Anda di halaman 1dari 17

RESUME PROTAP KOAS ORTODONSIA

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS GADJAH MADA

Disusun Oleh:
Nama: M Ats Thouri Rahmad
NIM: 03/167748/KG/07709
Pembimbing: drg. Dyah Karunia, Sp.Ort

BAGIAN ORTODONSIA
FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2015
1

HALAMAN SAMPUL
1.

2.
3.
4.
5.

No. Model : Isi kolom dengan angka pada:


Tiga kolom pertama: Isi sesuai dengan nomer pendaftaran pada loket
bagian Ortodonsia, jika belum mencapai tiga angka kolom didepannya
diberi angka 0.
Dua kolom kedua diisi tahun pendaftaran, misalnya : angka 00 untuk
tahun 2000.
Satu kolom ke tiga diisi dengan angka 0 bila pasien perempuan atau 9
bila pasien laki-laki.
Dua kolom terakhir : Isi angka sesuai dengan umur pasien
Nama pasien : Isi nama lengkap pasien
Operator : Isi nama lengkap mahasiswa yang merawat
No Mahasiswa : Isi nomer mahasiswa merawat
Pembimbing : Isi nama lengkap Dosen Pembimbing

ISI FORMULIR
I.

IDENTITAS :
1. Operator : Isi nama lengkap mahasiswa yang merawat.
2. No. Mhs. : Isi Nomer mahasiswa yang merawat.
3. Pembimbing : Isi nama Dosen Pembimbing.
4. No. Kartu : Isi nomer kartu sesuai dengan nomer kartu status pasien.
5. No. Model : Isi nomer model sesuai dengan nomer model pada sampul.
6. Nama pasien : Isi nama lengkap pasien.
7. Suku : Isi sesuai dengan suku atau kelompok etnik pasien.
8. Umur : Isi sesuai dengan umur pasien ketika saat pemeriksaan.
9. Jenis kelamin : Lingkari sesuai dengan jenis kelamin pasien.
10. Alamat : Isi sesuai dengan alamat pasien saat ini atau alamat yang paling
mudah dihubungi.
11. Nomer Telepon : Isi dengan nomer telepon pasien atau nomer yang paling
mudah untuk dihubungi.
12. Kode pos : Isi dengan kode pos sesuai dengan alamat pasien
13. Pekerjaan : Isi sesuai dengan pekerjaan atau profesi pasien.
14. Rujukan : Isi sesuai dengan surat pengantar rujukan dari Dokter / Puskesmas /
RS yang mengirim. Jika pasien datang atas kemauan sendiri, kosongkan
kolom tersebut.
15. Nama Ayah : Isi dengan nama lengkap ayah pasien
16. Suku : Isi sesuai dengan suku atau kelompok etnik ayah pasien.

17. Umur : Isi sesuai dengan umur ayah pasien


18. Nama Ibu : Isi nama lengkap ibu pasien
19. Suku : Isi sesuai dengan suku atau kelompok etnik ibu pasien
20. Umur : Isi sesuai dengan umur ibu pasien
21. Pekerjaan orang tua : Isi sesuai pekerjaan orang tua pasien
22. Alamat orang tua : Isi sesuai dengan alamat orang tua pasien, termasuk nomor
telepon orang tua pasien.

II.
1.
2.
3.
4.

III.

WAKTU PERAWATAN :
Pendaftaran : Isi sesuai dengan tanggal saat pasien didaftar diloket Bagian
Ortodonsia
Pencetakan : Isi tanggal saat pencetakan dilakukan
Pemasangan alat : Isi tanggal saat insersi alat
Retainer : Isi tanggal saat mulai pemasangan retainer

PEMERIKSAAN KLINIS
A. Pemeriksaan Subjektif ( Anamnesis )
Keluhan utama : Isi alasan permintaan perawatan pasien, menyangkut :
motivasi, aspek estetik, fungsi pengunyahan, fungsi bicara dan bentuk
kelainan yang sangat diderita sehingga mendo-rong untuk datang minta
dirawat. Wawancara menggunakan bahasa awam/ pasien.
Pertanyaan yang bisa diajukan :

a. Apakah anda datang untuk dirawat atas dasar kemauan sendiri atau atas
saran orang lain ? Siapa ?
b. Bagian mana dari gigi dan rahang anda yang ingin diperbaki ? Menurut
anda bagai mana keadaannya, apakah gigi-gigi tidak teratur / berjejal
maju, renggang, atau alasan-alasan lain ?
c. Apakah kelainan itu anda rasakan sangat mengganggu : kecantikan, fungsi
pengu-nyahan atau fungsi bicara anda ?
d. Sejak kapan kelainan itu anda rasakan ?
Jika pada pemeriksaan awal dilihat ada bagian-bagian lain yang kira-kira
perlu dirawat, ditanyakan apakah bagian itu juga mau dirawat ? Ini
merupakan keluhan sekunder.

Riwayat Kesehatan
1. Kesehatan umum : Isi riwayat kesehatan pasien dengan mengajukan
pertanyaan seperti :
a. Apakah pasien pernah menderita sakit yang mengganggu proses
pertumbuhan dan perkembangan dentofasial dan penyakit yang dapat
mengganggu / menghambat proses perawatan ortodontik yang akan
dilakukan. Jika pernah, kapan dan sakit apa yang diderita ? Berapa lama
menderita sakit tersebut ?.
b. Apakah sekarang sedang dalam perawatan dokter ?
2. Riwayat pertumbuhan dan perkembangan gigi geligi :
Diajukan pertanyaan yang dimaksudkan untuk menelusuri riwayat
pertumbuhan dan perkembangan gigi-geligi pasien dari periode gigi
desidui, periode gigi bercampur sampai periode gigi permanen yang
dikeluhkan sekarang ini. Apakah ada faktor pertumbuhan dan
perkembangan gigi-geligi sebagai etiologi maloklusi yang dikeluhkan
pasien?
Pertanyaan yang dapat diajukan :
a. Pada usia di bawah 5 tahun (balita), apakah banyak gigi yang berlubang (
karies ) atau gigis ( rampant caries ) ? Apakah pernah mengalami
trauma, cabut gigi, menambalkan gigi ke dokter gigi ?
b. Pada usia 6 12 tahun apakah ada gigi yang karies , kesundulan
(persistensi, prolong retensi, premature loss ), trauma ? Di sebelah mana?
c. Apakah gigi yang goyah dicabutkan ke dokter gigi atau dicabut sendiri /
oleh orang lain, atau dibiarkan tanggal sendiri ?
d. Pada usia 12 - 15 tahun (masa SMP) dan usia 15 18 tahun (masa SMA)
ada gigi permanen yang sudah dicabut ? . Karena apa ?
e. Adakah gigi yang pernah mendapat perawatan syaraf ( PSA ) ?
f. Apakah ada gigi yang mengalami trauma sampai goyah ? Kapan ? Di
bagian mana ?
g. Serta lain-lain pertanyaan yang berkaitan dengan keluhan utama pasien.
Jika dari riwayat, ada yang dicurigai sebagai etiologi maloklusi, dicatat
secara lengkap sesuai dengan periode pertumbuhan gigi-gigi pasien dan beri
tanda pada kotak yang disediakan.

3. Kebiasaan jelek/ bad habit. (Tidak ada/Ada)


Adakah kebiasaan yang dilakukan pada masa pertumbuhan gigi dan
rahang dicurigai sebagai etiologi maloklusi, seperti yang dikeluhkan
tersebut?
Pertanyaan yang bisa diajukan :
a. Pasien mengeluhkan giginya maju : Pertanyaannya, apakah pernah
mempunyai kebiasaan mengisap ibu jari, menggigit-gigit bibir bawah ?
Dari kapan sampai kapan ?
b. Pada pasien yang gigi anteriornya berjejal : Pertanyaannya apakah
pernah mempunyai kebiasaan menggigit-gigit pensil, lidi atau ujung
handuk/saputangan ? Kapan dan berapa lama?
c. Pada pasien yang rahang atasnya sempit : Pertanyaannya apakah anda
pernah mempunyai kebiasaan mulut terbuka sewaktu bernafas?
Dari maloklusi yang dikeluhkan pasien, operator harus sudah bisa mendugaduga kemungkinan bad habit apa yang mungkin cocok sebagai etiologi untuk
ditanyakan kepada pasien atau orang tuanya. Jika ada riwayat , ditanyakan lebih
lanjut berapa lama bad habit itu dilakukan (durasi : dari kapan sampai kapan bad
habit itu dilakukan),dimana dan bagaimana melakukan (posisi dan lokasi ), kuat /
lemahnya (intensitas) melakukan kebiasaan, sering-tidaknya (frekuensi) kebiasaan
dilakukan.

4. Riwayat keluarga yang berkaitan dengan keluhan pasien


Riwayat keluarga, dimaksudkan untuk klarifikasi etiologi maloklusi
pasien, apakah bersumber dari sifat genetik yang diturunkan dari orang
tua, atau pengaruh lingkungan ?
Pertanyaan yang bisa diajukan :
a. Apakah keadaan gigi yang anda keluhkan mirip seperti keadaan ajah ? Ibu
? Saudara laki-laki? Saudara perempuan ? saudara ke berapa? Jika ada
kemiripan berarti ada penurunan yang sifatnya monogenik.
b. Jika keadaan gigi pasien berdesakan atau jarang-jarang : Apakah ayah
anda orangnya tinggi besar, rahang dan gigi besar sedangkan Ibu orangnya
kecil, rahang dan giginya kecil-kecil ? Atau sebaliknya Ibu orangnya
besar, ayah orangnya kecil? Jika ya : Disini kemungkinan terjadi
penurunan yang sifatnya poligenik antara ukuran gigi dan ukuran rahang
dari kedua orang .tuanya yang ukurannya sangat berbeda.
Jika ada, beri tanda pada kotak yang disediakan dan beri keterangan yang
lengkap.
4

B. Pemeriksaan Objektif
1. Umum
Jasmani : Periksa keadaan jasmani pasien dan beri keterangan.
Pemeriksaan jasmani dimaksudkan untuk mengetahui apakah pasien
cukup sehat jasmani untuk mendapat perawatan ortodontik yang akan
dilakukan.
Mental : Periksa keadaan mental pasien dan beri keterangan.
Pemeriksaan mental dimaksudkan untuk mengetahui apakah pasien
nanti cukup mampu bekerja sama (kooperatif) dalam menjalankan
perawatan, seperti : emosi labil, tidak telaten, tidak mampu memahami
instruksi operator dan lain lain.
Status Gizi : Periksa keadaan gizi pasien dan beri keterangan.
Pemeriksaan bisa dilakukan dengan menghitung status gizi pasien
dengan rumus perimbangan berat badan ( BB, dalam kilogram ) dan
tinggi badan ( TB, dalam meter ). Gunakan Indeks Masa Tubuh,
dengan Rumus IMT
()
=
()
Keterangan

Indeks
< 18,5
18,5-25,0
>25,0

Status Gizi
Kurang
Normal
Lebih

Kategori
Kurus
Normal
Gemuk

Pemeriksaan gizi dimaksudkan untuk mengetahui adakah keadaan gizi


pasien ini me-rupakan faktor etiologi maloklusi pasien. Apakah perawatan
akan terhambat karena keadaan gizi pasien.
Catatan : Indeks Masa Tubuh digunakan untuk melihat status gizi pada
orang dewasa.
2. Lokal :
a. Ekstra Oral
Kepala :
Dengan jangka bentang (spreading caliper) ukurlah :
Panjang kepala (jarak Glabella Occipital) :___________mm
Lebar kepala (jarak horisontal terlebar antara puncak Supramastoidea
dan Zygomatik kanan dan kiri) :____________mm

: 100
5

Kesimpulan : Indeks Bentuk Kepala


< 74,9
75,0 -- 79,9
> 80,0

dolikosefali
mesosefali
brakisefali

Muka:
Dengan jangka sorong (sliding caliper) ukurlah :
Panjang muka (jarak vertikal Nasion Gnathion) :__________mm
Dengan jangka sorong ( spreading caliper ), ukurlah :
Lebar muka ( jarak antara zygomatik kanan dan kiri ) :_______mm
=

TinggiMuka (jarakVertikalGn Na )
LebarBizygomatik

Kesimpulan Indeks Bentuk Muka


X -- 79,9
80,0 -- 84,9
85,0 -- 89.9
90,0 -- 94,9
95,0 -- Y

100

hiper euriprosop
euriprosop
mesoprosop
leptoprosop
hiperleptoprosop

Profil muka :
Pemeriksaan profil muka dimaksudkan untuk mengetahui apakah
maloklusi pasien berpengaruh terhadap penampilan wajah pasien.

Posisi rahang terhadap bidang Orbital (Garis Simon) :


Pemeriksaan posisi rahang terhadap bidang orbital pasien
dimaksudkan untuk mengetahui apakah maloklusi yang diderita
pasien melibatkan rahang (tipe skeletal).

Sendi Temporomandibuler (TMJ) :


Pemeriksaan TMJ dimaksudkan untuk mengetahui apakah maloklusi
pasien sudah mengakibatkan gangguan pada TMJ

Tonus Otot Mastikasi :


Tujuan pemeriksaan tonus otot pengunyahan adalah untuk
mengetahui: apakah maloklusi pasien terjadi karena ada tonus otot
pengunyahan yang tidak normal?

Tonus Otot Bibir :


Pemeriksaan tonus otot bibir ( m. orbicularis oris ) tujuannya sama
dengan pemeriksaan otot masseter.

Bibir posisi istirahat :


Pemeriksaan posisi bibir dimaksudkan untuk mengetahui apakah ada
incompetensi otot-otot bibir pasien pada posisi istirahat ?

Free way space :


Pengukuran free way space pasien dimaksudkan untuk mengetahui
berapa besar jarak interocclusal pasien pada saat posisi istirahat. Ini
berguna untuk menentukan ketebalan bite plane jika diperlukan pada
perawatan nanti

b. Intra oral
Hygiene mulut : Periksa higiene mulut pasien : plak, kalkulus, debris
: tetapkan OHI pasien catat dan beri keterangan.
Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah hygiene
mulut pasien akan menghambat perawatan yang akan dilakukan ? Apa
perlu dilakukan scaling lebih dulu?

Lingua : Periksa keadaan dan ukuran lidah pasien catat dan beri
keterangan

Palatum: Periksa catat dan beri keterangan keadaan palatum

Gingiva : Periksa, catat dan beri keterangan keadaan gingiva pasien.

Mukosa : Periksa, catat dan beri keterangan keadaan mukosa pipi dan
bibir pasien

Frenulum : Periksa, catat dan beri keterangan keadaan ketebalan,


perlekatan frenulum pasien (prenulum bibir atas, frenulum bibir
bawah dan frenulum lidah).

Tonsila : Dengan menggunakan tongue blade atau kaca mulut, lidah


pasien ditekan dan periksa keadaan tonsila pasien, catat dan beri
keterangan lengkap.

Pemeriksaan gigi-geligi : Dengan kaca mulut dan sonde periksa


secara berurutan dari gigi kiri bawah pasien sampai gigi kanan bawah
dan dari gigi kanan atas sampai gigi kiri atas pasien. Jika ada kelainan
catat dan cocokkan dengan riwayat anamnesis geligi yang telah
dilakukan .

3. ANALISIS FOTO MUKA:


Tampak depan : isilah bentuk muka sesuai dengan indeks muka, dan
keadaan muka . simetris atau asimetris.
Tampak samping : isilah profil muka pasien

4. ANALISIS MODEL STUDI


Bentuk Lengkung gigi : Analisis bentuk lengkung gigi bertujuan untuk
mengetahui apakah ada keharmonisan antara bentuk lengkung gigi dengan
bentuk muka pasien serta keharmonisan antara bentuk lengkung gigi atas
dan lengkung gigi bawah.
Amati bentuk lengkung gigi pasien dari oklusal pada rahang atas dan
rahang bawah. Sesuai dengan ciri-cirinya, tetapkan bentuk lengkung gigi.
Perhatikan keseimbangan sisi kanan dan kiri : simetris atau asimetris?
Apakah ada kesesuaian dengan bentuk muka pasien ?. Catat dan beri
keterangan pada formulir pemeriksaan.
Ciri-ciri :
Setengah elips: Puncak lengkung ( C C ) berbentuk garis lengkung (
curved ), kaki lengkung ( P 1 M 2 ) berbentuk garis lengkung jika
diperpanjang berpotongan diposterior, gigi M 2 sisi distalnya tampak
mulai berbelok mengarah ke garis tengah lengkung.
Parabola : Puncak lengkung curved, kaki lengkung merupakan garis
lurus ( straight ), menyebar ( devergent ) jika diperpanjang tidak
bertemu diposterior, gigi M 2 tidak berbelok ke posisi median line tapi
lurus merupakan terusan gigi - gigi depannya.
U Form: Puncak lengkung curved, kaki lengkung antara kanan dan
kiri. straight dan saling sejajar.
V Form: Kaki lengkung straight, devergent, puncak lengkung lancip,
gigi C dan I 2 lurus ke depan merupakan terusan kaki lengkung, gigi I 1
saling membentuk sudut.
Trapezoid: Kaki lengkung straight, devergent , puncak lengkung
datar, gigi C-C meru-pakan titik sudut dari trapesium.

Setengah lingkaran: Bentuk ini biasanya tampak pada awal periode


gigi campuran saat M 1 sudah erupsi , puncak dan kaki lengkung ( M 1
M 1 ) merupakan bagian dari setengah lingkaran.
Perhatikan bentuk lengkung tersebut: simetris apa asimetris ?

Malposisi gigi-gigi individual : Pemeriksaan malposisi gigi individual


dimaksudkan untuk mengetahui penyimpangan letak masing-nasing gigi
tehadap lengkung alveolarisnya. Yang dijadikan referensi adalah garis
oklusi pada oklusi normal, pada rahang bawah melewati puncak tonjol
bukal gigi-gigi posterior dan tepi insisal gigi-gigi anterior yang posisinya
normal, sedangkan pada rahang atas melewati fossa sentral gigi-gigi
posterior dan permukaan palatinal gigi-gigi anterior setinggi cingulum.
Macam-macam malposisi gigi individual :
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.

Arah mesiodistal : mesioversi distoversi


Arah labiopalatinal : laboversi - palato / linguoversi
Arah bukopalatinal : bukoversi - palato / linguoversi
Arah vertikal : supraversi-infraversi
Perputaran aksis : rotasi / torsiversi
Pertukaran tempat : transversi
Penyimpangan aksis : aksiversi, misalnya mesioaksiversi
Kombinasi, misalnya distolabioversi

Relasi gigi-gigi dalam oklusi sentrik:


Pemeriksaan relasi gigi dalam oklusi sentrik dimaksudkan untuk
mengetahui adanya malrelasi gigi-gigi terhadap antagonisnya.
Macam-macam malrelasi gigi :
a.
b.
c.
d.

Arah anteroposterior : overjet , edge to edge bite, cross bite


Arah bukolingual : cup to cup bite, cross bite, scissor bite
Arah mesiodistal : distoklusi. Mesioklusi
Arah vertikal : - overbite : open bite, shalow bite, deep over bite,
palatal bite, supraklusi, infraklusi, relasi molar I, relasi caninus.

Median line : garis tengah gigi terhadap garis tengah rahang :


Pemeriksaan median line gigi dimaksudkan untuk mengetahui adanya
penyimpangan posisi garis tengah gigi terhadap garis tengah rahang dan

penyimpangan garis tengah gigi rahang atas terhadap garis tengah gigi
rahang bawah.

Lebar mesiodistal gigi : Pengukuran lebar mesiodistal gigi dimaksudkan


untuk mengetahui apakah ukuran gigi-gigi pasien merupakan salah satu
etiologi maloklusi? Dalam melakukan perhitungan-perhitungan dan
merencanakan lengkung ideal juga dibutuhkan ukuran lebar mesiodistal
gigi pasien.

5. SKEMA GIGI - GIGI DARI OKLUSAL :


Gambar elemen gigi rahang atas dan rahang bawah dari pandangan oklusal
sesuai dengan keadaan atau posisi gigi pasien, beri kode (apel gigi ) dan
beri gambar boksing. Gigi gigi anterior (C C) digambar tepi insisalnya,
sedangkan gigi gigi posterior digambar sesuai permukaan oklusalnya.
Tidak boleh dengan foto kopi model gips.
6. PERHITUNGAN-PERHITUNGAN :
Metode Moyers : Analisis ini digunakan untuk kasus-kasus maloklusi
pada periode gigi campuran ( mixed dentition ), yaitu untuk memprediksi
kebutuhan ruang erupsi gigi C, P 1 dan P 2 yang belum erupsi.

Metode Nance : Analisis ini juga berfungsi untuk mengetahui besarnya


Lee way space pada kasus-kasus mixed dentition

Metode Pont : Analisis dengan metode Pont dilakukan pada periode gigi
permanen, digunakankan untuk mengetahui pertumbuhan dan
perkembangan kearah lateral di regio interpremolar pertama dan
intermolar pertama. Dengan lebar mesiodistal 2112 sebagai prediktor
dilakukan untuk menghitung lebar lengkung gigi di regio inter P 1 dan inter
M 1 yang ideal untuk menampung gigi. Dengan membandingkan lebar
lengkung gigi pasien yang ada pada model studi maka dapat diketahui
bahwa per-tumbuhan dan perkembangan lengkung gigi pasien di regio P 1
dan M 1 kearah lateral: normal , kurang ( kontraksi ) atau berlebihan (
distraksi ).
Ukur lebar mesiodistal keempat gigi insisivus atas, jumlahkan dan catat
pada formulir pemeriksaan. Hitung lebar lengkung gigi P 1 P 1 dan M 1
M 1 yang dibutuhkan dengan melihat tabel (indeks Pont) atau lebih tepat
secara individual jika dihitung dengan rumus

10

P 1 P 1 = Jumlah lebar 21l12 dibagi 80 dikalikan 100, catat pada


formulir. Ukur lebar P 1 - P 1 pada model dengan mengukur lebar titik
terdistal cekung mesial gigi P 1 atas kanan dan kiri, jika P 1 atas tidak
ada atau malposisi bisa diukur jarak puncak tonjol bukal gigi P 1
bawah kanan dan kiri. Catat dan cari diskrepansinya, beri keterangan.
Lebar M 1 M 1 yang dibutuhkan = Jumlah lebar mesiodistal 21l12
dibagi 64 dikalikan 100, catat pada formulir. Pada model studi ukur
lebar lengkung M 1 - M 1 dengan mengukur jarak titik cekung mesial
M 1 atas kanan kiri, jika gigi M 1 sudah dicabut atau malposisi ukur
jarak puncak tonjol sentral pada sisi paling bukal gigi bawah kanan
dan kiri. Catat dan hitung diskrepansi lengkung tersebut dan beri
keterangan .
Derajat kontraksi atau distraksi sampai 5 mm termasuk ringan, 5 10
mm sedang dan lebih besar dari 10 mm termasuk berat

Metode Korkhaus : Seperti pada metode Pont, metode Korkhaus


dimaksudkan untuk mengetahui tinggi leng-kung gigi yang ideal untuk
pasien dengan lebar gigi 21l12 sebagai prediktor.
Tetapkan tinggi lengkung gigi yang ideal melalui tabel Korkhaus, catat
pada formulir. Ukur tinggi lengkung gigi pasien yang ada pada model
studi dengan salah satu cara sbb:
1) Memakai Orthocross ( alat ukur Korkhaus )
Dengan alat ini selain dapat mengetahui tinggi lengkung gigi juga dapat
mengetahui tinggi lengkung basal pasien dengan cara : Alat diletakkan
pada permukaan oklussal gigi dengan posisi garis melintang tepat pada
titik P 1 kanan dan kiri Pont ( titik terdistal cekung mesial ). Kemudian
penunjuk basal rahang didekatkan sampai menempel pada tepi terdepan
basis alveolaris setinggi apeks gigi insisivus sentral ( titik A Steiner ),
Catat hasil pengukuran tinggi lengkung basal pasien. Kemudian
penunjuk (pointer) ditarik pelan-pelan ke posterior sampai se-tinggi
permukaan labial gigi insisivus sentral atas, catat tinggi lengkung gigi
pasien.
2) Memakai penggaris dan kaliper geser
Letakkan penggaris diatas permukaan oklusal gigi P 1 kanan dan kiri
tepat pada titik pengukuran Pont, dengan kaliper geser, pangkal
pegangan ditempelkan pada permukaan labial didekat insisal gigi
insisivus sentral kanan dan kiri (di daerah interdental) kemudian kaliper
digeser membuka sehingga penunjuk pada pangkal pegangan
mengcapai posisi penggaris. Catat hasil pengukuran pada formulir.

11

3) Diskrepansi tinggi lengkung gigi pasien dapat diketahui dengan


membandingkan dengan data tabel (Indeks Korkhaus) > Apakah
pertumbuhan dan perkembangan lengkung gigi pasien kearah anterior :
normal, protaksi atau retraksi?
4) Dengan membandingkan tinggi lengkung gigi dan tinggi lengkung
basal pasien dapat diketahui dikrepansi tinggi lengkung gigi-basal
pasien, Ini merupakan inklinasi gigi insisivus sentral pasien yang diukur
secara linier. Pengukuran ini berfungsi nanti pada analisis determinasi
lengkung yaitu : Retrusi lengkung gigi rahang atas dapat dilaku-kan
maksimal sampai posisi gigi insisivus atas tegak yaitu sampai tinggi
lengkung gigi sama dengan tinggi lengkung basal atau sebesar
diskrepasi tinggi lengkung gigi-basal.pasien.

Metode Howes : Metode Howes juga digunakan untuk analisis lengkung


pada periode gigi permanen yaitu untuk mengetahui lebar lengkung gigi
dan lengkung basal (basis alveolaris) pasien dengan menggunakan jumlah
lebar mesiodistal gigi-gigi dari M 1 M 1 sebagai prediktor.
1) Ukur lebar mesiodistal gigi-gigi dari M 1 M 1 catat pada formulir
pemeriksaan.
2) Ukur Lebar lengkung gigi dengan mengukur jarak inter P 1 pada titik
bagian dalam tonjol bukal gigi P 1 kanan kiri.
3) Hitung indeks Premolar pasien yaitu : Lebar inter P 1 dibagi jumlah
lebar mesiodistal M 1 - M 1 dikalikan seratus, catat pada formulir
pemeriksaan.
4) Ukur lebar lengkung basal dengan mengukur jarak inter fossa canina
yaitu suatu titik pada basis alveolaris setinggi apeks gigi P 1 kanan dan
kiri.
5) Hitung indeks fossa canina pasien yaitu : Lebar inter fossa canina
dibagi jumlah lebar mesiodistal M 1 - M 1 dikalikan seratus, catat pada
formulir pemeriksaan.
Kesimpulan:

1) Agar supaya lengkung gigi dapat menampung gigi-gigi ke dalam


lengkung ideal dan stabil indeks premolar sekurang-kurangnya 43%.
Bagaimana dengan indeks pasien?
2) Agar supaya lengkung basal dapat menampung gigi-gigi ke dalam
lengkung ideal dan stabil indeks fossa canina sekurang-kurangnya 44%.
Bagaimana dengan indeks pasien? Catat pada formulir pemeriksaan.
3) Apabila indeks fossa canina pasien kurang dari 37%, ini merupakan
kasus dengan indikasi pencabutan.
12

4) Apabila indeks fossa canina didapatkan kurang dari 44% tetapi lebih
besar dari 37% ini merupakan kasus meragukan, apakah merupakan
kasus dengan inidikasi ekspansi atau pencabutan ? Periksa hasil analisis
lainnya.
5) Apabila Indeks fossa canina lebih besar dari indeks premolar berarti
inklinasi gigi-gigi posterior diregio premolar konvergen ini merupakan
indikasi ekspansi. Bila lebih kecil berarti inklinasi gigi posterior
divergen ini merupakan indikasi ekspansi.
6) Bila ekspansi akan dilakukan, pada orang dewasa, maksimal hanya
dapat mencapai indeks lebar lengkung gigi sama dengan indeks fossa
canina (inklinasi gigi posterior tegak) yaitu sebesar 44% kali jumlah
lebar mesiodistal gigi-gigi M 1 - M 1 . Dapat dihitung berapa milimeter
lagi ekspansi lengkung gigi dapat dilakukan?

IV.

Determinasi lengkung gigi:


Determinasi lengkung gigi dilakukan untuk mengetahui diskrepansi
ukuran mesiodistal gigi (kebutuhan ruang) setelah lengkung ideal
dirancang seideal mungkin dari lengkung mula-mula yang ada pada
pasien.

DIAGNOSIS SEMENTARA:
Diagnosis sementara (Tentative diagnosis) ditetapkan dari data hasil
pemeriksaan klinis dan analisis serta perhitungan pada model studi yang telah
dilakukan.

DATA DIAGNOSIS TAMBAHAN


A. ANALISIS FOTOGRAFI
Analisis fotografi adalah analisis yang dilakukan pada foto wajah pasien baik
dari depan maupun dari samping . Tujuannya adalah agar mendapatkan data
kualitatif atau data kuantitatif yang lebih lengkap selain data hasil
pemeriksaan klinis. Jika yang diperlukan cukup hanya data kualitatif sebagai
pengganti pasien pada saat diskusi kasus cukup dibutuhkan foto ukuran 4 x 6
cm dari depan dan dari samping. Tetapi jika diperlukan analisis kuantitatif
(dengan pengukuran) diperlukan ukuran foto 10 x 15 (1R) atau yang lebih
besar.

13

B. PEMERIKSAAN RONSENOGRAFI:
Pemeriksaan ronsenografi dilakukan apabila dibutuhkan data pendukung
untuk melengkapi temuan klinis. Ada beberapa jenis foto ronsen yang sering
dibutuhkan:
Foto lokal / periapikal : Untuk mengamati posisi gigi yang tidak erupsi,
impaksi, Untuk mengukur lebar mahkota gigi 345 yang belum erupsi
(metode Nance).
Foto Panoramik untuk memeriksa keadaan gigi dalam mulut secara
keseluruhan.
Foto sefalogram untuk melakukan analisis sefalometri.
Lain-lain jenis foto ronsen yang jarang dibutuhkan.
Jika diperlukan lampirkan pada formulir pemeriksaan beri keterangan sesuai
dengan diagnosis yang diperlukan.

C. ANALISIS SEFALOMETRI:
Analisis sefalometri sekarang sangat umum digunakan sebagai alat bantu
diagnostik tambahan. Ada banyak metode analisis sefalometri yang telah
diajukan, tetapi pada formulir pemeriksaan disertakan tabel data anlisis
sefalometri yang memuat pengukuran-pengukuran yang paling umum
dilakukan:
Analisis sefalogram lateral:
Sefalogram lateral pasien dilapisi kertas asetat di fiksasi dengan pita isolasi
(scoth tape). Dengan pensil 4H lakukan penapakan (tracing) mengikuti
kontur jaringan keras profil pasien, basis cranii bagian anterior,sella
turcica, orbita , porion, maksila, mandibula dan gigi insisivus sentral atas
dan bawah serta gigi Molar pertama atas dan bawah.
Tentukan titik anatomi, buat garis-gasis serta sudut-sudut pengukuran yang
dibutuhkan untuk:
Analisis Skeletal:
Sudut SNA : Sudut yang menyatakan posisi terdepan basis alveolaris
maksilaris ter-hadap titik terdepan basis kranialis.
Sudut SNB: Sudut yang menyatakan posisi terdepan basis alveorais
mandibularis terhadap titik terdepan basis kranialis.
Sudut SN-NPog : Sudut antara bidang fasial terhadap basis kranial.
Jarak A-NPog : Jarak antara basis maksila terhadap bidang fasial.
Sudut FMPA : Sudut antara bidang mandibula terhadap bidang
Frankfurt.
14

Analisis Dentoskeletal:

Jarak LI APog : Jarak insisal insivus pertama bawah terhadap garis


APog , untuk menentukan posisi insivus pertama atas, protrusif atau
retrusif.
Sudut IMPA : Sudut yang menyatakan posisi gigi insisivus bawah
terhadap bidang mandibula.
Jarak UI APog : Jarak insisal insisivus pertama atas terhadap garis
Apog.
Sudut UI FHP : Sudut antara gigi insisivus pertama atas terhadap
bidang horisontal Frankfurt FHP.
Sudut UI LI : Sudut interinsisal, antara insisivus pertama atas
terhadap insisivus pertama bawah.

Ukur sudut-sudut dan jarak titik analisis yang telah dibuat, catat pada
tabel data sefa-lometrik dan bandingkan dengan standar normal yang telah
disediakan, beri keterang-an diagnosisnya.

V.

DIGNOSIS FINAL:
Diagnosis final dimaksudkan untuk menetapkan keadaan maloklusi pasien
selengkap mungkin berdasarkan atas semua data yang telah dikumpulkan
sehingga didapatkan gambaran yang menyeluruh tentang komponen
dentofasial yang mengakibatkan terjadinya maloklusi. pada pasien.

Maloklusi dinyatakan dalam bentuk kalimat pernyataan yang diawali dengan


kata : Maloklusi Angle klas. Dst
1. Nyatakan klasifikasi maloklusi berdasarkan hubungan gigi Molar pertama
atas dan bawah pasien sesuai dengan klasifikasi Angle : Klas I, II atau III,
bila diperlukan beri keterangan divisi dan subdivisinya.
2. Nyatakan tipe maloklusinya dan komponen dentofasial yang dilibatkan :
skeletal, dental dentoskeletal.
3. Nyatakan malrelasi gigi lainnya.
4. Nyatakan malposisi gigi individual yang ada.
5. Nyatakan kelaian-kelainan lain yang melibatkan maloklusi pasien, misalnya
mpaksi, agenese dan lain-lainnya.
6. Nyatakan jika masih ada kebiasaan buruk ( bad habit )

15

VI.

ANALISIS ETIOLOGI MALOKLUSI:


Analisis etiologi maloklusi suatu analisis untuk menentukan sumber
penyebab terjadinya maloklusi pada pasien yang disimpulkan dari semua data
hasil pemeriksaan yang telah dilakukan.

VII.

PROSEDUR PERAWATAN:
Analisis Ruang:
Pencarian diskrepansi antara panjang lengkung ideal yang direncanakan
dengan jumlah lebar mesiodistal gigi yang menempati lengkung tersebut.
Target Perawatan:
Sebatas kemampuan alat ortodonsi lepasan untuk merawat gigi-gigi yang
malposisi, malrelasi dan maloklusi.
Rencana Perawatan:
Menyatakan tentang tahap-tahap yang akan dilakukan dalam proses
perawatan, disusun sesuai dengan urutan kronologis tahap perawatan sesuai
dengan masing-masing kasus yang dihadapi.
Jalannya Perawatan:
Menjelaskan secara lebih detil masing-masing tahap perawatan tersebut
meliputi: Bagaimana dan dengan apa masing-masing tahap dari rencana
perawatan tersebut diatas dikerjakan?

VIII.

GAMBAR/DESAIN ALAT:
Gambar disain alat untuk masing masing rahang yang akan dipakai, beri
keterangan kom-ponen alat dan ukuran diameter kawat yang digunakan . Jika
perawatan membutuhkan beberapa tahap pembuatan alat, gambar disain alat
untuk masing-masing tahap perawatan Gambar pula disain retaner yang akan
digunakan.

IX.

PROGNOSIS:
Prognosis adalah perkiraan tentang kemungkinan keberhasilan perawatan
yang akan dilakukan : baik, buruk, atau meragukan. Beri alasan yang
mendukung pernyataan tersebut. Alasan pendukung dapat dipertimbangkan
dari :
1. Keadaan pasien : kasus, usia, kesehatan, kooperativitas dll.
2. Kemapuan operator.
3. Kecanggihan alat yang dipakai

16