Anda di halaman 1dari 67

Yayasan Widya Dewata

PENDAHULUAN

BAB 1

Pajak adalah komponen penting bagi pemerintah dalam menjalankan kegiatan


kenegaraan di Indonesia, karena pembiayaan pengeluaran rutin serta pembangunan
pemerintah sebagian besar berasal dari sektor pajak. Sebagaimana diketahui bahwa penerimaan
pajak memegang peranan vital sejak penerimaan dari sektor migas mengalami penurunan.
Pemerintah dalam hal ini Direktorat Jenderal Pajak (DJP) selalu ingin menunaikan tugas dalam
hal menghimpun penerimaan pajak sehingga kelangsungan hidup bangsa ini terus terjaga. Untuk
itu DJP berusaha agar pemungutan pajak di Indonesia tepat sasaran dengan selalu berusaha
meningkatkan pelayanan dengan cara memperbarui aturan-aturan pemungutan pajak yang
memenuhi syarat-syarat keadilan, yuridis, ekonomi, finansial dan sederhana.
Sistem pemungutan pajak di Indonesia adalah dengan menggunakan self assessment
system dimana wajib pajak diberi kepercayaan penuh untuk menghitung, memperhitungkan,
membayar dan melapor sendiri pajak terutangnya. Didalam sistem ini wewenang besarnya pajak
terutang ada pada Wajib Pajak sendiri dan secara aktif melakukan kewajiban perpajakannya
sedangkan DJP tidak ikut menentukan besarnya jumlah pajak terutang tetapi berperan
mengawasi dan mengoreksi penghitungan yang dilaporkan Wajib Pajak. Selain itu fungsi
pelayanan dan pembinaan juga tetap dilakukan oleh DJP berdasarkan ketentuan peraturan
perpajakan yang berlaku.
Surat Pemberitahuan (SPT) wajib pajak, mempunyai peranan penting untuk menjadi
sarana pelaporan Wajib Pajak baik dalam penghitungan dan/atau pembayaran yang telah
dilakukan oleh Wajib Pajak. Kepatuhan Wajib Pajak dapat diuji melalui SPT yang dilaporkannya.
Untuk itu Wajib Pajak dalam pelaporan SPTnya diharuskan mengisinya dengan benar, jelas dan
lengkap.
Untuk menghitung pajak secara benar tentunya diperlukan tata cara yang benar
seperti telah ditetapkan oleh Undang-undang Perpajakan. Wajib Pajak dalam mengisi SPT harus
berdasarkan peraturan perpajakan yang berlaku. Sedangkan menurut praktek akuntansi secara
umum Wajib Pajak menyelenggarakan pembukuan berdasarkan Standar Akuntansi Keuangan.
Dengan demikian pembukuan yang menjadi dasar pengisian SPT Wajib Pajak sudah harus
disesuaikan dengan peraturan perpajakan melalui rekonsiliasi fiskal yang dilakukan oleh Wajib
Pajak.
Begitu pentingnya peranan pembukuan dalam sistem pemungutan pajak, baik bagi
Wajib Pajak sebagai sarana pelaporan dan DJP untuk pengawasan, maka ketetentuan
perpajakan selalu mensyaratkan diselenggarakannya pembukuan oleh Wajib Pajak sehingga
melalui pembukuan yang baik kewajiban perpajakan dapat dilaksanakan dengan lebih akurat,
terkendali, sederhana, dan mudah untuk dipahami oleh pihak yang berkepentingan.

AKUNTANSI PAJAK

Yayasan Widya Dewata

KONSEP DASAR

BAB 2

AKUNTANSI PAJAK DAN LAPORAN


A. PengertianKEUANGAN
dan Fungsi Pajak
FISKAL

Menurut Undang-Undang No.16 Tahun 2009 tentang Perubahan Ke-empat atas UndangUndang No.6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan yang mulai
berlaku pada tanggal 1 Januari 2008, pengertian pajak telah didefinisikan pada pasal 1
angka (1) sebagai berikut:
Pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau
badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak mendapatkan
imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya
kemakmuran rakyat.
Adapun mengenai fungsi pajak, Ilyas dan Burton (2007, 10) membagi menjadi:
1.
Fungsi budgeter; yaitu fungsi untuk mengumpulkan uang pajak sebanyakbanyaknya sesuai dengan undang-undang yang berlaku yang pada waktunya akan
digunakan untuk membiayai pengeluaran negara yaitu pengeluaran rutin dan
pengeluaran pembangunan.
2.
Fungsi regulerend; merupakan suatu fungsi mengatur, yaitu bahwa pajak-pajak
tersebut akan digunakan sebagai suatu alat untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu
yang letaknya di luar bidang keuangan.
3.
Fungsi Demokrasi; merupakan salah satu fungsi penjelmaan atau wujud gotong
royong, termasuk kegiatan pemerintahan dan pembangunan demi kemaslahatan
manusia.
4.
Fungsi redistribusi; merupakan fungsi yang lebih menekankan pada unsur
pemerataan dan keadilan dalam masyarakat.

B. Pengertian Akuntansi Pajak dan Fungsi/Tujuan


Akuntansi Pajak
1.

2.

Pengertian Akuntansi pajak


Akuntansi Pajak: merupakan metode dan praktik akuntansi khusus untuk
memenuhi ketentuan perpajakan, termasuk penyusunan laporan keuangan fiskal
dan pengisian Surat Pemberitahuan Pajak (SPT) serta perencanaan dalam rangka
mengefisienkan beban pajak (Tax Planning).
Fungsi Akuntansi Pajak
Akuntansi perpajakan, secara prinsipil terpengaruh oleh fungsi perpajakan karena
merupakan implementasi ketentuan perpajakan. Selanjutnya ketentuan itu
merupakan perwujudan kebijakan yang warnanya dipengaruhi oleh fungsi pajak.
Oleh karena fungsi utama pajak adalah penerimaan negara maka fungsi akuntansi
pajak adalah melindungi hak penerimaan tersebut (public fiscal) dan apabila
terdapat keraguan dalam pengakuan dan pengukuran subyek atau obyek pajak
terdapat kecenderungan bahwa perpajakan lebih mengedepankan kepastian dan
mengesampingkan estimasi.

C. Kewajiban Penyelengaraan Pembukuan


Kewajiban pembukuan oleh Wajib Pajak diatur didalam Undang-undang Ketentuan Umum
dan Tatacara Perpajakan (UU KUP).
Definisi pembukuan menurut Pasal 1 angka 29 UU KUP adalah suatu proses pencatatan
yang dilakukan secara teratur untuk mengumpulkan data dan informasi keuangan yang
meliputi aset, kewajiban, ekuitas, penghasilan dan biaya, serta jumlah harga perolehan
dan penyerahan barang atau jasa, yang ditutup dengan menyusun laporan keuangan

AKUNTANSI PAJAK

Yayasan Widya Dewata

berupa neraca, dan laporan laba rugi untuk periode Tahun Pajak tersebut.
Laporan keuangan disajikan untuk pengisian SPT Tahunan Pajak Penghasilan di akhir
tahun. Tidak hanya besarnya Pajak Penghasilan yang dapat dihitung, pajak-pajak lainnya
juga harus dapat dihitung dari pembukuan tersebut, seperti Pajak Pertambahan Nilai dan
Pajak Penjualan atas Barang Mewah dapat dihitung. Pembukuan harus mencatat juga
jumlah harga perolehan atau nilai impor, jumlah harga jual atau nilai ekspor, jumlah harga
jual dari barang yang dikenakan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah, jumlah pembayaran
atas pemanfaatan Barang Kena Pajak tidak berwujud dari luar Daerah Pabean di dalam
Daerah Pabean dan atau pemanfaatan Jasa Kena Pajak dari luar Daerah Pabean di dalam
Daerah Pabean, jumlah Pajak Masukan yang dapat dikreditkan dan yang tidak dapat
dikreditkan.
Wajib Pajak yang wajib menyelenggarakan pembukuan adalah semua Wajib Pajak Badan
dan Wajib Pajak orang pribadi yang mempunyai kegiatan usaha dan/atau pekerjaan bebas
yang mempunyai peredaran bruto dalam 1 (satu) tahun Rp.4.800.000.000 (empat miliar
delapan ratus juta rupiah) atau lebih. Sedangkan yang kurang dari itu dapat memilih
menyelenggarakan pembukuan atau menyelenggarakan pencatatan dan boleh
menghitung penghasilan neto dengan menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan
Neto, dengan syarat memberitahukan kepada Direktur Jenderal Pajak dalam jangka waktu
3 (tiga) bulan pertama dari tahun pajak yang bersangkutan.
Dalam menyelenggarakan pembukuan menurut UU KUP disyaratkan sebagai berikut:
a.
Pembukuan atau pencatatan tersebut harus diselenggarakan dengan
memperhatikan itikad baik dan mencerminkan keadaan atau menunjukkan
kegiatan usaha yang sebenarnya.
b.
Pembukuan atau pencatatan harus diselenggarakan di Indonesia dengan
menggunakan huruf Latin, angka Arab, satuan mata uang Rupiah, dan disusun
dalam bahasa Indonesia atau dalam bahasa asing yang diizinkan oleh Menteri
Keuangan.
c.
Pembukuan diselenggarakan dengan prinsip taat asas dan dengan stelsel akrual
atau stelsel kas, tahun buku, Metode penilaian persediaan, Metode penyusutan
dan amortisasi.
d.
Perubahan terhadap metode pembukuan dan/atau tahun buku harus mendapat
persetujuan dari Direktur Jenderal Pajak.
e.
Pembukuan dengan menggunakan bahasa asing dan mata uang selain Rupiah dapat
diselenggarakan oleh Wajib Pajak setelah mendapat izin Menteri Keuangan. Prinsip
taat asas adalah prinsip yang sama digunakan dalam metode pembukuan dengan
tahun-tahun sebelumnya untuk mencegah penggeseran laba atau rugi.
Buku, catatan, dan dokumen termasuk yang diselenggarakan secara program
aplikasi online dan hasil pengolahan data elektronik yang menjadi dasar
pembukuan atau pencatatan harus disimpan selama 10 (sepuluh) tahun di
Indonesia. Hal itu dimaksudkan agar apabila Direktur Jenderal Pajak akan
mengeluarkan surat ketetapan pajak, bahan pembukuan atau pencatatan yang
diperlukan masih tetap ada dan dapat segera disediakan. Kurun waktu 10 (sepuluh)
tahun penyimpanan buku, catatan, dan dokumen yang menjadi dasar pembukuan
atau pencatatan adalah sesuai dengan ketentuan yang mengatur mengenai batas
daluwarsa penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan.
Penyimpanan buku, catatan, dan dokumen yang menjadi dasar pembukuan atau
pencatatan dan dokumen lain termasuk yang diselenggarakan secara program
aplikasi online harus dilakukan dengan memperhatikan faktor keamanan,
kelayakan, dan kewajaran penyimpanan.

AKUNTANSI PAJAK

Yayasan Widya Dewata

D. Tujuan Pelaporan Keuangan Perpajakan


1.
2.
3.

Memberikan informasi-informasi yang diperlukan untuk menghitung besarnya


Penghasilan Kena Pajak (PKP) dan Dasar Pengenaan Pajak (PPN).
Membantu wajib pajak untuk menghitung besarnya pajak yang terutang.
Mengetahui dan menilai tingkat kepatuhan wajib pajak dalam menjalankan sistem
self assessment, terutama apabila sedang terjadi pemeriksaan atau penyidikan
pajak.

E. Ciri Kualitatif Pelaporan Keuangan Perpajakan


1.
2.
3.

4.

5.
6.
7.

Dapat dipahami oleh petugas/pemeriksa pajak.


Sensitivitas informasi, bukan materialitas.
Laporan Keuangan Fiskal disajikan secara jujur, dengan itikad baik, substansi
penghasilan dengan nama dan dalam bentuk apapun, substansi beban yang dapat
dikurangkan dari penghasilan bruto (deductible expenses) adalah beban untuk
mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan yang merupakan obyek pajak
yang dihitung dari penghasilan neto.
Dapat dibandingkan dengan periode sebelumnya, terutama untuk kompensasi
kerugian, utang-piutang antar periode, dan perbandingan pengakuan laba atau rugi
yang menuntut konsistensi kebijakan akuntansi pajak. Perubahan kebijakan
akuntansi pajak dimungkinkan dengan persetujuan Direktur Jenderal Pajak dengan
mengajukan permohonan dilengkapi alasan.
Laporan keuangan fiskal harus tepat waktu, paling lambat akhir bulan ketiga setelah
berakhirnya tahun buku.
Akuntansi Pajak harus independen terhadap akuntansi komersial.
Apabila akuntansi komersial tidak mampu menerbitkan laporan keuangan tepat
waktu, akuntansi pajak harus mampu menerbitkan laporan keuangan fiskal sendiri.
Koreksi fiskal merupakan salah satu cara praktis dalam penyusunan laporan
keuangan fiskal.

F. Perbedaan Orientasi Pelaporan


Dalam sistem perpajakan, negara mempunyai instrumen untuk mencapai dua tujuan
utama, yaitu menutup kebutuhan finansial dan mempengaruhi kehidupan sosial-ekonomi
masyarakat. Secara budgeter pajak merupakan alat untuk mentransfer sumber daya dari
sektor privat (masyarakat) ke sektor publik (negara). Oleh karena itu, terdapat perbedaan
unsur yang ada dalam laporan keuangan antara sektor privat dengan laporan keuangan
yang dilampirkan pada SPT (sektor publik). Unsur-unsur itu meliputi:
1.
Laba tahun berjalan (untuk penghitungan pajak penghasilan);
2.
Distribusi laba (untuk penghitungan potongan pajak atas dividen);
3.
Peredaran usaha (untuk PPN dan PPn BM);
4.
Pengeluaran untuk karyawan dan pembelian jasa yang lain (untuk penghitungan
potongan pajak penghasilan/withholding tax).
Dalam penyusunan laporan keuangan komersial dan perpajakan terdapat beberapa
ketidaksamaan orientasi dan sifat dari pelaporan itu yang tidak mudah dihindarkan,
terutama menyangkut tingkat toleransi fleksibilitas pemilihan standar. Pelaporan
keuangan komersial disusun berdasarkan konsep "kewajaran penyajian" dengan implikasi
manajemen dapat mengambil suatu pertimbangan (judgement) sepanjang batasan
toleransi prinsip akuntansi.

AKUNTANSI PAJAK

Yayasan Widya Dewata

Walaupun mengikuti prinsip akuntansi, assessment pajak bergantung pada kebijakan dan
putusan otoritas pajak yang dapat mengesampingkan praktik dan pemikiran profesi.
Selebihnya, ketentuan pajak yang terutama didesain untuk kebijakan ekonomi dapat
berakibat pelaporan yang menyimpang dari konsep "kewajaran penyajian" yang dianut
oleh laporan komersial.

G. Hubungan Akuntansi Pajak dengan Akuntansi


Komersial
Akuntansi keuangan merupakan aktivitas jasa yang menyediakan informasi keuangan
untuk pengambilan keputusan. Informasi yang disediakan oleh suatu proses akuntansi
diperlukan oleh setiap satuan usaha untuk mengetahui posisi dan hasil usahanya. Jadi
tujuan akuntansi komersial antara lain untuk menyediakan laporan keuangan kepada
manajemen dan pihak-pihak eksternal yang memerlukamya.
Akuntansi pajak merupakan bagian dari akuntansi keuangan yang menekankan pada
penyusunan surat pemberitahuan pajak (SPT) dan pertimbangan konsekuensi perpajakan
terhadap transaksi atau kegiatan perusahaan. Dengan kata lain akuntansi pajak dapat
didefinisikan sebagai berikut:

Akuntansi pajak secara khusus menyajikan laporan keuangan dan informasi lain
kepada administrasi pajak. Penyajian itu sebagai pemenuhan kewajiban perpajakan
(tax compliance). Walaupun secara teknis proses penyajian laporan tidak diatur
secara rinci dalam ketentuan perpajakan, pengukuran dan penilaian atas suatu
fakta sangat dipengaruhi oleh ketentuan perpajakan.

Ketentuan perpajakan merupakan produk lembaga legislatif yang mengikat semua


anggota masyarakat (termasuk profesi akuntan). Dengan demikian, apabila terjadi
kekurangsesuaian antara ketentuan perpajakan dan praktek akuntansi atau standar
akuntansi yang berlaku umum, maka Undang-undang Perpajakan mempunyai
prioritas untuk dipatuhi di atas praktek dan kelaziman akuntansi.

Secara umum, akuntansi komersial disusun dan disajikan berdasarkan Standar yang
berlaku umum, yaitu Standar Akuntansi Keuangan (SAK). Namun, untuk
kepentingan perpajakan, akuntansi komersial harus disesuaikan dengan aturan
perpajakan yang berlaku di Indonesia. Dengan demikian, apabila terjadi perbedaan
antara ketentuan akuntansi dengan ketentuan pajak, maka untuk keperluan
perhitungan, pembayaran dan pelaporan pajak, Undang-Undang dan ketentuan
Perpajakan memiliki prioritas untuk dipatuhi.

H. Laporan Keuangan Fiskal


Laporan Keuangan Fiskal disusun terpisah di luar proses akuntansi/pembukuan, sering
disebut extra comptable. Laporan Keuangan Fiskal disusun melalui proses rekonsiliasi
antara akuntansi komersial dengan akuntansi fiskal/pajak, sehingga laporan yang
dihasilkan dari extra comptable tersebut fungsinya hanya sebagai tambahan laporan
keuangan komersial. Laporan Keuangan Fiskal tersebut hanya berfungsi untuk
membuat/mengisi SPT PPh Badan. Umumnya di Indonesia, menyusun Laporan Keuangan
Fiskal (khususnya Laporan Laba-Rugi Fiskal) dengan melakukan Rekonsiliasi Fiskal, untuk
menghitung Laba Fiskal atau Penghasilan Kena Pajak.
Marisi P. Purba (2009) dalam bukunya Akuntansi Pajak Penghasilan, menyatakan bahwa
SPT PPh Badan dan Laporan Keuangan Komersial terdapat perbedaan dalam berbagai
aspek, yaitu sebagai berikut:

AKUNTANSI PAJAK

Yayasan Widya Dewata

NO.

ASPEK

SPT PPh BADAN

LAPORAN KEUANGAN

1.

Pengguna

Fiskus

Berbagai pengguna seperti:


pemegang saham, kreditor,
karyawan, fiskus,
manajemen, regulator dan
masyarakat.

2.

Sifat Informasi

Rahasia

Dapat digunakan oleh


umum.

3.

Pedoman
Penyusunan

Undang-undang Perpajakan dan


peraturan pelaksanaan lainnya

Prinsip akuntansi yang


berlaku umum terdiri dari
Kerangka dasar penyusunan
Laporan keuangan,
Pernyataan Standar
Akuntansi Keuangan (PSAK),
Interpretasi Standar
Akuntansi Keuangan (ISAK),
buku teks, simpulan riset
dan pendapat ahli.

4.

Mata Uang
Pelaporan

SPT PPh Badan wajib


disampaikan dalam mata uang
Rupiah atau mata uang lain
sepanjang memperoleh izin dari
otoritas perpajakan terkait.

Laporan keuangan dapat


disusun dengan mata uang
lain selain Rp. Jika disajikan
dalam mata uang selain
mata uang fungsionalnya,
laporan keuangan tersebut
harus terlebih dahulu diukur
kembali (remeasured).

5.

Dasar Pencatatan Transaksi dicatat dan dilaporkan


Transaksi
apabila memenuhi syarat dan
ketentuan perpajakan, yaitu
dengan mengutamakan hakekat
formal atau hukum dari pada
substansinya.

Transkasi dicatat dengan


azas substance over form
yaitu pencatatan dan
pelaporan dilakukan dengan
mengutamakan substansi
ekonomi dari pada hakekat
formal atau hukum.

6.

Batas Waktu
Penyampaian

Berdasarkan UU No.40
tahun 2007 tentang,
"Perseroan Terbatas" Pasal
66 ayat (1), Direksi
menyampaikan laporan
tahunan kepada RUPS
setelah ditelaah oleh Dewan
Komisaris dalam jangka
waktu paling lambat 6
(enam) bulan setelah tahun
buku Perseroan berakhir.

AKUNTANSI PAJAK

SPT PPh Badan disampaikan


selambat-lambatnya 4 (empat)
bulan setelah akhir tahun pajak
dan dapat melakukan
perpanjangan paling lama dua
bulan dengan cara
menyampaikan pemberitahuan
secara tertulis kepada Dirjen.
Pajak sebagaimana diatur dalam
UU No.16 tahun 2009 tentang
"Perubahan Ke-empat atas UU
No 6 tahun 1983 tentang
Ketentuan Umum dan Tata Cara
Perpajakan" Pasal 3 ayat (4).

Yayasan Widya Dewata

UTANG PAJAK DAN PIUTANG PAJAK

BAB 3

A. Timbulnya Utang Pajak dan Piutang Pajak


Wajib Pajak (perusahaan) dalam memenuhi kewajiban perpajakan dapat sebagai
pembayar pajak, sebagai pemotong dan pemungut pajak, dan sebagai pihak yang
dipotong dan dipungut pajaknya. Oleh karena itu pencatatan atas transaksi-transaksi
tersebut, adalah sebagai berikut:
1.

Pemotongan/pemungutan pajak

Bersifat sebagai hutang pajak

2.

Dipotong/dipungut pajak oleh

Bersifat sebagai piutang pajak

3.

Pembayaran pajak

Bersifat pelunasan pajak

1.

Utang Pajak
Pajak yang bersifat sebagai utang timbul ketika badan diharuskan untuk
memotong/memungut pajak, yaitu:
PPN dan PPn BM, yaitu: pajak yang dipungut dari pembeli (PPN Keluaran);
PPh Pasal 21, yaitu: pajak yang dipotong dari penghasilan Si penerima
(individu) penghasilan;
PPh Pasal 22, yaitu: pajak yang dipotong dari pembelian barang dalam hal
ditunjuk sebagai pemungut PPh Pasal 22 atas pembelian barang;
PPh Pasal 23, yaitu: pajak yang dipotong dari pembayaran jasa, bunga, dividen,
royalti dan sewa kepada wajib pajak dalam negeri;
PPh Pasal 26, yaitu: pajak yang dipotong dari penghasilan yang diterima oleh
wajib pajak luar negeri;
PPh tertentu yang bersifat final (PPh Pasal 4 ayat (2)), yaitu: pajak yang
dipotong dari wajib pajak lain yang bersifat final, misal: sewa tanah dan/atau
bangunan.

2.

Piutang Pajak (Uang Muka Pajak)


Pajak yang bersifat kredit pajak adalah pajak yang dipotong/dipungut oleh pihak
lain atau yang dibayar sendiri oleh badan, yang dapat diperhitungkan dengan pihak
yang terutang. Pajak yang dipungut oleh pihak lain biasanya dibuktikan dengan
bukti pemotongan untuk PPh dan Faktur Pajak untuk PPN. Sebenarnya pembayaran
atau pelunasan pajak ini merupakan pembayaran pajak dibayar dimuka (prepaid
tax), yang pada akhirnya akan diperhitungkan dengan pajak terutang. Pajak-pajak
yang bersifat kredit pajak adalah: PPh Pasal 22, PPh Pasal 23, PPh Pasal 24, PPh
Pasal 25, fiskal luar negeri, dan PPN Masukan.

3.

Pelunasan Pajak
Pajak ini bersifat sebagai pelunasan pajak dalam tahun berjalan. Pelunasannya
dapat melalui penyetoran sendiri atau melalui pemotongan oleh pihak lain, yaitu:
PPh Pasal 4 ayat (2) yang bersifat final;
Pajak Bumi dan Bangunan (PBB);
Bea Meterai (BM);
Bea Perolehan Hak atas Tanah dan/atau Bangunan (BPHTB);
Seluruh Pajak Daerah dan Retribusi Daerah.

AKUNTANSI PAJAK

Yayasan Widya Dewata

B. Akuntansi Utang Pajak dan Piutang Pajak


1.

PPh Pasal 21
a. PPh Pasal 21 ditanggung sendiri oleh penerima penghasilan.
Misal: pada tanggal 14 Februari 2014, perusahaan melakukan pembayaran gaji
karyawannya, dengan data sebagai berikut:
Total gaji

Rp.

500.000.000

PPh Pasal 21

Rp.

25.000.000

Premi Jamsostek

Rp.

10.000.000

Iuran pensiun

Rp.

15.000.000

Dibayar

Rp.

450.000.000

Potongan:

1) Ayat jurnal pada saat pembayaran gaji:

Perkiraaan
Biaya Gaji

Debet

Kredit

500.000.000

Utang PPh Pasal 21

25.000.000

Utang Premi Jamsostek

10.000.000

Utang Iuran Pensiun

15.000.000

Kas/Bank

450.000.000

2) Ayat jurnal pada saat penyetoran pajak dan iuran lainnya:

Perkiraaan

Debet

Utang PPh Pasal 21

25.000.000

Utang Premi Jamsostek

10.000.000

Utang Iuran Pensiun

15.000.000

Kas/Bank
b.

Kredit

50.000.000

PPh Pasal 21 ditanggung oleh pemberi penghasilan/pemberi kerja.


Contoh yang sama dengan point a, namun PPh Pasal 21 ditanggung oleh
pemberi kerja.
1) Ayat jurnal pada saat pembayaran gaji:

Perkiraaan
Biaya Gaji

500.000.000

Beban PPh

25.000.000

Kredit

Utang PPh Pasal 21

25.000.000

Utang Premi Jamsostek

10.000.000

Utang Iuran Pensiun

15.000.000

Kas/Bank

AKUNTANSI PAJAK

Debet

525.000.000

Yayasan Widya Dewata

2) Ayat jurnal pada saat penyetoran pajak dan iuran lainnya:

Perkiraaan

Debet

Utang PPh Pasal 21

25.000.000

Utang Premi Jamsostek

10.000.000

Utang Iuran Pensiun

15.000.000

Kas/Bank
c.

Kredit

50.000.000

PPh Pasal 21 ditunjang oleh


(perhitungan tidak di gross-up)

pemberi

penghasilan/pemberi

kerja

Contoh yang sama dengan point a, namun pemberi kerja misalkan


memberikan tunjangan pajak sejumlah Rp.10.000.000, sehingga menjadikan
(misal) PPh Pasal 21 terhutang menjadi sebesar Rp.35.000.000 (bukan
perhitungan yang sebenarnya)
1) Ayat jurnal pada saat pembayaran gaji:

Perkiraaan

Debet

Biaya Gaji

500.000.000

Beban PPh

10.000.000

Kredit

Utang PPh Pasal 21

35.000.000

Utang Premi Jamsostek

10.000.000

Utang Iuran Pensiun

15.000.000

Kas/Bank

450.000.000

2) Ayat jurnal pada saat penyetoran pajak dan iuran lainnya:

Perkiraaan

Debet

Utang PPh Pasal 21

35.000.000

Utang Premi Jamsostek

10.000.000

Utang Iuran Pensiun

15.000.000

Kas/Bank
d.

PPh Pasal 21 ditunjang


(perhitungan di gross-up).

Kredit

60.000.000
oleh

pemberi

penghasilan/pemberi

kerja

Contoh yang sama dengan point a, namun pemberi kerja memberikan


tunjangan pajak sebesar sama dengan PPh Pasal 21 terhutang yaitu yang
dihitung secara gross-up. Misalkan biaya gaji sebesar Rp.500.000.000 tersebut
sudah merupakan Penghasilan Kena Pajak, maka tunjangan pajak yang
dihitung secara gross-up (Misal Tunjangan Pajak = X), adalah sbb:
X = (5% x 50.000.000) + (15% x 200.000.000) +(25% x 250.000.000) +(30% x X)
X = 2.500.000 + 30.000.000 + 62.500.000 + 0,30 X
X - 0,30 X = 95.000.000
0,70 X = 95.000.000
X = 135.714.286 (Tunjangan Pajak)

AKUNTANSI PAJAK

Yayasan Widya Dewata

TEST:
Penghasilan kena pajak (termasuk tunjangan pajak)=
Rp.500.000.000 + Rp.135.714.286 = Rp.635.714.286
PPh Pasal 21 terutang:
5%

Rp.

50.000.000

Rp.

2.500.000

15%

Rp.

200.000.000

Rp

30.000.000

25%

Rp.

250.000.000

Rp.

62.500.000

30%

Rp.

135.714.286

Rp.

40.714.286

Rp.

135.714.286

Jumlah PPh Pasal 21 terutang

Jadi tunjangan pajak sama besarnya dengan PPh Pasal 21 terutang, yaitu
sebesar Rp.135.714.286.
1) Ayat jurnal pada saat pembayaran gaji:

Perkiraaan
Biaya Gaji
Utang PPh Pasal 21
Utang Premi Jamsostek
Utang Iuran Pensiun
Kas/Bank

Debet

Kredit

635.714.286
135.714.286
10.000.000
15.000.000
475.000.000

2) Ayat jurnal pada saat penyetoran pajak dan iuran lainnya:

Perkiraaan
Utang PPh Pasal 21
Utang Premi Jamsostek
Utang Iuran Pensiun
Kas/Bank
2.

Debet

Kredit

135.714.286
10.000.000
15.000.000
160.714.286

PPh pasal 22
Contoh 1
PT. Sampi Moglong menjual sapi sebanyak 100 ton kepada Kementerian Keuangan
dengan harga Rp.250.000.000
Atas pembayaran yang dilakukan oleh Bendaharawan Kementerian Keuangan akan
dilakukan pemungutan PPh pasal 22 sebesar 1,5% dari Harga jual (dasar pengenaan
Pajak Pertambahan Nilai). Jumlah pemungutan PPh Pasal 22, adalah sebesar:
1,5%

Rp.

250.000.000

Rp.

3.750.000

Bagi perusahaan (PT. Sampi Moglong) PPh pasal 22 yang dipungut oleh
Bendaharawan dapat dijadikan sebagai kredit pajak pada akhir tahun saat
perusahaan menghitung pajak di akhir tahun.

AKUNTANSI PAJAK

10

Yayasan Widya Dewata

Ayat Jurnal yang dilakukan oleh PT Sampi Moglong adalah:


Perkiraaan

Debet

Kas/Bank

Kredit

246.250.000

Uang Muka PPh Pasal 22

3.750.000

Penjualan

250.000.000

Contoh 2
PT. Luar Biasa mengimpor bahan baku dengan nilai impor Rp.1.000.000.000. Bahan
baku dibebaskan dari PPN, perusahaan menggunakan API pada waktu impor.
Atas impor bahan baku tersebut, perusahaan dipungut PPh pasal 22 impor oleh
Direktorat Jenderal Bea dan Cukai sebesar 2,5% karena menggunakan Angka
Pengenal Impor (API). Jumlah pemungutan PPh Pasal 22 Impor, adalah sebesar:
2,5%

Rp.

1.000.000.000

Rp.

25.000.000

Bagi perusahaan PPh pasal 22 yang dipungut oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai
dapat dijadikan sebagai kredit pajak pada akhir tahun saat perusahaan menghitung
pajak diakhir tahun.
Ayat Jurnal yang dilakukan oleh PT Luar Biasa adalah:
Perkiraaan

Debet

Persediaan Bahan Baku

Kredit

1.000.000.000

Uang Muka PPh Pasal 22

25.000.000

Kas/Bank

1.025.000.000

Contoh 3
PT. Beton Mania membeli semen sebagai bahan baku dengan harga
Rp.600.000.000 (harga belum termasuk PPN) dari PT. Semen Gresik (GS).
PT.Semen Gresik adalah perusahaan industri semen yang ditunjuk sebagai
pemungut PPh pasal 22. Selain sebagai pemungut PPh pasal 22, PT Semen
Gresik adalah Pengusaha Kena Pajak sehingga atas penyerahan Barang Kena
Pajak yang dilakukan harus dipungut juga Pajak Pertambahan Nilainya. Besar
tarif pemungutan PPh pasal 22 atas industri baja adalah sebesar 0,3% x dasar
pe nge naan pajak. J umlah pem ungutan adalah se besar:
0,3%

Rp.

600.000.000

Rp.

1.800.000

Bagi perusahaan PPh pasal 22 yang dipungut oleh PT. Semen Gresik dapat
dijadikan sebagai kredit pajak pada akhir tahun saat perusahaan menghitung
pajak diakhir tahun
Jurnal yang dilakukan oleh PT Beton Mania adalah:
Perkiraaan
Persediaan Bahan Baku
PPN Masukan
Uang Muka PPh Pasal 22
Kas/Bank

AKUNTANSI PAJAK

Debet

Kredit

600.000.000
60.000.000
1.800.000
661.800.000

11

Yayasan Widya Dewata

3.

PPh Pasal 23
Contoh 1
Pada tanggal 27 Maret 2013 PT. Kroco Kroco melakukan pembayaran atas jasa
instalasi internet kepada PT. Ketap Ketip (pengusaha kecil non PKP) sebesar
Rp.20.000.000. Atas penghasilan yang diterima oleh PT. Ketap Ketip merupakan
objek pemotongan PPh pasal 23 dengan tarif 2% x jumlah bruto (dasar pengenaan
pajak).
Jumlah Pemotongan adalah sebesar:
2%

Rp.

20.000.000

Rp.

400.000

Pemotongan tersebut dilakukan oleh PT. Kroco Kroco. Bagi PT. Ketap Ketip,
pemotongan tersebut dapat dijadikan sebagai kredit pajak pada waktu melakukan
pelaporan atas penghitungan PPh Badannya diakhir tahun pajak.
Jurnal yang dilakukan oleh PT. Kroco Kroco adalah:
Perkiraaan

Debet

Biaya Install

Kredit

20.000.000

Utang PPh Pasal 23

400.000

Kas/Bank
19.600.000
Utang pajak tersebut akan dibayar oleh PT Kroco Kroco sesuai dengan ketentuan
formal, yaitu setiap tanggal 10 setelah berakhirnya bulan takwim pajak.
Jurnal yang dilakukan oleh PT. Ketap Ketip adalah:
Perkiraaan

Debet

Kas/Bank

Kredit

19.600.000

Uang Muka PPh Pasal 23

400.000

Penghasilan Jasa Install

20.000.000

Contoh 2
PT. Batik Batok mempunyai usaha sebagai pabrikan garmen (Pengusaha Kena
Pajak/PKP) melakukan pembayaran atas jasa maklon kepada PT. Pola Bundar yang
mempunyai usaha sebagai jasa maklon (PKP) sebesar Rp.50.000.000 (belum
termasuk PPN). PT. Batik Batok pada saat melakukan pembayaran akan memotong
PPh pasal 23 sebesar 2% x jumlah bruto (dasar pengenaan pajak), yaitu:
2%

Rp.

50.000.000

Rp.

1.000.000

Bagi PT. Pola Bundar, pemotongan tersebut dapat dijadikan sebagai kredit pajak
pada waktu melakukan pelaporan atas penghitungan PPh badannya diakhir tahun
pajak.
Jurnal yang dilakukan oleh PT Batik Batok adalah:
Perkiraaan
Biaya Jasa Maklon
Utang PPh Pasal 23
Kas/Bank

Debet

Kredit

50.000.000
1.000.000
49.000.000

Pajak pertambahan nilai yang dibayar oleh PT. Batik Batok dapat menjadi kredit
pajak pada saat penghitungan PPN terutang pada akhir bulan takwim.

AKUNTANSI PAJAK

12

Yayasan Widya Dewata

Jurnal yang dilakukan oleh PT Pola Bundar adalah:


Perkiraaan

Debet

Kas/Bank

Kredit

49.000.000

Uang Muka PPh Pasal 23

1.000.000

Penghasilan Jasa Catering

50.000.000

Pajak pertambahan nilai yang dipungut oleh PT. Pola Bundar dapat menjadi pajak
keluaran pada saat penghitungan PPN terutang pada akhir bulan takwim.
Contoh 3
PT. Lusa membayar bunga pinjaman kepada PT. Esok sebesar Rp.2.000.000. Atas
pembayaran bunga ini merupakan objek PPh pasal 23, PT. Lusa akan memungut
bunga sebesar 15% x penghasilan bruto, yaitu:
15%

Rp.

2.000.000

Rp.

300.000

Bagi PT. Esok, pemotongan tersebut dapat dijadikan sebagai kredit pajak pada
waktu melakukan pelaporan atas penghitungan PPh badannya diakhir tahun pajak.
Jurnal yang dilakukan oleh PT. Lusa adalah:
Perkiraaan

Debet

Biaya Bunga

Kredit

2.000.000

Utang PPh Pasal 23

300.000

Kas/Bank

1.700.000

Utang pajak tersebut akan dibayar oleh PT Lusa sesuai dengan ketentuan formal,
yaitu setiap tanggal 10 setelah berakhirnya bulan takwim pajak.
Jurnal yang dilakukan oleh PT Esok adalah:
Perkiraaan

Debet

Kas/Bank

Kredit

1.700.000

Uang Muka PPh Pasal 23

300.000

Penghasilan Bunga

2.000.000

Contoh 4
PT. Bobby melakukan pembayaran sewa gedung pada PT. Ariwibowo (pengusaha
kecil non PKP) sebesar Rp.12.000.000. Atas pembayaran uang sewa tersebut, PT.
Bobby mempunyai kewajiban untuk memotong PPh pasal 4 ayat (2) sebesar 10% x
penghasilan bruto, yaitu:
10%

Rp.

12.000.000

Rp.

1.200.000

Bagi PT. Ariwibowo, karena pemotongan ini bersifat final, maka PPh pasal 4 ayat (2)
tersebut tidak dapat dijadikan sebagai kredit pajak.

AKUNTANSI PAJAK

13

Yayasan Widya Dewata

Jurnal yang dilakukan oleh PT. Bobby adalah:


Perkiraaan
Biaya Sewa

Debet

Kredit

12.000.000

Utang PPh Pasal 4 ayat (2)

1.200.000

Kas/Bank

10.800.000

Utang pajak tersebut akan dibayar oleh PT Bobby sesuai dengan ketentuan formal,
yaitu setiap tanggal 10 setelah berakhirnya bulan takwim pajak.
Jurnal yang dilakukan oleh PT Ariwibowo adalah:
Perkiraaan
Kas/Bank

Debet

Kredit

10.800.000

PPh Pasal 4 Ayat (2)

1.200.000

Penghasilan Sewa
4.

12.000.000

PPh Pasal 24
Misal: diterima penghasilan dividen di Swiss, sebesar Rp.100.000.000 dan telah
dipotong pajak di Swiss Rp.10.000.000.
Perkiraaan

Debet

Kas/Bank

90.000.000

PPh Pasal 24 dibayar dimuka

10.000.000

Penghasilan Dividen
5.

100.000.000

PPh Pasal 25
Misal: angsuran PPh Pasal 25 tahun pajak 2011 adalah Rp.36.000.000.
Perkiraaan
PPh Pasal 25 (Prepaid Tax)
Kas/Bank

6.

Kredit

Debet

Kredit

36.000.000
36.000.000

PPh pasal 26
Secara sederhana pengenaan PPh Pasal 26 bisa dikenal dari penghasilan bruto
maupun perkiraan penghasilan neto, selain itu kita juga mengenal adanya Branch
Profit Tax. Untuk pengenaannya adalah sebagai berikut:
a)

Tarif 20% dari Penghasilan Bruto (atau Tarif Tax Treaty), untuk penghasilan
berupa:
Dividen;
Bunga, termasuk premium, diskonto, dan imbalan sehubungan dengan
jaminan pengambilan utang;
Royalti, sewa, dan imbalan lain sehubungan dengan penggunaan harta;
Imbalan sehubungan dengan jasa, pekerjaan, dan kegiatan;
Hadiah dan penghargaan dengan nama dan dalam bentuk apapun;
Pensiun dan pembayaran berkala lainnya.

AKUNTANSI PAJAK

14

Yayasan Widya Dewata

b)

Tarif 20% dari Penghasilan Neto (atau Tarif Tax Treaty), untuk penghasilan
berupa:
Penghasilan dari Penjualan Harta di Indonesia
Penghasilan yang dimaksud disini adalah penghasilan dari penjualan
saham kepada Wajib Pajak Luar Negeri
Besarnya persentase penghasilan neto atas penghasilan dari penjualan
saham adalah 25% dari harga jual, sehingga besarnya pajak yang terutang
adalah sebagai berikut:
PPh Pasal 26

20%

25%

Harga Jual

5%

Harga Jual

Penghasilan Premi Asuransi yang Dibayarkan kepada Perusahaan Asuransi


Luar Negeri
Jenis Premi

Tarif
Efektif

Penghasilan Neto

Premi yang dibayarkan


kepada perusahaan di Luar
Negeri

50%

Premi dibayar

10%

Premi yang dibayarkan


kepada perusahaan asuransi
Luar Negeri oleh perusahaan
asuransi yang berkedudukan
di Indonesia

10%

Premi dibayar

2%

Premi yang dibayarkan


kepada Perusahaan asuransi
Luar Negeri oleh perusahaan
reasuransi yang
berkedudukan di Indonesia

5%

Premi dibayar

1%

Contoh 1
PT. Mayun berusaha di bidang properti mengasuransikan bangunannya
kepada perusahaan asuransi di luar negeri, dengan premi asuransi dibayar
sebesar Rp.1.000.000.000 untuk 1 tahun. Pada saat pembayaran PT.
Mayun harus memotong PPh pasal 26 sebesar:
PPh Pasal 26

50%

20%

1.000.000.000

10%

1.000.000.000

100.000.000

Jurnal yang dilakukan oleh PT. Mayun adalah:


Perkiraaan
Biaya Asuransi

Debet

Kredit

1.000.000.000

Utang PPh Pasal 26

100.000.000

Kas/Bank

900.000.000

Utang pajak tersebut akan dibayar oleh PT Mayun sesuai dengan


ketentuan formal, yaitu setiap tanggal 10 setelah berakhirnya bulan
takwim pajak

AKUNTANSI PAJAK

15

Yayasan Widya Dewata

Contoh 2
PT. Manyun membayar royalti kepada Wes Suez Corp di Monaco atas
pemakaian merek dagang sebesar Rp.250.000.000. Pada saat pembayaran
PT. Manyun harus memotong PPh pasal 26 sebesar 20% x jumlah
pembayaran, yaitu
20%

Rp.

250.000.000

Rp.

50.000.000

Jurnal yang dilakukan oleh PT. Manyun adalah:


Perkiraaan

Debet

Biaya Royalti

Kredit

250.000.000

Utang PPh Pasal 26

50.000.000

Kas/Bank

200.000.000

Utang pajak tersebut akan dibayar oleh PT Manyun sesuai dengan


ketentuan formal, yaitu setiap tanggal 10 setelah berakhirnya bulan
takwim pajak
7.

PPN dan PPn-BM


Dalam akuntansi komersial tidak mengatur tersendiri perlakuan akuntansi khusus
untuk PPN maupun PPn BM. PSAK hanya mengatur Akuntansi Pajak Penghasilan
(PSAK 46).
Namun demikian baik dalam akuntansi komersial maupun dalam akuntansi pajak
terdapat persamaaan dalam melakukan pencatatan yang harus dipersiapkan,
antara lain:
1 . Akun Pajak Masukan Untuk mencatat besarnya Pajak Masukan yang dibayar
atau dipungut atas transaksi pembelian atau penerimaan BKP/JKP
2 . Akun Pajak Keluaran Untuk mencatat Pajak Keluaran yang dipungut atau
disetorkan ke Kas Negara atas transaksi penyerahan BKP/JKP.
Beberapa contoh perhitungan dan pencatatan transaksi yang berkaitan adanya
PPN, adalah sebagai berikut:
Contoh 1
PT Ceebee adalah Pengusaha Kena Pajak (PKP) pada bulan Januari dan Pebruari
2013, mempunyai data sebagai berikut:
Januari

Februari

>

Penjualan

Rp.

250.000.000

Rp.

250.000.000

>

Pembelian

Rp.

300.000.000

Rp.

200.000.000

>

PPN Masukan

Rp.

30.000.000

Rp.

20.000.000

>

PPN Keluaran

Rp.

25.000.000

Rp.

25.000.000

Ayat Jurnal yang dilakukan oleh PT. Ceebee pada waktu melakukan pembelian
dibulan Januari 2014:
Perkiraaan
Persediaan Barang Dagangan
PPN Masukan
Utang Dagang/Kas/Bank

AKUNTANSI PAJAK

Debet

Kredit

300.000.000
30.000.000
330.000.000

16

Yayasan Widya Dewata

Ayat Jurnal yang dilakukan oleh PT.Ceebee pada waktu melakukan Penjualan
dibulan Januari:
Perkiraaan
Piutang Dagang/Kas/Bank

Debet

Kredit

275.000.000

PPN Keluaran

25.000.000

Penjualan

250.000.000

Jurnal yang dilakukan oleh PT. Ceebee pada akhir bulan Januari:
Perkiraaan
PPN Keluaran

Debet

Kredit

25.000.000

PPN Masukan

25.000.000

Jurnal ini dilakukan untuk mengetahui saldo dari PPN, apabila saldo atas PPN
Keluaran diakhir bulan lebih besar maka terjadi kekurangan bayar atas PPN di bulan
tersebut. Sebaliknya apabila saldo atas PPN Masukan diakhir bulan lebih besar
maka terjadi kelebihan bayar atas PPN di bulan tersebut. Kekurangan bayar atas
PPN harus dilunasi pada tanggal akhir bulan takwim. Kelebihan bayar atas PPN,
Wajib Pajak dapat mengkompensasikan untuk masa pajak berikutnya dan dapat
meminta restitusi atas kelebihan tersebut. Pada saat terjadinya pembayaran atas
kekurangan pembayaran PPN, maka saldo dari PPN Keluaran akan menjadi nol.
Sedangkan apabila terjadi kelebihan pembayaran PPN, Wajib Pajak meminta
kompensasi, maka saldo atas PPN masukan akan tetap sesuai dengan jumlah
kelebihannya. Apabila Wajib Pajak meminta restitusi, maka timbul perkiraan
Piutang Restitusi dan saldo atas PPN masukan menjadi nol.
Diasumsikan kasus diatas, Wajib Pajak mengkompensasi atas kelebihan
pembayaran PPN, sehingga diakhir bulan masih ada saldo atas PPN Masukamya
sebesar Rp.5.000.000.
Jurnal yang dilakukan oleh PT. Ceebee pada waktu melakukan pembelian dibulan
Februari:
Perkiraaan
Persediaan Barang Dagangan
PPN Masukan

Debet

Kredit

200.000.000
20.000.000

Utang Dagang/Kas/Bank

220.000.000

Jurnal yang dilakukan oleh PT. Ceebee pada waktu melakukan penjualan dibulan
Februari:
Perkiraaan
Piutang Dagang/Kas/Bank
PPN Keluaran
Penjualan

AKUNTANSI PAJAK

Debet

Kredit

275.000.000
25.000.000
250.000.000

17

Yayasan Widya Dewata

Jurnal yang dilakukan oleh PT. Ceebee pada akhir bulan februari:
Perkiraaan
PPN Keluaran

Debet

Kredit

25.000.000

PPN Masukan

25.000.000

Pada akhir bulan Pebruari, terjadi saldo PPN masukan Rp.25.000.000 (saldo awal
Rp.5.000.000 + Rp.20.000.0000). Sedangkan saldo PPN keluaran Rp.25.000.000.
Dengan demikian untuk mengetahui berapa saldo atas PPN, maka jurnal yang
dilakukan adalah dengan melakukan jurnal tersebut diatas. Saldo atas PPN-Keluaran
maupun PPN-Masukan akan menjadi 0.
Contoh 2
PT. Dimbi (PKP) adalah eksportir, membeli barang untuk di ekspor. Pada masa
Maret 2014, pembelian seluruhnya BKP sejumlah Rp.175.000.000 sedang penjualan
ekspor sebesar Rp.250.000.000. kelebihan pembayaran direstitusikan pada bulan
Maret 2014.
Jurnal yang dilakukan oleh PT. Dimbi pada saat mengajukan restitusi:
Apabila dibulan tersebut hanya terjadi transaksi seperti diatas, maka terjadi
kelebihan pembayaran atas PPN, karena untuk penjualan ekspor dikenakan PPN
dengan tarif sebesar 0%.
Jurnal yang dilakukan oleh PT. Dimbi pada waktu melakukan pembelian:
Perkiraaan
Persediaan Barang Dagangan
PPN Masukan

Debet

Kredit

175.000.000
17.500.000

Utang Dagang/Kas/Bank

192.500.000

Jurnal yang dilakukan oleh PT. Dimbi pada waktu melakukan penjualan ekspor:
Perkiraaan

Debet

Piutang Dagang/Kas

250.000.000

Harga Pokok Penjualan

175.000.000

Kredit

Persediaan Barang Dagangan

175.000.000

Penjualan Ekspor

250.000.000

Jurnal yang dilakukan oleh PT. Dimbi pada saat mengajukan restitusi:
Perkiraaan
Piutang Restitusi PPN
PPN Masukan

Debet

Kredit

17.500.000
17.500.000

Pada akhir bulan terdapat saldo PPN Masukan sebesar Rp.17.500.000. Wajib Pajak
mengajukan permohonan restitusi atas saldo PPN Masukan tersebut, maka
dilakukan jurnal tersebut diatas.

AKUNTANSI PAJAK

18

Yayasan Widya Dewata

Contoh 3
PT. Sejuk pada bulan Februari 2014 melakukan penjualan barang kena pajak
seharga Rp.750.000.000. Barang tersebut waktu diimpor pada bulan yang sama
dikenakan PPn BM karena termasuk barang kena pajak yang tergolong mewah
dengan nilai impor sebesar Rp.500.000.000 (PPn BM 20%).
Penghitungan PPN Impor adalah sebesar 10% x Rp.50.000.000 = Rp.50.000.000.
Penghitungan PPnBM Impor adalah sebesar 20% x Rp.50.000.000 = Rp.100.000.000.
PPn BM hanya dikenakan sekali sehingga pada waktu Wajib Pajak menjualan barang
tersebut, PPn BM dimasukan kedalam unsur biaya atau harga pokok penjualan.
Dengan demikian persediaan barang dagangan menjadi Rp.600.000.000.
Jurnal yang dilakukan oleh PT. Sejuk pada waktu melakukan pembelian:
Perkiraaan
Persediaan Barang Dagangan
PPN Masukan

Debet

Kredit

600.000.000
50.000.000

Utang Dagang/Kas/Bank

650.000.000

Jurnal yang dilakukan oleh PT. Sejuk pada waktu melakukan penjualan:
Perkiraaan
Piutang Dagang/Kas

Debet

Kredit

825.000.000

PPN Keluaran

75.000.000

Penjualan

750.000.000

Jurnal yang dilakukan oleh PT. Sejuk pada saat melakukan pembayaran atas
kekurangan PPN:
Perkiraaan
PPN Keluaran

Debet

Kredit

75.000.000

PPN Masukan

50.000.000

Kas/Bank

25.000.000

Pajak Bumi dan Ragunan (PBB)


Misal : Pembayaran PBB tahun 2014 sebesar Rp.25.000.000.
Perkiraaan
Biaya PBB
Kas/Bank

AKUNTANSI PAJAK

Debet

Kredit

25.000.000
25.000.000

19

Yayasan Widya Dewata

AKUNTANSI PENGHAPUSAN PIUTANG


(Selain Bank, SGU dengan
USAHA
Hak Opsi dan Asuransi)

BAB 4

Dalam kenyataan kegiatan usaha, tidak semua piutang bisa ditagih. Berdasarkan pengalaman
dari waktu ke waktu, entitas dapat memperkirakan jumlah piutang yang kemungkinan tidak
dapat tertagih. Prinsip konservatif dalam akuntansi mengharuskan entitas mengungkapkan
kemungkinan tidak tertagihnya piutang dalam laporan keuangan.
Standar Akuntansi Keuangan mengatur penyajian piutang dalam laporan keuangan dinyatakan
sebesar jumlah bruto tagihan diikuti dengan jumlah taksiran piutang yang tidak dapat ditagih.

A. Metode Penghapusan Piutang Menurut Akuntansi


Komersial
Terdapat dua metode penghapusan piutang dalam akuntansi komersial yaitu:
a.
Metode Penghapusan Langsung (Direct Write-off Method)
b.
Metode Penyisihan (Allowance Method)
Metode penghapusan langsung digunakan apabila kemungkinan tidak tertagihnya piutang
relatif kecil (immaterial) dan jarang terjadi. Sebaliknya jika berdasarkan pengalaman
jumlah piutang tak tertagih relatif besar dan sering terjadi, entitas menggunakan metode
penyisihan.
a.

Metode Penghapusan Langsung (Direct Write-off Method)


Penghapusan piutang dilakukan pada saat piutang benar-benar tidak dapat tertagih
(Prinsip realisasi). Pencatatan dilakukan dengan mendebet Beban Piutang Tak
Tertagih dan mengkredit akun Piutang.
Sebagai contoh, CV Maju Jaya mempunyai tagihan piutang dagang kepada Tn.
Mahmud sebesar Rp.15.000.000. Setelah dilakukan upaya penagihan piutang
tersebut tidak dapat ditagih juga dan harus dihapus.
Ayat jurnal yang dibuat CV Maju Jaya:
Tanggal

Perkiraaan
Beban Piutang Tak Tertagih

Debet

Kredit

15.000.000

Piutang Dagang

15.000.000

Apabila ternyata piutang yang telah dihapus ternyata dilunasi, dibuat ayat jurnal
sbb:
1. Penyesuaian untuk menimbulkan kembali saldo piutang
Tanggal

Perkiraaan
Piutang Dagang

Debet
15.000.000

Beban Piutang Tak Tertagih

2.

Kredit

15.000.000

Mencatat pelunasan piutang


Tanggal

Perkiraaan
Kas/Bank
Piutang Dagang

AKUNTANSI PAJAK

Debet

Kredit

15.000.000
15.000.000

20

Yayasan Widya Dewata

b.

Metode Penyisihan (Allowance Method)


Dengan metode ini penghapusan piutang tidak dilakukan secara langsung
melainkan dengan membentuk Penyisihan/penyisihan piutang tak tertagih.
Pembentukan dilakukan pada akhir periode akuntansi dengan membuat estimasi
jumlah piutang yang kemungkinan tidak dapat ditagih pada periode berikutnya.

B. Pencatatan Akuntansi Metode Penyisihan


a.

Pembentukan pertama kali penyisihan piutang tidak tertagih


31-12-2013, PT Xaraf untuk pertama kalinya membentuk Penyisihan piutang tak
tertagih. Penyisihan yang terbentuk berdasarkan umur piutang sebesar
Rp.45.000.000.
Ayat jurnal yang dibuat:
Tanggal
31-12-2013

Perkiraaan
Beban Piutang Tak Tertagih

Debet

Kredit

45.000.000

Penyisihan Piutang Tak


Tertagih

45.000.000

Beban piutang tidak tertagih untuk tahun 2010 sebesar Rp.45.000.000


b.

Penghapusan Piutanq
01-04-2014, diketahui PT Aziz, salah satu debitur PT Xaraf bangkrut dan tidak dapat
melunasi utangnya sebesar Rp.10.000.000. PT Xaraf menghapus (write-off) piutang
PT Aziz
Ayat jurnal yang dibuat:
Tanggal
01-04-2014

Perkiraaan
Penyisihan Piutang Tak Tertagih

Debet
10.000.000

Piutang Dagang

c.

Kredit

10.000.000

Pelunasan piutang yang telah dihapusbukukan


01-06-2014, PT Bobox, debitur PT Xaraf yang telah dihapus utangnya, ternyata
membayar utangnya sebesar Rp.5.000.000.
Ayat jurnal yang dibuat PT Xaraf.
1). Penyesuaian untuk menimbulkan kembali piutangnya:
Tanggal
01-06-2014

Perkiraaan
Piutang Dagang

Debet

Kredit

5.000.000

Penyisihan Piutang Tak


Tertagih

5.000.000

2). Mencatat pelunasan piutang


Tanggal
01-06-2014

Perkiraaan
Kas/Bank
Piutang Dagang

AKUNTANSI PAJAK

Debet

Kredit

5.000.000
5.000.000

21

Yayasan Widya Dewata

d.

Pembentukan kembali penyisihan piutang tidak tertagih


Setelah mutasi-mutasi selama tahun 2014, akun Penyisihan Piutang Tidak Tertagih
per 31-12-2014 bersaldo kredit Rp.40.000.000. PT Xaraf, pada akhir tahun 2014
membentuk lagi penyisihan piutang tak tertagih berdasarkan umur dari saldo
piutang per 31-12-2014, misalkan diperoleh perhitungan sebesar Rp.50.000.000,
maka penyesuaian yang harus dibuat pada 31 Desember 2014 adalah sebagai
berikut:
>

Penyisihan Piutang Tak Tertagih 31/12/2014

Rp.

50.000.000

>

Saldo Penyisihan Piutang Tak Tertagih


31/12/2014

Rp.

40.000.000

Beban Piutang Tidak Tertagih Tahun 2014

Rp.

10.000.000

Ayat jurnal yang dibuat:


Tanggal
31-12-2014

Perkiraaan
Beban Penyisihan Piutang Tak
Tertagih

Debet

Kredit

10.000.000

Penyisihan Piutang Tak


Tertagih

10.000.000

Apabila PT Xaraf membentuk Penyisihan pada akhir tahun 2014 sebesar


Rp.35.000.000, maka PT Xaraf mengakui Laba Piutang tak tertagih sbb:
>

Penyisihan yang Dibentuk per-31/12/2014

Rp.

35.000.000

>

Saldo Penyisihan Piutang Tak Tertagih per31/12/2014

Rp.

40.000.000

Laba Piutang Tidak Tertagih Tahun 2014

Rp.

5.000.000

Ayat jurnal yang dibuat:


Tanggal
31-12-2014

Perkiraaan
Penyisihan Piutang Tak Tertagih
Laba Piutang Tak Tertagih

Debet

Kredit

5.000.000
5.000.000

C. Penghapusan Piutang Menurut Akuntansi Pajak


Pasal 6 ayat (1) huruf h UU No.36 Tahun 2008 mengatur, beban piutang tidak tertagih
yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto adalah piutang yang nyata-nyata tidak
dapat ditagih, dengan syarat:
1)
Telah dibebankan sebagai biaya dalam laporan laba rugi komersial;
2)
Wajib Pajak harus menyerahkan daftar piutang yang tidak dapat ditagih kepada
Direktorat Jenderal Pajak; dan
3)
Telah diserahkan perkara penagihannya kepada Pengadilan Negeri atau instansi
pemerintah yang menangani piutang negara; atau adanya perjanjian tertulis
mengenai penghapusan piutang/pembebasan utang antara kreditur dan debitur
yang bersangkutan; atau telah dipublikasikan dalam penerbitan umum atau khusus;
atau adanya pengakuan dari debitur bahwa utangnya telah dihapuskan untuk
jumlah utang tertentu;
4)
syarat sebagaimana dimaksud pada angka 3 tidak berlaku untuk penghapusan
piutang tak tertagih debitur kecil sebagaimana dimaksud dalam pasal 4 ayat (1)
huruf k; yang pelaksanaamya diatur lebih lanjut dengan berdasarkan Menteri
Keuangan.

AKUNTANSI PAJAK

22

Yayasan Widya Dewata

Piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih dapat dibebankan sebagai biaya sepanjang
Wajib Pajak telah mengakuinya sebagai biaya dalam laporan laba-rugi komersial dan telah
melakukan upaya-upaya penagihan yang maksimal atau terakhir.
Yang dimaksud usaha maksimal atau terakhir apabila merujuk pada Pasal 6 ayat (1) huruf
h UU PPh dan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 105/PMK.03/2009 jo. Peraturan
Menteri Keuangan Nomor 57/PMK.03/2010 adalah sebagai berikut:
1)
Menyerahkan perkara penagihannya kepada Pengadilan Negeri atau instansi
pemerintah yang menangani piutang negara.
Penyerahan perkara penagihan piutang yang memenuhi persyaratan atau kriteria
sebagai piutang negara berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku
dapat dilakukan kepada Pengadilan Negeri atau kepada Badan Urusan Piutang dan
Lelang Negara (BUPLN), sedangkan penyerahan perkara penagihan piutang selain
piutang negara hanya dapat dilakukan pada Pengadilan Negeri.
Atau;
2)
Membuat perjanjian tertulis mengenai penghapusan piutang/pembebasan utang
antara kreditur dan debitur yang bersangkutan
Perjanjian tertulis mengenai penghapusan piutang atau pembebasan utang
(perjanjian restrukturisasi utang usaha) antara kreditur dan debitur harus memuat
secara jelas data dan informasi mengenai kreditur, debitur, pihak ketiga terkait,
pinjaman dan bentuk perjanjian restrukturisasi yang dilakukan, serta harus
disahkan oleh Notaris.
Atau;
3)
Dipublikasikan dalam penerbitan umum atau khusus
Yang dimaksud dengan penerbitan umum atau khusus adalah:
2). Penerbitan koran/majalah atau media massa cetak yang lazim lainnya yang
berskala nasional; atau
3). Penerbitan khusus Himpunan Bank-Bank Milik Negara (HIMBARA)/Persatuan
Bank-Bank Swasta Nasional (PERBANAS); atau
4). Penerbitan/pengumuman khusus Bank Indonesia.
Dalam memori penjelasan UU PPh No.36 Tahun 2008 ditambahkan dimaksud
dengan penerbitan tidak hanya berarti penerbitan berskala nasional, namun
dapat juga penerbitan internal asosiasi dan sejenisnya.
Atau;
4). Adanya pengakuan dari debitur bahwa utangnya telah dihapuskan untuk jumlah
utang tertentu.
Pengakuan dari debitur ini merupakan ketentuan baru dalam UU No.36 Tahun
2008. Bentuk dan cara pengakuan debitur ini belum ada pengaturan lebih lanjut.
Agar piutang tidak tertagih dapat dibiayakan WP harus menyerahkan daftar piutang
yang tidak dapat ditagih kepada Direktorat Jenderal Pajak, Prosedur penyerahan
daftar piutang yang tidak dapat ditagih kepada Direktorat Jenderal Pajak sesuai
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 105/PMK.03/2009 jo. Peraturan Menteri
Keuangan Nomor 57/PMK.03/2010 adalah sebagai berikut:
(1) Daftar piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih diserahkan kepada Kepala
KPP tempat WP terdaftar bersamaan dengan penyampaian SPT Tahunan PPh
tahun pajak yang bersangkutan (sebagai lampiran), disertai dengan fotokopi
bukti penyerahan perkara penagihamya ke Pengadilan Negeri atau Badan
Urusan Piutang dan Lelang Negara (BUPLN) atau fotokopi perjanjian
restrukturisasi utang usaha yang telah dilegalisir oleh Notaris, dan fotokopi
bukti pengumuman dalam penerbitan umum atau khusus.

AKUNTANSI PAJAK

23

Yayasan Widya Dewata

(2) Daftar piutang memuat data dan informasi mengenai debitur, yaitu: nama,
alamat, Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), serta jumlah piutang yang nyatanyata tidak dapat ditagih.
Pencatuman NPWP berlaku bagi debitur:
a. Seluruh debitur WP badan;
b. Debitur WP OP yang jumlah kredit atau utangnya lebih dari
Rp.100.000.000;
c. Debitur WP OP yang jumlah kredit atau utangnya tidak lebih dari
Rp.100.000.000 sepanjang telah memiliki NPWP.
(3) Dalam hal jumlah debitur lebih dari 100 (seratus) dan sepanjang nilai piutang
yang nyata-nyata tidak dapat ditagih dari masing-masing debitur tidak lebih
dari Rp.5.000.000 (lima juta rupiah), daftar piutang dapat dibuat secara
kumulatif dengan menyajikan data dan informasi debitur yaitu: jumlah debitur
kecil dan jumlah total nilai piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih.
UU PPh jelas menegaskan bahwa pembebanan penghapusan piutang tidak tertagih menganut
prinsip realisasi dengan menggunakan Metode Penghapusan Langsung (Direct Write-off
Method) sepanjang memenuhi syarat-syarat di atas. Metode Penyisihan tidak diperkenankan
oleh peraturan perpajakan, sehingga apabila WP menggunakan metode Penyisihan maka harus
melakukan koreksi dan melakukan pembebanan dengan menggunakan metode langsung atas
piutang yang tidak dapat ditagih yang telah memenuhi syarat yang ditentukan peraturan
perpajakan.

AKUNTANSI PAJAK

24

Yayasan Widya Dewata

AKUNTANSI AKTIVA TETAP

BAB 5

Aktiva tetap merupakan salah satu sumber yang dimiliki perusahaan dalam jangka
waktu yang relatif lama dan digunakan perusahaan dalam kegiatan operasi serta tidak untuk
tujuan investasi (dijual kembali di masa yang akan datang utuk mendatangkan keuntungan).

A. Klasifikasi Aktiva Tetap


1. Aktiva Tetap Berwujud
Aktiva tetap berwujud adalah aktiva yang wujud fisiknya dapat kita lihat, misalnya
adalah tanah, property, peralatan, mesin, dan pertambangan.
Aktiva tetap berwujud terbagi dalam dua kategori yaitu:
(1) Aktiva tetap berwujud yang tidak dapat disusutkan yaitu tanah.
(2) Aktiva tetap berwujud yang dapat disusulkan, contohnya adalah gedung,
peralatan, dan mesin.

2. Aktiva Tetap Tak Berwujud


Aktiva tetap tak berwujud merupakan aktiva yang wujud fisiknya tidak dapat kita
lihat, yang terlihat hanyalah wujud pengakuan kepemilikan perusahaan atas aktiva
tersebut yang dikeluarkan oleh pihak yang berwenang, contohnya adalah hak paten,
hak cipta, dan goodwill.

B. Perolehan Aktiva Tetap Berwujud


Perusahaan dapat memperoleh aktiva tetap berwujud dengan membeli tunai,
membangun sendiri, memberikan wesel bayar, atau menukar dengan aktiva lain. Aktiva
tetap dicatat dengan prinsip harga perolehan yaitu suatu prinsip yang menyebutkan
bahwa semua biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh aktiva sampai aktiva tersebut
siap untuk digunakan merupakan harga perolehan dari aktiva tersebut. Hal-hal yang perlu
diketahui dalam Perolehan Aktiva Tetap adalah sebagai berikut:

Prinsip Harga Historis (Historical Cost)


Pasal 10 UU PPh menunjukkan bahwa PPh menganut prinsip harga historis dalam
menentukan penghasilan dan biaya, hal ini sesuai dengan yang dianut akuntansi. Berikut
ini berapa contoh mengenai komponen yang menyusun harga perolehan aktiva tetap
berwujud

1. Tanah
Harga perolehan dari tanah meliputi:
(1). Harga Beli,
(2). Bea Balik Nama,
(3). Biaya Notaris,
(4). Komisi Broker,
(5). PBB yang belum dilunasi oleh pemilik lama.
Bila perusahaan membeli sebidang tanah dengan bangunan di atasnya tapi
perusahaan tidak menginginkan bangunan tersebut dan berniat untuk
menghancurkannya, maka biaya yang dikeluarkan untuk menghancurkan gedung,
pembersihan, dan perataan sampai tanah tersebut siap digunakan masuk dalam
harga perolehan atas tanah, sedangkan penjualan dari puing-puing bangunan yang
masih bisa dijual merupakan pengurang dari harga perolehan atas tanah.

AKUNTANSI PAJAK

25

Yayasan Widya Dewata

2. Pengembangan Tanah
Pengembangan tanah adalah semua biaya yang dikeluarkan untuk mengembangkan
tanah tersebut sampai tanah tersebut berfungsi seperti yang direncanakan.
Contohnya adalah pembuatan lapangan parkir. Biaya-biaya yang termasuk harga
perolehan dari pengembangan tanah adalah pengaspalan atau pem-pavingan, lampu,
dan pembuatan pembatas atau pagar. Di dalam aturan perpajakan pengembangan
tanah termasuk kelompok bangunan.

3. Bangunan
Harga perolehan gedung meliputi semua biaya yang dikeluarkan perusahaan untuk
membeli atau membangun gedung atau bangunan. Bila perusahaan membeli
gedung, maka harga perolehan meliputi harga beli, komisi makelar, dan biaya
notaris. Harga perolehan juga termasuk biaya yang dikeluarkan sampai gedung siap
untuk digunakan seperti disain ulang ruangan, memperbaiki atap, lantai, sirkuit
listrik, dan saluran pembuangan, Sedangkan bila perusahaan membangun sendiri,
biaya yang termasuk harga perolehan adalah biaya bahan bangunan, biaya arsitek,
IMB dan bunga bila pembiayaannya menggunakan pinjaman.

4. Peralatan
Harga perolehan peralatan meliputi semua biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan
sampai peralatan tersebut siap digunakan. Biaya tersebut meliputi harga beli, pajak,
ongkos angkut, asuransi, biaya instalasi, dan biaya pengetesan.

Cara Perolehan Aktiva Tetap Berwujud


Adapun Cara Perolehan Aktiva Tetap tersebut dapat melalui berbagai macam cara,
yaitu:
a. Pembelian;
b. Pertukaran Aktiva;
c. Setoran Modal;
d. Sumbangan;
e. Konstruksi Sendiri;
f. Sewa Guna Usaha;
g. Build Operate and Transfer (BOT);
h. Merger, Penggabungan Usaha.
berikut ini beberapa penjelasan dari hal tersebut di atas:

a. Pembelian Aktiva Tetap Berwujud


Akuntansi menganut prinsip historical cost dalam pencatatan pembelian, yaitu
pengorbanan ekonomis yang benar-benar dikeluarkan. Yaitu semua biaya yang
diperoleh sampai aktiva tersebut siap digunakan.
Menurut peraturan perpajakan, pembelian aktiva tetap diatur dalam Pasal 10 ayat
(1) UU No.7 tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah diubah
terakhir dengan UU No.36 tahun 2008, yang dapat disimpulkan sebagai berikut:

Secara umum, "lex generalis" perolehan aktiva diakui sebesar jumlah yang
sesungguhnya dikeluarkan.
Dalam hal diperoleh bukti bahwa terdapat hubungan istimewa antara pihak
pembeli dan penjual, maka nilai perolehan aktiva tetap adalah harga yang
seharusnya dikeluarkan.
Hubungan istimewa sebagaimana dimaksud di atas dianggap ada apabila
Wajib pajak mempunyai penyertaan modal langsung atau tidak langsung
paling rendah 25% pada Wajib Pajak lain, atau hubungan antara Wajib

AKUNTANSI PAJAK

26

Yayasan Widya Dewata

b.

Pajak dengan penyertaan paling rendah 25% pada dua Wajib Pajak atau
lebih, demikian pula hubungan antara dua Wajib Pajak atau lebih yang
disebut terakhir, atau
Wajib Pajak menguasai Wajib Pajak lainnya, atau dua atau lebih Wajib Pajak
dibawah pengusaaan yang sama baik langsung maupun tidak langsung, atau
Terdapat hubungan keluarga baik sedarah maupun semenda dalam garis
keturunan lurus dan/atau kesamping satu derajat.

Pertukaran Aktiva Tetap Berwujud


Secara akuntansi, perolehan aktiva tetap dengan melalui pertukaran, dilihat apakah
aktiva yang dipertukarkan tersebut sejenis atau tidak. Apabila aktiva tersebut tidak
sejenis, maka nilai perolehan aktiva adalah nilai pasar dari aktiva yang
bersangkutan. Dalam hal aktiva yang dipertukarkan tersebut sejenis, nilai perolehan
aktiva sebesar nilai pasar dikurangi keuntungan pertukaran yang tidak boleh diakui.
Dalam hal pihak yang mendapatkan keuntungan pertukaran tersebut menerima kas
maka terdapat pengakuan laba pertukaran secara proporsional dengan kas yang
diterima dan aktiva yang diserahkan. Pembahasan yang dilakukan dalam bahasan
ini diasumsikan tidak ada aliran kas yang diterima.
Peraturan perpajakan yang mengatur transaksi pertukaran adalah Pasal 10 Ayat (2)
UU No.7 tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah diubah terakhir
dengan UU No.36 tahun 2008, dalam pasal tersebut disebutkan bahwa:
"(2) Nilai perolehan dan/atau nilai penjualan dalam hal terjadi tukar menukar harta
adalah jumlah yang seharusnya dikeluarkan atau diterima berdasarkan harga
pasar."
Dari ketentuan tersebut, dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut:

c.

Bahwa peraturan perpajakan memandang suatu transaksi pertukaran aktiva


tersebut sebagai transaksi jual dan beli;
Pengakuan nilai perolehan adalah sebesar harga pasar dari aktiva yang
diterima (walaupun tidak ada pembayaran atas harga pasar tersebut);
Karena terjadi pelepasan aktiva tetap, maka pihak-pihak yang melepaskan
aktiva akan mengakui keuntungan/kerugian pelepasan aktiva (Gain or Loss on
Disposal of Plant Asset) sebesar selisih antara harga pasar dengan nilai buku
aktiva tetap;
Penentuan Capital Gain/Loss dihitung dari nilai buku menurut pajak dengan
memperhatikan metode penyusutan menurut pajak.

Setoran Modal Berupa Aktiva Tetap Berwujud


Penyertaan wajib pajak dalam permodalan suatu badan dapat dipenuhi dengan
setoran tunai maupun pengalihan harta. Perlakuan perpajakan atas penyetoran
modal dengan aktiva tetap berwujud adalah sebagai berikut:
1)
2)
3)
4)
5)
6)
7)

Bagi pihak yang menerima aktiva tetap, bukan merupakan objek pajak
Penilaian harga perolehan berdasarkan harga pasar
Penentuan harga pasar dilakukan oleh pihak yang independen yang diakui
pemerintah
Harus disertai rincian yang menerangkan nilai atau harga, jenis, status, tempat
kedudukan dan hal lain yag berhubungan dengan identifikasi aktiva
Dalam bentuk benda bergerak maupun barang tidak bergerak
Bagi pihak yang mengalihkan dicari Capital Gain (Loss) sebesar nilai pasar
dengan nilai buku yang merupakan objek pajak
Dalam hal setoran modal berupa tanah dan/atau bangunan, pengalihan
tersebut menimbulkan kewajiban BPHTB atas pemindahan hak atas tanah
dan/atau bangunan.

AKUNTANSI PAJAK

27

Yayasan Widya Dewata

d.

Sumbangan
Secara akuntansi, sumbangan akan dimasukkan ke dalam "modal donasi" sehingga
tidak ada pendapatan sumbangan
Sedangkan secara peraturan pajak, sumbangan akan ditinjau dari pihak yag
melakukan transaksi sumbangan, apakah antara pihak-pihak tersebut mempunyai
hubungan usaha atau tidak. Jika ada hubungan usaha, sumbangan dinilai
berdasarkan harga pasar. Bagi yang menerima adalah obyek pajak penghasilan dan
bagi yang menyumbang dihitung selisih antara nilai pasar dengan nilai buku yang
merupakan capital gain (loss) yang nanti dikaitkan dengan posisi aktiva bagi
pengakuan biaya.
Apabila tidak ada hubungan usaha, dinilai berdasarkan nilai buku. Bagi penerima
adalah bukan objek pajak dan bagi yang menyumbang adalah bukan biaya.

e.

Membangun Sendiri
Pengeluaran untuk membangun sendiri aktiva tetap merupakan unsur harga
perolehan aktiva tetap. Secara pajak, harus dikeluarkan biaya yang merupakan
bukan pengurang penghasilan bruto. Dalam hal terdapat biaya bunga selama masa
konstruksi, maka biaya bunga harus diperlakukan khusus berbeda dengan
perlakuan terhadap biaya-biaya konstruksi yang lain.
Biaya selama konstruksi diperlakukan sebagai berikut:
1) Sesuai dengan Pasal 6 Ayat (1) huruf b UU PPh, pengeluaran untuk
memperoleh harta yang mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun harus
dikapitalisir dengan harga perolehan/harga pokok. Pembebanannya sebagai
biaya dapat dilakukan melalui penyusutan, amortisasi, ataupun pada saat
penjualan sebagai bagian dari harga pokok penjualan.
2) Sesuai dengan SE-20/PJ.42/1994, pengeluaran bunga pinjaman selama masa
konstruksi merupakan komponen dari biaya langsung yang menjadi bagian
pembentukan harga pokok atau harga perolehan aktiva seperti rumah atau
gedung. Oleh karena itu pengeluaran bunga pinjaman sampai dengan rumah
atau gedung selesai dan siap digunakan atau dipasarkan harus dikapitalisir
menjadi komponen harga pokok atau harga perolehan gedung.

f.

Sewa Guna Usaha (Leasing)


1). Operating Lease
a). Perlakuan Perpajakan Bagi Lessor:
Yaitu sama dengan perlakuan menurut akuntansi komersial:

Seluruh pembayaran yang diterima/diperoleh


merupakan penghasilan (obyek PPh).

Lessor berhak menyusutkan aktiva yang disewa-guna-usahakan


(penyusutan sesuai ketentuan fiskal).
Lessor wajib mengenakan PPN atas jasa sewa tersebut.

b)

oleh

lessor

Perlakuan Perpajakan Bagi Lessee:


Yaitu sama dengan perlakuan menurut akuntansi komersial:

AKUNTANSI PAJAK

Jumlah sewa yang dibayar atau terutang pada tahun yang


bersangkutan merupakan biaya yang dapat dikurangkan (deductible
expense).
Lessee tidak berhak menyusutkan aktiva yang disewanya.

Lessee wajib memotong PPh Pasal 23 atas sewa.

28

Yayasan Widya Dewata

2). Capital Lease


a). Perlakuan Perpajakan Bagi Lessor:

Penghasilan lessor (obyek PPh) adalah imbalan jasa SGU


(pendapatan bunga), yaitu dihitung dari seluruh pembayaran SGU
dikurangi angsuran pokok.

Lessor tidak diperbolehkan menyusutkan aktiva yang disewa-gunausahakan.

Lessor dapat membentuk dana Penyisihan piutang tak tertagih yang


dapat dibiayakan, maksimum = 2,5% x saldo rata-rata piutang SGU.

Angsuran PPh Pasal 25 dihitung berdasarkan Laporan Keuangan


Triwulanan yang disetahunkan.

Pembayaran SGU tidak dikenakan PPN.

b). Perlakuan SGU Bagi Lessee:

Lessee tidak boleh menyusutkan aktiva tetap yang dileasingnya. Hal


ini berbeda dengan perlakuan akuntansi komersial. Dalam
akuntansi komersial aktiva tetap SGU disusutkan oleh lessee.

Angsuran SGU yang dibayar atau terutang angsuran pokok maupun


bunga diakui sebagai biaya. Hal ini juga berbeda dengan perlakuan
akuntansi komersial. Dalam akuntansi komersial angsuran pokok
SGU diperlakukan sebagai pembayaran (pelunasan) hutang SGU,
sedangkan bunganya merupakan biaya (expense).

Dengan demikian, lessee harus melakukan Koreksi Fiskal atas


Laporan Keuangamya sbb:

Melakukan koreksi biaya penyusutan, yaitu


membebankan biaya penyusutan atas aktiva tetap SGU.

Melakukan koreksi biaya angsuran SGU, yaitu dengan


memasukkan angsuran pokok SGU sebagai biaya (pengurang
penghasilan bruto).
Biaya bunga tetap dapat diakui sebagai biaya (sama antara
akuntansi komersial dengan akuntansi fiskal).

tidak

c). Penyisihan Piutang Tak Tertagih:

AKUNTANSI PAJAK

Perusahaan Jasa Capital Lease dapat membentuk Penyisihan


piutang tak tertagih.

Besarnya dana Penyisihan piutang tak tertagih yang dapat


dibebankan sebagai biaya maksimum sebesar 2,5% dari rata-rata
saldo awal dan akhir piutang (Maksimum = 2,5% x (Saldo Awal
Piutang SGU + Saldo Akhir Piutang SGU) / 2.

29

Yayasan Widya Dewata

C. Perolehan Aktiva Tetap Tak Berwujud


Aktiva tak berwujud (intangible asset) adalah aktiva tak lancar (non current asset) dan tak
berbentuk yang memberikan hak ke-ekonomi-an dan hukum kepada pemiliknya dan
dalam laporan keuangan tidak dicakup secara terpisah dalam klasifikasi aktiva yang lain.
Salah satu karakteristik aktiva tak berwujud yang paling penting adalah tingkat ketidak
pastian mengenai nilai dan manfaatnya dikemudian hari. Dalam banyak kasus, nilai aktiva
tak berwujud antara lain dapat berbentuk hak paten, hak cipta, franchise, dan merk
dagang.
Perlakuan akuntansi aktiva tak berwujud menyangkut masalah yang tidak berbeda dengan
perlakuan akuntansi terhadap aktiva tetap, diantaranya adalah penentuan nilai
perolehan, pelakuan akuntansi selanjutnya terhadap nilai perolehan tersebut dalam
kondisi usaha normal (amortisasi), dan perlakuan akuntansi atas penurunan nilai aktiva
tak berwujud yang material dan permanen. Kesulitan yang dihadapi dalam pemecahan
masalah perlakuan akuntansi aktiva tak berwujud pada umumnya disebabkan oleh sifat
aktiva tersebut, seperti tidak adanya wujud fisik yang menyebabkan bukti keberadaamya
kabur, dan kesulitan dalam penentuan nilai perolehan serta masa manfaat ke-ekonomiannya.
Aktiva tak berwujud dibedakan menurut sifat ke-khususan-nya, masa manfaatnya,
hubungannya dengan kegiatan usaha, dan penghapusannya. Dasar penggolongan aktiva
tak berwujud adalah sebagai berikut:
a.
kemampuan untuk di-identifikasikan: dapat atau tidak dapat di-identifikasikan
secara khusus.
b.
cara perolehan: diperoleh secara individual, secara kelompok, melalui
penggabungan badan usaha atau dikembangkan sendiri.
c.
masa manfaat yang diharapkan: tergantung pada pembatasan yang diatur oleh
hukum/perjanjian, pada faktor ke-ekonomian atau manusia, atau pada jangka
waktu yang tidak terbatas atau tidak dapat ditentukan di masa depan.
d.
kemampuan untuk dipisahkan dari keseluruhan perusahaan: hak yang dapat
dialihkan tanpa bukti pemilikan, dapat dijual atau tidak dapat dipisahkan dari
perusahaan atau dari bagian pokoknya.
Perusahaan harus mencatat nilai perolehan aktiva tak berwujud yang diperoleh dari
individu atau badan usaha lain sebagai aktiva. Biaya pemeliharaan atau penyimpanan
aktiva tak berwujud yang tidak dapat diidentifikasikan secara khusus tidak dapat
ditentukan masa manfaatnya/umurnya, atau tidak dapat dihindarkan dalam suatu
kegiatan usaha harus dibebankan dalam laporan laba rugi periode yang bersangkutan.
Nilai aktiva tak berwujud pada akhirnya akan habis pada saat tertentu, sehingga harga
perolehan aktiva tak berwujud harus diamortisasi secara sistematis selama taksiran masa
manfaatnya dan tidak boleh dibebankan seluruhnya pada periode perolehan. Hal-hal yang
harus dipertimbangkan dalam menaksir masa manfaat suatu aktiva tak berwujud adalah
sebagai berikut:
a.
Ketentuan hukum, peraturan, perjanjian yang membatasi masa manfaat
maksimum.
b.
Kemungkinan untuk memperbaharui atau memperpanjang batas masa manfaat
yang telah ditentukan.
c.
Pengaruh keusangan, permintaan, persaingan dan faktor perubahan ekonomi dan
teknologi yang mempengaruhi masa manfaat.
d.
Prakiraan tindakan yang akan dilakukan oleh pesaing, pelaksana hukum/peraturan
dan lainnya yang membatasi keunggulan dalam daya saing (competitive
advantage).
e.
Adanya suatu masa manfaat yang tidak terbatas, dan masa manfaat yang
diharapkan tidak dapat ditaksir secara wajar.
f.
Kemungkinan aktiva tak berwujud terdiri dari beberapa jenis/faktor yang
mempunyai masa manfaat yang berbeda.

AKUNTANSI PAJAK

30

Yayasan Widya Dewata

Untuk menentukan masa manfaat aktiva tak berwujud secara wajar maka hal-hal tersebut
diatas harus dianalisa terlebih dahulu. Taksiran masa manfaat yang wajar biasanya
ditentukan dengan membuat batas atas dan batas bawah karena taksiran masa manfaat
yang sesungguhnya sulit untuk ditentukan.
Metode amortisasi aktiva tak berwujud adalah Metode Garis Lurus (Straight Line method),
kecuali jika ada metode lain yang lebih sesuai dengan kondisi perusahaan. Laporan
keuangan harus mengungkapkan metode dan periode amortisasi yang digunakan.
Perusahaan harus mengevaluasi periode amortisasi aktiva tak berwujud secara teratur
untuk memutuskan apakah peristiwa dan kondisi selanjutnya menuntut perubahan
taksiran masa manfaat yang ditentukan. Jika taksiran masa manfaat berubah, maka
jumlah harga perolehan yang belum diamortisasi harus dibebankan pada sisa masa
manfaat yang baru, dengan syarat tidak boleh melebihi 20 (dua puluh) tahun dari tanggal
perolehan. Taksiran nilai dan manfaat masa depan suatu aktiva tak berwujud yang belum
diamortisasi tersebut harus dikurangi dengan jumlah tertentu sebagai beban usaha dalam
laporan laba rugi periode yang bersangkutan. Meskipun demikian, kerugian pada satu
atau beberapa tahun tertentu secara berurutan tidak dapat dijadikan alasan untuk
membebankan semua atau sebagian harga perolehan aktiva tak berwujud yang
diamortisasi sebagai pembebanan luar biasa pada periode yang bersangkutan. Jika ada
pembebanan luar biasa, maka alasan pembebanamya harus diungkapkan dalam catatan
atas laporan keuangan.
Berdasarkan eksistensinya, aktiva tak berwujud dapat dikelompokkan dalam 2 (dua)
kategori:
1.
Aktiva tak berwujud yang eksistensinya dibatasi oleh ketentuan perundangundangan, peraturan pemerintah, perjanjian yang dibuat antara para pihak atau
sifat dari aktiva tersebut, misalnya hak paten, hak sewa, hak cipta, franchise yang
terbatas lisensi.
2.
Aktiva tak berwujud yang masa manfaatnya tidak terbatas dan tidak dapat
dipastikan masa berakhirnya, misalnya merk dagang, proses dan formula rahasia,
perpetual franchise, goodwill.

D. Penyusutan Aktiva Tetap Berwujud


1.

Metode Penyusutan
Metode penyusutan aktiva tetap berwujud yang diperkenankan menurut ketentuan
pajak, terdiri dari:
a.

Metode Garis Lurus


Penyusutan atas pengeluaran untuk pembelian, pendirian, penambahan,
perbaikan, atau perubahan harta berwujud, kecuali tanah yang berstatus hak
milik, hak guna bangunan, hak guna usaha, dan hak pakai, yang dimiliki dan
digunakan untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan yang
mempunyai masa manfaat lebih dari 1 tahun dilakukan dalam bagian-bagian
yang sama besar selama masa manfaat yang telah ditentukan bagi harta
tersebut.

b. Metode Saldo Menurun


Penyusutan atas pengeluaran harta berwujud di atas, selain bangunan, dapat
juga dilakukan dalam bagian-bagian yang menurun selama masa manfaat, yang
dihitung dengan cara menerapkan tarif penyusutan atas nilai sisa buku, dan
pada akhir masa manfaat nilai sisa buku disusutkan sekaligus, dengan syarat
dilakukan secara taat asas.

AKUNTANSI PAJAK

31

Yayasan Widya Dewata

c.

2.

Metode lain
Menyimpang dari ketentuan di atas, ketentuan tentang penyusutan atas harta
berwujud yang dimiliki dan digunakan dalam usaha tertentu, ditetapkan
dengan Keputusan Menteri Keuangan, seperti pertambangan.

Saat Mulai Penyusutan


Penyusutan dimulai pada bulan dilakukamya pengeluaran, kecuali untuk harta yang
masih dalam proses pengerjaan, penyusutamya dimulai pada bulan selesainya
pengerjaan harta tersebut.
Dengan persetujuan Direktur Jenderal Pajak, Wajib Pajak diperkenankan melakukan
penyusutan mulai pada bulan harta tersebut digunakan untuk mendapatkan,
menagih, dan memelihara penghasilan atau pada bulan harta yang bersangkutan
mulai menghasilkan.
Yang dimaksud dengan mulai menghasilkan dalam ketentuan ini dikaitkan dengan
saat mulai berproduksi dan tidak dikaitkan dengan saat diterima atau diperolehnya
penghasilan.
Contoh 1:
Pengeluaran untuk pembangunan sebuah gedung adalah sebesar Rp.100.000.000.
Pembangunan dimulai pada bulan Oktober 2013 dan selesai untuk digunakan pada
bulan Maret 2014. Penyusutan atas harga perolehan bangunan gedung tersebut
dimulai pada bulan Maret tahun pajak 2014.
Contoh 2:
PT Xolang Xaling yang bergerak di bidang perkebunan membeli traktor pada tahun
2013. Perkebunan tersebut mulai menghasilkan (panen) pada tahun 2014. Dengan
persetujuan Direktur Jenderal Pajak, penyusutan traktor tersebut dapat dilakukan
mulai tahun 2014
Apabila Wajib Pajak melakukan penilaian kembali aktiva berdasarkan ketentuan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 UU PPh, dasar penyusutan atas harta
tersebut adalah nilai setelah dilakukan penilaian kembali aktiva tersebut.

3.

Kelompok Harta
Penyusutan

Berwujud,

Masa

Manfaat,

dan

Tarif

Untuk menghitung penyusutan, masa manfaat dan tarif penyusutan harta berwujud
ditetapkan seperti tabel di bawah ini, sedangkan perinciamya ditetapkan lebih
lanjut dengan Keputusan Menteri Keuangan
Kelompok Harta Berwujud
I.

Masa
Manfaat

Tarif Penyusutan
Metode Garis
Metode Saldo
Lurus
Menurun

Bukan Bangunan
Kelompok 1

tahun

25%

50%

Kelompok 2

tahun

12,5%

25%

Kelompok 1

16

tahun

6,25%

12,5%

Kelompok 1

20

tahun

5%

10%

Permanen

20

tahun

5%

Tidak Permanen

10

tahun

10%

II. Bangunan

Penggunaan metode penyusutan atas harta harus dilakukan secara taat asas.
Untuk harta berwujud berupa bangunan hanya dapat disusutkan dengan metode

AKUNTANSI PAJAK

32

Yayasan Widya Dewata

garis lurus. Harta berwujud selain bangunan dapat disusutkan dengan metode garis
lurus atau metode saldo menurun.
Dalam hal Wajib Pajak memilih menggunakan metode saldo menurun, nilai sisa
buku pada akhir masa manfaat harus disusutkan sekaligus.
Sesuai dengan pembukuan Wajib Pajak, alat-alat kecil (small tools) yang sama atau
sejenis dapat disusutkan dalam satu golongan
Contoh penggunaan metode garis lurus:
Sebuah gedung yang harga perolehannya Rp.100.000.000 dan masa manfaatnya 20
(dua puluh) tahun, penyusutannya setiap tahun adalah sebesar Rp.5.000.000
(Rp.100.000.000 20).
Contoh penggunaan metode saldo menurun:
Sebuah mesin yang dibeli dan ditempatkan pada bulan Januari 2011 dengan harga
perolehan sebesar Rp.150.000.000 Masa manfaat dari mesin tersebut adalah 4
(empat) tahun. Kalau tarif penyusutan misalnya ditetapkan 50% (lima puluh
persen), maka penghitungan penyusutannya adalah sebagai berikut:
Tahun

Tarif

Penyusutan

Harga Perolehan -----------------------------------------------

Nilai Sisa Buku


150.000.000

2011

50%

75.000.000

75.000.000

2012

50%

37.500.000

37.500.000

2013

50%

18.750.000

18.750.000

2014

disusutkan sekaligus

18.750.000

Contoh 1
PT. Prima pada tanggal 21 Februari 2014 membeli sebuah bangunan dengan harga
Rp.150.000.000. Wajib Pajak ingin menghancurkan bangunan tersebut dan akan
membangun gedung kantor yang baru. Biaya penghancuran diperkirakan
Rp.10.000.000, dan puing bangunan dijual dengan harga Rp.1.000.000. Selain itu
Wajib Pajak mengeluarkan biaya untuk balik nama Rp.1.000.000, biaya notaris
Rp.150.000 dan membayar PBB yang masih terutang sebesar Rp.250.000.
Harga perolehan atas tanah dihitung sebagai berikut:
>

Harga beli bangunan

Rp.

150.000.000

>

Biaya pembongkaran gedung lama

Rp.

10.000.000

>

Penjualan puing bangunan

Rp.

10.000.000 )

>

Biaya balik nama

Rp.

1.000.000

>

Biaya notaris

Rp.

150.000

>

PBB

Rp.

250.000

>

Harga perolehan atas tanah

Rp.

160.400.000

Jurnal yang dilakukan oleh PT. Prima pada saat perolehan tanah adalah:
Perkiraaan
Tanah
Kas/Bank

AKUNTANSI PAJAK

Debet

Kredit

160.400.000
160.400.000

33

Yayasan Widya Dewata

Contoh 2
Pada tanggal 10 Januari 2014, PT. Karya melakukan pembelian aktiva berupa
peralatan (kelompok 2) dari PT. Sarana dengan harga beli Rp.120.000.000.
PT.Sarana memperoleh aktiva tersebut pada tanggal 15 Januari 2010 dengan harga
perolehan Rp.200.000.000. Apabila PT. Sarana melakukan penyusutan
menggunakan metode garis lurus, maka penghitungan atas Nilai sisa buku pada
waktu dijual adalah sebagai berikut:
Harga Perolehan

Rp.

200.000.000

Rp.

100.000.000

Nilai Sisa Buku

Rp.

100.000.000

Harga Beli dari PT. Karya

Rp.

120.000.000

Akumulasi Penyusutan selama 4 tahun


Rp.

200.000.000

12,5%

Rugi dari PT. Karya

Rp.

20.000.000 )

Kerugian ini dapat dikurangkan dari penghasilan neto PT. Karya, sedangkan
PT.Sarana mengalami laba dengan jumlah yang sama. Laba tersebut merupakan
objek pajak penghasilan dan menambah penghasilan neto dari PT. Sarana.
Jurnal yang dilakukan oleh PT. Karya adalah:
Perkiraaan

Debet

Aktiva tetap-Peralatan

100.000.000

Rugi Pembelian Aktiva

20.000.000

Kas/Bank

Kredit

120.000.000

Jurnal yang dilakukan oleh PT. Sarana adalah:


Perkiraaan

Debet

Kas/Bank

120.000.000

Akumulasi Penyusutan Peralatan

100.000.000

Kredit

Aktiva tetap-Peralatan

200.000.000

Laba Penjualan Aktiva

20.000.000

Pada dasarnya keuntungan atau kerugian karena pengalihan harta dikenai pajak
dalam tahun dilakukannya pengalihan harta tersebut.
Apabila harta tersebut dijual atau terbakar, maka penerimaan neto dari penjualan
harta tersebut, yaitu selisih antara harga penjualan dan biaya yang dikeluarkan
berkenaan dengan penjualan tersebut dan/atau penggantian asuransinya
dibukukan sebagai penghasilan pada tahun terjadinya penjualan atau tahun
diterimanya penggantian asuransi, dan nilai sisa buku dari harta tersebut
dibebankan sebagai kerugian dalam tahun pajak yang bersangkutan.
Dalam hal penggantian asuransi yang diterima jumlahnya baru dapat diketahui
dengan pasti pada masa kemudian, Wajib Pajak dapat mengajukan permohonan
kepada Direktur Jenderal Pajak agar jumlah sebesar kerugian tersebut dapat
dibebankan dalam tahun penggantian asuransi tersebut.

AKUNTANSI PAJAK

34

Yayasan Widya Dewata

Contoh 3
Wajib Pajak

Aktiva

Kelompok

Harga
Perolehan

Tanggal
perolehan

PT. Abadi

Mesin

II

300.000.000 15-01-2010

PT. Ashi

Kendaraan

II

240.000.000 10-07-2010

Aktiva tetap tersebut ditukar pada tanggal 21 Januari 2014. Nilai pasar wajar dari
aktiva tersebut adalah sebesar Rp.140.000.000. Wajib Pajak menggunakan metode
penyusutan garis lurus. Berapa laba atau rugi yang atas pertukaran tersebut bagi
masing-masing wajib pajak?
PT. Abadi
Harga Perolehan Mesin

Rp.

300.000.000

Rp.

150.000.000

Nilai Sisa Buku

Rp.

150.000.000

Harga Beli dari PT. Ashi

Rp.

140.000.000

Akumulasi Penyusutan
Rp.

300.000.000

12,5%

Rugi Pertukaran

Rp.

10.000.000 )

PT. Ashi
Harga Perolehan Kendaraan

Rp.

240.000.000

Rp.

131.250.000

Nilai Sisa Buku

Rp.

108.750.000

Harga Beli dari PT. Abadi

Rp.

140.000.000

Laba Pertukaran

Rp.

31.250.000

Akumulasi Penyusutan
Rp.

300.000.000

12,5%

3,5

Jurnal yang dilakukan oleh PT. Abadi:


Perkiraaan

Debet

Kendaraan

140.000.000

Akumulasi Penyusutan Mesin

150.000.000

Rugi Pertukaran Aktiva

Kredit

10.000.000

Mesin

300.000.000

Jurnal yang dilakukan oleh PT. Ashi adalah:


Perkiraaan

Debet

Mesin

140.000.000

Akumulasi Penyusutan Kendaraan

131.250.000

Laba Pertukaran Aktiva


Kendaraan

AKUNTANSI PAJAK

Kredit

31.250.000
240.000.000

35

Yayasan Widya Dewata

E. Amortisasi Aktiva Tak Berwujud


Amortisasi terhadap intangible asset adalah atas pengeluaran untuk memperoleh harta
tak berwujud dan pengeluaran lainnya termasuk biaya perpanjangan hak guna bangunan,
hak guna usaha, dan hak pakai yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun
yang dipergunakan untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan,
dilakukan dalam bagian-bagian yang sama besar atau dalam bagian-bagian yang menurun
selama masa manfaat, yang dihitung dengan cara menerapkan tarif amortisasi atas
pengeluaran tersebut atau atas nilai sisa buku dan pada akhir masa manfaat diamortisasi
sekaligus dengan syarat dilakukan secara taat asas.
Kelompok amortisasi:
Kelompok Harta
Tak Berwujud

Masa
Manfaat

Tarif Amortisasi
berdasarkan Metode
Garis Lurus

Saldo Menurun

Kelompok 1

4 tahun

25%

50%

Kelompok 2

8 tahun

12,5%

25%

Kelompok 3

16 tahun

6,25%

12,5%

Kelompok 4

20 tahun

5%

10%

Wajib Pajak dapat melakukan amortisasi sesuai dengan metode yang dipilihnya
berdasarkan masa manfaat yang sebenarnya dari tiap harta tak berwujud. Tarif amortisasi
yang diterapkan didasarkan pada kelompok masa manfaat sebagaimana yang diatur
dalam ketentuan ini. Untuk harta tidak berwujud yang masa manfaatnya tidak tercantum
pada kelompok masa manfaat yang ada, maka Wajib Pajak menggunakan masa manfaat
yang terdekat. Misalnya harta tak berwujud dengan masa manfaat yang sebenarnya 6
(enam) tahun dapat menggunakan kelompok masa manfaat 4 (empat) tahun atau 8
(delapan) tahun. Dalam hal masa manfaat yang sebenarnya 5 (lima) tahun, maka harta tak
berwujud tersebut diamortisasi dengan menggunakan kelompok masa manfaat 4 (empat)
tahun.
Amortisasi dimulai pada bulan dilakukamya pengeluaran sehingga amortisasi pada tahun
pertama dihitung secara pro-rata.
Dalam rangka menyesuaikan dengan karakteristik bidang-bidang usaha tertentu, perlu
diberikan pengaturan tersendiri untuk amortisasi yang ketentuamya diatur dengan atau
berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan.

1. Macam-macam amortisasi
a.

Pengeluaran untuk biaya pendirian dan biaya perluasan modal suatu perusahaan
dibebankan pada tahun terjadinya pengeluaran atau amortisasi.

b.

Amortisasi atas pengeluaran untuk memperoleh hak dan pengeluaran lain yang
mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun di bidang penambangan
minyak dan gas bumi dilakukan dengan menggunakan metode satuan produksi.
Metode satuan produksi dilakukan dengan menerapkan persentase amortisasi
yang besarnya setiap tahun sama dengan persentase perbandingan antara
realisasi penambangan minyak dan gas bumi pada tahun yang bersangkutan
dengan taksiran jumlah seluruh kandungan minyak dan gas bumi di lokasi
tersebut yang dapat diproduksi. Apabila ternyata jumlah produksi yang
sebenarnya lebih kecil dari yang diperkirakan, sehingga masih terdapat sisa
pengeluaran untuk memperoleh hak atau pengeluaran lain, maka atas sisa
pengeluaran tersebut boleh dibebankan sekaligus dalam tahun pajak yang
bersangkutan.

AKUNTANSI PAJAK

36

Yayasan Widya Dewata

c.

Amortisasi atas pengeluaran untuk memperoleh hak penambangan selain diatas


yaitu hak pengusahaan hutan dan hak pengusahaan sumber alam serta hasil
alam lainnya yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun, dilakukan
dengan menggunakan metode satuan produksi paling tinggi 20% (dua puluh
persen) setahun.

d.

Pengeluaran untuk memperoleh hak penambangan selain minyak dan gas bumi,
hak pengusahaan hutan, atau hasil alam lainnya seperti hak pengusahaan hasil
laut diamortisasi berdasarkan metode satuan produksi dengan jumlah paling
tinggi 20% (dua puluh persen) setahun.

Contoh:
Pengeluaran untuk memperoleh hak pengusahaan hutan, yang mempunyai potensi
10.000.000 (sepuluh juta) ton kayu, sebesar Rp.500.000.000 diamortisasi sesuai
dengan persentase satuan produksi yang direalisasikan dalam tahun yang
bersangkutan. Jika dalam satu tahun pajak ternyata jumlah produksi mencapai
3.000.000 (tiga juta) ton yang berarti 30% (tiga puluh persen) dari potensi yang
tersedia, maka walaupun jumlah produksi pada tahun tersebut mencapai 30% (tiga
puluh persen) dari jumlah potensi yang tersedia, besarnya amortisasi yang
diperkenankan untuk dikurangkan dari penghasilan bruto pada tahun tersebut
adalah 20% (dua puluh persen) dari pengeluaran atau Rp.100.000.000.
Pengeluaran yang dilakukan sebelum operasi komersial yang mempunyai masa
manfaat lebih dari 1 (satu) tahun, dikapitalisasi dan kemudian diamortisasi sesuai
dengan ketentuan yang ada.
Dalam pengertian pengeluaran yang dilakukan sebelum operasi komersial, adalah
biaya-biaya yang dikeluarkan sebelum operasi komersial, misalnya biaya studi
kelayakan dan biaya produksi percobaan tetapi tidak termasuk biaya-biaya
operasional yang sifatnya rutin, seperti gaji pegawai, biaya rekening listrik dan
telepon, dan biaya kantor lainnya. Untuk pengeluaran operasional yang rutin ini tidak
boleh dikapitalisasi tetapi dibebankan sekaligus pada tahun pengeluaran.

2. Pengalihan Aktiva Tak Berwujud


Apabila terjadi pengalihan harta tak berwujud maka nilai sisa buku harta atau hakhak tersebut dibebankan sebagai kerugian dan jumlah yang diterima sebagai
penggantian merupakan penghasilan pada tahun terjadinya pengalihan tersebut.
Contoh 1
PT.Hasil Tambang mengeluarkan biaya untuk memperoleh hak penambangan minyak
dan gas bumi di suatu lokasi sebesar Rp.500.000.000. Taksiran jumlah kandungan
minyak di daerah tersebut adalah sebanyak 200.000.000 (dua ratus juta) barel.
Setelah produksi minyak dan gas bumi mencapai 100.000.000 (seratus juta) barel,
PT.Hasil Tambang menjual hak penambangan tersebut kepada pihak lain dengan
harga sebesar Rp.300.000.000. Penghitungan penghasilan dan kerugian dari
penjualan hak tersebut adalah sebagai berikut:
Harga Perolehan

Rp.

500.000.000

Rp.

250.000.000

Nilai Buku Harta

Rp.

250.000.000

Harga Jual

Rp.

300.000.000

Amortisasi yang telah dilakukan


100.000.000 /

200.000.000

barel

(50%)

Dengan demikian jumlah nilai sisa buku sebesar Rp.250.000.000 dibebankan sebagai
kerugian dan jumlah sebesar Rp.300.000.000 dibukukan sebagai penghasilan.

AKUNTANSI PAJAK

37

Yayasan Widya Dewata

F. Revaluasi Aktiva Tetap


Menurut Pasal 19 UU PPh Menteri Keuangan berwenang menetapkan peraturan tentang
penilaian kembali aktiva dan faktor penyesuaian apabila terjadi ketidaksesuaian antara
unsur-unsur biaya dengan penghasilan karena perkembangan harga. Atas selisih tersebut,
diterapkan tarif pajak tersendiri dengan keputusan Menteri Keuangan sepanjang tidak
melebihi tarif pajak tertinggi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (1) UU PPh.
Peraturan Menteri Keuangan yang dimaksud adalah Nomor 79/PMK.03/2008 tentang
Penilaian Kembali Aktiva Tetap Perusahaan untuk Tujuan Perpajakan

1. Wajib Pajak yang Dapat Melakukan Revaluasi Aktiva Tetap


Wajib Pajak Badan Dalam Negeri dan Bentuk Usaha Tetap (BUT) yang selanjutnya
disebut Perusahaan, dapat melakukan penilaian kembali aktiva tetap perusahaan
untuk tujuan perpajakan, dengan syarat telah memenuhi semua kewajiban pajaknya
sampai dengan masa pajak terkhir sebelum masa pajak dilakukannya penilaian
kembali. Wajib Pajak tersebut tidak termasuk Wajib Pajak yang memperoleh izin
menyelenggarakan pembukuan dalam mata uang Dollar Amerika Serikat.

2. Aktiva yang Dapat Direvaluasi


Penilaian kembali dapat meliputi seluruh aktiva tetap berwujud, termasuk tanah
yang berstatus hak milik atau hak guna bangunan atau seluruh aktiva tetap berwujud
tidak termasuk tanah, yang terletak atau berada di Indonesia, dimiliki, dan
dipergunakan untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan yang
merupakan Objek Pajak. Penilaian kembali dapat dilakukan paling banyak 1 (satu) kali
dalam tahun buku yang sama.
Penilaian kembali aktiva tetap perusahaan tidak dapat dilakukan kembali sebelum
lewat jangka waktu 5 (lima) tahun terhitung sejak penilaian kembali aktiva tetap
perusahaan terakhir yang dilakukan berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan.
Penilaian kembali aktiva tetap perusahaan harus dilakukan berdasarkan nilai pasar
atau nilai wajar aktiva tetap tersebut yang berlaku pada saat penilaian kembali yang
ditetapkan oleh perusahaan jasa penilai atau ahli penilai yang diakui/memperoleh
izin pemerintah. Dalam hal nilai pasar atau nilai wajar yang ditetapkan oleh
perusahaan jasa penilai atau ahli penilai yang diakui oleh Pemerintah ternyata
kemudian tidak mencerminkan keadaan yang sebenarnya, maka Direktur Jenderal
Pajak akan rnenetapkan kembali nilai pasar atau nilai wajar aktiva yang
bersangkutan. Penilaian kembali aktiva tetap perusahaan dilakukan dalam jangka
waktu paling lama 1 (satu) tahun sejak tanggal laporan perusahaan jasa penilai atau
ahli penilai.

3. Capital Gain dan PPh Final


Atas selisih lebih penilaian kembali di atas nilai sisa buku fiskal semula, dikenakan
Pajak Penghasilan yang bersifat final sebesar 10% (sepuluh persen).
Perusahaan yang karena kondisi keuangannya tidak memungkinkan untuk melunasi
sekaligus Pajak Penghasilan yang terutang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5,
dapat mengajukan permohonan pembayaran secara angsuran paling lama 12 (dua
belas) bulan sesuai ketentuan Pasal 9 ayat (4) Undang-Undang nomor 6 Tahun 1983
tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah beberapa
kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007
Atas keterlambatan pembayaran Pajak Penghasilan yang terutang dan atas
pembayaran Pajak Penghasilan yang terutang secara angsuran dikenakan sanksi
administrasi berupa bunga sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Undangundang Ketentuan Umum dari Tata cara Perpajakan beserta peraturan
pelaksanaannya.

AKUNTANSI PAJAK

38

Yayasan Widya Dewata

4. Dasar Penyusutan Fiskal setelah Revaluasi


Aktiva tetap perusahaan yang telah memperoleh persetujuan penilaian kembali
mulai bulan dilakukamya penilaian kembali adalah nilai sisa buku fiskal baru. Nilai sisa
buku fiskal baru tersebut untuk aktiva tetap perusahaan kelompok bangunan dan
bukan bangunan yang penyusutamya menggunakan metode garis lurus merupakan
nilai perolehan fiskal baru aktiva tetap perusahaan tersebut pada tanggal penilaian
kembali. Sisa manfaat fiskal aktiva tetap perusahaan yang telah dilakukan penilaian
kembali mulai bulan dilakukamya penilaian kembali di sesuaikan kembali menjadi
masa manfaat penuh untuk kelompok aktiva tetap perusahaan tersebut.
Dasar penyusutan fiskal dan sisa masa manfaat fiskal aktiva tetap perusahaan untuk
menghitung penyusutan dalam bagian tahun pajak sampai dengan bulan sebelum
bulan dilakukamya penilaian kembali adalah dasar penyusutan fiskal dan sisa masa
manfaat fiskal pada awal tahun pajak yang bersangkutan dan penyusutan fiskal
dihitung secara prorata sesuai dengan banyaknya bulan dalam bagian tahun pajak
tersebut. Penyusutan fiskal aktiva tetap perusahaan yang tidak memperoleh
persetujuan penilaian kembali, tetap rnenggunakan dasar penyusutan fiskal dan sisa
manfaat fiskal semula sebelum dilakukannya revaluasi.

5. Pengalihan Harta yang Telah Direvaluasi


Dalam hal Wajib pajak melakukan pangalihan aktiva tetap perusahaan yang telah
memperoleh persetujuan penilaian kembali sebelum berakhirnya masa manfaat baru
setelah revaluasi berupa aktiva tetap kelompok 1 (satu) dan kelompok 2 (dua) yang
telah memperoleh persetujuan penilaian kembali sebelum berakhirnya masa
manfaat yang baru dan aktiva tetap kelompok 3 (tiga), kelompok 4 (empat),
bangunan, dan tanah yang telah memperoleh persetujuan penilaian kembali sebelum
lewat jangka waktu 10 (sepuluh) tahun, maka atas selisih lebih penilaian kembali
diatas nilai sisa buku fiskal semula, dikenakan tambahan Pajak Penghasilan yang
bersifat final dengan tarif sebesar tarif tertinggi Pajak Penghasilan Wajib Pajak badan
dalam negeri yang berlaku pada saat penilaian kembali dikurangi 10% (sepuluh
persen). Dikecualikan dari ketentuan ini dalam hal:
a.

pengalihan aktiva tetap perusahaan yang bersifat force majeur berdasarkan


keputusan atau kebijakan pemerintah atau keputusan pengadilan;atau

b.

pengalihan aktiva tetap perusahaan dalam rangka memenuhi persyaratan


penggabungan, peleburan atau pemekaran usaha untuk tujuan perpajakan; atau

c.

penarikan aktiva tetap perusahaan dari penggunaan karena mengalami


kerusakan berat yang tidak dapat diperbaiki lagi.

Selisih antara nilai pengalihan aktiva tetap perusahaan dengan nilai sisa buku fiskal
pada saat pengalihan merupakan keuntungan atau kerugian berdasarkan ketentuan
Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah
beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008.

6. Pencatatan capital gain


Selisih lebih penilaian kembali aktiva tetap perusahaan di atas nilai sisa buku
komersial semula setelah dikurangi dengan Pajak Penghasilan Final 10% harus
dibukukan dalam neraca komersial pada perkiraan modal dengan nama Selisih Lebih
Penilaian Kembali Aktiva Tetap Perusahaan Tanggal Pemberian saham bonus atau
pencatatan tambahan nilai nominal saham tanpa penyetoran yang berasal dari
kapitalisasi selisih lebih penilaian kembali aktiva tetap perusahaan, sampai dengan
sebesar selisih lebih penilaian kembali secara fiskal tersebut bukan merupakan Objek
Pajak berdasarkan pasal 4 ayat (1) huruf g Undang-undang Pajak Penghasilan jo.
Pasal 1 huruf b Peraturan Pemerintah No.138 Tahun 2000
Dalam hal selisih lebih penilaian kembali secara fiskal tersebut lebih besar daripada

AKUNTANSI PAJAK

39

Yayasan Widya Dewata

selisih lebih penilaian kembali secara komersial, pemberian saham bonus atau
pencatatan tambahan nilai nominal saham tanpa penyetoran yang bukan merupakan
Objek Pajak hanya sampai dengan sebesar selisih penilaian kembali secara komersial.

AKUNTANSI PAJAK

40

Yayasan Widya Dewata

PAJAK TANGGUHAN

BAB 6

A. Pendahuluan
Pada dasarnya antara akuntansi pajak dan akuntansi keuangan memiliki kesamaan tujuan,
yaitu untuk menetapkan hasil operasi bisnis dengan pengukuran dan rekognisi
penghasilan dan biaya. Namun ada beberapa hal yang perlu mendapatkan perhatian,
bahwa ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan tidak sekadar instrument
pentransfer sumber daya (fungsi budgeter), akan tetapi seringkali pula digunakan untuk
tujuan memengaruhi perilaku wajib pajak untuk investasi, kesejahteraan dan lain-lain
(fungsi mengatur) yang kadang-kadang merupakan alasan untuk membenarkan
penyimpangan dari standar akuntansi keuangan.
Di lain pihak, atas penghasilan yang diterima atau diperoleh subjek pajak dalam tahun
pajak yang bersangkutan, baik subjek pajak orang pribadi maupun subjek pajak badan,
dikenakan pajak penghasilan dan untuk menghitung pajak penghasilan tersebut, subjek
pajak yang bersangkutan berkewajiban mengisi Surat Pemberitahuan (SPT) yang
disediakan oleh Instansi Pajak.
Pada umumnya bentuk dan isi yang terdapat dalam Surat pemberitahuan untuk
kepentingan perpajakan hampir tidak berbeda jauh dengan bentuk dan isi yang terdapat
dalam Laporan Keuangan untuk kepentingan komersial. Penghasilan Kena Pajak (PKPTaxable Income) dihitung berdasarkan Ketentuan Peraturan Perundang-undangan
Perpajakan (KPPP) sedangkan Penghasilan Sebelum Pajak (PSP- Accounting Income atau
Pretax Accounting Income atau Pretax Book Income) dihitung berdasarkan standar yang
disusun oleh profesi yang dikenal sebagai Standar Akuntansi Keuangan (SAK).
Oleh karena basis pengenaan penghasilan untuk keperluan perhitungan pajak penghasilan
berbeda dengan basis perhitungan penghasilan untuk keperluan komersial, atau dengan
perkataan lain akibat dari perbedaan rekognisi penghasilan dan biaya maka akan terdapat
perbedaan yang cukup signifikan antara kedua basis tersebut. Pajak penghasilan yang
dihitung berbasis pada Penghasilan Kena Pajak yang sesungguhnya dibayar kepada
pemerintah disebut sebagai PPh terutang- Income Tax Payable atau Income Tax
Liability, sedangkan Pajak Penghasilan yang dihitung berbasis Penghasilan Sebelum Pajak
disebut sebagai Beban Pajak Penghasilan- Income Tax Expense atau Provision for Income
Taxes.
Sebagian perbedaan yang terjadi akibat perbedaan antara PPh Terutang dengan Beban
Pajak yang dimaksud sepanjang menyangkut perbedaan temporer hendaknya dilakukan
pencatatan dan tercermin dalam laporan keuangan komersial dalam akun pajak
tangguhan (deferred tax) baik aktiva pajak tangguhan maupun kewajiban pajak
tangguhannya.
Jones Sally M dan Rhoades Catanach Shelley C. mengungkapkan bahwa perbedaan
temporer tidak berpengaruh terhadap perhitungan beban pajak (tax expense) tarif pajak
efektif atau rekonsiliasi antara tarif pajak efektif dengan tarif pajak berdasarkan undangundang. Malahan, perbedaan temporer tersebut akan menghasilkan baik aktiva pajak
tangguhan maupun kewajiban pajak tangguhan.

B. PSAK 46-Akuntansi Pajak Penghasilan


Standar Akuntansi Keuangan mengatur masalah pajak tangguhan tersebut di PSAK 46Akuntansi Pajak Penghasilan, yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan perhitungan
Pajak Penghasilan terutang, seperti yang diungkapkan oleh Kieso Donald E, Weygandt
Jerry J. dan Warfield Terry D, bahwa akibat perbedaan antara Standar Akuntansi
Keuangan dengan Ketentuan Peraturan Perundang-undangan Perpajakan pada umumnya
terdapat pula perbedaan antara Penghasilan Sebelum Pajak menurut Pembukuan (Pretax
Accounting Income) dengan Penghasilan Kena Pajak (Taxable Income). Dengan demikian

AKUNTANSI PAJAK

41

Yayasan Widya Dewata

akan terdapat pula perbedaan antara beban pajak (tax expense) dengan pajak terutang
(income tax payable). Selanjutnya disebutkan pula bahwa fundamen yang berkenaan
dengan Akuntansi Pajak Penghasilan adalah:
1. jumlah pajak masa yang akan datang dan pajak tangguhan (Future taxable amounts
and deferred taxes).
2. jumlah pengurangan masa yang akan datang dan pajak tangguhan (Future deductible
amounts and deferred taxes).
3. penyajian Laporan Laba/Rugi (income statement presentation).
4. perbedaan spesifik (specific differences).
5. pertimbangan tarif (rate considerations).
Hal ini sesuai dengan catatan bahwa menurut Statement of Financial Accounting
Standards (SFAS) 109 yang juga didukung oleh Financial Accounting Standards (FASB)
bahwa untuk menghitung pajak tangguhan hendaknya didasarkan kepada tarif efektif
rata-rata (the average effective tax rate) daripada menggunakan tarif marginal (marginal
rates) atau menggunakan tarif orisinil seperti yang diminta oleh SFAS 96 (GAAP, 2003: hal.
616).
Beberapa terminologi dan pengertian yang digunakan dalam pembahasan yang
berkenaan dengan akuntansi keuangan dan akuntansi pajak terlihat sebagai berikut:
TERMINOLOGI
Beban Pajak Penghasilan (Income Tax
Expense)-BP

Pajak Penghasilan Terutang (Income Tax


Liability)-PT

Penghasilan Sebelum Pajak (Pretax


Accounting Income-Pretax Book
Income)-PSP
Penghasilan Kena Pajak (Taxable
Income)-PKP
Efek Pajak (Tax Effects)-EP

PPh Tangguhan (Deferrred Income


Taxes) Kewajiban Pajak Tangguhan-DTP
Aktiva Pajak Tangguhan-DTA
Alokasi PPh Interperiode (Interperiod
Income Tax Allocation)
Alokasi PPh Intraperiode (Intraperiod
Income Tax Allocation)

AKUNTANSI PAJAK

PENGERTIAN
Jumlah Pajak Penghasilan yang dialokasikan
untuk periode yang bersangkutan yang
dihitung berdasarkan tarif prinsipal x
Penghasilan Sebelum Pajak.
Jumlah Pajak Penghasilan yang dihitung
berdasarkan Tarif Orisinal x Penghasilan
Kena Pajak sesuai ketentuan peraturan
perundang-undangan perpajakan.
Penghasilan Akuntansi sebelum dikurangi
dengan Beban Pajak Penghasilan.
Penghasilan yang menjadi objek Pajak
Penghasilan dikurangi dengan Biaya Fiskal
yang boleh dikurangkan.
Selisih antara PPh Terutang dengan Beban
PPh akibat dari:
perbedaan waktu yang disebabkan oleh
perhitungan PPh Terutang dan Beban
PPh.
Kompensasi kerugian.
Penyesuaian yang dilakukan
sebelumnya.
Efek pajak yang diakui pada saaat diadakan
penyesuaian dengan Beban Pajak
Penghasilan periode yang akan datang.
Alokasi Beban Pajak Penghasilan ke
berbagai periode akuntansi.
Proses membagi Beban Pajak Penghasilan
pada periode yang bersangkutan
berkenaan dengan beberapa komponen
yang terdapat pada Penghasilan sebelum
Pajak yang terkait dengan Efek Pajak
Penghasilan akibat pennyesuaian yang
dilakukan sebelumnya dengan komponen
tersebut.

42

Yayasan Widya Dewata

Sebelum PSAK No. 46 diperkenalkan, orientasi yang dipergunakan oleh standar akuntansi
dalam Akuntansi Pajak Penghasilan lebih bersifat income statement liability approach,
sementara pendekatan yang dipergunakan dalam PSAK No. 46 bersifat balance sheet
liability approach. Tentunya, perbedaan orientasi tersebut menjadi kompleksitas baru
bagi para akuntan, karena literatur lama dalam Akuntansi Pajak Penghasilan masih banyak
yang menggunakan income statement liability approach. Akibatnya, perubahan
pendekatan tersebut tentunya menuntut perubahan pola berpikir para akuntan dalam
memahami esensi utama dari pengimplementasian PSAK No. 46.

C. Pajak Tangguhan
Pajak tangguhan pada prinsipnya merupakan dampak PPh di masa yang akan datang yang
disebabkan oleh perbedaan temporer (waktu) antara perlakuan akuntansi dan perpajakan
serta kerugian fiskal yang masih dapat dikompensasikan di masa datang (tax loss carry
forward) yang perlu disajikan dalam laporan keuangan dalam suatu periode tertentu.
Dampak PPh di masa yang akan datang yang perlu diakui, dihitung, disajikan dan
diungkapkan dalam laporan keuangan, baik neraca maupun laba rugi. Suatu perusahaan
bisa saja membayar pajak lebih kecil saat ini, tapi sebenarnya memiliki potensi hutang
pajak yang lebih besar di masa datang. Atau sebaliknya, bisa saja perusahaan membayar
pajak lebih besar saat ini, tetapi sebenarnya memiliki potensi hutang pajak yang lebih
kecil di masa datang. Bila dampak pajak di masa datang tersebut tidak tersaji dalam
neraca dan laba rugi, maka laporan keuangan bisa saja menyesatkan pembacanya.
C.1.

Metode Penangguhan Pajak penghasilan


Metode alokasi pajak digunakan untuk mempertanggungjawabkan pengaruhpengaruh pajak dan bagaimana pengaruh-pengaruh tersebut harus disajikan
dalam laporan keuangan.
Ada tiga metode untuk mengalokasikan pajak, (Kieso dan Weygant, 2001: 10671068) antara lain:
C.1.a. Deferred method (Metode Penangguhan)
Metode ini menggunakan pendekatan laba rugi (income statement
approach) yang memandang perbedaan perlakuan antara akuntansi dan
perpajakan dari sudut pandang laporan laba rugi, yaitu kapan suatu
transaksi diakui dalam laporan laba rugi baik dari segi komersial maupun
fiskal. Pendekatan ini mengenal istilah perbedaan waktu dan perbedaan
permanen. Hasil hitungan dari pendekatan ini adalah pergerakan yang
akan diakui sebagai pajak tangguhan pada laporan laba rugi. Metode ini
lebih menekankan matching principle pada periode terjadinya perbedaan
tersebut.
Namun, perkembangan dunia bisnis dan akuntansi telah sedemikian
pesatnya sehingga muncul transaksi-transaksi yang tidak diakui dalam
laporan laba rugi tetapi langsung diakui sebagai bagian dari ekuitas
misalnya keuntungan atau kerugian dari surat berharga yang siap untuk
dijual kapan saja. Apabila menggunakan pendekatan laba rugi transaksi
seperti itu tidak dapat terdeteksi, sehingga pendekatan ini dipandang
kurang relevan.
C.1.b. Asset-liability method (Metode Aktiva-Kewajiban)
Metode ini menggunakan pendekatan neraca (balance sheet approach)
yang menekankan pada kegunaan laporan keuangan dalam mengevaluasi
posisi keuangan dan memprediksikan aliran kas pada masa yang akan
datang. Pendekatan neraca memandang perbedaan perlakuan akuntansi
dan perpajakan dari sudut pandang neraca, yaitu perbedaan antara saldo
buku menurut komersial dan dasar pengenaan pajaknya. Pendekatan ini
mengenal istilah perbedaan temporer dan perbedaan non temporer. Pada
metode ini terjadi pengakuan pajak tangguhan (deferred tax) atas

AKUNTANSI PAJAK

43

Yayasan Widya Dewata

konsekuensi pajak di masa mendatang berupa aktiva (kewajiban) pajak


tangguhan yang harus dilaporkan di neraca. Beban pajak tangguhan
dilaporkan di laba rugi bagian taksiran PPh sebagai komponen pajak
tangguhan, sedangkan penghasilan pajak tangguhan harus dilaporkan di
laba rugi sebagai komponen negatif dari beban pajak tangguhan.
C.1.c. Net-of-tax method (Metode Bersih dari Pajak)
Pada metode ini tidak ada pajak tangguhan yang diakui. Konsekuensi
pajak atas perbedaan temporer tidak dilaporkan secara terpisah,
sebaliknya diperlakukan sebagai penyesuaian atas nilai aktiva atau
kewajiban tertentu dan penghasilan atau beban yang terkait. Dalam
metode ini, beban pajak yang disajikan dalam laporan laba rugi sama
dengan jumlah pajak penghasilan yang terhutang menurut SPT tahunan.
C.2.

Kegiatan yang Dilakukan dalam Menentukan Pajak Tangguhan


Sama halnya dengan proses akuntansi lainnya, Akuntansi Pajak Tangguhan tidak
terlepas dari empat kegiatan berikut ini:
1. Pengakuan (recognition) yaitu standar yang mengatur bahwa dampak PPh
atas perbedaan temporer dan tax loss carry forward (TLCF) atau kompensasi
rugi harus diakui dalam laporan keuangan. Pengakuan ini menyiratkan bahwa
perusahaan pelapor akan memulihkan nilai tercatat aktiva pajak tangguhan
atau deferred tax asset (DTA) dan akan melunasi nilai tercatat dalam
kewajiban pajak tangguhan atau deferred tax liability (DTL) tersebut.
Aktiva pajak tangguhan dan Kewajiban pajak tangguhan yang disebabkan
oleh perbedaan temporer akan terpulihkan di masa datang karena jumlah
yang akan diakui sebagai biaya atau pendapatan akan sama antara akuntansi
dan pajak, hanya berbeda alokasi waktunya saja. Sedangkan Aktiva pajak
tangguhan yang timbul dari kompensasi rugi akan terpulihkan bila
perusahaan menggunakan kompensasi rugi tersebut pada tahun di mana
perusahaan memperoleh laba fiskal. Bila kompensasi rugi tersebut tidak
terpakai dan menjadi hangus, maka Aktiva pajak tangguhan yang timbul
harus disesuaikan.
2. Pengukuran (measurement) yaitu cara menghitung jumlah yang harus
dibukukan dalam buku besar perusahaan. Dalam hal ini pajak tangguhan
akan dihitung dengan menggunakan tarif yang berlaku atau efektif akan
berlaku di masa yang akan datang. Dalam praktek, biasanya pajak tangguhan
dihitung dengan tarif PPh yang tertinggi yaitu sebesar 30%, meskipun tarif
yang sebenarnya berlaku bersifat progresif. Lapisan tarif PPh sebesar 10%
dan 15% dianggap tidak terlalu material untuk diperhitungkan. Di samping
itu, kedua lapisan tarif PPh tersebut biasanya dipergunakan untuk
menghitung pajak kini. Meskipun pajak tangguhan berkaitan dengan dampak
pajak di masa datang, namun dalam pengukurannya tidak boleh didiskonto
(discounted).
3. Penyajian (presentation) yaitu standar yang menentukan cara penyajian di
dalam laporan keuangan, baik dalam neraca ataupun laba rugi. Aktiva pajak
tangguhan (DTA) atau kewajiban pajak tangguhan (DTL) harus disajikan
secara terpisah dari aktiva atau kewajiban pajak kini dan disajikan dalam
unsur non current dalam neraca. Sedangkan beban atau penghasilan pajak
tangguhan harus disajikan terpisah dengan beban pajak kini dalam laporan
keuangan.
4. Pengungkapan (disclosure) yaitu berkaitan dengan standar informasi yang
perlu diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan. Misalnya unsurunsur utama perbedaan temporer yang menimbulkan pajak tangguhan,
unsur-unsur yang dibebankan langsung ke laba ditahan, perubahan tarif
pajak dan sebagainya.

AKUNTANSI PAJAK

44

Yayasan Widya Dewata

Aktiva Pajak Tangguhan dapat disamakan seperti lebih bayar pajak yang akan
digantikan di masa yang akan datang pada saat pemulihan perbedaan temporer.
Sementara itu Kewajiban Pajak Tangguhan dapat disamakan seperti kurang bayar
pajak yang akan dibayar di masa yang akan datang pada saat pemulihan
perbedaan temporer. Kenaikan neto aktiva pajak tangguhan menyebabkan
pengurangan beban pajak perusahaan sedangkan sebaliknya kenaikan neto
kewajiban pajak tangguhan menyebabkan kenaikan beban pajak perusahaan.
Beban pajak menurut pembukuan dapat dihitung sebagai berikut:
Pajak Penghasilan Terutang
Kenaikan Neto Kewajiban Pajak Tangguhan
Kenaikan Neto Aktiva Pajak Tangguhan
Beban Pajak Menurut Pembukuan

Rp.
Rp.
Rp.
Rp.

XXX
XXX
XXX
XXX

(+)
(-)

Seperti telah diuraikan sebelumnya, aktiva pajak tangguhan dan kewajiban pajak
tangguhan terjadi akibat perbedaan temporer antara pembukuan dan pajak
sedangkan perbedaan permanen antara pembukuan dan pajak tidak mempunyai
efek, baik terhadap perhitungan beban pajak menurut pembukuan maupun
terhadap perhitungan pajak terutang. Oleh karena perbedaan permanen tidak
menghasilkan pajak tangguhan, maka perhitungan beban pajak menurut
pembukuan dapat juga dilakukan sebagai berikut:
Penghasilan Sebelum Pajak menurut Pembukuan
Perbedaan permanen menurut pembukuan/pajak
Beban Pajak Menurut Pembukuan
C.3.

Rp.
Rp.
Rp.

XXX
XXX
XXX

(+/-)

Perbedaan Temporer
Sesuai namanya, perbedaan temporer merupakan perbedaan perlakuan akuntansi
dan perpajakan yang sifatnya temporer. Artinya secara keseluruhan beban atau
pendapatan akuntansi maupun perpajakan sebenarnya sama, tetapi berbeda
alokasi setiap tahunnya.
Perbedaan temporer bisa bersifat koreksi positif atau koreksi negatif. Koreksi
positif adalah koreksi yang menyebabkan penambahan laba fiskal yang akhirnya
akan menambah PPh terutang. Sedangkan koreksi negatif merupakan koreksi
yang menyebabkan pengurangan laba fiskal sehingga PPh terutang menjadi lebih
kecil. Mengingat sifatnya yang temporer, maka koreksi positif saat ini akan
mengakibatkan perusahaan membayar pajak besar saat ini, tetapi akan
dikompensasi (dipulihkan) dengan penghematan PPh terutang karena koreksi
negatif di masa datang. Demikian sebaliknya.
Transaksi akuntansi yang mengakibatkan perbedaan temporer antara perlakuan
akuntansi dan perpajakan yang merupakan unsur Pajak Tangguhan diantaranya
adalah perbedaan metode penyusutan antara akuntansi dengan pajak, perbedaan
perlakuan penyertaan saham equity method menurut akuntansi dengan cost
method menurut pajak, perbedaan pencadangan pesangon menurut PSAK No. 24
dengan perpajakan yang hanya mengakui pembebanan pesangon pada saat
realisasinya, perbedaan pencadangan piutang ragu-ragu menurut akuntansi
dengan perpajakan yang hanya mengakui pembebanan piutang tak tertagih pada
saat benar-benar tidak tertagih, dan lainnya.
Sedangkan untuk rugi fiskal yang masih dapat dikompensasi di masa datang (tax
loss carry forward) menurut PSAK No. 46 diakui sebagai Aktiva Pajak Tangguhan
(DTA) apabila besar kemungkinan bahwa laba fiskal pada masa yang akan datang
memadai untuk dikompensasi. Atau dengan kata lain, bahwa akumulasi rugi fiskal
yang terjadi baru boleh diakui sebagai aktiva pajak tangguhan jika besar
kemungkinan bisa dikompensasi seluruhnya dengan laba fiskal dalam 5 tahun ke
depan, sesuai dengan peraturan perpajakan yang berlaku

AKUNTANSI PAJAK

45

Yayasan Widya Dewata

C.4.

Kewajiban Pajak Tangguhan dan Aktiva Pajak Tangguhan


Dengan berlakunya PSAK 46, timbul kewajiban bagi perusahaan untuk
menghitung dan mengakui pajak tangguhan (deferred taxes) atas future tax
effects dengan menggunakan pendekatan the asset and liability method yang
berbeda dengan pendekatan income statement liability method yang sebelumnya
lazim digunakan oleh perusahaan dalam menghitung pajak tangguhan.
GAAP Handbook of Policies and Procedures (2001, hal. 783) menyebutkan bahwa
penggunaan the asset and liability method selanjutnya disebut the liability
method mengharuskan pendekatannya berorientasi pada neraca karena pada
dasarnya sasaran yang ingin diperlihatkan di sini adalah berapa sesungguhnya
taksiran pajak yang akan dibayar pada periode yang akan datang. Untuk keperluan
ini, hendaknya diterapkan akuntansi pajak tangguhan yang komprehensif
(comprehensive deferred tax accounting) yang berarti bahwa harus
dipertimbangkan semua efek pajak terhadap semua penghasilan,
biaya/pengeluaran, keuntungan/kerugian, dan lain-lain yang menimbulkan
perbedaaan antara laporan keuangan komersial dengan laporan keuangan fiskal
sehingga dengan demikian yang dimaksud dengan beban pajak (tax expense)
mencakup jumlah pajak yang terutang (taxes payable) ditambah dengan dampak
pajak akibat perbedaan temporer (temporary differences) atau dengan perkataan
lain:
Jumlah seluruh taksiran pajak penghasilan (provision for income taxes) adalah
jumlah pajak kini (tax currently payable-current tax expense) dan perubahan neto
antara aktiva pajak tangguhan (deferred tax assets) dan kewajiban pajak
tangguhan (deferred tax liabilities)-deferred tax expense or benefit.
PSAK 46 mendefinisikan beban pajak (tax expense) yang dimaksud sama dengan
taksiran pajak penghasilan tersebut, yaitu:
Beban pajak (tax expense) atau penghasilan pajak (tax income) adalah jumlah
agregat pajak kini (current tax) dan pajak tangguhan (deferred tax) yang
diperhitungkan dalam penghitungan laba atau rugi pada satu periode.
Baik Kewajiban pajak tangguhan maupun Aktiva pajak tangguhan dapat terjadi
dalam hal-hal sebagai berikut (Zein,2007):
(1) apabila Penghasilan Sebelum Pajak (PSP-Pretax Accounting Income) lebih
besar dari Penghasilan Kena Pajak (PKP-Taxable Income) maka Beban Pajak
(BP-Tax Expense) pun akan lebih besar dari Pajak Terutang (PT-Tax Payable)
sehingga akan menghasilkan Kewajiban Pajak Tangguhan (KPT-deferred tax
liability). Kewajiban Pajak Tangguhan dapat dihitung dengan mengalikan
perbedaan temporer dengan tarif pajak yang sesuai.
(2) Sebaliknya apabila Penghasilan Sebelum Pajak (PSP) lebih kecil dari
Penghasilan Kena Pajak (PKP) maka Beban Pajaknya (BP) akan juga lebih kecil
dari Pajak Terutang (PT) sehingga akan menghasilkan Aktiva Pajak Tangguhan
(APT-deferred tax assets). Aktiva Pajak Tangguhan adalah sama dengan
perbedaan temporer dengan tarif pajak pada saat perbedaan tersebut
terpulihkan.
Dengan rumus dapat dituliskan sebagai berikut:

AKUNTANSI PAJAK

Perbedaan Temporer

Perbd. Temp X Tarif

PSP > PKP

BP > PT

PSP < PKP

BP < PT

Hasilnya
Kewajiban Pajak
Tangguhan (DTL)
Aktiva Pajak
Tangguhan (DTA)

46

Yayasan Widya Dewata

C.5.

Kewajiban Pajak Tangguhan (Deferred Tax Liability)


Contoh perhitungan Kewajiban Pajak Tangguhan
Tabel penyusutan (metode garis lurus) menurut akuntansi dan fiskal tahun 2014
sebagai berikut:
Aktiva Tetap
Bangunan
Mesin
Kendaraan
Peralatan
Jumlah

Beban Penyusutan
menurut Akuntansi
500.000.000
2.500.000.000
300.000.000
100.000.000
3.400.000.000

Beban Penyusutan
menurut Fiskal
750.000.000
3.000.000.000
450.000.000
175.000.000
4.375.000.000

Berdasarkan tabel perhitungan penyusutan di atas, dapat diketahui bahwa telah


terjadi perbedaan temporer antara perlakuan pajak dengan akuntansi.
Mengingat bahwa beban penyusutan secara fiskal lebih besar daripada beban
penyusutan secara akuntansi, PT Kicau Nuri akan melakukan koreksi negatif.
Akibatnya, koreksi tersebut dapat menyebabkan terjadinya pengurangan laba
fiskal, sehingga beban PPh tahun berjalan menjadi lebih kecil. Diketahui omzet
tahun 2014 sebesar Rp.52.000.000.000 dan laba akuntansi sebesar
Rp.4.120.000.500.
Perhitungan koreksi negatif yang dapat memperkecil laba fiskal tersebut adalah
sebagai berikut:
Laba Akuntansi
Koreksi Fiskal:
Penyusutan Akuntansi
Penyusutan Fiskal
Laba Fiskal/Penghasilan Kena Pajak
Pembulatan

Rp.

4.120.000.500

Rp.
Rp.
Rp.
Rp.

3.400.000.000
4.375.000.000
3.145.000.500
3.145.000.000

(+)
(-)

Perhitungan Pajak Penghasilan


Akuntansi
Omzet
Omzet yang mendapat Fasiltasi Pasal 31E UU
PPh/UU No.36 Tahun 2008

Rp.

52.000.000.000

Rp.

4.800.000.000

Laba Akuntansi
Laba yang dikenakan tarif 12,5%/(50% x 25%)
(4.800.000.000/52.000.000.000) x 4.120.000.000
Laba yang dikenakan tarif 25%
(4.120.000.000 - 380.307.692)

Rp.

4.120.000.000

Rp.

380.307.692

Rp.

3.739.692.308

Rp.
Rp.
Rp.

47.538.462
934.923.077
982.461.538

PPh Terutang:
12,5% x 380.307.692
25% x 3.739.692.300
Jumlah PPh Terutang

AKUNTANSI PAJAK

(-)

(+)

47

Yayasan Widya Dewata

Fiskal
Omzet
Omzet yang mendapat Fasiltasi Pasal 31E UU
PPh/UU No.36 Tahun 2008

Rp.

52.000.000.000

Rp.

4.800.000.000

Laba Akuntansi
Laba yang dikenakan tarif 12,5%/(50% x 25%)
(4.800.000.000/52.000.000.000) x 3.145.000.000
Laba yang dikenakan tarif 25%
(3.145.000.000 - 290.307.692)

Rp.

3.145.000.000

Rp.

290.307.692

Rp.

2.854.692.308

Rp.
Rp.
Rp.

36.288.462
713.673.077
749.961.538

PPh Terutang:
12,5% x 290.307.692
25% x 2.854.692.308
Jumlah PPh Terutang

(-)

(+)

Taksiran Pajak Penghasilan


Beban Pajak Kini
Beban Pajak Tangguhan
Jumlah Beban Pajak

Rp
Rp
Rp

749.961.538
232.500.000 (+)
982.461.538

Jurnal akuntansinya sebagai berikut:


Perkiraaan

Debet

Beban Pajak Kini

749.961.538

Beban Pajak Tangguhan

232.500.000

Kredit

Utang PPh Pasal 25/29

749.961.538

Kewajiban Pajak Tangguhan

232.500.000

Atau jurnal dapat dibuat sebagai berikut:


a. Menjurnal Pajak Tangguhan
Perkiraaan
Beban Pajak Tangguhan

Debet
232.500.000

Kewajiban Pajak Tangguhan


b.

Kredit
232.500.000

Menjurnal Pajak Terutang


Perkiraaan
Beban Pajak Kini
Utang PPh Pasal 25/29

AKUNTANSI PAJAK

Debet

Kredit

749.961.538
749.961.538

48

Yayasan Widya Dewata

C.6.

Aktiva Pajak Pangguhan (Differed Tax Assets)


Munculnya aktiva pajak tangguhan apabila penghasilan sebelum pajak lebih kecil
dari penghasilan kena pajak, yang berarti beban pajaknya akan lebih kecil dari
pajak terutang. Aktiva pajak tangguhan tersebut dapat dihitung dengan cara
mengalikan perbedaan temporer dengan tarif pajak yang berlaku pada saat
perbedaan tersebut dipulihkan.
Contoh perhitungan pajak tangguhan:
Penghasilan sebelum pajak PT.AB Three pada tahun 2014 berjumlah
Rp.1.100.000.000. Satu-satunya perbedaan temporer yang terdapat dalam
perusahaan adalah pengeluaran biaya garansi (warranty expense) yang tercatat
dalam pembukuan sebesar Rp.100.000.000 yang dihitung dari angka
penjualannya, sedangkan untuk kepentingan perpajakan yang dihitung
berdasarkan jumlah yang dibayar sebesar Rp.30.000.000 atau dengan perkataan
lain perbedaan temporer yang muncul sebesar Rp.70.000.000 (Rp.100.000.000 Rp.30.000.000), diketahui PPh terutang menurut Akuntansi Rp.299.600.000
sedangkan PPh Terutang menurut Fiskal Rp.280.00.000.
Uraian
Penghasilan sebelum Pajak
Biaya Garansi
Penghasilan Kena Pajak

Akuntansi
1.100.000.000
100.000.000
1.000.000.000

Fiskal
1.100.000.000
30.000.000
1.070.000.000

Taksiran Pajak Penghasilan


Beban Pajak Kini
Keuntungan Pajak Tangguhan
Jumlah Beban Pajak

Rp.
Rp.
Rp.

299.600.000
19.600.000 (-)
280.000.000

adapun jurnal dapat dibuat sebagai berikut


a. Menjurnal Pajak Tangguhan
Perkiraaan
Aktiva Pajak Tangguhan

Debet
19.600.000

Keuntungan Pajak Tangguhan


b.

19.600.000

Menjurnal Pajak Terutang


Perkiraaan
Beban Pajak Kini
Utang PPh Pasal 25/29

D.

Kredit

Debet

Kredit

280.000.000
280.000.000

Kompensasi kerugian
Pasal 6 ayat (2) Undang-undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan
sebagaimana telah beberapa kali diubah, terkahir dengan Undang-undang Nomor 36
Tahun 2008 menyebutkan:
Apabila penghasilan bruto setelah pengurangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
didapat kerugian, kerugian tersebut dikompensasikan dengan penghasilan mulai tahun
pajak berikutnya berturut-turut sampai dengan 5 (lima) tahun.
Kompensasi kerugian berpengaruh pada Penghasilan Kena Pajak di masa yang akan
datang, dan efek pajaknya akibat dari kompensasi kerugian adalah menghematan pada
di masa yang akan datang (future tax saving). Realisasi keuntungan pajak dimasa yang
akan datang tergantung pada Penghasilan Kena pajak di masa yang akan datang
tersebut yang sulit diramalkan dan tidak pasti.

AKUNTANSI PAJAK

49

Yayasan Widya Dewata

Terdapat persoalan menyangkut efek pajak akibat kompensasi kerugian tersbut diakui
dalam tahun pajak pada saat kerugian tersbut muncil, atau pda tahun-tahun yang akan
datang pada saat terealisasi. Terdapat pendapat umum yang menyatakan bahwa
keuntungan pajak akibat kompensasi kerugian tersbut hendaknya tidak diakui sampai
bena-benar terealisai, kecuali dalam keadaan yang tidak lazim, pada saat munculnya
kompensasi kerugian tersebut dengan penuh keyakinan tanpa ragu-ragu bahwa
kompensasi kerugian tersebut akan terealisasi.
Hal ini dengan alasan bahwa keuntungan pajak akibat kompensai kerugian baru
diperhitungkan setelah terealisasi, dikarenakan perusahaan yang menderita kerugian
membutuhkan waktu yang cukup untuk menutupi kerugian tersebut, sehingga
menghasilkan operasional yang menguntungkan kembali. Kompensasi hanya dapat
dilakukan dalam jangka waktu 5 tahun berturut-turut. Kerugian ini dapat direalisasikan
apabila terdapat penghasilan kena pajak (laba) di periode mendatang (kewajiban pajak
tangguhan) untuk kompensasinya.
Di Amerika Serikat, keuntungan pajak akibat kompensasi akan diakui apabila terdapat
kemungkinan akan direalisasikan sebesar 50% di masa yang akan datang. Dalam hal ini,
aktiva pajak tangguhan nettoakan dicatat sebagai keuntungan pajak, yang dihitung
berdasarkan aktiva pajak tangguhan bruto setelah dikurangi dengan penyisihan
penilaian nihil yang otomatis menjadi aktiva pajak tangguhan neto (Zain, 2007)
Keuntungan pajak akibat kompensasi rugi diakui sebagai aktiva pajak tangguhan dalam
hal kompensasi pajak tangguhan tersebut dapat dikompensasi dengan jumlah
Penghasilan Kena Pajak pada masa mendatang. Keuntungan pajak dihitung dengan
mengalikan jumlah yang dapat dikompensasi tersebut dengan tarif pajak yang akan
berlaku pada periode kompensasi terjadi. Pada saat aktiva pajak tangguhan tersebut
dicatat, beban pajaknya pun akan berkurang. Pada tahun-tahun berikutnya, pada saat
penghasilan terealisasi, aktiva pajak tangguhan pun akan berkurang. Keuntungan pajak
karena kompensasi kerugian tidak akan terealisasi apabila tidak terdapat Penghasilan
Kena pajak yang memadai untuk menutupi kerugian tersebut.
Dalam PSAK No. 46 tentang Akuntansi Pajak Penghasilan par. 26 menjelaskan bahwa
saldo rugi fiskal yang dapat dikompensasi diakui sebagai aktiva pajak tangguhan apabila
besar kemungkinan bahwa laba fiskal pada masa depan memadai untuk dikompensasi.
Selanjutnya dalam Menurut PSAK 46 par. 27 diatur bahwa terdapat hal-hal yang harus
dipertimbangkan dalam menentukan apakah penghasilan kena pajak akan tersedia
dalam jumlah memadai untuk dikompensasikan:
1.
Apakah perusahaan mempunyai perbedaan temporer kena pajak dalam jumlah
yang memadai, yang memungkinkan sisa kompensasi dapat digunakan sebelum
masa berlakunya kadaluarsa;
2.
Apakah perusahaan mungkin memperoleh laba fiskal agar saldo rugi fiskal yang
dapat dikompensasi kerugian dapat digunakan sebelum masa berlakunya
daluarsa;
3.
Apakah saldo rugi fiskal yang dapat dikompensasi timbul dari kasus-kasus tertentu
yang hampir tidak mungkin berulang.
Apabila laba fiskal tidak mungkin tersedia dalam jumlah yang memadai untuk dapat
dikompensasi dengan saldo rugi fiskal yang dapat dikompensasi, maka aktiva pajak
tangguhan tidak diakui.
Paragraf 28 mengatur mengenai penilaian kembali aktiva pajak tangguhan. Pada setiap
tanggal neraca, perusahaan menilai kembali aktiva pajak tangguhan yang tidak diakui.
Perusahaan mengakui aktiva pajak tangguhan yang sebelumnya tidak diakui apabila
besar kemungkinan bahwa laba fiskal pada masa depan akan tersedia untuk
pemulihannya.
Berikut ini ilustrasi sederhana penerapan penghitungan aktiva pajak tangguhan atas
saldo rugi fiskal yang dapat dikompensasi. Berhubung topik pembahasan kali ini terbatas
pada kompensasi saldo rugi fiskal maka untuk memudahkan pemahaman diasumsikan
bahwa tidak terdapat unsur beda temporer dalam rekonsiliasi perpajakan.

AKUNTANSI PAJAK

50

Yayasan Widya Dewata

Dari rekonsiliasi laba (rugi) komersial dengan laba (rugi) menurut fiskal PT Abu selama 5
tahun berturut-turut diperoleh gambaran sebagai berikut:
Uraian
Laba (Rugi) Komersial
Beda Tetap:

Sumbangan

Entertainment
Laba (Rugi) Fiskal
Kompensasi
Laba (Akumulasi Rugi) Fiskal

2014
11.000

2013
10.500

2012
(4.000)

2011
(12.000)

300
100
11.400
(3.250)
8.150

500
300
11.300
(14.550)
(3.250)

100
150
(3.750)
(10.800)
(14.550)

400
800
(10.800)
0
(10.800)

Ayat jurnal pajak tangguhan atas saldo rugi fiskal yang dapat dikompensasi mulai tahun
2011 sampai dengan tahun 2014 sebagai berikut:
Jurnal
Aktiva Pajak Tangguhan (DTA)
Pajak Penghasilan Tangguhan
(mencatat DTA tahun 2011)
Aktiva Pajak Tangguhan (DTA)
Pajak Penghasilan Tangguhan
(mencatat tambahan DTA 2012)
Pajak Penghasilan Tangguhan
Aktiva Pajak Tangguhan (DTA)
(reverse DTA - laba fiskal 2013)
Pajak Penghasilan Tangguhan
Aktiva Pajak Tangguhan (DTA)
(reverse DTA laba fiskal 2014)

Debet

Kredit

3.240

Perhitungan
(30% x 10.800)

3.240
1.125

(30% x 3.750)
1.125

3.390

(30% x 14.550)-(30% x 3.250)


3.390

975

(30% x 3.250)
975

Dari ayat-ayat jurnal di atas, dapat diketahui bahwa saldo Aktiva Pajak Tangguhan di
Neraca PT Abu per-31/12/2014 sudah menjadi nol seiring dengan habisnya kompensasi
saldo rugi fiskal pada tahun 2014.

E.

Pajak Tangguhan dari Penggabungan Usaha


Perbedaan temporer dapat timbul dari transaksi penggabungan usaha. Transaksi
penggabungan usaha yang dicatat berdasarkan metode pembelian, selisih lebih atau
kurang jumlah uang yang dibayar dari nilai buku aset bersih yang didapat dalam
transaksi dialokasikan kepada atau dikurangkan dari aktiva atau kewajiban sehingga
aktiva atau kewajiban dapat mencerminkan nilai wajarnya (harnanto, 2003). Akibatnya
nilai aktiva dan kewajiban yang tercatat berbeda dari dasar pengenaan pajak (DPP), dan
harus diakui sebagai aktiva atau kewajiban pajak tangguhan.
Sisa lebih atau kurang jumlah pembayaran dari nilai buku aktiva bersih yang sudah
dialukasi atau dikurangkan dari aktiva atau kewajiban tertentu diakui sebagi goodwill
atau goodwill negative. Dalam PSAK 46, goodwill itu sendiri tidak boleh diakui sebagai
kewajiban pajak tangguhan, juga goodwill negative tidak boleh diakui sebagai aktiva
pajak tangguhan.
Apabila perusahaan pengakuisisi tidak mengakui adanya aktiva pajak tangguhan pada
tanggal terjadinya transaksi penggabungan usaha, namun kemudian diakui didalam
neraca konsolidasinya, maka dalam laporan laba rugi konsolidasi harus juga diakui
beban dan manfaat pajak penghasilan tangguhan.

AKUNTANSI PAJAK

51

Yayasan Widya Dewata

E.

Contoh Pajak Tangguhan Pada Bad Debt Expense


Secara umum akuntansi mengenal dua metode pencatatan penghapusan piutang
ragu-ragu yaitu metode penghapusan langsung (direct write-off method) serta
metode penghapusan tidak langsung (indirect write-off method). Dengan metode
penghapusan langsung, pembebanan piutang tak tertagih baru dilakukan apabila
piutang benar-benar tidak dapat ditagih lagi. Sedangkan, metode penghapusan
tidak langsung mengharuskan pembentukan cadangan estimasi piutang tak
tertagih pada setiap periode pelaporan keuangan.
Sedangkan dari segi perpajakan hanya mengenal metode penghapusan langsung.
Penggunaan metode tidak langsung tidak diperkenankan dalam peraturan
perpajakan. Selain itu, perpajakan dalam UU PPh mensyaratkan bahwa suatu
piutang baru dapat diakui sebagai piutang tak tertagih dan dapat dikurangkan dari
penghasilan bruto jika secara yuridis piutang benar-benar tidak dapat ditagih lagi.
Adapun persyaratan yuridis yang harus dipenuhi adalah sebagaimana yang
ditentukan dalam Pasal 6 ayat (1) huruf h UU PPh, sebagai berikut:
1. Telah dibebankan sebagai biaya dalam laporan laba rugi komersial;
2. Wajib Pajak harus menyerahkan daftar piutang yang tidak dapat ditagih
kepada Direktorat Jenderal Pajak; dan
3. Telah diserahkan perkara penagihannya kepada Pengadilan Negeri atau
instansi pemerintah yang menangani piutang negara; atau adanya perjanjian
tertulis mengenai penghapusan piutang/pembebasan utang antara kreditur
dan debitur yang bersangkutan; atau telah dipublikasikan dalam penerbitan
umum atau khusus; atau adanya pengakuan dari debitur bahwa utangnya
telah dihapuskan untuk jumlah utang tertentu
4. Syarat sebagaimana dimaksud pada angka 3 tidak berlaku untuk
penghapusan piutang tak tertagih debitur kecil sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 4 ayat (1) huruf k
Jika secara akuntansi perusahaan menerapkan metode penghapusan tidak
langsung (melalui pembentukan cadangan piutang tak tertagih), maka dengan
sendirinya akan timbul beda waktu antara pencatatan akuntansi dan perpajakan
yang merupakan unsur pajak tangguhan menurut PSAK 46.
Namun, dalam kondisi tertentu bad debt expense bisa berpotensi menjadi beda
tetap. Jika sekiranya wajib pajak tidak dapat memenuhi syarat yang ditentukan
dalam Pasal 6 ayat (1) huruf h UU PPh tersebut di atas maka bad debt expense
secara perpajakan dengan sendirinya tidak dapat dibiayakan sehingga berubah
menjadi beda tetap.
Berikut ini ilustrasi sederhana perhitungan pajak tangguhan atas beda waktu bad
debt expense:
PT A membukukan cadangan estimasi piutang tak tertagih per-31/12/2014
sebesar Rp.40.000.000 dengan jurnal sebagai berikut:
Perkiraaan
Bad Debt Expenses
Cadangan Bad Debt Expenses

AKUNTANSI PAJAK

Debet

Kredit

40.000.000
40.000.000

52

Yayasan Widya Dewata

Sedangkan jurnal pajak tangguhannya sebagai berikut:


Perkiraaan
Aktiva Pajak Tangguhan
Penghasilan Pajak Tangguhan

Debet

Kredit

12.000.000
12.000.000

F. Pajak Tangguhan Berkaitan Dengan Perubahan Tarif Pajak


berdasarkan UU No. 36 tahun 2008
Berdasarkan UU No.36 tahun 2008 tentang Perubahan Keempat atas Undang-undang
No.7 tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan, tarif pajak penghasilan yang dikenakan atas
penghasilan kena pajak baik untuk WP Perseorangan (WP Orang Pribadi) maupun WP
Badan telah terjadi perubahan.
Khusus untuk WP Badan sebelumnya berlaku tarif progresif yaitu 10%, 15% dan 30% [UU
No.17 tahun 2000 pasal 17 ayat (1b)], sedangkan berdasarkan Pasal 17 ayat (1b) UU No.36
tahun 2008 dikenakan tarif tunggal sebesar 28%. Kemudian, dalam ayat (2a) diatur lebih
lanjut bahwa mulai tahun pajak 2010 tarif yang berlaku diturunkan lagi menjadi 25%. UU
No.36 tahun 2008 ini mulai berlaku pada tanggal 1 Januari 2009.
PSAK 46 Akuntansi Pajak Penghasilan (Reformat 2007) dalam paragraf 29 mengatur
bahwa kewajiban (aktiva) pajak kini untuk periode berjalan dan periode sebelumnya
diakui sebesar jumlah pajak terutang (restitusi pajak), yang dihitung dengan
menggunakan tarif pajak (peraturan pajak) yang berlaku atau yang telah secara substantif
berlaku pada tanggal neraca.
Selanjutnya, dalam paragraf 30 dijelaskan bahwa aktiva dan kewajiban pajak tangguhan
harus diukur dengan menggunakan tarif pajak yang akan berlaku pada saat aktiva
dipulihkan atau kewajiban dilunasi, yaitu dengan tarif pajak (peraturan pajak) yang telah
berlaku atau yang telah secara substantif berlaku pada tanggal neraca.
Kemudian, dalam paragaraf 31 dijelaskan juga bahwa aktiva dan kewajiban pajak, baik
yang bersifat kini maupun tangguhan, dihitung dengan tarif pajak (dan peraturan pajak)
yang telah berlaku. Apabila tarif pajak (dan peraturan pajak) baru telah diumumkan oleh
pemerintah, maka dapat dianggap bahwa tarif (dan peraturan) tersebut telah secara
substantif berlaku [walaupun berlakunya tarif (dan peraturan) tersebut secara efektif
mungkin saja masih beberapa bulan sesudah pengumumannya]. Dalam hal tersebut
aktiva dan kewajiban pajak harus dihitung dengan tarif pajak (dan peraturan pajak) baru
yang telah dinyatakan berlaku.
Paragraf 32 menjelaskan bahwa apabila tarif pajak yang berlaku berbeda untuk tingkat
laba fiskal yang berbeda, maka aktiva dan kewajiban pajak tangguhan diukur dengan tarif
pajak rata-rata yang akan dikenakan terhadap laba fiskal (rugi pajak) pada saat perbedaan
temporer membalik (reverse).
Sedangkan paragraf selanjutnya yaitu par. 33 mengatur bahwa aktiva dan kewajiban pajak
tangguhan harus mencerminkan konsekuensi pajak untuk pemulihan nilai tercatat aset
atau penyelesaian kewajiban yang diharapkan perusahaan pada tanggal neraca.
Dari uraian di atas, jelas bahwa atas perubahan tarif pajak untuk WP Badan dari
sebelumnya dikenakan tarif progresif menjadi tarif tunggal yang mulai berlaku sejak 1
Januari 2009, maka atas penyajian Pajak Tangguhan tahun 2008 harus dilakukan
penyesuaian sesuai dengan pengaturan dalam PSAK No. 46

AKUNTANSI PAJAK

53

Yayasan Widya Dewata

G. Penyajian Pajak Tangguhan Di Neraca


Akun pajak tangguhan dilaporkan dalam neraca sebagai aktiva pajak tangguhan dan
kewajiban pajak tangguhan yang diklasifikasikan sebagai jumlah lancar neto dan jumlah
tidak lancar neto. Hal ini didasarkan pada keterkaitan dengan klasifikasi aktiva atau
kewajiban yang dilaporkan dalam laporan keuangan. Klasifikasi apakah masuk dalam akun
lancar atau tidak lancar tergantung pada antisipasi jangka waktu pemulihan atas
perbedaan temporer tersebut
1.
Apabila pemulihannya diperkirakan dalam jangka waktu setahun atau kurang,
maka diklasifikan sebagai akun lancar
2.
Apabila pemulihannya diperkirakan dalam jangka waktu lebih dari setahun, maka
diklasifikasikan sebagai akun tidak lancar.
Sebelum disajikan di neraca antara aktiva pajak tangguhan dengan kewajiban pajak
tangguhan dilakukan offset (saling menghapus) terlebih. Sedangkan antara akun lancar
dan akun tidak lancar tidak dapat saling meng-offset

H. Penyajian Pajak Tangguhan di Laporan Laba Rugi


Beban/keuntungan Pajak Penghasilan yang disajikan dalam Laporan laba rugi, harus
dipecah atas dua komponen, yaitu
1.
Pajak kini (Pajak Penghasilan terutang),
2.
Bagian Pajak Tangguhan (bagian yang diperhitungkan sebagai beban pajak, yang
dihitung berdasarkan perbesaan temporer dikalikan dengan tarif)
Pajak kini atau PPh terutang dihitung berdasarkan Penghasilan Kena Pajak dikalikan
dengan tarif orisinil, sedangkan Bagian Tangguhan berdasarkan perbedaan temporer
dikalikan dengan tariff orisinal, atau perubahan saldo pajak tangguhan dalam tahun yang
bersangkutan. Pajak tangguhan ditambah dengan Pajak tahun ini akan diperoleh jumlah
beban pajak kesuluruhan.

AKUNTANSI PAJAK

54

Yayasan Widya Dewata

AKUNTANSI PAJAK PENGHASILAN

BAB 7

Laporan keuangan yang dihasilkan dari proses akuntansi berdasarkan Standar


Akuntansi Keuangan yang sudah dibahas dalam bab-bab sebelumnya dinamakan dengan
laporan keuangan komersial.
Dalam rangka penyusunan laporan keuangan fiskal; yaitu laporan keuangan yang
menggunakan dasar undang-undang pajak; dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan
rekonsiliasi fiskal. Seharusnya proses penyusunan laporan keuangan dapat menghasilkan
informasi keuangan yang dapat dimanfaatkan langsung untuk pelaporan pajak. Dengan
demikian diperlukan penyamaan prinsip akuntansi komersial dengan prinsip akuntansi fiskal,
sehingga data-data terintegrasi dalam laporan keuangan, tidak terpisah dalam catatan tersendiri
yang menyebabkan penelusuran terhadap data tersebut menemui kesulitan.
Rekonsiliasi fiskal dilakukan untuk menyesuaikan perbedaan antara laporan keuangan
komersial yang berdasarkan standar akuntansi keuangan dengan peraturan pajak, sehingga
dihasilkan laporan keuangan fiskal untuk membuat SPT Tahunan PPh Badan.

A. Beda Tetap
Beda tetap adalah perbedaan antara laba akuntansi dan penghasilan kena pajak yang
disebabkan oleh ketentuan perpajakan dan tidak akan menimbulkan permasalahan
akuntansi serta tidak memberikan pengaruh terhadap kewajiban perpajakan di masa
mendatang.
Perbedaan ini terdiri dari penghasilan yang telah dipotong PPh final, penghasilan yang
bukan merupakan obyek pajak, pengeluaran yang termasuk dalam non deductible
expense (pasal 9 ayat 1 UU PPh) dan atau yang tidak termasuk dalam deductible expense
(pasal 6 ayat 1 UU PPh).
a.
Penghasilan yang telah dipotong PPh final
Sesuai dengan Pasal 4 ayat (2) UU PPh, atas penghasilan berupa bunga deposito
dan tabungan-tabungan lainnya, penghasilan dari transaksi saham dan sekuritas
lainnya di bursa efek, penghasilan dari pengalihan harta berupa dan atau bangunan
serta penghasilan tertentu lainnya, pengenaan pajaknya diatur dengan Peraturan
Pemerintah (lihat tabel di halaman berikut)
Tabungan masyarakat yang disalurkan melalui perbankan dan bursa efek
merupakan sumber dana bagi pelaksanaan pembangunan sehingga pengenaan
pajak atas penghasilan yang berasal dari tabungan masyarakat tersebut perlu
diberikan perlakuan tersendiri dalam pengenaan pajaknya.
Pertimbangan-pertimbangan yang mendasari diberikamya perlakuan tersendiri
dimaksud antara lain adalah kesederhanaan dalam pemungutan pajak, keadilan dan
pemerataan dalam pengenaan pajaknya serta memperhatikan perkembangan
ekonomi dan moneter. Pertimbangan tersebut juga mendasari perlunya pemberian
perlakuan tersendiri terhadap pengenaan pajak atas penghasilan seperti terlihat
pada tabel di halaman berikut.
Sebagai konsekuensi dari pengenaan PPh final, perusahaan, yang bergerak di
bidang usaha seperti penyewaan ruangan, biasanya tidak dapat menerapkan PSAK
46 karena penghasilan utamanya dimasukkan sebagai beda tetap. Artinya, seluruh
biaya yang terkait dengan penghasilan tersebut juga dimasukkan sebagai beda
tetap. Di dalam rekonsiliasi fiskal penghasilan sewa ruangan seperti ini tidak
dikoreksi negatif atau tidak diakui dalam penghitungan PPh Badan, begitu juga
biaya-biaya yang terkait.

AKUNTANSI PAJAK

55

Yayasan Widya Dewata

b.

Penghasilan yang bukan merupakan Obyek Pajak


1. bantuan sumbangan dan hibah
Sumbangan dan harta hibahan yang diterima oleh badan keagamaan atau
badan pendidikan atau badan sosial atau pengusaha kecil termasuk koperasi
yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan, sepanjang tidak ada hubungan
dengan usaha, pekerjaan, kepemilikan, atau penguasaan antara pemberi dan
penerima;
2. harta termasuk setoran tunai yang diterima oleh badan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) huruf b UU PPh sebagai pengganti saham atau
sebagai pengganti penyertaan modal;
3. dividen atau bag/an laba yang diterima atau diperoleh perseroan terbatas
sebagai Wajib Pajak dalam negeri, koperasi, Badan Usaha Milik Negara, atau
Badan Usaha Milik Daerah (BUMN/D), dari penyertaan modal pada badan
usaha yang didirikan dan bertempat kedudukan di Indonesia dengan syarat:
Dividen berasal dari Penyisihan laba yang ditahan; dan bagi perseroan
terbatas, BUMN/D yang menerima dividen, kepemilikan saham pada badan
yang memberikan dividen paling rendah 25% dari jumlah modal yang disetor
4. iuran yang diterima atau diperoleh dana toensiun yang pendiriannya telah
disahkan oleh Menteri Keuangan, baik yang dibayar oleh pemberi kerja
maupun pegawai
penghasilan dana pensiun terdiri dari iuran peserta dana pensiun dan hasil
investasi yang semuanya bukan merupakan obyek pajak. Pengecualian sebagai
Non Obyek Pajak ini bertujuan agar pembayaran pensiumya dapat
dioptimalkan.
5. penghasilan dari modal yang ditanamkan oleh dana pensiun, sebagaimana
dimaksud di atas, dalam bidang-bidang tertentu yang ditetapkan dengan
Keputusan Menteri Keuangan;
6. penghasilan yang diterima atau diperoleh perusahaan modal ventura berupa
bagian laba dari badan pasangan usaha yang didirikan dan menjalankan usaha
atau kegiatan di Indonesia, dengan syarat badan pasangan usaha tersebut:
merupakan perusahaan kecil, menengah, atau yang menjalankan kegiatan
dalam sektor-sektor usaha yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri
Keuangan; dan sahamnya tidak diperdagangkan di bursa efek di Indonesia.

c.

Pengurang penghasilan bruto yang termasuk dalam kelompok non deductible


expense
1 . Biaya tidak untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan
2. Iuran kepada dana pensiun yang pendiriamya belum disahkan oleh Menteri
Keuangan
3. kerugian karena penjualan atau pengalihan harta yang tidak dimiliki dan tidak
digunakan dalam perusahaan atau tidak dimiliki untuk mendapatkan, menagih,
dan memelihara penghasilan
4. biaya penelitian dan pengembangan perusahaan yang tidak dilakukan di
Indonesia
5. pembagian laba dengan nama dan dalam bentuk apa pun seperti dividen,
termasuk dividen yang dibayarkan oleh perusahaan asuransi kepada
pemegang polis, dan pembagian sisa hasil usaha koperasi
6. biaya yang dibebankan atau dikeluarkan untuk kepentingan pribadi pemegang
saham, sekutu, atau anggota
7. penggantian atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa yang
diberikan dalam bentuk natura dan kenikmatan, kecuali penyediaan makanan
dan minuman bagi seluruh pegawai penggantian atau imbalan dalam bentuk
natura dan kenikmatan di daerah tertentu dan penggantian atau imbalan
dalam bentuk natura dan kenikmatan yang berkaitan dengan pelaksanaan
pekerjaan yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan

AKUNTANSI PAJAK

56

Yayasan Widya Dewata

8.

jumlah yang melebihi kewajaran yang dibayarkan kepada pemegang saham


atau kepada pihak yang mempunyai hubungan istimewa sebagai imbalan
sehubungan dengan pekerjaan yang dilakukan
9. harta yang dihibahkan, bantuan atau sumbangan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 4 ayat (3) huruf a UU PPh, kecuali zakat atas penghasilan yang
nyata-nyata dibayarkan Wajib Pajak badan dalam negeri yang dimiliki oleh
pemeluk agama Islam kepada badan amil zakat atau lembaga amil zakat yang
dibentuk atau disahkan oleh Pemerintah.
10. Pajak Penghasilan
11. gaji yang dibayarkan kepada anggota persekutuan, firma, atau perseroan
komanditer yang modalnya tidak terbagi atas saham
12. sanksi administrasi berupa bunga, denda, dan kenaikan serta sanksi pidana
berupa denda yang berkenaan dengan pelaksanaan perundang-undangan di
bidang perpajakan

Beda Waktu
Beda waktu adalah perbedaan antara laba akuntansi dan penghasilan kena pajak yang
disebabkan oleh ketentuan perpajakan dan memberikan pengaruh di masa mendatang
dalam jangka waktu tertentu sehingga pengaruh terhadap laba akuntansi dan penghasilan
kena pajak akhirnya menjadi sama. Perbedaan waktu positif terjadi apabila pengakuan
bebab untuk tujuan pajak lebih cepat dari pengakuan beban tujuan akuntansi
(misalnya penyusutan mulai tahun pengeluaran) atau pengakuan penghasilan untuk
tujuan pajak lebih lambat dari pengakuan penghasilan untuk tujuan akuntansi. Sebaliknya,
perbedaan waktu negatif terjadi jika ketentuan perpajakan mengakui beban lebih lambat
dari pengakuan beban menurut praktek akuntansi (misalnya penyisishan piutang) dan
akuntansi mengakui penghasilan lebih lambat dari pengakuan penghasilan menurut
ketentuan perpajakan (misalnya penghasilan kumulatif beberapa tahun, seperti tebusan
pensiun).
Perbedaan waktu menyebabkan penghitungan (pembebanan) pajak atas jumlah laba yang
berbeda dengan laba menurut pembukuan. Namun perbedaan itu akan terkoreksi secara
otomatis pada periode-periode berikutnya. Dengan demikian, tidak ada perbedaan antara
total laba pembukuan: yang terjadi adanya perbedaan alokasi beban dan penghasilan
antar periode untuk tujuan fiskal dan akuntansi.
Apabila administrasi pajak menghitung pajak atas jumlah laba yang lebih rendah dari laba
menurut pembukuan akan terdapat utang pajak yang ditagguhkan (deferred tax
liabilities). Penangguhan itu akan memunculkan jumlah laba fiskal yang lebih besar (dari
laba pembukuan) di masa kemudian. Fenomena itu sering disebut pembalikan perbedaan
waktu negatif apabila administrasi pajak menghitung jumlah laba yang lebih besar dari
jumlah laba menurut pembukuan.
Perbedaan ini terdiri dari penyisihan/akrual dan realisasi, penyusutan, amortisasi, dan
kompensasi rugi.

Penyisihan/Akrual vs Realisasi
Penyusunan laporan keuangan dilakukan berdasarkan asas akrual, yaitu pengaruh
transaksi dan peristiwa lain diakui pada saat kejadian dan timbulnya hak atau kewajiban
(dan bukan pada saat kas atau setara kas diterima atau dibayar) dan dicatat dalam
catatan akuntansi serta dilaporkan dalam laporan keuangan pada periode yang
bersangkutan.
Sementara itu, untuk beberapa kasus tertentu seperti penyisihan piutang tak tertagih
atau penghapusan piutang, ketentuan perpajakan mengatur sebagai berikut:
1.
piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih boleh dikurangkan dart pen ghasilan
bruto (deductible expense) dengan syarat:
telah dibebankan sebagai biaya Dalam laporan laba rugi komersial; telah diserahkan
perkara penagihamya kepada Pengadilan Negeri atau Badan Urusan Piutang dan

AKUNTANSI PAJAK

57

Yayasan Widya Dewata

Lelang Negara (BUPLN) atau adanya perjanjian tertulis mengenai penghapusan


piutang/pembebasan utang antara kreditur dan debitur yang bersangkutan; telah
dipublikasikan dalam penerbitan umum atau khusus; danWajib Pajak harus
menyerahkan daftar piutang yang tidak dapat ditagih kepada Direktorat Jenderal
Pajak, yang pelaksanaamya diatur lebih lanjut dengen Keputusan Dirjen Pajak.
2.
Pembentukan atau pemupukan dana Pen yisihan tidak boleh dikurangkan dari pen
ghasilan bruto (non deductible expense) kecuali
Penyisihan piutang tak tertagih untuk usaha bank, Penyisihan piutang tak tertagih
untuk sewa guna usaha dengan hak opsi, Penyisihan untuk usaha asuransi, dan
Penyisihan biaya reklamasi untuk usaha pertambangan, yang ketentuan dan syaratsyaratnya ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan;
Berdasarkan uraian di atas, ketentuan perpajakan secara umum hanya mengakui metode
langsung (direct method), kecuali butir b di atas terpenuhi, sedangkan SAK mengakui
metode tidak langsung (indirect method).
Metode Penghapusan Piutang
1.

Debet (Rp)

Indirect Method
a.

untuk mengakui penyisihan piutang tak


tertagih
Bad Debt Expense

1.000.000

Allowance for Bad Debt Expense


b.

1.000.000

untuk mengakui penghapusan piutang tak


tertagih
Allowance for Bad Debt Expense

600.000

Account Receivable
2.

Kredit (Rp)

600.000

Direct Method
Bad Debt Expense

600.000

Account Receivable

600.000

Penyusutan dan Amortisasi


Koreksi beda waktu yang terjadi pada penyusutan disebabkan adanya perbedaan metode
penyusutan yang digunakan dan masa manfaat antara perlakuan akuntansi komersial dan
perlakukan perpajakan
PT. Zeta melakukan pembelian sebuah mebel dengan harga Rp.6.000.000 pada tanggal 10
Januari 2011. Perusahaan menyatakan bahwa masa manfaat dari aktiva tersebut adalah 3
tahun sedangkan menurut peraturan perpajakan, aktiva tersebut termasuk dalam
golongan 1 sehingga masa manfaat adalah 4 tahun. Apabila perusahaan menggunakan
metode penyusutan garis lurus, maka koreksi yang dilakukan adalah sebagai berikut:
Tahun
2011
2012
2013
2014

Penyusutan
Komersial
2.000.000
2.000.000
2.000.000
---

Penyusutan Fiskal
1.500.000
1.500.000
1.500.000
1.500.000

Koreksi
500.000
500.000
500.000
(1.500.000)

Koreksi negatif sebesar Rp.1.500.000 merupakan akumulasi koreksi postif pada tahuntahun sebelumnya. Dengan demikian jumlah koreksinya akan menjadi sama.

AKUNTANSI PAJAK

58

Yayasan Widya Dewata

Kompensasi Rugi
Apabila penghasilan bruto setelah pengurangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6
ayat (1) UU PPh (deductible expenses) didapat kerugian, kerugian tersebut
dikompensasikan dengan penghasilan mulai tahun pajak berikutnya berturut-turut sampai
dengan 5 (lima) tahun.
Contoh:
PT Angsana dalam tahun 2009 menderita kerugian fiskal sebesar Rp.1.200.000.000. Dalam
5 (lima) tahun berikutnya laba rugi fiskal PT Angsana sebagai berikut:
2010

Laba Fiskal

Rp.

200.000.000

2011

Rugi Fiskal

Rp.

300.000.000

2012

Laba Fiskal

Rp.

NIHIL

2013

Laba Fiskal

Rp.

100.000.000

2014

Laba Fiskal

Rp.

800.000.000

Kompensasi kerugian dilakukan sebagai berikut:


>

Rugi Fiskal tahun 2009

>

Laba Fiskal tahun 2010

>

Sisa Rugi Fiskal tahun 2009

>

Rp.

1.200.000.000

Rp.

200.000.000

Rp.

1.000.000.000

Rugi Fiskal tahun 2011

Rp.

300.000.000

>

Sisa Rugi Fiskal tahun 2009

Rp.

1.000.000.000

>

Laba Fiskal Tahun 2012

Rp.

NIHIL

>

Sisa Rugi Fiskal Tahun 2009

Rp.

1.000.000.000

>

Laba Fiskal Tahun 2013

Rp.

100.000.000

>

Sisa Rugi Fiskal Tahun 2009

Rp.

900.000.000

>

Laba Fiskal Tahun 2014

Rp.

800.000.000

>

Sisa Rugi Fiskal Tahun 2009

Rp.

100.000.000

(
(
(

Rugi fiskal tahun 2009 sebesar Rp.100.000.000 yang masih tersisa pada akhir tahun 2014
tidak boleh dikompensasikan lagi dengan laba fiskal tahun 2015, sedangkan rugi fiskal
tahun 2011 sebesar Rp.300.000.000 hanya boleh dikompensasikan dengan laba fiskal
tahun 2015 dan tahun 2016, karena jangka waktu lima tahun yang dimulai sejak tahun
2012 berakhir pada akhir tahun 2016.

AKUNTANSI PAJAK

59

)
)
)

Yayasan Widya Dewata

RINGKASAN REKONSILIASI FISKAL


NO.

KETERANGAN

1. LABA BRUTO USAHA


Penjualan Neto -/- HPP
1. Penjualan Neto
a. Metode Pengakuan Pendapatan
b. Potongan Penjualan
> Metode Realisasi
> Metode Penyisihan
c. Retur Penjualan
> Metode Realisasi
> Metode Penyisihan
2. Harga Pokok Penjualan :
a. Penilaian Persediaan
> Cost
> Cost fo Market Which is
Lower
> Gross profit Method
> Retail Method
b. Metode
> FIFO
> Average
c. Sistem
> Physical
> Perpetual
2. PENGHASILAN DI LUAR USAHA
1. Dividen dari penyertaan di DN yang
memenuhi syarat:
1. diambil Laba Ditahan
2. minimal 25% kepemilikan
3. harus ada usaha lain
2. Dividen dari penyertaan di DN yang
tidak memenuhi syarat di atas
3. Bunga:
> pada Bank di Indonesia
> pada Bank di LN melalui Bank di
Indonesia
> Bank di LN langsung
> pihak selain Bank
4. Transaksi saham di luar bursa efek:
> Keuntungan
> Kerugian
5. Keuntungan atas penjualan saham
perusahaan lain di bursa efek
> bukan saham pendiri
> saham pendiri

AKUNTANSI PAJAK

AKUNTANSI
KOMERSIAL

KOREKSI
FISKAL

MENURUT
FISKAL

Akrual

Akrual

xx
xx

xx

xx
-

xx
xx

xx

xx
-

xx

xx

xx

xx

xx
xx

xx
xx

xx
xx

xx
xx

xx
xx

xx
xx

xx

(xx)

xx

xx

xx

(xx)

xx

(xx)

xx
xx

xx
xx

xx
(xx)

xx
(xx)

xx
xx

(xx)
(xx)

60

Yayasan Widya Dewata

NO.

KETERANGAN
6. Keuntungan penjualan harta:
> tanah/bangunan
> selain tanah dan bangunan
7. Penghasilan Royalti
8. Penghasilan Sewa:
> tanah/bangunan
> selain tanah dan bangunan
9. Penerimaan kembali pembayaran
pajak yang telah dibebankan sebagai
biaya, misalnya: PBB, PPnBM
10. Keuntungan Pembebasan Hutang
11. Keuntungan selisih kurs
12. Hadiah:
> Penghargaan
> Undian
13. Penerimaan dari piutang yang telah
dihapuskan (metode langsung)
14. Hibah dari pihak yang memiliki
hubungan usaha, pekerjaan

AKUNTANSI
KOMERSIAL

KOREKSI
FISKAL

MENURUT
FISKAL

xx
xx
xx

xx
xx
xx

xx
xx

(xx)
-

xx

xx

xx

xx
xx

xx
xx

xx
xx

(xx)

xx
-

xx

xx

xx

xx

3. BEBAN USAHA
1. Biaya yang dikeluarkan untuk
mendapatkan, menagih dan
memelihara penghasilan yang
merupakan obyek PPh
> prinsip realisasi
xx
xx
> conservatism/penyisihan
xx
xx
Pengeluaran-pengeluaran yang dapat dikurangkan (deductible) harus dilakukan
dalam batas-batas wajar sesuai dengan kebiasaaan pedagang yang baik.
Pengeluaran yang melampaui kewajaran yang dipengaruhi hubungan istimewa
tidak dapat dikurangkan dari penghasilan bruto.
2. Biaya yang dikeluarkan untuk
mendapatkan, menagih dan
memelihara penghasilan yang
xx
xx
merupakan obyek PPh/ Penghasilan
yang dikenakan PPh Final
1. Gaji/upah
2. PPh 21:
> Tunjangan PPh 21
> PPh 21 ditanggung
perusahaan
3. Tunjangan dalam bentuk uang
4. Premi asuransi jiwa pegawai
yang dibayar perusahaan
5. Premi asuransi jiwa pemegang
saham

AKUNTANSI PAJAK

xx

xx

xx

xx

xx

xx

xx

xx

xx

xx

xx

xx

61

Yayasan Widya Dewata

NO.

KETERANGAN
6. Iuran Jamsostek dibayar
perusahaan
> Jaminan Kecelakaan Kerja
> Jaminan Pelayanan
Kesehatan
> Jaminan Kematian
> Jaminan Hari Tua
7. Iuran pensiun ke Dana Pensiun
yang disahkan Menteri Keuangan
yang dibayar perusahaan
8. Iuran pensiun ke Dana Pensiun
yang belum disahkan Menteri
Keuangan yang dibayar
perusahaan
9. Tunjangan Hari Raya
10. Pengobatan :
> Cuma-Cuma
> Penggantian
> Tunjangan Pengobatan
11. Uang Pesangon
12. Pemberian imbalan dalam
bentuk natura
13. Pemberian makanan/minuman
untuk seluruh pegawai di tempat
kerja
14. Pemberian dalam bentuk natura
dalam rangka & berkaitan
dengan pelaksanaan pekerjaan,
misal: pakaian keselamatan,
seragam, beban antar jemput
karyawan
15. Imbalan pekerjaan /jasa dalam
bentuk natura di daerah yang
terpencil, yang meliputi:
1. Tempat tinggal sepanjang
tidak ada tempat tinggal
yang dapat disewa
2. Makanan-minuman
sepanjang tidak ada tempat
penjualan makanan
3. Pelayanan kesehatan
sepanjang tidak ada
sarana kesehatan, misal:
Poliknik, RS
4. Pendidikan sepanjang tidak
ada sarana pendidikan yang
setara

AKUNTANSI PAJAK

AKUNTANSI
KOMERSIAL

KOREKSI
FISKAL

MENURUT
FISKAL

xx

xx

xx

xx

xx
xx

xx
xx

xx

xx

xx

xx

xx

xx

xx
xx
xx
xx

xx
-

xx
xx
xx

xx

xx

xx

xx

xx

xx

xx

xx

62

Yayasan Widya Dewata

NO.

KETERANGAN

16.

17.

18.
19.

20.
21.

22.
23.

24.

5. transportasi keluarga
terbatas pada kedatangan
pertama dan terhentinya
hubungan kerja
6. olahraga sepanjang tidak
ada sarana olahraga
Cuti pegawai :
> Diberikan uang cuti
> Tunjangan cuti
> Dibayar perusahaan
Perjalanan Dinas Pegawai :
> Didukung bukti-bukti sah,
misal: tiket, hotel, dll
> Lumpsum (tidak didukung
bukti yang sah)
> Honor/ uang saku
> Biaya rekreasi
> FLN dibayar perusahaan
Bonus atas prestasi kerja yang
dibebankan pada tahun berjalan
Pembagian laba ke Pegawai
berupa bonus, gratifikasi, jasa
produksi, dsb yang dibebankan
ke Retained Earning
Honor/uang saku pegawai yang
mengikuti seminar
Bea Siswa:
> ada ikatan kerja
> tidak ada ikatan kerja
Sumbangan ke karyawan dalam
bentuk uang
Kendaraan yang dibawa pulang
dan dikuasai pegawai
> Biaya Pemeliharaan
> Biaya Bahan Bakar
> Biaya Penyusutan
Perumahan/Mess Perusahaan
> Cuma- cuma, perlakuan
biaya, penyusutan dan biaya
pemeliharaan termasuk
listrik, telpon, dll
> Pegawai sewa ke
Perusahaan dengan harga
wajar
- Biaya Pemeliharaan
- Biaya Penyusutan
- Penerimaan sewa

AKUNTANSI PAJAK

AKUNTANSI
KOMERSIAL

KOREKSI
FISKAL

MENURUT
FISKAL

xx
xx
xx

xx

xx
xx
-

xx

xx

xx

xx

xx
xx
-

xx
-

xx
-

xx

xx

xx

xx

xx

xx

xx
xx

xx

xx
-

xx

xx

xx
xx
xx

50%
50%
50%

50%
50%
50%

xx

xx

xx
xx
(xx)

xx
xx
(xx)

63

Yayasan Widya Dewata

NO.

KETERANGAN

25.

26.

27.
28.
29.
30.
31.

32.

Pegawai sewa ke
perusahaan dengan harga
wajar diberikan tunjangan
sewa
- Tunjangan sewa
- Biaya Penyusutan
- Biaya Pemeliharaan
- Penerimaan sewa
Mess untuk transit, pendidikan
(sementara)
> Biaya Penyusutan
> Biaya eksploitasi
Perusahaan menyewa rumah
untuk digunakan tempat tinggal
pegawai
PPh-Final sewa dibayar
perusahaan
Diberikan uang sewa
Honor penjaja barang (bukan
pegawai)
Honor Petugas Dinas Luar
Asuransi (bukan pegawai)
Honor tenaga ahli yang
melakukan pekerjaan bebas:
Pengacara, Akuntan, arsitek,
Konsultan, Notaris, Penilai,
Aktuaris
Honorarium, uang saku, hadiah,
penghargaan, komisi dan
pembayaran lain sebagai
imbalan sehubungan dengan
pekerjaan, jasa, kegiatan untuk
mendapatkan, menagih dan
memelihara. Penghasilan yang
dilakukan WPDN orang pribadi,
yaitu:
a. Pemain musik, pembawa
acara, penyani pelawak,
bintang film, sutradara, crew
film, foto model,
pergawan/ti, pemaian
drama, penari, pemahat,
pelukis dan seniman lain
b. Olahragawan
c. Penasehat, pengajar,
pelatih, penceramah,
moderator
d. Pengarang, peneliti,
penterjemah

AKUNTANSI PAJAK

AKUNTANSI
KOMERSIAL

KOREKSI
FISKAL

MENURUT
FISKAL

xx
xx
xx
(xx)

xx
xx
xx
(xx)

xx
xx

xx
xx

xx

xx

xx

xx

xx

xx

xx

xx

xx

xx

xx

xx

xx

xx

64

Yayasan Widya Dewata

NO.

KETERANGAN

33.
34.

35.

37.

e. Pemberi jasa dalam bidang


teknik, komputer dan sistem
aplikasinya, telekomunikasi
elektronik, fotografi dan
pemasaran
f. Korpotir iklan
g. Pengawas, pengelola
proyek, peserta
sidang/rapat, tenaga lepas
lainnya
h. Pembawa pesanan atau
yang menemukan pelanggan
Upah borongan pekerjaan ke
orang pribadi
Pegawai yang merupakan
pemegang saham:
> gaji yang wajar
> imbalan di atas kewajaran
> dividen terselubung, misal:
asuransi jiwa, biaya telepon
rumah, PBB rumah pribadi
Gaji yang dibayarkan kepada
anggota persekutuan, Firma, CV
> Beban bunga atas pinjaman
yang digunakan untuk
memperoleh penghasilan
PPh
> Bunga atas pinjaman yang
digunkaan untuk membeli
saham yang beredar atau
untuk akuisisi harus
dikapitalisasi pada harga
perolehan investasi
saham
> Biaya bunga selama
konstruksi dikapitalisasi
pada aktiva tetap
> Jika ada penghasilan bunga
deposito/tabungan yang
telah dipotong PPh final,
maka biaya bunga tidak
seluruhnya dapat
dikurangkan
> Bunga untuk kepentingan
pemegang saham
Pembayaran bunga:
> Ke pemegang
saham/hubungan istimewa

AKUNTANSI PAJAK

AKUNTANSI
KOMERSIAL

KOREKSI
FISKAL

MENURUT
FISKAL

xx

xx

xx
xx

xx

xx
-

xx

xx

xx

xx

xx

xx

xx

xx

xx

xx

xx

xx

xx

xx

65

Yayasan Widya Dewata

NO.

KETERANGAN

38.

39.
40.
41.
42.

43.

44.

45.
46.
47.

> Bukan ke pemegang saham/


hubungan istimewa
Beban sewa:
> tanah/bangunan
> Selain tanah/bangunan
Beban royalti
Jasa Manajemen
Jasa Teknik
Pembayaran pajak:
> PPh
> PBB
> Sanksi perpajakan
PM yang tidak dapat dikreditkan:
> yang berkaitan dengan
perolehan BKP/JKP sesuai
Pasal 6 UU PPh
> yang masa manfaaatnya
lebih dari satu tahun dengan
metode penyusutan
> yang berkaitan dengan
perolehan BKP/JKP
sesuai Pasal 9 UU PPh
> faktur standar tidak lengkap,
tidak benar, cacat
Biaya entertainment:
> Dibuatkan daftar nominatif,
dilaporkan bersama-sama
dengan SPT Tahunan
> Tidak dibuatkan daftar
nominatif
Keperluan pribadi pegawai yang
dibayar perusahaan
Biaya promosi
Kerugian piutang bagi
perusahaan bukan Bank/SGU
dengan hak opsi
> penyisihan
> metode langsung dilampiri
perjanjian tertulis
penyelesaian hutang piutang
akte Notaris untuk utang
masing-masing dibawah
Rp.5 juta

AKUNTANSI PAJAK

AKUNTANSI
KOMERSIAL

KOREKSI
FISKAL

MENURUT
FISKAL

xx

xx

xx
xx
xx
xx
xx

xx
xx
xx
xx
xx

xx
xx
xx

xx
xx

xx
-

xx

xx

xx

xx

xx

xx

xx

xx

xx

xx

xx

xx

xx

xx

xx

xx

xx

xx

xx

xx

66

Yayasan Widya Dewata

NO.

KETERANGAN

48.
49.
50.

51.

52.
53.
54.
55.
56.

57.

> Metode langsung setelah


diajukan ke pengadilan dan
dimuat dalam penerbitan
umum atau khusus untuk
utang masing-masing di atas
Rp.5 juta
> Metode langsung yang tidak
memenuhi syarat-syarat di
atas
Rugi selisih kurs
SGU tanpa hak opsi
> pembayaran SGU
SGU tanpa hak opsi :
> penyusutan aktiva SGU
> Bunga SGU
> Jumlah pembayaran SGU
Kerugian pengalihan harta
> digunakan untuk usaha
> tidak digunakan untuk usaha
Beban alat tulis kantor
Beban Listrik, telepon, fax
Beban perangko, materai
Beban handphone pegawai
dalam rangka tugas
Biaya sumbangan:
> Sumbangan GNOTA
> Sumbangan Bencana NAD
dan SUMUT
> Sumbangan Bencana gempa
Jogja
> Sumbangan Lainnya
Macam-macam biaya:
> Diperinci
> Tidak diperinci

AKUNTANSI PAJAK

AKUNTANSI
KOMERSIAL

KOREKSI
FISKAL

MENURUT
FISKAL

xx

xx

xx

xx

xx

xx

xx

xx

xx
xx
xx

xx
xx
(xx)

xx
xx
xx
xx
xx

xx
-

xx
xx
xx
xx

xx

50%

50%

xx

xx

xx

xx

xx

xx

xx

xx

xx
xx

xx

xx
-

67