Anda di halaman 1dari 16

Laporan Praktikum Hari/Tanggal : Rabu, 7 Oktober 2009

Ilmu Bedah Khusus Veteriner I Tempat : R.P. Hewan Kecil FKH


Waktu : 14.00- 17.00 WIB

CYSTOTOMY
Disusun oleh :

Fiona S kalyana B04060257


Sisca Valinata B04060471
Setyo Budi Laksono B04060676
Dina Amallia B04060794
Dermawan Saputra B04060838

BAGIAN BEDAH DAN RADIOLOGI


DEPARTEMEN KLINIK, REPRODUKSI, DAN PATOLOGI
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2009
PENDAHULUAN
Tingginya kasus pada traktus urinari menyebabkan berkembangnya
berbagai metode yang dapat digunakan untuk menangani kasus tersebut.
Beberapa metode yang dapat digunakan untuk menangani kasus pada traktus
urinari adalah dengan cara cystotomi, cystocentesis, maupun kateterisasi uretra.
Cystotomi berarti penyayatan pada dinding vesica urinaria yang berfungsi
untuk mengetahui bagian dalam dari vesica urinaria, sedangkan cystocentesis
adalah pengambilan cairan (urin) dari dalam vesica urinaria untuk menghindari
kontaminasi dengan bakteri. Metode yang lebih aman dalam hal
mengosongkan vesica urinaria dalah dengan menggunakan katererisasi uretra.
Baik cystotomi maupun cystocentesis diawali dengan penyayatan pada
dinding abdomen atau yang disebut dengan laparotomi. Dalam kasus ini yang
digunakan adalah jenis laparotomi medianus posterior. Hal ini dikarenakan
organ target yaitu vesica urinaria berada di bagian hipogastrium. Laparotomi
yang dilakukan pada rongga abdomen diperlukan sebagai pendukung atau
penentuan suatu diagnosa atau untuk terapi pada 1)organ pencerrnaan seperti
lambung, pylorus, usus, rectum dan hati, 2) organ urinarius seperti pada ureter,
ginjal dan vesica urinaria, 3) organ limfatik seperti pada organ limfa , dan
organ reproduksi seperti pada tuba falopii, ovarium, uterus dan kelenjar
prostate pada hewan jantan
Bakteri yang paling sering terlibat dalam infeksi saluran kemih (ISK)
termasuk Escherichia coli, Proteus spp, Staphylococus Streptococus,
Klebsiella spp, Enterobacter spp dan Pseudomonas spp. Diagnosis ISK
didasarkan pada tanda-tanda klinis, dan dikonfirmasi oleh pemeriksaan dan
budaya kuantitatif sampel urin. Biasanya, spesimen yang dikumpulkan oleh
cystosentesis adalah bacteriologically steril, tetapi sampel yang dikoleksi
dengan cara selain cystocentesis mungkin mengandung bakteri, protein dan
sel-sel darah putih sebagai kontaminan dari bawah saluran kemih dan alat
kelamin. Sebelum pengobatan dilakukan, maka ISK harus diklasifikasikan
sebagai ISK sederhana atau rumit. ISK yang lebih rendah (sistitis) dari anjing
betina dewasa biasanya merupakan ISK sederhana karena bersifat sementara
dan reversibel. Dalam ISK rumit kerusakan di urothelium, seperti
urolithiasiasis, neoplasia, micturation gangguan, kerusakan atau anatomi yang
mendasari penyakit atau pengobatan imunosupresif dapat dibuktikan atau
infeksi telah meluas ke saluran kencing atas menyebabkan pielonefritis.

TUJUAN

Praktikum kali ini bertujuan untuk melatih mahasiswa melakukan


laparotomi medianus posterior serta mengetahui cara-cara untuk melakukan
prosedur cystocentesis sehingga dapat digunakan sebagai salah satu prosedur
untuk menangani kasus-kasus pada vesica urinaria.

ALAT DAN BAHAN

1. Alat-alat bedah minor : Syiringe 1ml dan syringe 10ml


a. 4 towel clamp Thermometer
b. 4 tang arteri anatomis Stetoskop
c. 2 tang arteri cyrhorgis Duk
d. 2 tang arteri bengkok 10. Penggaris
e. 1 needle holder 11. Perlengkapan operator :
f. 1 pinset cyrhorgis a. Sarung tangan
g. 1 pinset anatomis b. Tutup kepala
h. 1 gunting bulu c. Masker
i. 1 gunting operasi d. Baju operasi
j. 1 gunting preparin e. 2 sikat ukuran sedang
k. 1 scalpel handle f. Handuk kecil
2. tampon g. Sabun
3. Jarum berpenampang bulat dan
segitiga 12. Meja operasi
4. Benang bahan cat gut dan silk 13. Lampu operasi
5. Alat pencukur bulu
Obat-obatan yang digunakan antara lain:
a. Ketamine HCl 10%; dosis 10 mg/kg BB; IM
b. Xylazine 2%; dosis 2 mg/ kg BB; IM
c. Atropin Sulfat; dosis 0.02-0.04 mg/kg BB; IM
d. Antiseptikum :
1. Alkohol 70%; topikal
2. Yodium tinctur 3% ; topikal
e. Antibiotika :
1. Penicillin 50.000 IU
2. Oxytetracyclin; dosis 14 mg/kg BB; IM
3. Amoxillin; dosis 20 mg/kg BB dengan kandungan 125mg/5ml;
PO

METODE OPERASI

A. PRE OPERASI
a. Preparasi alat
Pertama-tama peralatan operasi dicuci dengan menggunakan sikat yang
telah diberi sabun dari bagian ujung ke ujung yang lain. Kemudian dibilas
dengan air kran yang mengalir 5 – 10 kali. Kemudian peralatan dibilas kembali
dengan menggunakan desinfektan. Lalu dilap dengan lap steril hingga kering.
Peralatan tersebut dimasukkan ke dalam tempat alat bedah dari logam dengan
urutan dari bawah ke atas yaitu needle holder, tang arteri, gunting, pinset
serologi, pinset anatomis, gagang scalpel, towel clamp. Setelah itu bak tersebut
dibungkus dengan kain dan diberi label jenis alat bedah minor serta tanggal
sterilisasi kemudian dimasukan ke dalam oven atau sterilisator dengan suhu
100 0 C selama 60 menit

b. Preparasi Ruangan
Ruangan dan meja operasi dibersihkan terlebih dahulu, lalu dilakukan
desinfeksi dengan desinfektan serta fumigasi menggunakan campuran formalin
10% dan KMNO4 5% dengan perbandingan 1:2 selama 15 menit atau dapat
dilakukan dengan sinar ultra violet.

c. Preparasi perlengkapan operator


Sebelum melakukan operasi operator harus melakukan desinfeksi
terlebih dahulu
1. Tangan dicuci dengan sikat yang telah diberi sabun, sikat tangan
dari ujung jari ke siku harus berurutan dan tidak boleh kembali
ke posisi sikat awal (ujung jari), masing – masing tangan
menggunakan sikat yang berbeda. Seluruh tangan disikat cuci
dengan air mengalir, dibilas sebanyak 10 – 15 kali dengan air
yang mengalir dari ujung jari ke siku.
2. Tangan dilap dengan menggunakan lap steril hingga kering,
bagian sisi kanan lap untuk mengelap tangan kanan dan begitu
pula bagian sisi kiri lap untuk mengelap tangan kiri.
3. Kemudian operator menggunakan baju operasi serta tutup
kepala dan masker dibantu oleh asisten 1.
4. Operator mengenakan sarung tangan dan memakainya sesuai
dengan cara yang benar.
d. Preparasi hewan
Sebelum dilakukan tindakan bedah hewan, harus dilakukan
pemeriksaan Anamnese dan Signalement untuk mengetahui apakah hewan
layak untuk dioperasi.
i. Anamnesis
Nama : kuba
Alamat : Jl. Babakan raya
ii. Signalement
Jenis Hewan : Kucing
Jenis kelamin : Betina
Ras : Kucing lokal
Berat badan : 3 kg
Warna bulu : Putih, oranye
c. Status preasent dan Keadaan umum
- Status preasent
Normal
* Frekuensi nafas : 24/menit 20-30/mnt
* Frekuensi jantung : 132/menit 100-120/mnt

* Suhu (temperatur) : 38.2oC 38-39.5oC

- Keadaan umum
* Gizi : Baik
* Temperamental : Jinak

d. Kulit dan bulu/rambut


* Turgor kulit : baik
* Bau : normal
* Kerontokan : tidak ada
* Permukaan Kulit : halus
e. Selaput lendir
* Aspek permukaan : normal
* Warna :rose
* Kilau dan perlicinan: mengkilat
f. Limfonodus
Normal, tidak ada tanda-tanda pembengkakan.
e. Handling dan persiapan hewan operasi
Area operasi harus dicukur dan dibersihkan terlebih dahulu, jangan
sampai masih ada rambut yang mengotori. Area tersebut kemudian disemprot
dengan alkohol 70% kemudian diolesi dengan Yodium tinctur atau betadine.
Setelah itu, hewan diikat di atas meja dan ditutupi dengan kain penutup/duk.
B. OPERASI
a. Persiapan pembiusan/Anaesthesi
Anesthesi yang dilakukan adalah menggunakan kombinasi obat bius
xylazine 2% dan ketamine HCl 10% dengan dosis 2 mg /kg BB dan 10 mg / kg
BB dan dilakukan secara intramuscular.
Sebelum dilakukan anaesthesi, kucing terlebih dahulu diberikan atrofin
sulfat sebagai premedikasi dengan dosis 0.02 mg/kg BB secara SC untuk
mencegah hewan muntah dan hypersalivasi.

b. Orientasi
Penyayatan dilakukan di bagian medianus, yaitu tepat pada garis linea
alba, 1 cm di anterior os pubis.

c. Teknik Operasi
Setelah dilakukan pembiusan, pada area operasi dilakukan pencukuran
bulu, lalu dibersihkan dengan alkohol 70% dan diberi iodium tincture 3 %
dengan menggunakan kapas dan dilakukan pembersihan seperti obat nyamuk
yaitu dari bagian tengah sayatan kearah luar/ tepi sayatan.
Penyayatan pertama dilakukan pada lapisan kulit terluar. Pada saat
penyayatan, sayatan dibuat lurus dan tidak terputus-putus (seminimal
mungkin). Sayatan juga dilakukan secara kontinyu dengan scalpel. Pisahkan
fascia dan lapisan lemak. Setelah ditemukan linea alba, maka linea alba harus
difixir terlebih dahulu dengan menggunakan towel clamp agar sayatan tepat di
atasnya, sehingga tidak menimbulkan adanya pendarahan. Setelah linea alba
disayat, maka akan ditemukan peritoneum dan omentum. Setelah itu omentum
disingkirkan dan vesica urinaria dicari dengan hati-hati. Jika terjadi perdarahan
dihentikan dengan tampon.
Vesica urinaria diisolasi dari rongga abdomen menggunakan kassa
steril, selanjutnya dilakukan pengambilan urin (inspirasi) dari vesica urinaria
dengan menggunakan syringe atau yang disebut dengan cystocentesis. Setelah
selesai melakukan cystocentesis vesica urinaria dikembalikan kedalam rongga
abdomen dan disemprotkan penicillin 50.000 IU. Kemudian dilakukan
penjahitan pada lapisan peritoneum dan linea alba dengan menggunakan jarum
berpenampang bulat dan benang cat gut 3/0 dengan tipe jahitan sederhana.
Lapiasn lemak dalam hal ini juga dijahit tersendiri karena lapisan lemaknya
sangat tebal menggunakan jarum berpenampang bulat dan benang cat gut 3/0
dengan tipe jahitan sederhana. Selanjutnya lapisan kutis-sub kutis dijahit
dengan menggunakan jarum berpenampang segitiga dan benang silk
(sebelumnya disemprotkan penicillin 50.000 IU) dengan tipe jahitan sederhana
untuk memudahkan pembukaan jahitan post operasi (setelah 7 hari).

POST OPERASI

Pengobatan post operasi dilakukan dengan memberikan antibiotik


topikal dan sistemik. Pada saat operasi diberikan (disemprotkan) antibiotik
Penicillin 50.000 IU pada daerah sayatan sesuai dengan dosis. Setelah operasi
dilakukan, kucing disuntik Oxytetracyclin dengan dosis 14 mg/kg BB; IM
sebanyak 0.21 ml. Selanjutnya untuk pemberian antibiotik harian, diberikan
Amoxillin dosis 20 mg/kg BB dengan kandungan 125 mg/5 ml 2x sehari
selama 4 hari per oral sebanyak 2.4 ml untuk mencegah terjadinya infeksi.
Selain itu dilakukan pengamatan terhadap keadaan fisiologi tubuh hewan,
antara lain temperatur, frekuensi jantung, frekuensi respirasi, serta pengamatan
terhadap nafsu makan dan luka bekas jahitan. Setelah 7 hari post operasi, akan
dilakukan pembukaan jahitan.

HASIL PENGAMATAN

Tabel 1. Pengamatan selama operasi

Frekuensi
Waktu Suhu Nafas Jantung
15 36.7 20 100
30 36.3 16 108
45 35.4 20 104
60 35.2 20 108
75 34.8 24 80
90 34.5 24 124
105 33.3 20 108

Grafik 1. Pengamatan Suhu Selama Operasi

Grafik 2. Pengamatan Frekuensi Nafas selama Operasi

Grafik 3. Pengamatan Frekuensi Jantung selama Operasi

37
Tabel 2. Pengamatan selama post operasi

36
Frekuensi
Waktu Suhu Nafas
Jantung
Pagi 39 44 128
8 Oktober 2009
Sore 39.8 52 132
Pagi 39.8 56 132
9 oktober 2009
Sore 38.8 32 124
Pagi 38.1 28 120
10 Oktober 2009
Sore 37.1 24 116
Pagi 38.6 32 124
11 Oktober 2009
sore 37.9 24 116
12 oktober 2009 Pagi 38.2 28 120
Sore 37.7 28 120

Grafik 4. Pengamatan Suhu selama Post Operasi

Grafik 5. Pengamatan Frekuensi nafas selama Post Operasi

Grafik 6. Pengamatan Frekuensi jantung selama Post Operasi


Perhitungan :
Ketamin 10%
Diket : BB : 3 kg
Dosis : 10 mg/kg BB
Ketamin yang diperlukan :
Ketamin 10 % = 10 mg/kg BB
BB x Dosis = 3 kg x 10 mg/kg BB = 30 mg
Aspirasi : 30 mg / 100 mg x 1 ml = 0.3 ml

Xylazine 2%
Diket : BB = 3 kg
Dosis : 2 mg/ kg BB
Xylazine yang diperlukan :
BB x Dosis = 3 kg x 2 mg/ kg BB = 6 mg
Aspirasi : 6 mg / 20 mg x 1 ml = 0,3 ml

Oxytetracyclin
Dosis : 14 mg/kg BB
Oxytetracycline yang dibutuhkan:
BB x Dosis = 3 kg x 14 mg/kg BB = 42 mg
Aspirasi : 42 mg/200mg x 1ml = 0.21 ml

Amoxillin
Dosis : 20 mg/kg BB
Amoxillin yang dibutuhkan :
BB x Dosis = 3 kg x 20 mg/kg BB = 60 mg
Pemberian : 60 mg = 2.4 ml
25mg/ml
Diberikan selama 4 hari (2 kali sehari) = 2.4 ml x 8
= 19.2 ml

PEMBAHASAN

Cystocentesis atau prosedur pengambilan cairan (urin) dari dalam


vesica urinaria dilakukan dengan terlebih dahulu melakukan laparotomi
medianus posterior. Titik orientasi dalam operasi ini adalah 1 cm di depan atau
anterior os pubis dengan lebar sayatan 5-6 cm. Pada awal penyayatan lebar
sayatan hanya sekitar 2-3 cm, tetapi karena vesica urinarianya besar dan penuh
dengan urin sehingga susah untuk diisolasi, maka dilakukan penambahan lebar
sayatan hingga 5-6 cm. Proses penyayatan dilakukan berurutan dari lapisan
kulit, fascia, lapisan lemak, linea alba, peritoneum dan omentum.
Pada kucing yang dioperasi ini, didapatkan lapisan lemak yang sangat
tebal, sehingga dalam operasi perlu dilakukan penjahitan tersendiri. Setelah
lapisan lemak tersayat, akan ditemukan linea alba. Tepat di linea alba inilah
perlu disayat agar tidak terjadi pendarahan. Tetapi dalam laparotomi medianus
posterior agak susah untuk menyayat linea alba tepat di atasnya. Hal ini
dikarenakan garis linea albanya tidak sejelas ketika melakukan laparotomi
medianus, sehingga pendarahan biasanya tidak terhindarkan. Setelah linea alba
terkuak, maka akan terlihat peritoneum dan omentum yang tipis yang menutupi
vesica urinaria. Isolasi vesica urinaria dilakukan dengan menggunakan kassa
steril. Vesica urinaria yang ditemukan sangat besar dan penuh dengan cairan
urin. Volume urin yang berhasil dilakukan cystocentesis ± 25 ml. Dalam
melakukan cystocentesis perlu kehati-hatian agar urin tidak keluar dan
mengkontaminasi daerah di sekitarnya.
Anaesthetikum diberikan secara per injeksi Intra muskular pada otot
kaki belakang (m. triceps femoralis dan m.biceps femoralis). Stadium
analgesia terjadi ketika kucing mulai kehilangan rasa sakit tetapi belum
kehilangan kesadaran. Ketika kesadarannya mulai hilang, kucing juga terlihat
sempoyongan dan air liur keluar (salivasi), keadaan ini disebut stadium
eksitasi atau stadium involunter. Akhirnya kesadaran dan rasa sakit hilang
seluruhnya dengan pulsus yang normal dan pernapasan juga berlangsung
secara abdominal. Ini merupakan stadium pembedahan, yaitu saat yang tepat
di mana operasi dapat segera dilakukan.
Sebagai premedikasi diberikan atropin sulfat. Hal ini bertujuan untuk
membantu mengurangi efek samping dari obat anastetikum seperti cardiac
ventricular aritmia, berontak, hypersalivasi dan sebagai anti emetikum. Pada
saat pengukuran preanastesi, kondisi suhu dan nafas dalam keadaan normal,
sedangkan frekuensi jantung berada di atas batas normal yaitu 132 kali/menit.
Selama operasi berlangsung, terjadi penurunan pulsus nadi dan
temperatur tubuh. Hal ini disebabkan karena efek dari pemberian anestetikum
yang bersifat sebagai depresan. Pada awal hingga pertengahan operasi, kucing
terlihat tenang, tetapi pada saat akhir operasi kucing terlihat mulai sadar, oleh
sebab itu ditambahkan setengah dosis awal ketamin, yaitu 0.15 ml, sehingga
kucing tenang kembali dan proses penjahitan dapat dilanjutkan.
Proses penjahitan dimulai dari kedua tepi sayatan dan setelah itu
dilanjutkan ke bagian tengah. Pada saat penjahitan bagian tengah, arteri clamp
tidak boleh langsung menjepit jaringan, tetapi dilakukan pada ujung-ujung
benang. Hal ini dilakukan untuk menghindari terlukanya jaringan akibat
tekanan arteri clamp.
Penjahitan dilakukan sebanyak tiga kali, yaitu antara peritoneum
dengan linea alba, lapisan lemak, dan kulit. Penjahitan pereitoneum dan linea
alba dilakukan dengan menggunakan benang cat gut 3/0 agar dapat diserap
oleh tubuh dan jarum berpenampang bulat untuk jaringan yang lunak dengan
tipe jahitan sederhana. Adanya lapisan lemak yang tebal memaksa operator
untuk menjahitnya tersendiri dengan menggunakan jarum berpenampang bulat
dan benang cat gut 3/0 dengan tipe jahitan sederhana, sedangkan kulit dijahit
dengan jahitan sederhana (agar mudah dibuka) menggunakan benang silk dan
jarum berpenampang segitiga untuk mencegah jahitan terbuka sehingga tidak
terjadi keluarnya viscera dari dalam rongga tubuh.
Sebelum penjahitan, diberikan antibiotik lokal Penicillin 50.000 IU dan
setelah dilakukan penjahitan diberikan Oxytetracycline secara intra muskuler
sebanyak 0.21ml. Pemberian antibiotik dilakukan agar proses persembuhan
luka berlangsung cepat. Pada akhirnya di daerah bekas jahitan diberi betadine.
Pemberian antiseptik ini bertujuan untuk mencegah infeksi dan mempercepat
pengeringan luka.
Pada awal post operasi kucing menunjukkan penurunan nafsu makan
dan keadaannya terlihat lesu. Hal ini terjadi karena faktor stress dan adanya
nyeri viscera akibat laparotomi. Selama itu kucing hanya diberikan air gula
sebagai sumber energinya. Namun setelah hari keempat nafsu makan kembali
membaik disertai dengan urinasi dan defekasi yang baik. Pengamatan post
operasi menunjukan proses persembuhan yang baik dari kucing tersebut. Hal
ini ditunjukan dengan nilai fisiologis frekuensi nadi, napas, dan temperatur
tubuh yang semakin lama semakin mendekati kisaran normal data fisiologis
pada kucing. Antibiotik yang diberikan pada saat post opersi adalah amoxilin
dosis 20 mg/kg BB dengan kandungan 125mg/5ml yang diberikan secara PO
sebanyak 2.4 ml selama 4 hari. Pembukaan jahitan dilakukan tujuh hari post
operasi.

KESIMPULAN
Berdasarkan hasil praktikum ini, dapat disimpulkan bahwa untuk
melakukan cystocentesis atau pengambilan cairan (urin) dari dalam vesica
urinaria perlu dilakukan laparotomi medianus posterior terlebih dahulu dengan
titik orientasi 1 cm di anterior os pubis. Untuk mengisolasi vesica urinaria
maka lapisan yang perlu disayat berurutan dari luar ke dalam adalah kulit,
fascia, lapisan lemak, linea alba, peritoneum dan omentum.
DAFTAR PUSTAKA

Anonimous. 1997. Diktat Kuliah dan Praktikum IBUV. Bagian Klinik Fakultas
Kedokteran Hewan IPB. Bogor.

Ganong, W. F. 1999. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Penerbit Buku


Kedokteran EGC. Jakarta.

Handoko, Tony. 1995. Farmakologi dan Terapi, edisi ke-4. Bagian


Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.

Kumar, A. 1996. Veterinary Surgical Techniques. Vikal Publishing House


PVT LTD, India.