Anda di halaman 1dari 10

FISIKA INTI

DETEKTOR SEMIKONDUKTOR DALAM RADIASI NUKLIR

HERI SAPUTRA
1112140039
FISIKA SAINS

JURUSAN FISIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR
2015

KATA PENGANTAR
Alhamdulillah segala puji bagi Allah yang telah memberikan banyak
nikmatnya kepada para hambanya terutama nikmat kesehatan dan kesempatan

sehingga penulis bisa menyelesaikan makalah ini dengan baik dan tepat waktu. Dan
salawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Rasulullah
Muhammad salallahualaihiwasallam.
Makalah ini disusun sebagai salah satu tugas individu dalam mata kuliah
Fisika Inti. Dan juga sebagai bahan belajar dan referensi bagi mahasiswa supaya
kita dapat mengerti dan paham tentang FISIKA INTI. Makalah dengan judul
Detektor Semikonduktor Dalam Radiasi Nuklir ini adalah sebuah pembahasan
yang sangat bernilai dan berguna bagi penulis dan pembaca yang budiman yang
berhubungan dengan berbagai informasi yang seharusnya mahasiswa paham
tentang apa itu fisika inti,
Akhir kata saya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu. Isi dan penyajian dalam makalah ini akan terus disempurnakan, untuk
itu kritik dan saran sangat diharapkan dari berbagai pihak yang berkompeten.

Makassar, Juni 2015

Penulis

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR............................................................................................ i
DAFTAR ISI.......................................................................................................... ii

PENDAHULUAN................................................................................................. 1
PEMBAHASAN.................................................................................................... 2
A. Pengertian Detektor Semikonduktor.......................................................... 2
B. Prinsip Kerja Detektor Semikonduktor..................................................... 2
C. Keunggulan dan Kelemahan Detektor Seikonduktor................................ 5
KESIMPULAN...................................................................................................... 6
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................. iii

PENDAHULUAN
Detektor merupakan suatu bahan yang peka terhadap radiasi, yang bila
dikenai radiasi akan menghasilkan tanggapan mengikuti mekanisme. Perlu
diperhatikan bahwa suatu bahan yang sensitif terhadap suatu jenis radiasi belum
tentu sensitif terhadap jenis radiasi yang lain. Radiasi merupakan suatu cara

perambatan energi dari sumber energi ke lingkungannya tanpa membutuhkan


medium atau bahan penghantar tertentu. Radiasi nuklir memiliki dua sifat yang
khas yaitu tidak dapat dirasakan secara langsung dan dapat menembus berbagai
jenis bahan. Oleh karena itu untuk menentukan ada atau tidak adanya radiasi nuklir
diperlukan suatu alat, yaitu pengukur radiasi, yang digunakan utuk mengukur
kuantitas, energi, atau dosis radiasi.
Panca indera manusia secara langsung tidak dapat digunakan untuk
menangkap atau melihat ada tidaknya zarah radiasi nuklir, karena manusia memang
tidak mempunyai sensor biologis untuk zarah radiasi nuklir. Walaupun demikian,
dengan bantuan peralatan instrumentasi nuklir maka manusia dapat mendeteksi dan
mengukur radiasi nuklir. Jadi manusia sepenuhnya tergantung pada peralatan
instrumentasi nuklir untuk mengetahui dan memanfaatkan zarah radiasi nuklir
tersebut.
Detektor radiasi bekerja dengan cara mengukur perubahan yang disebabkan
oleh penyerapan energi radiasi oleh medium penyerap. Apabila dilihat dari segi
jenis radiasi yang akan dideteksi dan diukur, diketahui ada beberapa jenis detektor,
seperti detektor untuk radiasi alpha, detektor untuk radiasi beta, detektor untuk
radiasi gamma, detektor untuk radiasi sinar-X, dan detektor untuk radiasi neutron.
Peralatan untuk mendeteksi zarah radiasi nuklir banyak macamnya, akan
tetapi prinsip kerja peralatan tersebut pada umumnya didasarkan pada interaksi
zarah radiasi terhadap detektor (sensor) yang sedemikian rupa sehingga tanggap
(respon) dari alat akan sebanding dengan efek radiasi atau sebanding dengan sifat
radiasi yang diukur.

Detektor radiasi dapat dibedakan menjadi 3 yaitu :


a) Detektor Isian Gas
b) Detektor Sintilasi
c) Detektor Semikonduktor
Akan tetapi dalam makalah ini akan dibahas mengenai detektor radiasi
semikonduktor. Detector semikonduktor ini pada hakekatnya termasuk ke dalam 3

jenis detector diatas. Di dalam pembahasannya akan kita ketahui bahwa ternyata
detector semikonduktor dapat mengubah energi radiasi menjadi energi listrik.

PEMBAHASAN
A. Pengertian Detektor Semikonduktor
Detektor berasal dari istilah detect, yang berarti memantau kehadiran atau
keberadaan sesuatu. Sedangkan detector semikonduktor itu sendiri merupakan
detector yang digunakan sebagai detektor radiasi karena timbulnya arus listrik bila
semikonduktor terkena radiasi , detector semikondutor utamanya digunakan dalam
system spektrometer foton yang memiliki daya pisah tinggi (Pudjaatmaka, 2002).
Detector semikonduktor terbuat dari bahan semikonduktor, ada beberapa jenis
bahan yang terbuat dari semikonduktor : high purity germanium, high purity
silicon, lithium drifted germanium dan lithium drifted silicon. Ge dan Si memiliki
elektron valensi 4, secara umum semuanya terikat dalam ikatan kovalen, sehingga
seluruh pita valensi terisi penuh sedang pita konduksi kosong. Semikonduktor
memiliki orde energi gap yang kecil sekitar 1 ev atau kurang. Sedangkan insulator
energi gap nya dapat mencapai 5 ev.
B. Prinsip Kerja Detektor Semikonduktor
Prinsip kerja detektor mirip seperti sensor (bahkan kita sering kebingungan
menggunakan istilah mana yang tepat detektor atau sensor) yakni merubah
kehadiran sesuatu menjadi informasi elektris. Pada detektor ini, energi radiasi
diubah menjadi energi listrik. Sambungan semikonduktor dibuat dengan
menyambungkan semikonduktor tipe N dengan tipe P (PN junction) (Alatas, 2000).
Tipe N berasal dengan adanya bahan doping gol V, maka ada atom dari doping
ini yang kelebihan elektron (tak berpasangan). Elektron ini mudah terksitasi ke pita
konduksi sehingga bahan ini menjadi semikonduktor tipe n. Sedangkan tipe P
adalah doping dari golongan III, atom doping hanya bervalensi 3 maka ada sebuah
lubang yang mudah diisi oleh elektron dari pita valensi sehingga bahan ini menjadi
semikonduktor tipe P

Semikonduktor dengan
doping dari golongan V
(menjadi
semikonduktor tipe N)

Semikonduktor dengan
doping dari golongan
III (menjadi
semikonduktor tipe P)
Gambar 1. Tipe n dan Tipe p
(Sumber : Kenneth S. Krane, Introductory Nuclear Physics, John Wiley & Sons,
Toronto, 1988)
Jika semikonduktor tipe N dan tipe P disambungkan maka elektron dari tipe N
akan menyeberang sambungan menuju tipe P menyebabkan terjadinya daerah
deplesi, maka di sekitar sambungan ini pembawa muatan bebas ternetralisasi,
akibatnya

terjadi

medan

listrik

di

sekitar

sambungan

yang

mencegah

penyeberangan selanjutnya (terdapat lapisan kosong). Dengan adanya lapisan


kosong muatan ini maka tidak akan terjadi arus listrik. Ketika ada radiasi pengion
yang memasuki lapisan kosong muatan ini maka akan terbentuk ion-ion baru,
elektron dan hole, yang akan bergerak ke kutub-kutub positif dan negatif.
Tambahan elektron dan hole inilah yang akan menyebabkan terbentuknya arus
listrik (Krane, 1988)
Energi radiasi yang memasuki bahan semikonduktor akan diserap oleh bahan
sehingga beberapa elektronnya dapat berpindah dari pita valensi ke pita konduksi.
Bila di antara kedua ujung bahan semikonduktor tersebut terdapat beda potensial
maka akan terjadi aliran arus listrik (Alatas, 2000).

Sambungan semikonduktor
jenis n dan p yang bertindak
sebagai detector
semikonduktor.
Tampak bahwa di daerah
deplesi ada medan listrik
yang mencegah rekombinasi
berikutnya.
Pada gambar bawah bias
eksternal digunakan
Gambar 2. Sambungan semikonduktor jenis N dan P
(Sumber : Kenneth S. Krane, Introductory Nuclear Physics, John Wiley & Sons,
Toronto, 1988)
Detektor semikonduktor sangat teliti dalam membedakan energi radiasi yang
mengenainya atau disebut mempunyai resolusi tinggi. Sebagai gambaran, detektor
sintilasi untuk radiasi gamma biasanya mempunyai resolusi sebesar 50 keV, artinya,
detektor ini dapat membedakan energi dari dua buah radiasi yang memasukinya
bila kedua radiasi tersebut mempunyai perbedaan energi lebih besar dari pada 50
keV. Sedang detektor semikonduktor untuk radiasi gamma biasanya mempunyai
resolusi 2 keV. Jadi terlihat bahwa detector semikonduktor jauh lebih teliti untuk
membedakan energy radiasi (Alatas, 2000).

Contoh detektor semikonduktor

Gambar 3. Detektor semikonduktor


(Sumber : Kenneth S. Krane, Introductory Nuclear Physics, John Wiley & Sons,
Toronto, 1988)
Pada prakteknya detektor semikonduktor dioperasikan dengan tegangan balik
sekitar 1000~3000V. Tegangan ini berfungsi untuk meningkatkan medan listrik
menyebabkan pengumpulan muatan menjadi lebih efisien dan Fungsi lain adalah
untuk memperlebar daerah deplesi (Krane, 1988).
C. Keunggulan dan Kelemahan detector semikonduktor
a. Keunggulan detektor semikonduktor
Efisiensi detektor
Detektor semikonduktor memiliki tingkat efisiensi yang baik (lebih baik dari
detektor isian gas) karena pada prinsipnya bila di antara kedua ujung

bahan semikonduktor tersebut terdapat beda potensial


maka akan terjadi aliran arus listrik yang diterimanya sehingga
detektor ini akan mengubah energy radiasi menjadi energy listrik. Seperti yang
diketahui bahwa bahan detektor yang mempunyai densitas lebih rapat akan
mempunyai efisiensi yang lebih tinggi karena semakin banyak radiasi yang
berinteraksi dengan bahan.
Kecepatan detektor
Dalam detektor semikondukor memilki kecepatan selektor yang baik
dibanding dengan detektor isian gas, karena ketika datang suatu sumber radiasi
dan memasuki lapisan kosong maka akan secara cepat terbentuk pulsa listrik.
Diketahui bahwa kecepatan detektor berinteraksi dengan radiasi sangat
mempengaruhi pengukuran karena bila respon detektor tidak cukup cepat
sedangkan intensitas radiasinya sangat tinggi maka akan banyak radiasi yang
tidak terukur meskipun sudah mengenai detektor.
Resolusi detektor
Resolusi adalah kemampuan detektor untuk membedakan energi radiasi
yang berdekatan. Suatu detektor diharapkan mempunyai resolusi yang sangat
kecil (high resolution) sehingga dapat membedakan energi radiasi secara teliti.
Detektor semikonduktor memiliki resolusi yang sangat baik karena daya

atau energi yang dibutuhkan untuk menghasilkan ion-ion

lebih rendah dibandingkan dengan proses ionisasi di gas,


maka jumlah ion yang dihasilkan oleh energi yang sama
akan

lebih

banyak.

Hal

inilah

yang

menyebabkan

detektor semikonduktor sangat teliti dalam membedakan


energi radiasi yang mengenainya. (Anonim, 2014)
b. Kelemahan Detektor Semikonduktor
Kelemahan dari detektor semikonduktor adalah harganya lebih mahal,
pemakaiannya harus hati-hati karena konstruksi atau desainnya mudah rusak dan
beberapa jenis detektor semikonduktor harus didinginkan pada temperatur nitrogen
cair sehingga memerlukan dewar yang berukuran cukup besar.

KESIMPULAN
Detektor semikonduktor merupakan detector yang digunakan sebagai detektor
radiasi karena timbulnya arus listrik bila semikonduktor terkena radiasi. Detektor
semikonduktor terbuat dari bahan semikonduktor, ada 4 jenis bahan yang terbuat
dari semikonduktor yaitu high purity germanium, high purity silicon, lithium
drifted germanium dan lithium drifted silicon. Pada detektor ini, energi radiasi
diubah menjadi energi listrik. Untuk mengubah energy radiasi menjadi energy
listrik digunakan Sambungan semikonduktor yang dibuat dengan menyambungkan
semikonduktor tipe N dengan tipe P. Detektor semikonduktor sangat teliti dalam
membedakan energi radiasi yang mengenainya atau disebut mempunyai resolusi
tinggi.
Keunggulan detektor semikonduktor, untuk efisiensi dan kecepatan detektor
jauh lebih baik dibanding dengan detektor isian gas dan tingkat resolusinya sangat
tinggi dengan membedakan energi radiasi karena daya atau energi yang

dibutuhkan untuk menghasilkan ion-ion lebih rendah.


Kelemahannya detektor semikonduktor adalah harganya lebih mahal,
pemakaiannya harus hati-hati karena konstruksi atau desainnya mudah rusak dan
beberapa jenis detektor semikonduktor harus didinginkan pada temperatur nitrogen
cair sehingga memerlukan dewar yang berukuran cukup besar.

DAFTAR PUSTAKA
Alatas, Z. d. (2000). Pintar Nuklir. Jakarta: Mitra Bestari.
Anonim. (2014, Mei senin). Detektor Partikel Zat Padat. Retrieved from Scrbd:
http://www.scribd.com/doc/67842211/Modul-Detektor-Partikel-Zat-PadatDan-Detektor-Lainnya
Krane, K. S. (1988). Introductory Nuclear Physics. New York: John Wiley & Sons.
Pudjaatmaka, A. H. (2002). Kamus Kimia. Jakarta: Balai Pustaka.

10