Anda di halaman 1dari 9

1.

katrol
a) Kesetimbangan silinder m: licin
sejajar bidang miring
T  f mg sin =0 , (1) T
T
tegak lurus bidang miring
m f
N mg cos =0 , (2)
k
torka terhadap pusat silinder: lantai
mg kasar
TR fR=0 . (3)

Dari persamaan (3) didapat T=f. (4)
1
Substitusi ini ke persamaan (1), didapat T = mg sin  . (5)
2
Pada pegas berlaku hubungan T =k  L , (6)
mg sin 
sehingga didapat  L= . (7)
2k
1
b) Dari persamaan (4) dan (5) didapat f = mg sin  . (8)
2
Dalam keadaan hampir terpleset, hubungan f dan N diberikan oleh f = N . (9)
Dari persamaan (2) didapat N =mg cos  . (10)
Dengan menggunakan persamaan (8), (9) dan (10) didapat
1
= tan  . (11)
2
c) Pertama tinjau sistem dalam keadaan setimbang. Pegas bertambah panjang sebanyak L.
Kemudian beri simpangan tambahan x.
Pada saat osilasi, persamaan gerak silinder diberikan oleh:
sejajar bidang miring
T  f mg sin =ma m , (12)
tegak lurus bidang miring
N mg cos =0 , (13)
torka terhadap pusat silinder:
TR fR=I  , (14)
dengan I =  mR2. (15)
Hubungan percepatan sudut dan percepatan linear:
a m= R . (16)
Di sisi lain kita mempunyai hubungan: penambahan panjang karet x = 2 kali pergeseran
silinder s, tetapi berlawanan arah. Sehingga percepatan silinder am= - percepatan pertambahan
panjang karet = -  a  x ,
1
a m= a x . (17)
2
Dari hukum Hooke, diperoleh hubungan T =k  L x . (18)
Dari persamaan (12), (14), (15) dan (16) di atas, didapat
3
2T mg sin = m am . (19)
2
Masukkan persamaan (17) dan (18) ke persamaan (19)
3
2 k  L x mg sin = ma  x . (20)
4
Dengan menggunakan persamaan (7) ke persamaan (20), didapat
3
2 k  x= m a x . (21)
4
8 k
Sederhanakan a  x   x=0 . (22)
3m
Dengan membandingkan dengan persamaan osilasi sederhana didapat


=
8k
3m
(23)

Periode osilasi diberikan oleh T =2


3m
8k
(24)

d) Syarat agar tali selalu tegang adalah T selalu lebih besar atau sama dengan nol.
T 0 (25)
mg sin 
Dari persamaan (18) dan (7) didapat A= L= (26)
2k
2. x
a) Gaya yang bekerja pada batang dalam
NMm
Fh fMm
arah horizontal: fmM
F h f Mm=M a M , (1)
Fv Mg NmM m
arah vertikal
F v N Mm Mg=0 , (2) fm
L
torka terhadap titik kontak:

F v  L x  Mg 
L
2
 x =0
. (3)
Gaya yang bekerja pada silinder dalam
arah horizontal:
f mM  f m=ma m , (4)
torka terhadap pusat silinder:
f mM R f m R=I  . (5)
Sekarang gunakan hubungan pergeseran m dan pergeseran M. Jika m bergeser sejauh x, maka M
bergeser sejauh 2x. Jadi
am =  aM. (6)
Masukkan harga I =  mR2, (7)
am
dan = , (8)
R
ke dalam persamaan (5),
1
f mM  f m= m a m , (9)
2
kemudian eliminasi fm dengan menggunakan persamaan (4)
3
f mM = m am . (10)
4
Substitusi persamaan (10) ke persamaan (1), dan gunakan persamaan (6), diperoleh hasil akhir

Fh=  3
8
mM a M . (11)

Percepatan M diberikan oleh:


Fh
aM =
3 . (12)
mM
8
b) Percepatan relatif antara batang M dan silinder m adalah
aMm = aM – am =  aM. (13)
Untuk menempuh jarah L/2 dibutuhkan waktu:
L 1 Fh
= T2
2 2
2  3
8
mM (14)

Didapat waktu

T=
2L 3
Fh 8
mM (15)

c) Dari persamaan (3) didapat

F v=
Mg 
L
2
x
. (16)
L x
Masukkan fungsi x
1 Fh
x= t2
2
2  3
8
mM , (17)

didapat


L Fh t2
Mg 

F v=
2
4  3
8
mM . (18)
F h t2
L
4  3
8
m M
t
Sekarang substitusi = , (19)
T
F v 12
didapat = . (20)
Mg 22
F v t t
Sketsa fungsi terhadap = diberikan pada gambar di samping.
Mg T
d) Perpindahah batang = L.
Usaha gaya horizontal : W =F h . L (21)
Energi kinetik batang :
1 1
K M = M v 2m= M  a M T 2 (22)
2 2
M
K M =F h L
3 (23)
mM
8
Energi kinetik silinder:
1 1 3
K m= mv m I
= m v m
2 2 2
(24)
2 2 4
3
m
8
K m=F h L (25)
3
mM
8
Energi kinetik total sistem:
K =K M K m=F h L (26)
Jadi usaha gaya horizontal sama dengan energi kinetik batang ditambah energi kinetik silinder.
3.
a) Gunakan hukum kekekalan energi:
1 1
Mghmgh= mv  M v .
2 2
(1)
2 2
Sederhanakan,


v= 2 g h
M m
mM
(2)

b) Tumbukan ini dapat dipandang sebagai tumbukan lenting sempurna antara dua massa: massa m+
M yang bergerak dengan kecepatan v menabrak massa m0 yang mula-mula diam.
Karena proses tumbukan singkat, maka selama proses tumbukan, gravitasi bisa diabaikan,
sehingga momentum linear dan energi sistem kekal.
Sebelum tumbukan, dalam kerangka lab:
m + M bergerak ke atas dengan kecepatan v.
m0 diam.
m M
pusat massa bergerak ke atas dengan kecepatan v (3)
mM m 0
Sebelum tumbukan dalam kerangka pusat massa:
mM m0
m + M bergerak ke atas dengan kecepatan v  v= v (4)
mM m0 m M m0
mM m M
m0 bergerak ke bawah dengan kecepatan 0 v= v (5)
mM m0 mM m0
m M mM
pusat massa diam : v v=0 (6)
mM m 0 mM m 0
Setelah tumbukan dalam kerangka pusat massa:
m0
m+ M bergerak ke bawah dengan kecepatan  v (7)
mM m0
m M
m0 bergerak ke atas dengan kecepatan v (8)
mM m0
pusat massa diam
Setelah tumbukan dalam kerangka lab:
m0 m M mM m0
m + M bergerak dengan kecepatan  v v= v (9)
mM m0 mM m0 mM m0
m M mM 2 mM
m0 bergerak dengan kecepatan v v= v (10)
mM m 0 mM m0 mM m0
Jadi kecepatan m0 adalah v ' m =0
2 mM
mM m 0
2gh

M m
M m
ke atas (11)


mM m0 M m
dan kecepatan m adalah v ' m= 2gh ke atas jika m+ M >m0. (12)
mM m0 M m
c) Pada saat massa m0 kanan bergerak ke atas, tali menjadi kendor. Tali menjadi tegang lagi saat
perpindahan massa m0 kanan dan m0 kiri menjadi sama.
1 1
Syarat agar laju sama: v ' m t g t 2 = g t 2 (13)
0
2 2
v 'm
Didapat t= 0
(14)
g

dengan memasukkan hasil sebelumnya didapat t=



2 m M 2 h M m
mM m0 g M m
(15)
4.
a) Energi sistem kekal saat transisi massa ma menaiki sisi AB.
1
Energi kinetik mula mula massa ma = m v2 (1)
2 a 0
Energi kinetik akhir massa ma = 1
m a   v 1 cos v 2 2v 1 sin  2
(2)
2
1
Energi kinetik akhir massa mb = mb v 22 (3)
2
1 1 1
m a v 20= m a  v 1 cos v 2 2v 1 sin  2  m b v 22
Kekekalan energi: (4)
2 2 2
Kekekalan momentum arah horizontal: ma v 0 =ma  v1 cos v 2 mb v 2 (5)
dari persamaan (5) didapat
m a v 0 v 1 cos 
v2 = (6)
mamb
Substitusikan persamaan (6) ke persamaan (4), sederhanakan, didapat


mb
v 1= v0 (7)
ma sin 2 mb
b) Persamaan gerak massa ma :
arah sejajar AB: ma g sin =ma  a1a2 cos  (8)
arah tegak lurus AB: N ma g cos =m a a 2 sin  (9)
Persamaan gerak massa mb :
a1
arah horizontal: N sin =mb a2 (10) N

Gunakan persamaan (10) dan persamaan (9), didapat


ma sin  cos  a2
a 2= g (11)
m a sin2 mb mag
Gunakan persamaan (11) pada persamaan (8), didapat
ma mb
a 1= g sin  (12)
ma sin 2 mb
c) Syarat agar bisa mencapai titik B: kecepatan massa ma dan pasak mb sama saat ma ada di titik B.
Momentum linear arah horizontal kekal: ma v 0, min =ma v Bmb v B (13)
1 1 1
Kekekalan energi: ma v 20,min = ma v 2B  mb v 2B ma g l sin  (14)
2 2 2
Gunakan persamaan (13) pada persamaan (14), didapat
v 0, min =
2ma m b
mb
g l sin  (15)

d) waktu yang dibutuhkan diberikan oleh persamaan (7), (12) dan (15).

t naik =
v1
a 1
sederhanakan
=
mb
ma sin mb
2
2 m amb
mb
g l sin 
ma sin 2 mb 2
 mamb
2
1
g sin 
2 2
(16)

t naik =
ma sin 2 mb 2 l
m amb g sin 
(17)

e) Jika massa ma tidak berhasil melewati mb maka proses yang terjadi adalah seperti tumbukan
lenting sempurna antara kedua massa tersebut. Ada berbagai cara untuk mendapatkan hasil akhir
kecepatan untuk proses tumbukan lenting sempurna. Di sini, solusi akan diperoleh dengan
menggunakan kerangka pusat massa sistem.
ma v 0
Kecepatan pusat massa : v cm = (18)
mamb
ma v 0 m v
Kecepatan mula-mula ma dalam frame pusat massa: v 0  = b 0 (19)
mamb ma mb
ma v 0 ma v 0
Kecepatan mula-mula mb dalam frame pusat massa: 0 = (20)
mamb ma mb
mb v 0
Kecepatan akhir ma dalam frame pusat massa: (21)
mamb
ma v 0
Kecepatan akhir mb dalam frame pusat massa: (22)
mamb
mamb
Kecepatan akhir ma dalam frame lab: v (23)
mamb 0
2 ma
Kecepatan akhir mb dalam frame lab: v (24)
mamb 0
f) Jika kecepatan ma relatif terhadap mb di titik B hampir nol, maka proses ma naik dari A ke B
simetri dengan proses ma turun dari B ke C. Jadi waktu turun sama dengan waktu naik.

t turun=
ma sin 2 mb 2 l
mamb g sin 
(25)

g) Jika massa ma berhasil melewati mb maka proses yang terjadi bersifat simetri. Dari argumen ini,
maka akan diperoleh kecepatan akhir dan awal akan semua sama.
Jadi kecepatan akhir ma adalah v0 dan kecepatan akhir mb adalah nol.