Anda di halaman 1dari 26

BAHAN AJAR

DISEMINASI DAN SOSIALISASI KETEKNIKAN


BIDANG PLP SEKTOR DRAINASE

MODUL 10
GAMBAR TEKNIK PERENCANAAN

halaman kosong

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ..................................................................................................................... i


DAFTAR TABEL ............................................................................................................ ii
DAFTAR GAMBAR ........................................................................................................ ii
GAMBAR TEKNIS PERENCANAAN ....................................................................... 487
1.

PENDAHULUAN ................................................................................................. 487

2.

KETENTUAN-KETENTUAN ............................................................................. 487

3.

GAMBAR HASIL PENGUKURAN .................................................................... 489

4.

GAMBAR DESAIN / PERENCANAAN ............................................................. 490

5.

4.1

Jenis gambar hasil perencanaan ..................................................................... 490

4.2

Skala gambar hasil perencanaan .................................................................... 491

STANDARISASI GAMBAR ............................................................................... 501


5.1

Tujuan Standarisasi ........................................................................................ 501

5.2

Aspek-Aspek yang akan Dipertimbangkan ................................................... 505

5.3

Ukuran Kertas ................................................................................................ 506

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................... 508

DAFTAR TABEL
Tabel 2-1.

Jenis garis dan tebal garis ..................................................................................... 488

Tabel 2-2.

Gambar penampang dan simbol bahan ................................................................. 488

Tabel 5-1.

Ukuran Kertas Seri A............................................................................................ 507

Tabel 5-2.

Ukuran Kertas Seri B ............................................................................................ 507

Tabel 5-3.

Ukuran Kertas Seri C ............................................................................................ 508

DAFTAR GAMBAR
Gambar 4.1.

Potongan pipa beton untuk gorong-gorong ..................................................... 492

Gambar 4.2.

Potongan melintang bangunan terjun tegak..................................................... 492

Gambar 4.3.

Potongan melintang bangunan terjun miring................................................... 493

Gambar 4.4.

Peta situasi saluran drainase ............................................................................ 494

Gambar 4.5.

Detail potongan melintang saluran drainase .................................................... 495

Gambar 4.6.

Detail potongan memanjang saluran drainase ................................................. 496

Gambar 4.7.

Tipikal Pintu Air .............................................................................................. 497

Gambar 4.8.

Tipikal Pintu Air .............................................................................................. 497

Gambar 4.9.

Tipikal Pelindung Pintu Air............................................................................. 498

Gambar 4.10. Tipikal Rumah Pompa dan Jaringan Pipa Pompa............................................ 499
Gambar 4.11. Contoh Peletakan Rumah Pompa .................................................................... 500
Gambar 4.12. Tipikal Kolam Intake ....................................................................................... 501

ii

GAMBAR TEKNIS PERENCANAAN


1.

PENDAHULUAN

Menggambar merupakan salah satu cara komunikasi antara seseorang dengan yang lainnya,
sehingga dengan melihat suatu gambar maka seseorang akan dapat mengerti arti gambar itu.
Karena gambar teknis merupakan suatu alat komunikasi, maka gambar teknis tidak boleh
menimbulkan tafsiran yang berbeda bagi orang yang melihatnya. Oleh karena itu perlu ada
tanda-tanda atau patokan tertentu atau standar sebagai suatu perjanjian bersama.
Dengan demikian, gambar teknis harus:
1) Memakai tanda-tanda gambar standar dan seragam
2) Selengkap mungkin agar dapat memberikan pengertian yang lengkap
3) Mudah dimengerti oleh orang lain.
Gambar teknis bisa digambarkan dalam bentuk:
1) Gambar proyeksi ortogonal atau gambar dua dimensi
2) Gambar perspektif atau gambar tiga dimensi
3) Gambar proyeksi dua dimensi atau disebut juga gambar proyeksi tegak lurus inilah yang
dipakai untuk gambar teknis, terutama gambar-gambar detail.

2.

KETENTUAN-KETENTUAN

1) Huruf teknis
Di dalam gambar teknis juga harus ada keseragaman bentuk huruf, yaitu huruf teknis yang
berupa huruf cetak besar.
2) Ukuran kertas
Untuk membuat gambar yang membutuhkan beberapa kertas sekaligus, dianjurkan
memakai kertas dengan ukuran yang sama. Untuk menentukan ukuran-ukuran kertas
tersebut dipakai patokan atau ukuran standar yaitu: A0, A1,A2, A3 atau A4.
3) Jenis garis dan tebal garis
Macam-macam garis yang biasa dipakai dalam gambar teknis adalah sebagai berikut:

487

1) Garis kontinu: untuk melukiskan bagian-bagian benda yang terlihat, dan untuk tepi garis
kertas.
2) Garis strip-strip: untuk melukiskan bagian-bagian yang tidak terlihat/ dibelakang irisan
3) Garis strip titik: untuk garis-garis sumbu, dan tempat irisan
4) Garis-titik-titik: menyatakan bangunan yang akan dibongkar
Tabel 2-1. Jenis garis dan tebal garis
Garis Kontinu
Garis Strip-Strip
Garis Strip Titik
Garis Tipis
Garis Titik-Titik
4) Skala gambar
Pakailah skala dengan angka-angka yang bulat dan mudah yaitu sebagai berikut:
1) Gambar situasi skala 1:5.000 sampai 1:10.000
2) Gambar potongan dan denah skala 1:50 sampai 1:100
3) Gambar detail skala 1:1 sampai 1:10
5) Gambar penampang atau simbol bahan
Normalisasi gambar bahan-bahan bangunan untuk memperjelas gambar teknis harus
memakai tanda standar/ seragam.
Tabel 2-2. Gambar penampang dan simbol bahan

Besi

488

Kayu

3.

Permukaan tanah

Permukaan air

Pasangan batu kali

Pasangan batu bata

Beton

Urugan tanah dan pasangan batu

GAMBAR HASIL PENGUKURAN

Ada beberapa macam gambar yang akan dibuat dalam pekerjaan perencanaan drainase yaitu
meliputi :
1) Gambar hasil pengukuran atau gambar eksisting
2) Gambar hasil perencanaan
Gambar hasil pengukuran merupakan tahap penyajian data dan merupakan tahap terakhir dari
proses pengukuran. Gambar-gambar hasil pengukuran akan ditampilkan sebagai eksisting dari
kondisi lapangan yang sebenarnya.
Gambar-gambar hasil pengukuran tersebut yaitu :
1) Gambar situasi
2) Gambar potongan profil melintang saluran
3) Gambar potongan profil memanjang saluran

489

Pekerjaan penggambaran dilakukan di atas kertas milimeter dan obyek penggambaran sebagai
berikut:
1) Penentuan koordinat X dan Y
2) Plotting semua titik poligon
3) Plotting tempat pengamatan situasi dan profil
4) Penggambaran potongan melintang dan memanjang dengan komputer dan plotter yang
meliputi pengisian nama patok jarak dan tinggi.
5) Skala gambar, untuk penampang memanjang dengan skala 1:1.000 ke arah horizontal dan
skala 1:100 ke arah vertikal yang dilengkapi gambar situasi trase saluran
6) Untuk penampang melintang digambar dengan skala 1:100 baik ke arah vertikal maupun
horizontal
7) Gambar detail menggunakan skala 1:10
Aturan khusus penggambaran ukuran tanah:
1)

Seluruh penampang melintang harus digambar dengan melihat ke arah hilir (sesuai arah
aliran).

2)

Istilah tebing kiri dan tebing kanan juga dibuat sesuai dengan arah ke hilir tersebut (sesuai
dengan aturan yang lazim).

3)

Penampang memanjang digambar dengan arah aliran dari kiri ke kanan.

4.

GAMBAR DESAIN / PERENCANAAN

4.1

Jenis gambar hasil perencanaan

Penggambaran hasil perencanaan akan disajikan antara lain meliputi :


1) Gambar peta lay-out atau situasi sistem drainase rencana.
2) Gambar potongan memanjang saluran, yang penggambarannya akan diplot langsung pada
gambar eksisting yang sudah dilengkapi gambar situasi atau trase.
3) Gambar potongan melintang saluran, dibuat seperti pada gambar potongan memanjang yaitu
penggambaran potongan melintang ini juga akan diplot diatas gambar eksisting.

490

4) Gambar bangunan pelengkap (gorong-gorong, bangunan terjun, dll) dilengkapi dengan


beberapa gambar potongan.
5) Gambar-gambar detail seperti detail konstruksi dan lain-lain.

4.2

Skala gambar hasil perencanaan

Skala gambar hasil perencaan akan disajikan dengan ketentuan sebagai berikut:
1) Peta lay-out atau situasi sistem drainase rencana, dibuat dengan skala 1:5.000 sampai
dengan 1:10.000
2) Gambar potongan memanjang saluran, dibuat dengan skala 1:1.000 untuk arah horizontal
dan skala 1:100 untuk arah vertikal
3) Gambar potongan melintang saluran, dibuat dengan skala 1:100 untuk arah vertikal dan
horizontal
4) Gambar bangunan pelengkap (gorong-gorong, bangunan terjun, dll) dibuat dengan skala
1:100 yang dilengkapi dengan beberapa gambar potongan
5) Gambar-gambar detail seperti detail konstruksi dan lain-lain dibuat dengan skala minimal
1:10

491

Gambar 4.1. Potongan pipa beton untuk gorong-gorong

Gambar 4.2. Potongan melintang bangunan terjun tegak

492

Gambar 4.3. Potongan melintang bangunan terjun miring

493

166

m
-0.462

-0.61
9

-0.892

-0.994

44
-0.8

35
-0.8

83
-0.7527
+0. 24
-0.0 26

7
-0.64

605
-0.

52
-0.4

-0.4
79

3
-0.60

0
-0.59

.15
TG

09
-0.3 48
+0.6 16
-0.2

41
-0.5

34
-0.4 7413
+0.6
-0.2

9
-0.51

95
-0.3 7887
+0.1
-0.3

19
-0.4

25
-0.4

39
-0.3

22
-0.2

87
-0.0 05
+0.9 54
-0.3 68
-0.9 09
-0.5 35
+0.2 51
+0.7 59
-0.1

15
-0.3
7
-0.50

04
-0.4

-0.5
70

-0.9
+0. 91
+0. 483
-1.4003
-1.1 73
-0.7 15
+0. 24
-0.2551
55

02
-0.7 47
+0.0

65
-0.7

+0.
-0.4730
02

-1.0
24

-0.8
97

-0.7
+0.1 58
+0.1 14
-1.0 19
09
-1.4
18
-0.9
66
-0.1
+0.5 16
-0.7 92
19
-0.3
+0.6 12
-0.2 69
81

-0.8
35

-0.5
66

-0.867

-0.822

G.7
CT

-0.724
+0.738
-0.891
-1.014
-1.126
-0.967
-0.545
+0.847
-0.507

93
83
-0.5 6363
+0.6
-0.2

36
-0.2 4251
+0.5
-0.6 4278
+0.2
-0.3

19
-0.4

79
-0.4 3237
+0.1
-0.4
2
-0.50 372
+0.3
-0.72
3
-0.70430
+0.4
-0.12

57
-0.4
3
-0.55

TG.29

-0.645

-0.645

-0.387
+0.632
-0.514

+0.535

+0.457
-0.212

-0.384
+0.420
-0.834
-1.736
-1.797
-1.028

-1.526
-0.360
+0.307
+0.530

+0.948

BM.02

+0.00

TG.30+0

TG.30

+.0556

TG.31

+1.478

+1.404

+0.991
+0.209
-0.249
-1.124
-0.548
+0.098
+0.662
-0.500

-0.803

-0.738

-1.11

TG 3
.32

+1.32
2

+1.25
5

+0.98
3
-0.57
7
-0.98
4
-0.53
+0.40 8
-0.45 7
9

-0.98
8

+0.786

+0.797

+0.722
+0.238
-0.401
-1.104
-0.781
+0.484
-0.425

-0.848

TG.33

-0.711

+0.285
-0.973
-1.277
-0.948
+0.456
-0.394

TP.6
+0.423

-0.482
+0.388

+0.271
+0.153
-1.048
-1.582
-1.411
+0.379.
-0.677

-0.825

-0.790

-0.229
+0.151
-0.708

0
-0.50 9
-0.25

1
-0.08 5
-0.01833
+0.0
-0.37

TG.35

-1.009

-0.843

-0.343
+0.254
-0.637

+0.145
-0.827
-0.753
-0.727
+0.368
-0.439

+0.454

R = 146 m

TG.36

-0.977

TG.37

-1.234
-0.9682
+0.37
-0.934
-0.7995
+0.18
-0.765

5
+0.30 4
+0.29
-0.626

665
+0. 329
+0. 15
-0.4 49
-1.3 52
-1.0
369
+0. 08
-0.5

74
-0.8

50
-0.9

.38
TG

13
+0.9 78
-0.2 84
-0.4 48
-0.6 57
-0.5 28
-0.5 36
-0.3 06
+0.6 67
-0.9

75
-1.1

40

-1.3.39
TG

71
+0.4 38
-2.5 26
-1.9 72
-1.9 10
-0.6 45
-0.2 89
-0.0 64
+0.6 97
-1.1

97
-1.1

49
-1.1

+0.435
-1.205
-1.329
-1.574
-1.350
-1.135
-0.023
+0.072

-0.566
+0.458
+0.380
-0.962

TG.41 -1.137
-1.06

TP.4
-0.97
7

TG.423

+0.47
1
-0.31
-0.78 1
-0.95 3
-0.74 5
+0.37 3
+0.36 7
2

+0.7
68

+0.7
45

+0.6
52

+0.7
45
+0.8
-1.4080
-2.01 3
-1.97 9
-1.69 8
+0.7 0
75

+0.351

-2.165
-1.880
-1.087

+0.284
-0.380
-2.009

-1.070

-0.989

+0.642
+0.354
-1.206
-1.430
-1.360
-0.342
+0.932
+0.764

15
+0.4

34
+0.8 0
-2.11 8
-2.20 0
-1.9736
+0.8

79
+0.5

64
+0.4

TG.45

0
.45
+0

7
.64
+0

66
+0.5

82
+0.4

TG.45+20

8
.41
+0

3
.62
+0

1
.56
+0

.03
BM

9
.71
+0 358
-0. 347
9
-1. 271
.58
0
+0-1.014
-0. .10
520
-1. 8972 +0
-0. .43
+0

KOMPLEK LIK
660
-0. 599
-0. 525
-1. 0322 8
-1. .25
+0 .37
+0

2
.53
+0

+0.5
09

.47
TG

.48
TG

4
0 000

+0.4
03
+0.7
90

+1.1
54

+0.8
02

TP.1
+1.0
-0.4
-0.8 5494
-0.5 67
+1.4
0019

TG+0.8
.5164

+1.617

+0
.78
9

+0

TG .62
.548

+1
.58
9

+0

+0
.87
+0
-1. .66 2
-1. 05 1
+0-1.2028 2
.77 2 0
5

+1
.33
1

TG.96
.556
+3

+1
+0 .33
+1 .40 2
-0. .51 3
3
-0. 53
-0. 78 0
3

+1

-0. .38
-1. 3239
15
6
-1.
20
-0.
2
60
4
-0.
98
-1. 3
32
+1-0. 7
.36382
7

-0. 71
59 7
+1-0.38 9
.37 2
2

+1
.44
4

+1
.06
5

+1
.02
7

+1.0
+0.9
76
+0.9 85
+0.3 50
+1.3 96
+0.8 20
71

+0.4
-0.4
-0.9 09
-0.2 7082
+0.6
23
81

+1.1
+0.9
7447

KA

RE
L.

KE

+0.8
-0.0 15
08

+0.2
-0.4 47
-0.5 91
-0.8
-0.3 2839
09

0.06
+1.1 2
+1.5 07
39

+0.8
+0.8 59
56

+1.0
39

BA
NG
ET
AY
U

+0.2
-0.2
-0.7 3381
-0.0
+0.2
47
+0.9 52
+0.8 44
84
77

+0.0
+1.1 71
+0.6
90
83

KA

RE
L.

+0.2
-0.5
-1.0 5186
-0.4 94
+0.2
+0.2 1431
47

+0.969

+0.888
+1.113

+0
-1.051
-0. .87
-0.889 -1. 527 0
-0.149 +0-0. 019
+1.314 .81413
1
+1
.01
7

+0
.92
2

TG.52+30

TG.53
.52
TG

+1.1
+0.8 26
+0.8 37
+0.2 25
+0.1
+1.5 2951
41

+0.9
+0.7
1079
+0.1
+0.1
-0.0 0436
+1.3
+0.7 9418
92
+0.5
-0.3
-0.8 56
-0.0 2335
+0.8
76
28

m
= 39
R

JAYAMIC

+0.00

+0.4
-0.9
-1.5 31
-0.9 8218
+0.8
7595

TG +0.9
.50 31

-0.711

-0.924

-0.7

-0.5
22

KA
RE
L.

-0.578

00
+0.

0
-1.0 0
-1.0

-0.748

-0.629
+0.559
+0.207
-1.391
-1.295
-0.669
-0.001
-0.229

-0.259
+0.651
-0.344

-0.655

-0.789

TG -0.6
.28 85

+0.7
-0.7
-0.9 4424
+0.5 45
85

+0.3
20

00
+0.

-1.038

TG
.26

TG 27
.27

+0.5
+0.7 63
90

+0.8
-0.5
-0.7 1889
-0.6 88
+0.9
66
08

TG
.49

-0.427
+0.652
+0.080
-1.062
-0.086
+0.208
+0.589
-0.396

-0.438

-0.542

-0.978
+0.449
-0.760
-1.336
+0.105

+0.447
+0.460
-0.447

-0.571

TG.25
-0.735

23
-0.8

TG.21

6
-0.44

TG.19

6
-1.45 4
-1.48 3
-1.53 46
-0.58 41
-0.00 15
4
+0.2
+0.6
-0.30

.18
TG

8
-1.35

91
-0.3 42
-0.3

21
-0.4

61
-0.4
16
-0.0 11
-1.0

27
-0.4 41
-0.3

-0.3
36

05
-1.4
66
-0.9

-0.43
2

.17
TG

m
91
R=

+0.6
59
2
0 000

4
29
-0.38
+0.1

15
+0.2 45
+0.5 69
-0.2

36
-0.3 59
+0.6 09
+0.1 88
-0.8
27
-1.3

78
-0.2 09
+0.6 17
-0.2

20
-0.3

.16
TG

TP.2

46
-0.7

-0.1 8636
+0.5
-0.5 4732
+0.1
-0.3

.11
TP

4
-0.52
5
-0.4245
+0.7 30
+0.7 16
+0.2 42
+0.0 17
+0.2 17
+0.1 851
+0.3
-0.06

0
- 0.60
7
-0.32775
+0.5
-0.41

7
-0.32

.14
TG

-0.52
6

5
-1.12

4
-0.3591 2
+0.5
-0.48

500
-0.

780
+0.1
-0.30 7
-0.90

8
+0 .06
+0 203
-1. 735
-1. 4997
-0. .29 3
+0 .62
+0 361
-0.

5319
-0. .54 1
+0 .18

-0.83
5

.13
TG

m
R = 49

E
IGAW
A KAL
JL. RAY

16
-0.7

4
-0.32

R=

m
146
R=

74
-0.7

8
-0.24563
+0.5
-0.26

605
-0.

166
+0.1
-1.05 0
-1.68 5
-0.61
37
97
+0.2
+0.5 2
-0.41

9
-0.5996
+0.4

-0.78
4

8
-0.14

8
-0.41
4
-0.38

.12
TG

-0.52
6

2
-1.11
3
-0.40 70
+0.68
+0.03

4
6
+0.14
-0.18 5
-0.44 2
-0.15 57
+0.36
-0.18

0
-0.37 79
+0.63
-0.43

.11
TG

1
2
3

TP.3

69 m

R=

69 m

TP.5

m
108
R=

R = 74
m
+0.00
+0.00

m
R = 60

0
-0.49

23
-0.3 583
+0. 37
-0.3

62
-0.0 29
-0.059073
+0.
-0.3

-0.1642
+0. 6034
-0.9
-1.6 26
-0.3 377
+0.

7
62

-0.52
G.4
CT
8
1
-0.12

G.3
CT
01
-0.31 7
+0.12
-0.49

2
-0.28 4
+0.30 1
-0.10

8
-0.27 6
-0.15 7
+0.48 9
-0.23 4
-0.23 4
-0.19

5
-0.35

G.1
CT
1
+0.56 4
+0.15 5
+0.06 5
-0.21

3
-0.00 1
+0.68

-0.
.10
TG

2
52
-0.

m
194

108 m
R=

-0.18
+0.3
-0.35195
4

-0.2
+0.2
-0.3 8615
83

46
-0.7 42
-0.3 81
+0.2 03
-0.2

7
15 9
-0. .44595
+0-0.

TP.8

-0.25
+0.6 8
-0.24 16
3

-0.3
+0.2
-1.4 0453
-1.4 41
30

LAUT
44
-0.6 35
-0.1

96 5
-0. .34 4
+0 24
-0.
9
-1. 49 5
-0. 29
-0.

.9
TG

+0.00
+0.00

60 m
R=

TP.9
-0.5
56

-0.43
2

-0.3
+0.5
-0.2 20 34
75

TP.10

2
-0.48

-1.089
+0.218
-0.511

1
02
-1.

+0.382
-0.733

+0.313

1
31 4
-0. .50 3
+0 09

-0.803
+0.530
-0.083
-0.143
+0.666
-0.902
-1.650
-0.333

-0.489
+0.556
-1.076
-1.625
+0.152

-0.3
+0.6
-0.2 2531
57

7
-0.52 9 9
-0.11
-0.43

-0.45
+0.5 8
-0.4075
6

TG.8

-0.54
+0.4 9
+0.1 03
-1.5414
+0.0 3
+0.4 27
32
-0.47
5
-0.43
+0.2 9
-0.5623
8

R = 194 m

m
153
R=

JALAN LINGKAR ARTERI

R = 154 m
R = 153 m

4
0 000

R=

R=

-0.489

-0.381
+0.266
+0.171
-1.071
+0.177
+0.661
-0.252
-0.099
+0.388
-0.062

-0.088
+0.718
-0.094

-0.227

8
-0.37

G.2
CT
9
-0.26

TG.7

-0.56
7

+0.00

m
R = 154 +0.00

-0.3
+0.6
+0.0 1267
-1.1 69
-1.7 89
-0.6 32
+0.1
+0.4
25
-0.4 6942
58
-0.76
+0.50 1
-1.19 8
-1.87
-1.19 85
+0.07
6
+0.16 5
+0.54
-0.45 29
8

TP.7
m
351
R=

2
-0.45

4
-0.23

8
-0.52 3
+0.09 1
-0.52 1
-0.97 4
-0.31
6
+0.60 9
+0.42
3
+0.42 1
-0.27

7
-0.24

7
-0.32 2
+0.65 0
-0.18

-0.463

+0.7
+0.2 00
+0.0 37
-0.60 83
8

-0.5
+0.5
-0.1 8713
64

m
= 351
R

1
-0.41 0
+0.66 0
-0.27

17
-0.4

-0.134

6
-1.08 1
-0.57

81
-0.2 33
+0.5 30
-0.3

-0.937
= 166

3
-0.53 9
-0.51

56
-0.0 34
+0.6 33
-0.3
89
-0.1 33
+0.4 10
+0.2 05
-1.0 96
-0.4 03
+0.6 88
-0.8

TG.6

+0.009
+0.570
-0.436

TP.12

04
-0.2

TG
.5

37
-0.4

TP.13

+1.0
+0.5 03
31

TOL

CTG.10

-0.0
+0.
13
785

JAL
AN

CTG.11

-0.126

LAUT

CT
G.
8

-0.215
+0.449

+1
.00

G.12
CT

54
-0.2

-0.1
17

G.5
CT
-0.123
+0.802
-0.202

32
-0.2

56
-0.4 43
+0.7 05
-0.4

G.13
CT

= 166

-0.2
88

1.53
5

+1=
.0039

G.14
CT

57
-0.3
-0.426
+0.037

1
0 000

G.15
CT

-0.473

+1.
00

G.16
CT

-0.379

13
-0.1
77
+0.2
91
+0.0 72
-0.5 45
-1.2 75
-0.4 84
+0.5 25
-0.3

23
-0.4
60
-0.4

494

+0.-0.2
27440
+0.610
-0.568
+0.878
-0.309

-0.173
+0.496
-0.549
-1.905
-0.523
+0.037
+0.879
-0.144

+0.503

+0.123
+0.309
+0.311
-0.074

+0.044
-0.347
+0.630

+0.342
-0.193
-1.074
-0.955
-0.526
-0.213
+0.745

+0.
-0.1 218
+0.-0.1 71
+0. 72242
-0.3 303
-08
78
+0.-0.4 96
-0.2 79023
22
+0.664

+0.162

-0.147
+0.858

m
166
R=

-0.48
+0.5 3
+0.1
91
84

Stasiun Pompa

Stasiun Pompa dan Polder

Gambar 4.4. Peta situasi saluran drainase

G.6
CT

37
6572
+0.0
-1.4
-0.6 84
10
+0.5
-0.5

83
-0.2 9455
+0.4
-0.2

59
-0.4

Muka Tanggul Rencana

2
1:

1:

0.50

3.50
Dasar Rencana Sungai

5.00

7.00

20.00

7.00

5.00

DETAIL SALURAN CTG.14 - TG.29

Gambar 4.5. Detail potongan melintang saluran drainase

495

+0.00

+1.00

TG.59

+0.281
-0.233
-0.747
-0.052
+0.244
+0.984
+0.877

-0.008
+0.071
+1.190
+0.683

+0.815

200

400

1000

TG.60
50.00

1
23

+0.442

TG.61

TG.62

50.00

+0.431
+0.341

TP.8

TG.62

-0

0.53

TP.14

3
60

TG.63

+0.497

WRG

+0.508

-1.110
TLS
+1.245

0 563 .88

TG.62+27.5

TLP17

+0.631
+1.210
+0.733
+0.528

+0.227
+0.443
-0.731

-0.100
+1.146
+0.747
+0.131

+1.016
+0.929

KALI TENGGANG +0.547

0.978
1.106
+1.080
-0.032

+0.952
+1.011

50.00

50
.7
-0

0 687

TG.63

WRG
TG.64

+0.287
+0.527
-0.603
+1.034
+1.034

+1.048
-0.015
-0.086
+1.196
+1.338
+0.708
+0.657

+1.081
+1.135

55
.8
-0

0 582

TG.65

-0.677
+0.717
+0.717

+0.050

+1.084
+0.956
-0.100
+1.369
+1.228
+0.861
+0.125

+1.185
+1.095

50.00

TG.64

0m 6
7.5 1.44
p = z. +

TG.66

+0.865

55
.7
-0

50.00

+1.179 97
0
-0.677
6
+0.816 TLP
02
+1.187 1

+0.717
+1.293
+1.382

+1.071
+0.936

+0.782
+1.070

TG.65

n
ata
mb 8
Je .64+2
P

50.00

0 315

REL. KA

0 m 17
7.5 1.2
p= z. +
n
ata
mb 7.5
Je 3+2
.6
P

1 509

1 458

0 979

0 81

TLS

0 851

TG.66

0 468
50
.8
-0

1.90

TG.67

n
ata
mb
Je .67
P

1
0

TG.68

+0.669

50.00

TG.68

TG.69

+0.612

0.53

+0.245
+0.597
-0.777
+0.750

+0.002
+1.086
+0.796
+0.343

+0.791
+0.735

+1.143
+0.847

TENGGANG

0m 3
5.2 1.38
p = z. +

-0.663 KALI
+0.683

+0.443

+0.770
-0.241
-0.139
+1.240
+0.884
+0.370

+1.007
+0.849

TP.9

0m 9
8.3.035 1.17
p = -0 z. +

50.00

n
ata
mb
Je .66+7
P

0 46

TG.66+48

+1.028

+1.383
PDAM
-0.712
1
9
+1.307
14
28
1
+1.172 1
2.52

+0.233
+1.461
21 +1.308
1

+0.762
+0.883

+0.753
+0.831

50.00

TG.69

TG.70

+0.493

0.20

+0.126
+0.478
-0.796
+0.631

-0.121
+0.987
+0.677
+0.224

+0.672
+0.015

+1.024
+0.728

50.00

TG.70

TG.71

+0.537

0.52

-0.057
+0.531
-0.928
+0.868

+0.946
-0.189
-0.189
+1.225
+0.734
+0.681

+1.039
+0.940

50.00

REL. KA

1.75

TG.71

TG.72

+0.508

TG.73

+0.791

+0.677
-0.631
+0.727

50.00

50.00

0m 6
5.0 1.54
p = z. +

TG.72

n
ata
mb 8
Je .71+3
P

DESA. CANDIREJO

TENGGANG

+0.194
+0.875
+1.150
+0.831
+0.945

+0.728
+0.864

KE. BANGETAYU +0.828

+0.747
-0.732 KALI
+0.616

0 391 +0.344

+0.103
+0.090
+1.098
+1.104
+0.752
+0.231

+0.717
+0.830
0 691 +0.750

2 091

2 115

0 826

TG.73

TG.74

DIMENSI SUNGAI DAN DATA TAMBAHAN

TIPE BANGUNAN

ELEVASI DASAR SUNGAI SISI KIRI

ELEVASI DASAR SUNGAI SISI KANAN

TRACE SUNGAI

ELEVASI DASAR SUNGAI

ELEVASI MUKA AIR RENCANA

ELEVASI TANGGUL

ELEVASI TANAH ASLI

Gambar 4.6. Detail potongan memanjang saluran drainase

+0.909
-0.586
+0.899
+1.175
+1.172
+1.172

+1.015
+0.209
+0.209
+1.494
+1.076
+1.162

+0.968
+1.062

ELEVASI TANGGUL KIRI

-6.000 m

800

+0.000m

+0.525

TG.61

-0.731
+0.516

+0.428

+0.873
+0.068

+1.039

+0.836
+1.076
+0.956
7
39 +0.327
1
9 1 +1.201
41 26
+1.209
1

1 457

REL. KA
1

+0.841

ELEVASI TANGGUL KANAN

JARAK LANGSUNG

JARAK PROFILE

600

SCALE V 1 : 100

PATOK HEKTOMETER
NOMOR PROFIL

86

TG.60 BM.04

95
+1.5391 1

0.062
+1.107

+0.247
-0.491
-0.539
-0.828
-0.309

+1.003
+0.531

+0.856

+0.859 0 9

+1.039

SCALE H 1 : 10000

BIDANG PERSAMAAN +

KE BANGETAYU

3
97

3000.00
+0.247
+1.107
-0.828

+1.147
+0.974

YANG ADA
RENCANA

+0.428

3050.00
+0.516
-0.731
+1.61
-1.013

+1.987

+0.443

3100.00
+0.442
-0.731
+1.64
-0.990

+2.010

+0.431

3150.00
+1.245
-1.110
+1.66
-0.968

+2.032

+0.527

3200.00
+1.034
-0.603
+1.69
-0.945

+2.055

+0.682

3250.00
+0.717
-0.677
+1.72
-0.923

+2.077

+1.179

3300.00
+1.187
-0.677
+1.75
-0.900

+2.100

+1.383

3350.00
+1.307
-0.712
+1.78
-0.878

+2.122

+0.443

3400.00
+0.683
-0.663
+1.81
-0.855

+2.145

+0.597

3450.00
+0.750
-0.777
+1.83
-0.833

+2.167

+0.478

3500.00
+0.811
+1.86
-0.810

+2.190

-0.796

3550.00
+0.868
+1.89
-0.788

+2.212

+0.681

+1.00

-0.928

3600.00
+1.546
+1.91
-0.765

+2.235

+0.747

+1.00

-0.732

3650.00
+0.727
-0.631
+1.94

+2.257

+0.677

OL

-0.743

496
T
AN
JAL

Gambar 4.7. Tipikal Pintu Air

Gambar 4.8. Tipikal Pintu Air

497

Gambar 4.9. Tipikal Pelindung Pintu Air

498

Gambar 4.10. Tipikal Rumah Pompa dan Jaringan Pipa Pompa

499

Gambar 4.11. Contoh Peletakan Rumah Pompa

500

Gambar 4.12. Tipikal Kolam Intake

5.

STANDARISASI GAMBAR

5.1

Tujuan Standarisasi

Karena sistem drainase sudah mulai banyak dikenal oleh penduduk dengan bentuk yang sudah
mulai seragam, maka diperlukan standarisasi bangunan tipikal sistem drainase, mengingat
alasan yang sudah jelas menguntungkan, baik pada biaya konstruksi sistem drainase ini, maupun
penghematan biaya dan waktu perencanaan secara berulang-ulang oleh pihak yang silih berganti
untuk barang yang sama.
Selain itu, standarisasi dimaksudkan agar penduduk yang boleh dikatakan awam dalam bidang
teknik, akan dapat membangun sendiri sistem drainase di dalam dan di depan rumahnya tanpa
memerlukan keikutsertakan ahli teknik profesional, hanya dengan membaca dan melaksanakan
gambar tipikal yang diberikan standarisasinya.

501

Tanpa standarisasi, dapat saja penduduk membangun sistem drainasenya sendiri, seperti yang
telah banyak dilihat pada sistem drainase perkotaan yang ada. Tetapi kesalahan bentuk teknis
yang ada saat ini, akan diulangi dimana-mana, karena menyebar dengan cepat dari satu tempat
ke tempat yang lain.
Standarisasi ini, selain bermaksud untuk memasyarakatkan gambar-gambar tipikal drainase,
berguna pula untuk :
1)

Mengatasi Bottle Neck pada Gorong-Gorong


Menentukan suatu batasan mimimum dan maksimum suatu besaran seperti misalnya, batas
ukuran gorong-gorong yang akan memiliki ukuran minimum tertentu, agar orang masih
dapat masuk untuk membersihkan saluran tersebut.
Ukuran gorong-gorong maksimum diperlukan bilamana pelaksanaannya terlalu sukar dan
lebih baik diganti saja dengan jembatan.

2)

Standarisasi Ukuran Bahan Bangunan


Menentukan standarisasi ukuran bahan sistem drainase, seperti misalnya ukuran buis beton,
pelat tutup, pelat man-hole, pagar pengamanan gorong-gorong, dan lain-lain, agar pabrik
dan suplier bahan bangunan ini dapat mendapatkan keseragaman barang yang dijualnya,
sehingga memudahkan pasangan dan pelaksanaan.

3)

Mencegah Kurangnya Salah Satu Elemen Bangunan.


Standarisasi juga dimaksudkan agar kesalahan hidraulik yang banyak dijumpai pada
bangunan drainase yang dibuat oleh penduduk bisa diperbaiki, seperti misalnya pembuatan
bangunan gorong-gorong di depan rumah, yang terlalu kecil (lebih kecil daripada
penampang salurannya sendiri), bangunan saluran dalam yang tidak diperlengkapi dengan
pagar, sehingga membahayakan penduduk, bangunan gorong-gorong yang melayani
saluran tanah, tetapi tidak ada bangunan transisi inlet maupun outletnya.

4)

Membenahi Bangunan
Bangunan drain- inlet di sepanjang jalan raya memerlukan konstruksi yang benar-benar
dapat menjamin agar air hujan yang melimpah di jalan raya akan segera melimpah ke
saluran. Dan tidak menggenangi jalan dan badan jalan. Oleh karena itu, standarisasi
bangunan drain-inlet ini akan mengajarkan pentingnya untuk memiliki kemiringan lahan di
sekitar saluran, sehingga setelah hujan berhenti jalanan tidak tergenang air hujan.

502

5)

Standarisasi Penampang Saluran


Bentuk penampang melintang berbagai saluran dengan berbagai debit dan keadaan
(kemiringan lahan yang curam atau landai) sangat menentukan sekali, karena saluran ini
dibuat dalam jumlah banyak, sehingga kesalahan yang berulang harus dihindari. Dalam
aspek hidraulik, dikenal istilah yang paling menguntungkan dalam segi kapasitas
hidrauliknya, sedangkan pada segi biaya dikenal saluran yang paling ekonomis. Keduanya
akan dipadukan, sehingga diperoleh standar penampang saluran untuk dipakai secara luas,
yang dengan sendirinya harus terbagi atas saluran tanah, saluran berdinding pasangan batu
kali, dan dasarnya dari tanah, atau saluran beton maupun saluran dari buis beton.

6)

Standarisasi untuk memudahkan operasi dan pemeliharaan.


Ada dua hal yang dikehendaki oleh pihak yang menyelenggarakan Operasi dan
Pemeliharaan saluran yaitu sistem drainase tidak mudah mengalami erosi, dan sebaliknya
juga jangan menimbulkan endapan, atau sedapat mungkin endapan ini dilokalisir.
Untuk mencapai hal ini, peran standarisasi tipikal bangunan sistim drainase sangatlah
besar, karena dapat menanggulangi erosi dan mengelola pengendapan secara meluas,
seperti misalnya memperkenalkan dalam standarisasi adanya pemasangan dinding
pasangan pada belokan luar suatu sungai atau saluran tanah, menyarankan adanya
bangunan outlet yang menurut standar pada gorong-gorong, atau menyarankan dipakainya
saluran berdinding pasangan batu kali pada saluran yang curam didaerah perbukitan.
Sebaliknya, endapan dilokalisir, dengan memperkenalkan suatu bangunan penangkap pasir
yang letaknya pada persimpangan saluran, agar endapan dapat dilokalisir, atau
mensyaratkan adanya bangunan penangkap endapan, bilamana air yang melimpas berasal
dari kawasan yang tanahnya labil, serta mudah mengalami erosi. Dengan demikian
sebelum memasuki sistim drainase lebih jauh, maka endapan dapat di-intersepsi dan
dilokalisir serta dikeruk dengan rutin.

7)

Standarisasi Tipikal Struktural Bangunan Saluran Drainase


Tipikal bangunan saluran memiliki resiko yang tinggi bilamana mengalami kesalahan
dalam bidang struktur, karena keruntuhan saluran yang tipikal strukturil bangunan
salurannya salah, menyebabkan hampir seluruh saluran drainase kota mengalami
keruntuhan, dengan kerugian finansial yang besar.

503

Tetapi sebaliknya, tipikal struktur bangunan saluran yang terlalu kuat dan berlebihan
ukurannya dapat menyebabkan pemborosan biaya pelaksanaan saluran drainase kota,
meskipun saluran ini sangat aman terhadap kemungkinan keruntuhan, tetapi bilamana
dipandang dari segi finansial kurang menguntungkan. Oleh karena itu dengan standarisasi
diharapkan diperoleh tipikal struktur bangunan saluran drainase yang tepat konstruksinya
dan dengan sendirinya layak ekonomis.
Perlu dicatat, bahwa standarisasi tipikal struktur bangunan saluran drainase juga memiliki
parameter yang cukup luas, seperti misalnya beban kendaraan yang bervariasi menurut
kelas jalan raya, jenis tanah dan kekuatan dari tanah tersebut.
8)

Untuk Menampung Air Limbah Buangan Rumah Tangga


Seperti kita ketahui, bahwa saluran drainase di negara kita tidak saja dipergunakan untuk
menampung air hujan saja, tetapi juga untuk menampung air limbah rumah tangga, maka
sifat-sifat dari air limbah ini juga harus sedikit banyak dipahami dan diterapkan pada
bentuk tipikal bangunan drainase yang hendak dipakai.
Air limbah rumah tangga jumlahnya tidak sebanyak air hujan lebat, tetapi air hujan lebat
hanya terjadi beberapa kali dalam setahun, sehingga dalam prakteknya Tipikal Bangunan
Saluran Drainase harus memiliki lekukan pada bagian dasarnya, yang biasanya dibuat
dari pipa setengah lingkaran, yang khusus disediakan untuk menampung air limbah rumah
tangga ini, sehingga kecepatan air limbah dapat dipertahankan cukup besar untuk
mencegah sedimentasi.
Bilamana lekukan ini tidak diberikan pada bagian dasar saluran ini, maka air limbah akan
menyebar keseluruh dasar saluran dan menyebabkan kecepatannya menurun, sehingga
menimbulkan pengendapan. Pemahaman ini kurang banyak diketahui oleh perencana dan
pihak yang membuat saluran drainase, sehingga perlu disebar luaskan pengertian
penampungan air limbah rumah tangga ini dalam bentuk standar tipikal bangunan sistem
drainase, sehingga disamping mencegah pengendapan air limbah ini, juga dapat mencegah
agar air limbah yang berpotensi menyebabkan pencemaran yang dapat mematikan manusia
ini bisa dicegah, yaitu dengan memberikan dasar pasangan batu kali, atau pipa beton
setengah lingkaran didasar saluran. Meskipun berupa saluran tanah.

9)

Peralatan Penahan Sampah


Saluran yang direncanakan dengan baik dan lengkap akan memiliki peralatan penahan
sampah baik pada bangunan drain inlet, atau menutupnya dengan pelat beton, atau
memasang jeruji besi penahan aliran sampah.

504

Hal ini hendak diingatkan pemakaiannya pada Standarisasi Tipikal Bangunan Sistem
Drainase, sehingga dengan demikian kekurangan yang ada dapat disempurnakan dalam
skala yang luas, diseluruh penanganan drainase perkotaan.
10) Standarisasi Pekerjaan Kontraktor Sistem Saluran Drainase
Dengan adanya standarisasinya tipikal bangunan sistem drainase, maka kontraktor yang
melaksanakan pekerjaan ini, juga akan mengalami kemudahan karena melaksanakan
pekerjaan sama secara berulang-ulang sehingga organisasi kontraktor dan methodologi
kerja telah menyesuaikan terhadap standar kerja. Begitu juga dengan stock persediaan
bahan (misalnya pipa setengah lingkaran) dari kontraktor juga disesuaikan dengan standar
yang berlaku.
Dengan sendirinya biaya konstruksi dapat ditekan menjadi lebih murah, karena standarisasi
ini. Sehingga dapat dicapai penghematan yang bersifat skala besar, didalam melaksanakan
sistem drainase ini.

5.2

Aspek-Aspek yang akan Dipertimbangkan

Menetapkan suatu tipikal bangunan sistem drainase yang dapat langsung diterima oleh
masyarakat, bukanlah suatu pekerjaan yang mudah. Banyak aspek-aspek yang harus
diperhatikan, agar tipikal ini mudah dilaksanakan, kelihatan manfaat nyata yang dapat diperoleh
oleh masyarakat, seperti misalnya :
1)

Pemakaian Bahan Lokal dan Harga Bahan yang Murah


Bahan saluran drainase dengan pasangan batu kali, misalnya merupakan bahan lokal yang
harganya termasuk murah, sehingga banyak dipergunakan dimana-mana dan standarisasi
tipikal dengan bahan ini banyak mendapat sambutan masyarakat.

2)

Kemampuan Teknis Masyarakat Yang Ada


Salah satu tujuan dari Standarisasi Tipikal Bangunan Drainase adalah untuk memberikan
panduan pembangunannya tetapi tidak perlu lagi tenaga ahli untuk membantu mengadakan
monitoring dan supervisi pelaksanaannya. Oleh karena itu, Tipikal Bangunan harus dibuat
sedemikian sehingga mudah dimengerti oleh masyarakat.

3)

Standar Tipikal Bangunan harus dipersiapkan dengan matang dan siap pakai karena sistem
drainase harus dilaksanakan secara besar-besaran, maka kesalahan teknis pada tipikal

505

bangunan ini akan mengakibatkan kerugian yang ada dalam skala besar. Oleh karena itu
Tipikal bangunan harus dipersiapkan dengan matang dan siap pakai dalam arti kata telah
diadakan pengujian dan post monitoring yang intensif.
4)

5.3

Secara berangsur-angsur dipersiapkan agar tipikal bangunan drainase dapat dilaksanakan


oleh masyarakat sendiri. Dalam kebijakan pembangunan terdahulu banyak perencanaan
teknis drainase perkotaan yang dilakukan oleh pemerintah pusat. Tetapi mengingat
kuantitas perkotaan yang memerlukan sistem drainase yang memadai, maka secara
berangsur-angsur pelaksanaan sistem drainase akan didelegasikan kepada masyarakat
dalam bentuk swadaya, sehingga dengan sendirinya Tipikal Bangunan Sistem Drainase
harus dipersiapkan juga untuk dapat dilaksanakan oleh masyarakat dengan cara
swasembada, swadaya dan swakelola.

Ukuran Kertas

Ada tiga seri ukuran kertas yang dikenal sevcara internasional yaitu Seri A, Seri B, dan Seri C.
Seri A biasa digunakan untuk cetakan umum dan perkantoran serta penerbitan. Dasar ukuran
adalah A0 yang luasnya setara dengan satu meter persegi. Setiap angka setelah huruf A
menyatakan setengah ukuran dari angka sebelumnya. Jadi A1 adalah setengah dari A0 dan
demikian seterusnya. Ukuran yang paling banyak digunakan untuk gambar adalah A0,
sedangkan untuk cetakan umum adalah A4. Seri B besarnya kira-kira di tengah antara 2 ukuran
seri A, biasa digunakan untuk poster dan lukisan dinding. Seri C biasa digunakan untuk map,
kartu pos dan amplop. Ukuran kertas untuk masing-masing seri diperlihatkan pada Tabel 5-1,
5-2, dan 5-3 berturut-turut untuk Seri A, Seri B, dan Seri C.

506

Tabel 5-1. Ukuran Kertas Seri A

Ukuran
4A0
2A0
A0
A1
A2
A3
A4
A4s
A5
A6
A7
A8
A9
A10

mm mm
1682 x 2378
1189 x 1682
841 x 1189
594 x 841
420 x 594
297 x 420
210 x 297
215 x 297
148 x 210
105 x 148
74 x 105
52 x 74
37 x 52
26 x 37

in in
66,22 x 93,62
46,81 x 66,22
33,11 46,81
23,39 33,11
16,54 23,39
11,69 16,54
8,27 11,69
8,46 11,69
5,83 8,27
4,13 5,83
2,91 4,13
2,05 2,91
1,46 2,05
1,02 1,46

Tabel 5-2. Ukuran Kertas Seri B

Ukuran
B0
B1
B2
B3
B4
B5
B6
B7
B8
B9
B10

mm mm
1000 X 1414
707 X 1000
500 X 707
353 X 500
250 X 353
176 X 250
125 X 176
88 X 125
62 X 88
44 X 62
31 X 44

in in
39,37 55,67
27,83 39,37
19,69 27,83
13,90 19,69
9,84 13,90
6,93 9,84
4,92 6,93
3,46 4,92
2,44 3,46
1,73 2,44
1,22 1,73

507

Tabel 5-3. Ukuran Kertas Seri C

Ukuran
C0
C1
C2
C3
C4
C5
C6
C7
C8
C9
C10

mm mm
917 X 1297
648 X 917
458 X 648
324 X 458
229 X 324
162 X 229
114 X 162
81 X 114
57 X 81
40 57
28 40

in in
36,10 51,06
25,51 36,10
18,03 25,51
12,76 18,03
9,02 12,76
6,38 9,02
4,49 6,38
3,19 4,49
2,24 3,19
1,57 2,24
1,10 1,57

DAFTAR PUSTAKA
Direktorat PPLP Dirjen Cipta Karya Kementerian PU, Tata Cara Pelaksanaan Konstruksi
Sistem Drainase Perkotaan, 2012.
Direktorat PPLP Dirjen Cipta Karya Kementerian PU, Tata Cara Perencanaan Kolan Detensi,
Kolam Retensi & Sistem Polder, 2012.

508