Anda di halaman 1dari 9

TUGAS PENDAHULUAN

FITOKIMIA II
Nama : Ferawati K. Bisala
Stb

: 12 14 027

Kelas : A (2012)

A. ISOLASI SENYAWA FLAVONOIDA DARI DAUN TUMBUHAN JAMBU BIJI


(Psidium guajava L.)
Isolasi senyawa flavonoida yang terdapat pada daun tumbuhan jambu biji (Psidium
guajava L.) dilakukan secara maserasi dengan pelarut metanol. Ekstrak pekat metanol
ditambahkan dengan etil asetat kemudian disaring. Ekstrak pekat etil asetat dilarutkan dengan
metanol dan dipartisi dengan n-heksana. Ektrak pekat metanol dihidrolisis dengan HCl 6% dan
selanjutnya dipartisi dengan kloroform. Ekstrak pekat kloroform dipisahkan dengan kromatografi
kolom dengan eluen n-heksana : etil asetat 90:10; 80:20; 70:30; 60:40; 50:50 (v/v). Senyawa
yang diperoleh dimurnikan dengan kromatografi lapis tipis preparatif, menghasilkan pasta
berwarna kuning kecoklatan sebanyak 12 mg dengan harga Rf = 0.38. Selanjutnya senyawa yang
diperoleh dianalisis dengan spektrofotometer UV-Visible, Inframerah (FT-IR) dan Spektrometer
Resonansi Magnetik Inti Proton (1H-NMR). Dari data analisis dan interprestasi spektroskopi,
diduga bahwa senyawa hasil isolasi yang diperoleh adalah senyawa flavonoida yaitu golongan
flavanonol.
Banyak penelitian yang membuktikan bahwa beberapa senyawa golongan flavonoid yang
diperoleh dari tumbuh-tumbuhan mempunyai kandungan bioaktivitas yang berpotensi sebagai
obat, diantaranya dapat membantu mencegah kanker dengan menghambat pertumbuhan sel-sel
kanker pada jaringan tubuh yang dikenainya, seperti mirisetin, kuersetin, luteolin, apigenin,
rutin, kaemferol, dan antosianin (Miller 1996; Madhaviet al. 1998; Katsubeet al. 2003; Knekt et
al. 2002; Yoshie 2002; Abdel-Aal ESM dan P Hucl. 2003; Zhang et al. 2005; dan Liuet al. 2005).

Flavonoida merupakan salah satu golongan fenol alam yang terbesar. Menurut perkiraan,
kira-kira 2% dari seluruh karbon yang difotosintesis oleh tumbuhan diubah menjadi flavonoida
atau senyawa yang berkaitan erat dengannya. (Markham, 1988). Flavonoida adalah senyawa
yang mengandung C15 terdiri atas dua inti fenolat yang dihubungkan dengan tiga satuan karbon.
(Sastrohamidjojo, 1996). Flavonoida yang terdapat di dalam tumbuhan dapat digunakan sebagai
pelindung tubuh manusia dari radikal bebas dan dapat mengurangi resiko penyakit kanker dan
peradangan. (Nessa, 2003). Salah satu contoh flavonoida adalah antosianin yang berperan dalam
pewarnaan bunga-bunga (biru, ungu dan merah). (Manitto, 1992).
Khusus daun Jambu Biji (Psidium guajava) penelitian yang pernah dilakukan berkisar
pada khasiatnya sebagai anti diare. Disamping itu, jambu biji mempunyai khasiat sebagai anti
inflamasi, anti mutagenik, anti mikroba dan analgesik. Beberepa senyawa kimia yang terkandung
dalam jambu biji antara lain, polifenol, karoten, flavonoid dan tannin.

JAMBU BIJI

1. Taksonomi Tanaman Jambu Biji


Kingdom

: Plantae

Divisi

: Spermatophyta

Sub divisi

: Angiospermae

Kelas

: Dicotyledonae

Ordo

: Myrtales

Familia

: Myrtaceae

Genus

: Psidium

Spesies

: Psidium guajava L. (Arief ,2010).

2. Morfologi
Jambu Biji (Psidium guajava) banyak tersebar di Asia Tenggara termasuk Indonesia,
sampai Asia Selatan, India dan Srilangka. Jambu biji termasuk tanaman perdu dan memiliki
banyak cabang dan ranting; batang pohonnya keras. Permukaan kulit luar pohon jambu biji
berwarna coklat dan licin. Apabila kulit kayu jambu biji tersebut dikelupas, akan terlihat
permukaan batang kayunya basah. Bentuk daunnya umumnya bercorak bulat telur dengan
ukuran yang agak besar. Bunganya kecil-kecil berwarna putih dan muncul dari balik ketiak daun.
Tanaman ini dapat tumbuh subur di daerah dataran rendah sampai pada ketinggian 1200 meter
diatas permukaan laut. Pada umur 2-3 tahun jambu biji sudah mulai berbuah. Bijinya banyak dan
terdapat pada daging buahnya.
Jambu biji ini akrab juga dengan nama Psidium guajava (Inggris/Belanda), Jambu klutuk,
Bayawas, tetokal, Tokal (Jawa); Jambu klutuk, Jambu Batu (Sunda), Jambu bender (Madura).
(11January 2006).
3. Kandungan Kimia
Buah, daun, dan kulit batang pohon jambu biji mengandung tanin, sedang pada bunganya
tidak banyak mengandung tanin. Daun jambu biji juga mengandung zat lain kecuali tannin,
seperti minyak atsiri, asam ursolat, asam psidiolat, asam kratogolat, asam oleanolat, asam
guajaverin dan vitamin. Kandungan buah jambu biji (dalam 100 gr), yaitu Kalori 49 kal; Vitamin
A 25 SI; Vitamin B1 0,02 mg; Vitamin C 87 mg; Kalsium 14 mg; Hidrat Arang 12,2 gram;
Fosfor 28 mg; Besi 1,1 mg; Protein 0,9 mg; Lemak 0,3 gram; dan Air 86 gram. ( IPTEKnet, 15
Januari, 2007).
Daun jambu biji mengandung total minyak 6% dan minyak atsiri 0,365% [Burkill, 1997], 3,15%
resin, 8,5% tannin, dan lain-lain. Komposisi utama minyak atsiri yaitu -pinene, -pinene
limonene, men- thol, terpenyl acetate, isopropyl alco- hol, longicyclene, caryophyllene, bisabolene, caryophyllene oxide,- copanene, farnesene, humulene, selinene, cardinene and
curcumene [Zakaria, 1994]. Minyak atsiri dari daun jambu biji juga mengandung nerolidiol,sitosterol, ursolic, crategolic, dan guayavolic acids. Selain itu juga mengandung minyak atsiri

yang kaya akan cineol dan empat triterpenic acids sebaik ketiga jenis fla-vonoid yaitu; quercetin,
3-L-4-4- arabinofuranoside (avicularin) dan 3-L-4-pyranoside dengan aktivitas anti bakteri yang
tinggi (Oliver-Bever, 1986).

FLAVONOID

Senyawa-senyawa flavonoid adalah senyawa-senyawa polifenol yang mempunyai 15 atom


karbon, terdiri dari dua cincin benzena yang dihubungkan menjadi satu oleh rantai linier yang
terdiri dari tiga atom karbon. Senyawa-senyawa flavonoid adalah senyawa 1,3 diaril propana,
senyawa isoflavonoid adalah senyawa 1,2 diaril propana, sedangkan senyawa-senyawa
neoflavonoid adalah 1,1 diaril propana.
Istilah flavonoid diberikan pada suatu golongan besar senyawa yang berasal dari kelompok
senyawa yang paling umum, yaitu senyawa flavon; suatu jembatan oksigen terdapat diantara
cincin A dalam kedudukan orto, dan atom karbon benzil yang terletak disebelah cincin B.
Senyawa heterosoklik ini, pada tingkat oksidasi yang berbeda terdapat dalam kebanyakan
tumbuhan. Flavon adalah bentuk yang mempunyai cincin C dengan tingkat oksidasi paling
rendah dan dianggap sebagai struktur induk dalam nomenklatur kelompok senyawa-senyawa ini.
(Manitto, 1981)
Senyawa flavonoid sebenarnya terdapat pada semua bagian tumbuhan termasuk daun, akar, kayu,
kulit, tepung sari, bunga, buah, dan biji. Kebanyakan flavonoid ini berada di dalam tumbuhtumbuhan, kecuali alga. Namun ada juga flavonoid yng terdapat pada hewan, misalnya dalam
kelenjar bau berang-berang dan sekresi lebah. Dalam sayap kupu - kupu dengan anggapan bahwa
flavonoid berasal dari tumbuh-tumbuhan yang menjadi makanan hewan tersebut dan tidak
dibiosintesis di dalam tubuh mereka. Penyebaran jenis flavonoid pada golongan tumbuhan yang
tersebar yaitu angiospermae, klorofita, fungi, briofita. (Markham, 1988).
Metoda isolasi senyawa flavonoid
1. Metoda Isolasi Senyawa Flavonoid oleh Chowdhurry
Pada metoda ini, daun tumbuhan dikeringkan terlebih dahulu sebanyak 100 gram. Lalu
diekstraksi dengan Petroleum Eter (60-80 oC) dalam alat soklet selama 10 jam. Selanjutnya

diekstraksi dengan Benzena selama 10 jam. Ekstrak Benzena diuapkan pelarutnya, menghasilkan
semipadat berwarna coklat. Lalu dilarutkan dalam Eter dan dipisahkan dalam suasana asam, basa
dan netral. Fraksi pertama (ada empat macam) masing-masing 50 ml dielusi dengan Benzena
memberikan residu padat dengan titik lebur 151-152 oC. Kristalisasi dengan Metanol
menghasilkan senyawa flavonoid (I), kristal tidak berwarna dengan titik lebur 156 oC. Penelitian
ini juga dilakukan oleh Prof. Dreyer, L., D., dengan melakukan pengukuran titik lebur,
kromatografi lapis tipis dengan Spektrum Infra Merah. Dari fraksi lima sampai delapan masingmasing dilarutkan dengan Benzena lalu menghasilkan zat padat berwarna kuning terang dengan
titik lebur 191-193 oC. Kristalisasi dilakukan dengan Metanol menghasilkan Hibiscetin Hepta
Metil Eter, titik lebur 196-197 oC, kristal berwarna kuning sebanyak 50 gram. (Chowdhurry,
1971)
2. Metoda Isolasi Senyawa Flavonoid oleh Joshi
Daun tumbuhan yang telah dikeringkan diekstraksi dengan n-heksana, lalu ekstrak n-heksana
dikromatografi kolom dengan fasa diam alumina, menghasilkan kristal dengan titik lebur 125126 oC sebanyak 0,1%. Diidentifikasi, ekotin C23H26O10. (Joshi, 1969)
3. Metoda Isolasi Senyawa Flavonoid oleh Dreyer, L.D
Dalam metoda ini, daun diekstraksi dengan Aseton, kemudian pelarut dievaporasi dan diperoleh
ekstrak pekat. Ektrak pekat yang diperoleh dikromatografi kolom dengan menggunakan alumina
sebagai fasa diam dan Benzena sebagai fasa gerak hingga dihasilkan residu. Lalu direkristalisasi
dengan campuran Etil asetat : n-heksana dan dilanjutkan dengan Metanol. Diperoleh kristal
kuning terang, diidentifikasi sebagai 3,3`,4`,5,5`,6,7-hepta metoksi flavon dengan titik lebur 156157oC. (Dreyer, 1968)
4. Metoda Isolasi Senyawa Flavonoid oleh Harborne
Dalam metoda ini, daun yang segar dimaserasi dengan MeOH, lalu disaring. Ekstrak MeOH
dipekatkan dengan rotari evaporator. Lalu ekstrak pekat yang dihasilkan, diasamkan dengan
H2SO4 2M, didiamkan, lalu diesktraksi dengan Kloroform. Lapisan Kloroform diambil, lalu
diuapkan, sehingga dihasilkan ekstrak polar pertengahan (Terpenoida atau senyawa Fenol).
(Harborne, 1996).

Teknik Pemisahan

Tujuan dari teknik pemisahan adalah untuk memisahkan komponen yang akan ditentukan berada
dalam keadaan murni, tidak tercampur dengan komponen-komponen lainnya. Ada 2 jenis teknik
pemisahan:
1) Pemisahan kimia adalah suatu teknik pemisahan yang berdasarkan adanya perbedaan
yang besar dari sifat-sifat fisika komponen dalam campuran yang akan dipisahkan.
2) Pemisahan fisika adalah suatu teknik pemisahan yang didasarkan pada perbedaanperbedaan kecil dari sifat-sifat fisik antara senyawa-senyawa yang termasuk dalam suatu
golongan. (Muldja, 1995)
a. Kromatografi
Kromatografi merupakan suatu cara pemisahan fisik dengan unsur-unsur yang akan
dipisahkan terdistribusikan antara dua fasa, satu dari fasa-fasa ini membentuk lapisan stasioner
denagn luas permukaan yang besar dan yang lainnya merupakan cairan yang merembes lewat.
Fasa stasioner mungkin suatu zat padat atau suatu cairan dan fasa yang bergerak mungkin suatu
cairan atau suatu gas. (Underwood, 1981). Cara-cara kromatografi dapat digolongkan sesuai
dengan sifat sifat dari fasa diam, yang dapat berupa zat padat atau zat cair. Jika fasa diam
berupa zat padat disebut kromatografi serapan, jika berupa zat cair disebut kromatografi partisi.

Kromatografi lapis tipis

Kromatografi Lapis Tipis pada plat berlapis yang berukuran lebih besar, biasanya 5x20 cm,
10x20 cm, atau 20x20 cm. Biasanya memerlukan waktu pengembangan 30 menit sampai satu
jam. Pada hakikatnya KLT melibatkan dua fase yaitu fase diam atau sifat lapisan, dan fase gerak
atau campuran pelarut pengembang. Fase diam dapat berupa serbuk halus yang berfungsi sebagai
permukaan penyerap atau penyangga untuk lapisan zat cair. Fase gerak dapat berupa hampir
segala macam pelarut atau campuran pelarut. (Sudjadi, 1986). Pemisahan senyawa dengan
Kromatografi Lapis Tipis seperti senyawa organik alam dan senyawa organik sintetik dapat
dilakukan dalam beberapa menit dengan alat yang harganya tidak terlalu mahal. Jumlah cuplikan

beberapa mikrogram atau sebanyak 5 g dapat ditangani. Kelebihan KLT yang lain ialah
pemakaian jumlah pelarut dan jumlah cuplikan yang sedikit. Kromatografi Lapis Tipis (KLT)
merupakan salah satu metode pemisahan yang cukup sederhana yaitu dengan menggunakan plat
kaca yang dilapisi silika gel dengan menggunakan pelarut tertentu. (Gritter,1991).

Kromatografi kolom

Kromatografi cair yang dilakukan dalam kolom besar merupakan metode kromatografi
terbaik untuk pemisahan dalam jumlah besar (lebih dari 1 g). Pada kromatografi kolom,
campuran yang akan dipisahkan diletakkan berupa pita pada bagian atas kolom penyerap yang
berada dalam tabung kaca, tabung logam, dan tabung plastik. Pelarut atau fasa gerak dibiarkan
mengalir melalui kolom karena aliran yang disebabkan oleh gaya berat atau didorong dengan
tekanan. Pita senyawa linarut bergerak melalui kolom dengan laju yang berbeda, memisah, dan
dikumpulkan berupa fraksi ketika keluar dari atas kolom (Gritter, 1991).
Dengan menggunakan cara ini, skala isolasi flavonoida dapat ditingkatkan hampir ke skala
industri. Pada dasarnya, cara ini meliputi penempatan campuran flavonoida (berupa larutan)
diatas kolom yang berisi serbuk penyerap (seperti selulose, silika atau poliamida), dilanjutkan
dengan elusi beruntun setiap komponen memakai pelarut yang cocok. Kolom hanya berupa
tabung kaca yang dilengkapi dengan keran pada salah satu ujung. (Markham, 1988).

Harga Rf (Retension Factor)

Mengidentifikasi noda-noda dalam lapisan tipis lazim menggunakan harga Rf yang


diidentifikasikan sebagai perbandingan antara jarak perambatan suatu zat dengan jarak
perambatan pelarut yang dihitung dari titik penotolan pelarut zat. Jarak yang ditempuh oleh tiap
bercak dari titik penotolan diukur dari pusat bercak. Untuk mengidentifikasi suatu senyawa,
maka harga Rf senyawa tersebut dapat dibandingkan dengan harga Rf senyawa pembanding.
b. Ekstraksi
Ekstraksi dapat dilakukan dengn metoda maserasi, sokletasi, dan perkolasi. Sebelum
ekstraksi dilakukan, biasanya serbuk tumbuhan dikeringkan lalu dihaluskan dengan derajat
kehalusan tertentu, kemudian diekstraksi dengan salah satu cara di atas. Ekstraksi dengan metoda

sokletasi dapat dilakukan secara bertingkat dengan berbagai pelarut berdasarkan kepolarannya,
misalnya n-heksana, Eter, Benzena, Kloroform, Etil asetat, Etanol, Metanol, dan Air. Ekstraksi
dianggap selesai bila tetesan terakhir memberikan reaksi negatif terhadap senyawa yang
diekstraksi. Untuk mendapatkan larutan ekstrak yang pekat biasanya pelarut ekstrak diuapkan
dengan menggunakan alat rotari evaporator. (Harborne, 1996)
c. Teknik Spektroskopi
Teknik spektroskopi adalah salah satu teknik analisis kimia-fisika yang mengamati tentang
interaksi atom atau molekul dengan radiasi elektromagnetik. Ada dua macam instrumen pada
teknik spektroskopi yaitu spektrometer dan spektrofotometer. Instrumen yang memakai
monokromator celah tetap pada bidang fokus disebut sebagai spektrometer. Apabila spektrometer
tersebut dilengkapi dengan detektor yang bersifat fotoelektrik maka disebut spektrofotometer
(Muldja, 1955).
Informasi Spektroskopi Inframerah menunjukkan tipe tipe dari adanya gugus fungsi dalam satu
molekul dan Resonansi Magnetik Inti yang memberikan informasi tentang bilangan dari setiap
tipe dari atom hidrogen dan juga memberikan informasi yang menyatakan tentang lingkungan
dari setiap tipe dari atom hidrogen.
Kombinasinya dan data yang ada kadang kadang menentukan struktur yang lengkap dari
molekul yang tidak diketahui. (Pavia, 1979).

Spektrometri ultra violet

Serapan molekul di dalam derah ultra ungu dan terlihat dari spektrum bergantung pada struktur
ultra elektronik dari molekul. Penyerapan sejumlah energi, menghasilkan percepatan dari
elektron dalam orbital tingkat dasar ke orbital yang berenergi lebih tinggi di dalam keadaan
tereskitasi (Silverstein, 1986).

Spektrofotometri infra merah (FT-IR)

Spektrum inframerah suatu molekul adalah hasil transisi antara tingkat energi getaran yang
berlainan. Pancaran inframerah yang kerapatannya kurang dari 100 cm -1(panjang gelombang

lebih daripada 100 m) diserap oleh sebuah molekul organik dan diubah menjadi putaran energi
molekul. Penyerapan ini tercantum, namun spektrum getaran terlihat bukan sebagai garis garis
melainkan berupa pita pita. Hal ini disebabkan perubahan energi getaran tunggal selalu disertai
sejumlah perubahan energi putaran (Silverstein, 1986). Dalam molekul sederhana beratom dua
atau beratom tiga tidak sukar untuk menentukan jumlah dan jenis vibrasinya dan
menghubungkan vibrasi-vibrasi tersebut dengan energi serapan. Tetapi untuk molekul-molekul
beratom banyak, analisis jumlah dan jenis vibrasi itu menjadi sukar sekali atau tidak mungkin
sama sekali, karena bukan saja disebabkan besarnya jumlah pusat pusat vibrasi, melainkan
karena juga harus diperhitungkan terjadinya saling mempengaruhi (inter-aksi) beberapa pusat
vibrasi.