Anda di halaman 1dari 8

Khutbah Idul Fitri 1430 H: Meraih

Kesuksesan Membangun Peradaban


Iman Santoso, Lc. MEI. 18/09/09 | 20:12 Khutbah Idul Fitri Ada 8 komentar 9.035 Hits

Allahu Akbar 9 x Walillahilhamd


Maasyiral muslimin rahimakumullah !
Alhamdulillah, hari ini kita merayakan Idul Fitri 1 Syawal 1430 H sebagai tanda dari
berakhirnya seluruh rangkaian ibadah di bulan Ramadhan. Setelah sebulan penuh kita
melakukan tarbiyah Ramadhan dengan menunaikan puasa, shalat, qiyam, tilawah, dzikir, doa,
mengeluarkan zakat, infak dan shadaqah. Maka kita berharap menjadi orang-orang yang
bertaqwa, orang-orang yang dijanjikan Allah mendapat kemenangan atau kesuksesan.
Kemenangan atas hawa nafsu, kemenangan atas setan, kemenangan atas kegelisahan dan
kebimbangan, kemenangan atas ketidakberdayaan dan kemalasan, kemenangan atas musuhmusuhnya. Dan menang atau sukses dalam membangun peradaban.
Sudah selayaknya hari ini kita bergembira dan berbahagia. Bergembira karena telah berhasil
menunaikan kewajiban ibadah Ramadhan. Kegembiraan itu direfleksikan dengan syukur dan
mengagungkan asma Allah. Takbir, Tahlil dan Tahmid. Allahu akbar 3 x Laa Ilaha illlah
Allahu Akbar Walillahilhamd
Sementara kegembiraan yang tidak didahului ketaatan adalah kegembiraan yang semu. Hari
Raya yang tidak didahului ibadah Ramadhan adalah hari yang hampa tanpa makna. Walaupun

memakai baju baru, memakan makanan yang enak, berkumpul dengan keluarga dan berrekreasi
di tempat-tempat hiburan.
Setiap tahun kita melaksanakan ibadah Ramadhan dan hampir tiap tahun pula kita merayakan
Idul Fitri. Tetapi adakah yang berubah dalam diri kita, keluarga kita, masyarakat kita dan bangsa
kita. Adakah perubahan kearah yang lebih baik ? Sudahkan kita meraih kesuksesan hidup,
kesuksesan berupa kebaikan kualitas hidup kita dari sisi keagamaan, kesejahteraan, keadilan dan
keamanan ?
Kita menyaksikan masih sangat sedikit orang-orang yang sukses dalam menjalankan ibadah
Ramadhan. Dan kita juga melihat masih sangat sedikit orang-orang yang sukses dan menang
dalam mengisi kehidupan di dunia yang terbatas ini serta menang dalam membangun peradaban.
Akibatnya, yang terjadi adalah dominasi kemaksiatan dan kejahatan atas ketaatan dan kebaikan,
dominasi musibah dan kesulitan atas keberkahan dan kesejahteraan, dominasi orang-orang fasik
dan jahat atas orang-orang shalih dan baik. Jika yang terjadi demikian, maka badai krisis belum
pasti berlalu. Dan Indonesia masih mencerminkan kondisi tersebut, walaupun mayoritas
penduduknya beragama Islam.
Maasyiral muslimin rahimakumullah
Setiap hari raya Idul Fitri kita senantiasa mengucapkan ucapan selamat :

Semoga Allah menerima Amal ibadah kita semua, semoga kita kembali menjadi fitrah dan
meraih kesuksesan. Dan semoga setiap tahun kita selalu dalam kebaikan.
Sukses dalam hidup dan menang dalam membangun peradaban adalah ketika umat Islam
melandasi hidupnya pada prinsip-prinsip dasar dan nilai-nilai Islam berikut:
1. Keimanan
Banyak ayat-ayat Al-Quran dan hadits Nabi saw. yang menyebutkan bahwa persyaratan pertama
untuk meraih kemenangan atau kesuksesan adalah jika umat Islam melandasi hidupnya dengan

nilai-nilai keimanan. Keimanan pada yang ghaib, keimanan pada Allah, Malaikat, kitab suci AlQuran, para rasul, hari akhir dan keimanan pada taqdir Allah.

Sungguh telah sukses (menang) orang-orang beriman (QS Al-Muminun 1)
Adapun orang-orang yang hidupnya mewah dari segi fasilitas harta dan kedudukan di dunia
sementara dia tidak beriman kepada Allah, maka dia tidak sukses. Karena kesuksesannya dibatasi
dengan kematian. Sedangkan orang yang miskin dan tidak beriman, mereka lebih parah lagi,
mereka gagal di di dunia dan menderita di akhirat. Bagi orang-orang yang mapan di dunia,
sangat berkecukupan dan mewah, tetapi tidak beriman, maka mereka akan merasakan siksan
neraka yang sangat sakit dan terus dalam kesakitan yang kekal. Dalam sebuah hadits Rasulullah
saw. bersabda: Didatangkan orang yang paling senang di dunia sedang dia adalah ahli neraka.
Dia dicelupkan satu kali celupan di neraka. Kemudian dikatakan padanya, Wahai anak Adam
apakah pernah engkau merasakan kebaikan (di dunia). Apakah lewat padamu kenikmatan dunia ?
Maka orang itu menjaab, Tidak demi Allah wahai Rabb ku. Dan didatangkan orang yang
paling menderita di dunia sedang dia adalah ahli surga. Lalu dicelupkan satu kali celupan di
surga. Kemudian dikatakan padanya, Wahai anak Adam apakah engkau pernah merasakan
penderitaan di dunia apakah lewat pada kesusahan di dunia ? Maka dia menjawabnya, Tidak
demi Allah, tidak pernah lewat padaku penderitaan dan kesulitan sedikitpun di dunia (HR
Muslim).
Demikianlah kesenanagan dan kesuksesan yang terbatas di dunia yang berujung pada siksaan di
neraka bukanlah kesuksesan. Harta yang diraih dengan cara haram seperti mencuri, korupsi dan
menipu maka bukanlah kesuksesaan. Kedudukan yang diraih dari kezhaliman, curang dan
menyuap bukanlah kesuksesan. Bahkan sebaliknya, akan menimbulkan penderitaan dan siksaan
yang panjang di akhirat. Dunia adalah lapangan kehidupan tempat ujian manusia untuk meraik
kemenangan dan kesuksesan. Dan kehidupan manusia di dunia akan berujung dengan kematian.
Kemudian mereka akan mempertanggungjawabkan seluruh amal perbuatannya di akhirat di
pengadilan Allah.





Pada hari itu manusia ke luar dari kuburnya dalam Keadaan bermacam-macam, supaya
diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka, Barangsiapa yang mengerjakan
kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya. dan Barangsiapa yang
mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya pula (Azzalzalah 6-8)
Kesuksesan hidup dan peradaban tidak mungkin tegak tanpa nilai-nilai keimanan. Nilai-nilai
yang menjadi landasan hidup hamba-hamba Allah yang shalih atau baik. Merekalah orang yang
sukses dan merekalah yang akan mewarisi peradaban.



Dan sungguh telah Kami tulis didalam Zabur sesudah (kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh,
bahwasanya bumi ini diberikan kepada hamba-hambaKu yang saleh (QS Al-Anbiyaa 105).
2. Ilmu
Pilar kedua yang harus dimiliki oleh kita agar sukses dalam hidup dan dapat membangun
peradaban adalah ilmu dan terus-menerus menimba ilmu baik ilmu Syariah maupun ilmu umum.
Setiap muslim hendaknya meningkatkan etosnya dalam menuntut ilmu dan berupaya memiliki
minimal satu disiplin ilmu yang kuat untuk meraih kesuksesan hidup dan membangun
peradaban. Tidak dapat dipungkiri bahwa diantara kesuksesan hidup di dunia dan dominasi barat
di abad sekarang karena mereka menguasai ilmu dan teknologi. Sehingga umat Islam harus
mengejar ketertinggalan dalam bidang ilmu ini.
Generasi salafu salih pendahulu kita telah memberikan contoh terbaik dalam ilmu, penguasaan
mereka terhadap ilmu dan mengajarkan ilmu sehingga mereka memenangkan peradaban. Tidak
kurang dari 13 abad umat Islam menguasai peradaban dunia karena keimanan dan ilmu mereka.
Ali bin Abi Thalib, Muadz bin Jabbal, abu Hurairah, Ibnu Masud dan Ibnu Abbas dll adalah

bintang bintang dalam dunia ilmu di masa sahabat. Di masa berikutnya ada Said bin alMusayyib, Hasan al-Bashri, Ibnu Sirin, Abu Hanifah, Imam Malik, Imam As-Syafii, Imam
Ahmad dll. Dan dalam bidang ilmu kauniyah lebih banyak lagi.
Jika umat Islam sekarang ingin sukses dan memenenagkan peradaban, maka mereka harus
menguasai ilmu disetiap bidang ilmu dan dispilinnya.


Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang
diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu
kerjakan (QS Al-Mujaadalah 11).
Allahu Akbar 3 x wa lillahil hamd
Maasyiral muslimin rahimakumullah !
3. Amal Shalih
Pilar ketiga yang harus dilakukan kita untuk meraih kesuksesan hidup adalah amal shalih. Amal
shalih mencakup unsur-unsur; ikhlas, baik, kompetensi dan profesional. Sedangkan ruang
lingkup amal shalih adalah amal tabudi, amal ijtimai, amal mihani dan amal ishlahi Kita harus
terus beramal untuk meraih kesuksesan hidup dan membangun peradaban. Iman dan ilmu tanpa
amal tidak akan sempurna.
Akitifitas ibadah kepada Allah masih banyak dibumbui nilai-nilai bidah dan khurafat Sedangkan
syiar-syiar Islam dan ritual masih diwarnai dengan pemborosan energi dan harta. Dari aspek
amal sosial masih jauh dari yang diharapkan. Meninggalnya 21 orang saat mengantri dana zakat
dan infak adalah potret buruk dari aktifitas sosial yang tidak direncanakan dan dimanaj dengan
baik. Kualitas amal dalam hal pekerjaan umat Islam masih sangat tertinggal jauh dari nilai-nilai
ideal. Di Indonesia amal yang masih menjadi ungulan mayoritas umat Islam adalah dibidang
buruh, pembantu rumah tangga. TKI masih menguasai sektor ini. Sedangkan tenaga-tenaga
profesional yang menempati posisi tinggi di Indonesia kebanyakan dari orang asing.

Bisnis umat Islam masih didominasi dengan riba, kecurangan dalam menimbang dan manipulasi
serta kezhaliman. Pelayanan umum dalam birokrasi masih sangat lamban, diwarnai suap dan
korupsi, begitu juga dalam dua politik, aroma politik uang, suap, korupsi dan sejenisnya
mendominasi kehidupan politik kita. Adapun pada bidang penegakkan hukum kondisi jauh lebih
parah lagi.
Apakah kesuksesan dan peradaban dapat dibangun dengan segala bentuk kerusakan dibidang
amal tersebut ? Tidak. Hanya amal shalih yang dapat mengantarkan umat Islam pada kesuksesan
dan kemajuan dalam peradaban.
4. Mujahadah
Selanjutnya umat Islam harus bersungguh-sungguh dalam semua lapangan kehidupannnya. Bagi
umat Islam tidak ada istilah libur dari amal shalih, tidak ada istilah pansiun dari ibadah, tidak ada
istilah cuti dari kebaikan. Dinatara contohnya, ketika umat Islam selesai menunaikan shalat
Jumat mereka disuruh bertebaran di muka bumi untuk mencari karunia Allah. Setelah umat
Islam menunaikan ibadah Ramadhan dan ditutup dengan Idul Fitri mereka dianjurkan untuk
puasa sunnah 6 hari di bulan Syawal dan menguatkan shilaturahmi.
Pilar-pilar itulah yang mengantarkan kesuksesan bagi umat Islam. Dan dengan pilar-pilar
Pearadaban tegak. Dan sesungguhnya kiat untuk meraih kesuksesan dan peradaban di dunia
sama dengan dengan kiat untuk meraih kesuksesan di akhirat. Kiat itu adalah iman, beriman pada
Allah dan beriman pada ajaran Islam kemudian diteruskan dengan, penguatan ilmu, amal shalih,
dan terus bermujahadah, menyuruh pada yang benar dan baik serta bersabar atas itu semua.
Dan terakhir, marilah kita menjadikan keimanan dan ketaqwaan sebagai perhiasan hidup kita.
Ketaqwaan bukan hanya diucapkan dalam mulut, tetapi direalisasikan dalam prilaku dan
perbuatan. Ketaqwaan adalah sebuah hakekat, bukan klaim atau akuan, bukan pula pameran dan
kepura-puraan. Kita menyerahkan segala urusan kepada Allah, beristighfar, bertaubat dan terusmenerus melakukan kebaikan, dakwah serta amar maruf dan nahi mungkar agar kita
mendapatkan keberkahan hidup, kesuksesan di dunia dan akhirat.

Hadirin, akhirnya marilah kita berdoa, menundukkan kepala, memohon kepada Allah Yang
Maha Rahman dan Maha Rahim untuk kebaikan kita dan umat Islam dimana saja berada:
:
:




.





)(hdn
Redaktur: Ardne

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2009/09/18/3950/khutbah-idul-fitri-1430-h-meraihkesuksesan-membangun-peradaban/#ixzz3fSTx7zJ3
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook