Anda di halaman 1dari 4

BAB III

ANALISA KASUS

Penegakkan diagnosis eritroderma didasarkan pada anamnesis, gejala


klinis, dan status dermatologikus pasien. Berdasarkan anamnesa yang telah
didapatkan, diagnosa merujuk kepada eritroderma yang ditandai dengan bercak
eritem yang cepat sekali meluas dan terasa gatal. Pada pasien ini ditemukan
adanya kelainan kulit yang ditandai adanya skuama hiperpigmentasi kasar selapis
pada seluruh tubuh dengan dasar kulit eritem. Sesuai dengan definisinya bahwa
eritroderma ialah penyakit kulit yang ditandai dengan adanya kemerahan seluruh
tubuh atau hamper seluruh tubuh (> 90% luas tubuh), dapat disertai skuama atau
tidak (Kartowigno, 2012). Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa
pasien ini mengalami kelainan kulit berupa eritroderma.
Pada

eritroderma,

tidak

dibutuhkan

diagnosa

banding,

hanya

membandingkan kausa dari eritroderma tersebut, yaitu:


1. Perluasan penyakit, berupa dermatitis (kontak/atopik) dan psoriasis
2. Drug eruption
Berdasarkan data yang didapat melalui anamnesis, pasien mengeluh
tubuhnya menjadi bengkak-bengkak yang dimulai dari kedua kelopak mata, lalu
ke wajah, tangan, perut sampai ke kaki. Keluhan bengkak ini disertai perasaan
gatal dan perubahan warna kulit menjadi merah seperti kepiting rebus setelah
pasien mengkonsumsi obat-obatan yang diberikan oleh mantri sejak 2 minggu
sebelum masuk rumah sakit. Pasien tidak mengetahui apa merk obat yang
diberikan, namun pasien mengingat bahwa ia diberi 4 macam obat, diantaranya
adalah obat 1 dan 2 berupa tablet kecil berwarna kuning, obat 3 berupa kapsul
berwarna merah-biru dan obat 4 berupa tablet besar berwarna biru. Satu minggu
kemudian atau 1 minggu sebelum masuk rumah sakit, keluhan yang dirasa
semakin memberat. Pasien juga mengeluh demam yang naik-turun. Demam dirasa
terutama pada malam hari atau bila cuaca dingin. Warna kulit berubah dari merah
muda menjadi merah gelap. Sesudah satu minggu dimulai gejala eksfoliasi
(pembentukan skuama) yang khas dan biasanya dalam bentuk serpihan kulit yang

Case Report Stase Ilmu Kulit dan Kelamin |

"Eritroderma ec
Drug Eruption

21

halus yang meninggalkan kulit yang licin serta berwarna merah dibawahnya:
gejala ini disertai dengan pembentukan sisik yang baru ketika sisik yang lama
terlepas.
Secara klinis dapat dijumpai salah satu gejala akibat alergi obat berupa
eritem yang timbul secara luas diseluruh permukaan tubuh. Kemerahan pada kulit
terjadi akibat melebarnya pembuluh darah. Warna merah akan hilang pada
penekanan. Secara pemeriksaan fisik ditemukan lesi kulit berupa skuama
hiperpigmentasi kasar selapis, universal, berukuran plakat dengan bentuk tidak
teratur, berbatas jelas dengan dasar eritem. Hal ini menggambarkan salah satu
bentuk klinis dari erupsi alergi obat. Untuk menentukannya diperlukan anamnesis
yang teliti, yang dimaksudkan alergi obat secara sistemik adalah masuknya obat
ke dalam badan dengan cara apa saja, misalnya melalui mulut, hidung dengan cara
suntikan/infus, melalui rectum dan vagina. Selain itu alergi dapat pula terjadi
karena obat mata, obat kumur, tapal gigi, dan melalui kulit sebagai obat luar
(Djuanda, 2010).
Pada pemeriksaan dermatologis, tidak didapatkan adanya fenomena
Koebner (yakni munculnya lesi-lesi baru akibat trauma fisis disekitar lesi lama),
tanda Auspitz (adanya bercak kemerahan akibat terkelupasnya skuama yang ada)
juga positif, fenomena tetesan lilin (bila ada skuama digaruk, maka timbul warna
putih keruh seperti tetesan lilin) sehingga menyingkirkan diagnosa eritroderma
ec psoriasis. Dermatitis seboroik merupakan dermatitis yangterjadi pada daerah
seboroik (daerah yang banyak mengandung kelenjar sebasea/lemak), seperti batok
kepala, alis, kelopak mata, lekukan nasolabial, dengan kelainan kulit berupa lesi
dengan batas tak teratur, dasar kemerahan, tertutup skuama agak kuning dan
berminyak. Tidak ditemukannya skuama agak kuning dan berminyak pada pasien
ini menyingkirkan diagnosis eritroderma e.c dermatitis seboroik dari diagnosa
kerja. Dermatitis kontak alergi merupakan dermatitis yang terjadi setelah adanya
kontak dengan suatu bahan secara imunologis. Reaksi ini termasuk reaksi
hipersensitivitas

lambat

tipe

IV.

Wujud

kelainan

kulit

bisa

berupa

eritem/edema/vesikel yang bergerombol atau vesikel yang membasah, disertai


rasa gatal. Bila kontak berjalan terus, maka dermatitis ini dapat menjalar ke
daerah sekitarnya dan ke seluruh tubuh. Namun karena riwayat gatal-gatal akibat
Case Report Stase Ilmu Kulit dan Kelamin |

"Eritroderma ec
Drug Eruption

22

makanan tertentu disangkal, maka dapat menyingkirkan diagnosis eritroderma e.c


dermatitis kontak alergi.
Berdasarkan

hasil

anamnesis

dan

gejala

klinisnya

maka

kami

menyimpulkan bahwa eritroderma yang terjadi pada pasien ini disebabkan oleh
erupsi alergi obat yang meluas.
Terdapat dua bentuk tatalaksana yaitu secara umum dan khusus. Tujuan
penatalaksanaan eritroderma adalah untuk mempertahankan keseimbangan cairan
serta elektrolit dan mencegah infeksi tetapi bersifat individual serta suportif dan
harus segera dimulai begitu diagnosisnya ditegakkan. Pasien harus dirawat
dirumah sakit dan harus tirah baring. Suhu kamar yang nyaman harus
dipertahankan karena pasien tidak memiliki kontrol termolegulasi yang normal
sebagai akibat dari fluktuasi suhu karena vasodilatasi dan kehilangan cairan
melalui evaporasi.
Tatalaksana secara umum yang harus dilakukan adalah menghentikan
segera pengkonsumsian obat-obatan sebelumnya; diet tinggi protein dikarenakan
kehilangan skuama yang berlebih dapat mengakibatkan kehilangan protein tubuh,
selain itu kondisi pasien yang edem anasarka menunjukan kadar protein tubuh
berkurang. Kebutuhan maintenance protein pada kondisi normal untuk usia 30-49
tahun yaitu sebesar 64,5 gram. Pada pasien dengan eritroderma, kebutuhan
diperlukan diet tinggi protein yaitu sebesar 130% dari kebutuhan normal, maka
pada pasien ini dibutuhkan diet protein sebesar 83,85 gram; menjaga balans cairan
tubuh sehingga tidak memperparah kondisi edem pasien.
Gejala eritroderma disertai dengan pembentukan sisik yang baru ketika
sisik yang lama terlepas. Kerontokan rambut dapat menyertai kelainan ini
eksaserbasi sering terjadi. Efek sistemiknya mencakup gagal jantung kongestif
high-output, gangguan intestinal, pembesaran payudara, kenaikan kadar asam urat
dalam darah (hiperurisemia) dan gangguan temperatur. Peningkatan perfusi darah
kulit muncul pada

eritroderma

yang

menyebabkan

disregulasi

temperatur

(menyebabkan hipotermia) dan kegagalan output jantung. Kadar metabolic basal


meningkat sebagai kompensasi dari kehilangan suhu tubuh. Epidermis yang matur
secara cepat kegagalan kulit untuk menghasilkan barier permeabilitas efektif di

Case Report Stase Ilmu Kulit dan Kelamin |

"Eritroderma ec
Drug Eruption

23

stratum korneum. Ini akan menyebabkan kehilangan cairan transepidermal


yang berlebihan. Normalnya kehilangan cairan dari kulit diperkirakan 400 ml
setiap hari dengan dua pertiga dari hilangnya cairan ini dari proses transpirasi
epidermis. Kekurangan barier pada eritroderma ini menyebabkan peningkatan
kehilangan cairan ekstrarenal. Kehilangan cairan transepidermal sangat tinggi
ketika proses pembentukan sisik (scaling) memuncak dan menurun 5-6 hari
sebelum sisik menghancur. Hilangnya sisik eksfoliatif yang bias mencapai 20-30
gr/hari memicu kapada timbul kaedaan hipoalbuminemia yang biasa dijumpai
pada dermatitis exfoliatif. Hipoalbuminemia yang muncul harus diterapi dengan
diet tinggi protein. Edema biasanya paling sering ditemukan, biasanya akibat
peralihan cairan ke ekstrasel.
Tatalaksana secara khusus untuk pengobatan eritroderma adalah dengan
pemberian kortikosteroid. Pada kasus eritroderma akibat alergi obat secara
sistemik diberikan prednison 3 x 10 mg sampai 4 x 10 mg sehari (Djuanda, 2010).
Pada kasus ini kami memilih terapi prednison 3 x 10 mg sehari. Pada pasien ini
ditemukan keluhan gatal-gatal, oleh karena itu kami memberikan antipruritus
berupa Cetrizin 1 x 10 mg sehari. Berdasarkan hasil laboratorium darah rutin
ditemukan leukositosis dengan jumlah 16.700 /ul (normal 4.500-10.700/ul). Hal
ini menunjukkan adanya proses infeksi. Menurut Djuanda, jenis antibotik
golongan penisilin dan derivatnya sering menyebabkan reaksi alergi obat, maka
kami memberikan antibiotik berupa Ceftriaxon 1 g/12 jam. Untuk mengurangi
radiasi akibat vasodilatasi oleh eritema, maka kami juga memberikan terapi
topikal berupa emolien linolin 10%. Selain itu, Djuanda mengatakan bahwa
eritroderma yang termasuk golongan I yakni karena alergi obat sistemik,
prognosisnya baik.

Case Report Stase Ilmu Kulit dan Kelamin |

"Eritroderma ec
Drug Eruption

24