Anda di halaman 1dari 5

Humas Badan Narkotika Nasional (BNN), Sumirat Dwiyanto mengunkap, Indonesia kini

menjadi target peredaran narkoba, dengan cara menjual secara online. Namun, tingginya
minat warga Indonesia untuk melakukan jual beli didunia maya, menekan penjualan narkoba
via
online.
"Ada 40 juta pengguna internet yang sekitar 4 jutanya melakukan transaksi jual beli, dengan
jumlah sebanyak ini, Indonesia termasuk taget pasar narkoba dunia maya," jelas Sumirat,
Selasa
(13/3/2012).
Sumirat menuturkan, penjualan via online dimanfaatkan para bandar untuk menjual narkoba
melalui dunia maya. Modus ini, diakuinya cara lama namun baru terdeteksi. "Sebenarnya ini
modus lama, bisa juga yang dulu- dulu terungkap melalui online. Terdeteksi baru- baru ini,"
katanya.
Lebih lanjut Sumirat menjelaskan kalau maraknya peredaran narkoba melalui dunia maya
dikarenakan perkembangan tekonologi yang semakin canggih, selain itu melalui dunia maya
tidak ada batas anatar negara. "Karena online ini alat yang terbuka, tidak ada batas negara,
bebas. Seseorang menggunakan bisa pakai nama samaran, kode- kode. Seperti di Malaysia
itu, apakah benar pengirim itu Mr. TAN atau bukan, kita belum tahu," ucap Sumirat.
Indonesia:
Great
Market
dan
Good
Price
Wilayah Indonesia yang luas yang terdiri dari 17ribu pulau yang tersebar dari Sabang sampai
Merauke dan jumlah populasi Indonesia yang besar sekitar 250 juta orang bagi pasar narkoba
adalah pasar yang luar biasa menjanjikan.
Ceruk pasar yang luar biasa inilah yang menarik para mafia narkoba luar negeri beramairamai menyerbu Indonesia dengan berbagai cara. Didukung oleh Indonesia sebagai negara
yang berkembang ke arah kemajuan, pertumbuhan ekonomi yang baik menyebabkan tingkat
hidup yang lebih baik, daya beli yang meningkat, namun sekaligus memberikan peluang gaya
hidup masyarakatnya yang hedonis yang mampu membeli berapapun harga barang haram itu.
Ribuan pulau yang tersebar yang dimiliki Indonesia rupanya dimanfaatkan menjadi titik
masuk yang strategis bagi mafia narkoba untuk memasukkan barang haram tersebut ke dalam
wilayah Indonesia. Setelah banyak digagalkan melalui bandara-bandara yang ada oleh para
penegak hukum Indonesia, para mafia itu saat ini mengalihkan rute pasokan barang melalui
laut dan wilayah perbatasan.
Para mafia narkoba itu tak masuk ke dalam wilayah Indonesia begitu saja. Sebelum memasok
anggota mereka terlebih dahulu mempelajari dan menyelidiki situasi baik keamanan,
personal, hukum dan perundang-undangan negara Indonesia, bahkan peralatan yang dimiliki
oleh aparat penegak hukum Indonesia. Disamping mereka menyamar dan berbaur dengan kita
semua, misalnya sebagai nelayan yang rutin melaut untuk memancing dan menangkap ikan,
dan sebagainya. Yang paling sering dilakukan adalah dengan cara menikahi wanita-wanita
setempat agar tidak dicurigai dan bisa berbaur secara sosial. Dari anggotanya yang menyamar
itulah para mafia itu mendapatkan pasokan informasi yang penting untuk membuat strategi
pemasaran barang haram ke Indonesia. Aktivitas penyamaran dan peredaran ini dilakukan
selama bertahun-tahun, sehingga para mafia itu berhasil panen raya dari hasil kerja keras
itu dalam waktu beberapa tahun belakangan ini.

Sum
ber Gambar
Data
dan
Fakta
yang
Mengerikan
Menurut Kabag Humas BNN Sumirat Dwiyanto pada 19 Januari 2015 dalam acara Primetime
Talk di Beritasatu TV, serbuan mafia narkoba ke wilayah Indonesia mencatat transaksi barang
haram itu sekitar total 48 triliun. Transaksi yang fantastis. Bandingkan dengan keseluruhan
transaksi yang terjadi di ASEAN yang sejumlah 160 triliun. Para mafia narkoba yang berasal
dari Indonesia sendiri, juga Malaysia, Australia, Iran, Perancis, Taiwan, Nigeria dan lain-lain.
Para mafia tersebut berpesta pora dengan total peredaran sebesar 30% ada hanya di
Indonesia.
Menurut penjelasan pangamat hukum Asep Iwan Iriawan, para mafia itu berpikir bahwa
vonis hukuman di Indonesia adalah hukuman yang ringan dan seumur hidup, hukuman mati
di Indonesia hanya di atas kertas. Hukuman mati hanya berlaku untuk kejahatan teroris dan
pembunuhan berencana. Bahkan di dalam penjara pun para mafia yang tertangkap dan
diputus hukuman mati pun masih bisa mengendalikan dan menjalankan bisnis narkoba. Tak
ada eksekusi mati di Indonesia. Itu pikiran mafia terhadap hukum yang berlaku di Indonesia.
Tabel-1. Tersangka Narkoba Berdasarkan Jenis Kelamin dan Kewarganegaraan

Sumber Gambar: Infodatin 2014 Pusat Data dan Informasi Kementrian Kesehatan Republik
Indonesia
Juga, penjelasan dari Sumirat, menurut pengakuan salah satu anggota mafia narkoba yang
tertangkap yang akhirnya bekerjasama dengan penegak hukum bahwa di Indonesia bisa
melakukan pencucian uang dalam bentuk pemberian donasi pada lembaga atau aktivis

tertentu yang berkampanye anti hukuman mati untuk mengganggu dan mempengaruhi
kebijakan pemerintah.
Direktur PLRIP-BNN Ida Utari pada Rakernis Terapi Rehabilitasi Napza pada 20 Maret 2014
di Kementrian Kesehatan menyebut di seluruh dunia pecandu berat narkoba berjumlah antara
15.5 juta - 38.6 juta. Prevalensi pengguna narkoba dunia adalah sekitar 5%, sedangkan
Indonesia pada 2015 diperkirakan sebesar 2.8%, ada kenaikan hampir dua kali lipat dalam 10
tahun terakhir (tahun 2004 prevalensi 1.75%). Tak ada penururan sama sekali selama 10
tahun terakhir. Lihat Tabel-2.
Tabel-2. Prevalensi Pengguna Narkoba di Indonesia

Mencermati angka prevalensi dalam unit juta orang (Tabel-3) di tahun 2015, dimana apabila
tidak ada penghambat peredaran narkoba, maka di Indonesia akan diperkirakan sekitar 5.1
juta orang akan menjadi pengguna narkoba atau di antara 50 orang WNI ada satu pengguna
narkoba. Asumsi penduduk Indonesia 250 juta orang. Bisa jadi setiap lembaga yang
mempunyai staf lebih dari 50 orang dipastikan ada diantaranya pengguna narkoba. Jika
demikian lembaga penegak hukum (kepolisian, kejaksaan, KPK, kehakiman), lembaga
hankam, lembaga tinggi negara lain, perusahaan swasta dan milik negara di Indonesia
dipastikan terdapat pengguna narkoba. Ini sungguh amat gila, sekaligus cepat atau lambat
bisa menghancurkan kelangsungan bangsa Indonesia.
Tabel-3. Pengguna Narkoba di Indonesia

Selain itu, hasil penelitian bersama antara BNN dan Puslitkes-UI yang dilakukan pada 2012,
Kapuslitdatin BNN Darwin Butar Butar mengungkap bahwa pengguna narkoba menurut
tingkat ketergantungan adalah sekitar 3.8 juta - 4.2 juta orang dengan rincian sebagaimana
ditunjukkan dalam Tabel-4. Diungkapkan pula dalam dialog yang dipandu oleh presenter
Beritasatu TV Veronica Moniaga, Sumirat menyebut bahwa setiap hari tercatat 50 orang
meninggal karena narkoba, sebagaimana juga disebut oleh Presiden Jokowi dalam
wawancaranya dengan wartawan CNN Christine Amanpour 27 Januari 2015.
Tabel-4. Pengguna Narkoba Menurut Tingkat Ketergantungan Tahun 2011

Demikian lah situasi Indonesia terkait dengan peredaran narkoba. Hal yang paling menonjol
adalah tingginya prevalensi Indonesia di tahun 2015 sebagaimana diuraikan di atas, jika
peredaran tidak dihentikan, bisa jadi lambat laun, bahkan bisa cepat, prevalensi akan semakin
meningkat, berarti di setiap 50 orang terdapat pengguna narkoba lebih dari satu orang.
Oleh karena, kita semua tidak menghendaki situasi yang demikian, maka tentu saja kita harus
mendukung upaya pemerintah untuk memutus peredaran narkoba dengan memberikan
hukuman mati kepada penyalahguna narkoba.