Anda di halaman 1dari 6

A.

LATAR BELAKANG
Hepatitis B adalah salah satu penyakit menular berbahaya yang dapat menyebabkan
Kejadian Luar Biasa (KLB) dan termasuk masalah kesehatan masyarakat di dunia termasuk
Indonesia. Penyakit Hepatitis B juga merupakan penyakit infeksi virus yang dapat menyerang
hati dan selanjutnya akan berkembang menjadi pengerasan hati maupun kanker hati hingga
menyebabkan kematian. Penyakit Hepatitis B ini disebabkan oleh Virus Hepatitis B (VHB)
yang menyerang hati dan menyebabkan peradangan hati akut atau menahun (penyakit hati
kronis). Keadaan ini sangat berbahaya karena penderita merasa tidak sakit tetapi terusmenerus menularkan VHB kepada orang lain sehingga dapat terjadi wabah Hepatitis B dan
juga mengalami komplikasi penyakit yaitu pengerasan hati yang disebut liver cirrhosis dan
juga dapat berkembang menjadi kanker hati yang disebut dengan carcinoma hepatocelluler
(Gunawan, 2009).
Pada saat ini di dunia diperkirakan terdapat kira-kira 350 juta orang pengidap (carier) HbsAg
dan 220 juta (78 %) di antaranya terdapat di Asia termasuk Indonesia. Berdasarkan
pemeriksaan HbsAg pada kelompok donor darah di Indonesia, prevalensi hepatitis B berkisar
antara 2,50% - 36,17%. Selain itu di Indonesia infeksi virus hepatitis B terjadi pada bayi dan
anak, diperkirakan 25% - 45% pengidap adalah karena infeksi perinatal. Hal ini berarti bahwa
Indonesia termasuk daerah endemis penyakit hepatitis B sehingga termasuk negara yang
diimbau oleh WHO untuk melaksanakan upaya pencegahan imunisasi (Achmadi, 2006).
Berdasarkan data WHO (2008), penyakit Hepatitis B menjadi pembunuh nomor 10 di
dunia dan endemis di Cina dan bagian lain di Asia termasuk Indonesia. Indonesia menjadi
negara dengan penderita Hepatitis B terbanyak di dunia setelah Cina dan India dengan jumlah
penderita 13 juta orang. Penderita penyakit Hepatitis B diperkirakan 1 dari 20 penduduk di
Jakarta. Sebagian besar penduduk kawasan ini terinfeksi virus Hepatitis B sejak usia anakanak. Sejumlah negara di Asia 8-10% populasi orang menderita Hepatitis B kronik
(Sulaiman, 2010).
Mengingat jumlah kasus dan akibat hepatitis B, maka diperlukan pencegahan sedini
mungkin. Pencegahan yang dilakukan meliputi pencegahan penularan penyakit hepatitis B
melalui health promotion dan pencegahan penyakit melalui pemberian vaksinasi. Menurut
WHO, pemberian vaksin Hepatitis B tidak akan menyembuhkan pembawa kuman (carier)
yang kronis, tetapi diyakini 95 % efektif mencegah berkembangnya penyakit menjadi carier
(Fazidah, 2007).

Menurut Anwar (2001), imunisasi merupakan suatu usaha pencegahan yang paling efektif
untuk mencegah penularan penyakit Hepatitis B. Program imunisasi Hepatitis B di Indonesia
dimulai pada Tahun 1987 dan telah masuk ke dalam program imunisasi rutin secara nasional
sejak Tahun 1997. Pada Tahun 1991 Indonesia dinyatakan telah mencapai Universal Child
Immunization (UCI) secara nasional, akan tetapi tetap saja masih ada ditemukan kasus
Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I) seperti kasus Hepatitis. Kasus
penyakit Hepatitis B masih ada ditemukan di beberapa desa terutama desa dengan cakupan
imunisasi Hepatitis B rendah khususnya imunisasi Hepatitis B pada bayi (0-7 hari).
DEFINISI HEPATITIS B
Hepatitis adalah infeksi yang terjadi pada hati yang disebabkan oleh virus Hepatitis B
(VHB). Penyakit ini bisa menjadi acut atau kronis dan dapat pula menyebabkan radang hati,
gagal hati, serosis hati, kanker hati, dan kematian (Ling dan Lam, 2007).
EPIDEMIOLOGI
Hepatitis virus adalah suatu infeksi sistemik yang terutama mempengaruhi hati. Lima
kategori telah diketahui : virus Hepatitis (HAV), virus Hepatitis B (HBV), virus Hepatitis C
(HCB), agen delta yang yang berhubungan dengan HBV atau virus Hepatitis D (HDV) dan
virus Hepatitis E (HEV) (Isselbacher, 2000). Dari beberapa penyebab Hepatitis yang
disebabkan oleh virus Hepatitis B menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius di
Indonesia karena manifestasinya sebagai Hepatitis akut dengan segala komplikasinya serta
risiko menjadi kronik. Penyakit Hepatitis B sangat berbahaya karena penderita Hepatitis B
dapat berbentuk carrier chronic yang merupakan sumber penularan bagi lingkungan dan
dapat berkembang menjadi penyakit hati kronik seperti Chronic Active Hepatitis (CAH),
sirosis dan Hepatoselular Carsinoma (Gracey dan Burke, 1993).
PATOFISIOLOGI
Virus Hepatitis B adalah suatu virus DNA dengan struktur genom yang sangat
kompleks (Isselbacher, 2000). Virus Hepatitis B berupa virus DNA sirkoler berantai ganda,
termasuk family Hepadnaviradae, yang mempunyai tiga jenis antigen. Ketiga jenis antigen
tersebut yaitu Antigen Surface Hepatitis (HbsAg) yang terdapat mantel (envelope virus),
antigen cor Hepatitis B (HbcAg) dan antigen e Hepatitis B (HbeAg) yang terdapat pada

nucleocapsid virus. Ketiga jenis antigen ini dapat merangsang timbulnya antibodi spesifik
masing masing yang disebut anti HBs, anti HBc dan anti HBe (Sulaiman, 1995).
Bagian virus Hepatitis B terdiri dari selubung luar HbsAg, inti pusatnya (HbcAg),
pembawa sifat (DNA), dan enzim pelipat ganda DNA (DNA polimerase) dan serpihan virus
(HbeAg). HbsAg terdiri dari 4 sub tipe penting yang mempunyai subdeterminan yang sama
yaitu a dan 4 subdeterminan yang berlainan, yaitu d, y, w dan r (Isselbacher, 2000).
Semua partikel virus Hepatitis B bersifat imonogenik dan mampu merangsang
pembentukan antibodi. Bila seseorang terinfeksi virus Hepatitis B, maka tubuh penderita
terdapat antigen yang berasal dari partikel virus dan antibodi humoral yang dibentuk untuk
melawan antigen tersebut.
HbsAg telah diidentifikasi dalam darah dan produk darah, saliva, cairan serebrospinal,
peritoneal, pleural, cairan sinovial, cairan amnion, semen, sekresi vagina, dan cairan tubuh
lainnya. Penularan melalui perkutaneus meliputi intra vena, intra muscular, subcutan atau
intra dermal (Chin, 2000). Penularan non perkutaneus melalui ingesti oral telah dicatat
sebagai jalur pemajanan potensial tetapi efisiensinya cukup rendah. Di lain pihak dua jalur
penularan non perkutaneus yang dianggap memliki dampak terbesar adalah hubungan seksual
dan perinatal.
Penularan perinatal terutama ditemukan pada bayi yang dilahirkan carrier HbsAg atau
ibu yang menderita Hepatitis B selama kehamilan trimester ketiga atau selama periode awal pasca
partus. Meskipun kira-kira 10% dari infeksi dapat diperoleh in utero, bukti epidemiologik
memberi kesan bahwa hampir semua infeksi timbul kira-kira pada saat persalinan dan tidak
berhubungan dengan proses menyusui. Pada hampir semua kasus, infeksi acut pada neonatus
secara klinis asimtomatik, tetapi anak itu kemungkinan menjadi seorang carrier HbsAg
(Isselbacher, 2000).
PENULARAN DI INDONESIA

Imunisasi Hepatitis B dimaksudkan agar individu membentuk antibodi yang ditujukan untuk
mencegah terjadinya infeksi virus Hepatitis B. Tujuan umum pemberian imunisasi Hepatitis
B yaitu untuk menurunkan angka kesakitan, kecacatan dan kematian yang disebabkan oleh
infeksi virus Hepatitis B, dengan tujuan khususnya adalah memberikan imunisasi Hepatitis B,
tiga dosis kepada minimal 80% bayi berumur 011 bulan dengan memberikan dosis pertama
sedini mungkin sebelum bayi berumur < 7 hari (Depkes RI, 2000).
Pemberian imunisasi Hepatitis B sesuai dengan jadwal imunisasi rekomendasi IDAI tahun
2000 harus berdasarkan status HbsAg ibu pada saat melahirkan. Bayi dilahirkan dari ibu

dengan status HbsAg yang tidak diketahui, diberikan vaksin rekombinan (HB Vax-IIug atau
engerix B 10 ug) atau vaksin plasma derived 10 mg secara intra muscular dalam waktu 12
jam setelah lahir. Dosis kedua diberikan pada umur 1-2 bulan dan dosis ketiga pada umur 6
bulan. Apabila pada pemeriksaan selanjutnya diketahui HbsAg ibu positif segera diberikan
0,5 ml HBIG (Hepatitis B Immune Globulin) sebelum usia anak satu minggu. Bayi lahir dari
ibu HbsAg positif, dalam waktu 12 jam setelah lahir secara bersamaan diberikan 0,5 ml
HBIG dan vaksin rekombinan (HB Vak- II 5 mg atau engerix B 10 mg) intra muscular di sisi
tubuh yang berlainan. Dosis kedua diberikan 12 bulan sesudahnya dan dosis ketiga pada
usia 6 bulan. Bayi yang lahir dari ibu dengan HbsAg negatif, diberikan vaksin rekombinan
(HB Vak-II dengan dosis minimal 2,5 ug atau engerix B 10 ug), vaksin plasma derived
dengan dosis 10 ug intra muscular saat lahir sampai usia 2 bulan. Dosis kedua diberikan 1 2
bulan kemudian dan dosis ketiga diberikan 6 bulan setelah dosis pertama.
Immune Globulin) sebelum usia anak satu minggu. Bayi lahir dari ibu
HbsAg positif, dalam waktu 12 jam setelah lahir secara bersamaan diberikan
0,5 ml HBIG dan vaksin rekombinan (HB Vak- II 5 mg atau engerix B 10 mg)
intra muscular di sisi tubuh yang berlainan. Dosis kedua diberikan 12 bulan
sesudahnya dan dosis ketiga pada usia 6 bulan. Bayi yang lahir dari ibu
dengan HbsAg negatif, diberikan vaksin rekombinan (HB Vak-II dengan dosis
minimal 2,5 ug atau engerix B 10 ug), vaksin plasma derived dengan dosis 10
ug intra muscular saat lahir sampai usia 2 bulan. Dosis kedua diberikan 1 2
bulan kemudian dan dosis ketiga diberikan 6 bulan setelah dosis pertama.
Immune Globulin) sebelum usia anak satu minggu. Bayi lahir dari ibu HbsAg
positif, dalam waktu 12 jam setelah lahir secara bersamaan diberikan 0,5 ml
HBIG dan vaksin rekombinan (HB Vak- II 5 mg atau engerix B 10 mg) intra
muscular di sisi tubuh yang berlainan. Dosis kedua diberikan 12 bulan
sesudahnya dan dosis ketiga pada usia 6 bulan. Bayi yang lahir dari ibu
dengan HbsAg negatif, diberikan vaksin rekombinan (HB Vak-II dengan dosis
minimal 2,5 ug atau engerix B 10 ug), vaksin plasma derived dengan dosis 10
ug intra muscular saat lahir sampai usia 2 bulan. Dosis kedua diberikan 1 2

bulan kemudian dan dosis ketiga diberikan 6 bulan setelah dosis pertama.
Immune Globulin) sebelum usia anak satu minggu. Bayi lahir dari ibu HbsAg
positif, dalam waktu 12 jam setelah lahir secara bersamaan diberikan 0,5 ml
HBIG dan vaksin rekombinan (HB Vak- II 5 mg atau engerix B 10 mg) intra
muscular di sisi tubuh yang berlainan. Dosis kedua diberikan 12 bulan
sesudahnya dan dosis ketiga pada usia 6 bulan. Bayi yang lahir dari ibu
dengan HbsAg negatif, diberikan vaksin rekombinan (HB Vak-II dengan dosis
minimal 2,5 ug atau engerix B 10 ug), vaksin plasma derived dengan dosis 10
ug intra muscular saat lahir sampai usia 2 bulan. Dosis kedua diberikan 1 2
bulan kemudian dan dosis ketiga diberikan 6 bulan setelah dosis pertama.
Immune Globulin) sebelum usia anak satu minggu. Bayi lahir dari ibu HbsAg
positif, dalam waktu 12 jam setelah lahir secara bersamaan diberikan 0,5 ml
HBIG dan vaksin rekombinan (HB Vak- II 5 mg atau engerix B 10 mg) intra
muscular di sisi tubuh yang berlainan. Dosis kedua diberikan 12 bulan
sesudahnya dan dosis ketiga pada usia 6 bulan. Bayi yang lahir dari ibu
dengan HbsAg negatif, diberikan vaksin rekombinan (HB Vak-II dengan dosis
minimal 2,5 ug atau engerix B 10 ug), vaksin plasma derived dengan dosis 10
ug intra muscular saat lahir sampai usia 2 bulan. Dosis kedua diberikan 1 2
bulan kemudian dan dosis ketiga diberikan 6 bulan setelah dosis pertama.
Immune Globulin) sebelum usia anak satu minggu. Bayi lahir dari ibu HbsAg
positif, dalam waktu 12 jam setelah lahir secara bersamaan diberikan 0,5 ml
HBIG dan vaksin rekombinan (HB Vak- II 5 mg atau engerix B 10 mg) intra
muscular di sisi tubuh yang berlainan. Dosis kedua diberikan 12 bulan
sesudahnya dan dosis ketiga pada usia 6 bulan. Bayi yang lahir dari ibu
dengan HbsAg negatif, diberikan vaksin rekombinan (HB Vak-II dengan dosis
minimal 2,5 ug atau engerix B 10 ug), vaksin plasma derived dengan dosis 10

ug intra muscular saat lahir sampai usia 2 bulan. Dosis kedua diberikan 1 2
bulan kemudian dan dosis ketiga diberikan 6 bulan setelah dosis pertama.
Immune Globulin) sebelum usia anak satu minggu. Bayi lahir dari ibu HbsAg
positif, dalam waktu 12 jam setelah lahir secara bersamaan diberikan 0,5 ml
HBIG dan vaksin rekombinan (HB Vak- II 5 mg atau engerix B 10 mg) intra
muscular di sisi tubuh yang berlainan. Dosis kedua diberikan 12 bulan
sesudahnya dan dosis ketiga pada usia 6 bulan. Bayi yang lahir dari ibu
dengan HbsAg negatif, diberikan vaksin rekombinan (HB Vak-II dengan dosis
minimal 2,5 ug atau engerix B 10 ug), vaksin plasma derived dengan dosis 10
ug intra muscular saat lahir sampai usia 2 bulan. Dosis kedua diberikan 1 2
bulan kemudian dan dosis ketiga diberikan 6 bulan setelah dosis pertama.
GAMBARAN HEPATITIS B

1. Hepatitis B Akut : Masa Inkubasi berkisar antara 1-6 bulan .Diawali dengan gejala
prodomal berupa mual hingga muntah,anoreksia,lelah,demam,nyeri kepala,nyeri otot
dan sakit pada epigastrium.( 3,8)
Setelah gejala diatas berangsur angsur menghilang,kemudian timbul ikterus /
jaundice,yang dapat berlangsung 1-6 minggu. Fae penyembuhan diawali dengan
menghilangnya ikterus,yang dapat berlangsung2-21 minggu. Pemeriksaan
laboratorium biasanya dijumpai peningkatan SGPT,SGPOT,GGT dan fosfatase alkali
2. Hepatitis B Kronik : Ditandai adanya peradangan dan nekrosis pada hati yang terus
menerus tanpa penyembuhan dalam waktu 6 bulan atau lebih.(1,3,8)