Anda di halaman 1dari 25

ASUHAN KEPERAWATAN KEGAWATDARURATAN

PADA Sdr. S DENGAN POST OPERASI LAPARATOMI


e.c PERFORASI GASTER (TRAUMA)
DI IMC 1 RSUP DR SARDJITO
Disusun untuk memenuhi tugas praktik klinik Keperawatan Gawat Darurat

Disusun oleh :
Ditta Utamiati

(P07120112052)

Maizan Rahmatina

(P07120112064)

Vinda Astri Permatasari

(P07120112080)

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN YOGYAKARTA
JURUSAN KEPERAWATAN
2015

LEMBAR PENGESAHAN
ASUHAN KEPERAWATAN KEGAWATDARURATAN
PADA Sdr. S DENGAN POST OPERASI LAPARATOMI
e.c PERFORASI GASTER (TRAUMA)
DI IMC 1 RSUP DR SARDJITO

Disusun Oleh :
Ditta Utamiati

(P07120112052)

Maizan Rahmatina

(P07120112064)

Vinda Astri Permatasari

(P07120112080)

TINGKAT III REGULER B

Telah diperiksa dan disetujui pada tanggal ___ Mei 2015


Oleh :

Mengetahui,
Pembimbing Klinik

Pembimbing Pendidikan

BAB I
LAPORAN PENDAHULUAN

A. PENGERTIAN
Perforasi gastrointestinal merupakan suatu bentuk penetrasi yang
komplek dari dinding lambung, usus halus, usus besar akibat dari bocornya isi
dari usus ke dalam rongga perut. Perforasi dari usus mengakibatkan secara
potensial untuk terjadinya kontaminasi bakteri dalam rongga perut ( keadaan
ini dikenal dengan istilah peritonitis). Perforasi lambung berkembang menjadi
suatu peritonitis kimia yang disebabkan karena kebocoran asam lambung
kedalam rongga perut. Perforasi dalam bentuk apapun yang mengenai
saluran cerna merupakan suatu kasus kegawatan bedah (Maulana, 2011).
B. PATOFISIOLOGI
Secara fisiologis, gaster relatif bebas dari bakteri dan mikroorganisme
lainnya karena kadar asam intraluminalnya yang tinggi. Kebanyakan orang
yang mengalami trauma abdominal memiliki fungsi gaster yang normal dan
tidak berada pada resiko kontaminasi bakteri yang mengikuti perforasi gaster.
Bagaimana pun juga mereka yang memiliki maslah gaster sebelumnya berada
pada resiko kontaminasi peritoneal pada perforasi gaster. Kebocoran asam
lambung kedalam rongga peritoneum sering menimbulkan peritonitis kimia.
Bila kebocoran tidak ditutup dan partikel makanan mengenai rongga
peritoneum, peritonitis kimia akan diperparah oleh perkembangan yang
bertahap dari peritonitis bakterial. Pasien dapat asimptomatik untuk beberapa
jam antara peritonitis kimia awal dan peritonitis bakterial lanjut (Ekawati,
2011).
Mikrobiologi dari usus kecil berubah dari proksimal samapi ke distalnya.
Beberapa bakteri menempati bagian proksimal dari usus kecil dimana, pada
bagian distal dari usus kecil (jejunum dan ileum) ditempati oleh bakteri aerob
(E.Coli) dan anaerob ( Bacteriodes fragilis (lebih banyak)). Kecenderungan

infeksi intra abdominal atau luka meningkat pada perforasi usus bagian distal
(Ekawati, 2011).
Adanya bakteri di rongga peritoneal merangsang masuknya sel-sel
inflamasi akut. Omentum dan organ-organ visceral cenderung melokalisir
proses peradangan, mengahasilkan phlegmon (ini biasanya terjadi pada
perforasi kolon). Hypoksia yang diakibatkannya didaerah itu memfasilisasi
tumbuhnya bakteri anaerob dan menggangu aktifitas bakterisidal dari
granulosit, yang mana mengarah pada peningkatan aktifitas fagosit daripada
granulosit, degradasi sel-sel, dan pengentalan cairan sehingga membentuk
abscess, efek osmotik, dan pergeseran cairan yang lebih banyak ke lokasi
abscess, dan diikuti pembesaran absces pada perut. Jika tidak ditangani
terjadi bakteriemia, sepsis, multiple organ failure dan shock (Ekawati, 2011).

BAB II
ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN DATA UMUM


Tanggal pengkajian

: Senin, 25 Mei 2015

Jam : 11.30 WIB

Oleh

: Ditta, Maizan dan Vinda

Sumber data

: Pasien, keluarga, status dan tenaga kesehatan


lain

Metode pengumpulan data : Observasi, pemeriksaan fisik, studi dokumen dan


wawancara
1. IDENTITAS PASIEN
Nama

: Sdr. S

Tempat/tgl.lahir

: Blora, 03 April 1998

Status perkawinan

: Belum kawin

Agama/suku

: Islam/Jawa

Warga negara

: Indonesia

Pendidikan

: SMP

Pekerjaan

: Buruh

Dx. Medis

: Post op laparatomi H0 e.c perforasi gaster


(trauma)

Nomor RM

: 01.73 00 37

2. PENANGGUNG JAWAB
Nama

: Bp. J

Hubungan dgn pasien: Ayah


Alamat

: Tlogotirto, Gabus, Grobogan, Jawa Tengah

Pekerjaan

: Swasta

B. PENGKAJIAN DATA DASAR


1. PRIMARY ASSESSMENT
AIRWAY

: Jalan nafas bersih, tidak ada sumbatan jalan nafas


maupun bunyi abnormal, tidak ada cairan keluar dari mulut
maupun hidung.

BREATHING :
I : Pernapasan 22 x/menit, pernapasan dada, pergerakan dada
simetris, tidak terlihat penggunaan otot pernapasan tambahan,
terpasang kanul binasal 3 lpm
P : Tidak ada nyeri tekan, tidak ada benjolan
P : Suara sonor di lapang paru
A : Suara vesikuler di lapang paru
CIRCULATION : Nadi 115 x/menit teratur, kuat di arteri radialis kanan,
tekanan darah 80/50 mmHg di tangan kanan dalam posisi
berbaring, CRT 2detik, akral teraba dingin. Tidak terlihat
sianosis.
2. FOCUS ASSESSMENT
KEADAAN UMUM

: Sedang

TINGKAT KESADARAN

: Composmentis

GCS

: E 4/ V 5/ M 6

TANDA TANDA VITAL : S : 35,9 C


N : 115 x/menit
RR : 22 x/menit
TD : 80/50 mmHg
KELUHAN UTAMA

: Pasien mengatakan nyeri di perut bekas


operasi dan tubuh terasa lemas.

P : Nyeri saat bergerak atau ditekan


Q : Senut-senut
R : Daerah sekitar luka operasi, tidak menyebar
S : VAS : 6
T : Hilang timbul

3. SEKUNDER ASSESSMENT
RIWAYAT PENYAKIT DAHULU : Keluarga pasien mengatakan pasien
baru pertama kali masuk rumah sakit. Keluarga pasien
mengatakan pasien hanya sakit ringan seperti batuk, pilek
maupun pusing ringan dan cepat sembuh.
RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG (AMPLE): Tanggal 24 Mei 2015, 15
menit sebelum masuk RSS pasien mengalami kecelakaan lalu
lintas bertabrakan dengan sepeda motor lainnya. Keluarga
pasien mengatakan perut pasien mengenai stang motor.
Pasien langsung dilarikan ke IGD RSS dan dilakukan tindakan
foto thoraks. Pasien kemudian dilakukan tindakan operasi cito
laparatomi eksplorasi di OK IGD tanggal 25 Mei 2015 pukul
02.15-04.15 WIB, kemudian pasien dilakukan pemulihan di
recovery room. Pasien dibawa ke IMC 1 pukul 08.30 WIB.
Allergy

: Keluarga pasien mengatakan pasien tidak ada riwayat


alergi makanan maupun obat-obatan

Medication

: Pasien mengatakan minum obat jika badannya merasa


demam dan pusing.

Past illness

: Keluarga mengatakan tidak ada riwayat penyakit menular


maupun menurun.

Last meal

: Pasien menyatakan sebelum ke RS sudah makan nasi


dan minum, selama ini tidak ada gangguan pola makan.

Event leading up to illness

: Pasien mengalami kecelakaan lalu lintas.

Perut mengenai stang motor.


RIWAYAT KESEHATAN KELUARGA : Keluarga pasien mengatakan tidak
ada riwayat penyakit menurun maupun menular di keluarga
pasien.
4. PEMERIKSAAN FISIK
a. KEPALA DAN MAKSILOFASIAL :
Terlihat jejas di bibir atas, terlihat luka lecet di alis sebelah kanan.
Bentuk kepala mesocephal. Pasien terlihat meringis menahan sakit.
Terpasang NGT drain tidak terlihat produksi darah sejak 25 Mei 2015.

b. VERTEBRA SERVIKALIS DAN LEHER :


Tidak terdapat deviasi trakhea. Tidak terlihat jejas maupun luka di
leher. Tidak ada nyeri tekan, tidak ada perdarahan di leher. Tidak ada
pembesaran kelenjar tiroid.
c. THORAKS
1) INSPEKSI :
Tidak terdapat lesi, tidak terlihat penggunaan otot pernapasan
tambahan.
2) PALPASI :
Ekspansi dada simetris. Tidak ada nyeri tekan.
3) PERKUSI :
Kanan 1 5 sonor, 6 redup
Kiri 1 3 sonor, 4 6 redup. Empisema subkutis 8x10 cm.
4) AUSKULTASI :
Suara nafas vesikuler.
d. ABDOMEN
1) INSPEKSI :
Terlihat luka post op laparatomi sepanjang 15 cm bersih tertutup
kassa tidak terlihat rembesan darah maupun nanah. Pasien
terlihat melindungi area luka operasi. Terpasang drain abdomen
kuadran kiri bawah terlihat produksi darah 50 cc sejak 25 Mei
2015. Jejas di hipokondriaka kanan. Empisema subkutis 8x10
cm.
2) AUSKULTASI :
Bising usus terdengar lemah.
3) PERKUSI :
Tidak terkaji karena pasien mengeluh nyeri.
4) PALPASI :
Nyeri tekan di area abdomen regio hipokondriaka kanan.
e. GENETALIA / REKTUM
Terpasang dowel cathether sejak 24 Mei 2015 urine terlihat kuning
jernih. Pasien memakai pampers.

f.

MUSKULOSKELETAL
Anggota gerak lengkap tidak ada odem, akral teraba dingin, turgor
kulit elastis, CRT 2 detik, tidak ada clubbing finger. Pasien belum
mampu memakai pakaian sendiri. Pasien belum mampu mandi
sendiri. Pasien belum mampu melakukan pemenuhan eliminasi
sendiri.
Kekuatan otot
5

5. TERAPI
a. Bedrest
b. IVFD 2 jalur di tangan kiri tanpa tanda infeksi dan plebitis
1) RL + Phenytoin 100 mg 20 tpm
2) RL loading
a. O2 Kanul Binasal 3 liter per menit
NO
1
2
3
4
5
6
7
8

NAMA OBAT
Ceftriaxone
Omeprazole
Piracetam
Metronidazole
Phenytoin
Kalnex
Ketorolac
Paracetamol

DOSIS
1 gram/12 jam
40 mg/24 jam
3 gram/8 jam
500 mg/8 jam
100 mg/8 jam
500 mg/ 8 jam
30 mg/8 jam
500 mg/8 jam

RUTE
IV
IV
IV
IV
IV
IV
IV
IV

6. DATA LABORATORIUM
a. Hasil pemeriksaan Radiologi : USG Abdomen Luar tanggal 24 Mei
2015
Kesan :
1) Terdapat cairan bebas intra cavum abdomen
2) Tak tampak kelainan pada hepar, vesica fellea, lien, kedua ren,
vesica urinaria maupun prostat. Tak tampak gambaran laserasi
pada organ-organ tersebut.
b. Hasil pemeriksaan Radiologi : Cervical AP-Lateral tanggal 24 Mei
2015
Kesan : Tak tampak kelainan pada V. cervicalis
c. Hasil pemeriksaan Radiologi : Thorax Pa Dewasa tanggal 24 Mei
2015
Kesan :
1) Pulmo tak tampak kelainan
2) Besar cor normal
3) Tak tampak fraktur pada sistem tulang yang tervisualisasi
4) Tak tampak tanda-tanda hydropneumothorax pada foto thorax
saat ini
d. Hasil pemeriksaan Radiologi : Abdomen 3 Posisi Dewasa tanggal 24
Mei 2015

Kesan :
1) Mengarah gambaran pneumoperitonium
2) Emfisema subcutis regio hipocondria dextra
e. Hasil pemeriksaan Radiologi : MSCT 3D Kepala Tanpa Kontras
tanggal 24 Mei 2015
Kesan :
1) Oedema cerebri diffuse
2) Tak tampak tanda-tanda EDH, SDH, ICH, IVH pada foto head
MSCT saat ini
3) Tak tampak fraktur pada neurocranium maupun viscerocranium
f.

Hasil pemeriksaan darah tanggal 25 Mei 2015

NO
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21

PEMERIKSAAAN
Leukosit
Eritrosit
Hemoglobin
Hematokrit
MCV
MCH
MCHC
CHCM
CH
RDW
HDW
Trombosit
MPV
Netrofil%
Limfosit%
Monosit%
Eosinofil%
Basofil%
LUC%
Netrofil#
Limfosit#

HASIL
2
4,76
14,4
41,2
86,5
30,2
35
32,6
28
15,4
2,24
263
6,8
62,9
26
8
0,4
0,5
2,2
1,26
0,52

NILAI NORMAL
4,5-11
4,7-6,1
13,2-17,3
39,6-51,9
80-98
27-32
32-36
33-37

22

Monosit#

0,16

0,3-0,8

SATUAN
10^3/L
10^3/L
g/dL
%
fL
pg
g/dL
g/dL
pg
%
%
x10^3/L
fl
%
%
%
%
%
%
10^3/L
10^3/L
10^3/L

23

Eosinofil#

0,01

0-0,2

10^3/L

24

Basofil#

0,01

0-0,1

10^3/L

25

LUC#

0,04

11,5-15,5
2,2-3,2
150-450
7,2-10,4
50-70
22-40
2-8
2-4
0-1
2,2-4,8
1,3-2,9

10^3/L

C. ANALISA DATA
DATA
DS :
1. Pasien mengatakan nyeri di perut bekas operasi.
P : Nyeri saat bergerak atau ditekan
Q : Senut-senut
R : Daerah sekitar luka operasi, tidak menyebar
S : VAS : 6
T : Hilang timbul
DO :
1. Tanda-tanda vital
N : 115 x/menit
RR : 22 x/menit
TD : 80/50 mmHg
2. Terlihat luka post op laparatomi sepanjang 15 cm
bersih tidak terlihat rembesan darah maupun nanah
3. Pasien terlihat meringis menahan sakit
4. Pasien terlihat melindungi area luka operasi

MASALAH
Nyeri akut

PENYEBAB
Luka
post
operasi
laparatomi

5. Hasil pemeriksaan Radiologi tanggal 24 Mei 2015


a. USG Abdomen Luar. Kesan : Terdapat cairan
bebas intra cavum abdomen
b. Abdomen 3 Posisi Dewasa. Kesan : Mengarah
gambaran
pneumoperitonium,
emfisema
subcutis regio hipocondria dextra
DS : DO :
1. Tanda-tanda vital
Suhu : 35,9 oC
2. Terlihat luka post op laparatomi sepanjang 15 cm
bersih tidak terlihat rembesan darah maupun nanah
3. IVFD 2 jalur di tangan kiri tanpa tanda infeksi dan
plebitis
a. RL + Phenytoin 100 mg 20 tpm
b. RL loading
4. Leukosit 2 103/L
5. Terpasang NGT drain tidak terlihat produksi darah
sejak 25 Mei 2015
6. Terpasang drain abdomen kuadran kiri bawah
terlihat produksi darah 50 cc sejak 25 Mei 2015
7. Terpasang dowel cathether sejak 24 Mei 2015 urine
terlihat kuning jernih
8. Terlihat luka lecet di sekitar wajah
DS :
Pasien mengatakan nyeri di perut bekas operasi dan
tubuh terasa lemas
DO :
1. Pasien bedrest
2. Terlihat luka post op laparatomi sepanjang 15 cm
3. Terpasang NGT drain, drain abdomen kuadran kiri
bawah, dowel cathether dan IVFD 2 jalur di tangan
kiri
4. Keadaan umum : sedang
5. Pasien belum mampu memakai pakaian sendiri
6. Pasien belum mampu mandi sendiri
7. Pasien belum mampu melakukan pemenuhan
eliminasi sendiri

Risiko
infeksi

Luka
post
operasi
laparatomi

Defisit
perawatan
diri

Kelemahan

D. PRIORITAS DIAGNOSA KEPERAWATAN :


1. Nyeri akut berhubungan dengan Luka post operasi laparatomi ditandai
dengan :
DS :
Pasien mengatakan nyeri di perut bekas operasi.
P : Nyeri saat bergerak atau ditekan
Q : Senut-senut
R : Daerah sekitar luka operasi, tidak menyebar

S : VAS : 6
T : Hilang timbul
DO :
a. TTV :
N : 115 x/menit
RR : 22 x/menit
TD : 80/50 mmHg
b. Terlihat luka post op laparatomi sepanjang 15 cm bersih tidak
terlihat rembesan darah maupun nanah
c. Pasien terlihat meringis menahan sakit
d. Pasien terlihat melindungi area luka operasi
e. Hasil pemeriksaan Radiologi tanggal 24 Mei 2015:
1) USG Abdomen Luar. Kesan : Terdapat cairan bebas intra cavum
abdomen
2) Abdomen 3 Posisi Dewasa. Kesan : Mengarah gambaran

pneumoperitonium, emfisema subcutis regio hipocondria dextra


2. Risiko infeksi berhubungan dengan luka post operasi laparatomi ditandai
dengan :
DS : DO :
a. Tanda-tanda vital
b. Suhu : 35,9 oC
c. Terlihat luka post op laparatomi sepanjang 15 cm bersih tidak
terlihat rembesan darah maupun nanah
d. IVFD 2 jalur di tangan kiri tanpa tanda infeksidan plebitis
1) RL + Phenytoin 100 mg 20 tpm
2) RL loading
e. Leukosit 2 103/L
f.

Terpasang drain di hidung tidak terlihat produksi darah sejak 25 Mei


2015

g. Terpasang drain abdomen kuadran kiri bawah terlihat produksi


darah 50 cc sejak 25 Mei 2015
h. Terpasang dowel cathether sejak 24 Mei 2015 urine terlihat kuning
jernih
i. Terlihat luka lecet di sekitar wajah
3. Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan ditandai dengan

DS :
Pasien mengatakan nyeri di perut bekas operasi dan tubuh terasa
lemas
DO :
a. Pasien bedrest
b. Terlihat luka post op laparatomi sepanjan g 15 cm
c. Terpasang NGT drain, drain abdomen kuadran kiri bawah, dowel
cathether dan IVFD 2 jalur di tangan kiri
d. Keadaan umum : sedang
e. Pasien belum mampu memakai pakaian sendiri
f.

Pasien belum mampu mandi sendiri

g. Pasien belum mampu melakukan pemenuhan eliminasi sendiri

E. INTERVENSI KEPERAWATAN
NO
1.

DIAGNOSA
KEPERAWATAN
Senin, 25 Mei
2015
Pukul 12.00 WIB
Nyeri
akut
berhubungan
dengan luka post
operasi
laparatomi

PERENCANAAN

TUJUAN
Senin, 25 Mei 2015
Pukul 12.00 WIB
Selama dilakukan tindakan
keperawatan
diharapkan
nyeri
pasien
terkontrol
dengan kriteria hasil :
- Pasien mengatakan nyeri
berkurang
- VAS menjadi 4 atau kurang
- TTV dalam batas normal
TD : 120/80 mmHg
N : 60-100 x/menit
RR : 16-20 x/menit

Ditta

INTERVENSI
Senin, 25 Mei 2015
Pukul 12.00 WIB

RASIONAL
Senin, 25 Mei 2015
Pukul 12.00 WIB

1. Monitor TTV: Nadi, TD dan respirasi tiap 6


jam
2. Kaji ulang keluhan nyeri, karakteristik dan
skala nyeri yang dirasakan pasien

1. Nyeri yang dirasakan pasien dapat


menyebabkan peningkatan hasil TTV.
2. Mengetahui kekuatan nyeri yang
dirasakan pasien dan menentukan
tindakan selanjutnya guna mengatasi
nyeri.
3. Posisi yang nyaman dapat mengurangi
rasa nyeri yang dirasakan pasien
4. Relaksasi dapat mengurangi rasa nyeri

3. Berikan posisi yang nyaman


4. Ajarkan dan anjurkan tehnik relaksasi tarik
nafas dalam saat merasa nyeri
5. Kelola pemberian terapi analgetik :
Ketorolac 30 mg/ 8 jam, Piracetam 3
gram/8 jam, Paracetamol 500 mg/8 jam
6. Kelola pemberian antiulserasi dan
antirefluks : Omeprazole 40 mg/24 jam

5. Analgetik dapat mengurangi rasa nyeri


6. Mencegah refluks esofagus dan terapi
jangka pendek ulkus lambung

Ditta

Ditta
2.

Senin, 25 Mei
2015
Pukul 12.00 WIB
Risiko infeksi
berhubungan
dengan luka post

Senin, 25 Mei 2015


Pukul 12.00 WIB
Selama dilakukan tindakan
keperawatan
diharapkan
pasien
tidak
mengalami
infeksi dengan kriteria hasil :

Senin, 25 Mei 2015


Pukul 12.00 WIB
1. Monitor suhu, produksi drain dan adanya
tanda-tanda infeksi seperti : kemerahan,
bengkak, nyeri dan panas
2. Rawat luka sekitar wajah dan luka operasi

Senin, 25 Mei 2015


Pukul 12.00 WIB
1. Mengetahui tanda tanda infeksi lebih
dini sehingga lebih mudah
penanganannya.
2. Perawatan luka dapat mencegah

operasi
laparatomi

- Tidak didapatkan adanya


tanda-tanda infeksi (rubor,
tumor, kalor, dolor, fungsio
laesa)
- Suhu 36,5-37,5 oC
- Produksi drain berkurang
atau tidak ada
- Leukosit 4,5-11 103/L

Maizan

dengan teknik aseptik


3. Anjurkan pasien dan keluarga untuk
menjaga kebersihan pasien, anjurkan 1
pasien 1 pengunjung
4. Kelola pemberian obat antibiotik
Ceftriaxone 1 gram/12 jam, Metronidazole
500 mg/8 jam
5. Kelola pemberian obat hemostatik : Kalnex
500 mg/ 8 jam
6. Cek dan monitor darah rutin

Maizan

3.

Senin, 25 Mei
2015
Pukul 12.00 WIB
Defisit perawatan
diri berhubungan
dengan
kelemahan

Senin, 25 Mei 2015


Pukul 12.00 WIB
Selama dilakukan asuhan
keperawatan diharapkan
perawatan diri pasien
terpenuhi dengan kriteria
hasil :
- Pasien berpakaian rapi
- Pasien bersih tidak bau
- Pasien terpenuhi
kebutuhan b.a.b dan b.a.k

Vinda

Senin, 25 Mei 2015


Pukul 12.00 WIB

masuknya bakteri atau kuman sehingga


tidak terjadi infeksi
3. Meningkatkan pengetahuan dan
kerjasama serta mencegah terjadinya
infeksi silang
4. Obat antibiotik dapat menghambat
pertumbuhan bakteri
5. Mencegah perdarahan pasca operasi
laparatomi eksplorasi
6. Mengetahui kekebalan tubuh pasien

Maizan

Senin, 25 Mei 2015


Pukul 12.00 WIB

1. Bantu pasien berpakaian


2. Bantu pasien mandi di atas tempat tidur
3. Bantu pasien b.a.b dan b.a.k
4. Edukasi pada pasien dan keluarga
pentingnya menjaga kebersihan diri

Vinda

1. Memenuhi kebutuhan berpakaian dan


berhias
2. Memenuhi kebutuhan mandi
3. Memenuhi kebutuhan eliminasi
4. Meningkatkan pengetahuan

Vinda

F. IMPLEMENTASI DAN CATATAN PERKEMBANGAN


DIAGNOSA
KEPERAWATAN
Nyeri akut
berhubungan
dengan luka post
operasi
laparatomi

IMPLEMENTASI

EVALUASI

Senin, 25 Mei 2015


Senin, 25 Mei 2015
12.45 WIB
13.00 WIB
1. Memonitor TTV : Nadi, TD dan respirasi
S:
2. Memberikan posisi yang nyaman
- Pasien mengatakan nyeri di perut
3. Mengajarkan tehnik relaksasi tarik nafas dalam dan - Pasien mengatakan akan melakukan teknik nafas dalam apabila
menganjurkan melakukannya saat merasa nyeri
merasakan nyeri
O:
- Terlihat mempraktikkan teknik nafas dalam dengan benar
- Tanda-tanda Vital
TD : 111/55 mmHg
N : 109 x/mnt
RR : 20 x/mnt
- Terlihat luka post op laparatomi sepanjang 15 cm bersih tidak terlihat
rembesan darah maupun nanah
- Pasien terlihat meringis menahan sakit
- Pasien terlihat melindungi area luka operasi
A:
Masalah nyeri akut teratasi sebagian
P:
- Monitor TTV: Nadi, TD dan respirasi tiap 6 jam
- Kelola pemberian terapi analgetik : Ketorolac 30 mg/ 8 jam, Piracetam
3 gram/8 jam, Paracetamol 500 mg/8 jam
- Kelola pemberian antiulserasi dan antirefluks : Omeprazole 40 mg/24
jam

Ditta

Ditta

Selasa, 26 Mei 2015


Selasa, 26 Mei 2015
08.00 WIB
08.10 WIB
1. Mengkaji ulang nyeri pasien
S:
2. Memberikan terapi obat analgetik Ketorolac 30 mg, - Pasien mengatakan nyeri berkurang
Piracetam 3 gram, Paracetamol 500 mg,
- Pasien mengatakan nyerinya bertambah jika di tekan di digerakkan
Omeprazole 40 mg
perutnya, senut-senut di sekitar operasi hilang timbul
O:
- VAS 3
- Obat analgetik Ketorolac 30 mg, Piracetam 3 gram, Paracetamol 500
mg Omeprazole 40 mg masuk per IV
- Pasien masih susah bergerak
A : Masalah nyeri akut teratasi sebagian
P : Kelola pemberian obat analgetik

Maizan

Maizan

Selasa, 26 Mei 2015


12.00 WIB
Memonitor TTV: Nadi, TD dan respirasi tiap 6 jam

Vinda

Selasa, 26 Mei 2015


12.10 WIB
S : Pasien mengeluhkan sesak nafas
O:
- Terpasang O2 kanul binasal 3 lpm
- TD: 120/80 mmHg
RR : 21 x/menit
HR : 90 x/menit
A : Masalah nyeri kaut teratasi sebagian
P : Monitor TTV setiap 6 jam

Vinda
Rabu, 27 Mei 2015
07.30 WIB
Memonitor TTV : TD, N, RR

Vinda

Rabu, 27 Mei 2015


07.35 WIB
S : Pasien mengatakan merasa gatal dan tidak nyaman di daerah
jahitan

O:
- TTV
TD : 103/56 mmHg
N : 115 x/menit
RR : 20 x/menit
- Terlihat luka laparatomi
A : Masalah nyeri akut teratasi sebagian
P : Kelola pemberian terapi analgetik

Vinda
Rabu, 27 Mei 2015
08.15 WIB
1. Memberikan posisi yang nyaman
2. Memberikan analgetik dan antiulserasi
paracetamol 500 mg, piracetam 3 gram,
omeprazole 40 mg dan kalnex 500 mg

Vinda

Rabu, 27 Mei 2015


08.30 WIB
S : Pasien mengatakan gatal dan tidak nyaman di perut
O:
- Terpasang infus NaCl 0,9%+ketorolac 60 mg 20 tpm
- Posisi supinasi
- Obat paracetamol 500 mg, piracetam 3 gram, omeprazole 40 mg dan
kalnex 500 mg masuk per IV
A : Masalah nyeri akut teratasi sebagian
P : Kelola analgetik dan antiulserasi

Vinda

Rabu, 27 Mei 2015


12.20 WIB
Memonitor TTV : N, RR, TD

Ditta

Rabu, 27 Mei 2015


12.30 WIB
S : Pasien mengatakan tidak nyaman di jahitan
O:
- TTV
N : 108 x/menit
TD : 95/48 mmHg
RR 24 x/menit
A : Masalah nyeri akut teratasi sebagian

P : Kelola pemberian analgetik


Risiko Infeksi
berhubungan
dengan luka post
operasi
laparatomi

Senin, 25 Mei 2015


12.00 WIB
1. Monitor suhu pasien
2. Menganjurkan pasien dan keluarga untuk menjaga
kebersihan pasien, anjurkan 1 pasien 1
pengunjung
3. Mengelola pemberian obat antibiotik Ceftriaxone 1
gram

Senin, 25 Mei 2015


12.15 WIB
S : Keluarga pasien mengatakan akan menjaga kebersihan pasien
serta membatasi penjenguk dan penunggu pasien
O : Ceftriaxone 1 gram masuk per IV, suhu 36,5oC
A : Masalah risiko infeksi teratasi sebagian
P : Kelola pemberian obat antibiotik

Vinda

Vinda
Selasa, 26 Mei 2015
08.00 WIB
1. Merawat luka di sekitar wajah pasien
2. Mengelola pemberian obat antibiotik Ceftriaxon 1
gram dan Metronidazole 500 mg

Maizan

Ditta

Selasa, 26 Mei 2015


08.10 WIB
S:
- Pasien mengatakan perih ketika lukanya dibersihkan
O:
- Obat antibiotik ceftriaxone 1 gram dan metronidazole 500 mg masuk
per IV
- Luka bersih sudah mulai kering luka di wajah dan di bibir
A : Masalah risiko infeksi teratasi sebagian
P : Kelola pemberian obat antibiotik

Maizan

Selasa, 26 Mei 2015


12.00 WIB
Memonitor suhu, produksi drain dan adanya tanda
tanda infeksi seperti : kemerahan, bengkak, nyeri dan
panas

Vinda

Selasa, 26 Mei 2015


12.15 WIB
S:O:
- S : 35.9oC
- produksi drain berwarna merah tua dan terdapat 500 ml
A : Masalah risiko infeksi teratasi sebagian

P : Monitor suhu, produksi drain dan adanya tanda-tanda infeksi

Vinda

Rabu, 27 Mei 2015


07.40 WIB
Memonitor suhu, produksi drain dan tanda infeksi

Vinda

Rabu, 27 Mei 2015


08.00 WIB
1. Mengelola pemberian antibiotik ceftriazone 1 gram
dan metronidazole 500 mg
2. Merawat luka lecet di sekitar wajak teknik aseptik

Vinda

Rabu, 27 Mei 2015


WIB
S : Pasien mengatakan kehausan dan kelaparan
O:
- Suhu 37,2oC
- Drain abdomen produksi darah 500 cc
- NGT drain produksi cairan hijau 200 cc
- Terpasang DC kateter urin kuning jernih
A : Masalah risiko infeksi teratasi
P : Monitor suhu, drain dan tanda infeksi
Kelola pemberian antibiotik

Vinda

Rabu, 27 Mei 2015


08.15 WIB
S:O:
- Ceftriaxone 1 gram dan metronidazole 500 mg masuk per IV
- IVFD 2 jalur di CVP sejak 25 Mei 2015 kondisi bersih tanpa tanda
infeksi
- Luka wajah terawat dan terolesi gentamycin salep
A : Masalah risiko infeksi teratasi teratasi
P : Kelola pemberian antibiotik

Vinda
Rabu, 27 Mei 2015
12.15 WIB
Memonitor suhu, produksi drain dan adanya tanda
infeksi

Rabu, 27 Mei 2015


12.20 WIB
S:O:

Ditta

- Suhu 37,4oC
- NGT drain produksi cairan kehijauan 200 cc
- Drain abdomen produksi darah 500 cc
A : Masalah risiko infeksi teratasi
P : Monitor suhu produksi drain dan adanya tanda infeksi

Ditta
Defisit perawatan
diri berhubungan
dengan
kelemahan

Selasa, 26 Mei 2015


08.10 WIB
1. Membantu pasien mandi di atas tempat tidur
2. Membantu pasien berpakaian
3. Edukasi pada pasien dan keluarga pentingnya
menjaga kebersihan diri

Maizan

Selasa, 26 Mei 2015


08.30 WIB
S:
- Pasien mengatakan mulut dan badan terasa lebih segar setelah
dibersihkan
- Keluarga pasien mengatakan akan rutin memandikan pasien
O:
- Pasien berpakaian dengan rapi
- Pasien terlihat bersih dan wangi
- Keluarga pasien terlihat mengangguk mengerti
A : Masalah defisit perawatan diri teratasi
P : Bantu pemenuhan perawatan diri pasien

Maizan

KESIMPULAN
Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3 hari, didapatkan 3 diagnosa
keperawatan sebagai berikut :
1. Nyeri akut berhubungan dengan luka post operasi laparatomi
2. Risiko infeksi berhubungan dnegan luka post operasi laparatomi
3. Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan
Dari ketiga diagnosa di atas, sebagian besar masalah keperawatan sudah
teratasi tapi ada 1 diagnosa yang masih teratasi sebagian.
Faktor pendukung tercapainya tujuan keperawatan yaitu keluarga yang
kooperatif untuk menjaga kebersihan pasien serta menerapkan cuci tangan 6
langkah benar sebelum dan sesudah kontak dengan pasien. Faktor penghambat
dari tercapainya tujuan keperawatan yaitu kondisi pasien yang masih mengalami
nyeri karena baru 2 hari post operasi laparatomi sehingga tanda-tanda vital
masih labil.

DAFTAR PUSTAKA
Ekawati, D. 2011. Referat Perforasi Gaster. Diunduh tanggal 26 Mei 2015 dari
https://www.scribd.com/doc/125367997/Perforasi-Gaster
Maulana, A. 2011. Laporan kasus peritonitis et causa perforasi gaster. Diunduh
tanggal 26 Mei 2015 dari https://www.academia.edu/8945431/57831790Case-Perforasi-Gaster