Anda di halaman 1dari 17

Acara 22

II

FERMENTASI SUBSTRAT CAIR


FERMENTASI NATA DE COCO
LAPORAN RESMI PRAKTIKUM
TEKNOLOGI FERMENTASI
Disusun oleh:
Nama: Nana Theodora
NIM: 12.70.0040
Kelompok : E2

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PANGAN


FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
UNIVERSITAS KATOLIK SOEGIJAPRANATA
SEMARANG

22

2015
1. HASIL PENGAMATAN
1.1. Pengamatan Lapisan Nata de coco
Tabel 1 dibawah menunjukkan hasil pengamatan lapisan nata de coco yang terbentuk
selama pembuatan nata de coco pada hari ke-0, hari ke-7, dan hari ke-14.
Tabel 1. Hasil Pengamatan Lapisan Nata de coco
Kel.
E1
E2
E3
E4
E5

Tinggi Media Awal


(cm)
2,8
2,6
1,3
3
2,5

H0
0
0
0
0
0

Ketebalan (cm)
H7
H14
0,4
0,4
0,5
0,4
0,5
0,8
0,4
0,6
0,3
0,3

Presentase Lapisan (%)


H0
H7
H14
0
14,29
14,29
0
19,23
15,38
0
38,46
61,54
0
13,33
20
0
12
12

22

1.2. Pengamatan Sensoris Nata de coco


Tabel 2 menunjukkan pengamatan sensori terhadap nata de coco yang dihasilkan.
Tabel 2. Hasil Pengamatan Uji Sensoris Nata de coco
Kel.
E1
E2
E3
E4
E5

Aroma
+
+
++++
+
+

Keterangan:
Aroma
++++ : tidak asam
+++ : agak asam
++ : asam
+
: sangat asam

Warna
+
+
+
+
+
Warna
++++ : putih
+++ : putih bening
++
: putih agak bening
+
: bening

Tekstur
+++
Tekstur
++++ : sangat kenyal
+++ : kenyal
++ : agak kenyal
+
: tidak kenyal

Rasa
Rasa
++++ : sangat manis
+++ : manis
++
: agak manis
+
: tidak manis

Pada Tabel 2 diatas, dapat dilihat bahwa pengamatan rasa pada setiap kelompok tidak
dapat diamati, sedangkan pengamatan tekstur nata de coco hanya dapat dilakukan pada
kelompok E3 yaitu kenyal. Pada uji warna, hasil yang diperoleh pada setiap kelompok
sama yaitu nata de coco memiliki warna yang bening. Pada uji aroma nata de coco,
dapat diketahui bahwa semua kelompok didapati aroma yang sangat asam, kecuali pada
kelompok E3 dengan aroma yang tidak asam.
1. PEMBAHASAN
Pada praktikum fermentasi ini, kita melakukan proses fermentasi subtrat cair
menggunakan air kelapa sebagai bahan baku pembuatan nata de coco. Menurut Hakimi
& Daddy (2006), nata de coco adalah produk fermentasi yang berasal dari substrat cair
air kelapa yang difermentasi yang dibantu oleh Acetobacter xylinum. Nata memiliki
kandungan serat yang tinggi karena tinggi selulosa, kalori yang rendah dan kandungan
air yang tinggi sekitar 90% (Norhayati et al, 2014). Nata merupakan selulosa berbentuk
padat, berwarna putih transparan, dan bertekstur kenyal (Anastasia dan Afrianto, 2008).
Menurut jurnal Pengaruh Penambahan Sumber Nitrogen Terhadap Hasil Fermentasi
NatadeCocomenyatakanbahwanata de coco adalah makanan yang berasal dari hasil
fermentasi air kelapa dengan bantuan bakteri Acetobacter xylinum. Nata ini dapat
digunakan sebagai dessert dan kaya akan serat. Pembentukan nata sangat membutuhkan
nutrisi nitrogen. Air kelapa mengandung mineral yang digunakan sebagai substrat dan

22

akan mendorong kerja enzim kinase dalam sel metabolisme Acetobacter xylinum untuk
menghasilkan selulosa. Nata merupakan salah satu contoh hasil dari bacterial cellulose.
Selulosa yang dihasilkan oleh bakteri memiliki kemurnian yang tinggi, bebas dari
hemiselulosa, lignin, dan komponen yang bukan berupa selulosa lainnya..
Menurut Woodroof (1972), air kelapa dapat digunakan sebagai media karena pada air
kelapa ada berbagai nutrisi yang dibutuhkan oleh bakteri penghasil nata de coco, seperti
sukrosa dan mineral Mg2+. Lapus et al. (1967) mengatakan bahwa di dalam air kelapa
terdapat senyawa yang mampu meningkatkan pertumbuhan bakteri penghasil nata
berupa faktor pendukung pertumbuhan (growth promoting factor). Acetobacter xylinum
yang digunakan untuk proses fermentasi air kelapa merupakan bakteri genus
Acetobacter, bertipe gram negatif, berbatang pendek, dan merupakan jenis bakteri
aerob. Dalam proses pembuatan nata de coco, Acetobacter xylinum memetabolisme
glukosa menjadi selulosa bakterial.
1.1. Pembuatan Media
Bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan media adalah air kelapa, gula pasir,
asam asetat glasial 95%, ammonium sulfat, dan starter nata de coco. Langkah kerja
yang dilakukan adalah pertama-tama air kelapa yang digunakan disaring terlebih
dahulu. Menurut Pato & Dwiloka (1994), penyaringan dilakukan untuk menghilangkan
kotoran yang ada pada air kelapa. Palungkun (1992) juga mengatakan bahwa
penyaringan dapat mereduksi jumlah mikroorganisme yang tidak diharapkan dan dapat
mengganggu pertumbuhan bakteri Acetobacter xylinum.

Gambar 1. Penyaringan Air Kelapa

22

Setelah disaring, 1,4 liter air kelapa dimasukkan ke dalam panci untuk dipanaskan.
Menurut Palungkun (1996), pemanasan bertujuan untuk membunuh mikroba yang dapat
mencemari nata yang akan dihasilkan. Mikroba kontaminan dapat menghambat
pertumbuhan dan aktivitas dari Acetobacter xylinum dalam mengkonversi gula menjadi
selulosa. Astawan & Astawan (1991) mengatakan pemanasan berfungsi untuk
melarutkan gula yang akan ditambahkan untuk larutan. Bila gula tidak terlarut dengan
baik, gula menjadi sulit untuk diserap Acetobacter xylinum sehingga proses fermentasi
akan berlangsung lebih lama, sehingga tidak dapat dihasilkan selaput tebal pada
permukaan larutan.

Gambar 2. Pemanasan media


Kemudian pada larutan ditambahkan gula pasir sebanyak 10% atau 140 gram dan
diaduk hingga larut. Penambahan gula sebanyak 10% dari larutan sudah sesuai dengan
pernyataan Hayati (2003), dimana menurutnya konsentrasi gula 10% akan menciptakan
kondisi media yang optimal untuk menunjang pertumbuhan Acetobacter xylinum.
Sunarso (1982) mengatakan gula juga berfungsi sebagai pengawet, dan berpengaruh
pada penampakan, tekstur, dan flavor nata de coco.

Gambar 3. Penambahan Gula

22

Selain gula, ditambahkan juga ammonium sulfat sebanyak 0,5% atau 7 gram. Menurut
Hakimi & Daddy (2006), ammonium sulfat memiliki fungsi sebagai sumber nitrogen
dan berguna untuk menghilangkan senyawa pengotor. Menurut Pambayun (2002),
ammonium sulfat adalah sumber nitrogen anorganik bagi Acetobacter xylinum. Selain
ammonium sulfat, sumber nitrogen juga bisa didapat dari urea atau ammonium fosfat
(ZA) sebagai sumber anorganik maupun sumber organik dari protein dan ekstrak yeast.

Gambar 4. Penambahan Ammonium Sulfat


Setelah ammonium sulfat, asam asetat glasial ditambahkan hingga pH larutan mencapai
kisaran 4-5, namun terlebih dahulu substrat didinginkan. Asam asetat glasial berfungsi
sebagai pengatur keasaman. Pambayun (2002) mengatakan bahwa kondisi lingkungan
substrat harus diatur hingga cocok dengan kondisi lingkungan yang dibutuhkan oleh
bakteri. Air kelapa sendiri berkisar antara 5-6, sedangkan pH optimum untuk
pertumbuhan bakteri Acetobacter xylinum adalah 4-5, oleh karena itu dibutuhkan
larutan asam seperti asam cuka glacial supaya mencapai pH optimum yang diinginkan.
Setelah pH sesuai, larutan dipanaskan kembali, lalu kemudian disaring dan siap
digunakan sebagai media fermentasi.

Gambar 5. Penambahan Asam Cuka


1.2. Proses Fermentasi

22

Pada proses fermentasi, pertama-tama diambil 200 ml larutan media steril pada masingmasing wadah. Kemudian larutan diukur tingginya. Setelah itu larutan yang masih
panas ditunggu hingga hangat dan kemudian wadah ditutup rapat.

Gambar 6. Media Dimasukkan Wadah


Setelah itu, diambil starter nata de coco sebanyak 10% dari media yang digunakan.
Pengambilan media dilakukan secara aseptis supaya dapat mengurangi terjadinya
kontaminasi (Jagannath et al., 2008). Setelah itu starter ditambahkan ke media dan
diaduk perlahan agar tercampur rata.

Gambar 7. Pengambilan Starter


Wadah ditutup kembali dengan menggunakan kertas coklat. Setelah itu dilakukan
inkubasi pada suhu ruang selama 14 hari. Menurut Wijayanti et al., (2010), dari suhu
28-30oC merupakan suhu yang optimal dalam fermentasi nata de coco. Rahayu et al.,
(1993) mengatakan bahwa suhu yang terlalu tinggi dapat membunuh bakteri
fermentatif, dan suhu yang terlalu rendah juga menghasilkan lapisan nata de coco yang

22

terbentuk terlalu lunak. Saat diinkubasi, wadah berisi larutan dijaga agar tidak boleh
digerakkan, hal ini perlu dilakukan agar lapisan nata de coco pecah.

Gambar 8. Wadah Ditutup dan Diinkubasi


Pengamatan dilakukan setiap 1 minggu, dimana pada hari ke 7 dan ke 14 dilakukan
pengamatan terhadap lapisan di permukaan yang terbentuk di media. Setiap pengamatan
dilakukan pengukuran tinggi ketebalan lapisan nata de coco. Dari data yang diperoleh,
persentase kenaikan lapisan nata de coco dapat dihitung dengan menggunakan rumus:

Lapisan Nata=

tinggi ketebalan NDC


x 100
tinggi media awal

Pada praktikum ini, nata de coco tidak terbentuk dengan baik pada semua kelompok.
Seharusnya, menurut Palungkun (1992), tenunan selulosa berupa lapisan nata akan
nampak di atas medium. Lapisan nata akan mengambang karena dalam proses
fermentasi dihasilkan gas CO2, CO2 tersebut melekat pada selulosa dan menyebabkan
lapisan selulosa tersebut terangkat ke atas. Rahman (1992) mengatakan bahwa
pembentukan lapisan nata akan diawali dengan substrat glukosa sebagai media kerja
bagi bakteri Acetobacter xylinum sebagai starter. Ochaikul (2006) menyatakan bahwa
glukosa dan asam lemak dalam air kelapa akan membentuk prekursor pada membran sel
yang menjadi cirri-ciri nata telah terbentuk disertai dengan pembentukan selaput
selulosa. Apabila nata terbentuk, seharusnya dilakukan pencucian nata dan dilanjutkan
dengan pemasakan menggunakan air gula. Uji terakhir yang dilakukan setelah nata

22

matang seharusnya adalah uji sensori terhadap rasa, aroma, tekstur, dan warna nata.
Namun karena pada praktikum kloter E hanya kelompok E3 yang terbentuk teksturnya.,
1.3. Hasil Pengamatan Nata de Coco
Pembentukan lapisan nata berawal dari pengambilan glukosa dari larutan kelapa oleh
Acetobacter xylinum yang menghasilkan selaput selulosa sebagai hasil aktivitas
metabolismenya. Glukosa tersebut lalu bergabung dengan asam lemak membentuk
prekursor pada membran sel (Rahman, 1992). Tari et al., (2010) mengatakan bahwa
karbohidrat yang terkandung dalam substrat akan dipecah menjadi glukosa yang lalu
glukosa tersebut akan berikatan dengan asam lemak (Guanosin trifosfat) menghasilkan
prekursor penciri nata, yang mendapat bantuan dari kinerja enzim selulosa sintetase.
Prekursor nata kemudian dikeluarkan ke lingkungan membentuk jaringan selulosa atau
yang disebut nata (Palungkun, 1992).

Gambar 9. Hasil Kelompok A1-A5


Dari hasil pengamatan, terlihat jika lapisan nata yang terbentuk sangat tipis, sehingga
bisa dikatakan jika nata tidak terbentuk. Tinggi optimal nata de coco berkisar antara 1,5
cm hingga 2 cm, dimana apabila terbentuk nata dengan tinggi kurang dari 0,5 cm
merupakan ciri-ciri nata yang berkualitas jelek (Seumahu et al., 2007). Ada banyak
faktor penyebab gagalnya terbentuknya nata, seperti adanya goncangan (Rahayu et al,
1993), tingkat keasaman, temperatur, sumber karbon, sumber nitrogen, umur substrat,
waktu inkubasi, media yang terlalu pekat, serta terjadinya kontaminasi. Hal-hal ini
diatas ditambahkan oleh Mohammad et al., (2014), faktor-faktor yang mempengaruhi
pertumbuhan bakteri Acetobacter Xylinum antara lain adalah:

22

Sumber karbon: Sumber karbon yang digunakan untuk memproduksi selulosa


bakterial adalah sukrosa, glukosa, dan laktosa. Paling sering digunakan adalah
sukrosa, karena mempertimbangkan dari keekonomisan harga. Sumber karbon

yang terlalu banyak tidak menambah hasil akhir nata.


Sumber Nitrogen: Ekstrak yeast dan kasein digunakan sebagai sumber nitrogen.
Sering juga digunakan ammonium sulfat atau ammonium fosfat. Sumber

nitrogen lain yang sering digunakan adalah urea.


pH: pH 4,3 dianggap sebagai pH yang paling optimum untuk pertumbuhan
bakteri Acetobacter xylinum. Suasana yang terlalu basa akan menghambat proses

metabolisme bakteri.
Temperatur: Temperatur

paling

optimum

untuk

pertumbuhan

bakteri

Acetobacter xylinum adalah 28o 31oC, atau pada suhu ruang. Suhu dibawah
dapat menyebabkan proses metabolisme terhambat, sedangkan suhu yang terlalu
tinggi dapat menyebabkan kematian bakteri.
Sumber karbon, nitrogen, suasana pH, dan temperatur sudah diatur sedemikian rupa
sesuai dengan pustaka. Jagannath et al., (2008) mengatakan bahwa jika ketebalan
maksimal pada nata diperoleh pada pH 4, dengan konsentrasi sukrosa 10%, dan
penambahan 0,5% ammonium sulfat, dimana kondisi ini sudah sangat mendekati
dengan apa yang diterapkan pada praktikum ini. Pada penelitiannya, dihasilkan kualitas
nata yang baik dengan permukaan yang lembut dan tekstur yang kenyal. Namun, hasil
sebaliknya diperoleh pada praktikum kali ini. Kondisi yang diterapkan sebenarnya
sudah benar, kegagalan terjadi karena pengaruh umur starter.
Menurut Layuk et al., (2007), starter yang bekerja optimal untuk pembentukan nata
adalah Acetobacter xylinum yang telah disimpan selama 3-4 hari sejak inokulasi. Pada
fase log, aktivitas metabolisme bakteri akan tinggi selama fermentasi. Umur starter
maksimal adalah 12 hari, dimana starter yang terlalu tua tidak dapat menghasilkan nata
dengan baik. Oleh karena itu kemungkinan besar penyebab kegagalan pembentukan
nata pada kloter E adalah umur starter yang tidak optimal (tidak pada fase log), atau
bahkan umur starter sudah terlalu tua. Menurut Lestari et al. (2014), pengkulturan
Acetobacter xylinum menghasilkan aktivitas paling tinggi setelah bakteri diinkubasi
selama 48 jam. Hal ini menunjukkan jika pada masa itu bakteri tengah memasuki fase

22

log. Pada praktikum ini, tidak ada informasi mengenai lama bakteri ditumbuhkan
sebelum dikulturkan ke substrat air kelapa. Setelah dikulturkan, penelitian dari Lestari
et al. (2014) juga menunjukkan jika yield nata de coco tertinggi diperoleh pada hari ke
12. Oleh karena itu seharusnya pada praktikum ini yang proses inkubasinya dilakukan
selama 14 hari, nata de coco sudah terbentuk dengan maksimal.
Ketebalan nata yang diperoleh tiap kelompok berbeda-beda karena ukuran tempat yang
digunakan juga berbeda-beda. Wadah yang dangkal dan cukup luas akan membentuk
lapisan yang semakin tinggi, karena tinggi yang dangkal menyebabkan persediaan
oksigen yang cukup dan rata pada seluruh permukaan wadah. Wadah yang sesuai
menyebabkan pertukaran oksigen berlangsung dengan baik sehingga bakteri
Acetobacter xylinum dapat tumbuh dengan optimal.
Dari segi rasa, menurut Arsatmodjo (1996), seharusnya nata de coco yang baik adalah
memiliki rasa yang manis. Dari segi aroma, menurut Halib et al., (2012), seharusnya
pada nata de coco akan terbentuk sedikit aroma asam, dimana aroma ini berasal dari
hasil oksidasi gula dan berbagai jenis alkohol menjadi asam asetat oleh aktivitas bakteri
Acetobacter xylinum. Aroma asam nantinya tidak akan terlalu kuat karena Acetobacter
juga dapat mengoksidasi asam asetat menjadi CO 2 dan air. Dari segi tekstur, menurut
Wijayanti et al., (2010), seharusnya terbentuk tekstur nata yang lunak, dimana hal ini
berkaitan dengan jumlah selulosa yang dihasilkan. Menurut Jurnal Effect of Culture
Conditions on Bacterial Cellulose (BC) Production from Acetobacter Xylinum
TISTR976 and Physical Properties of BC Parchment Paper mengatakan bahwa
Kandungan selulosa yang tinggi menyebabkan tekstur yang terbentuk semakin kenyal
dan

menghasilkan lapisan nata yang tebal. Dari segi warna, menurut Astawan &

Astawan (1991), warna nata seharusnya berwarna putih hingga kekeruhan, dimana hal
ini terjadi karena reaksi antara air kelapa dan Acetobacter xylinum saat fermentasi
menciptakan warna kekeruhan pada nata yang dihasilkan.

22

2. KESIMPULAN

Nata de coco merupakan produk hasil fermentasi air kelapa dengan kandungan

air dan selulosa yang tinggi.


Acetobacter xylinum sebagai starter mengubah glukosa menjadi asam asetat dan

selulosa pada substrat air kelapa.


Penyaringan berfungsi menghilangkan kotoran yang ada pada air kelapa.
Gula pasir ditambahkan optimum 10% sebagai sumber substrat organik bagi

pertumbuhan Acetobacter xylinum.


Sumber nitrogen anorganik didapatkan dari penambahan 0,5% ammonium

sulfat.
Kondisi pH media disesuaikan dengan kebutuhan starter yaitu optimum pada 4-5

yang diatur dengan penambahan asam cuka glasial.


Pemanasan air kelapa ditujukan membunuh mikroba kontaminan yang dapat

menjadi kompetitor Acetobacter xylinum.


Penutupan dengan kertas coklat ditujukan mencegah oksigen bersentuhan
langsung dengan permukaan nata dan melindungi nata dari kontaminasi

lingkungan sekitar.
Penambahan starter yang optimum adalah 10 % dari total volume media dengan

inkubasi optimum pada suhu 30 C selama 10 14 hari.


Lapisan nata terbentuk di atas permukaan medium karena CO 2 cenderung

melekat pada selulosa sehingga lapisan terangkat ke atas.


Nata yang baik berwarna putih transparan, sedangkan adanya mikroba perusak

menyebabkan warna kuning pada nata.


Aroma asam dihasilkan dari asam asetat sebagai produk fermentasi Acetobacter

xylinum.
Nata de coco yang tidak terbentuk diakibatkan adanya mikroba perusak, umur
stater yang terlalu tua, dan adanya gangguan seperti goncangan selama inkubasi.

22

Semarang, 8 Juli 2015


Praktikan

Asisten Dosen:
Wulan Apriliana
Nies Mayangsari

Nana Theodora
12.70.0040
3. DAFTAR PUSTAKA
Anastasia, N. dan Afrianto, E. (2008). Mutu Nata de Seaweed dalam Berbagai
Konsentrasi Sari Jeruk Nipis. Prosiding Seminar Nasional Sains dan Teknologi
II. Universitas Lampung.
Arsatmodjo, E. (1996). Formulasi Pembuatan Nata de Pina. Skripsi Fateta. IPB. Bogor.
Astawan, M. dan M.W. Astawan. (1991). Teknologi Pengolahan Nabati Tepat Guna
Edisi Pertama. Akademika Pressindo. Bogor.
Hakimi, R dan Daddy B. (2006). Aplikasi Produksi Bersih (Cleaner Production) pada
Industri Nata de Coco. Jurnal Teknik Mesin 3(2) : 89-98.
Halib, N.; Mohd, C.I.M.A. and Ishak, A. (2012). Physicochemical Properties and
Characterization of Nata de Coco fromLocal Food Industries as a Source of
Cellulose. Sains Malaysiana 41(2)(2012): 205211
Hamad, Alwani. (2013). Pengaruh Penambahan Sumber Nitrogen Terhadap Hasil
Fermentasi Nata de Coco. Momentum, Vol. 9, No.1. Purwokerto.

Hayati, M. (2003). Membuat Nata de Coco. Adi Cita Karya Nusa. Yogyakarta.
Jagannath, Kalaiselvan S. S, Manjunatha P. S, Raju A. S. Bawa. (2008). The effect of
pH, sucrose and ammonium sulphate concentrations on the production of
bacterial cellulose (Nata-de-coco) by Acetobacter xylinum. World J Microbiol
Biotechnol (2008) 24:25932599.

22

Lapuz, M.M.; Gallardo, E.G. and Palo, M.A. (1967). The Nata Organism Cultural.
Requirements Characteristis and Indentity. The Philippine Journal of Science Vol
96.
Layuk, P.; H. Salamba.; R. Djuri. (2007). Perbaikan Teknologi Pengiolahan Nata de
Coco di Tingkat Petani. Seminar Regional Inovasi Teknologi Pertanian,
Mendugkung Program Pembangunan Pertanian Propinsi Sulawesi Utara.
Lestari, P., Elfrida, N., Suryani, A., and Suryadi, S. (2014). Study on the Production of
Bacterial Cellulose from Acetobacter xylinum using Agro-Waste. Jordan Journal
of Biological Sciences. Volume 7, Number 1 March 2014.
Mohammad, S.M., Rahman, N., Khalil, M.S., and Abdullah, S.R.S. (2014). An
Overview of Biocellulose Production Using Acetobacter xylinum Culture.
Advances in Biological Research 8 (6): 307-313, 2014.
Neelobon,. Et al. 2007. Effect of Culture Conditions on Bacterial Cellulose (BC)
Production from Acetobacter Xylinum TISTR976 and Physical Properties of BC
Parchment Paper. Suranaree J. Bangkok.
Norhayati., Idayu N.A.H., Khairuddin N., Azly K.Z., Seng K.F., Siddique B.M.,
Muhamad I.I. (2014). Effect of Different Drying Methods on the Morphology,
Crystallinity, Swelling Ability and Tensile Properties of Nata De Coco. Sains
Malaysiana, vol 43(5), 767-773.
Ochaikul, Duangjai. 2006. Studies on Fermentation of Monascus purpureus TISTR
3090 With Bacterial Cellulose From Acetobacter Xylinum TISTR 967. KMITL Sci.
Thailand.
Palungkun, R. (1996). Aneka Produk Olahan Kelapa. Penebar Swadaya. Jakarta.
Pambayun, R. (2002). Teknologi Pengolahan Nata de Coco. Kanisius. Yogyakarta.
Pato, U. dan Dwiloka, B. (1994). Proses dan Faktor Yang Mempengaruhi Pembentukan
Nata de Coco. Sains Teks I (A): 70 77.
Rahayu, E.S.; Indriati, R.; Utami, T.; Harmayanti, E. dan Cahyanto, M.N. (1993). Bahan
Pangan Hasil Fermentasi. UGM. Yogyakarta.
Rahman, A. (1992). Teknologi Fermentasi. ARCAN Pusat Antar Universitas Pangan dan
Gizi IPB. Bandung.
Sunarso. (1982). Pengaruh Keasaman Media Fermentasi Terhadap Ketebalan Pelikel
pada Pembuatan Nata de Coco. Skripsi. UGM. Yogyakarta.

22

Tari, A. I. N.; C. B. Handayani,; S. Hartati. (2010). Pembuatan Nata de Coco : Tinjauan


Sumber Nitrogen Terhadap Sifat Fisiko-Kimianya. Universitas Veteran Bangun
Nusantara. Sukoharjo.
Wijayanti, F; Sri K; dan Masud E. (2010). Pengaruh Penambahan Sukrosa dan Asam
Asetat Glacial terhadap Kualitas Nata dari Whey Tahu dan Substrat Air Kelapa.
Jurnal Industria 1(2) : 86-93.
Woodroof, J.G. (1972). Coconuts: Production, Processing Product, The AVI Publishing
Company, Inc. Conecticut.
4. LAMPIRAN
5.1. Perhitungan
Rumus:

Persentase Lapisan Nata =


Kelompok E1

H7 Persentase Lapisan Nata =

= 14,29 %

H14 Persentase Lapisan Nata =

= 14,29 %

Kelompok E2

H7 Persentase Lapisan Nata =

= 19,23 %

H14 Persentase Lapisan Nata =

= 15,38 %

Kelompok E3

H7 Persentase Lapisan Nata =

= 38,46 %

H14 Persentase Lapisan Nata =

= 61,54 %

22

Kelompok E4
H7 Persentase Lapisan Nata =

= 13,33%

H14 Persentase Lapisan Nata =

= 20%

Kelompok E5

H7 Persentase Lapisan Nata =

= 14,29 %

H14 Persentase Lapisan Nata =

= 14,29 %

22

5.2. Laporan Sementara


5.3. Jurnal