa di kelas VII-2
sebanyak 42 sehingga peneliti kesulitan untuk mengontrol masing-masing
kelompok maupun individu selama proses berkelompok berlangsung.
Kendala lain yang dihadapi peneliti adalah tidak tersedianya alat
pembelajaran seperti jangka dan penggaris kayu. Alat ini dipergunakan
saat materi pembelajaran melukis segitiga, sehingga peneliti menggunakan
alat tersebut dengan ukuran yang kurang besar.
Untuk hasil penelitian pada kelas kontrol yaitu kelas VII-2,
pembelajaran dilakukan dengan pembelajaran klasikal. Guru mendominasi
pada proses pembelajaran di kelas. Siswa hanya duduk diam
mendengarkan penjelasan guru sehingga kurang terjadi interaksi antara
siswa dan guru. Hanya siswa tertentu saja yang melakukan interaksi tanya
jawab dengan guru, sedangkan siswa lain pasif dalam mengikuti
pembelajaran.

57

Dari hasil penelitian diperoleh bahwa rata-rata


matematika

siswa

yang

diajarkan

dengan

hasil belajar

menggunakan

model

pembelajaran kooperatif tipe pair checks lebih tinggi daripada rata-rata


hasil belajar matematika siswa yang diajarkan dengan menggunakan
model pembelajaran klasikal. Dalam hal ini karena pembelajaran
kooperatif tipe pair checks menjadikan pemahaman siswa lebih
berkembang karena pada proses pembelajaran guru tidak memberikan
penjelasan materi terlebih dahulu. Pada proses pembelajaran ini, siswa
terlibat langsung (learning by doing) sehingga membuat proses
pembelajaran lebih bermakna bagi mereka.

D. Keterbatasan Penelitian
Penulis menyadari penelitian ini belum sempurna. Meskipun berbagai
upaya telah dilakukan dalam pelaksanaan penelitian ini, namun masih ada
beberapa faktor yang sulit dikendalikan sehingga membuat penelitian ini
mempunyai beberapa keterbatasan sebagai berikut:
1. Penelitian ini hanya diteliti pada pokok bahasan segitiga saja, sehingga
belum bisa digeneralisasikan pada pokok bahasan lain.
2. Kondisi siswa yang terbiasa hanya menerima informasi yang diberikan
oleh guru (teacher centered) sehingga terasa kaku pada awal pertemuan.
3. Alokasi waktu yang kurang sehingga diperlukan persiapan dan pengaturan
kelompok yang baik.
4. Jumlah siswa yang terlalu banyak dengan keterbatasan ruangan
menggangu konsentrasi siswa dalam proses pembelajaran dan guru
kesulitan memantau siswa secara perorangan.
5. Pengadaan media pembelajaran yang kurang lengkap sehingga proses
pembelajaran yang dilakukan kurang optimal. Sebagai contoh pada materi
melukis segitiga dan garis-garis segitiga diperlukan jangka, busur dan
penggaris kayu.

58

6. Kontrol terhadap kemampuan subjek penelitian hanya meliputi variabel


pembelajaran kooperatif tipe pair checks dan hasil belajar matematika
siswa. Variabel lain seperti minat, motivasi, inteligensi, lingkungan
belajar, dan lain-lain tidak terkontrol. Karena hasil penelitian dapat saja
dipengaruhi variabel lain di luar variabel yang ditetapkan dalam penelitian
ini

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil uji hipotesis dengan menggunakan uji-t didapatkan
informasi sebagai berikut:
1. Hasil belajar matematika kelas eksperimen yang pembelajarannya
menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe pair checks yaitu
diperoleh nilai rata-rata sebesar 69,93, median sebesar 67,73, modus
sebesar 72,50, simpangan baku sebesar 17,57, varians sebesar 308,74.
Siswa yang mendapat nilai di atas rata-rata yaitu sebesar 52,38%, dan
siswa yang mendapat nilai di bawah rata-rata yaitu sebesar 47,61%.
Sedangkan hasil belajar matematika kelas kontrol yang pembelajarannya
menggunakan model pembelajaran klasikal yaitu diperoleh nilai rata-rata
sebesar 61,93, median sebesar 57,64, modus sebesar 68,50, simpangan
baku sebesar 18,42 dan variansnya sebesar 339,18. Siswa yang mendapat
nilai di atas rata-rata yaitu sebesar 54,76% dan siswa yang mendapat nilai
di bawah rata-rata yaitu sebesar 45,23%.
2. Rata-rata hasil belajar matematika siswa yang diajarkan dengan
menggunakan pembelajaran kooperatif tipe pair checks adalah 69,93,
sedangkan rata-rata hasil belajar matematika siswa yang diajarkan dengan
menggunakan pembelajaran klasikal adalah 61,93. Hasil pengujian
hipotesis diperoleh nilai t hit = 2,04 dan t tabel = 1,66 . Data ini menunjukkan
bahwa t hitung > t tabel , maka tolak H0 dan terima H1. Dapat dikatakan ratarata hasil belajar matematika siswa yang diajarkan dengan menggunakan
pembelajaran kooperatif tipe pair checks lebih tinggi daripada rata-rata
hasil belajar matematika siswa yang diajarkan dengan menggunakan
pembelajaran klasikal.

59

60

B. Saran
Terdapat beberapa saran peneliti terkait hasil penelitian pada skripsi
ini, diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran
kooperatif tipe pair checks berpengaruh positif terhadap hasil belajar
matematika siswa MTs, sehingga pembelajaran kooperatif tipe pair checks
bisa menjadi metode pembelajaran alternatif yang dapat diterapkan guru
matematika dalam upaya meningkatkan hasil belajar matematika siswa
2. Pihak sekolah diharapkan bisa memberi masukan dan dukungan bagi guru
matematika untuk dapat menerapkan berbagai metode pembelajaran,
seperti pembelajaran kooperatif tipe pair checks sebagai upaya
meningkatkan hasil belajar matematika siswa.
3. Guru

hendaknya

sudah

merencanakan

dengan

matang

sebelum

pelaksanakan, seperti kondisi ruangan, alokasi waktu dan lembar kerja


siswa (LKS). LKS dibuat sejelas-jelasnya sehingga siswa mengerti
maksud dari pertanyaan di LKS.
4. Karena beberapa keterbatasan dalam melaksanakan penelitian ini, maka
disarankan ada penelitian lanjut yang meneliti tentang pembelajaran
kooperatif tipe pair checks pada pokok bahasan lain atau mengukur aspek
yang lain.

DAFTAR PUSTAKA

Admin, Siswa SMP yang Gagal Ujian Meningkat, dari www.republika.co.id, 26


Oktober 2009.
Arends, Richard I., Learning to Teach-Belajar untuk mengajar, Yogyakarta:
Pustaka Pelajar, 2008.
Arikunto, Suharsimi, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan, Edisi Revisi, Cet.VI.
Jakarta: Bumi Aksara, 2005.
Aunurrahman, Belajar dan Pembelajaran, Bandung: Alfabeta, 2009.
Echols, John M. dan Hassan Shadily, Kamus Inggris-Indonesia: An EnglishIndonesian Dictionary, Cet. XXIII, Jakarta: PT Gramedia, 1996.
Faturrohman, Pupuh dan M. Sobry Sutikno, Strategi Mewujudkan Pembelajaran
Bermakna Melalui Penanaman Konsep Umum dan Konsep Islami, Cet. I,
Bandung: PT. Refika Aditama.
Hamalik, Oemar, Proses Belajar Mengajar, Jakarta: Bumi Aksara, 2001.
Hernawan, Asep Herry dkk., Belajar dan Pembelajaran Sekolah Dasar,
Bandung: UPI Press, Cet. I, 2007, h. 2
Ina V.S. Mullis, dkk, TIMSS 2007 International Mathematics Report, dari
http://timss.bc.edu/TIMSS2007/techreport.html, 6 September 2009.
Isjoni,

Cooperative Learning: Mengembangkan


Berkelompok, Cet.II, Bandung: Alfabeta, 2009.

Kemampuan

Belajar

Junaedi, Strategi Pembelajaran, Edisi I, PGMI Lapis, 2008.


M, Sardiman A., Interaksi dan Motivasi BelajarMengajar.Jakarta: PT. Raja
Grafindo Persada, Edisi I, 2009, h. 49.
n.n, Revisi Taksonomi Bloom atau Revised Bloom Taxonomy darii
http://www.hilman.web.id/posting/blog/852/revisi-taksonomi-bloom-ataurevised-bloom-taxonomy.html, 6 mei 2010, 15:14 WIB.
Purwanto, Evaluasi Hasil Belaja, Cet. I, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009.
Purwanto, M. Ngalim, Psikologi Pendidikan, Cet. XIX, Bandung: PT Remaja
Rosdakarya, 2003.

61

62

Santoso, Gempur, Metodologi Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif, Cet. I, .


Jakarta: Pustaka Prestasi, 2005.
Sharan, Sholomo, Handbook of Cooperative Learning, Yogyakarta: Imperium,
2009
Subana, M dan Sudrajat, Dasar-dasar Penelitian Ilmiah, Cet.II, Jakarta: Pustaka
Setia, 2005.
Sudijono, Anas, Pengantar Evaluasi Pendidikan, Cet I, Ed.1, Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada, 2005.
Sudjana, Metoda Statistika, Cet. III, Bandung: Tarsito, 2005
Sudjana, Nana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, Cet.IX, Bandung: PT.
Remaja Rosdakarya, 2004.
Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R & D, Cet. V, Bandung:
Alfabeta, 2008.
Suherman, Erman, Common Text Book Strategi Pembelajaran Matematika
Kontemporer, (Bandung: JICA-UPI, 2001.
Suherman, Erman, Model Belajar dan Pembelajaran Berorientasi Kompetensi
Siswa, dari www.scribd.com, 16 September 2009.
Sukmadinata, Nana Syaodih, Landsasan Psikologi Proses Pendidikan. Bandung :
PT. Remaja Rosdakarya, 2007.
Suprijono, Agus, Cooperative Learning Teori &Aplikasi PAIKEM. Yogyakarta :
Pustaka Pelajar, 2009.
Suwangsih, Erna dan Tiurlina, Pembelajaran Matematika, Jakarta: UPI Press,
2006.
Syaban, Mumun, Menumbuhkembangkan Daya Matematis Siswa, dari
http://educare.efkipunla.net/index.php?option=com_content&task=view&i
d=62&Itemid=7, 27 Januari 2010.
Uno, Hamzah B, Model Pembelajaran Menciptakan Proses Belajar Mengajar
yang Kreatif dan Efektif, Jakarta: Bumi Aksara, 2007.
Trianto, Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik,
Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher, 2007.
Zainurie, Model-model Pembelajaran, dari www.zainurie.files.wordpress.com,
24 Maret 2010, 10.25 WIB.