Anda di halaman 1dari 11

PERJANJIAN JOINT VENTURE

ANTARA
...........
DENGAN
...........
Daftar Isi
Pasal 1

Ketentuan Umum

Pasal 2

Para Pihak Dalam Perjanjian

Pasal 3

Perusahaan Joint Venture

Pasal 4

Tujuan dan Ruang Lingkup

Pasal 5
Ditempatkan

Nilai Investasi Keseluruhan Dan Modal Yang

Pasal 6

Kewajiban Para Pihak Pada Joint Venture

Pasal 7

Jajaran Direksi

Pasal 8

Manajemen Kantor

Pasal 9

Persiapan Dan Konstruksi

Pasal 10

Manajemen Pekerja

Pasal 11

Keuangan, Akunting Dan Audit

Pasal 12

Jangka Waktu Joint Venture

Pasal 13

Berakhirnya Perjanjian Dan Kepailitan

Pasal 14

Perubahan Perjanjian

Pasal 15

Wanprestasi

Pasal 16

Keadaan Terpaksa

Pasal 17

Hukum Yang Berlaku

Pasal 18

Penyelesaian Perselisihan

Pasal 19

Bahasa

Pasal 20

Lampiran Dan Kekuatan Hukum

Pasal 21

Pemberitahuan
Definisi Dan Pengertian

Definisi

Bahasa Bahasa Indonesia yang dipergunakan sebagai bahasa utama di dalam


Perjanjian ini.
Berakhirnya Perjanjian Suatu keadaan yang menyebabkan keseluruhan
Perjanjian ini tidak lagi dilaksanakan oleh Para Pihak karena sebab tertentu.
Hukum Yang Berlaku Sistem hukum pada suatu Negara yang dipilih dan
disepakati oleh Para Pihak serta tunduk pada sistem hukum tersebut.
Jajaran Direksi Organ-Organ Perusahaan Joint Venture yang mempunyai
berwenang dan bertanggung jawab atas pengurusan Perusahaan Joint Venture
yang ditunjuk oleh Para Pihak.
Jangka Waktu Joint Venture Rentang waktu tertentu yang disepakati oleh Para
Pihak untuk menjalankan Joint Venture.
Joint Venture Suatu usaha kerjasama antara Pihak Pertama dengan Pihak
Kedua dengan penyertaan modal yang berbentuk uang maupun tanah dalam
pengelolaan Strata Title di Lokasi Usaha.
Keadaan Terpaksa Suatu Kondisi dimana salah satu Pihak dan/atau Para Pihak
tidak dapat melaksanakan kewajibannya dan/atau tidak pada waktu yang telah
ditentukan sebagaimana yang diatur dalam Perjanjian ini.
Kepailitan Pembubaran Perusahaan Joint Venturesebagai badan hukum yang
diatur oleh Undang-Undang tentang Kepailitan di Republik Indonesia.
Keuangan, Akuntansi Dan Audit Metode dan prosedur dalam pencatatan dan
pelaporan informasi Keuangan dengan sistem Akuntansi yang berpedoman pada
akuntansi umum serta pemeriksaan/audit dari berbagai aspek di dalam
lingkungan Perusahaan Joint Venture.
Lokasi Usaha Bidang tanah seluas .........
Manajemen Kantor Sistem pengelolaan aktifitas menyeluruh pada kegiataan
penataan kantor Perusahaan Joint Ventureyang berhubungan dengan
pelaksanaan tatausaha.
Manajemen Pekerja Sistem pengelolaan aktifitas menyeluruh sumber daya
manusia yang bekerja pada Perusahaan Joint Venture.
Para Pihak Pihak Pertama dan Pihak Kedua yang disebutkan secara bersamasama.
Penyelesaian Perselisihan Tata cara dan penunjukan badan peradilan yang
disepakati oleh Para Pihak apabila ada perselisihan yang timbul di antara Para
Pihak yang berhubungan dengan Perjanjian ini.
Perjanjian Perikatan yang dilakukan oleh Para Pihak yang mengatur Hak dan
Kewajiban masing-masing Pihak serta hal-hal yang terkait dalam menjalankan
Joint Venture.
Perubahan Perjanjian Suatu keadaan dimana isi Perjanjian ini menjadi tidak
lagi sama dengan keadaan semula karena kesepakatan Para Pihak.
Perusahaan Joint Venture Suatu Persereoan Terbatas yang dibentuk oleh Para
Pihak untuk menjalankan Joint Venture.
Strata Title Hotel, Kondominium dan Gedung Perkantoran serta Perumahan
yang berlokasi di Lokasi Usaha.
Tujuan dan Ruang Lingkup Suatu kondisi tertentu yang akan dicapai oleh Para
Pihak dan dituangkan di dalam Perjanjian ini serta batasan-batasan di dalam Joint
Venture.
Wanprestasi Suatu keadaan dimana salah satu Pihak dan/atau Para Pihak tidak
melaksanakan kewajibannya yang diatur dalam Perjanjian ini.

Pasal 1
Ketentuan Umum

Bahwa ........ (selanjutnya disebut Pihak Pertama) dengan ....... (selanjutnya


disebut Pihak Kedua) setuju dan sepakat saling mengikatkan diri untuk
membentuk dan mendirikan sebuah badan hukum untuk menjalankan usaha
kerjasama (selanjutnya disebut Perusahaan Joint Venture) dengan prinsip
kesetaraan dan saling menguntungkan berdasarkan Peraturan Perundangundangan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang mengatur tentang Joint
Venture serta Peraturan Perundang-undangan terkait lainnya, dengan ketentuanketentuan sebagai berikut ;
Pasal 2
Pihak-Pihak Di Dalam Joint Venture
2.1 Para Pihak di dalam Perjanjian ini adalah sebagai berikut ;
Pihak Pertama adalah Sebuah Perseroan Terbatas yang didirikan menurut hukum
Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berkedudukan di Jakarta dan
beralamat di ........ dan dalam hal ini diwakili oleh .....selaku Direktur.
Dan
Pihak Kedua adalah Sebuah Perseroan Terbatas yang didirikan menurut hukum
Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berkedudukan di Jakarta dan
beralamat di.........dan dalam hal ini diwakili oleh ......selaku Direktur.
2.2 Salah satu pihak harus memberitahukan kepada pihak lain apabila ada
perubahan informasi yang disebutkan pada Pasal 2.1 dan jika tidak ada
pemberitahuan perubahan informasi sebagaimana dimaksud, maka pihak lain
tidak bertanggung jawab secara hukum atas akibat yang disebabkan oleh
perubahan.
Pasal 3
Perusahaan Joint Venture
3.1 Para Pihak setuju dan sepakat membentuk dan mendirikan sebuah
Perusahaan Joint Venturedengan nama .......... yang berkedudukan di Jakarta
dan beralamat di Lokasi Usaha.
3.2 Perusahaan Joint Venture berbadan hukum Indonesia dan semua kegiatan
dari Perusahaan Joint Venture diatur oleh Peraturan Perundang-undangan Negara
Kesatuan Republik Indonesia serta hak-hak hukum dan kepentingan Perusahaan
Joint Venture berada di bawah perlindungan hukum Negara Kesatuan Republik
Indonesia.
3.3 Perusahaan Joint Ventureberbadan hukum perseroan terbatas dan masingmasing Pihak bertanggung jawab sesuai dengan modal yang disetorkan.
Keuntungan, risiko dan kerugian dari Perusahaan Joint Venture akan dibagi
kepada Para Pihak secara proporsional sesaui dengan kontribusi masing-masing
terhadap modal yang disetorkan serta Perusahaan Joint Venturebertanggung
jawab terhadap aset-asetnya.
Pasal 4
Tujuan, Dan Ruang Lingkup Kerja

4.1 Tujuan dari Perusahaan Joint Venture adalah untuk meningkatkan


pertumbuhan ekonomi serta meningkatkan kualitas produk properti Indonesia,
mengembangkan produk baru, dan meningkatkan daya saing di pasar dunia
dalam kualitas dan harga dengan mengadopsi teknologi canggih dan aplikatif
dan manajemen ilmiah metode, sehingga dapat meningkatkan hasil ekonomi dan
menjamin manfaat ekonomi yang memuaskan untuk setiap investor.
4.2 Ruang lingkup dari bisnis Perusahaan Joint Venture adalah properti, termasuk
di dalamnya meliputi Hotel, Kondominium, serta Perkantoran dan Perumahan.
Pasal 5
Nilai Total Investasi Dan Modal Terdaftar
5.1 Nilai total investasi Perusahaan Joint Venture untuk mengelola Joint Venture
adalah sebesar Rp.2.000.000.000.000,- (dua trilyun rupiah).
5.2 Modal yang disetorkan oleh Para Pihak ke dalam akun bersama adalah
sebesar Rp. 1.000.000.000.000,- (satu trilyun rupiah).
5.3 Masing-masing Pihak memberikan kontribusi dengan menyetorkan modal
dengan perhitungan sebagai berikut:
a. Pihak Pertama sebesar Rp. 700.000.000.000,- (tujuh ratus milyar rupiah)
setara dengan US$ 70.000.000,- (tujuh puluh juta dollar Amerika Serikat);
b. Pihak Kedua sebesar Rp. 150.000.000.000,- (seratus lima puluh milyar
rupiah), setara dengan US$ 15.000.000,- (lima belas juta dollar Amerika Serikat)
serta investasi bidang lahan yang digunakan sebagai Lokasi Usaha yang nilainya
setara dengan Rp. 150.000.000.000,- (seratus lima puluh milyar rupiah) atau
setara dengan US$ 15.000.000,- (lima belas juta dollar Amerika Serikat);
5.4 Apabila ada teknologi eksklusif yang digunakan oleh salah satu Pihak
dan/atau Para Pihak dan dianggap setara dengan modal investasi bagi Joint
Venture, maka Para Pihak akan membuat dan menandatangani perjanjian
terpisah untuk menjadi bagian tak terpisah dari Perjanjian ini.
5.5 Modal yang terdaftar ke dalam akun bank Perusahaan Joint Venture akan
dilunasi oleh Para Pihak sesuai dengan proporsi modal terdaftar masing-masing
Pihak, dengan sistem pelunasan sebagai berikut:
a. Para Pihak melunasi seluruh modal dalam waktu enam bulan setelah
penerbitan izin usaha.
b. Kontribusi modal masing-masing pihak harus dikonversi sesuai dengan nilai
pada Bank Indonesia.
c. Kontribusi modal dalam bentuk teknologi eksklusif akan diakui sebagai modal
investasi pada saat Perusahaan Joint Venture memperoleh bukti hak kekayaan
intelektual.
5.6 Jumlah setoran keseluruhan modal akan dibayarkan secara simultan, dan
Para Pihak tidak boleh menolak atau menunda pembayaran pelunasan
keseluruhan modal dengan alasan apapun, kecuali yang tercantum pada
Pasal/Klasula yang mengatur tentang Keadaan Terpaksa pada Perjanjian ini.
5.7 Pembayaran modal Para Pihak harus di audit oleh akuntan publik berlisensi
yang ditunjuk oleh Perusahaan Joint Venture dan laporan audit pembayaran
modal tersebut harus dilaporkan oleh Perusahaan Joint Venture kepada Para

Pihak dalam waktu selama-lamanya 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak audit
pembayaran modal selesai di verifikasi oleh kantor akuntan publik yang ditunjuk.
5.8 Penyesuaian modal terdaftar dan/atau jumlah total investasi akan disepakati
dan disetujui oleh Para Pihak di kemudian hari. Dalam hal Pihak manapun
termasuk Perusahaan Joint Venture bermaksud untuk mentransfer ke pihak
ketiga semua atau bagian dari investasi, harus memperoleh persetujuan dari
Pihak lain dan Perjanjian pengalihan investasi akan berpengaruh atas Perjanjian
ini.
5.9 Perusahaan Joint Venture dapat memperoleh pinjaman dari dalam dan luar
negeri untuk kesimbangan investasi atau sebagai sirkulasi dana untuk produksi
dengan persetujuan Para Pihak. Secara khusus, pinjaman luar negeri dapat
dilakukan oleh investor asing melalui pinjaman. Pihak lain tidak dapat melakukan
pinjaman, tanpa persetujuan tertulis dari Pihak yang satu.
Pasal 6
Tanggung Jawab Masing-Masing Pihak Dalam Joint Venture
6.1 Kewajiban-kewajiban masing-masing Pihak adalah sebagai berikut :
a. Kewajiban Pihak Pertama:
- Penanganan aplikasi untuk persetujuan, pendaftaran, izin usaha dan hal-hal lain
mengenai pembentukan Perusahaan Joint Venture dari instansi terkait;
- Pengurusan izin dari penggunaan lahan di dari Badan Pertanahan Nasional;
- Menyelenggarakan desain dan konstruksi fasilitas bangunan dan rekayasa
lainnya pada Joint Venture;
- Menyediakan modal sesuai dengan ketentuan Pasal 5.1 dan Pasal 5.3a;
Membantu Perusahaan Joint Venture dalam pembelian atau penyewaan
peralatan, bahan baku konstruksi bangunan Joint Venture, perlengkapan kantor,
sarana transportasi dan fasilitas komunikasi;
- Membantu Perusahaan Joint Venture untuk pengadaan fasilitas dasar seperti air,
listrik;
- Membantu Perusahaan Joint Venture dalam merekrut sumber daya manusia baik
tenaga teknis,administrasi serta pekerja dan personel lainnya yang diperlukan;
- Membantu pekerja asing dan staf dalam mengajukan visa masuk, izin kerja dan
prosedur penanganan perjalanan mereka;
- Bertanggung jawab untuk menangani hal-hal lain yang dipercayakan oleh
Perusahaan Joint Ventur.
-

b. Kewajiban Pihak Kedua :


Menyediakan modal sesuai dengan ketentuan Pasal 5.1 dan Pasal 5.3b;
- Membeli mesin, peralatan dan bahan-bahan dari luar Indonesia;
- Melatih tenaga teknis dan pekerja dari Perusahaan Joint Venture;;
- Bertanggung jawab untuk hal-hal lain yang dipercayakan oleh Perusahaan
Joint Venture.
6.2 Setelah mendapatkan persetujuan dari Para Pihak, biaya normal yang terjadi
dalam mendirikan Perusahaan Joint Venture akan ditanggung oleh Perusahaan
Joint Venture.
Pasal 7
Dewan Pengurus Perusahaan Joint Venture

7.1 Tanggal penerbitan Surat Keputusan Kementerian Hukum dan Hak Asasi
Manusia Republik Indonesia terhadap pengesahan Perusahaan Joint Venture akan
menjadi tanggal pembentukan Pengurus Perusahaan Joint Venture.
7.2 Dewan Pengurus terdiri dari Direktur Utama yang diangkat oleh Pihak
Pertama dan Direktur yang diangkat oleh Pihak Kedua serta Komisaris Utama
yang diangkat oleh Pihak Pertama dan Komisaris yang diangkat oleh Pihak
Kedua. Masa jabatan untuk seluruh Pengurus adalah empat tahun, dan
perubahan dan/atau perpanjangan masa jabatan Pengurus dilakukan melalui
mekanisme Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).
7.3 Otoritas tertinggi Perusahaan Joint Venture berada pada Dewan Pengurus
yang terkait dengan permasalahan utama Perusahaan Joint Venture dengan
persetujuan 50% (lima puluh persen) dari semua Pengurus yang hadir pada
pertemuan Dewan Pengurus untuk setiap keputusan yang menyangkut hal-hal
sebagai berikut:
1. Perubahan Anggaran Dasar Perusahaan Joint Venture;
2. Pembubaran dan/atau Pemisahan Perusahaan Joint Venture;
3. penyesuaian modal terdaftar Perusahaan Joint Venture;
4. Hal-hal lain dapat diputuskan sesuai mekanisme yang diatur di dalam
Anggaran Dasar Perusahaan Joint Venture.
7.4 Direktur Utama adalah kuasa sah secara hukum Perusahaan Joint Venture
dan apabila Direktur Utama tidak dapat menjalankan tugasnya dengan alasan
apapun maka Direktur Utama wajib menyerahkan tugas dan wewenangnya
kepada Direktur untuk sementara dan apabila dalam keadaan mendesak
Direktur Utama tidak dapat menjalankan tugasnya tanpa menyerahkan tugas
dan wewenangnya kepada Direktur maka Direktur berhak menjalankan tugas
dan wewenang atas nama Direktur Utama
.
7.5 Dewan Pengurus wajib menyelenggarakan sekurang-kurangnya satu
pertemuan setiap tahun yang dipimpin oleh Direktur Utama dan Dewan Pengurus
dapat menyelenggarakan pertemuan mendesak berdasarkan kesepakatan
tertulis yang dibuat oleh lebih dari 50% (lima puluh persen) dari total jumlah
direksi dan pemberitahuan pertemuan Dewan Pengurus harus mencakup waktu,
tempat dan agenda pertemuan dan harus diberikan secara tertulis kepada
semua Dewan Pengurus paling lambat 30 (tiga puluh) hari sebelum pertemuan
dan 1 (satu) hari untuk pertemuan mendesak.
7.6 Masing-masing Pihak memiliki kewajiban untuk memastikan bahwa Pengurus
yang ditetapkan, harus hadir pada pertemuan Dewan Pengurus sebagaimana
dimaksud Pasal 7.3 dan Pasal 7.5 , dalam hal pengurus dari salah satu Pihak
dan/atau Para Pihak tidak dapat menghadiri pertemuan Dewan Pengurus, maka
Pihak yang Pengurusnya tidak dapat hadir tersebut harus mengeluarkan surat
kuasa kepada orang yang ditunjuk sebagai Penerima Kuasa untuk menghadiri
pertemuan Dewan Pengurus dan suara Penerima Kuasa tersebut sama nilainya
dengan Pengurus yang diwakili.
7.7 Setiap pertemuan Dewan Pengurus wajib dicatatkan di dalam risalah
pertemuan dan ditandatangani oleh seluruh Pengurus atau Penerima Kuasa yang
hadir pada pertemuan tersebut dan risalah pertemuan akan dijadikan arsip.
Pasal 8
Manajemen Kantor

8.1 Perusahaan Joint Venture Wajib membentuk Manajemen Kantor yang


bertanggung jawab atas administrasi sehari-hari. Kantor manajemen harus
menunjuk seorang General Ganager yang direkomendasikan oleh Pihak Pertama
dan Vice General Manajer yang direkomendasikan oleh Pihak Kedua kepada
Dewan Pengurus, General Manager dan Vice General Manager diangkat dan
bertanggung jawab terhadap Dewan Pengurus dan memiliki masa jabatan 4
(empat) tahun.
8.2 General Manager bertanggung jawab untuk melaksanakan keputusan Dewan
Pengurus serta mengatur dan melakukan pengelolaan harian di Perusahaan Joint
Venture. Vice General Manager akan membantu General Manager di dalam
melaksanakan tanggung jawabnya. Apabila General Manager tidak dapat
melaksanakan tanggung jawabnya, Vice General Manager dapat melaksanakan
hal-hal yang menjadi tanggung jawab Manajer Umum serta mengenai hal-hal
yang dianggap penting dalam menjalankan pengelolaan kantor Perusahaan Joint
Venture, harus diputuskan bersama antara General Manager dengan Vice
General Manager. General Manager dapat menunjuk Manager berdasarkan
Departemen yang ada pada Perusahaan Joint Venture.
8.3 Apabila General Manager dan/atau Vice General Manager melalaikan
tanggung jawab masing-masing dan berdampak buruk pada Perusahaan Joint
Venture, maka Dewan Pengurus dapat memberhentikan General Manager
dan/atau Vice General Manager.
Pasal 9
Persiapan Dan Konstruksi
9.1 Selama periode persiapan dari konstruksi Joint Venture, Dewan Pengurus
membentuk Kantor Pesiapan yang terdiri dari Pimpinan Proyek yang ditunjuk
oleh Pihak Pertama dan Wakil Pimpinan Proyek yang ditunjuk oleh Pihak Kedua.
9.2 Pimpinan Proyek dibantu Wakil Pimpinan Proyek bertanggung jawab atas;
desain proyek, penandatanganan kontrak proyek konstruksi, mengatur
pembelian dan pemeriksaan peralatan terkait, bahan, rencana pengeluaran,
mengendalikan pembayaran keuangan proyek dan menyusun metode manajerial
dan menjaga dan mengarsipkan dokumen, gambar, file dan bahan selama masa
konstruksi proyek.
9.3 Pimpinan Proyek dibantu Wakil Pimpinan Proyek wajib membentuk Tim
Teknis Konstruksi yang bertanggung jawab atas pemeriksaan, pengawasan,
inspeksi pengerjaan proyek, serta kualitas proyek termasuk di dalamnya
peralatan, material serta teknologi.
9.4 Upah, remunerasi, bonus serta biaya-biaya lain yang terkait dengan Pekerja
di dalam Pekerjaan Konstruksi Joint Venture dimasukkan di dalam anggaran
Investasi Modal Keseluruhan.
9.5 Setelah Konstruksi selesai, maka Kantor Persiapan dibubarkan atas
persetujuan Dewan Pengurus.
Pasal 10
Manajemen Ketenagakerjaan

10.1 Kontrak kerja yang meliputi perekrutan, pekerjaan, pemberhentian dan


pengunduran diri, upah, asuransi tenaga kerja, kesejahteraan, penghargaan,
sanksi dan hal-hal lain yang terkait dengan Pekerja Perusahaan Joint Venture
harus melalui Kesepakatan Kerja Bersama antara Dewan Pengurus dengan
Perwakilan Serikat Pekerja yang ditunjuk oleh mayoritas Pekerja serta mengacu
pada Peraturan Perundang-undangan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang
terkait dengan ketenagakerjaan.
10.2 Perusahaan Joint Venture wajib mendirikan Serikat Pekerja dengan prinsip
yang berkeadilan, beritikad baik dan kesetaraan.
Pasal 11
Keuangan, Akunting dan Audit
11.1 Perusahaan Joint Venture harus merumuskan sistem akuntansi dan
prosedur kerja perusahaan sesuai dengan Peraturan Perundang-undangan
Negara Kesatuan Republik Indonesia tentang Keuangan dan hal terkait lainnya
11.2 Tahun fiskal Perusahaan Joint Venture adalah 1 Januari sampai dengan 31
Desember setiap tahun kalender masehi.
11.3 Alokasi Anggaran untuk dana cadangan, dana pengembangan Perusahaan
Joint Venture serta dana kesejahteraan dan bonus untuk Pekerja harus
ditetapkan oleh Dewan Pengurus di dalam Alokasi Anggaran Tahunan sesuai
dengan situasi bisnis dan pendapatan Perusahaan Joint Venture.
11.4 Perusahaan Joint Venture menunjuk Kantor Akuntan Publik dalam
pemeriksaan keuangan tahunan dan menyerahkan hasilnya kepada Dewan
Pengurus.
11.5 Dalam tiga bulan pertama setiap tahun fiskal, General Manager harus
menyiapkan neraca tahun sebelumnya, laporan laba rugi dan usulan pembagian
keuntungan, dan menyerahkan mereka kepada Dewan Pengurus.
11.6 Dalam waktu 4 bulan setelah akhir setiap tahun fiskal, Dewan Pengurus
sesuai dengan situasi bisnis dan laba dari Perusahaan Joint Venture wajib
memutuskan perihal pembagian keuntungan dari laba bersih dan pembagian
keuntungan tidak akan dibagikan jika kerugian tahun fiskal sebelumnya belum
teratasi.
11.7 Perusahaan Joint Venture wajib mengawasi Pekerja dalam membayar pajak
pendapatan individu sesuai dengan Peraturan Perundang-undangan Negara
Kesatuan Republik Indonesia tentang Pajak.
11.8 Perusahaan Joint Venture wajib melaporkan dan membayar penghasilan
kena pajak kepada Instansi Pemerintah Republik Indonesia yang diberi
wewenang untuk memungut pajak.
11.9 Polis asuransi dari Perusahaan Joint Venture dengan berbagai jenis
tanggungan harus melalui perusahaan asuransi ataupun perwakilannya yang
berada di wilaya hukum Indonesia dan Jenis, nilai dan jangka waktu asuransi

harus diputuskan oleh rapat Dewan Pengurus sesuai dengan ketentuan


perusahaan asuransi.
Pasal 12
Jangka Waktu Joint Venture
12.1 Jangka Waktu Perusahaan Joint Venture adalah 20 (dua puluh) tahun
terhitung sejak tanggal izin usaha dari Perusahaan Joint Venture diterbitkan.
12.2 Perpanjangan Jangka Waktu Perusahaan Joint Venture dapat disepakati oleh
Dewan Pengurus paling lama 2 (dua) tahun sebelum Jangka Waktu sebagaimana
dimaksud Pasal 12.1 berakhir.
Pasal 13
Pengakhiran Perjanjian dan Pembubaran
13.1 Perjanjian ini dapat diakhiri serta Perusahaan Joint Venture dapat
dibubarkan dengan alasan sebagai berikut:
1. Perjanjian ini tidak dapat dilakukan karena force majeure;
2. Perusahaan Joint Venture mengalami kerugian yang menyebabkan tidak dapat
lagi beroperasi;
3. Salah satu Pihak dan/atau Para Pihak melakukan pelanggaran substansial
Perjanjian ini, yang menyebabkan Joint Venture tidak dapat dilaksanakan;
4. Para Pihak sepakat untuk tidak melanjutkan Perjanjian ini;
5. Karena hal-hal lain yang mengatur berakhirnya Perjanjian ini dan/atau Joint
Venture yang tertuang di dalam Perjanjian ini dan Anggaran Dasar Perusahaan
Joint Venture.
13.2 Pembubaran dilakukan melalui proses Kepailitan sesuai dengan Peraturan
Perundang-undangan Negara Kesatuan Republik Indonesia tentang Kepailitan.
Pasal 14
Perubahan Perjanjian
Perubahan Perjanjian dan/atau harus atas kesepakatan Para Pihak
Pasal 15
Sanksi Pelanggaran Perjanian
15.1 Apabila salah satu Pihak tidak membayar sesuai jadwal sebagaimana
ditentukan Pasal 5 dan Pasal 6 Perjanjian ini akan dikenai sanksi sebagai
berikut ;
a. Apabila terlambat selama 30 (tiga puluh) hari dalam memenuhi kewajiban
pembayaran, maka akan dikenakan denda sebesar 1% (satu persen) dari total
keseluruhan kewajiban pembayarannya kepada Pihak lain per hari
keterlambatan;
b. Apabila terlambat lebih dari 60 (enam puluh) hari dalam memenuhi kewajiban
pembayaran, maka Pihak yang tidak memenuhi kewajiban tersebut, dianggap
melepaskan diri dari Hak dan Kewajibannya dari Perjanjian ini.
15.2 Sanksi sebagaimana dimaksud Pasal 15.1 b pelaksanaannya
mengesampingkan Pasal 1266 dan 1267 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.
Pasal 16

Keadaan Terpaksa
Dalam keadaan gempa, angin topan, banjir, kebakaran, perang, huru hara,
pemberontakan dan bencana lain yang tidak dapat dicegah atau dihindari, yang
secara langsung mempengaruhi pemenuhan kewajiban Perjanjian ini atau
membuat tidak mungkin untuk kewajiban yang disepakati, Pihak yang
mengalami Keadaan Terpaksa tersebut wajib memberitahukan kepada Pihak lain
melalui Surat Tertulis dalam waktu 15 hari setelah itu, memberikan informasi
rinci tentang Keadaan Terpaksa, menjelaskan alasan ketidakmampuan untuk
melaksanakan semua atau bagian dari Perjanjian ini. Para Pihak harus sepakat
untuk memutuskan Pengakhiran Perjanjian dan/atau untuk membebaskan bagian
dari kewajiban dan/atau untuk menunda pelaksanaan kewajiban.
Pasal 17
Hukum yang Berlaku
Pembentukan, validitas, interpretasi, pelaksanaan dan penyelesaian sengketa
sehubungan Perjanjian ini tunduk pada Hukum Negara Kesatuan Republik
Indonesia.
Pasal 18
Penyelesaian Perselisihan
Setiap perselisihan yang timbul sehubungan dengan Perjanjian ini diselesaikan
melalui musyawarah dan dalam waktu 14 (empat belas) hari tidak ada
kesepakatan dalam musyawarah tersebut maka penyelesaian perselisihan
diselesaikan di Kepaniteraan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.
Pasal 19
Bahasa
Perjanjian ini dibuat dengan menggunakan Bahasa Indonesia
Pasal 20
Lampiran
20.1 Lampiran disusun sesuai dengan prinsip-prinsip Perjanjian ini dan
merupakan bagian tak terpisahkan dari Perjanjian ini serta memiliki kekuatan
hukum yang sama dengan Perjanjian ini. Lampiran meliputi: Anggaran Dasar
Perusahaan Joint Venture.
20.2 Perjanjian ini dibuat 2 (dua) rangkap untuk kemudian disimpan oleh
masing-masing Pihak dan mempunyai kekuatan hukum yang sama.
Pasal 21
Pemberitahuan
21.1 pemberitahuan sehubungan dengan hak-hak pihak dan kewajiban
dikirimkan masing-masing Pihak melalui surat tertulis, dan/atau media-media
lain yang tidak mengurangi substansi pemberitahuan tersebut.
21.2 Pemberitahuan dianggap disampaikan setelah Pihak yang memberitahukan
menerima konfirmasi dan/atau tanda terima dari Pihak yang diberitahukan

21.3 Alamat Para Pihak yang tercantum dalam Perjanjian ini akan menjadi
alamat surat menyurat.
Demikian Perjanjian ini ditandatangani oleh wakil yang berwenang dari masingmasing Pihak pada tanggal tertera tersebut di atas
Pihak Pertama

Pihak
Kedua

Direktur

Direktur

Anda mungkin juga menyukai