Anda di halaman 1dari 24

MAKALAH

PBL BLOK 29
MANAJEMEN ANESTESI PRA-OPERASI

Disusun Oleh:
Viboy
10 2011 - 173
UNIVERSITAS KRISTEN
FAKULTAS KEDOKTERAN
KRIDA WACANA

KASUS
Seorang perempuan akan menjalani tindakan perioperative sebelum melakukan tonsilektomi.

PENDAHULUAN

kata anesthesia diperkenalkanoleh Oliver Wendell Holmes yang menggambarkan keadaan


tidak sadar yang bersifat sementara, karena pemberian obat dengan tujuanuntuk
menghilangkan nyeri pembedahan. Analgesia adalah pemberian obat untuk menghilangkan
rasa nyeri tanpa menghilangkan kesadaran pasien. Anestesiologi adalah ilmu kedokteran yang
pada awalnya berprofesi menghilangkan nyeri dan rumatan pasien sebelum, selama dan
sesudah pembedahan.

PEMBAHASAN

Definisi anestesiologi berkembang terus sesuai dengan perkembangan ilmu kedokteran.


Definisi yang ditegakkan oleh The American Board of Anesthesiologi pada tahun 1989
adalah mencakup semua kegiatan profesi atau praktek yang meliputi: 1
1. Menilai, merancang, menyiapkan pasien untuk anestesi.
2. Membantu pasien menghilangkan nyeri pada saat pembedahan, persalinan, atau pada
saat dilakukan tindakan diagnostik terapeutik.
3. Memantau dan memperbaiki homeostasispasien perioperative dan pada pasien dalam
4.
5.
6.
7.

keadaan kritis.
Mendiagnosis dan mengobati sindrom nyeri
Mengelola dan mengajarkan resusitasi jantung paru(RJP).
Membuat evaluasi fungsi pernapasan dan mengobati gangguan pernapasan.
Mengajarkan, memberi supervise dan mengadakan evaluasi tentang penampilan
personel medic dalam bidang anesthesia, perawatan pernapasan dan perawatan pasien
dalam keadaan kritis.
2

8. Mengadakan penelitian tentang ilmu dasar dan ilmu klinik untu kmenjelaskan dan
memperbaiki perawatan pasien terutama tentang fungsi fisiologis dan respons
terhadap obat.
9. Melibatkan diri dalam administrasi rumah sakit, pendidikan kedokteran dan fasilitas
rawat jalan yang diperlukan untuk implementasi pertanggungjawaban.

ANESTESI
Pasien yang akan menjalani anestesi dan pembedahan (elektif/darurat) harus dipersiapkan
dengan baik. Kunjungan praanestesi pada bedah elektif dilakukan 1-2 hari sebelumnya dan
pada bedah darurat sesingkat mungkin. Kunjungan praanestesi bertujuan mempersiapkan
mental dan fisis pasien secara optimal, merencanakan dan memilih teknik dan obat-obatan
anestesi yang sesuai, serta menentukan klasifikasi yang sesuai (berdasarkan klasifikasi ASA).
Jenis anestesi 2
1. Anestesi umum
adalah tindakan meniadakan nyeri secara sentral disertai hilangnya kesadaran
dan bersifat reversibel.
2. Anestesi lokal
Adalah obat yang menghasilkan blokade induksi atau blokade lorong natrium
pada dinding saraf secara sementara terhadap rangsang transmisi sepanjang
saraf, jika digunakan pada saraf sentral atau perifer. anestesi lokal setelah
keluar saraf diikuti oleh pulihnya konduksi saraf secara spontan dan lengkap
tanpa diikuti oleh kerusakan struktur saraf. anestesi lokal adalah gabungan
dari garam larut dalam air dan alkali larut dalam lemak.

3. Anestesi regional
analgesia spinal(intratekal, intradural, subdural, subaraknoid)
adalah pemberian obat anestetik melalui ruang subaraknoid. anestesia
spinal diperoleh dengan cara menyuntikkan anestetik lokal ke dalam
ruang subaraknoid. teknik ini sederhana, cukup efektif dan mudah
dikerjakan
3

analgesia epidural(peridural, ekstradural)


adalah blokade saraf dengan menempatkan obat diruang epidural.
ruang ini berada di antara ligamentum flavum dan duramater. bagian
atas berbatasan dengan foramen magnum didasar tengkorak dan
dibawah dengan selaput sakrokoksigeus. kedalaman ruang ini rata-rata
5 mm dan dibagian posterior kedalaman maksimal pada daerah lumbal.
obat anesttetik lokal pada epidural bekerja langsung pada akar saraf
spinal yang terletak dibagian lateral. awal kerja anestesia epidural lebih
lambat dibandingkan dengan teknik spinal, sedangkan kualitas blokade

sensorik-motorik juga lebih lemah.


analgesia kaudal
sebenarnya anestesi kaudal sama dengan anestesi epidural, karena
kanalis kaudalis adalah kepanjangan dari ruang epidural dan obat
ditempatkan di kaudal melalui hiatus sakralis. hiatus sakralis ditutup
oleh ligamentum sakrokoksigeal tanpa tulang yang analog dengan
gabungan antra ligamentum supraspinosum, ligamentum interspinosum
dan ligamentum flavum. ruang kaudal berisi saraf sakral, pleksus

venosus, felum terminale dan kantong dura.


analgesia spinal total
adalah anestesia spinal intratekal atau epidural yang naik sampai diatas
daerah servikal. anestesia ini biasanya tidak disengaja, pasien batukbatuk, dosis obat berlebihan,terutama pada analgesia epidural dengan
posisi pasien yang tidak menguntungkan. tanda klinis anestesia spinal
total adalah pasien merasa tangannya kesemutan, lidah kesemutan,
nafas berat, mengantuk, kemudia tidak sadar, terjadi bradikardi dengan

hipotensi berat, henti napas dan pupil mata sangat melebar(midriasis)


analgesia intravena regional
biasanya dipakai untuk analgesik lokal terutama lengan dengan
menyuntikkan obat anestetik ke pembuluh darah lengan yang telah
dipasang manset.

Mesin dan peralatan anestesia


Fungsi mesin anestesi adalah menyalurkan gas atau campuran gas anestesi yang aman
ke rangkaian sirkuit anestetik yang kemudian dihisap oleh pasien dan membuang sisa
campuran gas dari pasien. rangkaian mesin anestesia sangat banyak ragamnya, mulai dari
4

yang sangat sederhana sampai yang diatur oleh komputer. mesin yang aman dan ideal ialah
mesin yang memenuhi persyaratan: 3
dapat menyalurkan gas anestesi dengan dosis yang tepat.
dead space minimal
mengeluarkan CO2 dengan efisien.
bertekanan rendah.
kelembapan terjaga baik.
penggunaan yang mudah dan aman
Komponen dasar mesin anestetik:

sumber O2, N2O dan udara tekan


alat pantau tekanan gas(pressure gauge)
katup penutup tekanan gas(pressure reducing valve)
metran aliran gas(flowmeter)
satu atau lebih penguap cairan anestetik(vaporizer)
lubang keluar campuran gas(common gas outlet)
kendali O2 darurat (oxygen flush control)

Sumber O2 dan N2O dapat tersedia secara individual menjadi satu kesatuan mesin anestetik
atau dari sentral ke pipa-pipa. rumah sakit besar biasanya menyediakan O2, N2O dan udara
tekan secara senral untuk disalurkan ke kamar bedah sentral, kamar bedah rawat jalan, ruang
obstetri dan lain-lain.
Alat pantau tekanan gas(pressure gauge) untuk mengetahui tekanan pasokan gas.

gambar 1. gambaran umum mesin anestesi

Sebelum mesin anestesi digunakan harus diperiksa dahulu fungsinya dengan cara: 3,4

periksa mesin dan kaitannya secara visual apakah ada kerusakan atau tidak, apakah

rangkaian sambungannya sudah benar.


periksa alat penguap (vaporizer) apakah sudah terisi obat dan penutupnya terkunci

dengan benar.
periksa silinder gas/pipa gas ke mesin sudah benar.
periksa meteran aliran gas(flowmeter) apakah berfungs baik.
periksa aliran gas O2 dan N2O.
PRA OPERASI
Pemeriksaan praoperasi anestesi
Anamnesis
1. Identifikasi pasien yang terdiri dari nama, umur, alamat, pekerjaan, agama, dll.
2. Keluhan saat ini dan tindakan operasi yang akan dihadapi.
3. Riwayat penyakit yang sedang/pernah diderita yang dapat menjadi penyulit
anestesi seperti alergi, diabetes melitus, penyakit paru kronis (asma bronkial,
pneumonia, dan bronkitis), penyakit jantung (infark miokard, angina pektoris, dan
gagal jantung), hipertensi, penyakit hati, dan penyakit ginjal.
6

4. Riwayat obat-obatan yang meliputi alergi otot, intoleransi obat, dan obat yang
sedang digunakan dan dapat menimbulkan interaksi dengan obat anestesi seperti
kortikosteroid,

obat

antihipertensi,

antidiabetik,

antibiotik,

gilongan

aminoglikosida, digitalis, diuretika, obat antialergi, trankuilizer (obat penenang),


monoamino oxidase inhibitor (MAO), dan bronkodilatator.
5. Riwayat anestesi/operasi sebelumnya yang terdiri dari tanggal, jenis pembedahan
dan anestesi, komplikasi, dan perawatan intensif pascabedah.
6. Riwayat kebiasaan sehari-hari yang dapat mempengaruhi tindakan anestesi. Seperti
merokok, minum alkohol, obat penenang, narkotik dan muntah.
7. Riwayat keluarga yang menderita kelainan seperti hipertermia maligna.
8. Riwayat berdasarkan sistem organ yang meliputi keadaan umum, pernapasan,
kardiovaskular, ginjal, gastrointestinal, hematologi, neurologi, endokrin, psikiatrik,
ortopedi, dan dermatologi.
9. Makanan yang terakhir dimakan.
Inform consent
Informed Consent berarti suatu izin (consent) atau pernyataan setuju dari pasien yang
diberikan dengan bebas dan rasional, sesudah mendapatkan informasi dari dokter dan sudah
dimengerti olehnya.
Ada juga istilah lain dari informed consent yaitu, real consent, dalam arti konsen yang
sungguh-sungguh benar. Hal ini berarti bahwa antara dokter dan pasien sudah terdapat suatu
temu pikiran (consensus, meeting of minds) dan persetujuan mengenai tindakan medik yang
hendak dilakukan serta pasien mengerti apa yang diinformasikan oleh dokternya.
Di negeri Belanda, informed consent dinamakan geinformeerde toetemming. Di Jerman
Aufklrungspflicht, sedangkan di Indonesia kita menggunakan istilah persetujuan tindakan
medik.
Fungsi informed consent, antara lain: 5

Promosi dari hak otonomi perorangan


Proteksi dari pasien dan subyek
Mencegah terjadinya penipuan atau paksaan
Menimbulkan rangsangan kepada profesi medis untuk mengadakan instropeksi

terhadap diri sendiri (self secrunity)


Promosi dari keputusan-keputusan yang rasional

Keterlibatan masyarakat dalam memajukan prinsip otonomi sebagai suatu nilai sosial
dan mengadakan pengawasan dalam penyelidikan bio-medik.

Informed consent juga merupakan pembatasan otoritas dari dokter terhadap pasiennya
( limit of authorization: holder)
Kesimpula dari doktrin informed consent ini adalah keputusan yang diambil oleh pasien
mengenai suatu tindakan medik atau perawatan medik harus dilakukan secara kolaboratif
antara pasien dengan dokternya. Karena pada prinsipnya informed consent adalahsuatu
proses, bukan hanya sekedar meminta pasien untuk menandatangani suatu formulir.
Penanda-tanganan oleh pasien hanya merupaan suatu kelanjutan atau pengukuhan apa
yang sebenarnya sudah disepakati sebelumnya antara dokter dan pasien.
Informed consent untuk tindakan bedah dan anestesi.
Informasiyang harus diberikan oleh dokterkepada pasien adalah segala sesuatu yang
menyangkut tindakan bedah yang hendak dilakukan. Misaknya sebelum melakukan
operai, seorang dokter bedah harus menjelaskan kepada pasien tentang :
1. Tindakan operasi apa yang hendak dilakukan, seperti misalnya caesar, amputasi,
2.
3.
4.
5.

hernia dan lainnya,


Manfaat jika dilakukan operasi,
Risiko-risiko apa yang melekat pada operasinya,
Alternatif lain yang ada (bila mungkin ada)
Apa akibatnya jika tidak dilakukan operasi.

Pemberian informasi ini agar pasien dapat mengerti, memilih dan memutuskan apa yang
hendak dilakukan terhadap dirinya. Karena seorang dokter hanya melihat dari segi medis,
sedangkan masih ada segi-segi lain yang harus dipertimbangkan juga. Misalnya segi
finansial, segi agama, sosial budaya, dan lainnya.Hal yang harus diperhatikan saat
memberikan informasi adalah tingkat pendidikan dan intelektual pasien, karena pemberian
informasi yang tidak dimengerti tidaklah mempunyai nilai.
Secara yuridis, pemberian anestesijuga harus meminta persetujuan pasien terlebih dahulu.
Karena membuat seseorang menjadi berada dalam keadaan tidak sadar (pingsan) atau tidak
berdaya. Tindakan pemberian anestesi membuat pasien dalam keadaan tidak sadar, sehingga
harus meminta persetujuan. Kalau tidak meminta persetujuan, bisadianggap melanggar
hukum pidana. Selain itu, pada setiap tindakan medik termasuk pemberian anestesi- ada
8

melekat risiko yang kadang-kadang bisa membawa akibat fatal. Ingat saja kasus anafilaktik
shock, hipoksia, serangan jantung, dan sebagainya.
Biasanya izin untuk pemberian anestesi dianggap termasuk dalam persetujuan tindakan
bedah.

Namun,

lebih

disarankan

dokter

spesialis

anestesi

sebelumnya

datang

untukmemeriksa paien yang hendak di operasi sekaligus memberikan informasi langsung


kepada pasien dan meminta persetujuannya.
Tindakan anestesi tidak perlu membuat informed consent secara khusus terpisah dan secara
tertulis. Para ahli anestesi hanya dianjurkan untuk membuat catatan apa yang telah
didiskusikan dan disetujui oleh pasiennya, termasuk juga risiko-risiko yang mungkin bisa
timbul. Namun dokter ahli anestesi berkewajiban untuk : 5

Sehari sebelumdilakukan operasi dan pembiusan, anestesiolog itu harus memeriksa


pasiennya dan mengajukan pertanyaa :
1. Apakah ia sudah pernah dilakukan operasi dan jika sudah, operasi apa?
2. Apakah pasien ada alergi terhadap obat tertentu, dan sebagainya.
3. Memantau perkembangan pasien sesudah operasi.

Pemeriksaan fisik
1. Tinggi dan berat badan. Untuk memperkirakan dosis obat, terapi cairan yang
diperlukan, serta jumlah urin selama dan sesudah pembedahan.
2. Frekuensi nadi, tekanan darah, pola dan frekuensi pernapasan, serta suhu tubuh.
3. Jalan napas (airway). Daerah kepala dan leher diperiksa untuk mengetahui adanya
trismus, keadaan gigi geligi, adanya gigi palsu, gangguan fleksi ekstensi leher,
deviasi trakea, massa, dan bruit.
4. Jantung, untuk mengevaluasi kondisi jantung
5. Paru-paru, untuk melihat adanya dispnu, ronki, dan mengi.
6. Abdomen untuk melihat adanya distensi, massa, asites, hernia, atau tanda
regusgitasi.
7. Ekstremitas, terutama untuk melihat perfusi distal, adanya jari tabuh, sianosis, dan
infeksi kulit, untuk melihat di tempat-tempat pungsi vena atau daerah blok saraf
regional.
8. Punggung bila ditemukan adanya deformitas, memar, atau infeksi.
9. Neurologis, misalnya status mental, fungsi saraf kranial, kesadaran, dan fungsi
sensorimotorik.
Pemeriksaan Laboratorium.
9

1. Rutin : darah (Hb, leukosit, hitung jumlah leukosit, golongan darah, masa
perdarahan, dan masa pembekuan), urin (protein, reduksi, dan sedimen), foto dada
(terutama untuk bedah mayor), elektrokardiografi (untuk pasien berusia di atas 40
tahun).
2. Khusus, dilakukan bila terdapat riwayat atau indikasi :
- Elektrokardiografi pada anak
- Spirometri dan bronkospirometri pada pasien tumor paru
- Fungsi hati pada pasien ikterus
- Fungsi ginjal pada pasien hipertensi.
Perencanaan anestesi
Setelah pemeriksaan dilakukan dan telah didapat gambaran tentang keadaan pasien
selanjutnya dibuat rencana pemberian obat dan teknik anestesi yang digunakan. Dengan
perencanaan anestesi yang tepat, kemungkinan terjadinya komplikasi saat operasi dan
pascaoperasi dapat dihindarkan.
Rencana anestesi meliputi hal-hal : 1,2
1. Premedikasi
2. Jenis anestesi
Umum : perhatikan manajemen jalan napas (airway), pemberian obat
konduksi, rumatan, dan relaksan otot.
Lokal/regional: perhatikan teknik dan zat anestetik yang akan digunakan.
3. Perawatan selama anestesi: pemberian oksigen dan sedasi
4. Pengaturan intraoperasi meliputi monitoring, keracunan, pengaturan cairan, dan
penggunaan teknik khusus
5. Pengaturan pascaoperasi meliputi pengendalian nyeri dan perawatan intensif
(ventilasi pascaoperasi dan pengawasan hemodinamik)
KLASIFIKASI American Society of Anesthesiologists (ASA)

KELAS

DEFINISI

Pasien normal dan sehat fisik dan mental.

Pasien dengan penyakit sistemik ringan dan tidak ada keterbatasan


fungsional.

Pasien dengan penyakit sistemik sedang hingga berat yang menyebabkan


keterbatasan fungsi.

10

Pasien dengan penyakit sistemik berat yang mengancam hidup dan


menyebabkan ketidakmampuan fungsi.

Pasien yang tidak dapat hidup/bertahan dalam 24jam dengan atau tanpa
operasi.

Pasien mati otak yang organ tubuhnya dapat diambil.

Bila operasi yang dilakukan darurat, maka penggolongan ASA diikuti huruf
E (contoh: 1E,2E)
tabel 1. klasifikasi berdasarkan ASA

Terapi Cairan pada Pembedahan


Dengan makan tubuh kita mendapat air, elektrolit,karbohidrat, protein, lemak, vitamin.
Dalam waktu 24 jam jumlah air dan elektrolit yang masuk dan keluar lewat air kemih, tinja,
keringat dan uap air pernapasan kira- kira sama seperti tampak pada tabel 1. 2

Tabel 1. Keseimbangan cairan harian dewasa sehat 2


Masukan (ml/24 jam)
Tampak
Minum
1200
Makan
Hasil Oksidasi

Tak Tampak

1000
300
1300
Total
1200
1300
tabel 2. gambaran umum keseimbangan cairan dewasa

Keluaran (ml/24 jam)


Tampak
Air kemih
1200
Tinja
Keringat
Paru
Total
1200

Tak Tampak
100
800
400
1300

Terapi cairan adalah tindakan untuk memelihara, mengganti dalam batas fisiologis dengan
cairan kristaloid (elektrolit) atau koloid ( plasma ekspander) secara intravena. Pembedahan
dengan anestesia memerlukan puasa sebelum dan sesudah pembedahan.Terapi cairan
parenteral diperlukan untuk mengganti deficit cairan saat puasa sebelum dan sesudah

11

pembedahan, mengganti kebutuhan rutin saat pembedahan, mengganti perdarahan yang


terjadi dan mengganti cairan pindah ke ruang ketiga (ke rongga peritoneum, keluar tubuh).
Kebutuhan cairan basal ( rutin, rumatan) ialah :
1. 4 ml/kgBB/jam untuk 10 Kg pertama
2. 2 ml/kgBB/jam untuk 10 kg berat badan kedua
3. 1 ml/kgBB/jam tambahkan untuk sisa berat badan

Pembedahan akan menyebabkan cairan pindah keruang ketiga, ke ruang peritoneum, keluar
tubuh. Untuk menggantinya tergantung besar kecilnya pembedahan. 2
1. 6 8 ml/kg untuk bedah besar
2. 4 6 ml/kg untuk bedah sedang
3. 2 4 ml/kg untuk bedah kecil

Perdarahan pada pembedahan tidak selalu perlu tranfusi, untuk perdarahan dibawah 20% dari
volume total pada dewasa cukup diganti dengan cairan infus yang komposisinya kira kira
sama dengan komposisi elektrolit serum misalnya dengan ringer laktat atatu ringer asering.
Untuk bayi dan anak perdarahan di atas 10% volume darah baru ditranfusi. 2

Volume darah bayi anak 80ml/kgBB


Volume darah dewasa pria 75ml/kgBB
Volume darah dewasa wanita 65ml/kgBB

Cairan infus dapat berupa cairan kristaloid , koloid atau campuran keduanya. Pemberian
cairan tanpa elektrolit ( dekstrosa 5% ) secara intravena akan cepat keluar sirkulasi dan
mengisi ruang antar sel, sehingga yang tertinggal disirkulasi hanya sedikit sekali sehingga
dekstrosa tak punya peran dalam terapi hipovolemik
Koloid atau plasma ekspander kalau diberikan secara intravena dapat bertahan lama
disirkulasi. Koloid dapat berupa gelatin (hemaksel, gelafundin, gelofusin), polimer dekstrosa
atau turunan kanji, hidroksi-etil starch (haes, ekspafusin). 2
Teknik Pemberian
Untuk pemberian tereapi cairan dalam waktu singkat dapat digunakan vena vena
dipunggung tangan,sekitar daerah pergelangan tangan, l;engan bawah atau daerah kubiti.
Pada anak kecil dan bayi sering digunakan daerah punggung kaki, depan mata kaki dalam
atau dikepala. Bayi baru lahir dapat digunakan vena umbilikalis. 2
Bagan Terapi Cairan 5
Terapi

12

Resusitasi

Pengganti
deficit

Rumatan

Koloid

Mengalami kehilangan
akut

Kebutuhan normal harian


kristaloid

Memasok kebutuhan

(dehidrasi, syok

OPERASI
Persiapan pasien
- Pengosongan lambung : dengan cara puasa.
Lama puasa pada orang dewasa kira-kira 6-8 jam, anak-anak 4-6 jam, bayi 2
jam (stop ASI). Pada operasi darurat, pasien tidak puasa, maka dilakukan
pemasangan NGT untuk dekompresi lambung
- Pengosongan kandung kemih
- Pelepasan kosmetik, gigi palsu, lensa kontak dan asesoris lainnya.
Premedikasi secara intramuskular - 1 jam menjelang operasi atau secara intravena jika
diberikan beberapa menit sebelum operasi. Tujuan premedikasi untuk menghilangi atau
mengurangi trauma psikis akibat stress anestesi dan pembedahan.

Induksi anestesi
Pasien diusahakan tenang dan diberikan O2 melalui sungkup muka. Obat-obat induksi
diberikan secara intravena seperti tiopental, ketamin, diazepam, midazolam, dan propofol.
Jalan nafas dikontrol dengan sungkup muka atau pipa nafas orofaring/nasofaring. Setelah ini
dilakukan intubasi trakea. Setelah kedalaman anestesi tercapai, posisi pasien disesuaikan
13

dengan posisi operasi yg akan dilakukan, misalnya terlentang, telungkup, litotomi, miring ,
duduk, dll.
Didalam melakukan intubasi sebaiknya kita mengingat kata STATICS yaitu:
S : Scope : - laringoskop dipilih yang sesuai dan lampunya harus terang
- stetoskop untuk memeriksa apakah ujung pipa berada di
tempat yang benar.
T : Tube : Pipa trakea yang sesuai dengan ukuran dan sediakan satu
ukuran yang lebih besar dan satu yang lebih kecil. Olesi
dengan pelicin jeli. Pada bedah mikrolaring tube yang
digunakan haruslah berukuran lebih kecil dari ukuran trakea
pasien.
A : Airway : Pipa nafas mulut faring
T : Tape : Plester untuk memfiksasi pipa di mulut
I : Introducer : Mandrin atau stilet untuk memandu saat memasukkan ujung pipa trakea.
C : Conecter : Alat penyambung pipa ke alat anestesi
S : Suction : Alat penyedot lendir/sekret dan muntah pasien

induksi intravena
mudah dan digemari karena cepat. induksi hati-hati, perlahan, lembut dan terkendali. obat
induksi bolus disuntikkan antara 30-60 detik. selama induksi pantau selalu tanda-tanda vital
pasien dan berikan oksigen. obat yang sering dipakai: 2,3
1. tiopental 2,5% (3-7mg/kgBB)
2. profofol 1% (2-3 mg/kgBB)
3. ketamin 1-2 mg/kgBB
induksi intramuskular

14

hanya ketamin yang digunakan secara intramuskular 5-7 mg/kgBB dan setelah 5 menit pasien
tidur.
induksi inhalasi
halotan dengan aliran O2 4 liter/menit atau campuran N2O : 02 = 3:1, dimulai dengan
halotan 0,5 vol% sampai konsentrasi yang dibutuhkan. jika pasien batuk dosis diturunkan.
induksi dengan sevofluran lebih disenangi karena pasien jarang batuk. enfluran, isofluran
atau desfluran jarang dipakai karena menyebabkan batuk dan waktu induksi jadi lebih lama.
rumatan anestesi
dapat dikerjakan secara intravena atau dengan inhalasi atau kombinasi. rumatan mengacu
pada trias anestesia yaitu hipnosis, analgesia dan relaksasi otot. rumatan intravena
menggunakan opioid dosis tinggi, fentanil 10-50 ug/kgBB. dosis tinggi membuat pasien tidur
dengan efek analgesik yang cukup. untuk merelaksasikan otot harus ditambah obat pelumpuh
otot.bedah lama dengan anestesia total intravena menggunakan opioid, pelumpuh otot dan
ventilator. untuk mengembangkan paru digunakan inhalasi dengan udara + oksigen atau N2O
+ O2. rumatan inhalasi biasanya menggunakan campuran N2O dan O2 3:1 ditambah halotan
0,5-2 vol% atau sevofluran 2-4% tergantung apakah pasien bernapas spontan, dibantu atau
dikendalikan.

Tindakan anestesi Intra operasi


Merencanakan obat yang sesuai.
Pada tindakan anestesi diberikan premedikasi berupa ondansetron 4 mg i.v dan antrain
1000 mgr i.v,. Ondancentron adalah suatu antagonis 5-HT3, diberikan dengan tujuan
mencegah mual dan muntah pasca operasi agar tidak terjadi aspirasi dan rasa tidak nyaman.
Terapi Cairan
Terapi cairan bukan hanya diberikan post operatif, tapi dimulai dari pra operasi, selama
operasi dan post operasi. Pemberian cairan diberikan seperti perhitungan-perhitungan pada
masa pra operasi dengan lebih memperhitungkan perubahan-perubahan berat badan, suhu
badan, suhu kamar, external lesses dan tetap menilai keadaan klinis seperti kesadaran,
selaput-selaput lendir, turgor, keadaan mata. Pengobatan cairan pada masa post operatif
15

adalah pemberian cairan yang sesuai dengan cairan ekstraseluler saja telah mencukupi dan
transfusi darah jarang sekali diperlukan. Cairan yang dipilih biasanya adalah larutan Ringer
laktat. Pertimbangan ini disebabkan karena hal-hal berikut:
Edema/sequestrasi di daerah perlukaan adalah transudat ekstraseluler, dan
dapat berlangsung hingga beberapa hari dengan jumlah kehilangan yang
dapat mencapai 2-4 liter sehari. Kehilangan itu sangat menyolok pada
trauma usus yang luas, diseksi yang luas, ileus. Aortic aneurismectomi,
aviscerasi yang agak lama. Gagalnya penggantian cairan ini akan
menyebabkan timbulnya oliguria, takikardi hipotensi dengan gejala-gejala
lain sebagai akibat retensi air dan natrium.
Larutan ringer laktat tidak dapat menggantikan darah, akan tetapi dapat
mengurangi kebutuhan transfusi darah. Oleh karena trauma ringan,
perubahan emosi dan lain-lain dapat dilihat dengan nyata adanya sekresi
ADH danaldosteron. Sekresi ini lebih bayak disebabkan karena stimulasi
ACTH mekanisme Renin Angiotensin. Meskipun hal ini disebabkan
terjadinya peningkatan kadar K+, ternyata dengan menjaga keseimbangan
cairan ekstraseluler saja faktor ini tidak banyak menimbulkan kesukaran.
Keseimbangan larutan garam seperti ringer laktat lebih disukai dari pada
NaCl-isotonis, karena tidak menyebabkan dilutional acidosis atau
penimbunan klorida apabila timbul kehiangan-kehilangan yang isotonik.
Pengaruh hormonal yang masih menetap beberapa hari pasca bedah dan
mempengaruhi keseimbangan air dan elektrolit harus diperhatikan dalam
menentukan terapi cairan tersebut. Bila penderita sudah dapat minum
secepatnya diberikan per oral. Apabila penderita tidak boleh per oral, maka
pemberian secara parenteral diteruskan. Air diberikan sesuai dengan
pengeluaran yang ada (urin + insensible loss). Masuknya kembali cairan dri
ruangan ketiga dan interstitial ke dalam cairan ekstrasel yang berfungsi
terjadi secara bertahap dalam 5-6 hari dan pada penderita tanpa gangguan
fungsi jantung atau ginjal, hal ini tidak mempengaruhi keseimbangan air
dan elektrolit. Pemberian natrium pada hari pertama pasca operasi dalam
jumlah yang lebih rendah dari kebutuhan pemeliharaan, cukup beralasan
karena walaupun pengaruh hormonal menyebabkan terjadinya retensi
natrium tetapi retensi air lebih banyak terjadi. Pasca operasi lebih sering
16

dijumpai keadaan hiponatremia, yang akan kembali normal dengan hanya


membatasi pemberian (intake) cairan saja. Kalium sebaiknya diberikan
pada hari kedua pasca bedah. Setelah hari pertama biasanya timbul
kehilangan kalium yang dapat menapai 90-100 mEq/uter urine apabila
fungsi ginjal mencukupi. Dianjurkan untuk memberikan 50-80 mEq/hari,
kecuali diduga adanya kehilangan yang berlebihan di urin.
Glukosa diberikan 100 gr/hari.Cairan yang diberikan pada orang dewasa:
Hari I : Dekstrosa 5-10 % dalam 0,18 % NaCl
Hari II : Dekstrosa 5-10 % dalam 0,18 % NaCl + K+ 1 mEq/KgBB/hari.
Kesulitan-kesulitan sering timbul pada masa post opersi secara singkat
adalah sebagai berikut:
Penggantian cairan yang tidak mencukupi dibandingkan dengan
kehilangan dalam sequestrasi inury/manipulasi yang biasanya telah
dimulai dari masa pra operasi dan berlangsung terus hingga beberapa
hari post operasi. Sering kali perhatian hanya ditujukan pada penjagaan
sirkulasi saja pada waktu operasi (tekanan drah, nadi, urine out put),
hingga pada masa post operasi terjadi defisit yang mengakibatkan
circulatory failure, oliguri dan renal failure.
Adanya access free water load tadi sering dipertahankan penderita post
operatif dan dapat menimbulkan hypotonicity dan intoksikasi air. Hal
ini tergantung pada cepatnya penurunan kadar natrium dlamdarah.
Apabila hal ini terjadi dapat dikoreksi dengan pemberian NaCl
hipertonik atau Mannitol.
Penjagaan keseimbangan garam-garam secara fisiologis dan tanpa
memperhitungkan kehilangan-kehilangan di Third space dan hanya
mempertimbangkan diuretis dan mencegah retensi air dan hiponatremia,
tidak ada gunanya sama sekali selain angka-angka survival cate yang
sama saja tanpa pengobatan apa-apa.
Apabila mobilisasi dan diuresis pada cairan dari daerah sequestrasi
terjadi, maka pemberian cairan harus dikurangi.

17

Hipernatremi meskipun tidak umum dapat terjadi pada pengobatan


cairan yang berhubungan dengan diuresis osmotik tube feeding,
CNS lession dan penyakit ginjal
Ketidak seimbangan elektrolit yang terjadi dalam masa post operasi
biasanya adalah defisiensi kalium, hipokloremik alkalosis, asidosis
metabolik yang berhubungan dengan adanya circulatory failure,
excesif Na Loss, Cl Loss dan insufisiensi ginjal.
Dalam massa post operasi, penggunaan diuretik yang menghambat
reabsorpsi natrium di tubuli dapat merangsang timbulnya
hypotonicity. Apabila diduga adanya kelebihan cairan, maka lebih
disukai cara pembatasan pemberian cairan.
Adanya Congestive heart failure, penyakit hepar dan puasa yang
terlalu lama sebelum terapi, sangat mempengaruhi respons penderita
terhadap pengobatan.
Dalam masa post operasi harus selalu diingat bahwa maintenance flurd
therapy (air untuk insensible loss ditmbah air untuk diuresis ditambah
extenal losses ditambah extracelluler di usus ditambah sedikit
larutan natrium untuk mencegah retensi air ditambahkan kaium). 7

Pengawasan selama pembedahan


Kemajuan dalam bidang mikro-elektronik dan bio-enjinering memungkinkan pengawasan lebih
efektif dan dapat mengetahui peringatan awal dari masalah potensial, sehingga dapat dengan cepat
mengerjakan hal-hal yang perlu untuk mengembalikan fungsi organ vital sefisiologis mungkin.
Pengawasan selama operasi merupakan hal yang bertujuan untuk meniadakan atau mengurangi efek
samping dari obat atau tindakan
anestesi. Selain itu, dengan melakukan pengawasan yang legeartis juga memiliki tujuan untuk
memperoleh informasi mengenai fungsi organ selama anestesi berlangsung. Pengawasan yang
lengkap dan baik meningkatkan mutu pelayanan terhadap penderita, akan tetapi tidak menjamin tidak
akan terjadi sesuatu. Perlengkapan dalam pengawasan minimal yaitu meliputi stetoskop, manset
tekanan darah, EKG, oksimeter, dan termometer.

18

Sedangkan hal-hal minimal yang harus diawasi antara lain meliputi:


1. Tekanan Darah
2. Nadi
3. Jantung
4. Keadaan cairan
5. Suhu tubuh
6. saraf

Pada pengawasan pasca operasi sebenarnya memiliki prinsip-prinsip:

Mencegah kekurangan oksigen

Memberikan antidotum, apabila ada kemungkinan masih adanya pengaruh obat-obat relaksasi otot

Pipa endotrakea masih terpasang apabila dinilai pernapasan masih belum cukup

Posisi penderita harus diperhatikan misalnya penderita dimiringkan untuk

baik

mencegah terjadinya sumbatan oleh lidah atau muntahan

Perdarahan selama operasi haru segera diganti terutama apabila perdarahanmelebihi 10% 7

Usahakan menjaga temperatur penderita.

Monitoring perianestesia
rekam medik sebelum tindakan anestesi sangat penting diketahui, apakah pasien sehat bugar
atau sedang mengalami penyakit tertentu. monitoring dasar anestesia adalah monitoring tanpa
alat atau dengan alat sederhana seperti stetoskop dan tesnimeter secara inspeksi, palpasi dan
ausklutasi. monitoring secara lengkap dan baik meningkatkan mutu pelayanan tetapi tidak
menjamin keberhasilan yang absolut. kemajuan teknologi telah merubah standar monitoring
dari waktu ke waktu.
1. monitoring kardiovaskular
a. non invasif(tak langsung)
19

nadi
monitoring terhadap nadi merupakan keharusan dapat dilakukan dengan cara palpasi arteri
radialis, brakialis, femoralis dan karotis. dapat juga dengan auskultasi dengan menempelkan
stetoskop di dada tapi cara ini terbatas. monitoring nadi secara kontinyu dapat dilakukan
dengan EKG atau oksimeter yang disertai alarm. pemasangan EKG untuk mengetahui secara
kontinyu frekuensi nadi, disritmia, iskemia jantung, gangguan konduksi, abnormalitas
elektronik dan fungsi pacemaker.
tekanan darah
gunakan sfigmanometer dengan tepat dan akuran. hitung tekanan arteri rata-rata [1/3(tekanan
sistolik + 2x tekanan diastolik)].
jumlah pendarahan
menimbang kain kassa sebelum dan sesudah kena darah, mengukur jumlah darah di botol
pengukur darah ditambah 10-20% untuk yang tak dapat diukur.
b. invasif
biasa dilakukan pada pasien bedah khusus atau bedah umum
dengan kanulasi melalui arteri radialis, arteri dorsalis pedis, arteri karotis, arteri

femoralis sehingga dapat diketahui secara kontinyu tekanan darah pasien.


dengan kanulasi vena sentralis, vena jugularis, vena subklavia, vena basilika, vena

femoralis sehingga dapat diketahui tekanan vena sentral secara kontinyu.


dengan kanulasi arteri pulmonalis(swanz Ganz) untuk mengukur curah jantung
pada bayi baru lahirguna vena atau arteri umbilikalis. selain itu kanulasi arteri ini
dapat digunakan untuk memonitor ventilasi dengan mengukur kadar pH, PO2, PCO2,
bikarbonat dengan lebih sering sesuai kebutuhan. pada bedah jantung yang kompleks
digunakan ekokardiografi transesogagel.

2. monitoring respirasi
tanpa alat
awasi pasien secara langsung gerakan dada-perut baik saat bernapas spontan atau
napas kendali dan gerakan kantong cadang apakah sinkron. Untuk oksigenasi warna mukosa
bibir, kuku pada ujung jari dan darah pada luka apakah pucat, kebiruan atau merah muda.
stetoskop
dengan stetoskop prekordial atau esogageal dapat didengar suara pernapasan.

20

pulse oximetry
untuk mengetahui saturasi oksigen dan dapat pula mengetahui frekuensi nadi dan
adanya disritmia
kapnometri
mengetahui secara kontinyu kadar CO2 dalam udara inspirasi atau ekspirasi.
kapnometer dipengaruhi oleh anestesia yang digunakan. monitoring khusus biasanya bersifat
invasif karena kita ingin secara kontinyu mengukur tekanan darah arteri dan vena, produksi
urin, analisa gas darah dan sebagainya.
3. monitoring suhu badan
terutama pada bedah yang lama atau pada bayi dan anak kecil, karena pada anak-anak sangat
mudah kehinlangan panas secar radiasi, konveksi, evaporasi, dan konduksi dengan
konsekuensi depresi otot jantung, hipoksia, asidosis pulih anestesia lmabat dan pada neonatus
dapat terjadi sirkulasi persisten fetal.
tempat pengukuran suhu:

aksila
oral/sublingual
rektal
nasofaring, esofageal
lain-lain misalnya kulit dan liang telinga.

4. monitoring ginjal
untuk mengetahui sirkulasi ginjal. Produksi air kemih normal minimal 0,5-1 ml/kgBB/jam
dimonitor pada bedah lama dan sangat bermanfaat untuk menghindari retensi urin atau
distensi kandung kemih. monitoring harus hati-hati, karena selain traumatis juga mengundang
infeksi ke ginjal. secara rutin digunakan kateter foley karet lunak ukuran 5-8 oF. kalau >
1ml/kgBB/jam dan reduksi urin +2 dicurigai adanya hiperglikemia.
5. monitoring blokade neuromuskular
Stimulasi saraf untuk mengetahui apakah relaksasi otot sudah baik atau sebaliknya setelah
selesai anestesia apakah tonus otot sudah kembali normal.

21

6. monitoring sistem saraf


pada pasien sehat sadar, oksigenasi ke otaknya adekuat kalau orientasi terhadap personal
waktu dan tempat baik. pada saat pasien dalam keadaan tidak sadar, monitoring terhadap SSP
dikerjakan dengan memeriksa rspon pupil terhadapa cahaya, respon terhadap trauma
pembedahan, respon terhadap otot apakah relaksasi cukup atau tidak
7. monitoring khusus
biasanya digunakan pada bedah mayor atau bedah khusus seperti bedah jantung, bedah otak
posisi telungkup atau posisi duduk, bedah dengan teknik hipotensi atau hipotermi dan bedah
pasien dengan keadaan umum tidak baik yang disertai kelainan sistemik. oksimeter denyut,
infrared CO2 dan analisa zat anestetik dapat memberitahukan kita akan adanya gangguan dini,
tetapi penggolongan alat ini apakah termasuk tambahan atau alat standar masih bervariasi.
alat ini sangat bermanfaat tetapi sering diganggu oleh kauter listrik, intervensi cahaya dan
sering alarm meskipun pasien dalam keadaan baik.
Alat monitor elektronik dapat saja memeberi informasi yang salah, sehingga yang terbaik
adalah kombinasi alat elektronik dan manual. hipoksia menyeluruh dapat menyebabkan
bradikardi-hipotensi dan kalau tidak segera ditanggulangi bisa mengarah ke henti jantung.
bradikardi akibat hipoksia tidak bereaksi terhadap pemberian vagolitik seperti atropin
sehingga terapi utama ialah pemberian ventilasi O2.

POST OPERASI

Nilai
Kesadaran
warna
aktivitas
Respirasi

2
Orientasi baik
Merah muda
Semua ektremitas
Dapat napas dalam/

1
Dapat dibangunkan
Pucat/kehitaman
2 ektremitas
Napas dangkal/sesak

batuk
napas
Kardiovaskular
TD berubah <20%
Berubah 20-30%
tabel 3. penilaian unit perawatan pasca operasi (UPPA)

22

0
tak dapat bangun
sianosis
Tak ada ektemitas
apneu
Berubah >50%

kriteria pindah dari unit perawatan pasca anestesi (UPPA) jika skor 9-10.

Setelah selesai operasi pasien dibawa ke ruang pemulihan (recovery room) atau ke
ruang perawatan intensif (bila ada indikasi). Secara umum, ekstubasi terbaik dilakukan
pada saat pasien dalam anestesi ringan atau sadar. Di ruang pemulihan dilakukan
pemantauan keadaan umum, kesadaran, tekanan darah, nadi, pernapasan, suhu, sensibilitas
nyeri, perdarahan dari drain, dll.
Pemeriksaan tekanan darah, frekuensi nadi, dan frekuensi pernapasan dilakukan
paling tidak setiap 5 menit dalam 15 menit pertama, atau hingga stabil, setelah itu
dilakukan setiap 15 menit. Pulse oximetry dimonitor hingga pasien sadar kembali.
Pemeriksaan suhu juga dilakukan.
Seluruh pasien yang sedang dalam pemulihan dari anestesi umum harus mendapat oksigen
30-40% selama pemulihan karena dapat terjadi hipoksemia sementara. Pasien yang
memiliki risiko tinggi hipoksia adalah pasien yang mempunyai kelainan paru sebelumnya
atau yang dilakukan tindakan operasi di daerah abdomen atas atau daerah dada.
Pemeriksaan analisis gas darah dapat dilakukan untuk mengkonfirmasi penilaian oksimetri
yang abnormal. Terapi oksigen benar-benar diperhatikan pada pasien dengan riwayat
penyakit paru obstruksi kronis atau dengan riwayat retensi CO2 sebelumnya.
Bila keadaan umum dan tanda vital pasien normal dan stabil, maka pasien dapat
dipindahkan ke ruangan dengan pemberian intruksi pascaoperasi.
Kriteria yang digunakan dan umumnya yang dinilai adalah warna kulit, kesadaran,
sirkulasi, pernapasan, dan aktivitas motorik, seperti skor Aldrete. Idealnya pasien baru
boleh dikeluarkan bila jumlah skor total adalah 10. Namun bila skor total telah mencapai
diatas 8 pasien boleh keluar dari ruang pemulihan.
Seluruh tindakan anestesi dicatat dalam lembaran khusus berisi tindakan yang akan
dilakukan, obat yang diberikan, status fisis pasien sebelum, selama, dan setelah anestesi
dilakukan sesuai urutan waktu.

Ada beberapa keadaan pasca anestesi yang harus ditangani:


1. gangguan pernapasan
2. gangguan kardiovaskular
23

3.
4.
5.
6.

nyeri
mual muntah
menggigil
gelisah

KESIMPULAN
Anestesi merupakan bagian penting dalam menunjang kualitas pelayanan kesehatan
terutama dalam tindakan emergensi dan invasif. Oleh karena perannya yang sangat vital
manajemen anestesi harus dilakukan sebaik mungkin.

DAFTAR PUSTAKA
1. E.B.Colin & B.B Thomas. Anestesiologi.Ed.10.Jakarta:EGC;2004.h.33-4,108-25
2. A.L.Said, A.Kartini,Ruswan.D.M. Petunjuk Praktis Anestesiologi.Jakarta:FKUI;2007.2990,97-105
3. B.Dobson.Michael. Penuntun Praktis Anestesi.Jakarta:EGC;2004.h.53-8
4. Sabiston.Buku Ajar Bedah.Bag.1.Jakarta:EGC;2005.h.77-90
5. Butterworth JF, Mackey DC, Wasnick JD. Morgan and Mikhails clinical anesthesiology.
Edisi 5. New York. McGraw-Hill. 2013. 312-41

24