Anda di halaman 1dari 2

Tugas Mata Kuliah Kompatibilitas Elektromagnetis

Resensi Artikel-artikel IEEE tentang EMI Emissions of Modern PWM ac Drives


Setelah membaca beberapa halaman dari paper ini, saya belum mendapatkan gambaran yang jelas tentang
Common Mode (CM) noise yang merupakan isu Electromagnetic Interference (EMI) utama pada drive PWM
modern. Oleh karena itu sebelum mendalami lebih lanjut, perlu diketahui terlebih dahulu pengertiannya.

Gambar 1 Differential Mode Signal (kiri) dan Common Mode Signal (kanan)

Pada sinyal differential mode murni,


keduanya berbeda

180 .

V 1=V 2 yang berarti magnitude keduanya sama sedangkan fase

V DIFF =V 1V 2 . Tidak ada arus mengalir ke ground karena kesimetrisan V


1

dan V2 terhadap ground. Di sistem transmisi dengan kabel, sinyal differential mode adalah sinyal yang

V
diinginkan karena membawa informasi. Jumlahan sesaat dari kedua sinyal ( 1+V 2) selalu nol.

Pada sinyal Common Mode (CM) murni,


beda fasenya

0 .

V 1=V 2=V COM

yang berarti magnitude keduanya sama dan

V 3=V 1V 2=0 . Tidak ada arus mengalir pada beban (LOAD) karena tidak ada beda

potensial pada ujung-ujung beban. Semua arus CM mengalir ke GND melalui kapasitans parasitis antara kabel
dan GND. Di sistem transmisi dengan kabel, sinyal CM adalah sinyal yang tidak diinginkan karena tidak
membawa informasi. Jumlahan sesaat dari kedua sinyal

V
( 1+V 2)

tidak nol. Potensial kedua kabel

barvariasi terhadap ground.


Semua ac Pulse Width Modulation (PWM) drive berpotensi menimbulkan EMI pada peralatan di
sekitarnya saat banyak drive terkonsentrasi pada suatu area. Studi pasar menunjukkan bahwa jumlah kombinasi
Adjustable Speed Drive (ASD) dan motor terus bertambah menggantikan cara tradisional. Oleh karena itu, pada
artikel ini dibahaslah EMI dengan topik-topik utama sebagai berikut: Pembangkitan EMI, Mekanisme Kopling
EMI, Mitigasi EMI, Efek dari EMI pada Peralatan, Pemodelan EMI, serta Standar dan Metode Pengujian EMI.
Bentuk gelombang keluaran ASD terdiri dari rentetan pulsa yang duty cycle-nya diatur oleh PWM dan
tegangan puncaknya sama dengan Vbus. Rise time dan fall time pulsa tergantung pada switching time dari
semikonduktor yang digunakan oleh ASD. Pada saat ini semikonduktor yang digunakan adalah Insulated Gate
Bipolar Transistor (IGBT) dengan waktu rise/fall

t rise <200 ns . Kecepatan switching yang tinggi itu sifatnya

menimbulkan EMI baik melalui radiasi maupun konduksi. Pada saat tramsisi tegangan
detailnya

( V dc

ground kabel

bus

/t rise )

( C lgc )

timbul arus transien line-to-ground (

dv /dt

atau lebih

I lg ) yang disebabkan oleh kapasitans line-to-

dan oleh kapasitans line-to-ground dari kumparan stator motor

( C lgm )

. Karena

Tugas Mata Kuliah Kompatibilitas Elektromagnetis


impedans line-to-ground sistem memiliki sifat dominan kapasitif, maka magnitude

(C lgc +C lgm)( dv /dt) . Jadi, magnitude


panjang (

Clgc

I lg

I lg

proporsional terhadap

paling tinggi untuk: ASD dengan kabel output yang

besar), ASD untuk hp yang tinggi dengan kapasitans motor yang lebih tinggi (

Clgm

besar), ASD dengan risetime tegangan yang cepat ( dv /dt besar), dan ASD dengan tegangan sistem yang
tinggi ( dv /dt besar). Magnitude rms

I lg

yang merupakan arus CM noise bertambah dengan carrier

frequency yang lebih tinggi karena tingkat repetisinya semakin cepat. Jumlah ASD yang besar juga menambah
magnitude rms dari CM noise dan EMI karena

I lg yang bertambah besar di rangkaian ground.

Terdapat empat langkah filosofis dalam mitigasi noise dari ASD. Jika hanya salah satu langkah saja yang
dilakukan maka arus CM noise ASD hanya diminimalisir namun tidak dapat dihilangkan dengan baik, sehingga
pengaruh noise tersebut pada peralatan di sekitarnya masih ada. Mitigasi akan dapat dilaksanakan dengan baik
bila empat langkah tersebut disatukan, antara lain: grounding frekuensi rendah dan frekuensi tinggi yang sesuai,
melakuan atenuasi sumber noise, melakukan shielding terhadap noise agar tidak mencapai peralatan sensitif,
serta menangkap dan mengembalikan noise ke sumbernya (ASD).