Anda di halaman 1dari 47

BAB I

PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang Masalah


Kesehatan merupakan salah satu aspek dari kehidupan masyarakat, mutu hidup,
produktifitas tenaga kerja, angka kesakitan dan kematian yang tinggi pada bayi dan anak-anak,
menurunnya daya kerja fisik serta terganggunya perkembangan mental adalah akibat langsung
atau tidak langsung dari masalah gizi kurang.1
Ahli pemakanan menyifatkan, usia dua tahun pertama bayi adalah 'waktu kritikal' kerana
kualitas nutrien yang diberikan bakal menentukan tumbuh kembang berkekalan sepanjang
hayatnya. Dalam tempoh itu, bayi harus diberikan ASI eksklusif untuk enam bulan pertama
sebaik saja dilahirkan.1
Pertubuhan Kesihatan Sedunia (WHO) juga mengesahkan kolostrum, yaiaitu ASI
berwarna kuning dan lekit yang dihasilkan pada fase akhir kehamilan adalah bekal makanan
terbaik untuk bayi baru lahir. Oleh itu, susu hendaklah dimulai pada jam pertama setelah bayi
dilahirkan. Bagaimanapun, setelah enam bulan, penyusuan badan perlu dilanjutkan bersama
makanan pelengkap yang sesuai sehingga anak berusia dua tahun.2
ASI mengandungi semua nutrien yang diperlukan dan ia mempunyai bahan yang tidak
ada dalam susu formula bagi membantu mencerna nutrien dengan lebih baik. Nutrien yang
diperlukan dalam pemakanan lengkap untuk bayi ialah protein yang mudah hadam dan tidak
menyebabkan alergi. Susu yang mengandungi sejenis enzim dipanggil lipase membantu bayi
menghadamkan lemak dengan baik. Laktosa pula sebagai karbohidrat utama dalam ASI

membantu penyerapan kalsium. Ia membekalkan tenaga untuk tumbesaran otak dan mencegah
pembiakan bakteri berbahaya dalam susu bayi. Zat besi pula diperlukan bagi mengurangkan
risiko anemia enam hingga lapan bulan pertama selepas kelahiran dan kandungan bahan
istimewa itu membantu meningkatkan penyerapan zat besi.2
Sungguhpun begitu banyak manfaatnya ketika rutin ASI eksklusif si kecil. Namun,
bilangan ibu di Malaysia yang melakukannya tidak begitu memuaskan. Kajian Kesihatan dan
Morbiditi Kebangsaan ketiga, pada 2006 menunjukkan bilangan ibu yang memberi ASI kepada
anak mereka semakin meningkat.2
Malaysia memiliki angka kematian per 1000 penduduk dan angka kematian bayi yang
tinggi yaitu sekitar 5 untuk angka kematian per 1000 penduduk dan sebanyak 8 untuk angka
kematian bayi. Sedangkan negara yang memiliki angka kematian per 1000 penduduk dan angka
kematian bayi terendah dimilki oleh negara Singapura sebesar 4 untuk angka kematian per 1000
penduduk dan 2 untuk kematian bayi.3
Kajian mendapati bilangan wanita yang memberikan ASI eksklusif kepada bayi untuk
empat bulan pertama berkurang sebanyak 9.7 peratus. Malah, Malaysia antara negara di Asia
Tenggara paling rendah dari segi ASI eksklusif. Keputusan itu sangat membimbangkan.4
Pengerusi Persatuan Pemakanan Malaysia (NSM), Dr Tee E Siong, berkata penting ibu
memastikan bayi diberi makanan berkhasiat sejak dilahirkan. Katanya, teknik penyusuan yang
betul dapat mengurangkan risiko jangkitan penyakit berkaitan pemakanan di kalangan anak yang
sedang membesar. Amalan penyusuan berkenaan dapat memupuk tabiat baik untuk pemakanan
sihat yang menjadi asas gaya hidup sihat sepanjang hayat.4

Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian di
Daerah Ketereh di mana pengambilan data dilakukan dengan wawancara langsung di klinik
kesihatan. Judul penelitian ini adalah Gambaran Pengetahuan, Sikap dan Perilaku Ibu-Ibu
tentang ASI eksklusif di Daerah Ketereh, Kelantan, Malaysia.
I.2. Rumusan Masalah
Rumusan masalah penelitian ini, yaitu Gambaran tingkat pengetahuan, sikap, dan
perilaku ibu-ibu tentang ASI eksklusif di Daerah Ketereh, Kelantan, Malaysia

I.3. Tujuan Penelitian


I.3.1. Tujuan Umum
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat pengetahuan, sikap, dan
perilaku ibu-ibu tentang ASI eksklusif di Daerah Ketereh, Kelantan, Malaysia.
I.3.2. Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui tingkat pengetahuan ibu-ibu tentang pengertian ASI eksklusif.
2. Untuk mengetahui tingkat pengetahuan ibu-ibu tentang keunggulan ASI eksklusif
dibandingkan susu formula.
3. Untuk mengetahui tingkat pengetahuan ibu-ibu tentang manfaat pemberian ASI
eksklusif.
4. Untuk mengetahui tingkat pengetahuan ibu-ibu tentang cara pemberian ASI yang
benar.
5. Untuk mengetahui sikap ibu-ibu dalam pemberian ASI eksklusif.
6. Untuk mengetahui tindakan ibu-ibu dalam pemberian ASI eksklusif.
I.4. Manfaat Penelitian
1. Manfaat keilmuan
a. Memberikan informasi kepada institusi tempat penelitian diadakan tentang tingkat
pengetahuan, sikap, dan perilaku ibu-ibu menyusui tentang pemberian ASI
eksklusif.

b. Data yang diperoleh diharapkan dapat menjadi bahan masukan bagi pihak-pihak
yang memerlukan informasi berkaitan dengan data-data yang dikumpulkan.
c. Hasil penelitian diharapkan berguna sebagai masukan dalam melaksanakan
penyuluhan kesehatan untuk meningkatkan pemberian ASI eksklusif.
d. Sebagai pertimbangan ilmiah bagi penelitian lain dengan topik yang sama di masa
yang akan datang.
2. Manfaat bagi peneliti
a. Dapat menambah wawasan keilmuan dan cakrawala pengetahuan peneliti.
b. Dapat menambah pengalaman dan pengembangan diri peneliti di bidang penelitian,
khususnya dalam penyelesaian studi.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1. Tinjauan Umum Tentang ASI


II.1.1. Pengertian ASI
ASI (Air Susu Ibu) merupakan cairan putih berupa emulsi lemak dalam larutan
protein, laktosa dan garam-garam anorganik yang disekresikan oleh kelenjar mamae
ibu melalui proses laktasi yang berguna sebagai makanan bagi bayinya.5,6

ASI merupakan makanan alamiah dan makanan terbaik yang dapat diberikan
oleh seorang ibu kepada anak yang baru dilahirkannya. Komposisinya sesuai untuk
pertumbuhan bayi selama 6 bulan pertama. ASI juga mengandung zat pelindung yang
dapat menghindarkan bayi dari berbagai penyakit.7
ASI merupakan makanan yang paling cocok bagi bayi karena mempunyai nilai
gizi yang paling tinggi dibandingkan dengan makanan bayi yang dibuat oleh manusia
ataupun susu yang berasal dari hewan seperti susu sapi, susu kerbau, atau susu
kambing. Pemberian ASI secara penuh sangat dianjurkan oleh ahli gizi diseluruh
dunia. Tidak satupun susu buatan manusia (susu formula) dapat menggantikan
perlindungan kekebalan tubuh seorang bayi.2
II.1.2. Produksi ASI
Payudara wanita dirancang untuk memproduksi ASI. Pada tiap payudara
terdapat sekitar 20 lobus (lobe), dan setiap lobus memiliki sistem saluran (duct
system). Saluran utama bercabang menjadi saluran-saluran kecil yang berakhir pada
sekelompok sel-sel yang memproduksi susu, disebut alveoli. Saluran melebar menjadi
penyimpanan susu dan bertemu pada puting susu.5
Pada seorang ibu yang menyusui dikenal 2 refleks yang masing-masing
berperan sebagai pembentukan dan pengeluaran air susu, yaitu refleks prolaktin dan
refleks let down.5
1

Refleks prolaktin
Menjelang akhir kehamilan, hormon prolaktin memegang peranan untuk
membuat kolostrum. Karena aktivitas prolaktin dihambat oleh hormon estrogen
dan progesteron yang memang kadarnya tinggi, jumlah kolostrum terbatas.
Setelah melahirkan, sehubungan dengan lepasnya plasenta dan kurang

berfungsinya korpus luteum, maka estrogen dan progestron sangat berkurang,


ditambah lagi dengan adanya isapan bayi yang merangsang puting susu dan
kalang payudara (areola mammae), akan merangsang ujung-ujung syaraf sensoris
yang berfungsi sebagai reseptor mekanik. Rangsangan ini dilanjutkan ke
hipotalamus

melalui

medula

spinalis

dan

mesensephalon.

Hipotalamus

merangsang pengeluaran faktor-faktor yang memacu sekresi prolaktin. Faktorfaktor yang memacu sekresi prolaktin akan merangsang adenohipofise (hipofise
anterior) sehingga keluar prolaktin. Hormon ini merangsang sel-sel alveoli yang
berfungsi untuk membuat air susu. Kadar prolaktin pada ibu yang menyusui akan
menjadi normal 3 bulan setelah melahirkan sampai masa penyapihan anak dan
pada saat tersebut tidak ada peningkatan prolaktin walaupun ada isapan bayi,
namun pengeluaran air susu tetap berlangsung. Pada ibu yang melahirkan anak
tapi tidak menyusui, kadar prolaktin akan menjadi normal pada minggu kedua
sampai ketiga.5
Jika bayi lapar atau haus dan dia menyusu lebih sering dan lebih lama, maka
ibu akan memproduksi ASI lebih banyak. Jika ibu ingin meningkatkan produksi
ASI, maka dia harus membiarkan bayi menyusu lebih sering dan lebih lama untuk
beberapa hari. Jika bayi sedikit menyusu karena telah mengkonsumsi makanan
atau minuman lain, atau karena ibu jauh dari bayi untuk beberapa waktu atau ibu
ingin menyimpan ASI-nya, maka payudara akan memproduksi sedikit ASI.
Prolaktin lebih banyak diproduksi saat malam hari sehingga menyusui saat malam
2

hari membantu mempertahankan produksi ASI.5


Refleks let down

Bersamaan dengan pembentukan prolaktin oleh adenohipofise, rangsangan


yang berasal dari isapan bayi ada yang dilanjutkan ke neurohipofise (hipofise
posterior) yang kemudian dikeluarkannya oksitosin. Melalui aliran darah, hormon
ini diangkut menuju uterus yang dapat menimbulkan kontraksi pada uterus
sehingga terjadi involusi dari organ tersebut. Oksitosin yang sampai pada alveoli
akan mempengaruhi sel mioepitelium. Kontraksi dari sel akan memeras air susu
yang telah terbuat keluar dari alveoli dan masuk ke sistem duktulus yang
selanjutnya akan mengalir melalui duktus laktiferus masuk ke mulut bayi. Faktorfaktor yang meningkatkan refleks let down adalah melihat bayi, mendengarkan
suara bayi, mencium bayi, dan memikirkan untuk menyusui bayi. Sedangkan
faktor-faktor yang menghambat refleks let down adalah stres seperti keadaan
bingung atau pikiran kacau, takut, dan cemas.5
Pemberian ASI pertama harus dimulai di ruang persalinan. Ibu dan bayi
harus diselimuti agar tetap hangat. Biarkan ibu mendekap bayinya dan bayi akan
segera mengisap payudara ibu karena ini adalah saat terbaik bagi bayi untuk
belajar mengisap. Pada usia 20-30 menit, refleks isap bayi sangat kuat. Isapan
pertama

merangsang produksi oksitosin

yang membantu

menghentikan

pendarahan setelah persalinan. Selain itu bayi juga akan mendapatkan kolostrum
yang sangat bermanfaat baginya. Jam-jam pertama adalah saat terpenting
menjalin ikatan antara ibu dan anak. Menyusui segera setelah melahirkan akan
membuat ibu mencintai dan merawat bayinya. Ibu akan lebih mudah menyusui
untuk jangka waktu yang lama. Bila terjadi keterlambatan, walaupun hanya
beberapa jam, proses menyusui menjadi lebih sering gagal. Pemberian ASI

pertama bagi bayi tidak dimaksudkan untuk pemberian makan awal, tetapi lebih
pada pengenalan.5
II.1.3. Jenis ASI
Air susu ibu menurut stadium laktasi (masa mengeluran air susu) dibagi menjadi
tiga, yaitu sebagai berikut :
1

Kolostrum
Kolostrum merupakan cairan viscous kental dengan warna kekuningkuningan, lebih kuning dibanding dengan susu matur (ASI yang keluar pada hari
ke-14 sampai seterusnya). Kolostrum berwarna kuning keemasan disebabkan oleh
tingginya komposisi lemak dan sel-sel hidup. Kolostrum merupakan pencahar
(pembersih usus bayi) yang membersihkan mekonium sehingga mukosa usus bayi
yang baru lahir segera bersih dan siap menerima ASI. Kolostrum disekresikan
oleh kelenjar payudara dari hari pertama sampai hari keempat atau hari ketujuh.
Komposisi dari kolostrum ini dari hari ke hari selalu berubah.
Pada hari pertama dan kedua setelah melahirkan, tidak jarang kita
mendengar seorang ibu baru mengatakan, ASI saya belum keluar. Meskipun
ASI yang keluar pada hari pertama sedikit, tetapi volume kolostrum yang ada
dalam payudara mendekati kapasitas lambung bayi yang berusia 1-2 hari.7,8
Walaupun ASI yang keluar sedikit, bayi tetap disusukan karena isapan bayi
akan merangsang ujung saraf di daerah punting susu dan di bawah daerah yang
berwarna kecoklatan (areola). Rangsangan isapan bayi akan mengirimkan sinyal
ke bagian depan kelenjar hipofisis di otak untuk mengeluarkan hormon prolaktin.

Hormon prolaktin ini akan merangsang sel-sel di pabrik susu untuk membuat
ASI.7
Selain itu, isapan bayi juga akan merangsang bagian belakang kelenjar
hipofisis untuk membuat hormon oksitosin. Hormon oksitosin akan menyebabkan
sel-sel otot yang mengelilingi pabrik susu mengerut atau berkontraksi sehingga
ASI terdorong keluar dari pabrik ASI dan mengalir melalui saluran susu ke dalam
gudang susu yang terdapat di bawah areola. Volume kolostrum berkisar 150-300
ml/24 jam.7
Keuntungan kolostrum yaitu :7
1

Merupakan suatu pencahar yang ideal untuk membersihkan selaput usus bayi

yang baru lahir sehingga saluran pencernaan siap untuk menerima makanan.
Kadar protein terutama globulin (Gamma Globulin) tinggi sehingga dapat

memberikan daya perlindungan tubuh terhadap infeksi.


Mengandung zat anti infeksi (antibodi) 10-17 kali, sehingga mampu
melindungi tubuh dari berbagai penyakit infeksi untuk jangka waktu sampai 6

bulan.
Mengandung vitamin A yang sangat tinggi.
Menyusui sebaiknya dilakukan segera setelah bayi lahir, dan setelah itu

setiap kali bayi menginginkannya. Beberapa alasan agar ibu menyusui bayinya
segera setelah lahir sebagai berikut : 7
1
2

Menyusui bayi akan memberikan kepuasan dan ketenangan pada ibu.


Hisapan air susu akan mempercepat proses kembalinya uterus (rahim) ibu ke
ukuran normal serta mengurangi perdarahan setelah melahirkan, karena pada
ibu menyusui terjadi peningkatan kadar oksitosin yang berguna untuk

konstriksi atau penutupan pembuluh darah sehingga perdarahan akan cepat


3

berhenti.
Bayi yang disusui segera setelah lahir (60 menit setelah lahir) jarang
menderita infeksi dan keadaan gizinya dalam tahun pertama usianya jauh

lebih baik dibandingkan bayi yang terlambat diberi ASI.


4 Produksi ASI akan lebih lancar (Merangsang produksi ASI).
ASI Transisi (Peralihan)
ASI transisi diproduksi pada hari keempat atau ketujuh sampai hari
kesepuluh atau keempat belas. Pada masa ini kadar protein berkurang, sedangkan
kadar karbohidrat dan lemak serta volumenya semakin meningkat.5

ASI Matur.
ASI matur merupakan ASI yang diproduksi sejak hari ke-14 dan seterusnya
dengan komposisi yang relatif konstan. Pada ibu yang sehat dan memiliki jumlah
ASI yang cukup, ASI ini merupakan makanan satu-satunya yang paling baik bagi
bayi sampai umur enam bulan.5

II.1.4. Volume ASI


Selama beberapa bulan terakhir masa kehamilan sering terdapat produksi
kolostrum susu ibu. Setelah lahir, pada waktu bayi mulai mengisap maka suplai air
susu meningkat dengan cepat. Pada keadaan normal, sekitar 100 ml tersedia pada hari
ke-2 dan meningkat menjadi 500 ml pada minggu ke-2. Produksi ASI yang paling
efektif biasanya dicapai pada 10-14 hari setelah melahirkan. Selama beberapa bulan
selanjutnya, bayi yang sehat mengkonsumsi sekitar 700-800 ml per 24 jam. Namun
demikian konsumsi bayi bervariasi antara yang satu dengan yang lainnya, ada yang

mengkonsumsi 600 ml atau kurang dan ada pula yang lebih bahkan sampai 1 liter
selama 24 jam meskipun keduanya memiliki laju pertumbuhan yang sama.5
Keadaan kurang gizi pada ibu pada tingkat yang berat baik pada waktu hamil
maupun menyusui dapat mempengaruhi volume ASI. Produksi ASI menjadi lebih
sedikit yaitu berkisar antara 500-700 ml per hari pada 6 bulan pertama usia bayi, 400600 ml pada 6 bulan ke-2 dan 300-500 ml pada tahun ke-2 usia anak.5
II.1.5. Komposisi ASI
1

ASI sebagai nutrisi


ASI merupakan sumber gizi yang sangat ideal dengan komposisi yang
seimbang dan disesuaikan dengan kebutuhan pertumbuhan bayi. ASI adalah
makan bayi yang paling sempurna, baik kualitas maupun kuantitasnya. Dengan
tatalaksana menyusui yang benar. ASI sebagai makan tunggal akan cukup
memenuhi kebutuhan tumbuh bayi normal sampai usia 6 bulan.1
Mengingat bahwa kecerdasan anak berkaitan erat dengan otak, maka jelas
bahwa ASI merupakan faktor utama yang mempengaruhi perkembangan
kecerdasan pertumbuhan otak. Sementara itu, faktor terpenting dalam proses
pertumbuhan termasuk pertumbuhan otak adalah nutrisi yang diberikan.1
Dengan memberikan ASI secara eksklusif sampai bayi berusia 6 bulan akan
menjamin tercapainya pengembangan potensi kecerdasan anak secara optimal.
Hal ini karena selain sebagai nutrien yang ideal, dengan komposisi yang tepat,
serta disesuaikan dengan kebutuhan bayi. ASI juga mengandung nutrient khusus
yang diperlukan otak bayi agar tumbuh optimal, antara lain :1
a Lemak

Sumber kalori utama dalam ASI adalah lemak. Kadar lemak dalam ASI
antara 3,5% - 4,5%. Walaupun kadar lemak dalam ASI tinggi, tetapi mudah
diserap oleh bayi karena trigliserida dalam ASI lebih dulu dipecahkan menjadi
asam lemak dan gliserol oleh enzim lipase yang terdapat dalam ASI. Kadar
kolesterol ASI lebih tinggi daripada susu tapi sehingga bayi yang mendapat
ASI seharusnya kadar kolesterol darah lebih tinggi, tetapi ternyata penelitian
Osborn membuktikan bahwa bayi yang tidak mendapatkan ASI lebih banyak
menderita jantung koroner pada usia muda. Diperkirakan bahwa pada masa
bayi diperlukan kolesterol pada kadar tertentu untuk merangsang pembentukan
enzim protektif yang membuat metabolisme kolesterol menjadi efektif pada
masa usia dewasa.1
b Karbohidrat
Karbohidrat utama dalam ASI adalah laktose, yang kadarnya paling
tinggi dibanding susu mamalia lain (7%). Laktose mudah dipecah menjadi
glukose dan galaktose dengan bantuan enzim laktase yang sudah ada dalam
mukosa saluran pencernaan sejak lahir. Laktose mempunyai manfaat lain yaitu
mempertinggi absorbsi kalsium dan merangsang pertumbuhan laktobasilus
bifidus.1
c Protein
Protein dalam susu adalah kasein dan whey. Kadar protein ASI sebesar
0,9% sampai 60% diantaranya adalah whey yang lebih mudah dicerna
dibanding kasein (protein utama susu sapi). Selain mudah dicerna, dalam ASI
terdapat dua macam asam amino yang tidak terdapat dalam susu sapi yaitu

sistin dan taurin. Sistin diperlukan untuk pertumbuhan somatik, sedangkan


taurin untuk pertumbuhan otak. Selain dari ASI, sebenarnya sistin dan taurin
dapat diperoleh dari penguraian tirosin, tetapi pada bayi baru lahir penguraian
tirosin ini belum ada.1
d Garam dan Mineral
Ginjal neonatus belum dapat mengkonsentrasikan air kemih dengan baik,
sehingga diperlukan susu dengan kadar garam dari mineral yang rendah. ASI
mengandung garam dan mineral lebih rendah dibanding susu sapi. Bayi yang
mendapat susu sapi atau susu formula yang tidak dimodifikasi dapat menderita
tetani karena hipokalsemia. Kadar kalsium dalam susu sapi lebih tinggi
dibanding susu ASI, tetapi kadar fosfornya jauh lebih tinggi, sehingga
menggangu penyerapan kalsium dan magnesium.1
ASI dan susu sapi mengandung zat besi dalam kadar yang tidak terlalu
tinggi, tetapi zat besi dalam ASI mudah diserap. Dalam badan bayi terdapat
cadangan zat besi, di samping itu ada zat besi yang berasal dari eritrosit yang
dipecah, bila ditambah dengan zat besi yang berasal dari ASI maka bayi akan
mendapat cukup zat besi sampai usia 6 bulan. Seng diperlukan untuk tumbuh
kembang, sistem imunitas dan mencegah penyakit penyakit tertentu seperti
akrodermatitis enteropatika (penyakit yang mengenai kulit dan sistem
pencernaan dan dapat berakibat fatal). Bayi yang mendapatkan ASI cukup
mendapatkan seng, sehingga terhindar dari penyakit ini.1
e Vitamin

ASI cukup untuk mengandung vitamin yang diperlukan bayi. Vitamin K


yang berfungsi sebagai katalisator pada proses pembentukan darah terdapat
dalam ASI dengan jumlah cukup dan mudah diserap. Dalam ASI juga terdapat
vitamin D dan E terutama dalam kolostrum.1
f Mineral
ASI mengandung mineral yang lengkap. Walaupun kadarnya relatif
rendah tetapi cukup untuk bayi sampai berumur 6 bulan.1

Tabel II.1
Komposisi Kolostrum, ASI dan Susu Sapi Per 100 Gram 7
Gizi
Energi (Kal)
Protein (g)
Lemak (g)
Karbohidrat (g)
Kalsium (mg)
Fosfor (mg)
Besi (mg)
Vit A (SI)
Thiamin (mg)
Riboflavin (mg)
Niacin (mg)
Asam Askorbat
2

Kolostrum (1-5 hr)


(100 gr)
58
2,7
2,9
5,3
31
14
0,09
296
0,015
0,029
0,075
4,4

Susu
ASI (100 gr) Susu Sapi (100 gr)
77
65
1,1
3,5
4,0
3,5
9,5
4,9
33
118
14
93
0,1
240
140
0,01
0,03
0,04
0,17
0,2
0,1
5
1

ASI sebagai zat protektif


Bayi yang baru lahir secara alamiah mendapat immunoglobulin (zat
kekebalan dalam tubuh) dari ibunya melalui plasenta. Namun, kadar zat ini akan
cepat sekali menurun segera setelah bayi lahir. Pada usia bayi 9 -12 bulan tubuh

bayi baru dapat membuat zat kekebalan sendiri yang cukup banyak sehingga
mencapai kadar protektif. Sedangkan apabila yang dibentuk oleh tubuh bayi
tersebut belum tercukupi maka akan terjadilah kesenjangan zat kekebalan pada
tubuh bayi tersebut.8
Kesenjangan ini akan hilang atau berkurang apabila bayi tersebut diberi ASI,
karena ASI merupakan suatu cairan hidup yang mengandung zat kekebalan yang
berfungsi untuk melindungi bayi dari berbagai penyakit infeksi, bakteri, virus,
parasit, dan jamur. Bayi yang mendapat ASI biasanya lebih jarang menderita
suatu penyakit karena adanya zat protektif dalam ASI.8
Adapun yang termasuk zat protektif tersebut adalah :
a

Laktobasilus Bifidus
Laktobasilus bifidus berfungsi mengubah laktose menjadi asam laktat dan
asam asetat. Kedua asam ini menjadikan saluran pencernaan bersifat asam
sehingga dapat menghambat pertumbuhan mikroorganisme seperti bakteri E
Coli yang sering menyebabkan diare pada bayi, shigela dan jamur.
Laktobasilus Bifidus mudah tumbuh cepat dalam susu bayi ,terutama bayi yang
mendapatkan ASI, karena ASI mengandung polisakarida yang berkaitan
dengan nitrogen yang diperlukan untuk pertumbuhan Laktobasilus Bifidus.
Susu sapi tidak mengandung faktor ini.8

Laktoferin
Laktoferin adalah protein yang berkaitan dengan zat besi. Konsentrasinya
dalam ASI sebesar 100 mg/100 ml tertinggi diantara semua cairan biologis.
Dengan mengikat zat besi, maka laktoferin bermanfaat untuk menghambat

pertumbuhan kuman tertentu, yaitu stafilokokus dan Escheda Coli yang juga
memerlukan zat besi untuk pertumbuhannya.8
c

Lisozim
Lisozim

adalah

enzim

yang

dapat

mernecah

dinding

bakteri.

Konsentrasinya dalam ASI sebesar 29-39 mg/100 ml, lisozim merupakan


konsentrasi terbesar di dalam cairan ekstraselular. Kadar lisozim ASI 300 kali
lebih tinggi dibanding susu sapi. Lisozim stabil didalam cairan dengan pH
rendah seperti cairan lambung, sehingga masih banyak dijumpai lisozim dalam
tinja bayi.8
d

Komplemen C3 dan C4
Kedua komplemen ini walaupun kadarnya dalarn ASI rendah,
mempunyai daya opsinik, anafilatoksik, dan kemotaktik yang berbeda bila
diaktifkan oleh IgA dan IgE yang juga terdapat dalam ASI.8

Faktor Anti streptokokus


Dalam ASI terdapat anti streptokokus yang melindungi bayi terhadap
infeksi kuman tersebut.8

Antibodi
Secara elektroforetik, kromatrografik, dan radio immunoassay terbukti
bahwa ASI terutama kolostrum mengandung imunoglobulin, yaitu secretory
IgA (SigA), IgE, IgM, dan IgG. Dan semua imunoglobulin tersebut yang
terbanyak adalah IgA, Antibodi dalam ASI dapat bertahan di dalam saluran
pencernaan bayi karena tahan terhadap asam dan enzim proteolitik saluran

pencernaan dan membuat lapisan pada mukosanya sehingga mencegah bakteri


patogen dan entero virus masuk ke dalam mukosa usus.8
Dalam tinja bayi yang mendapatkan ASI terdapat antibodi terhadap
bakteri Escheria coli yang rendah. Di dalam ASI kecuali antibodi terhadap
enterotoksin E. coli, terbukti adanya antibodi terhadap Salmonella thipy,
Shigela dan antibodi terhadap virus seperti rotavirus, polio, campak. Antibodi
terhadap rotrovirus tinggi dalam kolostrum yang kemudian turun pada minggu
pertama sampai umur 2 tahun. Dalam ASI juga didapat antigen terhadap
Helicobacter jejuni, yang merupakan penyebab terjadinya diare. Kadarnya
dalam kolostrum cukup tinggi dan akan menurun pada usia bayi 1 bulan dan
menetap selama menyusui.8
g

Immunitas Seluler
ASI mengandung sel-sel. Sebagian besar (90%) sel tersebut berupa
makrofag yang berfungsi membunuh dan memfagositosis mikro organisme,
membentuk C3 dan C4, lisozim, laktoferin. Sisanya (10%) terdiri dari limfosit
B dan T. Angka leukosit pada kolostrum kira-kira 5000/ml, setara dengan
angka leukosit darah tepi, tetapi komposisinya berbeda karena hampir
semuanya berupa polimorfonukler dan mononuklear.8
Dengan meningkatnya volume ASI angka leukositosis menurun menjadi
2000/ml. Walaupun demikian kapasitas anti bakterinya sama sepanjang
stadium laktasi. Konsentrasi faktor anti infeksi tinggi dalam kolostrum. Kadar
SigA, laktoferin, lisozim, dan sel makrofag, neutrofil dan limfosit lebih tinggi

pada ASI premature dibanding ASI matur. Perbedaan status gizi ibu tidak
mempengaruhi konsentrasi faktor infeksi dalam ASI.8
h

Tidak menimbulkan alergi


Pada bayi baru lahir sistem IgE belurn sempurna. Pemberian susu
formula akan merangsang aktivasi sistem ini dan dapat menimbulkan alergi.
ASI tidak menimbulkan efek ini. Pemberian protein asing yang ditunda sampai
umur 6 bulan akan mengurangi kemungkinan alergi ini.8

II.1.6. Manfaat ASI


Pemberian ASI mempunyai manfaat yang besar, baik bagi ibu, bagi bayi, bagi
negara hingga bagi lingkungan.
1

Manfaat Pemberian ASI Pada Bayi


ASI sebagai nutrisi yaitu sumber gizi yang sangat ideal, komposisi yang
seimbang dan disesuaikan dengan kebutuhan pertumbuhan bayi. ASI adalah
makanan yang sempurna baik kualitas maupun kuantitasnya.9
ASI meningkatkan daya tahan tubuh bayi yaitu merupakan cairan hidup yang
mengandung zat kekebalan yang akan melindungi bayi dari berbagai penyakit
infeksi bakteri, virus, parasit dan jamur. Zat kekebalan yang terdapat pada ASI
akan melindungi bayi dari penyakit diare , juga akan menurunkan kemungkinan
bayi terkena infeksi telinga, batuk, pilek dan penyakit alergi lainnya. 9
ASI eksklusif meningkatkan kecerdasan karena dalam ASI terkandung
nutrien- nutrien yang diperlukan untuk pertumbuhan otak bayi yang tidak ada atau
sedikit sekali terdapat pada susu sapi antara lain. Taurin yaitu suatu bentuk zat
putih telur yang hanya terdapat pada ASI. Laktosa merupakan hidrat arang utama

dari ASI yang hanya sedikit sekali terdapat dalam susu sapi. Asam Lemak ikatan
panjang (DHA, AA, Omega 3, Omega 6), merupakan asam lemak utama dari ASI
yang terdapat sedikit dalam susu sapi. 9
ASI eksklusif meningkatkan jalinan kasih sayang karena bayi yang sering
berada dalam dekapan ibu akan merasa kasih sayang ibunya. Ia juga akan merasa
aman dan tenteram yang akan menjadi dasar perkembangan emosi bayi dan
membentuk kepribadian dan percaya diri dan dasar spiritual yang baik. 9
2

Manfaat ASI bagi Ibu


Mengurangi perdarahan setelah melahirkan, apabila bayi segera disusui
setelah dilahirkan maka kemungkinan terjadi perdarahan setelah melahirkan akan
berkurang, karena pada ibu menyusui terjadi peningkatan oksitosin yang berguna
untuk menutup pembuluh darah sehingga perdarahan cepat berhenti. 9
Mengurangi terjadinya anemia karena kekurangan zat besi akibat perdarahan.
Menjarangkan kehamilan karena menyusui merupakan alat kontrasepsi yang aman,
mudah dan cukup berhasil. Mengecilkan rahim karena kadar oksitosin ibu
menyusui yang meningkat akan sangat membantu rahim kembali ke ukuran
sebelum hamil. 9
Lebih cepat langsing kembali karena menyusui memerlukan energi maka
tubuh akan mengambilnya dari lemak yang tertimbun selama hamil, sehingga berat
badan ibu yang menyusui akan lebih cepat kembali ke berat badan sebelum hamil.
Mengurangi kemungkinan menderita kanker pada ibu yang memberikan ASI
eksklusif. 9

Lebih ekonomis dan mudah karena menghemat pengeluaran untuk susu


formula, perlengkapan dan persiapan untuk pembuatan susu formula. 9
3

Manfaat ASI bagi Negara


Penghematan devisa untuk pembelian susu formula, perlengkapan menyusui
serta biaya menyiapkan susu. Penghematan untuk biaya sakit terutama sakit
muntah, mencret, dan sakit saluran nafas. Penghematan obat- obat, tenaga dan
sarana kesehatan. Menciptakan generasi penerus bangsa yang tangguh dan
berkualitas untuk membangun Negara. 9

Manfaat ASI bagi Lingkungan


ASI akan mengurangi bertambahnya sampah dan polusi di udara. Dengan
hanya memberi ASI manusia tidak memerlukan kaleng susu, karton dan kertas
pembungkus, botol plastik dan karet. ASI tidak menambah polusi udara karena
untuk membuatnya tidak memerlukan pabrik yang mengeluarkan asap 9

II.1.7. Langkah-langkah Menyusui yang Benar


Langkah-langkah menyusui yang benar, yaitu :3
1

Sebelum menyusui ASI dikeluarkan sedikit, kemudian dioleskan pada puting dan
areola payudara. Cara ini bermanfaat sebagai disinfektan dan menjaga

kelembaban puting susu.


Posisi Menyusui
Ada berbagi macam posisi menyusui, yang biasa dilakukan adalah dengan duduk,
berdiri atau berbaring. Ada posisi khusus yang berkaitan dengan situasi tertentu
seperti ibu paska oprasi sesar, bayi diletakan disamping kepala ibu dengan kaki
diatas. Menyusui bayi kembar dilakukan dengan cara memegang bola, dimana
kedua bayi disusui bersamaan kiri dan kanan. Pada ASI yang memancar (penuh),

bayi ditengkurapkan diatas dada ibu, tangan ibu sedikit menahan kepala bayi,
3

dengan posisi ini maka bayi tidak akan tersedak.


Bayi diletakkan menghadap perut dan payudara ibu.
a lbu duduk atau berbaring dengan santai, bila duduk lebih baik menggunakan
kursi yang rendah (agar kaki ibu tidak menggantung) dan punggung ibu
b

bersandar pada sandaran kursi.


Bayi dipegang pada belakang bahunya dengan satu lengan, kepala bayi
terletak pada lengkung siku ibu (kepala tidak boleh menengadah d&n bokong

c
d

4
5
6

bayi ditahan dengan telapak tangan).


Satu tangan bayi diletakkan di belakang badan ibu dan yang satu di depan.
Perut bayi menempel pada badan ibu, kepala bayi menghadap payudara (tidak

hanya membelokkan kepala bayi).


e Telinga dan lengan bayi terletak pada satu garis lurus.
f lbu menatap bayi dengan kasih sayang.
Payudara dipegang dengan ibu jari di atas dan jari yang lain menopang dibawah ,
jangan -menekan puting susu atau areola payudaranya saja.
Bayi diberi rangsangan agar membuka mulut (rooting refleks) dengan cara :
a Menyentuh pipi dengan puting susu.
b Menyentuh sisi mulut bayi.
Setelah bayi membuka mulut, dengan cepat kepala bayi didekatkan ke payudara
ibu dan puting serta areola payudara dimasukkan ke mulut bayi
a Usahakan sebagian areola payudara dapat masuk ke mulut bayi, sehingga
puting susu berada dilangit-langit dan. lidah bayi akan menekan ASI keluar
dari tempat penampungan ASI yang terletak di bawah areola payudara. Posisi
yang salah, yaltu apabila hanya menghisap pada puting susu saja akan

mengakibatkan masukan ASI tidak adekuat dan puting susu lecet.


b Setelah bayi mulai menghisap payudara tak perlu dipegang/disanggah lagi.
Melepas isapan bayi setelah menyusui pada satu payudara sampai terasa kosong,
sebaiknya diganti dengan payudara yang satunya.
Cara melepas isapan bayi:
a Jari kelingking ibu dimasukkan ke mulut bayi melalui sudut mulut.
b Dagu bayi ditekan ke bawah.

c
8

Setelah selesai menyusui ASI dikeluarkan sedikit kemudian dioleskan pada

puting susu dan disekitar kalang payudara, biarkan kering dengan sendirinya.
Menyendawakan Bayi
Tujuan menyendawakan bayi adalah mengeluarkan udara dari lambung supaya
bayi tidak muntah setelah menyusui Cara menyendawakan bayi:
a Bayi digendong tegak dengan bersandar pada bahu ibu, kemudian
b

punggungnya ditepuk perlahan- lahan.


Bayi tidur tengkurap di pangkuan ibu kemudian punggungnya ditepuk

perlahan.
Untuk mengetahui bayi telah menyusui dengan tehnik yang benar dapat dilihat
dengan :
a Bayi tampak tenang
b Badan bayi menempel pada badan ibu.
c Mulut bayi terbuka lebar.
d Dagu menempel pada payudara ibu.
e Sebagian besar areola payudara masuk ke dalam mulut bayi,
f Bayi tampak menghisap kuat dengan irama perlahan.
g Puting susu ibu tidak terasa nyeri.
h Telinga dan lengan bayi terletak pada satu garis lurus.
i Kepala tidak menengadah.

II.1.8. Lama dan Frekuensi Menyusui


Sebaiknya menyusui bayi secara tidak dijadwal (on demand), karena bayi akan
menentukan sendiri kebutuhannya. Ibu harus menyusui bayinya bila bayi menangis
bukan karena sebab lain (kencing, dsb) atau ibu sudah merasa perlu menyusui
bayinya. Bayi yang sehat dapat mengosongkan payudara sekitar 5-7 menit dan ASI
dalam lambung bayi akan kosong dalam waktu 2 jam. Pada awalnya bayi akan
menyusu dengan jadwal yang tidak teratur, dan akan mempunyai pola tertentu
setelah 1-2 minggu kemudian.9
Menyusui yang dijadwal akan berakibat kurang baik karena isapan bayi sangat
berpengaruh pada rangsangan produksi ASI selanjutnya. Dengan menyusui tidak

dijadwal sangat berguna karena dengan sering disusukan akan memacu produksi
ASI, dan juga dapat mendukung keberhasilan menunda kehamilan. Untuk menjaga
keseimbangan besarnya kedua payudara maka setiap kali menyusukan harus dengan
kedua payudara dan diusahakan sampai payudara terasa kosong, agar produksi ASI
menjadi lebih baik.9
II.2. Tinjauan Umum Tentang ASI Eksklusif
II.2.1. Pengertian ASI Eksklusif
ASI eksklusif atau lebih tepat pemberian ASI secara eksklusif adalah bayi
hanya diberi ASI saja tanpa tambahan cairan lain seperti susu formula, jeruk, madu,
air teh, air putih, dan tanpa tambahan makanan padat seperti pisang, pepaya, bubuk
susu, biskuit, bubur nasi dan tim.1
Memberikan ASI secara eksklusif berarti keuntungan untuk semua, bayi akan
lebih sehat, cerdas, dan berkepribadian baik, ibu akan lebih sehat dan menarik,
perusahaan, lingkungan dan masyarakat pun akan lebih mendapat keuntungan. ASI
eksklusif telah terbukti menjadi sumber nutrisi terbaik untuk bayi terutarna yang
berumur kurang dari 6 bulan.1
Pedoman internasional yang menganjurkan pemberian ASI eksklusif selama 6
bulan pertama didasarkan pada bukti ilmiah tentang manfaat ASI bagi daya tahan
hidup bayi, pertumbuhan, dan perkembangannya. ASI memberi semua energi dan
gizi (nutrisi) yang dibutuhkan bayi selama 6 bulan pertama hidupnya. Pemberian
ASI eksklusif mengurangi tingkat kematian bayi yang disebabkan berbagai penyakit
yang umum menimpa anak-anak seperti diare dan radang paru, serta mempercepat
pemulihan bila sakit dan membantu menjarangkan kelahiran.10

II.2.2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pemberian ASI Eksklusif


Pemberian ASI pada bayi erat kaitannya dengan keputusan yang dibuat oleh
ibu. Selama ini ibu merupakan figur utama dalam keputusan untuk memberikan ASI
atau tidak pada bayinya. Pengambilan keputusan ini dipengaruhi oleh banyak faktor,
baik faktor dari dalam maupun dari faktor dari luar diri ibu.11
Faktor-faktor dari dalam diri ibu atau faktor internal antara lain pengetahuan
ibu mengenai proses laktasi, pendidikan, motivasi, sikap, pekerjaan ibu, dan kondisi
kesehatan ibu. Sementara itu, faktor dari luar diri ibu atau faktor eksternal antara lain
sosial ekonomi, tata laksana rumah sakit, kondisi kesehatan bayi, pengaruh iklan
susu formula yang intensif, keyakinan keliru yang berkembang di masyarakat dan
kurangnya penerangan dan dukungan terhadap ibu dari tenaga kesehatan atau
petugas penolong persalinan maupun orang-orang terdekat ibu seperti ibu, mertua,
suami, dan lain-lain. 11
1

Faktor internal
a Pengetahuan
Pengetahuan merupakan hasil tahu, dan ini terjadi setelah orang
melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengindraan terjadi
melalui pancaindra, yakni indra penglihatan, pendengaran, penciuman,
perasa, dan peraba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui
mata dan telinga. 11
Pengetahuan ibu tentang ASI merupakan salah satu faktor yang
penting dalam kesuksesan proses menyusui. Tingkat pengetahuan,

pendidikan, status kerja ibu, dan jumlah anak dalam keluarga berpengaruh
positif pada frekuensi dan pola pemberian ASI. 11
b

Pendidikan
Tingkat pendidikan dan akses ibu terhadap media masa juga
mempengaruhi pengambilan keputusan, dimana semakin tinggi pendidikan
semakin besar peluang untuk memberikan ASI eksklusif. Sebaliknya akses
terhadap media berpengaruh negatif terhadap pemberian ASI, dimana
semakin tinggi akses ibu pada media semakin tinggi peluang untuk tidak
memberikan ASI eksklusif. 11
Tingkat pendidikan formal yang tinggi memang dapat membentuk
nilai-nilai progresif pada diri seseorang, terutama dalam menerima hal-hal
baru, termasuk pentingnya pemberian ASI secara eksklusif pada bayi.
Namun karena sebagian besar ibu dengan pendidikan tinggi bekerja di luar
rumah, bayi akan ditinggalkan di rumah di bawah asuhan nenek, mertua atau
orang lain yang kemungkinan masih mewarisi nilai-nilai lama dalam
pemberian makan pada bayi. Dengan demikian, tingkat pendidikan yang
cukup tinggi pada wanita di pedesaan tidaklah menjadi jaminan bahwa
mereka akan meninggalkan tradisi atau kebiasaan yang salah dalam
memberi makan pada bayi, selama lingkungan sosial di tempat tinggal tidak
mendukung ke arah tersebut. 11

Motivasi
Motivasi merupakan salah satu mekanisme bagaimana perilaku
terbentuk dan mengalami proses perubahan. Motivasi berarti dorongan yang

timbul dari dalam diri seseorang yang secara sadar atau tidak sadar sehingga
membuat orang berperilaku untuk mencapai tujuan yang sesuai dengan
kebutuhannya. 11
Ibu-ibu harus dibangkitkan kemauan dan kesediannya menyusui
anaknya, terutama sebelum melahirkan. Apabila nilai menyusui hendak
ditingkatkan pada masyarakat, maka pengertian tentang menyusui harus
ditanamkan pada anak-anak gadis sejak usia muda, bahwa menyusui anak
merupakan bagian dari tugas biologi seorang ibu. Di daerah perkotaan,
sasaran yang harus diberi pendidikan adalah para gadis remaja. Di daerah
pedesaan, pendidikan harus diarahkan untuk tujuan mencegah kekurangan
gizi dan diare. 11
d

Sikap
Selain pengaruh pengetahuan tentang ASI, pendidikan dan motivasi
ibu, faktor lain yang dapat berpengaruh adalah sikap ibu terhadap ASI.
Menurut Notoatmodjo (2003), sikap merupakan reaksi atau respon
seseorang yang masih tertutup terhadap suatu stimulus atau obyek.
Manifestasi sikap tidak dapat langsung dilihat, tetapi hanya dapat ditafsirkan
terlebih dahulu dari perilaku yang tertutup. 11

Pekerjaan
Salah satu alasan yang paling sering dikemukakan bila ibu tidak
menyusui adalah kerena mereka harus bekerja. Wanita selalu bekerja,
terutama pada usia subur, sehingga selalu menjadi masalah untuk mencari
cara merawat bayi. Bekerja bukan hanya berarti pekerjaan yang dibayar dan

dilakukan di kantor, tapi bisa juga berarti bekerja di ladang, bagi masyarakat
di pedesaan. 11
Pada Pekan ASI Sedunia tahun 1993 diperingati dengan tema Tempat
Kerja Sayang Bayi (Mother Friendly Workplace), menunjukkan bahwa
adanya perhatian dunia terhadap peran ganda ibu menyusui dan bekerja.
Salah satu kebijakan dan strategi Departemen Kesehatan RI tentang
Peningkatan Pemberian ASI (PP-ASI) pekerja wanita adalah mengupayakan
fasilitas yang mendukung PP-ASI bagi ibu yang menyusui di tempat kerja
dengan

menyediakan

sarana

ruang

memerah

ASI,

menyediakan

perlengkapan untuk memerah dan menyimpan ASI, menyediakan materi


penyuluhan ASI, dan memberikan penyuluhan. 11
f

Kondisi kesehatan ibu


Kondisi kesehatan ibu juga dapat mempengaruhi pemberian ASI
secara eksklusif. Pada keadaan tertentu, bayi tidak mendapat ASI sama
sekali, misalnya dokter melarang ibu untuk menyusui karena sedang
menderita penyakit yang dapat membahayakan ibu atau bayinya, seperti ibu
menderita sakit jantung berat, ibu sedang menderita infeksi virus berat, ibu
sedang dirawat di Rumah Sakit atau ibu meninggal dunia. 11

Faktor eksternal
a Perubahan sosial budaya
1 Ibu-ibu bekerja atau kesibukan sosial lainnya.
Kenaikan tingkat partisipasi wanita dalam angkatan kerja dan
adanya emansipasi dalam segala bidang kerja dan di kebutuhan

masyarakat menyebabkan turunnya kesediaan menyusui dan lamanya


menyusui.11
2

Meniru teman, tetangga atau orang terkemuka yang memberikan susu


botol. Persepsi masyarakatkan gaya hidup mewah membawa dampak
menurutnya kesediaan menyusui. Bahkan adanya pandangan bagi
kalangan terentu bahwa susu botol sangat cocok buat bayi dan terbaik.
Hal ini dipengaruhi oleh gaya hidup yang selalu mau meniru orang lain,

atau tanya untuk prestise. 11


Merasa ketinggalan zaman jika menyusui bayinya.
Budaya modern dan perilaku masyarakat yang meniru negara barat
mendesak para ibu untuk segera menyapih anaknya dan memilih air susu
buatan sebagai jalan keluarnya. 9

Faktor psikologis
1 Takut kehilangan daya tarik sebagai seorang wanita.
Adanya anggapan para ibu bahwa menyusui akan merusak
penampilan. Padahal setiap ibu yang mempunyai bayi selalu mengubah
payudara, walaupun menyusui atau tidak menyusui. 11
2

Tekanan batin.
Ada sebagian kecil ibu mengalami tekanan batin di saat menyusui
bayi sehingga dapat mendesak ibu untuk mengurangi frekuensi dan lama
menyusui, bahkan mengurangi menyusui. 11

Faktor kurangnya petugas kesehatan, sehingga masyarakat kurang mendapat


penerangan atau dorongan tentang manfaat pemberian ASI. Penyuluhan

kepada masyarakat mengenai manfaat dan cara pemanfaatannya. 11


Meningkatnya promosi susu formula sebagai pengganti ASI.

Peningkatan sarana komunikasi dan transportasi yang memudahkan


periklanan distribusi susu buatan menimbulkan tumbuhnya kesediaan
menyusui dan lamanya baik di desa dan perkotaan. Distibusi, iklan dan
promosi susu buatan berlangsung terus dan bahkan meningkat titik hanya di
televisi, radio dan surat kabar melainkan juga ditempat-tempat praktek
swasta dan klinik-klinik kesehatan masyarakat di Indonesia. 11
e

Penerangan yang salah justru datangnya dari petugas kesehatan sendiri yang
menganjurkan penggantian ASI dengan susu formula.
Penyediaan susu bubuk di Puskesmas disertai pandangan untuk
meningkatkan gizi bayi, seringkali menyebabkan salah arah dan
meningkatkan pemberian susu botol. 11
Prornosi ASI yang efektif haruslah dimulai pada profesi kedokteran,
meliputi pendidikan di sekolah-sekolah kedokteran yang menekankan
pentingnya ASI. 11

Faktor pengelolaan laktasi di ruang bersalin


Untuk menunjang keberhasilan laktasi, bayi hendaknya disusui segera
atau sedini mungkin setelah lahir. Namun tidak semua persalinan berjalan
normal dan tidak semua dapat dilaksanakan menyusui dini. 11
Ada beberapa persalinan yang terpaksa tidak dapat berjalan lancar dan
terpaksa dilakukan dengan tindakan persalinan misalnya seksio sesaria.
Dengan mengingat hal diatas, pengelolaan laktasi dapat dikelompokkan 2
cara, yaitu persalinan normal dan persalinan dengan tindakan. 11
1

Persalinan normal

Pada persalinan normal, ibu dan bayi dalam keadaan sehat. Oleh
karena itu, dapat segera dilaksanakan menyusui dini. Hal tersebut perlu
oleh karena menyusui dini mempunyai beberapa manfaat baik terhadap
ibu maupun terhadap bayi. Bayi disusukan ke kedua puting ibu secara
bergantian. Setelah jalan nafasnya dibersihkan, usahakan menyusui
sedini mungkin dan tidak melebihi waktu lewat jam sesudah lahir. 11
2

Persalinan dengan tindakan


Dapat dikelompokkan menjadi 2 bagian masalah :
a

Persalinan dengan tindakan narkosa misalnya seksio sesaria


menyusui dini perlu ditunda sampai pasien sadar, karena ASI pada
ibu dan tindakan ini mempunyai efek terhadap bayi. Misalnya bayi
menjadi mengantuk sehingga malas menyusu. Sebaiknya sesudah
ibu sadar ditanyakan dahulu untuk menyusui bayinya pada saat

tersebut. 11
Persalinan dengan tindakan tanpa narkosa. Persalinan dengan
tindakan tanpa narkosa yang kemungkinan mempunyai pengaruh
pada bayi. Dalam hal ini bayi tidak dapat menyusui secara aktif,
oleh karena itu ASI diberi secara aktif pasif yaitu dengan
pipet/sendok. Walaupun demikian bila keadaan bayi memungkinkan
untuk diangkat menyusui dini dapat dilakukan seperti biasa.
Pendapat daripada ahli-ahli kesehatan dan kebiasaan rumah-rumah
sakit mempunyai dampak terhadap pendapat para ibu tentang
alternatif pemberian susu kepada bayi. Terutama bagi ibu-ibu yang

melahirkan perlu diberi penyuluhan tentang cara-cara pemberian


g

ASI yang menjamin kelancaran produksi ASI sejak bayi lahir. 11


Faktor lain
Ada beberapa bagian keadaan yang tidak memungkinkan ibu untuk
menyusui bayinya walaupun produksinya cukup, seperti : 16
1

Berhubungan dengan kesehatan seperti adanya penyakit yang diderita


sehingga dilarang oleh dokter untuk menyusui, yang dianggap baik

untuk kepentingan ibu (seperti : gagal jantung, Hb rendah)


Masih seringnya dijumpai di rumah sakit (rumah sakit bersalin) pada
hari pertama kelahiran oleh perawat atau tenaga kesehatan lainnya,
walaupun sebagian besar daripada ibu-ibu yang melahirkan di kamar
mereka sendiri, hampir setengah dari bayi mereka diberi susu buatan

atau larutan glukosa.


II.2.3. Manfaat Pemberian ASI Eksklusif Bagi Bayi
Manfaat pemberian ASI sangat banyak antara lain:
1

Sebagai Nutrisi Terbaik.


ASI merupakan sumber gizi yang sangat ideal dengan komposisi yang
seimbang karena disesuaikan dengan kebutuhan bayi pada masa pertumbuhannya.
ASI adalah makanan yang paling sempurna, baik kualitas maupun kuantitasnya.
Dengan melaksanakan tata laksana menyusui yang tepat dan benar, produksi ASI
seorang ibu akan cukup sebagai makanan tunggal bagi bayi normal sampai
dengan usia 6 bulan. Meningkatkan daya tahan tubuh bayi yang baru lahir secara
alamiah mendapat zat kekebalan atau daya tahan tubuh dari ibunya melalui
plasenta. Tetapi kadar zat tersebut akan cepat menurun setelah kelahiran bayi.
Sedangkan kemampuan bayi membantu daya tahan tubuhnya sendiri menjadi

lambat, selanjutnya akan terjadi kesenjangan daya tahan tubuh. Kesenjangan


tersebut dapat diatasi apabila bayi diberi ASI sebab ASI adalah cairan yang
mengandung zat kekebalan tubuh yang dapat melindungi bayi dari berbagai
penyakit infeksi bakteri, virus, dan jamur.5
2

Tidak mudah tercemar


ASI steril dan tidak mudah tercemar, sedangkan susu formula mudah dan
sering tercemar bakteri, terutama bila ibu kurang mengetahui cara pembuatan
susu formula yang benar dan baik. 5

Melindungi bayi dari infeksi


ASI mengandung berbagai antibodi terhadap penyakit yang disebabkan
bakteri, virus, jamur dan parasit yang menyerang manusia. 5

Mudah dicerna
ASI mudah dicerna, sedangkan susu sapi sulit dicerna karena tidak
mengandung enzim pencerna. 5

Menghindarkan bayi dari alergi


Bayi yang diberi susu sapi terlalu dini mungkin menderita lebih banyak
masalah alergi, misalnya asma dan alergi. 5

II.3. Tinjauan Umum Tentang Susu Formula


II.3.1. Pengertian Susu Formula
Susu formula adalah susu yang dibuat dari susu sapi atau susu buatan yang
diubah komposisinya hingga dapat dipakai sebagai pengganti ASI. Alasan

dipakainya susu sapi sebagai bahan dasar mungkin oleh banyaknya susu yang dapat
dihasilkan oleh peternak.12
Susu sapi murni atau bentuk modifikasinya merupakan dasar pada kebanyakan
formula, walaupun susu lain dan pengganti susu tersedia untuk bayi yang tidak dapat
mentoleransinya. Sterilisasi dan pendinginan formula sangat mengurangi morbiditas
dan mortalitas infeksi gastrointestinal.13
II.3.2. Keunggulan ASI Dibanding Susu Formula
Keunggulan ASI dibanding susu formula, yaitu :14
1

ASI lebih efisien karena tidak perlu menyiapkan dan mensterilkan botol susu,

dot, dsb.
ASI lebih praktis karena ibu bisa jalan-jalan ke luar rumah tanpa harusmembawa

banyak perlengkapan seperti botol, dot, kaleng susu formula, air panas, dsb.
ASI mengandung semua zat gizi dan cairan yang dibutuhkan untuk memenuhi

seluruh gizi bayi pada 6 bulan pertama kehidupannya


ASI lebih murah, karena tidak usah selalu membeli susu formula dan

5
6

perlengkapannya
ASI selalu bebas kuman, sementara campuran susu formula belum tentu steril
ASI tidak akan basi. ASI selalu diproduksi oleh pabriknya di wilayah payudara.
Bila gudang ASI telah kosong, ASI yang tidak dikeluarkan akan diserap kembali
oleh tubuh ibu. Jadi, ASI dalam payudara tidak pernah basi dan ibu tidak perlu

7
8

memerah dan membuang ASI-nya sebelum menyusui.


KomposisiASI ideal untuk bayi
Para dokter sepakat bahwa ASI mengurangi resiko infeksi lambung-usus,

sembelit, dan alergi


ASI selalu siap sedia setiap saat bayi menginginkannya, selalu dalam keadaan

steril dan suhu susu yang pas.


10 ASI disesuaikan secara unik bagi bayi manusia, seperti halnya susu sapi adalah
yang terbaik untuk sapi.

BAB III
KERANGKA KONSEP

III.1. Dasar Pemikiran Variabel yang Diteliti


Air Susu Ibu merupakan sumber nutrisi yang penting untuk pertumbuhan bayi
disamping manfaat lainnya ditinjau dari segi immunologis, hygiene, ekonomi, maupun
psikologi.
Pengetahuan ibu mengenai pengertian, manfaat, cara pemberian, keunggulan, dan
nutrisi ASI sangat menunjang pemberdayaan ASI dan mengoptimalkan pengunaan ASI.
Adanya upaya promosi penggunaan ASI yang telah dicanangkan oleh pemerintah dan
berbagai program penyuluhan yang dilakukan oleh petugas kesehatan diharapkan dapat
menambah pengetahuan tentang ASI dan meningkatkan motivasi pemberian ASI eksklusif.
Pengetahuan yang baik dan cukup diharapkan akan menimbulkan perilaku ibu-ibu
terhadap pemberian ASI eksklusif.
1. Pengetahuan tentang pengertian ASI eksklusif.
Air Susu Ibu (ASI) adalah suatu cairan yang sekresi oleh kelenjar mamae ibu,
yang berguna sebagai makanan bagi bayinya.
ASI eksklusif adalah perilaku dimana hanya memberikan Air Susu Ibu (ASI) saja
kepada bayi sampai umur 6 (enam) bulan tanpa makanan dan ataupun minuman lain
kecuali sirup obat.

ASI terdiri dari 88% air. Bahkan bayi baru lahir yang hanya mendapat sedikit ASI
pertama, tidak memerlukan tambahan cairan karena bayi dilahirkan dengan cukup
cairan di dalam tubuhnya.
2. Pengetahuan tentang keunggulan ASI eksklusif dibandingkan susu formula.
Keunggulan ASI dibandingkan susu formula yaitu :
a. ASI merupakan makanan alamiah yang mudah dicerna, sedangkan susu formula
lebih sulit diserap.
b. ASI mengadung laktosa yang lebih tinggi dibandingkan dengan susu buatan.
c. ASI tidak mengandung beta-lactoglobulin yang menyebabkan alergi pada bayi.
d. ASI mengandung zat anti infeksi, bersih dan bebas kontaminasi. Sedangkan
pemberian susu formula, sangat rawan terkontaminasi kuman, apalagi jika cara
pembuatannya kurang higienis.
e. Pengaruh kontak langsung ibu-bayi : ikatan kasih sayang ibu-bayi terjadi karena
berbagai rangsangan seperti sentuhan kulit (skin to skin contact). Bayi akan merasa
aman dan puas karena bayi merasakan kehangatan tubuh ibu dan mendengar denyut
jantung ibu yang sudah dikenal sejak masih dalam rahim.
f. Pemberian ASI dapat menghemat pengeluaran keluarga, dan dapat diberikan setiap
kali bayi membutuhkannya.
3. Pengetahuan tentang manfaat ASI eksklusif.
Pemberian ASI eksklusif selain sangat bermanfaat untuk bayi, juga bermanfaat
untuk ibu-ibu dan masyarakat. Manfaat pemberian ASI eksklusif bagi ibu yaitu
memberikan rasa kebanggaan karena ia dapat memberikan kehidupan kepada bayinya,
hubungan yang lebih erat karena secara alamiah terjadi kontak kulit yang erat, bagi
perkembangan psikis dan emosional antara ibu dan anak, dengan menyusui bagi rahim
ibu akan berkontraksi yang dapat menyebabkan pengembalian keukuran sebelum hamil,
mempercepat berhentinya pendarahan post partum, dengan menyusui maka kesuburan
ibu menjadi berkurang untuk beberapa bulan, mengurangi kemungkinan kanker
payudara.

4. Pengetahuan mengenai cara pemberian ASI yang benar.


Cara pemberian ASI yang benar sangat mempengaruhui keberhasilan pemberian
ASI eksklusif. Ibu-ibu yang menyusui harus selalu menjaga kebersihan dirinya, mencuci
tangan sebelum memberi ASI pada bayinya. Hal penting lain yang juga harus
diperhatikan ibu adalah mengkonsumsi makanan yang bernutrisi tinggi.
Pengetahuan ibu-ibu tentang ASI eksklusif yang baik diharapkan akan menghasilkan
perilaku pemberian ASI eksklusif yang baik pula. Akan tetapi ada berbagai faktor yang
juga mempengaruhi pemberian ASI eksklusif, antara lain tingkat pendidikan ibu-ibu,
faktor sosial budaya masyarakat setempat, pekerjaan dan faktor ekonomi. Dalam
penenlitian ini kami membatasi penelitian kami hanya pada segi pengetahuan dan
perilaku ibu-ibu, tanpa menilai faktor-faktor lain yang mempengaruhi pemberian ASI
eksklusif.

III.2. Skema Pola Pikir Penelitian


Pendidikan
Pekerjaan
Pengetahuan
Sikap
Perilaku
Dukungan keluarga
Faktor sosial budaya

Pemberian
Asi Eksklusif

Keterangan :
Variabel yang diteliti

Variabel yang tidak diteliti


Gambar 1. Kerangka konsep variabel yang diteliti dan yang tidak diteliti

III.3. Definisi Operasional


III.3.1. Umur Ibu
1. Definisi
Umur ibu adalah umur responden sejak dilahirkan hingga saat pengambilan
data yang dinyatakan dalam satuan tahun.
2. Kriteria Objektif
a. Usia 15-19 tahun
b. Usia 20-24 tahun
c. Usia 25-29 tahun
d. Usia 30-34 tahun
III.3.2. Pendidikan

e. Usia 35-39 tahun


f. Usia 40-44 tahun
g. Usia 45-49 tahun

1. Definisi
Pendidikan adalah pendidikan formal yang pernah dilalui atau sedang dijalani
oleh responden.
2. Kriteria Objektif
a. Tidak Bersekolah
b. UPSR/SD/sederajat
c. PMR/SMP/sederajat

d. SPM/SMA/sederajat
e. Perguruan Tinggi/sederajat

III.3.3. Pekerjaan
1. Definisi
Pekerjaan Ibu adalah aktivitas sehari-hari yang dilakukan oleh responden yang
menghasilkan pendapatan atau nafkah bagi keluarga.
Pekerjaan suami adalah aktivitas sehari-hari yang dilakukan oleh suami
responden yang menghasilkan pendapatan atau nafkah bagi keluarga.
2. Kriteria Objektif
a. Berkerja
b. Tidak Berkerja
III.3.4. Penghasilan Keluarga

1. Definisi
Penghasilan keluarga adalah jumlah penghasilan yang didapatkan oleh anggota
keluarga setiap bulannya dalam bentuk uang sebagai hasil dari pekerjaannya.
2. Kriteria Objektif
Penentuan kriteria objektif ini didasarkan pada nilai Pendapatan Isi Rumah
Terendah Malaysia 2014 sebesar RM 2,537.00.
a. Tinggi : RM 2,537.00 / bulan
b. Kurang : < R M 2,537.00 / bulan
III.3.5. Pengetahuan
1. Pengertian tentang ASI eksklusif.
a. Definisi : Apa yang diketahui responden berkaitan dengan pengertian ASI,
pengertian ASI eksklusif.
b. Alat ukur : kuisioner ( 4 pertanyaan )
c. Cara ukur : Subjek menjawab pertanyaan yang diberikan dan dinilai dengan
angka.
d. Kriteria objektif
1) Pengetahuan ibu-ibu tentang pengertian ASI eksklusif dianggap cukup
apabila responden mampu menjawab 70% pertanyaan dengan benar,
dengan jumlah nilai 3 pertanyaan.
2) Pengetahuan dianggap kurang apabila reponden hanya mampu menjawab
kurang dari 70% pertanyaan dengan benar, dengan jumlah nilai < 3
pertanyaan.
2. Keunggulan ASI eksklusif dibandingkan pemberian susu formula.
a. Definisi : Apa yang diketahui responden berkaitan dengan keunggulan susu
ASI dibandingkan dengan pemberian susu formula.
b. Alat ukur : kuisioner ( 4 pertanyaan )
c. Cara ukur : Subjek menjawab pertanyaan yang diberikan dan dinilai dengan
angka.
d. Kriteria objektif
1) Pengetahuan ibu-ibu tentang keunggulan ASI dianggap cukup apabila
responden mampu menjawab 70% pertanyaan dengan benar, dengan
jumlah nilai 3 pertanyaan.

2) Pengetahuan dianggap kurang apabila reponden hanya mampu menjawab


kurang dari 70% pertanyaan dengan benar, dengan jumlah nilai < 3
pertanyaan.
3. Manfaat pemberian ASI eksklusif.
a. Definisi : Apa yang diketahui responden berkaitan dengan manfaat pemberian
ASI baik bagi bayinya sendiri, bagi ibu, dan bagi masyarakat umum.
b. Alat ukur : kuisioner ( 4 pertanyaan )
c. Cara ukur : Subjek menjawab pertanyaan yang diberikan dan dinilai dengan
angka.
d. Kriteria objektif
1) Pengetahuan ibu-ibu tentang manfaat susu dianggap cukup apabila
responden mampu menjawab 70% pertanyaan dengan benar, dengan
jumlah nilai 3 pertanyaan.
2) Pengetahuan dianggap kurang apabila reponden hanya mampu menjawab
kurang dari 70% pertanyaan dengan benar, dengan jumlah nilai < 3
pertanyaan.
4. Cara pemberian ASI eksklusif.
a. Definisi : Apa yang diketahui responden berkaitan cara pemberian ASI yang
benar.
b. Alat ukur : kuisioner ( 4 pertanyaan )
c. Cara ukur : Subjek menjawab pertanyaan yang diberikan dan dinilai dengan
angka.
d. Kriteria objektif
1) Pengetahuan ibu-ibu tentang keunggulan ASI dianggap cukup apabila
responden mampu menjawab 70% pertanyaan dengan benar, dengan
jumlah nilai 3 pertanyaan.
2) Pengetahuan dianggap kurang apabila reponden hanya mampu menjawab
70% pertanyaan dengan benar, dengan jumlah nilai < 3 pertanyaan.
Pengetahuan responden secara umum dikategorikan cukup apabila responden
memiliki tingkat pengetahuan cukup pada 3 sub kategori pengetahuan
(pengertian, keunggulan, manfaat, dan cara pemberian ASI). Dikategorikan kurang

apabila hanya mampu memiliki tingkat pengetahuan cukup pada < 3 sub kategori
tersebut.
III.3.6. Sikap
1. Definisi
: Pendapat responden terhadap pemberian ASI eksklusif.
2. Alat Ukur : Kuisioner ( 6 pertanyaan )
3. Cara Ukur : Subjek mengisi kuisioner berdasarkan pendapat mereka mengenai
objek yang ditanyakan.
4. Kriteria Objektif :
a. Sikap positif : Apabila responden menjawab dengan sesuai 4 atau lebih
dari 6 pertanyaan.
b. Sikap negatif : Apabila responden menjawab dengan sesuai kurang dari 3
pertanyaan.
III.3.7. Perilaku
1. Definisi
: Reaksi/kegiatan responden terhadap pemberian ASI eksklusif.
2. Alat Ukur : Kuisioner ( 5 pertanyaan )
3. Cara Ukur : Subjek mengisi kuisioner berdasarkan apa yang mereka terapkan
dalam kehidupan sehari-hari.

4. Kriteria Objektif
a. Perilaku positif

: Apabila responden menjawab dengan sesuai 3 atau

lebih dari 5 pertanyaan.


b. Perilaku Negatif
: Apabila responden menjawab dengan sesuai
kurang dari 3 pertanyaan.

BAB IV
METODOLOGI PENELITIAN

IV.1. Jenis Penelitian


Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian yang bersifat deskriptif dan
bertujuan untuk memberikan informasi mengenai tingkat pengetahuan, sikap, dan perilaku
ibu-ibu tentang ASI eksklusif di lokasi penelitian.

IV.2. Lokasi dan Waktu Penelitian


IV.2.1. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian bertempat di Daerah Ketereh, Kelantan, Malaysia
IV.2.2. Waktu Penelitian

Waktu penelitian adalah waktu kepaniteraan yaitu mulai 13 Juli - 26 Juli


2015.

IV.3. Populasi dan Sampel


IV.3.1. Populasi Target
Populasi target penelitian adalah

ibu-ibu yang mempunyai bayi atau

balita.
IV.3.2. Populasi Terjangkau
Populasi terjangkau adalah ibu-ibu berumur 15-49 tahun yang mempunyai
bayi atau balita yang bertempat tinggal di Daerah Ketereh, Kelantan, Malaysia.
Jumlah populasi terjangkau di Daerah Ketereh, Kelantan, Malaysia adalah
sebanyak 4.436 orang.
IV.3.3. Sampel
Teknik pengambilan sampel adalah dengan menggunakan metode quota
sampling dengan sampel adalah ibu-ibu yang tinggal di Daerah Ketereh,
Kelantan, Malaysia dan memenuhi kriteria pemilihan sampai jumlah sampel yang
diperlukan terpenuhi.
IV.3.4. Besar Sampel
Dari jumlah populasi ibu-ibu yang diketahui, maka rumus yang digunakan
untuk perhitungan sampel adalah:
Diperoleh dengan menggunakan rumus Slovin:
n

N
1 + N (d2)

Keterangan:
n = besar sampel
N = total populasi
d = tingkat kepercayaan/ketepatan yang diinginkan yakni 0,1

Jadi, besarnya sampel pada penelitian ini adalah:


n

4436_____
1 + 4436 (0.12)

n 97
Besar sampel yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah 100 sampel.
IV.3.5. Kriteria Seleksi
1. Kriteria Inklusi :
a. Subjek ibu-ibu berumur 15-49 tahun yang mempunyai bayi atau balita yang
bertempat tinggal di Daerah Ketereh, Kelantan, Malaysia dan bersedia
mengisi kuisioner.
b. Subjek yang dapat membaca dan menulis.
2. Kriteria Eksklusi :
Subjek yang menolak untuk dijadikan sebagai sampel.
IV.4. Jenis Data dan Instrumen
IV.4.1. Jenis Data
1. Data primer yang diperoleh dengan menggunakan kuisioner.
2. Data yang diperoleh, yaitu dari data primer, yang diperoleh dari ibu-ibu yang
tinggal di Daerah Ketereh, Kelantan, Malaysia. Sebelum pengisian kuisioner,
peneliti memberikan petunjuk dalam pengisian kuisioner dan diberi penjelasan
bila responden mengalami kesulitan dan hal hal yang kurang jelas.

3.

IV.4.2. Instrumen Penelitian


a. Instrumen penelitian menggunakan kuisioner data umum.
b. Instrumen penelitian menggunakan kuisioner pengetahuan.

IV.5. Manajemen Data


IV.5.1. Pengumpulan Data
Pengumpulan data secara primer dilakukan dengan mewawancarai responden
dengan berpatokan pada kuisioner yang telah dibuat sebelumnya.
IV.5.2. Pengeditan Data
Dilakukan apabila terdapat missing data dari hasil yang diperoleh dalam
penelitian.
IV.5.3. Pengolahan Data
Pengolahan data menggunakan komputer dengan memakai program SPSS
16.0 dan Microsoft Excel.
IV.5.4. Penyajian Data
Penyajian data ini menjelaskan karakteristik masing-masing variabel yang
diteliti dan ditampilkan dalam bentuk tabel yang disertai narasi.

IV.6. Etika Penelitian


1. Menyertakan surat izin penelitian dari Pemerintah Kota Makassar.
2. Sebelum melakukan penelitian terlebih dahulu peneliti mendapat informed consent dari
responden yang akan menjadi objek penelitian secara lisan.

3. Subjek akan diperlakukan secara anonimus dan konfidensial sehingga diharapkan tidak
ada pihak yang merasa dirugikan atas penelitian ini.

DAFTAR PUSTAKA
1. M.

Hidayah,

Budayakan

penyusuan

bayi

dengan

susu

badan.

http://www.myhealth.gov.my/index.php/my/component/content/article/15
6-artikel-disember-2011/2367-secangkir-kopi-seribu-nikmat
2. Ministry of Health Malaysia. Health facts: Penyusuan Susu Ibu 2010.
Putrajaya MY: Ministry of Health, 2010.
3. Ministry Of Health. Clinical Practice Guidelines on Breastfeeding Policy of
Malaysia (revised 2nd ed), 2010.
4. Ministry Of Health Malaysia. Annual Report, 2004.
5. Ritongan,

EW.

Peran

ASI

bagi

Bayi.

[online].

Available

at

www.damandiri.or.id/file/evawanyaritonangipbbab2.pdf.
6. Siregar,

A.

Pemberian

ASI

Eksklusif

dan

Faktor-Faktor

yang

Mempengaruhinya. [online]. Available at


http://library.usu.ac.id/download/fkm/fkm-arifin4.pdf.
7. Rahayuningsih, T. Hubungan antara Tingkat Pengetahuan Ibu tentang
ASI dengan Pemberian Kolostrum dan ASI Eksklusif di Kelurahan
Purwoyoso

Kecamatan

Ngaliyan.

[online].

Available

at

http://digilib.unnes.ac.id/gsdl/collect/skripsi/archives/HASHd07e/5900770
9.dir/doc.pdf
8. Anonim. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Ibu Memberikan Makanan
Tambahan pada Bayi Usia Kurang Dari Enam Bulan di Wilayah Kerja
Puskesmas

Simpang

Limun

Tahun

2008.

[online].

Available

at

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/16932/4/Chapter
%20II.pdf.
9. Wahyuningrum, N. Survey Pengetahuan Ibu Tentang ASI Eksklusif dengan
Pemberian ASI Eksklusif pada Bayi di Desa Sadang Kecamatan Jekulo
Kabupaten

Kudus.

[online].

Available

at

http://digilib.unnes.ac.id/gsdl/collect/skripsi/archives/HASHf931/1f877b44
.dir/doc.pdf.
10.

Linkages. Pemberian ASI Eksklusif atau ASI saja : Satu-Satunya

Sumber Cairan yang Dibutuhkan Bayi Usia Dini. [online]. Available at


www.linkagesproject.org/media/publications/ENAReferences/Indonesia/Ref4.7%2520.pdf.
11.
Ibu

Siregar, A. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pemberian ASI oleh


Melahirkan.

[online].

Available

at

http://library.usu.ac.id/download/fkm/fkm-arifin.pdf.
12.

Anonim.

Susu

Formula.

[online].

Available

http://creasoft.wordpress.com/2010/01/01/susu-formula/.

at

13.

Nelson, WA. Pemberian Makan Bayi dan Anak. Dalam: Ilmu

Kesehatan

Anak

(Nelson

Textbook

of

Pediatrics).

Penerbit

Buku

Kedokteran. Hal: 197.


14.

Anonim. Keunggulan ASI dibanding Susu Formula. Availble at:

http://tutorialkuliah.blogspot.com/2009/10/keunggulan-asi-dibandingkansusu.html.
15.

Pertiwi, A. Pengetahuan dan Sikap Ibu Menyusui Pengunjung

Puskesmas Minasaupa Mengenai ASI Eksklusif. Skripsi FK UMI 2008.


16.

Notoatmodjo, S. Kesehatan Masyarakat Ilmu dan Seni. Penerbit

Rineka Cipta. 2007. Hal: 130-9.