Anda di halaman 1dari 15

Analisis Pengaruh Harga Premium Dan Pengetahuan Ekologikal Terhadap

Niat Beli Green Cosmetics (Studi Kasus pada The Body Shop Pontianak)

Wenny Pebrianti
Universitas Tanjungpura Pontianak

ABSTRAK

This study aims to empirically study the impact of variable Premium Price and ecological knowledge
Intention To Buy Green Cosmetics. Studied Cosmetics Cosmetics The Body Shop is Pontianak, the respondent is
taken from the user Green Cosmetics The Body Shop in the city of Pontianak. This study uses a survey by consumer
research object Green Cosmetics The Body Shop domiciled in the city of Pontianak. The number of samples in this
study were as many as 100 people.
The variables in this study included three independent variables (X), which is a premium price (X1) and
Knowledge ekoligikal (X2) In contrast, the dependent variable (Y) is only one purchase intention. From the
calculation of multiple regression analysis using the SPSS 20 program obtained regression equation is Y = 0,032 +
0,434 + 6,941. Based on the analysis results, it can be seen partially independent variable is the variable Price
Premium (X1), has a positive but not significant effect on Intention Buy (Y). While ecological knowledge (X2), has a
significant influence Intention terhdadap Buy (Y). While simultaneously, that the variable Price Premium (X1), and
ecological knowledge (X2) has the effect of simultaneously or jointly to Buy Intention (Y).
Keywords : Premium Price, Ecological Knowledge, Intention to Buy

PENDAHULUAN

Dalam perkembangan jaman yang terus berubah, manusia telah mengalami banyak
perkembangan periode waktu yang dilewatinya. Selama perkembangan itu, manusia
selalu mendapatkan berbagai perubahan dalam berbagai bidang termasuk gaya hidup.
Menurut Kotler (2002) gaya hidup adalah: Gaya hidup adalah pola hidup
seseorang didunia yang diekspresikan dalam aktivitas, minat, opininya dan gaya
hidup menggambarkan keseluruhan dari seseorang dalam berinteraksi dengan
lingkungannya serta Kehidupan sosial, teknologi canggih, serta penampilannya
adalah gaya hidup yang selalu berjalan seiring perkembangan jaman.

Gaya hidup konsumtif masyarakat modern terutama kaum perempuan dalam


pencarian produk untuk menunjang penampilannya memacu kegiatan produksi
massal tanpa memperhatikan efek buruk yang akan mempengaruhi masa depan
generasi selanjutnya. Bumi kita sedah semakin tua dan rapuh secara terus menerus
disedot kekayaannya tanpa berpikir panjang tantang keberlanjutannya. Dan semakin
dirusak oleh limbah hasil produksi.

Berdasarkan hasil pemeriksaan pihak BPOM dalam beberapa lokasi penjualan


jamu dan kosmetik ditemukan lebih dari 100 produk kosmetik yang dijadikan barang
sita karena tidak memiliki ijin edar, kadaluarsa, dan mengandung zat-zat berbahaya.
Penggunaan kosmetik berbahaya tidak mengancam keselamatan penggunaanya
namun keselamatan lingkungan. Limbah dari produk berbahan dari kimia dapat

mengakibatkan terkikisnya lapisan ozon. Hal itu dapat menjadi salah satu pemicu
terjadinya pemanasan global.

Scientific Adviser Dr Paul Alan Cox menyebutkan produk kosmetik yang ramah
lingkungan bukan hanya terbuat dari bahan alami, tapi pengerjaannya pun harus
dilakukan tanpa membahayakan lingkungan. Dr Cox juga menjelaskan bahwa
terdapat dua macam green cosmetics, yakni kosmetika natural dan organik.
Kosmetik natural memakai bahan alami, namun masih menggunakan bahan
kimia. Sementara kosmetik organik dibuat dari bahan-bahan alami yang
dikembangbiakkan dalam standar organik. Dalam kosmetik natural,dosis bahan kimia
masih dalam kategori aman.Fungsinya untuk meningkatkan performa kosmetik itu
sendiri. Sementara standar dalam kosmetik organik, berarti tumbuhan yang digunakan
sebagai bahan baku kosmetik tersebut tidak disemprot dengan pestisida atau tidak
menggunakan pupuk kimia.

Karena prosesnya yang sangat alami,kosmetik organik diklaim lebih berkhasiat


dari kosmetik natural karena mengandung antioksidan 40% lebih banyak.Sementara
dibanding kosmetik dengan senyawa kimia tinggi, green cosmetics lebih cepat
diserap tubuh karena sifat bahan-bahannya yang alami.Keuntungan lainnya, dengan
menggunakan green cosmetics, maka kita bisa mengurangi paparan bahan kimia pada
kulit. Bahkan sebuah perusahaan survei di Amerika menyebutkan ,peminat produk

kosmetik dan perawatan organik meningkat sebesar 37% di tahun 2012 di kalangan
wanita berusia di bawah 35 tahun.

Dari latar belakang masalah yang telah diuraikan dapat dirumuskan permasalahan
apakah variabel Harga Premium dan Pengetahuan Ekologikal secara bersama-sama
(simultan) dan secara terpisah (parsial) berpengaruh signifikan terhadap Niat Beli
pada konsumen Green Cosmetics The Body Shop di Kota Pontianak.

LANDASAN TEORI

1.

Pengertian pemasaran
Pemasaran mempunyai peranan sangat penting dalam pengembangan dan
mempertahankan kelangsungan hidup suatu perusahaan. Memasarkan produk
atau jasa sebanyak-banyaknya dan diterima oleh konsumen merupakan salah
satu tujuan dari setiap perusahaan dan itu merupakan tanggung jawab dari
pemasaran.Kegiatan pemasaran ini, bertujuan untuk memperlancar arus barang
atau jasa dari perusahaan sampai kekonsumen secara efektif dan efisien.
Menurut Kotler (2005:10) definisi dari pemasaran adalah:Pemasaran
adalah sebagai suatu proses sosial yang didalamnya individual dan kelompok
mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan,
menawarkan, dan secara bebas mempertukarkan produk yang bernilai dengan
pihak lain.

2.

Harga premium
Harga adalah sesuatu yang dikorbankan konsumen untuk mendapatkan
suatu produk.Harga adalah sebuah titik temu dari biaya produksi dan
permintaan konsumen.
Menurut Suharno dan sutarso (2010:177) pengertian harga secara luas
adalah :sejumlah pengorbanan yang diperlukan untuk mendapatkan suatu
produk. Jika produk yang ditawarkan adalah produk biasa atau tidak memiliki
karakteristik yang unik dan berbeda cenderung murah, sedangkan produk yang
memiliki keunikan atau karakteristik lebih akan membuat produk tersebut
mampu memiliki harga yang lebih tinggi.

3.

Pengetahuan ekologikal
Menurut Alba dan Hutchingson. (1999) pengetahuan ekologikal adalah
Pengetahuan

ekologikal

adalah

dikenalsebagai

karakteristik

yang

memepengaruhi semua fase dalam proses pengambilan keputusan, secara


spesifik pengetahuan adalah konstruk yang relevan dan penting yang
mempengaruhi bagaimana konsumen mengumpulkan dan mengatur informasi.
Pengetahuan ekologikal yang juga disebut sebagai ekoliteris merupakan
konsumen untuk mengidentifikasi atau mendifinisikan sejumlah simbol,
konsep, perilaku berkaitan dengan permasalahan lingkunagn ekologikal
(Laroche et al. (1999). Definisi pengetahuan lingkungan menurut Chan (2002)
adalah tingkatan seberapa besar emosionalitas atau seseorang individu dalam
memahami dan mengetahui tentang isu-isu lingkungan.

4.

Niat beli
Keputusan dalam memilih suatu produk memang keputusan yang
dilematis.Ada berbagai aspek yang harus dipertimbangkan dalam memutuskan
hal tersebut. Mulai dari biaya, target yang akan dituju, proses mengikatkan
ekuitas sebuah brand pada ekuitas model, dan yang tidak kalah penting adalah
adanya niat (intention) dari konsumen.

Beberapa pengertian dari niat beli (Setiawan dan Ihwan, 2004 dalam lestari,
2012:25) adalah sebagai berikut:

1.

Niat beli juga mengindikasikan seberapa jauh orang mempunyai kemauan


untuk membeli.

2.

Niat beli menunjukkan pengukuran kehendak seseorang dalam membeli.

3.

Niat beli berhubungan dengan perilaku membeli yang terus menerus.


Niat beli konsumen merupakan suatu kegiatan individu atau konsumen
yang secara langsung terlibat dalam mendapatkan dan mempergunakan barang
yang ditawarkan.

METODE PENELITIAN

Penyebaran kuesioner penelitian ini dilakkan dikota Pontianak sebagai kota


metropolitan di Kalimantan barat, sebagai pertimbangan penentuan kota tersebut
karena Pontianak sebagai kota yang tingkat pupolasinya realatif tinggi dibandingkan
dengan daerah lain di Kalimantan barat. Pemilihan daerah kota Pontianak

berdasarkan pada

pertimbangan

bahwa

kota

Pontianak

merupakan

pusat

pemerintahan, dan pusat perekonomian di kalimatantan barat dan bersifat


multukultur. Pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah non
probabilistik sampling, yaitu setiap elemen dalam populasi tidak memiliki
probabilitas yang sama untuk menjadi sampel (Cooper & Emory, 1995 ; Coper &
Schlinder, 2001). Kriteria pengambilan sampel purposif.Subjek penelitian ini adalah
konsumen yang memiliki pemahaman atau informasi tentang green cosmetics The
Body Shop. Sampel yang diambil berjumlah 100 responden, yaitu masyarakat kota
Pontianak secara random dari semua kalangan masyarakat.

HASIL PENELITIAN

Dalam penelitian ini menunjukan bahwa banyak responden megkonsumsi


produk green cosmetict atau koresponden yang mendominasi disini adalah
mahasiswa dengan jumlah koresponden sebanyak 57 orang atau 57,6%. Selanjutnya
adalah pegawai swasta sebanyak 18 koresponden atau 18,2%. Ditempat ketiga adalah
wirausaha yang berjumlah 12 orang atau 12,1%. Selanjutnya adalah pegawai PNS
yang berjumlah 10 orang atau 10,0%. Yang paling kecil adalah dari kelas lain-lain
sebanyak 2 orang atau 2,0%. Dapat dikatakan bahwa penelitian ini didominasi oleh
para mahasiswa,dikarenakan produk The Body Shop bervariasi jenisnya sesuai
dengan kebutuhan mahasiswa.

Temuan lain dalam penelitian ini, menunjukan bahwa untuk memenuhi


kbtuhan konsumsi produk green cosmetict The Body Shop yang membelinya di
Outlet Resmi sebanyak(78,9%) 78 respoden dan memalui online (16,2%),
Resseler Catalog (3,0%) dari 100 resonden terdata.

Tabel 3.10
Tabel Reliability
Variable

Cronbach alpha

Harga Premium

0,760

Pengetahuan Ekologikal

0,741

Niat Beli

0,731

Sumber : data hasil olahan, 2013


Dapat diketahui bahwa nilai Cronbach Alpha dari variabel harga premium
(PR) adalah 0,760, artinya dapat diterima.Variabel kedua, yaitu pengetahuan
ekologikal (KN) juga menujukan nilai Cronbach Alpha 0,741, artinya dapat
diterima.Terakhir adalah variabel niat beli (INT) yang memiliki nilai hitung
Cronbach Alpha 0,731yang juga bisa diterima. Dari output yang dihasilkan
maka semua nilai Cronbach Alpha dari ketiga variabel sudah memasuki kondisi
reliabel.

PEMBAHASAN

Tabel 3.11
Koefesien determinasi
Model Summaryb
Model

R Square

Adjusted R
Square

Std. Error of the


Estimate

,438a

,192

,175

2,496

a. Predictors: (Constant), KN, PR


Sumber : data hasil olahan 2013

Adjusted R Square yang telah disesuaikan disini memiliki nilai sebesar 0,175,
yang artinya menunjukan sumbangan pengaruh variabel independen terhadap variabel
dependen 0,175. Adjusted R Square biasanya untuk mengukur sumbangan pengaruh
jika dalam regresi menggunakan lebih dari dua variabel independen. Hasil hitung
disini akan diubah dalam bentuk persentase. Sumbangan pengaruh dua variabel
independen adalah sebesar 17,5%, sehingga variasi variabel independen disini
mampu menjelaskan sebesar 17,5% variasi dependen. Sedangkan sisanya sebesar
82,5% dipengaruhi dan dijelaskan oleh variabel lain.

Tabel 3.12
Hasil Regresi Berganda
Coefficientsa
Model

Unstandardized Coefficients

Standardized
Coefficients
t

Sig.

2,861

,005

Std. Error

(Constant)

6,941

2,426

PR

,028

,083

,032

,343

,732

KN

,242

,051

,434

4,717

,000

a.Dependent

Beta

Variable: INT

Sumber : data hasil olahan, 2013

Dalam penelitian ini, hanya ada 2 variabel independen, yaitu harga


premium (X1) dan pengetahuan ekologikal (X2). Nilai nilai pada ouput
kemudian dimasukan kedalam persamaan regresi linear berganda sebagai
berikut:
Y = a + b1 + b2+

Y = 6,941 + 0,028 + 0,242

- Nilai konstansta sebesar 6,941 yang artinya jika harga premium (X1) dan
pengetahuan ekologikal (X2) nilainya 0, maka niat beli (Y) adalah 6,941
- Nilai koefesien regresi variabel harga premium (X 1) adalah 0,028 dan bernilai
positif. Artinya jika ada peningkatan sebesar 1 dengan asumsi variabel
independen pengetahuan ekologikal (X2) tidak mengalami perubahan atau

tetap, maka nilai niat beli atau Y sebagai variabel dependen juga akan
meningkat sebesar 0,028. Teradapat hubugan positif tapi tidak signifikan
antara harga premium dan niat beli, sehingga semakin menaik nilai harga
premium juga akan menaikan nilai niat beli.
- Nilai koefesien regresi variabel pengetahuan ekologikal (X2) adalah 0,242 dan
berniali positif. Artinya jika ada peningkatan sebesar 1 dengan asumsi tidak
terjadi perubahan pada variabel harga premium (X2), maka nilai niat beli atau
Y juga akan naik sebesar 0,242. Hubungan yang terjadi adalah positif,
sehingga semakin menaik nilai pengetahuan ekologikal, maka akan menaikan
nilai niat beli.

PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan analisis yang telah dijelaskan
sebelumnya, maka dapat dijelaskan sebagai berikut:

1.

Harga Premium (PR) memiliki pengaruh yang tidak signifikan teradap niat
beli (INT) produk The Body Shop. Hasil uji menunjukan bahwa nilai t hitung
< t tabel yaitu 0,343 < 1.987, sehingga Ha ditolak atau tidak terdapat pengaruh
yang signifikan antara harga premium terhadap niat beli produk green
cosmetics The Body Shop.

2.

Pengetahuan Ekologikal(KN) memiliki pengaruh yang sangat signifikan


terhadap niat beli (INT) produk The Body Shop. Hasil uji menunjukan bahwa
nilai t hitung > t tabel yaitu 4,717> 1,987, sehingga Ha diterima atau terdapat
hubungan yang signifikan antara pengetahuan ekologikal terhadap niat beli
produk The Body Shop.

3.

Harga premium (PR) dan Pengetahuan Ekologikal (KN) secara bersama-sama


memiliki hubungan yang signifikan terhadap niat beli (INT) green cosmetics
The Body Shop. Hasil uji menunjukan nilai F hitung > F tabel yaitu 11,386 >
3,940, sehingga Ha diterima atau terdapat hubugan yang signifikan antara
harga premium dan pengetahuan ekologikal terhadap niat beli green cosmetics
The Body Shop.

B. Saran
Setelah melakukan penelitian mengenai pengaruh harga premium dan
pengetahuan ekologikal terhadap niat beli produk green cosmetics The Body
Shop, peneliti menyarankan :

1.

Adanya peran aktif dari pemerintah, produsen dan pihak lain dalam sosialisasi
produk green cosmetics kepada masyarakat mengenai pentingnya produk
green cosmeticsbagi lingkungan dan kesahatan.

2.

Upaya peningkatan pengetahuan konsumen terhadap produk The Body Shop


tersebut dapat dilakukan melalui peningkatan intensitas kegiatan-kegiatan

yang berhubungan dengan masyarakat sehingga citra dan kredebilitas


perusahaan dapat terus terjaga. Peningkatan citra tentunya dapat dilakukan
melalui program Coparate Social Responsibility (CSR) seperti yang sudah
dilakukan sebelumnya, misalnya adalah yang pernah dilakukan The Body
Shop di Indonesia

melalui

kerja

sama

dengan Studio Tana, Perigi,

Tangerang, mendaur ulang hampir seluruh kertas kerja di kantornya menjadi


produk paper-clay (campuran kertas dan tanah liat, dan kemasan kertas daur
ulang).
3.

Lebih aktif lagi dalam menyempaikan informasi mengenai kegiatan sosial


atau program-program CSR The Body Shop. Untuk memberkan pengetahuan
mengenai kegiatan-kegiatan sosial The Body Shop tersebut sehingga dapat
membantu menyakinkan pelanggan The Body Shop peduli lingkungan.

DAFTAR PUSTAKA

Alba, Joseph W, and J. Wesley Hutchinson (2001),Dimensions of Consumer Expertise, Journal of Consumer Reseach, 13
(March),411-454. (Lead article; Outstanding Article Award, 2003)
Assael, H. 2005. Consumer Behavior and Marketing Action. Boston: Wadsworth, Inc
Boyd, Harper W. Jr, Orville C. Walker. Jr dan Carl McDaniel. 2000. Manajemen
Erlangga

Pemasaran. Jilid Pertama. Edisi Kedua. Jakarta:

Chen, 2008. Determinants of Chinese Consumers Green Purchase Behavior, Psychology & Marketing: 338-357
Cooper , D.R dan Schindler. 2001. Business Research Methods, Seventh Edition, Mc Graw Hill International.

Elkington, John, et.al 1990, The Green Business Guide: How to Take Up-and Profit From The Environmental Challenge, London, Victor
Gollancz Ltd. , Journal of Consumer Marketing: 121-125
Engel, JF, Blackwell. Roger D. & Miniard, Paul W. 2003, Prilaku Konsumen,Edisi 6 Jilid 1. Jakarta: Binarupa Aksara.

Ferinadewi, 2005::Pengaruh kesadaran lingkungan dan Green Marketing Terhadap Pembelian Kembali Green Cosmetics. Jurnal
Ekonomi dan Manajemen. Volume 9 No 3.

Fotopoulus, Christos, dan Athanasios Krystallis.2002a. Organic Product Avoidance, Reasons for Rejection and Potential Buyers
Identification in a Countrywide Survey, British Food Journal: 233-270

Grant, John. 2007. The Green Marketing Manifesto.John Wiley $ Sons, Ltd., West Sussex, England

Hawkins, Del I. Mathersbaught David L. Dan Best, Roger J.2007, Consumer Behavior, Mc Graw-Hill Irwin International Edition,
Newyork, USA

Hendri Yosiana, 2012,Pengaruh Sikap Dan Atribut Produk Terhadap Minat Beli Pada Green Cosmetics Jurnal Ilmiah
Indonesia,Volume 8 No 2.

Honkanken, Pirjo, Verlanken, Bas, dan Olsen, Svein O. (2006), Ethical values and motives driving organic food choice, Journal of
Cosumer Behavior, Volume 5,2006, 420-430.

Howard, John A. Robert P. Shay dan Christoper A. Green, 2002, Measuring The Effect of Information on Buying Intentions, Journal
of Service Marketing Vol. 24 No. Fall, P: 27-38
Ishak Maulidin, 2011: Pengaruh atribut produk terhadap tingkat penjualan. Pemasaran. Universitas Tanjungpura Pontianak

Junaedi, Selllyana. M.F. 2005: Pengembangan model perilaku konsumen berwawasan lingkungan di Indonesia. Universitas Atma
Jaya. Yogyakarta.

Junaedi, Sellyana. M.F. 2008 : Pengaruh pengetahuan ekoligi,konsekuensi individual dan lingkungan terhadap niat beli produk
pangan organikUniversitas Atma Jaya. Jogakarta
Kalafatis, Stavros P. 2008. Green Marketing and Anzens Theory of Planned Behaviour. Journal of Consumer Marketing 16 (5) 441-460
Kasali Rhenald. 2009. Potensi Green Product Bergantung Stimulus Majalah Swa Sembada Edisi No.10/XXV/14-27 Mei 2009.

Kotler, Philip dan Gary Amstrong. 2005. Manajemen Pemasaran. Jilid Pertama. Edisi Kesebelas. Alih Bahasa: Drs. Benyamin Molan.
Jakarta: PT Indeks Kelompok Gramedia
Kotler, Philip. 2004. Manajemen Pemasaran 1. Edisi Milenium. Jakarta: PT Indeks Kelompok Gramedia
Kuncoro, Mudrajad. 2003. Metode riset untuk bisnis dan ekonomi. Jakarta;

Penerbit Eralngga.

Lanasier, Evi Vileta. 2002, Perilaku Konsumen Hijau Indonesia: Tinjauan Sudur Demografi dan Psikografi, Media Riset Bisnis dan
Manajemen, Volume 2, Nomor 2, PP. 89-11: Jakarta.
Laroche, Michel, Jasmin Bergeron dan Guido Barbaro-Forleo (2001). Targeting Consumers Whi Are Willing to Pay More for
Environmentally Friendly Product, Jounal of Cnsumers Marketing, 18 (6), 503-520.
Lestari, Yuni Tri. 2012. Analisis Pengaruh Presepsi Harga, Presepsi Kualitas, Promosi, dan Merek Terhadap Niat Beli Konsumen (Studi
Kasus Produk-Produk OTC PT Merck, Tbk Pada Konsumen ADA Swalayan Setiabudi Semarang).

Maguere, K. B. N. Owens and B. Simon. (2004) The price premium for organic babyfood A hedonic analysis.Journal of Agricultural
and Resource Economics 29(1), 132-149.

Mia Maria Hidayat, 2008,Analisis Pengaruh Pengetahuan Liangkungan Dan Interpersonal Pada Niat Beli Melalui Sikap Konsumen
Terhadap Produk Ramah Lingkungan di Surabaya. Jurnal Ekonomi. Volume 11 No 5
Moisander, 2008. Karakteristik dari produk hijau. Buletin Studi ekonomi

Volume 13 Nomor 2.

Nawawi, H. Handari dan H, M. Martini Handari, 1991. Instrument Penelitian Bidang Sosial, Penerbit Gajah Mada University Press.

Nugrahadi, 2002, Perilaku Konsumen Hijau: Konsep dan Implikasi Untuk Strategi dan Penelitian Bisnis Pemasaran Hijau, Prenada
Media, Jakarta.
Priyatno, Duwi. 2012. Cara Kilat Belajar Analisa Data dengan SPSS 20. Yogyakarta : Andi

Rao, Monroe. (2003), The effect of price, brand name, and store name on buyers perception of product quality: an integrative
review, Journal of Marketing Research, Vol 26 (Agustus 2003), p. 351-357
Ridwan,M.B.A. 2010. Metode Teknik Penyusunan Tesis. Cetakan kedelapan. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.

Rokhman Setiyo Nugroho, 2012,Pengaruh Kesadaran Menjaga Kesehatan, Kesadaran Lingkungan, Harga Premium, Trend Keamanan
Pangan, Dan Keterlibatan Proses Pembelian Terhadap Niat Beli Produk Hijau, Jurnal Ilmiah Indonesia, Volume 4 No 1.

Rudi Haryadi. (2009), Pengaruh strategi Green Marketing Terhadap Pilihan Konsumen Melalui Pendekatan Marketing Mix, Jurnal
manajemen pemasaran ,Volume 11, No 3
Satori Djaman. Komariah Aan. 2010. Metode Penelitian Kualitatif. Alfabeta: Bandung.

Setyo Ferry Wobowo, 2011,Karakteristik Konsumen Berwawasan Lingkungan Dan Hubungannya Dengan Keputusan Membeli Produk
Ramah Lingkungan. Buletin Studi ekonomi
Volume 13 Nomor 2.
Sugiyono. 2003. Metode penelitian Bisnis. Bandung: CV. Alfabeta
Suharno dan Sutarso, Yudi. 2010. Marketing In Practice. Edisi Pertama. Yogyakarta : Graha Ilmu.
Supranto, J, M.A. 2004. Metode Riset: Aplikasinya Dalam Pemasaran, Edisi Revisi. Jakarta: Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia

Vining, J and Ebreo, A. (2002),What makes a recyler? A comparison of recylers and non recylers, Environmental Behavior, Vol. 22,
pp. 55-75