Anda di halaman 1dari 15

BAB VIII

HEALTH SAFETY AND ENVIRONMENT &


CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY
8.1 Pendahuluan
Dalam melakukan kegiatan MIGAS perlu dilakukan upaya untuk menjaga
keselamatan, keamanan, dan kelestarian lingkungan dalam bekerja. Segala peraturan
tentang keselamatan, keamanan, dan kelestarian lingkungan diterapkan dalam HSE
(Health Safety and Environment). Penerapan HSE bertujuan untuk menciptakan
tempat kerja yang aman, nyaman, sehat, nihil kecelakaan, bebas penyakit dan ramah
lingkungan. Adanya bahaya dan resiko pada kesehatan, keselamatan kerja, dan
lingkungan (HSE) yang akan berdampak pada pekerja, perlengkapan/peralatan,
material, dan lingkungan hidup di sekitar area operasi.
Pembahasan materi HSE pada POD di lapangan TMA & TMB ini dibagi
menjadi beberapa bagian diantaranya adalah kondisi wilayah, study lingkungan,
analisis mengenai dampak lingkungan, rencana pengelolaan dan pemantauan
lingkungan,

tanggap

darurat,

medical

evacuation,

serta

Corporate

Social

Responsibility (CSR). Pembahasan ini didasarkan pada sekenario yang akan


dilaksanakan di lapangan TMA & TMB yaitu sekenario penambahan sumur baru.
Dengan adanya penambahan sumur baru, berarti akan ada kegiatan pemboran yang
dilakukan. Berdasarkan skenario ini aspek HSE yang penting untuk diperhatikan
yaitu pada proses pemboran dan juga proses produksi.
8.1.2 Landasan Hukum
Dasar hokum berupa peraturan-peraturan dan perundang - undangan yang
menjadi acuan serta penerapan dalam bidang HSE antara lain :

PP No 27 Tahun 2012 tentang izin lingkungan;

UU No.32 Tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan

lingkungan hidup;

66

67

UU No.26 Tahun 2007 tentang penataan ruang;

PP No.35 Tahun 2004 tentang kegiatan usaha hulu minyak dan gas

UU No.22 Tahun 2001 tentang Undang-Undang Minyak dan gas

PP No.42 Tahun 2001 tentang badan pelaksanaan kegiatan usaha hulu

bumi;
Bumi;
minyak dan gas bumi;

UU No.41 Tahun 1999 tentang kehutanan;

UU No.23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup;

PP No.29 Tahun 1997 tentang analisis mengenai dampak lingkungan;

UU No.1 Tahun 1970 tentangkeselamatankerja;

Undang-undang No. 3 Tahun 1951 tentang Pernyataan Berlakunya


Undang-undang Pengawasan Perburuhan Tahun 1948 No. 23 dari
Republik Indonesia untuk Seluruh Indonesia (lembaran Negara Tahun
1951 Nomor 4);

Undang-undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan dan


Kesehatan Kerja (Lembaran Negara Tahun 1970 Nomor 1, Tambahan
Lembaran Negara Nomor 1981);

Undang-undang Nomor 3 Tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga


Kerja (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 14);

Keputusan

Presiden

RI

Nomor

96/M/Tahun

1993

tentang

Pembentukan Kabinet Pembangunan VI;

Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor PER.04/MEN/1993 tentang


Jaminan Kecelakaan Kerja;

Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor PER.05/MEN/1993 tentang


Petunjuk Teknis

Pendaftaran

Kepesertaan,

Pembayaran

Iuran,

Pembayaran Santunan,dan Pelayanan Jaminan Sosial Tenaga Kerja.


8.2 Kondisi Wilayah

68

Lapangan TMA & TMB terletak di perairan selat madura. Untuk kondisi
wilayah dapat dibagi menjadi beberapa aspek, antara lain : secara geografis, secara
topografi, dan kondisi dari wilayah tersebut.
8.2.1 Geografis
Wilayah blok TMA & TMB secara geografis blok ini terletak di Provinsi Jawa
Timur. Tepatnya terletak di wilayah perairan selat Madura dengan koordinat diantara
072313.1 lintang selatan dan 1130203.2 Bujur Timur. Batas wilayah dalam peta
regional adalah sebagai berikut :

Sebelah Barat
Sebelah Utara
Sebelah Selatan

: Sidoarjo
: Pulau Madura
: Pasuruan

8.2.2 Iklim
Wilayah Jawa Timur Jawa Timur memiliki iklim tropis basah. Dibandingkan
dengan wilayah Pulau Jawa bagian barat, Jawa Timur pada umumnya memiliki curah
hujan yang lebih sedikit. Curah hujan rata-rata 1.900 mm per tahun, dengan musim
hujan selama 100 hari. Suhu rata-rata berkisar antara 21-34 C .

8.3 Study Lingkungan


Untuk menyelenggarakan kegiatan yang memiliki dampak terhadap
lingkungan sekitar lokasi lapangan eksplorasi gas field TMA & TMB perlu dilakukan
kajian mengenai dampak besar dan penting kegiatan tersebut. Hal ini disebut dengan
analisis mengenai dampak lingkungan atau biasa disingkat AMDAL. AMDAL adalah
kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan/ atau kegiatan yang
direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan
keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/ atau kegiatan. Sebagai dasar hukum

69

AMDAL adalah PP No.27/ 1999 yang di dukung oleh paket keputusan menteri
lingkungan hidup tentang jenis usaha dan/ atau kegiatan yang wajib dilengkapi
dengan AMDAL dan keputusan kepala BAPEDAL tentang pedoman penentuan
dampak besar dan penting. Tujuan dan sasaran AMDAL adalah untuk menjamin suatu
usaha atau kegiatan pembangunan dapat berjalan secara berkesinambungan tanpa
merusak lingkungan hidup. Dengan melalui studi AMDAL diharapkan usah dan / atau
kegiatan pembangunan dapat memanfaatkan dan mengelola sumber daya alam secara
efisien, meminimumkan dampak negatip dan memaksimalkan dampak positip
terhadap lingkungan hidup. AMDAL ini merupakan syarat yang harus dipenuhi oleh
para kontraktor untuk mendapatkan izin melakukan usaha.
Di lapanganTMA & TMB ini, untuk mendapatkan izin agar dapat
dilaksanakannya proyek pengembangan, maka studi AMDAL mutlak harus
dilaksanakan.Dalam studi AMDAL terdapat kriteria - kriteria yang harus dipenuhi
agar memenuhi syarat dari kelengkapan AMDAL berdasarkan Keputusan Kepala
Bapedal No.56 Tahun 1994 Tentang Pedoman Mengenai Dampak Penting, di
antaranya :
a. Jumlah manusia yang akan terkena dampak,
b. Luas wilayah persebaran dampak,
c. Lamanya dampak berlangsung,
d. Intensitas dampak,
e. Banyaknya komponen lingkungan lainnya yang akan terkena dampak,
f. Sifat kumulatif dampak,
g. Berbalik atau tidak berbaliknya dampak.
Industri minyak dan gas bumi termasuk ke dalam jenis rencana kegiatan yang
wajib dilengkapi dengan analisis mengenai dampak lingkungan. Akan tetapi untuk
dapat mewajibkan dilaksanakannya AMDAL terdapat skala/besaran di mana
skala/besaran ini digunakan untuk mengetahui apakah kegiatan ini perlu untuk
dilaksanakan AMDAL atau tidak.

70

Berdasarkan Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No.5 Tahun 2012


Tentang Jenis Rencana Usaha Dan / Atau Kegiatan Yang Wajib Dilengkapi Dengan
Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup, maka untuk Lapangan TMA & TMB
yang merupakan lapangan gas yang terletak di offshore harus melengkapi dokumen
AMDAL apabila memproduksikan minyak 15000 BOPD dan gas 90 MMSCFD
serta memiliki transmisi MIGAS dengan panjang 100 km dengan tekanan 16 bar.
Berdasarkan hasil simulasi untuk produksi dari
sumur di Lapangan TMA & TMB

skenario pengembangan semua

nilai kumulatif produksi gas melebihi batas

minimum wajib dilaksanakannya AMDAL. Berikut field peak production rate dari
masing-masing sumur serta kumulatifnya:
Tabel 8.1
Oil & Gas Production Rate
WELL

OIL RATE, BOPD

GAS RATE, MMSCFD

CUMMULATIF

Sehingga berdasarkan data-data di atas, dapat disimpulkan bahwa untuk


lapangan TMA & TMB diwajibkan untuk dilakukannya analisis mengenai dampak
lingkungan terhadap kriteria-kriteria yang disebutkan di atas, serta menyusun rencana
pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup ( RKL &
RPL ).
8.4 Study Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL) dan Rencana
Pemantauan Lingkungan Hidup

71

Rencana pengelolaan lingkungan hidup dalam upaya penanganan


dampak penting terhadap lingkungan yang di timbulkan akibat dari rencana
usaha dan kegiatan pemboran dan produksi migas. Dalam pengertian tersebut
upaya pengelolaan lingkungan hidup mencakup empat kelompok aktivitas :
8.4.1 Lingkup rencana pengelolaan lingkungan hidup
(a) Pengelolaan lingkungan yang bertujuan untuk menghindari atau
mencegah dampak negative lingkungan hidup melalui pemilihan atas
alternatif, tata letak (tata ruang mikro) lokasi, dan rancang bangun
proyek;
(b)

Pengelolaan

lingkungan

hidup

yang

bertujuan

untuk

menanggulangi, meminimisasi atau mengendalikan dampak negatif


baik yang timbul di saat usaha dan/atau kegiatan beroperasi, maupun
hingga saat usaha dan/atau kegiatan berakhir (misalnya: rehabilitasi
lokasi proyek);
(c) Pengelolaan lingkungan hidup yang bersifat meningkatkan dampak
positif sehingga dampak tersebut dapat memberikan manfaat yang
lebih besar baik kepada pemrakrsa maupun pihak lain terutama
rnasyarakat yang turut menikmati dampak positif tersebut;
(d) Pengelolaan lingkungan hidup yang bersifat memberikan
pertimbangan ekonomi lingkungan sebagai dasar untuk memberikan
kompensasi atas sumber daya tidak dapat pulih, hilang atau rusak (baik
dalam arti sosial ekonomi dan atau ekologis) sebagai dasar untuk
memberikan kompensasi atas sumber daya tidak dapat pulih, hilang
atau rusak (baik dalam arti sosial ekonomi dan atau ekologis) sebagai
akibat usaha dan/atau kegiatan.
8.4.2 Kedalaman rencana pengelolaan Lingkungan hidup
Mengingat dokumen AMDAL merupakan bagian dari studi kelayakan,
maka dokumen RKL hanya akan bersifat memberikan pokok-pokok arahan,
prinsip-prinsip , kriteria atau persyaratan untuk pencegahan/ penanggulangan/

72

pengendalian dampak. Bila dipandang perlu dapat dilengkapi dengan acuan


literatur

tentang

basic

design

untuk

pencegahan/penanggulangan/pengendalian dampak. Hal ini tidak lain


disebabkan karena:
(a) Pada taraf studi kelayakan informasi tentang rencana usaha dan/
atau kegiatan (proyek) relatif masih umum, belum memiliki spesifikasi
teknis yang rinci, dan masih memiliki beberapa alternatif. Hal ini tidak
lain karena pada tahap ini memang dimaksudkan untuk mengkaji
sejauh mana proyek dipandang patut atau layak untuk dilaksanakan
ditinjau dari segi teknis dan ekonomi; sebelum investasi, tenaga, dan
waktu terlanjur dicurahkan lebih banyak. Keterbatasan data dan
informasi tentang rencana usaha atau kegiatan ini sudah barang tentu
berpengaruh pada bentuk kegiatan pengelolaan yang dapat dirumuskan
dalam dokumen RKL;
(b) Pokok- pokok arahan, prinsip-prinsip, kriteria atau persyaratan
pengelolaan lingkungan hidup yang tertuang dalam dokumen RKL
selanjutnya akan diintegrasikan atau menjadi dasar pertimbangan bagi
konsultan rekayasa dalam menyusun rancangan rinci rekayasa;
Disamping itu perlu diketahui bahwa rencana pengelolaan lingkungan
hidup yang tertuang dalam dokumen RKL harus terkait dengan hasil
dokumen ANDAL. dalam arti komponen lingkungan hidup yang
dikelola adalah yang hanya mengalami perubahan mendasar
sebagaimana disimpulkan oleh dokumen ANDAL.
8.4.3 Rencana pengelolaan lingkungan hidup
Rencana pengelolaan lingkungan hidup dapat berupa pencegahan dan
penanggulangan dampak negatif, serta peningkatan dampak positif yang
bersifat strategis. Rencana pengelolaan lingkungan hidup harus diuraikan
secara jelas, sistimatis, serta mengandung ciri-ciri pokok sebagai berikut:

73

(a) Rencana pengelolaan lingkungan hidup memuat pokok-pokok


arahan, prinsip-prinsip, kriteria pedoman, atau persyaratan untuk
mencegah,

menanggulangi,

mengendalikan

atau

meningkatkan

dampak besar dan penting baik negatif maupun positif yang bersifat
strategis; dan bila dipandang perlu, lengkapi pula dengan acuan
literatur tentang rancang bangun penanggulangan dampak dimaksud;
(b)

Rencana

pengelolaan

lingkungan

hidup

dimaksud

perlu

dirumuskan sedemikian rupa sehingga bahan pertimbangan untuk


pembuatan rancangan rinci rekayasa, dan dasar kegiatan pengelolaan
lingkungan hidup;
(c)

Rencana

Pengelolaan

lingkungan

mencakup

pula

upaya

peningkatan pengetahuan dan kemampuan karyawan pemrakarsa


usaha dan/atau kegiatan dalam pengelolaan lingkungan hidup melalui
kursus-kursus yang diperlukan pemrakarsa berikut dengan jumlah
serta kualifikasi yang akan dilatih;
(d)

Rencana

pengelolaan

lingkungan

hidup

juga

mencakup

pembentukan unit organisasi yang bertanggungjawab di bidang


lingkungan hidup untuk melaksanakan RKL. Aspek- aspek yang perlu
diutarakan sehubungan/dengan hal ini antara lain adalah struktur
organisasi, lingkup tugas dan wewenang, unit serta jumlah kualifikasi
personalnya.
8.4.4 Pendekatan Pengelolaan Lingkungan Hidup
Untuk menangani dampak besar dan penting yang sudah diprediksi
dari studi ANDAL, dapat menggunakan salah satu atau beberapa pendekatan
lingkungan hidup yang selama ini kita kenal seperti teknologi, sosial ekonomi,
maupun institusi.
(a) Pendekatan teknologi
Pendekatan ini adalah cara-cara atau teknologi yang digunakan untuk
mengelola dampak besar dan penting lingkungan hidup;

74

(b) Pendekatan sosial ekonomi


Pendekatan ini adalah langkah-langkah yang akan ditempuh
pemrakarsa dalam

upaya menanggulangi dampak penting melalui

tindakan yang berlandaskan pada interaksi sosial, dan bantuan peran


pemerintah.
c) Pendekatan institusi
Pendekatan ini adalah mekanisme kelembagaan yang akan ditempuh
pemrakarsa dalam rangka menanggulangi dampak besar dan penting
lingkungan hidup.
8.5 Lingkup Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup
Pemantauan lingkungan hidup dapat digunakan untuk memahami
fenomena-fenomena yang terjadi pada berbagai tindakan mulai dari tingkat
proyek (untuk memahami perilaku dampak yang timbul akibat usaha dan/atau
kegiatan), sampai ke tingkat kawasan atau bahkan regional tergantung pada
skala keacuhan terhadap masalah yang dihadapi. Disamping skala keacuhan,
ada 2 (dua) kata kunci yang membedakan pemantauan dengan pengamatan
secara acak atau sesaat, yakni merupakan kegiatan yang bersifat berorientasi
pada data sistematik, berulang dan terencana.
2.2 Kedalaman rencana pemantauan lingkungan hidup
Ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam penyusunan dokumen
rencana pemantauan lingkungan hidup, yakni :
(a) Komponen/parameter lingkungan hidup yang dipantau hanyalah
yang mengalami perubahan mendasar, atau terkena dampak besar, dan
penting. Dengan demikian tidak seluruh komponen lingkungan hidup
yang harus dipantau. Hal-hal yang dipandang tidak penting atau tidak
relevan tidak perlu di pantau;
(b) Keterkaitan yang akan dijalin antara dokumen ANDAL, RKL dan
RPL. Aspek-aspek yang dipantau perlu memperhatikan benar dampak

75

besar dan penting yang dinyatakan dalam ANDAL dan sifat


pengelolaan dampak lingkungan hidup yang dirumuskan dalam
dokumen RKL;
c) Pemantauan dapat dilakukan pada sumber penyebab dampak dan
atau terhadap komponen/parameter lingkungan hidup yang terkena
dampak. Dengan memantau kedua hal tersebut sekaligus akan dapat
dinlLai/diuji efektifitas kegiatan pengelolaan lingkungan hidup yang
dijalankan;
(d) Pemantauan lingkungan harus layak secara ekonomi. Walau aspekaspek yang akan dipantau telah dibatasi pada hal-hal yang penting saja
(seperti diuraikan pada butir (a) sampai (c ), namun biaya yang
dikeluarkan untuk pemantauan perlu diperhatikan mengingat kegiatan
pemantauan senantiasa berlangsung sepanjang usia usaha dan/atau
kegiatan;
(e) Rancangan pengumpulan dan analisis data aspek-aspek yang perlu
dipantau,

mencakup :
1) Jenis data yang dikumpulkan;
2) Lokasi pemantauan;
3) Frekuensi dan jangka waktu pemantauan;
4) Metode data (termasuk peralatan dan instrumen yang
digunakan untuk pengumpulan data);
5) Metode analisis data.

f) Dokumen RPL perlu memuat tentang kelembagaan pemantauan


lingkungan hidup. Kelembagaan pemantauan lingkungan hidup yang
dimaksud

adalah

institusi

yang

bertanggung

jawab

sebagai

penyandang dana pemantauan, pelaksana pemantauan, pengguna hasil


pemantauan. dan pengawas kegiatan pemantauan. Koordinasi dan
kerjasama antar institusi ini dipandang penting untuk digalang agar
data dan informasi yang diperoleh, dan selanjutnya disebarkan kepada

76

berbagai penggunanya. dapat bersifat tepat guna tepat waktu dan dapat
dipercaya.
8.6 Rencana Pengelolaan Lingkungan (RPL)
Kegiatan pemboran dan produksi yang dilakukan pada lapangan TMA &
TMB ini adalah pemboran pada sumur infill. Akan dilakukan pemboran 3 sumur infill
dalam lapangan TMA & TMB. Pada tahap kegiatan pemboran pasti akan memberikan
dampak kepada lingkungan sekitar maupun pekerja. Untuk mencegah dampak
seminimal

mungkin

yang

akan

terjadi

akibat

pengembangan lapangan, perlu disusun rencana

pemboran

dan

eksploitasi

pengelolaan lingkungan. Ada

beberapa materi dampak yang dapat ditimbulkan akibat kegiatan pemboran dan
eksploitasi tersebut, yaitu :
1. Kualitas Udara
Pada tahap pemboran dan eksploitasi pengembangan lapangan perlu
diperhatikan, kualitas udara di wilayah sekitar agar tidak terkena dampak dari
pemboran yang menyebabkan kualitas udara di wilayah sekitar menjadi buruk. Pada
tahap pemboran penyebab kemungkinan pembuat polusi udara adalah emisi gas yang
dikeluarkan oleh genset, H2S, CO2, CO yang mungkin reales saat pemboran
berlangsung. Tolak ukur dampak terhadap kualitas udara ini adalah bersumber dari
Permen LH No.13 Tahun 2009 Tentang Baku Mutu Emisi Sumber Tidak Bergerak
Bagi Usaha Dan/Atau Kegiatan Minyak Dan Gas Bumi serta PP No.41 tahun 1999
Tentang Pengendalian Pencemaran Udara. Pencegahan yang dapat dilakukan adalah
dengan mengontrol kualitas genset, memasang instalasi peralatan untuk memisahkan
H2S dengan pengolahan ulang sulfur sistem claus, dan mentritmen gas CO2 menjadi
powder yang nantinya dapat digunakan untuk bahan APPAR,dan melakukan proses
pengecekkan secara berkala. Proses pengecekan ini dinamakan Continuos Emission
Measurement System (CEMS).
2. Tingkat Kebisingan

77

Pada proses pemboran pastilah banyak fasilitas yang memiliki kapasitas


suara yang menimbulkan kebisingan yang berdampak pada lingkungan sekitar dan
para pekerja yang bekerja dilapangan pemboran tersebut. Pada proses pemboran
tingkat kebisingan dari genset yang digunakan harus diteliti secara fisika berapa
kapasitas suara yang dikeluarkan dan berapa frekuensi yang dihasilkan. Tolak ukur
dampak terhadap kualitas udara bersumber dari Kep-48/MENLH/11/1996 Tentang
Baku Tingkat Kebisingan, serta Kep-Menteri Tenaga Kerja No.51 tahun 1999
Tentang Nilai Ambang Batas Faktor Fisika di Tempat Kerja. Upaya untuk
meminimalisasi dampak terhadap para pekerja adalah dengan memberikan hearing
protection, a dan mengecek kualitas genset secara berkala agar tidak menimbulkan
dampak kebisingan yang cukup besar.
3. Tingkat Pencemaran Air
Pada pemboran pastilah akan menggunakan lumpur pemboran, menurut
peraturan menteri ESDM No. 45 tahun 2006 tentang pengelolaan lumpur pemboran,
limbah lumpur dan serbuk bor pada kegiatan pengeboran minyak dan gas bumi,
lumpur pemboran yang akan digunakan adalah lumpur yang bebahan dasar air akan
tetapi ada bahan aditif yang digunakan pada campuran lumpur perlu dilakukan uji
TCPL. Menurut Permen LH No. 1 tahun 2010 tentang tata laksana pengendalian
pencemaran air. Limbah yang dihasilkan dari lumpur pemboran ini adalah limbah
lumpur yang mungkin mengandung unsur-unsur berbahaya dan beracun seperti
mercury, limbah lain adalah limbah B3 yang sangat berbahaya. Untuk mengurangi
dampak pencemaran air yang disebabkan oleh lumpur pemboran pertama kita perlu
membuat tempat penampungan di darat untuk menampung limbah lumpur lalu
melakukan pengelolaan pada limbah yang ada pada tempat penampungan barulah
setelah itu dilakukan proses pemisahan limbah cair dengan padatan, untuk limbah cair
dapat dibuang keperairan jika sudah dilakukan proses terlebih dahulu, untuk limbah
padat dapat ditimbun jika kadar hidrocarbon yg terkandung kurang dari atau sama
dengan 1%, untuk menanggulangi limbah B3 adalah dapat menggunakan tiga cara,
yaitu reuse, recycle, dan recovery.

78

4. Kemasyarakatan
Pembukaan lokasi pemboran baru adalah faktor yang menimbulkan
dampak terhadap masyarakat. Dampak yang akan timbul terhadap masyarakat yang
mungkin besar adalah dampak kesenjangan sosial, dampak fisika, juga berkurangnya
produktifitas tangkapan hasil laut para nelayan di pesisir pantai sekitar wilayah
pemboran dan produksi gas. Menurut Permen No. 17 tahun 2012 tentang keterlibatan
masyarakat dalam proses analisa dampak lingkungan hidup dan izin lingkungan.
Untuk menanggulangi dampak yang akan timbul terhadap masyarakat sekitar
haruslah dilakukan sosialisasi mengenai kegiatan pemboran dan eksploitasi
pengembangan, juga mengganti rugi apabila terjadi penurunan produktifitas
tangkapan hasil laut nelayan di sekitar wilayah eksploitasi yang di sebabkan oleh
kegiatan eksplorasi migas.
5. Tenaga Kerja
Dampak dari pemboran dan produksi juga bisa memberi akibat kepada para
pekerja yang bekerja dan berada di sekitar wilayah kerja MIGAS. Dampak yang
mungkin terjadi kepada para pekerja kemungkinan adalah sampai timbulnya korban
meninggal atau korban luka-luka, baik luka berat maupun luka ringan. Tolak ukur
yang dapat dilihat adalah ada atau tidaknya korban selama kegiata pemboran dan
eksploitasi pengembangan berlangsung. Berdasarkan peraturan UU No. 1 tahun 1970
menyatakan bahwa setiap tenaga kerja berhak mendapatkan perlindungan atas
keselamatannya dalam melakukan pekerjaan untuk kesejahteraan hidup dan
meningktkan produksi serta produktivitas nasional. Dampak yang akan terjadi dapat
dicegah dan diminimanlkan dengan memberikan perlengkapan safety dalam setiap
pekerjaan, mengawasi para pekerja dalam melaksanakan SOP (Standard operating
procedure), memberikan rambu-rambu disetiap daerah atau wilayah yang
memerlukan alat safety.

8.7 Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL)

79

Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) selama kegiatan pemboran


diperlukan untuk mengetahui/memantau keadaan lingkungan sekitar dari dampakdampak yang akan timbul dari kegiatan pemboran tersebut. Ada beberapa komponen
yang dipantau selama kegiatan pemboran tersebut.Komponen-komponen tersebut
adalah :
1. Kualitas Udara dan Tingkat Kebisingan
Dampak yang ditimbulkan terhadap kualitas udara dan tingkat kebisingan selama
pemboran adalah penurunan kualitas udara dan peningkatan kebisingan. Dampak ini
akibat dari emisi gas buang, flare dan kebisingan dari peralatan pemboran. Tolak
ukurnya adalah Permen LH No.13 Tahun 2009 Tentang Baku Mutu Emisi Sumber
Tidak Bergerak Bagi Usaha Dan/Atau Kegiatan Minyak Dan Gas Bumi dan PP No.41
Tahun 1999 Tentang Pengendalian Pencemaran Udara, PerMen LH No.13 tahun
2009, Kep MenLH No.13/MENLH/III/1995 tentang baku mutu emisi sumber tidak
bergerak dan Kep-48/MENLH/11/1999. Metode yang digunakan untuk memantau
kualitas udara dan tingkat kebisingan adalah melakukan pengukuran kualitas udara
ambient disekitar lokasi kegiatan dan pengukuran emisi gas pada flare stack serta
genset, menginvetarisasi aktifitas dan kesiapan petugas SATGAS dan melakukan
pendataan kasus penyakit yang terjadi disekitar area kegiatan. Lokasi pemantauan
kualitas udara dan tingkat kebisingan dilakukan disekitar area pemboran dan
lingkungan sekitar lokasi Lapangan TMA & TMB. Pemantauan terhadap kualitas
udara dan tingkat kebisingan dilakukan setiap enam (6) bulan sekali.
2. Kualitas Air
Pembangunan fasilitas pemboran, kebocoran pipa penyalur gas hingga mencemari
perairan sekitar merupakan sumber masalah dari penurunan kualitas air laut dan
penurunan keragaman jenis ikan disekitar laut. Tolok ukur dampak tersebut adalah
Permen LH No 19 Tahun 2010 Tentang Baku Mutu Air Limbah. Untuk memantau
kualitas air dan biota aquatis dilakukan pemantauan dengan metode pengambilan
sampel air laut untuk dianalisa, menginventarisasi berbagai jenis ikan yang terdapat

80

pada laut disekitar lokasi kegiatan pemboran dan eksploitasi pengembangan. Periode
pemantauan dilakukan setiap enam (6) bulan sekali.
3. Kemasyarakatan
Perubahan-perubahan yang terjadi tentang keadaan sosial masyarakat sekitar yang
sebagian besar berprofesi sebagai nelayan merupakan dampak yang dapat timbul
akibat kegiatan pemboran. Hasil wawancara (kuisioner) kepada masyarakat sekitar
dapat dijadikan tolak ukur mengenai perubahan-perubahan tersebut. Metode yang
digunakan untuk memantau keadaan masyarakat adalah dengan melakukan
wawancara dan survey yang dilakukan pihak independen. Periode untuk melakukan
survey ini adalah tiap satu (1) tahun sekali.
4. Tenaga Kerja
Dampak kegiatan pemboran terhadap para pekerja adalah luka-luka, baik ringan
maupun berat atau malah mungkin kecelakaan fatal yang dapat menyebabkan
kematian. Metode yang dilakukan untuk pemantauan mengenai para pekerja adalah
observasi langsung dilokasi, daily report, monthly report, STOP Card, pengawasan
menjalankan Standart Operaing Procedure (SOP) selama proses pemboran. Periode
pemantauan adalah setiap saat kegiatan berlangsung.