Anda di halaman 1dari 17

DISKUSI KASUS

EPILEPSI
OLEH: JEANET PRISILIA
Pembimbing:
dr. Hj. MUSYAWARAH, Sp. A

DEFINISI

Kata epilepsi berasal dari Yunani Epilambanmein yang

berarti serangan.
Epilepsi didefinisikan sebagai gangguan kronis yang ditandai
adanya bangkitan epileptik berulang akibat gangguan fungsi
otak secara intermiten yang terjadi oleh karena lepas muatan
listrik abnormal neuron-neuron secara paroksismal akibat
berbagai etiologi.
Sindrom epilepsi adalah sekumpulan gejala dan tanda klinis
epilepsi yang terjadi bersama-sama meliputi berbagai
etiologi, umur, onset, jenis serangan, faktor pencetus,
kronisitas.

EPIDEMIOLOGI

Hingga 1 % dari populasi umum menderita epilepsy aktif, dengan


20-50 pasien baru yang terdiagnosis per 100.000 pertahun-nya.
Perkiraan angka kematian pertahun akibat epilepsi adalah 2 per
100.000.
Kematian dapat berhubungan langsung dengan kejang, misalnya
ketika terjadi serangkaian kejang yang tidak terkontrol, dan
diantara serangan pasien tidak sadar, atau jika terjadi cedera akibat
kecelakaan atau trauma.

ETIOLOGI

Bila ditinjau dari faktor etiologis, maka

epilepsy dibagi menjadi 2 kelompok :


Epilepsi

Patogenesis
Kejang disebabkan karena
ada ketidakseimbangan
antara pengaruh inhibisi
dan eksitatori pada otak
Ketidakseimbangan bisa
terjadi karena :
Kurangnya transmisi
inhibitori
Contoh: setelah pemberian

antagonis GABA, atau selama


penghentian pemberian
agonis GABA (alkohol,
benzodiazepin)

Meningkatnya aksi

eksitatori meningkatnya

Klasifikasi epilepsi
Berdasarkan tanda

klinik dan data EEG,


kejang dibagi
menjadi :
kejang umum

(generalized seizure)
jika aktivasi terjadi
pd kedua hemisfere
otak secara bersamasama
kejang parsial/focal
jika dimulai dari

Kejang umum terbagi atas:


Tonic-clonic convulsion = grand mal
merupakan bentuk paling banyak terjadi
pasien tiba-tiba jatuh, kejang, nafas terengah-

engah, keluar air liur


bisa terjadi sianosis, ngompol, atau menggigit
lidah
terjadi beberapa menit, kemudian diikuti lemah,
kebingungan, sakit kepala atau tidur

Abscense attacks = petit mal


jenis yang jarang
umumnya hanya terjadi pada masa anak-anak atau awal remaja
penderita tiba-tiba melotot, atau matanya berkedip-kedip, dengan

kepala terkulai
kejadiannya cuma beberapa detik, dan bahkan sering tidak disadari
Myoclonic seizure
biasanya tjd pada pagi hari, setelah bangun tidur
pasien mengalami sentakan yang tiba-tiba
jenis yang sama (tapi non-epileptik) bisa terjadi pada pasien normal
Atonic seizure
jarang terjadi
pasien tiba-tiba kehilangan
kekuatan otot jatuh, tapi bisa
segera recovered

Petit mal

Kejang parsial terbagi menjadi :


Simple partial seizures
pasien tidak kehilangan kesadaran
terjadi sentakan-sentakan pada bagian tertentu

dari tubuh
Complex partial seizures
pasien melakukan gerakan-gerakan tak
terkendali: gerakan mengunyah, meringis, dll
tanpa kesadaran

Kejang parsial

DIAGNOSIS
ANAMNESIS

DIAGNOSIS
BANDING
Pada neonates
Jittering
Apneic spell
Pada anak
Breath holding spells
Sinkope
Migren
Bangkitan psikogenik/konversi
Prolonged QT syndrome
Night terror
Tics
Hypercyanotic attact.

PENATALAKSANAAN
Prinsip umum terapi epilepsi idiopatik adalah mengurangi /

mencegah serangan, sedangkan terapi epilepsi organik


ditujukan terhadap penyebab.
Faktor pencetus serangan, misalnya kelelahan, emosi atau
putusnya makan obat harus dihindarkan.
Bila terjadi serangan kejang, upayakan menghindarkan
cedera akibat kejang, misalnya tergigitnya lidah atau luka
atau cedera lain.
Langkah yang penting adalah menjaga agar penderita tidak
terjatuh,melonggarkan pakaiannya (terutama di daerah leher)
dan memasang bantal di bawah kepala penderita.
Jika penderita tidak sadarkan diri sebaiknya posisinya
dimiringkan agar lebih mudah bernafas dan tidak boleh
ditinggalkan sendirian sampai benar-benar sadar dan bisa
bergerak secara normal.

Obat anti-kejang untuk mencegah terjadinya kejang lanjutan,

biasanya diberikan kepada penderita yang mengalami kejang


kambuhan. Status epileptikus merupakan keadaan darurat,
karena itu obat anti-kejang diberikan dalam dosis tinggi secara
intravena.
Sedapat mungkin gunakan obat tunggal dan mulai dengan
dosis rendah.
Bila obat tunggal dosis maksimal tidak efektif gunakan dua
jenis obat dengan dosis terendah.
Bila serangan tak teratasi pikirkan kemungkinan
ketidakpatuhan penderita, penyebab organik, pilihan dan
dosis obat yang kurang tepat.
Bila selama 2 3 tahun tidak timbul lagi serangan, obat dapat
dihentikan bertahap.
Pilihan antiepilepsi.

Jenis Kejang

Jenis Obat

Fokal/parsial

Fenobarbital atau fenitoin

Umum

Fenobarbital atau fenitoin

Tonik-klonik

Fenobarbital atau fenitoin

Mioklonik

Diazepam

Serangan lena

Diazepam

Bayi dan anak :


o i.v 0,2 0,3 mg/kgBB/dosis ( 1 mg/tahun umur)

diberikan dalam 3 5 menit, setiap 15 30 menit


hingga dosis total maksimal 5 mg, diulangi dalam
2 4 jam bila perlu;
o rektal : bayi < 6 bulan, tidak dianjurkan; < 2
tahun : keamanan dan efektivitas belum diuji; 2- 5
tahun : 0,5 mg/kgBB; 6 11 tahun : 0,3 mg/kgBB;
12 tahun : 0,2 mg/kgBB.
- Untuk maintenance:
Fenobarbital 1 5 mg/kgBB/hari 1 x sehari
Fenitoin 4 20 mg/kgBB 2 3 x sehari.

PROGNOSIS

Penderita epilepsy yang berobat teratur, 1/3 akan bebas

serangan paling sedikit 2 tahun. Bila lebih dari 5 tahun


sesudah serangan terakhir, obat dihentikan dan penderita
tidak mengalami kejang lagi., dapat dikatakan bahwa
penderita telah mengalami remisi. 30% penderita tidak
akan mengalami remisi walau sudah minum obat teratur. 11
Faktor yang mempengaruhi remisi adalah lamanya kejang,
etiologi, tipe kejang, umur awal terjadi kejang, kejang tonikklonik, kejang parsial kompleks akan mengalami remisi pada
hampir lebih dari 50% penderita. Makin muda usia awal
terjadinya kejang, remisi lebih sering terjadi. Onset yang
relative lambat sesudah usia 2 atau 3 tahun, juga
merupakan faktor yang menguntungkan. Resiko
kekambuhan setelah penghentian pengobatan tergantung
pada faktor yang sama dengan remisi kejang.