Anda di halaman 1dari 223

WIKA BETON

WIKA BETON

WIKA BETON

WIKA BETON

WIKA BETON

DAFTAR ISI
BAGIAN I

BAGIAN 2

BAGIAN 3

PENGETAHUAN UMUM BETON


1.1
DEFINISI BETON

I-1

1.2

JENIS-JENIS BETON

I-2

1.3

SIFAT-SIFAT BETON

I-3

1.4

HIDRASI

I-6

1.5

MUTU BETON

I-6

MATERIAL PEMBENTUK BETON


2.1
SEMEN

II-1

2.2

AGREGAT

II-3

2.3

AIR

II-5

2.4

BAHAN TAMBAHAN (ADITIF)

II-7

MIX DESIGN
3.1
TATA CARA PEMBUATAN RENCANA CAMPURAN

WIKA BETON

BETON NORMAL SESUAI SNI T-15-1990-03

3.2

TATA CARA PERANCANGAN PROPORSI CAMPURAN


BETON NORMAL SESUAI SNI 03-2847-2002 POIN 7.3

BAGIAN 4

III-1

PELAKSANAAN
4.1
PENCAMPURAN/MIXING

III-13

IV-1

a. Site-Mix

IV-1

b. Ready-Mix

IV-3

4.2

PENGANGKUTAN

IV-4

4.3

PERSIAPAN LOKASI

IV-5

4.4

PERALATAN PENGECORAN

IV-6

a. Agitator Truck

IV-6

b. Concrete Pump

IV-7

c. Tremie

IV-7

d. Placing Boom

IV-8

e. Vibrator

IV-9

PENGECORAN

IV-10

4.5

IV-15

BAGIAN 5

4.6

PEMADATAN/COMPACTING

4.7

FINISHING

IV-17

a. Screeding

IV-17

b. Hand Tamping

IV-19

c. Floating

IV-20

d. Edging

IV-21

e. Trowelling

IV-21

f. Brooming

IV-23

g. Grinding

IV-24

h. Sack-rubbed Finishing

IV-24

i. Exposed Aggregate Finishing

IV-25

4.8

PERAWATAN

IV-25

4.9

EVALUASI & PENGENDALIAN MUTU BETON

IV-31

a. Pengujian Kualitas beton

IV-32

b. Langkah Pemeriksaan Mutu Beton di Lapangan

IV-36

RETAK DAN PERBAIKAN CACAT BETON


5.1
RETAK

WIKA BETON
a. Retak Akibat Early Thermal Contraction

V-2

b. Retak Akibat Long Term Drying Shrinkage

V-2

c. Retak Plastic

V-5

c.1 Plastic Settlement Crack

V-6

c.2 Plastic Shrinkage Crack

V-8

PERBAIKAN CACAT BETON

V-9

a. Plinth Antar Sambungan

V-9

b. Bunting Akibat Bekisting Berubah Bentuk

V-10

c. Keropos

V-10

d. Pecah Kecil (<5 cm dalamnya)

V-11

e. Pecah Besar (>5 cm dalamnya)

V-11

f. Lubang Besar Akibat Udara Terperangkap

V-12

g. Tali Air/Lubang Kecil Akibat Udara Terperangkap

V-12

h. Retak Rambut (Lebar <0.5 mm)

V-13

i. Retak Besar dan Dalam (Lebar >0.5 mm dan dalam >1

V-13

5.2

V-1

cm)
5.3

APLIKASI ACIAN PEWARNAAN

V-14

BAGIAN 6

PENGENALAN SELF-COMPACTING CONCRETE


6.1
PENDAHULUAN

VI-1

6.2

SIFAT-SIFAT BETON KERAS

VI-2

6.3

SIFAT-SIFAT BETON SEGAR DAN CARA

VI-4

PENGUJIANNYA
a. Daya Alir

VI-5

b. Kekentalan

VI-6

c. Passing Ability

VI-7

d. Daya Tahan Segregasi/Segregation Resistance

VI-8

6.4

MIX-DESIGN

VI-11

6.5

HAL-HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN SAAT

VI-15

PELAKSANAAN
6.6

BAGIAN 7

MEMPERBAIKI KUALITAS AKHIR SCC

PENGETAHUAN BETON PRACETAK


7.1

PENDAHULUAN

WIKA BETON

BAGIAN 8

VI-16

VII-1

7.2

JENIS-JENIS HASIL PRODUKSI

VII-1

7.3

MATERIAL DAN SPESIFIKASI

VII-6

7.4

PROSES PRODUKSI

VII-9

7.5

MIX-DESIGN

VII-12

7.6

CETAKAN

VII-13

7.7

PENGADUKAN BETON DAN PENGECORAN

VII-13

7.8

PEMADATAN

VII-14

7.9

PEKERJAAN STRESSING

VII-15

7.10

PERAWATAN BETON

VII-16

7.11

PENGANGKATAN

VII-17

7.12

PENGANGKUTAN

VII-18

7.13

QUALITY CONTROL

VII-19

INSPEKSI PERALATAN
8.1

PENDAHULUAN

VIII-1

8.2

MACAM-MACAM FORMULIR INSPEKSI

VIII-1

LAMPIRAN 1

SPESIFIKASI PRODUK BETON PRACETAK PT WIKA BETON

LAMPIRAN 2

FORMULIR INSPEKSI PERALATAN

GLOSSARY

WIKA BETON

DAFTAR GAMBAR
Gambar 1.1

Material Utama Pembentuk Beton

I-1

Gambar 1.2

Potongan Melintang Beton

I-1

Gambar 1.3

Proporsi Bahan Penyusun Beton

I-2

Gambar 1.4

Strength vs Workability

I-4

Gambar 1.5

Diagram Laju Kenaikan Kuat Tekan Beton

I-5

Gambar 2.1

Setting Time Semen

II-2

Gambar 2.2

Grafik Perbandingan Kuat Tekan Beton (Penelitian Pengaruh


Perbedaan Kadar Lumpur Pasir)

II-4

Gambar 3.1

Hubungan Faktor Air Semen dan Kuat Tekan Rata-rata


Silinder Beton (Sebagai Perkiraan FAS)

III-2

Gambar 3.2

Grafik Mencari Faktor Air-Semen

III-3

Gambar 3.3

Persentase Agregat Halus Terhadap Agregat Keseluruhan


untuk Ukuran Butir Maksimum 10 mm

III-9

Persentase Agregat Halus Terhadap Agregat Keseluruhan


untuk Ukuran Butir Maksimum 20 mm

III-9

Gambar 3.5

Persentase Agregat Halus Terhadap Agregat Keseluruhan


untuk Ukuran Butir Maksimum 40 mm

III-10

Gambar 3.6

Grafik Hubungan Kandungan Air, Berat Jenis Agregat


Campuran dan Berat Beton

III-11

WIKA BETON

Gambar 3.4

Gambar 3.7

Diagram Alir Perancangan Proporsi Campuran Berdasarkan


SNI 03-2847-2002

III-12

Gambar 4.1

Teknik Pengecoran

IV-13

Gambar 4.2

Pemadatan Manual

IV-15

Gambar 4.3

Pemadatan Mekanis

IV-16

Gambar 4.4

Alat Screed Mekanis

IV-19

Gambar 4.5

Alat Hand Tamping

IV-20

Gambar 4.6

Floating

IV-20

Gambar 4.7

Edger

IV-21

Gambar 4.8

Trowel Baja

IV-22

Gambar 4.9

Perbandingan Kekuatan Beton (Dipelihara dan Tidak)

IV-25

Gambar 4.10

Perawatan dengan Karung Goni yang Dibasahi

IV-27

Gambar 4.11

Perawatan dengan Lapisan Waterproof

IV-27

Gambar 4.12

Diagram Proses Pengendalian

IV-31

Gambar 4.13

Variabilitas

IV-32

Gambar 4.14

Diagram Pemeriksaan Mutu Beton di Lapangan

IV-36

Gambar 5.1

Contoh Plastic Settlement Crack 1

V-6

Gambar 5.2

Contoh Plastic Settlement Crack 2

V-6

Gambar 5.3

Contoh Plastic Settlement Crack 3

V-7

Gambar 5.4

Tensile Srain Capacity and Shrinkage Strain

V-8

Gambar 5.5

Contoh Plastic Shrinkage Crack

V-8

Gambar 5.6

Perbaikan Keropos pada Beton

V-10

Gambar 6.1

Ukuran Base Plate untuk Pengujian Slump-flow

VI-6

Gambar 6.2

Dimensi V-Funnel (Pengujian Kekentalan)

VI-6

Gambar 6.3

Pengujian Passing Ability dengan L-box

VI-8

Gambar 6.4

Ukuran dan Desain L-box yang Umum

VI-8

Gambar 6.5

Prosedur Mix-Design

VI-14

Gambar 7.1

Proses Produksi PC Piles

VII-9

WIKA BETON

DAFTAR TABEL
Tabel 2.1

Tipe Portland Semen

II-1

Tabel 2.2

Perkiraan Komposisi Berbagai Tipe Standar Semen Portland

II-2

Tabel 2.3

Kandungan Ion Klorida Maksimum untuk Perlindungan Baja


Tulangan Terhadap Korosi

II-6

Tabel 3.1

Nilai Deviasi Standar

III-1

Tabel 3.2

Faktor Pengali Deviasi Standar

III-1

Tabel 3.3

Perkiraan Kuat Tekan Beton (MPa) dengan FAS 0.5

III-3

Tabel 3.4

FAS Maksimum untuk Berbagai Pembetonan dan Lingkungan


Khusus

III-4

Tabel 3.5

Penetapan Nilai Slump

III-5

Tabel 3.6

Perkiraan Kebutuhan Air Per Meter Kubik Beton (Liter)

III-5

Tabel 3.7

Kebutuhan Semen Minimum untuk Berbagai Pembetonan dan


Lingkungan Khusus

III-6

WIKA BETON

Tabel 3.8

Kebutuhan Semen Minimum dan FAS Maksimum untuk Beton


yang Berhubungan dengan Air Tanah yang Mengandung Sulfat

III-7

Tabel 3.9

Kebutuhan Semen Minimum dan FAS Maksimum untuk Beton


Bertulang/Prategang Kedap Air

III-8

Tabel 3.10 Batas Gradasi Pasir

III-9

Tabel 3.11 Formulir Perancangan Adukan Beton

III-12

Faktor Modifikasi untuk Deviasi Standar Jika Jumlah Pengujian


Kurang Dari 30 Contoh
Kuat Tekan Rata-rata Perlu Jika Data Tidak Tersedia untuk
Tabel 3.13
Menetapkan Deviasi Standar
Tabel 3.12

Tabel 3.14 Persyaratan Beton untuk Lingkungan Khusus

III-14
III-14
III-16

Tabel 3.15

Persyaratan untuk Beton yang Dipengaruhi Oleh Lingkungan


yang Mengandung Sulfat

III-17

Tabel 4.1

Standar Waktu Minimum Pemutaran Alat Pencampur Beton

IV-2

Tabel 4.2

Getaran Minimum dengan Internal Vibrator

IV-16

Tabel 4.3

Metode Curing

IV-29

Tabel 4.4

Perbandingan Kuat Tekan Beton Uji

IV-33

Tabel 4.5

Sampling Benda Uji

IV-34

Tabel 5.1

Jenis dan Tipe Retak

V-1

Tabel 5.2

Batasan Lebar retak (ACI 224R-19)

V-3

Tabel 5.3
Tabel 5.4

Aplikasi Acian Pewarnaan untuk Tutup Lubang Bekas Tie-Rod


Parapet
Aplikasi Acian Pewarnaan untuk Lubang Besar Akibat Udara
Terperangkap dan Tali Air/Lubang Kecil Akibat Udara
Terperangkap

V-14
V-15

Tabel 5.5

Aplikasi Acian Pewarnaan untuk Plinth dan Keropos-Kolom

V-16

Tabel 6.1

Metode Pengujian Beton Segar

VI-4

Tabel 6.2

Klasifikasi Slump-flow dan Aplikasinya

VI-5

Tabel 6.3

Klasifikasi Kekentalan dan Aplikasinya

VI-7

Tabel 6.4

Klasifikasi Passing Ability dan Aplikasinya

VI-7

Tabel 6.5

Klasifikasi Daya Tahan Segregasi dan Aplikasinya

VI-9

Tabel 6.6

Sifat-sifat SCC untuk Berbagai Penggunaan Berdasarkan


Penelitian Walraven, 2003

VI-9

Tabel 6.7

Klasifikasi Aditif

VI-11

Tabel 6.8

Rentang Umum Komposisi Campuran SCC

VI-13

Tabel 6.9

Cacat Keropos seperti Sarang Lebah

VI-16

WIKA BETON

Tabel 6.10 Cacat Pengelupasan

VI-16

Tabel 6.11 Perbaikan Cacat Burik

VI-17

Tabel 6.12 Cacat Cold-joint

VI-18

Tabel 6.13 Cacat Permukaan yang Tidak Rata

VI-18

Tabel 6.14 Variasi Warna

VI-19

Tabel 6.15 Cacat Tali Air

VI-19

Tabel 6.16 Cacat akibat Retak Plastis

VI-20

Tabel 7.1

VII-6

Spesifikasi Material dan Spesifikasi Umum Beton Pracetak

Pengetahuan umum beton

WIKA BETON

I-0

Pengetahuan umum beton

1.1 DEFINISI BETON


Material komposit yang terdiri dari medium pengikat (pada umumnya campuran
semen hidrolis dan air), agregat halus (pada umumnya pasir) dan agregat kasar
(pada umumnya kerikil) dengan atau tanpa bahan tambahan/campuran/additives

Beton
Air
Kerikil
Pasir
Semen
Gambar 1.1 Material Utama Pembentuk Beton

WIKA BETON
Agregat
Kasar
Pasta Semen
Mengisi Celah
Antar Agregat

1.2 Potongan
Beton
GaGambar
mbar2. Potongan
Melintang
Beton

I-1

Pengetahuan umum beton

Gambar 1.3. Proporsi Bahan Penyusun Beton


Air Entrained Concrete: Beton yang didalamnya terdapat gelembung-gelembung udara
kecil yang sengaja dibuat terperangkap oleh bahan tambahan khusus sehingga akan
merubah sifat-sifat beton. Pada beton segar, entrained air akan meningkatkan
workability campuran sehingga mengurangi jumlah air dan pasir yang dibutuhkan.

1.2 JENIS-JENIS BETON

WIKA BETON

a. Beton ringan
Berat jenisnya<1900 kg/m3, dipakai untuk elemen non-struktural. Dibuat
dengan cara-cara berikut: membuat gelembung udara dalam adukan
semen, menggunakan agregat ringan (tanah liat bakar/batu apung) atau
pembuatan beton non-pasir.
b. Beton normal
Berat jenisnya 2200-2500 kg/m3, dipakai hampir pada semua bagian
struktural bangunan.
c. Beton berat
Berat jenis>2500 kg/m3, dipakai untuk struktur tertentu, misal: struktur
yang harus tahan terhadap radiasi atom.
d. Beton jenis lain
o Beton massa (mass concrete)
Beton yang dituang dalam volume besar, biasanya untuk pilar, bendungan
dan pondasi turbin pada pembangkit listrik. Pada saat pengecoran beton
jenis ini, pengendalian diutamakan pada pengelolaan panas hidrasi yang
timbul, karena semakin besar massa beton maka suhu didalam beton
semakin tinggi. Bila perbedaan suhu didalam beton dan suhu di
permukaan beton >20 oC dapat menimbulkan terjadinya tegangan tarik
yang disertai retak-retak

I-2

Pengetahuan umum beton

Retak beton juga dapat timbul akibat penyusutan beton (shrinkage) yang
dipengaruhi oleh kelembaban beton saat pengerasan berlangsung.
Selain itu, besarnya volume beton saat pengecoran mass concrete akan
beresiko timbulnya cold-joint pada permukaan beton baru dengan beton lama
mengingat waktu setting beton yang singkat (2 jam), sehingga perlu
direncanakan metode pengecoran yang sesuai dengan perilaku beton tersebut.
Berdasarkan hal-hal diatas, maka langkah preventif untuk menghindari
terjadinya retak beton dapat dikategorikan atas pemilihan komposisi beton (nilai
slump, pemberian admixture, FAS) dan praktek pelaksanaan di lapangan (suhu
udara saat pengecoran, curing, menggunakan bekisting dengan kemampuan
isolasi yang bagus dan menyiapkan construction joint) . Pemberian tulangan
ekstra untuk menahan gaya tarik akibat panas hidrasi dapat juga dilakukan
sebagai salah satu pertimbangan struktural.
o Ferosemen (ferrocement)
Mortar semen yang diberi anyaman kawat baja. Beton ini mempunyai
ketahanan terhadap retakan, ketahanan terhadap patah lelah, daktilitas,
fleksibilitas dan sifat kedap air yang lebih baik dari beton biasa.
o Beton serat (fibre concrete)
Komposit dari beton biasa dan bahan lain yang berupa serat, dapat berupa
serat plastik/baja. Beton serat lebih daktail daripada beton biasa, dipakai
pada bangunan hidrolik, landasan pesawat, jalan raya dan lantai jembatan.
o Beton siklop
Beton biasa dengan ukuran agregat yang relatif besar-besar. Agregat kasar
dapat sebesar 20 cm. Beton ini digunakan pada pembuatan bendungan dan
pangkal jembatan.
o Beton hampa
Seperti beton biasa, namun setelah beton tercetak padat, air sisa reaksi
hidrasi disedot dengan cara vakum (vacuum method)
o Beton ekspose
Beton ekspose adalah beton yang tidak memerlukan proses finishing,
biasanya beton ini dihasilkan dengan menggunakan bahan bekisting yang
dapat menghasilkan permukaan beton yang halus (misal baja dan multiplek
film). Beton ini sering dijumpai pada gelagar jembatan, lisplang, kolom dan
balok bangunan

WIKA BETON

1.3 SIFAT-SIFAT BETON


a.

Beton Segar
o Kemudahan pengerjaan/Workability,umumnya dinyatakan dalam besaran
nilai slump (cm) dan dipengaruhi oleh:
Jumlah air yang dipakai. Makin banyak air, beton makin mudah
dikerjakan
Penambahan semen. Semen bertambah, air juga ditambah agar FAS
tetap, maka beton makin mudah dikerjakan
Gradasi campuran pasir dan kerikil
Pemakaian butir maksimum kerikil yang dipakai
Pemakaian butir-butir batuan yang bulat

I-3

Pengetahuan umum beton

Gambar 1.4. Strength vs Workability

WIKA BETON

o Segregasi, kecenderungan agregat kasar untuk memisahkan diri dari


campuran adukan beton, peluang segregasi diperbesar dengan:
Campuran yang kurus/kurang semen
Pemakaian air yang terlalu banyak
Semakin besar butir kerikil yang dipakai
Campuran yang kasar, atau kurang agregat halus
Tinggi jatuh pengecoran beton yang terlalu tinggi
o Bleeding, kecenderungan air campuran untuk naik keatas (memisahkan
diri) pada beton segar yang baru saja dipadatkan. Hal ini dapat dikurangi
dengan cara:
Memberi lebih banyak semen dalam campuran
Menggunakan air sesedikit mungkin
Menggunakan pasir lebih banyak
Menyesuaikan intensitas dan durasi penggetaran pemadatan sesuai
dengan nilai slump campuran
b.

Beton Keras
1). Sifat jangka pendek
o Kuat tekan, dipengaruhi oleh:
Perbandingan air semen dan tingkat pemadatan
Jenis semen dan kualitasnya
Jenis dan kekasaran permukaan agregat
Umur (pada keadaan normal, kekuatan bertambah sesuai dengan
umurnya). Lihat Gambar 1.5
Suhu (kecepatan pengerasan bertambah dengan naiknya suhu)
Perawatan

I-4

Pengetahuan umum beton

o Kuat tarik
Kuat tarik beton berkisar 1/18 kuat tekan beton saat umurnya masih
muda dan menjadi 1/20 sesudahnya. Kuat tarik berperan penting dalam
menahan retak-retak akibat perubahan kadar air dan suhu
o Kuat geser
Didalam prakteknya, kuat tekan dan tarik selalu diikuti oleh kuat geser.
2)

Sifat jangka panjang


o Rangkak, adalah peningkatan deformasi (regangan) secara bertahap
terhadap waktu akibat beban yang bekerja secara konstan, dipengaruhi
oleh:
Kekuatan. Rangkak berkurang bila kuat tekan makin besar
Perbandingan campuran. Bila FAS berkurang maka rangkak berkurang
Agregat. Rangkak bertambah bila agregat halus dan semen bertambah
banyak
Umur. Kecepatan rangkak berkurang sejalan dengan umur beton
o Susut, adalah berkurangnya volume beton jika terjadi kehilangan
kandungan uap air akibat penguapan, dipengaruhi oleh:
Agregat. Berperan sebagai penahan susut pasta semen
Faktor air semen. Efek susut makin besar jika FAS makin besar
Ukuran elemen beton. Laju dan besarnya penyusutan berkurang jika
volume elemen beton makin besar

WIKA BETON

Gambar 1.5. Diagram Laju Kenaikan Kuat Tekan Beton

I-5

Pengetahuan umum beton

Beton yang Baik


1. Bahan pengisi baik
kekerasan butiran
gradasi
kepadatan butiran
bentuk butiran
2. Bahan perekat baik
semen sesuai
FAS sesuai
3. Lekatan / ikatan baik
kekasaran permukaan butiran baik
material alam bersih
4. Pemeliharaan baik

1.4 HIDRASI
Proses Hidrasi
Adalah reaksi kimia antara partikel semen dan air menghasilkan pasta semen / bahan
pengikat

WIKA BETON

2(3CaO.SiO2)+6H2O
3Ca.2SiO2.3H2O+3Ca(OH)2+panas hidrasi
kalsium silikat (unsur utama semen) + air
kalsium silikat hidrat (bahan pengikat) +
kapur bebas (pengisi pasif) + panas hidrasi

Panas Hidrasi
Adalah efek samping dari proses hidrasi yaitu berupa pelepasan panas / kalori
dari reaksi hidrasi
Jumlah panas kalori yang dikeluarkan tergantung :
jenis / tipe semen ( kandungan FM, C3A dan C3S)
FAS
temperatur curing
Efek panas hidrasi yg terlalu tinggi terhadap beton adalah timbulnya retak-retak

1.5 KUAT TEKAN BETON


Suatu nilai yang ditunjukkan oleh besarnya beban tekan yang dapat dipikul oleh
benda uji/sample dari beton tersebut sampai runtuh

I-6

Pengetahuan umum beton

Notasi Kuat Tekan Beton


z K : adalah suatu nilai statistik dari suatu kumpulan hasil kuat tekan benda uji kubus
dalam jumlah tertentu pada umur 28 hari dengan nilai gagal yang diijinkan
sebesar 5 %, satuan kg/cm2.
Contoh: K500, maka bk=500 kg/cm2
z C : sama dengan K, hanya disini biasanya dipakai untuk benda uji berbentuk
silinder
Pada contoh diatas, bila K500 bila dikonversikan menjadi nilai C maka
C=500x0.83=415 kg/cm2, maka fc=415 kg/cm2, dengan 0.83 adalah nilai konversi
dari bentuk kubus menjadi silinder.

Kuat Tekan Beton yang Disyaratkan:


Adalah nilai kuat tekan dari satu atau sekumpulan benda uji yang telah ditetapkan

Mutu Beton Ao dan Bo


Adalah mutu beton dengan K< 125 yang biasanya dipakai untuk elemen bangunan
non-struktural

WIKA BETON

Mutu Beton yang Lebih Tinggi:

K125-<K175, digunakan sebagai lantai kerja atau penimbunan kembali dengan


beton
K175-<K250, umumnya digunakan sebagai struktur beton tanpa tulangan, misal:
beton siklop, trotoar dan pasangan batu kosong yang diisi adukan dan
pasangan batu
K250-<K400, umumnya digunakan untuk beton bertulang, misal: pelat lantai
jembatan, gelagar beton bertulang, diafragma, kerb beton pracetak,
gorong-gorong beton bertulang dan bangunan bawah jembatan
K400-K800,

umumnya digunakan untuk beton prategang, seperti tiang pancang


beton prategang, gelagar beton prategang, pelat beton prategang dan
sejenisnya

I-7

Pemilihan material

WIKA BETON

II-0

Pemilihan material

2.1 SEMEN
Berfungsi sebagai bahan pengikat HIDRAULIS dari berbagai macam agregat
a. Semen harus memenuhi salah satu dari ketentuan berikut:
o SNI 15-2049-1994. Semen Portland.
o ASTM C595. Spesifikasi semen blended hidrolis, kecuali tipe S dan SA.
yang tidak diperuntukkan sebagai unsur pengikat utama struktur beton.
o ASTM C845. Spesifikasi semen hidrolis ekspansif.
b. Tipe Semen Portland sesuai jenis pekerjaannya adalah:
Tabel 2.1 Tipe Portland Semen
Tipe
Syarat Penggunaan
PC
I
Kondisi biasa, tidak
memerlukan
persyaratan khusus
II
Serangan sulfat
konsentrasi sedang
III

Kekuatan awal tinggi

IV

Panas hidrasi rendah

Pemakaian
Perkerasan jalan, gedung,
jembatan biasa dan konstruksi
tanpa serangan sulfat
Bangunan tepi laut, dam,
bendungan, irigasi dan beton
massa
Jembatan dan pondasi dengan
beban berat
Pengecoran yang menuntut
panas hidrasi rendah dan
diperlukan setting time yang lama
Bangunan dalam lingkungan
asam, tangki bahan kimia dan
pipa bawah tanah

WIKA BETON
Ketahanan yang tinggi
terhadap sulfat

c.

Penyimpanan semen:
o Silo harus kedap air
o Lantai gudang tidak lembab
o Tinggi timbunan sak semen maksimum 2 m
o Suhu ruang tidak boleh lebih dari 70 oC
o Kapasitas gudang mampu untuk stok 20 hari dan tergantung
kelancaran pengiriman
o Stok yang telah disimpan lebih dari 3 bulan tidak boleh dipakai

d.

Setting Time Semen


Waktu yang dibutuhkan oleh semen untuk mulai
mengadakan proses pengikatan
Setting time :
z setting time awal (initial)
z setting time akhir (final)

II-1

Pemilihan material

z Setting time awal


Waktu yang dibutuhkan semen sejak saat bereaksi dengan air
sampai didapat pasta semen yg mulai kaku dan mulai tidak dapat
dikerjakan (kehilangan sebagian sifat plastisnya)
z Setting time akhir
Waktu yg dibutuhkan semen sejak bereaksi dengan air sampai
didapat suatu padatan dari pasta semen yang utuh dan tidak
dapat dirubah bentuknya

F
d
y
d
d

IS

r o s e s

a r d e n in

in a l s e t t in g
t im e
i d a p a t p a s ta
s e m e n
g
p a d a t d a n u tu h
a n b e n tu k n y a
ti d a k
a p a t d i r u b a h

In it ia l s e e t in g
t im e
P a s ta
s e m e n m u la i
ti d a k d a p a t d i r u b a h
ta p i m a s i h a d a
b a g i a n
y a n g
p la s ti s

D o r m a n
P
P e r i o d e
d i
s e m e n m a
d a n m a s i h
d i b e n tu k

e
m
s i
b

r i
a
h
i s

WIKA BETON

o d e
n a
p a s ta
p la s t i s
a

T i ti k P C
m u la i b e r e a k s i
d e n g a n a i r

Gambar 2.1. Setting Time Semen


Tabel 2.2 Perkiraan Komposisi Berbagai Tipe Standar Semen Portland
Type

I
II
III
IV
V

Tricalcium
Silicate
(C3S)
%
42-65
35-60
45-70
20-30
40-60

Dicalcium
Silicate (C2S)
%
10-30
15-35
10-30
50-55
15-40

Tricalcium
Aluminate
(C3A)
%
0-17
0-8
0-15
3-6
0-5

Tetracalcium
Aluminoferrite
(C4AF)
%
6-18
6-18
6-18
8-15
10-18

Air permeability
specific surface
m2/kg
300-400
280-380
450-600
280-320
290-350

II-2

Pemilihan material

2.2 AGREGAT
Butiran mineral dengan ukuran diameter & gradasi butiran tertentu yang
apabila dicampur dengan semen & air akan menghasilkan beton
Tujuan penggunaan agregat
sumber kekuatan dari beton
menghemat semen
memperkecil tingkat penyusutan beton
mencapai kepadatan beton yang maksimal
memperoleh workability yang baik
a.

Agregat harus memenuhi salah satu dari ketentuan berikut:


o ASTM C33. Spesifikasi agregat untuk beton
o SNI 03-2461-1991. Spesifikasi agregat ringan untuk beton struktur.

b.

Spesifikasi umum:
o Material dari bahan alami dengan kekasaran permukaan yang optimal
sehingga kuat tekan beton besar.
o Butiran tajam, keras, kekal (durable) dan tidak bereaksi dengan material
beton lainnya.
o Berat jenis agregat tinggi yang berarti agregat padat sehingga beton
yang dihasilkan padat dan awet.
o Gradasi sesuai spesifikasi teknik yang diminta (dapat dilihat pada poin
2.2a) dan hindari gap graded aggregate karena akan membutuhkan
semen lebih banyak untuk mengisi rongga dan harga satuan beton akan
menjadi lebih mahal.
o Bentuk yang baik adalah bulat, karena akan saling mengisi rongga dan
jika ada bentuk yang pipih dan lonjong dibatasi maksimal 15% berat
total agregat.
o Kadar lumpur agregat tidak boleh melampaui standar pada Butir (a),
karena akan berpengaruh pada kuat tekan beton. Lihat Gambar 2.2

WIKA BETON

c.

Ukuran maksimum agregat kasar harus tidak melebihi:


o 1/5 jarak terkecil antara sisi-sisi cetakan, ataupun
o 1/3 ketebalan pelat lantai, ataupun
o jarak bersih minimum antara tulangan-tulangan, kawatkawat, bundel tulangan, tendon-tendon prategang atau
selongsong-selongsong.

II-3

Pemilihan material

Gambar 2.2. Grafik Perbandingan Kuat Tekan Beton


( Penelitian Pengaruh Perbedaan Kadar Lumpur Pasir)
a.

Agregat Kasar
Agregat dengan butiran >5 mm

WIKA BETON

Jenis agregat kasar:


1. Alami hasil desintegrasi alam (kerikil), dengan penggolongan:
- kerikil halus
0,5 - 10 mm
- kerikil sedang
10 - 20 mm
- kerikil kasar
20 - 40 mm
- kerikil kasar sekali
40 - 70 mm
2. Hasil pemecahan dengan stone crusher, dengan penggolongan:
0,5 - 10 mm (screen)
10 - 20 mm
20 - 40 mm
40 - 80 mm
b.

Agregat Halus
Agregat dengan butiran antara 0,14 s/d 5,0 mm
Jenis agregat halus :
z buatan pasir hasil pemecahan
z alami pasir gunung, pasir sungai, pasir laut
Agregat halus sangat berperanan dalam menentukan :
z kemudahan pengerjaan workability
z kekuatan beton strength
z keawetan beton durability

II-4

Pemilihan material

Pemakaian Kerikil dibanding Batu Pecah


z Keuntungan:
z harga lebih murah
z dengan workability yg sama pasta semen terpakai lebih sedikit
harga beton per m3 akan lebih murah
z

Kerugian:
z kontinuitas pengadaan kurang terjamin
z ukuran butiran amat bervariatif
z permukaannya relative halus sehingga daya ikatnya kurang
sulit mencapai mutu beton tinggi
z kandungan lumpur relatif tinggi

2.3 AIR

WIKA BETON

Fungsi air dalam beton:


Bahan penghidrasi semen, agar semen bisa berfungsi sebagai
bahan pengikat
Bahan pelumas, yaitu mempermudah proses pencampuran agregat
& semen serta mempermudah pelaksanaan pengecoran beton
(workability)
a.

Air untuk campuran beton harus bersih dan bebas dari bahan-bahan yang
merusak yang mengandung oli, asam, alkali, garam, bahan organik atau
bahan-bahan lainnya yang merugikan terhadap beton ataupun tulangan.

b.

Air pencampur yang digunakan untuk beton prategang atau pada beton
yang didalamnya tertanam logam alumunium, termasuk air bebas yang
terkandung didalam agregat, tidak boleh mengandung ion klorida dalam
jumlah yang membahayakan.

II-5

Pemilihan material

Tabel 2.3. Kandungan Ion Klorida Maksimum untuk Perlindungan Baja


Tulangan Terhadap Korosi
Ion Klorida terlarut (C-)
Jenis Komponen
pada Beton
Struktur
% thd Berat Semen
Beton prategang
0.06
Beton
bertulang
yang
terpapar klorida selama masa
0.15
layannya
Beton bertulang yang dalam
kondisi kering atau terlindung
1.00
dari
air
selama
masa
layannya
Konstruksi beton bertulang
0.30
lainnya
Catatan: Untuk beton keras umur 28 hingga 42 hari

Bila dilakukan pengujian untuk menentukan kandungan ion klorida yang


dapat larut dalam air, prosedur uji harus sesuai dengan ASTM C1218

c.

Air yang tidak dapat diminum tidak boleh digunakan pada beton, kecuali
ketentuan berikut terpenuhi:
o Pemilihan proporsi campuran beton harus didasarkan pada campuran
beton yang menggunakan air dari sumber yang sama.
o Hasil pengujian pada umur 7 dan 28 hari pada kubus uji mortar harus
mempunyai kekuatan sekurang-kurangnya sama dengan 90%
kekuatan benda uji yang dibuat dengan air yang dapat diminum.
Perbandingan uji kekuatan tersebut harus dilakukan pada adukan
serupa, terkecuali pada air pencampur, yang dibuat dan diuji sesuai
dengan Metode uji kuat tekan untuk mortar semen hidrolis
(menggunakan spesimen kubus dengan ukuran sisi 50 cm) ASTM
C109
o Bila terpaksa menggunakan air laut, disarankan hanya untuk beton
tanpa tulangan dengan kandungan maksimal garam terlarut 35.000
ppm
o Hindari penggunaan air dengan dengan pH3

WIKA BETON

Alat Ukur Nilai Slump

II-6

Pemilihan material

Jumlah Air Optimum (JAO)


Adalah jumlah air dalam suatu rancangan campuran beton yang menghasilkan
tingkat kemudahan pengecoran yang sesuai dengan tuntutan (dinyatakan dengan
SLUMP)

Jika jumlah air<JAO


Dalam batas tertentu kuat tekan akan naik
Pengecoran lebih sulit
Daya pelumasan material oleh air berkurang (ditunjukkan oleh nilai slump
yang lebih kecil)
o Proses pengecoran dituntut lebih singkat dan diperlukan pemadatan ekstra
agar didapat beton yang tidak keropos
o
o
o

Jika jumlah air>JAO


o Kuat tekan beton akan turun
o Pengecoran lebih mudah
o Bisa terjadi segregasi (pemisahan butiran)
o Cenderung terjadi penyusutan (air kelebihan akan menguap meninggalkan
pori-pori beton)

2.4 BAHAN TAMBAHAN

WIKA BETON

a.

Spesifikasi umum:
Kalsium klorida atau bahan tambahan yang mengandung klorida tidak boleh
digunakan pada beton prategang, beton dengan aluminium tertanam, atau
beton yang dicor dengan menggunakan bekisting baja galvanis.

b.

Jenis-jenis bahan tambahan:


Ada dua kategori bahan tambahan, yaitu admixture dan aditif. Admixture
merupakan bahan tambahan kimiawi yang dapat mengubah sifat beton secara
kimia sedangkan aditif merupakan bahan tambahan yang hanya berfungsi
sebagai filler dan tidak mengubah sifat secara kimiawi.
Macam-macam admixture:
o Water Reducer/Plasticiser/Super Plasticiser
Berfungsi mengurangi jumlah air dan semen dengan kekuatan beton yang
dihasilkan tetap dan meningkatkan keplastisan beton untuk pengecoran di
tempat-tempat yang sulit (karena pengecoran tersebut membutuhkan nilai
slump tinggi sehingga bahan tambahan ini lebih dipilih daripada menambah
air).
o Viscosity Modifying Admixture (VMA)
Memodifikasi kohesi (biasanya digunakan untuk self-compacting concrete)
tanpa mengubah fluiditas secara signifikan.
o Retarder
Memperlambat pengikatan awal, digunakan untuk pengecoran jarak jauh dan
mass concrete yang perlu panas hidrasi rendah.

II-7

Pemilihan material

Ketiga bahan tambahan diatas ataupun campuran


ketiganya harus memenuhi ASTM C494. Spesifikasi
bahan tambahan kimiawi untuk beton atau ASTM C1017.
Spesifikasi untuk bahan tambahan kimiawi untuk
menghasilkan beton dengan kelecakan yang tinggi.
o Accelerator
Mempercepat pengikatan dan pengerasan awal beton, digunakan untuk
pengecoran yang berhubungan dengan air/efisiensi waktu pemakaian
cetakan.
o Air Entraining
Menambah gelembung udara pada beton, dapat mengurangi bleeding,
mengurangi kebutuhan air dan mengurangi segregasi. Digunakan untuk
pengecoran dengan concrete pump. Harus memenuhi SNI 03-2496-1991.
Spesifikasi bahan tambahan pembentuk gelembung untuk beton.
Macam-macam aditif:
o Abu Terbang
Harus memenuhi ASTM C618. Spesifikasi untuk abu terbang dan
pozzolan alami murni atau terkalsinasi untuk digunakan sebagai bahan
tambahan mineral pada beton semen portland. Meningkatkan kohesi dan
mengurangi sensitivitas terhadap perubahan-perubahan kadar air, tetapi
harus dijaga agar kadarnya tidak terlalu tinggi dapat menyebabkan pasta
menjadi terlalu kohesif sehingga dapat menghambat daya alir.

WIKA BETON

o Mineral filler
Misalnya batu kapur, dolomite, dll. Distribusi ukuran partikel, bentuk dan
daya serap air mempengaruhi kebutuhan air.
o Kerak Tungku Pijar yang diperhalus
Harus memenuhi ASTM C989. Spesifikasi untuk kerak tungku pijar yang
diperhalus untuk digunakan pada beton dan mortar. Mengurangi panas
hidrasi, tetapi setting time menjadi lebih lama, pemakaian aditif jenis ini
juga meningkatkan resiko segregasi.
o Silica Fume
Harus sesuai dengan ASTM C1240. Spesifikasi untuk silika fume untuk
digunakan pada beton dan mortar semen-hidrolis. Meningkatkan kohesi
dan daya tahan segregasi, serta mengurangi atau menghilangkan
bleeding tetapi jika terlalu banyak dapat menimbulkan percepatan
pembentukan kerak di permukaan beton, yang akan menghasilkan coldjoint atau cacat permukaan.
o Aditif lainnya
Metakaolin, pozzolan alami, dan bahan pengisi halus lainnya dapat
digunakan, tetapi akibat-akibat yang ditimbulkan perlu dievaluasi secara
khusus dan hati-hati terhadap akibat jangka pendek dan panjang yang
timbul terhadap beton.

II-8

Pemilihan material

2.5 SERAT
Baik serat metalik maupun polymer dapat digunakan.
Serat polymer dapat digunakan untuk membantu mencegah settlement
dan retak/crack akibat plastic shrinkage.
Serat besi maupun serat polymer struktural berukuran panjang digunakan
untuk memodifikasi daktilitas beton yang telah mengeras. Jumlah dan
ukuran panjangnya dipilih berdasarkan ukuran maksimum agregat dan
syarat struktural.

WIKA BETON

II-9

Perencanaan campuran beton

00

WIKA BETON

III-0

Perencanaan campuran beton

3.1 TATA CARA PEMBUATAN RENCANA


CAMPURAN BETON NORMAL,
SNI T-15-1990-03
a. Penentuan kuat tekan beton yang disyaratkan (fc) pada umur tertentu
Yaitu kuat tekan beton dengan kemungkinan lebih rendah dari nilai itu
hanya sebesar 5% saja.
b. Penetapan deviasi standar (sd)
Ditetapkan berdasarkan tingkat
pencampuran betonnya.

mutu

Tabel 3.1 Nilai Deviasi Standar


Tingkat Pengendalian Mutu Pekerjaan
Memuaskan
Sangat baik
Baik
Cukup
Jelek
Tanpa kendali

pengendalian

pelaksanaan

Sd (Mpa)
2.8
3.5
4.2
5.6
7.0
8.4

WIKA BETON

1). Jika pelaksana mempunyai catatan data hasil pembuatan beton serupa
pada masa yang lalu. Jumlah data hasil uji minimum 30 buah (satu data
hasil uji kuat tekan adalah hasil rata-rata dari uji tekan dua silinder yang
dibuat dari contoh beton yang sama dan diuji pada umur 28 hari atau
umur pengujian lain yang ditetapkan). Jika jumlah data uji kurang dari
30, maka dilakukan koreksi dengan suatu faktor pengali nilai deviasi
standar.
Tabel 3.2 Faktor Pengali Deviasi Standar
30
25
20
Jumlah Data
1.0
1.03
1.08
Faktor Pengali

15
1.16

<15
Tidak boleh

2). Jika pelaksana tidak mempunyai catatan hasil pengujian beton serupa
pada masa yang lalu/bila data hasil uji kurang dari 15 buah, maka nilai
margin langsung diambil sebesar 12 Mpa.

III-1

Perencanaan campuran beton

c. Penghitungan nilai tambah (M)


o Jika nilai tambah sudah ditetapkan sebesar 12 Mpa, maka langsung ke
Langkah d
o Jika nilai tambah dihitung berdasarkan deviasi standar
Sd, maka
dilakukan dengan rumus berikut:
M = k * Sd
Dengan: M = Nilai tambah, Mpa
k = 1.64
Sd = deviasi standar, MPa
d. Penetapkan kuat tekan rata-rata yang direncanakan
fcr = fc + M
Dengan: fcr = Kuat tekan rata-rata, MPa
fc = Kuat tekan yang disyaratkan, MPa
M = Nilai tambah, Mpa
e. Penetapan jenis semen Portland
Lihat macam-macam semen pada Poin 2.1.b
f.

Penetapan jenis agregat


Lihat poin 2.2 dan dipilih agregat alami atau batu pecah.

WIKA BETON

g. Tetapkan faktor air semen dengan salah satu dari dua cara berikut:
o Berdasarkan jenis semen yang dipakai dan kuat tekan rata-rata silinder
beton yang direncanakan pada umur tertentu. Lihat Gambar 3.1

Gambar 3.1 Hubungan Faktor Air Semen dan Kuat Tekan Rata-Rata
Silinder Beton (Sebagai Perkiraan FAS)

III-2

Perencanaan campuran beton

o Berdasarkan jenis semen, jenis agregat kasar dan kuat tekan rata-rata yang
direncanakan pada umur tertentu. Lihat Tabel 3.3 dan Gambar 3.2
Langkahnya sebagai berikut:
Tabel 3.3 Dengan data jenis semen, jenis agregat kasar dan umur
beton yang dikehendaki, dibaca perkiraan kuat tekan silinder beton
yang akan diperoleh jika dipakai faktor air semen 0.5.
Tabel 3.3 Perkiraan Kuat Tekan Beton (MPa) dengan FAS 0.5
Jenis
Umur (hari)
Jenis Agregat Kasar
Semen
3
7
28
91
Alami
17
23
33
40
I, II, V
Batu pecah
19
27
37
45
Alami
21
28
38
44
III
Batu pecah
25
33
44
48

Gambar 3.2 Lukislah titik A pada Gambar 3.2, dengan FAS 0.5
sebagai absis dan kuat tekan beton yang diperoleh dari Tabel 3.3
sebagai ordinat. Dari titik A dibuat grafik baru yang bentuknya sama
dengan dua grafik yang sudah ada didekatnya. Selanjutnya tarik garis
mendatar dari sumbu tegak di kiri pada kuat tekan rata-rata yang
dikehendaki sampai memotong grafik baru tersebut, lalu ditarik
kebawah untuk mendapatkan FAS yang dicari.

WIKA BETON

Gambar 3.2 Grafik Mencari Faktor Air-Semen

III-3

Perencanaan campuran beton

h. Penetapan faktor air semen maksimum


Lihat Tabel 3.4 Jika FAS maksimum ini lebih rendah dari langkah g, maka
FAS maksimum ini yang digunakan.
Tabel 3.4 FAS Maksimum untuk Berbagai Pembetonan & Lingkungan
Khusus
Jenis Pembetonan
Beton didalam ruang bangunan:
a. Keadaan keliling non-korosif
b. Keadaan keliling korosif, disebabkan
oleh kondensasi atau uap korosi
Beton diluar ruang bangunan:
a. Tidak terlindung dari hujan dan terik
matahari langsung
b. Terlindung dari hujan dan terik
matahari langsung
Beton yang masuk kedalam tanah:
a. Mengalami keadaan basah dan kering
berganti-ganti
b. Mendapat pengaruh sulfat dan alkali
dari tanah
Beton yang selalu berhubungan dengan
air tawar/payau/laut
i.

FAS Maksimum
0.60
0.52

0.55
0.60

0.55
Tabel 3.8
Tabel 3.9

WIKA BETON

Penetapkan nilai slump


Penetapan nilai slump dilakukan dengan memperhatikan pelaksanaan
pembuatan, pengangkutan, penuangan, pemadatan dan jenis strukturnya.
Misal: pengecoran dengan conncrete pump membutuhkan nilai slump
besar, pemadatan dengan vibrator dapat dilakukan dengan nilai slump
yang agak kecil. Lihat Tabel 3.5 sebagai pertimbangan.

Pengukuran Nilai Slump

III-4

Perencanaan campuran beton

Tabel 3.5 Penetapan Nilai Slump


Pemakaian Beton
Dinding, plat fondasi dan fondasi
telapak bertulang
Fondasi telapak tidak bertulang,
kaison dan struktur dibawah tanah
Pelat, balok, kolom dan dinding
Pengerasan jalan
Pembetonan masal

Maks

Min

12.5

5.0

9.0

2.5

15.0
7.5
7.5

7.5
5.0
2.5

Tabel 3.6 Perkiraan Kebutuhan Air Per Meter Kubik Beton (Liter)
Besar
Slump (mm)
Jenis
Ukuran
Batuan
Maksimum
0-10
10-30
30-60 60-180
Kerikil (mm)
10
Alami
150
180
205
225
Batu
180
205
230
250
pecah
20
Alami
135
160
180
195
Batu
170
190
210
225
pecah
40
Alami
115
140
160
175
Batu
155
175
190
205
pecah
Catatan:
Koreksi suhu diatas 20oC, setiap kenaikan 5OC harus ditambah air 5
liter per m3 adukan beton
Kondisi permukaan: untuk permukaan agregat yang kasar harus
ditambah air 10 liter per m3 adukan beton

WIKA BETON

j.

Penetapan besar butir agregat maksimum


Penetapan besar butir agregat maksimum dilakukan berdasarkan nilai
terkecil dari ketentuan pada poin 2.2.c

k. Penetapan jumlah air yang diperlukan per meter kubik beton,


berdasarkan ukuran maksimum agregat, jenis agregat dan slump yang
diinginkan. Lihat Tabel 3.6
Jika menggunakan agregat halus dan agregat kasar dari jenis yang
berbeda (alami dan pecahan), maka jumlah air yang diperkirakan
diperbaiki dengan rumus:
A = 0.67Ah + 0.33 Ak
Dengan: A = Jumlah air yang dibutuhkan (lt/m3)
Ah = Jumlah air yang dibutuhkan menurut jenis agregat halusnya
Ak = Jumlah air yang dibutuhkan menurut jenis agregat kasarnya

III-5

Perencanaan campuran beton

l.

Hitung berat semen yang diperlukan


Dihitung dengan membagi jumlah air dari Langkah k dengan FAS
yang diperoleh pada Langkah g dan h

m. Hitung kebutuhan semen minimum


Ditetapkan dengan Tabel 3.7-3.9. Kebutuhan semen minimum ini
ditetapkan untuk menghindari beton dari kerusakan akibat lingkungan
khusus, misalnya: lingkungan korosif, air payau dan air laut.

Tabel 3.7 Kebutuhan Semen Minimum untuk Berbagai Pembetonan dan


Lingkungan Khusus
Semen
Jenis Pembetonan
Minimum
(kg/m3 beton)
Beton didalam ruang bangunan:
a. Keadaan keliling non-korosif
275
b. Keadaan keliling korosif, disebabkan oleh
kondensasi atau uap korosif
325
Beton diluar ruang bangunan:
a. Tidak terlindung dari hujan dan terik matahari
325
langsung
b. Terlindung dari hujan dan terik matahari
275
langsung
Beton yang masuk kedalam tanah:
a. Mengalami keadaan basah dan kering berganti325
ganti
b. Mendapat pengaruh sulfat dan alkali dari tanah
Tabel 3.8
Beton yang selalu berhubungan dengan air
Tabel 3.9
tawar/payau/laut

WIKA BETON

III-6

Perencanaan campuran beton

Tabel 3.8 Kebutuhan Semen Minimum dan FAS Maksimum untuk Beton yang
Berhubungan dengan Air Tanah yang Mengandung Sulfat
Konsentrasi Sulfat (SO3)
Kandungan
semen minimum
Dalam Tanah
(kg/m3)
SO3
SO3
dalam
Jenis Semen
dalam air
Ukuran Maks.
Total
campuran
tanah
Agregat (mm)
SO3
air:tanah
(g/lt)
40
20
10
= 2:1
(g/lt)
Tipe I dengan atau 280 300 350
<0.2
<0.1
<0.3
tanpa Pozzolan
(15-40%)
Tipe I tanpa
290 330 380
Pozzolan

0.2-0.5

1.0-1.9

0.3-1.2

Tipe I dengan
Pozzolan (15-40%)
Atau
Semen Portland
Pozzolan

270

Faktor
Air
Semen
(FAS)
Maksim
um

0.5
0.5

310

360

0.55

250
340

290
380

430
430

0.55
0.45

290
330

330
370

380
420

0.5
0.45

330

370

420

0.45

Tipe II atau V

WIKA BETON
0.5-1.0

1.9-3.1

1.2-2.5

Tipe I dengan
Pozzolan (15-40%)
Atau
Semen Portland
Pozzolan
Tipe II atau V

1.0-2.0

3.1-5.6

2.5-5.0

>2.0

>5.6

>5.0

Tipe II atau V
Tipe II atau V dan
lapisan pelindung

III-7

Perencanaan campuran beton

n.

Penyesuaian kebutuhan semen


Apabila kebutuhan semen yang diperoleh dari Langkah l ternyata lebih
sedikit daripada Langkah m, maka kebutuhan semen harus dipakai yang
minimum (yang nilainya lebih besar)

o. Penyesuaian jumlah air atau FAS


Jika jumlah semen ada perubahan akibat Langkah n, maka nilai faktor air
semen berubah. Dalam hal ini dilakukan dua cara berikut:
Cara pertama, faktor air semen dihitung kembali dengan cara membagi
jumlah air dengan jumlah semen minimum
Cara kedua, jumlah air disesuaikan dengan mengalikan jumlah semen
minimum dengan faktor air semen
Catatan: Cara pertama akan menurunkan faktor air semen, sedangkan
cara kedua akan menaikkan jumlah air yang diperlukan
p. Penentuan daerah gradasi agregat halus
Klasifikasikan daerah gradasi agregat dengan menggunakan Tabel 3.10.
q. Perbandingan agregat halus dan agregat kasar
Diperlukan untuk memperoleh gradasi agregat campuran yang baik. Pada
langkah ini dicari nilai banding antara berat agregat halus dan berat
agregat campuran. Penetapan dilakukan dengan memperhatikan besar
butir maksimum agregat kasar, nilai slump, FAS dan daerah gradasi
agregat halus. Berdasarkan data tersebut dan Gambar 3.3-3.5 dapat
diperoleh persentase berat agregat halus terhadap berat agregat
campuran

WIKA BETON

Tabel 3.9 Kebutuhan Semen Minimum dan FAS Maksimum untuk Beton
Bertulang/Prategang Kedap Air
Kandungan semen
minimum
Berhubungan
FAS
Tipe Semen
dengan:
Maksimum
Ukuran Maksimum
Agregat (mm)
40
20
Air tawar
0.50
Semua tipe I-V
280
300
0.45
Tipe I + Pozzolan
340
380
(15-40%)
Atau Semen Portland
Air payau
Pozzolan
290
330

Air laut

0.50
0.45

Tipe II atau V
Tipe II atau V

330

370

III-8

Perencanaan campuran beton

Tabel 3.10 Batas Gradasi Pasir


Lubang
Persen Berat Butir yang Lewat Ayakan
Ayakan
1
2
3
4
(mm)
10.00
100
100
100
100
4.80
90-100
90-100
90-100
95-100
2.40
60-95
75-100
85-100
95-100
1.20
30-70
55-90
75-100
90-100
0.60
15-34
35-59
60-79
80-100
0.30
5-20
8-30
12-40
15-50
0.15
0-10
0-10
0-10
0-15

WIKA BETON
Gambar 3.3 Persentase Agregat Halus Terhadap Agregat
Keseluruhan untuk ukuran Butir Maksimum 10 mm

Gambar 3.4 Persentase Agregat Halus Terhadap Agregat


Keseluruhan untuk ukuran Butir Maksimum 20 mm

III-9

Perencanaan campuran beton

Gambar 3.5 Persentase Agregat Halus Terhadap Agregat


Keseluruhan untuk kuran Butir Maksimum 40 mm

r.

Berat jenis agregat campuran


Bj camp = P/100*bj ag hls + K/100*bj ag ksr

WIKA BETON

Dengan: Bj camp
= Berat jenis agregat campuran
Bj ag hls = Berat jenis agregat halus
Bj ag ksr = Berat jenis agregat kasar
P
= Persentase agregat halus terhadap agregat
campuran
K
= Persentase agregat kasar terhadap agregat
campuran
Berat jenis agregat halus dan kasar diperoleh dari hasil pemeriksaan
laboratorium, namun jika tidak ada dapat diambil sebesar 2.60 untuk
agregat tak dipecah dan 2.70 untuk agregat pecahan
s. Penentuan berat jenis beton
Menggunakan data berat jenis agregat campuran dari Langkah r dan
kebutuhan air tiap meter kubik betonnya, maka dengan grafik pada
Gambar 3.6 dapat diperkirakan berat jenis betonnya. Caranya:
Dari berat jenis agregat campuran pada langkah q dibuat garis
kurva berat jenis gabungan yang sesuai dengan garis kurva yang
paling dekat dengan garis kurva pada Gambar 3.6.
Kebutuhan air yang diperoleh pada Langkah k dimasukkan dalam
Gambar 3.6 dan dari nilai ini ditarik garis vertikal keatas sampai
mencapai kurva yang dibuat pada langkah pertama
Dari titik potong ini, tarik garis horisontal kekiri sehingga diperoleh
nilai berat jenis beton

III-10

Perencanaan campuran beton

t.

Kebutuhan agregat campuran


Dihitung dengan cara mengurangi berat beton per meter kubik dikurangi
kebutuhan air dan semen

u. Hitung berat agregat halus yang dibutuhkan, berdasarkan hasil Langkah


q dan r. Kebutuhan agregat halus diperoleh dengan cara mengalikan
kebutuhan agregat campuran dengan persentase berat agregat halusnya
v. Hitung berat agregat kasar yang diperlukan, berdasarkan hasil Langkah r
dan s. Kebutuhan agregat kasar dihitung dengan cara mengurangi
kebutuhan agregat campuran dengan kebutuhan agregat halus.
Dalam perhitungan diatas, agregat halus dan agregat kasar dianggap dalam
keadaan jenuh kering muka, sehingga di lapangan yang pada umumnya
keadaan agregatnya tidak jenuh kering muka, harus dilakukan koreksi
terhadap kebutuhan bahannya. Koreksi harus dilakukan minimum satu kali
per hari.
Hitungan koreksi dilakukan dengan rumus berikut:
Air
= A-[(Ah-A1)/100]xB-[(Ak-A2)/100]xC
Agregat halus = B+[Ah-A1)/100]xB
Agregat kasar = C+[(Ak-A2)/100]xC
Dengan:
A
= Jumlah kebutuhan air (liter/m3)
B
= Jumlah kebutuhan agregat halus (kg/m3)
C
= Jumlah kebutuhan agregat kasar (kg/m3)
Ah
= Kadar air sesungguhnya dalam agregat halus (%)
Ak
= Kadar air sesungguhnya dalam agregat kasar (%)
A1
= Kadar air pada agregat halus jenuh kering-muka (%)
A2
= Kadar air pada agregat kasar jenuh kering-muka (%)

WIKA BETON

Gambar 3.6 Grafik Hubungan Kandungan Air, Berat Jenis Agregat


Campuran dan Berat Beton

III-11

Perencanaan campuran beton

Untuk mempermudah dapat mempergunakan formulir isian di bawah ini:

Tabel 3.11 Formulir Perancangan Adukan Beton

WIKA BETON

III-12

Perencanaan campuran beton

III-13

3.2 Tata Cara Perancangan Proporsi Campuran


beton Normal SNI 03-2847-2002 Poin 7.3

WIKA BETON

14

Gambar 3.7 Diagram Air Perancangan Proporsi Campuran Berdasarkan


SNI 03-2847-2002

Perencanaan campuran beton

Kuat tekan rata-rata perlu fcr ditentukan sebagai dasar pemilihan proporsi
campuran beton harus diambil sebagai nilai terbesar dari persamaan 1 atau 2
dibawah ini:
fcr = fc + 1.34 S......................................(1)
fcr = fc + 2.33 S -3.5...............................(2)

Tabel 3.12 Faktor Modifikasi untuk Deviasi Standar Jika Jumlah


Pengujian Kurang Dari 30 Contoh
Faktor Modifikasi untuk Deviasi
Jumlah Pengujian
Standar
<15 contoh
Gunakan Tabel 15
15 contoh
1.16
20 contoh
1.08
25 contoh
1.03
30 contoh atau lebih
1.00
Catatan: Interpolasi untuk jumlah pengujian yang berada diantara nilai-nilai
diatas

WIKA BETON

Tabel 3.13 Kuat Tekan Rata-Rata Perlu Jika Data Tidak Tersedia Untuk
Menetapkan Deviasi Standar
Persyaratan Kuat Tekan, fc
Kuat Tekan Rata-Rata Perlu, fcr
MPa
MPa
Kurang dari 21
fc + 7.0
21-35
fc + 8.5
Lebih dari 35
fc + 10.0

III-14

Perencanaan campuran beton

Pasal 7.3(3(2)) SNI 03-2847-2002, menyebutkan tentang pembuatan proporsi


campuran beton yang diperoleh dari campuran percobaan yang dapat digunakan
jika batas-batas ini dipenuhi:
o Kombinasi bahan yang digunakan harus sama dengan yang digunakan pada
pekerjaan yang akan dilakukan.
o Campuran percobaan yang memiliki proporsi campuran dan konsistensi yang
diperlukan untuk pekerjaan yang akan dilakukan harus dibuat menggunakan
sekurang-kurangnya tiga jenis rasio air-semen yang berbeda-beda untuk
menghasilkan suatu kisaran kuat tekan beton yang mencakup kuat rata-rata
perlu fcr
o Campuran uji harus direncanakan untuk menghasilkan kelecakan dengan
kisaran 20 mm dari nilai maksimum yang diizinkan, dan untuk beton dengan
bahan tambahan penambah udara, kisaran kandungan udaranya dibatasi
0.5% dari kandungan udara maksimum yang diizinkan
o Untuk setiap rasio air-semen, sekurang-kurangnya harus dibuat tiga buah
contoh silinder uji untuk masing-masing umur uji dan dirawat sesuai dengan
SNI 03-2492-1991. Metode Pembuatan dan Perawatan Benda Uji Beton di
Laboratorium. Silinder harus diuji pada umur 28 hari atau pada umur uji yang
ditetapkan untuk penentuan fc
o Dari hasil uji silinder tersebut harus diplot kurva yang memperlihatkan
hubungan antara rasio air-semen atau kadar semen terhadap kuat tekan
pada umur uji yang ditetapkan
o Rasio air-semen maksimum atau kadar semen minimum untuk beton yang
akan digunakan pada pekerjaan yang akan dilakukan harus seperti yang
diperlihatkan pada kurva untuk menghasilkan kuat rata-rata yang sesuai
dengan syarat-syarat diatas, kecuali bila rasio air semen yang lebih rendah
atau kuat tekan yang lebih tinggi disyaratkan sesuai Pasal 6 SNI 03-28472002.

WIKA BETON

Pasal 6 SNI 03-2847-2002. Persyaratan Keawetan Beton


6.1 Rasio air-semen
Rasio air semen yang disyaratkan pada Tabel 3.14 dan Tabel 3.15 harus
dihitung menggunakan berat semen, sesuai dengan ASTM C150, ASTM
C595 M atau ASTM C845 ditambah dengan berat abu terbang dan
pozzolan lainnya sesuai dengan ASTM C618, kerak sesuai dengan ASTM
C989 dan silica fume sesuai dengan ASTM C1240 bilamana digunakan.

III-15

Perencanaan campuran beton

6.2 Pengaruh lingkungan


Tabel 3.14 Persyaratan Beton untuk Lingkungan Khusus
Rasio airKondisi Lingkungan
semen
maksimum1
Beton dengan permeabilitas rendah
0.50
yang terkena pengaruh lingkungan air
Untuk perlindungan tulangan terhadap
korosi pada beton yang terpengaruh
0.40
lingkungan yang mengandung klorida
dari garam atau air laut

fc
minimum2
MPa
28

35

Catatan:
1. Dihitung terhadap berat dan berlaku untuk beton normal
2. Untuk beton berat normal dan beton berat ringan

WIKA BETON
Struktur Pelabuhan,: Salah Satu Contoh Beton dalam Pengaruh Air Laut

6.3 Pengaruh lingkungan yang mengandung sulfat


o Beton yang dipengaruhi oleh lingkungan yang mengandung sulfat
yang terdapat dalam larutan atau tanah harus memenuhi pada
Tabel 3.15, atau harus terbuat dari semen tahan sulfat dan
mempunyai rasio air-semen maksimum dan kuat tekan minimum
sesuai dengan Tabel 3.15

III-16

Perencanaan campuran beton

Tabel 3.15 Persyaratan untuk Beton yang Dipengaruhi oleh Lingkungan


Yang Mengandung Sulfat

Papara
n
Lingkungan
Sulfat

Sulfat
(SO4)
Dalam
Tanah
yang
Dapat
Larut
Dalam Air
Persen
terhadap
berat

Sulfat
(SO4)
Dalam Air
Jenis Semen
Mikron
gram per
gram

Ringan

0.00-0.10

0-150

Sedan
g

0.10-0.20

150-1500

Berat

0.20-2.00

15001000

II,IP(MS),
IS(MS),P(MS)
,
I(PM)(MS),
I(SM)(MS)*
V

fc
Rasio Airminimum
Semen
(Beton
Maksimum
berat
dalam
normal
Berat
dan
(Beton
ringan)
Berat
Normal)
MPa

0.5

28

0.45

31

WIKA BETON

Sangat
>2.00
>10000
V+Pozzolan
berat
Catatan:
*Semen campuran sesuai ketentuan ASTM C595

0.45

31

III-17

Perencanaan campuran beton

6.4 Perlindungan tulangan terhadap korosi


o Tulangan didalam beton harus diberikan perlindungan terhadap korosi,
maka konsentrasi ion klorida maksimum yang dapat larut dalam air
pada beton keras umur 28-42 hari tidak boleh melebihi batasan pada
Tabel 3.15. Bila dilakukan pengujian untuk menentukan kandungan ion
klorida yang dapat larut dalam air, prosedur uji harus sesuai ASTM
C1218
o Persyaratan nilai rasio air-semen dan kuat tekan beton pada Tabel 3.14
dan persyaratan tebal selimut beton pada pasal 9.7 SNI 03-2847-2002
harus dipenuhi apabila beton akan berada pada lingkungan yang
mengandung klorida yang berasal dari air garam, air laut atau cipratan
dari sumber garam tersebut. Untuk tendon kabel prategang tanpa
lekatan dapat dilihat ketentuannya pada Pasal 20.16 SNI 03-2847-2002.

Pasal 7.4 SNI 03-2847-2002. Menyebutkan tentang perancangan campuran


tanpa berdasarkan data lapangan atau campuran percobaan.
o Jika data hasil uji pekerjaan beton sebelumnya tidak tersedia, maka
proporsi campuran beton harus ditentukan berdasarkan percobaan atau
informasi lainnya, bilaman hal tersebut disetujui oleh pengawas lapangan.
Kuat tekan rata-rata perlu, fcr beton yang dihasilkan dengan bahan yang
mirip dengan yang akan digunakan harus sekurang-kurangnya 8.5 Mpa
lebih besar daripada fc yang disyaratkan. Alternatif ini tidak boleh
digunakan untuk beton dengan kuat tekan yang disyaratkan lebih besar
dari 28 Mpa.
o Campuran beton yang dirancang menurut butir ini harus memenuhi
persyaratan keawetan pada Pasal 6 (diatas) dan kriteria pengujian kuat
tekan pada Pasal 7.6 SNI 03-2847-2002

WIKA BETON

III-18

Pelaksanaan

WIKA BETON

IV-0

Pelaksanaan

4.1 PENCAMPURAN/MIXING
a.

Site-Mix

1. Standar pencampuran ini hanya untuk beton normal (dengan berat jenis
2200 kg/m3-2500 kg/m3) dan tidak menggunakan bahan tambahan.
Pencampuran

dengan

bahan

tambahan

diatur

oleh

petunjuk

penggunaan bahan tambahan yang digunakan.


2. Alat pencampur yang digunakan harus mempunyai alat pemutar
dengan mesin, baik mollen, winget, pan mixer atau batching plant, yang
dibagi dalam dua golongan, yaitu:

Golongan 1: Mesin pencampur dengan blade berputar sendiri,


contoh: pan mixer dan batching plant

Golongan 2: Mesin pencampur dan blade berputar bersamaan,


contoh: mollen dan winget

WIKA BETON

Pencampuran
a. Semua bahan beton harus diaduk secara seksama hingga campuran
seragam dan harus dituangkan seluruhnya sebelum pencampur diisi
kembali.
b. Outlet mixer jangan sampai menimbulkan segregasi waktu beton
dituang.
c. Beton siap pakai harus dicampur dan diantarkan sesuai persyaratan
SNI 03-4433-1997. Spesifikasi beton siap pakai atau ASTM C685.
Spesifikasi untuk beton yang dibuat melalui penakaran volume dan
pencampuran menerus.

IV-1

Pelaksanaan

d.

Adukan beton yang dicampur di lapangan harus dibuat sebagai


berikut:
1) Urutan pemasukan material kedalam mesin pencampur harus
dimulai dengan agregat kasar, agregat halus kemudian semen.
Setelah semen dimasukkan, putar mesin pengaduk selama 1/2
menit kemudian baru dimasukkan air (air dan bahan tambahan,
bila tidak terdapat ketentuan lain tentang penggunaan bahan
tambahan). Kemudian lakukan pengadukan sesuai waktu yang
ditentukan.
2) Mesin pencampur harus diputar dengan kecepatan yang
disarankan oleh pabrik pembuat. Jika tidak ada, dapat
menggunakan pendekatan pada Tabel 4.1
3) Pencampuran harus dilakukan secara terus-menerus selama
sekurang-kurangnya 1,5 menit (lihat Tabel 4.1) setelah semua
bahan berada dalam wadah pencampur, kecuali bila dapat
diperlihatkan bahwa waktu yang lebih singkat dapat memenuhi
persyaratan uji keseragaman campuran SNI 03-4433-1997.
Spesifikasi beton siap pakai.
4) Pengolahan, penakaran dan pencampuran bahan harus
memenuhi aturan yang berlaku pada SNI 03-4433-1997.
Spesifikasi beton siap pakai.
5) Catatan rinci harus disimpan dengan data-data yang meliputi:
o Jumlah adukan yang dihasilkan
o Proporsi bahan yang digunakan
o Perkiraan lokasi pengecoran pada struktur
o Tanggal serta waktu pencampuran dan pengecoran

WIKA BETON

Tabel 4.1 Standar Waktu Minimum Pemutaran Alat Pencampur Beton


Jenis Mesin
Kapasitas Maksimum
Lama Pencampuran
3
Pencampur
(m )
Minimum (menit)
<1.0
1.5
1.0-2.5
2.0
Blade berputar sendiri
2.5-3.0
2.5
3.0-5.0
3.0
5.0-7.0
3.5
Blade berputar
bersamaan dengan
0.5
3.0
mesin
e.

Toleransi berat pencampuran bahan beton:


o Semen dan air
+/-2%
o Pasir
+/-3%
o Agregat kasar
+/-5%
o Air
+/-2%
o Aditif
+/-5%

IV-2

Pelaksanaan

b. Ready-Mix
Penggunaan Beton pra-campur/ready-mix terutama digunakan untuk
pengecoran jumlah besar yang biasanya melayani proyek-proyek pada
skala besar atau melayani proyek-proyek di perkotaan. Penggunaan beton
pra-campur mengeliminasi waktu mixing oleh kontraktor, karena beton tiba
di lapangan dalam keadaan siap-tuang, yang perlu mendapat fokus
perhatian pada beton ini adalah kualitas beton dan penanganan di
lapangan.
1. Kontrol Kualitas
Dalam melakukan kontrol kualitas beton ready-mix, hal yang
penting adalah melakukan kontrol volume semen pada mix-design sebab
komponen semen merupakan komponen yang paling mahal dari
komposisi ready-mix.
Pada pengecoran dengan volume besar, kemungkinan terjadi
adanya kesalahan dalam keseragaman mutu yang disebabkan karena
kurang cermatnya operator instalasi berhubung banyaknya pengiriman di
berbagai tempat dengan mutu atau spesifikasi yang berbeda.
Dalam melakukan kontrol workabilitas beton sebelum dituang,
maka prosedur berikut dapat dilakukan:
a. Pastikan bahwa beton telah tercampur secara merata di dalam truk
mixer
b. Ambilah contoh bahan uji secukupnya
c. Lakukan uji slump pada contoh bahan uji tersebut
d. Bilamana hasilnya memenuhi persyaratan yang ditentukan, maka
muatan harus diterima. Tetapi bila hasilnya diluar batas, ambilah
kembali contoh bahan uji dari truk yang sama untuk dilakukan test
slump lagi
e. Bila tidak memenuhi, maka beton harus ditolak

WIKA BETON

2. Penanganan Beton Pra Campur di Lapangan


a. Site yang dilalui dan tempat parkir truk mixer harus kuat dan
mampu menahan muatan penuh dari truk pencampur yang
beratnya sekitar 24 ton, dan jelas bahwa jalanan ini harus lebih
kuat daripada yang diperlukan untuk lalu lintas biasa di lapangan.
Sehingga akan lebih ekonomis untuk membuat jalan masuk yang
memadai di awal pekerjaan, daripada pekerjaan tambal sulam
permukaan tanah yang lemah. Disarankan untuk keadaan umum,
memberi perkerasan inti yang sangat padat setebal 200 mm atau
yang ekuivalen
b. Truk yang berjalan dekat sisi galian harus diperhatikan. Galian perlu
ditopang dengan baik untuk mencegah runtuhnya sisi galian akibat
berat kendaraan.

IV-3

Pelaksanaan

4.2 PENGANGKUTAN

a. Semua peralatan untuk pengangkutan harus bersih.


b. Tidak boleh terjadi segregasi dan hilangnya plastisitas campuran
selama proses pengangkutan.
c. Diusahakan tidak timbul laitance/kelembapan tinggi diatas beton segar.

WIKA BETON

d. Waktu keluar dari batching sampai penuangan selesai tidak boleh lebih
dari 1,5 jam atau waktu total sampai dengan pengecoran selesai tidak
lebih dari tiga jam dan nilai slump masih memenuhi syarat

IV-4

Pelaksanaan

4.3 PERSIAPAN LOKASI

a. Persiapkan site dengan baik, termasuk pada joint bekisting, pastikan


bahwa penempatan tulangan sudah benar (jika ada), pastikan
bekisting sudah rata, kuat dan tersangga dengan benar.
b. Semua sampah, kotoran dan genangan air harus dihilangkan dari
cetakan yang akan diisi beton.
c. Cetakan harus dilapisi zat pelumas permukaan sehingga mudah
dibongkar.

WIKA BETON

d. Bila ada bagian yang menggunakan batu bata, bagian dinding bata
pengisi yang akan bersentuhan dengan beton segar harus dalam
kondisi basah.
e. Tulangan harus benar-benar bersih dari lapisan yang mengganggu.
f. Sebelum beton dicor, air harus dibuang dari tempat pengecoran,
kecuali bila digunakan tremie.
g. Semua kotoran dan bagian permukaan yang dapat lepas atau yang
kualitasnya kurang baik harus dibersihkan sebelum pengecoran
lanjutan dilakukan pada permukaan beton yang telah mengeras.
h. Pengecoran diatas beton lama/batuan harus dibersihkan, dikasari,
dibasahi dan dilapisi dengan mortar/semen yang dibuat dengan
menggunakan air dan semen yang sama dengan yang dicor dan nilai
slump 15 cm terlebih dahulu, setebal 4-10 cm untuk mencegah lubanglubang dan menciptakan ikatan yang rapat. Atau gunakan bonding
agent.
i. Penundaan pengecoran ketika beton sudah siap di cor menyebabkan
penurunan kualitas akhir. Pastikan semua kegiatan diatas sudah
terlaksana sebelum beton siap dicor.

IV-5

Pelaksanaan

4.4 PERALATAN PENGECORAN


a.

Agitator Truck
Agitator truck biasanya dipakai untuk mengirim beton ready-mix,
dengan drum yang berputar untuk mencegah beton mengalami setting,
berbeda dengan truck mixer yang mencampur beton sekaligus
mengangkutnya. Spesifikasi mixer dapat dilihat pada Poin 4.1 (diatas)
Kontraktor harus mengecek nilai slump dari tiap batch individual untuk
mengetahui keseragaman konsistensi beton. Bila test ini
mengindikasikan adanya variasi nilai slump melebihi 50 mm, agitator
disarankan untuk tidak digunakan sampai kondisi tersebut diperbaiki
Agitator harus terawat baik, dan tidak ada akumulasi beton keras dan
mortar didalamnya, blade dan setiap bagiannya harus diganti bila telah
aus sebesar 25 mm dari design pabriknya
Beton harus sampai di site dan penuangan harus diselesaikan dalam
waktu 1.5 jam setelah air dimasukkan dalam campuran semen dan
agregat.

Dibawah ini diuraikan kapasitas dan spesifikasi rata-rata dari beberapa


agitator truck di pasaran:

WIKA BETON

Kapasitas geometris drum


Kapasitas pencampuran
Kecepatan putar drum
Tekanan water system
Volume water tank
Berat agitator truck kosong
Kecepatan maksimum

Satuan panjang: mm

: 8-14
: 5-8
: 0-18
: 2 bar
: 400-600
: 2800-3200
: 60

m3
m3
rpm
liter
kg
km/jam

IV-6

Pelaksanaan

b. Concrete Pump

Concrete pump diperlengkapi dengan pipa yang panjangnya tergantung


jangkauan horisontalnya
Ukuran maksimum agregat yang dapat dipompa hingga 63 mm (tetapi
tergantung juga pada spesifikasi pabrik)
Diperlengkapi agitator pada feeding hopper-nya untuk mencegah beton
mengalami setting dan segregasi di lubang penyerapan
Biasanya diperlengkapi dengan 3-5 section untuk Z-boom

Spesifikasi rata-rata alat:


Temperatur pengecoran optimal
Jangkauan vertikal
Jangkauan horizontal
Kedalaman jangkauan
Tinggi alat dalam keadaan terlipat
Output
Tekanan dalam pipa
Diameter pipa
Stroke
menit

: -20 s.d +40


: 16-58
: 13-53
: 8-42
: 4.1-15.4
: 48-154
: 71-130
: 200x1400 280x2100
: 18-34

C
m
m
m
m
m3/jam
bar
mm
per

WIKA BETON
c. Tremie

Metode pengecoran beton didalam air melalui pipa atau tabung, tremie dapat
rigid maupun fleksibel
Beton dialirkan secara gravitasional dengan mesin pengaduk beton yang
mengalirkan beton melalui bagian atas pipa atau dengan disambungkan secara
langsung melalui concrete pump
Pengecoran dengan tremie bertujuan menghasilkan penuangan menerus yang
monolitik dibawah air tanpa menyebabkan turbulensi

IV-7

Pelaksanaan

Syarat pengecoran dengan tremie:


Diameter minimum 250 mm
Penetrasi tremie sekitar 3-4 inchi atau 8-10 cm
Kadar semen minimum 7 sack tiap kubik yard/0.76 m3
Slump berkisar 6-9 in
Penuangan beton dan maneuver tremie harus dilakukan secara hatihati
Pengantaran/ pengangkutan beton harus tiba ditempat tujuan dalam
jumlah yang cukup dan tepat waktu

d. Placing Boom

Berupa tower yang terdiri dari substruktur turbular, kolom vertikal dan
boom/lengan yang dapat mengeluarkan aliran beton segar ke formwork
struktur
Adanya instalasi alat untuk climbing dengan sistem hidrolis yang
dioperasikan dengan kabel remote control
Placing boom dapat ditambah tingginya seiring dengan naiknya struktur
bangunan dan dapat berdiri hingga 100 ft (30.48 m) tanpa diikat pada
apapun
Pergerakan angular pada boom joint-nya besar, sehingga dapat
menjangkau berbagai lokasi yang relatif luas
Diperlukan 40 ft container untuk pengangkutan boom

WIKA BETON

Spesifikasi rata-rata alat:


Jangkauan horizontal
Berat alat
Jumlah section dalam satu lengan

: 16-50
: 4050-9650
: 4-5

m
kg
buah

IV-8

Pelaksanaan

e.

Internal Vibrator

Pemilihan vibrator agar menghasilkan beton berkualitas adalah:


Pilihlah vibrator terbesar dari kelasnya yang sesuai untuk jenis pekerjaan
Hal penting yang perlu diperhatikan: udara terperangkap bergerak keatas
dalam campuran mulai 1-3 inch per detik (1 inch, pada nilai slump 0, 3
inch pada nilai slump 4-5 inch)

Spesifikasi umum rata-rata dari beberapa vibrator, antara lain:


Diameter head
: 38-65
Panjang vibrator
: 345-490
Berat
: 2.2-9.2
Protective hose
: 4-5
Berat pengoperasian
: 10.5-22.5
Diameter pemadatan efektif
(tergantung konsistensi beton)
: 50-120
Getaran
: 11000-14000

mm
mm
kg
m
kg
cm
VPM

Lihat juga Bab VI Pengetahuan Beton Pracetak, Subbab Pemadatan. Pada Bab
tersebut diuraikan beberapa macam peralatan pemadatan yang dipakai pada
produksi beton pracetak, seperti: meja getar dan external vibrator.

WIKA BETON
dari radius penggetaran

Benar

Salah

Internal Vibrator dengan Generator

IV-9

Pelaksanaan

Vibrator tanpa Generator

4.5 PENGECORAN
Cara pengecoran dan pemadatan yang baik, akan menghasilkan ikatan yang
kuat antara pasta semen dan agregat serta akan mengisi bekisting secara
sempurna. Kedua faktor tersebut diatas berperan penting dalam memberikan
kekuatan dan tampilan terbaik pada beton yang dihasilkan.

WIKA BETON
Beton yang Tidak Boleh Digunakan
a. Beton yang telah mengeras sebagian/terkontaminasi bahan lain.
b. Beton yang ditambah air lagi atau beton yang telah dicampur ulang
setelah pengikatan awal, kecuali bila disetujui pengawas lapangan.

Pedoman Umum
a. Kontrol temperature-Jika memungkinkan, hindari pengecoran pada
cuaca yang panas, kering dengan kelembapan rendah atau cuaca
yang terlalu dingin dan berangin keras. Jika cuaca diprediksi akan
panas, kering atau berangin, maka subgrade/bekisting tempat beton
akan diletakkan harus dibasahi agar lembab.
Pastikan setiap langkah pekerjaan telah dipersiapkan dengan baik,
karena pada kondisi cuaca seperti diatas, tidak tersedia banyak waktu
untuk pengecoran, pemadatan, finishing dan perawatan beton.

IV-10

Pelaksanaan

b. Segregasi-Beton harus dicor sedekat mungkin pada posisi akhirnya


untuk menghindari terjadinya segregasi akibat penanganan kembali
atau akibat pengaliran.
c. Kontinu-Setelah dimulainya pengecoran, maka pengecoran tersebut
harus dilakukan secara menerus hingga mengisi secara penuh panel
atau penampang sampai batasnya atau sambungan yang ditetapkan
dan hindarkan terjadinya cold-joint.
d. Kontrol posisi-Kecepatan pengecoran harus sedemikian hingga agar
beton tetap dalam keadaan plastis dan dengan mudah dapat mengisi
ruang diantara tulangan, seluruh celah dan masuk hingga ke sudut
cetakan tetapi tidak menimbulkan pergerakan besi, bekisting serta
embedded material.
e. Kecepatan pengecoran-Untuk menghindari tekanan yang berlebihan
pada bekisting pada proyek-proyek besar, kecepatan pengecoran tidak
lebih dari 1,2 m vertikal tiap jamnya kecuali untuk kolom. Untuk
mencegah retak-retak, interval antara pengecoran slab, balok, dan
girder dengan pengecoran kolom dan dinding yang mendukungnya
minimal 4 jam, tetapi yang terbaik adalah 24 jam.

WIKA BETON
Cold-joint

f.

Siar Pelaksanaan-Jika diperlukan siar pelaksanaan, maka sambungan


harus dibuat sesuai Subbab 8.4 SNI 03-2847-2002

g. Pengecoran berlapis-setiap lapisnya dibatasi maksimal setebal 50 cm


dengan satu kali operasi (ketebalannya tergantung dari tipe konstruksi,
ukuran bekisting dan jumlah tulangan) dan harus dipadatkan terlebih
dahulu sebelum pengecoran lapisan selanjutnya untuk mencegah
terjadinya lubang-lubang (sarang lebah). Lapisan selanjutnya segera
harus dituang sebelum lapisan sebelumnya mengalami pengikatan
awal.

IV-11

Pelaksanaan

Hindarkan terjadinya over vibrate saat pemadatan lapisan, karena akan


menyebabkan segregasi dan permukaan yang lemah.
h. Tinggi jatuh maksimum-Jika menggunakan concrete pump, pengecoran
langsung dari mixer truck, menggunakan cerobong ataupun kereta
dorong, pastikan bahwa beton segar dituang secara vertikal dengan
ketinggian maksimum pengecoran adalah 1,5 m untuk mencegah
terjadinya lubang-lubang pada beton yang dihasilkan.

Teknik Pengecoran (lihat Gambar 4.1)

WIKA BETON

a. Pengecoran dinding
o Pengecoran dimulai dari ujung bergerak ke tengah untuk mencegah
air berkumpul pada sudut dan tepi bekisting.
o Berikan kelebihan cor setinggi sekitar 5 cm dari bekisting dan
pindahkan kelebihan tersebut sebelum beton mengeras agar didapat
permukaan yang rata dan bersih.
o Sebelum pengecoran selanjutnya, berikan lapisan mortar seperti pada
poin 4.3.h
b. Site datar
o Pengecoran dimulai dari sudut bekisting paling jauh dan bergerak ke
arah suplai beton, dimana beton dicampur atau dikirim (mixer truck).
o Jangan mengecor pada titik-titik yang berbeda dan mengeruk titik-titik
tersebut secara horisontal untuk meratakan dan menggabungkan agar
mengisi bekisting pada posisi akhirnya, hal ini dapat menyebabkan
segregasi.
c.

Site miring/dengan slope tertentu


o Pengecoran dimulai dari titik terendah, bergerak naik ke arah yang
lebih tinggi sehingga berat beton cor-coran di titik yang lebih tinggi
akan memadatkan beton yang telah dicor sebelumnya. Penggunaan
campuran yang lebih kental lebih dianjurkan.
o Jika area pengecoran luas dan kemiringannya curam serta akses
terbatas, concrete pump adalah solusi paling praktis untuk
menghemat waktu, energi dan kenyamanan

IV-12

Pelaksanaan

Benar
Salah
2. Pengecoran Beton pada Bagian Atas
Bekisting Dinding

WIKA BETON
Benar
Salah
1. Pengecoran Beton pada Bagian Bawah
Bekisting Dinding

Benar
Salah
3. Pengecoran Beton pada Site Datar

Benar
Salah
4. Pengecoran Beton pada Site Miring

Gambar 4.1 Teknik Pengecoran

IV-13

Pelaksanaan

Pengecoran pada temperatur udara tinggi:


Jika temperatur harian >35o Celcius , maka diusahakan pengecoran
dilakukan pada malam hari, atau dilakukan upaya khusus pada proses
pencampuran, seperti :
z Pendinginan material dengan siraman air
z Melindungi semua material dan lokasi pengecoran dari sinar matahari,
misalnya dengan menggunakan tenda
z Mengecat tangki penyimpan air dengan warna putih (tidak menyerap
panas)
z Mendinginkan air pencampur beton, atau mencampur dengan es atau
air chiller
z Menyemprot acuan/bekisting dengan air
z Melindungi beton selama pengangkutan dan pengecoran terhadap sinar
matahari

WIKA BETON

IV-14

Pelaksanaan

4.6 PEMADATAN/COMPACTING
Pemadatan dilakukan pada semua pembetonan kecuali beton yang
dicor didalam air. Pemadatan mengeliminasi lubang-lubang dan
membuat agregat halus mengisi cetakan dan membentuk permukaan
yang halus, sehingga beton dapat mencapai kekuatannya,
durabilitasnya dan homogenitasnya.

Kapan Pemadatan Dapat Dimulai?


Segera setelah beton dituangkan dan beton masih dalam kondisi plastis
(workable)

Pedoman Umum
a.

Pemadatan dapat dilakukan secara manual (menggunakan sekop,


tongkat atau tamper) maupun mekanis (menggunakan vibrator), tapi
yang terbaik adalah secara mekanis. Peralatan pemadatan harus
dapat mencapai dasar cetakan dan cukup kecil agar dapat masuk
ke celah-celah tulangan.

b.

Pemadatan tidak menimbulkan pergerakan besi, bekisting dan


embedded material.

c.

Pemadatan tidak boleh menimbulkan ruang kosong akibat gaya


gravitasi.

WIKA BETON

Teknik Pemadatan
a.

Pemadatan manual
o Masukkan alat pemadat kedalam bekisting, pada lapisan yang
baru saja dituangkan dan beberapa inchi hingga lapisan
dibawahnya.
o Gerakkan alat pemadat hingga agregat kasar menghilang dan
masuk kedalam beton.

Ujung pipa:
sambungan
dan rata

Gambar 4.2 Pemadatan Manual

IV-15

Pelaksanaan

Hindarkan hal-hal berikut ini untuk mencegah segregasi:


o Jangan menggunakan vibrator bila adukan dapat dipadatkan dengan
mudah dengan hanya menggunakan pemadatan manual
o Jangan menggunakan vibrator untuk beton dengan nilai slump lebih dari
5 inchi.
o Jangan menggunakan vibrator untuk meratakan beton didalam bekisting
b.

Pemadatan mekanis (Internal Vibrator)


o Masukkan alat pemadat hingga kedalaman kira-kira 45 cm. Untuk
beton air entrained selama 5-10 detik dan untuk beton non-air
entrained selama 10-15 detik. Lamanya pemadatan tersebut
tergantung pada nilai slump-nya.
o Padatkan secara merata dengan membuat sejumlah kecil area
pemadatan yang overlap dan jika memungkinkan, biarkan vibrator
berdiri secara vertikal dan biarkan turun dengan sendirinya akibat
gravitasi kedalam beton.
o Vibrator tidak hanya bergerak pada lapisan yang baru saja dicor,
tetapi juga menembus hingga >10cm kedalam lapisan dibawahnya
(yang sudah terlebih dahulu dicor) untuk menjamin terbentuknya
ikatan yang baik antar lapisan.
o Pemadatan yang layak telah tercapai jika lapisan tipis mortar muncul
kepermukaan disekitar diseluruh bekisting dan agregat kasar
menghilang kedalam beton atau pasta semen mulai nampak
disekitar tongkat vibrator dan gelembung udara beton naik 30 detik.
o Tariklah vibrator secara vertikal dengan kecepatan yang sama saat
turun kedalam adukan beton secara gravitasional.

WIKA BETON
Tabel 4.2 Getaran Minimum dengan
Internal Vibrator
Diameter
> 80mm
< 80 mm

Sebelum Pemadatan

Getaran Minimal
(RPM)
8.000
12.000

Setelah Pemadatan

Gambar 4.3 Pemadatan Mekanis

IV-16

Pelaksanaan

4.7 FINISHING
Proses finishing dilakukan untuk memperoleh permukaan beton dengan
efek-efek tertentu sesuai dengan yang diinginkan. Dalam kasus tertentu,
finishing dapat hanya berupa koreksi terhadap cacat permukaan, mengisi
lubang-lubang atau membersihkan permukaan. Beton yang tidak
memerlukan finishing permukaan, kadangkala hanya membutuhkan
screeding untuk memperbaiki kontur.

Macam Finishing:
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.

Screeding
Hand Tamping
Floating
Edging
Trowelling
Brooming
Grinding
Sack-Rubbed Finish
Exposed Aggregate Finish

WIKA BETON

Kapan Finishing Dapat Dimulai?

Saat beton (yang telah dipadatkan sebelumnya) dapat menyangga beban


satu orang yang berdiri diatasnya dengan hanya meninggalkan sedikit
bekas pada permukaannya.

a. SCREEDING
Dilakukan untuk memperoleh elevasi/ketinggian yang diinginkan pada
pengecoran slab, trotoar atau jalan.
a.

Screeding Manual
Menggunakan sebuah alat yang disebut screed, dengan bagian
bawah alat datar dan rata untuk menghasilkan permukaan yang
rata atau lengkung untuk menghasilkan permukaan lengkung.
Teknik sceed yang baik:
o Gerakkan screed maju dan mundur melintang dipermukaan
beton seperti gerakan menggergaji
o Dalam satu gerakan, gerakkan screed maju sekitar 1 inchi
disepanjang bekisting
o Jika screed mencongkel permukaan beton, (yang mungkin
terjadi pada beton air entrained karena sifatnya yang lengket)
kurangilah kecepatan maju screeding atau lapisi bagian bawah
screed dengan logam
o Lakukan kembali screeding untuk kedua kali untuk membuang
permukaan beton yang bergelombang akibat screeding
sebelumnya

IV-17

Pelaksanaan

Screeding yang optimal dilakukan oleh 3 orang (tidak termasuk


operator vibrator), dua dari pekerja mengoperasikan screed
sedangkan pekerja ketiga membuang kelebihan beton dari bagian
depan screed. Kecepatan screeding yang dihasilkan dengan cara
ini adalah 200 ft2/jam
b.

Screeding Mekanis
Umumnya digunakan untuk pekerjaan perkerasan jalan raya, dek
jembatan dan slab. Alat ini memiliki vibrator dan dapat digunakan
untuk beton kuat tekan tinggi dan memiliki nilai slump rendah.
Keuntungan menggunakan screeding mekanis ini adalah
menghasilkan beton yang kuat dengan kepadatan yang lebih besar,
finishing yang lebih rapi, mengurangi perawatan (mengeliminasi
perlunya floating dan hand tamping) dan menghemat waktu dengan
kecepatan operasi yang tinggi. Alat ini terdiri dari beam dan mesin
berbahan bakar bensin, atau motor listrik dan penggetar mekanis
yang dipasang ditengah beam. Kebanyakan alat jenis ini cukup
berat, maka dilengkapi dengan roda untuk membantu
memindahkan, tetapi terdapat pula screed mekanis yang ringan dan
dapat diangkat oleh dua orang pekerja. Kecepatan mengoperasikan
tergantung secara langsung oleh nilai slump, makin besar nilai
slump adukan, makin besar kecepatannya.Teknik screeding
dengan alat ini adalah:
o Tidak boleh ada gerakan menyilang dari beam
o Tuangkan beton pada jarak 4-6 m didepan screed dan pastikan
beton yang cukup telah siap didepan screed dengan ketinggian
dibawah screed beam
o Screed kemudian dioperasikan oleh dua pekerja pada kedua
ujungnya
o Jika pada permukaan beton muncul rongga atau lubang setelah
screed melewati lapisan itu, maka lubang tersebut harus segera
diisi dengan beton segar dan screed kemudian diangkat dan
dipindahkan kebelakang untuk pass kedua kali

WIKA BETON

IV-18

Pelaksanaan

Gambar 4.4 Alat Screed Mekanis


Bila saat screeding, terjadi bleeding, jangan menggunakan
pasir/semen untuk menyerap kelebihan air akibat bleeding karena
akan melemahkan permukaan yang telah mengeras, pindahkan
genangan air dengan menarik pipa selang diatas permukaan beton
atau saat mix desain gunakan bahan aditif air entraining.

b. HAND TAMPING

WIKA BETON

Dilakukan setelah screeding. Digunakan untuk memadatkan beton


menjadi sebuah massa yang padat dan membuat agregat kasar
dengan ukuran partikel besar turun kebawah permukaan, sehingga
memungkinkan finishing permukaan dapat dilakukan sesuai
keinginan. Alat ini hanya digunakan untuk beton dengan nilai
slump rendah. Setelah hand tamping dilakukan, dapat langsung
dilanjutkan dengan floating.

Dapat digunakan untuk:


Pinggiran kolam, driveways, patio, entry dan courtyard

IV-19

Pelaksanaan

Gambar 4.5 Alat Hand Tamping

c. FLOATING
Jika menginginkan permukaan beton yang lebih halus daripada yang
diperoleh dengan screeding, maka permukaan harus dihaluskan dengan
raskam (float) kayu atau aluminium magnesium. Setelah beton sebagian
mengeras, floating dapat dilakukan untuk kedua kalinya agar didapat
permukaan yang lebih halus.

WIKA BETON

Kapan Floating Dapat Dilakukan?

Segera setelah kilau air menghilang dari permukaan beton,


untuk mencegah retak dan pengelupasan beton

Raskam Kayu & Magnesium

Alat Float Bertangkai

Gambar 4.6 Floating

IV-20

Pelaksanaan

Hindarkan floating yang berlebihan pada beton yang masih plastis, karena
akan membuat air dan pasta semen yang berlebihan naik ke permukaan
karena material ini membentuk lapisan tipis yang akan cepat aus dan
mengelupas saat penggunaan.

d. EDGING
Semua tepi dari slab yang tidak berbatasan dengan struktur lainnya
harus dihaluskan dengan sebuah edger. Alat ini membuat bagian tepi
beton menjadi lengkung dan tidak tajam. Proses ini membuat beton
lebih rapi dan mencegah pecahnya tepi beton.

WIKA BETON
Gambar 4.7 Edger

Kapan Edging Dapat Dilakukan?


Dimulai saat kilau air mulai menghilang dari permukaan.

e. TROWELLING
Trowelling dimulai setelah kilau air menghilang dari permukaan beton
setelah proses floating dan beton telah cukup keras.
Trowelling yang terlalu awal cenderung mengurangi keawetan beton,
sebaliknya, trowelling yang tertunda mengakibatkan permukaan terlalu
keras untuk dapat dikerjakan dengan baik.
Titik-titik air harus dihindari, jika titik-titik air muncul, pekerjaan finishing
tidak boleh dilanjutkan hingga air terserap lebih dulu, menguap atau
dibersihkan.

IV-21

Pelaksanaan

a.

Trowel Baja
o Gerakkan trowel dengan gerakan lengkung dan permukaan
trowel berhadapan secara datar dengan beton
o Lakukan trowelling untuk kedua kalinya setelah beton cukup
keras sehingga tidak ada mortar yang menempel pada trowel
dan suara berdering dihasilkan saat trowel melewati permukaan
beton
o Pada trowelling yang kedua kali, trowel harus sedikit dimiringkan
sedikit dan gunakan tekanan yang kuat untuk beton yang sudah
padat sepenuhnya

WIKA BETON
Gambar 4.8 Trowel Baja

b.

Trowel Mekanis
Digunakan untuk flat slab dengan kekakuan yang konsisten. Alat ini
dilengkapi dengan seperangkat float blade diantara steel blade-nya,
jadi floating dapat sekaligus dilakukan. Beton harus diatur sedemikian
rupa agar dapat menahan berat mesin dan operator. Meskipun
operasi alat ini lebih cepat daripada proses manual, tetapi tidak
semua tipe konstruksi dapat menggunakannya dan harus mengacu
pada pedoman operasi dan perawatan alat yang dibuat oleh
pabriknya.

IV-22

Pelaksanaan

f. BROOMING
Permukaan yang tidak licin pada beberapa lantai dan trotoar dapat
diperoleh dengan proses ini sebelum beton mengeras sepenuhnya.
Dilakukan setelah floating.

Hasil Brooming Motif Geometris

Hasil Brooming Motif Persegi

Untuk menciptakan pola lengkung, berombak, herringbone


bahkan lingkaran

WIKA BETON

o Jika tidak menginginkan alur yang besar, dapat menggunakan


sikat halus setelah satu kali trowelling
o Jika alur yang besar/kasar diinginkan, dapat menggunakan sapu
kaku yang terbuat dari kawat baja/serat kasar.
o Untuk lantai beton jalan (parkiran misalnya), arah alur yang
dihasilkan harus pada sudut yang benar terhadap arah lalu lintas

Hasil Brooming motif Lengkung

IV-23

Pelaksanaan

g. GRINDING
Bila proses ini diinginkan untuk lantai beton, harus dimulai setelah
permukaan mengeras secara cukup untuk mencegah tercabutnya
partikel agregat.
o
o

Selama proses grinding, lantai harus tetap basah dan dilanjutkan


dengan menyikat dan membilas dengan air
Setelah permukaan selesai dikerjakan, lubang-lubang dan cacat
ditutup dengan grouting encer berupa campuran satu bagian graincarborundum grit no. 80 dan satu bagian portland semen. Bahan ini
diratakan di permukaan dan diratakan pada lubang-lubang itu
dengan sendok semen. Kemudian digosok-gosokkan ke permukaan
beton dengan mesin grinding. Saat beton grouting telah mengeras
selama 17 hari, beton di-grinding untuk kedua kalinya agar lapisan
yang tidak diinginkan hilang dan memberikan sentuhan akhir.
Material yang tersisa diatas beton kemudian dibuang dengan
penyiraman air secara keseluruhan.

h. SACK RUBBED FINISHING


(untuk Lantai Beton)

WIKA BETON

Finishing dengan cara ini kadang diperlukan jika penampilan lantai beton
yang terbentuk jauh dari yang diharapkan. Dilakukan setelah perbaikanperbaikan dan perbaikan cacat-cacat mayor telah terselesaikan. Jika
menggunakan cetakan atau bekisting dari plywood, polyfilm atau cetakan
lain yang sudah membentuk permukaan beton agar halus, maka tidak
perlu dilakukan rubbing lagi.
o Rubbing yang pertama dilakukan dengan agregat kasar batu
Carborundum segera setelah beton mengeras sehingga agregat tidak
akan tertarik keluar
o Beton kemudian dirawat hingga rubbing akhir dilakukan
o Batu Carborundum yang lebih halus kemudian digunakan untuk rubbing
akhir
o Beton harus tetap lembab saat proses rubbing dilakukan
o Mortar yang digunakan dalam proses ini dan tertinggal dipermukaan
harus tetap dijaga kelembapannya hingga 1-2 hari setelah beton
disiapkan untuk dirawat
o Lapisan mortar harus tetap pada ketebalan minimumnya untuk
menghindari kemungkinan mengelupas dan mengotori tampilan
permukaan beton.

IV-24

Pelaksanaan

i. EXPOSED AGGREGATE FINISHING


Finishing yang berupa agregat yang diekspos menghasilkan permukaan
yang tidak licin dan biasanya digunakan untuk keperluan arsitektural

Biarkan beton hingga cukup keras agar dapat mendukung material


finishing
Agregat diekspos dengan cara menambahkan retarder diatas
permukaan beton lalu permukaan beton tersebut disikat dan dibilas
dengan air

WIKA BETON

Karena timing yang tepat sangat penting, buatlah beberapa pengujian


untuk menentukan waktu yang tepat untuk mengekspos agregat

4.7 PERAWATAN
Merawat kelembapan yang cukup didalam beton untuk jangka waktu
tertentu selama umur awalnya agar kekuatannya dapat dicapai secara
perlahan-lahan namun efektif.

Gambar 4.9 Perbandingan Kekuatan Beton (Dipelihara dan Tidak)

IV-25

Pelaksanaan

Dengan curing, kekuatan beton pada 28 hari dapat mencapai 4000 psi
sedangkan beton yang tidak mengalami curing hanya mencapai kekuatan
tidak lebih dari 2000 psi (www.kuhlman-corp.com).

Lamanya waktu perawatan beton tergantung dari tipe semen yang


digunakan, proporsi campuran, kekuatan yang direncanakan, ukuran dan
bentuk massa beton, cuaca dan kondisi lingkungan. Slab dan dek jembatan
yang terekspos terhadap cuaca dan serangan kimia biasanya
membutuhkan waktu perawatan yang lebih lama. Gambar 4.9 menunjukkan
bagaimana perawatan mempengaruhi kuat tekan beton.

Keuntungan
a. Kekuatan yang dihasilkan lebih besar dari beton yang tidak dirawat
b. Sifat porousnya akan lebih kecil daripada beton yang tidak dirawat,
sehingga lebih tahan terhadap penetrasi air dan garam.
c. Lebih awet terhadap retak dan pengelupasan.

WIKA BETON
Curing Concrete Slab Menggunakan Karung Goni
Basah

IV-26

Pelaksanaan

Gambar 4.10 Perawatan dengan Karung Goni yang Dibasahi

WIKA BETON

Gambar 4.11 Perawatan dengan Lapisan Waterproof

Metode Dasar Curing


a. Metode yang memberikan kelembapan tambahan
Cara perawatan yang termasuk dalam metode ini adalah:
o Penyiraman
o Penutupan dengan penutup yang dibasahi, seperti: jerami, tanah,
karung goni, cotton mat dan bahan penahan kelembapan lainnya
Kedua metode ini memberikan tambahan kelembapan selama
pengerasan awal beton dan mendinginkan melalui melalui penguapan
yang sangat penting untuk pengecoran saat cuaca panas. Perawatan
beton yang paling baik adalah dengan menyiram beton secara kontinu
sedangkan membungkus permukaan dengan penutup yang basah
adalah yang paling banyak digunakan. Caranya:
o Bungkuslah beton dengan penutup yang dibasahi sesegera mungkin
setelah beton cukup keras untuk mencegah rusaknya permukaan
o Biarkan dan jagalah kelembapannya selama masa perawatan
o Jika memungkinkan untuk membanjirinya dengan air dapat dilakukan
dengan membuat tanggul dari tanah disekeliling beton atau
merendam beton secara keseluruhan didalam air.
Cara ini dapat dilihat pada Gambar 4.10

IV-27

Pelaksanaan

b. Metode yang mencegah hilangnya kelembapan/surface sealing


Metode ini terdiri dari beberapa cara:
o Melapisi dengan lapisan waterproof/plastik film, dapat digunakan
untuk merawat beton struktural dan permukaan horisontal yang
memiliki bentuk relatif sederhana. Lapisan yang digunakan harus
cukup besar untuk menutup permukaan dan tepi-tepi beton.
Caranya:
Basahi permukaan sebelum ditutup dengan semprotan air yang
halus
Bebanilah tepi-tepi bagian bawah lapisan untuk menutup secara
keseluruhan
Biarkan di tempat selama masa perawatan
Bagaimanapun juga, beberapa jenis lapisan tipis ini dapat
menghitamkan beton yang telah mengeras, terutama jika permukaan
di-finishing menggunakan trowel baja.
o Melapisi dengan bahan cair pembentuk membran (liquid membran
forming compounds)
Sesuai tidak hanya untuk perawatan beton segar tetapi juga untuk
perawatan beton setelah pelepasan cetakan. Cara pemberian
lapisan ini adalah dengan menggunakan sprayer, atau
menggunakan kuas pada beton yang telah mengeras tetapi jangan
menggunakan kuas pada beton yang belum mengeras karena akan
merusakkan permukaan, membuat beton rentan terhadap penetrasi
bahan pelapis tersebut dan membuat lapisan tidak menyelubungi
beton secara menyeluruh. Jika selama 3 jam awal pemberian
lapisan ini terjadi hujan deras di lapangan, permukaan harus
disemprot kembali. Perawatan dengan cara ini dapat melindungi
beton untuk jangka waktu yang lama bahkan saat beton sudah
digunakan.
Karena curing compound ini dapat mencegah terbentuknya ikatan
antara beton keras dan beton segar, maka jangan digunakan jika
ingin ikatan tersebut terbentuk.

WIKA BETON

IV-28

Pelaksanaan

Tabel 4.3 Metode Curing


Metode
Keuntungan
Penyiraman air Hasil yang sempurna jika
atau penutupan dapat
menjaga
dengan
goni pengairan
secara
basah
konstan
Penutupan
dengan jerami
Moist
earth/ditutup
dengan
tanah
basah
Dibiarkan
saja
pada permukaan
yang datar
Curing
compound

Berperan
sebagai
insulator saat
musim
dingin
Murah tapi berantakan
dan kotor
Hasil yang sempurna,
menjaga
suhu
yang
seragam
Mudah dan murah

Kerugian
Memungkinkan
mengering saat jeda
penyiraman,
kesulitan
penerapan pada dinding
vertikal, volume air yang
dibutuhkan besar
Dapat
mengering,
terbang tertiup angin
atau terbakar
Meninggalkan
noda
pada
beton, dapat
mengering dan kesulitan
pembersihan
Tidak bisa dilakukan
pada cuaca yang dingin
atau terlalu panas
Penutupan yang tidak
sempuna menyebabkan
pengeringan, film dapat
sobek
maupun
meninggalkan
noda
sebelum
proses
perawatan selesai dan
dapat
menyebabkan
suhu didalam beton
menjadi terlalu panas
Mahal,
harus
tetap
dalam bentuk gulungan
dan
permasalahan
penyimpanan
serta
pemakaian
Harus
diberi
warna
untuk
perlindungan
panas,
memerlukan
perawatan khusus, jika
sobek harus ditambal
dan
harus
dibebani
untuk mencegah agar
tidak tertiup angin

WIKA BETON
Lapisan
Waterproof

Perlindungan sempurna
dan
mencegah
pengeringan

Plastik film

Kedap
air
absolut,
perlindungan sempurna,
ringan
dan
mudah
dipakai
baik
pada
struktur dengan bentuk
sederhana maupun rumit

IV-29

Pelaksanaan

Bahkan dalam kasus-kasus tertentu (misal: keadaan lingkungan yang tidak


menguntungkan, tuntutan waktu, dll), beberapa metode diatas dapat
digabungkan menjadi satu untuk memperoleh efektifitas yang lebih tinggi.
Sebagai contoh: Proyek WIKA di PLTU Cilacap, beton dirawat menggunakan
tiga lapisan. Lapisan pertama adalah plastik, kemudian dilapisi styrofoam dan
terakhir ditutup dengan pasir basah. (lihat gambar dibawah ini)

WIKA BETON

Pedoman Umum Curing Beton

a. Beton (selain beton kuat awal tinggi) harus dirawat pada suhu diatas 10
o
C dan dalam kondisi lembab untuk sekurang-kurangnya 7 hari setelah
pengecoran kecuali jika dirawat sesuai Poin c.
b. Beton kuat awal tinggi harus dirawat pada suhu diatas 10 oC dan dalam
kondisi lembab untuk sekurang-kurangnya selama 3 hari pertama kecuali
jika dirawat sesuai Poin c.
c. Perawatan dipercepat
o Percepatan waktu perawatan harus memberikan kuat tekan beton
pada tahap pembebanan yang ditinjau sekurang-kurangnya sama
dengan kuat rencana perlu pada tahap pembebanan tersebut.
o Proses perawatan harus sedemikian hingga agar beton yang
dihasilkan mempunyai tingkat keawetan paling tidak sama dengan
yang dihasilkan dengan metode perawatan pada Poin a dan b.
o Bila diperlukan pengawas lapangan, dapat dilakukan penambahan uji
kuat tekan beton dengan merawat benda uji di lapangan sesuai
dengan Subbab 7.6(4) SK SNI 03-2847-2002 untuk menjamin bahwa
proses perawatan yang dilakukan telah memenuhi persyaratan

IV-30

Pelaksanaan

4.8 EVALUASI & PENGENDALIAN MUTU


BETON
Tujuan: mengontrol tingkat kekuatan & variabilitas mutu beton yg
dihasilkan dari suatu produksi beton dalam periode tertentu secara rutin

Rencana
Modifikasi atas
perencanaan

Membandingkan
Dengan rencana

Melaksanakan
tindakan perbaikan

Pelaksanaan

WIKA BETON
PENGUJIAN
Selama proses

Gambar 4.12 Diagram Proses Pengendalian

Variabilitas:
suatu besaran yang menyatakan rata-rata penyimpangan mutu beton
dari sejumlah benda uji (data test) dibandingkan dengan rata-rata mutu
beton yang bisa dicapai dan dinyatakan sebagai DEVIASI (lihat
Gambar 4.13)
Hal-hal yang menyebabkan deviasi adalah perbedaan-perbedaan pada:
z Karakteristik masing-masing bahan dasar
z Praktek penimbangan, proporsi campuran, pembuatan benda uji,
peralatan pengadukan, pengadukan, pengangkutan, penuangan, dan
perawatan
z Pembuatan, pengujian, dan perlakuan terhadap benda uji
Deviasi tinggi menunjukkan kurangnya tingkat pengendalian kualitas
material, pelaksanaan pekerjaan dan pengujian

IV-31

Pelaksanaan

Gambar 4.13 Variabilitas

a. PENGUJIAN KUALITAS BETON

WIKA BETON

Pengujian beton segar:


1. Konsistensi
2. Kadar udara

Pengujian beton keras:


1. Destruktif
a. uji kuat tekan
b. uji lentur
c. uji tarik
2. Non-destruktif
a. hammer test
b. uji beban langsung
c. pulse velocity crack recorder (UPV = Ultrasonic Pulse
Velocity)

IV-32

Pelaksanaan

Benda uji yang dipakai untuk penentuan kuat tekan beton menurut PBI
1971 adalah benda uji kubus bersisi 15 cm ( 0.06 ) cm pada umur 28 hari.
Sedangkan pemakaian benda uji kubus bersisi 20 MENURUT PB 89 :
Menurut PB89 benda uji yang disyaratkan untuk pengujian mutu beton
adalah benda uji silinder dengan ukuran 15 x 30 cm, sedangkan pemakaian
benda uji kubus ukuran 15 x 15 x 15 cm masih diperkenankan dengan
korelasi tegangan yang dihasilkan adalah :

WIKA BETON

fc = { 0,76 + 0,2 log ( fck/15) } fck

dimana : fc = kuat tekan beton yang disyaratkan, MPa


fck = kuat tekan beton, MPa didapat dari benda uji kubus dengan
sisi 150 mm = 15 cm
contoh : untuk benda uji kubus dengan mutu 500 kg/cm2, akan sama
dengan mutu 432 kg/cm2
( benda uji silinder )

BENTUK DAN UKURAN BENDA UJI


cm atau dengan benda uji silinder dengan diameter 15 cm dan tinggi 30 cm,
diperkenankan dengan korelasi tegangan yang dihasilkan adalah :
Tabel 4.4 Perbandingan Kuat Tekan Beton Uji
Benda uji
Perbandingan kekuatan tekan
Kubus 15 x 15 x 15 cm
1,00
Kubus 20 x 20 x 20 cm
0,95
Silinder 15 x 30 cm
0,83
contoh : untuk benda uji kubus dengan mutu 500 kg/cm2, akan sama
dengan mutu 415 kg/cm2
( benda uji silinder )

IV-33

Pelaksanaan

MENURUT PBI 1971 :


SAMPLING BENDA UJI
Untuk mendapatkan hasil pengujian kuat tekan beton maka ditentukan
jumlah benda uji ( sampling ) yang bisa mewakili.
Jumlah benda uji ( sesuai PBI 1971 ) yang dianggap bisa mewakili untuk
memberikan hasil pengujian kuat tekan beton dapat dilihat pada table berikut:
Tabel 4.5 Sampling Benda Uji
No.
1

Volume
Beton
Lebih dari
atau sama
dengan 60
m3

Jumlah Benda Uji

Catatan

Untuk masing-masing mutu beton Pada saat permulaan


harus dibuat 1 buah benda uji
proyek
setiap 5 m3 beton
( 1 buah / 5 m3 / mutu beton )
Untuk waktu selanjutnya
maka masing-masing
mutu beton harus dibuat
1 buah benda uji setiap
5 m3 beton dengan
minimum 1 benda uji
tiap hari
( 1 buah / 5 m3 / mutu
beton / hari )

WIKA BETON
2

Kurang dari
60 m3

Minimal harus terkumpul 20 buah


benda uji per mutu beton s/d
proyek selesai
Bila benda uji kurang dari 20
buah, maka sesuaikan nilai k

Unutk keperluan
evaluasi mutu beton
Evaluasi sesuai pasal
sub bab 1.d.

Jumlah benda uji untuk setiap sampling disesuaikan dengan spesifikasi atau
persyaratan dalam kontrak atau kebutuhan tertentu terkait untuk tahapan waktu
pengujian (7 hari, 14 hari, 21 hari, 28 hari atau 56 hari)

Disarankan untuk mempunyai cadangan benda uji yang dapat dimanfaatkan


untuk pengujian pada umur 56 hari, apabila ditemui kejadian pada pengujian
umur 28 hari tidak memenuhi syarat

IV-34

Pelaksanaan

TESTING / PENGUJIAN ASTM C-39


- Pengujian kuat tekan beton harus dilakukan dengan menggunakan mesin
yang mempunyai kapasitas beban cukup serta mempunyai rangka yang
kaku. Disamping itu mesin uji tekan juga harus dalam kondisi terkalibrasi.
- Kedua sisi permukaan benda uji harus dalam kondisi rata. Bila tidak rata,
harus dilakukan chipping dengan material mortar semen atau belerang.
- Kecepatan penekanan diatur pada posisi 20 50 psi/s ( 0.14 to 0.34
MPa/detik ).
- Benda uji harus ditekan sampai pecah ( failure ) bukan sampai kualitas
tertentu.
- Nilai kuat tekan benda uji adalah :
fc ( b ) = P / A
dimana :
fc ( b )
P
A

= nilai kuat tekan benda uji


= beban yang dapat dipikul hingga runtuh
= luas penampang yang menerima beban

- Catat bentuk keruntuhan benda uji :

WIKA BETON
cone

cone & split

cone & shear

shear

columnar

catatan : hasil pelaksanaan yang benar adalah bentuk cone. Bentuk selain
itu mengindikasikan ada penyimpangan pada benda uji atau mesin tekannya
EVALUASI HASIL UJI TEKAN
1. BERDASARKAN PBI 1971 :
a. Jumlah benda uji kubus minimal 20 buah
b. bk bm k.SD, dimana nilai k = 1,68 untuk jumlah benda uji kubus 20
buah dengan prosentase kegagalan 5%
dimana :
bk = kuat tekan beton karakteristik yang disyaratkan
bm = kuat tekan beton rata-rata yang dicapai
k = faktor pengali deviasi, sangat tergantung kepada jumah benda uji
dan tingkat kepercayaan
SD = standar deviasi yang terjadi dari sekumpulan hasil tes benda uji
pada umur dan periode tertentu.

IV-35

Pelaksanaan

SD =

(bm - b )
n-1

Dimana :
n
b

= jumlah benda uji


= nilai kuat tekan masing-masing benda uji

c. Jumlah benda uji dengan nilai kuat tekan ( b ) < bk maksimum 1 buah
d. Nilai rata-rata dari 4 buah benda uji berurutan bk + 0,82.SD
e. bmax - bmin dari 4 buah benda uji berturut-turut kurang dari 4.3 SD
BERDASARKAN PB 1989 / ACI 318 / ASTM C-39 :
- Benda uji direkomendasikan berbentuk silinder 15 x 30 cm
- Satu data terdiri dari nilai rata-rata 2 buah benda uji silinder
- Nilai rata-rata dari 3 buah data yang berurutan tidak boleh lebih kecil dari fc
fc fc - 500 Psi

WIKA BETON

b. LANGKAH PEMERIKSAAN MUTU BETON DI LAPANGAN


MUTU BETON < bk
CHECK MUTU PRODUK
DENGAN HAMMER

Yes

OK

b > 80% bk

Check mutu produk dengan core drill

Yes

(bila memungkinkan)
No
Ditentukan bersama dengan konsultan, misal:
- Uji Beban Langsung
Gambar 4.14 Diagram Pemeriksaan Mutu Beton di
Lapangan

DITERIMA

IV-36

Pelaksanaan

System quality control dan program quality assurance dapat pula


dilakukan dengan bantuan perangkat lunak terpadu, seperti: CONAD
system yang dikembangkan oleh Ken W. Day, seorang ahli teknologi
beton dari Australia. Perangkat lunak ini dapat mempercepat deteksi
problem dan cara mengatasinya. CONAD system terdiri dari enam buah
paket program dan fungsinya masing-masing adalah:
a. QUSUM QC
o Dapat mendeteksi problem dengan lebih cepat berdasarkan hasil
tes kuat tekan beton pada umur muda
o Memberikan peringatan dan informasi sebanyak mungkin mengenai
sifat perubahan yang terjadi sehingga dapat segera dicari
penyelesaiannya dan proses produksi dapat berlanjut
b. BATCH ANAL
Dapat menampilkan grafik yang komprehensif setiap error dari setiap
material dari setiap truk mixer dalam 1 hari
c. MIXTUNE MIX CONTROL
Dapat menunjukkan dengan tepat sifat material apa
menyebabkan perubahan performance beton dan sistem
melakukan penyesuaian proporsi campuran sedemikian hingga
performance beton kembali ke keadaan semula. Jika material
sama hendak dipakai untuk performance yang berbeda, sistem
melakukan perubahan proporsi campuran sesuai permintaan
kekuatan, slump, kohesi dan lain-lain)

WIKA BETON

yang
akan
agar
yang
akan
(baik

d. NEW QC
Mengintegrasi data-data yang disimpan dan dianalisis dengan ketiga
program diatas
e. MIXEVAL
Dapat menyeleksi campuran-campuran mana yang paling efisien untuk
dibuat
f. ERLIEST
Berdasarkan temperatur yang terekam dapat menampilkan equivalent
age specimen yang dites untuk memprediksi kuat tekan pada umur
yang dikehendaki

IV-37

Retak dan perbaikan cacat beton

WIKA BETON

V-0

Retak dan perbaikan cacat beton

5.1 RETAK/CRACK
Suatu kondisi dimana keadaan monolit dari suatu
struktur/penampang beton tidak monolit lagi

Mekanisme Terjadinya Retak:

Berdasarkan kapasitas kekuatan tarik


Berdasarkan kapasitas regangan tarik

Tiga tipe utama retak intrinsik:


a. Retak akibat early thermal contraction
b. Retak akibat long term drying shrinkage
c. Retak plastic

Tabel 5.1 Jenis dan Tipe Retak


Struktural

Kelebihan beban secara tiba-tiba


Rangkak
Beban rencana
Kerusakan akibat pembekuan
Susut plastis
Penurunan plastis

WIKA BETON

Sebelum
Pengerasan

Plastis

Pergerakan
Selama
Masa
Konstruksi
Fisik

Plastis
Sesudah
Pengerasan
Suhu

Pergerakan formwork
Pergerakan lapisan tanah dibawahnya
Aggragate yang dapat menyusut
Drying shrinkage
Crazing
Berkaratnya tulangan
Reaksi Alkali-Agregate
Cement carbonation
Siklus beku-cair
Pengaruh eksternal dari musim
Variasi suhu
Early thermal contraction:
External restraint
Perbedaan suhu internal

V-1

Retak dan perbaikan cacat beton

a. Retak Akibat Early Thermal Contraction


Timbul karena adanya perbedaan temperatur yang cukup besar antara
dua sisi penampang beton. Terjadi 1 hari s/d 2-3 minggu setelah selesai
pengecoran dan pemadatan

Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kenaikan temperature beton:

Temperatur awal material


Temperatur udara sekitar
Dimensi potongan (penampang)
Curing / perawatan
Waktu pelepasan bekisting
Bahan / jenis bekisting
Admixture
Kadar semen
Tipe semen

Faktor-faktor yang
Contraction Crack:

berpengaruh

terhadap

Early

WIKA BETON

Thermal

Type agregat
Penulangan
Terdapatnya konsentrasi tegangan yang tinggi
Tinggi pada penampang
Ada tidaknya movement joint untuk
mengakomodasi external
restraints
Perbedaan temperatur antara penampang luar beton dengan bagian
dalamnya

b. Retak Akibat Long Term Drying Shrinkage


Timbul karena penyusutan volume penampang akibat hilangnya air
campuran, baik secara kimia maupun fisika pada proses pengerasan
beton. Terjadi setelah beberapa minggu s/d beberapa bulan setelah
pengecoran

V-2

Retak dan perbaikan cacat beton

Cara Mengurangi efek drying shrinkage:

Mengurangi kadar air campuran


Menerapkan curing
Menghilangkan external restraints sedapat mungkin dengan menyediakan
movement joint

Struktur Beton Yang Retak Dapat Dikategorikan Gagal Bila :


Secara estetika tidak dapat diterima
Struktur menjadi tidak kedap air
Berpengaruh terhadap keawetan struktur
Berpengaruh terhadap kekuatan struktur

WIKA BETON

Tabel 21. Batasan Lebar Retak (ACI 224R-19)


Tabel 5.2 Batasan Lebar retak (ACI 224R-19)
Kondisi Terekspos

Lebar Retak yang


Ditoleransi (mm)

Udara kering atau


membran pelindung

0.41

Kelembapan, udara yang


lembab, tanah

0.30

Bahan kimia yang dapat


melunturkan permukaan
Air laut, penyemprotan
dengan air laut dan
kekeringan
Struktur penahan air

0.18
0.15
0.10

V-3

Retak dan perbaikan cacat beton

Batasan Retak:
Sesuai CP 110, lebar retak maksimum 0,3 mm (segi
estetika)
Sesuai BS 537, lebar retak dibatasi (segi kekedapan air):
0,1 mm untuk lokasi basah dan kering silih berganti
0,2 mm untuk lokasi lain

Kontribusi retak terhadap durability beton


Memungkinkan bahan/unsur berbahaya memasuki bagian dalam beton
sehingga terjadi reaksi yang merugikan

Lebar retak < 0,2 mm akan menjadi kedap air, kecuali :

Tekanan air yang tinggi


pH airnya terlalu rendah
Retaknya terlalu dalam dan tembus
Bila retakannya masih bertambah besar

WIKA BETON

Kontribusi retak terhadap kekuatan struktur:


Berkurangnya penampang beton yang masih mampu
menahan beban
Berkurangnya daya lekat / lekatan antara beton dan tulangan
(dalam kasus plastic settlement crack)
Berkurangnya kemampuan struktur beton secara keseluruhan
akibat reaksi berantai dari perlemahan beton dan tulangan

V-4

Retak dan perbaikan cacat beton

c. Retak Plastis
Adalah retak yang terjadi pada beton saat beton itu masih dalam
proses pengikatan (plastis) dan terjadi karena fenomena bleeding yang
berbeda. Terjadi setelah 1-8 jam setelah selesai pengecoran dan
pemadatan.
JENIS RETAK PLASTIS:

1 Plastic settlement crack


terjadi pada potongan yg tebal & dalam
2. Plastic shrinkage crack.
terjadi pada permukaan slab/lantai

BLEEDING
Naiknya air campuran beton ke permukaan saat dan segera setelah
selesai pemadatan.

WIKA BETON

FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP BLEEDING:

Kadar udara campuran

Kandungan material halus

Rate of evaporation

Kadar air campuran

Penggunaan retarder

Temperatur

Ketebalan potongan

Aci manual (part 1)

V-5

Retak dan perbaikan cacat beton

c.1 Plastic Settlement Crack


Terjadi karena adanya perbedaan tahanan penurunan material beton
antara posisi yang bebas (unrestraint) dengan posisi yang tertahan
(restraint) yang didukung oleh tingkat bleeding dan settlement yang
relatif tinggi.

Retak
plastis

Retak
plastis

Penampang
Struktur

WIKA BETON

Gambar 5.1 Contoh Plastic Settlement Crack1

Crack

surface concrete

steel
void

Gambar 5.2 Contoh Plastic Settlement Crack2

V-6

Retak dan perbaikan cacat beton

Mengurangi tingkat bleeding dan settlement:

mengurangi kadar air campuran/memperkecil slump


menambah additive :
o AEA
o Plasticizer

Mengurangi efek restraint:


Mempertebal cover
Memperkecil ukuran tulangan

retak
retak
Penampang
struktur beton

Penampang
struktur beton

WIKA BETON
Gambar 5.3 Contoh Plastic Settlement Crack3

Pencegahan terjadinya Plastic Settlement Crack:


mengurangi tingkat bleeding dan settlement
mengurangi efek restraint
menerapkan teknik re-vibration

Re-vibration:
Melaksanakan pemadatan ulang dengan cara
vibrasi/penggetaran segera setelah beton membentuk dan
masih dalam tahap setting time awal

V-7

Retak dan perbaikan cacat beton

c.2 Plastic Shrinkage Crack


Timbul karena adanya penyusutan volume pada permukaan beton
yang masih plastis akibat tingginya tingkat penguapan yang melebihi
porsi bleeding, terjadi beberapa jam s/d 1 hari setelah selesai
pengecoran dan pemadatan

400
300
200
100
0

Tensile
strain
capacity
x 10E-6

2
4
Time : hours

Shrinkage
strain
x 10E-6
swelling

3000
2000
1000
0
- 1000

8 10

7
days

Bleed

Bleeding
(mm)
SH

WIKA BETON

Gambar 5.4 Tensile Strain Capacity and Shrinkage Strain

Shrinkage crack

Permukaan beton

Shrinkage crack

Permukaan beton

Gambar 5.5 Contoh Plastic Shrinkage Crack

V-8

Retak dan perbaikan cacat beton

5.2 Perbaikan Cacat Beton


Dibawah ini diuraikan cara perbaikan cacat beton untuk
mengantisipasi kemungkinan yang terjadi, karena proses pembetonan
yang dilakukan bergantung pada banyak faktor, seperti: kecakapan
pekerja dan hal-hal yang belum diperhitungkan sebelumnya.
Pada Bagian 6 Pengenalan Self-compacting Concrete Subbab 6.6
Memperbaiki Kualitas Akhir SCC juga diuraikan tentang beberapa
cara perbaikan yang dapat dilakukan pada SCC, tetapi tidak menutup
kemungkinan untuk dilakukan juga pada beton normal.
Jenis cacat dan penanganannya:
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.

Plinth antar sambungan


Bunting akibat bekisting berubah bentuk
Keropos
Pecah kecil
Pecah besar
Udara terperangkap besar
Tali air/Udara terperangkap kecil
Retak rambut
Retak besar dan dalam

WIKA BETON

a. Plinth Antar Sambungan


o
o
o

o
o

Gerinda bagian yang mengalami plint sampai rata


Bagian yang digerinda dibersihkan dengan sikat kawat dan kuas
Buat mortar dengan campuran semen biasa dan semen putih
sesuai dengan perbandingan tertentu. Lihat Poin 5.3. Aplikasi
Acian Pewarnaan
Dilakukan acian pada bagian yang akan di-repair sampai rata
Setelah agak kering lalu dipoles dengan busa

V-9

Retak dan perbaikan cacat beton

b. Bunting Akibat Bekisting Berubah Bentuk


o Permukaan yang bunting dihilangkan dengan gerinda dan agak cekung
kedalam, kurang lebih 0.30 cm
o Dibersihkan sampai kering lalu dipoles dengan Sikadur 741
o Dikeringkan dan digerinda akhir sampai rata
o Dilakukan polesan dengan acian pewarnaan untuk mendapatkan warna
yang seragam.
o Setelah agak kering lalu dipoles dengan busa

c. Keropos
o Dibobok bagian yang keropos sampai bersih (sampai ketemu beton
yang keras)
o Dibersihkan dengan sikat dan disiram
o Pasang bekisting dengan bentuk yang dikehendaki, lalu dicor dengan
Sikagrout 215
o Dikeringkan dan digerinda supaya rata
o Dipoles dengan acian pewarnaan
o Setelah agak kering lalu dipoles dengan busa

WIKA BETON

Gambar 5.6 Perbaikan Keropos Pada Beton

V-10

Retak dan perbaikan cacat beton

d. Pecah Kecil (< 5cm dalamnya)


o
o
o
o
o
o

Dibersihkan dengan sikat dan disiram


Dipoles dengan Sikadur 741
Dilakukan acian dengan mortar sesuai komposisi
Dikeringkan dan digerinda akhir agar rata
Dipoles dengan acian pewarnaan.
Setelah agak kering lalu dipoles dengan busa

e. Pecah Besar (> 5cm dalamnya)


o
o
o
o
o
o

WIKA BETON

Dibersihkan dengan sikat dan disiram


Dipasang stek kecil dengan dibor atau di-dynabolt
Dipasang bekisting sesuai bentuknya dan dicor dengan Sikagrout
215
Dikeringkan dan digerinda akhir supaya rata
Dipoles dengan acian pewarnaan
Setelah agak kering lalu dipoles dengan busa

V-11

Retak dan perbaikan cacat beton

f. Lubang Besar Akibat Udara Terperangkap


o
o
o
o
o
o

Dilakukan penyikatan supaya permukaan kasar


Dibersihkan menggunakan kuas dan disiram lalu dikeringkan
Diolesi dengan Lem Cebond
Dipoles dengan Sikadur 741
Dikeringkan lalu dipoles dengan acian pewarnaan
Setelah agak kering lalu dipoles dengan busa/kertas semen

WIKA BETON

g. Tali Air/Lubang Kecil Akibat Udara Terperangkap


o
o
o
o
o

Permukaan yang cacat disikat dan dibersihkan


Disiram air untuk menghilangkan debunya
Buat acian pewarnaan
Dilakukan polesan untuk mendapatkan warna yang seragam
Setelah agak kering lalu dipoles dengan busa

V-12

Retak dan perbaikan cacat beton

h. Retak Rambut (lebar <0.5mm)


o
o
o
o
o

Permukaan yang retak dibersihkan


Disiram dengan air untuk menghilangkan debunya
Buat acian pewarnaan
Dilakukan polesan untuk mendapatkan warna yang seragam
Setelah agak kering lalu dipoles dengan busa

i. Retak Besar dan Dalam (lebar >0.5mm dan dalam >1cm)


o
o
o
o
o
o
o
o
o
o

Bagian yang retak digerinda sedalam 5-10 mm dengan lebar 5 cm


Bersihkan bagian tersebut hingga betul-betul bersih
Pasang plat dan pipa aluminium pada ujung retak dan direkatkan
dengan Sikadur 731
Patching bagian yang retak dan sudah digerinda dengan Sikadur 741
Tunggu sampai Sikadur 731 dan Sikadur 741 kering/kuat
Buat campuran Sikadur 752AB sesuai dengan spesifikasi/dosis
Masukkan kedalam injection pump dan dilakukan injeksi pada bagian
yang retak
Setelah kering digerinda dan di-finishing dengan acian pewarnaan
Dilakukan polesan untuk mendapatkan warna yang seragam
Setelah agak kering, dipoles dengan busa

WIKA BETON

V-13

5.3 Aplikasi Acian Pewarnaan

Tabel 5.3 Aplikasi Acian Pewarnaan Untuk Tutup Lubang Bekas TieRod Parapet
Jenis
No.
Material
Peralatan
Acian Pewarnaan
Cacat/Kerusakan
1.
Tutup lubang bekas
Sikadur 741
Gerinda mangkok
Sikadur 741:
tie-rod parapet dan
Sendok semen
1kg Sika warna abu-abu
pewarnaannya
Kape
2kg Sika warna putih
Amplas
3kg Sika pasir
Kuas cat
Kain lap
perbandingan 1:2:3
Ember
Kain/busa

WIKA BETON
V-16

Keterangan
Aplikasi
82
lubang
(struktur parapet)

Tabel 5.4 Aplikasi Acian Pewarnaan Untuk Udara Terperangkap Besar dan Tali Air/Lubang Akibat Udara Terperangkap
Kecil
Jenis
No.
Material
Peralatan
Acian Pewarnaan
Keterangan
Cacat/Kerusakan
1.
Udara terperangkap Semen putih
Gerinda mangkok 400g semen putih (tiga roda)
Aplikasi 2.40m
dan pewarnaannya
Semen biasa (Tipe Sendok semen
200g semen biasa(tiga roda)
(struktur parapet)
(alternatif 1)
1)
Kape
400g air bersih
Air
Amplas
perbandingan 2:1:2
Kuas cat
Kain lap
Ember
Kain/busa
2.
Udara terperangkap Semen putih
Gerinda mangkok 1800g semen putih (tiga roda) Aplikasi 2.40m
dan pewarnaannya
Semen biasa (Tipe Sendok semen
600g semen biasa (gresik)
(struktur parapet)
(alternatif 2)
1)
Kape
1500g air bersih
Air
Amplas
perbandingan 3:1:2.5
Kuas cat
Kain lap
Ember
Kain/busa
3..
Udara terperangkap Semen putih
Gerinda mangkok 1800g semen putih (tiga roda) Aplikasi 10.00m
dan pewarnaannya
Semen biasa (Tipe Sendok semen
600g semen biasa (gresik)
(struktur parapet)
(alternatif 3)
1)
Kape
1500g air bersih
Air
Amplas
perbandingan 3:1:2.5
Kuas cat
Kain lap
Ember
Kain/busa

WIKA BETON
V-17

Tabel 5.5 Aplikasi Acian Pewarnaan Untuk Plinth dan Keropos-Kolom


Jenis
No.
Material
Peralatan
Cacat/Kerusakan
1.
Plinth dan keropos
Semen putih
Gerinda mangkok
kolom dan
Semen biasa (tipe Sendok semen
pewarnaannya
1)
Kape
Air
Amplas
Sikadur 741
Kuas cat
Lem
beton Kain lap
(Cebond)
Ember
Kain/busa
Palu
Pahat
Gerinda potong

Acian Pewarnaan

Aplikasi panjang
Tahap 1:
100cm dan lebar
Sikadur 741:
0.5kg Sika warna abu- 30cm
abu
1kg Sika warna putih
1.5kg Sika pasir
perbandingan 1:2:3

WIKA BETON

Tahap 2 (altr. 1):


400g semen putih (tiga
roda)
200g semen biasa (tiga
roda)
400ml air bersih
perbandingan 2:1:2
Tahap 2 (altr.2):
400g semen putih (tiga
roda)
200g semen biasa
(gresik)
400g air bersih
perbandingan 2:1:2

V-18

Keterangan

Pengenalan SCC

WIKA BETON

VI-0

Pengenalan SCC

6.1 PENDAHULUAN
Self-compacting concrete (SCC) adalah sebuah beton yang inovatif yang tidak
memerlukan penggetaran saat penuangan dan pemadatan. SCC mampu mengalir
dibawah pengaruh berat sendirinya (hanya dengan mengandalkan gravitasi), mengisi
formwork secara menyeluruh dan mencapai pemadatan penuh, bahkan dalam
keadaan tulangan yang sangat rapat. Beton yang telah mengeras memiliki struktur
yang rapat, homogen dan memiliki sifat-sifat serta daya tahan seperti beton yang
dipadatkan secara konvensional.
Keuntungan penggunaan SCC dibandingkan beton yang dipadatkan secara
konvensional:
1. Mempercepat masa konstruksi, karena waktu penuangan yang lebih cepat dan
dapat langsung mengisi celah antar tulangan yang rapat
2. Homogenitas yang tinggi, jumlah rongga yang minimal dan kekuatan beton yang
seragam (sehingga memberikan hasil akhir dan daya tahan yang tinggi), karena
memiliki fluiditas dan ketahanan segregasi yang lebih baik dibandingkan beton
normal
3. Kuat awal yang lebih tinggi, waktu pelepasan cetakan yang lebih cepat, karena
memiliki rasio air-semen yang lebih rendah dari beton normal
4. Dapat dipompa hingga jarak yang lebih jauh, karena memiliki daya alir tinggi dan
daya penahan segregasi yang lebih baik dari beton normal
5. Permukaan yang dihasilkan lebih halus, karena mengalir dengan baik dan
mempunyai permukaan nyaris horisontal setelah dialirkan
6. Mengurangi paparan terhadap kebisingan dan penggetaran yang dialami oleh
pekerja dan lingkungan
7. Lebih tahan terhadap resiko thermal cracking akibat panas dibandingkan beton
normal

WIKA BETON

Kombinasi antara pelaksanaan yang mudah dan performance yang baik serta
keuntungan dalam kesehatan dan keselamatan kerja, membuat SCC menjadi solusi
yang sangat menarik bagi industri beton pracetak maupun konstruksi teknik sipil
umumnya. SCC sering digunakan sebagai salah satu alternatif pemakaian beton
normal pada:
1. Pembetonan struktur dengan tulangan rapat, terutama pada struktur-struktur
penahan beban dinamis
2. Pembetonan dengan banyak lokasi maupun titik-titik yang sulit dijangkau,
misalnya: cetakan dengan bentuk yang rumit dan pile
3. Kepentingan arsitektural, untuk menghasilkan permukaan yang sempurna tanpa
lubang dan retak-retak
4. Struktur yang terekspos kondisi cuaca buruk sehingga memerlukan durabilitas
yang lebih tinggi

VI-1

Pengenalan SCC

Pemanfaatan Self-Compacting Concrete pada Industri Beton Pracetak

6.2 SIFAT-SIFAT BETON KERAS

WIKA BETON

1. Kuat tekan
Untuk SCC biasanya memiliki kuat tekan yang sedikit lebih tinggi dari beton
normal dengan FAS yang sama. Hal ini diakibatkan ikatan yang lebih baik antara
agregate dan pasta yang telah mengeras, karena tidak adanya penggetaran.
2. Kuat tarik
Besarnya kuat tarik pada SCC dapat diasumsikan sama dengan beton normal,
karena volume pasta (semen+agregat halus+air) tidak memiliki efek yang
signifikan terhadap kuat tarik
3. Modulus elastisitas
SCC memiliki modulus elastisitas yang sedikit lebih rendah dari beton biasa
karena memiliki pasta semen yang lebih banyak dari beton biasa
Karena bagian terbesar dari beton adalah agregatnya, maka jenis dan jumlah
agregat sebagaimana juga nilai modulus elastisitasnya (E) memiliki pengaruh
terbesar. Memilih agregat dengan nilai E yang makin tinggi akan membuat E
beton juga makin tinggi
Semakin tinggi volume pasta semen, semakin rendah nilai E
4. Rangkak
SCC memiliki koefisien rangkak yang lebih besar akibat volume pasta semen
yang lebih banyak dibandingkan beton biasa dengan kekuatan yang sama
Semakin tinggi kekuatan beton, rangkak semakin berkurang
Jika menggunakan semen dengan kemampuan hidrasi yang lebih cepat akan
memiliki kekuatan yang lebih tinggi saat pembebanan, memiliki rasio
stress/strength yang lebih rendah dan rangkak yang makin berkurang pula

VI-2

Pengenalan SCC

Makin tinggi volume agregat kasar, rangkak makin berkurang


Makin tinggi nilai modulus elastisitas (E) agregat, rangkak makin berkurang

5. Susut
Susut pada SCC lebih kecil dibandingkan beton normal karena FAS-nya lebih
rendah
Semakin tinggi volume agregat, susut semakin berkurang
Semakin tinggi nilai modulus elastisitas agregat (E), susut semakin berkurang
Semakin kecil ukuran agregat maksimum (yang berarti volume pasta semen
semakin besar), semakin besar susutnya
6. Koefisien ekspansi thermal
Menggunakan agregat dengan koefisien ekspansi thermal yang rendah, akan
mengurangi koefisien ekspansi thermal dari beton yang dihasilkannya juga
7. Lekatan terhadap tulangan
Dibandingkan beton biasa dengan kuat tekan yang sama, SCC memiliki fluiditas
dan kohesi yang lebih baik, sehingga memiliki ikatan dengan tulangan yang lebih
kuat. Sedangkan beton biasa sering mengalami kegagalan untuk meyelimuti
tulangan secara menyeluruh akibat segregasi dan bleeding saat penuangan
maupun sebelum mengeras
8. Kapasitas gaya geser pada bidang pengecoran
Permukaan SSC yang telah mengalami pengerasan agak lebih halus dan
impermeabel/tidak tembus air, oleh karena itu kapasitas gaya geser antara lapis
pertama dan kedua lebih rendah dari beton yang dipadatkan dengan penggetaran
konvensional dan tidak mampu menahan gaya geser. Oleh karena itu perlu
diberikan perawatan untuk permukaannya, misalnya retarder permukaan,
penyikatan atau dengan membuat permukaan menjadi kasar

WIKA BETON

9. Ketahan terhadap api


Ketahanan terhadap api yang dimiliki SCC hampir sama dengan beton normal.
Tetapi jika menginginkan ketahanan api yang lebih tinggi dapat menggunakan
serat polypropylene. Serat ini akan meleleh dan akan diserap matrix semen saat
terbakar. Rongga bekas serat yang telah meleleh akan menjadi ruang pemuaian
untuk uap yang terjadi, sehingga mengurangi resiko pengelupasan.
Durabilitas/Daya Tahan
Pemadatan dengan penggetaran seringkali merupakan proses yang tidak kontinu,
misalnya pada penggetaran eksternal dan hand tamping. Penggetaran internal yang
meskipun dilaksanakan dengan benar juga seringkali masih menimbulkan
ketidakseragaman hasil pemadatan, karena volume beton yang berada dalam
daerah pengaruh vibrator tidak menerima energi pemadatan yang sama.
Konsekuensi dari pemadatan yang tidak benar adalah, seperti: lubang-lubang sarang
lebah/keropos, segregasi, bleeding dll, memiliki pengaruh negatif yang besar pada
permeabilitas sekaligus mempengaruhi durabilitas beton.

VI-3

Pengenalan SCC

SCC bila dikerjakan dengan benar akan bebas dari kerugian-kerugian pemadatan
tersebut dan menghasilkan suatu material beton yang memiliki permeabilitas yang
seragam dan rendah, sehingga hanya memiliki sedikit kelemahan terhadap
lingkungan yang merugikan dan karenanya memberikan durabilitas yang lebih baik.

Detail Permukaan pada Elemen Pracetak yang Menggunakan SCC

WIKA BETON

6.3 SIFAT-SIFAT BETON SEGAR DAN CARA


PENGUJIANNYA
Tabel 6.1 Metode Pengujian Beton Segar
Sifat-sifat Beton Segar
Metode Pengujian
Daya alir
Slump-flow test
Kekentalan (kecepatan alir)
T500 Slump-flow/V-funnel test
Passing ability
L-Box test
Segregasi
Segregation resistance (sieve) test
Beberapa catatan untuk memilih pengujian yang perlu dilakukan:
1. Jika struktur tidak menggunakan/hanya memerlukan sedikit tulangan, pengujian
passing ability dapat ditiadakan
2. Pengujian kekentalan hanya diperlukan bila menginginkan hasil permukaan yang
bagus, atau bila penulangan sangat rapat
3. Pengujian segregasi menjadi pengujian yang penting bila diinginkan SCC yang
memiliki fluiditas yang lebih tinggi dan kekentalan yang lebih rendah

VI-4

Pengenalan SCC

a. Daya Alir
Daya alir akan makin tinggi jika penggunaan superplasticiser juga makin tinggi. Daya
alir seringkali dinyatakan dengan slump-flow. Slump-flow yang terlalu tinggi akan
menyebabkan segregasi. Dibawah ini adalah acuan pembagian nilai slump-flow
berdasarkan tujuan penggunaan (The European Guidelines for SCC, May 2005)
Tabel 6.2 Klasifikasi Slump-flow dan Aplikasinya
Nilai Slump-flow
Kategori
Rentang Aplikasi di Lapangan
(mm)
Struktur beton tanpa tulangan/sedikit tulangan,
misal: slab lantai
Pengecoran dengan sistem injeksi pompa,
SF1
550-650
misal: lapis terowongan
Bagian yang cukup kecil untuk mencegah aliran
horisontal yang terlalu panjang, misal: pile dan
beberapa jenis pondasi dalam
Cocok untuk hampir semua penggunaan dengan
SF2
660-750
kondisi normal, misal: tembok, kolom

SF3

Biasanya dibuat dengan ukuran agregat


maksimum yang kecil (kurang dari 16 mm) dan
digunakan pada:
Pengecoran vertikal dengan struktur tulangan
yang rapat
Struktur dengan bentuk yang rumit
Pengisian formwork dengan posisi yang sulit
SCC dengan nilai slump ini memberikan hasil
akhir yang lebih baik daripada kriteria kedua
untuk pengecoran vertikal secara normal tapi
daya tahan segregasinya lebih sulit di kontrol

WIKA BETON
760-850

Untuk kasus-kasus khusus yang memerlukan slump lebih tinggi daripada 850 mm,
pengawasan harus diberikan untuk mencegah segregasi dan ukuran maksimum
agregat sebaiknya kurang dari 12 mm.

Slump-flow Test

VI-5

Pengenalan SCC

dimensi dalam mm

Gambar 6.1 Ukuran Base Plate untuk Pengujian Slump-flow

b. Kekentalan
Nilai hasil pengujian tidak secara langsung mengukur kekentalan SCC, tapi masih
berhubungan dengan kekentalan tersebut, yaitu dengan mendeskripsikan kecepatan
alir. Pengukuran T500 ketika mengadakan pengujian slump-flow dapat menjadi
sebuah cara untuk memastikan keseragaman SCC dari batch satu ke batch lainnya.
T500 adalah waktu yang diperlukan oleh adukan SCC pada saat pengujian slump-flow
untuk menyebar hingga diameter rata-rata 500 mm tanpa mengalami segregasi.

WIKA BETON

dimnsi dalam mm

Gambar 6.2 Dimensi V-Funnel (Pengujian Kekentalan)

VI-6

Pengenalan SCC

Tabel 6.3 Klasifikasi Kekentalan dan Aplikasinya


Kategori T500 (dtk) V-funnel
Keuntungan
Kerugian
(dtk)
Kemampuan mengisi Rentan
terhadap
cetakan dengan baik,
bleeding
termasuk
dengan Rentan
terhadap
tulangan yang rapat
segregasi
Mampu menciptakan
VS1/VF1
2
8
permukaan yang rata
dengan sendirinya
Memiliki hasil akhir
permukaan
yang
terbaik
Mengurangi tekanan Hasil
akhir
terhadap formwork
permukaan
tidak
begitu
bagus
Meningkatkan
daya
(lubang-lubang
tahan
terhadap
udara)
segregasi
VS2/VF2
>2
9-25
Sangat
sensitif
terhadap
penundaan
dua
lapisan pengecoran
yang berturut-turut

WIKA BETON

c. Passing Ability
Passing ability adalah kapasitas adukan beton segar untuk mengalir melalui ruang
yang terbatas dan celah sempit, misalnya daerah tulangan yang rapat tanpa
segregasi, kehilangan keseragaman atau blocking
Tabel 6.4 Klasifikasi Passing Ability dan Aplikasinya
Kategori
Passing Ability
Aplikasi di Lapangan
PA1
0.80 dengan 2
Struktur dengan gap 80-100 mm (bangunan
rumah, struktur vertikal)
rebar
PA2
0.80 dengan 3
Struktur dengan gap 60-80 mm (bangunan
infrastruktur/sipil)
rebar
Bagian yang paling menentukan adalah gap terkecil yang melaluinya SCC harus
mengalir secara kontinu untuk mengisi cetakan.
Untuk slab tipis dimana gap lebih besar dari 80 mm dan struktur lainnya dimana gap
lebih besar dari 100 mm, passing ability tidak perlu ditentukan.
Untuk struktur kompleks dengan gap lebih kecil dari 60 mm, trial dengan membuat
mock-up sangatlah penting.

VI-7

Pengenalan SCC

Gambar 6.3 Pengujian Passing Ability dengan L-box

WIKA BETON
dimensi dalam mm

Gambar 6.4 Ukuran dan Desain L-box yang Umum

d. Daya Tahan Segregasi/Segregation Resistance


Daya tahan segregasi sangat fundamental bagi SCC yang dicor ditempat yang
memerlukan homogenitas dan kualitas. Pengujian daya tahan segregasi tidak selalu
harus dilakukan, kecuali: jika menggunakan SCC dengan kategori slump-flow lebih
tinggi dan/atau dengan kategori kekentalan yang lebih rendah. Penting diketahui
bahwa penggunaan superplasticiser yang makin tinggi akan mengurangi daya tahan
segregasi.

VI-8

Pengenalan SCC

Tabel 6.5 Klasifikasi Daya Tahan Segregasi dan Aplikasinya


Daya Tahan
Kategori
Aplikasi di Lapangan
Segregasi (%)
SR1
20
Slab tipis
Pengecoran vertikal dengan jarak pengaliran
kurang dari 5 m dan gap lebih besar dari 80 mm
SR2
15
Pengecoran vertikal dengan jarak pengaliran lebih
dari 5 m dengan gap lebih besar dari 80 mm
Pengecoran vertikal dengan jarak pengaliran
kurang dari 5 m dengan gap kurang dari 80 mm

Segregation Resistance (Sieve) Test

WIKA BETON

Contoh Penggunaan Spesifikasi

Tabel 6.6 Sifat-sifat SCC untuk Berbagai Penggunaan Berdasarkan Penelitian


Walraven, 2003
Kekentalan

VS2
VF2

Daya tahan
segregasi/passing
ablility

ramp
tembok
dan piles

VS1 atau 2
VF1 atau 2 /nilai
yg ditargetkan
VS1
VF1

struktur tinggi
dan slender

SR perlu diuji
untuk SF2 dan 3

lantai dan slab


SF1

SF2
Slump-flow

Passing ability
perlu diuji untuk
SF1 dan SF2
SR perlu diuji
untuk SF3

SF3

Tabel diatas hanya mengemukakan parameter dasar dan kategori hasil pengujian
yang dapat menjadi salah satu bahan pertimbangan dalam penerapan. Pembagian
diatas belum memperhitungkan kondisi batas, bentuk geometri elemen, metode
pengecoran dan karaktristik material yang digunakan dalam campuran beton. Diskusi
dapat diadakan dengan pengada beton sebelum pengambilan keputusan tentang
spesifikasi akhir.

VI-9

Pengenalan SCC

Contoh Pengecoran Slab dengan SCC

Syarat-syarat Material Penyusun SCC:


1. Semen
Hampir semua jenis semen dapat dipakai, tetapi pilihan yang terbaik biasanya
ditentukan oleh syarat-syarat tertentu dari pengecoran tertentu atau tergantung
pada apa yang biasanya dipakai oleh pembuat beton.
2. Agregat Kasar
Persyaratan agregat kasar hampir sama dengan beton normal, hanya ada
beberapa hal yang perlu diperhatikan:
Agregat ringan dapat digunakan dalam SCC, tetapi perlu dicatat bahwa
agregat dapat mengapung di permukaan jika kekentalan pasta rendah dan hal
ini mungkin tidak terdeteksi oleh pengujian daya tahan segregasi
Ukuran maksimum agregat ditentukan oleh jarak antar tulangan , agar tidak
terjadi blocking agregat saat SCC mengalir melewati tulangan, untuk
mengetahuinya dapat diadakan pengujian passing ability.
Ukuran maksimum agregat dibatasi antara 12-20 mm
Semakin bulat bentuk permukaan agregat semakin baik adukan yang terjadi,
karena semakin kecil kemungkinan terjadi blocking dan berkurangnya gesekan
internal sehingga aliran dapat semakin cepat

WIKA BETON

3. Agregat Halus
Persyaratan agregat halus juga hampir sama dengan beton normal, perbedaan
terletak pada lebih banyaknya kandungan agregat halus dan lebih kecil/lebih
halus ukuran agregat halusnya dibanding beton normal.
Ukuran partikel yang lebih kecil dari 0.125 mm harus dianggap sebagai agregat
halus dan dihitung dalam rasio air-powder. Agregat yang baik adalah agregat
yang memiliki gradasi optimum (tak seragam/memiliki semua ukuran)
4. Admixture/Bahan Tambahan Kimiawi
Komponen yang paling penting untuk SCC adalah superplasticiser atau high
range water reducing admixtures.
Bahan campuran untuk memodifikasi kekentalan (VMA:Viscosity Modifying
Admixtures) dapat pula digunakan untuk membantu mengurangi segregasi
dan sensitivitas campuran akibat variasi dalam bahan penyusunnya, terutama
kandungan airnya.

VI-10

Pengenalan SCC

Bahan tambahan lainnya (air entraining, accelerating, retarding, etc) dapat


digunakan dengan cara yang sama seperti pada beton yang digetarkan secara
konvensional, tetapi tetap berpedoman pada aturan pakai yang dikeluarkan
oleh produsen bahan campuran tersebut.
5. Aditif/Bahan Tambahan Non-kimia
Digunakan untuk:
Meningkatkan dan menjaga tingkat kohesi daya tahan terhadap segregasi
Mengatur kadar semen dengan tujuan untuk mengurangi panas hidrasi dan
thermal shrinkage crack
Aditif diklasifikasikan berdasarkan kekuatan reaksinya terhadap air:
Tabel 6.7 Klasifikasi Aditif
TIPE I

Inert/semi-inert

TIPE II

Pozzolanic
Hydraulic

Bahan pengisi mineral (batu kapur, dolomite, etc)


Pigment
Fly ash
Silica fume
Terak tanur tinggi

6. Serat/Fibre
Serat metalik dan polymer dapat digunakan dalam pembuatan SCC, tetapi
mengurangi daya alir dan passing ability. Harus dicatat bahwa menggunakan
SCC dengan serat pada struktur dengan penulangan normal dapat secara
signifikan meningkatkan resiko blokade terhadap aliran SCC.

WIKA BETON

6.4 Mix-design
Prinsip Mix-design
Agar dapat dicapai sifat-sifat adukan segar SCC yang diinginkan, prinsip-prinsip
mendasar ini harus dimengerti:
Fluiditas dan kekentalan pasta disesuaikan dan diseimbangkan melalui pemilihan
dan perbandingan yang akurat, dengan membatasi rasio air-agregat halus dan
dengan menambah superplasticiser dan (fakultatif) viscosity modifying
admixtures/VMA. Komponen SCC tersebut harus dikontrol dengan benar, ukuran
yang sesuai dan interaksinya adalah kunci pencapaian filling ability, passing
ability dan daya tahan terhadap segregasi.
Untuk mengontrol kenaikan temperatur, thermal shrinkage crack dan kekuatan,
kandungan agregat termasuk agregat halus diperbolehkan untuk mengandung
aditif tipe I dan II dengan komposisi yang signifikan agar kandungan semen tetap
berada dalam level yang dapat diterima.
Pasta adalah sarana bagi pergerakan agregat, oleh karena itu volume pasta
harus lebih besar dari volume rongga pada agregat sehingga semua partikel
agregat individual dilapisi oleh lapisan pasta secara menyeluruh, pasta juga
berfungsi sebagai pelumas. Hal ini meningkatkan fluiditas dan mengurangi
gesekan antar agregat.

VI-11

Pengenalan SCC

Rasio agregat kasar terhadap agregat halus dikurangi, sehingga partikel agregat
kasar individual dilapisi lapisan mortar secara menyeluruh. Hal ini mengurangi
ikatan/interlock antar agregat kasar saat beton melewati celah sempit atau celah
antar tulangan serta meningkatkan passing ability yang dimiliki SCC.
Prinsip-prinsip tersebut menghasilkan beton yang jika dibandingkan dengan beton
biasa akan memiliki perbedaan dalam hal:
Kandungan agregat kasar yang lebih rendah
Kandungan pasta semen yang lebih tinggi
Rasio air-powder yang rendah
Penggunaan superplasticiser yang lebih banyak
Dapat pula menggunakan viscosity modifying admixture

Mix-design Dasar
Mix-design biasanya menggunakan volume sebagai parameter kunci, karena
sangatlah penting untuk mengisi rongga-rongga diantara partikel agregat.
Tidak ada standar khusus untuk mix desain SCC dan beberapa institusi akademik,
produsen admixture, ready-mix, beton pracetak dan kontraktor biasanya
mengembangkan perbandingan komposisi mereka sendiri. Beberapa pustaka
tentang mix-design dapat ditemukan dalam beberapa pustaka berikut:
www.efnarc.org
Okamura H and Ozawa K. Self-compactable high performance concrete.
International Workshop on High Performance Concrete. American Concrete
Institute; Detroit. 1994, pp31-44.

WIKA BETON

Ouchi M, Hibino M, Ozawa K, and Okamura H. A rational mix-design method for


mortar in self-compacting concrete. Proceedings of Sixth South-East Asia Pacific
Conference of Structural Engineering and Construction. Taipei, Taiwan, 1998,
pp1307-1312.
SCC 028 20 The European Guidelines for Self Compacting Concrete
Nawa T, Izumi T, and Edamatsu Y. State-of -the-art report on materials and design
of self-compacting concrete. Proceedings of International Workshop on Selfcompacting Concrete. August 1998; Kochi University of Technology, Japan.
pp160-190.
Domone P, Chai H and Jin J. Optimum mix proportioning of self-compacting
concrete. Proceedings of International Conference on Innovation in Concrete
Structures: Design and Construction, Dundee, September 1999. Thomas Telford;
London. pp277-285.
Billberg, P. Self-compacting concrete for civil engineering structures - the Swedish
Experience. Report no 2:99. Swedish Cement and Concrete Research Institute.
Stockholm, 1999
Su N, Hsu K-C and Chai H-W A simple mix design method for self-compacting
concrete Cement and Concrete Research, 31, (2001) pp 1799-1807
Gomes P.C.C, Gettu R, Agullo L, Bernard C, Mixture proportioning of high
strength, Self-Compacting Concrete: Performance and Quality of concrete
structures. Third CANMET/ACI Intnl Conf. (Recefi, Brazil) Supplementary CD,
2002, 12p.

VI-12

Pengenalan SCC

Bennenk, H. W. & J.Van Schiindel: The mix design of SCC, suitable for the
precast concrete industry. Proceedings of the BIBM Congress, 2002 Istanbul,
Turkey.
Billberg, P. Mix design model for SCC (the blocking criteria). Proceedings of the
first North American conference on the design and use of SCC, Chicago 2002.
Tabel 5.8 memberikan rentang umum kandungan unsur-unsur pokok SCC
berdasarkan berat dan volume. Perbandingan ini tidak bernilai mutlak dan dalam
kasus-kasus tertentu, salah satu unsur pembentuk SCC dapat berada di luar rentang
ini.
Tabel 6.8 Rentang Umum Komposisi Campuran SCC
Rentang Umum
Komponen
Berdasarkan Massa
Berdasarkan Volume
(kg/m3)
(liter/m3)
380-600
Powder
Pasta
300-380
Air
150-210
150-210
Agregat Kasar
750-1000
270-360
Tergantung pada volume bahan penyusun lainnya,
Agregat Halus (Pasir)
biasanya 48-55% total berat agregat
Rasio air-powder
0.85-1.10
(berdasarkan volume)

WIKA BETON

VI-13

Pengenalan SCC

Menentukan performance beton


berdasarkan spesifikasi klien

Memilih material penyusun SCC


(Lebih baik secara borongan jika
memungkinkan)

Membuat komposisi mix-design


Mengecek dan menyesuaikan
performance melalui pengujian
laboratorium

Mengevaluasi material alternatif

Tidak memuaskan

Memuaskan
Mengecek dan menyesuaikan
performance melalui trial di
lapangan atau di tempat
pengadukan

WIKA BETON
Gambar 6.5 Prosedur Mix-design

Jika performance yang diharapkan tidak terjadi atau hasil tidak memuaskan,
campuran dapat didesain ulang. Tergantung pada permasalahan yang muncul, satu
dari beberapa tindakan dibawah ini mungkin dapat diambil:
Sesuaikan rasio semen-powder dan rasio air-powder, kemudian ujilah daya alir
dan sifat-sifat pasta yang lainnya
Cobalah berbagai macam aditif (jika memungkinkan)
Sesuaikan komposisi agregat halus dan dosis superplasticiser
Pertimbangkanlah kemungkinan penggunaan viscosity modifying agent untuk
mengurangi sensitivitas adukan
Sesuaikan komposisi dan gradasi agregat kasar

VI-14

Pengenalan SCC

6.5

HAL-HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN SAAT


PELAKSANAAN

Ada beberapa hal yang membutuhkan perlakuan berbeda dengan beton biasa.
Vibrasi atau Penggetaran
Penggetaran untuk SCC biasanya tidak diperlukan, selain itu penggetaran akan
menyebabkan settlement yang signifikan dari agregat kasar. Jika kepadatan yang
diinginkan tidak tercapai, beton harus dicek kesesuaiannya terhadap spesifikasinya
terlebih dahulu. Jika ternyata telah sesuai tetapi kepadatan penuh tetap belum
tercapai, pertimbangan untuk merubah spesifikasi dapat dipakai.
Tetapi ada beberapa jenis pekerjaan dimana kontrol yang akurat dan penggetaran
ringan mungkin diperlukan:
Pada beberapa struktur tertentu , dimana bentuk formwork dapat menyebabkan
udara terperangkap pada lokasi tertentu. Hal ini dapat ditangani dengan
pemadatan manual lokal pada area tersebut
Slab, terutama yang menggunakan SCC dengan kelas slump-flow yang rendah,
mungkin memerlukan tamping ringan atau screed bar yang bergetar dengan
sangat lembut untuk meratakan permukaan, agar bebas dari tonjolan agregat
kasar
Pengecoran yang tertunda, jika permukaan SCC yang telah di cor sebelumnya
telah timbul kerak atau kaku sehingga nantinya cold-joint atau cacat permukaan
dapat terbentuk.

WIKA BETON

Meratakan SCC dengan Alat Float Bertangkai

Curing
Permukaan atas SCC dapat mengering dengan cepat karena jumlah pasta semen
yang lebih banyak, rasio air-agregat halus yang lebih rendah dan kurangnya air
akibat bleeding di permukaan beton. Perawatan beton awal harus dimulai sesegera
mungkin setelah pengecoran dan finishing awal yang bertujuan untuk
meminimalisasi resiko timbulnya kerak di permukaan dan retak akibat susut pada
umur awalnya.

VI-15

Pengenalan SCC

6.6

MEMPERBAIKI KUALITAS AKHIR SCC

Pada tabel-tabel dibawah ini akan diuraikan cacat-cacat yang mungkin timbul setelah
pengecoran SCC. Perbaikan cacat untuk SCC ini dapat pula dipakai untuk beton
biasa dengan pemadatan konvensional, tetapi cacat-cacat tertentu lebih mudah
dihindari jika menggunakan SCC karena sifat dasar yang dimilikinya. Penting untuk
dicatat bahwa cacat permukaan seperti burik dan cacat permukaan lainnya akan
mempengaruhi tampilan permukaan beton, cacat lain seperti keropos, lapis antar
penuangan yang tidak kontinu, pengelupasan dan retak akan mempengaruhi
integritas beton.
Tabel 6.9 Cacat Keropos seperti Sarang Lebah
Jenis Cacat

Sebab Utama
pasta atau
agregat halus
yang kurang

Honeycomb
ing/Keropos
seperti
sarang
lebah

beton mengalami
segregasi akibat
kekentalan
plastis yang
terlalu rendah

Pencegahan atau
Perbaikan

Sebab Praktis
kandungan pasta/agregat
halus yang rendah
gradasi yang tidak sesuai
ukuran agregate terlalu
besar dibandingkan
dengan ruang yang
tersedia

beton tidak
mampu mengisi
kebocoran cetakan
cetakan secara
menyeluruh
Sebab Fisik: filling ability yang kurang
passing ability yang kurang
stabilitas beton yang kurang
slump-flow yang terlalu rendah/waktu T500 yang lama
segregasi agregat kasar/pasta

meningkatkan kandungan
agregat halus, gunakan
minimal 450 kg
powder/m3
tambahkan air entraining
gradasi yang kontinu
ukuran agregat
maksimum dibuat lebih
kecil
periksa integritas cetakan,
terutama di bagian
joint/sambungan

WIKA BETON

Tabel 6.10 Cacat Pengelupasan


Jenis Cacat

Scaling/
Gumpil/
Mengelupas

Sebab Utama

Lapis permukaan
hanya
mengandung
agregat halus
dan telah
mengeras terlalu
cepat

Sebab Praktis
tanpa atau dengan
perawatan/curing yang terbatas

segregasi dan/bleeding yang


disebabkan oleh jumlah agregat
halus yang terlalu sedikit

Sebab Fisik: stabilitas beton yang kurang


segregasi dan atau bleeding
pengeringan yang terlalu cepat

Pencegahan
atau Perbaikan
berikan
perawatan beton
yang layak sesuai
dengan kondisi
yang terjadi
meningkatkan
kandungan
powder
penggunaan VMA
tambahkan air
entraining
admixture

VI-16

Pengenalan SCC

Tabel 6.11 Perbaikan Cacat Burik


Jenis
Sebab Utama
Cacat

Sebab Praktis

agregat halus yang


berlebihan
pemberian pelumasan
cetakan yang berlebihan
atau tidak rata
permukaan cetakan yang
kasar
kecepatan pengecoran
yang terlalu cepat
panjang pengaliran yang
terlalu panjang
panjang pengaliran yang
terlalu pendek

udara
terperangkap

tinggi jatuh yang besar

Blow
air terperangkap
Holes/Burik

Pencegahan atau
Perbaikan
mengurangi agregat
halus
tingkat penggunaan
yang minimal dan rata
pastikan permukaan
cetakan telah bersih
penggunaan geo-textile
form liner akan
membantu menyerap
udara
pastikan debit
pengecoran yang tetap
batasi jarak pengaliran
hingga sejauh 5 m
tambahkan panjang
jarak pengaliran hingga
1m
perkecil tinggi jatuh
hingga <1 m
gunakan soft-wall tremie
saat pengecoran di
tempat yang dalam
memompa dari dasar
kearah atas akan
membantu memaksa
udara keluar
kurangi suhu beton
hingga dibawah 25oC
rencanakan kecepatan
pengantaran beton dan
sumber daya lapangan
untuk memastikan
kontinuitas pengecoran
produsen beton:
perbaikan cara
penyimpanan, gunakan
sesuai tanggal produksi
dan rotasi
stok/persediaan
mengurangi dosis VMA
me-review proporsi
adukan
gunakan VMA atau air
entraining

WIKA BETON
pelumas cetakan
yang
terperangkap

suhu beton terlalu tinggi

pengecoran terlalu lambat

pengendapan unsur pokok


superplasticiser, terutama
defoamer
kekentalan yang terlalu
besar
gradasi agregat yang tidak
sesuai
waktu pengadukan yang
terlalu lama sehingga
terjadi induksi dengan
udara
interaksi antara admixture
dan semen

Sebab Fisik: filling ability yang buruk


passing ability yang buruk
kekentalan yang tinggi/tegangan leleh yang tinggi
slump-flow yang rendah/waktu T500 yang lama
reduksi slump-flow yang cepat

me-review waktu
pengadukan
menilai kesesuaian
admixture& semen jauh
sebelum masa produksi

VI-17

Pengenalan SCC

Table 6.12 Cacat Cold-joint


Jenis
Sebab Utama
Cacat
Cold-joint/
Bidang
sambungan
yang
tampak
diantara
penuangan
adukan
yang
berbeda/

Pembentukan
kerak di
permukaan
menghalangi
penggabungan
monolit antar
lapisan beton
yang dicor secara
berturutan

Sebab Praktis
pengantaran beton
dengan rentang waktu
yang terlalu dekat
benton mengeras dengan
cepat
suhu udara yang tinggi
segregasi agregat kasar

jumlah agregat halus


terlalu banyak
Sebab Fisik: filling ability yang kurang
thixotropy
kehilangan slump-flow yang terlalu cepat
kekentalan yang terlalu besar
interaksi admixture-semen

Pencegahan atau
Perbaikan
pengecoran menerus:
tanpa berhenti
pengujian awal:
pengerasan yang lebih
cepat tidak boleh terjadi
suhu beton yang
diijinkan adalah lebih
rendah dari 25oC
review perbandingan
campuran
kurangi jarak pengaliran
kurangi kandungan
agregat halus/powder

Tabel 6.13 Cacat Permukaan yang Tidak Rata


Jenis Cacat

Sebab Utama

Sebab Praktis

Pencegahan atau
Perbaikan
mengurangi kecepatan
pengecoran untuk
mengurangi tekanan
hidrostatis
menggunakan VMA
untuk meningkatkan
kekentalan
desain ulang formwork
perbaharui cetakan
bersihkan permukaan
cetakan sebelum
pengecoran
percobaan untuk
menentukan bahan
pelumas/pelepas
cetakan yang paling
tetap
mengaplikasikan dengan
kecepatan yang benar,
dengan peralatan yang
tepat
tambahkan jumlah
superplasticiser atau
gunakan VMA

WIKA BETON
kecepatan pengecoran
yang tinggi atau desain
cetakan yang lemah

Permukaan
hasil
pengecoran
yang
sangat
jelek dan
tidak rata

deformasi cetakan
finger-prints dari
permukaan
cetakan ke
permukaan beton

permukaan cetakan telah


usang
sisa-sisa beton yang
menempel

jenis pelumas cetakan


atau cara pemakaian yang
kurang sesuai

rasio air-powder yang


terlalu tinggi

Sebab Fisik: tekanan yang tinggi pada formwork


kekentalan plastis yang terlalu rendah

VI-18

Pengenalan SCC

Tabel 6.14 Variasi Warna


Jenis
Sebab Utama
Cacat

Sebab Praktis
suhu yang terlalu rendah

slump-flow yang terlalu


besar, kekentalan yang
terlalu rendah

Variasi
warna

dimensi
permukaan yang
terlalu panjang

efek perlambatan
pengikatan awal dari
admixture atau
pelumas/pelepas cetakan

perbedaan
adukan
perubahan kecepatan
penuangan
plastic curing membrane
tidak semuanya melapisi
beton secara menyeluruh

Pencegahan atau
Perbaikan
menjaga suhu beton dan
bagian dalam cetakan
selama musim dingin
meningkatkan
kekentalan dengan
menambah agregat
halus atau
pertimbangkan
penggunaan VMA
pemilihan admixture
dengan hati-hati untuk
memperpanjang masa
layan
mengurangi kandungan
air atau plasticiser
pertimbangkan
kemungkinan pemakaian
accelerator ringan
pengecoran menerus
pastikan kontak yang
konsisten

basahi cetakan sebelum


penuangan
cetakan kayu memiliki
disarankan
permukaan yang kering
menggunakan
permukaan cetakan
yang telah dilapisi
Sebab Fisik: efek perlambatan pengerasan maupun noda yang tertinggal disebabkan oleh
pelumas, admixture, dll
tegangan leleh atau kekentalan plastis yang terlalu tinggi

WIKA BETON

Tabel 6.15 Cacat Tali Air


Jenis
Sebab Utama
Cacat

Tali air

bleeding dari air


dan agregat halus

Sebab Praktis

rasio air-powder yang


terlalu tinggi
kekentalan yang terlalu
rendah

Sebab Fisik: stabilitas adukan beton yang rendah

Pencegahan atau
Perbaikan
pertimbangkan untuk
menggunakan VMA
meningkatkan
kekentalan dengan
menambahkan agregat
halus
gunakan bahan
tambahan air entraining
untuk mengatasi
distribusi ukuran partikel
yang jelek

VI-19

Pengenalan SCC

Tabel 6.16 Cacat akibat Retak Plastis


Jenis
Sebab Utama
Sebab Praktis
Cacat
perawatan beton umur
awal yang buruk

pengeringan yang
terlalu cepat

Retak
plastis

sedimentasi

segregasi dan bleeding

perubahan posisi
tulangan
perbedaan kondisi yang
ekstrim (suhu,
kelembaban, angin, dll)
pengecoran dimensi tinggi
dengan posisi tulangan
dekat permukaan
Sebab Fisik: susut akibat pengeringan
stabilitas beton yang buruk

Pencegahan atau
Perbaikan
mulailah perawatan
sesegera mungkin
setelah
pengecoran/finishing
awal
perawatan beton yang
sesuai dengan kondisi
menambal retak plastis
tersebut sebelum beton
mengeras
meningkatkan
kandungan powder
menggunakan VMA
menggunakan bahan
tambahan air entraining
perawatan beton
disesuaikan kondisi yang
berlaku
redesain ukuran selimut
beton

WIKA BETON

VI-20

Pengetahuan beton pracetak

WIKA BETON

VII-0

Pengetahuan beton pracetak

7.1 PENDAHULUAN
Beton pracetak/precast concrete adalah produk beton yang dicor dan dirawat di
tempat lain yang berbeda dengan posisi akhir pemasangannya.

7.2 JENIS-JENIS HASIL PRODUKSI


a. Berdasarkan cara pemadatan, ada dua kategori hasil produksi, yaitu:
1. Pemadatan dengan putar (centrifugal spinning)
Produk beton yang proses pemadatannya melalui proses pemutaran cetakan,
misalnya:
Tiang pancang bulat berongga/ PC Piles
Tiang pancang kotak berongga
Tiang beton bulat berongga
2. Pemadatan non-putar
Produk beton yang proses pemadatannya melalui penggetaran, misalnya:
Girder/gelagar
Voided slab/slab berongga
Sheet pile
Pelat double tee
Pelat masif
Half slab
komponen pracetak yang lain

WIKA BETON

b. Berdasarkan mutu beton, ada dua kategori hasil produksi, yaitu:


1. Mutu biasa, meliputi: K350 dan K500, merupakan pracetak non-putar dan
dipadatkan dengan cara konvensional
2. Mutu tinggi, meliputi: K600, K700 dan K800 (termasuk K1000), dipadatkan
dengan cara putar maupun non-putar
Untuk mutu-mutu beton dan penggunaannya dapat dilihat pada Bagian 1
Pengetahuan Umum Beton, Subbab 1.5

Jenis, spesifikasi dan dimensi dari beberapa beton pracetak produksi PT Wijaya
Karya Beton dapat dipakai sebagai salah satu bahan pertimbangan pemilihan produk
sesuai kebutuhan proyek, dapat dilihat pada Lampiran 1 Spesifikasi Produk Beton
Pracetak PT Wijaya Karya Beton.

VII-1

Pengetahuan beton pracetak

PC Voided Slabs

WIKA BETON

PC Piles

VII-2

Pengetahuan beton pracetak

PC I-Girders

WIKA BETON

Flat Sheet Piles

VII-3

Pengetahuan beton pracetak

Corrugated Sheet Piles

WIKA BETON

Triangular PC Piles

VII-4

Pengetahuan beton pracetak

PC Sleepers

WIKA BETON

PC Pipes

VII-5

Pengetahuan beton pracetak

7.3 MATERIAL DAN SPESIFIKASI


Tabel 7.1 Spesifikasi Material dan Spesifikasi Umum Beton Pracetak
Item
Referensi
Deskripsi
Spesifikasi
ASTM C33-1985

Agregat
NI 2 PBI-1971

SII 0013-1981

Semen

SII 0013-1984

ASTM C494-1985

Admixture

Standard
Product: NI 2
PBI-1975

Indonesian
Concrete Codes

Special Order:
JIS A 5309-1981

Prestressed Spun
Concrete Poles

Concrete
Compressive
Strength

NI 2 PBI-1971

Indonesian
Concrete Codes

Keterangan

Umum

Umum

Standard
Product: tipe I
Special Order:
tipe II atau V

Umum

Standard
Product: tipe I
Special Order:
tipe II atau V

Reinforced Concrete
Pipes

Tipe A: Water
reducing admixture
Tipe F: Water
Reducing
Admixture

WIKA BETON
ASTM C494-1990

Standard
Specification for
Concrete
Aggregates
Indonesian
Concrete Codes
Mutu dan Cara uji
Semen Portland
(Quality and Test
Method of
Portland
Cements)
Mutu dan Cara uji
Semen Portland
(Quality and Test
Method of
Portland
Cements)
Standard
Specification for
Chemical
Admixtures for
Concrete
Standard
Specification for
Chemical
Admixtures for
Concrete

Concrete Cube
Compressive
Strength at 28
days: 500 kgf/cm2
Concrete Cylinder
Compressive
Strength at 28
days: 500 kgf/cm2
Concrete Cylinder
Compressive
strength at 28 days:
600 kgf/cm2
Concrete Cylinder
Compressive
Strength at 28 days
(Railway Concrete
Products)
Bridge Girders

Sheet Piles

Umum
Reinforced Concrete
Pipes
Railway Concrete
Products dan Bridge
Girders

Untuk Electrical PC
Poles

Untuk Electrical PC
Poles
Untuk PC Piles,
Triangular PC Piles &
PC Pipes
500 kgf/cm2: PC
Sleepers dan CPC
Poles
400 kgf/cm2: RWB
Slabs, RBP Walls
dan Emplacements
A-Class: 800 kgf/cm2
B-Class: 500 kgf/cm2
CPC Sheet Piles:
700 kgf/cm2
FPC Sheet Piles:
500 kgf/cm2
FRC Sheet Piles:
500 dan 350 kgf/cm2

VII-6

Pengetahuan beton pracetak

Item

Concrete
Test

Referensi

Deskripsi

JIS A 1132-1985

Method of Making
and Curing
Concrete
Specimens

Umum

JIS A1108-1985

Method of Test
Compressive
Strength of
Concrete

Umum

Umum

PC Wire SWPD1

Umum

PC Strand SWPR
7B

Triangular PC Piles

PC Wire
SWPD1
PC Strand:
SWPR 7B

Sheet Piles

PC Wire
SWPD1
PC Strand:
SWPR 7B
(Bridge girders
only)

Railway Concrete
Products, Bridge
Girders

NI 2 PBI-1975

JIS G 3536-1985

JIS G 3536-1984

PC Wire/PC
Strand

JIS G 3536-1988

Indonesian
Concrete Codes
Uncoated Stress
Relieved Steel
Wire and Strand
for Prestressed
Concrete
Uncoated StressRelieved Steel
Wire and Strand
for Prestressed
Concrete
Uncoated StressRelieved Steel
Wire and Strand
for Prestressed
Concrete
Standard
Specification For
Uncoated SeventWire StressRelieved Steel
Strand for
Prestressed
Concrete

Spesifikasi

WIKA BETON
ASTM A416-1980

JIS G 3112-1985

Reinforced
Bar
JIS G 3112-1987

JIS A 3532-1985

Reinforced/
Spiral Wire

JIS G 3538-1977

JIS G 3191-1976

Joint Plate

JIS G 3101-1987
JIS G 3101-1976

10

Welding

ANSI/AWS D1.11990

Steel Bar for


Concrete
Reinforcement
Steel Bar for
Concrete
Reinforcement
Low Carbon Steel
Wire
Hard Drawn Steel
Wire for
Prestressed
Concrete
Rolled Steel for
General Structure
Rolled Steel for
General Structure
Rolled Steel for
General Structure
Structural
Welding CodeSteel

Keterangan

Grade 270

Bridge Girders

SD 40

Umum

SR 24

Untuk PC Pipes dan


Reinforced Concrete
Pipes

SD 40

Triangular PC Piles

SWMA

Umum

SWCR A

Untuk bagian ujung


Core Pipes Spiral

SS 41

Untuk Electrical PC
Poles

SS 41

Untuk PC Piles

SS 41

Triangular PC Piles

AWS A 5.1/E6013
Nikko Steel RB 26
/RD260,LION26/eq.

Umum

VII-7

Pengetahuan beton pracetak

Item
11

Sealing
Rings

Referensi

Deskripsi

Rubber
Gasket

Keterangan

JIS K 6353

Untuk PC Pipes

ISO 4633-1983
LE

Untuk PC Pipes

ISO 4633-1996

12

Spesifikasi

Elastomeric
Material for Joints

AS 1646-1992

BS 2494-1990

JIS K 6353-1995

Rubber seal-joint
ring for water
supply, drainage
and sewerage
pipelines
Elastomeric seals
for waterworks
purposes
Elastomeric seals
for joints in
pipework and
pipelines
Rubber goods for
water works

WIKA BETON

Pencucian Material

Reinforced Concrete
Pipes

VII-8

Pengetahuan beton pracetak

7.4 PROSES PRODUKSI


Dari beberapa jenis produk precast dan proses produksinya yang berbeda, dibawah
ini diberikan satu contoh proses produksi untuk PC Piles (Prestressed Concrete
Piles), yang dipadatkan dengan cara centrifugal spinning.

Persiapan cetakan
Persiapan PC Wire dan
Spiral Wire

Penulangan

Penakaran dan
pengadukan beton

Pengecoran

Penutupan cetakan

Tensioning PC Wire

WIKA BETON
Pemutaran/Spinning

Steam curing

Detensioning

Pembukaan cetakan
produk

Penumpukan dan water


curing

Pengangkutan ke Klien

Gambar 7.1 Proses Produksi PC Piles

cetakan

VII-9

Pengetahuan beton pracetak

Persiapan cetakan

WIKA BETON
Penulangan

Pengecoran

VII-10

Pengetahuan beton pracetak

Penutupan cetakan

WIKA BETON
Tensioning

Pemutaran/centrifugal spinning

VII-11

Pengetahuan beton pracetak

Steam curing

WIKA BETON
Penumpukan dan water curing

7.5 MIX-DESIGN
Hal-hal yang menjadi pertimbangan saat membuat mix-design adalah
1. Persyaratan material
2. Komposisi
3. Slump
4. Target strength
5. Karakteristik
6. Standar deviasi
Mix desain tergantung pada produsen dan seringkali sesuai dengan kesepakatan
atau spesifikasi yang dipakai. Cara perhitungan mix-design dapat dilihat pada
Bagian 3 Perencanaan Campuran Beton.

VII-12

Pengetahuan beton pracetak

7.6 CETAKAN (MOULD)


Macam-macam cetakan:
1. Cetakan baja
2. Cetakan kayu
3. Cetakan fiberglass (serat kaca)

Cetakan baja PC Pipes

Cetakan baja triangular PC piles

Cetakan yang dipakai dalam produksi beton pracetak juga didasarkan atas
kebutuhan dan rencana permintaan produksi.

WIKA BETON

7.7 PENGADUKAN BETON & PENGECORAN


Diaduk di batching-plant dan concrete mixer. Dengan cara-cara dan teknik seperti
pada pada pengadukan dan pengecoran beton biasa (kecuali atas permintaan yang
disyaratkan), dapat dilihat pada Bagian 4 Pelaksanaan .

Batching plant

VII-13

Pengetahuan beton pracetak

7.8 PEMADATAN
Macam-macam cara pemadatan:
1. Pemadatan putar/spinning
Metode produksi dimana adukan beton dimasukkan kedalam cetakan baja yang
berputar secara horisontal dengan kecepatan tinggi pada alas pemutaran,
pemadatan beton terjadi akibat getaran dan gaya sentrifugal.

Centrifugal spinning

WIKA BETON

2. Pemadatan non-putar:
Internal vibrator, penggetaran adukan beton dari dalam cetakan. (Lihat
Bagian 4 Subbab 4.6 Pemadatan)
External vibrator, penggetaran cetakan yang telah terisi adukan beton dari
luar. Bentuk daerah pengaruh pemadatan adalah hemisphere berpusat pada
lokasi vibrator. Beberapa prinsip penggunaan external vibrator:
o Jika memerlukan dua external vibrator (pada elemen beton yang lebih
tebal dari radius pengaruh vibrator), jangan diletakkan pada posisi yang
lagsung berlawanan satu sama lain, tetapi pada titik pertengahan diukur
dari vibrator pertama.
o Penggetaran dilakukan sejak adukan beton mulai dituang ke dalam
cetakan hingga cetakan penuh
o Penggetaran tidak boleh melebihi 2 inch per detik
o Vibrator harus digerakkan sebentar-sebentar agar vibrator dapat
memadatkan beton dan membantu migrasi udara yang terjebak

External vibrator

VII-14

Pengetahuan beton pracetak

Spesifikasi umum yang sering dijumpai:


Output
Kuat arus
Voltase
Getaran
Gaya sentrifugal
Weight

50
2.5
48
6.000-7.200
200-240
106-152
6.5-7.0

Watt
Ampere
Volt
VPM
Hz
kgf
kg

Meja getar

WIKA BETON
Meja getar

Bagian atas meja berupa bagian-bagian kuat yang di las dan dibuat dari pelat
baja, balok I atau pipa. Bagian atasnya bertenaga mesin dengan dua vibrator
putar yang berlawanan. Bagian dasar yang tidak rata bentuknya mendukung
dan mengisolasi bagian atas dengan pegas maupun isolasi udara.
Saat ini, telah banyak digunakan meja getar listrik yang memungkinkan untuk
memilih frekuensi operasi terbaik dengan tingkat ketelitian digital.

7.9 PEKERJAAN STRESSING


Berdasarkan cara pemadatannya, pekerjaan stressing dibagi atas:
1. Pemadatan putar (spinning)
Single stressing
Simultan stressing
2. Pemadatan non-putar
Single stressing
o Short-line system
o Long-line system
Multiple stressing

VII-15

Pengetahuan beton pracetak

7.10 PERAWATAN BETON


1. Normal curing, Lihat Bagian 4 Pelaksanaan Subbab 4.7.

Curing dengan penyiraman air pada


produksi tiang pancang
2. Steam curing, perawatan beton dengan mengalirkan uap air dengan tekanan
atmosfer (atau dengan tekanan yang lebih besar) dan pada suhu antara 40-215
o
C.
Metode ini dapat mempercepat beton mencapai kuat tekan awal, sehingga
menghemat waktu pemakaian cetakan dan menghemat pemakaian tempat yang
terbatas untuk curing.

WIKA BETON

Steam curing pada produksi tiang


pancang

7.11 PENGANGKATAN
Hal-hal yang harus menjadi pertimbangan saat pengangkatan beton yang telah
mengalami pengerasan adalah:
1. Kuat beton pada saat pengangkatan apakah sudah mencukupi dan sesuai
dengan rencana.
2. Metode pengangkatan

VII-16

Pengetahuan beton pracetak

Pengangkatan
stockyard

dan

penyimpanan

di

WIKA BETON
Melapisi bahan anti korosi pada joint-plate
setelah pengangkatan

7.12 PENGANGKUTAN
Pengangkutan ke konsumen dapat menggunakan truk, tronton, trailer, kapal atau
ponton, tergantung dari dimensi dan berat produk, kondisi site, faktor ekonomi,
kesepakatan, dll.

VII-17

Pengetahuan beton pracetak

Pengangkutan electrical PC Poles

WIKA BETON

Pengangkutan PC Piles

VII-18

Pengetahuan beton pracetak

7.13 QUALITY CONTROL


Memeriksa material

Pemeriksaan kadar lumpur agregat


Memeriksa proses produksi

WIKA BETON
Pemeriksaan pemasangan tulangan
Memeriksa produk jadi

Pengujian Hammer Test

VII-19

Pengetahuan beton pracetak

Memeriksa mutu benda uji

Benda uji kubus


Selain itu, pengujian juga dilakukan pada benda uji sebagai sampel adukan yang
berbentuk kubus. Perincian metode pengujian beton seperti pada beton normal,
antara lain dapat dilihat pada Bagian 4 Pelaksanaan Subbab 4.8 Evaluasi dan
Pengendalian Mutu Beton.
Dibawah ini adalah beberapa gambar alat pengujian benda uji.

WIKA BETON
Alat pengujian kuat lentur

Alat pengujian kuat tekan

VII-20

Inspeksi peralatan

WIKA BETON

VIII-1

Inspeksi peralatan

8.1 PENDAHULUAN
Proses pembuatan beton merupakan suatu pekerjaan yang kompleks, melibatkan
banyak tahapan termasuk didalamnya penggunaan peralatan. Pengecoran beton
yang berhasil sesuai dengan rencana membutuhkan kesiapan baik dalam sumber
daya manusia, bahan dan peralatan. Pada bagian ini, akan diuraikan beberapa poin
pemeriksaan yang dapat digunakan untuk pengecekan pra-pemakaian maupun
perawatan berkala beberapa peralatan besar yang sering digunakan dalam
pekerjaan pembetonan.

8.2 MACAM-MACAM FORMULIR INSPEKSI


a. Form Pemeriksaan Peralatan
1. Batching Plant
2. Concrete Pump
3. Truck mixer
b. Laporan Harian Operasi Alat (termasuk form pemeriksaan alat sebelum
beroperasi)
1. Batching Plant
2. Concrete Pump
3. Truck mixer

WIKA BETON

c. Form Pemeliharaan alat


1. Batching Plant
2. Concrete Pump
3. Truck mixer

Macam-macam formulir tersebut dan detail isiannya dapat dilihat pada Lampiran 2
Formulir Inspeksi Peralatan.

VIII-1

WIKA BETON
LAMPIRAN 1
Spesifikasi Produk
Beton Pracetak PT WIKA Beton

A. PRESTESSED SPUN CONCRETE PILES


(PC PILES)

WIKA BETON

WIKA BETON

WIKA BETON

WIKA BETON

B. PRESTESSED CONCRETE SLEEPERS


(PC SLEEPERS)

WIKA BETON

WIKA BETON

C. CATENARY PRESTESSED CONCRETE


POLES (CPC POLES)

WIKA BETON

D. REINFORCED CONCRETE SLABS FOR


RAILWAY BRIDGES (RWB SLABS)

dimension: mm

WIKA BETON

E. REINFORCED CONCRETE SLABS FOR


EMPLACEMENT (EMPLACEMENT)

dimension: mm

WIKA BETON

F. REINFORCED CONCRETE SLABS FOR


BALLAST PROTECTION (RBP WALLS)

dimension: mm

WIKA BETON

G. CORRUGATED TYPE PRESTRESSED


CONCRETE SHEET PILES (CPC SHEET
PILES)

WIKA BETON

WIKA BETON

WIKA BETON

H. FLAT TYPE PRESTRESSED CONCRETE


SHEET PILES (FPC SHEET PILES)

WIKA BETON

I.

FLAT TYPE REINFORCED CONCRETE


SHEET PILES (FRC SHEET PILES)

WIKA BETON

J. PRESTRESSED CONCRETE I-GIRDER


(PC I-GIRDER)

WIKA BETON

K. REINFORCED CONCRETE SLAB FOR


I-GIRDER (PC I-GIRDER) AND
REINFORCED CONCRETE DIAPHRAGM
FOR I-GIRDER (RC-DIAPHRAGM)

WIKA BETON

L. PRESTRESSED CONCRETE VOIDED SLAB


(PC V-GIRDER)

WIKA BETON

WIKA BETON

BEAM SPACING PC I-GIRDER BM70

WIKA BETON

BEAM SPACING PC I-GIRDER BM100

WIKA BETON

PC V-SLAB SPACING TYPE I

PC V-SLAB SPACING TYPE II

WIKA BETON

M. TRIANGULAR PRESTRESSED CONCRETE


PILES (TPC PILES)

WIKA BETON

WIKA BETON

N. PRESTRESSED SPUN CONCRETE POLES


FOR ELECTRICAL DISTRIBUTION LINE
(DPC POLES)

WIKA BETON

O. SEGMENTAL PRESTRESSED SPUN


CONCRETE POLES FOR ELECTRICAL
POWER DISTRIBUTION LINE
(SDPC POLES)

WIKA BETON

P. SEGMENTAL PRESTRESSED SPUN


CONCRETE POLES FOR ELECTRICAL
POWER TRANSMISSION LINE
(STPC POLES)

WIKA BETON

Q. CORE TYPE PRESTRESSED CONCRETE


PIPES (CPC PIPES)

WIKA BETON

WIKA BETON

WIKA BETON

WIKA BETON

WIKA BETON

WIKA BETON

R. REINFORCED CONCRETE PIPES

WIKA BETON

WIKA BETON
LAMPIRAN 2
Formulir Inspeksi Peralatan

PT WIJAYA KARYA
Divisi Peralatan Konstruksi

WIKA-K5-10-IK-006
Revisi 00 Amd 02 Lampiran 9.1.6

FORM PEMERIKSAAN PERALATAN


Jenis Alat

: BATCHING PLANT

Tanggal Pemeriksaan

Merk / Type

Hour Meter ( HM )

No.Invet. / Polisi

Nomor Seri

NO
A.
1
2
3
4
5
B.
1
2
3
4
C.
1
2
3
4
5
6
7
D.
1
2
3
4
5
6
7
E.
1
2
3
4
5
6
7
8
F.
1
2
3
4
5
G.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
H.
1
2
3
4
5
6
7
8

ITEM CHECKING
SILO
Screw Pump
Motor
Gear Box
Gate
Bolt & Nut Silo
GATE MATERIAL
Air Cylinder
Solenoid Valve
Limit Switch
Air Hose
SCAP HOPPER
Roll Bearing
Bushing
Treck
Limit Switch
Motor
Gear Box
Wire Rope
MIXER
Motor
Gear Box
V-Belt
Liner & Tiles
Bearing Shaft
Blade
Gate mixer
PNEUMATIC SYSTEM
Air Compressor
Motor
V-Belt
Guard
Oil
Air Hose
Air Cylinder
Solenoid Valve
WATER PUMP
Hose
Flow Meter
Valve
Piping
Tank
SCRAPPER
Boom
Wire Rope
Roller
Bearing
Bucket
Motor Swing
Gear Swing
Disc Clutch
Master Clutch
Handle - handle
Brake Shoe
OPERATOR CABIN
Panel Control
Wiring
Gauge
Weigher
Arm Timbangan
Agrigat Scale Gauge Box
Glass Cabin
Door Cabin

BAGIAN YANG DIPERIKSA


SILO
Pompa ulir
Penggerak
Kotak transmisi
Pintu pembuka
Mur & baut silo
PINTU MASUKAN MATRIAL
Silinder udara
Katup selenoid
Saklar pembatas
Hose udara
SCAP HOPPER
Bantalan roll
Bantalan
Rel
Saklar pembatas
Penggerak
Kotak transmisi
Kabel kawat baja/sling
PENGADUK
Penggerak
Kotak transmisi
Sabuk/tali kipas
Liner & tile
Bantalan poros
Daun pengaduk
Pintu masukan pengaduk
SISTIM TEKANAN ANGIN
Kompressor udara
Penggerak
Sabuk/tali kipas
Pelindung
Oli
Hose udara
Silinder udara
Katup selenoid
POMPA AIR
Hose
Pengukur aliran
Katup
Pipa
Bak
BAJA PENGIKIS/PENGUMPUL
Lengan
Kabel kawat baja
Penggulung
Bantalan
Bucket
Penggerak putaran
Roda gigi putaran
Plat kopling
Master kopling
Handle/tuas
Sepatu rem/kampas
RUANG OPERATOR
Panel kontrol
Kabel
Pengukur
Timbangan
Lengan timbangan
Box pengukur matrial
Kaca Kabin
Pintu kabin

KONDISI
R
TA

KETERANGAN

WIKA BETON

KESIMPULAN/SARAN

WIKA BETON

KETERANGAN :
Beri tanda "V" untuk item yang diinspeksi
Beri tanda "X" untuk item yang tidak ada pada unit alat
B
: Baik
R
: Rusak
TA : Tidak Ada

Jakarta,.
Diinspeksi oleh

QC / QA

QC Workshop

PT WIJAYA KARYA
Divisi Peralatan Konstruksi

WIKA-K5-10-IK-006
Revisi 00 Amd 02 Lampiran 9.1.8

FORM PEMERIKSAAN PERALATAN


Jenis Alat

: CONCRETE PUMP

Tanggal Pemeriksaan

Merk / Type

Hour Meter ( HM )

No.Invet. / Polisi

Nomor Seri

NO

ITEM CHECKING

A
1
2
3
4
B
1
2
3
4
5
C
1
2
3
4
5
6
7
8
D
1
2
3
4
5
E
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
F
1
2
3
4
5
G
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12

BASIC ENGINE
Engine leakage
Engine mounting system
Fan drife system
Valve mechanis cover system
LUBRICTION SYSTEM
Breather kondisi
Oil filter system
Oil lines system
Oil pump system
Oil pressure system
COOLING SYSTEM
Blower fan system
Engine cooler system
Housing and regulator system
Protection cover radiator cap system
Radiator system
Transmission oil cooler system
Water lines system
Water pump system
INTAKE AND EXHAUST SYSTEM
Air cleaner system
Exhaust extention system
Exhaust manifold system
Muffler system
Turbocharger system
FUEL SYSTEM AND GOVERNOR
Fuel filter system
Fuel injection lines system
Fuel lines system
Fuel priming pump system
Fuel ratio control system
Fuel tank system
Fuel transfer pump system
Governor and fuel injection pump system
Primary fuel filter system
Fuel tank cover system
Secondary fuel filter system
Service meter system
Fuel drain valve system
Water sparator system
ELECTRICAL SYSTEM
Alternator system
Battrey and wiring system
Electric starting motor system
Glow plug system
Lighting system
SLIDING VALVE GREASE PIPING SYST
Piping assy grease system
Pipe copper system
Elbow system
Connector system
Coupler system
Piece system
Support main sylinder system
Band "U"system
Bracket water tank system
Bracket transportasi pipe system
Guard side system
Rubber cushion system

BAGIAN YANG DIPERIKSA


STANDAR MESIN
Kebocoran pada bagian-bagian engine
Sistim dudukan mesin
Sistim penggerak kipas
Sistim penutup katup
SISTIM PELUMASAN
Sistim breather
Sistim saringan oli
Sistim saluran oli
Sistim pompa oli
Sistim tekanan oli
SISTIM PENDINGIN
Sistim kipas blower
Sistim pendingin mesin
Sistim selang-selang dan regulator
Sistim pengaman tutup radiator
Sistim radiator
Sistim oli pendingin transmisi
Sistim saluran air
Sistim pompa air
SISTIM SALURAN MASUK & BUANG
Sistim filter udara
Sistim bagian-bagian saluran gas buang
Sistim saluran gas buang
Sistim knalpot
Sistim turbo
SISTIM GOVERNOR & BAHAN BAKAR
Sistim saringan bahan bakar
Sistim saluran injeksi bahan bakar
Sistim saluran bahan bakar
Sistim pompa pemancing bahan bakar
Sistim kontrol perbandingan bahan bakar
Sistim tangki bahan bakar
Sistim pompa pemindah bahan bakar
Sistim governor & pompa injeksi bahan bakar
Sistim sringan bahan bakar primer
Sistim penutup tangki bahan bakar
Sistim saringan bahan bakar sekunder
Sistim pengukur pemakaian
Sistim katup pengurasan bahan bakar
Sistim sparator air
SISTIM KELISTRIKAN
Sistim alternator
Sistim aki dan kabel penghubungnya
Sistim kelistrikan motor starter
Sistim pengapian busi
Sistim penerangan
SISTIM PIPA GEMUK KATUP GELINCIR
Sistim pipa perangkat gemuk
Sistim pipa copper
Sistim sambungan siku
Sistim penghubung
Sistim coupler
Sistim perpotongan
Sistim penopang tengah silinder
Sistim band "U"
Sistim bracket tangki air
Sistim bracket pipa transportasi
Sistim pengaman samping
Sistim bushing karet

KONDISI
R
TA

KETERANGAN

WIKA BETON

NO

ITEM CHECKING

BAGIAN YANG DIPERIKSA

H
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
I
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
J
1
2
3
4
5
6
7
8
9
K
1
2
3
4
5
6
L
1
2
3
4
5
6
7
M
1
2
3
4
5
6
7
N
1
2
3
4
5
6
7

SWING AND OUTTRIGGER SYSTEM


Swing device assy system
Outtrigger assy front LH-RH system
Outtrigger assy rear LH-RH system
Hydraulic piping boom system
Tube synflex/grease system
Box outtrigger inner system
Box outtrigger outer system
Valve assy chek for outrigger front system
Cylinder assy outtrigger front assy
Cylinder assy outtrigger rear assy
Nipple greace system
Arm RH-LH system
Block join system
Reduction assy swing system
Motor assy system
Joint assy rotari system
Bolt-bolt system
Stoper system
Base assy system
Pin-pin system
BOOM AND POST ASSY
Shaft boom assy system
Pin link system
Link tension system
Cyilinder assy boom (middle) system
Cyilinder assy boom (upper) system
Cyilinder assy boom (lower) system
Valve assy pilot chek system
Pin-pin system
Bushing-bushing link system
Boom upper system
Boom midle system
Boom lower system
CHASIS CONCRETE PIPING GROUP
Band / klem system
Joint pipe-pipe system
Pipe bending system
Pipe-pipe system
Bracket pipe system
Support system
Pipe taper system
Pipe "Y" system
Flexible hose system
HYDRAULIC AND PIPING SYSTEM
Piping assy pump hydraulic system
Hose-hose hydraulic assy system
Clamp pipe hydraulic system
O ring-O ring system
Pipe suction system
Valve assy control stop system
SLIDING AND PIPING SYSTEM
Piping assy sliding hydraulic system
Hose-hose hydraulic assy system
Clamp pipe hydraulic system
O ring-O ring system
Pipe suction system
Valve assy control stop system
Lever system LH-RH
CONTROL PIPING ASSY SYSTEM
Piping assy control hydraulic system
Band accumulator system
Hose-hose hydraulic assy system
Clamp pipe hydraulic system
O ring-O ring system
Valve assy control stop system
Valve check system
AGITATOR PIPING SYSTEM
Piping assy agitator system
Ball joint system
Hose-hose hydraulic assy system
Clamp pipe hydraulic system
O ring-O ring system
Lever link system
Pin Link system

SISTIM ALAT KELUARAN & SWING


Sistim perangkat alat swing
Sistim alat keluaran depan kiri & kanan
Sistim alat keluaran belakang kiri & kanan
Sistim pipa hidrolik boom
Sistim pipa gemuk
Sistim box masukan outrigger
Sistim box keluaran outrigger
Sist katup pengecek u/ saluran keluar bag depan
Perangkat silinder saluran keluar bag depan
Perangkat silinder alat keluaran belakang
Sistim niple gemuk
Sistim lengan kanan/kiri
Rumah nepel gemuk
Sistim ayun perangkat reduksi
Sistim perangkat penggerak
Sistim perangkat sambungan rotari
Sistim baut-baut
Sistim penghenti
Sistim rumah gear box
Sistim pin-pin
PERANGKAT BOOM & POST
Sistim perangkat poros boom
Sistim batang pin
Sistim ketegangan batang penghubung
Sistim perangkat silinder boom (tengah)
Sistim perangkat silinder boom (atas)
Sistim perangkat silinder boom (bawah)
Sistim perangkat katu pengecekan awal
Sistim pin-pin
Sistim bantalan-bantalan penghubung
Sistim boom atas
Sistim boom tengah
Sistim boom bawah
KELOMPOK PANGKA PIPA BETON
Sistim klem
Sistim sambungan pipa-pipa
Sistim bengkoan pipa
Sistim pipa-pipa
Sistim knie pipa
Sistim penopang
Sistim pipa tirus/peralihan
Sistim pipa "Y"
Sistim hose fleksibel
SISTIM HIDROLIK DAN PIPA
Sistim perangkat pipa pompa hidrolik
Sistim perangkat hose hidrolik
Sistim klam pipa hidrolik
Sistim O ring-O ring
Sistim bagian-bagian pipa
Sistim prangkat katup kontrol penghentian
SISTIM PIPA DAN PIPA GESER
Sistim perangkat pipa geser hidrolik
Sistim perangkat hose-hose hidrolik
Sistim klem pipa hidrolik
Sistim O ring-O ring
Sistim bagian-bagian pipa
Sistim prangkat katup kontrol penghentian
Sistim tuas kiri - kanan
SISTIM PERANGKAT PIPA KONTROL
Sistim perangkat pipa pengontrol hidrolik
Sistim pengikat aki
Sistim perangkat hose hidrolik
Sistim klem pipa hidrolik
Sistim O ring-O ring
Sistim perangkat katup penghentian
Sistim katup pengecekan
SISTIM PIPA YANG BERGERAK
Sistim perangkat pipa yang bergerak
Sistim ball join
Sistim perangkat hose hidrolik
Sistim klem pipa hidrolik
Sistim O ring-O ring
Sistim tuas penghubung
Sistim pin penghubung

KONDISI
R
TA

KETERANGAN

WIKA BETON

NO
O
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
P
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

ITEM CHECKING
TANK PIPING ASSY GROUP
Piping assy tank system
Element suction strainer system
Filter assy reurn system
Reduser system
Magnet system
Gauge level system
Elbow system
Conector system
Flange system
Seal-seal system
Bolt-bolt system
OUTTRIGGER PIPING GROUP
Piping assy outtrigger system
Valve assy stop system
Valve assy shutle system
Hose-hose hydraulic assy system
Reduser system
Elbow system
Connector system
Flange system
Seal-seal system
Bolt-bolt system

BAGIAN YANG DIPERIKSA

KONDISI
R
TA

KETERANGAN

KELOMPOK PIPA-PIPA TANGKI


Sistim perangkat pipa pada tangki
Sistim elemen brongsong isap
Sistim perangkat filter
Sistim reduser
Sistim magnet
Sistim panel ukur
Sistim elbow (bengkeoan pipa)
Sistim penghubung
Sistim flange(lekuan)
Sistim seal-seal
Sistim baut-baut
KELOMPOK PIPA ALAT KELUARAN
Sistim perangkat pipa alat keluaran
Sistim perangkat katup penghenti
Sistim perangkat katup pengunci
Sistim hose-hose perangkat hidrolik
Sistim pengalih
Sistim sambungan siku
Sistim penghubung
Sistim lekuan-lekuan
Sistim seal-seal
Sistim baut-baut

KESIMPULAN/SARAN

WIKA BETON

KETERANGAN :
Beri tanda "V" untuk item yang diinspeksi
B : Baik
R : Rusak
TA : Tidak Ada

Jakarta,.
Diinspeksi oleh

QC / QA

QC Workshop

PT WIJAYA KARYA
Divisi Peralatan Konstruksi

WIKA-K5-10-IK-006
Revisi 00 Amd 02 Lampiran 9.1.21

FORM PEMERIKSAAN PERALATAN


Jenis Alat

: TRUCK MIXER

Tanggal Pemeriksaan

Merk / Type

Hour Meter ( HM )

No.Invet. / Polisi

Nomor Seri

NO
A
1
2
3
4
B
1
2
3
4
5
C
1
2
3
4
5
6
7
8
D
1
2
3
4
5
E
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
F
1
2
3
4
5
G
1
2
3
4
H
1
2
3
4
5
6
I
1
2
3
4
J
1
2
3
4

ITEM CHECKING
BASIC ENGINE
Engine leakage
Engine mounting system
Fan drife system
Valve mechanis cover system
LUBRICTION SYSTEM
Breather system
Oil filter system
Oil lines system
Oil pump system
Oil pressure system
COOLING SYSTEM
Blower fan system
Engine cooler system
Housing and regulator system
Protection cover radiator cap system
Radiator system
Transmission oil cooler system
Water lines system
Water pump system
INTAKE AND EXHAUST SYSTEM
Air cleaner system
Exhaust extention system
Exhaust manifold system
Muffler system
Turbocharger system
FUEL SYSTEM AND GOVERNOR
Fuel filter system
Fuel injection lines system
Fuel lines system
Fuel priming pump system
Fuel ratio control system
Fuel tank system
Fuel transfer pump system
Governor and fuel injection pump stm
Primary fuel filter system
Fuel tank cover system
Secondary fuel filter system
Service meter system
Fuel drain valve system
Water sparator system
ELECTRICAL SYSTEM
Alternator system
Battrey and wiring system
Electric starting motor system
Glow plug system
Lighting system
TRANSMISSION SYSTEM
Transmission control linkage system
Transmission control linkage play
Transmission gear system
Oil seal transmission system
PROPELLER SHAFT SYSTEM
Propeller shaft center bearing support
Propeller shaft universal joint play
Propeller shaft mounting bolt system
Universal joint system
Center bearing system
Rubber center bearing system
CLUTCH SYSTEM
Master cylinder system
Clutch piping oil system
Clutch hose system
Clutch bearing system
REAR AXLE SYSTEM
Differential gear system
Axle shaft mounting nuts system
Oil seal kondisi system
Oil leakage

BAGIAN YANG DIPERIKSA


STANDAR MESIN
Kebocoran pada bagian-bagian mesin
Sistim dudukan mesin
Sistim penggerak kipas
Sistim penutup katup
SISTIM PELUMASAN
Sistim breather
Sistim saringan oli
Sistim saluran oli
Sistim pompa oli
Sistim tekanan oli
SISTIM PENDINGIN
Sistim kipas blower
Sistim pendingin mesin
Sistim pipa-pipa & regulator
Sistim pengaman tutup radiator
Sistim radiator
Sistim oli pendingin transmisi
Sistim saluran air
Sistim pompa air
SISTIM SALURAN MASUK & BUANG
Sistim filter udara
Sistim bagian-bagian saluran buang
Sistim saluran buang
Sistim knalpot
Sistim turbo
SISTIM GOVERNOR & BAHAN BAKAR
Sistim saringan bahan bakar
Sistim saluran injeksi bahan bakar
Sistim saluran bahan bakar
Sistim pompa pemancing bahan bakar
Sistim kontrol perbandingan bahan bakar
Sistim tangki bahan bakar
Sistim pompa pemindah bahan bakar
Sistim governor & pompa injeksi bahan bakar
Sistim saringan bahan bakar primer
Sistim penutup tangki bahan bakar
Sistim saringan bahan bakar sekunder
Sistim pengukur penggunaan
Sistim katup pengurasan bahan bakar
Sistim sparator air
SISTIM KELISTRIKAN
Sistim alternator
Sistim aki dan kabel penghubungnya
Sistim kelistrikan motor starter
Sistim pengapian busi
Sistim penerangan
SISTIM TRANSMISI
Sistim kontrol penghubung transmisi
Ruang gerak kontrol sambungan transmisi
Sistim roda gigi transmisi
Sistim seal oli transmisi
SISTIM POROS PENGGERAK
Bantalan penopang tengah poros penggerak
Ruang main universal joint poros penggerak
Sistim baut dudukan poros penggerak
Sistim universal joint
Sistim bantalan tengah
Sistim bantalan karet tengah
SISTIM KOPLING
Sistim master silinder
Sistim pipa oli kopling
Sistim hose kopling
Sistim bantalan kopling
SISTIM POROS PENGGERAK BELAKANG
Sistim roda gigi diferensial
Sistim mur dudukan poros penggerak
Sistim kondisi seal oli
Kebocoran-kebocoran oli

KONDISI
R
TA

WIKA BETON

KETERANGAN

NO
K
1
2
3
L
1
2
3
M
1
2
N
1
2
O
1
2
3
4
P
1
2
Q
1
2
3
4
5
R
1
2
3

ITEM CHECKING
FRONT AXLE SYSTEM
King pin system
Axle beam kondisi system
Tie rod ball joint system
STEERING SYSTEM
Cleareance steering system
Oil seal kondisi system
Worm steering system
WHEEL PARKING BRAKE SYSTEM
Parking brake system
Lining brake system
WHEEL AND TIRE SYSTEM
Wheel bearing torque syst (front&rear)
Tire wear kondisi
SUSPENSION SYST & BRAKE SYST
Suspension kondisi
Shock absorber system
Bracket spring system
Brake system
CAB SYSTEM
Cab rear mounting system
Cab kondisi
HYDRAULIC CONTROL DUMP SYST
Hydraulic pump system
Hydraulic control system
Transfer gear pump system
Propeller shaft system
Linkage control drum system
DRUM SYSTEM
Blade mixer kondisi / sudut-sudut
Cut / talang system
Hooper system

BAGIAN YANG DIPERIKSA

KONDISI
R
TA

KETERANGAN

SISTIM POROS PENGGERAK DEPAN


Sistim king pin
Sistim kondisi poros pengimbang gerak
Sistim boll joint tie rod
SISTIM KEMUDI
Sistim clereance kemudi
Sistim kondisi seal oli
Sistim worm kemudi
SISTIM REM PARKIR RODA
Sistim rem parkir
Sistim saluran rem
SISTIM RODA
Sistim bantalan pada roda depan/belakang
Kondisi ban
SISTIM SUSPENSI & REM
Kondisi suspensi
Sistim peredam kejut
Sistim bracket pegas
Sistim rem
SISTIM KABIN
Sistim dudukan belakang kabin
Kondisi kabin
SISTIM KONTROL DUMP HIDROLIK
Sistim pompa hidrolik
Sistim kontrol hidrolik
Sistim gigi transfer pompa
Sistim poros penggerak
Sistim penghubung kontrol drum
SISTIM DRUM
Kondisi pisau-pisau pengaduk/ sudut-sudut
Sistim pemotong
Sistim corong isi

KESIMPULAN/SARAN

WIKA BETON

KETERANGAN :
Beri tanda "V" untuk item yang diinspeksi
B
: Baik
R
: Rusak
TA : Tidak Ada

Jakarta,.
Diinspeksi oleh

QC / QA

QC Workshop

PT WIJAYA KARYA
Divisi Peralatan Konstruksi

No.Dokumen

: WIKA-K5-09-IK-052

Lampiran

: 9.2.p

No.Revisi

: 02 (amand 01)

LAPORAN HARIAN OPERASI ALAT


BATCHING PLANT
Nama Operator

Paraf

Hour Meter
Selesai

Mulai

Nama Alat
Merk / Type
No.Inventaris
Hari
Tanggal
Lokasi

Jumlah

1
2
Waktu
Uraian
Pemeriksaan alat (***)
1
sebelum Operasi
2
3

06
18

07
19

08
20

09
21

10
22

11
23

12
24

13
01

14
02

15
03

:
:
:
:
:
:

16
04

17
05

18
06

Total Waktu
Jam

Menit

Operasi Efektif

Jam

Menit

Tunggu Operasi / Idle

Jam

Menit

Jam

Menit

Jam

Menit

Down Time

Setup & Start Up


Rusak (**)

Jenis Material

Box Girder

Balok Girder

Cuaca
Cerah

WIKA BETON

Gerimis
Hujan
Berkabut

PEMERIKSAAN ALAT SEBELUM OPERASI

Uraian
1. Screw pump :
- check motor

- grease / lumasi bearing


2. Pneumatic system
- check air cylinder

Uraian

Catatan

5. Timbangan :
- Bersihkan weight bin

- Check gate mixer


- check liner / tile
Keterangan :
Beri tanda " V " pada bagian yang dicek / diperiks
( * ) Lakukan pengecekan saat pemanasan
( ** ) Buat CCP / PTKP apabila diperlukan penanganan seriu
( *** ) Pemeriksaan alat termasuk pemeliharaan berkala
(****) Alat Pelindung Diri (APD) Mengacuh kepada safety plan
" B " (Baik) " K " (Kurang) " T " (Tambah) " L " (Lain-lain

- Check fungsi auto remote

- Bersihkan agregat scale

- Bersihin ruang mixer

- Check wire rope

- check solenoid
- grease bearing shaft

- Grease roll scrapper

- check air hose & pipe


3. Mixer unit :

4. Scrapper :

6. Check pengoperasian
chute
7. Check safety belt
8. Check APAR
9. Check P3K Standard
Pengesahan

Tanda Tangan

Nama

Pelaksana Operasi

Operator

PT WIJAYA KARYA
Divisi Peralatan Konstruksi

No.Dokumen

: WIKA-K5-09-IK-052

Lampiran

No.Revisi

: 00

LAPORAN HARIAN OPERASI ALAT


CONCRETE PUMP
Nama Operator

Paraf

Hour Meter
Selesai

Mulai

Nama Alat
Merk / Type
No.Inventaris
Hari
Tanggal
Lokasi

Jumlah

1
2
Waktu
Uraian
Pemeriksaan alat (***)
1
sebelum Operasi
2
3

06
18

07
19

08
20

09
21

10
22

11
23

12
24

13
01

14
02

15
03

:
:
:
:
:
:

16
04

17
05

18
06

Operasi Efektif
Tunggu Operasi / Idle

Down Time

Setup & Start Up


Rusak (**)

Jenis Material

Box Girder

Balok Girder

Total Waktu
Jam

Menit

Jam

Menit

Jam

Menit

Jam

Menit

Jam

Menit

Cuaca
Cerah
Gerimis
Hujan
Berkabut

PEMERIKSAAN ALAT SEBELUM OPERASI

WIKA BETON

Uraian
1. Check air radiator

Uraian

2. Check level oil engine & oil

22. Check grease pump

3. Check level BBM & BBM

23. Check turn table

4. Check level oil Hyd. & Oil

24. Check bearing turn table

5. Check level oil transmission

25. Check presure system

6. Check level air battery & battery

26. Check remote control

7. Check tegangan V-belt

27. Check Hyd. System

8. Check instrument panel

28. Check Level Control

9. Check lampu-lampu kerja

29. Check steering system

10. Bersihin filter udara

30. Check P.T.O

11. Bersihin filter solar

31. Check electrical fan

12. Bersihin ruang operator

32. Check spion

13. Grease bagian peralatan kerja

33. Check safety belt

14. Check oil rem

34. Check APAR

15. Check tekanan ban

35. Check P3K standard

16. Check kelainan suara (*)

36. Check segitiga pengaman

17. Bersihin hopper

37. Check dongkrak

18. Check hopper screw

38. Check kursi roda

19. Check sliding valve


20. Check sliding pump
Keterangan :
Beri tanda " V " pada bagian yang dicek / diperiks
( * ) Lakukan pengecekan saat pemanasan
( ** ) Buat CCP / PTKP apabila diperlukan penanganan seriu
( *** ) Pemeriksaan alat termasuk pemeliharaan berkala
(****) Alat Pelindung Diri (APD) Mengacuh kepada safety plan
" B " (Baik) " K " (Kurang) " T " (Tambah) " L " (Lain-lain

Catatan

21. Check grease tank & tank

39. Check roda cadangan


Pengesahan

Tanda Tangan

Nama

Pelaksana Operasi

Operator

PT WIJAYA KARYA
Divisi Peralatan Konstruksi

No.Dokumen

: WIKA-K5-09-IK-052

Lampiran

No.Revisi

: 00

LAPORAN HARIAN OPERASI ALAT


TRUCK MIXER
Nama Operator

Paraf

Hour Meter
Selesai

Mulai

Nama Alat
Merk / Type
No.Inventaris
Hari
Tanggal
Lokasi

Jumlah

1
2
Waktu
Uraian
Pemeriksaan alat (***)
1
sebelum Operasi
2
3

06
18

07
19

08
20

09
21

10
22

11
23

12
24

13
01

14
02

15
03

:
:
:
:
:
:

16
04

17
05

18
06

Total Waktu
Jam

Menit

Operasi Efektif

Jam

Menit

Tunggu Operasi / Idle

Jam

Menit

Jam

Menit

Jam

Menit

Setup & Start Up

Down Time

Rusak (**)

Jenis Material

Box Girder

Balok Girder

Cuaca
Cerah
Gerimis
Hujan
Berkabut

PEMERIKSAAN ALAT SEBELUM OPERASI

WIKA BETON

Uraian

1. Check air radiator

Uraian

Catatan

20. Bersihin drump

2. Check level oil engine & oil

21. Check manhole

3. Check level BBM & BBM

22. Bersihin swivel chute

4. Check level oil Hyd. & Oil

23. Grease bearing swivel chute

5. Check level oil transmission

24. Bersihin chute drum

6. Check level air battery & battery

25. Check Hyd. Silinder

7. Check tegangan V-belt

26. Check Hand Speed / P.T.O

8. Check instrument panel

27. Check Hyd. Hose

9. Check lampu-lampu kerja

28. Check electrical fan

10. Bersihin filter udara

29. Check safety belt

11. Bersihin filter solar

30. Check APAR

12. Bersihin ruang operator

31. Check P3K standard

13. Bersihin ruang mesin

32. Check segitiga pengaman

14. Grease bagian peralatan kerja

33. Check dongkrak

15. Check oil rem

34. Check kursi roda

16. Check tekanan ban

35. Check roda cadangan

17. Check kelainan suara


18. Check brake system
19. Check bearing pump
20. Grease roll pump
Keterangan :
Beri tanda " V " pada bagian yang dicek / diperiks
( * ) Lakukan pengecekan saat pemanasan
( ** ) Buat CCP / PTKP apabila diperlukan penanganan seriu
( *** ) Pemeriksaan alat termasuk pemeliharaan berkala
(****) Alat Pelindung Diri (APD) Mengacuh kepada safety plan
" B " (Baik) " K " (Kurang) " T " (Tambah) " L " (Lain-lain

Pengesahan

Tanda Tangan

Nama

Pelaksana Operasi

Operator

PT WIJAYA KARYA
Divisi Peralatan Konstruksi

Lampiran
No.Dokumen
Revisi

:
:
:

FORM PEMELIHARAAN PERALATAN


Nama Alat

Batching Plant ELBA

Lokasi

Merk / Type

: Gomaco / Commander III

Tanggal

No.Inventaris

: HM

Reverence

: Service Manual

No.

Uraian

1
2
3
4
5
6
7
8
9

Bersihkan Mixer
Cek & Bersihkan Weight Bin
Cek & Bersihkan Agregate Scale
Cek & Bersihkan Connection Bellows
Cek Cement Screw Conveyor
Cek & Bersihkan Water Scale
Cek & Bersihkan Additive Equipment
Cek & Bersihkan Chute
Bersihkan Storage Silo

1
2
3
4
5

Cek
Cek
Cek
Cek

1
2
3
4
5

Setip
HM

Rev.
Hal

Kata
gori

Cek

:
:
:

Aktivitas
Bersih
Ganti Stel
kan

Grea
se

Kali
brasi

Keterangan

10
10
10

10
10
10
10
10
10

WIKA BETON

Hoise Rope
Rope Fastening
General Indiction Rope
Sambungan Radial Scraper

Cek & Adjust Chain Tension


Cek % grease Rail
Bersihkan Nylon Trapulin
Cek & Bersihkan Wipe Rope

Cek & Rotasi Roller


Cek Limit Switch

50
50
50
50
50

Is
Is
Is
Is
Is

Catatan :

Pengesahan

Tanda tangan

Nama

Pelaksana

Mekanik

PT WIJAYA KARYA
Divisi Peralatan Konstruksi

Lampiran
No.Dokumen
Revisi

:
:
:

FORM PEMELIHARAAN PERALATAN


Nama Alat

: Concrete Pump

Lokasi

Merk / Type

Tanggal

No.Inventaris

: HM

Reverence

: Service Manual

No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22

Uraian
Ganti oli mesin
Ganti filter oli mesin
Ganti filter bahan bakar
Bersihkan filter udara
Bersihkan chute mixer
Bersihkan filter udara
Bersihkan screen FIP
Check / Stel V Belt Tension
Check Minyak Rem / Copling
Cek kebocoran water pump
Grease Cross Joint
Grease Propeller Shaft
Check Instrumen Panel
Grease tie rod

Rev.
Hal

250
250
250
250
250
250
250
250
250
250
250
250
250
250
250
250
250
250
250
250

2.4
2.4
2.3

Kata
gori

Cek

:
:

Aktivitas
Bersih
Ganti Stel
kan

Grea
se

Kali
brasi

2.5
17
2.5
2.3
1.12
-

WIKA BETON

Check kelengakapan kendaraan


Grease Pully V Belt
Check Pressure Sequence Valve
Check main pump pressure

Check
Check
Check
Check

Setip
HM

karet pd Control Box


Noise Oil Leakage M Pump
Noise M Pump to Boom
Noise M Pump to Agitating

Check Abnormal sliding rod

Check Packing piston sliding rod


Kencangkan baut turn table
Kencangkan baut fitting Bolt
Kencangkan baut sliding valve
Kencangkan baut sliding Rod

Check Upper, middle, lower boom


Check Front Trigger
Check Rear out Trigger
Bersihkan filter dalam grace tank
Bersihkan filter water sliding rod

Bersihkan oil cooler (exterior)


Grease accelerasi control sys
Grease delivery control system
Grease agiator oil pump
Grease Regulator oil Pump
Grease bearing tun tabel boom
Grease Reduction gear turn table
Grease swivel joint

Grease boom joint housing


Grease swing joint bushing hyd cyl
Check / Stel Rem
Check baut-baut roda
Check Lampu penerangan

250
250
250
250
500
500
500
500
500
500
500
500
500
500
500
500
500
500
500
500
500
500
500
500
500
500

9.7
9.7
9.7
9.7
9.7
9.7
9.7
9.7
9.9
9.9
9.9
9.9
9.9
9.9
9.9
9.9
9.9
9.10
9.11
9.12
9.13
9.14
9.15
9.16
9.17
9.18
9.19
-

Keterangan

PT WIJAYA KARYA
Divisi Peralatan Konstruksi

Lampiran
No.Dokumen
Revisi

:
:
:

FORM PEMELIHARAAN PERALATAN


Nama Alat

: Truck Mixer Hino / Wira

Lokasi

Merk / Type

Tanggal

No.Inventaris

: HM

Reverence

: Service Manual

No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
1
2
3
4
5
6
7
8
9
1
2
3
4
5
6
7
8
9

Uraian
Ganti oli mesin
Ganti filter oli mesin
Ganti filter bahan bakar
Bersihkan hopper mixer
Bersihkan chute mixer
Bersihkan filter udara
Bersihkan screen FIP
Bersihkan Drum Mixer
Check / Stel V belt Tension
Check Kondisi Air Radiator
Check Minyak Rem / Copling
Check Air Battery
Check Kelengkapan kendaraan
Grease Pully V Belt

Setip
HM

Rev.
Hal

Kata
gori

250
250
250
250
250
250
250
250
250
250
250
250
250
250
250
250
250
250
250
250

2.4
2.4
2.3

M1
M1
M1
M1
M1
M1
M1
M1
M1
M1
M1
M1
M1
M1
M1
M1
M1
M1
M1
M1
M1

17
17
2.5
2.3
17
2.4
2.12
2.17
-

Cek

Aktivitas
Bersih
Ganti Stel
kan

Grea
se

Kali
brasi

WIKA BETON

Grease Ball Joint


Grease Tire Road
Grease Cross Joint

Grease Giude Roller Mixer

Grease Handle-2 Mixer


Stel Guide Ring / Set Belt Mixer
Bersihkan alat
Check Instrumen Panel
Check oli transmissi
Check oli gardan
Check baut-baut roda

Check
Check
Check
Check

oli hidrolik
lampu-2 penerangan
/ Stel Rem
Handle / Cable Pump

Check kebocoran oli

Ganti oli gardan


Ganti oli transmissi
Ganti filter udara
Check / Stel Kerenggangan Klep
Check / Stel Injection Timing
Check Keausan ban
Check drive shaft (mixer)
Check oli hydrolik

Check engine mounting

250
500
500
500
500
500
500
500
500
500
1000
1000
1000
1000
1000
1000
1000
1000
1000

16
17
9.7
2.7
2.8
2.12
2.8
2.7
2.5
2.2
2.2
16
-

M2
M2
M2
M2
M2
M2
M2
M2
M2
M3
M3
M3
M3
M3
M3
M3
M3
M3

Keterangan

PT WIJAYA KARYA

Jenis Alat

Divisi Peralatan Konstruksi

: _____________________________

No. Inventaris : _____________________________


Proyek :____________________

Bulan

: _____________________________

CATATAN OPERASI ALAT


Pembacaan Hour Meter *)
Tgl
Awal

Akhir

Jumlah

Pengunaan Jam **)


Pemeriksa
Perbaikan
an ***)
4

Pemakaian Olie (liter)

Tunggu
Operasi
6

Bahan
Bakar

Mesin

Transmisi

Gardan

10

Final Drive gear Swing

11

12

Jumlah Biaya Bulanan


Hydrolik

Lain-lain

Grease

Catatan Mengenai
Pemeliharaan/Perbaikan

13

14

15

16

No

17

Bagian

Jumlah

Harga
Stn/Ltr

Jumlah
(Rp)

18

19

20

21

Bahan Bakar

Olie Mesin

Olie Transmisi

Olie Gardan

Olie Final Drive

Olie Gear Swing

Olie Hydrolik

Olie Lain-lain

Grease

10

Suku Cadang

11

Lain-lain

9
10
11
12
13
14
15

WIKA BETON

Pemeliharaan
Perbaikan

Jumlah Biaya Operasi (Rp)


Catatan-catatan lain
*)

: Apabila Hour Meter rusak, pencatatan jam

17

**)

: Jam yang digunakan adalah jam waktu

18

***)

: Pemeriksaan, termasuk pemeliharaan alat

16

operasi alat dapat mengacu pada jam waktu.

19

sebelum operasi dan pemeliharaan berkala

20

Lembar 1: Arsip Proyek

21

Lembar 2: Laporan Ke Unit/SPL

22
23
24
25

Disetujui, Pelut/Pelaks

26

Nama

27

Tanggal :

Tanggal :

Tanda tangan :

Tanda tangan :

Dibuat oleh,
Nama

28
29
30
31

PT WIJAYA KARYA
Divisi Peralatan Konstruksi

LAPORAN REALISASI PEMELIHARAAN ALAT

Proyek
Periode

No.

No. Inventaris
Lama
Baru

Nama Alat

: __________________________
: __________________________

Merk/Type Katagori *) Ra/Ri HM Tanggal

WIKA BETON

Keterangan :
*)

Sesuai IK belum di Revisi *) Sesuia IK Revisi


M1* : 200 Jam

M1* : 200 Jam

M2* : 250 Jam

M2* : 500 Jam

M3* : 400 Jam

M3* : 1000 Jam

M4* : 500 Jam

M4* : 2000 Jam

M5* : 800 Jam


M6* : 1000 Jam
M7* : 1600 Jam
M8* : 2000 Jam

Mengetahui,

Dibuat oleh,

Nama

Nama

Tanggal

Tanggal

Tanda tangan

Tanda tangan

Keterangan

GLOSSARY

WIKA BETON

glossary g-1

Glossary
Accelerator

Suatu bahan yang bila ditambahkan kedalam adukan


beton, mortar maupun adukan untuk grouting akan
meningkatkan
kecepatan
hidrasi
semen
hidrolis,
memperpendek waktu pengikatan, atau meningkatkan
kecepatan pengerasan, perkembangan kekuatan atau
kedua-duanya (lihat grouting)

Accidental Overload

Kelebihan beban secara signifikan yang tidak diinginkan


dan terjadi secara tiba-tiba

Aditif

Bahan tambahan yang tidak merubah sifat kimia beton


melainkan hanya berfungsi sebagai filler/pengisi rongga

Admixture

Bahan tambahan kimiawi yang berfungsi merubah sifatsifat beton secara kimia

Agitasi

Proses penggerakan adukan beton secara ringan yang


cukup untuk mencegah segregasi atau kehilangan
plastisitas

Agitator

Sebuah peralatan adukan beton yang bisa berputar atau


berotasi untuk menjaga plastisitas dan mencegah
segregasi dari adukan beton dengan agitasi (Lihat agitasi)

WIKA BETON

Agitator truck

Kendaraan pengangkut yang didalamnya adukan beton


segar diangkut dari tempat pengadukan ke tempat
pengecoran dengan di-agitasi, badan truk dapat berupa
badan yang tak dapat bergerak/stasioner dengan agitator,
atau berupa drum yang berotasi secara terus menerus
untuk meng-agitasi isi didalamnya (Lihat juga truk mixer)

Agregat / aggregate

Material granular, seperti pasir, kerikil, batu pecah, beton


semen hidrolis yang dipecah, atau terak tanur tinggi, yang
digunakan bersama bahan semen hidrolis untuk membuat
beton maupun mortar (Lihat juga agregat ringan,
aggregate normal dan agregat berat)

Agregat berat /
heavyweight aggregate

Agregat dengan kepadatan besar, seperti barite, magnetite,


hematite, limonite, ilmenite, besi atau baja, digunakan pada
beton berat/heavyweight concrete (Lihat beton berat)

Agregat normal / normal


weight aggregate

Agregate yang tidak termasuk dalam agregat berat maupun


agregat ringan

Agregat ringan /
lightweight aggregate

Agregat dengan kepadatan rendah, seperti agregat yang


dibuat dari (1) tanah liat, lempung, batu tulis/slate,
diatomaceous shale, perlite, vermiculite, atau terak, (2)
batu apung alami, scoria, batu arang vulkanik, tuff,
diatomite, (3) abu terbang, sisa arang/terak industrial, yang
digunakan pada beton ringan

Air chiller

Alat pendingin air, yang biasa dipakai untuk pendingin air


adukan beton, agar hasil beton adukan memiliki suhu yang
tidak terlalu panas

glossary g-2

Air entrained concrete

Beton yang didalamnya terdapat gelembung-gelembung


udara kecil (biasanya lebih kecil dari 1 mm) yang sengaja
dibuat terperangkap oleh aditif tertentu

Air entraining agent

Aditif adukan beton atau mortar yang berfungsi untuk


menambah gelembung udara pada beton, mengurangi
bleeding, kebutuhan air dan segregasi, biasanya akan
meningkatkan workabilitas dan ketahanan terhadap beku

Alkali

Garam-garaman dari logam alkali, terutama sodium dan


potassium, khususnya sodium dan potassium yang
terdapat dalam unsur pokok beton dan mortar, biasanya
dinyatakan dalam analisis kimia sebagai oksida Na2O dan
K2O

Bahan tambahan

Material selain air, agregat, semen hidrolis dan tulangan,


yang digunakan sebagai bahan penyusun beton atau
mortar, dan segera ditambahkan kedalam adukan sebelum
atau selama pengadukan

Baja tulangan

Baja berbentuk langsing yang sedemikian rupa ditanam


dalam beton sehingga baik baja tulangan dan beton
berperan menahan gaya-gaya yang bekerja padanya
secara bersama-sama

Batch

Sejumlah tertentu campuran pembentuk beton maupun


mortar, yang dicampur pada saat yang bersamaan

WIKA BETON

Batching plant

Sebuah instalasi untuk pencampuran maupun untuk


pencampuran dan pengadukan (misalnya: beton) secara
otomatis

Beam

Balok; bagian struktur yang dikenai beban axial dan lentur,


tapi lebih dominan terhadap lentur; atau batang horisontal
berskala dari sebuah timbangan yang padanya diletakkan
pemberat

Bekisting / form

Struktur sementara/temporer atau cetakan yang berfungsi


sebagai dukungan beton ketika sedang mengalami
pengikatan dan memperoleh kekuatan yang cukup agar
dapat mendukung bebannya sendiri (Lihat juga formwork)

Benda uji

Sebagian dari adukan beton yang kemudian dicetak dalam


berbagai bentuk dan ukuran tertentu (silinder atau kubus)
yang digunakan untuk mengetahui sifat-sifat fisik dari
adukan beton

Berat jenis

Perbandingan antara massa suatu material tiap satuan


volume (Lihat juga bulk density dan specific gravity)

Beton

Material komposit yang terdiri dari medium pengikat (pada


umumnya campuran semen hidrolis dan air), agregat halus
(pada umumnya pasir) dan agregat kasar (pada umumnya
kerikil) dengan atau tanpa bahan tambahan/additives

glossary g-3

Beton berat / heavyweight


concrete

Beton dengan kepadatan yang lebih besar dibandingkan


dengan beton yang dibuat dari agregat dengan berat
normal, biasanya diperoleh dengan menggunakan agregat
berat dan terutama digunakan untuk perisai radiasi

Beton bertulang

Beton yang mengandung penulangan yang cukup


(prategang maupun bukan) dan direncanakan berdasarkan
asumsi bahwa kedua material (beton dan baja tulangan)
bekerja bersama-sama dalam menahan gaya-gaya yang
bekerja padanya (Lihat juga baja tulangan)

Beton ekspose

Beton yang permukaannya dibentuk sedemikian rupa


dengan finishing dan tekstur yang dapat diterima untuk
diekspos/dipaparkan secara permanen (Lihat juga
finishing)

Beton hampa

Beton yang air sisa reaksi hidrasinya dan udara yang


terperangkap disedot dengan cara vakum sebelum proses
pengerasan terjadi

Beton massa

Beton dengan volume yang cukup besar sehingga


memerlukan pengukuran panas agar dapat mengantisipasi
panas hidrasi dan perubahan volume yang menyertainya
sehingga meminimalisasi retak

Beton normal

Beton tanpa bahan tambahan/aditif dengan berat jenis


3
berkisar 2200-2500 kg/m dan dibuat dari agregat
normal/normal weight aggregate (Lihat juga agregat
ringan)

WIKA BETON

Beton prategang

Beton yang tegangan-tegangan internal dengan besaran


dan distribusi tertentunya ikut diperhitungkan, sehingga
tegangan tarik yang dihasilkan dari beban layannya
dinetralkan hingga derajat yang diinginkan; pada beton
bertulang, prategang dibuat dengan memberi tegangan
awal pada tendon (Lihat juga tendon)

Beton segar

Beton yang belum mengeras yang dapat dipadatkan


dengan metode-metode yang diinginkan

Beton siklop

Beton massa yang didalamnya batuan besar (dapat


mencapai 50 kg atau lebih) diletakkan dan dibenamkan
kedalam beton saat penuangan

Bleeding

Kecenderungan air campuran untuk naik keatas


(memisahkan diri) pada beton segar yang baru saja
dipadatkan

Bonding agent

Suatu bahan yang diaplikasikan pada lapisan yang


diinginkan untuk menciptakan ikatan antara lapisan
tersebut dengan lapisan selanjutnya sebagaimana antara
lapisan bawah dan lapisan terazzo diatasnya atau aplikasi
plesteran yang berlapis-lapis

Bracing

Bagian struktur yang berfungsi sebagai penopang lateral


bagi bagian struktur yang lain, biasanya bertujuan untuk
menjamin stabilitas dan menyangga beban-beban lateral

glossary g-4

Brooming

Finishing beton untuk membuat permukaan beton agar


tidak licin dengan memberikan pola /alur tertentu dengan
memukul-mukulkan sapu lidi atau alat pemberi tekstur
lainnya pada permukaan beton segar

Bulk density

Massa suatu material (termasuk partikel padat dan air yang


terkandung) tiap satuan volume termasuk pori-porinya
(Lihat juga specific gravity)

Carbonation

Reaksi antara karbondioksida dan hidroksida atau oksida


tertentu untuk membentuk karbonat, terutama dalam pasta
semen, mortar atau beton; reaksi dengan komponen
kalsium yang menghasilkan kalsium karbonat

Carborundum

Batuan dengan kandungan karbon yang tinggi digunakan


dalam proses finishing beton untuk menghasilkan
permukaan yang halus

Chipping

Perlakuan pada permukaan beton yang telah mengeras


dengan memahat

Clinker

Sebagian hasil pembakaran tungku, sebagai bahan dasar


pembuatan semen; juga sebagai sebutan untuk material
hasil pembakaran lainnya

Cold-joint

Titik sambung atau keadaan terputus yang dihasilkan oleh


penundaan waktu penuangan (misalnya: beton segar) yang
cukup untuk menghalangi penggabungan dua material
yang dituang secara berturut-turut

WIKA BETON

Compactibility (beton)

Ukuran seberapa mudahnya adukan beton dipadatkan

Compacting / Pemadatan

Proses untuk mengatur agar partikel-partikel padat saling


berdekatan dalam adukan beton segar atau mortar selama
proses penuangan dengan mengurangi pori-pori atau
rongga-rongga
yang
terjebak;
biasanya
dengan
penggetaran, pemutaran, menusuk-nusuk dengan balok,
tamping, atau gabungan dari beberapa cara tersebut; dapat
diterapkan
pula
pada
campuran-campuran
yang
mempunyai sifat semen, tanah, agregat, atau yang sejenis

Concrete pump

Jenis peralatan distribusi yang dapat difungsikan untuk


memompakan adukan beton dari truck mixer ke lokasi
pengecoran

Construction joint

Movement joint; permukaan dimana hasil penuangan beton


yang berturut-turut bertemu, pada bagian ini seringkali
diinginkan agar dapat tercipta suatu ikatan sehingga
melalui bagian ini penulangan tidak harus menerus

Core drill

Sebuah alat bor untuk mendapatkan benda uji silinder dari


beton yang telah mengeras atau batuan

Cotton mat

Katun yang difabrikasi dengan quilts (diisi kapas dan dijahit


beralur kotak-kotak) digunakan sebagai penutup sekaligus
penahan air untuk perawatan permukaan beton

glossary g-5

Courtyard

Halaman gedung yang dikelilingi oleh tembok

Crazing

Peristiwa munculnya retak halus yang muncul secara acak


pada permukaan plesteran, pasta semen, mortar atau
beton; pola retakan halus yang muncul secara acak pada
sebuah permukan

Creep

Rangkak; Deformasi yang tergantung waktu akibat beban


yang bekerja secara terus-menerus

Crusher

Alat yang digunakan dalam proses memecah/memperkecil


ukuran batu, terak atau yang sejenisnya

Curing

Perawatan beton; pemeliharaan kandungan kelembaban


dan suhu yang memuaskan didalam beton selama umur
awal agar sifat-sifat yang diinginkan dapat dicapai secara
perlahan-lahan namun efektif

Curing Compound

Cairan yang dapat diaplikasikan sebagai pelapis


permukaan beton yang baru dicor untuk memperlambat
kehilangan air, atau jika digunakan pigmental compound
(lapisan sejenis tetapi memiliki pigmen warna) lapisan ini
dapat digunakan untuk memantulkan cahaya sedemikian
hingga memberi kesempatan pada beton untuk
mengembangkan sifat-sifatnya dengan suhu dan
kelembaban lingkungan yang menguntungkan

WIKA BETON

Design load

Istilah untuk menyatakan beban yang telah dikalikan faktor


tertentu

Destruktif

Cara uji struktur atau benda uji dimana pada lokasi uji atau
benda uji tersebut mengalami kerusakan

Deviasi

Penyimpangan kekuatan yang terjadi pada benda uji ke-n


dibandingkan dengan kekuatan beton rata-rata yang dapat
dicapai oleh sejumlah m benda uji

Deviasi standar

Akar dari rata-rata kuadrat penyimpangan nilai individual


dari rata-rata keseluruhan

Diafragma

Pengaku antara gelagar jembatan

Diatomaceous shale

Tanah lempung yang terdiri dari silika terhidrasi (yang


hampir murni) yang tak berbentuk (opal) dan terutama
terdiri dari tumbuhan mikroskopis bernama diatom

Diatomite

Batuan yang terbentuk dari diatom

Dorman period

Periode dimana pasta semen masih plastis dan masih bisa


dibentuk

Double tee

Produk beton pracetak terdiri dari dua batang/tangkai dan


flens yang menyambung di bagian atasnya

Driveway

Jalan untuk mobil (biasanya di halaman)

Drying Shrinkage

Susut beton yang diakibatkan hilangnya kelembaban dalam


beton

glossary g-6

Durability

Keawetan, kemampuan struktur beton untuk menahan


keadaan lingkungan yang agresif selama umur rencananya
tanpa mengurangi performance-nya

Dynabolt

Alat pengikat yang ditanam pada suatu media yang


berfungsi untuk menahan tarikan

Early frost damage

Retak yang terjadi ketika air di dalam beton mengalami


pemuaian saat pertama kali membeku

Early thermal contraction

Retak pada beton yang timbul akibat adanya perbedaan


temperatur yang cukup besar antara dua sisi penampang
beton

Edger

Alat finishing beton dari logam yang berfungsi untuk


menghaluskan bagian tepi beton yang tidak berbatasan
dengan struktur lainnya

Edging

Proses menghaluskan bagian tepi beton yang tidak


berbatasan dengan struktur lainnya, menggunakan edger
(Lihat juga edger)

Elemen non-struktural

Elemen yang diasumsikan tidak memikul beban struktur

Embedded material

Bahan yang ditanam secara permanen kedalam beton,


misalnya baja tulangan (Lihat juga baja tulangan)

Entry

WIKA BETON
Jalan masuk

Equivalent age

Umur beton hasil perhitungan dari umur sebenarnya


dikalikan dengan faktor tertentu

Exposed aggregate finish

Finishing beton dengan menampilkan/mengekspos bentuk


agregatnya, biasanya untuk tujuan yang berhubungan
dengan arsitektural

External restraint

Restraint yang disebabkan oleh faktor di luar beton itu


sendiri (Lihat juga restraint)

Falsework

Struktur sementara/temporer yang didirikan untuk


mendukung pekerjaan selama proses konstruksi; terdiri dari
shoring atau tonggak vertikal, cetakan untuk balok dan
slab, serta pengaku/bracing lateral

FAS

Faktor Air Semen, perbandingan antara berat air dan berat


semen yang digunakan dalam adukan, FAS menentukan
slump dan workability

Feeding hopper

Wadah atau tampungan beton saat pengecoran

Ferrocement / ferosemen

Mortar semen yang diberi anyaman kawat baja

Fibre concrete / beton


serat

Komposit dari beton biasa dan bahan lain yang berupa


serat, dapat berupa serat plastik atau baja

Filling ability

Kapasitas adukan beton segar untuk mengisi setiap celah


dan sudut dari cetakan dengan baik akibat berat sendirinya

glossary g-7

Final setting time

Waktu yang dibutuhkan semen sejak bereaksi dengan air


sampai didapat suatu padatan dari pasta semen yang utuh
dan tidak dapat dirubah bentuknya

Finishing

Meratakan, menghaluskan, mengkonsolidasi/memadatkan,


dan perlakuan-perlakuan lainnya terhadap permukaan
beton segar atau beton yang baru dituang ataupun mortar
untuk menghasilkan bentuk tampilan permukaan dan
kemampuan layan yang diinginkan

Float

Alat finishing beton dari kayu atau aluminium magnesium,


sering disebut sebagai raskam. Berguna untuk
menghaluskan permukaan beton yang telah dicor

Float Blade

Bagian dari trowel mekanis, berfungsi untuk melakukan


floating/menghaluskan permukaan beton yang telah selesai
dicor

Floating

Pekerjaan finishing permukaan beton segar atau mortar


dengan alat yang disebut float, finishing ini dilakukan
sebelum trowelling jika trowelling diinginkan sebagai jenis
finishing terakhir (Lihat float dan trowelling)

Fly ash

Residu bertekstur halus (dari pembakaran tanah atau batu


bara bubuk) yang diangkut dari tungku melalui ketel oleh
pipa gas

WIKA BETON

Formwork

Sistem pendukung total untuk beton tuang segar, termasuk


cetakannya/bekisting yang langsung bersentuhan dengan
betonnya,
maupun
bagian-bagian
pendukungnya,
perangkat keras dan pengaku/bracing yang diperlukan
(Lihat juga falsework)

Gap graded aggregate

Agregat dengan gradasi sedemikian rupa sehingga ukuran


medium tertentu ditiadakan

Girder

Balok yang berukuran besar, biasanya horisontal, berfungsi


sebagai bagian struktur yang utama

Gradasi

Distribusi ukuran partikel dari material butiran; biasanya


dinyatakan dalam persentase kumulatif lebih besar atau
lebih kecil dari rangkaian ukuran-ukuran tertentu (lubang
ayakan) atau persentase diantara rentang ukuran lubang
ayakan tertentu

Grinding

Pekerjaan finishing berupa pemangkasan tonjolan dari


sebuah perkerasan maupun penghilangan sirip-sirip dari
struktur beton

Grout

Campuran material yang bersifat seperti semen dan air,


dengan atau tanpa agregat, yang dirancang untuk
menghasilkan kelecakan penuangan tanpa segregasi dari
unsur-unsur pokoknya; atau campuran dari bahan-bahan
lainnya tapi memiliki kelecakan yang sama

Grouting

Proses mengisi rongga atau pori dengan bahan grout (Lihat


juga grout)

glossary g-8

Gunite machine

Peralatan pengecoran yang berfungsi untuk melakukan


pekerjaan shotcrete

Hammer test

Metode pengujian beton berdasarkan korelasi kekakuan


pegas

Hand Tamping

Pekerjaan finishing beton dengan menggunakan alat


tamper manual (Lihat juga tamper)

Hemisphere

Bentuk geometris setengah bola yang dibatasi oleh sebuah


lingkaran besar

Herringbone

Pola atau corak seperti pucuk rebung atau kerangka Haring

Hidrasi

Reaksi kimia antara partikel semen dan


menghasilkan pasta semen/bahan pengikat

Initial setting time / waktu


pengikatan awal

Waktu yang dibutuhkan semen sejak saat bereaksi dengan


air sampai didapat pasta semen yang mulai kaku dan mulai
tidak dapat dikerjakan (kehilangan sebagian sifat
plastisnya)

Injection pump

Pompa injeksi

Internal vibrator

Alat pemadat beton/vibrator yang dapat dimasukkan


kedalam beton segar pada lokasi-lokasi yang telah
ditentukan

air

yang

WIKA BETON

Iron blast-furnace slag

Terak besi tanur tinggi

Jenuh kering muka

Kondisi suatu partikel agregat atau partikel padat berpori


lainnya saat pori-pori permeabelnya dipenuhi air tetapi
tidak ada air pada permukaannya yang terekspos

Kaison

Struktur (biasanya pondasi) dibuat dengan pemancangan,


kemudian menggalinya dan mengisi rongga-rongganya
dengan beton

Kelecakan

Pergerakan relatif atau kemampuan adukan beton segar


atau mortar untuk mengalir; biasanya diukur dengan nilai
slump untuk beton, flow untuk mortar atau grout,
penetration reistance untuk pasta semen plastis

Kerb

Kanstin; struktur pada jalan yang berfungsi sebagai


pelindung, misalnya pada trotoar

Koefisien ekspansi thermal

Regangan yang terjadi di dalam beton setelah mengalami


perubahan suhu tertentu dimana betonnya tidak terkekang
(restraint) baik secara internal (oleh baja tulangan) maupun
secara eksternal (Lihat juga restraint)

Kuat geser

Gaya geser maksimum yang dapat didukung oleh bagian


struktur yang mengalami lentur pada lokasi tertentu yang
dibatasi oleh efek kombinasi antara gaya geser dan
momen lentur

glossary g-9

Kuat lentur

Sifat dari material atau bagian struktur yang menunjukkan


kemampuannya untuk mencegah keruntuhan akibat lentur;
pada bagian struktur beton yang menahan lentur, kuat
lentur adalah momen lentur pada suatu bagian dimana
kapasitas lentur ijin maksimum dicapai; untuk bagian
struktur yang menahan lentur pada under-reinforced
concrete, kuat lentur adalah momen lentur dimana
regangan tekan didalam beton mencapai 0.003; untuk
over-reinforced, kuat lentur adalah momen lentur dimana
tegangan tekan mencapai 85% dari kekuatan silinder
beton; untuk beton tak bertulang, kuat lentur adalah
momen lentur dimana kuat tarik beton mencapai nilai
modulus keruntuhan/modulus of rupture (Lihat juga
modulus of rupture)

Kuat tarik

Tegangan persatuan luas maksimum yang dapat ditahan


oleh suatu material dibawah beban tarik aksial; didasarkan
atas luasan penampang dari benda uji sebelum
pembebanan

Kuat tekan

Beban tekan yang dapat dipikul oleh benda uji /sample


beton sampai runtuh

Laitance

Kelembaban tinggi diatas permukaan beton segar

Lantai kerja

Lapisan dasar berupa mortar untuk pekerjaan levelling

WIKA BETON

Liquid-membran-formingcompound

Bahan perawatan beton berupa cairan yang disemprotkan


atau dioleskan dengan menggunakan kuas pada
permukaan beton yang telah mengeras. Bahan ini akan
membentuk semacam membran yang melapisi beton
setelah mengering

Long therm drying


shrinkage

Retak beton yang timbul karena penyusutan volume


penampang akibat hilangnya air campuran, baik secara
kimia maupun fisika selama proses pengerasan

Mixing

Proses pencampuran berbagai material untuk membuat


mortar atau beton

Mobilitas (beton)

Keterikatan antara sifa-sifat beton seperti kekentalan,


kohesi dan tahanan geser internal

Modulus of rupture

Sebuah ukuran daya dukung ultimit dari sebuah balok,


kadangkala disebut sebagai rupture modulus atau rupture
strength.

Moist earth

Metode perawatan beton dengan cara menutupi seluruh


permukaan beton dengan tanah basah

Monolitik

Beton tanpa tulangan maupun beton bertulang yang dicor


maupun dipasang sebagai suatu massa atau struktur
tunggal yang integral

glossary g-10

Mortar

Campuran dari pasta semen dan agregat halus; pada


beton segar, material ini mengisi celah diantara partikelpartikel agregat kasar; untuk pasangan batu, mortar
menggunakan semen khusus untuk pasangan batu, atau
menggunakan semen hidrolis yang mengandung kapur
(dan mungkin juga campuran yang lain) untuk
menghasilkan plastisitas dan workabilitas yang lebih besar
daripada yang dapat dicapai mortar dengan semen hidrolis
standar

Movement joint

Lihat construction joint

Over vibrate

Penggunaan vibrator yang berlebihan selama penuangan


adukan beton segar, yang menyebabkan segregasi,
stratifikasi dan bleeding yang berlebihan (Lihat juga
bleeding)

Pan mixer

Sebuah mesin yang digunakan untuk mencampur unsurunsur pokok pembentuk beton, grout, mortar, pasta semen
atau campuran lainnya (Lihat juga grout, mortar dan
pasta semen)

Panas hidrasi

Panas/kalor yang dilepaskan adukan beton saat terjadi


proses hidrasi (Lihat juga hidrasi)

Pass

Menggerakkan alat dengan satu lintasan tertentu dalam


satu gerakan pada suatu area operasi tertentu

WIKA BETON

Passing ability

Kapasitas adukan beton segar untuk mengalir melalui


ruang yang terbatas dan celah sempit, misalnya daerah
tulangan yang rapat tanpa segregasi, kehilangan
keseragaman atau blocking

Pasta semen

Campuran antara semen hidrolis dan air yang membentuk


suatu adukan yang kental

Patching

Proses menambal penampang beton yang berlubang


dengan pasta semen menggunakan bantuan trowel. Bila
lubng cukup besar, sebelum ditambal, lubang diisi dengan
campuran kerikil

Patio

Emperan terbuka dibelakang rumah

PC

(1) Portland Cement, semen hidrolis yang dihasilkan


dengan menghaluskan clinker semen portland dan
biasanya mengandung kalsium sulfat (Lihat juga clinker)
(2) Prestressed Concrete (Lihat beton prategang)

Pelat

(1) Istilah yang berhubungan dengan cetakan beton:


bagian yang rata, horisontal, baik di bagian atas maupun
bawah atau kedua-duanya atau sering disebut papan, dan
bisa juga diletakkan diatas tanah (2) Istilah yang
berhubungan dengan desain struktur; bagian struktur yang
tingginya jauh lebih kecil bila dibandingkan panjang dan
lebarnya

glossary g-11

Perlite

Batuan vulkanik yang memiliki struktur seperti kaca alam,


biasanya memiliki kandungan air yang lebih tinggi daripada
batu obsidian; bila dibuat memuai oleh panas, dapat
digunakan sebagai bahan insulator dan agregat ringan
pada beton, mortar dan plesteran

Permeabilitas (terhadap
air)

Debit (air) dengan kondisi aliran laminer yang melalui satu


satuan luas penampang dari suatu bahan berpori dibawah
satu satuan gradien hidrolis dan kondisi suhu dasar,
biasanya 20oC

Plastic settlement crack

Retak pada beton yang timbul karena adanya perbedaan


tahanan penurunan material beton antara posisi yang
bebas (unrestraint) dengan posisi yang terkekang
(restraint)

Plastic shrinkage crack

Retak pada beton yang timbul karena adanya penyusutan


volume pada permukaan beton yang masih plastis akibat
tingginya tingkat penguapan yang melebihi porsi bleeding

Plasticiser

Aditif adukan beton yang berfungsi meningkatkan


keplastisan beton, digunakan untuk pengecoran yang
membutuhkan nilai slump yang tinggi

Plastisitas

Sifat yang kompleks dari suatu material yang melibatkan


suatu kombinasi dari sifat pergerakan dan besarnya nilai
leleh; Sifat dari adukan pasta semen segar, beton atau
mortar yang menentukan ketahanannya terhadap
deformasi/perubahan bentuk atau kemudahan dibentuk

Polyfilm

WIKA BETON

Multiplek yang satu atau kedua sisinya dilapisi film

Post tensioning

Metode memberi tegangan awal pada beton bertulang


dimana tendon diberi tegangan setelah beton mengeras

Pozzolan

Material yang mengandung silika atau silika dan aluminum,


yang didalamnya sendiri hanya sedikit bahkan cenderung
tidak memiliki sifat seperti semen, tapi akan memiliki sifat
tersebut setelah berbentuk serbuk dan bersentuhan
dengan kelembaban, bereaksi secara kimia dengan
kalsium hidroksida pada suhu normal untuk membentuk
suatu bahan yang memiliki sifat-sifat semen/pengikat

Protective hose

Selang pada vibrator

Pulse velocity crack


recorder

Alat untuk mengukur kedalaman retak beton berdasarkan


prinsip ultrasonik

Quality assurance

Kegiatan yang dilakukan oleh owner atau perwakilannya


untuk menjamin bahwa apa yang sedang dikerjakan dan
apa yang sedang disediakan telah sesuai dengan standar
kerja yang berlaku

Quality control

Kegiatan yang dilakukan oleh produsen atau kontraktor


untuk memeriksa apa yang sedang dikerjakan dan apa
yang sedang disediakan, sehingga standar kerja yang
berlaku diikuti dengan baik

glossary g-12

Rangkak

Lihat creep

Rangkak

Peningkatan deformasi (regangan) secara bertahap


terhadap waktu akibat beban yang bekerja secara konstan

Rate of evaporation

Kecepatan penguapan kandungan air

RC

Reinforced Concrete (Lihat beton bertulang)

Ready-mix

Sering disebut sebagai beton pra-campur; beton yang


diproduksi untuk diantarkan kepada pembeli dalam kondisi
plastis dan belum mengeras

Regangan / strain

Perubahan panjang tiap satuan panjang, dari ukuran linier


suatu bagian; Jumlah tak berdimensi/tak bersatuan yang
dapat dinyatakan dalam persen, inch per inch, milimeter
per milimeter, tapi lebih sering dinyatakan tiap satuan juta
6
atau 10

Restraint

Pembatasan bebasnya gerakan dari beton segar atau yang


telah mengeras yang mengikuti selesainya proses
pengecoran kedalam formwork, cetakan, atau ruang
terbatas lainnya; kekangan dapat bersifat internal atau
eksternal dan dapat bekerja ke satu arah atau lebih (Lihat
juga formwork)

WIKA BETON

Retak intrinsik

Retak pada fase plastis maupun pada proses pengikatan


dikarenakan oleh tegangan-tegangan yang terjadi dari
dalam yang diakibatkan oleh unsur material penyusun
beton itu sendiri

Retak plastis

Retak yang timbul di permukaan beton segar segera


setelah beton dituang dan ketika kondisinya masih plastis

Retarder

Aditif yang berfungsi untuk memperlambat pengikatan awal


pasta semen dan campuran sejenis lainnya seperti mortar
dan beton yang mengandung semen; digunakan untuk
pengecoran jarak jauh dan pengecoran yang memerlukan
panas hidrasi rendah

Re-vibration

Pelaksanaan vibrasi/penggetaran beton segar sebanyak


satu kali atau lebih setelah selesainya pengecoran dan
pemadatan awal, tapi sebelum waktu pengikatan awal
beton/ initial setting time(Lihat juga initial setting time)

Rheology

Ilmu tentang deformasi dan aliran material

RPM

Rotation Per Minute, satuan yang menyatakan banyaknya


perputaran alat dalam satu menit

Rubbing

Proses finishing beton dengan menggunakan butiran


penggosok untuk menghilangkan ketidakteraturan dari
permukaan beton

glossary g-13

Sack-rubbed finishing

Finishing untuk permukaan beton yang telah mengeras


untuk menciptakan tekstur yang rata dan mengisi semua
lubang dan celah udara; setelah membasahi permukaan
beton hingga menjadi lembab, mortar digosokkan
keseluruh permukaan, kemudian sebelum mengering,
campuran semen kering dan pasir digosokkan kembali ke
permukaan dengan segumpal goni atau spons-karet untuk
memindahkan kelebihan mortar sekaligus mengisi pori-pori

Sampling

Satu grup maupun satu bagian material, diambil secara


berturut-turut dari kumpulan yang lebih besar dari unit
tersebut atau dari jumlah material yang lebih besar, untuk
menyediakan informasi yang dapat digunakan sebagai
dasar untuk pengambilan tindakan terhadap kumpulan
darimana dia diambil atau pada proses produksi; istilah
tersebut juga digunakan dalam hal yang berhubungan
dengan pengujian sample/contoh

Scoria

Gelembung-gelembung semburan vulkanik berukuran


besar, dengan komposisi dasar dan ditandai oleh warnawarna gelap; material relatif berat dan sebagian berbentuk
kaca, sebagian berbentuk kristal; gelembung-gelembung
tersebut biasanya tidak saling menggumpal (Lihat juga
agregat ringan)

Screed

(1) Meratakan beton yang terletak diatas bidang atau


bentuk yang tidak diinginkan. (2) Alat untuk meratakan
permukaan beton yang terbuat dari kayu atau logam
dengan lempengan lurus, digerakkan dengan gerakan
seperti menggergaji kearah depan; ada pula alat yang
dilengkapi dengan penggerak mesin

WIKA BETON

Screeding

Operasi membentuk suatu permukaan menggunakan alat


screed (Lihat juga screed)

Screen

Ayakan; peralatan untuk memisahkan material berbutir


menurut ukuran butirnya, menggunakan anyaman atau alat
sejenis dengan celah berukuran seragam dengan jarak
tetap

Segregasi

Kecenderungan agregat kasar untuk memisahkan diri dari


campuran adukan beton

Self-compacting concrete
(SCC)

Beton yang dapat mengalir dan memadat dengan hanya


menggunakan beratnya sendiri, mengisi cetakan secara
penuh, meskipun konfigurasi tulangannya sangat rapat,
dengan tetap menjaga homogenitasnya dan tidak
memerlukan pemadatan tambahan.

Semen blended hidrolis

Semen hidrolis yang unsur pokoknya terdiri dari paduan


sempurna antara butiran terak tanur tinggi dan batu kapur
terhidrasi; atau paduan sempurna antara semen portland
dan butiran terak tanur tinggi, semen portland dan
pozzolan, atau semen portland terak tanur tinggi dan
pozzoland, dihasilkan dengan menggiling clinker semen
portland bersama material lainnya atau dengan mencampur
semen portland bersama material lainnya, atau kombinasi
antara menggiling sambil mencampur

glossary g-14

Semen hidrolis

Semen yang mengeras oleh interaksi kimia dengan air dan


dapat pula mengeras didalam air

Semen hidrolis ekspansif

Semen hidrolis yang bila bercampur dengan air,


menghasilkan pasta yang, setelah mengeras, volumenya
cenderung meningkat secara signifikan hingga tingkat yang
lebih besar daripada yang terjadi pada pasta semen
portland; digunakan untuk mengimbangi berkurangnya
volume akibat penyusutan atau akibat tegangan tarik
induksi tulangan (pada beton prategang-post tensioning) 1.
semen ekspansif, tipe K-campuran antara semen
portland, tetrakalsium trialumina sulfat tak terhidrasi
(C4A3S), kalsium sulfat (CaSO4) dan kapur (CaO); C4A3S
adalah unsur pokok dari clinker yang dibakar secara
terpisah yang hampir sama dengan semen portland atau
dapat juga terbentuk secara simultan bersama dengan
bahan clinker portland semen selama proses pembakaran.
2. semen ekspansif, tipe M-campuran antara semen
portland, semen kalsium-aluminat dan kalsium sulfat
dengan proporsi yang sesuai. 3. semen ekspansif, tipe Ssemen portland yang mengandung trikalsium aluminat
(C3A) yang dihitung dengan teliti dan sejumlah kalsium
sulfat diatas kadar yang biasanya dikandung semen
portland

Semen portland

(Lihat PC)

WIKA BETON

Setting time

Waktu yang dibutuhkan oleh semen untuk


mengadakan proses pengikatan/menjadi keras

mulai

Settlement

Tenggelamnya partikel padat kedalam grout, mortar, atau


beton segar setelah penuangan dan sebelum pengikatan
awal

Sheet pile

Tiang berbentuk papan ditanam kedalam tanah dengan


jarak yang dekat dan saling mengikat dengan yang lainnya
sehingga membentuk dinding yang rapat untuk menahan
tekanan lateral dari air, tanah yang berdekatan, atau
material lainnya; dapat pula memiliki alur dan lidah jika
dibuat dari kayu atau beton dan memiliki sistem saling
mengikat/interlocking jika dibuat dari logam

Shoring

Penyangga atau tonggak dari kayu atau material (dengan


kemampuan tekan) lainnya digunakan sebagai dukungan
sementara untuk penggalian, formwork, atau struktur dalam
kondisi yang rawan; dapat juga diartikan sebagai proses
mendirikan penopang (Lihat juga falsework)

Shotcrete

Pekerjaan menyemprotkan cairan semen yang dicampur


dengan pasir halus

Shrinkage

Pengurangan baik dalam panjang maupun volume.


Catatan: mungkin juga dibatasi sebagai akibat dari
perubahan kandungan kelembaban atau kandungan kimia

glossary g-15

Silica fume

Silika halus noncrystal dihasilkan dari tungku busur listrik


sebagai hasil sampingan produksi barang-barang berbahan
silikon atau paduan yang mengandung silikon; juga dikenal
sebagai silica fume terkondensasi atau microsilica

Site-mix

Beton yang material-material pembentuknya dicampur di


lapangan atau dekat dengan tempat pengecoran

Slab

Lapisan tercetak dari beton dengan atau tanpa tulangan,


memiliki permukaan datar, horisontal atau setidaknya
hampir horisontal, dengan ketebalan yang biasanya
seragam, tapi dapat pula bervariasi, baik terletak diatas
tanah atau didukung oleh balok, kolom, tembok, atau
rangka struktur yang lainnya

Slump

Ukuran kecairan atau kepadatan adukan beton. untuk


beton normal berkisar antara 5-12.5 cm

Slump-flow

Deskripsi dari daya alir adukan self-compacting concrete


dalam kondisi tanpa pembatasan, diukur dari diameter ratarata dari penyebaran beton segar yang diuji menggunakan
alat slump-cone konvensional. Diameter diukur dalam dua
arah yang saling tegak lurus.

Specific gravity

Perbandingan antara massa satu satuan volume suatu


material terhadap massa dengan volume yang sama dari
air suling pada suhu tertentu. (1) apparent specific
gravity-perbandingan massa satu unit volume material
kedap air pada suhu tertentu terhadap massa air suling
pada volume yang sama. (2) bulk specific gravityperbandingan massa satu unit volume material (termasuk
pori kedap dan tidak kedap air, tetapi tidak termasuk
rongga yang berada diantara partikel-partikel material
tersebut) pada suhu tertentu terhadap massa air suling
pada volume yang sama. (3) bulk specific gravity (jenuh
kering permukaan)-perbandingan massa satu unit volume
material, termasuk massa air diantara pori-porinya (tapi
tidak termasuk rongga diantara partikel-partikel) pada suhu
tertentu terhadap massa air suling pada volume yang sama

WIKA BETON
Spesimen kubus

Sebuah sample berbentuk kubus biasanya digunakan


untuk pengujian (Lihat juga sampling)

Stability (beton)

Kemampuan beton segar untuk menahan segregasi ketika


mengalir kedalam cetakan

Steam curing

Perawatan beton dengan mengalirkan uap air dengan


tekanan atmosfer (atau dengan tekanan yang lebih besar)
o
dan pada suhu antara 40-215 C.

Strength

Kekuatan; Istilah umum untuk menyatakan kemampuan


material untuk menahan regangan atau keruntuhan yang
disebabkan gaya-gaya dari luar (Lihat juga kuat geser,
kuat lentur, kuat tarik dan kuat tekan)

Stroke

Hentakan/pukulan secara periodik

glossary g-16

Super plasticiser

Aditif adukan beton yang berfungsi untuk mengurangi


kebutuhan air atau menghasilkan keplastisan beton yang
tinggi, tanpa menyebabkan perlambatan pengerasan yang
tidak perlu atau pemerangkapan udara dalam mortar atau
beton. Digunakan untuk pengecoran yang membutuhkan
nilai slump yang tinggi

Surface sealing

Metode perawatan beton dengan melapisi permukaan


beton keras, baik dengan lapisan waterproof/plastik film
maupun bahan cair khusus yang dapat membentuk
membran, baik untuk mencegah atau mengurangi
penetrasi bahan cair atau gas, misalnya: air, larutan agresif
dan karbondioksida selama pemaparan/tereksposnya
permukaan saat masa layannya

Susut

Lihat shrinkage

T500

Waktu yang diperlukan oleh adukan SCC pada saat


pengujian slump-flow untuk menyebar hingga diameter
rata-rata 500 mm tanpa mengalami segregasi

Tamper

(1) Sebuah alat yang digunakan untuk mengkonsolidasi


beton atau mortar didalam cetakan atau bekisting (2)
Peralatan yang dioperasikan dengan tangan untuk
mengkonsolidasi permukaan lantai atau beton yang belum
dibentuk permukaannya dengan memanfaatkan pukulan
dari alat yang dijatuhkan sebagai persiapan finishing.
Bagian yang berhubungan dengan beton seringkali berupa
semacam ayakan atau kisi-kisi untuk memaksa agregat
kasar turun hingga kebawah permukaan agar tidak
mengganggu proses finishing selanjutnya, misalnya floating
atau trowelling

WIKA BETON
Tamping

Pekerjaan konsolidasi beton segar yang dituang dengan


pukulan-pukulan berulang atau penetrasi dengan sebuah
tamper (Lihat juga tamper)

Tegangan

Intensitas gaya-gaya dalam (gaya tiap satuan luas)


dihasilkan oleh kedua bagian yang berdekatan yang saling
melintang terhadap bidang pemisah imajiner; jika gayagaya bekerja searah bidang, tegangan yang dihasilkan
disebut tegangan geser; jika gaya-gaya bekerja tegak
lurus bidang, tegangannya disebut tegangan normal; jika
tegangan normal mengarah ke bagian dimana ia bekerja,
tegangan disebut tegangan tekan; jika tegangan normal
mengarah menjauhi bagian dimana ia bekerja, tegangan
akan disebut tegangan tarik

Tendon

Sebuah elemen baja, seperti kawat, kabel, batang, atau


untaian, atau berkas dari elemen sejenisnya, terutama
digunakan untuk menegangkan sehingga menyebabkan
tegangan tekan pada beton

Thermal shrinkage crack

Retak susut yang dialami beton akibat perubahan suhu

glossary g-17

Thixotropy

Kecenderungan material (misalnya SCC) untuk mengalami


kehilanagn daya alir/fluiditasnya secara progresif jika
dibiarkan saja tetapi dapat memperoleh daya alirnya jika
diberikan energi

Tie-rod

Batang yang diikatkan ke angkur pada struktur, pondasi


kaku, batu atau angkur didalam tanah untuk mencegah
perpindahan lateral dari formwork (akibat tekanan zat cair
dari beton segar yang belum mengeras), dinding sheet pile,
dinding penahan/retaining wall, sekat, dll (Lihat juga sheet
pile, formwork)

Tremie

Pipa atau tabung yang melaluinya beton dicor kedalam air,


dibagian ujung atasnya terdapat semacam corong untuk
pengisian dan sebuah timba untuk memindahkan
rangkaian alat

Trowel

Sebilah baja dengan permukaan yang luas, rata,


dioperasikan dengan tangan, digunakan dalam operasi
finishing tahap terakhir untuk menghasilkan permukaan
lantai beton dan permukaan lain, yang relatif halus; dapat
juga diartikan sebagai sebilah alat berbentuk segitiga
dengan permukaan rata digunakan untuk mengaplikasikan
mortar pada penyusunan pasangan batu

Trowelling

Menghaluskan dan memadatkan permukaan beton segar


yang belum berbentuk dengan tekanan-tekanan yang
dihasilkan oleh alat trowel (Lihat juga trowel)

WIKA BETON

Truk mixer

Sebuah alat pencampur beton yang dipasang diatas


rangka truk dan mampu untuk mencampur beton selama
dalam pengangkutan (Lihat juga agitator truck)

Unrestraint

Keadaan dimana suatu bagian struktur bebas bergerak


pada arah tertentu, beberapa arah dan dapat juga
kesemua arah (Lihat juga restraint)

Variabilitas

Suatu besaran yang menyatakan rata-rata penyimpangan


mutu beton dari sejumlah benda uji (data test)
dibandingkan dengan rata-rata mutu beton yang bisa
dicapai

Water reducer

Aditif adukan beton yang tidak hanya dapat meningkatkan


nilai slump adukan mortar atau beton segar tanpa
menambah jumlah air, tetapi dapat pula mempertahankan
nilai slump dengan jumlah air yang lebih sedikit, efek ini
timbul bukan akibat udara yang terperangkap

Waterproof

Kedap air, baik dalam bentuk cair maupun uap (Karena


tidak ada sesuatupun yang dapat sepenuhnya tidak dapat
ditembus air dibawah tekanan yang tak terhingga selama
waktu yang tak terhingga, istilah ini sebaiknya tidak
digunakan)

Vermiculite

Sebuah nama untuk sekelompok mineral yang berlapislapis, hidrasi silika dari aluminum, magnesium dan besi;
ditandai dengan pengelupasan yang dapat dilihat saat
dipanasi; juga diartikan sebagai unsur utama tanah liat

glossary g-18

Vibrator

Mesin
yang
dapat
berosilasi,
digunakan
untuk
menggetarkan beton segar sedemikian hingga dapat
mengeliminasi rongga, termasuk udara terperangkap (Tapi
bukan udara terperangkap yang sengaja dibuat untuk air
entrained concrete) dan untuk menghasilkan kontak yang
erat, tanpa celah, dengan permukaan cetakan dan material
tertanam

Viscosity modifying
admixture (VMA)

Bahan tambahan yang memodifikasi tingkat kohesi


(biasanya self-compacting concrete) tanpa mengubah
fluiditas secara signifikan

Workability

Sifat adukan beton segar atau mortar yang menentukan


kemudahan dan homogenitas, yang dengannya beton atau
mortar tersebut dapat dicampur, dituang, dipadatkan dan
di-finishing

VPM

Vibrations Per Minute, satuan untuk menyatakan


banyaknya getaran dalam satu menit yang dapat dilakukan
oleh internal vibrator

WIKA BETON

DAFTAR PUSTAKA
American Concrete Institute. 1998. ACI Manual of Concrete Practice Part 1:
Materials and General Properties of Concrete. Michigan: ACI
American Society for Testing and Materials. 1995. Annual Book of ASTM
Standards. Volume 04.01: Cement; Lime; Gypsum.
Philadelphia,USA.
Anonim. 2004. Guidelines For Curing and Sealing Concrete. Accessed
from:www.kuhlman-corp.com/curing.html on November 22, 2004
Anonim. 2004. Placing, Compacting and Finishing Copncrete. Accessed
from: www.minimix.com.au/handy_hints/indeks.html on November
22, 2004
Anonim. Glossary of Terms and FAQs. Accessed from:
www. hepworthconcrete.co.uk/html/prod11_1.htm on July 16, 200507-27
Anonim.2004. Concrete. Accessed from:
www.Infodotinc.com/content/construction/14042_(193-204).htm on
November 24, 2004

WIKA BETON

Biro Enjiniring II. 2004. Pedoman Pekerjaan Beton. Jakarta: PT Wijaya Karya
Bouzoubaa N. dan Lachemi N. 2001. Self Compacting Concrete
Incorporating High-Volumes of Class F Fly Ash: Preliminary Results.
Accessed from:
hvfacprojectindia.com/researchdoes/preliminary_results_of_self_co
mpacting_concrete_with_hvfly.pdf
EFNARC. 2002. Specification and Guidelines for Self-compacting Concrete.
Accessed from: www.efnarc.org/pdf/SandGforSCC.pdf on June 22,
2005
El-Ariss, Bilal. 2004. Mix Design of Self-Compacting Concrete. Accessed
from:
http://sra.uae.ac.ae/conference_6/proceedings/PDF/Engineering/En
g-11.pdf on May 31, 2005
European Project group. 2005. The European Guidelines for Selfcompacting Concrete: Specification, Production and Use. Accessed
from: http://efca.info/pdf/SCC%20guidelines%20May%202005 on
June 22, 2005
Ford, Jerome H. 2003. Internal or external vibration? Done correctly, either
will produce a high-quality finish of concrete. Accessed from:
www.findarticles.com/p/articles/mi_mONSX/i5_1_48/ai_97298268
on July 16, 2005

Kardiyono. 1992. Teknologi Beton. Yogjakarta: UGM Press


Kosmatka and Panarese. 1988. Design and Control of Concrete Mixtures.
Illinois: Portland Cement Association
Madupu, LNK Sai. Self-Compacting Concrete. Accessed from:
http://igsguntur.tripod.com/index_files3/finpap.htm on June 21, 2005
Murdock and Brook. 1979. Concrete Materials and Practice/Bahan dan
Praktek Beton. Diterjemahkan oleh Ir. Hendarko. Jakarta: Erlangga
Rachman Suhanda, Suryadi. 2004. Teknologi Beton (Material Penyusun
Beton). Dipresentasikan dalam Forum Enjiniring WIKA 2004 tanggal
8-9 Maret 2004. Jakarta
Suardi Bahar. 2004. Peningkatan Kualitas dan Tampilan Produksi Beton PT
Wijaya Karya. Dipresentasikan dalam Forum Enjiniring WIKA 2004
tanggal 8-9 Maret 2004. Jakarta
Walraven, J. 2003. Structural Applications of Self Compacting Concrete.
Proceedings of 3rd RILEM International Symposium on Self
Compacting Concrete, Reykjavik, Iceland. RILEM Publications PRO
33, Bagneux, France, August 2003 PP 15-22

WIKA BETON

SUMBER GAMBAR

ACI Manual Part 1 (Material and General Properties of Concrete)


Company Profile PT Wijaya Karya
http://efca.info/
http://my.ecplaza.net/vibromaste/
http://stlvibrator.com/vibratingtables.htm
Proyek-proyek PT Wijaya Karya:
o
o
o
o
o
o
o
o
o

Proyek CCPP Cilegon


Proyek Jalan dan Jembatan Tiga Raksa Tangerang
Proyek Pembangunan Fly Over Tanjung Barat
Proyek Pembangunan Gedung Tarida Jakarta
Proyek Pembangunan Jalan Layang Pancoran Jakarta
Proyek Pembangunan Jalan Layang Pasupati Bandung
Proyek Pembangunan Rumah Sakit Mitra Sunter Jakarta
Proyek PLTGU Palembang
Proyek PLTU Cilacap

WIKA BETON

www.centrumpaele.dk/uk/beton1.htm
www.concretenetwork.com
www.conrete-grinding.com
www.dareconcrete.com
www.ifgworld.org
www.unesco.com

WIKA BETON