Anda di halaman 1dari 24

KINETIKA FERMENTASI DI DALAM

PRODUKSI MINUMAN VINEGAR


LAPORAN RESMI PRAKTIKUM
TEKNOLOGI FERMENTASI
Nama : Aleksander Boli Wisnu Prasetyaji Lolan
NIM : 12.70.0154
Kelompok F4

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PANGAN


FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
UNIVERSITAS KATOLIK SOEGIJAPRANATA
SEMARANG
2015

1. HASIL PENGAMATAN
Hasil pengamatan kinetika dalam produksi vinegar dari sari apel malang dan kultur Saccharomyces cereviceae yang diamati setiap 24 jam
selama 5 hari dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Hasil Pengamatan Kinetika dalam Produksi Vinegar dari Sari Buah Apel
MO Tiap Petak
Kelompo
k

Perlakuan

Waktu

F1

Sari apel + S. cereviceae

F2

Sari apel + S. cereviceae

F3

Sari apel + S. cereviceae

F4

Sari apel + S. cereviceae

N0
N24
N48
N72
N96
N0
N24
N48
N72
N96
N0
N24
N48
N72
N96
N0

1
1
50
39
45
60
12
81
169
78
300
28
54
120
123
44
26

2
4
47
40
62
72
13
101
123
72
300
15
62
82
103
39
17

3
8
55
36
56
76
11
92
157
101
300
22
60
81
108
41
11

4
7
45
41
69
83
11
93
179
128
300
16
56
83
109
37
29

Rata-rata/
MO Tiap
Petak

Rata-rata/
MO Tiap cc

OD (nm)

pH

Total
Asam

5
49,25
39
58
72,75
11,75
91,75
157
94,75
300
20,25
58
91,5
110,75
40,25
20,75

2 x 107
19,7 x 107
15,6 x 107
23,2 x 107
29,1 x 107
4,7 x 107
36,7 x 107
62,8 x 107
37,9 x 107
120 x 107
8,1 x 107
23,2 x 107
36,6 x 107
44,3 x 107
16,1 x 107
8,3 x 107

0,3162
1,3558
1,5890
1,6233
1,8378
0,2721
1,0991
1,1038
0,9060
2,1425
0,3192
1,2458
1,4917
1,6415
1,2932
0,4084

3,82
3,24
3,35
3,37
3,40
3,24
3,22
3,33
3,42
3,43
3,27
3,22
3,33
3,34
3,42
3,30

16,32
19,20
14,40
14,59
14,02
16,51
17,28
14,40
13,82
13,63
17,09
17,28
16,32
15,55
14,02
16,32

N24
N48
N72
N96
Kelompo
k
F5

Perlakuan
Sari
apel
Cerevisiae

101
81
83
82

90
107
90
88
76
95
76
83
MO Tiap Petak

124
97
75
86

N0

11

27

23

19

105,5
89
82,25
81,75
Rata-rata/
MO Tiap
Petak
20

N24
N48
N72
N96

192
115
100
135

187
106
75
89

124
119
69
144

75
92
52
167

144,5
108
74
133,75

Waktu
S.

42,2 x 107
35,6 x 107
32,9 x 107
32,7 x 107

1,5120
1,5583
0,7487
0,7845

Rata-rata/
MO Tiap cc

OD (nm)

pH

Total
Asam

8 x 107

0,3352

3,32

15,74

57,8 x 107
43,2 x 107
29,6 x 107
53,4 x 107

1,2911
1,3860
1,6958
1,4069

3,23
3,35
3,54
3,46

17,28
14,40
15,17
12,86

3,25
3,13
3,34
3,48

19,20
14,40
14,59
13,82

Hasil pengamatan diatas dapat dilihat dalam grafik berikut ini :


Gambar 1. Grafik Hubungan Absorbansi dengan Waktu

Grafik Hubungan Absorbansi dengan Waktu


2.5000
2.0000

F1
F2

1.5000
Ansorbansi

F3
1.0000

F4
F5

0.5000
0.0000

N0

N24

N48

N72

N96

Waktu

Gambar 2. Grafik Hubungan Jumlah Sel Mikroorganisme dengan Waktu

Grafik Hubungan Jumlah Sel Mikroorganisme dengan Waktu


1400000000
1200000000
1000000000

F1
F2

800000000
Jumlah Sel Mikroorganisme

F3

600000000

F4

400000000

F5

200000000
0
N0 N24 N48 N72 N96
Waktu

Gambar 3. Grafik Hubungan Jumlah Sel Mikrroganisme dengan pH

Grafik Hubungan Jumlah Sel Mikroorganisme dengan pH


1400000000
1200000000
1000000000

Jumlah Sel Mikroorganisme

F1

800000000

F2

600000000

F3
F4

400000000

F5

200000000
0
3

3.1 3.3 3.5 3.7


3.2 3.4 3.6 3.8
pH

Gambar 4. Grafik Hubungan Jumlah Sel Mikroorganisme dengan Absorbansi

Grafik Hubungan Jumlah Sel Mikroorganisme dengan Absorbansi


1400000000
1200000000

Jumlah Sel Mikroorganisme

1000000000

F1

800000000

F2

600000000
400000000
200000000
0
0.0000 2.0000 4.0000
Absorbansi

F3
F4
F5

Gambar 5. Grafik Hubungan Jumlah Sel mikroorganisme dengan Total Asam

Grafik Hubungan Jumlah Sel Mikroorganisme dengan Total Asam


1400000000
1200000000
1000000000
800000000
Jumlah Sel Mikroorganisme

600000000

F1
F2
F3

400000000

F4

200000000

F5

Total Asam

2. PEMBAHASAN
Vinegar merupakan bumbu yang biasa digunakan dalam makanan untuk
mengawetkan. Vinegar menurut Chang et al (2005), dapat meningkatkan manfaat

kesehatan. Kegunaannya yaitu untuk menurunkan tekanan darah, mengurangi


resiko penyakit kardiovaskular, aktivitas antioksidan dan untuk metabolisme.
Menurut Dantew et al (2012) bahwa ragi dapat digunakan dalam berbagai proses
industri seperti minuman beralkohol, biomassa dan berbagai produk metabolik.
Ragi termasuk dalam kultur starter, untuk produksi jenis fermentasi tertentu dari
makanan seperti roti, sourdoughs, daging dan sayur produk fermentasi. Ragi
memiliki peranan dalam memenuhi gizi manusia dengan produk hasil fermentasi.
Produk hasil fermentasi ini digunakan sebagai alternatif sumber protein untuk
menutupi rendahnya produksi dalam dunia pertanian yang rendah.
Pada praktikum

ini, bahan yang digunakan adalah sari apel. Apel menurut

Ariyanto et al ( 2013) dalam jurnalnya Pengaruh Penambahan Gula Terhadap


Produktivitas Alkohol dalam Pembuatan Wine Berbahan

Apel Buang dengan

Menggunakan Nopkor MZ.1, apel merupakan buah yang memiliki kadar glukosa
sebesar 14 %. Sementara untuk produk Wine sendiri merupakan produk alkohol
yang memiliki kadar alkohol sebesar 8-15%. Syarat dalam pembuatan Wine
berbahan sari buah yang akan difermentasi adalah harus mengandung kadar
glukosa sebesar 14% untuk diubah menjadi alkohol.
Ada 4 macam pengukuran kerja yang dilakukan dalam praktikum ini yaitu
pengukuran biomassa dengan Haemocytometer, penentuan total asam selama
fermentasi, pengukuran pH serta menentukan hubungan absorbansi dengan
kepadatan sel. Asam karboksilat merupakan salah satu kandungan dari sari apel.
Sementara untuk perlakuan, digunakan perlakuan penambahan S.Cerevisiae.
menurut Atlas (1984), ragi yang digunakan dalam praktikum ini digunakan untuk
proses fermentasi minuman yang melibatkan alkohol.

Dalam fermentasi dengan menggunakan yeast S. Cereviceae ini, terjadi


perombakan glukosa menjadi alkohol dan gas CO2 dengan reaksi sebagai berikut :

C6H12O6 2 CH3CH2OH + CO2

Dari fermentasi dengan Yeast tersebut menghasilkan Etanol sekitar 15%


(Kwartiningsih, 2005). Sementara untuk sari apel, menurut Zhang et al (2008),
asam organik yang terkandung di dalam jus buah akan berpengaruh pada pH, rasa,
stabilitas, nutrisi dan juga pada kualitas.

Pada percobaan pertama yaitu pengukuran biomassa dengan


Haemocytometer, mula-mula disiapkan media pertumbuhan
sebanyak 250 ml. media yang digunakan dalam praktikum ini,
disterilisasi terlebih dahulu. Menurut Fardiaz (1992), proses
pemanasan pada media bertujuan untuk memastikan media
yang digunakan terbebas dari mikroba yang tidak diinginkan
sehingga tidak adanya pertumbuhan mikroba pada media ketika ditambahkan
kultur. Selain itu juga, pemanasan ini bertujuan

untuk menurunkan tingkat

antioksidan pada media selama fermentasi.


Kemudian,sebanyak 30 ml biakan yeast dimasukkan ke dalam media pertumbuhan
tadi secara aseptis. Kemudian langkah selanjutnya adalah inkubasi dengan
perlakuan shaker (penggoyangan). Proses inkubasi ini dilakukan pada suhu ruang
selama 5 hari dan tiap hari dilakukan pengamatan untuk mengetahui pertumbuhan
sel yeast dan ditentukan nilai dari N0, N24, N48, N72 dan N96.. Proses inkubasi ini
dilakukan dilakukan pada LAF (Laminar Air Flow). Menurut Hadioetomo (1993),
perlakuan inkubasi pada LAF ini bertujuan untuk menghindari adanya kontaminasi
yang tidak diinginkan pada media. Proses inkubasi ini harus dikondisikan dalam
keadaan anaerob agar dihasilkan produk alkohol. Selain itu juga, menurut Gaman
& Sherrington (1994), erlenmeyer yang digunakan selama inkubasi harus ditutup
dengan aluminium foil agar tetap steril.
Setelah diperoleh hasi pengamatan selama 5 hari, kemudian dibuat grafik yang
menggambarkan pertumbuhan yeast. Menurut Chen & Pei (2011), pengukuran
dengan Haemocytometer ini bertujuan untuk menghitung jumlah mikroba yang
terdapat pada 1 kotak ditengah plat yang dibatasi oleh tiga garis pada keempat

sisinya. Pengukuran ini digunakan pada sel dengan densitas > 104 sel/ml. sampel
yang akan diamati diletakkan pada cekungan yang terdapat pada haemocytometer
dengan menggunakan pipet Pasteur dan tip (Said, 1987).
Sementara untuk percobaan kedua yang dilakukan
adalah penentuan total asam selama fermentasi. Pada
percobaan kedua ini, total asam selama fermentasi
ditentukan berdasarkan metode titrasi menggunakan
NaOH 0,1 N dengan bantuan indikator PP. titrasi
dihentikan setelah terbentuk warna merah muda pada
larutan.
Untuk kadar total titrasi dapat ditentukan dengan rumus :
Total asam =

ml NaOH x Normalitas NaOH x 192


10 ml sampel

mg/ml

Menurut Chang (1991), jika titran yang digunakan NaOH maka maka indikatornya
PP. Pada praktikum ini juga dilakukan pengukuran pH dengan pH meter. pH meter
adalah alat yang digunakan untuk mengukur tingkat keasaman dari suatu cairan
(Atlas, 1984)
Percobaan ketiga yang dilakukan adalah pengukuran pH
minuman vinegar. Mula-mula diambil sebanyak 10 ml sampel
kemudian diukur pH nya dengan pH meter. Dan untuk
percobaan

keempat

yang

dilakukan

adalah

penentuan

Hubungan absorbansi dengan kepadatan sel. Mula-mula kultur


yeast yang telah dibiakan diambil sebanyak 30 ml. kemudian
diukur nilai OD dengan menggunakan spektrofotometer pada
panjang gelombang 660 nm. Perlakuan ini dilakukan selama 5 hari kemudian
dibuat kurva yang menggambarkan nilai OD selama 5 hari tersebut. Menurut
Hadioetomo (1993), panjang gelombang yang biasa dilakukan dalam pengukuran
OD yeast saccharomyces cereviceae adalah 660 nm sehingga praktikum yang
dilakukan sesuai dengan teori yang ada.
Hubungan Antara Parameter-Parameter

Hubungan jumlah Sel Mikroorganisme dengan Waktu


Dari grafik diatas dapat dilihat bahwa hubungan jumlah sel mikroorganisme
dengan

waktu

pada

kelompok

F3

sesuai

dengan

grafik

pertumbuhan

mikroorganisme. Sedangkan untuk kelompok F1, F2, F4 dan F5 tidak sesuai


dengan grafik karena jumlah sel yang terbentuk tidak sesuai. Menurut Fardiaz
(1992), dalam pertumbuhan jumlah sel, jumlah sel awalnya sedikit karena awal
pertumbuhan sehingga tidak diperoleh adanya penambahan mikroba. Umumnya
pertumbuhan mikroba diawali dengan fase lag kemudian akan meningkat dengan
ditandai dengan peningkatan grafik (fase log). Setelah melalui fase log, mikroba
akan memasuki fase stasioner. Fase ini merupakan fase dimana mikroba
mengalami pertumbuhan dan kemudian setelah nutrisi habis, akan memasuki fase
kematian. Pada fase kematian ini ditandai dengan adanya penurunan grafik.
Hubungan Absorbansi dengan Waktu
Pada grafik 1 yaitu diatas dapat dilihat bahwa nilai absorbansi dari tiap kelompok
mengalami perubahan dari hari 1 hingga 5. Untuk setiap kelompok secara umum
dari hari 1 hingga ke 3 mengalami peningkatan. pada grafik sementara untuk hari
ke 4mengalami penurunan kecuali untuk kelompok F1, F3 dan F5. Ketiga
kelompok ini mengalami kenaikan pada grafik. Sementara untuk hari ke 5,
kelompok F2 mengalami kenaikan grafik dan kelompok lainnya mengalami
penurunan grafik. Dari grafik diatas, menurut Gaman & Sherrington (1994),
penurunan tersebut disebabkan karena adanya penurunan jumlah volume cider dan
jumlah sel karena dilakukan proses pengambilan tiap harinya untuk diamati. Selain
itu juga, menurut pigeau (2007), penurunan grafik tersebut disebabkan juga karena
adanya pertumbuhan mikroba serta faktor dari pH, suhu, makanan dan
kelembaban.
Hubungan Jumlah Sel Mikroorganisme dengan Total Asam
Dari grafik 5 yang menggambarkan hubungan sel mikroorganisme dengan total
asam diatas dapat dilihat bahwa grafik yang ada berbentuk acak. Asam yang
dihasilkan akan semakin banyak seiring dengan adanya kelebihan pada substrat
dan total asam akan mengalami penurunan apabila substrat yang dihasilkan telah
habis (Galaction et al, 2010).

10

Hubungan Jumlah sel Mikroorganisme dengan pH


Dari grafik diatas dapat dilihat bahwa pH yang tercapai yaitu diantara 3.1-3,8. pH
yang rendah ini disebabkan karena penggunaan sari apel yang memiliki keasaman
yang tinggi. Jika semakin tinggi pH optimum yang tercapai, maka akan semakin
banyak pula jumlah mikroorganisme yang diperoleh. pH optimum dalam
pembentukan tercapai, maka akan semakin banyak pula jumlah mikroorganisme
yang diperoleh. pH optimum dalam pembentukan yeast saccharomyces cereviciae
adalah 3,5-6,5. Dari grafik diatas, dapat dilihat bahwa pH optimum yang tercapai
adalah 3,8. Nilai pH yang tinggi ini dikarenakan waktu fermentasi yang dilakukan
sehingga akan meningkatkan kandungan alkohol selama fermentasi. Sementara
untuk nilai pH yang rendah yaitu hingga 3,1, hal ini disebabkan oleh kandungan
asam dari apel yang digunakan (Galaction, 2010).
Hubungan Jumlah Sel Mikroorganisme dengan Absorbansi
Menurut Pelczar & Chan (1986), absorbansi yang diperoleh akan semakin kecil
seiring dengan adanya peningkatan pada jumlah sel miroorganisme. Hal ini dapat
dilihat dari kekeruhan. Apabila diperoleh tingkat kekeruhan yang tinggi maka
terdapat jumlah sel yang tinggi pula dan begitupun sebaliknya. Pada grafik
Hubungan Jumlah Sel Mikroorganisme dengan Absorbansi diatas, dapat dilihat
bahwa nilai absorbansi mengalami peningkatan saat adanya pertumbuhan jumlah
sel mikroorganisme. Hasil pengamatan ini tidak sesuai dengan teori yang ada. Hal
ini dikarenakan kurang tepatnya proses pengambilan sampel yaitu hanya bagian
cider jernih saja yang diambil.

11

3. KESIMPULAN

Apel merupakan buah yang memiliki kadar glukosa sebesar 14 %.

Wine merupakan produk alkohol yang memiliki kadar alkohol sebesar 8-15%.

Asam karboksilat merupakan salah satu kandungan dari sari apel.

Ragi yang digunakan bertujuan untuk proses fermentasi minuman yang


menghasilkan alkohol.

Persaman reaksi :

Proses pemanasan pada media bertujuan untuk memastikan media yang digunakan

C6H12O6 2 CH3CH2OH + CO2

terbebas dari mikroba yang tidak diinginkan

Pemanasan bertujuan untuk menurunkan tingkat antioksidan pada media selama


fermentasi.

Perlakuan inkubasi pada LAF bertujuan untuk menghindari adanya kontaminasi


yang tidak diinginkan pada media.

Erlenmeyer yang digunakan selama inkubasi harus ditutup dengan aluminium foil
agar tetap steril.

Pengukuran dengan Haemocytometer bertujuan untuk menghitung jumlah


mikroba yang terdapat pada 1 kotak ditengah plat yang dibatasi oleh tiga garis
pada keempat sisinya.

Panjang gelombang yang biasa dilakukan dalam pengukuran OD yeast


saccharomyces cereviceae adalah 660 nm

Dalam pertumbuhan jumlah sel, jumlah sel awalnya sedikit karena awal
pertumbuhan sehingga tidak diperoleh adanya penambahan mikroba.

12

Penurunan nilai absorbansi setelah hari ke 3 disebabkan karena adanya penurunan


jumlah volume cider dan jumlah sel karena dilakukan proses pengambilan tiap hari
untuk diamati.

Asam yang dihasilkan akan selama pengamatan 5 hari akan semakin tinggi seiring
dengan adanya kelebihan pada substrat.

pH yang rendah pada produk fermentasi alkohol disebabkan karena penggunaan


sari apel yang memiliki keasaman yang tinggi.

Absorbansi yang diperoleh akan semakin kecil seiring dengan adanya peningkatan
pada jumlah sel miroorganisme
Semarang, 8 juli 2015

Asisten Dosen

Aleksander Boli Wisnu P.L


12.70.0154

13

4. DAFTAR PUSTAKA
Ariyanto, Hermawan Dwi, Furqon Hidayatulloh dan Joko Murwono. 2013.
PENGARUH PENAMBAHAN GULA TERHADAP PRODUKTIVITAS
ALKOHOL DALAM PEMBUATAN WINE BERBAHAN

APEL BUANG

DENGAN MENGGUNAKAN NOPKOR MZ.1.Jurnal Teknologi Kimia


Industri Vol 2, No 4.
Atlas,

R. M. (1984). Microbiology Fundamental

and Applications. Mac

MillardPublishing Company. New York.


Chang, Raymond. 2005. Kimia Dasar: Konsep-konsep Inti Jilid I. Jakarta: Erlangga.
Chen, Yu-wei. (2011). Automatic Cell Counting for Haemocytometers ThroughImage
Processing. Taiwan: National Chung Cheng University
Damtew , Wondimagegn, Shimelis Admassu Emire, Andualem Bahiru Aber. 2012.
Evaluation of Growth Kinetics and Biomass Yield Efficiency of Industrial Yeast
Strains. Scholars Research Library Archives of Applied Science Research,
2012, 4 (5):1938-1948
Fardiaz, S. (1992). Mikroorganisme Pangan 1. PT. Gramedia Pustaka Utama.Jakarta
Galaction, Anca-Irina; Anca-Marcela Lupasteanu and Dan Cascaval. (2010).
Kinetic Studies on Alcoholic Fermentation Under Substrate Inhibition Conditio
nsUsing a Bioreactor with Stirred Bed of Immobilized Yeast Cells. The open
Systems Biology Journal,3,9-20
Gaman, P.M. dan K.B. Sherrington. (1994). Pengantar Ilmu Pangan Nutrisi dan
Mikrobiologi. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. 317 hlm.
Hadioetomo, R. S. (1993). Mikrobiologi Dasar Dalam Praktek. PT GramediaPustaka.
Jakarta.
Kwartiningsih, Endang Kwartiningsih, Ln. Nuning Sri Mulyati. 2005. FERMENTASI
SARI BUAH NANAS MENJADI VINEGAR. EKUILIBRIUM Vol. 4. No. 1. 8
Juni 2005 : 8 12
Pelezar, M. J. & Chan. E.C.S. (1976). Turbidimetric Measurement of Plant
CellCulture Growth. Massachussets : MIT

14

Pigeau, G. M.; E. Bozza; K. Kaiser & D. L. Inglis. (2007). Concentration Effect


of Riesling Icewine Juice on Yeast Performance and Wine Acidity. Journal of
AppliedMicrobiology ISSN 1364-5072
Said, E.G. (1987). Bioindustri Penerapan Teknologi Fermentasi. PT. Melton
Putra.Jakarta. Hlm 317.
Zhang et al. 2008. Prevalance and Assosiated Factors of Overweight and Obesity in a
Chinese Rural Population. Obesity.

15

5. LAMPIRAN
5.1.
Perhitungan
Perhitungan Jumlah Biomassa dengan Haemocytometer
Rumus :
Ratarata/mikroorganisme tiap cc=
1
ratarata jumlah mikroorganisme tiap petak
volume petak

Kelompok F1
-

N0
Ratarata/mikroorganisme tiap petak=

Ratarata/mikroorganisme tiap cc=


-

1
7
5=2 10
7
2,5 10

N24
Ratarata/mikroorganisme tiap petak=

Ratarata/mikroorganisme tiap cc=


-

50+ 47+55+ 45
=49,25
4

1
49,25=19,7 107
7
2,5 10

N48
Ratarata/mikroorganisme tiap petak=

Ratarata/mikroorganisme tiap cc=


-

1+4 +8+7
=5
4

39+ 40+36+ 41
=39
4

1
39=15,6 10 7
7
2,5 10

N72
Ratarata/mikroorganisme tiap petak=

Ratarata/mikroorganisme tiap cc=

16

45+ 62+56+69
=58
4

1
7
58=23,2 10
7
2,5 10

N96
Ratarata/mikroorganisme tiap petak=

Ratarata/mikroorganisme tiap cc=

60+72+76+ 83
=72,75
4

1
72,75=29,1 107
7
2,5 10

Kelompok F2
-

N0
Ratarata/mikroorganisme tiap petak=

Ratarata/mikroorganisme tiap cc=


-

1
11,75=4,7 107
7
2,5 10

N24
Ratarata/mikroorganisme tiap petak=

Ratarata/mikroorganisme tiap cc=


-

N48

Ratarata/mikroorganisme tiap cc=

169+123+157+179
=157
4

1
7
157=62,8 10
7
2,5 10

N72
Ratarata/mikroorganisme tiap petak=

Ratarata/mikroorganisme tiap cc=


-

81+101+92+93
=91,75
4

1
91,75=36,7 107
7
2,5 10

Ratarata/mikroorganisme tiap petak=

12+13+11+11
=11,75
4

78+72+101+128
=94,75
4

1
94,75=37,9 10 7
7
2,5 10

N96
Ratarata/mikroorganisme ti ap petak=

17

300+300+ 300+300
=300
4

Ratarata/mikroorganisme tiap cc=

1
300=120 107
7
2,5 10

Kelompok F3
-

N0
Ratarata/mikroorganisme tiap petak=

Ratarata/mikroorganisme tiap cc=


-

1
20,25=8,1 107
7
2,5 10

N24
Ratarata/mikroorganisme tiap petak=

Ratarata/mikroorganisme tiap cc=


-

N48

Ratarata/mikroorganisme tiap cc=

120+82+81+ 83
=91,5
4

1
91,5=36,6 107
7
2,5 10

N72
Ratarata/mikroorganisme tiap petak=

Ratarata/mikroorganisme tiap cc=


-

54+ 62+ 60+56


=58
4

1
7
58=23,2 10
7
2,5 10

Ratarata/mikroorganisme tiap petak=

28+15+22+16
=20,25
4

123+103+108+109
=110,75
4

1
110,75=44,3 107
7
2,5 10

N96
Ratarata/mikroorganisme tiap petak=

Ratarata/mikroorganisme tiap cc=

18

44+39+ 41+ 37
=40,25
4

1
7
40,25=16,110
7
2,5 10

Kelompok F4
-

N0
Ratarata/mikroorganisme tiap petak=

Ratarata/mikroorganisme tiap cc=


-

1
20,75=8,3 10 7
7
2,5 10

N24
Ratarata/mikroorganisme tiap petak=

Ratarata/mikroorganisme tiap cc=


-

N48

Ratarata/mikroorganisme tiap cc=

N72

Ratarata/mikroorganisme tiap cc=

83+76+ 95+75
=82,25
4

1
82,25=32,9 10 7
7
2,5 10

N96
Ratarata/mikroorganisme tiap petak=

Ratarata/mikroorganisme tiap cc=

Kelompok F5
-

81+90+ 88+97
=89
4

1
89=35 , 6 10 7
7
2,5 10

Ratarata/mikroorganisme tiap petak=

101+97+107 +124
=105,5
4

1
7
105,5=42,210
7
2,5 10

Ratarata/mikroorganisme tiap petak=

26+17 +11+29
=20,75
4

N0

19

82+76+ 83+86
=81,75
4

1
81,75=32,7 107
7
2,5 10

Ratarata/mikroorganisme tiap petak=

Ratarata/mikroorganisme tiap cc=


-

1
20=8 107
7
2,5 10

N24
Ratarata/mikroorganisme tiap petak=

Ratarata/mikroorganisme tiap cc=


-

N48

Ratarata/mikroorganisme tiap cc=


N72

Ratarata/mikroorganisme tiap cc=

100+75+69+52
=74
4

1
74=29,6 107
7
2,5 10

N96
Ratarata/mikroorganisme tiap petak=

Ratarata/mikroorganisme tiap cc=


1

115+ 106+119+ 92
=108
4

1
7
108=43 ,2 10
7
2,5 10

Ratarata/mikroorganisme tiap petak=

192+187+124+ 75
=144,5
4

1
144,5=57,8 107
7
2,5 10

Ratarata/mikroorganisme tiap petak=

11+27 +23+19
=20
4

135+89+144 +167
=133,75
4

1
133,75=53,4 107
7
2,5 10

Perhitungan Total Asam Selama Fermentasi


Rumus perhitungan Total Asam
Total asam=

ml NaOH normalitas NaOH 192


ml sampel

Kelompok F1

20

N0
Volume titrasi = 8,5 ml
Total asam=

8,5 0,1 192


=16,32
10

N24
Volume titrasi = 10 ml
Total asam=

10 0,1 192
=19,20
10

N48
Volume titrasi = 7,5 ml
Total asam=

7,5 0,1 192


=14,40
10

N72
Volume titrasi = 7,6 ml
Total asam=

7,6 0,1192
=14,59
10

N96
Volume titrasi = 7,3 ml
Total asam=

7,3 0,1 192


=14,02
10

Kelompok F2
-

N0
Volume titrasi = 8,6 ml
Total asam=

8,6 0,1 192


=16,51
10

N24
Volume titrasi = 9 ml
Total asam=

9 0,1 192
=17,28
10

N48
Volume titrasi = 7,5 ml

21

Total asam=
-

7,5 0,1 192


=14,40
10

N72
Volume titrasi = 7,6 ml
Total asam=

7,6 0,1192
=13,82
10

N96
Volume titrasi = 7,1 ml
Total asam=

7,1 0,1 192


=13,63
10

Kelompok F3
-

N0
Volume titrasi = 8,9 ml
Total asam=

8,9 0,1192
=17,09
10

N24
Volume titrasi = 9 ml
Total asam=

9 0,1 192
=17,28
10

N48
Volume titrasi = 8,5 ml
Total asam=

8,5 0,1 192


=16,32
10

N72
Volume titrasi = 8,1 ml
Total asam=

8,1 0,1 192


=15,55
10

N96
Volume titrasi = 7,3 ml

22

Total asam=

7,3 0,1 192


=14,02
10

Kelompok F4
-

N0
Volume titrasi = 8,5 ml
Total asam=

8,5 0,1 192


=16,32
10

N24
Volume titrasi = 10 ml
Total asam=

10 0,1 192
=19,20
10

N48
Volume titrasi = 7,5 ml
Total asam=

7,5 0,1 192


=14,40
10

N72
Volume titrasi = 7,6 ml
Total asam=

7,6 0,1192
=14,59
10

N96
Volume titrasi = 7,2 ml
Total asam=

7,2 0,1 192


=13,82
10

Kelompok F5
-

N0
Volume titrasi = 8,2 ml
Total asam=

8,2 0,1 192


=15,74
10

N24
Volume titrasi = 9 ml

23

Total asam=

9 0,1 192
=17,28
10

N48
Volume titrasi = 7,5 ml
Total asam=

7,5 0,1 192


10

14,40
-

N72
Volume titrasi = 7,9 ml
Total asam=

7,9 0,1 192


=15,17
10

N96
Volume titrasi = 6,7 ml
Total asam=

5.2.
5.3.

6,7 0,1 192


=12,86
10

Laporan Sementara
Jurnal

24