Anda di halaman 1dari 11

DEFINISI

DM yaitu kelainan metabolik akibat dari kegagalan pankreas untuk mensekresi insulin

(hormon yang responsibel terhadap pemanfaatan glukosa) secara adekuat. Akibat yang umum
adalah terjadinya hiperglikemia. DM merupakan sekelompok kelainan heterogen yang
ditandai oleh kelainan kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemia yang disebabkan
defisiensi insulin atau akibat kerja insulin yang tidak adekuat (Brunner & Suddarr).
Kadar gula darah sepanjang hari bervariasi, meningkat setelah makan dan kembai normal
dalam waktu 2 jam. Kadar gula darah yang normal pada pagi hari setelah malam sebelumnya
berpuasa adalah 70-110 mg/dL darah. Kadar gula darah biasanya kurang dari 120-140 mg/dL
pada 2 jam setelah makan atau minum cairan yang mengandung gula maupun karbohidrat
lainnya.
ETIOLOGIS
Klasifikasi etiologis DM menurut American Diabetes Association 2010 (ADA 2010),
dibagi dalam 4 jenis yaitu:
1. Diabetes Melitus Tipe 1 atau Insulin Dependent Diabetes Mellitus/IDDM
DM tipe 1 terjadi karena adanya destruksi sel beta pankreas karena sebab autoimun. Pada
DM tipe ini terdapat sedikit atau tidak sama sekali sekresi insulin dapat ditentukan
dengan level protein c-peptida yang jumlahnya sedikit atau tidak terdeteksi sama sekali.
Manifestasi klinik pertama dari penyakit ini adalah ketoasidosis.
2. Diabetes Melitus Tipe 2 atau Insulin Non-dependent Diabetes Mellitus/NIDDM
Pada penderita DM tipe ini terjadi hiperinsulinemia tetapi insulin tidak bisa membawa
glukosa masuk ke dalam jaringan karena terjadi resistensi insulin yang merupakan
turunnya kemampuan insulin untuk merangsang pengambilan glukosa oleh jaringan
perifer dan untuk menghambat produksi glukosa oleh hati. Oleh karena terjadinya
resistensi insulin (reseptor insulin sudah tidak aktif karena dianggap kadarnya masih
tinggi dalam darah) akan mengakibatkan defisiensi relatif insulin. Hal tersebut dapat
mengakibatkan berkurangnya sekresi insulin pada adanya glukosa bersama bahan sekresi
insulin lain sehingga sel beta pankreas akan mengalami desensitisasi terhadap adanya
glukosa. Onset DM tipe ini terjadi perlahan-lahan karena itu gejalanya asimtomatik.
Adanya resistensi yang terjadi perlahan-lahan akan mengakibatkan sensitivitas reseptor
akan glukosa berkurang. DM tipe ini sering terdiagnosis setelah terjadi komplikasi.
3. Diabetes Melitus Tipe Lain
DM tipe ini terjadi karena etiologi lain, misalnya pada defek genetik fungsi sel beta,
defek genetik kerja insulin, penyakit eksokrin pankreas, penyakit metabolik endokrin
lain, iatrogenik, infeksi virus, penyakit autoimun dan kelainan genetik lain.
4. Diabetes Melitus Gestasional

DM tipe ini terjadi selama masa kehamilan, dimana intoleransi glukosa didapati pertama
kali pada masa kehamilan, biasanya pada trimester kedua dan ketiga. DM gestasional
berhubungan dengan meningkatnya komplikasi perinatal. Penderita DM gestasional
memiliki risiko lebih besar untuk menderita DM yang menetap dalam jangka waktu 5-10
tahun setelah melahirkan.

PATOGENESIS
Patogenesis DM berpangkal pada dua dasar. Interdependensi gambaran DM adalah

peningkatan KG plasma dan penurunan glukosa sebagai substrat produksi energi yang luas.
Akibatnya terjadi paradoks starvasi seluler yang efektif dalam suatu kolam cairan
ekstraseluler yang kelebihan glukosa.
Sel yang starvasi untuk produksi energi beralih ke substrat yang kurang optimal, protein,
asam amino, dan asam lemak, sebagai sumber glukoneogenesis. Substrat ini kurang efektif
untuk produksi energi, tetapi masih berguna, terutama untuk proses anabolisme bukan
untuk katabolisme.
Luaran spesifik dalam utilisasi asama lemak, dan sedikit banyak dari asam amino, untuk
pembentukan energi dengan dampak produksi bends keton, B-hidroksibutirat, asam
asetoasetat dan aseton. Benda-benda keton ini menyebabkan asidosis metabolik dengan
peningkatan anion gap.

Gambaran Klinis
Diabetes seringkali muncul tanpa gejala. Namun demikian ada beberapa gejala yang harus

diwaspadai sebagai isyarat kemungkinan diabetes. Gejala tipikal yang sering dirasakan
penderita diabetes antara lain poliuria (sering buang air kecil), polidipsia (sering haus), dan
polifagia (banyak makan/mudah lapar). Selain itu sering pula muncul keluhan penglihatan
kabur, koordinasi gerak anggota tubuh terganggu, kesemutan pada tangan atau kaki, timbul
gatal-gatal yang seringkali sangat mengganggu (pruritus), dan berat badan menurun tanpa
sebab yang jelas.
Pada DM Tipe I gejala klasik yang umum dikeluhkan adalah poliuria, polidipsia, polifagia,
penurunan berat badan, cepat merasa lelah (fatigue), iritabilitas, dan pruritus (gatal-gatal pada
kulit).
Pada DM Tipe 2 gejala yang dikeluhkan umumnya hampir tidak ada. DM Tipe 2
seringkali muncul tanpa diketahui, dan penanganan baru dimulai beberapa tahun kemudian
ketika penyakit sudah berkembang dan komplikasi sudah terjadi. Penderita DM Tipe 2
umumnya lebih mudah terkena infeksi, sukar sembuh dari luka, daya penglihatan makin

buruk, dan umumnya menderita hipertensi, hiperlipidemia, obesitas, dan juga komplikasi
pada pembuluh darah dan syaraf.
Tabel kadar glukosa darah sewaktu dan puasa sebagai patokan penyaring dan diagnosis
DM:
Bukan DM
Kadar glukosa darah Plasma vena <100
sewaktu (mg/dL)
Darah kapiler <90
Kadar glukosa darah Plasma vena <100
puasa (mg/dL)
Darah kapiler <90

Belum Pasti DM
100-199
90-199
100-125
90-99

DM
200
200
126
100

Terapi Farmakologi

a.

Terapi Insulin
Terapi insulin merupakan satu keharusan bagi penderita DM tipe 1, dimana telah terjadi

kerusakan pada sel-sel -Langerhans kelenjar pankreas.


Mekanisme kerja hormon insulin yaitu membntu transpor glukosa dari darah ke dalam
sel. Jika hormon ini menurun maka glukosa darah akan meningkat, dan sel-sel tubuh akan
kekurangan bahan sumber energi yang mengakibatkan penderita DM sering merasa lelah.
Semua penderita DM tipe 1 memerlukan insulin eksogen karena produksi insulin
endogennya tidak ada atau hampir tidak ada. Penderita DM gestasional membutuhkan terapi
insulin jika diet tidak bisa mengendalikan kadar glukosa darah. Penderita DM yang mendapat
nutrisi parenteral atau yang memerlukan suplemen tinggi kalori untuk memenuhi kebutuhan
energinya, secara bertahap memerlukan terapi insulin untuk mempertahankan kadar glukosa
darah agar normal.
Sediaan insulin daat ini tersedia dalam bentuk obat suntik yang dikemas dalam bentuk
vial atau penfill (bentuk pena). Kecuali dinyatakan lain penyuntikan dilakukan secara
subkutan (dibawah kulit). Penyerapan paling cepat terjadi di daerah abdomen, diikuti oleh
lengan, paha bagian atas dan bokong. Bila disuntikkan secara intramuskular dalam, maka
penyerapan akan lebih cepat dan masa kerjanya lebih singkat. Kegiatan fisik yang dilakukan
setelah penyuntikan akan mempercepat kerja obat dan mempersingkat masa kerja.
Penggolongan Sediaan insulin berdasarkan mula dan masa kerja :
No

Jenis Sediaan Insulin

Masa Kerja Singkat (Short


Acting Insulin), disebut juga
insulin reguler

Mula

Punca

Masa

Kerja

k (jam)

Kerja

1-4

(jam)
6-8

(jam)
0,5

Masa Kerja Sedang

1-2

6 - 12

18

Masa Kerja Sedang, Mula

0,5

4 - 15

24
18

Kerja Cepat
Masa Kerja Panjang

4-6

14 - 20

24
24

36
b.

Terapi Obat Hipoglikemi Oral


Obat-obat hipoglikemik oral terutama ditujukan pada pasien DM tipe 2. Pemilihan obat

yang tepat sangat menentukan keberhasilan terapi, dimana terapi dapat dilakukan dengan
terapi tunggal maupun terapi kombinasi.
Penggolongan Obat Hipoglikemik Oral :
No Golongan

Contoh

Mekanisme Kerja

Efek Samping

Senyawa
1.

Sulfonilurea

Glibenklamida Merangsang sekresi insulin Gangguan sal. Cerna


Glipizida

di

kelenjar

Glikazida

sehingga hanya efektif pada perut),

Glimepirida

penderita diabetes yang sel- susunan syaraf pusat

Glikuidon

sel

-pankreas

pankreas, (mual,

diare,

masih (vertigo,

berfungsi baik

sakit

Gangguan
bingung,

ataksia). Hipoglikemia
jika dosis tidak tepat

2.
3.

Meglitinida
Turunan

Merangsang sekresi insulin

Nateglinide

di kelenjar pankreas
Meningkatkan sintesis dan Keluhan

Fenilalanin
4.

Binguanida

atau diet terlalu ketat.


Keluhan saluran cerna

Repaglinide

sekresi insulin
Metformin

infeksi

saluran nafas atas.

Bekerja langsung pada hati, Nausea,

muntah,

menurunkan

produksi kadang-kadang

diare

glukosa hati.

dan

dapat

menyebabkan asidosis
laktat
5.

Tiazolidindion

Resiglitazone

Meningkatkan

Troglitazone

tubu

Pioglitazone

Berkaitan dengan PPARY

terhadap

kepekaan Gangguan
insulin. pencernaan.

saluran

(Peroxisome

Proliferator

Activated

Receptor

Gamma) di otot, jaringan


lemak untuk menurunkan
resistensi insulin
6.

Inhibitor
-glukosidase

Acarbose

Menghambat kerja enzim- Kadang-kadang diare.

Miglitol

enzim

pencernaan

mencerna
sehingga

yang

karbohidrat,
memperlambat

absorpsi glukosa kedalam


darah

Interaksi Obat
Dalam terapi DM dengan obat hipoglikemik maka efek obat akan meningkat jika
dikonsumsi bersaman antara lain dengan : alkohol, insulin, sulfonamida, salisilat dosis tinggi,
fenilbutazon, kloramfenikol, panghambat MAO, Steroida anabolik, dan klofibrat.
Hal-hal yang Perlu Diperhatikan dalam Penggunaan Obat Hipoglikemik Oral :
1. Dosis harus dimulai dengan dosis rendah yang kemudian dinaikkan secara bertahap.
2. Harus diketahui betul bagaimana cara kerja, lama kerja dan efek samping obat.
3. Bila diberikan bersama obat lain, pikirkan kemungkinan adanya inteaksi obat.
4. Pada kegagalan sekunder terhadap obat hipoglikemik oral, usahakanlah menggunakan
obat oral golongan lain, bila gagal lagi baru beralih menggunakan insulin.
5. Hipoglikemia harus dihindari terutama pada penderita usia lanjut, oleh sebab itu
sebaiknya obat hipoglikemik oral yang bekerja jangka panjang tidak diberikan pada
penderita usia lanjut.
6. Usahakan agar harga obat terjangkau oleh pasien.

Studi Kasus
Ny. Y, perempuan, 53 tahun, seorang ibu rumah tangga dengan tiga orang anak, yang
berdomisili di Kecamatan Kedaton datang ke Puskesmas Rawat Inap Kedaton pada tanggal
22 Oktober 2009 dengan keluhan badan terasa lemas dan kepala pening. Keluhan tersebut
dirasakannya sejak 2 hari yang lalu. Kunjungannya ke Puskesmas Rawat Inap Kedaton kali
ini adalah kunjungan yang kesekian kalinya dalam hal pengobatan rutin penyakit kencing
manisnya (Diabetes Melitus). Pertama kali diketahui bahwa pasien mengalami Diabetes

Melitus adalah 3 tahun yang lalu. Saat itu pasien mengaku badan terasa lemas walaupun
banyak makan, banyak minum, banyak kencing, dan berat badannya dirasakan turun.
Kemudian pasien datang ke Puskesmas untuk memeriksakan diri dan oleh dokter yang
memeriksa disarankan untuk periksa kadar gula darahnya. Berdasarkan hasil pemeriksaan
didapatkan kadar Glukosa Darah Sewaktunya adalah 300 mg/dl. Karena kondisi pasien yang
lemah, kemudian oleh dokter dirujuk ke RS Abdul Moeloek Bandar Lampung dan dirawat
selama 10 hari.

Setelah keluhan membaik, pasien tidak memeriksakan kembali gula

darahnya dan datang ke Puskesmas apabila keluhan tersebut muncul kembali. Dua tahun
kemudian pasien mengalami keluhan yang sama dan dirawat kembali di RS. Pasien mengaku
sebelum menderita kencing manis, ia mempunyai berat badan yang gemuk. Tetapi saat ini
berat badannya dirasakan turun. Di keluarga pasien tidak ada yang menderita kencing manis
tetapi ayah pasien menderita hipertensi.

N
o

Masala
h

Rincian

Rencana

1.

Klinis

Diabetes
Melitus Tipe II

Tujuan

Metformin 1x
500 mg
Glukodex 2 x
80 mg
Diet rendah
KH, rendah
kolesterol

dan tinggi
serat
Edukasi dan

motivasi
mengenai
pola makan
sehat, olah
raga teratur,
dan hindari
stres

Indikator
keberhasilan

Kadar glukosa
darah
mendekati
normal dan
stabil

Mencegah
timbulnya
komplikasi DM
Menghilangkan
gejala-gejala

Kadar
glukosa
darah
mendekati
normal dan
stabil
Tidak timbul
komplikasi
DM
Gejala-gejala
menghilang
Pasien
menerapkan
pola makan
sehat, olah
raga teratur,
dan tidak
stres

Penatalaksanaan
Karena banyaknya komplikasi kronik yang dapat terjadi pada DM tipe-2, dan sebagian

besar mengenai organ vital yang dapat fatal, maka tatalaksana DM tipe-2 memerlukan terapi
agresif untuk mencapai kendali glikemik dan kendali faktor risiko kardiovaskular. Dalam
Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan DM tipe 2 di Indonesia 2011, penatalaksanaan dan

pengelolaan DM dititik beratkan pada 4 pilar penatalaksanaan DM, yaitu: edukasi, terapi gizi
medis, latihan jasmani dan intervensi farmakologis.
A. Edukasi
Tim kesehatan mendampingi pasien dalam perubahan perilaku sehat yang memerlukan
partisipasi aktif dari pasien dan keluarga pasien. Upaya edukasi dilakukan secara
komphrehensif dan berupaya meningkatkan motivasi pasien untuk memiliki perilaku sehat.
Tujuan dari edukasi diabetes adalah mendukung usaha pasien penyandang diabetes untuk
mengerti perjalanan alami penyakitnya dan pengelolaannya, mengenali masalah kesehatan/
komplikasi yang mungkin timbul secara dini/saat masih reversible, ketaatan perilaku
pemantauan dan pengelolaan penyakit secara mandiri, dan perubahan perilaku/kebiasaan
kesehatan yang diperlukan. Edukasi pada penyandang diabetes meliputi pemantauan glukosa
mandiri, perawatan kaki, ketaatan pengunaan obat-obatan, berhenti merokok, meningkatkan
aktifitas fisik, dan mengurangi asupan kalori dan diet tinggi lemak.
B. Terapi Gizi Medis
Prinsip pengaturan makan pada penyandang diabetes yaitu makanan yang seimbang,
sesuai dengan kebutuhan kalori masing-masing individu, dengan memperhatikan keteraturan
jadwal makan, jenis dan jumlah makanan. Komposisi makanan yang dianjurkan terdiri dari
karbohidrat 45%-65%, lemak 20%-25%, protein 10%-20%, Natrium kurang dari 3g, dan diet
cukup serat sekitar 25g/hari.
C. Latihan Jasmani
Latihan jasmani secara teratur 3-4 kali seminggu, masing-masing selama kurang lebih 30
menit. Latihan jasmani dianjurkan yang bersifat aerobik seperti berjalan santai, jogging,
bersepeda dan berenang. Latihan jasmani selain untuk menjaga kebugaran juga dapat
menurunkan berat badan dan meningkatkan sensitifitas insulin.
D. Intervensi Farmakologis
Terapi farmakologis diberikan bersama dengan peningkatan pengetahuan pasien,
pengaturan makan dan latihan jasmani. Terapi farmakologis terdiri dari obat oral dan bentuk
suntikan. Obat yang saat ini ada antara lain:
1. OBAT HIPOGLIKEMIK ORAL (OHO)
Pemicu sekresi insulin:
a. Sulfonilurea
Efek utama meningkatkan sekresi insulin oleh sel beta pankreas
Pilihan utama untuk pasien berat badan normal atau kurang
Sulfonilurea kerja panjang tidak dianjurkan pada orang tua, gangguan faal hati dan
ginjal serta malnutrisi.
b. Glinid
Terdiri dari repaglinid dan nateglinid
Cara kerja sama dengan sulfonilurea, namun lebih ditekankan pada sekresi insulin fase
pertama.

Obat ini baik untuk mengatasi hiperglikemia postprandial


Peningkat sensitivitas insulin:
a. Biguanid
Golongan biguanid yang paling banyak digunakan adalah Metformin.
Metformin menurunkan glukosa darah melalui pengaruhnya terhadap kerja insulin pada
tingkat seluler, distal reseptor insulin, dan menurunkan produksi glukosa hati.
Metformin merupakan pilihan utama untuk penderita diabetes gemuk, disertai

dislipidemia,
dan disertai resistensi insulin.
b. Tiazolidindionleading article
Menurunkan resistensi insulin dengan meningkatkan jumlah protein pengangkut
glukosa sehingga meningkatkan ambilan glukosa perifer.
Tiazolidindion dikontraindikasikan pada gagal jantung karena meningkatkan retensi
cairan.
Penghambat glukoneogenesis: Biguanid (Metformin).
Selain menurunkan resistensi insulin, Metformin juga mengurangi produksi glukosa
hati.
Metformin dikontraindikasikan pada gangguan fungsi ginjal dengan kreatinin serum >
1,5 mg/dL, gangguan fungsi hati, serta pasien dengan kecenderungan hipoksemia seperti
pada sepsis.
Metformin tidak mempunyai efek samping hipoglikemia seperti golongan sulfonylurea.
Metformin mempunyai efek samping pada saluran cerna (mual) namun bisa diatasi
dengan
pemberian sesudah makan.
Penghambat glukosidase alfa :
Acarbose
Bekerja dengan mengurangi absorbsi glukosa di usus halus.
Acarbose juga tidak mempunyai efek samping hipoglikemia seperti golongan
sulfonilurea.
Acarbose mempunyai efek samping pada saluran cerna yaitu kembung dan flatulens.
Penghambat dipeptidyl peptidase-4 (DPP-4) Glucagon-like peptide-1 (GLP-1)
merupakan suatu hormone peptide yang dihasilkan oleh sel L di mukosa usus. Peptida ini
disekresi bila ada makanan yang masuk. GLP-1 merupakan perangsang kuat bagi insulin
dan penghambat glukagon. Namun GLP-1 secara cepat diubah menjadi metabolit yang
tidak aktif oleh enzim
DPP-4. Penghambat DPP-4 dapat meningkatkan penglepasan insulin dan menghambat

penglepasan glukagon.
2. OBAT SUNTIKAN
Insulin
a. Insulin kerja cepat
b. Insulin kerja pendek
c. Insulin kerja menengah
d. Insulin kerja panjang

e. Insulin campuran tetap


Agonis GLP-1/incretin mimetik
Bekerja sebagai perangsang penglepasan insulin tanpa menimbulkan hipoglikemia, dan
menghambat penglepasan glukagon
Tidak meningkatkan berat badan seperti insulin dan sulfonilurea
Efek samping antara lain gangguan saluran cerna seperti mual muntah Dengan
memahami 4 pilar tata laksana DM tipe 2 ini, maka dapat dipahami bahwa yang menjadi
dasar utama adalah gaya hidup sehat (GHS). Semua pengobatan DM tipe 2 diawali
dengan GHS yang terdiri dari edukasi yang terus menerus, mengikuti petunjuk
pengaturan makan secara konsisten, dan melakukan latihan jasmani secara teratur.
Sebagian penderita DM tipe 2 dapat terkendali kadar glukosa darahnya dengan
menjalankan GHS ini. Bila dengan GHS glukosa darah belum terkendali, maka diberikan
monoterapi OHO. Pemberian OHO dimulai dengan dosis kecil dan ditingkatkan secara
bertahap sesuai dengan respons kadar glukosa darah. Pemberian OHO berbeda-beda
tergantung jenisnya. Sulfonilurea diberikan 15-30 menit sebelum makan. Glinid
diberikan sesaat sebelum makan. Metformin bisa diberikan sebelum/sesaat/sesudah
makan. Acarbose diberikan bersama makan suapan pertama. Tiazolidindion tidak
bergantung pada jadwal makan, DPP-4 inhibitor dapat diberikan saat makan atau
sebelum makan. Bila dengan GHS dan monoterapi OHO glukosa darah belum terkendali
maka diberikan kombinasi 2 OHO. Untuk terapi kombinasi harus dipilih 2 OHO yang
cara kerja berbeda, misalnya golongan sulfonilurea dan metformin. Bila dengan GHS
dan kombinasi terapi 2 OHO glukosa darah belum terkendali maka ada 2 pilihan yaitu
yang pertama GHS dan kombinasi terapi 3 OHO atau GHS dan kombinasi terapi 2 OHO
bersama insulin basal.Yang dimaksud dengan insulin basal adalah insulin kerja
menengah atau kerja panjang, yang diberikan malam hari menjelang tidur. Bila dengan
cara diatas glukosa darah terap tidak terkendali maka pemberian OHO dihentikan, dan
terapi beralih kepada insulin intensif. Pada terapi insulin ini diberikan kombinasi insulin
basal untuk mengendalikan glukosa darah puasa, dan insulin kerja cepat atau kerja
pendek untuk mengendalikan glukosa darah prandial. Kombinasi insulin basal dan
prandial ini berbentuk basal bolus yang terdiri dari 1 x basal dan 3 x prandial. `Tes
hemoglobin terglikosilasi (disingkat A1c), merupakan cara yang digunakan untuk
menilai efek perubahan terapi 8-12 minggu sebelumnya. Pemeriksaan ini dianjurkan
setiap 3 bulan, atau minimal 2 kali setahun.
Kriteria pengendalian DM

Untuk mencegah komplikasi kronik, diperlukan pengendalian DM yang baik yang


merupakan sasaran terapi. Diabetes dinyatakan terkendali baik bila kadar glukosa darah,
A1c dan lipid mencapai target sasaran
Metformin dan DM tipe 2
Sebagai salah satu obat hipoglikemik oral, metformin mempunyai beberapa efek terapi
antara lain menurunkan kadar glukosa darah melalui penghambatan produksi glukosa
hati dan menurunkan resistensi insulin khususnya di hati dan otot. Metformin tidak
meningkatkan kadar insulin plasma. Metformin menurunkan absorbsi glukosa di usus
dan meningkatkan sensitivitas insulin melalui efek penngkatan ambilan glukosa di
perifer. Studi-studi invivo dan invitro membuktikan efek metformin terhadap fluidity
membran palsma, plasticity dari reseptor dan transporter, supresi dari mitochondrial
respiratory chain, peningkatan insulin-stimulated receptor phosphorylation dan aktivitas
tirosine kinase, stimulasi translokasi GLUT4 transporters, dan efek enzimatik metabolic
pathways.Tatalaksana DM tipe-2 bukan hanya bertujuan untuk kendali glikemik, tetapi
juga kendali faktor risiko kardiovaskuler, karena ancaman mortalitas dan morbiditas
justru datang dari berbagai komplikasi kronik terebut. Dalam mencapai tujuan ini,
Metformin salah satu jenis OHO ternyata bukan hanya berfungsi untuk kendali glikemik,
tetapi juga dapat memperbaiki disfungsi endotel, hemostasis, stress oksidatif, resistensi
insulin, profil lipid dan redistribusi lemak. Metformin terbukti dapat menurunkan berat
badan, memperbaiki sensiivitas insulin, dan mengurangi lemak visceral. Pada penderita
perlemakan hati (fatty liver), didapatkan perbaikan dengan penggunaan Metformin.
Metformin juga terbukti mempunyai efek protektif terhadap komplikasi makrovaskular.
Selain berperan dalam proteksi risiko kardiovaskuler, studi-studi terbaru juga
mendapatkan peranan neuroprotektif Metformin dalam memperbaiki fungsi saraf,
khususnya

spatial

memoryfunction

dan

peranan

proteksi

Metformin

dalam

karsinogenesis. Diabetes tipe-2 mempunyai risiko lebih tinggi untuk terkena berbagai
macam kanker terutama kanker hati, pankreas, endometrium, kolorektal, payudara, dan
kantong kemih. Banyak studi menunjukkan penurunan insidens keganasan pada pasien
yang menggunakan Metformin. Pedoman tatalaksana diabetes mellitus tipe-2 yang
terbaru dari the American Diabetes Association/European Association for the Study of
Diabetes

(ADA/EASD)

dan

the

American

Association

of

Clinical

Endocrinologists/American College of Endocrinology (AACE/ACE) merekomendasikan


pemberian metformin sebagai monoterapi lini pertama. Rekomendasi ini terutama
berdasarkan efek metformin dalam menurunkan kadar glukosa darah, harga relatif

murah, efek samping lebih minimal dan tidak meningkatkan berat badan.1,16 Posisi
Metformin sebagai terapi ini pertama juga diperkuat oleh the United Kingdom
Prospective Diabetes Study (UKPDS) yang pada studinya mendapatkan pada kelompok
yang diberi Metformin terjadi penurunan risiko mortalitas dan morbiditas. UKPDS juga
mendapatkan efikasi Metformin setara dengan sulfonilurea dalam mengendalikan kadar
glukosa darah.17 Ito dkk dalam studinya menyimpulkan bahwa metformin juga efektif
pada pasien dengan berat badan normal.