Anda di halaman 1dari 25

PURPURA

TROMBOSITOPENIK
IDIOPHATIK
(Case Report)

Diajukan Oleh :
Metra Adi Pratama
Puti Nisa Nurilahi
Ria Putriono
Rina Andriyani
Triyani Rosita Sari
Wirahadi Satria

SMF ILMU KESEHATAN ANAK


RSUD. Dr. Hi. ABDUL MOELOEK
BANDAR LAMPUNG
JULI 2008

STATUS PENDERITA
No. Catatan Medik

: 160292

Masuk RSAM

: 04 Juli 2008

Pukul

: 11.00

I. ANAMNESIS
Alloanamnesis dan autoanamnesis
Identitas
-

Nama penderita

: An. F

Jenis kelamin

: Laki-laki

Umur

: 12 tahun

Nama Ayah

: Tn. A

Umur

: 45 tahun

Pekerjaan

: Tani

Pendidikan
-

: SD

Nama Ibu

: Ny. J

Umur

: 35 tahun

Pekerjaan

: Tani

Pendidikan

: SD

Hubungan dengan orangtua: Anak kandung

Agama

: Islam

Suku

: Jawa

Alamat

: Gunung suri Hulu balu, Tanggamus

Riwayat Penyakit
Keluhan utama

: Mimisan

Keluhan tambahan

: Perdarahan gusi dan bibir, memar-memar, bintik bintik


merah pada badan dan kaki

Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien datang ke RSAM dengan keluhan mimisan yang terus-menerus berupa darah segar
selama 1 jam sebanyak setengah gelas belimbing sebelum masuk RS.
Seminggu sebelum mengalami keluhan ini, ia mengalami perdarahan gusi dan
bibir yang tiba-tiba, tetapi hanya sesekali, tidak terus-menerus dan jumlahnya
sedikit. Mula-mula pasien mengaku timbul bintik bintik merah terlebih dahulu
pada kaki dan kemudian dalam waktu satu minggu semakin menyebar keseluruh
tubuh, mulai dari badan sampai ke tangan. Timbulnya bintik bintik ini diikuti
oleh memar yang kebiru-biruan terutama pada tungkai bawah dan lengan dan
memar mudah timbul bila pasien jatuh atau muncul tanpa sebab. Penggunaan
obat obatan sebelum mengalami keluhan ini disangkal. Riwayat tranfusi
sebelumnya disangkal. Pasien tidak mengalami keluhan demam, BAB tidak
berwarna hitam atau bercampur darah. BAK tidak sakit dan tidak bercampur
darah. Saat dalam perjalanan ke RSAM pasien sempat 1 kali muntah bercampur
darah segar berwarna merah sebanyak gelas belimbing. Pasien kemudian
dibawa keluarga ke Poliklinik anak RSUDAM dan kemudian dianjurkan untuk
dirawat inap.
Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien belum pernah mengalami keluhan yang serupa sebelumnya.
Pasien tidak memiliki riwayat penyakit lain sebelumnya.
Riwayat Penyakit Keluarga
Didalam keluarga tidak ada yang menderita penyakit ataupun keluhan serupa seperti ini.
Riwayat Kehamilan
Merupakan anak ke 4 dari 4 bersaudara dengan kehamilan cukup bulan.
Riwayat Persalinan
Persalinan normal ditolong oleh bidan di Rumah dengan berat lahir 3000 gr dan panjang
badan 50 cm.

Riwayat Makanan
Umur : 0 - 4 bulan

: ASI

4 - 6 bulan

: ASI + Bubur Susu

6 12 bulan

: ASI + Biskuit + Bubur Susu

1 - 2 tahun : ASI + Nasi tim + Buah + Biskuit


> 2 tahun

: Makanan biasa sesuai dengan menu keluarga

Riwayat Imunisasi
BCG

: 1x, umur 1 bulan

Polio

: 3x, umur 2,4,6 bulan

DTP

: 3x, umur 2,4,6 bulan

Campak

: 1x, umur 9 bulan

Hepatitis B

: 3x, umur 1,2,7 bulan

Hepatitis A

: 2x, umur 5,6 tahun

II. PEMERIKSAAN FISIK (4 Juli 2008)


Status Present
-

Keadaan umum

: Tampak sakit sedang

Kesadaran

: Compos Mentis

TD

: 100/70 mmhg

Nadi

Respirasi

Suhu

BB

: 30 kg

Status gizi

: Cukup

: 100 x/menit, kuat, reguler, isi dan tegangan cukup


: 28 x/menit
: 36,6 C

Status Generalis
1. Kelainan mukosa kulit/subkutan yang menyeluruh
-

Pucat

: (-)

Sianosis

: (-)

Ikterus

: (-)

Perdarahan

: (+)

Oedem umum

: (-)

Turgor

: Cukup

Lemak bawah kulit

: Cukup

Pembesaran kelenjar getah bening generalisata: (-)

Petekie

: (+)

KEPALA
-

Bentuk

:Bulat, simetris, normocephalik

Rambut

:Hitam, lurus, tidak mudah dicabut, pertumbuhan merata

Mata

:Perdarahan

subkonjungtiva

kiri,

Palpebra

tidak

cekung,

konjungtiva ananemis, sklera anikterik, refleks cahaya (+/+), pupil isokor


-

Telinga

:Bentuk normal, simetris, liang lapang, serumen (-/-)

Hidung

:Sisa bekuan darah (+), bentuk normal, septum deviasi (-),


pernapasan cuping hidung (-), sekret (-).

Mulut

:Sisa bekuan darah (+) pada mukosa bibir dalam bawah, Bibir
tidak kering, sianosis (-), coated tongue (-), faring tidak
hiperemis, tonsil T1-T1 tenang, bercak koplik (-), perdarahan gusi
(-)

LEHER
-

Bentuk

: Simetris

Trakhea

: Di tengah

KGB

: Tidak membesar

JVP

: Tidak meningkat

THORAKS
-

Inspeksi

: Bentuk simetris, retraksi sela iga (-), Tidak ada kelainan

PARU
KIRI

ANTERIOR
KANAN

KIRI

POSTERIOR
KANAN

Inspeksi
Palpasi
Perkusi
Auskultasi

Pergerakan
pernafasan
simetris
Fremitus taktil
= kanan
Sonor
Suara nafas
vesikuler
Ronkhi (-)
Wheezing (-)

Pergerakan
pernafasan
simetris
Fremitus taktil
= kiri
Sonor
Suara nafas
vesikuler
Ronkhi (-)
Wheezing (-)

Pergerakan
pernafasan
simetris
Fremitus taktil =
kanan
Sonor
Suara nafas
vesikuler
Ronkhi (-)
Wheezing (-)

Pergerakan
pernafasan
simetris
Fremitus taktil =
kiri
Sonor
Suara nafas
vesikuler
Ronkhi (-)
Wheezing (-)

JANTUNG
-

Inspeksi

: Iktus cordis tidak terlihat

Palpasi

: Iktus cordis teraba di ICS IV linea mid clavicula sinistra

Perkusi

: Batas jantung atas sela iga II garis parasternal sinistra


Batas jantung kanan sela iga IV garis parasternal dextra
Batas jantung kiri sela iga V garis midklavikula sinistra

Auskultasi

: Bunyi jantung I - II murni, reguler, murmur (-)

ABDOMEN
-

Inspeksi

: Datar, simetris, ptekie (+)

Palpasi

: Hepar dan Lien tidak teraba , nyeri tekan (+) (epigastrium,


hopokondrium kanan, suprasimpisis)

Perkusi

: Timpani

Auskultasi

: Bising usus (+) normal

GENITALIA EXTERNA
- Kelamin

: , tidak ada kelainan

EKSTREMITAS
-

Superior

: Oedem (-/-), sianosis (-), akral teraba hangat, Ptekie (+/+),


ekimosis (+/+) , purpura (+/+)

Inferior

: Oedem (-/-), sianosis (-), akral teraba hangat, Ptekie (+/+),


ekomosis (+/+), purpura (+/+)

Refleks fisiologis : Reflex patella (+), refleks cahaya (+), refleks achiles (+)

Refleks patologis : Kaku kuduk (-), Brudzinsky I dan II (-), Kernig (-), Babinsky (-)

III. PEMERIKSAAN PENUNJANG


Hematologi
-

Hb
Trombosit
Leukosit
Diff count

: 10 gr%
: 72.000/ul
: 17.600/ul
: 0 / 0 / 0 / 65 / 30 / 5

(13,5-18 gr%)
(159.000-400.000/ul)
(4.500-10.700/ul)
(0-1 / 1-3 / 2-6 / 50-70 / 20-40 / 2-8)

Urine
-

Warna
: Kuning jernih
Bau
: Amonia
BJ
: 1.015
Protein
: (-)
Reduksi
: (-)
Bilirubin
: (-)
Sedimen urine : Leukosit
: 0 - 1/LPB
Eritrosit
: (-)
Silinder
: (-)
Epitel
: (+)

Feses
Makroskopis
-

Konsistensi

: lembek

Warna

: kuning

Darah

: negatif

Lendir

: negatif

RESUME
I. Anamnesis
Pasien An. F, berusia 12 tahun, dengan keluhan epistaksis yang terus-menerus berupa
darah segar selama 1 jam sebanyak setengah gelas belimbing sebelum masuk
RS. Seminggu sebelum mengalami keluhan ini, ia mengalami perdarahan gusi
dan bibir yang tiba-tiba, tetapi hanya sesekali, tidak terus-menerus dan
jumlahnya sedikit. Mula-mula pasien mengaku timbul bintik bintik merah
terlebih dahulu pada kaki dan kemudian dalam waktu satu minggu semakin
menyebar keseluruh tubuh, mulai dari badan sampai ke tangan. Timbulnya
bintik bintik ini diikuti oleh memar yang kebiru-biruan terutama pada tungkai
bawah dan lengan dan memar mudah timbul bila pasien jatuh atau muncul
tanpa sebab.
Penggunaan obat obatan ini disangkal. Riwayat tranfusi disangkal. Keluhan demam
disangkal. BAB berwarna hitam atau bercampur darah disangkal. BAK sakit
dan bercampur darah disangkal.

II. Pemeriksaan Fisik


Status Present
-

Keadaan umum

: Tampak sakit sedang

Kesadaran

: Compos Mentis

TD

: 100/70 mmhg

Nadi

: 100 x/menit, kuat, reguler, isi dan tegangan cukup

Respirasi

: 28 x/menit

Suhu

: 36,6 C

BB

: 30 kg

Status gizi

: Cukup

Status generalis
Kelainan mukosa kulit/ submukosa menyeluruh
-

Perdarahan

: (+)

Petekie

: (+)

Kepala
o Mata

: Perdarahan subkonjungtiva kiri, konjungtiva pucat, sklera tidak

ikterik, refleks cahaya (+/+), pupil isokor


o Hidung

: Sisa bekuan darah (+)

o Mulut

: Sisa bekuan darah (+) pada mukosa bibir dalam bawah, perdarahan

gusi (-)
Leher

: dalam batas normal

Thoraks

: dalam batas normal

Abdomen

:nyeri tekan (+) (epigastrium, hopokondrium kanan, suprasimpisis)

Genitalia eksterna : dalam batas normal


Ekstremitas

: Superior

: Ptekie (+/+), ekimosis (+/+) , purpura (+/+)

Inferior

: Ptekie (+/+), ekomosis (+/+), purpura (+/+)

III. Pemeriksaan Laboratorium


Hematologi

: dalam batas normal

Urin

: dalam batas normal

Feses

: dalam batas normal

IV. Diagnosis Kerja


Susp. Idiopatik Trombositopeni Purpura
V. Diagnosis Banding
Leukemia
VI. Penatalaksanaan
Tirah baring
Amoxicillin 3 x 500 gr
Prednison 3x 2 tab

VII. Anjuran Pemeriksaan

VII. Prognosis
-

Quo ad vitam
:
Quo ad functionam :
Quo ad sanactionam :

ad bonam
ad bonam
ad bonam

FOLLOW UP & OBSERVASI

TANGGAL

05-7-2008

06-7-2008

07-7-2008

08-07-2008

Keluhan
- Mimisan
- Bintik-bintik
merah
- Muntah
- Sakit kepala

(-)
(+)
berkurang
(-)
(+)

(-)
(+)
berkurang
(-)
(+)

(-)
(+)
Berkurang
(-)
(-)

(-)
(+)
Berkurang
(-)
(-)

Keadaan Umum

Tampak Sakit Ringan

Tampak Sakit
Ringan
Compos Mentis

Tampak Sakit
Ringan
Compos Mentis

Kesadaran
Vital Sign
- HR
- Pernafasan
- Suhu

Compos Mentis

Tampak Sakit
Ringan
Compos Mentis

78 x/menit
30 x/menit
36,8 C

80 x/menit
28 x/menit
36,5 C

84 x/menit
34 x/menit
36,7 C

90 x/menit
36 x/menit
36,5 C

konjungtiva ananemis
perdarahan subkonjungtiva

konjungtiva
ananemis
perdarahan
subkonjungtiva

konjungtiva
ananemis
perdarahan
subkonjungtiva

konjungtiva
ananemis
perdarahan
subkonjungtiva

Abdomen
- Nyeri
epigastrium

(+)

(+)

(+)

(+)

Extremitas
- Ptechiae dan
Purpura

(+/+)

(+/+)

Pemeriksaan
Fisik
Kepala
- Mata

(+/+)

(+/+)

Hasil
Laboratorium

Hematologi

Hematologi

Hb : 10 gr%
Ht : 30 %
Eritrosit : 3,93 jt/ul
LED : 5 mm/jam
Trombosit : 72.000/ul
Leukosit : 17.600/ul
Diff count: 0/0/0/65/30/5
MCV : 77 ul
MCH :25 pg
MCHC : 33 g/dl

Hb : 11,2 gr%
Ht : 32 %
LED : 5mm/jam
Leukosit:17.500
Diff count :
0/0/0/65/30/5
Trombosit :
62.000 /ul

Gambaran Darah Tepi


Eritrosit: Sebagian besar
normokom normositik.
Morfologi normal
Leukosit
: Kesan
jumlah meningkat, terdiri
dari sel dari granulosit :
segmen neutrofil. Dari
Limpoid : Limfosit matur,
LPB (+)
Trombosit : Kesan
jumlah menurun
Kesan Umum : Leukositosis (Suspek
infeksi bakteri/virus)
Trombositopenia DD :
ITP
Splenome

Diagnosa Kerja

ITP

ITP

ITP

ITP

Penatalaksanaan Tirah baring


Amoxicillin 3 x 500 gr
Prednison 3x 2 tab

Tirah baring
Tirah baring
Tirah baring
Amoxicillin 3 x Amoxicillin 3 x Amoxicillin 3 x
500 gr
500 gr
500 gr
Prednison 3x 2 Prednison 3x 2 Prednison 3x 2
tab
tab
tab

ANALISIS KASUS
1. Apakah diagnosa pada kasus ini sudah tepat ?
Diagnosa pada kasus ini ditegakkan berdasarkan anamnesa, pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan penunjang. Dari anamnesa didapatkan bahwa pasien ini mengeluh mimisan
yang terus-menerus berupa darah segar selama 1 jam satu hari SMRS. Pasien juga
mengalami perdarahan gusi dan bibir yang tiba-tiba, timbul bintik bintik merah terlebih
dahulu pada kaki dan kemudian dalam waktu satu minggu semakin menyebar keseluruh
tubuh, mulai dari badan sampai ke tangan. Timbulnya bintik bintik ini diikuti oleh
memar yang kebiru-biruan terutama pada tungkai bawah dan lengan dan memar mudah
timbul bila pasien jatuh atau muncul tanpa sebab. Keluhan ini tidak disertai demam.
Tidak ada riwayat penggunaan obat obatan maupun transfusi sebelumya.Hal ini sesuai
dengan gambaran klinis pada penyakit ITP. Pada pemeriksaan fisik, saat pasien pertama
kali datang didapatkan kesadaran composmentis, TD 100/70 mmHg,nadi 100 x/menit,
RR 28 x/menit dan T 36,6 0C. Pada kepala, didapatkan pada mata terdapat perdarahan
subkonjungtiva kiri dan konjungtiva anemis. Pada hidung didapatkan sisa bekuan darah
(+). Pada mulut didapatkan sisa bekuan darah (+) pada mukosa bibir dalam bawah .Pada
abdomen tampak ptechiae. Pada extremitas superior dan inferior tampak ptechiae,
ekimosis dan purpura.
Pemeriksaan penunjang pada saat pertama pasien datang didapatkan Hb 10 gr/dl,
Leukosit 17.600/l, Hitung jenis 0/0/0/65/30/5, Trombosit 72.000/l.

2. Apakah penatalaksanaan pada kasus ini sudah tepat ?


Kami menyarankan pada pasien untuk tirah baring sampai 7 hari bebas demam tujuannya
adalah untuk mengistirahatkan pasien sehingga kondisi fisik pasien akan benar-benar
pulih dimana pada kasus demam thypoid mobilisasi pasien dilakukan secara bertahap

sesuai dengan pulihnya kekuatan pasien sehingga akan mencegah terjadinya komplikasi
yang lebih lanjut separi perdarahan usus dan perforasi usus.
Kami memberikan diet tinggi kalori tinggi protein, makanan yang tidak berserat, yang
tidak merangsang atau mengiritasi dan tidak menimbulkan gas adalah dengan maksud
memberikan nutrisi yang adekuat bagi penyembuhan pasien dan untuk mengistirahatkan
traktus digestivus terutama ileum terminale, sehingga komplikasi yang berat seperti
perdarahan usus dan atau perforasi usus tidak terjadi.
Kami memberikan Kloramfenikol 250 mg/6jam iv adalah dengan alasan bahwa di
Indonesia kloramfenikol terbukti masih merupakan obat pilihan utama untuk demam
thypoid dibanding obat lain. Dari segi ekonomis masih lebih unggul dan dari keefektifan
terbukti masih lebih baik daripada obat lain. Kecuali apabila penggunaan obat ini sudah
tidak sensitif lagi pada pasien, maka dapat diganti obat lain seperti thiamfenikol,
ampicillin atau antibiotik yang sensitif.
Kami memberikan kloramfenikol dengan dosis 250 mg/6jam iv karena dosis
kloramfenikol adalah 50-100mg/kgbb/hari dibagi 4 dosis, dimana berat badan pasien
adalah 18 kg, maka kami mengambil dosis 100mg/kgbb, maka 18 X 50 adalah 900
mg/hari dibagi 4 dosis menjadi 250 mg/6 jam.
Parasetamol diberikan dengan dosis 10mg/kgbb/kali pemberian, dengan berat badan 18
kg maka untuk 1 kali pemberian adalah 180 mg/X, untuk 3 kali pemberian per hari adalah
540 mg/3 kali pemberian. Dengan perhitungan 11/2 cth adalah 180 mg, maka kami
memberikan parasetamol syrup 3 dd cth 11/2.
Untuk pemberian cairan karena berat badan pasien 18 kg maka dihitung dengan rumus
1000 cc + 50 kali kelebihan bb, maka 1000 cc + (50x8), maka didapatkan 1400. Karena
suhu tubuh pada pertama masuk adalah 38,9 oC, maka kelebihan 1,9oC kami bulatkan 2
derajat celcius. Dengan rumus kelebihan 1 derajat celcius dikali 12%, dengan kelebihan 2
derajat celcius dari suhu normal maka pemberian cairan ditambah 24% dari pemberian
cairan awal.
Karena pasien setiap minum mengalami mual dan muntah, maka kami berasumsi pasien
tidak mendapatkan asupan cairan oral.

Jadi perhitungan cairannya adalah 14000 + (24%x1400) dibagi 96 maka didapatkan


(1400 + 336) dibagi 96 didapatkan 1736 dibagi 96 maka didapatkan 18 tetes/menit
dengan pembulatan. Maka kami memberikan IVFD RL 18 tetes/menit pada awal masuk.

IDIOPATHIC TROMBOCYTOPENIC PURPURA (ITP)


Ialah suatu keadaan perdarahan yang disifatkan oleh timbulnya petekia atau
ekimosis di kulit ataupun pada selaput lendir dan ada kalanya terjadi pada berbagai
jaringan dengan penurunan jumlah trombosit karena sebab yang tidak diketahui. Kelainan
pada kulit tersebut tidak disertai eritema, pembengkakan atau peradangan. Kelainan ini
dahulu dianggap merupakan suatu golongan penyakit dan disebut dengan berbagai nama
misalnya morbus makulosus werlhofi, sindrom hemogenik, purpura trombositolitik.
Disebut idiopatik ialah untuk membedakan dengan kelainan yang dapat diketahui
penyebabnya dan biasanya disertai dengan kelainan hematologis lain seperti misalnya
anemia, kelainan lekosit. Pada ITP biasanya tidak disertai anemia atau kelainan lainnya,
kecuali bila banyak darah yang hilang karena perdarahan.
Perjalanan penyakit ITP dapat bersifat akut dan kemudian akan hilang sendiri
(self limited) atau menahun dengan atau tanpa remisi dan kambuh.
Pada penelitian selanjutnya diketahui bahwa ITP merupakan suatu kelompok
keadaan dengan gejala yang sama tetapi berbeda patogenesisnya.
Etiologi
Penyebab yang pasti belum diketahui, tetapi dikemukakan berbagai kemungkinan
diantaranya ialah hiperslenisme, infeksi virus (demam berdarah, morbili, varisela dsb),
intoksikasi makanan atau obat (asetosal, PAS, fenilbutazon, diamox, kina, sedormid) atau
bahan kimia, pengaruh fisis (radiasi, panas), kekurangan faktor pematangan (misalnya
malnutrisi), DIC (misalnya pada DSS, Ieukemia, respiratory distress syndrome pada
neonatus) dan terakhir dikemukakan bahwa ITP ini terutama yang menahun merupakan
penyakit autoimun. Hal ini diketahui dengan ditemukannya zat anti terhadap trombosit
dalam darah penderita. Pada neonatus kadang-kadang ditemukan trombositopenia
neonatal yang disebabkan inkompatibilitas golongan darah trombosit antara ibu dan
bayi (isoimunisasi). Prinsip patogenesisnya sama dengan inkompatibilitas rhesus atau

ABO. Jenis antibodi trombosit yang sering ditemukan pada kasus yang mempunyai dasar
imunologis ialah anti P1E1 dan anti P1E2. Mencari kemungkinan penyebab ITP ini penting
untuk menentukan pengobatan, penilaian pengobatan dan prognosis.
Distribusi
Lebih sering dijumpai pada anak dan dewasa muda. Pada anak yang tersering
ialah di antara umur 2-8 tahun. Lebih sering terjadi pada wanita daripada laki-laki
(perbandingan berkisar di antara 4 : 3 dan 2 : 1 serta akan menjadi lebih nyata setelah
pubertas).

Kriteria Diagnosis

Trombositopenia

Sel hematopoetik lain normal

Tidak terdapat kelainan sistemik

Lien tidak teraba

Sumsum tulang normal dengan megakariosit normal atau meningkat

Gejala
Dapat timbul mendadak, terutama pada anak, tetapi dapat pula hanya berupa
kebiruan atau epistaksis selama jangka waktu yang berbeda- beda. Tidak jarang
terjadi gejala timbul setelah, suatu peradangan atau infeksi saluran nafas bagian atas akut
Kelainan yang paling sering ditemukan ialah petekia dan kemudian ekimosis
yang dapat tersebar di seluruh tubuh. Keadaan ini kadang kadang dapat dijumpai pada
selaput lendir terutama hidung dan mulut sehingga dapat terjadi epistaksis dan
perdarahan gusi dan bahkan dapat timbul tanpa kelainan kulit.
Pada ITP Akut dan berat dapat timbul pula pada selaput lendir yang berisi darah
(bula hemoragik). Gejala lainnya ialah perdarahan traktus gastrourinarius (menoragia,
hematuria); traktus digestivus (hematemesis, melena), pada mata (konjungtiva, retina) dan
yang terberat namun agak jarang terjadi ialah perdarahan pada SSP (perdarahan subdural
dan lain-lain). Pada pemeriksaan fisis umumnya tidak banyak dijumpai kelainan
kecuali adanya petekia dan ekimosis. Pada kira-kira seperlima kasus dapat dijumpai

splenomegali ringan (terutama pada hipersplenisme). Mungkin pula ditemukan demam


ringan bila terdapat perdarahan berat atau perdarahan traktus gastrointestinalis. Renjatan
(shock) dapat terjadi bila kehilangan darah banyak.
Pada ITP menahun, umumnya hanva ditemukan kebiruan atau perdarahan
abnormal lain dengan remisi spontan dari eksaserbasi. Remisi yang terjadi umumnya
tidaklah sempurna. Harus waspada terhadap kemungkinan ITP menahun sebagai gejala
stadium praleukemia.

Pemeriksaan laboratorium
Yang khas ialah trombositopenia. Jumlah trombosit dapat mencapai nol atau
kurang dari 10.000/uL. Anemia biasanya normositik dan sesuai dengan jumlah darah
yang hilang. Bila telah berlangsung lama maka dapat berjenis mikrositik hipokromik.
Bila sebelumya terdapat perdarahan yang cukup hebat, dapat terjadi anemia
mikrositik. Leukosit biasanya normal, tetapi bila terdapat perdarahan hebat dapat
terjadi leukositosis ringan dengan pergeseran ke kiri. Pada keadaan yang lama dapat
ditemukan limfositosis relatif atau bahkan leukopenia ringan.
Sumsum tulang biasanya memberilkan gambaran yang normal, tetapi jumlah
dapat

pula

bertambah,

banyak

dijumpai

megakariosit

muda

berinti

metamegalialuariosit satu, setoplasma lebar dan granulasi sedikit (megakariosit yang


mengandung trombosit) jarang ditemukan, sehingga terdapat maturation arrest pada
stadium megakariosit. Saat ini, telah terdapat uji kuantitatif platelet-terkait
IgG, yang mungkin dapat membantu diagnosis. Meskipun sensitivitasnya
cukup tinggi (95%), uji ini sangat tidak spesifik, karena 50% dari semua pasien
trombositopenia dengan berbagai penyebab, dapat mengalami peningkatan
kadar IgG platelet.
Sistem lain biasanya normal, kecuali bila terdapat perdarahan hebat maka
akan ditemukan hiperaktif sistem eritropoetik. Beberapa penyeli dik beranggapan
bahwa ditemukannya eosinofil dalam jumlah banyak (lebih dari normal)
merupakan petunjuk bahwa prognosis penyakit baik.
Selain kelainan hematologis di atas, mekanisme pembekuan memberikan
kelainan berupa masa perdarahan memanjang, Rumpel-leede umumnya

positif, tetapi masa pembekuan normal, retraksi bekuan ab normal dan


prothrombin consumption time memendek. Pemeriksaan lainnya normal.

Diagnosis Banding
Trombositopenia dapat ditimbulkan karena abnormalitas fungsi sumsum
tulangmaupun oleh destruksi perifer. Meskipun sebagian besar gangguan sumsum tulang
menimbulkan kelainan selain trombositopenisa, diagnosis seperti mielodisplasia hanya
dapat disingkirkan melalui pemeriksaan sumsum tulang. Penyebab lain trombositopenia
yang ditimbulkan oleh destruksi perifer sebagian besar dapat disingkirkan pada evaluasi
awal. Kelainan seperti disseminated intravascular coagulation (DIC), thrombotic
thrombocytopenic purpura (TTP), sindrom hemolitik-uremik, hipersplenisme, dan sepsis
secara mudah disingkirkan dengan tidak ditemukannya gangguan sistemik pada
Trombositopenia Purpura Idiopatik. Jadi, pasien dengan trombositopenia tanpa
temuan abnormal yang lain hampir pasti mempunyai trombositopenia imun.
Pasien harus ditanya mengenai penggunaan obat, terutama sulfonamid, kinin,
thiazid, simetidin, emas, dan heparin. Saat ini, heparin merupakan penyebab
tersering trombositopenia yang diinduksi obat pada pasien rawat inap. Systemic
lupus erithematosus (SLE) dan leukemia limfositik kronis sering menyebabkan
purpura

trombositopenia

sekunder,

yang

secara

hematologis

identik

Trombositopenia Purpura Idiopatik.


Pengobatan.
1.ITP akut
a. Tanpa pengobatan, karena dapat sembuh secara spontan.
b. Pada keadaan yang berat dapat diberikan kortikosteroid (prednison)
peroral dengan atau tanpa transfusi darah.
Bila setelah 2 minggu tanpa pengobatan belum terlihat tanda kenaikan
jumlah trombosit, dapat dianjurkan pemberian kortikos teroid karena
biasanya perjalanan penyakit sudah menjurus kepada ITP menahun.
c. Pada trombositopenia yang disebabkan oleh DIC, dapat diberikan heparin
intravena. Pada pemberian heparin ini sebaiknya selalu disiapkan

dengan

antidotumnya yaitu protamin sulfat.


d. Bila keadaan sangat gawat (perdarahan otak) hendaknya diberlkan tranfusi
suspensi trombosit.
2 . ITP menahun
a. Kortikosteroid, diberikan selama 6 bulan
b. Obat imunosupresif (misal 6-merkaptopurin, azatioprin,siklofosfamid).
Pemberian obat golongan ini didasarkan atas adanya pe ranan proses
imunologis pada ITP menahun.
c. Splenektomi dianjurkan bila tidak diperoleh hasil dengan Penambahan
obat imunosupresif se!ama 2-3 bulan. Kasus seperti ini dianggap telah
resisten terhadap prednison dan obat imunosupresif, sebagai akibat
produksi antibodi terhadap trombosit yang berlebihan oleh limpa.
Splenektomi seharusnya dikerjakan dalam waktu 1 tahun sejak
permulaan timbulnya penyakit, karena akan memberlkan angka remisi
sebesar 60-80%. Splenektomi yang dilakukan terlambat hanya
memberikan angka remisi sebesar 50%.

Splenektomi adalah terapi definitif untuk Trombositopenia Purpura Idiopatik,


sebagian besar pasien dewasa pada akhirnya akan menjalani splenektomi. Terapi
prednison dosis tinggi tidak harus dilanjutkan secara tak terbatas dalam upaya
menghindari operasi/pembedahan. Splenektomi diindikasikan jika pasien tidak
berespon pada terapi awal prednison atau membutuhkan dosis tinggi yang tidak
dapat diterima pasien untuk menpertahankan angka platelet yang adekuat. Alasan yang
lain mungkin pasien tidak dapat mentoleransi prednison atau lebih memilih alternatif
pembedahan. Splenektomi aman dilakukan dengan angka platelet kurang dari
10.000/L. Sekitar 80% pasien mengalami keberhasilan terapi splenektomi,
derigan remisi baik komplet maupun parsial.

Indikasi splenektomi :
-

Resisten setelah pemberian kombinasi kortikosteroid dan obat


imunosupresif selama 2-3 bulan.

Remisi spontan tidak terjadi dalam waktu 6 bulan pemberian


kortikosteroid saja dengan gambaran klinis sedang sampai berat.

Penderita yang menunjukkan respon terhadap kortikosteroid namun

memerlukan dosis yang tinggi untuk mempertahankan keadaan klinis


yang baik tanpa adanya perdarahan.

Indikasi kontra splenektomi :


Sebaiknya splenektomi dilakukan setelah anak berumur lebih dari 2 tahun,
karena sebeium umur 2 tahun fungsi limpa terhadap infeksi belum dapat diambil alih
oleh alat tubuh yang lain (hati, kelenjar getah bening, timus). Hal ini hendaknya
diperhatikan, terutama di negeri yang sedang berkembang karena mortalitas dan
morbiditas akibat infeksi masih tinggi.

Imunoglobulin
Imunoglobulin intravena dosis tinggi, 400 mg/kg/hari selama 3-5 hari, sangat
efektif untuk menaikkan angka platelet dengan cepat. Respon yang dicapai sampai 90%,
angka platelet akan naik dalam 1-5 hari. Meskipun demikian, terapi ini mahal, dan
efeknya hanya bertahan 1-2 minggu. Terapi imunoglobulin sebaiknya diberikan pada
perdarahan

emergensi

atau

seperti

pada

situasi

menyiapkan

pasien

trombositopenia berat untuk operasi.


Untuk pasien yang gagal merespon prednison dan splenektomi,
dapat digunakan danazol, 600 mg/hari, yang dapat memberikan respon pada
sekitar separuh kasus. Agen imunosupresif digunakan pada kasus-kasus yang
gagal diterapi dengan cara lain, antara lain vinkristin, infus vinblastin,
azatioprin, siklosporin, dan siklofosfamid.

Transfusi platelet jarang digunakan dalam terapi Trombositopenia


Purpura Idiopatik, karena platelet eksogen tidak akan bertahan lebih baik
dibanding platelet dalam tubuh pasien dan hanya akan bertahan dalam beberapa
jam. Transfusi platelet sebaiknya diberikan pada kasus perdarahan yang mengancam
nyawa.

Dosis obat yang dipakai


Prednison : 2-5 mg/kgbb/hari peroral. Hati-hati terhadap akibat samping
karena pemberian yang lama (tuberkulosis, penambahan kalium dan pengurangan
natrium dalam diet, pemberian ACTH pada waktu tertentu).
Merkaptopurin : 2,5-5 mg/kgbb/hari peroral.
Azatioprin (imuran) : 2-4 mg/kgbb/hari peroral.
Siklofosfamid (Endoxan) : 2 mg/kgbb/hari peroral

Heparin : 1 mg/kgbb intravena, dilanjutkan dengan dosis 1 mg/kgbb perinfus setiap


4 jam sampai tercapai masa pembekuan lebih dari 30 menit (1 mg ekuivalen dengan
100 U)
Protamin sulfat : dosis sama banyaknya dengan jumlah mg heparin yang telah
diberikan. Pemberiannya secara intravena.
Transfusi darah : umumnya 10-15 ml/kgbb/hari. Dapat diberikan lebilh banyak
pada perdarahan yang masif.

Prognosis
Pada ITP akut bergantung kepada penyakit primernya. Bila penyakit
primernya ringan, 90% akan sembuh secara spontan. Prognosis ITP mcnahun
kurang baik, terutama bila merupakan stadium praleukemia karena akan berakibat

fatal. Pada ITP menahun yang bukan merupakan stadium praleukemia, bila
dilakukan splenektomi pada waktunya akan didapatkan angka remisi sekitar 90%,
splenektomi menjadi terapi definitif. . Perhatian utama selama fase inisial
adalah perdarahan serebral, yang merupakan suatu risiko jika angka platelet
kurang dari 5.000/L. Pasien ini biasanya menunjukkan tanda perdarahan
mukosa. Meski demikian, walaupun angka platelet sangat rendah, perdarahan yang
fatal jarang ditemukan.

DAFTAR PUSTAKA

Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI. Buku Kuliah Ilmu Kesehatan
Anak 1. Infomedika : Jakarta. 1985.

Lawrence dkk. Buku Diagnosis dan Terapi Kedokteran ( Ilmu Penyakit


Dalam). Jakarta.