Anda di halaman 1dari 18

PERUSAHAAN DALAM MEMERANGI

KECURANGAN (FRAUD)
MAKALAH
Untuk memenuhi tugas Forensic Acc & Fraud
Examination kelas CD

Faisal Yoga Restu K


Gusti Ayu Putu Mitha
Ananta Dian P
Karimah Jamal

(125020302111008)
(125020302111009)
(125020300111010)
(125020307111053)

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2015

BAB 3. GAMBARAN UMUM - PERUSAHAAN DALAM MEMERANGI FRAUD


Asumsikan bahwa saya adalah seorang konsultan perusahaan dan konsultan akan
menginformasikan kepada perwakilan perusahaan bahwa tidak ada yang dapat disebut
sebagai kecurangan kecil yang ada hanyalah kecurangan besar yang dapat dideteksi lebih
awal. Konsultan harus memberitahu perusahaan bahwa kecurangan berkembang secara
geometris dan jika kecurangan dapat berlanjut tanpa adanya deteksi akan menjadi semakin
berani, dan nilai yang dicuri atau dimanipulasi dalam periode terakhir akan menjadi lebih
besar yang diambil pada periode awal terjadinya kecurangan. Dan konsultan harus berfokus
dalam empat elemen kecurangan yaitu pencegahan, pendeteksian secara proaktif, investigasi
dan tindak lanjut secara hukum.
Pencegahan Kecurangan
Pencegahan kecurangan secara umum merupakan cara yang paling efektif untuk
mengurangi kerugian akibat kecurangan. Pelaku biasanya merugi karena mereka merupakan
pelaku yang baru pertama kali melakukan kecurangan yang akan merasa terhina dan malu
apalagi ketika akan menerima konsekuensi hukum. Mereka biasanya harus membayar pajak
dan juga ganti rugi, dan sering kali ada sanksi secara finansial dan konsekuensi lainnya.
Korban merugi karena tidak hanya aset yang dicuri, tetapi mereka juga harus membayar
biaya hukum, kehilangan waktu, publisitas negatif, hal itu membuat orang lain dalam
organisasi menganggap bahwa pelaku kecurangan tidak dikenakan sanksi yang serius,
sehingga memungkinkan orang lain untuk melakukan kecurangan. Pencegahan kecurangan
yang efektif melibatkan dua aktivitas dasar yaitu pertama mengambil tahapan untuk
menciptakan dan mempertahankan budaya jujur dan beretika serta menilai risiko kecurangan
dan mengembangkan respon yang konkrit untuk mengurangi risiko dan mengeliminir
kesempatan terjadinya kecurangan.
Menciptakan budaya jujur dan beretika
Organisasi menggunakan beberapa pendekatan untuk menciptakan budaya jujur dan
beretika dan lima elemen yang paling umum dan penting adalah :
1. Memastikan bahwa manajemen puncak memberikan contoh perilaku yang tepat
2. Mempekerjakan pegawai yang tepat
3. Mengomunikasikan sejumlah ekspektasi diseluruh posisi yang ada dalam struktur
organisasi dan meminta konfirmasi tertulis atas penerimaan ekspektasi secara periodik
4. Menciptakan lingkungan kerja yang positif
5. Mengembangkan dan mempertahankan kebijakan yang efektif untuk menangani
kecurangan ketika hal itu benar-benar terjadi.
Pengaruh manajemen puncak
Manajemen dalam suatu organisasi tidak dapat bertindak satu arah dan mengharapkan
orang lain dalam organisasi untuk kemudian berperilaku secara berbeda. Manajemen harus
memperkuat pegawainya melalui sanksi tegas ketika perilaku pegawai tidak jujur, perilaku
yang patut dipertanyakan, atau perilaku tidak etis tidak dapat lagi di toleransi. Analisa
mengapa orang berbohong menunjukkan bahwa ada empat alasan besar mengapa orang
tersebut berbohong, pertama ketakutan terhdap sanksi atau konsekuensi yang buruk.
Ketakutan ini bisa jadi karena mereka mengetahui bahwa mereka telah melakukan sesuatu
yang salah atau kinerja mereka tidak memenuhi harapan. Alasan kedua individu yang terus
selalu merasakan ketakutan terhadap kemungkinan adanya sanksi akan membiasakan dirinya

untuk terus berbohong. Alasan ketiga untuk kebohongan adalah karena mereka telah belajar
untuk berbohong karena melihat orang lain berbohong.
Mempekerjakan pegawai yang tepat
Di dalam organisasi saat merekrut pegawai harus dilakukan dengan tes dan beberapa
cara untuk mengetahui karakter calon pegawai tersebut. Prosedur perekrutan secara proaktif
meliputi beberapa hal, seperti malakukan investigasi latar belakang calon pegawai, mengecek
referensi yang ditunjukkan calon pegawai secara mendalam, dan belajar bagaimana
menginterpretasikan respons untuk sejumlah pertanyaan yang ditanyakan terkait calon
pegawai, serta menguji kejujuran dan sifat-sifat calon pegawai lainnya.
Di dalam ethical mathurity model (EMM) pemahaman etika secara pribadi,
merupakan batasan etis yang paling mendasar dalam tindakan seseorang secara pribadi. Hal
itu termasuk mempelajari perbedaan diantara yang benar dan yang salah, mengembangkan
sifat adil, belajar untuk peduli dan berempati dengan orang lain, mempelajari prinsip dasar
integritas dan realitas dan bertindak dengan cara yang konsisiten dengan nilai-nilai yang
diketahui sebagai sesuatu yang benar.
Mengkomunikasikan ekspektasi dari kejujuran dan integritas
Elemen terpenting dalam mengkomunikasikan ekspektasi dari kejujuran dan integritas
yaitu pertama identifikasi dan kondifikasi nilai dan etika yang sesuai, pelatihan kesadaran
kecurangan yang membantu pegawai memahami permasalahan yang berpotensi
menimbulkan kecurangan yang mungkin dihadapi dan bagaimana menyelesaikan atau
melaporkannya, mengkomunikasikan ekspektasi yang konsisten mengenai adanya sanksi bagi
pelanggar. Supaya kode etik efektif, kode etik tersebut harus tertulis dan dikomunikasikan
kepada pegawai, pemasok, dan pelanggan. Kode etik tersebut juga harus dikembangkan
sehingga dapat mendorong manajemen dan pegawai untuk bertindak sesuai kode etik
tersebut.
Menciptakan lingkungan kerja yang positif
Kecurangan lebih jarang terjadi ketika pegawai memiliki perasaan positif terhadap
organisasi, dan mempunyai rasa memiliki dalam organisasi tersebut, dibandingkan ketika
mereka merasa tidak diperlakukan dengan semestinya, terancam atau diabaikan. Faktor-faktor
yang dihubungkan dengan tingginya tingkat kecurangan dan yang mengurangi nilai dari
lingkungan kerja yang positif antara lain sebagai berikut :
1. Manajemen puncak yang tidak peduli atau memerhatikan perilaku pegawai
2. Umpan balik negatif atau nerkurangnya pengakuan kinerja dalam pekerjaan
3. Adanya ketidakadilan yang dirasakan dalam organisasi
4. Manajemen autokrasi, bukan manajemen partisipatif
5. Loyalitas organisasi rendah
6. Ekspektasi anggaran yang tidak masuk akal
7. Pembayaran dengan nilai rendah yang tidak realistis
8. Pelatihan dan kesempatan promosi yang buruk
9. Tingkat perputaran dan ketidakhadiran yang tinggi
10. Kurangnya kejelasan tanggung jawab dalam organisasi
11. Komunikasi yang buruk dalam organisasi
Penanganan kecurangan dan pelaku kecurangan secara tepat ketika terjadi
kecurangan
Tidak peduli seberapa baik aktivitas pengendalian kecurangan suatu organisasi,
seperti yang dinyatakan sebelumnya, kecurangan masih dapat terjadi. Cara organisasi
merespon insiden kecurangan berpengaruh besar terhadap jumlah insiden dimasa mendatang.

Kebijakan yang efektif untuk menangani kecurangan adalah harus memastikan bahwa fakta
diinvestigasi secara mendalam, dilakukan tindakan yang tegas dan konsisten terhadap para
pelaku, terdapat penilaian dan peningkatan atas risiko dan pengendalian, serta komunikasi
dan pelatihan secara terus menerus.
Menilai dan mengurangi risiko kecurangan
Organisasi dapat secara proaktif menghilangkan kesempatan dilakukannya
kecurangan dengan secara akurat mengidentifikasi sumber dan mengukur risiko, serta
mengimplementasikan pengendalian preventif dan pengendalian detektif yang sesuai untuk
mengurangi risiko-risiko tersebut, membuat pemonitoran secara menyeluruh oleh pegawai,
dan memiliki auditor internal dan eksternal yang melakukan pengecekan independen pada
kerja. Mengidentifikasi, menelusuri, dan mengukur risiko kecurangan berarti bahwa
organisasi harus menerapkan suatu proses yang dapat menunjukkan dimana risiko
kecurangan terbesar serta mengevaluasi dan menguji pengendalian yang mengurangi risiko
tersebut.
Dalam
mengidentifikasi
risiko
kecurangan,
organisasi
seharusnya
mempertimbangkan karakteristik organisasi, industri dan negara yang memengaruhi risiko
kecurangan. Setelah penilaian risiko kecurangan dilakukan, organisasi dapat mengidentifikasi
proses, pengendalian dan prosedur lain yang dibutuhkan untuk mengurangi risiko yang
teridentifikasi. Sistem pengendalian internal yang memadai akan menyertakan lingkungan
pengendalian yang dikembangkan dengan baik, sistem akuntansi yang efektif, dan aktivitas
pengendalian yang sesuai.
Pendeteksian kecurangan
Seperti yang telah dibahas sebelumnya, sebagian besar kecurangan dimulai dari
jumlah yang kecil, dan jika tidak terdeteksi akan berlanjut menjadi semakin besar. Kejadian
yang membuat pelaku merasa ketakutan atau terancam akan membuatnya menghentikan
kecurangan, dan hanya akan dilanjutkan ketika ancaman tersebut berlalu. Karena pelaku
meningkatkan jumlah yang mereka curi, pada sebagian besar kasus, jumlah yang diambil
pada periode awal kecurangan. Pada suatu kasus misalnya, jumlah yang diambil meningkat
hingga empat kali lipat setiap bulan selama periode kecurangan berlanjut. Sebagaimana
dinyatakan sebelumnya, tidak ada kecurangan yang kecil yang ada hanyalah besar yang
terdeteksi lebih awal. Dalam kasus kecurangan yang melibatkan manajemen puncak atau
pemilik bisnis sebagai pelakunya, pencegahan kecurangan sulit dilakukan dan diperlukan
pendeteksian sejak dini.
Pendeteksian kecurangan biasanya dimulai dengan mengidentifikasikan sejumlah
indikator-indikator yang cenderung berkaitan dengan kecurangan. Sayangnya, indikator
tersebut biasanya juga berkaitan dengan faktor nonkecurangan. Ada tiga cara utama untuk
mendeteksi kecurangan yaitu, secara tidak sengaja, dengan menyediakan sejumlah cara bagi
orang yang ingin melaporkan dugaan adanya kecurangan dan dengan memeriksa catatan dan
dokumen transaksi untuk menentukan apakah ada anomali yang mungkin mempresentasikan
suatu kecurangan. Dalam beberapa tahun terakhir, organisasi telah mengimplementasikan
sejumlah inisiatif untuk mendeteksi kecurangan secara lebih proaktif, pendekatan
pendeteksian kecurangan secara proaktif yang pertama dan yang paling umum adalah dengan
memasang saluran pengaduan untuk menerima laporan seperti yang dijelaskan sebelumnya,
hal ini memungkinkan pegawai, rekan kerja, dan pihak lain untuk menghubungi dengan
menggunakan telepon atau memberikan informasi melalui halaman situs mengenai dugaan
adanya kecurangan secara anonim.

INVESTIGASI KECURANGAN
Ada 2 jenis dalam menginvestigasi kecurangan ini, yang pertama ada kotak pembuktian,
yaitu :
Bukti testimonial : yang dikumpulkan dari individu , teknik investigasi datanya adalah
dengan cara mewawancarai, introgasi dan uji kejujuran
Bukti dokumentasi : yang dikumpulkan dari dokumentasi tertulis, program computer, dan
sumber tertulis atau tercetak lainnya. Teknik investigasi datanya adalah dengan cara
pengumpulan data, pencarian catatan public, audit, analisis laporan keuangan, pengujian
laporan, dan lain-lain.
Bukti fisik : seperti sidik jari, jejak kendaraan, senjata, property yang dicuri dan bukti nyata
lainnya.
Pengamatan pribadi : meliputi bukti-bukti yang dirasakan (di lihat, dirasa, didengar, dll)
oleh investigator itu sendiri. Teknik investigasinya adalah pengawasan penjagaan dan
investigasi tersembunyi.
Dan ada 3 hal yang mendorong terjadinya sebuah upaya fraud, yaitu pressure
(dorongan), opportunity (peluang), dan rationalization (rasionalisasi), sebagaimana tergambar
berikut
ini:

Pressure
Pressure adalah dorongan yang menyebabkan seseorang melakukan fraud, contohnya
hutang atau tagihan yang menumpuk, gaya hidup mewah, ketergantungan narkoba, dll. Pada
umumnya yang mendorong terjadinya fraud adalah kebutuhan atau masalah finansial. Tapi
banyak juga yang hanya terdorong oleh keserakahan.
Opportunity
Opportunity adalah peluang yang memungkinkan fraud terjadi. Biasanya disebabkan
karena internal control suatu organisasi yang lemah, kurangnya pengawasan, dan/atau
penyalahgunaan wewenang. Di antara 3 elemen fraud triangle, opportunity merupakan
elemen yang paling memungkinkan untuk diminimalisir melalui penerapan proses, prosedur,
dan control dan upaya deteksi dini terhadap fraud.
Rationalization
Rasionalisasi menjadi elemen penting dalam terjadinya fraud, dimana pelaku mencari
pembenaran atas tindakannya, misalnya:
1. Bahwasanya tindakannya untuk membahagiakan keluarga dan orang-orang yang
dicintainya.

2. Masa kerja pelaku cukup lama dan dia merasa seharusnya berhak mendapatkan
lebih dari yang telah dia dapatkan sekarang (posisi, gaji, promosi, dll.)
3. Perusahaan telah mendapatkan keuntungan yang sangat besar dan tidak mengapa
jika pelaku mengambil bagian sedikit dari keuntungan tersebut.

TINDAK LANJUT SECARA HUKUM


Terhadap temuan hasil audit yang diperoleh dari hasil investigasi, perlu
dikomunikasikan kepada manajemen auditee yang akan menyelesaikan atau menindaklanjuti
temuan audit dan rekomendasi sebagaimana tercantum dalam laporan hasil audit. Terhadap
temuan yang diindikasi adanya tindakan melawan hukum, perlu mengantisipasi kemungkinan
perlunya membantu aparat hukum atau pihak-pihak terkait dalam upaya penindaklanjutan
temuan tersebut. Dengan kata lain, pihak pelaku keurangan harus dikenakan sanksi sesuai
ketentuan yang berlaku.
Bentuk sanksi tehadap pelaku dapat berupa sanksi administrasi, tuntutan ganti rugi,
ataupun anaman pidana. Oleh karena itu, auditor perlu mengantisipasinya dengan memahami
tentang dasar-dasar ketentuan yang berkaitan dengan hukum di Indonesia, khususnya
terhadap kasus-kasus yang akan diselesaikan secara hukum. Selanjutnya, auditor perlu
mengidentifikasi apakah kasus yang ditangani termasuk kasus perdata atau kasus pidana.
1.

Hukum Perdata
Hukum perdata adalah hukum yang mengatur hubungan hukum antara orang yang
satu dengan orang lainnya sebagai anggota masyarakat dan menitikberatkan kepentingan
perorangan yang bersifat pribadi. Suatu kasus perata baru timbul bila pihak yang merasa
dirugikan melakukan gugatan. Kebenaran formil merupakan hal yang sangat dominan pada
kasus perdata. Temuan yang mengandung unsur kerugian keuangan dan merupakan kasus
perdata, pada umumnya lahir dari masalah-masalah yang bersumber pada perikatan.
Pengertian perikatan lebih luas daripada perjanjian karena perikatan dapat timbul karena
perjanjian atau karena undang-undang.
a.

Perbuatan Melanggar Hukum


Pengertian melanggar hukum dalam arti sempit adalah suatu perbuatan yang
melanggar hak orang lain atau jika orang berbuat bertentangan dengan kewajiban hukumnya
sendiri. Sedangkan pengertian melanggar hukum dalam arti luas adalah berbuat atau tidak
berbuat yang melanggar hak orang lain, atau bertentangan dengan kewajiban hukum orang
yang berbuat itu sendiri atatu bertentangan dengan kesusilaan atau sikap hati-hati
sebagaimana patutnya dalam lalu lintas masyarakat, terhadap diri atau barang-barang orang
lain.
b.

Menimbulkan Kerugian
Setiap orang bertanggungjawab tidak saja untuk kerugian yang disebsbkan oleh
perbuatannya, tetapi juga untuk kerugian yang disebabkan oleh kelalaian atau kurang hatihatinya (pasal 1366 KUHPdt). Kerugian yang ditanggung termasuk karena perbuatan orangorang menjadi tanggungannya atau disebabkan oleh barang-barang yang berada di bawah
pengawasannya (pasal 1367 KUHPdt).
Menurut yurisprudensi, kerugian yang timbul karena perbuatan melanggar hukum,
ketentuannya sama dengan kerugian yang timbul karena wanprestasi dalam perjanjian.

c.

Hubungan Kausal
Kerugian harus timbul akibat dari perbuatan orang itu, yang meliputi :
- Karena perbuatan melanggar hukum
- Karena kelalaian atau kurang hati-hatinya

d.

Unsur Kesalahan
Pengertian kesalahan di sini adalah pengertian hukum perdata, bukan hukum pidana.
Kesalahan dalam pasal 1365 KUHPdt mengandung semua gradasi, dari kesalahan dalam arti
disengaja maupun kesalahan yang tidak disengaja. Kesalahan disini meliputi (diuraikan
dalam pasal 1367 KUHPdt) :
- Karena perbuatannya sendiri
- Karena perbuatan orang-orang yang menjadi tanggungannya
- Barang-barang yang berada dibawah pengawasannya
Dikaitkan dengan pengertian fraud yang slah satu cirinya adalah mengandung unsur
kesengajaan, maka penyelesaian kerugian melalui gugatan perdata mempunyai cakupan yang
lebih luas.
Pasal 1365 KUHPdt merupakan pasal yang sangat penting, sebab pasal ini dpat
diterapkan apabila ketentuan/undang-undang/hukum lain tidak mengaturnya.Untuk mengatur
agar seseorang dapat memenuhi kewajibannya dan mempertahankan haknya terhadap orang
lain, diperlukan adanya hukum acara. Hukum Acara Perdata pada dasarnya adalah ketentuan
hukum yang mengatur cara bagaimana orang yang haknya dirugikan orang lain menuntut
keadilan dengan mengajukan gugatan ke pengadilan, mengatur bagaimana pengadilan
memeriksa dan mengadili suatu perkara dan bagaimana melaksanakan keputusan.
2.

Hukum Pidana
Hukum pidana merupakan hukum publik yaitu hukum yang mengatur kepentingan
umum, yakni mengatur hubungan hukum antara orang dengan Negara, antar Badan atau
Lembaga Negara satu sama lain dengan menitikberatkan kepada kepentingan mesyarakat
dengan Negara.Hukum public terdiri atas Hukum Pidana Umum dan Hukum Pidana Khusus.
Ketentuan pidana umum diatur dalam KUHP, sedang pidana khusus antara lain diaur dalam
Kitab Undang-undang Khusus seperti UU No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak
Pidana Korupsi dan UU No. 21 Tahun 2001 tentang Perubahan atas UU No. 31 Tahun
1999.Seseorang yang melakukan tindak pidana akan dikenakan sanksi pidana sebagaimana
diatur dalam KUHP.
Pengertian tindak pidana adalah perbuatan yang oleh aturan hukum dilarang dan
diancam dengan pidana bagi siapa yang melanggar larangan tersebut. Menurut wujud dan
sifatnya, tindak pidana adalah perbuatan-perbuatan melawan hukum yang juga merugikan
mesyarakat, dalam arti bertentangan dengan atau menghambat akan terlaksanannya tata
pergaulan dalam masyarakat yang dianggap baik dan adil.Tindak pida khusus adalah tindak
pidana tertentu yang karena sifatnya, tidak dikelompokkan dalam tindak pidana umum. Jenis
perbuatan pidana yang termasuk tindak pidan khusus, hukum acara (sebagian) dan sanksi
pidana diatur sendiri. Undang-undang yang bersifat khusus, mengenyampingkan undangundang yang bersifat umum.
3.

Sanksi Hukum
Untuk menciptakan rasa keadilan dan menimbulkan rasa jera, setiap perbuatan
kecurangan dan ketahuan, pada pelanggarnya dikenakan sanksi sesuai dengan ketentuan yang
berlaku. Sanksi tersebut dapat berupa sanksi administrasi sesuai ketentuan perusahaan,
ketentuan instansi atau ketentuan hukum, yang masing-masing mempunyai ruang lingkup
yang berbeda.

Sanksi Berdasarkan Ketentuan Perusahaan


Untuk melindungi kepentingannya, perusahaan/masing-masing perusahaan dapat
membuat ketentuan-ketentuan yang berkaitan dengan kecurangan yang mengakibatkan
kerugian bagi perusahaan. Namun, ketentuan-ketentuan tersebut hanya berlaku apabila
pelakunya adalah pegawai/pejabat perusahaan dan mencakup sanksi administrasi (termasuk
pengembalian kerugian perusahaan).
Apabila pelaku kecurangan yang mengakibatkan kerugian bagi perusahaan tersebut
adalah pihak lain (bukan orang dalam), pihak perusahaan dapat mengugat secara perdata
yakni dengan mendasarkan pasal 1365 KUHPdt. Dan bila kecurangan tersebut mengandung
unsur pidana, Negara memiliki kewenangan untuk memproses secara hukum pidana
walaupun pihak perusahaan tidak menghendakinya.
Sanksi Berdasarkan Ketentuan Instansi Pemrintah
Disiplin pegawai diatur dalam Peraturan Pemerintah No. 30 tahun 1980 tentang
Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil. Terhadap kerugian yang timbul dari kecurangan
dimaksud, pemerintah melalui Undang-Undang RI No. 1 tahun 2004 tentang Perbendaharaan
Negara (pengganti ICW/Indische Compatibiliteitswet) dapat melakukan tuntutan ganti rugi,
Ketentuan UU No. 1 Tahun 2004 yang berkaitan dengan hal tersebut antara lain :
Pasal 18 ayat (3) : pejabat yang menandatangani dan/atau mengesahkan dokumen
yang berkaitan dengan surat bukti yang menjadi dasar pengeluaran atas beban APBN/APBD,
bertanggungjawab atas keberanaran material dan akibat yang timbul dari penggunaan surat
bukti dimaksud.
Pasal 59 ayat (2) : bendahara, pegawai negeri bukan bendahara, atau pejabat lain yang
karena perbuatannya melanggar hukum atau melalaikan kewajiban yang debebankan
kepadanya secara langsung merugikan keuangan Negara, wajib mengganti kerugian tersebut.
Sanksi Berdasarkan Ketentuan Hukum Pidana
Perbuatan curang (fraud) sering diartikan sebagai perbuatan melanggar hukum
sehingga kecurangan didefinisikan sebagai perbuatan melawan/melanggar hukum yang
dilakukan oleh orang/orang-orang dari dalam dan/atau dari luar organisasi, dengan maksud
mendapatkan keuntungan pribadi dan/atau kelompoknya yang secara langsung atau tidak
langsung merugiakan pihak lain. Dikaitkan dengan kecurangan yang mempunyai ciri antara
lain tersembunyi dan ada unsur penipuan, maka perbuatan melawan hukum mempunyai
cakupan lebih luas. Dengan perkataan lain, ruang lingkup frud auditor lebih mengarah
kepada pelanggaran hukum khususnya yang mengandung unsur penipuan/rekayasa.

BAB 4. PENCEGAHAN DAN PENDETEKSIAN KECURANGAN


Pencegahan fraud bisa dianalogikan dengan penyakit, yaitu lebih baik dicegah dari
pada diobati. Jika menunggu terjadinya fraud baru ditangani itu artinya sudah ada kerugian
yang terjadi dan telah dinikmati oleh pihak terntu, bandingkan bila kita berhasil
mencegahnya, tentu kerugian belum semuanya beralih ke pelaku fraud tersebut. Dan
bila fraud sudah terjadi maka biaya yang dikeluarkan jauh lebih besar untuk memulihkannya
daripada melakukan pencegahan sejak dini. Untuk mencegah terjadinya fraud maka ada dua
hal pokok yang dapat dilakukan oleh perusahaan, yaitu:
A. Menciptakan Budaya Jujur, Terbuka dan Saling Membantu
Untuk membangun budaya ini maka perusahaan dapat pertama, membangun individu
yang didalamnya terdapat trust and openness, mencegah benturan kepentingan, confidential
disclosure agreement dan corporate security contract. Kedua, membangun sistem pendukung
kerja yang meliputi sistem yang terintegrasi, standarisasi kerja, aktifitas control dan
sistem rewards and recognition. Ketiga, membangun sistem monitoring yang didalamnya
terkandung control self sssessment, internal auditor dan eksternal auditor. Selanjutnya untuk
mendukung terciptanya budaya, maka perusahaan harus mewujudkan hal-hal berikut ini:
1. Corporate Governance dilakukan oleh manajemen yang dirancang dalam rangka
mengeliminasi atau setidaknya menekan kemungkinan terjadinya fraud. Corporate
governance meliputi budaya perusahaan, kebijakan-kebijakan, dan pendelegasian
wewenang.
2. Transaction Level Control Process yang dilakukan oleh auditor internal, pada
dasarnya adalah proses yang lebih bersifat preventif dan pengendalian yang bertujuan
untuk memastikan bahwa hanya transaksi yang sah, mendapat otorisasi yang memadai
yang dicatat dan melindungi perusahaan dari kerugian.
3. Retrospective Examination yang dilakukan oleh Auditor Eksternal diarahkan untuk
mendeteksi fraud sebelum menjadi besar dan membahayakan perusahaan.
4. Investigation and Remediation yang dilakukan forensik auditor. Peran auditor
forensik adalah menentukan tindakan yang harus diambil terkait dengan ukuran dan
tingkat kefatalan fraud, tanpa memandang apakah fraud itu hanya berupa pelanggaran
kecil terhdaap kebijakan perusahaan ataukah pelanggaran besar yang berbentuk
kecurangna dalam laporan keuangan atau penyalahgunaan aset.
Menciptakan Lingkungan Kerja yang Positif
Faktor penting kedua dalam budaya kejujuran,keterbukan, dan dukungan adalah
menciptakan lingkungan kerja yang positif. Tiga elemen yang berkontribusi dalam
penciptaan lingkungan kerja yang positif, kemudian membuat organisasi kurang rentan
terhadap terjadinya kecurangan:
1. Menciptakan ekspektasi terkait kejujuran melalui kode etik yang cukup baik yang
dimiliki organisasi dan kemudian menyampaikan ekspektasi ini ke seluruh bagian dari
organisasi
2. Memiliki kebijakan yang sifatnya terbuka dan mudah diakses, dan
3. Memiliki prosedur operational dan personel yang positif
Employee Assistance Programs
EAP adalah sebuah program yang mempunyai tujuan yang jelas untuk meningkatkan
kualitas hidup seluruh karyawan dan keluarganya dengan memberikan bantuan dan dukungan
dalam mengatasi masalah pribadi maupun masalah di tempat kerja.

EAP merupakan program perusahaan yang ditujukan kepada karyawan yang memiliki
masalah pribadi maupun masalah yang berasal dari organisasi. Kini, pelayanannya meliputi
masalah perkawinan dan keluarga, stres karena pekerjaan, bantuan hukum dan finansial, serta
masalah konflik psikologis dan di dunia kerja.
Manfaat EAP antara lain mengembalikan dan meningkatkan kinerja karyawan,
memperbaiki kehidupan pribadi/rumah tangga karyawan, mengurangi turnover (bagi
organisasi). Beragam masalah yang ditangani konselor EAP adalah:
1. Pekerjaan dan lingkungan kerja
2. Penggunaan narkoba, alkohol
3. Perkawinan dan keluarga
4. Menghadapi dan mengatasi kecemasan, depresi, stres
5. Penyesuaian terhadap perubahan dalam kehidupan
6. Kesehatan fisik yang berdampak terhadap kesehatan mental
7. Menciptakan lingkungan kerja yang aman
8. Masalah keuangan atau hukum
9. Perhatian dalam menghadapi proses penuaan orang tua karyawan
Pelayanan EAP ini diberikan gratis bagi karyawan dan anggota keluarganya bagi
kesejahteraan mereka. Perusahaan telah membayar kepada penyelenggara EAP untuk
pelayanan ini. EAP kini dianggap penting, sama seperti program jaminan kesehatan yang
diberikan oleh setiap perusahaan bagi karyawannya. Sama seperti pelayanan kesehatan yang
bersifat rahasia, setiap informasi yang diberikan pada konselor EAP tentu dijaga
kerahasiaannya.
Pekerja yang menginginkan EAP dapat meminta langsung kepada konselor EAP atau
lewat supervisornya. Kerahasiaan akan tetap terjaga meskipun pekerja tersebut meminta
bimbingan EAP melalui perantara. Staf EAP pun sudah terlatih untuk tidak tenggelam pada
masalah pribadi si pekerja. Mereka diajarkan untuk menerima masalah sebagai sebuah
pekerjaan biasa yang harus diselesaikan. Konselor EAP akan mengumpulkan informasi
berkaitan dengan si pekerja dan masalahnya. Setelah assessment tersebut, akan berlangsung
konseling singkat dan konselor akan memberikan rujukan layanan kepada klien. Namun,
klien mempunyai hak untuk menolak apapun saran konselor
Konsep EAP adalah memberikan pelayanan kepada dua klien, yaitu karyawan dan
perusahaan. Diharapkan karyawan akan memiliki motivasi kerja dan performa yang lebih
baik, mampu menghadapi masalah personalnya, dan pada akhirnya akan lebih fokus dalam
menyelesaikan pekerjaan mereka.
Ada juga program EAP yang murah namun tidak didukung oleh profesional yang
berkualitas sehingga hanya memberikan pelayanan yang terbatas, superficial, dan pada
akhirnya kurang memberikan manfaat. Yang lebih penting untuk diperhatikan adalah kualitas
pelayanan. EAP yang berkualitas menggunakan tenaga profesional (baik psikolog maupun
psikiater) yang berpengalaman, alat-alat dan teknologi baru yang memberikan solusi dan
berdampak baik bagi perusahaan dan karyawan.
Program EAP dapat berupa seminar, training, rekreasi, rujukan dan sebagainya
tergantung pada masalah karyawan. Model pelayanan EAP ada 4: in-house model, external
service, combined program, dan consortium model.
Sertifikasi untuk konselor EAP (CEAPCertified Employee Assistance Professional)
ini sangat diperlukan. Tujuannya untuk menyediakan standar pengetahuan yang perlu dalam
membuat program pendampingan karyawan; mendorong kelangsungan profesi ini; membuat,
mengukur, dan memonitor tingkat pengetahuan untuk sertifikasi dalam membuat program
pendampingan karyawan; membantu karyawan, serikat buruh, penyedia layanan kesehatan,

edukator, dan publik untuk mengenali konselor EAP yang profesional; menetapkan siapa saja
yang sesuai standar komisi sertifikasi EAP.
B. Eliminasi Kesempatan Melakukan Fraud
Kesempatan untuk melakukan fraud terdiri atas tiga hal utama yang dijelaskan dalam
segi tiga fraud, yaitu kesempatan, tekanan dan rasionalisasi. Presentase besar dari salah
satu faktor saja sudah bisa memberikan kerugian yang besar dalam sebuah perusahaan.
Apalagi jika ketiganya memiliki presentasi yang cukup, maka akan menjadi kombinasi
mengerikan. Karena itu cara yang bisa dilakukan oleh perusahaan adalah meminimalkan
bahkan mengeliminasi kesempatan. Mengeliminasi kesempatan sebagai salah satu faktor
terjadinya fraud adalah unsur kedua yang penting dalam rangka pencegahan fraud.
Dalam rangka mengeliminasi kesempatan ada lima metode yang dapat dilakukan oleh
perusahaan, yaitu memiliki pengendalian internal yang baik, memberitahukan kebijakan
perusahaan dalam melawan fraud, mengawasi karyawan dan menyediakan sistem whistleblowing, adanya pemberlakukan sanksi, dan mengadakan audit berkala. Metode-metode ini
akan membantu perusahaan mengurangi kesempatan fraud yang telah terjadi dan/atau akan
terjadi di masa mendatang. Dengan menjalankan unsur pertama -faktor budaya- dan unsur
kedua ini, maka perusahaan memiliki program komprehensif pencegahan fraud. Berikut ini
adalah penjelasan lebih lanjut mengenai metode-metode dalam mengelimnasi kesempatan.
1. Memiliki Sistem Pengendalian Internal yang Baik
Menurut COSO, kerangka pengendalian internal terdiri atas lingkungan pengendalian,
sistem akuntansi, aktivitas pengendalian, pengawasan, dan komunikasi dan informasi.
Pertama, lingkungan pengendalian berhubungan dengan pola organisasi yang ditetapkan oleh
manajemen yang kemudian diturunkan ke setiap individu dalam organisasi tersebut.
Lingkungan pengendalian merupakan dasar bagaimana setiap individu melaksanakan
tanggungjawabnya.
Kedua, sistem akuntansi yang baik akan menghasilkan informasi akuntansi yang
valid, lengkap dan tepat waktu untuk pengambilan keputusan perusahaan. Sistem harus bisa
menghasilkan informasi yang tepat untuk dinilai, dikelompokkan, diotorisasi, dan diringkas.
Ketiga, aktivitas pengendalian yang baik merupakan kebijakan dan praktik manajemen dalam
mengendalikan aset, mengotorisasi, mengendalikan tugas, memeriksa independensi, dan
mendokumentasikan transaksi. Ketiga aktivitas di atas merupakan program pencegahan. Dua
aktivitas selanjutnya, pengawasan dan komunikasi, merupakan program pendeteksian fraud.
Artinya, melalui aktivitas ini kita bisa mengetahui atau menemukan hal-hal mencurigakan
yang berhubungan dengan fraud.
2. Memperkecil Kesempatan Kolusi antara Karyawan dan Pihak Eksternal dan
Informasi Kebijakan ke Pihak Eksternal
Berdasarkan penelitian diketahui bahwa 71% fraud dilakukan secara individual dan
sisanya 29% dilakukan secara berkelompok atau kolusi. Kolusi membutuhkan waktu lama
untuk terjadi karena tiap individu memerlukan waktu untuk menemukan individu lain yang
dapat dipercaya untuk bersama-sama melakukan fraud. Namun, kenyataan dalam bisnis
menunjukkan bahwa angka kolusi semakin meningkat tiap tahunnya. Biasanya kolusi
dilakukan dalam hal pembelian dan penjualan, yang artinya kolusi terjadi antara karyawan
dengan pemasok atau pelanggan. Karena itu, perusahaan harus memiliki kebijakan yang tegas
dalam hal transaksi dengan pihak eksternal. Perusahaan juga meniginformasikan mengenai

kebijakan ini sehingga pihak eksternal lebih berhati-hati dan tidak berani untuk melakukan
fraud.
3. Mengawasi Karyawan dan Memiliki Sistem Whistle-Blowing
Karyawan yang melakukan fraud biasanya dipicu dengan keinginan untuk memiliki
gaya hidup mewah. Hal ini juga mudah diketahui oleh perusahaan karena karyawan tiba-tiba
memiliki barang-barang mewah atau memiliki uang untuk kegiatan-kegiatan berbiaya besar
dalam waktu singkat. Biasanya manajemen atas mendapat informasi dari sesama karyawan
yang menyadari temannya tiba-tiba memiliki gaya hidup yang wah. Namun di beberapa
perusahaan, karyawan yang mengetahui kegiatan fraud temannya cenderung takut karena bisa
dicap berkhianat atau jahat. Karena itu perusahaan perlu memiliki sistem whistle-blowing
yang baik sehingga keaman dan kerahasiaan pelapor dapat terjaga. Sistem whistle-blowing
yang efektif tercermin dari identitas pelapor yang dirahasiakan, independensi, mudah diakses,
dan adanya tindak lanjut atas setiap laporan yang masuk.
4. Pemberlakuan Sanksi
Untuk mengeliminasi kesempata, perusahaan bisa memunculkan persepsi bahwa
ketidakjujuran akan mendapat hukuman yang memalukan. Artinya disini bahwa ketika
melakukan fraud, karyawan tidak hanya terancam diberhentikan tetapi juga mendapat malu
yang akhirnya bisa menyakiti orang-orang yang dicintainya. Jika perusahaan hanya
memberhentikan karyawan, maka mereka bisa saja berbohong pada keluarga bahwa mereka
diberhentika karena ada PHK. Padahal mereka diberhentikan karena melakukan fraud.
Dengan sanksi yang memalukan akan membuat karyawan tidak melakukan fraud karena
tidak ingin menyakiti orang-orang yang mereka kasihi.
5. Melakukan Audit atas Fraud yang Proaktif
Saat ini baru beberapa organisasi yang secara aktif melakukan audit atas fraud. Audit
secara berkala bisa mengurangi kesempatan fraud karena karyawan berada dalam
pengawasan dan pemikiran bahwa tindakannya terus diawasi dan tidak ada celah untuk
melakukan farud. Audit atas fraud yang baik terdiri atas empat langkah, yaitu
mengidentifikasi eksposur risiko fraud, mengidentifikasi gejala tiap eksposur, membuat
program audit untuk melihat gejala dan eksposur, dan menyelidiki gejala fraud.
C. Organisasi dan Fraud - Model Saat Ini

Gambar di atas menunjukkan model yang sering digunakan perusahaan dalam


memerangi fraud. Model tersebut terdiri atas empat tahap, yaitu:
Tahap 1 : Kejadian Fraud
Tahap ini adalah ketika fraud terjadi dalam sebuah organisasi. Kejadian ini tidak
didahului dengan kesadaran terjadi fraud atau tindakan pencegahan. Ketika fraud
terjadi maka perusahaan langsung berpindah ke mode krisis karena perusahaan
harus segera mengetahui siapa yang melakukan fraud, menghindari fraud tersebar
luas ke publik, mengusahakan ganti rugi atas fraud dan meminimalkan dampak
fraud atas perusahaan.
Tahap 2 : Penyelidikan
Dalam tahap ini dimana keamanan dan audit internal bekerja. Penyelidikan
berhubungan dengan uji dokumen dan wawancara ke pihak-pihak yang terkait.
Tahap 3 : Aksi
Ketika sudah diselidiki, maka perusahaan menentukan tindakan selanjutnya pada
pelaku fraud. Ada tiga pilihan yang biasanya diambil untuk menghukum pelaku,
yaitu tidak mengambil tindakan, diberhentikan atau ditransfer ke tempat lain, dan
diberhentikan dan dituntuk secara hukum.
Tahap 4 : Resolusi
Tahap ini adalah saat dimana perusahaan menutup kasus, mengakhirinya,
menggantikan posisi pelaku di perusahaan dengan karyawan lain, dan membuat
kebijakan pengendalian internal yang lebih baik.
Selanjutnya, terdapat enam unsur penting yang ada dalam model memerangi fraud.
Kita bisa menemukan unsur-unsur ini dalam tahapan yang ada di model. Keenam unsur
tersebut dapat dilihat dalam figur di bawah ini.

1. Tone at the Top, artinya bahwa perusahaan harus bisa menciptakan budaya
organisasi yang positif dimana setiap individu memiliki kepedulian atas
pengedalian fraud dan sikap manajemen atas yang dapat diteladani;
2. Education and Training, artinya memberikan pemahaman pada karyawan bahwa
tindakan fraud tidak baik dan melatih mereka untuk memiliki kesadaran jika
menemukan gejala terjadinya fraud;

3. Integrity Risk and Control, artinya perusahaan memiliki pengendalian yang baik
dimana bukan hanya melalui sistemnya tetapi juga setiap individu perusahaan
yang berintegritas untuk menjalankan sistem pengendalian tersebut;
4. Reporting and Monitoring, artinya tindakan fraud sebaiknya tidak ditutup-tutupi
tetapi harus dipublikasikan. Publikasi dalam hal ini bukan berarti memberitahukan
ke publik secara langsung, tetapi publikasi lebih kepada memberikan informasi
kepada pihak-pihak yang terkait dengan perusahaan. Perusahaan dapat
memberitahukan pada pihak keamanan, auditor, manajemen yang berkepentingan,
dan karyawan yang tepat sehingga bisa memberikan kewaspadaan dalam
perusahaan;
5. Proactive Fraud Detection, kita menyadari bahwa sebagus-bagusnya pencegahan
fraud, pasti ada celah yang bisa terjadi fraud. Karena itu perusahaan harus
memiliki sistem deteksi fraud agar bisa menemukan pelaku yang menggunakan
celah untuk melakukan fraud;
6. Investigation and Follow-Up, artinya perusahaan menyelidiki kejadian fraud dan
melakukan tindakan lanjut aktif untuk memberika pelajaran terahdap pelaku fraud.

RESUME PELAYANAN PUBLIK DAN MENGAPA BERBUAT BAIK


Pelayanan Publik yang sering di gunakan oleh masyarakat :
1. Pembuatan SIM
Membayar administrasi dan syarat kelengkapan berkas untuk pembuatan sim setelah
itu dilakukannya test tulis, lalu setelah lolos dilakukan test praktek mengendarai kendaraan
dan apabila lolos lalu sim A atau C sudah dapat diterima. Biasanya kecurangan terjadi pada
tahap test tulis dan test praktek,karena masyarakat pada tahap tersebut kebanyakan tidak lolos
sehingga masyarakat mengambil langkah yang lebih mudah seperti melakukan kecurangan
membayar biaya tambahan kepada pihak kepolisian. Lalu pihak kepolisian meloloskan
masyarakat dalam pembuatan SIM.
2. Pembuatan KTP
Salah satu pelayanan yang sangat diharapkan masyarakat adalah pelayanan pada
bidang administrasi KTP. Pelayanan yang melibatkan hubungan antara pemberi service dan
penerima pelayanan seringkali mengalami hambatan-hambatan. Hal tersebut disebabkan
rendahnya kualitas pelayanan yang diberikan oleh petugas. Begitu lamanya waktu yang
dibutuhkan dalam pengurusan KTP dan ditambah lagi dengan buruknya pelayanan pegawai
diinstansi tersebut memperparah makin rumitnya permasalahan yang ada dalam pelayanan
publik. Biasanya kecurangan banyak terjadi dalam proses pembuatan KTP, contohnya banyak
masyarakat yang memberikan uang tambahan demi mempercepat proses pembuatan KTP
tersebut, dan beberapa masyarakat menggunakan hubungan keluarga agar dapat
mempermudah proses pembuatan KTP.
3. Pembuatan paspor
Dalam pembuatan passpor masih banyak adanya kesalah pahaman dan ketidak tahuan
masyarakat dalam pembuatan passpor 24 halaman dengan 42 halaman. Dalam pembuatan
passpor juga biasanya sering terjadi kecurangan, yaitu menggunakan calo dan memberikan
uang yang lebih agar proses pembuatan passpor ini lebih cepat dan mudah.
4. Pembuatan surat kehilangan
Dalam mengurus surat kehilangan baik sim atm dll, masih ada beberapa masyarakat
yang di persulit oleh petugas kepolisian. Contohnya, pengurusan berkas sehingga pihak polisi
memberikan biaya tambahan kepada masyarakat untuk mempermudah pengurusan berkas.
5. Pembuatan kartu keluarga
Dalam pembuatan kartu keluarga juga masih sering terjadi kecurangan, dimana
masyarakat sering memberikan uang tambahan dan menggunakan hubungan kekeluargaan
dalam mengurus dan membuat kartu keluarga tersebut demi memperlancar dan
mempermudah proses pembuatannya.
Kenapa kita berbuat baik atau berbuat jujur
Menurut hasil resume dari mahasiswa Fraud kelas CD, berbuat baik dan jujur
merupakan cara untuk mendidik agar menjadi manusia yang mempunyai loyalitas dan dapat
menjadi manusia yang dihargai oleh orang lain dan berfokus pada kesuksesan di masa depan.
Apabila kita tidak berbuat baik, kita suatu saat akan dibalas oleh orang lain, dan balasan itu
lebih menyakitkan dan kita juga tidak bisa dihargai oleh orang lain, karena perbuatan kita
yang tidak etis, tidak jujur dan perbuatan itu akan membawa diri kita ke arah yang salah.

Triangle fraud di kaitkan dengan perilaku baik


Pressure
Di dalam triangle fraud terdapat dorongan yang menyebabkan seseorang untuk
melakukakan fraud, contohnya hutang, gaya hidup mewah, ketergantungan narkoba, dan pada
umumnya yang mendorong terjadinya fraud yaitu kebutuhan atau masalah keuangan.
Menurut saya diposisi seperti ini pekerja harus terdorong untuk lebih berkompetensi dari
yang lain sehingga mampu meningkatkan nilai tambah, hal ini dilakukan untuk mampu
keluar dari masalah tersebut.
Opportunity
Kesempatan merupakan situasi yang sering digunakan untuk melakukan fraud, karena
pengawasan internal yang kurang. Sebenarknya hal ini bisa dijadikan motivasi untuk berbuat
baik seperti peluang dan kesempatan untuk bisa menarik hati manajer atau pun mendapat
simpati dari atasan karena nilai kinerja kita yang baik. Dan kita bisa mendapatkan
penghargaan atau reward dari atasan.
Rationalization
Rasionalisasi merupakan sikap dari pelaku yang ingin membenarkan kebenaran untuk
dirinya terkait froud yang telah dilakukan. Kebiasaan ini sangat buruk dan sering
menimbulkan fitnah, alangkah lebih baik kita mengakui dan menyadari apa yang kita perbuat
karena apabila kita sebagai manajer berbuat seperti itu, pasti nanti akan dicontoh oleh
karyawan yang lain.
Diamond Fraud
Diamond fraud merupakan kemampuan atau kekuatan untuk melakukann fraud dan
tidak takut adanya tindak hukum, tidak stres dalam melakukan fraud serta percaya diri dalam
melakukan fraud. Kekuatan dan kemampuan seperti ini alangkah baiknya jika kita gunakan
untuk mengungkapkan fraud, sehingga di dalam organisasi tidak mungkin terjadi fraud lagi.

PEMBAHASAN KASUS
Kasus 3 - Bab 2
1. Pengendalian internal yang tidak ada dalam perusahaan Helen yaitu :
Lingkungan pengendalian, karena perusahaan Helen dalam komunikasi
manajemen tidak sesuai dengan kenyataan seperti perusahaan Jackson & Co.d
yang sudah ditutup namun belum di laporkan kepada pihak akuntansi perusahaan
Helen bahwa Jackson & Co.d masih dibuka
Komunikasi manajemen, karena supervisor Helen mengijinkan untuk
menandatangani voucer pembayaran yang diberikan kepada Helen sehingga
Voucer tersebut dibayarkan oleh departemen akuntansi untuk memenuhi
kebutuhan pribadi hellen menggunakan akun Jackson & Co.d yang semestinya
akun Jackson Co.d sudah ditutup karena Jackson & Co.d sudah marger dengan
perusahaan lain
Sistem akuntansi, karena perusahaan Helen tidak menginformasikan penutupan
Jackson &Co.d kepada departemen akuntansi. Ini merupakan penyembunyian
dimana pelaku berusaha untuk menyembunyikan kecurangan dari pihak lain dan
untuk kepentingan pribadi.
2. Yang memberikan Helen kesempatan dalam melakukan kecurangan yaitu :
Supervisor Helen mempercayai dan memberikan izin kepada Helen untuk
menandatangani voucer pembayaran karena posisi Helen sebagai penanggung jawab
pembuat perencanaan untuk studi kelayakan diluar perusahaan, mengelola berkas
klient, bekerja dengan konsultan pemasaran diluar perusahaan, mengajukan proses
pembayaran dan memberi tahukan departemen akuntansi mengenai semua
pembukuan san penutupan akun pemasok. Menurut saya dengan kekuasaan yang
Helen pegang hal itu menjadikan kesempatan Helen dalam memenuhi kepentingan
pribadinya.
3. Bagaimana kecurangan ini dapat di deteksi ?
Pengecekan independen , cara ini di jalankan untuk melakukan pendeteksian
kecurangan jadi aktivitas perusahaan Helen harus diamati oleh pihak lain supaya
dapat diketahui beberapa kesalahan sehingga kecurangan dapat dicegah.
Memeriksa catatatn dan dokumen transaksi untuk menentukan apakah ada suatu
kecurangan.
Adanya fasilitas dari perusahaan untuk saluran pengaduan sehingga hal ini
memungkinkan pegawai, rekan kerja, dan pihak lain untuk memberikan informasi
mengenai dugaan adanya kecurangan.

Kasus 14 - Bab 3
1. Menurut Anda, mengapa kecurangan ini bisa terjadi?
Helen memiliki kesempatan untuk melakukan fraud karena adanya kesempatan. Ia
diberi tanggung jawab ganda yang berpeluang untuk disalahgunakan, yaitu bagian
penerimaan kas, pengeluaran, dan membuat rekap penerimaan kas. Karena Helen
yang membuat rekap penerimaan kas, maka ia memiliki kesempatan untuk
memanipulasi laporan untuk kepentingannya sendiri. Pemisahan tugas yang tidak
tepat membuat kecurangan ini bisa terjadi.

2. Bagaimana mungkin kecurangan ini dibiarkan?


Perusahaan yang masih berskala menengah membuat perusahaan tidak terlalu
memikirkan masalah pengendalian internalnya. Keterbatasan sumber daya akuntan
juga membuat perusahaan mempercayakan tanggung jawab sepenuhnya ke dua
individu ini, sehingga tidak menyadari bahwa tugas yang diberikan memicu terjadinya
fraud. Kondisi Helen yang tidak mengambil cuti selama tiga tahun mungkin membuat
perusahaan berpikir bahwa ia pekerja keras dan loyal pada perusahaan sehingga tidak
menyadari bahwa alasan ia tidak berlibur karena dia sibuk menyalahgunakan kas
perusahaan.