Anda di halaman 1dari 13

BAB I PENDAHULUAN

Berbagai industri petrokimia, industri minyak dan gas alam yang pada prosesnya m
emerlukan pemisahan gas CO2 dan H2S, karena termasuk kategori gas yang bersifat
asam (acid gas) dan korosif. Gas CO2 dan H2S bersifat korosif dan dapat merusak
bagian dalam utilitas pabrik dan sistim perpipaannya. Sifat korosif CO2 dan H2S
akan muncul pada daerah - daerah yang menyediakan penurunan temperatur dan tekan
an, seperti pada bagian elbow pipa, tubing-tubing, cooler, dan injektor turbin.
Di samping itu gas CO2 dapat mengurangi nilai kalor dari gas alam. Di dalam fasi
litas turbin, CO2 akan mengakibatkan penurunan nilai kalor pembakaran turbin, ka
rena CO2 dan H2O merupakan produk dari pembakaran. Pada kilang Liquified Natural
Gas (LNG), gas CO2 harus dihilangkan karena pada suhu sangat rendah CO2 akan me
mbeku yang mengakibatkan tersumbatnya sistim perpipaan dan merusak tubing-tubing
pada main heat exchanger. Gas CO2 juga merupakan produk samping pada industri a
moniak. Gas CO2 merupakan racun terhadap katalis sintesa amoniak, maka CO2 harus
dipisahkan dari gas proses sebelum memasuki unit sintesa amoniak. Melihat besar
nya kerugian yang dapat ditimbulkan oleh CO2 dan H2S, maka penting sekali dilaku
kan proses pemisahan CO2 dan H2S dari aliran gas. Secara prinsip, berbagai cara
dapat digunakan untuk pemisahan CO2 dan H2S. Pemilihan metode yang tepat untuk m
emisahkan dan menangkap CO2 dan H2S ditentukan oleh beberapa parameter, seperti
konsentrasi CO2 dan H2S di aliran masuk, kontaminan alami yang terdapat dalam al
iran gas masuk, tekanan dan suhu gas masuk, kualitas produk, dan faktor lainnya
(Shaw dan Hughes, 2001).
1.1 Penangkapan CO2 dan H2S 1.1.1 Teknologi penangkapan CO2 dan H2S Berbagai mac
am proses secara luas telah dikembangkan untuk mereduksi CO2 dan H2S dari aliran
gas. Rao dan Rubin (2002), menyampaikan ada beberapa teknologi untuk memisahkan
dan menangkap CO2 antara lain proses Cryogenic
1

(pendinginan), proses adsorpsi, proses pelarutan dan difusi dengan teknologi mem
bran, dan absorpsi secara kimiawi. Proses Cryogenic dapat dipakai untuk tekanan
parsial CO2 yang besar namun dengan adanya proses pendinginan biaya yang dikelua
rkan tidak sedikit. Bila digunakan untuk kandungan gas CO2 yang rendah metode in
i tidak efektif dari segi ekonomi, metode ini biasanya hanya digunakan pada alir
an gas dengan kandungan CO2 yang sangat besar. Adsorpsi telah diterapkan namun k
apasitas dan selektivitas yang rendah tidak berpotensi untuk pengambilan CO2 dar
i aliran gas dengan baik. Membran merupakan
metode pemisahan yang tidak membutuhkan zat kimia tambahan dan juga kebutuhan en
erginya sangat minimum. Membran dapat bertindak sebagai filter yang sangat spesi
fik. Hanya molekul-molekul dengan ukuran tertentu saja yang bisa melewati membra
n sedangkan sisanya akan tertahan di permukaan membran. Tetapi penggunaan membra
n membutuhkan aliran gas yang sangat murni, dan terbebas dari partikel pengotor.
Proses absorpsi CO2 dan H2S dengan pelarut secara fisik dan kimia adalah metode
pemisahan yang paling ekonomis untuk memisahkan CO2 dan H2S dari aliran gas. Pr
oses absorpsi dengan pelarut secara fisika biasanya diaplikasikan pada tekanan y
ang tinggi. Beberapa pelarut yang umum digunakan yaitu Selexol, Rectisol, dan Pu
risol. Pelarut fisika tidak bereaksi dengan CO2 dan H2S, maka pelarut tidak terk
onsumsi (tidak berkurang). Sebagai tambahan, panas absorpsi dibatasi pada enthal
py absorpsi fisika, yang mana nilainya jauh lebih rendah dibandingkan dengan men
ggunakan pelarut yang reaktif. Proses dibatasi oleh selektivitas dan laju absorp
si yang rendah. Absorpsi CO2 dan H2S secara kimia dengan pelarut (absorpsi reakt
if) adalah metode pemisahan yang dikembangkan dengan baik dan telah diaplikasika
n pada berbagai proses komersial, termasuk pemurnian gas dan produksi ammonia (C
ullinane, 2005). Proses tersebut
menggabungkan sirkulasi pelarut yang mengandung absorben reaktif seperti kalium
karbonat (K2CO3) atau senyawa-senyawa alkanolamine seperti
monoethanolamine (MEA), diethanolamine (DEA), diisopropanolamine (DIPA), diglyco
lamine (DGA), triethanolamine (TEA), methyldiethanolamine (MDEA) dan amine 2-ami
no-2-methyl-1-propanol (AMP). Absorben reaktif tersebut
2

menyerap gas CO2 dan dan H2S secara kimia dalam absorber dan di regenerasi dalam
stripper dengan menggunakan panas. Faktor biaya terbesar untuk menangkap CO2 ad
alah konsumsi energi untuk regenerasi pelarut, dapat mencapai 49% dari total bia
ya penangkapan CO2 (Rochelle dan Dang, 2001). Faktor lain adalah kapasitas pelar
ut yang menentukan jumlah CO2 yang diserap per unit dari pelarut. Kapasitas pela
rut tinggi
memberikan penyerapan CO2 lebih besar namun pada pelepasan CO2 nya membutuhkan e
nergi yang lebih besar pula. Ketika CO2 bereaksi dengan bahan pelarut di absorbe
r, panas dibebaskan. Sejumlah panas setara dengan panas yang dibebaskan tersebut
(belum termasuk panas latent dan panas sensible) dibutuhkan untuk kebalikan rea
ksi dan memindahkan CO2 dari pelarut dalam stripper. Oleh karena itu, suatu kond
isi yang dapat meningkatkan laju penyerapan CO2 ke dalam pelarut pada penurunan
laju alir cairan akan menghemat biaya. Faktor lain dalam penghematan energi adal
ah meningkatkan kemampuan pelarut untuk menangkap CO2.
1.1.2 Pelarut Banyak pelarut yang digunakan pada pengolahan gas, tetapi secara u
mum yang paling efektif adalah pelarut senyawa-2 alkanolamine dan K2CO3 panas (C
ullinane, 2005). a. Senyawa alkanolamine Menurut Kohl dan Riesenfeld (1985), sen
yawa alkanolamine
dikelompokkan dalam 4 kelompok yaitu primary amine (contoh MEA dan DGA); seconda
ry amine (DEA dan DIPA); tertiary amine (TEA dan MDEA) dan hindered amine (AMP).
Senyawa alkanolamine memiliki keunggulan dalam mengabsorpsi CO2 karena laju abs
orpsinya cepat, biaya murah tetapi panas absorpsinya tinggi (20-25 kcal/mol). Ol
eh karena senyawa alkanolamine bersifat korosif, biasanya ditambahkan inhibitor.
Senyawa alkanolamine dengan inhibitor menyebabkan foaming. Selain itu, kekuatan
ion alkanolamine dalam mengikat CO2 tinggi (tergantung senyawa alkanolamine nya
). Makin kuat senyawa alkanolamine tersebut mengikat CO2, maka akan butuh heat e
nergi yang lebih besar pada saat regenerasi di kolom stripper, akibatnya akan me
naikkan
3

kebutuhan steam yang ada di reboiler. Kelemahan senyawa alkanolamine terutama ke


lompok primary dan secondary adalah terbentuknya senyawa
carbamate yang stabil dan tidak dapatnya memisahkan senyawa-senyawa mercaptan, s
erta hilangnya uap yang besar menyebabkan tekanan uap yang tinggi. Kelemahan yan
g lain dari senyawa alkanolamine adalah terdegradasi pada overheating (> 100oC)
dan terjadi reaksi lebih lanjut dimana menghasilkan produk samping yang tidak bi
sa diregenerasi (Bartoo dan Ruzicka, 1991). Polasek (1994) telah membandingkan s
enyawa MDEA dengan senyawa alkanolamine yang lain, hasilnya konsentrasi larutan
bisa tinggi ( mencapai 50-55%), loading gas asam tinggi, korosifitas lebih renda
h, ketahanan degradasi lebih tinggi, panas reaksi lebih rendah serta kehilangan
tekanan uap rendah. b. Kalium karbonat (K2CO3) Absorpsi CO2 dan H2S dengan larut
an encer K2CO3, telah digunakan secara luas terutama untuk pemisahan CO2 dari ga
s sintesa dan gas alam. Penggunaan larutan tersebut karena memiliki stabilitas t
inggi, biaya rendah dan kebutuhan energi untuk regenerasi pelarut rendah, tetapi
laju reaksi lambat dibandingkan dengan senyawa-senyawa alkanolamine (Benson dkk
., 1956; Astarita dkk.,1983). Penambahan promotor pada larutan kalium karbonat d
apat meningkatkan proses absorpsi CO2. Senyawa kalium karbonat (K2CO3) dengan pr
omotor senyawa alkanolamine menunjukkan cara yang efektif untuk meningkatkan kes
eluruhan performance bahan pelarut, khususnya senyawa
alkanolamine kelompok primary dan secondary (Savage dan Sartori, 1984; Tseng dkk
. 1988; Bosch, dkk., 1989; Augugliaro dan Rizzuti, 1987; Cullinane dan Rochelle,
2004; Rahimpour dan Kashkool, 2004b; Ahmadi dkk. 2008). Disamping senyawa alkan
olamine sebagai promotor pada larutan K2CO3, Gosh dkk. (2009) menambahkan asam b
orat ke dalam larutan kalium karbonat yang hasilnya dapat meningkatkan laju abso
rpsi CO2, tetapi masih berada dibawah kemampuan menggunakan promotor senyawa alk
anolamine.
1.2. Pemisahan CO2 dengan absorpsi/stripping Dalam proses pemisahan CO2, mula-mu
la CO2 diserap kedalam larutan absorben yang dialirkan secara countercurrent dal
am kolom absorpsi. Larutan
4

absorben yang banyak mengandung CO2 tersebut setelah meninggalkan absorber, kemu
dian dialirkan ke dalam kolom stripper (Gb 1.1). Larutan tersebut sebelumnya dip
anaskan dengan larutan hasil keluaran dari kolom stripper yang sudah tidak banya
k mengandung CO2. Larutan yang keluar dari kolom stripper, digunakan untuk menye
rap CO2 dalam kolom absorpsi. CO2 dipisahkan dari larutan absorben di dalam stri
pper.
Cooler Gas terolah
Gas CO2 tertangkap
Absorber
Stripper
Cross-Exhanger
Campuran Gas Rich Solvnbt Lean solvent Reboiler
Gambar 1.1 Flowsheet proses absorpsi/stripper
Contoh penerapan teknologi absorpsi CO2 dalam pelarut reaktif salah satu terdapa
t pada industri pupuk di Indonesia yaitu pada unit removal CO2yang menggunakan l
arutan benfield sebagai penyerap dan DEA sebagai activator. Unit removal CO2 ter
sebut berfungsi untuk mengambil CO2 yang terbentuk dari proses reforming gas ala
m. Unit ini sangat berperan penting, baik dalam proses pembuatan ammonia maupun
urea. CO2 dikenal sebagai racun katalis di Ammonia Converter, namun juga CO2 dig
unakan sebagai bahan baku utama dalam pembuatan urea. Penurunan performance peny
erapan di unit removal CO2 dapat mengakibatkan peningkatan CO2 leak di absorber
sehingga menurunkan purity CO2 outlet stripper. Penurunan purity CO2 akan diikut
i dengan peningkatan konsentrasi H2 dalam gas CO2 ( Priandani dkk., 2009).
5

Kinerja dari sistim absorber/stripper tersebut mensyaratkan bahwa pelarut/absorb


en untuk memisahkan gas CO2 harus murah, memiliki kapasitas siklus neto yang tin
ggi, laju absorpsi/reaksi lebih besar dan juga stabilitas kimia yang tinggi, tek
anan uap yang rendah serta korosifitasnya kecil.
1.3 Penelitian-penelitian terdahulu Kajian teoritis mengenai perpindahan massa d
isertai reaksi kimia pada proses absorpsi adalah penting untuk desain dan analis
a kinerja kolom. Kajian teoritis pada proses absorpsi gas asam kedalam pelarut t
elah banyak dilakukan peneliti. Peneliti-peneliti terdahulu mengembangkan pendek
atan rate-based
dengan beberapa model perpindahan masssa (model film, model penetrasi, model Dan
ckwertz) untuk absorpsi reaktif di dalam Packed Column dengan menggunakan konsep
enhancement factor (Versteeg dkk. 1988; Vas Bhat dkk. 1997; Altway dan Yuyun, 1
999; Lin dan Shyu, 1999; Nordenkampf dkk., 2004; Rahimpour dan Kashkool, 2004a,b
, Yunita dkk., 2008. Pendekatan rate-based untuk proses perpindahan massa dan pa
nas disertai atau tanpa disertai reaksi kimia telah dibahas secara detail oleh T
aylor dan Krisna (1993). Konsep enhancement factor berlaku dengan baik hanya unt
uk beberapa jenis reaksi sederhana (dilakukan penyederhanaan) yang terjadi dalam
fasa liquida dan menggunakan teori difusi Fick yang tidak memperhitungkan inter
aksi antar komponen-komponen yang berdifusi. Pada kenyataannya, proses absorpsi
reaktif melibatkan fenomena difusi multi komponen disertai reaksi ganda yang kom
pleks. Fenomena ini umumnya mengikuti teori difusi multikomponen Maxwell-Stefan.
Beberapa peneliti terdahulu Schneider dkk., 1999; Kenig dkk., 2000; Kenig dkk,
2001; Noeres dkk., 2003; Kloker dkk., 2005 dan Ghaemi dkk.,2009 telah mempelajar
i fenomena perpindahan massa multikomponen disertai sistim reaksi yang kompleks.
Schneider dkk. (1999), melakukan kajian teoritis absorpsi reaktif multikomponen
model rate-based yang diselesaikan dengan metode numerik. Penyelesaian persamaa
n bersifat komplek dan belum diaplikasikan ke dalam sistim riil di industri.
6

Kenig dkk. (2000), membandingkan metode penyelesaian persamaan absorpsi reaktif


multikomponen model rate-based film yang diselesaikan dengan metode numerik dan
analitik serta menggunakan Maxwell-Stefan difusion. Penyelesaian dengan analitik
dapat direkomendasikan sebagai alternatif untuk sistim pemisahan reaktif skala
besar sedangkan penyelesaian numerik disarankan untuk sistim reaksi tunggal. Ken
ig dkk. (2001), memberikan solusi umum secara analitik untuk persamaan difusi mu
ltikomponen disertai reaksi kimia ganda di film kondisi steady state dan unstead
y state menggunakan teori difusi Maxwell-Stefan. Namun aplikasi solusi ini untuk
sistim absorpsi reaktif belum dilaksanakan. Model yang telah diselesaikan oleh
Kenig dkk. (2001), dikembangkan oleh Noeres dkk. (2003) untuk sistim absorpsi da
n distilasi reaktif pada kasus pemisahan NOx, pemurnian gas coke, sintesa methyl
acetat dan sintesa MTBE. Khusus untuk sistim absorpsi reaktif, model ini mengas
umsikan bahwa seluruh tahanan perpindahan massa terkonsentrasi pada film dan per
pindahan massa pada film adalah difusi molekular tunggal. absorpsi reaktif adala
h asam nitrat. Model yang telah diselesaikan oleh Kenig dkk. (2001), dikembangka
n Kloker dkk. (2005), untuk proses distilasi (sintesa ethyl acetat) dan strippin
g (octyl hexanoat). Namun model rate based untuk proses stripping dilakukan peny
ederhanaan menggunakan effective difusivities. Ghaemi dkk. (2009), melakukan pen
gembangan model menggunakan model yang telah diselesaikan oleh Kenig dkk. (2001)
untuk absorpsi CO2 dengan larutan partially carbonated ammonia
. Gas yang terserap di
asumsikan hanya CO2 dan laju reaksi menggunakan laju roverall . Sistim larutan y
ang digunakan untuk
1.4 Perumusan dan pembatasan masalah Mengingat besarnya kerugian yang dapat diti
mbulkan oleh CO2 dan H2S, maka pemisahan gas CO2 dan H2S dari industri minyak da
n gas alam serta industri petrokimia secara absorpsi reaktif telah menjadi bagia
n penting dalam proses industri selama dekade ini. Dalam rangka meningkatkan sis
tim desain
7

absorpsi reaktif, telah dikembangkan oleh peneliti terdahulu model absorpsi mela
lui kajian teoritis dan simulasi. Permasalahan dari model-model yang telah dikem
bangkan yang berhubungan dengan metode pemisahan CO2 dan H2S dari aliran gas dap
at dirumuskan sebagai berikut:

Absorpsi reaktif
melibatkan berbagai komponen campuran gas dan
campuran liquida yang mewakili campuran multikomponen gas dan atau cairan yang p
roperti perpindahannya jauh lebih komplek dibandingkan dengan perpindahan massa
binari sederhana, sementara sebagian besar model adalah uni komponen yang mengas
umsikan hanya satu komponen yang berpindah melalui interface atau difusi molekul
ar tunggal. Pengembangan model menggunakan rate-based untuk difusi
multikomponen di film pada proses absorpsi belum banyak dilakukan oleh peneliti
terdahulu. Beberapa diantaranya adalah Noeres dkk. (2003); Kloker dkk. (2005) da
n Ghaemi dkk. (2009). Dalam penerapan sistim absorpsi reaktif , peneliti-penelit
i tersebut mengasumsikan bahwa seluruh tahanan perpindahan massa terkonsentrasi
pada film dan perpindahan massa pada film adalah difusi molekular tunggal, serta
dilakukan penyederhanaan menggunakan effective difusivities dan laju reaksi men
ggunakan laju roverall . Karena itu , rincian model diperlukan untuk memberikan
gambaran diskripsi dari interaksi antara perpindahan massa difusi dan reaksi kim
ia.

Proses absorpsi pemisahan CO2 dalam prakteknya terjadi pada tekanan tinggi. Pada
kondisi tersebut beberapa komponen disamping CO2 dapat terserap dan terjadi int
eraksi antar komponen dalam film gas maupun film liquida yang mempengaruhi prose
s perpindahan massa maupun reaksi kimia.

Kinerja dari sistim absorber mensyaratkan bahwa pelarut/absorben untuk memisahka
n gas CO2 harus murah, memiliki kapasitas siklus neto yang tinggi, laju absorpsi
/reaksi lebih besar dan juga stabilitas kimia yang tinggi, tekanan uap yang rend
ah serta korosifitasnya kecil.
8

Berdasarkan uraian di atas, dalam rangka meningkatkan performance kolom absorber


dilakukan pengembangan model rate-based dua film desain absorpsi multikomponen
menggunakan pendekatan untuk
rigorous dengan
memperhatikan interaksi antara perpindahan massa secara difusi untuk masingmasin
g komponen dan masing-masing reaksi kimia yang mewakili campuran multikomponen.
Oleh karena itu penelitian ini menggunakan teori difusi multikomponen Maxwell-St
efan untuk mengkaji secara teoritis kinerja Packed Column dalam mengabsorpsi gas
CO2 kedalam larutan. Disamping itu, sebagai perbandingan dikaji pula model rate
-based dua film untuk desain absorpsi multikomponen menggunakan enhancement fact
or dengan teori Fick-difusion. Sistim pelarut yang digunakan adalah senyawa K2CO
3 dengan promotor MDEA. Senyawa MDEA menunjukkan cara yang efektif untuk meningk
atkan keseluruhan performance bahan pelarut K2CO3, seperti karena memiliki keleb
ihan
loading campuran gas asam dan ketahanan degradasi lebih tinggi

dibandingkan dengan senyawa alkanolamine kelompok primary dan secondary. Senyawa


MDEA memiliki panas reaksi , kehilangan tekanan uap, korosifitas lebih rendah d
ibandingan senyawa alkanolamine yang lain, sehingga diharapkan memberikan peluan
g untuk meningkatkan performance bahan pelarut K2CO3 . Promotor lain yang akan d
iteliti kinerjanya adalah asam borat, karena sifat asam borat yang ramah lingkun
gan dan juga memiliki kemampuan menyerap CO2. Pengembangan model matematis dilak
ukan dengan membuat neraca massa pada Packed Column dengan menggunakan model fil
m untuk difusi multikomponen dengan persamaan Maxwell-Stefan. Neraca massa mikro
skopis dibuat untuk masing-masing komponen dalam fasa liquida dan fasa gas. Fluk
s absorpsi masing-masing komponen ditentukan dengan menggunakan model film stead
engan teori difusi multikomponen Maxwell-Stefan, yang sudah diselesaikan secara
analitik oleh Kenig dkk. (2001). Sistim absorpsi reaktif menghasilkan panas reak
si yang menyebabkan terjadinya perubahan suhu pada kolom, maka pengembangan mode
l matematis ini dibuat pula neraca energi fasa liquida pada Packed Column.
9

Pada pembentukan model matematis absorpsi CO2 ke dalam larutan K2CO3 dengan prom
otor pada Packed Column, dibutuhkan sistim reaksi kimia, kinetika reaksi, dan ke
larutan komponen gas-gas di dalam larutan elektrolit. Informasi yang berhubungan
dengan kinetika reaksi MDEA dan asam borat untuk sistim absorpsi CO2 dengan lar
utan K2CO3 belum tersedia. Oleh karena itu, dalam penelitian ini akan dilakukan
eksperimen untuk menentukan data kesetimbangan fasa gas-cair dalam sistim laruta
n elektrolit: CO2-K2CO3-MDEA-H2O. Eksperimen dilakukan menggunakan kolom absorps
i tipe Wetted Wall Coloumn (WWC). perhitungan estimasi koefisien Berdasarkan dat
a percobaan, melakukan aktifitas dengan model e-NRTL dan
membandingkan profil tekanan parsial kesetimbangan CO2 dan H2O dari hasil eksper
imen dengan hasil estimasi. Selain itu, diperlukan pula data kinetika reaksi abs
orpsi CO2 dalam larutan K2CO3 dengan promotor. Senyawa yang digunakan sebagai pr
omotor K2CO3 adalah senyawa MDEA dan asam borat, penentuan data kinetika secara
eksperimen menggunakan kolom absorpsi tipe WWC. Dalam penelitian eksperimen ini,
penggunaan promotor asam borat dalam sistem larutan K2CO3 dibatasi hanya untuk
menentukan kinetika reaksi, sedangkan pada pemodelan dan simulasi, penggunaan pr
omotor asam borat dibatasi hingga penentuan distribusi konsentrasi komponen-komp
onen pada film liquida. Penyelesaian model matematis tersebut perlu diprediksi l
aju absorpsi CO2 dan H2S. Dalam hal ini dibutuhkan data koefisien perpindahan ma
ssa dan koefisien difusi. Koefisien perpindahan massa sisi gas dan liquida diper
oleh dari korelasi empiris di literatur. Output dari model Packed Column ini ada
lah % removal CO2 dan H2S, distribusi konsentrasi masing-masing gas dalam fasa l
iquida dan distribusi temperatur campuran gas dan campuran liquida pada Packed C
olumn.
1.5. Tujuan penelitian Berdasarkan rumusan masalah yang disampaikan diatas, maka
penelitian disertasi ini dibagi dalam dua kelompok yaitu penelitian yang bersif
at eksperimen dan penelitian yang bersifat kajian teoritis.
10

1.5.1. Tujuan penelitian eksperimen Tujuan penelitian eksperimen adalah: 1) Mene


ntukan data kesetimbangan larutan fasa gas-cair sistim elektrolit untuk CO2- K2C
O3-MDEA-H2O 2) Menentukan data kinetika reaksi absorpsi CO2 dengan pelarut K2CO3
dan promotor MDEA dan asam borat. 3) Menentukan % removal CO2 dan H2S menggunak
an sistim larutan K2CO3 dan promotor MDEA.
1.5.2. Tujuan penelitian pemodelan dan simulasi Tujuan penelitian pemodelan adal
ah: 1) Mengembangkan model menggunakan rate-based model film dengan teori difusi
multikomponen Maxwell-Stefan melalui pendekatan rigorous untuk mengkaji secara
teoritis kinerja Packed Column dalam mengabsorpsi gas CO2 dan H2S ke dalam larut
an K2CO3 dengan promotor MDEA dan promotor asam borat. Sebagai perbandingan dila
kukan pula pengembangan model menggunakan pendekatan
enhancement factor. 2) Menghitung distribusi konsentrasi masing-masing komponen
dalam fasa liquida dan distribusi temperatur campuran gas dan campuran liquida p
ada Packed Column 3) Menghitung removal CO2 dan H2S dengan cara simulasi dari mo
del yang telah dikembangkan untuk absorpsi CO2 dan H2S pada sistim larutan CO2-K
2CO3-MDEA-H2O.
1.6. Orisinalitas penelitian Hasil penelitian ini merupakan pengembangan ilmu pe
ngetahuan dan teknologi dengan faktor kebaruan sebagai berikut: 1 Sistim pelarut
K2CO3 dengan promotor MDEA untuk absorpsi CO2 dan H2S belum ada yang meneliti,
baik dalam bentuk eksperimen maupun kajian teoritis.
11

2
Data kinetika merupakan salah satu parameter model yang dikembangkan, namun info
rmasi yang berhubungan dengan kinetika reaksi MDEA dan asam borat pada absorpsi
CO2 dengan larutan K2CO3 tidak tersedia.
3
Model yang dikembangkan peneliti terdahulu dengan teori difusi multikomponen Max
well-Stefan menggunakan effective difusivities dan laju reaksi reaksi overall. P
engembangan rigorous model menggunakan pendekatan rate-based model film dengan t
eori difusi multikomponen Maxwell-Stefan untuk mengkaji secara teoritis kinerja
Packed Column dalam menyerap gas CO2 dan H2S ke dalam larutan K2CO3 dengan promo
tor MDEA belum ada. Pada penelitian ini, dilakukan pengembangan model menggunaka
n pendekatan rigorous yang memperhatikan interaksi antara perpindahan massa seca
ra difusi dan reaksi kimia yang mewakili campuran multikomponen.
12