Anda di halaman 1dari 31

Fakultas Kedokteran

Universitas Kristen Krida Wacana

Kasus Asma Pada Anak Usia Enam Tahun

Muhammad Yusran bin Yusoff

Emel: ibnyusoff1411@yahoo.com
Universitas Kristen Krida Wacana, Jl. Tanjung Duren Raya No. 4, Jakarta 11470,
Jakarta Barat

PENDAHULUAN
Asma

adalah

penyempitan

suatu

keadaan

karena

adanya

di

mana

respon

saluran
yang

nafas

berlebihan

mengalami
terhadap

rangsangan tertentu dan menyebabkan peradangan, namun penyempitan


ini bersifat sementara. Pada penderita asma, penyempitan saluran
pernafasan merupakan respon terhadap rangsangan yang pada paru-paru
normal tidak akan mempengaruhi saluran pernafasan. Penyempitan ini
dapat dipicu oleh berbagai rangsangan, seperti serbuk sari, debu, bulu
binatang, asap, udara dingin dan olahraga.
Asma adalah penyakit paru dengan karakteristik:
1. Obtruksi saluran nafas yang bersifat reversible baik secara
spontan maunpun secara farmakologis.

2. Inflamasi saluran pernafasan bersifat kronis.


3. Peningkatan respon saluran nafas terhadap berbagai rangsangan.
Karakteristik ini menyebabkan terjadinya gejala-gejala asma seperti
batuk, mengi dan sesak nafas. Obstruksi saluran nafas ini berlangsung
secara

bertahap,

perlahan-lahan

dan

bahkan

menetap

selama

pengobatan, pada suatu ketika dapat pula menjadi akut atau mendadak
sehingga menimbulkan kesulitan bernafas. Berat ringannya obstruksi
saluran nafas tergantung pada diameter lumen saluran nafas, dipengaruhi
oleh edema dinding bronkus, produksi mukus, kontraksi dan hipertrofi otot
polos bronkus.

1. ANAMNESIS
Ada beberapa hal yang harus ditanyakan dari pasien asma, antara lain:
a. Apakah ada batuk yang berulang terutama pada malam menjelang
dini hari?
b. Apakah pasien mengalami mengi atau dada terasa berat atau
batuk setelah terpajan alergen atau polutan?
c. Apakah pada waktu pasien mengalami selesema (common cold)
pasien turut merasakan sesak di dada atau selesemanya
berlangsung lebih dari 10 hari?
d. Apakah ada mengi atau rasa berat di dada atau batuk setelah
melakukan aktifitas fisik atau olah raga?
e. Apakah gejala-gejala tersebut di atas berkurang/hilang setelah
pemberian obat pelega (bronkodilator)?
f.

Apakah ada batuk, mengi, sesak di dada jika terjadi perubahan


musim/cuaca atau suhu yang ekstrim (tiba-tiba)?

g. Apakah ada penyakit alergi lainnya (rinitis, dermatitis atopi,


konjunktivitis alergi)?
h. Apakah dalam keluarga (kakek/nenek, orang tua, anak, saudara
kandung, saudara sepupu) ada yang menderita asma atau alergi?

Dari anamnesis diketahui bahawa anak tersebut mempunyai ahli


keluarga dengan riwayat alergi, batuknya terutama pada malam hari,
tiada riwayat demam dan tidak banyak perubahan setelah berobat ke
puskesmas.
2. PEMERIKSAAN
Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik yang dilakukan termasuklah penilaian keadaan umum
pasien, posisi yang digemari pasien, serta pemeriksaan umum toraks,
jantung dan paru melibatkan inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi.
Pada auskultasi ditemukan adanya mengi dan frekuensi nafas 35 kali per
menit
Pemeriksaan penunjang
A. Pemeriksaan fungsi paru
Tes spirometri
Sumbatan jalan nafas pada pasien asma menyebabkan kurangnya
aliran nafas dengan ekshalasi paksa (forced exhalation) dan volume
paru ekspirasi parsial yang lebih kecil.
Justeru, ntuk menunjukkan obstruksi jalan nafas reversible, cara
yang paling cepat dan sederhana untuk menegakkan diagnosis
asma adalah dengan menilai rasio FEV1?FVC. Umumnya rasio
FEV1/FVC yang < 0.80 menunjukkan obstruksi jalan nafas yang
signifikan. Nilai normatif FEV1 pada anak ditetapkan berdasarkan
tinggi badan, jantina, dan kaum.
Pemeriksaan spirometri sahaja tidak cukup untuk menegakkan
diagnosis

asma

karena

banyak

kondisi

lain

yamg

da[at

menyebabkan reduksi jalan nafas. Pemeriksaan ini dilanjutkan


dengan melihat respon terhadap penggunaan bronkodilator agonis

inhalasi

karena

lebih

bermanfaat

pada

pasien

asma

berbanding non-asma. Perbaikan FEV1 yang 12% atau > 200mL


adalah konsisten dengan asma.

Bagaimana tes spirometri dilakukan?


i.

Pasien akan ambil napas dalam-dalam dan kemudian meniup


sekuatnya dan secepatnya sehingga sampai tidak bisa meniup
lagi.

ii.

Tes diulang beberapa kali dan hasil yang terbaik dicatat.

iii.

Ambil beberapa semprotan dari obat bronkodilator seperti


salbutamol

iv.

Setelah 15 menit, lakukan tes lagi untuk melihat apakah obat


tersebut membantu si pasien bernafas keluar lebih cepat. Jika
hasilnya lebih baik setelah minum obat, kemungkinan
menghidap asma adalah besar. Peningkatan FEV1 atau FVC
sebanyak lebih dari 12% menunjukkan diagnosis asma.
Penilaian ini juga penting untuk menentukan berat obstruksi
dan respon pengobatan.

Beberapa orang yang memiliki asma akan memiliki tes spirometri


yang normal. Saluran udara mungkin tidak meradang pada saat tes
dilakukan. Untuk mengkonfirmasikan diagnosa, tes lain dilakukan
seperti methacholine atau latihan uji tantangan (exercise test).

Bronchoprovocation challenges
Jalan nafas pasien asma adalah hiperresponsif hingga ia lebih
sensitive terhadap inhalasi methacholine, histamine dan udara
dingin atau kering. Derajat hiperresponsivitas terhadap bahanbahan ini (to some extent) berhubungan dengan tingkat parahnya
asma dan inflamasi jalan nafas. Namun tes ini tidak begitu praktikal.
Exercise challenge test
Tes ini dilakukan dengan berjalan di treadmill atau olahraga lari
selama 6-8 menit. Ini untuk mengenalpasti anak dengan
bronkospasme yang diakibatkan oleh kerja fisik.

Pada individu non-asma, olahraga meningkatkan volume paru


fungsional dan meningkatkan FEV1. Sebaliknya pada individu asma
yang tidak mendapatkan perawatan yang cukup, olahraga
menimbulkan obstruksi jalan nafas hingga FEV1 individu dengan
asma akan menurun sebanyak > 15% saat atau selepas
berolahraga.
Pengukuran nitric oxide ekshalasi (FENO)
FENO merupakan suatu marker inflamasi jalan nafas pada asma
berkaitan alergi.
Monitor peak expiratory flow (PEF)
Variasi PEF > 20% adalah konsisten dengan asma
B. Pemeriksaan radiologi
Gambaran radiologi pada asma pada umumnya normal. Penemuan
yang tidak spesifik berupa hiperinflasi dan penebalan peribronchial.
Namun radiologi dada bermanfaat untuk mengenalpasi kelainan yang
klinisnya mirip asma seperti bronkiolitis atau komplikasi akibat asma
seperti atelektasis.
C. Lain-lain
Prick-skin test
Tes sensitisasi terhadap alergen

3. DIAGNOSA KERJA
Diagnosis kerja yang dipilih adalah asma. Asma adalah suatu kelainan
berupa inflamasi kronik saluran nafas yang menyebabkan hiperreaktivitas
bronkus terhadap berbagai rangsangan yang ditandai dengan gejala
episodik berulang berupa mengi, batuk, sesak nafas dan rasa berat di
dada terutama pada malam atau dini hari yang umumnya bersifat
reversibel baik dengan atau tanpa pengobatan.
5

Asma bersifat fluktuatif yaitu dapat tenang tanpa gejala juga dapat
eksaserbasi dengan gejala ringan sampai berat bahkan dapat
menimbulkan kematian.
Table 1 Kriteria Diagnosis Asma Pada Anak Usia 6-11 Tahun

Diagnostic Feature

Criteria For Making The Diagnosis Of


Asthma
1. Historf of variable respiratory symptoms
Wheeze, shortness of breath, chest
Generally more than one type
tigthness and cough
of respiratory symptom
Symptoms occur variably over
time and vary in intensity
Symptoms are often worse at
night or on waking
Symptoms are often triggered
by exercise, laughter,
allergens, cold air
Symptoms oftern appear or
worsen with viral infections
2. Confirmed variable expiratory airflow limitation
Documented excessive variability in The greater the variations, or the
lung function
more occasions excess variation is
AND
seen, the more confident the
Documented airflow limitation
diagnosis

Positive bronchodilator reversibility


test
Excessive variabilitiy in twice-daily
PEF over 2 weeks
Significant increase in lung function
after 4 weeks of anti-inflammatory
treatment
Positive exercise challenge test
Positive bronchial challenge test
(usually only performed in adults)

At least once during diagnostic


process when FEV1 is low, confirm
that FEV1/FVC is reduced (normally
>0.90 in children)
Children: Increase in FEV1 of >12%
predicted
Children: Average daily diurnal PEF
variability >13%

Children: fall in FEV1 of >12%


predicted, or PEF >15%
Fall in FEV1 from baseline of 20%
with standard doses of
methacholine or histamine, or
15% with standardized
hyperventilation, hypertonic saline
6

Excessive variation in lung function


between visits (less reliable)

or mannitol challenge
Children: Variation in FEV1 of >12%
in FEV1, or >15% in PEF between
visits (may include respiratory
infections)

4. DIAGNOSA BANDING

DIAGNOSIS

Figure 1 Alur Diagnosis Gejala Respiratori

Asma

GEJALA

Riwayat wheezing berulang,


kadang tidak berhubungan dengan
batuk dan pilek
Hiperinflasi dinding dada
Ekspirasi memanjang
Berespons baik terhadap
bronkodilator

Bronkiolitis

Episode pertama wheezing


pada anak umur < 2 tahun
Hiperinflasi dinding dada
Ekspirasi memanjang
Gejala pada pneumonia juga
dapat dijumpai
Respons kurang/tidak ada
respons dengan bronkodilator

Wheezing berkaitan
dengan batuk dan
pilek

Wheezing selalu berkaitan


dengan batuk dan pilek
Tidak ada riwayat keluarga
dengan asma/eksem/hay fever
Ekspirasi memanjang
Cenderung lebih ringan
dibandingkan denganwheezing akibat
asma
Berespons baik terhadap
bronkodilator

Benda asing

Riwayat tersedak
atau wheezing tiba-tiba
Wheezing umumnya unilateral
Air trapping dengan hipersonor
dan pergeseran mediastinum
Tanda kolaps paru

Pneumonia

Batuk dengan napas cepat


Tarikan dinding dada bagian
bawah ke dalam
Demam
Crackles/ ronki
Pernapasan cuping hidung
Merintih/grunting

Table 2 Diagnosis Banding Anak Dengan Mengi

Table 3 Diagnosis Banding Asma Pada Anak Usia 6-11 Tahun

Diagnosis Banding
Gejala
Sindroma batuk saluran pernapasan Bersin,

gatal,

hidung

tersumbat,

atas kronis
Aspirasi benda asing
Bronkiektasis

throat-clearing
Mengi unilateral, timbul mendadak
Infeksi berulang, batuk produktif

Diskenia siliari primer

Infeksi berulang, batuk produktif,


sinusitis
8

Penyakit jantung kongenital

Bunyi jantung murmur

Displasia bronkopulmonal

Kelahiran

Kistik fibrosis

lahir
Batuk berlebihan, produksi mukus,

pre-term,

gejala

sejak

ada gejala gastrointestinal

5. ETIOLOGI
Penyebab asma masih tidak diketahui namun berdasarkan riset
mengimplikasikan kombinasi antara pajanan lingkungan dan
vulnerabilitas biologi dan genetik.
1. Lingkungan
Faktor lingkungan termasuklah infeksi virus, riwayat infeksi
yang menginflamasi laluan udara dan hubungannya dengan
asma. Diketahui bahawa pneumonia dan bronkiolitis
merupakan faktor resiko terjadinya asma.
Selain itu, juga melibatkan alergen. Alergen akan memulakan
inflamasi laluan nafas pada orang yang cepat atau mudah
tersensitisasi dan hipersensitif terhadap pajanan iritan
lainnya. Alergen berhubungan dengan keparahan dan
persistensi asma.
Udara kering dan dingin dan bau yang kuat juga dapat
merangsang bronkokonstriksi namun ia tidak memperburuk
inflamasi jalan nafas atau hiperresponsif
2. Biologi dan genetik
Terdapat lebih 100 lokus gen yang dikaitkan dengan asma
termasuklah ADAM-33, kelompok IL-4 pada kromosom 5, IL-12.
Selain itu terdapat juga variasi genetik terhadap pengobatan
asma berupa polimorfism dalam reseptor 2 adrenergik yang
menimbulkan respon bervariasi terhadap berbagai obatan
asma
Ada

beberapa

hal

yang

merupakan

faktor

predisposisi

dan

presipitasi timbulnya serangan asma bronkhial.

a. Faktor predisposisi
Genetik. Dimana yang

diturunkan

adalah

sifat

alerginya,

meskipun belum diketahui bagaimana cara penurunannya yang


jelas. Penderita dengan penyakit alergi biasanya mempunyai
keluarga dekat juga menderita penyakit alergi. Karena adanya
sifat alergi ini, penderita sangat mudah terkena penyakit asma
bronkhial jika terpapar dengan faktor pencetus. Selain itu
hipersentifisitas saluran pernafasannya juga bisa diturunkan.
b. Faktor presipitasi
Alergen, dimana alergen dapat dibagi menjadi 3 jenis, yaitu :
i.
Inhalan, yang masuk melalui saluran pernapasan (debu,
bulu binatang, serbuk bunga, spora jamur, bakteri dan
ii.

polusi)
Ingestan, yang masuk melalui mulut (makanan dan obat-

iii.

obatan seperti penicillin, salisilat, beta blocker, kodein)


Kontaktan, yang masuk melalui kontak dengan kulit
(perhiasan, logam dan jam tangan)

Perubahan cuaca

Cuaca lembab dan hawa pegunungan yang dingin sering


mempengaruhi

asma.

Atmosfir

yang

mendadak

dingin

merupakan faktor pemicu terjadinya serangan asma. Kadangkadang serangan berhubungan dengan musim, seperti musim
hujan, musim kemarau, musim bunga. Hal ini berhubungan
dengan arah angin serbuk bunga dan debu.

Stress

Stress/gangguan emosi dapat menjadi pencetus serangan asma,


selain itu juga bisa memperberat serangan asma yang sudah
ada. Disamping gejala asma yang timbul harus segera diobati
penderita asma yang mengalami stress/gangguan emosi perlu
diberi nasehat untuk menyelesaikan masalah pribadinya. Karena
jika stressnya belum diatasi maka gejala asmanya belum bisa
diobati.

10

Olahraga/ aktifitas jasmani yang berat

Sebagian besar penderita asma akan mendapat serangan jika


melakukan aktifitas jasmani atau olahraga yang berat. Lari cepat
paling mudah menimbulkan serangan asma. Serangan asma
karena aktifitas biasanya terjadi segera setelah selesai aktifitas
tersebut.

6. PATOFISIOLOGI
1. Inflamasi
Inflamasi atau peradangan adalah factor utama yang dapat
menyebabkan

penyempitan

tabung-tabung

bronchial.

Proses

inflamasi ditandai dengan adanya kalor (panas karena vasodilatasi),


rubor (kemerahan karena vasodilatasi), tumor (eksudasi plasma dan
edema), dolor (rasa sakit karena rangsangan sensoris), dan functio
laesa (fungsi yang terganggu) serta adanya tanda infiltrasi sel
radang. Keenam hal ini dijumpai pada seluruh jenis asma tanpa
membedakan alergenik ataukah non alergenik. Peradangan ini akan
meningkatkan ketebalan dinding saluran bronkial dan dengan
demikian menyebabkan jalan menjadi lebih sempit untuk udara
mengalir. Peradangan ini terjadi akibat suatu alergen atau iritan dan
hasil dari aksi mediator kimia (histamin, leukotrien, dan lain-lain).
Jaringan yang meradang menghasilkan lendir yang lengket secara
berlebihan ke dalam tabung bronkial. Lendir dapat berpadu bersama
dan membentuk "plug" yang dapat menyumbat saluran udara
menjadi lebih kecil. Sel-sel khusus alergi dan peradangan (eosinofil
dan

sel-sel

darah

putih),

yang

terakumulasi

di

situs

ini,

menyebabkan kerusakan jaringan. Sel-sel yang rusak terhimpun ke


saluran

udara,

sehingga

memberikan

kontribusi

untuk

mempersempit lagi jalan napas tersebut.


2. Bronkospasm
Otot polos di bronkus berfungsi meregulasi aliran udara atau nafas
yang masuk. Terjadinya bronkokonstriksi menyebabkan hambatan
atau blok terhadap aliran udara. Otot-otot sekitar saluran bronkial
11

menjadi

kencang

atau

menyempit

selama

serangan

asma.

Penyempitan otot dari saluran udara ini disebut bronkospasme.


Bronkospasme menyebabkan saluran udara menyempit. Mediator
kimia dan saraf dalam tabung-tabung bronchial menyebabkan otot
mengerut. Bronkospasme dapat terjadi pada semua manusia dan
dapat dibawa oleh menghirup udara dingin atau kering.
3. Hiperreaktifitas / hipersensitifitas
Pada pasien dengan asma, peradangan kronis dan konstriksi saluran
udara menjadi sangat sensitif, atau reaktif untuk pemicu seperti
alergen, iritasi, dan infeksi. Paparan pemicu ini dapat
mengakibatkan peradangan dan penyempitan yang lebih progresif.

Kombinasi dari ketiga factor ini menyebabkan penderita asma megalami


kesulitan semasa bernafas keluar atau ekspirasi. Akibatnya, udara harus
dipaksa untuk mengatasi salur napas yang menyempit, sehingga
menimbukan bunyi khas iaitu mengi. Orang-orang dengan asma juga
sering batuk dalam upaya untuk mengeluarkan plug lendir yang tebal.

7.

MANIFESTASI
KLINIS

Antara

tanda-tanda

pada

penderita asma

adalah:

Sesak

atau batuk yang


berkepanjangan
setelah
menderita
Figure 2 Patofisiologi Asma

influenza.

12

Batuk-batuk setelah olahraga, terutama pada anak-anak atau rasa


berat atau tercekik

pada dada sehabis olahraga (yang terbukti

tidak ada kelainan jantung).

Sesak atau batuk-batuk pada waktu ruang berdebu atau berasap.

Batuk-batuk setelah mencium bau tertentu.

Batuk-batuk atau sesak yang sering timbul pada malam hari dan
tidak berkurang sesudah duduk.

Table 4 Penilaian Derajat Serangan Asma Anak

Parameter

Ringan

Sedang

Berat

Ancaman
henti nafas

Aktivitas

Berjalan

Berbicara

Istirahat

Bayi:

Bayi: Tangis

Bayi:

Menangis

pendek dan

Berhenti

keras

lemah;

makan

kesulitan
Bicara
Posisi

Kesadaran
Sianosis
Mengi

Sesak

Kalimat

makan
Penggal

Kata-kata

Bisa

kalimat
Lebih suka

Duduk

berbaring

duduk

bertopang

Mungkin

Biasanya

lengan
Biasanya

Kebingungan

teragitasi
Tidak ada
Sedang,

teragitasi
Tidak ada
Nyaring,

teragitasi
Ada
Sangat

Nyata
Sulit/ tidak

sering hanya

sepanjang

nyaring,

terdengar

pada akhir

ekspirasi dan

terdengar

ekspirasi

inspirasi

tanpa

Minimal

Sedang

stetoskop
Berat

Nafas
13

Otot Bantu
Nafas

Biasanya

Biasanya ya

Ya

tidak

Gerakan
paradok
torako-

Retraksi

Dangkal,

Sedang,

Dalam,

abdominal
Dangkal/

retraksi

ditambah

ditambah

hilang

interkostal

retraksi

nafas cuping

suprasternal
hidung
Laju Nafas
Meningkat
Meningkat
Menurun
Menurun
Pedoman Nilai Baku Laju Nafas Pada Anak Sadar
Usia
< 2 Bulan

Laju Nadi

SaO2
PaO2
PaCO2
FEV1 Pra

Laju Nafas Normal


< 60 kali/menit

2-12 Bulan

< 50 kali/menit

1-5 Tahun

< 40 kali/menit

6-8 Tahun

< 30 kali/menit

Normal
Takikardi
Takikardi
Pedoman Nilai Baku Laju Nadi Anak
Usia
2-12 Bulan

Laju Nadi Normal


< 160 kali/menit

1-2 Tahun

< 120 kali/menit

3-8 Tahun

< 110 kali/menit

>95%
Normal
< 45mmHg
>60%

91-95%
>60 mmHg
< 45mmHg
40-60%

90%
< 60 mmHg
>45 mmHg
< 40%

>80%

60-80%

< 60%

Bradikardi

Bronkodilat
or
FEV1 Pasca
Bronkodilat
or

14

8. KOMPLIKASI
Pneumotoraks
Pneumodiastinum dan emfisema subcutis
Atelektasis.
Gagal nafas
9. PENATALAKSANAAN
Mengobati disini bukan berarti menyembuhkan penyakitnya, melainkan
menghilangkan gejala-gejala yang berupa sesak, batuk, atau mengi.
Keadaan yang sudah bebas gejala penyakit asma ini selanjutnya harus
dipertahankan agar serangan penyakit asma jangan datang kembali.
Tujuan utama terapi adalah menjamin tercapainya potensi tumbuh
kembang anak secara optimal manakala tujuan jangka panjang pula
adalah tercapainya kontrol asma yang optimal. Bagi anak sekolah, maka
tujuan yang ingin dicapai adalah:
i.

Aktivitas normal

ii.

Absen sekolah sedikit mungkin

iii.

Gejala tidak timbul siang maupun malam

iv.

Uji fungsi paru senormal mungkin

v.

Kebutuhan obat semnimal mungkin

vi.

Efek samping obat seminimal mungkin

15

Figure 3 Alur Tatalaksana Serangan Asma Anak

Berdasarkan The National Asthma


Education and Prevention Programs
Expert Panel Report 3 (EPR-3)
terdapat empat komponen utama
untuk penanganan yang optimal
yaitu:
i.

Penilaian dan monitor

ii.

aktivitas penyakit
Edukasi pasien dan

iii.

keluarga
Identifikasi dan
penanganan faktor
pemberat dan kondisi
penyerta yang dapat
memperparah asma

16

iv.

Pemilihan obat yang sesuai dengan keperluan pasien

Manakala berdasarkan Global Initiative for Asthma: Global Strategy for


Asthma Management and Prevention 2015 terdapat tiga komponen yang
berkelanjutan dalam penanganan asma yaitu:
i.
ii.
iii.

Penilaian penyakit
Penyesuaian perawatan
Review respon
Penilaian penyakit
Penilaian dan monitoring adalah didasarkan kepada konsep
keparahan asma, kontrol asma dan respon terhadap terapi.
Keparahan asma (asthma severity) adalah intensitas intrinsik dari
penyakit. Penilaiannya umumnya paling akurat pada pasien yang
tidak mendapat atau menerima terapi pengawal yaitu pada
pasien yang mendapatkan pengobatan pertama kalinya atau di
awal pengobatan. Dua kategori umum asma adalah intermiten
dan persisten. Asma persisten dibagi lagi menjadi ringan, sedang
dan berat.
Table 5 Penilaian Keparahan Asma Pasien Asma Usia 5-11 Tahun
yang Tidak Dalam Pengobatan Pengawal Jangka Panjang

Komponen
a.

Klasifikasi Keparahan Asma


Intermite
Persisten
Persisten

Persisten

Impairment
Gejala

n
2

Ringan
2

Berat
Sepanjang

Diurnal

hari/mingg

hari/mingg

u tapi tidak

Gejala

setiap hari
1-2

3-4

>1

Nokturnal
Penggunaan

kali/bulan
2

kali/bulan
>2

kali/bulan
Setiap hari

kali/minggu
Beberapa

SABA

hari/mingg

hari/mingg

u tapi tidak

Sedang
Setiap hari

hari

kali/hari

setiap hari
dan tidak
17

lebih 1
Gangguan

Tiada

Terhadap

gangguna

kali/hari
Sedikit

Beberapa

Sangat

aktivitas

terhad

80%

60-80%

<60%

Aktivitas
Harian
Persentase

Normal

Prediksi FEV1

(>80%

Rasio

prediksi)
>85%

>80%

75-80%

<75%

FEV1/FVC
b. Resiko
Eksaserbasi

0-1

Memerlukan

kali/tahun

kali/tahun

kali/tahun

kali/tahun

Kortikosteroid
Sistemik
Kontrol asma (asthma control) merujuk kepada derajat di mana
gejala, gangguan fungsional semasa dan resiko diminimumkan
dan tujuan tercapai. Penilaian terhadap kontrol asma penting
untuk penyesuaian pengobatan dan dibagi kepada tiga peringkat
yaitu terkontrol baik, kurang baik dan buruk.
Table 6 Klasifikasi Kontrol Asma Anak 5-11 Tahun

Komponen
Impairment
Gejala

Klasifikasi Kontrol Asma


Baik
Kurang Baik
1 kali/bulan
2 kali/bulan

Buruk
2

Penggunaan

>2

kali/minggu
Beberapa kali

SABA
Terhadap

hari/minggu
Tidak

hari/minggu
Sedikit

per hari
Sangat

Aktivitas
FEV1 (%

terganggu
>80%

terganggu
60-80%

terganggu
<60%

>80%

75-80%

<75%

0-1 kali/tahun

2 kali/tahun

prediksi)
FEV1/FVC
Resiko
Eksaserbasi

18

Memerlukan
Kortikosteroid
Sistemik
Reduksi

Memerlukan follow-up jangka panjang

Pertumbuhan
Paru atau
Kehilangan
Progresif
Fungsi Paru
Rekomendasi -Pertahankan

-Step up dan

Tindakan

langkah sedia

evaluasi

Pertimbangkan

ada

kembali dalam

kortikosteroid

-Follow up

2-6 minggu

oral jangka

regular setiap

pendek

1-6 bulan

Pertimbangkan -Step up dan

diagnosis

evaluasi

Pertimbangkan alternatif atau

kembali dalam

step down jika

terapi

2 minggu

terkontrol baik

penyesuaian

minimum

jika tiada

Pertimbangkan

3bulan

perbaikan

diagnosis

dalam 4-6

alternatif atau

minggu

penyesuaian

terapi jika

Pertimbangkan tiada
pilihan

perbaikan

alternatif

dalam 4-6

untuk atasi

minggu

kesan

sampingan

Pertimbangkan
pilihan
alternatif
untuk atasi
kesan
19

sampingan

Respon terhadap terapi melihat kepada respon yang didapatkan


dari terapi yang diberikan dan untuk monitoring kesan
sampingan pengobatan.
Perawatan medika dan non-medika mentosa
Pengobatan asthma secara garis besar dibagi menjadi
pengobatan medika mentosa dan non medika mentosa.
a. Medika mentosa
Obat asma terbagi kepada dua yaitu pengontrol dan pelega
cepat.
Pengontrol asma antaranya kortikosteroid inhalasi,
kortikosteroid sistemik, agonis inhalasi kerja panjang
(LABA), agen pengubah lekotrien, anti-inflamasi non-steroid,
teofilin, dan anti-imunoglobulin E (omalizumab)

Kortikosteroid inhalasi
Terapi pilihan untuk pasien dengan asma persisten
Penggunaan jangka panjang pada anak harus hatihati karena kemungkinan kesan sampingan yang
buruk
Table 7 Kortikosteroid Inhalasi untuk Anak 5-11 Tahun

Kortikosteroid

Dosis

Dosis

Dosis

Inhalasi
Beclomethason

Rendah
80-160 g

Sedang
>160-320 g

Tinggi
>320 g

ne
Budenoside dry

180-400 g

1000 g

2000 g

powder inhaler
Budenoside

0,5 mg

1,0 mg

2,0 mg

e
hydrofluoroalka

suspensi
inhalasi
20

Flunisolide

500-750 g

1000-1250

>1250 g

Flunisolide

160 g

g
320 g

640 g

88-176 g

>176-352 g

>352 g

dose inhaler
Fluticasone dry

100-200 g

>200-400 g

>400 g

powder inhaler
Triamcinolone

300-600 g

>600-900 g

>900 g

hydrofluoroalka
ne
Fluticasone
hydrofluoroalka
ne or metered-

aceetonide

Kortikosteroid sistemik
Obat termasuklah metilprednisolon, prednison dan
prednisolon
Pemberian oral
Untuk merawat asma eksaserbasi atau jika gejala

menetap setelah pengobatan asma lainnya


Elakkan penggunaan jangka panjang
agonis inhalasi kerja panjang
Obat termasuklah salmeterol dan formoterol
Harus kombinasi
Digunakan kombinasi dengan kortikosteroid
inhalasi pada pasien yang tidak adekuat dengan
kortikosteroid inhalasi
Lama kerja minimum 12 jam
Salmeterol: mula kerja setelah 1 jam pemberian
Formoterol: mula kerja dalam 5-10 menit
pemberian
Penggunaannya meningkatkan resiko serangan
asma episodik
Penggunaan harus dihentikan setelah kontrol

asma tercapai
Lekotriene-Modifying agents
Lekotrien merupakan suatu mediator pro-inflamasi
poten yang dapat menginduksi bronkospasme,
sekresi mukus dan edema jalan nafas
21

Terdapat dua kelas yaitu penghambat sintesis


lekotrien dan antagonis reseptor lekotrien.(LTRA)
Penggunaan zileuton (penghambat sintesis
lekotrien) tidak boleh digunakan pada anak usia
bawah 12 tahun
LTRA mempunyai sifat bronkodilator dan antiinflamasi, dan menurunkan bronkokonstriksi
akibat olahraga, aspirin dan alergen.
Direkomendasikan sebagai alternatif untuk asma
persisten ringan dan diguna bersama
kortikosteroid inhalasi bagi asma persisten
sedang.
Obat LTRA yang dibolehkan untuk anak adalah
montelukast dan zafirlukast. Keduanya
memperbaiki gejala asma, meningkatkan fungsi

paru dan mengurangkan keperluan terhadap SABA


Anti-inflamasi non-steroid
Obatnya termasuklah kromolin dan nedokromil.
Keduanya menghambat respon asma akibat
alergen dan bronkospasme akibat olahraga
Sebagai alternatif bagi anak dengan asma
persisten ringan
Dapat digunakan bersama atau sebagai pengganti

SABA
Teofilin
Mempunyai efek bronkodilator
Mempunyai sifat anti-inflamasi
Table 8 Dosis Obat Kontrol Asma Anak 5-11 Tahun

Obat
Kortikosteroid inhalasi (lihat

Dosis

tabel 7)
Metilprednisolon
Salmeterol dry powder inhaler
Formoterol dry powder inhaler
Kombinasi

0,25-2mg/kgBB setiap hari


50mg setiap 12 jam
12mg setiap 12 jam
1 inhalasi dua kali/hari. Dosis

fluticasone/salmeterol dry

tergantung keparahan atau

powder inhaler

kontrol
22

Kombinasi

2 inhalasi dua kali/hari. Dosis

fluticasone/salmeterol

tergantung keparahan atau

hidrofluoroalkane
Kombinasi

kontrol
2 inhalasi dua kali/hari. Dosis

budesonide/formoterol

tergantung keparahan atau

hidrofluoroalkane
Kromolin metered-dose inhaler
Kromolin nebulizer
Nedocromil metered-dose

kontrol
2 puff 4 kali/hari
1 ampul 4 kali/hari
2 puff 4 kali/hari

inhaler
Montelukast tablet
Zafirlukast tablet
Teofilin cairan/tablet/kapsul

5 mg setiap malam
10 mg 2 kali/hari
Dosis permulaan:
10mg/kg/hari
Dosis maksimum:
16mg/kg/hari

Pelega cepat termasuklah -agonis inhalasi kerja cepat


(SABA), dan antikolinergik.

-agonis inhalasi kerja pendek


Obatnya termasuklah albuterol, levalbuterol,
terbutalin, dan pirbuterol
Lama kerja 4-6 jam
Mula kerja cepat
Menginduksi relaksasi otot polos bronkus hingga
terjadi bronkodilatasi
Juga mereduksi permeabilitas dari pembuluh
darah dan mengurangkan edema jalan nafas,
memperbaiki klearen mukosiliar
Penggunaan berlebihan dikaitkan dengan

peningkatan resiko kematian akibat asma


Antikolinergik
Sebagai bronkodilator
Obatnya ipratropium bromida
Kurang poten berbanding -agonis
Meningkatkan fungsi paru jika digunakan bersama
albuterol

23

Table 9 Obat dan Dosis Pelega Asma Anak

Obat

Cara Kerja dan

SABA inhalasi:

Dosis
Bronkodilator

Albuterol nebulizer

0,15mg/kg/20
menit untuk 3 dosis
dilanjuti 0,15-3,0

Albuterol metered-

mg/kg/1-4 jam

dose inhaler

2-8 puff/20 menit


untuk 3 dosis,

Levalbuterol

dilanjuti setiap 1-

nebulizer

4jam
0,075mg/kg/20
menit untuk 3
dosis, dilanjuti
0,075-0,15

Kortikosteroid

mg/kg/1-4 jam
Anti inflamasi

sistemik

0,5-1mg/kg/6-12

Prednisone

jam untuk 48 jam,

Metilprednisolon

dilanjuti 1-

Prednisolon

2mg/kg/hari dua

Epinefrin

kali sehari
Bronkodilator

Adrenalin suntik

0,01mg/kg (dapat
diulang setelah 15-

Antikolinergik

30 menit)
Mukolitik,

Ipratropium

bronkodilator

nebulizer

0,5mg/6-8 jam 3
atau 4 kali/hari

Ipratropium

2 puff 4 kali/hari

metered-dose
24

inhaler

1 vial 4 kali/hari

Kombinasi dengan
albuterol nebulizer
Garis panduan NIH 2007 mencadangkan pendekatan stepwise untuk
membantu, bukan menggantikan, ahli klinis dalam membuat keputusan
sesuai keperluan pasien. Pilihan permulaan terapi adalah berdasarkan
penilaian keparahan asma bagi pasien baru atau penilaian kontrol asma
dan tingkat respon terhadap terapi bagi pasien dalam perawatan kontrol.
Jika pasien telah terkontrol baik selama tiga bulan, dapat dilakukan step
down hingga akhirnya didapatkan dosis minimum yang memberi hasil
sama (kontrol baik), sebaliknya lakukan step up jika pengobatan
sebelumnya tidak memadai walau setelah perbaikan lingkungan dan
pengobatan penyakit penyerta dan mengikuti pengobatan dengan benar.

Table 10 Pendekatan Stepwise Penanganan Asma Anak Usia 5-11


Tahun

Terapi

Asma

Asma Persisten

Intermite

Pilihan

n
Langkah

Langkah 2

Langkah 3

Langkah 4

Langkah 5

Langkah 6

1
SABA

Kortikostero

Kortikostero

Kortikostero

Kortikostero

Kortikostero

sesuai

id inhalasi

id inhalasi

id inhalasi

id inhalasi

id inhalasi

keperlua

dosis

dosis

dosis

dosis tinggi

dosis tinggi

rendah

rendah

sedang +

+ LABA

+ LABA +

LABA,

LABA

kortikosteroi

LTRA atau

d oral

teofilin
ATAU
Kortikostero
id inhalasi
dosis
rendah
Alternat

Kromolin,

Kortikostero

Kortikostero

Kortikostero

if

LTRA,

id inhalasi

id inhalasi

id dosis

25

nedokromil

dosis

dosis tinggi

tinggi +

atau teofilin

sedang +

+ LTRA atau

Kortikostero

LTRA atau

teofilin

id oral +

teofilin

LTRA atau
Teofilin

b. Non medika mentosa


Penyuluhan
Penyuluhan ini ditujukan pada peningkatan pengetahuan klien
tentang
penyakit
asthma

Figure 4 Obat dan Dosis Asma Anak

26

sehinggan klien secara sadar menghindari faktor-faktor


pencetus, serta menggunakan obat secara benar dan
berkonsoltasi pada tim kesehatan.

Menghindari faktor pencetus

Pasien perlu dibantu mengidentifikasi pencetus serangan


asthma yang ada pada lingkungannya, serta diajarkan cara
menghindari dan mengurangi faktor pencetus, termasuk
pemasukan cairan yang cukup bagi klien.

Elakkan stres emosi


Vaksinasi

Bagi mencegah timbulnya infeksi virus yang dapat


menimbulkan serangan asma seperti pneumonia dan
influenza

10.

PROGNOSIS

Prognosis baik ditemukan pada 50 sampai 80 persen pasien. Mortalitas


akibat asma sedikit nilainya. Gambaran yang paling akhir menunjukkan
kurang dari 5000 kematian setiap tahun dari populasi berisiko yang
berjumlah kira-kira 10 juta. Namun, angka kematian cenderung meningkat
di pinggiran kota dengan fasilitas kesehatan terbatas.
11.

PENCEGAHAN

Setiap penderita harus mencoba untuk melakukan tindakan pencegahan.


Tetapi bila gejala-gejala sedang timbul maka diperlukan obat antipenyakit
asma untuk menghilangkan gejala dan selanjutnya dipertahankan agar
penderita bebas dari gejala penyakit asma.
1. Menjaga Kesehatan
Menjaga kesehatan merupakan usaha yang tidak terpisahkan dari
pengobatan penyakit asma. Bila penderita lemah dan kurang gizi, tidak
saja mudah terserang penyakit tetapi juga berarti mudah untuk mendapat
serangan penyakit asma beserta komplikasinya.
27

Usaha menjaga kesehatan ini antara lain berupa makan makanan yang
bernilai gizi baik, minum banyak, istirahat yang cukup, rekreasi dan
olahraga yang sesuai. Penderita dianjurkan banyak minum kecuali bila
dilarang dokter, karena menderita penyakit lain seperti penyakit jantung
atau ginjal yang berat.
Banyak

minum

akan

mengencerkan

dahak

yang

ada

di

saluran

pernapasan, sehingga dahak tadi mudah dikeluarkan. Sebaliknya bila


penderita kurang minum, dahak akan menjadi sangat kental, liat dan
sukar dikeluarkan.
Pada serangan penyakit asma berat banyak penderita yang kekurangan
cairan. Hal ini disebabkan oleh pengeluaran keringat yang berlebihan,
kurang minum dan penguapan cairan yang berlebihan dari saluran napas
akibat bernapas cepat dan dalam.
2. Menjaga kebersihan lingkungan
Lingkungan dimana penderita hidup sehari-hari sangat mempengaruhi
timbulnya serangan penyakit asma. Keadaan rumah misalnya sangat
penting diperhatikan. Rumah sebaiknya tidak lembab, cukup ventilasi dan
cahaya matahari.
Saluran pembuangan air harus lancar. Kamar tidur merupakan tempat
yang perlu mendapat perhatian khusus. Sebaiknya kamar tidur sesedikit
mungkin berisi barang-barang untuk menghindari debu rumah.
Hewan peliharaan, asap rokok, semprotan nyamuk, atau semprotan
rambut dan lain-lain mencetuskan penyakit asma. Lingkungan pekerjaan
juga perlu mendapat perhatian apalagi kalau jelas-jelas ada hubungan
antara lingkungan kerja dengan serangan penyakit asmanya.
3. Menghindari Faktor Pencetus
Alergen yang tersering menimbulkan penyakit asma adalah tungau debu
sehingga cara-cara menghindari debu rumah harus dipahami. Alergen lain
seperti kucing, anjing, burung, perlu mendapat perhatian dan juga perlu
diketahui bahwa binatang yang tidak diduga seperti kecoak dan tikus
dapat menimbulkan penyakit asma.
28

Infeksi virus saluran pernapasan sering mencetuskan penyakit asma.


Sebaiknya penderita penyakit asma menjauhi orang-orang yang sedang
terserang influenza. Juga dianjurkan menghindari tempat-tempat ramai
atau penuh sesak.
Hindari kelelahan yang berlebihan, kehujanan, penggantian suhu udara
yang ekstrim, berlari-lari mengejar kendaraan umum atau olahraga yang
melelahkan. Jika akan berolahraga, lakukan latihan pemanasan terlebih
dahulu dan dianjurkan memakai obat pencegah serangan penyakit
asma.Zat-zat yang merangsang saluran napas seperi asap rokok, asap
mobil, uap bensin, uap cat atau uap zat-zat kimia dan udara kotor lainnya
harus dihindari.
KESIMPULAN
Asma merupakan penyakit inflamasi kronis saluran napas yang
melibatkan berbagai sel imun serta menyebabkan peningkatan respons
saluran napas terhadap berbagai rangsangan.
Konsep patogenesis asma adalah hipereaktivitas saluran napas yang
didasari oleh inflamasi alergik kronis. Inflamasi ini akan menyebabkan
penyempitan saluran napas yang bersifat reversibel, dan membaik secara
spontan ataupun dengan pengobatan. Gejala yang timbul dapat berupa
batuk berulang, mengi, dada terasa tertekan, dan sesak napas, terutama
pada malam dan/atau pagi hari. Dengan demikian pengobatan asma tidak
hanya ditujukan untuk mengatasi bronkokonstriksi tapi juga untuk
mengatasi inflamasi alergi dan hiperreaktifitas bronkus.
Asma dapat timbul pada berbagai usia, terjadi pada laki-laki dan
wanita. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa prevalensi asma di
Indonesia diperikakan sekitar 2 5%. Prevalensi morbiditas dan mortalilas
asma akhir-akhir ini dilaporkan meningkat di seluruh dunia, meskipun
berbagai obat baru terus dikembangkan dan digunakan untuk mengobati
penyakit ini.

29

Penyakit asma tidak dapat disembuhkan dan obat-obatan yang


ada saat ini hanya berfungsi menghilangkan gejala. Namun, dengan
mengontrol penyakit asma, penderita penyakit asma bisa bebas dari
gejala penyakit asma yang mengganggu sehingga dapat menjalani
aktivitas hidup sehari-hari.
Penatalaksanaan asma teutama ada dua, yaitu: penatalaksanaan
asma pada saat serangan (reliever) dengan memakai obat bronkodilator
(salbutamol, terbutalin, theophilin) termasuk penatalaksanaan asma di
rumah dan di rumah sakit dan penatalaksanaan asma di luar serangan
(controller) dengan memakai anti inflamasi. Edukasi kepada penderita
asma dan keluarganya sangat penting agar asma yang dihidapi dapat
dikawal

dengan

dilaksanakan

baik,

dengan

langkah-langkah

tepat,

seterusya

pencegahan
dapat

juga

mencegah

dapat

daripada

kematian.

DAFTAR PUSTAKA
1. DR. dr. Aru W Sudoyo, SpPD-KHOM,FACP, et al . buku ajar ilmu
penyakit dalam, perhimpunan dokter spesialis penyakit dalam
Indonesia. Interna Publishing, cetakan pertama 2009 ; (V) ; 404-414
2. Diunduh dari http://www.ichrc.org/44-kondisi-yang-disertai-denganwheezing 8 Julai 2015
3. Diunduh dari http://www.scribd.com/doc/209249331/Buku-PedomanAsma-Depkes-RI#scribd 8 Julai 2015
4. Fitzgerald JM, Bateman ED, Boulet LP et al. Global initiative for
asthma. Global strategy for asthma management and prevention
updated 2015; pg 1-45
5. Diunduh dari
http://www.ginasthma.org/local/uploads/files/GINA_Pocket_2015.pdf
8 Julai 2015
6. Hardiarto Mangunnegoro, Adji Widjaja, et al. Asma, pedoman
diagnosis dan penatalaksanaan di Indonesia. Perhimpunan Dokter
Paru Indonesia. Balai Penerbit FKUI. Jakarta 2004 ; 1-103

30

7. Liu AH, Covar RA, Spahn JD, Leung DYM: Chapter 138 Childhood
asthma. Nelson textbook of pediatrics 19th , Kliegman RM, Stanton
BF, Schor NF, Geme III JWS, Behrman RE et al; 780-801
8. Darmanto D. Respirologi. Edisi 1. Jakarta (INA) : Penerbit Buku
Kedokteran EGC; 2007.p.100-25
9. Asthma. Diunduh dari http://www.bcguidelines.ca/asthma
10.
What is asthma? Diunduh dari http://www.ginasthma.org/
11.
Diagnosis asthma. Diunduh dari
http://www.asthma.ca/corp/services/Diagnosis
12.
Asthma and allergy. Diunduh dari
http://www.aimtherapeutics.com/default.asp?id=7&l=1
13.
Asthma. Diunduh dari
http://www.medicinenet.com/asthma/page4.htm
14.
Asma bronchial. Diunduh dari
http://medicastore.com/asma/pencegahan_asma.php

31