P. 1
Retret Remaja: Bersahabat Tanpa Akhir

Retret Remaja: Bersahabat Tanpa Akhir

|Views: 413|Likes:
Dipublikasikan oleh Lie Chung Yen
Notes of a retreat on friendship in Indonesian language,"Friends Forever", originally preached by Martin Suhartono, S.J. to a group of Catholics active in Exultate Ministry from Semarang, Trappist Monastery of Rawaseneng, Temanggung, Indonesia, 16-17 December 1995.
Notes of a retreat on friendship in Indonesian language,"Friends Forever", originally preached by Martin Suhartono, S.J. to a group of Catholics active in Exultate Ministry from Semarang, Trappist Monastery of Rawaseneng, Temanggung, Indonesia, 16-17 December 1995.

More info:

Published by: Lie Chung Yen on Feb 19, 2010
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/13/2012

pdf

text

original

BERSAHABAT TANPA AKHIR

Martin Suhartono, SJ.

Rawaseneng - Temanggung, 16-17 Desember 1995 ______________________________________________________________
KELOMPOK PELAYANAN KOOR “EXULTATE” SEMARANG (ANGGOTA TIM PELAYANAN KAPEL LOYOLA) Jl. Karanganyar 37 Semarang

bersahabat/rwsn-des95/1 DAFTAR ISI

MISA PEMBUKAAN Session I BERSAHABAT TANPA AKHIR “Bersahabat” “Tanpa Akhir” Tawaran dalam kebebasan Dasar sikap bersahabat Tiga kawasan sikap bersahabat Meditasi terpimpin

hal. 1

hal. 3

hal. 4 hal. 5 hal. 6

Session II BERSAHABAT MENURUT KITAB KEJADIAN I. Pengalaman kesendirian Allah (Kej 1) -Hari pertama -Hari kedua -Hari ketiga -Hari keempat -Hari kelima -Hari keenam -Hari ketujuh II. Hubungan antar manusia (Kej 2-4) III. Model-model pengalaman Allah sebagai sahabat Meditasi terpimpin Session III ALLAH DAN SAHABAT-SAHABATNYA I. Allah yang mencinta dan memanggil Daud II. Allah yang mengutus dan mendampingi Musa Meditasi terpimpin Session IV TANYA-JAWAB, KESAN-PESAN Meditasi terpimpin MISA PENUTUPAN

hal. 7 hal. 8 hal. 9

hal. 10

hal. 11 hal. 12

hal. 13 hal. 14

hal. 15

bersahabat/rwsn-des95/2

MISA PEMBUKAAN Tema: “Yesus Sahabatku” Bacaan: I Sam 18:1-4 & Yoh 15:9-17 Homili: Sahabat-sahabat terkasih dalam Tuhan, Mendengar istilah yang saya gunakan ini, “sahabat”, tentunya anda sekalian mengalami rasa perasa tertentu. Suatu kehangatan, suatu kemesraan, suatu kebahagiaan, merasa dihargai, dan rasa aman tertentu. Memang, bila kita kenangkan pengalaman-pengalaman hidup kita masingmasing, akan kita temui saat-saat di mana kita sungguh -sungguh merasa tersentuh. Saat-saat seperti itu ada banyak. Salah satu saat yang paling mengesankan kita adalah saat ketika ada orang yang menyebut diri kita sebagai sahabat. Mungkin orang tersebut berkata: “Aku punya banyak kenalan, punya banyak teman, namun engkau adalah sahabatku!”. Harga diri kita langsung terangkat, dan kita bisa membusungkan dada: merasa mendapat suatu privilese, hak khusus tertentu. Sebaliknya, bila ada salah seorang kenalan kita yang berulang tahun, dan kita tahu bahwa ia tak mengadakan pesta besar, melainkan hanya makan-makan di sebuah restoran dengan mengundang teman-teman dekat saja, kita akan merasa kecewa sekali ketika kita tahu bahwa kita tidak diundang. Kadang pengalaman ini bisa menyebabkan kita merasa kesepian, tidak berharga, tidak diperhitungkan. Memang, adanya orang yang menganggap diri kita “sahabat” membuat kita merasa dihargai; bahkan bila kita sendiri tidak menganggap orang tersebut sebagai “sahabat” kita, dalam batin mungkin saja kita berkata: “Boro-boro sahabat, wong kenal aja nggak!” Tak tertutup kemungkinan bahwa kemudian kita juga tertarik untuk menganggap orang tersebut benar-benar sebagai sahabat kita. Hari ini kita mendengar bahwa Yesus menyebut para muridNya sebagai sahabat. Jangan dikira ini hal yang lumrah dan biasa. Dalam tradisi timur, termasuk Yahudi, kedudukan dan peran seorang “guru” amatlah dihargai. Ia menjadi pengganti orang tua, dan bahkan pengganti Tuhan sendiri. Seorang mistikus, Kabir, pernah berkata: “Bila Allah sendiri dan guruku muncul berbarengan di hadapanku, aku akan menyembah kepada guruku, karena tanpa dia, aku tak dapat mengenal Allah!” Seorang murid akan dengan membuta melakukan apa yang diperintahkan oleh sang guru. Boleh dibilang ia menjadi seperti hamba bagi guru itu. Bahkan kerap terjadi seorang murid maju secara rohani meskipun orang yang diangkatnya sebagai guru ternyata hanyalah guru palsu. Seorang pencari kebenaran datang kepada seorang guru yang terkenal hebat, padahal dia hanyalah seorang penipu. Sang guru palsu memberikan syarat bahwa ia harus menunjukkan ketaatan kepadanya: ia harus menyeberangi sebuah sungai yang penuh dengan buaya ganas. Sang calon murid taat: ia menyeberang sambil berulang-ulang berseru “Seluruh pujian bagi kuasa sang guru!” Ia selamat sampai ke seberang. Sang guru palsu terkejut, merasa bahwa kok dirinya ternyata benar-benar hebat, lebih daripada yang disangkanya. Ia lalu ingin pamer kekuatan, dan sambil menyeberangi sungai ia berseru “Seluruh pujian bagi kuasaku!” Belum jauh ia menyeberang, buaya-buaya ganas telah melahapnya sampai habis! Jadi bisa dibayangkan bagaimana perasaan hati murid-murid Yesus ketika Ia memanggil mereka “sahabat”. Marilah kita masuki hati para murid Yesus. Yesus, orang yang hebat itu, penuh dengan kuasa Allah, telah menyebut mereka sahabat. Yesus selalu berkata bahwa ia hanya melakukan apa yang dilakukan oleh Bapa, dan mengajarkan hanya apa yang dikatakan oleh Bapa. Kini ia berkata bahwa segala sesuatu yang telah diterimanya dari BapaNya telah diberikan juga kepada para muridNya. Bukan hanya itu, Ia memberikan janji

bersahabat/rwsn-des95/3 juga bahwa Ia akan memberikan nyawaNya sendiri bagi keselamatan mereka. Tak ada cinta yang lebih besar daripada cinta seperti itu. Kita tentunya berpikir: Alangkah bahagianya mempunyai sahabat seperti itu. Kita bisa bertanya: Berapakah orang yang kukenal yang rela memberikan nyawanya bagiku? Itupun mungkin kita hanya GR (gede rumangsa) saja. Ada seseorang menghadap seorang Yogi dan berkata: “Guru, saya ingin meninggalkan segala sesuatu untuk mencapai kesempurnaan hidup namun saya digondeli oleh keluarga dan sanak saudara saya. Mereka berkata bahwa mereka amat mencintai saya!” Sang guru berkata bahwa itu bukan cinta sejati dan berniat membuktikannya. Ia mengajarkan teknik yoga rahasia yang akan membuat si calon murid mati suri. Si calon murid pulang dan mempraktekkan ajaran rahasia itu. Seluruh keluarga dan sanak saudaranya menangis melolong-lolong ketika mengira bahwa ia telah mati. Si mayat palsu merasa senang dalam hati. Muncullah sang guru dan menawarkan untuk menghidupkan yang mati namun dengan syarat bahwa harus ada yang menggantikannya. Si mayat merasa kecewa sekali ketika tak seorang pun dari mereka yang katanya sungguh-sungguh mencintai dia rela menggantikan dia; bahkan istrinya berkata: “Tak usah; tak ada gunanya ia hidup lagi; kita toh tetap bisa hidup dengan baik tanpa dia!” Sekarang marilah kita masuki hati Yesus; hati Dia yang menyebut yang lain sebagai sahabat, Dia yang menjadikan diriNya sendiri sahabat bagi yang lain. Pada saat Ia mengatakan hal itu Ia masih belum mengalami -seperti kita sendiri kini telah tahu- bahwa para muridNya akan meninggalkan Dia. Namun dengan daya-daya khususnya Ia telah merasa bahwa Yudas akan menghianati Dia (Yoh 13:21), para murid akan tercerai berai meninggalkan Dia sendiri (Yoh 16:32), dan Petrus akan menyangkal Dia (Yoh 13:37-38). Marilah kita tengok hidup kita sendiri. Berapa kalikah kita mengalami diri kita dikhianati oleh orang yang kita anggap sahabat; sering kita dengar orang berkata: “Wah, ia sahabatku, bahkan sudah kuanggap saudaraku sendiri. Namun kenyataannya? Aku merasa seperti ditusuk dari belakang!” Itulah dua pengalaman: sebagai orang yang dianggap sebagai sahabat dengan segala penghargaan dan kebahagiaannya serta sebagai orang yang menganggap diri sendiri sahabat bagi orang lain namun tanpa balasan. Kisah Daud dan Yonatan merupakan kisah dua orang yang saling menganggap diri sahabat yang lain. Istilah kunci yang kita dengar adalah “berpadu hati”. Yonatan rela memberikan pakaian perangnya kepada Daud. Ini adalah tindakan simbolis bahwa ia merasa aman, tak perlu lagi memakai alat-alat pertahanan diri terhadap Daud. Satu aspek lagi dari persahabatan, selain rasa dihargai, adalah rasa aman. Orang merasa rileks, at home, tentram, semeleh dalam kehadiran sahabatnya. Yonathan yang putra mahkota tidak merasa ketakutan terhadap Daud bahwa haknya sebagai calon pengganti raja akan direbut; padahal Saul, sang raja, ayah Yonathan, merasa terancam oleh keberhasilan Daud dalam perang, lebih-lebih karena tahu bahwa rakyatnya mulai memihak Daud dan menganggap Daud lebih berjasa daripada Saul sendiri (1 Sam 18:7). Dalam perselisihan antara Daud, sahabatNya, dan Saul, ayahnya, Yonathan berada di kubu Daud (I Sam 20). Daud sendiri menerima, menghargai dan setia kepada sahabatnya; dua kali Daud membiarkan Saul hidup (I Sam 24; 26); meskipun dikatakan bahwa alasan Daud adalah karena Saul orang yang diurapi Tuhan, kita dapat menduga bahwa persahabatan Daud dengan anak Saul tentu mempengaruhi sikapnya itu. Kemudian, Daud akan meratap karena kematian Saul dan Yonathan (2 Sam 1) serta menghukum orang yang membunuh mereka. Itulah kiranya dua aspek persahabatan yang kita alami sendiri: rasa dihargai dan rasa aman. Kita merasa bahwa diri kita berharga, kita bukan orang biasa saja. Kita merasa aman dalam hidup. Apa pun yang kita alami dalam kehidupan kita, kedua perasaan yang ditimbulkan oleh kehadiran seorang sahabat ini, akan membuat kita dengan lebih tenang dan tentram serta penuh kepercayaan diri mengarungi bahtera kehidupan dengan segala tantangannya. Kita bisa

bersahabat/rwsn-des95/4 menengok kembali pengalaman kita: adakah orang yang memberikan dua pengalaman dasar yang kita butuhkan ini? Apakah aku menjadi orang seperti itu juga bagi orang lain? Session I BERSAHABAT TANPA AKHIR Tema rekoleksi kita ini ditentukan oleh panitia, dan bukan oleh saya sendiri. Tentu mereka memiliki alasan-alasan tertentu mengapa memilih tema persahabatan. Jumlah peserta yang sedemikian banyak ini sedikit banyak memberikan gambaran bahwa tema yang dipilih memang mengena, dibutuhkan oleh orang banyak. Maka marilah kita simak baik-baik tema kita ini. “Bersahabat”: Yang dikatakan adalah “Bersahabat tanpa akhir”. Perhatikan baik-baik. Beberapa hari ini saya memang menerima kabar dari banyak orang yang tahu akan rekoleksi kita ini; kata seorang romo, ia melihat posternya di rumah sakit Elizabeth. Setiap kali yang mereka katakan adalah: “Romo akan bicara tentang persahabatan ya?!”. Apakah bedanya rumusan umum tadi dengan rumusan resmi rekoleksi kita? “Persahabatan” adalah sebuah kata benda. Ini menunjuk pada suatu keadaan, suatu situasi, suatu wilayah hidup; dan diandaikan situasi tadi sudah tercapai, dengan kata lain: suatu hasil. Padahal rumusan resmi kita “Bersahabat”. Ini adalah kata kerja; lebih menunjuk pada suatu sikap batin dan sekaligus juga suatu tindakan nyata yang diandaikan keluar dari dalam diri kita sendiri dan ditujukan kepada pihak yang lain. Jadi rumusan ini lebih menuntut sesuatu dari pihak kita. Ada bahaya bila kita lebih berpegang pada kata benda “persahabatan”, kerapkali ini dianggap seakan-akan berada di luar diri kita; dan kesan yang ditimbulkan memang lebih statis: kita memiliki, mengalami persahabatan. Padahal kalau berpegang pada kata kerja kita akan lebih aktif dan dinamis: kita sendirilah yang dituntut untuk keluar dari kepuasan diri kita dan kesendirian kita untuk menyapa yang lain dalam semangat bersahabat. Kerap kali orang mengeluh bahwa kita tidak memiliki seorang sahabat pun. Namun ketika orang tersebut ditanya, “Apakah kamu menjadikan dirimu sahabat bagi yang lain?” Pertanyaan ini membingungkan dia, karena memang tak pernah ia pikirkan bahwa ia harus mulai dulu dari dirinya sendiri. Kita semua kenal kisah orang Samaria yang berbaik hati. Namun ada satu detail kecil yang kerap tak dilihat oleh banyak orang, padahal amat penting. Ketika Yesus mengatakan kepada seorang ahli Taurat bahwa perintah utama adalah mengasihi sesama manusia sebagaimana diri sendiri, si ahli Taurat bertanya: “Siapakah sesamaku manusia?”; dengan kata lain: sesama dimengerti sebagai orang kepada siapa aku harus mencinta. Sesama di situ adalah “obyek” (pelengkap penderita). Sehabis bercerita Yesus bertanya: “Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun?” (Lk 10:36). Sesama oleh Yesus diartikan sebagai “subyek” (pelaku aktif). Jadi titik pusat Yesus adalah “menjadikan diriku sesama bagi yang lain”, dalam konteks persahabatan: “menjadikan diriku sahabat bagi yang lain”. “Tanpa akhir”: Kata sifat “tanpa akhir” dalam rumusan itu dapat diartikan bermacam-macam. Memang kesan pertama yang timbul adalah soal waktu. “Tanpa akhir” diartikan sebagai tanpa batas waktu, terus menerus, selama-lamanya. Yang diinginkan adalah suatu sikap yang bukan sementara, kadang-kadang saja, musiman, kalo lagi seneng aja, melainkan suatu sikap yang konsisten,

bersahabat/rwsn-des95/5 terus menerus, bahkan selama-lamanya, Amin. Mazmur-mazmur bicara tentang kesetiaan kekal Allah; menurut Paulus Ia tetap setia meski kita tak setia (II Tim 2:13). Namun istilah itu dapat juga ditinjau dari sudut ruang: di sini yang dilihat adalah suatu sikap yang tidak lagi terbatas pada ruang tertentu, tak kenal lagi istilah “jauh”. Orang Inggris punya pepatah: “Out of sight, out of mind”. Hanya manusia saja yang bisa memahami makna pepatah ini. Komputer akan sulit mengerti. Pernah ada seorang ahli yang merancang komputer penterjemah yang canggih dalam bahasa mana pun juga. Komputer tadi lalu dicoba dalam bahasa Inggris dan Cina. Ketika pepatah tadi dimasukkan, komputer mengeluarkan serentetan huruf-huruf Cina. Yang menguji bertanya, “Lah, bagaimana saya mengerti bahwa terjemahan ini benar?” Sang ahli bilang “Gampang, masukkan lagi ke komputer supaya diterjemahkan lagi dari Cina ke Inggris!” Alhasil, ketika dimasukkan, kalimat yang keluar dari mulut komputer adalah “Invisible Idiot”. Jadi “out of sight” diterjemahkan sebagai “invisible”, sedangkan “out of mind” sebagai “idiot”. Orang Indonesia punya pengalaman yang sebaliknya: “Jauh di mata, dekat di hati”. Paulus bicara tentang hal yang sama ketika mengatakan bahwa oleh darah Kristus, semua yang dahulu “jauh” sudah menjadi “dekat” (Ef 2:13). Oleh damai sejahtera, yang adalah Kristus sendiri, tembok pemisah, atau permusuhan, telah dirobohkan, sehingga tak ada lagi jarak di antara kita. Selain dari sudut waktu dan ruang, kata sifat “tanpa akhir” dapat juga diterapkan secara simbolis kepada kenyataan-kenyataan batin kita. Kata “tanpa akhir” bisa diterjemahkan menjadi “tanpa pandang bulu”. Sikap bersahabat yang dituntut dari kita adalah sikap yang tidak didasarkan pada perbedaan SARA: entah kaya entah miskin, entah Kristen entah Islam, entah Jawa entahBatak, entah golkar entah PPP atau PDI. Boleh dikatakan bahwa “tanpa akhir” diartikan sebagai “universal”, dan inilah arti kata “Katolik”. Paulus bicara tentang hal yang sama kepada umat di Galatia: “Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus” (Gal 3:28). Itulah pemahaman yang diharapkan dari tema rekoleksi kita. Yang ingin diharapkan dari kita adalah suatu sikap batin dan tindakan nyata bersahabat terhadap, meminjam iklan Coca Cola yang udah beken, “siapa saja, kapan saja, dan di mana saja”! Mungkin ada yang ingin protes, lah kok saya begitu dituntut untuk bersikap bersahabat terhadap orang lain. Seharusnya, orang lainlah yang harus dituntut untuk bersahabat terhadap kita! Ada satu alasan praktis mengapa tuntutan orang ini sulit terpenuhi: kita tidak menguasai orang lain, orang lain itu bebas, yang kita kuasai adalah diri kita sendiri. Maka sulit sekali mulai dari orang lain, kita harus mulai dari diri kita sendiri. Namun mungkin masih ada sanggahan lagi: lah kalau tak ada balasan? Tawaran dalam kebebasan: Satu hal harus dipegang teguh dalam hal ini. Fakta bahwa orang lain itu bebas; tak dapat dan tak boleh kita dikte, kita paksa, lebih-lebih dalam bersahabat. Ada anak datang pada saya dan mengeluh: “Saya bersikap bersahabat terhadap si A, saya buka seluruh diri saya (tentu saja bukan secara badani, tapi secara batin!). Ternyata ia menyembunyikan sesuatu terhadap saya. Saya marah dan pergi kepadanya serta protes: ‘Aku terbuka kepadamu, kok kamu nggak terbuka sama aku?!’”. Mendengar ini saya merasa sekaligus kasihan dan geli. Kasihan, karena memang itulah nasib yang dialami orang kalau sikap bersahabatnya hanyalah bertepuk sebelah tangan. Geli, karena saya sadar bahwa kita tak pernah bisa menuntut apalagi memaksa orang lain bersikap baik kepada kita hanya karena kita bersikap baik kepadanya. Kita harus bisa bersikap lapang dada, menerima kenyataan bahwa sikap bersahabat kita hanyalah merupakan tawaran, ajakan, dan undangan yang kita kirimkan kepada orang lain, dan terserah kepada yang

bersahabat/rwsn-des95/6 bersangkutan mau menanggapi dengan baik atau tidak. Kalau saya mengeluh pada seorang teman, bahwa ada orang yang menolak tawaran persahabatan saya; teman tadi akan berkata: “Biarin aja, rugi dia nggak mau kenal kamu!” Bila kita mengenal dan menerima diri kita sendiri maka kita tidak akan menjadi rendah diri, down, dsb., bila ada yang menolak kita. Kita bisa berkata (sedikit sombong memang kelihatannya, tapi tak apa, seperti orang muda yang berkata “Biar sombong, asal keren!”): “Yah, rugi lu kagak mau kenal gue!” (Tentunya, cukup dikatakan di dalam hati saja!). Dasar sikap bersahabat: keberhargaan diri dan optimisme akan hasil positif: Jadi sikap kita mau bersahabat itu selain didasarkan pada kerelaan hati bahwa yang lain itu bebas menerima atau menolak kita, didasarkan juga pada keyakinan teguh bahwa kita itu cukup berharga untuk dijadikan sahabat. Ada sesuatu yang dapat kita berikan kepada yang lain. Namun jangan bersikap seperti orang yang memberikan makanan kepada yang lain karena ia sendiri tidak suka. Bila demikian, diri kita hanya akan menjadi beban. Ketika saya masih menyusun disertasi di Cambridge, saya begitu mementingkan waktu studi saya hingga tak mau ikut makan bersama di kolese; atau pun kalau ikut makan, sehabis makan, langsung saya buruburu masuk ke kamar saya. Lalu ada seorang mahasiswa Amerika yang protes. Ketika saya jawab bahwa saya tidak memerlukan yang lain, dan lebih penting belajar, ia bilang: “Tapi kamu merampas sesuatu dari mereka!” Saya heran “Lho kok gitu?!” Ia menjawab: “Setiap orang punya kekayaan masing-masing, kalau kamu tak memberi kesempatan mereka mengenal kamu, itu berarti kamu merampas dari mereka kekayaan yang seharusnya dapat mereka miliki darimu!” “Bener juga nih!” saya pikir. Kita masing-masing ini berharga, lho! Hendaknya kita renungkan kata Allah kepada Israel: “Engkau berharga di mata-Ku, dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau” (Yes 43:4). Bila Yesus sendiri, sebagaimana kita dengar dalam Injil Misa pembukaan tadi, sudi menyebut diri kita sahabat-sahabatNya, apalagi “seharusnya” orang lain! Dengan penuh keyakinan saya berani berkata bahwa “Seluruh umat manusia akan dirugikan kalau anda tak mau menjadikan diri anda sahabat bagi yang lain!” Almarhum Pater Anthony de Mello, seorang Yesuit India yang terkenal dengan kumpulan-kumpulan cerita dari berbagai khasanah, mengatakan dalam buku latihan doanya bahwa “Sebelum anda mulai suatu latihan, anda harus menerapkan sikap batin ini: anda melaksanakan latihan ini bukan demi diri anda sendiri melainkan demi kesejahteraan seluruh alam ciptaan, anda sendiri merupakan bagian dari ini, dan setiap perubahan yang anda alami akan bermanfaat bagi dunia!” (Wellsprings, xiv-xv). De Mello hanya menerjemahkan kata-kata St. Ignatius; setiap latihan dalam Latihan Rohaninya dimulai dengan doa untuk “Mohon rahmat kepada Tuhan kita supaya semua maksud, perbuatan dan pekerjaanku diarahkan melulu guna pengabdian dan pujian kepada Allah yang Mahaagung” (LR 46). Ini semua mengandaikan bahwa masing-masing orang itu punya arti dan peranan dalam peningkatan kesejahteraan umat manusia dan karenanya dalam pengabdian dan pujian kepada Allah Pencipta, Penyelamat dan Pengudus umat manusia. Tanpa rasa berharga ini, kita akan menjadi seperti pengemis yang mengemis belas kasihan persahabatan; dan bila demikian, kita akan menjadi orang yang menjengkelkan. Selain ada keyakinan teguh akan keberhargaan kita, ada juga keyakinan teguh bahwa perbuatan yang baik akan membawa buah yang baik juga. Sikap dan tindakan kita yang positif akan merangsang orang lain untuk berbuat yang sama kepada kita. Istilah dalam esoterisme adalah “Yang serupa menarik yang serupa” (Inggrisnya: Like attracts like). Ketika mengutus murid-muridNya, Yesus berkata: “Kalau kamu memasuki suatu rumah, katakanlah lebih dahulu: Damai sejahtera bagi rumah ini. Dan jikalau di situ ada orang yang layak menerima damai sejahtera, maka salammu itu akan tinggal atasnya. Tetapi jika tidak, salammu itu

bersahabat/rwsn-des95/7 kembali kepadamu” (Lk 10:5-6; lihat juga Mt 10: 12-13). Damai sejahtera digambarkan sebagai bola pingpong yang bisa dilontarkan dan dikembalikan ke sana ke mari. Saya suka bicara tentang energi. Energi positif dari para murid (yang telah diterima dari Yesus) ditawarkan kepada orang, dan bila orang tersebut juga memiliki energi positif, maka yang positif dari para murid itu akan menyatu dengan yang dimiliki oleh orang tsb. Namun bila suatu rumah lebih dikuasai oleh percekcokan, kebencian, irihati, ketakutan, katakanlah, energi negatif, maka energi positif dari para murid akan “mendal” kembali ke pengirimnya. Sebaliknya, nah kita mulai masuk dalam dunia persantetan, energi negatif yang dikirim orang tidak akan berpengaruh dan akan “mendal” kembali ke pengirimnya bila yang dituju itu penuh dengan energi positif (penuh iman, kebaikan hati, cinta kasih dll). Tiga kawasan sikap bersahabat: diri sendiri, orang lain, Allah: Sejak tadi tentunya anda perhatikan bahwa segala pengalaman kita tentang persahabatan dapat diterangi oleh kisah-kisah dalam Kitab Suci, entah itu Perjanjian Lama maupun Baru. Uraian saya tadi sudah menyinggung tiga kawasan sikap bersahabat: terhadap diri sendiri (keyakinan akan keberhargaan kita dan akan hasil sikap dan tindakan kita yang positif), terhadap diri orang lain (kerelaan hati untuk menerima kebebasan orang lain), dan terhadap Tuhan. Ketiga kawasan ini saling berkaitan satu sama lain serta saling mengandaikan. Mana yang lebih dahulu dialami oleh seseorang akan tergantung pada pengalaman pribadi ybs. Ada yang mulai dari cinta diri, ada yang dari cinta Tuhan, ada yang dari cinta orang lain. Namun pada dasarnya dapat dikatakan dengan Romo Pius Budiwijaya, OCSO: “Persahabatan ilahi merupakan pola dan sumber bagi persahabatan manusia sejati” (Saat-saat Manis Persahabatan, hal. 22) dan “Persahabatan sejati ialah: kontinuitas penjelmaan kasih sayang Allah yang mengarungi sejarah, ruang dan waktu untuk mencari yang hilang, memelihara yang telah ketemu dan terkumpul kembali.” (ibid., hal. 24). Maka dalam rekoleksi kita ini, saya tidak akan bertolak dari banyak buku psikologis tentang hubungan antar manusia, melainkan dari pengalaman umat Allah sendiri yang bergaul dengan Allah sebagaimana terumuskan dalam Kitab Suci. Pada umumnya, orang yang mengalami betapa ia dikasihi oleh seseorang sahabat akan menjadi lebih mudah bersikap bersahabat. Saya pernah kenal seseorang yang mukanya, amitamit, buruk sekali. Namun ia tidak minder, dan di mana saja ia akan berkata: “Saya tahu, menurut anda semua, saya ini jelek. Tapi bagi ibu saya, saya ini ganteng sekali!” Bagi si jelek tadi, pengalaman bahwa ia dicintai ibunya, diterima dengan baik, membuat ia merasa berharga dan merasa aman. Meditasi terpimpin: Sebagai penutup uraian ini saya ingin mengajak anda sekalian untuk masuk dalam keheningan. Bernapas dalam-dalam dan lambat. Katakan pada bagian-bagian tubuh anda untuk rileks. Tanyalah pada diri sendiri: -Apakah aku merasa “at home” dengan diriku ini, atau adakah bagian-bagian dari diriku (entah fisik entah rohani) yang kutolak dan kubenci? -Apakah aku bersikap bersahabat terhadap diriku sendiri? -Apakah aku merasa diri berharga dan merasa aman karenanya? -Adakah orang, peristiwa, situasi dalam hidupku yang membuat aku merasa dihargai dan merasa aman? -Bila ada, cobalah hidupkan kembali pengalaman itu dalam diri anda: bayangkan tempat, waktu, dan situasinya, orang-orangnya. Lihat kembali apa yang terjadi, dengar kembali apa yang dikatakan orang atau anda katakan. Rasakan kembali energi positif (dalam bentuk rasa

bersahabat/rwsn-des95/8 bahagia, rasa senang, rasa kehangatan, rasa aman, rasa berharga, rasa segar) yang pernah diberikan itu. Energi itu tak pernah hilang, dan bahkan terus bertumbuh dalam diri anda. -Bila yang muncul adalah situasi yang sebaliknya, yaitu di mana kita merasa tidak dihargai, merasa terancam dll., tak apa-apa, hidupkan kembali pengalaman ini juga. Rasakan kembali apa yang ada rasakan dulu, dan kemudian kembali ke masa kini, bagaimana perasaan anda saat ini mengingat pengalaman yang lalu itu. Apakah perasaan anda, tafsiran anda terhadap peristiwa itu sama saja, atau adakah perubahan? Coba amati mengapa anda merasa demikian! Bagaimana anda sekarang menilai reaksi anda saat itu? Anda akan terbebas dari dampak destruktif energi negatif itu kalau kini anda dapat menertawakan reaksi anda saat dulu itu. SESSION II BERSAHABAT MENURUT KITAB KEJADIAN Dalam misa pembukaan kemarin kita telah merenungkan dua kebutuhan dasar yang terjawab dalam suatu persahabatan, yaitu: kebutuhan untuk dihargai (sikap Yesus yang menyebut kita sebagai sahabatNya) dan kebutuhan akan rasa aman (dilambangkan oleh tindakan Yonathan menyerahkan perlengkapan perangnya). Dalam Session I telah kita renungkan makna tema rekoleksi kita “Bersahabat tanpa akhir”. Telah kita lihat betapa pentingnya menuntut dari diri kita sendiri (dan bukan dari orang lain) suatu sikap batin dan tindakan bersahabat: menjadikan diri kita sahabat dari yang lain. Tuntutan ini didasarkan pada keyakinan teguh bahwa kita ini berharga untuk dijadikan sahabat dan sekaligus juga akan hasil positif yang ditimbulkan oleh uluran tangan persahabatan kita. Namun kita sadari pula bahwa tuntutan terhadap diri kita ini tidak diiringi dengan tuntutan terhadap orang lain untuk menerima kita: kita rela bahwa orang lain tetap bebas untuk menerima atau menolak kita. Meskipun ditolak, kita tetap menuntut diri kita untuk bersikap bersahabat terhadap yang menolak kita. Nah, dalam mengulurkan tangan kita, janganlah sampai kita melakukan “pemerasan moral” (moral blackmailing): “Kalau kamu menolak, nanti aku akan ... “. Kalau demikian halnya, persahabatan kita hanya akan menjadi beban bagi orang lain, dan tidak membawa kegembiraan. Bila kebebasan orang lain itu disadari dan diterima dengan rela, kita juga akan terhindar dari kekecewaan yang berlebihan bilamana tawaran kita ditolak orang. Marilah kini kita bercermin pada pengalaman umat Israel dalam kitab Kejadian. Kitab Suci dapat berfungsi sebagai jendela: melalui kisah KS kita mencoba mencari informasi tentang masyarakat pada jaman dulu itu (siapa nenek moyang bangsa Israel, berapa banyak suku Israel, darimana asal mereka, dll.). Tapi KS dapat juga berfungsi sebagai cermin: dunia dan pengalaman sebagaimana dilukiskan oleh kisah-kisah KS menjadi jembatan untuk mengerti dunia dan pengalaman kita sendiri. Kisah-kisah KS bukanlah hanya tentang orangorang di jaman dulu, melainkan lebih lagi: tentang diri kita sendiri. Maka metode yang effektif adalah mencoba untuk masuk dalam hati orang-orang itu dan mencoba mengalami apa yang mereka alami; dengan demikian kita akan menjadi Adam, Hawa, Abraham, Ishak, Yakub, Yosef dll. Kita akan mengalami juga apa yang mereka alami dalam pergaulan mereka dengan Allah. I. Pengalaman kesendirian Allah (Kej 1): Kita sudah terbiasa dengan kisah tentang Adam dan Hawa hingga kerapkali tidak timbul lagi keinginan untuk mendalaminya. Padahal inilah salah satu kesaksian paling kuno tentang bagaimana orang Israel purba mengalami kehadiran Allah dalam hidup mereka. Saya

bersahabat/rwsn-des95/9 persilahkan anda membaca kembali kisah tersebut dengan seksama. Marilah kita coba memasuki jagad batin Allah sang Pencipta dan manusia-manusia pertama yang diciptakanNya dan mencoba menjadikan kisah penciptaan itu sebagai cermin bagi pengalaman pergaulan kita. -Hari pertama: dalam kegelapan, Allah menyediakan terang: Pengarang Kej 1 dengan amat lihai mengetengahkan Allah dalam kesendiriannya. Bumi masih kosong tanpa bentuk; kegelapan meraja; dan Roh Allah (bisa diterjemahkan juga “angin besar”) melayang-layang di atas air. Keadaan itu mungkin mengingatkan kita akan pengalaman kita sendiri. Pernahkah kita mengalami kesepian total? Rasa sendiri tanpa teman? Yang melingkupi kita hanyalah kegelapan belaka; kehidupan terasa bagaikan “tanpa bentuk dan kosong”, kacau balau belaka. Bagaimanakah tindakan kita? Allah tak tinggal diam. Dalam keheningan bagaikan di gurun pasir, tiba-tiba bergemalah suaraNya. Perhatikanlah rangkaian kalimat “Berfirmanlah Allah....” (Kej 1:3, 6, 9 dst.) Ia bersabda “Jadilah terang!” Dan terjadilah terang. Allah mengambil inisiatif; ia tak mau tinggal diam dalam kegelapan, kekacauan, dan kesendirianNya. Pernahkah kita mengalami stress berat, depressi yang dalam, sehingga rasa-rasanya tak ada lagi semangat untuk melakukan apa-apa? Tak ada lagi gairah untuk bertemu dengan siapa pun? Bila orang tinggal diam saja, ia akan semakin tenggelam dalam samodera kegelapan dan menjadi satu dengan kegelapan itu sendiri. Justru pada saat inilah penting bagi si orang untuk membangun tekad -juga dalam keputus-asaanNya- untuk keluar dari dalam dirinya untuk menjumpai yang lain. Seorang wanita Jerman yang saya kenal pernah mengalami hal ini. Suaminya meninggal karena kanker; dan tiga bulan kemudian putranya yang berusia 22 tahun diketemukan pada suatu pagi di sebuah lapangan di Munich: tergeletak tanpa nyawa, dengan jarum suntikan di sampingnya, overdosis heroin. Kehidupan si nyonya Jerman hancur total; berbulan-bulan ia tinggal di flatnya saja, tak mau keluar, tak mau menemui siapa pun. Entah bagaimana, tiba-tiba timbul kesadaran bahwa kalau ini diteruskan, ia sendiri akan menemui kematian. Ia mencari jalan keluar yang tepat. Ia mulai membaktikan diri dengan mengunjungi orang sakit, orang tua dan cacat, serta mengerjakan segala macam pekerjaan bagi mereka. Sedikit demi sedikit ia menemukan ketenangan batin dan kebahagiaan; setiap hari ia ke gereja dan tekun berdoa bagi ketenangan jiwa putranya. Boleh dibilang, dengan memancarkan terang ke sekelilingnya, ia menjadi ikut diterangi oleh terang yang muncul dari dalam dan yang makin membesar nyalanya. Inilah nyala cinta; tepatlah kata pepatah “Bermain api, panas; bermain air, basah”. Orang menjadi bagaikan kayu yang dibakar dan akhirnya menjadi bara api itu sendiri. -Hari kedua: dalam ketidakmenentuan, Allah menetapkan cakrawala: Si pengarang kisah membayangkan bahwa di mana-mana ada air tak menentu. Roh Allah melayang-layang tanpa arah di atas air itu. Pernahkah kita mengalami keadaan seperti ini? Air melambangkan kehidupan itu sendiri. Kita melayang-layang tanpa arah dalam kehidupan ini. Semuanya sama saja dan monoton. Selama diri sendiri menjadi pusat hidup, orang hanya akan mengalami kebosanan belaka. Allah keluar dari keadaan itu dengan menetapkan suatu cakrawala pemisah; dengan kata lain, Ia tidak lagi menjadikan diriNya sebagai pusat air, melainkan memindahkan pusat air ke cakrawala: cakrawala menjadi penengah antara air yang di atas dan yang di bawah. Justru dalam ketidakmenentuan hidup, amat berguna bila orang keluar dari egosentrismenya dan menjadikan yang lain sebagai pusat kehidupan. Cakrawala pandangannya akan diperluas, tidak lagi bagaikan katak dalam tempurung. Lebih-lebih bila cakrawala yang dipilih itu tidak lagi pada level bumi, melainkan di atas: langit. Cakrawala pandangan orang beriman tidak lagi didasarkan pada hal-hal duniawi belaka, melainkan sorgawi. Kata Yesus: “Carilah lebih dahulu Kerajaan Allah dan kebenaranya, maka semuanya

bersahabat/rwsn-des95/10 itu akan ditambahkan kepadamu!” (Mt 6:23). Standard kita dalam hubungan dengan orang lain, bukanlah sembarangan saja, melainkan Allah sendiri. Sabda Yesus: “Jadilah sempurna seperti Bapamu di sorga” (Mt 5:48); seperti Dia yang menerbitkan matahari dan menurunkan hujan baik bagi yang jahat maupun yang baik. -Hari ketiga: dalam kekosongan, Allah mengisi: Pada tahap ini kelihatanlah dinamika gerakan dari kekosongan ke keterisian. Tadinya hanya kelihatan air belaka di bumi; kosong melompong. Allah kemudian mengumpulkan air di satu tempat sehingga kelihatanlah tanah kering. Tanah yang kering dan kosong kemudian diisi dengan tetumbuhan. Orang yang pernah berlayar jauh akan merasakan betapa gembiranya melihat daratan; terus menerus berada di atas laut tanpa melihat daratan menimbulkan kekosongan hati. Pernahkah kita merasakan kekosongan dalam kehidupan ini? Banyak kejahatan muncul dalam pengangguran; bukan sekedar karena orang yang nganggur tak punya pendapatan, tapi karena keadaan kosong kegiatan itu membunuh harga diri seseorang. Sudah sering terjadi bahwa orang yang baru saja pensiun justru mengalami stress berat dan stroke. Tiba-tiba ia harus berhadapan dengan hidup yang kosong, apalagi kalau sudah tidak ada siapasiapa lagi. Secara spontan, orang-orang tua menjadi amat penuh perhatian kepada sesuatu yang tadinya tak pernah diperhatikan. Kakek dan nenek bisa menjadi lebih penuh kasih sayang daripada terhadap anak-anaknya sendiri. Pastor-pastor semakin tua semakin merasakan butuh semacam “klangenan”: burung, anjing, dll. yang jauh lebih disayang daripada umat parokinya sendiri! Terapi effektif bagi orang yang sudah bosan hidup adalah menanam tumbuhtumbuhan. Namun orang semakin tua juga menjadi semakin “nyusuh”; segala macam barang dikumpulkan, meskipun menurut kita tak penting lagi. Di sinilah pentingnya orang mawas diri, dengan apakah atau dengan siapakah kita mengisi kekosongan hati kita ini? -Hari keempat: dalam ketidakteraturan waktu, Allah menentukan musim dan tahun: Dengan adanya tetumbuhan, dengan adanya kehidupan yang bertumbuh, mau tak mau waktu menjadi suatu dimensi kehidupan. Banyak problem muncul bila orang mengalami ketakjelasan dalam soal waktu. Orang tua yang sudah terbiasa dengan jam yang pakai jarum akan merasa bingung dan kehilangan orientasi sehari-hari bila harus pakai jam digital. Dengan posisi jarum, jelas bagi dia posisi dia dalam konstelasi waktu; namun bagi dia, angka-angka digital tak punya arti apa-apa. Orang tak bisa hanya mandeg dalam salah satu dimensi waktu saja. Terlalu terpancang pada masa lampau, orang menjadi romantis dan melankolis, penuh nostalgia akan yang lalu-lalu saja. Dalam pergaulan, orang atau hanya hidup dalam rasa salah dan dosa pribadi atau selalu mengingat kesalahan orang lain saja. Terlalu terpancang pada masa kini, orang menjadi hiperaktif, mau serba cepat, jalan pintas, cari kepuasan sesaat saja. Dalam pergaulan, orang cenderung menggunakan orang lain untuk kepentingan sendiri, “oportunist”; “habis manis, sepah dibuang”. Terlalu terpancang pada masa depan, orang menjadi pelamun dan pemimpi. Dalam pergaulan, orang akan terlalu menuntut baik dari diri sendiri atau dari orang lain, serba tak puas, selalu mengeluh. Ketiga dimensi waktu lalu, sekarang, dan yang akan datang haruslah secara seimbang memenuhi perhatian orang: penuh iman (unsur masa lalu), cinta (masa kini), dan harapan (masa yang akan datang). -Hari kelima: dalam kebekuan, Allah menciptakan gerak: Telah ada terang, ada cakrawala (langit), ada laut dan darat serta tetumbuhan, ada matahari bulan dan bintang, namun bila diamati dengan baik, semuanya serba statis. Tetumbuhan tak bisa bergerak, tetap di tempatnya. Gerak laut serba teratur itu-itu juga, begitu pula matahari, bulan dan bintang. Baru dengan adanya binatang di darat, laut, dan udara, terjadilah gerak yang

bersahabat/rwsn-des95/11 dinamis. Perhatikan ungkapan-ungkapan yang mengungkapkan gerak: “berkeriapan”, “beterbangan”, “melintasi”, “bergerak”, “hidup”, “melata”, “liar”. Kebekuan alam semesta merupakan cermin kebekuan hati manusia. Bagaimanakah keadaan hati kita sendiri? Ketika di Roma dulu, ada seorang professor saya yang selalu turun ke bawah untuk menonton televisi lewat larut malam, setelah sepanjang malam bekerja di perpustakaan membaca buku-buku. Ia bilang, “Saya perlu melihat sesuatu yang bergerak dahulu sebelum bisa tidur dengan nyenyak!”. Saya heran, setiap kali berada di dalam pesawat selalu ada saja bayi yang menangis keras; padahal di bis jarang sekali saya melihat hal itu. Bagi si bayi, pesawat itu diam saja; dan dalam kediaman, si bayi merasa tak aman; sedangkan dalam gerak, si bayi justru merasa tentram! Kita perlu mengetahui keadaan batin kita sendiri, menyadari dan menerimanya, serta mengetahui dengan tepat apakah yang dapat mencairkan kebekuan hati kita. -Hari keenam: dalam kesendirianNya, Allah menciptakan partner yang sepadan: Kendati semua itu, Allah tetap tinggal sendirian tanpa teman. Sampailah saatnya Allah merasakan bahwa Ia tidak puas dengan semua yang telah diciptakanNya, meskipun berulang kali dikatakan bahwa “Allah melihat bahwa semuanya itu baik” (Kej 1:4, 10, 12, 18, 21, 25). Ia kemudian menciptakan manusia; pentinglah ungkapan pengarang bahwa manusia diciptakan seturut “gambar dan rupa” Allah sendiri (Kej 1:26-27). Dengan ini mau dikatakan, bila Allah melihat manusia, Ia seperti bercermin melihat diriNya sendiri. Marilah kita tengok hati kita sendiri. Berapa banyak benda dan kegiatan kita cari dan kumpulkan karena mengira bahwa dengan demikian kesepian hati kita akan terobati. Namun kita tak akan pernah puas kecuali bila kita menemukan seorang sahabat yang sepadan, yang setingkat dengan kita. Binatang saja tak akan pernah mengisi kesepian ini secara total. Baru dengan adanya manusia, Allah bisa melihat bahwa segala yang dijadikanNya itu “sungguh amat baik” (Kej 1:31: tekanan pada kata “sungguh amat”), dan bukan sekedar “baik” saja. Kisah penciptaan model I (Kej 1), menurut para ahli, berasal dari jaman yang lebih kemudian daripada kisah model II (Kej 2). Model I menggambarkan Allah yang jauh; sedangkan Model II lebih menggambarkan Allah yang dekat. Ia digambarkan sebagai berjalanjalan di taman tempat manusia pertama tinggal, dan bergaul dengan manusia, serta berdialog dengan mereka (Kej 3:8). Bahkan Model II menggambarkan bahwa manusia diberi “napas” Allah sendiri yang membuat mereka hidup (Kej 2:7). -Hari ketujuh: kepenuhan diri Allah merupakan berkat: Baru setelah ada manusia yang seturut “gambar dan citra”Nya sendiri, baru setelah semuanya dilihat “sungguh amat baik”, Allah beristirahat. Artinya Allah sudah menemukan apa yang didambakanNya; Ia telah keluar dari kesepianNya. Hari istirahat itu merupakan satu-satunya hari yang diberkati Allah. Karena itu bagi orang Yahudi, hari ketujuh (Sabbat) adalah hari khusus di mana mereka secara penuh berkontak dengan Allah. Hari Sabbat bagi mereka menjadi jendela yang menghubungkan dunia dan sorga, manusia dan Allah. Bila kita dipenuhi oleh pengalaman bersahabat dengan orang lain, kita juga akan menjadi berkat bagi seluruh umat manusia. II. Hubungan antar manusia (Kej 2-4): Menarik sekali kisah ketika Allah mencoba memberikan “penolong yang sepadan” kepada manusia karena menurut Allah, “Tak baik kalau manusia itu seorang diri saja” (Kej 2:18). Diciptakanlah segala macam binatang, namun tak ada penolong yang sepadan bagi manusia. Penolong itu ternyata diciptakan Allah dari rusuk manusia, yaitu perempuan; kata “sepadan”

bersahabat/rwsn-des95/12 digambarkan oleh “tulang rusuk”, dan bukan tulang kepala (berarti “di atas”) dan bukan juga tulang kaki (berarti “di bawah”). Kesetaraan yang digambarkan dalam hubungan antara Allah dan manusia diwujudkan juga dalam hubungan antar manusia. Secara puitis digambarkan bahwa pria dan wanita menjadi “satu daging” (Kej 2:24). Selama Allah sendiri yang menjadi penentu dan pemegang kriteria baik dan buruk, manusia bahagia: mereka telanjang, tapi tak merasa malu (Kej 2:25). Namun begitu mereka menyangsikan kejujuran kata-kata Allah (godaan ular dalam Kej 2:4 melawan perintah Allah dalam Kej 1:17) dan menjadikan diri mereka sendiri sebagai penentu dan pemegang kriteria buruk dan baik, keadaan mereka berubah: mereka tahu bahwa mereka telanjang (Kej 3:7). Mereka mulai menganggap yang lain sebagai musuh: Adam menyalahkan Hawa, Hawa menyalahkan si ular. Kesetaraan antara pria dan wanita menjadi “njomplang”: si istri akan berahi terhadap suami, dan suami akan menguasai istri (Kej 3:16). Bahkan hubungan dengan alam semesta pun berubah: tanah menjadi terkutuk, manusia harus berjerih payah untuk mendapatkan makanan (Kej 3:17-19). Sejak itu kisah hubungan antar manusia diwarnai oleh irihati dan pembunuhan (Kain dan Habel) serta balas dendam, bukan lagi sekedar 7 X lipat (Kej 4:15: bagi yang membunuh Kain), melainkan 77 X lipat (Kej 4:24: bagi yang melukai Lamekh). Kejahatan merajalela dalam jaman Nuh (Kej 6). Ketika umat manusia mau dibasmi habis oleh Allah, Nuh diam saja; sedangkan baru dengan Abraham ada yang berani membela nasib orang lain (Kej 18:16-33). III. Model-model pengalaman akan Allah sebagai sahabat: Allah yang menjanjikan (Allah Abraham), yang menguji (Allah Ishak), yang bergulat dan memberkati (Allah Yakub), Allah yang memelihara kehidupan (bagi Yusuf): Rumusan “Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub” sudah sering kita dengar. Maknanya terdengar asing di telinga kita karena nama-nama tersebut juga asing bagi kita masing-masing, tak relevan lagi bagi kita, tidak seperti ketika itu diperdengarkan di telinga orang-orang Israel. Bagi Yesus, ungkapan itu merupakan bukti akan adanya kehidupan setelah kematian, karena orang Israel mengenal juga ungkapan “Allah yang hidup”; jadi “hidup” sepadan dengan “Abraham, Ishak, dan Yakub” (lihat Mt 22:32). Dari satu sisi dapat ditafsirkan bahwa ungkapan ini mengungkapkan kesetiaan Allah, Allah yang satu dan samalah yang berhubungan secara terus menerus dengan ketiga bapa bangsa tsb.: dengan kakek, ayah, dan anak. Allah yang kini kita sembah ini adalah Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub, Allah Musa, Allah Daud, Allah Maria dan Yosef, Allah Yesus dari Nazareth, Allah Petrus, Allah para Paus, Allah para uskup, Allah para imam, Allah orang tua kita, Allah paman kita, Allah teman kita dll. Selain itu, kita juga dapat mencoba menelusuri pengalaman Allah para bapa bangsa Israel itu. Abraham mengalami Allah sebagai Dia yang memanggil dan memberi janji (Kej 12; 15; 17). Bagi Ishak, Allah adalah Dia yang menguji (Kej 22). Memang, tampaknya iman Abrahamlah yang diuji Allah. Namun amat berarti bahwa dalam seluruh kisah itu, si Ishak hanya diam saja; satu-satunya pertanyaan yang diajukan Ishak adalah “di manakah anak domba untuk korban bakaran itu?” (Kej 22:7). Apakah pertanyaan Ishak tsb. sungguh pertanyaan tulus orang yang tidak tahu, ataukah sekedar suatu ironi bagi pembaca (Ishaklah sebenarnya anak domba itu!), ataukah sarkasme dari pihak Ishak (ia sudah merasa curiga kepada ayahnya). Ishak juga sebenarnya turut diuji: ia tentunya menyadari, dengan diusirnya Hagar dan Ismael, bahwa ialah satu-satunya pewaris Abraham (Kej 21:12). Bagi Yakub, Allah adalah Dia yang bergulat dengannya namun sekaligus juga yang memberkatinya dan mengubah namanya menjadi Israel (Kej 32:22-32).

bersahabat/rwsn-des95/13 Kita kenal dengan amat baik kisah Yusuf dan saudara-saudaranya. Karena iri hati, Yusuf ditangkap dan dijual oleh para saudaranya. Ia dibawa orang sampai ke Mesir dan menjadi orang nomor dua di sana. Ketika terjadi kelaparan di mana mana, Yusuf menjadi semacam Menteri Bulog Mesir, dan karena itulah bertemu kembali dengan para saudaranya yang sedang dikirim oleh Yakub ke Mesir untuk membeli makanan. Kej 45 merupakan kisah yang mengharukan ketika Yusuf memperkenalkan dirinya kepada mereka. Simaklah kata-kata Yusuf yang bebas dari rasa dendam sama sekali dan bahkan sebaliknya melihat tangan Allah yang menyelamatkan dalam tindak kejahatan saudara-saudaranya itu: “Tetapi sekarang, janganlah bersusah hati dan janganlah menyesali diri, karena kamu menjual aku ke sini, sebab untuk memelihar kehidupanlah Allah menyuruh aku mendahului kamu.” (Kej 45:5). Meditasi terpimpin: Setelah mengambil nafas panjang-panjang dan dalam-dalam, merilekskan tubuh: 1) Orang dapat mulai dari kesendirian Allah dengan segala tindakanNya (Kisah Penciptaan); bayangkan diri anda mengalami seperti yang Allah alami. 2) Orang dapat juga bercermin pada pengalaman hubungan antar manusia pada awal mula, yang tadinya didasari oleh kesetaraan namun kemudian memburuk dan semakin memburuk. 3) Orang dapat juga mengambil salah satu tokoh (entah Abraham, Ishak, Yakub, atau Yusuf) serta bercermin pada model pengalaman mereka masing-masing akan Allah. Session III ALLAH DAN SAHABAT-SAHABATNYA Setelah kita merenungkan kesendirian Allah dalam Kisah Penciptaan serta mengamati tindakan Allah yang penuh inisiatif untuk keluar dari kesendirianNya itu, kita kemudian masuk dalam pengalaman hubungan kesetaraan manusia pertama berikut kemerosotan hubungan itu. Namun Allah tetap tak kenal lelah menjalin hubungan dengan umatNya: Ia memberi janji (Abraham), menguji hati (Ishak), menantang dan memberkati (Yakub), dan memelihara (Yusuf). Kini kita akan melihat bagaimana ia mencintai dan memanggil (Daud), serta mengutus dan mendampingi (Musa). Urutan ini tak persis secara historis (Musa hidup sebelum Daud) namun hanya sekedar untuk menggambarkan dinamika hubungan persahabatan yang ada. I. Allah yang mencinta dan memanggil Daud: Daud digambarkan sebagai raja yang punya bakat musik (1 Sam 16:16-18), bakat puitis (2 Sam 1:19-27; 3:33-34), dan cinta akan liturgi (2 Sam 6:5, 15-16). Karena itu tentunya bukan tanpa alasan bahwa kumpulan mazmur dianggap berasal dari tangan Daud sendiri, dia yang “menyanyikan nyanyian Israel” (2 Sam 23:1). Dalam renungan retretnya tentang Daud, Kardinal Martini mengambil Mz 63 sebagai nada dasar kisah Daud; di situ digambarkan kerinduan Daud yang mendalam akan Allah: “aku mencari Engkau, jiwaku haus kepadaMu”. Memang hidup Daud diwarnai oleh cinta akan Allah. Namun, menurut Kardinal Martini, asas dan dasar kisah Daud, kunci rahasia untuk memahaminya bukanlah cinta Daud ini, melainkan cinta Allah kepada Daud. Mz 18 diawali dengan kalimat “Aku mengasihi Engkau, ya Tuhan, kekuatanku” sedangkan dalam versi yang lebih awal dari Mz 18 sebagaimana terdapat dalam II

bersahabat/rwsn-des95/14 Sam 22:2, kalimat itu tak ada, dan yang langsung kita temui adalah “Ya, Tuhan, bukit batuku, kubu pertahananku dan penyelamatku”. Dalam Kidung Agung, si pemuda disebut dalam bahasa Ibrani “Dod” (Kekasih) atau “Dodi” (Kekasihku); huruf-huruf Ibrani itu sama untuk nama Daud. Yohanes (yang disebut juga “murid yang dikasihi Yesus”, Yoh 13:23) punya pengalaman yang sama juga ketika ia menulis dalam suratnya: “Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita...” (I Yoh 4:10). Kita dapat mengamati bahwa Allah yang mencinta itu mengambil inisiatif dengan memilih dan memanggil Daud. Kisah panggilan Daud ini rupanya begitu unik sehingga digambarkan dengan tiga versi: 1) Allah memilih secara khusus (I Samuel 16:1-13): Dari semua putra Jesse, yang dipilih oleh Allah untuk menjadi raja justru orang yang menurut pandangan manusiawi tak pantas jadi raja yang harus memimpin perang. Bandingkan dengan Saul yang dipilih orang banyak karena “dari bahu ke atas ia lebih tinggi” daripada laki manapun di Israel (I Sam 9:2). Sedangkan Daud “kemerah-merahan, matanya indah dan parasnya elok” (I Sam 16:12). 2) Allah bekerja dalam hal yang kebetulan (I Sam 16:14-23) Secara kebetulan saja raja Saul yang sedang terganggu jiwanya mendengar tentang bakat musik Daud dan ia menyuruh orang membawa Daud ke istana. Situasinya tampak kebetulan saja, namun bagi orang beriman tak ada istilah “kebetulan”, Allah bekerja pula dalam situasi itu. 3) Allah memanggil dan yang dipanggil berani ambil resiko (I Sam 17:12-39) Dalam kekalutan serdadu Israel karena kekalahannya dari orang-orang Filistin, lebih-lebih karena keganasan Goliath, Daud datang kebetulan saja karena membawakan makanan bagi kakak-kakaknya. Daud merasa tersentuh, karena Allahnya dihina. Daud berani ambil resiko kehilangan nyawanya demi membela nama Allahnya. Inilah saat Daud sungguh-sungguh menerima secara penuh pilihan cinta dan panggilan Allah. II. Allah yang mengutus dan mendampingi Musa: Tentang Musa dikatakan bahwa Tuhan berbicara kepadanya “berhadapan muka seperti seorang berbicara kepada temannya” (Kel 33:11). Terhadap nabi-nabi lain, Allah mewahyukan diriNya lewat penglihatan dan mimpi, sedangkan terhadap Musa, Allah berbicara “dari mulut ke mulut”, terus terang, tanpa teka-teki, dan ia memandang rupa Allah (Bil 12:6-8). Namun privilese ini tidak sembarangan saja diperoleh oleh Musa. Ia membayar mahal untuk itu. Sukses Musa membawa umat Israel keluar dari Mesir, bukanlah karena kehebatannya melainkan karena kerja-samanya dengan Allah. Semak yang terbakar namun tak dimakan api merupakan lambang bahwa Musa menghadapi tugas berat, namun tugas itu tidak akan memusnahkannya. Dapat kita amati perjuangan Musa dalam menjawab panggilan Allah itu dalam tiga tahap: 1) Periode keragu-raguan (Kel 3-4) Perhatikan bagaimana Musa berusaha kuat untuk menolak panggilan Allah, terhadap perintah Allah ia selalu menjawab: “Tetapi ..., tetapi ....” (Kel 3:11: “Tetapi, siapakah aku ....”; Kel 3:13: “Tetapi, ..., bila mereka bertanya kepadaku...”; Kel 4:1: “Bagaimana kalau mereka tak percaya kepadaku ...”; Kel 4:10: “Ah, Tuhan, aku tak pandai bicara”; Kel 4:13: “Ah, Tuhan, utuslah orang lain saja”). 2) Periode penerimaan (Kel 4-14) Perhatikan bagaimana Musa taat menyampaikan segala perintah Allah meskipun kadang ia mengeluh juga bila menghadapi kegagalan: Kel 5:22: “Mengapa Engkau mengutus aku?”.

bersahabat/rwsn-des95/15 Coba amati Kel 17:1-7 dan Bil 11:10-17. “Apa yang harus kuperbuat, mereka nyaris membunuh aku? (Kel 17:4) dan “Mengapa Engkau meletakkan beban tanggung jawab atas rakyat ini di atas pundakku saja?” (Bil 11:11). 3) Periode “partnership” dalam kesetaraan Allah tidak puas dengan Musa yang hanya membebek saja. Ia menuntut Musa untuk tumbuh. Ia mengutus Musa untuk menjadi seperti Allah sendiri bagi Firaun dan Aaron sebagai nabinya (Kel 7:1). Musa datang dengan kuasa dan sabda Allah sendiri dan Musa harus bertindak tegas sesuai dengan kedudukannya itu; Allah tak puas dengan sahabat yang lemah, serba tergantung, seruannya seakan-akan adalah “Bertindaklah!”, “Bila kamu menunggu-nunggu sampai kamu siap, kamu tak akan berbuat apa-apa akhirnya!” Dan Musa memang menjadi lebih nekad, bahkan terhadap Allah sendiri. Musa berani berkata kepada Allah, “Tidak, Engkau tak boleh berbuat demikian ...”. Dalam Bil 14:11-12 justru Allah yang mengeluh tentang umatNya dan ingin memusnahkannya, namun Musa membela rakyatnya dan “menasehati” Allah agar tidak bertindak demikian demi kebesaran nama Allah sendiri. Dalam Kel 32:9-14, Musa berani marah dan bertindak tegas menghadapi umat Israel yang menyembah berhala. Meditasi terpimpin: Setelah duduk hening, napas dalam dan panjang, merilekskan tubuh, silahkan pilih dari antara kedua tokoh itu manakah yang paling mengesan: 1) Daud: kita mengalami cinta Allah juga dalam hal-hal yang kebetulan, dan berani menanggung resiko menjawab panggilanNya itu. 2) Musa: kita mengalami juga periode-periode hubungan Musa dengan Allah: keraguan, penerimaan, kesetaraan. Session IV Tanya Jawab, Kesan, Pesan: Kitab Sirakh, yang ditulis oleh Jesus bin Sirakh, seorang guru kebijaksanaan di Yerusalem, sekitar tahun 185-180 seb. Masehi, mengatakan bahwa “Sahabat setiawan merupakan perlindungan yang kokoh, barangsiapa menemukan orang serupa itu sungguh mendapat harta. Sahabat setiawan tiada ternilai, dan harganya tidak ada tertimbang. Sahabat setiawan adalah obat kehidupan, orang yang takut akan Tuhan memperolehnya” (Sir 6:14-16). Saya yakin bahwa kata-kata itu bisa diterapkan pada anda masing-masing. Andalah sahabat setiawan sebagaimana dimaksudkan oleh Sirakh. Meditasi Terpimpin: Bila ada waktu, bisa dilakukan meditasi terpimpin sehubungan dengan persahabatan kita dengan Yesus (lih. A. de Mello, Wellsprings, hal. 101-106, “The Encounter”) untuk meresapi dan memantapkan persahabatan kita dengannya: Pokok-pokok: -Bayangkan punya janji bertemu Yesus di puncak gunung -Bicara dengan Dia tentang perasaan-perasaan negatif kita terhadap Dia: rasa kesal atau jengkel terhadap Dia, dan rasa cemas atau takut.

bersahabat/rwsn-des95/16 -Kata sifat atau simbol apa yang bisa kupakai untuk menggambarkan persahabatanku dengan Yesus? -Menengok ke masa lalu: tahap-tahap perkembangan dalam diriku sehubungan dengan siapa Yesus itu bagiku, pasang dan surut hubunganku dengan Dia. -Kuungkapkan harapan-harapanku pada Dia dan Dia ungkapkan apa harapanNya padaku. -Bersama-sama menengok ke masa depan: kita ingin hubungan kita menjadi seperti apakah? Tindakan konkret apakah yang dapat kuambil? -Ketika Yesus pergi, kuresapi kembali segala rasa perasa yang kualami dalam kontak tadi.

MISA PENUTUPAN Tema: Kegembiraan menyambut Sang Sahabat Bacaan: Minggu Adven III: Yes 35:1-6a Yak 5:7-10 Mat 11:2-11. Homili: Pokok-pokok homili: - Mat 11:2-11 secara kebetulan kok cocok dengan tema kita. Di situ ditampilkan tokoh Yohanes Pembaptis yang dari dalam penjara mengirim utusan ke Yesus dan menanyakan “Engkaukah yang harus datang itu? Ataukah kami harus menanti orang lain?”. Tokoh Yohanes Pembaptis: di rahim Elizabeth sudah melonjak kegirangan mendengar seruan Maria, ibu Yesus. Dalam Injil Yohanes ia digambarkan sebagai sahabat pengantin laki-laki yang bergirang hati mendengar suara pengantin laki-laki (Yoh 3:29). Ia pun meletakkan seluruh titik pusat hidupnya bukan pada dirinya sendiri melainkan pada diri sahabatnya itu: “Dia harus menjadi makin besar, dan aku harus makin kecil” (Yoh 3:30). Sikap bersahabat harus mencontoh sikap Yohanes Pembaptis ini yang memindahkan titik pusat hidup dari dirinya sendiri ke diri sahabatnya. -Yes 35:1-6a menghibur orang yang letih lesu dan membesarkan harapan mereka: “Lihatlah, Allah datang ...”. -Yak 5:7-10: “Serahkanlah segala kekuatiranmu kepadaNya, Ia yang memelihara kamu”. Dalam semangat mempersiapkan peringatan kedatangan Yesus, Tuhan dan Sahabat kita, marilah kita tutup rekoleksi kita ini. Santa Theresia Kecil menulis dalam autobiografinya bahwa karena Yesus telah naik ke surga, ia hanya dapat mengenali dia dari “jejak-jejak”Nya sebagaimana terungkap dalam Injil. Bagi kita umat Katolik memang KS bukan pertama-tama tulisan yang “diturunkan” atau langsung “didiktekan” dari surga, bukan pula terutama berisi ajaran, ketetapan, hukum, melainkan pertama-tama: “Allah sendiri yang secara personal ingin menyapa manusia, berkomunikasi dengannya dan berwawancara dengannya” (lih. Konstitusi Vatikan II, Dei Verbum, no. 21, 22, 23). Ini bisa kita hayati bila kita memasukkan diri kita sendiri dalam “pentas hidup” KS sehingga kita sendirilah yang menjadi pelaku-pelaku utama kisah KS itu bersama Allah sendiri!

bersahabat/rwsn-des95/17 Saya ingin menutup rekoleksi “Bersahabat tanpa akhir” ini dengan sebuah kutipan surat Paus Gregorius Agung kepada temannya, Theodorus, tabib kaisar: “Kata orang, engkau sedang mengerjakan banyak hal yang indah dan penting. Tetapi orang-orang juga mengatakan bahwa engkau tidak punya waktu untuk membaca KS. Dengarkan saya baik-baik: seandainya kaisar menulis sepucuk surat kepadamu, beranikah engkau membuangnya ke kotak sampah sebelum membacar seluruhnya? Pasti tidak. Nah, Allah sendiri telah menulis sepucuk surat cinta demi keselamat kita ... Jadi, belajarlah mengenal hati Allah dari firman-firman Allah, agar engkau dapat semakin merindukan keabadian.”

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->